BUDAYA GLOBAL DAN GAYA HIDUP
Oleh Asep Purnama Bahtiar*
Di antara fenomena menarik dalam kehidupan masyarakat kita dewasa ini adalah maraknya budaya global (global culture) dan gaya hidup (life style). Fenomena ini terjadi
sebagai akibat atau merupakan derivasi dari arus globalisasi yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Globalisasi yang sering dimaknai sebagai proses mendunianya sistem
sosial-ekonomi-politik dan budaya --sehingga dunia seperti menjadi tanpa tapal batas (the borderless world)-- pada dasarnya pula bisa dipahami sebagai suatu bentuk penyeragaman,
dominasi, dan bahkan hegemoni negara-negara maju (Barat) terhadap negara-negara
terbelakang atau bangsa yang sedang berkembang.
Anggapan seperti tadi cukup beralasan mengemuka, karena bukan saja istilah
globalisasi itu berasal dari kosakata Barat, tetapi juga muatan dan ideologi dari globalisasi itu tidak bisa lepas dari kepentingan politik, ekonomi, dan sosial-budaya negara-negara Barat beserta sekutunya. Isi, ukuran, dan standar dari globalisasi tersebut tidak bisa
dipungkiri lagi adalah ala Barat yang pada umumnya dikategorikan kapitalisme, individualisme, materialisme, hedonisme, dsb. Dalam kenyataannya pula, globalisasi secara
total membawa komoditas dan produk industri negara-negara maju, apakah itu yang berkenaan dengan urusan pasar, politik, budaya atau bahkan agama sekalipun.
Berdasarkan asumsi seperti itu pula, maka secara kasat mata bisa disaksikan dalam
realitas kehidupan sehari-hari apa yang sering disitilahkan dengan budaya global dan gaya hidup yang dianut masyarakat, sebagaimana telah disinggung di muka. Masyarakat kita atau
salah satu problem dari globalisasi yang perlu dikritisi, dan dalam batas-batas tertentu harus
ditandingi.
Sebagai bentuk penyeragaman dan invasi budaya, maka setidaknya globalisasi itu --dengan mengutip John Naissbitt dan Patricia Aburdene-- bisa dilihat dari adanya
keseragaman atau homogenitas jenis makanan (food), mode pakaian (fashion), dan aneka hiburan (fun). Bisa dipastikan, disadari atau tidak, hampir semua kota di Indonesia telah
menjadi agen penyeragaman tersebut yang melahirkan konstruksi sosial-budaya baru dalam kehidupan masyarakat yang sering menimbulkan kesan absurd, ironi, wagu dan saru.
Gaya hidup dari budaya global tersebut kerap identik dengan Amerikanisasi atau
McDonaldisasi berikut segala atribut dan pandangan hidupnya. Restoran cepat saji dengan sistem waralaba seperti Kentucky Fried Chicken, Dunkin Donuts, McDonald, terdapat di
mana-mana. Begitu pula dengan jenis dan model pakaian serta ragam bentuk hiburan --dengan mode atau merek luar negeri--, tidak ada bedanya dengan yang biasa dipakai dan ditonton masyarakat di negara-negara maju.
Dengan demikian budaya global telah memasyarakat, dan pada akhirnya memunculkan gaya hidup latah dan konsumtivisme yang kerap mengundang tawa dan dan
sekaligus keprihatinan. Karena dalam hal globalisasi, pada umumnya masyarakat hanya ikut arus dan terbawa kecenderungan dalam berbagai hal. Sementara jika ditanya tentang kesadaran terhadap globalisasi yang berkaitan erat dengan sikap kritis dan keniscayaan
untuk menyiasatinya agar bias eksis dengan jati diri, budaya, dan integritas kepribadiannya yang autentik, hampir bisa dipatikan minim sekali atau nihil. Persoalan tersebut kemudian
melahirkan banyak masalah baru yang semakin menyeret bangsa ini ke pinggiran sejarah dan tepian peradaban.
Lantas apa yang mesti kita lakukan? Sangat boleh jadi, menghadapi globalisasi
dengan anak-pinaknya itu kita sering terposisikan ke dalam situasi yang dilematis. Menolak globalisasi akan berisiko teralienasi dari dinamika zaman; sementara mengikuti globalisasi akan berisiko mengalami split personality (kepribadian yang terpecah). Hal ini terjadi
karena berbagai keterbatasan dan kelemahan yang diidap masyarakat, apakah itu berkaitan dengan mental attitude, self confidence, dan sumber daya manusia yang rapuh, maupun yang
berhubungan dengan kondisi riil ekonomi dan politik kita yang sarat ketergantungan.
Hemat saya, suka atau tidak suka, kita harus bersikap realistis terhadap masalah globalisasi tersebut. Sikap seperti ini harus dibarengi dengan kesadaran emansipatoris dan
kritisisme, sehingga memberikan daya dan kemampuan untuk berhadapan dengan globalisasi dan memanfaatkannya tanpa harus mengorbankan identitas, budaya, dan
harkat-martabat bangsa. Dalam batas-batas tertentu, globalisasi yang membawa budaya global daya gaya hidup seperti tadi juga harus dilawan dengan budaya sendiri dan local genius yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.
Kepribadian dan kebudayaan --sebagai kata kerja-- harus kembali disemaikan di tengah kehidupan publik --secara demokratis, emansipatoris, dan dilogis-- melalui institusi
pendidikan, media massa, ormas, parpol, LSM, dan lembaga-lembaga lainnya yang punya kepedulian dan keberpihakan. Sekecil atau sesedikit apa pun, ikhtiar dan kemauan demikian akan lebih bermakna daripada tidak sama sekali. Jangan sampai kita tergadaikan dalam arus
budaya global dan gaya hidupnya itu.[]
*Asep Purnama Bahtiar, Dosen FAI UMY; Anggota Divisi Publikasi dan Penerbitan MTDK PP Muhammadiyah.
Sumber: SM-06-2002