• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN KERAJAAN KALINYAMAT DALAM PENGEMBANGAN ISLAM DI JEPARA (1527-1599 M).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERANAN KERAJAAN KALINYAMAT DALAM PENGEMBANGAN ISLAM DI JEPARA (1527-1599 M)."

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN KERAJAAN KALINYAMAT

DALAM PENGEMBANGAN ISLAM DI JEPARA

(1527-1599 M)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Dalam Program Strata Satu (S-1) Pada jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI)

Oleh :

Lailatul Qomariyah

NIM : A82212146

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Skripsi ini merupakan hasil penelitian literature dan lapangan yang

berjudul “Sejarah dan Peranan Kerajaan Kalinyamat dalam Pengembangan Islam

di Jepara”. Permasalahan yang akan dibahas yaitu, (1) Bagaimana proses masuk

Islam ke Jepara? (2) Bagaimana sejarah lahirnya kerajaan Kalinyamat? (3) Bagaimana peran kerajaan Kalinyamat dalam mengembakan Islam di Jepara?

Untuk menjawab permasalahan di atas penulis menggunakan metode historis, yaitu suatu lanagkah atau cara merekontruksi masa lampau secara sistemtis dan objektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis (sejarah) dan bersifat kualitatif. Sedangkan teori yang digunakan adalah teori kekuasaan Max Weber.

(7)

ABSTRAC

This thesis is a literature result entitled “Kalinyamat kingdom role in the

development of Islam in Jepara”. The research problems discussed are (1) How

does Islam get into Jepara? (2) How is the other history of Kalinyamat kingdom? (3) How is the Kalinyamat kingdom role in developing Islam at Jepara?

In answering the research problems above the research use a historical method, this is the step/the way to reconstructing the past systematically and objectively by collecting the research data. This research use a historical method which is qualitative. While the theory use is a power/ bureaucracy theory of Max Weber.

The result of this research shows that (1) Islam get into Jepara by trade line, there is a big enough port in Jepara at the time 1470 (2) Kalinyamat Kingdom is only a small kingdom or a part of Demak city at the first time. After a huge conflict in Demak at 1549 kingdom which causes the Kalinyamat Queen’s brother murdered , Sunan Prawata, the Kalinyamat Queen’s husband Sunan

Hadiri, the queen Kalinyamat declares that Kalinyamat kingdom will be on his own foot (3) The Kalinyamat kingdom role in developing Islam can be seen by Kalinyamat kingdom herritages which is still exist until now. They are Mantingan, the carvaring on the mosque, and the cenetery of Mantingan and

(8)

x iii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...i

PERNYATAAN KEASLIAN...ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ...iv

TRANSLITERASI ...v

MOTTO ...vi

PERSEMBAHAN...vii

KATA PENGANTAR ...ix

ABSTRAK ...xi

DAFTAR ISI...xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang...1

B. Rumusan Masalah ...5

C. Tujuan penelitian...6

D. Kegunaan penelitian...6

E. Pendekatan dan kerangka teori...8

F. Penelitian terdahulu...9

G. Metode penelitian...11

H. Sistematika pembahasan ...17

BAB II SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI JEPARA A. Sejarah dan Letak Geeografis ...19

(9)

xiv

BAB III SEJARAH KERAJAAN KALINYAMAT

A. Sejarah Berdirinya...31

B. Berkembangnya Kerajaan Kalinyamat ...35

C. Hubungan Kerajaan Kalinyamat Dengan Kerajaan Lain...46

D. Raja-raja Yang Pernah Memimpin Kalinyamat ...54

BAB IV DAKWAH ISLAM DI JEPARA KETIKA KEPEMIMINAN KERAJAAN KALINYAMAT A. Menumbuhkan Kesadaran Masyarakat Terhadap Pentingnya Pendidikan agama Islam ...57

B. Mendirikan Masjid ...61

C. Membentuk Komunitas Islam Santri ...65

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ...69

B. Saran ...70

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Jepara adalah kota pelabuhan yang terletak di kawasan pantai utara Jawa

Tengah. Jepara adalah salah satu daerah terpenting di Jawa pada saat itu. Dalam

pertumbuhan dan perkembangan Islam di Jawa, Jepara mempunyai andil yang

sangat besar terutama kedatangan pedagang Islam dari India, Cina, dan Arab.

Kedatangan mereka ke Jawa selain berdagang juga menyebarkan Islam di tanah

Jawa. Dalam catatan Tome Pires yang ditulis awal abad ke 16 bahwa

maulana-maulana dari tanah seberang berdatangan, mereka tinggal di dekat masjid-masjid

yang sudah di bangun pada waktu itu.1

Jaman dahulu pelabuhan menjadi salah satu tempat yang sangat penting

dalam kehidupan sosial masyarakat dahulu. Karena pelabuhan merupakan tempat

berlabuhnya kapal-kapal yang dahulunya menjadi alat tranportasi, salah satunya

dengan berdagang.2

Pada masa itu pelayaran adalah tranportasi yang digunakan oleh

pedagang-pedagang untuk datang ke Indonesia, begitu pula dengan

pedangang-pedagang muslim dari India, Persia, Arab, dan lainnya yang juga menyebarkan

Islam di daerah pesisir kepulauan Indonesia. pada awal kedatangan mereka hanya

untuk berdagang tetapi untuk kedatangan selanjutnya mereka mulai menyebarkan

1

H.J. de Graaf dan Th. Pigeaud, Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa ; peralihan dari Majapahit ke Mataram (Jakarta: Grafiti pers, 1985), 30.

2

(11)

2

Islam. Keberadaan pedagang-pedagang muslim di Indonesia bukan hanya

sebentar karena menunggu dagangan mereka habis dan untuk kembali membawa

hasil bumi atau produksi setempat, ditambah menunggu waktu pelayaran kembali

yang tergantung pada musim, maka terpaksa mereka harus tinggal beberapa

bulan.3 Pada waktu itu Islam di sebarkan dengan cara perlahan di sesuaikan

dengan kondisi sosial dan budaya daerah tersebut, karna itu tumbuhlah kota-kota

pelabuhan, administrasi dan pusat politik kekuasaan yang mempunyai sistem

budaya Tradisional, tetapi didalam kehidupan masyarakat mulai dimasuki

unsur-unsur Islam.

Kemungkinan besar pedagang yang datang ke Indonesia bukan hanya

pedagang-pedagang yang berniat menjual dagangannya, kemungkinan disertai

mubaligh-mubaligh yang sengaja datang ke Indonesia khusus untuk berdakwah

dan menyebarkan Islam di Indonesia. Dengan keikut sertaan mubaligh datang ke

Indonesia akan mempermudah dan mempercepat proses Islamisasi di Indonesia.

para pedagang itu mencari simpati dari masyarakat, bukan hanya masyarakat kecil

tetapi juga para bangsawan dan raja-raja yang mempunyai peran penting dalam

kegiatan perdagangan.

Karena tersebarnya Islam awalnya melalui rute perdagangan, maka dapat

diperkirakan bahwa penyiar agama Islam pada awalnya adalah

pedagang-pedagang. Jadi bisa kita perkirakan pendorong utama penyebaran Islam di

Indonesia adalah faktor ekonomi perdagangan.

3

(12)

3

Jepara dipimpin oleh seorang raja perempuan yang bernama Ratu

Kalinyamat sejak pertengahan abad ke 16. Dia adalah Putri dari Sultan

Trenggana, adik dari Pangeran Prawata. Dalam berbagai naskah tradisi disebutkan

bahwa sebelum bersuami, konon Ratu Kalinyamat telah menduduki jabatan

sebagai kepala daerah, yang wilayahnya meliputi Jepara, Pati, Rembang, dan

Blora. Sebagai seorang yang memiliki kekuasaan tetapi belum bersuami, maka

Ratu Kalimayat menginginkan suami yang perkasa, memiliki pengetahuan luas

dalam bidang agama Islam dan bersemangat melawan bangsa Portugis yang

waktu itu sedang mengancam kedudukan kesultanan Demak.4

Ratu kalinyamat menjadi tokoh penting di pantai pesisir Jawa Tengah dan

Jawa Barat. Ratu Kalinyamat mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan

Sultan Hadiwijaya sejak terjadinya perebutan kekuasaan Demak di pedalaman

Jawa Tengah.5Pada masa itu sang ratu hidup dalam kemelut perebutan kekuasaan

karena dinasti Demak mengalami guncangan hebat, dan sangat berduka atas

kematian saudara laki-lakinya, Sunan Prawata.

Jepara berkembang menjadi kota pelabuhan yang paling strategis dalam

menunjang jalannya pemerintahan, kegiatan perniagaan, penyebaran agama, dan

pangkalan armada laut. Dan itu terus sampai masa pemerintahan Mataram dan

kolonial Belanda. Pada abad 16 Ratu Kalimayat berhasil mengangkat Jepara

menjadi sebuah ibukota dan pelabuhan terpenting di pesisir utara Jawa. Situasi ini

4

Chusnul Hayati,Peranan Ratu Kalimayat di Jepara pada Abad XVI(Jakarta: Depdiknas, 2000), 7.

