• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terapi rasional emotif behavior untuk mengatasi gangguan mood pada siswi X di SMPN 3 Pulung Ponorogo.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Terapi rasional emotif behavior untuk mengatasi gangguan mood pada siswi X di SMPN 3 Pulung Ponorogo."

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

TERAPI RASIONAL EMOTIF BEHAVIOR UNTUK MENGATASI

GANGGUAN

MOOD

PADA SISWI X DI SMPN 3 PULUNG

PONOROGO

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh

Gelar Sarjana Sosial (S. Sos)

Dalam Bidang Bimbingan Konseling Islam

Oleh:

Iin Marfu’ah

NIM. B03213008

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING ISLAM

JURUSAN DAKWAH

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vii

ABSTRAK

Marfu’ah, Iin. B03213008, 2017, Terapi Rasional Emotif Behavior untuk mengatasi GangguanMoodpada siswi di SMPN 3 Pulung. Skripsi Program Studi

Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN

Sunan Ampel Surabaya.

Fokus penelitian adalah (1) bagaimana prosees pelaksanaan terapi rasional

emotif behavior dala mengatasi ganggan mood pada siswi di SMPN 3 Pulung

Ponorogo?, (2) Bagaimana hasil pelaksanaan terapi rasional emotif behavior dalam

mengatasi gangguan mood di SMPN 3 Pulung Ponorogo?

Dalam menjawab permasalahan tersebut, jenis pendekatan yang digunakan

yaitu pendekatan deskriptif yang menekankan pada sosial dan psikologikal.Jenis

penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bermaksud untuk memahami

fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek. Dalam menentukan subyek

penelitian ini menggunakan teknik studi kasus yang hanya melibatkan satu konseli

agar lebih intensif terperinci dan mendalam.

Dalam penelitian ini proses konseling terjadi menggunakan terapi rasional

emotif behavior dengan teknik kognitif, imageri, dan behavior dengan terapi ini klien

diharapkan mampu berfikir secara rasional dan bisa percaya pada orang lain dan bisa

kembali beraktifitas seperti remaja lainnya. Hasil akhir proes dari terapi ini cukup

berhasil dengan skor 81 yang mana hasil dapat dilihat dari adanya perubahan pada

sikap dan sosialisasinya dengan orang lain baik di sekolah maupun di rumah.

(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 7

E. Definisi Konsep Penelitian ... 8

F. Metode Penelitian ... 11

G. Sistematika Pembahasan ... 24

BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Islam ... 26

1. Bimbingan ... 26

2. Konseling ... 26

3. Bimbingan konseling islam ... 26

B. TinjauantentangrasionalEmotif Behavior Therapy ... 28

1. Pengertian rational emotif behavior therapy ... 28

(8)

xi

3. Konsep teori kepribadian rational emotif behavior therapy ... 33

4. Karakteristik keyakinan irrasional dalam REBT ... 35

5. Perilaku bermasalah ... 38

6. Tujuan rational emotif behavior therapy ... 40

7. Peran konselor dalam REBT ... 42

8. Teknik-teknik dalam rational emotif behavior therapy ... 43

9. Langkah-langkah rational emotif behavior therapy ... 48

C. Gangguan Mood 1. Pengertian gangguan mood ... 50

2. Tipe-tipe gangguan mood ... 51

3. Gejala-gejala pada gangguan mood ... 56

4. Faktor-faktor gangguan mood ... 62

D. REBT Dalam Mengatasi Gangguan Mood ... 65

E.Kajian Terdahulu ... 68

BAB III PENYAJIAN DATA A. Deskripsi Umum Objek Penelitian ... 71

1. Identitas sekolah... 71

2. Visi ... 71

3. Misi ... 72

4. Tujuan sekolah ... 73

5. Data kesiswaan... 76

6. Data pendidik dan tenaga kependidikan ... 77

7. Data sarana ruang dan lapangan ... 82

8. Deskripsi konselor ... 83

9. Deskripsi klien ... 84

10.Deskripsi masalah ... 86

B. Deskripsi hasil peneltian ... 87

(9)

a. Identitas masalah ... 88

b. Diagnosis ... 91

c. Prognosis ... 92

d. Treatment ... 93

e. Evaluasi ... 100

2. Deskripsi hasil pelaksanaan (REBT) untuk mengatasi gangguan mood pada siswi SMPN 3 Pulung Ponorogo ... 101

BAB IV ANALISIS DATA A. Analisis data tentang proses (REBT) untuk mengatasi gangguan Mood pada siswi SMPN 3 Pulung Ponorogo ... 103

B. Analisis data tentang hasil akhir(REBT) dalam mengatasi gangguan Mood pada siswi SMPN 3 Pulung Ponorogo ... 108

BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 114

B. Rekomendasi ... 115

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehidupan terkadang naik turun, terkadang merasa sangat senang bila

memperoleh nilai tinggi, mendapat perhatian dari sesorang yang dikasihi,

mendapat reword, dan lain-lain. Seseorang merasa sedih atau depresi bila ditolak

seseorang, gagal dalam ujian, atau bahkan mengalami kesulitan keuangan dan itu

merupakan hal yang normal dan wajar. Sesuatu yang normal dan tepat untuk

merasa senang dan bahagia saat mendapatkan kegembiraan dan juga normal pada

saat mendapatkan kesedihan seseorang merasakan terpuruk.

Mood merupakan kondisi perasaan yang terus ada dan mewarnai kehidupan

psikologis. Perasaan sedih atau depresi bukanlah hal yang abnormal dalam konteks

peristiwa atau situasi yang penuh tekanan, namun orang yang mengalami

gangguanmood (mood disorder) yang luar biasa parah atau berlangsung lama dan

mengganggu kemampuan untuk memenuhi tanggung jawab secara normal.1 Mood

memang wajar yang selalu dialami oleh setiap orang. Mood datang dan pergi, dan

ketika hal itu terjadi pasti dapat diatasi.

Gangguan mood adalah suatu tipe gangguan yang ditandai dengan gangguan

padamood. Gangguan pada mood berlangsung sangat lama, tidak seperti biasanya,

1

(11)

2

sangat parah, dan cukup serius sehingga menghambat fungsi sehari-hari.

Gangguan moodmencangkup berbagai gangguan emosi yang membuat seseorang

tidak dapat berfungsi, mulai dari kesedihan pada depresi hingga euforia yang tidak

realistis dan irritabilitas pada mania.

Ada beberapa tipe dalam gangguan mood yaitu gangguan Unipolar Dan

Bipolar. Gangguanunipolar yaitu gangguanmoodyang mengacu pada satu kutub,

arah atau tunggal. Dalam gangguan unipolarterdapat gangguan depresi mayor dan

gangguan distimik. Dalam episode depresi mayor orang tersebut akan mengalami

salah satu diantaramooddepresi (sangat sedih, putus asa, dan dipuruk) kehilangan

minat, rasa senang pada aktifitas untuk periode dalam waktu paling sedikit 2

minggu. Sedangkan gangguan distimik adalah pola depresi ringan yang terjadi

dalam rentang waktu dan pada dewasa biasanya dalam beberapa tahun. Gangguan

depresi disebut unipolar karena gangguan ini terjadi hanya pada satu arah atau

kutup emosional ke bawah.

Ada tipe gangguan mood lainnya adalah gangguan perubahan mood yaitu

gangguan bipolar dan siklotimik. Gangguan ini mengakibatkan ekses depresi

maupun rasa girang, biasanya dalam pola yang saling bergantian. Seperti

mengandarai roller coster emosional, berayun dari satu ketinggian rasa girang ke

kedalaman depresi tanpa adanya penyebab eksternal.2 Seseorang yang mengidap

gangguan bipolar biasanya sering merasakan euforia (kegembiraan) yang

2

(12)

3

berlebihan dan mengalami depresi. Periode ini biasanya ini bisa berganti dalam

hitungan jam, minggu maupun bulan. Dan untuk penyebab yang tidak jelas

sejumlah orang mengalami perubahanmoodyang dramatis dari kedalaman.

Kebanyakan orang tahu bahwa susanana perasaan akan cepat berlalu bahkan

akan kembali diri sendiri dalam satu atau dua hari berikutnya. Jika seseorang tidak

pernah merasakan sedih dan selalu melihat hal yang baik saja dari setiap situasi

yang dihadapi itu benar-benar hebat dibandingkan sesekali yang mengalami

depresi. Perasaan depresi bersifat universal dan membuat mood disorders

(gangguan suasana perasaan) gangguan yang membuat orang begitu kehilangan

daya hingga bunuh diri dianggap sebagai pilihan yang lebih baik dari pada tetap

hidup.

