KOMUNIKASI TERAPEUTIK
KEMOTERAPI DI BANJARMASIN
Sanusi
Ilmu Komunikasi-FISIP Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjary Banjarmasin
�
[email protected]Pendahuluan
Komunikasi kesehatan merupakan sebuah kajian dan kebutuhan utama dalam membantu penyelesaian masalah kesehatan masyarakat. Terutama untuk pengobatan penyakit kanker yang mengancam semua orang, tanpa kecuali, dan biasanya tanpa terdeteksi dengan baik.
Kondisi sakit seorang yang menderita kanker sangat mempengaruhi emosional dan alur pikir, diperlukan keseimbangan yang potisif untuk bisa bersinergi menyelesaikan masalahan penyakit tersebut. Berbagai upaya yang bisa dlakukan tenaga medis untuk menanggulangi penyakit kanker, antara lain dengan pengobatan oral, operasi mengangkat penyakitnya, kemoterapi, radiasi, terapi hormonal, terapi biologik dan berbagai pengobatan tradisional.
Fenomena perjuangan pasien penderita kanker dengan pengobatan kemoterapi yang biasanya proses waktu lama, memerlukan komunikasi terapeutik yang efektif dalam berbagai proses penyembuhan, juga dibutuhkan pemahaman dan kepatuhan yang tinggi diantara pihak yang terlibat. Komunikasi terapeutik yang dilakukan dokter dan tenaga medis serta keluarganya sangat mempengaruhi percepatan dan kualitas penyembuhan pasien.
dan pemeriksaaan isik. Keterampilan / kompetensi komunikasi seorang dokter merupakan kunci efektifnya tindakan klinis yang dilakukan oleh dokter. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa tujuan akhir pendidikan dokter adalah meghasilkan, yaitu dokter sebagai seorang care provider, decision maker, manager, community leader, dan communicator.
Fenomena komunikasi terapeutik bagi pasien yang menjalani kemoterapi dalam penyembuhan kanker terdapat sangat banyak permasalahannya. Secara personal, masalah tersebut bisa dari pasiennya sendiri, dari lingkungan keluarganya atau bisa dari petugas kesehatan. Setiap pasien tersebut akan mendapatkan berbagai masalah yang berbeda yang sesuai dengan cara pandangnya, memberikan makna terhadap permasalahan yang dihadapi dan solusinya, pemahaman serta pendekatan bagaimana untuk mencapai tujuan dalam menyembuhkan penyakit tersebut, juga berbeda.
Penelitian ini mensintesis makna dan esensi fenomena komunikasi terapeutik yang dilakukan dokter dan petugas kesehatan kepada pasien. Model pendekatan dalam penyembuhan kanker tersebut terdapat beberapa macam yang bisa dilakukan oleh petugas kesehatan yaitu : Model Informasi, Model Paternalistik, dan Model Kebersamaan. Sistem penyembuhan sangat berbeda dan tergantung pada pengetahuan, pengalaman, tradisi dan budaya dalam memaknai kondisi sakit (sick) seseorang. Perbedaan pengetahuan dan pengalaman tersebut terbagi pada sistem biomedis, sistem naturalistik, dan sistem personalistik. Sistem biomedis yang menjadi pegangan petugas kesehatan, dalam penyembuhan penyakit harus dengan menggunakan obat-obatan atau zat kimia untuk melawan intervensi virus atau bakteri yang menyerang manusia sebagai penyebab penyakitnya. Sedangkan sistem naturalistik, menganggap bahwa manusia sakit karena terjadi ketidakseimbangan fungsi yang bekerja dalam tubuh manusia, oleh sebab itu penyembuhannya bisa dilakukan dengan cara menyeimbangkan fungsi yang bekerja dalam tubuh manusia, diyakini ada unsur panas (Yang) dan unsur dingin (Yin). Bila kedua unsur ini seimbang, maka orang akan sehat, demikian juga kalau sakit, maka harus diketahui unsur mana yang kurang berfungsi, sehingga harus dicarikan unsur penyeimbangnya.