5

(13)

pai Belanda menguasai Indonesia pun Jepara

ndonesia karena pelabuhannya

an Islam di Jepara terbilang pesat, buktiny

kat Jepara sangat kental dengan nilai-nilai Isl

egi budaya, itu sudah jelas menggambarkan

masyakarat Jepara. Semua itu tidak terlepas

yang datang yang menyebarkan agama Islam

dagang, ada juga yang menetap dan menj

a. Perkembangan agama Islam dan budaya Isl

garuh budaya dan ajaran Islam terhadap masy

rakat mayoritas.

Kudus, Jepara, dan Demak adalah komunitas m

alankan ibadah syariat agama Islam. Mas

si mebel ukir, yang sangat kental dengan Islam

kat Jepara sangat taat dalam menjalankan sya

erti itu sangat berpengaruh dalam pandanga

(14)

5

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengambil judul

Peranan Kerajaan Kalinyamat Dalam Pengembangan Islam di Jepara.

Penulis ingin mengupas keberadaan kerajaan Kalinyamat yang dipimpin Ratu

Kalinyamat. Suatu kerajaan yang mempunyai peran penting dalam pengembangan

masyarakat Jepara terutama pengembangan dalam bidang agama Islam.

B. Batasan masalah dan Rumusan masalah

Dalam pembahasan ini, penulis lebih memfokuskan kepada Islam di Jepara,

dari awal masuknya dan juga bagaimana peran dari kerajaan Kalinyamat dalam

pengembangan Islam di Jepara. Penulis juga membahas tentang sejarah kerajaan

Kalinyamat agar lebih mempermudah untuk pembahasan pengembangan Islam di

Jepara oleh kerajaan Kalinyamat.

Maka dari itu, penulis merumuskan masalah dengan pertanyaan yang

sederhana agar lebih jelas.

1. Bagaimana proses Islam masuk ke Jepara?

2. Bagaimana sejarah lahirnya kerajaan Kalinyamat ?

3. Bagaimana Peran kerajaan Kalinyamat dalam mengembangkan Islam di

Jepara ?

C. Tujuan penelitian

Tujuan dari penulisan ini, kami berharap bisa memberi gambaran tentang :

1. Proses masuknya Islam ke Jepara

(15)

6

3. Dan juga bisa mengetahui bagaimana peran kerajaan Kalinyamat

mengembangkan Islam di Jepara

D. Kegunaan penelitian

Setelah penelitian ini selesai dan bisa di baca oleh masyarakat luas, penulis

berharap hasil penelitian ini bisa berguna bagi :

1. Penulis

Penelitian ini di harapkan dapat memberi suatu pengetahuan baru dan

wawasan baru terhadap penulis agar penulis bisa lebih bijak dalam

menanggapi masalah yang berhu bungan dengan sejarah khususnya

perkembangan Islam di Indonesia pada masa lalu. Dan penulis bisa kembali

meneliti sejarah Indonesia khususnya yang berhubungan dengan Islam dengan

menggunakan metodologi yang sudah di pelajari pada saat melakukan

pembelajaran di bangku kuliah.

2. Bagi lembaga pendidikan

Penulis berharap penelitian ini dapat bermberi sumbangsih kepada

lembaga pendidikan khususnya mahasiswa, dan dapat di jadikan suatu

pembelajaran yang akan memberi informasi tentang sejarah Indonesia dan

bisa memberi suatu gambaran terhadap sejarawan ataupun mahasiswa,

khususnya mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya dan juga bisa

menyadarkan kalangan mahasiswa untuk menyadari akan pentingnya

(16)

7

3. Bagi ilmu pengetahuan

Penelitian ini di harapkan bisa memberi tambahan pengetahuan

perkembangan ilmu pengetahuan di masa ini dan masa depan. Terutama

dalam bidang sejarah Indonesia dan sejarah Islam di Indonesia. Dan bisa

melengkapi suatu pengetahuan sejarah yang dirasa belum begitu sempurna

terutama sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia yang sampai saat ini masih

banyak peneliti yang meneliti tentang kerajaan-kerajaan di Indonesia.

E. Pendekaatan dan kerangka teori

Kerajaan Kalinyamat adalah salah satu kerajaan yang ada di Indonesia,

yang mana kerajaan Kalinyamat termasuk kerajaan Islam di Indonesia. Untuk

mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu, penulis menggunakan pendekatan

historis. Dengan pendekatan historis ini, penulis ingin mengungkap sejarah

kerajaan Kalinyamat, dari awal berdirinya, latar belakang berdirinya kerajaan

Kalinyamat, raja-raja yang memimpin Kalinyamat, serta peran kerajaan

Kalinyamat dalam mengembangkan Islam di Jepara. Selain menggunakan

pendekatan historis, penulis juga menggunakan pendekatan Sosiologi. Pendekatan

Sosiologi ini diharapkan bisa mengungkap dari segi-segi peristiwa yang di kaji

seperti golongan sosial mana yang berperan serta nilai-nilainya, hubungan

golongan politik berdasarkan kepentingan ideologi dan lain sebagainya.6 dan

mengungkap bagaimana sistem sosial dan bagaimana kerajaan Kalinyamat

mengembangakan Islam.

6

(17)

8

Pendekatan historis merupakan penelaahan serta sumber-sumber lain yang

berisi informasi mengenai masa lampau dan dilaksanakan secara sistematis. Atau

dengan kata lain yaitu penelitian yang mendeskripsikan gejala, tetapi bukan yang

terjadi pada waktu penelitian dilakukan.

Secara umum penelitian ini adalah penelitian historis yang mencoba

menarasikan sejarah dan peranan kerajaan Kalinyamat dalam mengembangkan

Islam. Menurut Sartono Kartodirjo sejarah naratif adalah sejarah yang

mendeskripsikan tentang masa lampau dengan merekontruksi apa yang telah

terjadi, serta diuraikan sebagai cerita. Dengan perkataan lain kejadian-kejadian

penting diseleksi dan diatur menurut poros waktu sehingga tersusun sebagai

sebuah cerita.7

Dalam penulisan ini, penulis menggunakan Teori kekuasaan. menurut Max

Weber, Kekuasaan adalah kesempatan seseorang untuk menyadarkan masyarakat

akan kemauannya sendiri sekaligus menerapkannya terhadap tindakan perlawanan

dari orang atau golongan tertentu. Kekuasaan tersebut mempunyai aneka macam

bentuk, yang mempunyai bermacam-macam sumber. Maka golongan yang

berkuasa harus berusaha untuk menanamkan kekuasaannya dengan jalan

menghubungkan dengan kepercayaan-kepercayaan dan perasaan-perasaan yang

kuat di dalam masyarakat yang bersangkutan, yang pada dasarnya terwujud dalam

nilai dan norma. Kekuasaannya mencakup memerintah agar yang diperintah patuh

juga untuk memberi keputusan-keputusan yang secara langsung maupun tidak

7

(18)

9

langsung mempengaruhi tindakan pihak yang lain.8 Teori kekuasaan Max Weber

dirasa cocok karena penulisan ini berhubungan dengan kekuasaan kerajaan

Kalinyamat.

F. Penelitian terdahulu

Penelitian tentang sejarah dan peranan kerajaan Kalinyamat dalam

pengembangan Islam di Jepara 1527-1599 ini adalah penelitian berkelanjutan, dari

penelitian yang sudah dipublikasikan oleh beberapa peneliti. Seperti Ratu

Kalinyamat Biografi Tokoh Wanita Abad XVI Dari Jepara yang di tulis oleh Eli

Astuti. Kesimpulannya bahwa kerajaan Kalinyamat adalah suatu kerajaan yang

didirikan oleh Ratu Kalinyamat dan pangeran Hadiri di latar belakangi oleh

perselisihan antara Ratu Kalinyamat dengan Arya Penangsang dan perselisihan

antara kerajaan Kalinyamat dan Demak juga melatar belakangi hancurnya

kerajaan Demak yang di pimpin Arya Penangsang karena masalah tahta kerajaan

Demak.

Babad Tanah Jawi, Babad ini berbentuk prosa yang telah diterjemahkan

dalam Bahasa Indonesia. Babad ini merupakan karya legitimasi dari penguasa

Mataram yang di dalamnya memuat kisah Ratu Kalinyamat. Dalam Babad ini

menerangkan aksi-aksi pembunuhan di kesultanan Demak yang telah terjadi pada

masa Raden Patah hingga sepeniggal Trenggana. Dikisahkan pula Ratu

Kalinyamat melakukan tapa wuda sinjang rikama sebagai bentuk keprihatinan

atas tewasnya Sunan Hadiri dan Sunan Prawata. Pertapaan yang dilakukan Ratu

8

(19)

10

Kalinyamat didasarkan bahwa sudah tidak ada lagi keadilan, sampai-sampai

Sunan Kudus pun memihak Arya Penangsang (sang pembunuh), maka Ratu

Kalinyamat diceritakan bertekat memohon keadilan kepada Yang Maha Kuasa.

Sunan Hadiri dan Ratu Kalinyamat: sebuah sejarah ringkas, Dalam buku

ini memberi gambaran tentang Sunan Hadiri dan Ratu Kalinyamat secara jelas,

berikut peran-perannya di Jepara, khusus pada pembahasan bahwa Ratu

Kalinyamat pernah bertapa untuk memohon keadilan kepada Yang Maha Kuasa

dan waktu bertapa beliau menjalankan shalat, dalam buku ini juga memberi

gambaran bahwa munculnya istliah laku topo wudo itu berasal dariBabad Tanah

Jawisehingga maknanya menimbulkan banyak interpretasi.