Depresi dimulai dengan perasaan hambar, yang membuat hari-hari berkabut

dan berubah menjadi membosankan, melemahkan tindakan yang sudah biasa

dilakukan sedemikian rupa sehingga bentuknya yang semula jelas menjadi kabur

oleh usahanya itu. Membuat seseorang menjadi lelah, bosan, dan terobsesi dengan

diri tetapi dapat dilaluinya. Tetapi pada saat melaluinya seseorang dapat

melewatinya meskipun tidak membahagiakan tidak seorangpun dapat menemukan

titik runtuhnya yang menandai depresi mayor, tetapi ketika sampai disana hampir

tidak akan keliru mengenalinya.

Euforia dirasakan oleh seseorang yang sebelumnya tengah mengalami

situasi hidup yang jenuh atau dalam seebuah konflik psikologis yang mendalam.

(13)

4

kabar gembira, seseorang tersebut merasakan secara berlebih karena kondisi

tersebut sangat kontras dengan kondisi sebelumnya. Euforia terjadi dalam waktu

singkat dan tidak abadi, biasanya orang yang mengalami euforia dalam fase hidup

tertentu berpotensi akan mudah merasakan euforia dalam fase-fase berikutnya.3

Remaja mudah sekali terpengaruh oleh lingkungannya. Bagaimana

pentingnya pengaruh keluarga, lingkungan, teman sebaya terhadap perkembangan

remaja. Terkadang remaja mengalami ketidakseimbangan dalam emosi dan

dibiarkan berlarut-larut tanpa ada perhatian khusus dari lingkungan sekitar atau

orang terdekatnya bisa menjadi suatu masalah yang serius bagi perkembangan

psikologi remaja yang memang sangat labil pada masanya.

Perkembangan psikologis remaja adalah adanya emosi yang meledak ledak,

sulit dikendalikan, cepat depresi (sedih putus asa) dan kemudian melawan dan

memberontak. Emosi yang tidak terkendali ini disebabkan oleh konflik peran yang

sedang dialami remaja. Oleh kerena itu, perkembangan psikologis ini ditekankan

pada keadaan emosi remaja. Keadaan pada masa remaja dapat sedih sekali dilain

waktu dapat marah sekali, terkadang bahagia yang berlebihan.Remaja sering kali

cemas atau depresi, tetapi kondisi emosional seperti kecemasan dan depresi dapat

dikatakan abnormal bila tidak sesuai dengan situasinya. Dan melebihi kadar

normalnya atau diluar batas kewajaran.

3

(14)

5

Sehubungan dengan gangguan mood yang dialami oleh siswi SMPN 3 Pulung

kelas VIIC sebutkah GA (nama samaran) yang menunjukkan ciri-ciri perilaku

yang bisa dikatakan abnormal terutama kebiasaannya di dalam kelas yang suka

melamun, cenderung tidak bertanggung jawab, tidak melibatan diri dalam suatu

kegiatan kelompok, tidak sopan saat berinteraksi dengan orang lain, cenderung

murung dan kurang memiliki respon positif pada orang di sekitarnya, namun suatu

waktu tertentu GA terlibat sangat aktif dan penting, selalu terlihat mencolok dan

menarik perhatian orang lain.

Siswi GA juga sangat sukar untuk membagi perasaannya pada oang lain

ketika di ajak komunikasi GA selalu berkata tidak terjadi apa-apa namun dalam

waktu tertentu GA menjadi sangat mudah diajak komunikasi dan mengutarakan

masalahnya. GA memiliki perasaan yang berubah-ubah, terkadang GA sangat

murung dan seketika menjadi aktif yang sangat mencolok.

Terapi rasional emotif behavior adalah satu terapi yang menaruh perhatian

pada asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berfikir

rasional dan jujur maupun berfikir irrasional serta menekankan pada suatu

perubahan yang mendalam cara berfikir dapat menghasilkan perubahan dan

berperasaan serta beperilaku sehingga individu akan menjadi produktif dalam

kehidupannya.4

Dengan terapi rasional emotif behavior konselor diharapkan membantu

konseling untuk mengubah perilaku atau kebiasaan negatifnya. Prinsip dasar terapi

4

(15)

6

ini adalah menekankan proses belajar dalam melatih ketrampilan untuk mengubah

pola pikir yang rasional serta mempelajari cara yang lebih efektif dalam mengatasi

masalah atau gangguan emosinya. Dengan menempatkan kondisi emosinya dalam

kerangka berfikir yang rasional, konseling diharapkan dapat menampilkan perilaku

yang rasional pula.

Menurut Ellis yang dikutip oleh Singgih D. Gunarsih bahwa pendekatan

Rasional Emotif Behavior dapat dipergunakan untuk mengatasi masalah klinis

seperti :depresi, anxietas (kecemasan), gangguan karakteorologis, sikap melawan,

masalah seks, percintaan, perkawinan, pengasuhan masalah perilaku pada anak

remaja.5

Terapi rasional emotif behavior menggunakan beberapa teknik yang bersifat

kognitif, imageri, dan behavioristik yang disesuaikan denagn kondisi konseling.

Setiap konselor dapat menggunakan gabungan teknik sejauh gabungan sejauh

penggabungan itu memungkinkan.6

Tujuan dari dilaksanakannya terapi rasional emotif behevior adalah untuk

mengentaskan problem yang dialami oleh GA yang mengalami gangguan mood.

Dengan diadakannya terapi rasional emotif behavior tersebut diharapkan siswi

tersebut mampu berfikir secara rasional atau logis ketika mengalami suatu

perubahan mood atau suasana perasaan, yang akibatnya akan berpengaruh kepada

hubungan sosialnya. Pikiran-pikiran negatifnya yang membuat suasana perasaan

5

Singgih D. Gunarsih, Konseling dan Psikoterapi, (Jakarta :BPK Gunung Mulia, 2000), hal. 239

6

(16)

7

berubah-ubah. Masalah yang dialaminya merupakan bentuk dari pola pikirnya

yang irrasional dan pemecahan masalah yang dihadapinya tersebut merupakan

tanggung jawabnya sendiri.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana proses pelaksanaan terapi rasional emotif behavior dalam

mengatasi siswi yang mengalami gangguan mood di SMPN 3 Pulung

Ponorogo?

2. Bagaimana hasil pelaksanan terapi rasional emotif behavior dalam

mengatasi siswi yang mengalami gangguan mood di SMPN 3 Pulung

Ponorogo?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui proses pelaksanaan terapi rasional emotif behavior dalam

mengatasi siswi yang mengalami gangguan mood di SMPN 3 Pulung

Ponorogo.

2. Mengatahui hasil pelaksanaan terapi rasional emotif behavior dalam

mengatasi gangguanmoodpada GA di SMPN 3 Pulung Ponorogo.

D. Manfaat Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini diharapkan menperoleh manfaat sebagai berikut:

(17)

8

Pengkajian terapi rasional emotif behavior dalam menangani gangguan

mood diharapkan dapat bermanfaat dalam menambah wawasan teori

dalam bidang bimbingan konseling.

2. Manfaat praktis

Penelitiaan ini diharapkan dapat bermanfaat dalam informasi bagi para

konselor maupun kepada semua pihak yang berminat aktif dalam dunia

BK. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan

dalam menenukan kebijakan praktek bimbingan konseling.

E. Definisi Konsep

Konsep merupakan unsur pokok dari suatu penelitian yang didalamnya

memuat tentang batasan-batasan permasalahan dalam memahami konsep-konsep

yang akan diteliti. Konsep penelitian yang berjudul terapi rasional emotif behavior

dalam mengatasi gangguanmood,yaitu:

1. Terapi rasional emotif behavior

Terapi rasional emotif behavior adalah merupakan teori yang

menggunakan suatu asumsi jika menusia dilahirkan dengan potensi, kretifitas

baik untuk berfikir rasional dan jujur maupun berfikir irrasional dan jahat.

Yang diaplikasikan dengan perilaku dan tindakan-tindakan positif maupun

negatif. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara

diri, berbahagia, berfikir dan mengatakan, mencinta, bergabung dengan orang

(18)

9

memiliki kecenderungan-kecenderungan kearah mengahancurkan diri.