Jumlah pasien kemoterapi di Rumah Sakit Umum Ulin Banjarmasin setiap hari 16 orang sesuai dengan ketersediaan ranjang pasien, seorang pasien diberikan kemoterapi setiap 20 hari sekali, sebanyak 6-8 kali. Berarti jumlah pasien kemoterapi kanker yang terdata minimal 16 orang/hari x 20 hari = 320 orang.
Data lain didapat dari petugas medis di ruang Edelweis Rumah Sakit Umum Ulin Banjarmasin 29 Januari 2016. Selama dua bulan terdapat 367 orang pasien yang menjalani kemoterapi, tercatat 4,5 persen meninggal dunia, jumlahnya sama dengan yang berhasil sehat, terdapat 11,9 persen pasien tidak aktif lagi melanjutnya pengobatan kemoterapi, dan selebihnya masih dalam proses kemoterapi. Dari jumlah pasien yang tidak aktif lagi dan yang gagal serta yang masih dalam proses penyembuhan, diperlukan data dan fakta mengapa hal ini terjadi, diluar dari kemampuan manusia untuk mengatasi hambatan komunikasi diantara pasien dengan petugas kesehatannya.
Keberhasilan proses penyembuhan kanker dengan kemoterapi ini, sangat ditentukan banyak hubungan, antara lain : efektivitas komunikasi dan intensitas hubungan pihak medis dengan pasien sangat menentukan pemahaman pasien dalam proses penyembuhan kanker tersebut. Efektivitas komunikasi yang terjadi sangat ditentukan bagaimana pihak medis dan pasien memaknai komunikasi yang dipergunakan. Dalam melakukan komunikasi yang benar juga ditentukan oleh proses pemahanan budaya yang dimiliki kedua belah pihak, bahasa serta kondisi situasional yang bisa mendukung komunikasi terjadi dengan efektif.
Penderita kanker di dunia, termasuk di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI tahun 2015 :
Prinsip sebesar apapun permasalahan bangsa, jika dipikirkan dan diselesaikan bersama, sebagai hakekat dari komunikasi yaitu kebersamaan, maka permasalahan tersebut akan menjadi ringan.
Penyakit kanker, setiap saat bisa menyerang siapun juga tanpa kecuali. Sikap yang paling baik adalah dengan mengetahui berbagai karakteristik kanker secara dini, dan menjaga pola hidup yang sehat. Lebih mengkhawatirkan lagi menurut Surveillance and Health Services Research Program, di Amerika 600.920 orang diperkirakan meninggal karena kanker pada tahun 2017, yang berarti sekitar 1.650 orang per hari, kanker adalah penyebab kematian kedua, setelah penyakit jantung, dan menyumbang hampir 1 dari setiap 4 kematian, disebabkan akibat kanker pada tahun 2017.
“About 600,920 Americans are expected to die of cancer in 2017, which translates to about 1,650 people per day (Table 1, page 4). Cancer is the second most common cause of death in the US, exceeded only by heart disease, and accounts for nearly 1 of every 4 deaths. Table 3 (page 6) provides estimated cancer deaths by state in 2017”
Begitu mengkhawatirkan penyakit kanker ini bagi kehidupan umat manusia, sesuai dengan Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI tahun 2015, bahwa prevalensi kanker di Indonesia sebesar 1,4 per 1000 penduduk.
Cara pengobatan yang dikembangkan dunia kedokteran untuk mengatasi kanker, antara lain dengan kemoterapi, tetapi apapun alternatif yang digunakan dalam penyembuhan penyakit, pasti menimbulkan sisi negatifnya. Dampak pemberian kemoterapi yang cukup tinggi adalah tingkat kecemasan kematian bagi penderita, bagi mereka yang mampu bertahan akan mengalami efek samping yang juga cukup menyiksa. Saat menjalani proses kemoterapi, biasanya mereka mengalami, mula-mual yang hebat, nafsu makan berkurang, tenaga hampir habis terkuras. Kemudian sesudah menjalani kemoterapi akan mengalami kebotakan dan tentu juga berat badan drastis turun.
obat-obatan antikanker serta efek samping. Namun, keberhasilan menjadi tanggungjawab semua orang disekeliling pasien, karena pasien akan berhasil dengan dukungan orang-orang disekitarnya.
