ARTIKEL OBSERVASI PEMBELAJARAN SENI TARI DI SD N BERGAS LOR 1 Oktavia Cahyaning Saraswati
PENDAHULUAN
Pada masa modernisasi seperti saat ini, sangatlah sulit sekali untuk menurunkan dan mengembangkan kebudayaan atau seni asli Indonesia terutama seni tari kepada generasi muda khususnya anak-anak. Anak-anak saat ini lebih tertarik dengan seni dan kebudayaan luar daripada seni dan kebudayaan sendiri. Hal tersebut dapat terlihat dari gaya maupun kebiasaan mereka yang sering menirukan gaya dan perilaku dari luar. Sehingga gaya dan perilaku yang diajarkan orang tua mereka yang notabennya adalah gaya dan perilaku yang mengacu pada sopan santun dan ramah tamah masyarakat Indonesia mulai luntur. Rasa cinta dan perasaan memiliki budaya dan seni Indonesia pun mulai pudar. Jarang sekali generasi muda yang mau tau, mau melestarikan dan mau menjaga seni terutama seni tari asli Indonesia. Tidak banyak dari generasi muda kita yang tau bahkan bisa menarikan tarian tradisional. Anak-anak Indonesia lebih tertarik untuk menggeluti tarian-tarian modern. Untuk itu kita harus berfikir bagaimana cara agar anak-anak kita tertarik untuk menggeluti tarian tradisinya sendiri. Kita harus berusaha menumbuhkan rasa cinta dan rasa memiliki seni tari tradisional Indonesia terhadap generasi muda agar seni di Indonesia tidak hilang ditelan waktu.
dengan cara pengajaran oleh guru yang kurang tepat. Cara pengajaran guru kurang kreatif dan hanya menuntut siswa untuk bisa menirukan ragam gerak tari yang diajarkan dengan tepat sehingga kreatifitas siswa tidak tereksplor dan terasah. Hal tersebut membuat siswa sering menyepelekan dan tidak bersemangat bahkan bosan. Seharusnya di dalam mengajar seni tari guru menggunakan model pembelajaran terpadu dengan menggunakan pendekatan ekspresi bebas, disiplin ilmu dan multikultural agar seni tari di SD N Bergas Lor 1 lebih berkembang dan siswa lebih berwawasan dan kreatif.
tentang diri atau lingkungannya (Eny Kusumastuti, Penerapan Model Pembelajaran Seni Tari Terpadu pada Siswa Sekolah Dasar, hal 2).
METODE OBSERVASI
Metode observasi saya menggunakan metode pengumpulan data, dokumentasi serta wawancara. Saya mengumpulkan data-data dari narasumber, masuk ke dalam kelas dan mendokumentasi proses pembelajaran. Setelah itu saya melakukan wawancara dengan pengajar mengenai pembelajaran seni tari di SD N Bergas Lor 1.
HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN
Hasil observasi dan pembahasan dalam observasi ini meliputi proses pembelajaran seni tari di SD N Bergas Lor 1.
Proses Pembelajaran Seni Tari di SD N Bergas Lor 1
Proses pembelajaran seni tari di SD N Bergas Lor 1 menggunakan kurikulum 2013. SD N Bergas Lor 1 merupakan sekolah yang sudah berakreditas A. Walaupun pembelajaran ekstrakulikuler tari di SD N Bergas Lor 1 ini mengacu pada kurikulum, tetap di dalam proses pembelajaran fleksibel dan di bebaskan pada guru pengampu dengan menyesuikan keadaan lingkungan yang ada. Proses pembelajaran seni tari di SD N Bergas Lor 1 ini di dukung oleh komponen-komponen pembelajaran seperti guru, siswa, tujuan pembelajaran, materi, metode, media dan evaluasi.
Guru
Proses pembelajaran seni tari di bimbing oleh seorang guru bernama Theresia Sulasih, S. Sn. Guru mengampu 7 kelas, yaitu kelas 1A, 1B, 2, 3, 4A, 4B dan kelas 5(Wawancara: Theresia Sulasih: 27 Oktober 2016)
Siswa
diantaranya adalah siswa penurut, ramai sendiri, kurang bersemangat dan ada juga yang susah diatur.
Tujuan Pembelajaran
Tujuan dilaksanakannya ekstrakulikuler sendiri yaitu sebagai penunjang program yang sudah ditentukan dari dinas (Wawancara: Theresia Sulasih 27 Oktober 2016).