Dengan tujuan mencangkup meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri

(self defeating) dan mencapaikehidupan realistik, falsafah hidup yang toleran,

termasuk didalamnya dapat mencapai keadaan yang dapat mengarahkan diri,

fleksibel, berfikir secara ilmiah dan menerima diri.7

2. Gangguanmood

Gangguanmoodmerupakan suatu tipe gangguan yang ditandai dengan

gangguan padamood.8Ganggauan pada mood yang berlangsung sangat lama,

tidak seperti biasanya, sangat parah dan cukup serius sehingga menghambat

fungsi sehari-hari. Gangguan mood mencangkup berbagai emosi yang

membuat seseorang tidak dapat berfungsi, mulai dari kesedihan pada depresi

hingga euforia yang tidak realistis.

Depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi ditengah

masyarakat. Berawal dari stress yang tidak dapat diatasi, maka seseorang bisa

jatuh kefase depresi. Penyakit ini kerap diabaikan karena dianggap bisa hilang

sendiri tanpa pengobatan. Orang yang mengalami depersi umumnya

mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsional, dan

gerakan tingkah laku serta kognisi. Menurut Atkinson depresi sebagai suatu

gangguanmood yang dicirikan tak ada harapan, patah hati, ketidak berdayaan

yang berlebihan, tidak mampu mengambil keputusan memulai suatu kegiatan,

7

Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Bandung: Refika Aditama, 2007), hal. 238

8

(19)

10

tak mampu konsentrasi, tidak punya semangat hidup, selalu tegang, dan

mencoba bunuh diri.9

Euforia atau suasana perasaan terelasi (kegirangan hati) merupakan

keadaan emosional yang berlawanan dengan suasana perasaan depresi.

Euforia ditandai oleh perasaan kesejahteraan fisik dan emosional yang

berlebihan.Euforiatimbul karena sebuah situasi baru yang lain daripada yang

pernah terjadi sebelumnya dalam kehidupan seseorang. Situasi baru tersebut

kemudian diterima oleh individu sebagai sebuah hal yang menakjubkan.10

Manik biasanya muncul secara tiba-tiba, mengumpukan kekuatan

dalam beberapa hari. Orang yang mengalami episode manik biasanya

merasakan kegembiraan, euforiadan optimisme yang tidak biasa. Orang yang

tampak memiliki energi yang tidak terbatas dan menjadi sangat suka bergaul

meski mungkin sampai titik sesorang tersebut menjadi sangat menuntut dan

memaksa orang lain. Orang yang mengalami sebuah episode manik merasa

sangat bersemangat dan akan memperolok orang lain, dengan memberikan

lelucon yang sangat keterlaluan.11

3. Terapi rasional emotif behavior dalam mengatasi gangguan mood pada siswi

yang mengalami gangguanMooddi SMPN 3 Pulung Ponorogo

9

Namora Lumongga Lubis,Depresi Tinjauan Psikologis, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 13

10

Thomas F. Oltomas,Psikologi Abnormal,(Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2013), hal. 108

11

(20)

11

Terapi yang berupaya memberi bantuan kepada siswi yang mengalami

gangguan mood di SMPN 3 Pulung yang tidak mampu berfikir secara rasional

(tepat), yang mengakibatkan siswi mengalami gangguanmood.

Tujuannya supaya setelah diadakannya proses konseling atau terapi siswi

mampu berfikir secara rasional atau logis. Dan mampu menempatkan kondisi

suasana perasaan menjadi staabil. Dengan berfikir lebih rasional dan logis

terhadap permasalahan yang dihadapinya hingga tidak mempengaruhi suasana

perasaannya.

F. Metode Penelitian

Adapun maksud dari metode penelitian ini, metode adalah cara yang tepat

untuk melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama dalam

mencapai suatu tujuan. Sedangkan penelitian adalah suatu kegiatan untuk mencari,

mencatat, merumuskan dan menanalisa suatu yang diteliti sampai menyusun suatu

laporan.12

Jadi metode penelitian merupakan suatu strategi yang dilakukan untuk

mengumpulkan data dan menganalisisnya. Adapun metode yang penulis gunakan

dalam penelitian ini adalah:

1. Pendekatan dan jenis penelitin

12

(21)

12

Pada penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif. Model

pendekatan ini dipilih karena menurut Whitney dan Moh. Nazir bahwa

metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat.

Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat

serta situasi-situasi tertentu baik emosional maupun

sosial-psikologikal, termasuk hubungan-hubungan, kegiatan-kegiatan,

sikap-sikap, serta proses-proses yang sedang berlangsung dan

pengaruh-pengaruh dari sebuah fenomena.13

Penelitian ini juga menggunakan jenis penelitian kualitatif. Untuk

mengadakan pengkajian selanjutnya terhadap istilah penelitian kualitatif

perlu diketahui terlebih dahulu tentang pengertian penelitian kualitatif

tersebut. Penelitian kualitatif adalah penelitian yng bermaksud untuk

memahami fenomena tentang apa ang dialami oleh subyek penelitian

yang holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata, bahasa,

pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan menggunakan metode

alamiah dan dilakukan oleh orang yang tertarik secara alamiah.14

Dalam penelitian ini peneliti adalah sebagai pemberi treatment untuk

mengatasi gangguan mood yang bersifat empiris yang berisi deskripsi

detail mengenai masalah yang diteliti. Jenis penelitian ini juga dipilih

bertujuan untuk membuat deskripsi gambaran atau lukisan sistematis,

13

Deddy Mulyana,Metodologi Penelitian Kualitatif,(Bandung: Remaja Rosda Karya, 2012), hal. 145

14

(22)

13

faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan

fenomena yang diamati.

2. Subyek, obyek dan lokasi penelitian

a. Subyek

Subyek penelitiaan ini adalah seorang siswa yang bernama GA

yang mengalami gangguan mood datang dan pergi dalam waktu yang

tidak menentu. Teknik yang digunakan dalam menentukan subyek

adalah studi kasus yang mana dalam hal ini hanya melibatkan satu

konseli saja, maka penelitian ini dilakukan secara intensif, terperinci

dan mendalam. Peneliti juga mencari subyek penelitian yang memiliki

hubungan langsung dengan tema yang peneliti temukan terkait dengan

moodyang dialami oleh subyek.

b. Obyek

Obyek dalam penelitian ini ialah terletak pada menggatasi

gangguanmoodmenggunakan terapi rasional emotif behavior.

c. Lokasi penelitian

Penelitian ini peneliti mengambil lokasi di SMPN 3 Pulung

khususnya pada siswi GA kelas VIIC . Peneliti memilih tempat ini

karena di SMPN 3 Pulung ada siswi mengalami gangguan mood yang

naik turun, datang dan pergi secara bergantian.

(23)

14

a. Jenis data

Sebuah penelitian diperlukan jenis data. Data tersebut dapat

digolongkan menjadi dua yaitu:

1). Jenis data primer

Jenis data primer merupakan suatu data yang diperoleh

saat melakukan penelitian langsung di lapangan.15 Dalam hal

ini peneliti memperoleh data tentang gangguan mood sebagai

salah satu sebab atau alasan siswa mengalami gangguanmood.

2). Jenis data sekunder

Data sekunder merupakan data pendukung dari data primer

yang diperoleh melalui proses penelitian yang dilakukan

peneliti itu sendiri seperti dokumentasi kegiatan, foto dan lain

sebagainnya.

b. Sumber data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1). Sumber data primer

Sumber data primer ini didapat dari wawancara terbuka

yang dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan

15

(24)

15

yang berkembang. Hal ini dilakukan untuk menghindari

miss komunikasi yang berupa kesalahpahaman dalam

menafsirkan konsep-konsep yang dipahami informan

apabila terdapat suatu yang membutuhkan penjelasan lebih

lanjut.

Informan yang akan diamabil oleh peneliti adalah GA

sebagai pelaku yang mengalami ganggan mood. Nenek GA

orang yang paling dekat dengan GA. Serta Guru BK GA.

Kunci dasar penguasaan dan informasi dari informan

secara logika bahwa tokoh-tokoh kunci dalam proses sosial

selalu menguasai informasi.16

2). Sumber data sekunder

Data sekunder adalah sumber data yang sudah ada,

yang dimiliki oleh konselor. Data sekunder merupakan

data lapangan tambahan yang berfungsi sebagai pendukung

data primer. Data primer berupa hasil wawancara dari

narasumber yang telah ditentukan. Sedangkan

pendukungnya, sumber data sekunder berupa dokumentasi

foto kegiatan atau selama proses pengamatan berlangsung.