Penelitian berkaitan fenomena komunikasi terapeutik ini diharapkan memberikan solusi dengan memberikan model komunikasi yang tepat dan mudah dipahami dan dilakukan oleh masyarakat. Model pendekatan komunikasi terapeutik yang didapatkan tentunya sesuai dengan nilai-nilai budaya yang sedang berkembang dalam penanganan penyembuhan penyakit selama ini.
Komunikasi terapeutik yang dilakukan tim medis dan keluarga serta sahabatnya sangat diperlukan untuk membantu melawan penyakit kanker, sebagaimana dari pengalaman Anne E. Frahm, (2007:163) yang menulis pengalamannya dalam buku “Melawan Kanker”.
“Saya menderita kanker yang menyebar dari payudara ke bahu, iga, tengkorat, dan tulang punggungnya; tulang belakngnya bahkan patah akiat tekanan. Seperti kebanyakan pasien lainnya, respon pertamanya adalah menjalani semua bentuk pengobatan, pembedahan, biopsy, dan kemoterapi. Namun semuanya menunjukkan prognosis sia-sia. Penyakit ganas itu masih berakar dalam sumsum tulang”
.
Kondisi Anne sudah dinyatakan tak ada harapan bisa bertahan untuk hidup, dan dr. Schubert yang menanganinya sudah angkat tangan. Program transpalantasi sumsum tulang sudah dilakukan di Rumah Sakit Midwestern, kemoterapi juga diberikan sampai jenuh dan membunuh bagian dalam tubuh, menghancurkan sel darah yang baik dan sistem kekebalan.
Metode
Penelitian dilakukan wawancara mendalam dengan pasien yang bersedia menjadi informan. Jumlah informan yang efektif bisa diwawancarai adalah sebanyak 13 orang, sesuai dengan sifat penelitian fenomenologi, dan sudah cukup data untuk menganalisa permasalahan dalam penelitian ini. Beberapa sasaran sampel lainnya tidak memenuhi syarat : sebanyak 12 orang pasien sudah meninggal dunia, sebagian sudah pindah alamat, dan ada yang memang tidak bersedia diwawancarai.
Secara bersamaan kurun waktunya juga dilakukan wawancara dan observasi dengan dokter spesialis kanker yang paling senior dan paling banyak menangani pasien dengan kemoterapi. Observasi mendalam dilakukan dengan mendampingi dokter tersebut secara intensif ketika melakukan komunikasi kepada pasiennya. Peneliti mengeksplorasi sikap dokter sub spesialis Homadialisis (Dr. dr. Muh. Darwin Prenggono, SpPD(K), SpHom., PINASIM), dengan bantuan rekaman dan kamera video untuk merekam apa yang dikomunikasikan dan bagaimana dialog yang terjadi dengan pasiennya. Bersamaan juga memperhatikan reaksi pasien dan dokternya selama terjadi komunikasi terapeutik tersebut.
Penelitian ini telah mendapat izin dari Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin melalui Kepala Bidang Diklit RSUD Ulin Banjarmasin yang waktunya sampai penelitian ini selesai dilakukan. Tempat penelitian dilakukan di ruang praktek dokter, di ruang perawatan Edelwes Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin, dan juga diberbagai alamat rumah pasien.
Hasil
Dari sampel sasaran yang menjadi target penelitian ini, berjumlah 52 orang terdiri dari 12 orang laki-laki dan 40 orang perempuan. Dilihat dari jumlah yang meninggal, sama banyaknya antara laki-laki dan perempuan, yaitu masing-masing 6 orang. Data ini menunjukkan bahwa sangat besar resiko kematian akibat kanker tersebut.
