TERAPI RASIONAL EMOTIF BEHAVIOR UNTUK MENGATASI
GANGGUAN
MOOD
PADA SISWI X DI SMPN 3 PULUNG
PONOROGO
SKRIPSI
Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial (S. Sos)
Dalam Bidang Bimbingan Konseling Islam
Oleh:
Iin Marfu’ah
NIM. B03213008
PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING ISLAM
JURUSAN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
vii
ABSTRAK
Marfu’ah, Iin. B03213008, 2017, Terapi Rasional Emotif Behavior untuk mengatasi GangguanMoodpada siswi di SMPN 3 Pulung. Skripsi Program Studi
Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN
Sunan Ampel Surabaya.
Fokus penelitian adalah (1) bagaimana prosees pelaksanaan terapi rasional
emotif behavior dala mengatasi ganggan mood pada siswi di SMPN 3 Pulung
Ponorogo?, (2) Bagaimana hasil pelaksanaan terapi rasional emotif behavior dalam
mengatasi gangguan mood di SMPN 3 Pulung Ponorogo?
Dalam menjawab permasalahan tersebut, jenis pendekatan yang digunakan
yaitu pendekatan deskriptif yang menekankan pada sosial dan psikologikal.Jenis
penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek. Dalam menentukan subyek
penelitian ini menggunakan teknik studi kasus yang hanya melibatkan satu konseli
agar lebih intensif terperinci dan mendalam.
Dalam penelitian ini proses konseling terjadi menggunakan terapi rasional
emotif behavior dengan teknik kognitif, imageri, dan behavior dengan terapi ini klien
diharapkan mampu berfikir secara rasional dan bisa percaya pada orang lain dan bisa
kembali beraktifitas seperti remaja lainnya. Hasil akhir proes dari terapi ini cukup
berhasil dengan skor 81 yang mana hasil dapat dilihat dari adanya perubahan pada
sikap dan sosialisasinya dengan orang lain baik di sekolah maupun di rumah.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 7
E. Definisi Konsep Penelitian ... 8
F. Metode Penelitian ... 11
G. Sistematika Pembahasan ... 24
BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Islam ... 26
1. Bimbingan ... 26
2. Konseling ... 26
3. Bimbingan konseling islam ... 26
B. TinjauantentangrasionalEmotif Behavior Therapy ... 28
1. Pengertian rational emotif behavior therapy ... 28
xi
3. Konsep teori kepribadian rational emotif behavior therapy ... 33
4. Karakteristik keyakinan irrasional dalam REBT ... 35
5. Perilaku bermasalah ... 38
6. Tujuan rational emotif behavior therapy ... 40
7. Peran konselor dalam REBT ... 42
8. Teknik-teknik dalam rational emotif behavior therapy ... 43
9. Langkah-langkah rational emotif behavior therapy ... 48
C. Gangguan Mood 1. Pengertian gangguan mood ... 50
2. Tipe-tipe gangguan mood ... 51
3. Gejala-gejala pada gangguan mood ... 56
4. Faktor-faktor gangguan mood ... 62
D. REBT Dalam Mengatasi Gangguan Mood ... 65
E.Kajian Terdahulu ... 68
BAB III PENYAJIAN DATA A. Deskripsi Umum Objek Penelitian ... 71
1. Identitas sekolah... 71
2. Visi ... 71
3. Misi ... 72
4. Tujuan sekolah ... 73
5. Data kesiswaan... 76
6. Data pendidik dan tenaga kependidikan ... 77
7. Data sarana ruang dan lapangan ... 82
8. Deskripsi konselor ... 83
9. Deskripsi klien ... 84
10.Deskripsi masalah ... 86
B. Deskripsi hasil peneltian ... 87
a. Identitas masalah ... 88
b. Diagnosis ... 91
c. Prognosis ... 92
d. Treatment ... 93
e. Evaluasi ... 100
2. Deskripsi hasil pelaksanaan (REBT) untuk mengatasi gangguan mood pada siswi SMPN 3 Pulung Ponorogo ... 101
BAB IV ANALISIS DATA A. Analisis data tentang proses (REBT) untuk mengatasi gangguan Mood pada siswi SMPN 3 Pulung Ponorogo ... 103
B. Analisis data tentang hasil akhir(REBT) dalam mengatasi gangguan Mood pada siswi SMPN 3 Pulung Ponorogo ... 108
BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 114
B. Rekomendasi ... 115
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehidupan terkadang naik turun, terkadang merasa sangat senang bila
memperoleh nilai tinggi, mendapat perhatian dari sesorang yang dikasihi,
mendapat reword, dan lain-lain. Seseorang merasa sedih atau depresi bila ditolak
seseorang, gagal dalam ujian, atau bahkan mengalami kesulitan keuangan dan itu
merupakan hal yang normal dan wajar. Sesuatu yang normal dan tepat untuk
merasa senang dan bahagia saat mendapatkan kegembiraan dan juga normal pada
saat mendapatkan kesedihan seseorang merasakan terpuruk.