4. Tahap-tahap penelitian

16

(25)

16

Untuk melakukan penelitian kualitatif, digunakan beberapa

tahap-tahap yang digunakan peneliti antara lain:

1. Tahap pra-lapangan

Tahapan ini peneliti perlu mempertimbangkan etika dalam

penelitian lapangan, yang perlu diuraikan sebagai berikut:

a. Memilih lapangan penelitian, dalam penelitian

lapangan peneliti harus mempertimbangkan hal-hal

yang mugkin menyulitkan peneliti dalam melakukan

penelitian seperti akses yang dituju, biaya akomodasi,

dan waktu.

b. Mengurus perizinan penelitian dibagian Prodi

Bimbingan Konseling Islam dan diajukan pada pihak

yang terkait.

c. Memilih dan mencari data melalui informan, hal ini

dilakukan untuk membantu mempermudah memperoleh

informasi dan data yang dibutuhkan peneliti dari

beberapa informan yang memeiliki kredibilitas dalam

pemenuhan data dan yang sesuai dengan kriteria

(26)

17

d. Menyiapkan perlengkapan penelitian, semua

perlengkapan yang bersifat teknis maupun non teknis.17

Semua perlengkapan itu harus disiapkan peneliti secara

sempurna.

2. Tahap pekerjaan lapangan

Tahap ini peneliti mulai masuk pada lapangan penelitian guna

mencari data yang akurat serta dibatasi tiga bagian yaitu:

a. Memahami latar penelitian

Memahami latar penelitian diperlukan agar peneliti

lebih mengatahui seluk beluk gangguan mood yang dialami

GA. Hal ini dilakukan dengan cara, masuk dalam kegiatan

tersebut.

b. Memasuki lapangan

Kegiatan ini dilakukan dengan cara mengikuti kegiatan

serta aktifitas-aktifitas yang dilakukan oleh siswi.

c. Berperan serta sambil mengumpulkan data

Kegiatan ini dilakukan dengan cara mendekati nara

sumber pada saat beraktifitas serta melakukan wawancara

dengan berbagai informan yang masuk sebagai kriteria

informan.

17

(27)

18

3. Tahap analisis data

Analisis data kualitatif (Bogdan dan Biklen, 1982) dalam buku

metode penelitian kualitatif Lexy J. Moleong adalah upaya yang

dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan

data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola,

mensistensikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan

apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa

yang diceritakan kepada orang lain.

Pada tahap ini peneliti mengumpulkan semua data-data berupa

hasil wawancara, pengamatan lapangan, serta dokumen-dokumen

yang mendukung kemudian disusun, dikaji, serta ditarik

kesimpulan, dan dianalisa dengan analisis induktif.

4. Tahap penulisan laporan

Penulisan laporan merupakan hasil akhir dari suatu penelitian

sehingga peneliti mempunyai pengaruh terhadap hasil laporan. Hal

ini dilakukan peneliti setelah peneliti ikut serta aktifitas-aktifitas

yang dilakukan siswa terkait mood yang dialami oleh siswa

tersebut

5. Teknik pengumpula data

a. Wawancara mendalam (Depth Interview)

Wawancara mendalam adalah suatu cara mengumpulkan

(28)

19

dengan informan agar mendapatkan data yang lengkap dan

mendalam. Wawancara ini dilakukan dengan frekuensi tinggi

berulang-ulang secara intensif.18 Informan penelitian kali ini

diambil dari sumber data primer yang telah dipilih oleh peneliti

dan yang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan peneliti.

Wawancara tersebut dilakukan dengan dialog (tanya jawab)

secara lisan baik langsung maupun tidak langsung.

b. Pengamatan

Pengamatan dilakukan selama peneliti berada pada

aktifitas-aktifitas siswa yang sedang diteliti atau dijadikan

subyek penelitian, agar mendapatkan gambaran yang lebih

jelas yang dilakukan dengan pengamatan secara langsung

dilapangan.19 Dengan menggunakan metode ini diharapkan

peneliti dapat memperoleh data tentang perilaku siswa yang

mengalami gangguan moodbaik dilingkungan sekolah maupun

interaksi sosial dengan teman dan gurunya. Dalam pengamatan

ini penulis mengguanakan observasi untuk mengetahui secara

18

Rahmad Krisyanto,Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Kencana, 2006), hal.100

19

(29)

20

langsung tentang penerapan teori rasional emotif behavior

dalam mengatasi gangguanmoodpada siswa.

c. Dokumentasi

Dokumentasi ini diambil karena sangat diperlukan dalam

penelitian guna memperkuat bukti penelitian yang telah

dilakukan. Dokumentasi ini berupa foto, catatan, gambar dan

sebagainnya agar memperoleh arsip sebagai dokumen.

Dalam metode ini penulis menggunakan data berupa foto

subyek, cheklist, dan lain-lain. Ini berguna untuk

memperlengkap data siswa guna mempermudah melaksanakan

proses terapi.

6. Teknik analisis data

Analisis data kualitatif, menurut Bogdan dan Biklen (1982)

dalam buku metodologi penelitian kualitatif karya Lexy J. Moleong

adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan

data-data mengorganisasikan data-data, memilah-milahnya menjadi satuan

yang dapat dikelola, mensistensikannya, mencari dan menemukan

pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan

memutuskan ayang yang akan diceritakan kepada orang lain.20

20

(30)

21

Analisis data dalam penelitian kualitatif selalu bersifat induktif,

kegiatan analisisnya terjadi bersamaan dengan reduksi data, display

data, dan penarikan kesimpulan.

a. Reduksi data

Reduksi data dengan melakukan pemilihan dan

menganalisa data-data yang didapat. Mereduksi data berarti

merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada

hal-hal yang penting, dicaritema dan polanya dan membuang

yangtidak perlu. Proses reduksi data ini dilakukan oleh peneliti

secara terus menerus aat melakukan penelitian untuk

menghasilkan data sebanyak mungkin. Dalam eduksi data ini

peneliti memilih data-data yang telah diperoleh selama

melakukan proses pra penelitian atau sebelum penelitian

dilakukan yaitu ketika peneliti menjalankan observasi di

SMPN 3 Pulung Ponorogo. Hal ini dilakukan dengan

menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data

yang tida perlu dan mengorganisasikan data sehingga

kesimpulan finalnya diverifikasi, setelah itu dilakukan

penelitian secara mendalam.

(31)

22

Display data, dari sebagian data yang telah didapat

akan langsung diolah sebagai setengah jadi yang nantinya

anakn dimatangkan melalui data-data selanjutnya.

c. Verifikasi dan penarikan kesimpulan

Verifikasi dan penarikan kesimpulan merupakan suatu

kegiatan dari konfigurasi yang utuh, membuat rumusan

proposisi yang terkait dan mengangkatnya sebagai temuan

penelitian. Dari sini peneliti akan memulai mencari arti dari

setiap data yang terkumpul, menyimpulkan serta menverifikasi

data tersebut.

Pada tahap reduksi data peneliti berusaha untuk

memilah-milah data-data yang dianggap penting dan akurat.

Baik data dari sumber primer maupun dari data sumber

sekunder, oleh karena itu, pada tahap ini membutuhkan

ketelitian dan kecermatan agar tidak salah dalam memilih data

yang paling akurat.

Berikutnya dari data yag diperoleh dan dipilih mana

yang akurat, akan diolah menjadi setengah jadi. Hal tersebut

berlangsung sementara, karena jika ada data baru yang lebih

akurat, maka data sebelumnya akan dihapus, ini terjadi pada

(32)

23

Tahap berikutnya adalah verifikasi pemikiran

kesimpulan setelah data yang diperoleh dari penelitian di

SMPN 3 Pulung, tentang gangguan mood yang dialami siswi

yang mengalami gangguan mood di SMPN 3 Pulung , maka

diambil kesimpulan yang akan menjadi temuan dalam

penelitian.