Materi Pembelajaran
Materi yang diberikan pada kelas 1, 2 dan 3 adalah materi yang masih sederhana dengan gerakan-gerakan yang mudah ditirukan dan juga menggunakan iringan lagu-lagu tradisional seperti lagu Padang Mbulan. Tetapi sebelum menginjak pada praktek biasanya guru memberikan gambaran-gambaran mengenai bentuk-bentuk gerak tangan, kaki, badan serta kepala. Sedangkan pada kelas 4 dan 5 sudah diajarkan bentuk tari kreasi seperti tari soyong dan jaranan. Sebelum praktek kelas 4 dan 5 juga diberikan gambaran tentang busana dan rias pada beberapa tarian. Siswa siswi yang mengikuti ekstrakulikuler seni tari rata-rata berjumlah 30 orang per kelas. Namun, pengajaran dibagi menjadi putra dan putri yang digilir setiap dua minggu sekali. Ekstrakulikuler tari diadakan setiap hari Senin untuk kelas 1, 2 dan 3 dari pukul 10.00 sampai pukul 13.00 dengan sistem gilir yaitu dimulai dari kelas 1 lalu 2 dan selanjutnya baru kelas 3. Sedangkan untuk kelas 4 dan 5 di hari Rabu pada jam yang sama dan sistem yang sama. Barisan pada saat pembelajaran ini bebas namun ada saatnya guru akan menyuruh anak didiknya yang sering di belakang untuk mencoba berbaris di depan. Proses pembelajaran dilaksanakan di aula SD N Bergas Lor 1. Siswa siswi sudah cukuo baik dalam mengikuti gerakan tari yang di contohkan oleh guru(Wawancara: Theresia Sulasih 27 Oktober 2016).
Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran yang di gunakan guru tari di SD N Bergas Lor 1 ini adalah dengan mengajarkan terlebih dahulu gerak-gerak tari sedikit demi sedikit anak, baru setelah itu dicoba disatukan dengan musik. Tetapi saat anak-anak menari diiringi musik guru tetap di depan memberikan arahan pada siswa siswinya untuk mengikuti gerakannya(Wawancara: Theresia Sulasih 27 Oktober 2016).
Media yang digunakan untuk pembelajaran adalah tape recorder, kaset dan sampur. Tape recorder disediakan oleh sekolah, kaset dibawa oleh guru pengampu dan sampur mandiri dibawa oleh siswa siswi(Wawancara: Theresia Sulasih 27 Oktober 2016).
Evaluasi
Evaluasi pembelajaran seni tari siswa siswi SD N Bergas Lor 1 yaitu siswa dapat meniru gerakan tari yang diajarkan oleh guru. Penilaian guru dalam pembelajaran seni tari dilihat dari aspek keaktifan siswa dalam menirukan gerakan yang diajarkan guru dari awal sampai akhir tarian. Guru juga akan melakukan penilaian pada setiap semesternya.
PENUTUP Simpulan
Proses pembelajaran seni tari SD N Bergas Lor 1 terdiri dari beberapa komponen pembelajaran yaitu guru, siswa, tujuan pembelajaran, materi, metode, media pembelajaran dan evaluasi. Komponen tersebut sangat berpengaruh dalam jalannya proses pembelajaran. Materi yang diberikan yaitu tari yang terdiri dari gerak dasar kepala, tangan, badan dan kaki. Pada kelas 1, 2 dan 3 masih pada gerak sederhana sedangkan kelas 4 dan 5 menginjak pada tari kreasi. Kegiatan ekstrakulikuler tari ini diminati banyak siswa namun fasilitas dan pengajar yang minim membuat minimnya juga hasil dari kegiatan yang di dapatkan siswa.
Saran
Dalam hal ini guru di harapkan menggunakan metode pembelajaran seni tari terpadu yang terdiri dari pendekatan disiplin ilmu, pendekatan multikultural dan pendekatan ekspresi bebas. Guru juga di harapkan menjadi lebih kreatif dalam melakukan proses pembelajaran agar anak tertarik. Pada anak agar tetap bersemangat dan mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh dan giat berlatih agar hasilnya baik.
Kusumastuti Eny, Artikel Penelitian Penerapan Model Pembelajaran Seni Tari Terpadu Pada
Siswa Sekolah Dasar