Persentase dari sampel perempuan 40 orang, yang menderita kanker payudara sangat besar yaitu 26 orang (65 %), data ini dengan perbandingan jumlah penderita kanker perempuan yang dilaporkan Kementerian Kesehatan tahun 2015. Jumlah perempuan yang meninggal 6 orang, dan 5 diantaranya (83%) penderita kanker payudara dan sisanya 1 orang karena kanker tulang.
Sedangkan dari 12 orang sampel laki-laki, terdapat 6 orang yang meninggal. Penyebab kematiannya dari 2 kanker paru, dan masing-masing satu dari kanker (limpoma, nasofaring, lidah, pancreas, dan rekti). Ini menunjukkan bahwa bagi laki-laki mempunyai persentase lebih tinggi terhadap kematian akibat kanker, hal ini disebabkan antara lain, laki-laki sebagai tulang punggung mencukupi keperluan keluarga, sehingga mereka berobat secara intensif apabila memang sudah pada stadium lanjut.
Komunikasi antara dokter dengan pasien berjalan dengan penuh keakraban, semua penjelasan yang berkaitan dengan penyakit pasien sangat jelas, karena setiap sesi penjelasan, atau setiap mau mengakhiri dialog tersebut selalu ditanyakan, “apakah ada pertanyaan?”.
atau mungkin ada beberapa komponen “pabrik” tersebut sudah aus, atau mungkin saja “para pekerja dalam pabrik” tersebut malas bekerja, atau bisa jadi “bahan baku” darahnya yang kurang memadai. Kalau itu diketahui sudah normal semua, maka analisa berikutnya, apakah ada “hambatan dalam penyaluran darah tersebut”. Kalau terjadi hambatan dalam distribusi darah, apakah karena penumpukkan kolesterol pada saluran vena, maka bagian ini harus diterapi. Kemudian kalau itu sudah dipastikan semua baik, dokter menjelaskan bahwa tindakan selanjutnya adalah mensintesa jaringan metabolismenya. Tapi dijelaskan lagi oleh dokter, tindakan analisa pemeriksaan metabolism itu mahal biayanya, namun hasil semuanya akan jelas, terukur, lebih detail, dan “tindakan pengobatannya sudah sangat jelas”. Sampai disini, dokterpun tidak membiarkan pasiennya dalam keadaan bingung, beliau tetap memberikan ruang bagi pasien untuk terlebih dahulu berkonsultasi dengan keluarganya mengenai rencana tindakan yang harus dijalani. Dokter mengulangi lagi dan menanyakan apakah ada sesuatu yang kurang jelas dan perlu ditanyakan. Disini sangat jelas betapa dokter bisa memahami situasi yang sedang dihadapi oleh pasiennya, dan sangat jelas kelihatan bahwa pasien dan keluarga pendampingnya bisa memahami apa yang dijelaskan oleh dokter. Semua menjadi jelas, dari tindakan yang akan dijalani, efek samping, dan juga berapa biaya yang diperlukan, serta tahapan-tahapan waktu dalam prosedur pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien.
dia minum selama 3 tahun, semua ini kalau BPJS, gratis”, kemudian dokter mengangkat kantongan satu lagi, “ini harganya 29 juta sekali kemo”. Tapi semua itu gratis, “semua dibayar cash oleh pemerintah kalau menggunakan BPJS”. Sementara pasien sedikit terdiam, dan menanyakan kepada dokter, berapa anggaran kemoterapi untuk kasus yang dihadapi pasien. Dokternya menjelaskan bahwa “bisa sampai 13 jutaan, kalau mau beli, beli aja gitu”. Dialog yang dilakukan dokter tersebut sangat menunjukkan betapa kredibilitas seorang professional, dialognya mengalir, dan semua dapat dimengerti dengan baik oleh pasiennya. Ditegaskan lagi oleh dokter bahwa “Didalam ilmu kedokteran, ada namanya SOP, itu apa artinya kalau pasien dapat penyakit A, maka jelas obatnya adalah untuk A, tidak bisa jadi B, itu namanya berantakan”. Dokter sambil memberikan penjelasan kepada pasien, dengan memperhatikan catatan medis pasien tersebut yang dibawa dari salah satu dokter klinik di Singapura, “ini saya tidak mengerti, saya tidak tahu, mengapa penyakit ibu diberi obat ini, menurut catatan ini, bahwa digunakan obat NPC, ini sangat cocok untuk paru, bukan untuk nasofaring, ini yang menyebabkan pengobatan itu mahal”. Selanjutnya pada keputusan terakhir dokter masih memberikan ruang, agar pasien bisa berpikir tenang dan dapat konsultasi dengan keluarganya tentang alternatif tindakan medis yang akan dipilih.