7. Teknik pemeriksaan keabsahan data

Dalam penelitian ini teknik pemeriksaan keabsahan data yang

digunakan yaitu:

a. Perpanjang keikutsertaan, peneliti dengan perpanjang keikutsertaan

akan banyak mempelajari perkembangan bimbingan konseling, dapat

menguji ketidakbenaran informasi yang diperkenalkan oleh distori,

baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari informn serta

membangun kepercayaan subyek. Perpanjang keikutsertaan juga

menuntun peneliti terjun ke sekolah secara langsung dengan waktu

yang cukup panjang guna mendeteksi jika ditemukan data yang tidak

valid. Dalam perpanjangan keikutsertaan, pemeliti melakukannya

dengan cara mengamati dan menganalisis kegiatan siswa yang

mengalami gangguuanmooddi SMPN 3 Pulung .

b. Pemerisaan sejawat melalui diskusi, teknik ini dilakukan dengan

dengan mengekpose hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh

(33)

24

dilakukan adalah mengumpulkan rekan-rekan yaang memiliki

pengetahuan tentang pengetahuan terapi rasional emotif behavior

dalam mengatasi ganguan mood, sehingga bersama mereka peneliti

dapat me-review persepsi, pandangan dan analisis yang sedang

dilakukan.

c. Kemudian trianggulasi teknik ini merupakan pemeriksaan keabsahan

data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Trianggulasi merupakan

cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan konstruksi

kenyataan yang ada dalam suatu studi sewaktu mengumpulkan data

tentang berbagai kejadian dalam berbagai pandangan. Peneliti

melakukannya dengan cara mengajuan berbagai macam pertanyaan

kepada informan, mengecek dengan sumber-sumber data yang

didapat, serta memanfaatkan berbagai metode agar pengecekan

kepercayaan data dapat dilakukan.

G. Sistematika Pembahasan

Agar memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh mengenai

pembahasan penelitian ini, maka peneliti menulis dan merincikan dalam

sistematika pembahasan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini membahas tentang penjelasan latar belakang masalah serta hubungan

(34)

25

belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi konsep,

metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

BAB II KAJIAN TEORI

Pada bab ini mendiskripsikan kajian pustaka berisi uraian tentang landasan teori

yang bersumber dari kepustakaan. Pada bab ini terdiri dari kajian pustaka yang

berkaitan dengan terapi rasional emotif behavior dan gangguanmood

BAB III PENYAJIAN DATA

Bab ini membahas tentang deskripsi umum objek penelitian dan deskripsi

hasil penelitian. Deskripsi umum objek penelitian meliputi penyajian data, di

dalam penyajian terdapat dua isi, antara lain: deskripsi uum objek penelitin yang

meliputi: lokasi penelitian, deskripsi konselor, deskripsi konseli, deskripsi

masalah, dan yang selanjutnya yaitu tentang deskripsi proses penanganan

gangguan mood pada siswi di SMPN 3 Pulung Ponorogo dengan rasional emotif

behavior teraphy (REBT), deskripsi hasi penanganan gangguan mood pada siswi

di SMPN 3 Pulung Ponorogo dengan rasional emotif behavior teraphy (REBT)

BAB IV ANALISIS DATA

Pada bab ini memaparkan tentang analisa: Analisis data tentang penanganan

gangguan mood pada siswi SMPN 3 Pulung ponorogo dengan rasional emotif

behavior teraphy (REBT), analisis data tentng hasil penanganan gangguan mood

pada siswi SMPN 3 Pulung Ponorogo dengan rasional emotif behavior teraphy

(REBT).

(35)

26

Bab ini merupakan bab terakhir dari skripsi yang meliputi kesimpulan yang

isinya lebih bersifat konseptual dan harus terkait langsung dengan rumusan

masalah dan tujuan penelitian. Kemudian saran, yang berupa rekomendasi dari

hasil penelitian yang terkait dengan hasil penelitian. Serta bagian akhir yaitu

(36)

26 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Islam 1. Bimbingan

Istilah bimbingan terjemahan dari bahasa inggris “guidance” dengan

asal katanya “guide” yang diartikan sebagai menuntun, memimpin,

menunjukkan jalan, memberi petunjuk, mengatur, mengarahkan, dan memberi

nasehat.1

2. Konseling

Konseling terjemahan dari bahasa inggris “counseling” dengan asal

katanya “counsel” yang diambil dari bahasa Latin yaitu “counsilium”, artinya

bersama atau bicara bersama. Pengertian bicara bersama-sama dalam hal ini

adalah pembicaraan konselor (counselor) dengan seorang atau beberapa klien

(counselee).2

Dari uraian tersebut dapat diartikan konseling adalah sebagai kegiatan

pemberian nasehat, pemberian anjuran untuk melakukan sesuatu atau

mengadakan pembicaraan dengan bertukar pikiran tentang sesuatu.3

3. Bimbingan dan koseling islam

1

Shahudi Siradj, Pengantar Bimbingan Dan Konseling, (Surabaya: PT Revka Petra Media, 2012), Hal 4

2

Latipun,Psikologi Konseling,(UMM Press, 2002), Hal 4 3

(37)

27

Hakikat bimbingan dan konseling islam adalah upaya membantu

membantu individu belajar mengembangkan fitrah dan atau kembali kepada

firah, dengan cara memberdayakan (empowering) iman, akal, dan kemauan

yang dikaruniakan Allah SWT. Kepadanya untuk mempelajari tuntunan Allah

dan rasulnya, agar fitrah yang ada pada individu itu berkembang dengan benar

dan kukuh sesuai tuntunan Allah SWT.

Dari rumusan diatas tampak, bahwa konseling islami adalah aktifitas yang

bersifat “membantu”, dikatakan membantu karena pada hakikatnya individu sendirilah yang perlu hidup sesuai tuntunan Allah (jalan yang lurus) agar

mereka selamat. Karena konselor bersifat membantu, maka konsekuensinya

individu sendiri yang harus aktif belajar memahami dan sekaligus

melaksanakan tuntunan islam (al-Qur’an dan sunah rasul-nya). Pada akhirnya

diharapkan agar individu selamat dan memperoleh kebahagiaan yang sejati di

dunia dan akhirat, bukan sebaliknya kesengsaraan dan kemelaratan didunia

dan akhirat.4

Pihak yang membantu adalah konselor, yaitu seorang mukmin yang

memiliki pemahaman yang mendalam tentang tuntunan Allah dan

menaatinya. Bantuan itu terutama berbentuk pemberian berbentuk dorongan

dan pendampingan. Dalam memahami dan mengamalkan syari’at islam.

Dengan memahami dan mengamalkan syari’at islam itu diharapkan segala

4

(38)

28

potensi yang dikaruniakan Allah kepada individu bisa berkembang optimal.

Akhirnya diharapkan individu menjadi hamba Allah yangmuttaqin mukhlisin,

mukhsinin, dan mutawakkilin; yang terjauh dari godaan setan, terjauh dari

tindakan maksiat, dan iklas melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

B. Tinjauan tentangTerapi Rasional Emotif Behavior

1. PengertianTerapi Rasional Emotif Behavior

Terapi rasional emotif behavior sering dikenal dengan rational emotive

behavioral therapy (REBT) yang dipopulerkan oleh Albert Ellis pada tahun

1995, seorang ahli klinik psikologi setelah menimba pengalaman dari praktik

yang dilakukannya dalam konselng keluarga, perkawinan, dan seks. REBT

dulunya disebut dengan RET menjadi Rasional Emotive Behavioral Therapy

(REBT)

Pada mulanya Albert Ellis menggunakan prosedur Psikoanaisis dalam

praktiknya, tetapi dia menemukan ketidak puasan dengan prosedur tersebut.

Akhirnya dia mengembangkan teori Rasional Emotif Behavior Terapy.5

Terapi Rasional Emotive Behavior adalah terapi behavior kognitif yang

menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku, dan pikiran.6

Menurut Latipun dalam bukunya Psikologi konseling bahwa Terapi

Rasional Emotive Behavior adalah salah satu terapi yang menaruh perhatian

5

John Mc Leod,Pengantar Konseling Teori dan Studi Kasus(Jakarta: Open University Press, 2003), hal. 150

6

(39)

29

pada asumsi manusia bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk

berfikir rasional dan jujur maupun berfikir irrasional dan jahat sehingga

individu akan menjadi lebih produktif dalam kehidupannya.7

Menurut WS. Winkel dalam bukunya Bimbingan dan konseling di intuisi

pendidikan mengatakan bahwa Terapi Rasional Emotif Behavioradalah corak

konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berfikir dengan

akal sehat (Rational Thinking), dan berperasaan (Emoting), dan berperilaku

(Acting), sekaligus menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam

dalam cara berfikir dan berperasaan dapat mengakibatkan perubahan yang

berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku.8

Menurut Gerald Corey dalam bukunya teori dan praktek Konseling dan

Psikoterapi, Terapi Rasional Emotif Behavior adalah pemecahan masalah

yang menitik beratkan pada aspek berfikir, menilai, memutuskan, direktif

tanpa lebih banyak berurusan dengan dimensi-dimensi perasaan.9 Sedangkan

menurut Singgih D Gunarsih mengatakan bahwa Terapi Rasional Emotiv

Behavior adalah suatu teknik pendekatan yang berusaha memperbaiki pola

pikirnya yang irrasional. Jadi disini Terapi Rasional Emotif Behavior dilihat

sebagai usaha untuk mendidik kembali (reducation), jadi terapis bertindak

7

Latipun,Psikologi Konseling, (Malang: UMM Press, 2005), hal 201

8

WS. Winkel,Bimbingan dan Konseling di Intuisi Pendidikan, (Semarang: Satya Wacana, 2008), hal. 364

9

(40)

30

sebagai pendidik dengan antara lain memberi tugas yang harus dilakukan

klien srta memberikan terapi untuk memperkuat proses berfikirnya.10

Dari beberapa pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa

Terapi Rasional Emotif Behavior merupakan terapi yang berusaha

menghilangan cara berfikir klien yang tidak logis dan irrasional serta

menggantinya dengan sesuatu yang logis dan rasional dengan cara

mengkonfrontasikan klien dengan keyakinan-keyakinan irrasionalnya serta

menyerang, menentang, mempertanyakan, dan membahas

keyakinan-keyakinan yangirrasionalsehingga klien akan menjadi efektif dan bahagia.