De Graaf dan Pigeaud dalam buku ini menjelaskan terbunuhnya Sunan

Hadiri, yang merupakan suatu tantangan berat bagi Ratu Kalinyamat untuk

meneruskan perjuangan suaminya. Ratu Kalinyamat tersebut merupakan tokoh

penting di pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Barat sejak pertengahan abad 16.

Setelah Arya Penangsang tewas dalam peperangan melawan Pajang maka

kekuasaan wilayah Demak di pindah ke Pajang dan diambil alih oleh Hadiwijaya.

Ratu Kalinyamat tidak berputera, tetapi mengasuh adiknya yang bernama

Pangeran Timur, Pangeran Pangiri, anak Sunan Prawata, dan Pangeran Arya,

putera Sultan Hasanudin dari Banten. Pangeran Arya ini yang kelak menggantikan

Ratu Kalinyamat setelah meninggal sebagai penguasa di Jepara. Dengan

berakhirnya peperangan melawan Arya Penangsang, Jepara mengalami

(20)

11

kemileteran dengan menjalin kerja sama melalui beberapa kerajaan maritim,

seperti Banten, Aceh, Cirebon, Johor dan Maluku.

G. Metode penelitian

Penelitian mengenai “sejarah dan peranan kerajaan Kalinyamat dalam

pengembangan Islam di Jepara 1527-1599”, merupakan suatu penelitian historis

karena penelitian ini diarahkan untuk meneliti, mengungkapkan dan menjelaskan

peristiwa masa lampau sehingga jelas diarahkan kepada metode sejarah yang

bersifat kualitatif. Tujuan dari penelitian historis ini yaitu menemukan dan

mendeskripsikan secara analisis serta menafsirkan tentang sejarah dan peranan

kerajaan Kalinyamat dalam pengembangan Islam di Jepara 1527-1599. Selain itu

penelitian yang saya lakukan terkait dengan sejarah dan peranan kerajaan

Kalinyamat dalam pengembangan Islam di Jepara 1527-1599 termasuk dalam

penelitian sejarah budaya dan politik yang bersifat sosial budaya dan social politik

karena dalam penelitian akan dibahas terkait dengan latar belakang sejarah dan

peranan kerajaan Kalinyamat dalam pengembangan Islam di Jepara 1527-1599

yang sifatnya social budaya dan politik.

Penulisan peristiwa masa lampau dalam bentuk peristiwa atau kisah

sejarah yang dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah, harus melalui prosedur

kerja sejarah. Pengisahan masa lampau tidak dapat dikerjakan tanpa ada sumber

yang menyangkut masa lampau tersebut, sumber yang dimaksud adalah berupa

data yang melalui proses analisis menjadi sebuah fakta atau keterangan yang

(21)

12

sumber-sumber itu baik tertulis maupun tidak tertulis yang meliputi legenda,

folklore, prasasti, monument, alat-alat sejarah, dokumen, surat kabar dan

surat-surat.

Proses awal yang dilakukan oleh peneliti untuk menulis sejarah dengan

menentukan tema sesuai dengan minat dan keyakinan penulis. Hal ini diharapkan

dapat memacu semangat penulis untuk meneliti secara sungguh-sungguh. Dalam

menjawab permasalahan penelitian ini penulis menggunakan metode sejarah

yang terdiri dari empat langkah yaitu :

1. Heuristik

Tahap pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah Heuristik

(pengumpulan sumber). Heuristik berasal dari kata Yunani heurishein, artinya

memperoleh.9 Sumber sejarah dapat berupa evidensio (bukti) yang ditinggalkan

manusia yang menunjukan segala aktifitasnya di masa lampau baik berupa

peninggalan-peninggalan maupun catatan-catatan.

Penulisan sejarah dan peranan kerajaan Kalinyamat dalam pengembangan

Islam di Jepara 1527-1599 dikenal dua macam sumber yaitu sumber primer dan

sumber skunder. Sumber primer merupakan sumber pertama yang dipakai oleh

peneliti dalam penulisan sejarah dan dianggap sebagai sumber yang asli (orisinil)

sebagai bukti yang kontemporer dengan peristiwa yang terjadi. Sumber kedua

adalah sumber skunder merupakan sumber berupa kesaksian dari siapa saja yang

9

(22)

13

merupakan saksi mata atau sumber yang berasal dari sumber aslinya yang berupa

literatur.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk mendapatkan data-data

dan informasi yang dibutuhkan untuk menyusun kajian ini yakni:

a. Penelitian Lapangan

Penelitian lapangan adalah suatu penelitian yang dilakukan oleh penulis

dengan secara langsung ke lapangan untuk meneliti serta mencari data-data dan

informasi yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti, agar dapat dibahas

berdasarkan informasi atau bukti data-data yang ditemukan. Ada 2 teknik yang

digunakan penulis untuk mengumpulkan data-data dan informasi penelitian

lapangan, yaitu:

- Pengamatan (observasi)

Adalah suatu teknik yang dilakukan penulis untuk mengamati secara

langsung objek yang berkaitan dengan sejarah dan peranan kerajaan Kalinyamat

dalam pengembangan Islam di Jepara 1527-1599 dan bukti-bukti sejarah dan

peranan kerajaan Kalinyamat dalam pengembangan Islam di Jepara 1527-1599

tersebut.

b. Penelitian Kepustakaan

Yang dimaksud penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilakukan

hanya berdasarkan atas karya tertulis, termasuk hasil penelitian baik yang telah

(23)

14

mengadakan penelitian kepustakaan untuk mendapatkan informasi-informasi serta

data-data yang berkaitan dengan peristiwa sejarah tersebut. Melalui penelitian

kepustakaan ini sumber-sumber buku yang dapat dijadikan sebagai referensi

dalam penulisan skripsi ini. sumber perpustakaan yang akan di kaji adalah

buku-buku, naskah, biografi, serta hal-hal yang berhubungan dengan kajian yang

sedang penulis teliti.

2. Verifikasi

Verifikasi di butuhkan untuk mendukung sumber-sumber yang sudah

penulis dapatkan. Kritik sumber adalah usaha untuk mendapatkan sumber-sumber

yang relevan dengan cerita sejarah yang ingin disusun sesuai dengan judul. Dalam

hal ini yang harus di uji adalah tentang keaslian (otensitas) yang dilakukan

melalui kritik eksteren dan keabsahan tentang kesahihan sumber (kredibilitas)

yang di telusuri melalui kritik intern10. Kritik sumber dilakukan melalui

penganalisaan sumber-sumber yang didapat dengan pembacaan secara kritis,

untuk kemudian dilakukan interpretasi terhadapnya, apakah isinya sebuah

pernyataan, fakta-fakta dan apakah kejadian atau peristiwanya dapat dipercaya.

Langkah ini dilakukan oleh penulis untuk mengetahui apakah buku-buku tersebut

layak untuk dijadikan landasan dalam penelitian atau tidak. Dalam hal ini, penulis

memisahkan antara Babad dan buku sejarah biasa. Karena Babad adalah sumber

primer, maka semakin lama usia naskah tersebut, maka semakin baik. Sedangkan

untuk penulisan sejarah kontemporer, semakin baru usia penulisannya semakin

bagus.

10

(24)

15

3. Interpretasi

Interpretasi atau penafsiran sejarah sering disebut juga dengan analisis

sejarah. Tujuannya agar data yang ada mampu mengungkap suatu permasalah

yang ada, sehingga pemecahannya dapat diperoleh. Dalam hal ini penulis akan

menghubungkan fakta yang satu dengan fakta yang lain yang telah ditemukan dari

hasil heuristik dan verifikasi. Dalam hal ini tentu saja penulis menjelaskan peran

kerajaan Kalinyamat dalam mengembangkan Islam di Jepara. Dalam usaha

menafsirkan fakta-fakta yang ada dilakukan beberapa hal sebagai berikut : (1)

diseleksi, (2) disusun, (3) diberikan tekanan, (4) ditempatkan dalam urutan yang

kausal. Penulis membaca setiap buku dan menyaring informasi yang berguna

untuk memperkuat argumen, penulis memisahkan peran Ratu Kalinyamat dan

beberapa tokoh yang dibahas dalam penulisan ini.

4. Historiografi

Historiografi adalah penulisan sejarah, dan tahap ini adalah tahap akhir

penulisan skripsi. Setelah melakukan tahap Heruistik, Verifikasi, dan Interpretasi,

kini tahap selanjutnya adalah Historiografi dengan menulis dalam suatu urutan

yang sistematik yang telah diatur dalam metode penulisan yang digunakan sesuai

dengan pedoman penulisan skripsi yang di terbitkan oleh UIN Sunan Ampel

Surabaya. Dalam hal ini penulis berusaha menyusun sebuah cerita sejarah

menurut urutan peristiwa, berdasarkan kronologi dan tema-tema tertentu sehingga

(25)

16

H. Sistematika pembahasan

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini membahas tentang latar belakang masalah, rumusan

permasalahan, tujuan penelitian, kerangka penelitian, pendekatan dan kerangka

teoritik, penelitian terdahulu, sistematik pembahasa, daftar pustaka.

BAB II : SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI JEPARA

Bab ini menjelaskan sejarah masuknya Islam di Jepara dan

berkembangnya Islam di Jepara. Dalam bab ini menjelaskan juga letak geografis

Jepara.