Penjelasan dokter mengenai berbagai penyebab penyakit dan rencana tindakan medis kepada pasiennya, biasanya disertai dengan menulis di kertas dengan memberikan diagram dan alur rencana tindakan medis. Diagram yang ditulis dokter tersebut, beberapa bagian diberikan lingkaran-lingkaran untuk lebih memberikan kejelasan kepada pasiennya, sesekali dokter memperagakan dengan gerakan gerakan tangan dan telunjuknya, sambil memegang atau menunjuk bagian-bagian tubuh yang dimaksud.
berobat ke pulau Jawa ( RS Ciptomangunkusumo Jakarta, atau RS Karang Menjangan Surabaya ). Berbeda dengan dokter yang sudah Sub Spesialis (S3), beliau menganggap bahwa obat itu dimana-mana sudah sama, ada SOP-nya, semuanya bisa di lihat pada pedoman pengobatan atau bisa dilihat melalui website medical instructions and treatment atau yang sejenisnya, bahkan dokter tersebut menyampaikan bahwa kita tidak kalah keberhasilan pengobatan jika dibandingkan dengan pengobatan dari luar negeri. Terbukti dengan beberapa pasien yang diterapi oleh dokter tersebut; “ada beberapa pasien yang datang kepada saya, sebelumnya mereka sudah di terapi di rumah sakit terkenal di luar negeri, dan dokternya menyarankan supaya kembali berobat di Indonesia saja, itu ada di Kalimantan”. Situasi ini yang menyebabkan pengobatan itu menjadi semakin mahal, biaya perjalanan, dan biaya pendampingnya, dan juga banyak pekerjaan yang mestinya bisa menambah penghasilan keluarga menjadi tidak produktif. Kodisi kesulitan pasien ini sesuai dengan pengakuan beberapa pasien, bahwa mereka tidak bisa mengikuti anjuran supaya berobat ke Jawa; tidak cukup biaya dan juga secara teknis sulit untuk dituruti, pasien dan keluarganya tidak memahami kondisi rumah sakit yang dituju, bahkan ini akan menjadi tambahan beban yang cukup berat selain beratkan kondisi penyakit yang disandang pasien.
Diskusi
Dari berbagai perilaku pasien dan dokter dalam pengobatan kemoterapi tersebut menemukan beberapa yang perlu ditindaklanjuti sehingga penyembuhan kanker akan bisa menghasilkan yang lebih maksimal. Pengetahuan masyarakat belum sepenuhnya mendukung bisa membuat pengobatan kanker secara dini dan tuntas, selain keterbatasan fasilitas pengobatan dan biaya yang sangat mahal untuk bisa mencapai pengobatan yang maksimal.
berikutnya adalah menurunnya nafsu makan, bahkan beberapa pasien tidak bisa makan sampai satu minggu, dan ini dianggap tidak menunjang program penyembuhan yang diharapkan oleh pasiennya. Menurut pengakuan pasien: “untuk mendapatkan obat yang bisa membantu meningkatkan nafsu makan, harus membeli sampai lima ratus ribu perbotol untuk dikonsumsi sati minggu”. Tambahan pengobatan ini, untuk menambah nafsu makan, tidak semua pasien bisa membelinya, apalagi mereka yang sangat keterbatasan beban biaya diluar jaminan BPJS. Informasi yang kurang memadai tersebut, menyebabkan semakin memperparah kondisi pasien. Mereka tidak beroba, apabila tidak terpaksa, dan tidak ada pilihan lain karena sudah merasakan sakita yang berlebihan.