Mood merupakan kondisi perasaan yang terus ada dan mewarnai kehidupan
psikologis. Perasaan sedih atau depresi bukanlah hal yang abnormal dalam konteks
peristiwa atau situasi yang penuh tekanan, namun orang yang mengalami
gangguanmood (mood disorder) yang luar biasa parah atau berlangsung lama dan
mengganggu kemampuan untuk memenuhi tanggung jawab secara normal.1 Mood
memang wajar yang selalu dialami oleh setiap orang. Mood datang dan pergi, dan
ketika hal itu terjadi pasti dapat diatasi.
Gangguan mood adalah suatu tipe gangguan yang ditandai dengan gangguan
padamood. Gangguan pada mood berlangsung sangat lama, tidak seperti biasanya,
1
2
sangat parah, dan cukup serius sehingga menghambat fungsi sehari-hari.
Gangguan moodmencangkup berbagai gangguan emosi yang membuat seseorang
tidak dapat berfungsi, mulai dari kesedihan pada depresi hingga euforia yang tidak
realistis dan irritabilitas pada mania.
Ada beberapa tipe dalam gangguan mood yaitu gangguan Unipolar Dan
Bipolar. Gangguanunipolar yaitu gangguanmoodyang mengacu pada satu kutub,
arah atau tunggal. Dalam gangguan unipolarterdapat gangguan depresi mayor dan
gangguan distimik. Dalam episode depresi mayor orang tersebut akan mengalami
salah satu diantaramooddepresi (sangat sedih, putus asa, dan dipuruk) kehilangan
minat, rasa senang pada aktifitas untuk periode dalam waktu paling sedikit 2
minggu. Sedangkan gangguan distimik adalah pola depresi ringan yang terjadi
dalam rentang waktu dan pada dewasa biasanya dalam beberapa tahun. Gangguan
depresi disebut unipolar karena gangguan ini terjadi hanya pada satu arah atau
kutup emosional ke bawah.
Ada tipe gangguan mood lainnya adalah gangguan perubahan mood yaitu
gangguan bipolar dan siklotimik. Gangguan ini mengakibatkan ekses depresi
maupun rasa girang, biasanya dalam pola yang saling bergantian. Seperti
mengandarai roller coster emosional, berayun dari satu ketinggian rasa girang ke
kedalaman depresi tanpa adanya penyebab eksternal.2 Seseorang yang mengidap
gangguan bipolar biasanya sering merasakan euforia (kegembiraan) yang
2
3
berlebihan dan mengalami depresi. Periode ini biasanya ini bisa berganti dalam
hitungan jam, minggu maupun bulan. Dan untuk penyebab yang tidak jelas
sejumlah orang mengalami perubahanmoodyang dramatis dari kedalaman.
Kebanyakan orang tahu bahwa susanana perasaan akan cepat berlalu bahkan
akan kembali diri sendiri dalam satu atau dua hari berikutnya. Jika seseorang tidak
pernah merasakan sedih dan selalu melihat hal yang baik saja dari setiap situasi
yang dihadapi itu benar-benar hebat dibandingkan sesekali yang mengalami
depresi. Perasaan depresi bersifat universal dan membuat mood disorders
(gangguan suasana perasaan) gangguan yang membuat orang begitu kehilangan
daya hingga bunuh diri dianggap sebagai pilihan yang lebih baik dari pada tetap
hidup.