2. Hakikat Manusia MenurutTerapi Rasional Emotif Behavior

Terapi Rasional Emotif Behavior adalah aliran psikoterapi yang

berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk

berfikirrasional dan jujur maupun untuk berfikir irrasionaldan jahat. Secara

umum ada dua prinsip yang mendominasi manusia, yaitu fikiran dan perasaan.

Terapi Rasional Emotif Behavior beranggapan bahwa setiap manusia yang

normal memiliki pikiran, perasaan, dan perilaku yang ketiganya berjalan

secarastimulan.11

Manusia memiliki kecnderungan-kecenderungan utuk memelihara diri,

berbahagia, berfikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang

10

Singgih D Gunarsih,Konseling dan Psikoterapi, (Jakarta: BPK Gunung Mulya, 2000), hal. 236

11

(41)

31

lain, serta tmbuh dan mengaktulisasikan diri. Akan tetapi manusia juga

memiliki kecenderungan-kecenderugan mengarah menghancurkan diri,

menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan

yang tidak berkesudahan tahayul, intoleransi, perfeksionisme, dan mencela

diri serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri.12

Menurut Dra. Gantina Komalasari dalam bukunya Teori dan Praktek

Konseling pendekatan Rastional Emotif Behavior Terapy (REBT)

memandang “manusia sebagai individu yang didominasi oleh sistem berfikir dan sistem perasaan yang berkaitan dalam sistem psikis individu.

Keberfungsian individu secara psikologis ditentukan oleh pikiran, perasaan,

dan tingkah laku. Tiga aspek ini saling berkatam karena satu aspek

mempengaruhi aspek yang lainnya”.13

Dalam Terapi Rasional Emotif Behavior teori ini memiliki beberapa

asumsi kebahagiaan dan ketidakbahagiaan dalam hubungannya dengan

dinamika perasaan dan pikiran. Ellis (1994) merumuskan hakikat manusia itu

dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya:

a. Individu pada dasarnya unik, yang memiliki kecenderungan untuk

berfikir rasional dan irasional

b. Reaksi emosional dilatar belakangi oleh intropeksi diri, interpretasi,

dan filosofi yang didasari ataupun tidak didasarioleh individu

12

Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi,(Bandung: Eresco, 1997), hal. 241

13

(42)

32

c. Hambatan psikologis dan emosional adalah akibat dari cara berfikir

yang tidak logis dan irrasional

d. Berfikir irrasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang

diperoleh dari orang tua dan kultur tempat dibesarkan.

e. Berfikir secara irrasional akan tercermin dari verbalisasiyang

digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berfikir

yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan verbalisasi yang

tepat pula.

f. Menunjukkan pada klien bahwa verbalisasi diri telah menjadi

hambatan emosional.

g. Membenarkan bahwa verbalisasi diri adalah tidak logis dan irrasional

h. Membenarkan dan meluruskan cara berfikir dengan verbalisasi diri

yang lebih logis dan efisien.14

Perasaan dan berfikir negatif dan penolakan diri harus dilawan dengan

cara befikir yang rasional dan logis yang dapat diterima dengan akal sehat,

serta menggunakan verbalisasi yang rasional.15 Dengan begitu prasangka dan

pemikiran negatif itu akan terkalahkan oleh hal-hal positif.

Landasan filosofis terapi rasional emotif behavior tentang manusia

tergambar daam Quontation dari Epictetus yang dikutip oleh Ellis. “Men are

14

Namora Lumongga Lubis,Memahami Dasar-Dasar Konseling dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: Kencana, 2011), hal. 159

15

(43)

33

disturbed not by things, but by the views which they take of them” (mereka

terganggu bukan karena sesuatu, tetapi pandangan terhadap sesuatu).16

Menurut Ellis seperti yang dikutip dalam buku Gerald Corey,

“gangguan emosi karena pada dasarnya erdiri atas kalimat atau arti-arti yang

keliru, tidak logis, dan tidak bisa disahihkan, orang yang terganggu secara

dogmatis dan tanpa kritik, dan terhadapnya beremosi atau bertindak sampai

kalah”.17 Dari itulah akhirnya muncul pikiran-pikiran irrasional yang

mengganggu manusia dalam berfungsi sebagaimana mestinya. Rasional

Emotif Behavior Terapy berasumsi bahwa berfikir logis itu tidak mudah.

Kebanyakan individu cenderung ahli dalam berfikir tidak logis, contoh

berfikir tidak logis yang banyak menguasai individu adalah:

a. Saya harus sempurna

b. Saya baru saja melakukan kesalahan, bodoh sekali

c. Ini adalah bukti bahwa sya tidak sempurna, maka saya tidak

berguna.18

Berfikir irrasional mengarah pada kebencian terhadap diri yang

mengarah pada tingkah laku yang merusak diri sendiri, kemudian individu

16

Gantina Komalasari,Teori dan Praktek Konseling(Jakarta: PT Indeks, 2011), hal. 203

17

Gerald Corey,Teori dan Praktek Konselig dan Psikoterapi, (Bandung: Rafika Aditama, 2009), hal. 243

18

(44)

34

akan membenci orang lain juga sehingga pada akhirnya menyebabkan

bertindak irrasional kepada orang lain secara terus menerus.

3. Konsep Teori Kepribadian dalam Rasional Emotif Therapy

Untuk memahami dinamika kepribadian dalam pendangan Terapi

Rasional Emotif Behavior perlu memahami konsep-konsep dasar yang

dikemukakan Ellis:

“ada tiga hal yang terkait dengan perilaku yaitu Antecedent Event(A), Belive

(B), dan Emotional Consequence (C) yang kemudian dikenal dengan rumus

A-B-C”19

Antecendant Event (A) merupakan keberadaan suatu fakta, suatu

peristiwa tingkah laku atau sikap seseorang. Seperti perceraian, kelulusan bagi

siswa, dan juga ujian skripsi juga menjadi Antecendant Event bagi sesorang.

Belive (B) merupakan keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri

individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam yaitu

keyakinan yang rasional (rasional belive atau rB) dan keyakinan yang tidak

rasional (irrasional belive atau iB).

Emotional Consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai

akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan

emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A).Kalau digambarkan

19

(45)

35

hubungan antara peristiwa, sistem keyakinan dan reaksi seperti gambar

sebagai berikut:

A B C D

Setelah ABC menyusul D yaitu penerapan D metode ilmiah untuk

membantu konseling menantang keyakinan emosional yang telah

mengakibatkan gangguan-gangguan emosi dan tingkah laku.20

Terapi Rasional Emotif Behavior tentang kepribadian menggunakan

formula ABC, akan tetapi dilengkapi oleh Ellis sebagai teori konseling

menjadi ABCDE (Antecendent event-Belive-Emotional

consequensi-Disputting-Effect). Effect yang dimaksud disini adalah keadaan psikologis

yang diharapkan terjadi pada klien setelah mengikuti proses konseling.

Jadi sistem keyakinan individu dalam Terapi Rasional Emotif

Behavior berkisar pada dua kemungkinan yaitu rasional atau tidak rasional.

Jika individu mampu berfikir rasional maka tidak akan mengalami hambatan

emosional, begitu juga sebaliknya.

