PERANAN KERAJAAN KALINYAMAT
DALAM PENGEMBANGAN ISLAM DI JEPARA
(1527-1599 M)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Dalam Program Strata Satu (S-1) Pada jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI)
Oleh :
Lailatul Qomariyah
NIM : A82212146
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
ABSTRAK
Skripsi ini merupakan hasil penelitian literature dan lapangan yang
berjudul “Sejarah dan Peranan Kerajaan Kalinyamat dalam Pengembangan Islam
di Jepara”. Permasalahan yang akan dibahas yaitu, (1) Bagaimana proses masuk
Islam ke Jepara? (2) Bagaimana sejarah lahirnya kerajaan Kalinyamat? (3) Bagaimana peran kerajaan Kalinyamat dalam mengembakan Islam di Jepara?
Untuk menjawab permasalahan di atas penulis menggunakan metode historis, yaitu suatu lanagkah atau cara merekontruksi masa lampau secara sistemtis dan objektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis (sejarah) dan bersifat kualitatif. Sedangkan teori yang digunakan adalah teori kekuasaan Max Weber.
ABSTRAC
This thesis is a literature result entitled “Kalinyamat kingdom role in the
development of Islam in Jepara”. The research problems discussed are (1) How
does Islam get into Jepara? (2) How is the other history of Kalinyamat kingdom? (3) How is the Kalinyamat kingdom role in developing Islam at Jepara?
In answering the research problems above the research use a historical method, this is the step/the way to reconstructing the past systematically and objectively by collecting the research data. This research use a historical method which is qualitative. While the theory use is a power/ bureaucracy theory of Max Weber.
The result of this research shows that (1) Islam get into Jepara by trade line, there is a big enough port in Jepara at the time 1470 (2) Kalinyamat Kingdom is only a small kingdom or a part of Demak city at the first time. After a huge conflict in Demak at 1549 kingdom which causes the Kalinyamat Queen’s brother murdered , Sunan Prawata, the Kalinyamat Queen’s husband Sunan
Hadiri, the queen Kalinyamat declares that Kalinyamat kingdom will be on his own foot (3) The Kalinyamat kingdom role in developing Islam can be seen by Kalinyamat kingdom herritages which is still exist until now. They are Mantingan, the carvaring on the mosque, and the cenetery of Mantingan and
x iii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...i
PERNYATAAN KEASLIAN...ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ...iv
TRANSLITERASI ...v
MOTTO ...vi
PERSEMBAHAN...vii
KATA PENGANTAR ...ix
ABSTRAK ...xi
DAFTAR ISI...xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang...1
B. Rumusan Masalah ...5
C. Tujuan penelitian...6
D. Kegunaan penelitian...6
E. Pendekatan dan kerangka teori...8
F. Penelitian terdahulu...9
G. Metode penelitian...11
H. Sistematika pembahasan ...17
BAB II SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI JEPARA A. Sejarah dan Letak Geeografis ...19
xiv
BAB III SEJARAH KERAJAAN KALINYAMAT
A. Sejarah Berdirinya...31
B. Berkembangnya Kerajaan Kalinyamat ...35
C. Hubungan Kerajaan Kalinyamat Dengan Kerajaan Lain...46
D. Raja-raja Yang Pernah Memimpin Kalinyamat ...54
BAB IV DAKWAH ISLAM DI JEPARA KETIKA KEPEMIMINAN KERAJAAN KALINYAMAT A. Menumbuhkan Kesadaran Masyarakat Terhadap Pentingnya Pendidikan agama Islam ...57
B. Mendirikan Masjid ...61
C. Membentuk Komunitas Islam Santri ...65
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ...69
B. Saran ...70
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Jepara adalah kota pelabuhan yang terletak di kawasan pantai utara Jawa
Tengah. Jepara adalah salah satu daerah terpenting di Jawa pada saat itu. Dalam
pertumbuhan dan perkembangan Islam di Jawa, Jepara mempunyai andil yang
sangat besar terutama kedatangan pedagang Islam dari India, Cina, dan Arab.
Kedatangan mereka ke Jawa selain berdagang juga menyebarkan Islam di tanah
Jawa. Dalam catatan Tome Pires yang ditulis awal abad ke 16 bahwa
maulana-maulana dari tanah seberang berdatangan, mereka tinggal di dekat masjid-masjid
yang sudah di bangun pada waktu itu.1
Jaman dahulu pelabuhan menjadi salah satu tempat yang sangat penting
dalam kehidupan sosial masyarakat dahulu. Karena pelabuhan merupakan tempat
berlabuhnya kapal-kapal yang dahulunya menjadi alat tranportasi, salah satunya
dengan berdagang.2
Pada masa itu pelayaran adalah tranportasi yang digunakan oleh
pedagang-pedagang untuk datang ke Indonesia, begitu pula dengan
pedangang-pedagang muslim dari India, Persia, Arab, dan lainnya yang juga menyebarkan
Islam di daerah pesisir kepulauan Indonesia. pada awal kedatangan mereka hanya
untuk berdagang tetapi untuk kedatangan selanjutnya mereka mulai menyebarkan
1
H.J. de Graaf dan Th. Pigeaud, Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa ; peralihan dari Majapahit ke Mataram (Jakarta: Grafiti pers, 1985), 30.
2
2
Islam. Keberadaan pedagang-pedagang muslim di Indonesia bukan hanya
sebentar karena menunggu dagangan mereka habis dan untuk kembali membawa
hasil bumi atau produksi setempat, ditambah menunggu waktu pelayaran kembali
yang tergantung pada musim, maka terpaksa mereka harus tinggal beberapa
bulan.3 Pada waktu itu Islam di sebarkan dengan cara perlahan di sesuaikan
dengan kondisi sosial dan budaya daerah tersebut, karna itu tumbuhlah kota-kota
pelabuhan, administrasi dan pusat politik kekuasaan yang mempunyai sistem
budaya Tradisional, tetapi didalam kehidupan masyarakat mulai dimasuki
unsur-unsur Islam.
Kemungkinan besar pedagang yang datang ke Indonesia bukan hanya
pedagang-pedagang yang berniat menjual dagangannya, kemungkinan disertai
mubaligh-mubaligh yang sengaja datang ke Indonesia khusus untuk berdakwah
dan menyebarkan Islam di Indonesia. Dengan keikut sertaan mubaligh datang ke
Indonesia akan mempermudah dan mempercepat proses Islamisasi di Indonesia.
para pedagang itu mencari simpati dari masyarakat, bukan hanya masyarakat kecil
tetapi juga para bangsawan dan raja-raja yang mempunyai peran penting dalam
kegiatan perdagangan.
Karena tersebarnya Islam awalnya melalui rute perdagangan, maka dapat
diperkirakan bahwa penyiar agama Islam pada awalnya adalah
pedagang-pedagang. Jadi bisa kita perkirakan pendorong utama penyebaran Islam di
Indonesia adalah faktor ekonomi perdagangan.
3
3
Jepara dipimpin oleh seorang raja perempuan yang bernama Ratu
Kalinyamat sejak pertengahan abad ke 16. Dia adalah Putri dari Sultan
Trenggana, adik dari Pangeran Prawata. Dalam berbagai naskah tradisi disebutkan
bahwa sebelum bersuami, konon Ratu Kalinyamat telah menduduki jabatan
sebagai kepala daerah, yang wilayahnya meliputi Jepara, Pati, Rembang, dan
Blora. Sebagai seorang yang memiliki kekuasaan tetapi belum bersuami, maka
Ratu Kalimayat menginginkan suami yang perkasa, memiliki pengetahuan luas
dalam bidang agama Islam dan bersemangat melawan bangsa Portugis yang
waktu itu sedang mengancam kedudukan kesultanan Demak.4
Ratu kalinyamat menjadi tokoh penting di pantai pesisir Jawa Tengah dan
Jawa Barat. Ratu Kalinyamat mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan
Sultan Hadiwijaya sejak terjadinya perebutan kekuasaan Demak di pedalaman
Jawa Tengah.5Pada masa itu sang ratu hidup dalam kemelut perebutan kekuasaan
karena dinasti Demak mengalami guncangan hebat, dan sangat berduka atas
kematian saudara laki-lakinya, Sunan Prawata.
Jepara berkembang menjadi kota pelabuhan yang paling strategis dalam
menunjang jalannya pemerintahan, kegiatan perniagaan, penyebaran agama, dan
pangkalan armada laut. Dan itu terus sampai masa pemerintahan Mataram dan
kolonial Belanda. Pada abad 16 Ratu Kalimayat berhasil mengangkat Jepara
menjadi sebuah ibukota dan pelabuhan terpenting di pesisir utara Jawa. Situasi ini
4
Chusnul Hayati,Peranan Ratu Kalimayat di Jepara pada Abad XVI(Jakarta: Depdiknas, 2000), 7.
5
pai Belanda menguasai Indonesia pun Jepara
ndonesia karena pelabuhannya
an Islam di Jepara terbilang pesat, buktiny
kat Jepara sangat kental dengan nilai-nilai Isl
egi budaya, itu sudah jelas menggambarkan
masyakarat Jepara. Semua itu tidak terlepas
yang datang yang menyebarkan agama Islam
dagang, ada juga yang menetap dan menj
a. Perkembangan agama Islam dan budaya Isl
garuh budaya dan ajaran Islam terhadap masy
rakat mayoritas.