Depresi dimulai dengan perasaan hambar, yang membuat hari-hari berkabut
dan berubah menjadi membosankan, melemahkan tindakan yang sudah biasa
dilakukan sedemikian rupa sehingga bentuknya yang semula jelas menjadi kabur
oleh usahanya itu. Membuat seseorang menjadi lelah, bosan, dan terobsesi dengan
diri tetapi dapat dilaluinya. Tetapi pada saat melaluinya seseorang dapat
melewatinya meskipun tidak membahagiakan tidak seorangpun dapat menemukan
titik runtuhnya yang menandai depresi mayor, tetapi ketika sampai disana hampir
tidak akan keliru mengenalinya.
Euforia dirasakan oleh seseorang yang sebelumnya tengah mengalami
situasi hidup yang jenuh atau dalam seebuah konflik psikologis yang mendalam.
4
kabar gembira, seseorang tersebut merasakan secara berlebih karena kondisi
tersebut sangat kontras dengan kondisi sebelumnya. Euforia terjadi dalam waktu
singkat dan tidak abadi, biasanya orang yang mengalami euforia dalam fase hidup
tertentu berpotensi akan mudah merasakan euforia dalam fase-fase berikutnya.3
Remaja mudah sekali terpengaruh oleh lingkungannya. Bagaimana
pentingnya pengaruh keluarga, lingkungan, teman sebaya terhadap perkembangan
remaja. Terkadang remaja mengalami ketidakseimbangan dalam emosi dan
dibiarkan berlarut-larut tanpa ada perhatian khusus dari lingkungan sekitar atau
orang terdekatnya bisa menjadi suatu masalah yang serius bagi perkembangan
psikologi remaja yang memang sangat labil pada masanya.
Perkembangan psikologis remaja adalah adanya emosi yang meledak ledak,
sulit dikendalikan, cepat depresi (sedih putus asa) dan kemudian melawan dan
memberontak. Emosi yang tidak terkendali ini disebabkan oleh konflik peran yang
sedang dialami remaja. Oleh kerena itu, perkembangan psikologis ini ditekankan
pada keadaan emosi remaja. Keadaan pada masa remaja dapat sedih sekali dilain
waktu dapat marah sekali, terkadang bahagia yang berlebihan.Remaja sering kali
cemas atau depresi, tetapi kondisi emosional seperti kecemasan dan depresi dapat
dikatakan abnormal bila tidak sesuai dengan situasinya. Dan melebihi kadar
normalnya atau diluar batas kewajaran.
3
5
Sehubungan dengan gangguan mood yang dialami oleh siswi SMPN 3 Pulung
kelas VIIC sebutkah GA (nama samaran) yang menunjukkan ciri-ciri perilaku
yang bisa dikatakan abnormal terutama kebiasaannya di dalam kelas yang suka
melamun, cenderung tidak bertanggung jawab, tidak melibatan diri dalam suatu
kegiatan kelompok, tidak sopan saat berinteraksi dengan orang lain, cenderung
murung dan kurang memiliki respon positif pada orang di sekitarnya, namun suatu
waktu tertentu GA terlibat sangat aktif dan penting, selalu terlihat mencolok dan
menarik perhatian orang lain.
Siswi GA juga sangat sukar untuk membagi perasaannya pada oang lain
ketika di ajak komunikasi GA selalu berkata tidak terjadi apa-apa namun dalam
waktu tertentu GA menjadi sangat mudah diajak komunikasi dan mengutarakan
masalahnya. GA memiliki perasaan yang berubah-ubah, terkadang GA sangat
murung dan seketika menjadi aktif yang sangat mencolok.
Terapi rasional emotif behavior adalah satu terapi yang menaruh perhatian
pada asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berfikir
rasional dan jujur maupun berfikir irrasional serta menekankan pada suatu
perubahan yang mendalam cara berfikir dapat menghasilkan perubahan dan
berperasaan serta beperilaku sehingga individu akan menjadi produktif dalam
kehidupannya.4
Dengan terapi rasional emotif behavior konselor diharapkan membantu
konseling untuk mengubah perilaku atau kebiasaan negatifnya. Prinsip dasar terapi
4
6
ini adalah menekankan proses belajar dalam melatih ketrampilan untuk mengubah
pola pikir yang rasional serta mempelajari cara yang lebih efektif dalam mengatasi
masalah atau gangguan emosinya. Dengan menempatkan kondisi emosinya dalam
kerangka berfikir yang rasional, konseling diharapkan dapat menampilkan perilaku
yang rasional pula.
