• Tidak ada hasil yang ditemukan

Auditor Bukan Penjamin Kegagalan dan Kes

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Auditor Bukan Penjamin Kegagalan dan Kes"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Nanda Ladepi Nim : 15919038

Mata Kuliah : Auditing Lanjutan Kelas : MAKSI 12

Auditor Bukan Penjamin Kegagalan dan Kesuksesan Suatu Strategi Bisnis

Dalam membuat judgment, auditor mempunyai kesadaran bahwa suatu pertanggungjawaban merupakan faktor yang cukup penting karena penilaiannya akan ditinjau dan dimintai keterangan (Haryanto, 2012). Oleh karena itu, untuk tetap menjaga keandalan judgment merupakan suatu keharusan bagi auditor. Menurut Eining et. al (1997) dalam Tri Ramaraya (2008) tugas pendeteksian kecurangan memerlukan pertimbangan yang profesional karena melibatkan banyak isyarat (multi-cues judgment) yang secara inheren sulit untuk dilakukan tanpa didukung oleh alat bantu (decision aids). Hal serupa juga disampaikan oleh Hackenbrack (1992) dalam Tri Ramaraya (2008) yang mengatakan bahwa ketika auditor melakukan audit judgment akan ada informasi yang tidak relevan yang bercampur dengan informasi yang relevan. Bercampurnya informasi ini akan mengakibatkan penilaian risiko kecurangan oleh auditor menjadi kurang ekstrim atau kurang sensitif. Profesionalisme seorang auditor diperlukan untuk menelaah informasi- informasi apa saja yang diperlukan dalam membuat audit judgment yang berkualitas. Auditor akan selalu dituntut untuk profesional dalam melakukan setiap pekerjaan profesinya. Profesionalisme dapat juga tercermin dari ketaatan auditor internal menaati kode etik profesi yang berlaku. Kode etik tersebut menetapkan standar perilaku sebagai pedoman bagi seluruh auditor internal. Prinsip-prinsip perilaku profesional memberikan pedoman bagi anggota dalam kinerja tanggung jawab profesionalnya dan menyatakan tentang prinsip-prinsip dasar etika dan perilaku profesional. Prinsip-prinsip tersebut menghendaki komitmen teguh kepada perilaku yang terhormat meskipun mengorbankan keuntungan pribadi (Yeni Siswati, 2012).

Apakah akuntan publik yang bersetifikat yang melakukan pemeriksaan laporan keuangan

sesuai standar yang berlaku bertanggung jawab untuk menemukan kecurangan material di

dalam laporan keuangan yang mereka periksa? Beberapa berpendapat iya, atau seharusnya,

namun beberapa pihak beranggapan bahwa mereka tidak berkewajiban. Standar dengan jelas

mengatur bahwa Pemeriksa yang melakukan audit sesuai standard auditing yang berlaku

harus mendesain prosedur pemeriksaan untuk memperoleh keyakinan yang pantas (bukan

absolut), bahwa laporan keuangan yang diaudit bebas dari kesalahan penyajian material, baik

(2)

tidak mungkin diperoleh karena sifat kecurangan maupun sifat pemeriksaan berdasarkan

standard, yakni pengujian melalui berbagai sampling atau teknik lain, bukan mengevaluasi

semua kegiatan ekonomi yang memengaruhi kegiatan operasional, arus kas, dan posisi

keuangan. Sebagai tambahan, kebutuhan akan ketepatan waktu proses pemeriksaan agar

laporan keuangan dapat bermanfaat penuh, dan kebutuhan akan proses audit dijalankan

dengan biaya yang pantas bertentangan dengan persyaratan keyakinan absolut. Tetapi ini

tidak berarti bahwa pemeriksa mendapatkan “kartu bebas” ketika pemeriksaan berdasarkan

standard gagal dalam mendeteksi kesalahan penyajian material, baik karena error maupun

kecurangan, dalam laporan keuangan. Kinerja pemeriksa perlu dievaluasi sebelum tuduhan

dijatuhkan. Kertas kerja pemeriksa harus menggambarkan –berdasarkan penilaian risiko,

termasuk evaluasi terhadap pengendalian internal– bahwa prosedur yang digunakan dalam

proses pemeriksaan telah didesain untuk memperoleh keyakinan yang pantas bahwa laporan

keuangan bebas dari kesalahan penyajian material.

Standar kewajiban profesional mewajibkan auditor untuk menerapkan skeptisme

profesional dalam melakukan pemeriksaan. Meski standar memberi tekanan yang signifikan

pada auditor untuk dapat mengidentifikasi kesalahan material atau kecurangan, tetapi standar

tersebut juga dengan adil mengakui bahwa “kecurangan dapat disembunyikan dengan

penolakan pemberian bukti atau kesalahan dalam mengartikan informasi sebagai tanggapan

dari pertanyaan, atau dengan pemalsuan dokumentasi” (AU section 316.09, “Deskripsi dan

Karakteristik Kecurangan”). Standar lebih jauh juga menyadari kesulitan dalam mendeteksi

kecurangan yang diakibatkan kolusi dari personil perusahaan atau pihak ketiga, pemalsuan,

dan persetujuan sepihak yang tidak diungkapkan, serta skema-skema lainnya.

Standar umum mewajibkan auditor menerapkan kewajiban kepedulian profesional.