Kudus, Jepara, dan Demak adalah komunitas m
alankan ibadah syariat agama Islam. Mas
si mebel ukir, yang sangat kental dengan Islam
kat Jepara sangat taat dalam menjalankan sya
erti itu sangat berpengaruh dalam pandanga
5
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengambil judul
Peranan Kerajaan Kalinyamat Dalam Pengembangan Islam di Jepara.
Penulis ingin mengupas keberadaan kerajaan Kalinyamat yang dipimpin Ratu
Kalinyamat. Suatu kerajaan yang mempunyai peran penting dalam pengembangan
masyarakat Jepara terutama pengembangan dalam bidang agama Islam.
B. Batasan masalah dan Rumusan masalah
Dalam pembahasan ini, penulis lebih memfokuskan kepada Islam di Jepara,
dari awal masuknya dan juga bagaimana peran dari kerajaan Kalinyamat dalam
pengembangan Islam di Jepara. Penulis juga membahas tentang sejarah kerajaan
Kalinyamat agar lebih mempermudah untuk pembahasan pengembangan Islam di
Jepara oleh kerajaan Kalinyamat.
Maka dari itu, penulis merumuskan masalah dengan pertanyaan yang
sederhana agar lebih jelas.
1. Bagaimana proses Islam masuk ke Jepara?
2. Bagaimana sejarah lahirnya kerajaan Kalinyamat ?
3. Bagaimana Peran kerajaan Kalinyamat dalam mengembangkan Islam di
Jepara ?
C. Tujuan penelitian
Tujuan dari penulisan ini, kami berharap bisa memberi gambaran tentang :
1. Proses masuknya Islam ke Jepara
6
3. Dan juga bisa mengetahui bagaimana peran kerajaan Kalinyamat
mengembangkan Islam di Jepara
D. Kegunaan penelitian
Setelah penelitian ini selesai dan bisa di baca oleh masyarakat luas, penulis
berharap hasil penelitian ini bisa berguna bagi :
1. Penulis
Penelitian ini di harapkan dapat memberi suatu pengetahuan baru dan
wawasan baru terhadap penulis agar penulis bisa lebih bijak dalam
menanggapi masalah yang berhu bungan dengan sejarah khususnya
perkembangan Islam di Indonesia pada masa lalu. Dan penulis bisa kembali
meneliti sejarah Indonesia khususnya yang berhubungan dengan Islam dengan
menggunakan metodologi yang sudah di pelajari pada saat melakukan
pembelajaran di bangku kuliah.
2. Bagi lembaga pendidikan
Penulis berharap penelitian ini dapat bermberi sumbangsih kepada
lembaga pendidikan khususnya mahasiswa, dan dapat di jadikan suatu
pembelajaran yang akan memberi informasi tentang sejarah Indonesia dan
bisa memberi suatu gambaran terhadap sejarawan ataupun mahasiswa,
khususnya mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya dan juga bisa
menyadarkan kalangan mahasiswa untuk menyadari akan pentingnya
7
3. Bagi ilmu pengetahuan
Penelitian ini di harapkan bisa memberi tambahan pengetahuan
perkembangan ilmu pengetahuan di masa ini dan masa depan. Terutama
dalam bidang sejarah Indonesia dan sejarah Islam di Indonesia. Dan bisa
melengkapi suatu pengetahuan sejarah yang dirasa belum begitu sempurna
terutama sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia yang sampai saat ini masih
banyak peneliti yang meneliti tentang kerajaan-kerajaan di Indonesia.
E. Pendekaatan dan kerangka teori
Kerajaan Kalinyamat adalah salah satu kerajaan yang ada di Indonesia,
yang mana kerajaan Kalinyamat termasuk kerajaan Islam di Indonesia. Untuk
mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu, penulis menggunakan pendekatan
historis. Dengan pendekatan historis ini, penulis ingin mengungkap sejarah
kerajaan Kalinyamat, dari awal berdirinya, latar belakang berdirinya kerajaan
Kalinyamat, raja-raja yang memimpin Kalinyamat, serta peran kerajaan
Kalinyamat dalam mengembangkan Islam di Jepara. Selain menggunakan
pendekatan historis, penulis juga menggunakan pendekatan Sosiologi. Pendekatan
Sosiologi ini diharapkan bisa mengungkap dari segi-segi peristiwa yang di kaji
seperti golongan sosial mana yang berperan serta nilai-nilainya, hubungan
golongan politik berdasarkan kepentingan ideologi dan lain sebagainya.6 dan
mengungkap bagaimana sistem sosial dan bagaimana kerajaan Kalinyamat
mengembangakan Islam.
6
8
Pendekatan historis merupakan penelaahan serta sumber-sumber lain yang
berisi informasi mengenai masa lampau dan dilaksanakan secara sistematis. Atau
dengan kata lain yaitu penelitian yang mendeskripsikan gejala, tetapi bukan yang
terjadi pada waktu penelitian dilakukan.
Secara umum penelitian ini adalah penelitian historis yang mencoba
menarasikan sejarah dan peranan kerajaan Kalinyamat dalam mengembangkan
Islam. Menurut Sartono Kartodirjo sejarah naratif adalah sejarah yang
mendeskripsikan tentang masa lampau dengan merekontruksi apa yang telah
terjadi, serta diuraikan sebagai cerita. Dengan perkataan lain kejadian-kejadian
penting diseleksi dan diatur menurut poros waktu sehingga tersusun sebagai
sebuah cerita.7
Dalam penulisan ini, penulis menggunakan Teori kekuasaan. menurut Max
Weber, Kekuasaan adalah kesempatan seseorang untuk menyadarkan masyarakat
akan kemauannya sendiri sekaligus menerapkannya terhadap tindakan perlawanan
dari orang atau golongan tertentu. Kekuasaan tersebut mempunyai aneka macam
bentuk, yang mempunyai bermacam-macam sumber. Maka golongan yang
berkuasa harus berusaha untuk menanamkan kekuasaannya dengan jalan
menghubungkan dengan kepercayaan-kepercayaan dan perasaan-perasaan yang
kuat di dalam masyarakat yang bersangkutan, yang pada dasarnya terwujud dalam
nilai dan norma. Kekuasaannya mencakup memerintah agar yang diperintah patuh
juga untuk memberi keputusan-keputusan yang secara langsung maupun tidak
7
9
langsung mempengaruhi tindakan pihak yang lain.8 Teori kekuasaan Max Weber
dirasa cocok karena penulisan ini berhubungan dengan kekuasaan kerajaan
Kalinyamat.
F. Penelitian terdahulu
Penelitian tentang sejarah dan peranan kerajaan Kalinyamat dalam
pengembangan Islam di Jepara 1527-1599 ini adalah penelitian berkelanjutan, dari
penelitian yang sudah dipublikasikan oleh beberapa peneliti. Seperti Ratu
Kalinyamat Biografi Tokoh Wanita Abad XVI Dari Jepara yang di tulis oleh Eli
Astuti. Kesimpulannya bahwa kerajaan Kalinyamat adalah suatu kerajaan yang
didirikan oleh Ratu Kalinyamat dan pangeran Hadiri di latar belakangi oleh
perselisihan antara Ratu Kalinyamat dengan Arya Penangsang dan perselisihan
antara kerajaan Kalinyamat dan Demak juga melatar belakangi hancurnya
kerajaan Demak yang di pimpin Arya Penangsang karena masalah tahta kerajaan
Demak.
Babad Tanah Jawi, Babad ini berbentuk prosa yang telah diterjemahkan
dalam Bahasa Indonesia. Babad ini merupakan karya legitimasi dari penguasa
Mataram yang di dalamnya memuat kisah Ratu Kalinyamat. Dalam Babad ini
menerangkan aksi-aksi pembunuhan di kesultanan Demak yang telah terjadi pada
masa Raden Patah hingga sepeniggal Trenggana. Dikisahkan pula Ratu
Kalinyamat melakukan tapa wuda sinjang rikama sebagai bentuk keprihatinan
atas tewasnya Sunan Hadiri dan Sunan Prawata. Pertapaan yang dilakukan Ratu
8
10
Kalinyamat didasarkan bahwa sudah tidak ada lagi keadilan, sampai-sampai
Sunan Kudus pun memihak Arya Penangsang (sang pembunuh), maka Ratu
Kalinyamat diceritakan bertekat memohon keadilan kepada Yang Maha Kuasa.
Sunan Hadiri dan Ratu Kalinyamat: sebuah sejarah ringkas, Dalam buku
ini memberi gambaran tentang Sunan Hadiri dan Ratu Kalinyamat secara jelas,
berikut peran-perannya di Jepara, khusus pada pembahasan bahwa Ratu
Kalinyamat pernah bertapa untuk memohon keadilan kepada Yang Maha Kuasa
dan waktu bertapa beliau menjalankan shalat, dalam buku ini juga memberi
gambaran bahwa munculnya istliah laku topo wudo itu berasal dariBabad Tanah
Jawisehingga maknanya menimbulkan banyak interpretasi.