Menurut Ellis yang dikutip oleh Singgih D. Gunarsih bahwa pendekatan
Rasional Emotif Behavior dapat dipergunakan untuk mengatasi masalah klinis
seperti :depresi, anxietas (kecemasan), gangguan karakteorologis, sikap melawan,
masalah seks, percintaan, perkawinan, pengasuhan masalah perilaku pada anak
remaja.5
Terapi rasional emotif behavior menggunakan beberapa teknik yang bersifat
kognitif, imageri, dan behavioristik yang disesuaikan denagn kondisi konseling.
Setiap konselor dapat menggunakan gabungan teknik sejauh gabungan sejauh
penggabungan itu memungkinkan.6
Tujuan dari dilaksanakannya terapi rasional emotif behevior adalah untuk
mengentaskan problem yang dialami oleh GA yang mengalami gangguan mood.
Dengan diadakannya terapi rasional emotif behavior tersebut diharapkan siswi
tersebut mampu berfikir secara rasional atau logis ketika mengalami suatu
perubahan mood atau suasana perasaan, yang akibatnya akan berpengaruh kepada
hubungan sosialnya. Pikiran-pikiran negatifnya yang membuat suasana perasaan
5
Singgih D. Gunarsih, Konseling dan Psikoterapi, (Jakarta :BPK Gunung Mulia, 2000), hal. 239
6
7
berubah-ubah. Masalah yang dialaminya merupakan bentuk dari pola pikirnya
yang irrasional dan pemecahan masalah yang dihadapinya tersebut merupakan
tanggung jawabnya sendiri.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses pelaksanaan terapi rasional emotif behavior dalam
mengatasi siswi yang mengalami gangguan mood di SMPN 3 Pulung
Ponorogo?
2. Bagaimana hasil pelaksanan terapi rasional emotif behavior dalam
mengatasi siswi yang mengalami gangguan mood di SMPN 3 Pulung
Ponorogo?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui proses pelaksanaan terapi rasional emotif behavior dalam
mengatasi siswi yang mengalami gangguan mood di SMPN 3 Pulung
Ponorogo.
2. Mengatahui hasil pelaksanaan terapi rasional emotif behavior dalam
mengatasi gangguanmoodpada GA di SMPN 3 Pulung Ponorogo.
D. Manfaat Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini diharapkan menperoleh manfaat sebagai berikut:
8
Pengkajian terapi rasional emotif behavior dalam menangani gangguan
mood diharapkan dapat bermanfaat dalam menambah wawasan teori
dalam bidang bimbingan konseling.
2. Manfaat praktis
Penelitiaan ini diharapkan dapat bermanfaat dalam informasi bagi para
konselor maupun kepada semua pihak yang berminat aktif dalam dunia
BK. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
dalam menenukan kebijakan praktek bimbingan konseling.
E. Definisi Konsep
Konsep merupakan unsur pokok dari suatu penelitian yang didalamnya
memuat tentang batasan-batasan permasalahan dalam memahami konsep-konsep
yang akan diteliti. Konsep penelitian yang berjudul terapi rasional emotif behavior
dalam mengatasi gangguanmood,yaitu:
1. Terapi rasional emotif behavior
Terapi rasional emotif behavior adalah merupakan teori yang
menggunakan suatu asumsi jika menusia dilahirkan dengan potensi, kretifitas
baik untuk berfikir rasional dan jujur maupun berfikir irrasional dan jahat.
Yang diaplikasikan dengan perilaku dan tindakan-tindakan positif maupun
negatif. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara
diri, berbahagia, berfikir dan mengatakan, mencinta, bergabung dengan orang
9
memiliki kecenderungan-kecenderungan kearah mengahancurkan diri.
Dengan tujuan mencangkup meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri
(self defeating) dan mencapaikehidupan realistik, falsafah hidup yang toleran,
termasuk didalamnya dapat mencapai keadaan yang dapat mengarahkan diri,
fleksibel, berfikir secara ilmiah dan menerima diri.7
2. Gangguanmood
Gangguanmoodmerupakan suatu tipe gangguan yang ditandai dengan
gangguan padamood.8Ganggauan pada mood yang berlangsung sangat lama,
tidak seperti biasanya, sangat parah dan cukup serius sehingga menghambat
fungsi sehari-hari. Gangguan mood mencangkup berbagai emosi yang
membuat seseorang tidak dapat berfungsi, mulai dari kesedihan pada depresi
hingga euforia yang tidak realistis.
Depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi ditengah
masyarakat. Berawal dari stress yang tidak dapat diatasi, maka seseorang bisa
jatuh kefase depresi. Penyakit ini kerap diabaikan karena dianggap bisa hilang
sendiri tanpa pengobatan. Orang yang mengalami depersi umumnya
mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsional, dan
gerakan tingkah laku serta kognisi. Menurut Atkinson depresi sebagai suatu
gangguanmood yang dicirikan tak ada harapan, patah hati, ketidak berdayaan
yang berlebihan, tidak mampu mengambil keputusan memulai suatu kegiatan,
7
Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Bandung: Refika Aditama, 2007), hal. 238
8
10
tak mampu konsentrasi, tidak punya semangat hidup, selalu tegang, dan
mencoba bunuh diri.9
Euforia atau suasana perasaan terelasi (kegirangan hati) merupakan
keadaan emosional yang berlawanan dengan suasana perasaan depresi.
Euforia ditandai oleh perasaan kesejahteraan fisik dan emosional yang
berlebihan.Euforiatimbul karena sebuah situasi baru yang lain daripada yang
pernah terjadi sebelumnya dalam kehidupan seseorang. Situasi baru tersebut
kemudian diterima oleh individu sebagai sebuah hal yang menakjubkan.10
Manik biasanya muncul secara tiba-tiba, mengumpukan kekuatan
dalam beberapa hari. Orang yang mengalami episode manik biasanya
merasakan kegembiraan, euforiadan optimisme yang tidak biasa. Orang yang
tampak memiliki energi yang tidak terbatas dan menjadi sangat suka bergaul
meski mungkin sampai titik sesorang tersebut menjadi sangat menuntut dan
memaksa orang lain. Orang yang mengalami sebuah episode manik merasa
sangat bersemangat dan akan memperolok orang lain, dengan memberikan
lelucon yang sangat keterlaluan.11
3. Terapi rasional emotif behavior dalam mengatasi gangguan mood pada siswi
yang mengalami gangguanMooddi SMPN 3 Pulung Ponorogo
9
Namora Lumongga Lubis,Depresi Tinjauan Psikologis, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 13
10
Thomas F. Oltomas,Psikologi Abnormal,(Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2013), hal. 108
11
11
Terapi yang berupaya memberi bantuan kepada siswi yang mengalami
gangguan mood di SMPN 3 Pulung yang tidak mampu berfikir secara rasional
(tepat), yang mengakibatkan siswi mengalami gangguanmood.
Tujuannya supaya setelah diadakannya proses konseling atau terapi siswi
mampu berfikir secara rasional atau logis. Dan mampu menempatkan kondisi
suasana perasaan menjadi staabil. Dengan berfikir lebih rasional dan logis
terhadap permasalahan yang dihadapinya hingga tidak mempengaruhi suasana
perasaannya.
F. Metode Penelitian
Adapun maksud dari metode penelitian ini, metode adalah cara yang tepat
untuk melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama dalam
mencapai suatu tujuan. Sedangkan penelitian adalah suatu kegiatan untuk mencari,
mencatat, merumuskan dan menanalisa suatu yang diteliti sampai menyusun suatu
laporan.12
Jadi metode penelitian merupakan suatu strategi yang dilakukan untuk
mengumpulkan data dan menganalisisnya. Adapun metode yang penulis gunakan
dalam penelitian ini adalah:
1. Pendekatan dan jenis penelitin
12
12
Pada penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif. Model
pendekatan ini dipilih karena menurut Whitney dan Moh. Nazir bahwa
metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat.
Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat
serta situasi-situasi tertentu baik emosional maupun
sosial-psikologikal, termasuk hubungan-hubungan, kegiatan-kegiatan,
sikap-sikap, serta proses-proses yang sedang berlangsung dan
pengaruh-pengaruh dari sebuah fenomena.13
Penelitian ini juga menggunakan jenis penelitian kualitatif. Untuk
mengadakan pengkajian selanjutnya terhadap istilah penelitian kualitatif
perlu diketahui terlebih dahulu tentang pengertian penelitian kualitatif
tersebut. Penelitian kualitatif adalah penelitian yng bermaksud untuk
memahami fenomena tentang apa ang dialami oleh subyek penelitian
yang holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata, bahasa,
pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan menggunakan metode
alamiah dan dilakukan oleh orang yang tertarik secara alamiah.14
Dalam penelitian ini peneliti adalah sebagai pemberi treatment untuk
mengatasi gangguan mood yang bersifat empiris yang berisi deskripsi
detail mengenai masalah yang diteliti. Jenis penelitian ini juga dipilih
bertujuan untuk membuat deskripsi gambaran atau lukisan sistematis,
13
Deddy Mulyana,Metodologi Penelitian Kualitatif,(Bandung: Remaja Rosda Karya, 2012), hal. 145
14
13
faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan
fenomena yang diamati.