BAB III : SEJARAH KERAJAAN KALINYAMAT

Bab ini membahas tentang sejarah berdirinya kerajaan Kalinyamat serta

asal-usul silsilah raja dan Ratu Kalinyamat serta hubungan antara kerajaan

Kalinyamat dengan kerajaan lain. Selain itu juga membahas tentang

berkembangnya kerajaan Kalinyamat dalam segi perekonomian dan perpolitikan

masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat. Dan juga membahas tentang siapa saja

raja-raja yang pernah memimpin di kerajaan Kalinyamat.

BAB IV : DAKWAH ISLAM DI JEPARA KETIKA KEPEMIMPINAN

(26)

17

Bab ini menjelaskan tentang menumbuhkan kesadaran masyarakat

Jepara terhadap pentingnya pendidikan Islam, dan juga mendirikan masjid, serta

membentuk sebuah komunitas Islam Santri.

(27)

BAB II

SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI JEPARA

A. Sejarah dan Letak Geografis

Jauh sebelum adanya kerajaan-kerajaan di tanah Jawa di ujung sebelah

utara Pulau Jawa sudah ada sekelompok penduduk yang diyakini orang-orang itu

berasal dari daerah Yunnan Selatan yang kala itu melakukan migrasi ke arah

selatan. Jepara saat itu masih terpisah oleh selat Juwana. Pada mulanya Jepara

hanya di huni 100 orang dan menjadi bandar perdagangan dengan jasa Arya

Timur.1 Bisa dikatakan Jepara adalah kota tua di Jawa, sebelum adanya Demak.2

Tokoh bernama Arya Timur juga terdapat dalam Suma Oriental yang di

tulis oleh Tome Pires, bahwa pemerintahan pertama di Jepara adalah pada tahun

1470 semasa di bawah penguasa Arya Timur.

Arya timur adalah seorang pedagang berasal dari Kalimantan Barat yang

pindah ke Maluku dan akhirnya menetap di Jepara sebagai penguasa Jepara. Kala

itu Jepara telah berkembang sebagai bandar besar yang mempunyai letak strategis

dalam lalu lintas perdagangan Nusantara. Kuat dugaan pada awal pemerintahan

Kerajaan Jepara di bawah Arya Timur ini telah mengakui kedaulatan kerajaan

Majapahit, mengingat kerajaan Demak Bintara baru menjadi kesultanan pada

tahun 1482.

1

Sunarto,Jepara Surga Industri Mebel Ukir (Semarang: Surya, 2002), 1.

2

(28)

Seperti dikemukaan oleh C. Lekkerkerker dalam bukunya Javaansche

geographische namen als Spiegel van de om giving en de denkwijzen van het

volk” (1931), sebagaimana dinyatakan oleh Panitia penyusun hari jadi Jepara.

nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para. Dari perkataan ini muncul

perkataan ujung mara dan Jumpara, yang kemudian mengerucut menjadi Jepara

atau Japara.3 Yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang

berniaga ke berbagai daerah.

Dalam bahasa Jawa perkataan ujung dapat berarti penjuru tanah atau

daerah yang menanjung, sedangkan perkataan para dalam bahasa Jawa

merupakan sebuah perkataan yang mempunyai arti diantaranya merupakan

pendekatan dari perkatan paparan yang berarti bebakulan mrana-mrana artinya

pergi berdagang kesana-kesini. Dengan demikian perkataan Jepara dapat berarti

sebuah ujung tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai

daerah, dalam hal ini ada kemungkinan keberbagai daerah pedalaman di kawasan

kabupaten Jepara dan sekitarnya.4 Menurut buku sejarah baru Dinasti Tang

(618-906 M) tercatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama

Itsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga di

sebut Jawa atau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara

sekarang, serta di pimpin oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima yang di

kenal sangat tegas.

Penulis dari Portugis bernama Tome Pires mengatakan dalam bukunya

Suma Oriental, Jepara baru dikenal pada abad ke XV (1470 M) sebagai bandar

3

Panitia Penyusun Hari Jadi Jepara,Sejarah dan Hari Jadi Jepara(Jepara, 1988), 5.

4

(29)

✂ ✄

perdagangan yang kecil yang baru dihuni oleh 90-100 orang dan di pimpin oleh

Arya Timur dan berada di bawah pemerindahan Demak. Kemudian Arya Timur di

gantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus (1507-1521). Sumber dari Tome

Pires ini masih perlu dikaji kembali, karena Pati Unus yang disebut dalam Suma

Oriental, apakah benar anak dari Arya Timur atau anak dari Raden Patah yang

memang dalam sejarahnya lahir di Jepara. Pati Unus mencoba untuk membangun

Jepara menjadi kota niaga. Mulai abad ke 16 Jepara juga di kenal sebagai kota

bandar dan kota perdagangan di pesisir utara Pulau Jawa, sehingga kedudukan

kota Jepara pada waktu itu cukup penting dan strategis sebab berfungsi sebagai

pelabuhan niaga dan pelabuhan militer.

Letak Geografis Jepara di sebelah Timur perbatasan dengan Demak,

Kudus, dan pegunungan Muria kabupaten Pati. Sebelah Barat, Utara, dan selatan

perbatasan dengan laut Jawa. Pada zaman dahulu, kota Jepara dinilai sebagai

tempat yang sangat strategis dan aman dalam berdagang dan bersinggah ke pulau

Jawa, itu disebabkan karena letaknya di lindungi oleh dua pulau kecil, yaitu pulan

Karimunjawa dan pulau Panjang. Kondisi alam yang menguntungkan menjadikan

para pedagang dan pelaut lebih tertarik singgah di pelabuhan Jepara dari pada di

Demak.5

Jepara sekarang berada di Provinsi Jawa Tengah, Jepara merupakan salah

satu Kabupaten Daerah Tingkat II di Jawa Tengah. Kondisi geografis Jepara tidak

seluruhnya datar, sebagian daerahnya yang ada pegunungan dan juga rawa-rawa.

Di bagian lain terutama di daerah perbukitan dan sekitar pantai, terdapat tanah

5

(30)

☎☎

tandus dan rawa-rawa, yang tidak bisa di pergunakan sebagai pertanian dan

perkebunan.

Dilihat dari keadaan Hidrologis, Kabupaten Jepara bagian Timur

merupakan lereng sedangkan bagian Barat adalah gunung Muria. Dari kaki

pegunungan ini mengalir beberapa sungai besar dan kecil yang sangat mendukung

usaha pertanian dan berpengaruh besar pada kesejahteraan sosial ekonomi dan

kehidupan masyarakat. Dan tedapat juga beberapa sungai besar dan kecil, yaitu

sungai Mayong, Bakalan, dan Pecangan. Ketiga aliran sungai itu berakhir di

sungai Serang yang bermuara di laut Jawa. Beberapa sungai kecil yaitu: sungai

Wiso, Mambak, Mlonggo, Banjaran, Wedalan, Jenggotan, Sebagor, Keling,

Pedut, dan kali Gelis yang bermuara di laut Jawa sebelah Utara Jepara.6

Jepara sekarang mempunyai enam belas Kecamatan, yaitu: Jepara kota,

Bonorojo, Kalinyamatan, Kembang, Pakis Aji, Tahunan, Pecangan, Welahan,

Batealit, Mlonggo, Bangsar, Keling, Mayong, Nalumsari, Kedung, dan

Karimunjawa. Luas daerah Jepara berkisar 1004,13 kilometer persegi, dengan

ketinggian 0 sampai 1301 meter diatas permukaan laut. Letak Jepara mengalami

perubahan, yaitu pada posisi 3°23’20”sampai 4°9’35”BT dan 5°43’0” sampai

6°47’44”LS.Luas daerah Jepara berkisar 104,13 kilometer persegi, dengan

ketingian 0 sampai 1301 meter diatas permukaan laut. Iklim di kabupaten Jepara

6

(31)

✆ ✝

termasuk iklim tipe D atau iklim sedang, dengan musim kemarau dan hujan silih

berganti.7

Kabupaten Jepara mempunyai luas tanah seluruhnya mencakup

100,413,189 hektar, yang penggunaannya sebagai tanah sawah sebanyak

26,624,368 hektar atau 17,559% dari total luas tanah di Jepara.8Kondisi tersebut

sangat berpengaruh terhadap tata kehidupan dan dinamis sosial ekonomi dan

sosial budaya masyarakat yang juga berbentuk bersama perjalanan sejarah Jepara

dari jaman Kerajaan Jepara. Karena itulah masyarakat Jepara memiliki

karakteristik yang khas bila di bandingkam dengan masyarakat lainnya.9

Pada masa pemerintahan pedalaman di Jawa Tengah, Jepara tetap

berfungsi sebagai kota pelabuhan, kota niaga, dan kota dagang. Oleh karena itu,

banyak kaum pedagang, para sufi, dan penyebar agama yang datang ke pulau

Jawa melalui pelabuhan ini. Suasana lingkungan pesisir pantai yang tenang dan

aman itu, memungkinkan Jepara berkembang menjadi kota pelabuhan yang

penting, pada abad ke-14 sampai ke-15 dan peranannya sangat besar. Ketika itu

pusat pemerintahan masih ada di Jawa Timur dan sesudah Majapahit runtuh, pusat

pemerintahan bergeser kembali ke JawaTengah.10

Pada abad ke-16 lingkungan kerajaan sudah memiliki jalan yang layak

untuk dilalui dan sudah dibangun. Jalur darat antara Kudus, Jepara, Demak

7

Badan Statistik dan Geofisika Kabupaten Jepara, Jepara dalam Angka tahun 1995(Jepara: 1995), 5.