De Graaf dan Pigeaud dalam buku ini menjelaskan terbunuhnya Sunan
Hadiri, yang merupakan suatu tantangan berat bagi Ratu Kalinyamat untuk
meneruskan perjuangan suaminya. Ratu Kalinyamat tersebut merupakan tokoh
penting di pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Barat sejak pertengahan abad 16.
Setelah Arya Penangsang tewas dalam peperangan melawan Pajang maka
kekuasaan wilayah Demak di pindah ke Pajang dan diambil alih oleh Hadiwijaya.
Ratu Kalinyamat tidak berputera, tetapi mengasuh adiknya yang bernama
Pangeran Timur, Pangeran Pangiri, anak Sunan Prawata, dan Pangeran Arya,
putera Sultan Hasanudin dari Banten. Pangeran Arya ini yang kelak menggantikan
Ratu Kalinyamat setelah meninggal sebagai penguasa di Jepara. Dengan
berakhirnya peperangan melawan Arya Penangsang, Jepara mengalami
11
kemileteran dengan menjalin kerja sama melalui beberapa kerajaan maritim,
seperti Banten, Aceh, Cirebon, Johor dan Maluku.
G. Metode penelitian
Penelitian mengenai “sejarah dan peranan kerajaan Kalinyamat dalam
pengembangan Islam di Jepara 1527-1599”, merupakan suatu penelitian historis
karena penelitian ini diarahkan untuk meneliti, mengungkapkan dan menjelaskan
peristiwa masa lampau sehingga jelas diarahkan kepada metode sejarah yang
bersifat kualitatif. Tujuan dari penelitian historis ini yaitu menemukan dan
mendeskripsikan secara analisis serta menafsirkan tentang sejarah dan peranan
kerajaan Kalinyamat dalam pengembangan Islam di Jepara 1527-1599. Selain itu
penelitian yang saya lakukan terkait dengan sejarah dan peranan kerajaan
Kalinyamat dalam pengembangan Islam di Jepara 1527-1599 termasuk dalam
penelitian sejarah budaya dan politik yang bersifat sosial budaya dan social politik
karena dalam penelitian akan dibahas terkait dengan latar belakang sejarah dan
peranan kerajaan Kalinyamat dalam pengembangan Islam di Jepara 1527-1599
yang sifatnya social budaya dan politik.
Penulisan peristiwa masa lampau dalam bentuk peristiwa atau kisah
sejarah yang dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah, harus melalui prosedur
kerja sejarah. Pengisahan masa lampau tidak dapat dikerjakan tanpa ada sumber
yang menyangkut masa lampau tersebut, sumber yang dimaksud adalah berupa
data yang melalui proses analisis menjadi sebuah fakta atau keterangan yang
12
sumber-sumber itu baik tertulis maupun tidak tertulis yang meliputi legenda,
folklore, prasasti, monument, alat-alat sejarah, dokumen, surat kabar dan
surat-surat.
Proses awal yang dilakukan oleh peneliti untuk menulis sejarah dengan
menentukan tema sesuai dengan minat dan keyakinan penulis. Hal ini diharapkan
dapat memacu semangat penulis untuk meneliti secara sungguh-sungguh. Dalam
menjawab permasalahan penelitian ini penulis menggunakan metode sejarah
yang terdiri dari empat langkah yaitu :
1. Heuristik
Tahap pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah Heuristik
(pengumpulan sumber). Heuristik berasal dari kata Yunani heurishein, artinya
memperoleh.9 Sumber sejarah dapat berupa evidensio (bukti) yang ditinggalkan
manusia yang menunjukan segala aktifitasnya di masa lampau baik berupa
peninggalan-peninggalan maupun catatan-catatan.
Penulisan sejarah dan peranan kerajaan Kalinyamat dalam pengembangan
Islam di Jepara 1527-1599 dikenal dua macam sumber yaitu sumber primer dan
sumber skunder. Sumber primer merupakan sumber pertama yang dipakai oleh
peneliti dalam penulisan sejarah dan dianggap sebagai sumber yang asli (orisinil)
sebagai bukti yang kontemporer dengan peristiwa yang terjadi. Sumber kedua
adalah sumber skunder merupakan sumber berupa kesaksian dari siapa saja yang
9
13
merupakan saksi mata atau sumber yang berasal dari sumber aslinya yang berupa
literatur.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk mendapatkan data-data
dan informasi yang dibutuhkan untuk menyusun kajian ini yakni:
a. Penelitian Lapangan
Penelitian lapangan adalah suatu penelitian yang dilakukan oleh penulis
dengan secara langsung ke lapangan untuk meneliti serta mencari data-data dan
informasi yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti, agar dapat dibahas
berdasarkan informasi atau bukti data-data yang ditemukan. Ada 2 teknik yang
digunakan penulis untuk mengumpulkan data-data dan informasi penelitian
lapangan, yaitu:
- Pengamatan (observasi)
Adalah suatu teknik yang dilakukan penulis untuk mengamati secara
langsung objek yang berkaitan dengan sejarah dan peranan kerajaan Kalinyamat
dalam pengembangan Islam di Jepara 1527-1599 dan bukti-bukti sejarah dan
peranan kerajaan Kalinyamat dalam pengembangan Islam di Jepara 1527-1599
tersebut.
b. Penelitian Kepustakaan
Yang dimaksud penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilakukan
hanya berdasarkan atas karya tertulis, termasuk hasil penelitian baik yang telah
14
mengadakan penelitian kepustakaan untuk mendapatkan informasi-informasi serta
data-data yang berkaitan dengan peristiwa sejarah tersebut. Melalui penelitian
kepustakaan ini sumber-sumber buku yang dapat dijadikan sebagai referensi
dalam penulisan skripsi ini. sumber perpustakaan yang akan di kaji adalah
buku-buku, naskah, biografi, serta hal-hal yang berhubungan dengan kajian yang
sedang penulis teliti.
2. Verifikasi
Verifikasi di butuhkan untuk mendukung sumber-sumber yang sudah
penulis dapatkan. Kritik sumber adalah usaha untuk mendapatkan sumber-sumber
yang relevan dengan cerita sejarah yang ingin disusun sesuai dengan judul. Dalam
hal ini yang harus di uji adalah tentang keaslian (otensitas) yang dilakukan
melalui kritik eksteren dan keabsahan tentang kesahihan sumber (kredibilitas)
yang di telusuri melalui kritik intern10. Kritik sumber dilakukan melalui
penganalisaan sumber-sumber yang didapat dengan pembacaan secara kritis,
untuk kemudian dilakukan interpretasi terhadapnya, apakah isinya sebuah
pernyataan, fakta-fakta dan apakah kejadian atau peristiwanya dapat dipercaya.
Langkah ini dilakukan oleh penulis untuk mengetahui apakah buku-buku tersebut
layak untuk dijadikan landasan dalam penelitian atau tidak. Dalam hal ini, penulis
memisahkan antara Babad dan buku sejarah biasa. Karena Babad adalah sumber
primer, maka semakin lama usia naskah tersebut, maka semakin baik. Sedangkan
untuk penulisan sejarah kontemporer, semakin baru usia penulisannya semakin
bagus.
10
15
3. Interpretasi
Interpretasi atau penafsiran sejarah sering disebut juga dengan analisis
sejarah. Tujuannya agar data yang ada mampu mengungkap suatu permasalah
yang ada, sehingga pemecahannya dapat diperoleh. Dalam hal ini penulis akan
menghubungkan fakta yang satu dengan fakta yang lain yang telah ditemukan dari
hasil heuristik dan verifikasi. Dalam hal ini tentu saja penulis menjelaskan peran
kerajaan Kalinyamat dalam mengembangkan Islam di Jepara. Dalam usaha
menafsirkan fakta-fakta yang ada dilakukan beberapa hal sebagai berikut : (1)
diseleksi, (2) disusun, (3) diberikan tekanan, (4) ditempatkan dalam urutan yang
kausal. Penulis membaca setiap buku dan menyaring informasi yang berguna
untuk memperkuat argumen, penulis memisahkan peran Ratu Kalinyamat dan
beberapa tokoh yang dibahas dalam penulisan ini.
4. Historiografi
Historiografi adalah penulisan sejarah, dan tahap ini adalah tahap akhir
penulisan skripsi. Setelah melakukan tahap Heruistik, Verifikasi, dan Interpretasi,
kini tahap selanjutnya adalah Historiografi dengan menulis dalam suatu urutan
yang sistematik yang telah diatur dalam metode penulisan yang digunakan sesuai
dengan pedoman penulisan skripsi yang di terbitkan oleh UIN Sunan Ampel
Surabaya. Dalam hal ini penulis berusaha menyusun sebuah cerita sejarah
menurut urutan peristiwa, berdasarkan kronologi dan tema-tema tertentu sehingga
16
H. Sistematika pembahasan
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini membahas tentang latar belakang masalah, rumusan
permasalahan, tujuan penelitian, kerangka penelitian, pendekatan dan kerangka
teoritik, penelitian terdahulu, sistematik pembahasa, daftar pustaka.