Keterbukaan dokter dan semangat kebersamaan dengan pasien perlu ditingkatkan, beberapa pasien tidak berani menanyakan kalau ada keinginan untuk mempercepat penyembuhan dengan menambah dengan pemahaman pengobatan tradisional, baik dengan personalistik ataupun dengan naturalistik. Sistem pengobatan personalistik menganggap adanya intervensi kekuatan gaib yang bisa mempengaruhi kesehatan manusia. Sedangkan pengobatan naturalistik, diyakini bahwa penyakit manusia akibat ketidakseimbangan fungsi yang bekerja dalam tubuh manusia, sehingga penyembuhannya harus diketahui unsur penyebab dan diterapi dengan memberikan penyeimbangnya. Ada penyakit yang menyebabkan rasa panas atau dingin dalam tubuh manusia, maka diobati dengan berbagai makanan, ramuan, atau herbal yang sifatnya bisa menyeimbangkan atau melawan sifat-sifat panas atau dingin tersebut. Sugesti, merupakan unsur penting untuk membantu penyembuhan penyakit. Pengelolaan sugesti yang baik dan produktif sangat membantu mengkondisikan pikiran pasien untuk cepat sembuh. Sakit dan sehatnya seseorang sangat dipengaruhi oleh konstruksi pikiran manusia itu sendiri.
dengan cara bedah atau operasi membuang jaringan rusak tersebut bersama virus atau bakteri penyebab penyakitnya.
Program jaminan kesehatan masyarakat melalui BPJS belum dipahami secara komprehensif dan benar oleh masyarakat. Banyak masyarakat merasa beban dalam membayar iuran dan menganggap obat yang diberikan hanya sekadarnya, obat generik standar, yang pada akhirnya dianggap kurang memberikan efek penyembuhan yang memadai. Cara pandang masyarakat yang harus diperbaiki, diperlukan ada lembaga yang bisa memberikan penjelasan pencerahan bagi masyarakat. Sifat gotong royong membantu saudaranya dalam memenuhi obat yang diperlukan, merupakan kondisi menyehatkan secara psikis bagi mereka yang tetap sehat. Mereka beramal, sebagai tanda syukur tidak sakit, bisa membantu dan dapat pahala, serta menambah semangat untuk tidak mau sakit. Manfaat yang bisa dirasakan saudaranya, bisa menggunakan fasilitas puluhan, bahkan ratusan juta atau bisa mencapai lebih satu milyar rupiah, bisa dinikmati secara gratis. Bagi orang kaya yang menurut kebiasaan berobat ke luar negeri, tidak perlu lagi, karena menurut dokter sub-spesialis: ”standar mutu obatnya sama seluruh dunia, ada stnadar pengobatan da nada standar terapi yang diinformasikan secara gampang dan merata diantara sesama dokter medis”. Under estimate mengenai mutu obat dan pelayanan kesehatan di Indonesia perlu mendapatkan penyampaian informasi yang merata kepada masyarakat.
Tidak merata sarana dan prasarana pengobatan kanker, jumlahnya terbatas, sangat memberatkan masyarakat yang memerlukannya. Masyarakat harus menempuh perjalanan jauh untuk mendatangi tempat perawatan, dan juga antre lama untuk mendapatkan giliran bisa dilayani. Kondisi ini bisa lebih memperparah kondisi sakitnya pasien. Semakin parah sakitnya pasien, menambah ketidakpastian kesembuhan yang diharapkan.