8

Ibid,. 5.

9

Soenarto,Jepara Surga Industri Mebel Ukir(Semarang: Surya, 2002), 6.

10

(32)

✞ ✟

sampai Semarang, sudah dibangun. Kemajuan yang sudah di alami Jepara pada

waktu itu sudah menjadi kemajuan suatu peradaban dan juga mempengaruhi

sistem sosial masyarakat di sana, dan karena itulah Jepara menjadi pusat kota

pelabuhan yang besar dan terkenal. Pada masa itu Jepara sudah berada dibawah

kekuasaan kerajaan Kalinyamat. Sebelumnya, Jepara merupakan kota pelabuhan

tua yang ada sejak tahun 1470 seperti yang di jelaskan di awal. Sebelum menjadi

kekuasaan kerajaan Kalinyamat, Jepara merupakan kota bawahan kerajaan

Demak. Setelah kerajaan Kalinyamat berdiri, Jepara menjadi wilayah kekuasaan

Kerajaan Kalinyamat. Yang di pimpin oleh Ratu Kalinyamat.

B. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Jepara

Dari catatan sejarah, ajaran agama Islam masuk ke pulau Jawa sekitar abad

XI Masehi. Ajaran Islam ini dibawa oleh para mubaligh dari Pasai (Aceh Utara)

dan para pedagang Islam dari Gujarat, buktinya di temukan makam Fatimah binti

Maimun di daerah Jawa Timur. Selain itu, ada pula yang diajarkan langsung oleh

para pedagang Islam arab yang berdagang di berbagai kerajaan pesirir di

Nusantara ketika itu.11

Penyebaran Islam di pantai Utara Jawa Tengah baru terjadi setelah

penyebaran di Jawa Timur sekitar pertengahan abad XV M. Sebelumnya Orang

pertama yang menyebarkan Islam di Jawa dikenal dengan nama Sunan Gresik

atau Maulana Malik Ibrahim. Sunan Gresik merupakan wali senior di antara Wali

Songo. Beliau menyebarkan Islam dengan cara bergaul dengan masyarakat dan

11

(33)

✠ ✡

berdagang. Perdagangan membuatnya dapat berinteraksi dengan masyarakat

banyak, selain itu raja dan para bangsawan dapat pula turut serta dalam kegiatan

perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal atau pemodal.12

Setelah Sunan Gresik baru diteruskan oleh Sunan Ampel atau Raden

Rahmat pada abad XV. Sunan Ampel adalah salah satu Wali Songo yang

mendirikan pesantren di Ampel Denta Surabaya. Di Ampel Denta itulah Sunan

Ampel mengajarkan Islam dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat.

Sunan Ampel menyebarkan Islam dengan cara yang damai, tidak dengan

berperang atau menduduki dan mengambil suatu pemerintahan, beliau lebih

memilih menyebarkan Islam dengan cara damai, dan dengan begitu masyarakat

menerima Islam dengan baik dan perkembangan Islam sangat pesat di Jawa.

Sunan Ampel mempunyai beberapa murid yang juga ikut menyebarkan Islam,

salah satu dari murid beliau adalah Sunan Giri atau Raden Paku, Sunan Giri juga

menyebarkan Islam dengan cara mendirikan pesantren di Giri Kedaton yang

sekarang wilayah Gresik. Pesantren Sunan Giri terkenal hingga daerah Maluku.

Orang-orang Maluku terutama Hindu banyak yang datang berguru kepada Sunan

Giri. Bahkan beberapa orang Kiai dari Giri di undang ke Maluku untuk menjadi

guru agama disana, raja-raja di Jawa dan para bangsawan, biasanya juga

mendatangkan Kiai Ulama sebagai guru atau penasehat agama.13

Pada masa awal penyebaran Islam di Jawa, tokoh Wali, Ulama dan Kiai

menjadi perintis atau cikal bakal pembentukan masyarakat desa baru atau

12

Uka Tjandrasasmita,Sejarah Nasional Indonesia III(Jakarta: Balai Pustaka, 1984), 26-27. 13

(34)

26

pemukimam baru, sehingga pengaruhnya amat besar terhadap masyarakat

dilingkungannya. Untuk keperluan penyebaran agama Islam, para Ulama

kemudian membangun masjid ditengah pesantren. Dengan demikian pesantren

kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam dengan ciri khas

Indonesia. ulama yang menjadi pemimpin dalam pesantren tetap di sebut Kiai dan

muridnya sebagai santri.14

Islam masuk ke Jepara kemungkinan besar melalui perdagangan seperti

daerah-daerah pesisir lainnya. Karena di Jepara terdapat sebuah pelabuhan yang

lumayan besar pada jamannya, dan peran para wali juga tidak bisa di pinggirkan

dalam penyebaran agama Islam di Jepara ini, yang mana dalam sebuah cerita

Sunan Kudus mengislamkan seorang saudagar Cina yang terdampar di Jepara

yaitu Sunan Hadiri yang nantinya akan menjadi suami dari Ratu Kalinyamat.

Pada awal Islam masuk ke Jepara, masyarakat golongan menengah seperti

pedagang dan buruh adalah golongan pertama yang memeluk agama Islam.

Seperti yang dikatakan di atas, Islam masuk ke Jepara kemungkinan besar dari

para pedagang yang datang ke Jepara dan pedagang-pedagang itu menyebarkan

agama Islam diantara teman sederajatnya. Rasa persaudaraan antar bangsa itu

yang pada asasnya tidak mengakui adanya perbedaan keturunan, golongan, dan

suku antar pemeluknya, ternyata mempunyai daya tarik kepada para pedagang dan

pelaut, yang berbeda beda tempat asalnya dan mempunyai bermacam-macam

14

(35)

27

adat-istiadat dan cara hidup.15 Dalam pergaulan hidup masyarakat golongan

menengah yang berdagang ini, agama Islam yang memajukan sifat sama rata itu

menciptakan tata tertib dan keamanan seraya menonjolkan kerukunan kaum

Islam.

Di samping itu, perkawinan Ratu Kalinyamat, putri dari Sultan Trenggana

Demak dengan orang Tionghoa juragan kapal, yang telah memeluk agama Islam,

merupakan contoh percampuran darah dan pemerataan masyarakat, yang telah

terlaksana di Jawa Tengah karena kedatangan agama Islam yang telah diterima

baik.16

Pigeaud menjelaskan bahwa Ratu Kalinyamat menikah dengan Sultan

Hadiri, yakni keturunan Cina bernama Wintang, yang telah masuk Islam berkat

bimbingan Sunan Kudus. Perkawinan antara petualang-petualang asing dengan

gadis-gadis kalangan bangsawan tinggi seperti itu merupakan peristiwa yang

dianggap biasa, tetapi dengan syarat kedua belah pihak memeluk agama Islam

sebagai pedoman hidup mereka.17Perkawinan Sunan Hadiri dengan Ratu

Kalinyamat merupakan bukti bahwa percampuran darah antara penduduk pribumi

dengan orang Asing telah berlangsung lama.

Pernikahan seperti itu sudah lama terjadi di kalangan para bangsawan di

Jawa setelah memeluk agama Islam. Akibat pernikahan orang-orang muslim

dengan anak-anak bangsawan dan raja-raja, maka proses penyebaran Islam lebih

15

De Graaf dan Pigued,Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, 27.

16

Panitia Penyusunan Hari Jadi Pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Jepara,Sejarah dan Hari Jadi Jepara(Jepara: 1988), 35.

17

(36)

28

dipercepat pula karena secara tidak langsung. Pandangan masyarakat setempat

orang muslim tersebut status sosialnya dipertinggi dengan sifat-sifat kharisma

bangsawan.18

Pada umumnya, sebelum Islam masuk ke Jepara, masyarakat Jepara

mempunyai keyakinan tentang adanya sebuah system kasta dalam kehidupan

masyarakat karena mereka masih berpegang teguh kepada keyakinan agama

Hindu yang mempunyai system golongan atau kelas, sehinga kehidupan

masyarakatnya bertigkat-tingkat dan terbagi menjadi beberapa blok. Contoh orang

yang kastanya lebih tinggi tidak boleh bergaul dengan orang yang berkasta lebih

rendah dan seterusnya. Ketika Islam masuk ke Jepara, Islam menghapus system

kasta tersebut sehingga keadaan masyarakat lebih kondusif dan tidak ada lagi

penindasan atau diskriminasi terhadap masyarakat yang sebelumnya di anggap

mempunyai kasta yang lebih rendah.

Pada waktu itu umat Hindu mempunyai keyakinan membagi kasta menjadi

empat yaitu: Kasta Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Sebagai kasta yang

paling rendah, kasta Sudra sering tertindas oleh katsa lainnya, Sehingga

kehidupannya selalu diliputi keresahan.19 Setelah ajaran Islam masuk dan tersebar

ditengah-tengah masyarakat, susunan masyarakat berdasarkan kasta mulai terkikis

perlahanlahan dan dimulailah kehidupan masyakat baru tanpa penindasan atas hak

asasi manusia yang dilatar belakangi oleh perbedaan tersebut.