BAB II : SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI JEPARA
Bab ini menjelaskan sejarah masuknya Islam di Jepara dan
berkembangnya Islam di Jepara. Dalam bab ini menjelaskan juga letak geografis
Jepara.
BAB III : SEJARAH KERAJAAN KALINYAMAT
Bab ini membahas tentang sejarah berdirinya kerajaan Kalinyamat serta
asal-usul silsilah raja dan Ratu Kalinyamat serta hubungan antara kerajaan
Kalinyamat dengan kerajaan lain. Selain itu juga membahas tentang
berkembangnya kerajaan Kalinyamat dalam segi perekonomian dan perpolitikan
masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat. Dan juga membahas tentang siapa saja
raja-raja yang pernah memimpin di kerajaan Kalinyamat.
BAB IV : DAKWAH ISLAM DI JEPARA KETIKA KEPEMIMPINAN
17
Bab ini menjelaskan tentang menumbuhkan kesadaran masyarakat
Jepara terhadap pentingnya pendidikan Islam, dan juga mendirikan masjid, serta
membentuk sebuah komunitas Islam Santri.
BAB II
SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI JEPARA
A. Sejarah dan Letak Geografis
Jauh sebelum adanya kerajaan-kerajaan di tanah Jawa di ujung sebelah
utara Pulau Jawa sudah ada sekelompok penduduk yang diyakini orang-orang itu
berasal dari daerah Yunnan Selatan yang kala itu melakukan migrasi ke arah
selatan. Jepara saat itu masih terpisah oleh selat Juwana. Pada mulanya Jepara
hanya di huni 100 orang dan menjadi bandar perdagangan dengan jasa Arya
Timur.1 Bisa dikatakan Jepara adalah kota tua di Jawa, sebelum adanya Demak.2
Tokoh bernama Arya Timur juga terdapat dalam Suma Oriental yang di
tulis oleh Tome Pires, bahwa pemerintahan pertama di Jepara adalah pada tahun
1470 semasa di bawah penguasa Arya Timur.
Arya timur adalah seorang pedagang berasal dari Kalimantan Barat yang
pindah ke Maluku dan akhirnya menetap di Jepara sebagai penguasa Jepara. Kala
itu Jepara telah berkembang sebagai bandar besar yang mempunyai letak strategis
dalam lalu lintas perdagangan Nusantara. Kuat dugaan pada awal pemerintahan
Kerajaan Jepara di bawah Arya Timur ini telah mengakui kedaulatan kerajaan
Majapahit, mengingat kerajaan Demak Bintara baru menjadi kesultanan pada
tahun 1482.
1
Sunarto,Jepara Surga Industri Mebel Ukir (Semarang: Surya, 2002), 1.
2
✁
Seperti dikemukaan oleh C. Lekkerkerker dalam bukunya Javaansche
geographische namen als Spiegel van de om giving en de denkwijzen van het
volk” (1931), sebagaimana dinyatakan oleh Panitia penyusun hari jadi Jepara.
nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para. Dari perkataan ini muncul
perkataan ujung mara dan Jumpara, yang kemudian mengerucut menjadi Jepara
atau Japara.3 Yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang
berniaga ke berbagai daerah.
Dalam bahasa Jawa perkataan ujung dapat berarti penjuru tanah atau
daerah yang menanjung, sedangkan perkataan para dalam bahasa Jawa
merupakan sebuah perkataan yang mempunyai arti diantaranya merupakan
pendekatan dari perkatan paparan yang berarti bebakulan mrana-mrana artinya
pergi berdagang kesana-kesini. Dengan demikian perkataan Jepara dapat berarti
sebuah ujung tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai
daerah, dalam hal ini ada kemungkinan keberbagai daerah pedalaman di kawasan
kabupaten Jepara dan sekitarnya.4 Menurut buku sejarah baru Dinasti Tang
(618-906 M) tercatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama
Itsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga di
sebut Jawa atau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara
sekarang, serta di pimpin oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima yang di
kenal sangat tegas.
Penulis dari Portugis bernama Tome Pires mengatakan dalam bukunya
Suma Oriental, Jepara baru dikenal pada abad ke XV (1470 M) sebagai bandar
3
Panitia Penyusun Hari Jadi Jepara,Sejarah dan Hari Jadi Jepara(Jepara, 1988), 5.
4
✂ ✄
perdagangan yang kecil yang baru dihuni oleh 90-100 orang dan di pimpin oleh
Arya Timur dan berada di bawah pemerindahan Demak. Kemudian Arya Timur di
gantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus (1507-1521). Sumber dari Tome
Pires ini masih perlu dikaji kembali, karena Pati Unus yang disebut dalam Suma
Oriental, apakah benar anak dari Arya Timur atau anak dari Raden Patah yang
memang dalam sejarahnya lahir di Jepara. Pati Unus mencoba untuk membangun
Jepara menjadi kota niaga. Mulai abad ke 16 Jepara juga di kenal sebagai kota
bandar dan kota perdagangan di pesisir utara Pulau Jawa, sehingga kedudukan
kota Jepara pada waktu itu cukup penting dan strategis sebab berfungsi sebagai
pelabuhan niaga dan pelabuhan militer.
Letak Geografis Jepara di sebelah Timur perbatasan dengan Demak,
Kudus, dan pegunungan Muria kabupaten Pati. Sebelah Barat, Utara, dan selatan
perbatasan dengan laut Jawa. Pada zaman dahulu, kota Jepara dinilai sebagai
tempat yang sangat strategis dan aman dalam berdagang dan bersinggah ke pulau
Jawa, itu disebabkan karena letaknya di lindungi oleh dua pulau kecil, yaitu pulan
Karimunjawa dan pulau Panjang. Kondisi alam yang menguntungkan menjadikan
para pedagang dan pelaut lebih tertarik singgah di pelabuhan Jepara dari pada di
Demak.5
Jepara sekarang berada di Provinsi Jawa Tengah, Jepara merupakan salah
satu Kabupaten Daerah Tingkat II di Jawa Tengah. Kondisi geografis Jepara tidak
seluruhnya datar, sebagian daerahnya yang ada pegunungan dan juga rawa-rawa.
Di bagian lain terutama di daerah perbukitan dan sekitar pantai, terdapat tanah
5
☎☎
tandus dan rawa-rawa, yang tidak bisa di pergunakan sebagai pertanian dan
perkebunan.
Dilihat dari keadaan Hidrologis, Kabupaten Jepara bagian Timur
merupakan lereng sedangkan bagian Barat adalah gunung Muria. Dari kaki
pegunungan ini mengalir beberapa sungai besar dan kecil yang sangat mendukung
usaha pertanian dan berpengaruh besar pada kesejahteraan sosial ekonomi dan
kehidupan masyarakat. Dan tedapat juga beberapa sungai besar dan kecil, yaitu
sungai Mayong, Bakalan, dan Pecangan. Ketiga aliran sungai itu berakhir di
sungai Serang yang bermuara di laut Jawa. Beberapa sungai kecil yaitu: sungai
Wiso, Mambak, Mlonggo, Banjaran, Wedalan, Jenggotan, Sebagor, Keling,
Pedut, dan kali Gelis yang bermuara di laut Jawa sebelah Utara Jepara.6
Jepara sekarang mempunyai enam belas Kecamatan, yaitu: Jepara kota,
Bonorojo, Kalinyamatan, Kembang, Pakis Aji, Tahunan, Pecangan, Welahan,
Batealit, Mlonggo, Bangsar, Keling, Mayong, Nalumsari, Kedung, dan
Karimunjawa. Luas daerah Jepara berkisar 1004,13 kilometer persegi, dengan
ketinggian 0 sampai 1301 meter diatas permukaan laut. Letak Jepara mengalami
perubahan, yaitu pada posisi 3°23’20”sampai 4°9’35”BT dan 5°43’0” sampai
6°47’44”LS.Luas daerah Jepara berkisar 104,13 kilometer persegi, dengan
ketingian 0 sampai 1301 meter diatas permukaan laut. Iklim di kabupaten Jepara
6
✆ ✝
termasuk iklim tipe D atau iklim sedang, dengan musim kemarau dan hujan silih
berganti.7
Kabupaten Jepara mempunyai luas tanah seluruhnya mencakup
100,413,189 hektar, yang penggunaannya sebagai tanah sawah sebanyak
26,624,368 hektar atau 17,559% dari total luas tanah di Jepara.8Kondisi tersebut
sangat berpengaruh terhadap tata kehidupan dan dinamis sosial ekonomi dan
sosial budaya masyarakat yang juga berbentuk bersama perjalanan sejarah Jepara
dari jaman Kerajaan Jepara. Karena itulah masyarakat Jepara memiliki
karakteristik yang khas bila di bandingkam dengan masyarakat lainnya.9
Pada masa pemerintahan pedalaman di Jawa Tengah, Jepara tetap
berfungsi sebagai kota pelabuhan, kota niaga, dan kota dagang. Oleh karena itu,
banyak kaum pedagang, para sufi, dan penyebar agama yang datang ke pulau
Jawa melalui pelabuhan ini. Suasana lingkungan pesisir pantai yang tenang dan
aman itu, memungkinkan Jepara berkembang menjadi kota pelabuhan yang
penting, pada abad ke-14 sampai ke-15 dan peranannya sangat besar. Ketika itu
pusat pemerintahan masih ada di Jawa Timur dan sesudah Majapahit runtuh, pusat
pemerintahan bergeser kembali ke JawaTengah.10
Pada abad ke-16 lingkungan kerajaan sudah memiliki jalan yang layak
untuk dilalui dan sudah dibangun. Jalur darat antara Kudus, Jepara, Demak
7
Badan Statistik dan Geofisika Kabupaten Jepara, Jepara dalam Angka tahun 1995(Jepara: 1995), 5.