Kesimpulan
dokter sangat diperlukan untuk meyakinkan bahwa tindakan medis yang dilakukan memang sudah yang terbaik dan sesuai dengan SOP kepastian penyembuhannya. Sebagian pasien yang berobat ke dokter ada yang under estimate terhadap tindakan dokter dan mutu obat di Indonesia. Akibat tidak merata, keterbatasan sarana dan prasarana pengobatan kanker, menyebabkan belum tertangani segera semua keperluan pengobatan kanker membuat semakin kronis kondisi pasien, dan akhirnya jumlah penderita semakin banyak. Keterbatasan informasi tentang jenis penyakit, penyebab penyakit, gejala penyakit, dan tindakan yang harus dilakukan masyarakat, menambah beban pengobatan kanker semakin berat.
Data testimoni dan bantuan teknologi informatika sangat membantu analisa penyakit dan alternatif tindakan terapi yang dilakukan dokter. Tindakan pengobatan terhadap pasien yang sudah di kemoterpi, tidak semuanya bisa sembuh total, tetapi yang diperlukan adalah perubahan sikap pasien menjadi perilaku sembuh. Komunikasi efektif dari hasil dialog dengan pasien yang intensif sangat membantu penyembuhan dengan merubah perilaku perilaku sembuh, mengkondisikan suasana perilaku manusia sehat.
Saran
Perlu upaya dari berbagai pemangku kebijakan untuk lebih meningkatkan pengetahuan masyarakat akan berbagai penyakit, terutama penyakit kanker, agar penyembuhan penyakitnya bisa tuntas. Diperlukan pemerataan sarana dan prasarana untuk mendekatkan tempat pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkannya, kemoterapi nantinya bisa dilakukan di semua sarana pengobatan pemerintah daerah di tingkat Kabupaten/Kota. Selanjutnya secara bertahap dan terencana untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana/prasarana, serta kualitas pelayanan yang prima.
Diperlukan untuk memaksimalkan upaya penyembuhan dengan berbagai cara selain sistem penyembuhan penyakit secara biomedis. Memanfaatkan seluruh potensi masyarakat baik pengobatan naturalistik, maupun pengobatan personalistik, dimulai dengan komunikasi terapeutik dari tenaga medis bekerjasama dengan keluarga pasien untuk meningkatkan kemampuan pribadi pasien supaya mempunyai sugesti untuk mampu dalam penyembuhan penyakit tersebut.
Datar Pustaka
Ahmad A.S. (2006), Panduan Komunikasi Kesehatan, Yogyakarta : Indarti.
Alex Sobur, Drs., MSi, 2014, Komunikasi Naratif, Paradigma, Analisis, dan Aplikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung.
Andi Bulaeng Drs., MS, 2000, Metode Penelitian Komunikasi Kontemporer, Hasanuddin University Press, Makassar.
Ashikaga T, Bosompra K, O’Brien P, Nelson L.2002 ”Use of complimentary and alternative medicine by breast cancer patients: prepalence, patterns and communicaiton with phsycians”. Supportive Care Cancer. 10:542-547.
A.Samovar, Larry, Richar E.Porter, Edwin R.McDaniel, 2010, Communication Between Cultures, Cengage Learning Asia Pte Ltd, Singapore, Salemba Humanika-Jakarta.
Blais Koenig Kathleen, 2007, Praktik Keperawatan Profesional, Konsep & Perspektif, Edisi 4. Jakarta. EGC.
Cameron. L.D. & Leventhal, Howard. 2003. he Self Regulation of Health and Illness Behavior. New York; Routledge.
Cangara, Haied. 2003. Pengantar Ilmu Komunikasi, PT. Raja Graindo Persada, Jakarta.
Christina,L.U., Untung S.,dan Tatik Indrawati, 2003, Komunikasi Kebidanan, Jakarta, EGC.
Creswell, Clark E., 1994. Qualitative Inquiry and Research Methods. United States of America:Sage Publications Inc.
Creswell, John W, 2009, Research DesignQualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approachches, hirth Edition, Sage publications, housand Oaks California.
Daniels, RS. 1975. he Hospital as a herapeutic Community. Bab 32 Milieu herapy. dalam Comprehensive Text Book of Psychiatry/II. Alfred M.Freedman, et al. halaman 1990-1995. Baltimore. Maryland USA: Williams dan Wilkins Co.