Ketika dihadapkan pada indikasi kecurangan, auditor sebaiknya mempertimbangkan untuk

melibatkan spesialis forensik pada perjanjian; namun, ini tidak diharuskan, maupun berbeda

dari kewajiban auditor untuk menerapkan penilaian professional yang pantas dalam

administrasi dan pelaksanaan perjanjian, termasuk keputusan kapan akan menggunakan

spesialis. Dalam beberapa kasus terkait dengan skandal keuangan terkini, beberapa orang

menganggap auditor seharusnya telah mengetahui kecurangan pada saat mereka mengaudit

sesuai standar yang berlaku.

Kinerja auditor, pada banyak kegagalan audit yang diklaim, belum pernah diselidiki

secara penuh oleh organisasi mandiri. Jika kegagalannya telah pernah dinilai, maka auditor

dapat dibebaskan dari tuduhan atau dihukum berdasarkan studi analisis tentang kepatuhan

(3)

kegagalan bisnis yang dipublikasikan, pertanyaan yang tidak selalu dijawab atau diperhatikan

adalah apakah risiko kegagalan bisnis yang menyebabkan kerugiannya. Auditor tidak

memberikan jaminan kepada pengguna laporan keuangan model suatu bisnis bebas dari risiko

dan tidak dapat gagal. Auditor juga bukan merupakan penjamin kesuksesan atau kegagalan

suatu strategi bisnis. Tidak mungkin untuk mengaudit sebuah perusahaan jika auditor juga

bertanggung jawab akan kesuksesan atau kegagalan model bisnis perusahaan.

Kalangan profesi akuntan, jauh dari tidak dianggap bersalah ketika skandal keuangan

terjadi, bahkan sering dianggap turut bertanggung jawab. Tetapi untuk dapat secara pantas

menilai pihak yang bersalah, seseorang harus mencari akar permasalahan kecurangan. Hanya

dalam beberapa kasus, seperti E.S.M. Government Securities, Inc. dan Wedtech Corporation

(dan, yang terbaru, kegagalan BMIS), terdapat seorang audit dari luar yang terlibat aktif

dalam kecurangan. Auditor seharusnya dianggap bertanggung jawab secara sekunder jika dan

hanya jika mereka gagal mengikuti standard auditing ketika memeriksa perusahaan dan tidak

menerapkan penilaian professional yang pantas ketika merencanakan audit, merancang

prosedur audit, dan mengevaluasi temuan audit. Sebagai konsekuensinya, memberikan opini

pada kondisi tersebut bahwa laporan keuangan dilaporkan secara wajar sesuai standard atau

kerangka akuntansi lain yang diterma ketika sebenarnya mereka tidak, harus menjadi poin

hukuman sipil atau kriminal bagi auditor, tergantung dari faktanya.

Audit harus dirancang untuk mengungkapkan kesalahan material atau kecurangan, ketika

itu benar-benar terdapat dalam laporan keuangan. Auditor harus mengevaluasi kepantasan

perkiraan dan keputusan manajemen dalam menyiapkan laporan keuangan untuk menentukan

jika laporan tersebut benar-benar wajar. auditor harus mengandalkan penilaian professional

yang pantas berdasarkan fakta dan kondisi yang diketahui pada saat tersebut.

Standar profesi telah meningkat secara signifikan sejak George May dan Robert

Montgomery mempraktekkan auditing. Sistem yang berlaku yang secara terus-menerus

menyadari ketika perubahan dibutuhkan, hal itu akan dicapai. Dua tokoh besar profesi ini

akan bangga kalau mengetahui seberapa yang telah kita capai dalam meningkatkan kualitas

serta keampuhan standar saat ini. Tapi tidak satupun dari mereka yang menganggap bahwa

audit dapat mendeteksi semua kecurangan dengan sempurna, tanpa memandang seberapa

rumit skema kecurangannya; mereka menyadari bahwa ada keterbatasan yang melekat pada

(4)

Referensi

Nugraha Mirza. 2014. Pengaruh Profesionalisme Terhadap Audit Judgement Auditor Internal Pada Satuan Pengawas Internal Perguruan Tinggi Negeri Yogyakarta dan Surakarta dengan Menggunakan Konflik Peran Sebagai Variabel Moderasi.

Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta

Syarifudin. 2015. Tanggung Jawab Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan Menerapkan

Penilaian Profesional dan Mempertahankan Integritas.

Referensi

Dokumen terkait

Ada beberapa karakteristik yang ditemukan dari hasil analisis data mengenai aspek gramatikal.Pertama, kohesi gramatikal yang terdiri atas empat aspek yakni

Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara iklim organisasi dan etos kerja dengan kepuasan kerja, terdapat hubungan antara iklim

Sistem adalah hal yang akan dilakukan atau dibuat yaitu dengan membuat aplikasi pencarian foto studio terdekat di Kota Medan dengan menggunakan algoritma L-Deque dan

Dari hasil penelitian diketahui bahwa sekalipun mayoritas informan masih asing dengan istilah jusnalisme profetik, pilar-pilar profetik, yakni humanisasi (amar ma'ruf), liberasi

Karya ilmiah ini berjudul : Tinjauan Hukum Perjanjian Leasing Kendaraan Bermotor Pada Perusahaan Pembiayaan, mempunyai tujuan untuk mengetahui dan meninjau hubungan hukum

Variabel dependen yang digunakan pada penelitian ini adalah alokasi belanja pegawai, sedangkan variabel independennya adalah (1) kemampuan keuangan daerah yang

Bu çalışmada, akraba ve bitişen diller arasında bilgisayarlı çeviri için geliştirilen kar- ma model üzerine, belirsizlik giderme yönteminin eklenmesi ile Uygurcadan

Tetapi pada suatu kondisi perekonomian yang tidak normal (apabila terjadi krisis ekono- mi), dalam keadaan di mana melalui komponen tingkat suku bunga tahun lalu akan membe-