8
Ibid,. 5.
9
Soenarto,Jepara Surga Industri Mebel Ukir(Semarang: Surya, 2002), 6.
10
✞ ✟
sampai Semarang, sudah dibangun. Kemajuan yang sudah di alami Jepara pada
waktu itu sudah menjadi kemajuan suatu peradaban dan juga mempengaruhi
sistem sosial masyarakat di sana, dan karena itulah Jepara menjadi pusat kota
pelabuhan yang besar dan terkenal. Pada masa itu Jepara sudah berada dibawah
kekuasaan kerajaan Kalinyamat. Sebelumnya, Jepara merupakan kota pelabuhan
tua yang ada sejak tahun 1470 seperti yang di jelaskan di awal. Sebelum menjadi
kekuasaan kerajaan Kalinyamat, Jepara merupakan kota bawahan kerajaan
Demak. Setelah kerajaan Kalinyamat berdiri, Jepara menjadi wilayah kekuasaan
Kerajaan Kalinyamat. Yang di pimpin oleh Ratu Kalinyamat.
B. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Jepara
Dari catatan sejarah, ajaran agama Islam masuk ke pulau Jawa sekitar abad
XI Masehi. Ajaran Islam ini dibawa oleh para mubaligh dari Pasai (Aceh Utara)
dan para pedagang Islam dari Gujarat, buktinya di temukan makam Fatimah binti
Maimun di daerah Jawa Timur. Selain itu, ada pula yang diajarkan langsung oleh
para pedagang Islam arab yang berdagang di berbagai kerajaan pesirir di
Nusantara ketika itu.11
Penyebaran Islam di pantai Utara Jawa Tengah baru terjadi setelah
penyebaran di Jawa Timur sekitar pertengahan abad XV M. Sebelumnya Orang
pertama yang menyebarkan Islam di Jawa dikenal dengan nama Sunan Gresik
atau Maulana Malik Ibrahim. Sunan Gresik merupakan wali senior di antara Wali
Songo. Beliau menyebarkan Islam dengan cara bergaul dengan masyarakat dan
11
✠ ✡
berdagang. Perdagangan membuatnya dapat berinteraksi dengan masyarakat
banyak, selain itu raja dan para bangsawan dapat pula turut serta dalam kegiatan
perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal atau pemodal.12
Setelah Sunan Gresik baru diteruskan oleh Sunan Ampel atau Raden
Rahmat pada abad XV. Sunan Ampel adalah salah satu Wali Songo yang
mendirikan pesantren di Ampel Denta Surabaya. Di Ampel Denta itulah Sunan
Ampel mengajarkan Islam dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat.
Sunan Ampel menyebarkan Islam dengan cara yang damai, tidak dengan
berperang atau menduduki dan mengambil suatu pemerintahan, beliau lebih
memilih menyebarkan Islam dengan cara damai, dan dengan begitu masyarakat
menerima Islam dengan baik dan perkembangan Islam sangat pesat di Jawa.
Sunan Ampel mempunyai beberapa murid yang juga ikut menyebarkan Islam,
salah satu dari murid beliau adalah Sunan Giri atau Raden Paku, Sunan Giri juga
menyebarkan Islam dengan cara mendirikan pesantren di Giri Kedaton yang
sekarang wilayah Gresik. Pesantren Sunan Giri terkenal hingga daerah Maluku.
Orang-orang Maluku terutama Hindu banyak yang datang berguru kepada Sunan
Giri. Bahkan beberapa orang Kiai dari Giri di undang ke Maluku untuk menjadi
guru agama disana, raja-raja di Jawa dan para bangsawan, biasanya juga
mendatangkan Kiai Ulama sebagai guru atau penasehat agama.13
Pada masa awal penyebaran Islam di Jawa, tokoh Wali, Ulama dan Kiai
menjadi perintis atau cikal bakal pembentukan masyarakat desa baru atau
12
Uka Tjandrasasmita,Sejarah Nasional Indonesia III(Jakarta: Balai Pustaka, 1984), 26-27. 13
26
pemukimam baru, sehingga pengaruhnya amat besar terhadap masyarakat
dilingkungannya. Untuk keperluan penyebaran agama Islam, para Ulama
kemudian membangun masjid ditengah pesantren. Dengan demikian pesantren
kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam dengan ciri khas
Indonesia. ulama yang menjadi pemimpin dalam pesantren tetap di sebut Kiai dan
muridnya sebagai santri.14
Islam masuk ke Jepara kemungkinan besar melalui perdagangan seperti
daerah-daerah pesisir lainnya. Karena di Jepara terdapat sebuah pelabuhan yang
lumayan besar pada jamannya, dan peran para wali juga tidak bisa di pinggirkan
dalam penyebaran agama Islam di Jepara ini, yang mana dalam sebuah cerita
Sunan Kudus mengislamkan seorang saudagar Cina yang terdampar di Jepara
yaitu Sunan Hadiri yang nantinya akan menjadi suami dari Ratu Kalinyamat.
Pada awal Islam masuk ke Jepara, masyarakat golongan menengah seperti
pedagang dan buruh adalah golongan pertama yang memeluk agama Islam.
Seperti yang dikatakan di atas, Islam masuk ke Jepara kemungkinan besar dari
para pedagang yang datang ke Jepara dan pedagang-pedagang itu menyebarkan
agama Islam diantara teman sederajatnya. Rasa persaudaraan antar bangsa itu
yang pada asasnya tidak mengakui adanya perbedaan keturunan, golongan, dan
suku antar pemeluknya, ternyata mempunyai daya tarik kepada para pedagang dan
pelaut, yang berbeda beda tempat asalnya dan mempunyai bermacam-macam
14
27
adat-istiadat dan cara hidup.15 Dalam pergaulan hidup masyarakat golongan
menengah yang berdagang ini, agama Islam yang memajukan sifat sama rata itu
menciptakan tata tertib dan keamanan seraya menonjolkan kerukunan kaum
Islam.
Di samping itu, perkawinan Ratu Kalinyamat, putri dari Sultan Trenggana
Demak dengan orang Tionghoa juragan kapal, yang telah memeluk agama Islam,
merupakan contoh percampuran darah dan pemerataan masyarakat, yang telah
terlaksana di Jawa Tengah karena kedatangan agama Islam yang telah diterima
baik.16
Pigeaud menjelaskan bahwa Ratu Kalinyamat menikah dengan Sultan
Hadiri, yakni keturunan Cina bernama Wintang, yang telah masuk Islam berkat
bimbingan Sunan Kudus. Perkawinan antara petualang-petualang asing dengan
gadis-gadis kalangan bangsawan tinggi seperti itu merupakan peristiwa yang
dianggap biasa, tetapi dengan syarat kedua belah pihak memeluk agama Islam
sebagai pedoman hidup mereka.17Perkawinan Sunan Hadiri dengan Ratu
Kalinyamat merupakan bukti bahwa percampuran darah antara penduduk pribumi
dengan orang Asing telah berlangsung lama.
Pernikahan seperti itu sudah lama terjadi di kalangan para bangsawan di
Jawa setelah memeluk agama Islam. Akibat pernikahan orang-orang muslim
dengan anak-anak bangsawan dan raja-raja, maka proses penyebaran Islam lebih
15
De Graaf dan Pigued,Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, 27.
16
Panitia Penyusunan Hari Jadi Pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Jepara,Sejarah dan Hari Jadi Jepara(Jepara: 1988), 35.
17
28
dipercepat pula karena secara tidak langsung. Pandangan masyarakat setempat
orang muslim tersebut status sosialnya dipertinggi dengan sifat-sifat kharisma
bangsawan.18
Pada umumnya, sebelum Islam masuk ke Jepara, masyarakat Jepara
mempunyai keyakinan tentang adanya sebuah system kasta dalam kehidupan
masyarakat karena mereka masih berpegang teguh kepada keyakinan agama
Hindu yang mempunyai system golongan atau kelas, sehinga kehidupan
masyarakatnya bertigkat-tingkat dan terbagi menjadi beberapa blok. Contoh orang
yang kastanya lebih tinggi tidak boleh bergaul dengan orang yang berkasta lebih
rendah dan seterusnya. Ketika Islam masuk ke Jepara, Islam menghapus system
kasta tersebut sehingga keadaan masyarakat lebih kondusif dan tidak ada lagi
penindasan atau diskriminasi terhadap masyarakat yang sebelumnya di anggap
mempunyai kasta yang lebih rendah.