4. Karakteristik Keyakinan Irrasional dalam Terapi Rasional Emitif Behavior

Menurut Nelson Jones yang dikutip oleh Latipun, karakteristik cara

berfikir irrasional yang dapat dijumpai secara umum adalah sebagai berikut:

a. Terlalu menuntut

20

(46)

36

Menurut rasional emotif behavior tuntutan, perintah dan

permintaan berlebihan dibedakan dengan hasrat, fikiran, dan

keinginan. Hambatan emosional terjadi ketika individu menuntut

“harus” merupakan cara berfikir absolut tanpa tolenransi-tuntutan

itu dapat membuat individu mengalami hambatan.

b. Generalisasi secara berlebihan

Generalisasi secara berlebihan (over generalization) yaitu individu

yang menganggap sebuah peristiwa atau keadaan di luar adalah

batas-batas yang wajar. Over generaalization dapat dilihat secara

sistematik seperti “saya orang yang paling bodoh di dunia ini”. Ini

adalah over generalization karena kenyataannya dia bukan orang

bodoh “saya tidak memiliki kemampuan apapun untuk melakukan

sesuatu”, dan sebagainya.

c. Pada dasarnya seseorang dapat memiliki sifat-sifatyang

menguntungkan dan tidak menguntungkan. Yang terpenting adalah

sesorang dapat menerima dirinya tanpa syarat (inconditioning

sel-regard). Sesuatu yang irrasional jika seseorang menilai dirinya

(self rating).21

d. Penekanan (awfulizing)

Memiliki makna yang hampir sama dengan demandigness. Jika

demandigness menunntut dengan harus tetapi dalam awfulizing

21

(47)

37

tuntutan atau harapan itu mengarah ada upaya peningkatan secara

emosional dicampur dengan kemampuan untuk problem solving

yang rasional. Penekanan ini akan mempengaruhi klien dalam

memandang actecedent event secara tepat dan karena itu

digolongkan sebagai cara berfikir yang irrasional

e. Kesalahan melakukan atribusi (atrtribution eror)

Kesalahan dalam menetapkan sebab dan motivasi perilaku baik

dilakukan sendiri maupun orang lain atau sebuah peristiwa.

Keslahan atribusi adalah sama dengan alasan palsu dari seorang

atau orang lain dan umumnya menimbukan hambatan emosional.22

f. Anti pada kenyataan (anti empiricism)

Hal ini terjadi karena menunjukkanfakta empiris secara tepat.

Orang yang berkeyakinan secara irrasional, pertamakali cenderung

kuat untuk memaksa keyakinan yang irrasional dan menggugurkan

sendiri gagasan yang sebenarnya irrasional. Orang yang rasional

akan dapat menunjukkan fakta secara empiris.

g. Repetisi

Keyakinan yang irrasional cenderung terjadi berulang-ulang.

Sebagaimana yang ditekankan pada Ellis seseorang yang

22

(48)

38

cenderung mengajarkan dirinya sendiri dengan

pandangan-pandangan menghambat dirinya.23

Hal ini akan berakibat negatif karena cenderung tida konsisten dan

selalu menuntut kesempurnaan, yang terbaik adalah menerima dirinya (self

acceptence)dan tidak melakukan penilaian terhadap dirinya (self evaluating).

Sebagaimana yang ditekankan oleh Ellis, seseorang cenderung mengajarkan

diri sendiri dengan pandangan-pandangan yang menghambat dirinya.

5. Perilaku Bermasalah

Perilaku yang bermasalah adalah perilaku yang didasari pada cara

berfikir yang irrasional yang berlaku secara universal, indikator orang yang

berkeyakinan irrasional tersebut sebagai berikut:24

a. Pandangan bahwa suatu keharusan bagi orang dewasa untuk

dicintai oleh orang lain dan segala sesuatu yang dikerjakan.

Seharusnya mengahargai diri sendiri (self-respect) dan

memenangkan tujuan-tujuan praktis dan mencintai dari pada

menjadi obyek yang dicintai.

b. Pandangan bahwa tindakan tertentu adalah mengerikan atau jahat,

dan orang yang melakukan tindakan demikian sangat terkutuk,

seharusnya berpandangan bahwa tindakan tertentu adalah

23

Latipun,Psikologi Konseling, (Malang; UMM Press, 2005), hal. 125

24

(49)

39

kegagalan diri atau antisosial orang yang melakukan tindakan

demikian adalah melakukan kebodohan ketidaktahuan atau

neurosis, akan lebih baik jika ditolong untuk berubah orang yang

berperilaku malang tidak membuat mereka manjadi individu yang

buruk.25

c. Pandangan yang menganggap bahwa hal yang mengerikan tidak

dinginkan oleh diri seseorang, seharsnya berpandangan menjadi

lebih baik, untuk mengubah atau mengendalikan kondisi yang

buruk. Bahwa yang berkeyakinan menjadi lebih memuaskan. Dan

jika hal itu tidak memungkinkan untuk sementara menerima dan

segera baik-baik mengubah keadaan.

d. Pandangan bawasannya kesengsaraan (permasalahan) itu muncul

karena faktor eksternal dan permasalahan yang menimpa melalui

perantara orang lain atau bisa dikatakan bahwasannya

permasalahan yang menimpa seseorang itu karena perbuatan orang

lain. Sehingga hanya mendapatkan akibat dari perbuatan orang

lain.26

e. Seseorang yang menganggap berbahaya bagi dirinya sendiri, itu

manjadi hal yang menakutkan, yang selalu dipikirkan disetiap

25

Imam Sayuti Farid,Pokok-Pokok Bimbingan Penyuluhan Agama Sebagai Teknik Dakwah, (Jakarta: Bulan Bintang, 2007), hal. 14

26

(50)

40

waktu karena seolah-olah hl yang menakutkan itu merupakan

ancaman yang menimbulkan masalah yang besar.27

f. Jika seseorang mempunyai anggapan jika lari dari tanggung jawab

dan meninggalkan permasalahan itu mudah dari pada

menghadapinya. Padahal lari dari permasalahan itu akan

menimbulkan permasalahan yang lebih besar lagi.

g. Jika manusia itu menganggap lebih baik menggantungkan

hidupnya kepada orang lain dibandingakan mandiri, karena dirasa

dirinya tidak mampu lagi mengahdapi permasalahan yang

dialaminya.

h. Selalu meremehkan hidupnya di dunia, sehingga tidak mempunyai

usaha untuk untuk membuat dirinya lebih baik dan selaras.28

Keyakinan-keyakinan yang irrasional tersebut aan menemui hasil akhir

reaksi emosional pada diri seseorang. Ellis memandang bawasannya keyakina

yang rasional akan menimbulkan perilaku yang tepat. Sebaliknya jika

seseorangberkeakinan irrasional akan menimbulkan emosional dan perilaku

yang salah dan negatif pula.29

6. Tujuan Rasional Emotif Behavior Teraphy

27

Latipun,Psikologi Konseling, (Malang; UMM Press, 2005), hal. 67

28

Gantina Komalasari,Teori dan Praktek Konseling(Jakarta: PT Indeks, 2011), hal.204

29

(51)

41

Tujuan Rational Emotive Behavior Therapy menurut Ellis yakni membantu

klien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik yang berarti

menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi-verbalisasi diri mereka telah

dan masih merupakan sumber utama dari gangguan-gangguan emosional yang

dialami oleh mereka.30 Sedangkan Tujuan dari Rational Emotive Behavior

Therapymenurut Mohammad Surya sebagai berikut:

a. Memperbaiki dan mengubah perilaku dan pola fikir yang irasional

dan tidak logis menjadi rasional dan lebih logis agar klien dapat

mengembangkan dirinya.

b. Menghilangkan gangguan emosional yang merusak.

c. Untuk membangun Self Interest, Self Direction, Tolerance,

Acceptance of Uncertainty, Fleksibel, Commitment, Scientific

Thinking, Risk Taking,danSelf Acceptance Klien.31

Berangkat dari pandangannya tentang hakikat manusia tujuan

konseling menurut Ellispada dasarnya membentuk pribadi yang rasional,

dengan jalan mengganti cara-cara berfikir yang irrasional itulah yang menjadi

individu mengalami gangguan emosional karena cara-cara berfikirnya harus

diubah menjadi yang lebih tepatyaitu cara berfikir yang rasional.32

30

Rochman Natawidjaya, Konseling Kelompok Konsep Dasar & Pendekatan (Bandung: Rizqi

Press, 2009), hal. 275 31

Mohammad Surya, Dasar-dasar Konseling Pendidikan (Konsep dan Teori)(Yogyakarta: Kota kembang, 2001)

32

(52)

42

Untuk mencapai tujuan-tujun konseling maka perlu pemahaman klien

tentang sistem keyakinan atau cara berfikirnya sendiri. Ada tiga tahaan

insight yang perlu dicapai dalamRasional Emotif Behavior Terapy

a. Pemahaman (insight)

Dicapai ketia klien memahami tentang penolakan diri dari yang

dihubungkan pada penyebab yang sebelumnya yang sebagian

besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa

yang diterima (antecendent event) yang lalu dan saat ini

b. Pemahaman terjadi ketika konselor atau terapis membantu klien

untuk memahami bahwa apa yang menganggu saat ini adalah

karena berkeyakinan yang irrasionalterus dipelajari dan yang

diperoleh sebelumnya.

c. Pemahaman yang dicapai pada saat konselor membantu klien

untuk mencapai pemahaman ketika tidak ada jalan lain untuk

keluar dari hambatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan

melawan keyakinan yang Irrasional.