18

Uka Tjandrasasmita,Pertumbuhan dan Perkembangan kota-kota Muslim di Indonesia dari Abad XVI sampai XVIII Masehi(Kudus: Menara Kudus, 2000), 30.

19

(37)

29

Sejak abad XV M, masyarakat Jepara sudah banyak yang memeluk agama

Islam. Selain agama Islam, masyarakat Jepara juga ada yang memeluk agama lain,

seperti agama Hindu dan Budha. Agama Hindu dan Budha adalah agama nenek

moyang mereka, jadi masih ada sebagian masyarakat yang belum masuk Islam

dan masih memegang kepercayaan dari leluhurnya. Masyarakat Jepara tergolong

masyarakat yang taat dan patuh menjalankan ajaran agama Islam, bahkan

sebagian masyarakat di sana cukup fasih membaca Al-Qur’an. Meskipun

masyarakat Jepara memegang teguh ajaran agama Islam, namun mereka tetap

melestarikan tradisi leluhur yang sudah mengakar dan berkembang sejak zaman

nenek moyangmya.

Dalam bidang agama, Ratu Kalinyamat mempunyai peran yang sangat

penting dalam menyebarkan agama Islam. Penyebaran agama Islam berjalan

dengan baik dan mendapat sambutan dari masyarakat, karena kedatangan Islam di

sana dilakukan dengan cara damai, tidak dengan paksaan dan peperangan

melainkan diperkenalkan dengan pendekatan kemanusiaan. Seperti kesenian dan

lain sebagainya. Gambar di bawah ini merupakan contoh seni ukir kaligrafi dari

(38)

30

1.1 Ini merupakan salah satu contoh karya seni ukir yang masih di

pertahankan sampai sekarang20

Kesenian dapat di manfaatkan pula sebagai sarana dakwah dalam

penyebaran agama Islam. Masjid dan makam Mantingan Jepara, mengandung

unsur budaya bernuansa Hindu juga mengandung unsur budaya bernuasa Islam.

Disana terdapat proses akulturasi yang terjalin secara harmonis. Didalamnya

memiliki muatan nilai-nilai tersendiri, ada misi dan peran syiar Islam dibalik

bentuk visual estetik, tersamar menjadi situasi sulur-suluran berbentuk ukir-ukiran

indah yang berfungsi sebagai hiasan dinding masjid.

20

(39)

☛ ☞

BAB III

SEJARAH KERAJAAN KALINYAMAT

A. Sejarah berdirinya

1. Asal-Usul Keluarga

Dalam beberapa sumber trdisional dinyatakan bahwa Sultan Trenggana,

Raja Demak III, mempunyai seorang puteri yang disebut Ratu Kalinyamat cucu

Raden Patah, Sultan Demak yang pertama. Dari perkawinannya dengan puteri

Cina, Raden Patah mempunyai enam anak, yang paling tua seorang wanita yang

bernama Ratu Mas dia menikah dengan pangeran Cirebon. Adik-adiknya

berjumlah lima orang semuanya laki-laki, masing-masing Pangeran Sebrang Lor,

Pangeran Sedo Lepen, Pangeran Trenggana, Raden Kanduruwu, dan Raden

Pamekas.1

Setelah Raden Patah meninggal, Sultan digantikan oleh putranya,

Pangeran Sebrang Lor, dan setelah Pangeran Sebrang Lor meninggal, yang

menjadi penggantinya adalah Sultan Trenggana.2 Sebenarnya yang berhak adalah

Pangeran Sedo Lapen, karena dia adalah adik yang paling tua tetapi karena

Pangeran Sedo Lapen telah meninggal, sebagai penggantinya ditunjuklah

Pengeran Trenggana.

1

W.L. Olthof, Poeniko,Serat Babad Tanah Djawi Wiwit saking Nabi Adamdoemoegi ing Taoen 1647(Leiden: Gravenhage, 1941), 37.

2

(40)

✌ ✍

Nama Ratu Kalinyamat memiliki kaitan dengan nama tempat tinggalnya,

yaitu Kalinyamat, suatu daerah yang berada di Kriyan Jepara.3 Dalam

sumber-sumber sejarah Jawa Barat, di jumpai dengan nama Ratu Arya Jepara atau Ratu

Jepara untuk menyebut Ratu Kalinyamat.4 Ratu Kalinyamat juga memiliki nama

kecil Retna Kencana.

Kalinyamat merupakan ibu kota Jepara. Baik nama Kalinyamat maupun

kedudukannya sebagai ibu kota kerajaan Jepara, tersebut dengan tegas dinyatakan

dalam sumber sejarah Portugis dalam bukunya yang terkenal “De Asia” Penulis

Portugis Deige De Couto telah menyebut kerajaan-kerajaan di pulau Jawa

termasuk Jepara“Cuja Cidede Principal Se Chama Cerinhama” yang ibukotanya

bernama Kalinyamat.5

Menurut De Graaf, Kalinyamat mempunyai tiga pengertian, yang pertama

sebagai Residence of Japara, kedua The Ruler of Japara, dan ketiga untuk

menyebutThe Queen of Japara. Di dalam naskahbabad Tanah Djawi, di jelaskan

bahwa Ratu Kalinyamat adalah keturunan Sultan Trenggana dari Demak, putri

ketiga dari enam bersaudara. Pigeuaud juga menjelaskan bahwa Ratu Kalinyamat

menikah dengan Sunan Hadiri, yakni seorang keturunan Cina bernama Wintang,

yang telah masuk Islam berkat bimbingan Sunan Kudus. Asal usul Sunan Hadiri

sendiri mempunyai banyak versi, dibawah ini adalah beberapa versi mengenai

asal usul Sunan Hadiri :

3

Ibid., 125.

4

Hoesein Djajaningrat,Tinjauan Kritis tentang sejarah Banten(Jakarta: Djambatan, 1983), 128.

5

(41)

✎✎

A. Yang pertama, Menurut Ali Syafi’I, juru kunci komplek makam Mantingan

mengatakan bahwa Sunan Hadiri berasal dari Aceh. Nama asli dari Sunan Hadiri

adalah Raden Toyib. Setelah datang ke tanah Jawa dan menikah dengan Ratu

Kalinyamat mendapat gelar Sunan Hadiri karena beliau datang dari tempat lain.

Sebelumnya Sunan Hadiri sempat menjadi sultan di Aceh.6

B. Menurut laporan dari komisi di Hindia Belanda untuk kepentingan kepurbakalaan

di Jawa dan Madura tahun 1910 J.Knebel memberi keterangan bahwa Sunan

Hadiri adalah putra Cirebon, nama aslinya Raden Mu’min. Dia berkelana dan tiba

di Demak dan dia ingin mengabdi pada Raja Demak III (Sultan Trenggono).

Permohonannya diterima oleh Sultan Trenggono dan taklama kemudian Sunan

Hadiri menjadi menantu Sultan Trenggono dan diangkat menjadi raja di

Kalinyamat.

C. Menurut serat Kandaning Ringgit Purwa, naskah KBG. NR 7 menyebutkan bahwa

Sunan Hadiri adalah pedagang Tionghoa yang nama aslinya adalah Wintang. Dia

beserta kapalnya tenggelam dan terdampar di Juang Mara (Jepara). Karena sudah

tidak punya apa-apa akhirnya dia bertirakat dan mendapat ilham untuk pergi ke

Sunan Kudus, Sunan Hadiri akhirnya masuk Islam berkat bimbingan Sunan

Kudus, kemudian di tempatkan di sebuah tempat tepi sungai Kalinyamat dan

akhirnya tempat itu menjadi ramai kemudian menjadi sebuah desa yang sangat

ramai dan akhirnya Sunan Kudus memberi nama desa itu dengan nama

Kalinyamat dengan penguasa juragan Wintang atau Sunan Hadiri.7

6

Ali Syafi’I,Wawancara, Jepara, 05 Mei 2016.

7

(42)

✏ ✑

Setelah Sultan Trenggana wafat, keturunan Sultan Trenggana

mendapatkan sebagian dari wilayah Kerajaan Demak, antara lain, Sunan Prawata

menggantikan ayahandanya menjadi Sultan Demak yang keempat, sekaligus yang

terakhir, dan Sunan Hadiri memperoleh daerah Pati, Jepara, Juwana, dan

Rembang. Berdasarkan cerita Babad-Babad, dapat diketahui lima dari enam

bersaudara putera Sultan Trenggana menjadi bangsawan tinggi Kerajaan. Tidak

lama Sunan Prawata menduduki tahta kerajaan, ia dibunuh oleh Arya Penangsang

Bupati Jipang, sebagai pembalasan atas kematian ayahnya yang dibunuh oleh

Sunan Prawata.8 Menurut cerita, Arya Penangsang membunuh Sunan Prawata

bukan hanya ingin menuntut balas atas kematian ayahnya, melainkan

menginginkan tahta kerajaan Demak, karena Arya Penangsang merasa lebih

berhak untuk menduduki tahta kerajaan Demak.

Perlu diketahui sebelum ayah dari Sunan Prawata yaitu Sultan Trenggana

menjadi Raja Demak, Sunan Prawata membunuh Pangeran Sedo Lapen untuk

melancarkan posisi ayahnya yaitu Sultan Trenggana menjadi raja di Demak

karena hanya Pangeran Sedo Lapenlah satu-satunya saingan dari Sultan

Trenggana untuk menjadi raja di Demak. Maka dari itu Arya Penangsang merasa

dirinya lebih berhak atas tahta kerajaan Demak dari pada Sunan Prawata dan ingin

merebut kembali tahta kerajaan Demak dengan dukungan dari gurunya yaitu

Sunan Kudus. Setelah membunuh Sunan Prawata, Arya Penangsang juga

membunuh Sunan Hadiri, suami Ratu Kalinyamat. saudara ipar Sunan Prawata.