Pada waktu itu umat Hindu mempunyai keyakinan membagi kasta menjadi
empat yaitu: Kasta Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Sebagai kasta yang
paling rendah, kasta Sudra sering tertindas oleh katsa lainnya, Sehingga
kehidupannya selalu diliputi keresahan.19 Setelah ajaran Islam masuk dan tersebar
ditengah-tengah masyarakat, susunan masyarakat berdasarkan kasta mulai terkikis
perlahanlahan dan dimulailah kehidupan masyakat baru tanpa penindasan atas hak
asasi manusia yang dilatar belakangi oleh perbedaan tersebut.
18
Uka Tjandrasasmita,Pertumbuhan dan Perkembangan kota-kota Muslim di Indonesia dari Abad XVI sampai XVIII Masehi(Kudus: Menara Kudus, 2000), 30.
19
29
Sejak abad XV M, masyarakat Jepara sudah banyak yang memeluk agama
Islam. Selain agama Islam, masyarakat Jepara juga ada yang memeluk agama lain,
seperti agama Hindu dan Budha. Agama Hindu dan Budha adalah agama nenek
moyang mereka, jadi masih ada sebagian masyarakat yang belum masuk Islam
dan masih memegang kepercayaan dari leluhurnya. Masyarakat Jepara tergolong
masyarakat yang taat dan patuh menjalankan ajaran agama Islam, bahkan
sebagian masyarakat di sana cukup fasih membaca Al-Qur’an. Meskipun
masyarakat Jepara memegang teguh ajaran agama Islam, namun mereka tetap
melestarikan tradisi leluhur yang sudah mengakar dan berkembang sejak zaman
nenek moyangmya.
Dalam bidang agama, Ratu Kalinyamat mempunyai peran yang sangat
penting dalam menyebarkan agama Islam. Penyebaran agama Islam berjalan
dengan baik dan mendapat sambutan dari masyarakat, karena kedatangan Islam di
sana dilakukan dengan cara damai, tidak dengan paksaan dan peperangan
melainkan diperkenalkan dengan pendekatan kemanusiaan. Seperti kesenian dan
lain sebagainya. Gambar di bawah ini merupakan contoh seni ukir kaligrafi dari
30
1.1 Ini merupakan salah satu contoh karya seni ukir yang masih di
pertahankan sampai sekarang20
Kesenian dapat di manfaatkan pula sebagai sarana dakwah dalam
penyebaran agama Islam. Masjid dan makam Mantingan Jepara, mengandung
unsur budaya bernuansa Hindu juga mengandung unsur budaya bernuasa Islam.
Disana terdapat proses akulturasi yang terjalin secara harmonis. Didalamnya
memiliki muatan nilai-nilai tersendiri, ada misi dan peran syiar Islam dibalik
bentuk visual estetik, tersamar menjadi situasi sulur-suluran berbentuk ukir-ukiran
indah yang berfungsi sebagai hiasan dinding masjid.
20
☛ ☞
BAB III
SEJARAH KERAJAAN KALINYAMAT
A. Sejarah berdirinya
1. Asal-Usul Keluarga
Dalam beberapa sumber trdisional dinyatakan bahwa Sultan Trenggana,
Raja Demak III, mempunyai seorang puteri yang disebut Ratu Kalinyamat cucu
Raden Patah, Sultan Demak yang pertama. Dari perkawinannya dengan puteri
Cina, Raden Patah mempunyai enam anak, yang paling tua seorang wanita yang
bernama Ratu Mas dia menikah dengan pangeran Cirebon. Adik-adiknya
berjumlah lima orang semuanya laki-laki, masing-masing Pangeran Sebrang Lor,
Pangeran Sedo Lepen, Pangeran Trenggana, Raden Kanduruwu, dan Raden
Pamekas.1
Setelah Raden Patah meninggal, Sultan digantikan oleh putranya,
Pangeran Sebrang Lor, dan setelah Pangeran Sebrang Lor meninggal, yang
menjadi penggantinya adalah Sultan Trenggana.2 Sebenarnya yang berhak adalah
Pangeran Sedo Lapen, karena dia adalah adik yang paling tua tetapi karena
Pangeran Sedo Lapen telah meninggal, sebagai penggantinya ditunjuklah
Pengeran Trenggana.
1
W.L. Olthof, Poeniko,Serat Babad Tanah Djawi Wiwit saking Nabi Adamdoemoegi ing Taoen 1647(Leiden: Gravenhage, 1941), 37.
2
✌ ✍
Nama Ratu Kalinyamat memiliki kaitan dengan nama tempat tinggalnya,
yaitu Kalinyamat, suatu daerah yang berada di Kriyan Jepara.3 Dalam
sumber-sumber sejarah Jawa Barat, di jumpai dengan nama Ratu Arya Jepara atau Ratu
Jepara untuk menyebut Ratu Kalinyamat.4 Ratu Kalinyamat juga memiliki nama
kecil Retna Kencana.
Kalinyamat merupakan ibu kota Jepara. Baik nama Kalinyamat maupun
kedudukannya sebagai ibu kota kerajaan Jepara, tersebut dengan tegas dinyatakan
dalam sumber sejarah Portugis dalam bukunya yang terkenal “De Asia” Penulis
Portugis Deige De Couto telah menyebut kerajaan-kerajaan di pulau Jawa
termasuk Jepara“Cuja Cidede Principal Se Chama Cerinhama” yang ibukotanya
bernama Kalinyamat.5
Menurut De Graaf, Kalinyamat mempunyai tiga pengertian, yang pertama
sebagai Residence of Japara, kedua The Ruler of Japara, dan ketiga untuk
menyebutThe Queen of Japara. Di dalam naskahbabad Tanah Djawi, di jelaskan
bahwa Ratu Kalinyamat adalah keturunan Sultan Trenggana dari Demak, putri
ketiga dari enam bersaudara. Pigeuaud juga menjelaskan bahwa Ratu Kalinyamat
menikah dengan Sunan Hadiri, yakni seorang keturunan Cina bernama Wintang,
yang telah masuk Islam berkat bimbingan Sunan Kudus. Asal usul Sunan Hadiri
sendiri mempunyai banyak versi, dibawah ini adalah beberapa versi mengenai
asal usul Sunan Hadiri :
3
Ibid., 125.
4
Hoesein Djajaningrat,Tinjauan Kritis tentang sejarah Banten(Jakarta: Djambatan, 1983), 128.
5
✎✎
A. Yang pertama, Menurut Ali Syafi’I, juru kunci komplek makam Mantingan
mengatakan bahwa Sunan Hadiri berasal dari Aceh. Nama asli dari Sunan Hadiri
adalah Raden Toyib. Setelah datang ke tanah Jawa dan menikah dengan Ratu
Kalinyamat mendapat gelar Sunan Hadiri karena beliau datang dari tempat lain.
Sebelumnya Sunan Hadiri sempat menjadi sultan di Aceh.6
B. Menurut laporan dari komisi di Hindia Belanda untuk kepentingan kepurbakalaan
di Jawa dan Madura tahun 1910 J.Knebel memberi keterangan bahwa Sunan
Hadiri adalah putra Cirebon, nama aslinya Raden Mu’min. Dia berkelana dan tiba
di Demak dan dia ingin mengabdi pada Raja Demak III (Sultan Trenggono).
Permohonannya diterima oleh Sultan Trenggono dan taklama kemudian Sunan
Hadiri menjadi menantu Sultan Trenggono dan diangkat menjadi raja di
Kalinyamat.
C. Menurut serat Kandaning Ringgit Purwa, naskah KBG. NR 7 menyebutkan bahwa
Sunan Hadiri adalah pedagang Tionghoa yang nama aslinya adalah Wintang. Dia
beserta kapalnya tenggelam dan terdampar di Juang Mara (Jepara). Karena sudah
tidak punya apa-apa akhirnya dia bertirakat dan mendapat ilham untuk pergi ke
Sunan Kudus, Sunan Hadiri akhirnya masuk Islam berkat bimbingan Sunan
Kudus, kemudian di tempatkan di sebuah tempat tepi sungai Kalinyamat dan
akhirnya tempat itu menjadi ramai kemudian menjadi sebuah desa yang sangat
ramai dan akhirnya Sunan Kudus memberi nama desa itu dengan nama
Kalinyamat dengan penguasa juragan Wintang atau Sunan Hadiri.7
6
Ali Syafi’I,Wawancara, Jepara, 05 Mei 2016.