Kesimpulan yang dapat diambil dari tujuan Rational Emotive

Behaviour Therapy di atas adalah menghilangkan gangguan emosional yang

dapat merusak diri (seperti benci, rasa bersalah, cemas, dan marah) serta

mendidik konseli agar mengahadapi kenyataan hidup secara rasional.33

7. Peran Konselor dalamTerapi Rasional Emotif Behavior

33

(53)

43

Peran konselor dalam pendekatan Terapi Rasional Emotif Behavior

adalah:

a. Aktif-direktif, yaitu mengambil peran lebih banyak untuk

memberikan penjelasan terutama pada awal konseling

b. Mengkonfrontasikan pikiran irrasional klien secara langsung

c. Menggunakan berbagai teknik untuk menstimulus klien untuk

berfikir dan mendidik kembali klien itu sendiri

d. Secara terus menerus menyerang pikiran irrasional klien

e. Mengajak klien untuk mengatasi masalahnya dengan kekuatan

berfikir bukan emosi

f. Bersifat didaktif dan filosofis34

Dalam meaksanakan Terapi Rasional Emotif Behavior konselor

diharapkan memiliki kemampuan berbahasa yang baik, karena dalam terapi

ini didominasi oleh teknik-teknik yang menggunakan pengolahan verbal.

Selain itu, secara umum konselor harus memiliki keterampilan untuk

membangun hubungan konseling.

8. Teknik-TeknikRasional Emotif Behavior Teraphy

Rational Emotive Behavior Therapy menggunakan berbagi teknik

yang bersifat kognitif, afektif, behavioral yang disesuaikan dengan kondisi

klien. teknik-teknikRational Emotive Behavior Therapysebagai berikut :

a. Teknik Kognitif

34

(54)

44

Adalah teknik yang digunakan untuk mengubah cara berfikir klien.

Dewa Ketut menerangkan ada empat tahap dalam teknik-teknik

kognitif:

1) Dispute kognitf (Cognitif Disputation)

Usaha untuk mengubah keyakinan irrasional klien melalui

philosophical persuatio, didactif presentation, socratic

dialogue, vicarius experiences, dan berbagai ekpresi verbal

lainnya. Teknik untuk melakukan cognitif disputation adalah

dengan bertanya (questioning)

2) Analisis rasional (Rational Analysis)

Teknik untu mengajarkan klien untuk mengajarkan klien

bagaimana membuka dan mendebat keyakinan irrasional

3) Dispute standard ganda (Doble Standard Dispute)

Mengajarkan klien melihat dirinya memilii standar ganda

tentang orang lain dan lingkungan sekitar

4) Skala katastropi (Catastrophe Scale)

Membuat proporsi tentang periswa-peristiwa yang meyakitkan,

misalnya dari 100% buatlah presentasi peristiwa yang

menyakitkan, urutkan dari yang paling tinggi presentase

sampai yang paling rendah.35

35

(55)

45

5) Devil’s Advocateatau (Rational Role Revelsal)

Meminta klien untuk memainkan peran yang memiliki

keyakinan rasional sementara konselor memainkan peran

menjadikan klien yang irrasional. Klien melawan keyakinan

konselor dengan keyakinan rasional yang diverbalisakan.

6) Membuat frem ulang (Reframing)

Mengevaluasi kembali hal-hal yang mengecewakan dan tidak

menyenangkan dengan mengubah frame berfikir klien.

b. TeknikImageri

1) Dispute imajinasi (Imaginal Dispution)

Strategi imaginal disputation melibatkan penggunaan

imageri. Setelah disputation secara verbal, konselor

meminta klien untuk membayangkan dirinya kembali

pada situasi yang menjadi masalah dan melibatkan

emosinya telah berubah. Bila ya maka konselor meminta

klien untuk mengatakan pada dirinya sebagai individu

yang berfikir rasional, bila belum maka pikiran irrasional

masih ada.

2) Kartu kontrol emosional (The Emotional Control

Card-ECC)

Alat yang dapat membantu klien menguatkan dan

(56)

46

beisi dua kategori perasaan paralel yaitu: perasaan yang

tidak seharusnya atau yang merusak diri dan perasaan

yang sesuai dan tidak merusak diri.

3) Teknik melebih-lebihkan (The Blow Up Technique)

Meminta klien membayangkan kejadian yang

menyakitkan atau kejadian yang menakutkan, kemudian

melebihlebihkan pada taraf yang paling tinggi. Hal ini

bertujuan agar klien dapat mengontrol ketakutannya.

4) Proyeksi waktu (Time Projection)

Meminta klien untuk menvisualisasikan kejadian yang

tidak menyenangkan ketika kejadian itu terjadi, setelah itu

membayangkan bagaimana seminggu kemudian, sebulan

kemudian, enam bulan kemudian, setahun kemudian, dan

seterusnya. Bagaimana klien merasakan perbedaan tiap

waktu yang dibayangkan klien dapat membutuhkan

penyesuaian

c. Teknik-TeknikBehavioristik

Terapi Rasional Emotif Behavior banyak menggunakan

teknik behavioristic terutama dalam hal upaya modifikasi perilaku

(57)

47

tidak rasional dan tidak logis, beberapa teknik yang tergolong

Behavioristikadalah:36

1) Dispute tingkah laku (Behavioral Disputation)

Memberi kesempatan pada klien untuk mengalami kejadian

yang menyebabkannya berfikir irrasional dan melawan

keyakinannya tersebut.

2) Bermain peran (Role Playing)

Dengan bantuan konselor klien melakukan role playing

tingkah laku baru yang sesuaidengan keyakinan

irrasionalnya.

3) Teknik peran rasional terbalik (Rational Role Reveral)

Meminta klien untuk memainkan peran yang memiliki

keyakinan irrasional begitu sebaliknya.

4) Pengalaman langsung (Exposure)

Klien sengaja memasuki situasi yang menakutkan, proses

ini dilakukan melalui perencanaan dan penerapan

keterampilan mengatasi masalah (copying skill)

5) Menyerang masa lalu (Shame Attacking)

Melakukan konfrontasi terhadap ketakutan untuk mau

dengan secara sengaja bertingkah laku yang memalukan

dan mengundang ketidak setujuan lingkungan sekitar,

36

Gambar

  Tabel 3.1
Tabel 3.3
Tabel 3.4
 Tabel 3.5
+4

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur kepada Allah Bapa yang maha kuasa karena kasihNya yang selalu melimpah kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Skripsi

Berdasarkan serangkaian penelitian yang telah dilakukan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa Perlindungan hukum terhadap anak pada lokasi pasca

Ayat tersebut menjelaskan bahwa untuk menyakinkan seseorang terhadap kebaikan yang kita jelaskan harus berdasarkan ilmu, pengetahuan, data dan fakta. Dalam Islam

Penelitian yang juga telah dilakukan oleh Yulistiani (2009) di Purwokerto tentang perbandingan perawatan metode kanguru dengan perawatan inkubator terhadap

Tugas akhir dengan judul “ pembuatan film animasi edukasi MENJAGA LINGKUNGAN KITA dengan Adobe Flash CS 3” dibuat dengan tujuan membuat film animasi yang mampu di terima

Semakin halus dan seragam ukuran tepung, proses gelatinisasi terjadi dalam waktu yang hampir EHUVDPDDQ VHKLQJJD YLVNRVLWDV PDNVLPXP tepung dengan ukuran lebih

Pidana mati hanya bisa dilaksanaan apabila terhadap tindak pidana tersebut sudah dijatuhi putusan in kracht atau sudah tidak ada upaya hukum yang dilakukan oleh

Oleh itu, kajian ini telah mengambil inisiatif untuk membantu para pelajar dengan membangunkan sebuah modul dengan mengintegrasikan kecerdasan spiritual dan