Arya Penangsang merasa selain Sunan Prawata, Sunan Hadiri juga dianggapnya

8

(43)

✒ ✓

sebagai saingan yang kuat dalam perebutan tahta Kerajaan Demak. Kematian

Sunan Prawata dan Sunan Hadiri membuat Ratu Kalinyamat makin berduka,

sehingga ia bersumpah akan pergi bertapa dan meninggalkan kerajaannya. Ratu

Kalinyamat lalu bertapa talanjang di Gunung Danaraja. Sebagai penutup tubuhnya

hanyalah rambutnya yang digerai. Kanjeng Ratu Kalinyamat bersumpah, tidak

mau memakai kain selama hidup, kalau Arya Jipang (Arya Penangsang) belum

mati, dan janji siapa yang bisa membunuh Arya Jipang, Ratu Kalinyamat akan

suwita kepadanya dan semua miliknya akan diserahkan semua.9 Akhirnya Ratu

Kalinyamat meminta bantuan kepada Hadiwijaya untuk membunuh Arya

Penangsang, setelah terbunuhnya Arya Penangsang barulah Ratu Kalinyamat

menghentikan pertapaannya dan kemudian pada tahun yang sama, istri Sunan

Hadiri itu naik tahta menggantikan Sunan Hadiri sebagai penguasa Jepara dengan

gelar Ratu Kalinyamat.

B. Berkembangnya Kerajaan Kalinyamat

Jepara untuk pertama kalinya mengalami perkembangan pesat pada masa

pemerintahan Arya Timur. Pada tahun 1470 Jepara masih merupakan

pelabuhan/wilayah yang tidak berarti dan hanya memiliki penduduk antara 90

sampai 100 orang.

Setelah Pati Unus memegang tampuk pemerintahan menggantikan

kedudukan Patih Jepara, penguasa baru ini berhasil menarik banyak orang dan

memperluas wilayahnya sampai ketanah sebrang, yakni sampai ke daerah Bangka,

9

(44)

✔6

Tanjungpura, Pulau Laue dan sejumlah pulau lainnya. Demikian keterangan Tome

Pires yang selanjutnya mengatakan, Pati Unus telah berhasil membuat negerinya

menjadi negeri besar. Di samping itu, Tome Pires juga memujinya sebagai Raja

Jawa yang paling terkenal karena kekuatanya dan pergaulannya yang baik dengan

rakyatnya. Bahkan Tome Pires menyebut Pati Unus hampir sebesar Raja Demak,

sekalipun Jepara berada dibawah Demak, yang mempunyai lebih banyak

penduduk dan negeri.10

Pada waktu itu Jepara telah berhasil mempunyai kedudukan yang baik

dalam lintas perdagangan Nusantara. Dengan terus terang Tome Pires mengakui,

kota Jepara mempunyai sebuah teluk dengan sebuah pelabuhan yang indah. Di

depan pelabuhan mempunyai terdapat tiga buah pulau seperti pulau Upeh di mana

sungai Malaka, kapal-kapal besar dapat memasukinya. Tome Pires juga memuji

pelabuhan Jepara sebagai pelabuhan yang paling baik dari sekian banyak

pelabuhan yang pernah diceritakannya dan berada dalam keadaan yang paling

baik. Setiap orang yang akan pergi ke Jawa dan Maluku akan singgah di Jepara.11

Pada abad XVI M Demak merupakan kerajaan Islam terkuat di pulau Jawa

dan memegang hegemoni di antara kota-kota pantai Utara Jawa. Namun secara

praktis kota-kota itu tetap berdiri sendiri. Demak yang didirkan sekitar pada

tahun 1500 adalah Kerajaan Islam pertama di pulau Jawa. Dalam usahanya

menyebarkan agama Islam, Raden Patah mendirikan suatu pesantren dan

membangun masjid yang sangat sederhana. Dalam waktu singkat Kerajaan

10

Panitia Penyusun Hari Jadi Jepara Pemerintah kabupaten Tingkat I, 1998, 11.

11

(45)

37

Demak berkembang menjadi kerajaan yang besar dan kuat penyebaran agama

Islam.12

Dimasa jaya Kesultanan Demak, Jepara juga menjadi tempat tinggal para

pedagang dan pelaut, Jepara sebagai pusat penyebaran agama Islam dan pusat

kekuasaan politik, Jepara juga memegang peranan penting dalam bidang

perdagangan. Perdagangan yang dijalankan Demak dan Jepara ialah beras dan

bahan pangan yang lainnya. Jepara menjadi pelabuhan penting setelah Malaka

dikuasai Portugis pada tahun 1511.13 Malaka dijadikan sebagai stasiun

peristirahatan dan perbekalan bagi kapal-kapal portugis. Selain itu juga dijadikan

sebagai pos militer untuk melindungi perdagangan mereka.

Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis menimbulkan

pertimbangan-pertimbangan baru dalam bidang politik dan ekonomi pada bagian pertama abad

XVI M. Perkembangan kerajan-kerajaan Islam baru tidak hanya pusat politik,

tetapi juga memegang peranan penting dalam perdagangan dan rempah-rempah

serta bahan pangan lainnya. Keberadaan Portugis di Malaka sangat menggangu

aktifitas perdagangan dan pelayaran pedagang-pedagang Islam, termasuk Demak,

lebih-lebih karena ekspansi Portugis selain di dorong oleh motifasi ekonomi

komersial juga di dorong oleh misi religious yaitu meneruskan Perang Salib

melawan orang-orang Islam.14

12

Uka Tjandrasasmita,Pertumbuhan dan Perkembangan kota-kota Muslim di Indonesia dari Abad XVI sampai XVIII Masehi(Kudus: Menara Kudus, 2000), 35.

13

Chusnul Hayati,Peranan Ratu Kalinyamat di Jepara pada Abad XVI(Jakarta: Depdiknas, 2000), 7.

14

(46)

38

Masa-masa keemasan Demak mulai pudar pada saat Kematian Sultan

Trenggana dari Demak pada tahun 1546. Berakhirlah kemakmuran Demak.

Sesudah pertempuran berdarah antara para calon pengganti raja di ibu kota

Demak, para penguasa kerajaan yang terkemuka berkumpul di Jepara untuk

memusyawarahkan hari depannya. Dengan demikian di Jawa mulai mendirikan

kerajaan Kalinyamat, kota Kalinyamat kira-kira 18 km dari Jepara masuk ke

pedalaman, ditepi jalan ke Kudus, pada abad ke-16 menjadi tempat kedudukan

raja-raja kota pelabuhan.15

Menurut cerita, yang mendirikan tempat itu ialah seorang Cina, nahkoda

sebuah kapal dagang yang kandas ditepi pantai. Sesampainya di Jepara (Jung

Mara) ia dalam kedaan melarat. Ia diselamatkan oleh Sunan Kudus. Tidak lama

kemudian ia mendirikan pedukuhan di tepi jalan antara Kudus dan Jepara yang

lama kelamaan dapat dikembangkannya, sehingga maju. Ia menempatkan diri di

bawah kekuasaan Sultan Trenggana dari Demak, dan mendapat salah seorang

puteri Sultan Trenggana sebagai istri, sebagai Ratu Arya Jepara atau juga disebut

Ratu Kalinyamat.16

Pada masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat, kerajaan Kalinyamat

berkembang diberbagai bidang, seperti bidang politik dan bidang ekonomi.

Perkembangan dibidang ekonomi bisa dikatakan cukup pesat karena kemajuan

dari pelabuhan Jepara memberi dampak pertumbuhan yang signifikan dalam

sektor perekonomian.

15

Ibid., 35. 16

(47)

39

1. Bidang Perekonomian

Ratu kalinyamat juga berperan dalam pembangunan kembali

perekonomian Jepara yang sebelumnya mulai menurun. Keinginan Ratu

Kalinyamat untuk membangun perekonomian di maksudkan untuk memajukan

kerajaan Kalinyamat dan juga lebih mempermudah penyebaran Islam di Jepara

karena jika perekonomian berkembang pesat khususnya di pelabuhan, maka para

pedagang akan lebih banyak datang ke Jepara dan menjadikan Jepara sebagai

pusat perekonomian di Jawa.

Kota Jepara merupakan sentral ekonomi bagi kraton Demak, dimasa

kesultanan Demak, Jepara selalu lebih disukai dari pada Demak sebagai teluk

yang aman17 dengan tempat yang sangat setrategis yang terletak di utara pesisir

Pulau Jawa yang bisa menghubungkan antara pelabuhan di Rembang, Pati dan

juga sebagai pelabuhan yang dengan mudah dapat dijadikan tempat perdagangan

dengan daerah-daereh lain seperi Maluku, Ambon, dan Aceh sebagai bandar

penghubung wilayah pedalaman Jawa.