7
✏ ✑
Setelah Sultan Trenggana wafat, keturunan Sultan Trenggana
mendapatkan sebagian dari wilayah Kerajaan Demak, antara lain, Sunan Prawata
menggantikan ayahandanya menjadi Sultan Demak yang keempat, sekaligus yang
terakhir, dan Sunan Hadiri memperoleh daerah Pati, Jepara, Juwana, dan
Rembang. Berdasarkan cerita Babad-Babad, dapat diketahui lima dari enam
bersaudara putera Sultan Trenggana menjadi bangsawan tinggi Kerajaan. Tidak
lama Sunan Prawata menduduki tahta kerajaan, ia dibunuh oleh Arya Penangsang
Bupati Jipang, sebagai pembalasan atas kematian ayahnya yang dibunuh oleh
Sunan Prawata.8 Menurut cerita, Arya Penangsang membunuh Sunan Prawata
bukan hanya ingin menuntut balas atas kematian ayahnya, melainkan
menginginkan tahta kerajaan Demak, karena Arya Penangsang merasa lebih
berhak untuk menduduki tahta kerajaan Demak.
Perlu diketahui sebelum ayah dari Sunan Prawata yaitu Sultan Trenggana
menjadi Raja Demak, Sunan Prawata membunuh Pangeran Sedo Lapen untuk
melancarkan posisi ayahnya yaitu Sultan Trenggana menjadi raja di Demak
karena hanya Pangeran Sedo Lapenlah satu-satunya saingan dari Sultan
Trenggana untuk menjadi raja di Demak. Maka dari itu Arya Penangsang merasa
dirinya lebih berhak atas tahta kerajaan Demak dari pada Sunan Prawata dan ingin
merebut kembali tahta kerajaan Demak dengan dukungan dari gurunya yaitu
Sunan Kudus. Setelah membunuh Sunan Prawata, Arya Penangsang juga
membunuh Sunan Hadiri, suami Ratu Kalinyamat. saudara ipar Sunan Prawata.
Arya Penangsang merasa selain Sunan Prawata, Sunan Hadiri juga dianggapnya
8
✒ ✓
sebagai saingan yang kuat dalam perebutan tahta Kerajaan Demak. Kematian
Sunan Prawata dan Sunan Hadiri membuat Ratu Kalinyamat makin berduka,
sehingga ia bersumpah akan pergi bertapa dan meninggalkan kerajaannya. Ratu
Kalinyamat lalu bertapa talanjang di Gunung Danaraja. Sebagai penutup tubuhnya
hanyalah rambutnya yang digerai. Kanjeng Ratu Kalinyamat bersumpah, tidak
mau memakai kain selama hidup, kalau Arya Jipang (Arya Penangsang) belum
mati, dan janji siapa yang bisa membunuh Arya Jipang, Ratu Kalinyamat akan
suwita kepadanya dan semua miliknya akan diserahkan semua.9 Akhirnya Ratu
Kalinyamat meminta bantuan kepada Hadiwijaya untuk membunuh Arya
Penangsang, setelah terbunuhnya Arya Penangsang barulah Ratu Kalinyamat
menghentikan pertapaannya dan kemudian pada tahun yang sama, istri Sunan
Hadiri itu naik tahta menggantikan Sunan Hadiri sebagai penguasa Jepara dengan
gelar Ratu Kalinyamat.
B. Berkembangnya Kerajaan Kalinyamat
Jepara untuk pertama kalinya mengalami perkembangan pesat pada masa
pemerintahan Arya Timur. Pada tahun 1470 Jepara masih merupakan
pelabuhan/wilayah yang tidak berarti dan hanya memiliki penduduk antara 90
sampai 100 orang.
Setelah Pati Unus memegang tampuk pemerintahan menggantikan
kedudukan Patih Jepara, penguasa baru ini berhasil menarik banyak orang dan
memperluas wilayahnya sampai ketanah sebrang, yakni sampai ke daerah Bangka,
9
✔6
Tanjungpura, Pulau Laue dan sejumlah pulau lainnya. Demikian keterangan Tome
Pires yang selanjutnya mengatakan, Pati Unus telah berhasil membuat negerinya
menjadi negeri besar. Di samping itu, Tome Pires juga memujinya sebagai Raja
Jawa yang paling terkenal karena kekuatanya dan pergaulannya yang baik dengan
rakyatnya. Bahkan Tome Pires menyebut Pati Unus hampir sebesar Raja Demak,
sekalipun Jepara berada dibawah Demak, yang mempunyai lebih banyak
penduduk dan negeri.10
Pada waktu itu Jepara telah berhasil mempunyai kedudukan yang baik
dalam lintas perdagangan Nusantara. Dengan terus terang Tome Pires mengakui,
kota Jepara mempunyai sebuah teluk dengan sebuah pelabuhan yang indah. Di
depan pelabuhan mempunyai terdapat tiga buah pulau seperti pulau Upeh di mana
sungai Malaka, kapal-kapal besar dapat memasukinya. Tome Pires juga memuji
pelabuhan Jepara sebagai pelabuhan yang paling baik dari sekian banyak
pelabuhan yang pernah diceritakannya dan berada dalam keadaan yang paling
baik. Setiap orang yang akan pergi ke Jawa dan Maluku akan singgah di Jepara.11
Pada abad XVI M Demak merupakan kerajaan Islam terkuat di pulau Jawa
dan memegang hegemoni di antara kota-kota pantai Utara Jawa. Namun secara
praktis kota-kota itu tetap berdiri sendiri. Demak yang didirkan sekitar pada
tahun 1500 adalah Kerajaan Islam pertama di pulau Jawa. Dalam usahanya
menyebarkan agama Islam, Raden Patah mendirikan suatu pesantren dan
membangun masjid yang sangat sederhana. Dalam waktu singkat Kerajaan
10
Panitia Penyusun Hari Jadi Jepara Pemerintah kabupaten Tingkat I, 1998, 11.
11
37
Demak berkembang menjadi kerajaan yang besar dan kuat penyebaran agama
Islam.12
Dimasa jaya Kesultanan Demak, Jepara juga menjadi tempat tinggal para
pedagang dan pelaut, Jepara sebagai pusat penyebaran agama Islam dan pusat
kekuasaan politik, Jepara juga memegang peranan penting dalam bidang
perdagangan. Perdagangan yang dijalankan Demak dan Jepara ialah beras dan
bahan pangan yang lainnya. Jepara menjadi pelabuhan penting setelah Malaka
dikuasai Portugis pada tahun 1511.13 Malaka dijadikan sebagai stasiun
peristirahatan dan perbekalan bagi kapal-kapal portugis. Selain itu juga dijadikan
sebagai pos militer untuk melindungi perdagangan mereka.
Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis menimbulkan
pertimbangan-pertimbangan baru dalam bidang politik dan ekonomi pada bagian pertama abad
XVI M. Perkembangan kerajan-kerajaan Islam baru tidak hanya pusat politik,
tetapi juga memegang peranan penting dalam perdagangan dan rempah-rempah
serta bahan pangan lainnya. Keberadaan Portugis di Malaka sangat menggangu
aktifitas perdagangan dan pelayaran pedagang-pedagang Islam, termasuk Demak,
lebih-lebih karena ekspansi Portugis selain di dorong oleh motifasi ekonomi
komersial juga di dorong oleh misi religious yaitu meneruskan Perang Salib
melawan orang-orang Islam.14
12
Uka Tjandrasasmita,Pertumbuhan dan Perkembangan kota-kota Muslim di Indonesia dari Abad XVI sampai XVIII Masehi(Kudus: Menara Kudus, 2000), 35.
13
Chusnul Hayati,Peranan Ratu Kalinyamat di Jepara pada Abad XVI(Jakarta: Depdiknas, 2000), 7.
14
38
Masa-masa keemasan Demak mulai pudar pada saat Kematian Sultan
Trenggana dari Demak pada tahun 1546. Berakhirlah kemakmuran Demak.
Sesudah pertempuran berdarah antara para calon pengganti raja di ibu kota
Demak, para penguasa kerajaan yang terkemuka berkumpul di Jepara untuk
memusyawarahkan hari depannya. Dengan demikian di Jawa mulai mendirikan
kerajaan Kalinyamat, kota Kalinyamat kira-kira 18 km dari Jepara masuk ke
pedalaman, ditepi jalan ke Kudus, pada abad ke-16 menjadi tempat kedudukan
raja-raja kota pelabuhan.15
Menurut cerita, yang mendirikan tempat itu ialah seorang Cina, nahkoda
sebuah kapal dagang yang kandas ditepi pantai. Sesampainya di Jepara (Jung
Mara) ia dalam kedaan melarat. Ia diselamatkan oleh Sunan Kudus. Tidak lama
kemudian ia mendirikan pedukuhan di tepi jalan antara Kudus dan Jepara yang
lama kelamaan dapat dikembangkannya, sehingga maju. Ia menempatkan diri di
bawah kekuasaan Sultan Trenggana dari Demak, dan mendapat salah seorang
puteri Sultan Trenggana sebagai istri, sebagai Ratu Arya Jepara atau juga disebut
Ratu Kalinyamat.16
Pada masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat, kerajaan Kalinyamat
berkembang diberbagai bidang, seperti bidang politik dan bidang ekonomi.
Perkembangan dibidang ekonomi bisa dikatakan cukup pesat karena kemajuan
dari pelabuhan Jepara memberi dampak pertumbuhan yang signifikan dalam
sektor perekonomian.