De Jong, W. 2005. Kanker, Apakah itu? Pengobatan, Harapan Hidup, dan Dukungan Keluarga (alih bahasa oleh Astoeti Suharto Herdjan). Jakarta: Arcan.
DeVito, J. 1997. Komunikasi Antarmanusia, Terjemahan Agus Maulana. Jakarta: Profesional Books.
Efendy, Onong Uchjana. Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.
Engkus Kuswarno, Prof.Dr.,MS., 2013, Metode Penelitian Komunikasi-Fenomenologi, Widya Padjadjaran, Bandung.
Foster, GM, Anderson, BA. 1986. Antropologi Kesehatan, Jakarta: UI-Press.
Frahm, Anne E dan David J.Frahm, 2007. Melawan Kanker, Mitra Media, Jakarta
Haro, Sl. 1977. Exploration in Personal Health, Boston USA: Houghton Milin.
Heri Purwanto, 1994. Komunikasi untuk Perawat, Jakarta, EGC.
Husserl, Edmund, 1962, Ideas : General Introduction to the Pure Phenomenology, United State of America: Collier Books Edition.
Katzung BG, 10th ed. Basic & Clinical Pharmacology. San Fransisco:
McGraw-Hill Professional, 2006: 882-894.
Larry A.Samovar, Richard E.Poreter dan Edwin R.McDaniel, 2010, Komunikasi Lintas Budaya-Communication Between Cultures, Jakarta, Salemba Humanika.
Liliwer, Alo, 2008, Dasar-dasar Komunikasi Kesehatan, Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Liliweri, Alo, 2002.Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya, Jogyakarta : LKiS
Meidiana Dwidiyani, 2008. Keperawatan Dasar. Konsep ”caring”, Komunikasi, Etik dan Spiritual dalam pelayanan keperawatan, Semarang. Hasani.
Mcleod. 2008. Pengantar Konseling Teori dan Studi Kasus. Jakarta : University Press.
Miller, Katherine, 2005. Communication heories: Perspectives, Processes and context, McGraw Hill.
Moeloeng.L.J., 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung. PT Remaja Rodakarya.
Mulyana, Deddy. 2016. Health and herapeutic Communication, , PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Mulyana, Deddy. 2012. Cultures and Communication, An Indonesian Scholar’s Perspective, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Mulyana, Deddy. 2011. Komunikasi Lintas Budaya;Pemikiran Perjalanan dan Khayalan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Mulyana, Deddy. 2008. Membangun Komunikasi Kesehatan di Indonesia; Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung.
Mulyana, Deddy. 2002. Metode Penelitian Kualitatif; Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Mulyana, Deddy. Prof.MA,Ph.D., 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung.
Mulyana, Deddy. Prof.MA,Ph.D., 2010. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung.
Mundakir. 2006, Komunikasi Keperawatan, Aplikasi dalam pelayanan, Yogyakarta. Graha Ilmu.
Rebecca Siegel, MPH; Kimberly Miller, MPH, 2017, Surveillance and Health Services Research Program, Cancer Facts & Figures is an annual publication of the American Cancer Society, Atlanta, Georgia
Schutz, Alfred, 1970. On Phenomenology and Social Relations, Chicago : he University of Chicago Press.
Sugiyono, 2009, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Dan R & D. cetakan ke 7. CV Alfabeta. Bandung.
Suryani. 2015, Komunikasi Terapeutik : Teori & Praktik. Jakarta. EGC.
Suyanto, Bagong dan Sutina,Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan, Kencana, Jakarta.
Tauik, M. dan Juliane, 2010. Komunikasi Terapeutik dan Konseling dalam Praktik Kebidanan, Jakarta. Salemba Medika.
Uripni, Christina Lia dkk, 2003, Komunikasi Kebidanan, Jakarta, ECG.
---, Kemenkes RI, 2015, Pusat Data dan Informasi.