Di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara mengalami

perkembangan tersendiri. Kekalahan dalam perang di laut melawan Malaka pada

tahun 1512-1513 pada masa pemerintahan Pati Unus, menyebabkan Jepara nyaris

hancur. Akan tetapi perdagangan lautnya tidaklah musnah sama sekali.18Kegiatan

ekonomi menjadi semakin terbengkelai pada saat wilayah Kesultanan Demak

menjadi ajang pertempuran antara Arya Penangsang dengan keturunan Sultan

17

De Graaf,Awal Kebangkitan Mataram,125.

18

(48)

40

Trenggana. Meski pun demikian, perdagangan lautnya masih dapat berlangsung,

walaupun kurang berkembang.

Setelah berakhirnya peperangan melawan Arya Penangsang, Jepara

mengalami perkembangan tersendiri. Apabila Sultan Pajang sibuk dalam rangka

konsolidasi wilayah, maka Jepara pun sibuk membenahi pemerintahan dan

ekonomi yang terbengkalai selama intrik politik berlangsung. Perdagangan laut

Jepara dapat berlangsung meskipun kurang berkembang.

Namun beberapa tahun setelah berkuasa, Ratu Kalinyamat berhasil

memulihkan kembali perdagangan Jepara. Konsolidasi ekonomi memang

diutamakan oleh Ratu Kalinyamat. Di bawah pemerintahannya, pada pertengahan

abad ke 16 perdagangan Jepara dengan daerah seberang laut semakin ramai.

Pedagang-pedagang dari kota kota pelabuhan di Jawa seperti Banten, Cirebon,

Demak, Tuban, Gresik, dan juga Jepara menjalin hubungan dengan pasar

Internasional Malaka. Dari Jepara para pedagang mendatangi Bali, Maluku,

Makasar, dan Banjarmasin dengan barang-barang hasil produksi daerahnya

masing-masing. Dari pelabuhan-pelabuhan di Jawa di ekspor beras ke daerah

Maluku dan sebaliknya dari Maluku di ekspor rempah-rempah untuk kemudian

diperdagangkan lagi. Bersama dengan Demak, Tegal, dan Semarang, Jepara

merupakan daerah ekspor beras.

Pada pertengahan abad ke-16 perdagangan Jepara dengan daerah seberang

laut menjadi semakin ramai. Menurut berita Portugis, Ratu Jepara itu merupakan

(49)

41

abad ke-16.19 Di bawah Ratu Kalinyamat, strategi pengembangan Jepara lebih

diarahkan pada penguatan sector perdagangan dan angkatan laut. Kedua bidang

ini dapat berkembang baik berkat adanya kerjasama dengan beberapa kerajaan

maritim seperti Johor, Aceh, Banten, dan Maluku.

D.H. Burger mengatakan bahwa meski pun daerahnya kurang subur,

namun di wilayah kekusaan Ratu Kalinyamat terdapat empat kota pelabuhan

sebagai pintu gerbang perdagangan di pantai utara Jawa Tengah bagian timur

yaitu Jepara, Juwana, Rembang, dan Lasem. Oleh karena itu wajar apabila Ratu

Kalinyamat dikenal sebagai orang yang kaya raya. kekayaannya diperoleh melalui

perdagangan Internasional, terutama dengan Malaka dan Maluku. Jepara

merupakan pensuplai beras yang dihasilkan di daerah hinterland. Selain berperan

sebagai pelabuhan transit juga menjadi pengekspor gula, madu, kayu, kelapa,

kapok, dan palawija. Apalagi dengan berlakunya system comenda dalam

pelayaran dan perdagangan pada waktu itu, membuat Ratu Kalinyamat tidak

hanya sebagai penguasa politik, tetapi juga sebagai pedagang.

Sesuai dengan letak geografis sebagai kota pelabuhan, Jepara menempati

suatu titik yang menghubungkan dunia daratan dan dunia lautan. Dunia daratan

adalah daerah Pati, Jepara, Juwana, dan Rembang, sedang dunia lautan adalah

jalur perdagangan dan pelayaran dengan daerah-daerah sekitarnya maupun daerah

seberang laut. Dengan demikian dilihat dari segi ekonomi, pelabuhan Jepara

berfungsi sebagai tempat menampung surplus dari daerah hinterland untuk

memenuhi warganya dan di distribusikan ke daerah-daerah lain di seberang

19

(50)

42

lautan. Sebaliknya Jepara juga berfungsi menampung produk-produk dari daerah

luar untuk selanjutnya di distribusikan atau diperdagangkan ke daerah-daerah

hinterlandyang membutuhkan.

Perdagangan laut di pantai utara Jawa pada abad ke-16 sebagian besar

dikuasai oleh bangsawan. Sebagai penguasa, mereka mempunyai hak beli dahulu

bagi barang dagangan yang datang dan memborong barang dagangan yang tidak

terjual. Pedagang-pedagang asing memberi prioritas kepada penguasa untuk

memilih barang dagangan yang baik dengan harga lebih rendah dari pembeli lain.

Hubungan baik dengan penguasa setempat senantiasa dipelihara untuk kelancaran

usaha mereka. Dengan jabatan politik yang tinggi dan dukungan finansial yang

kuat memberi peluang bagi penguasa untuk menanamkan pengaruhnya dalam

bidang politik dan pemerintahan.20

2. Bidang Perpolitikan

Dalam sejarah hidup Ratu Kalinyamat selalu berdekatan dengan para

ulama disamping itu juga ia seorang yang cakap dalam bidang perpolitikan, ada

yang mengatakan bahwa semenjak masih gadis Ratu Kalinyamat di daulat untuk

memimpin daerah Jepara. Ketika itu jepara merupakan pelabuhan yang sangat

ramai di kunjungi pedagang-pedagang dari berbagai daerah, setalah menikah,

kekuasaan atas Jepara kemudian diserahkan kepada pangeran Hadiri.21 Peranan

politik yang dilakukan Ratu Kalinyamat diawali ketika terjadi kemelut di istana

Demak pada pertengahan abad ke-16 yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan

20

Chusnul Hayati,Peranan Ratu Kalinyamat,137. 21

(51)

43

sepeninggal Sultan Trenggana. Perebutan tahta menimbulkan peperangan

berkepanjangan yang berakhir dengan kehancuran kerajaan Demak.

Setelah konflik itu selesai, Ratu Kalinyamat memunculkan sebagai tokoh

wanita yang memegang peranan penting dalam kesatuan keluarga Kesultanan

Demak, serta dalam bidang politik pemerintahan yang begitu menonjol. Fernando

Mendez Pinto dalam kesaksiannya menyatakan bahwa di wilayah Kerajaan

Demak terdapat delapan penguasa yang memiliki hak untuk memilih raja baru

sehingga berkedudukan sebagai dewan mahkota. P.J. Veth (1912) juga

menyatakan terdapat daerah utama yang merdeka di Jawa dan Madura, salah

satunya adalah Kalinyamat. Kedelapan daerah merdeka itu adalah Banten,

Jayakarta, Cirebon, Prawata, Pajang, Kedu, Madura, dan Kalinyamat. Kedudukan

Kalinyamat sebagai daerah merdeka ini menempatkan Ratu Kalinyamat pada

posisi strategis sebagai pemegang kekuasaan di Jepara. Karena termasuk sebagai

dewan mahkota, maka kedudukan dan pengaruh penguasa di delapan daerah

merdeka di bidang politik dan pemerintahan cukup kuat.22

Ratu kalinyamat dihormati sebagai kepala keluarga Kasultanan Demak

yang sesungguhnya. Sepeninggal Sunan Prawata, ia menjadi pemimpin keluarga

dan pengambil keputusan penting atas bekas wilayah Kasultanan Demak. Menurut

Ali Syafi’i juru kunci makam dan masjid Mantingan, setelah Sunan Prawata wafat

pemerintahan Demak di ambil alih oleh Ratu Kalinyamat selaku adiknya dan

memindahkan pusat pemerintahan Demak ke Jepara.23 Itulah keyakinan dari

22

Chusnul Hayati,Peranan Ratu Kalinyamat,132. 23

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi yang berjudul ‘’Peran masjid jami’ dalam pendidikan Islam di karangkajen mergangsan Yogyakarta tahun 2011” menjelaskan bagaimana peran takmir masjid dalam

Simpulan penelitian adalah (1) Pengembangan bahan ajar pelajaran sejarah pada pokok bahasan bahan ajar situs sejarah Kalinyamat pada pokok bahasan proses Islamisasi yang

Peranan Sosial Keagamaan Syaikh Quro dalam Penyebaran agama Islam di Jawa Barat terutama dalam hal Sosial, ini dapat dilihat dari peran Syaikh Quro yang terus berusaha

7. rjumlah 186 orang.. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan Islam yang ada disekitar sekolah Waskito ini cukup baik, hal ini bisa dilihat dari

Khusus di Watampone pengajian tersebut dilaksanakan di Masjid Kerajaan Bone, yakni Masjid Al-Mujahidin yang menjadi pusat pendidikan Islam dibina oleh para Kadi

Sejarah politik dan pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak bisa lepas dari dinamika tahta kerajaan Mataram Islam atau yang sekarang dikenal sebagai Keraton

Sekalipun Dinasti Shafawiyah tidak setaraf dengan kemajuan yang pernah dicapai Islam pada masa klasik, tetapi kerajaan ini telah memberikan sumbangan dan kontribusi besar dalam

Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui sejarah berdirinya kerajaan Shafawi, untuk mengetahui kondisi Persia masa kerajaan Shafawi, dan untuk mengetahui