15
Ibid., 35. 16
39
1. Bidang Perekonomian
Ratu kalinyamat juga berperan dalam pembangunan kembali
perekonomian Jepara yang sebelumnya mulai menurun. Keinginan Ratu
Kalinyamat untuk membangun perekonomian di maksudkan untuk memajukan
kerajaan Kalinyamat dan juga lebih mempermudah penyebaran Islam di Jepara
karena jika perekonomian berkembang pesat khususnya di pelabuhan, maka para
pedagang akan lebih banyak datang ke Jepara dan menjadikan Jepara sebagai
pusat perekonomian di Jawa.
Kota Jepara merupakan sentral ekonomi bagi kraton Demak, dimasa
kesultanan Demak, Jepara selalu lebih disukai dari pada Demak sebagai teluk
yang aman17 dengan tempat yang sangat setrategis yang terletak di utara pesisir
Pulau Jawa yang bisa menghubungkan antara pelabuhan di Rembang, Pati dan
juga sebagai pelabuhan yang dengan mudah dapat dijadikan tempat perdagangan
dengan daerah-daereh lain seperi Maluku, Ambon, dan Aceh sebagai bandar
penghubung wilayah pedalaman Jawa.
Di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara mengalami
perkembangan tersendiri. Kekalahan dalam perang di laut melawan Malaka pada
tahun 1512-1513 pada masa pemerintahan Pati Unus, menyebabkan Jepara nyaris
hancur. Akan tetapi perdagangan lautnya tidaklah musnah sama sekali.18Kegiatan
ekonomi menjadi semakin terbengkelai pada saat wilayah Kesultanan Demak
menjadi ajang pertempuran antara Arya Penangsang dengan keturunan Sultan
17
De Graaf,Awal Kebangkitan Mataram,125.
18
40
Trenggana. Meski pun demikian, perdagangan lautnya masih dapat berlangsung,
walaupun kurang berkembang.
Setelah berakhirnya peperangan melawan Arya Penangsang, Jepara
mengalami perkembangan tersendiri. Apabila Sultan Pajang sibuk dalam rangka
konsolidasi wilayah, maka Jepara pun sibuk membenahi pemerintahan dan
ekonomi yang terbengkalai selama intrik politik berlangsung. Perdagangan laut
Jepara dapat berlangsung meskipun kurang berkembang.
Namun beberapa tahun setelah berkuasa, Ratu Kalinyamat berhasil
memulihkan kembali perdagangan Jepara. Konsolidasi ekonomi memang
diutamakan oleh Ratu Kalinyamat. Di bawah pemerintahannya, pada pertengahan
abad ke 16 perdagangan Jepara dengan daerah seberang laut semakin ramai.
Pedagang-pedagang dari kota kota pelabuhan di Jawa seperti Banten, Cirebon,
Demak, Tuban, Gresik, dan juga Jepara menjalin hubungan dengan pasar
Internasional Malaka. Dari Jepara para pedagang mendatangi Bali, Maluku,
Makasar, dan Banjarmasin dengan barang-barang hasil produksi daerahnya
masing-masing. Dari pelabuhan-pelabuhan di Jawa di ekspor beras ke daerah
Maluku dan sebaliknya dari Maluku di ekspor rempah-rempah untuk kemudian
diperdagangkan lagi. Bersama dengan Demak, Tegal, dan Semarang, Jepara
merupakan daerah ekspor beras.
Pada pertengahan abad ke-16 perdagangan Jepara dengan daerah seberang
laut menjadi semakin ramai. Menurut berita Portugis, Ratu Jepara itu merupakan
41
abad ke-16.19 Di bawah Ratu Kalinyamat, strategi pengembangan Jepara lebih
diarahkan pada penguatan sector perdagangan dan angkatan laut. Kedua bidang
ini dapat berkembang baik berkat adanya kerjasama dengan beberapa kerajaan
maritim seperti Johor, Aceh, Banten, dan Maluku.
D.H. Burger mengatakan bahwa meski pun daerahnya kurang subur,
namun di wilayah kekusaan Ratu Kalinyamat terdapat empat kota pelabuhan
sebagai pintu gerbang perdagangan di pantai utara Jawa Tengah bagian timur
yaitu Jepara, Juwana, Rembang, dan Lasem. Oleh karena itu wajar apabila Ratu
Kalinyamat dikenal sebagai orang yang kaya raya. kekayaannya diperoleh melalui
perdagangan Internasional, terutama dengan Malaka dan Maluku. Jepara
merupakan pensuplai beras yang dihasilkan di daerah hinterland. Selain berperan
sebagai pelabuhan transit juga menjadi pengekspor gula, madu, kayu, kelapa,
kapok, dan palawija. Apalagi dengan berlakunya system comenda dalam
pelayaran dan perdagangan pada waktu itu, membuat Ratu Kalinyamat tidak
hanya sebagai penguasa politik, tetapi juga sebagai pedagang.
Sesuai dengan letak geografis sebagai kota pelabuhan, Jepara menempati
suatu titik yang menghubungkan dunia daratan dan dunia lautan. Dunia daratan
adalah daerah Pati, Jepara, Juwana, dan Rembang, sedang dunia lautan adalah
jalur perdagangan dan pelayaran dengan daerah-daerah sekitarnya maupun daerah
seberang laut. Dengan demikian dilihat dari segi ekonomi, pelabuhan Jepara
berfungsi sebagai tempat menampung surplus dari daerah hinterland untuk
memenuhi warganya dan di distribusikan ke daerah-daerah lain di seberang
19
42
lautan. Sebaliknya Jepara juga berfungsi menampung produk-produk dari daerah
luar untuk selanjutnya di distribusikan atau diperdagangkan ke daerah-daerah
hinterlandyang membutuhkan.
Perdagangan laut di pantai utara Jawa pada abad ke-16 sebagian besar
dikuasai oleh bangsawan. Sebagai penguasa, mereka mempunyai hak beli dahulu
bagi barang dagangan yang datang dan memborong barang dagangan yang tidak
terjual. Pedagang-pedagang asing memberi prioritas kepada penguasa untuk
memilih barang dagangan yang baik dengan harga lebih rendah dari pembeli lain.
Hubungan baik dengan penguasa setempat senantiasa dipelihara untuk kelancaran
usaha mereka. Dengan jabatan politik yang tinggi dan dukungan finansial yang
kuat memberi peluang bagi penguasa untuk menanamkan pengaruhnya dalam
bidang politik dan pemerintahan.20
2. Bidang Perpolitikan
Dalam sejarah hidup Ratu Kalinyamat selalu berdekatan dengan para
ulama disamping itu juga ia seorang yang cakap dalam bidang perpolitikan, ada
yang mengatakan bahwa semenjak masih gadis Ratu Kalinyamat di daulat untuk
memimpin daerah Jepara. Ketika itu jepara merupakan pelabuhan yang sangat
ramai di kunjungi pedagang-pedagang dari berbagai daerah, setalah menikah,
kekuasaan atas Jepara kemudian diserahkan kepada pangeran Hadiri.21 Peranan
politik yang dilakukan Ratu Kalinyamat diawali ketika terjadi kemelut di istana
Demak pada pertengahan abad ke-16 yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan
20
Chusnul Hayati,Peranan Ratu Kalinyamat,137. 21
43
sepeninggal Sultan Trenggana. Perebutan tahta menimbulkan peperangan
berkepanjangan yang berakhir dengan kehancuran kerajaan Demak.
Setelah konflik itu selesai, Ratu Kalinyamat memunculkan sebagai tokoh
wanita yang memegang peranan penting dalam kesatuan keluarga Kesultanan
Demak, serta dalam bidang politik pemerintahan yang begitu menonjol. Fernando
Mendez Pinto dalam kesaksiannya menyatakan bahwa di wilayah Kerajaan
Demak terdapat delapan penguasa yang memiliki hak untuk memilih raja baru
sehingga berkedudukan sebagai dewan mahkota. P.J. Veth (1912) juga
menyatakan terdapat daerah utama yang merdeka di Jawa dan Madura, salah
satunya adalah Kalinyamat. Kedelapan daerah merdeka itu adalah Banten,
Jayakarta, Cirebon, Prawata, Pajang, Kedu, Madura, dan Kalinyamat. Kedudukan
Kalinyamat sebagai daerah merdeka ini menempatkan Ratu Kalinyamat pada
posisi strategis sebagai pemegang kekuasaan di Jepara. Karena termasuk sebagai
dewan mahkota, maka kedudukan dan pengaruh penguasa di delapan daerah
merdeka di bidang politik dan pemerintahan cukup kuat.22
Ratu kalinyamat dihormati sebagai kepala keluarga Kasultanan Demak
yang sesungguhnya. Sepeninggal Sunan Prawata, ia menjadi pemimpin keluarga
dan pengambil keputusan penting atas bekas wilayah Kasultanan Demak. Menurut
Ali Syafi’i juru kunci makam dan masjid Mantingan, setelah Sunan Prawata wafat
pemerintahan Demak di ambil alih oleh Ratu Kalinyamat selaku adiknya dan
memindahkan pusat pemerintahan Demak ke Jepara.23 Itulah keyakinan dari
22
Chusnul Hayati,Peranan Ratu Kalinyamat,132. 23