2. Subyek, obyek dan lokasi penelitian
a. Subyek
Subyek penelitiaan ini adalah seorang siswa yang bernama GA
yang mengalami gangguan mood datang dan pergi dalam waktu yang
tidak menentu. Teknik yang digunakan dalam menentukan subyek
adalah studi kasus yang mana dalam hal ini hanya melibatkan satu
konseli saja, maka penelitian ini dilakukan secara intensif, terperinci
dan mendalam. Peneliti juga mencari subyek penelitian yang memiliki
hubungan langsung dengan tema yang peneliti temukan terkait dengan
moodyang dialami oleh subyek.
b. Obyek
Obyek dalam penelitian ini ialah terletak pada menggatasi
gangguanmoodmenggunakan terapi rasional emotif behavior.
c. Lokasi penelitian
Penelitian ini peneliti mengambil lokasi di SMPN 3 Pulung
khususnya pada siswi GA kelas VIIC . Peneliti memilih tempat ini
karena di SMPN 3 Pulung ada siswi mengalami gangguan mood yang
naik turun, datang dan pergi secara bergantian.
14
a. Jenis data
Sebuah penelitian diperlukan jenis data. Data tersebut dapat
digolongkan menjadi dua yaitu:
1). Jenis data primer
Jenis data primer merupakan suatu data yang diperoleh
saat melakukan penelitian langsung di lapangan.15 Dalam hal
ini peneliti memperoleh data tentang gangguan mood sebagai
salah satu sebab atau alasan siswa mengalami gangguanmood.
2). Jenis data sekunder
Data sekunder merupakan data pendukung dari data primer
yang diperoleh melalui proses penelitian yang dilakukan
peneliti itu sendiri seperti dokumentasi kegiatan, foto dan lain
sebagainnya.
b. Sumber data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1). Sumber data primer
Sumber data primer ini didapat dari wawancara terbuka
yang dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan
15
15
yang berkembang. Hal ini dilakukan untuk menghindari
miss komunikasi yang berupa kesalahpahaman dalam
menafsirkan konsep-konsep yang dipahami informan
apabila terdapat suatu yang membutuhkan penjelasan lebih
lanjut.
Informan yang akan diamabil oleh peneliti adalah GA
sebagai pelaku yang mengalami ganggan mood. Nenek GA
orang yang paling dekat dengan GA. Serta Guru BK GA.
Kunci dasar penguasaan dan informasi dari informan
secara logika bahwa tokoh-tokoh kunci dalam proses sosial
selalu menguasai informasi.16
2). Sumber data sekunder
Data sekunder adalah sumber data yang sudah ada,
yang dimiliki oleh konselor. Data sekunder merupakan
data lapangan tambahan yang berfungsi sebagai pendukung
data primer. Data primer berupa hasil wawancara dari
narasumber yang telah ditentukan. Sedangkan
pendukungnya, sumber data sekunder berupa dokumentasi
foto kegiatan atau selama proses pengamatan berlangsung.
4. Tahap-tahap penelitian
16
16
Untuk melakukan penelitian kualitatif, digunakan beberapa
tahap-tahap yang digunakan peneliti antara lain:
1. Tahap pra-lapangan
Tahapan ini peneliti perlu mempertimbangkan etika dalam
penelitian lapangan, yang perlu diuraikan sebagai berikut:
a. Memilih lapangan penelitian, dalam penelitian
lapangan peneliti harus mempertimbangkan hal-hal
yang mugkin menyulitkan peneliti dalam melakukan
penelitian seperti akses yang dituju, biaya akomodasi,
dan waktu.
b. Mengurus perizinan penelitian dibagian Prodi
Bimbingan Konseling Islam dan diajukan pada pihak
yang terkait.
c. Memilih dan mencari data melalui informan, hal ini
dilakukan untuk membantu mempermudah memperoleh
informasi dan data yang dibutuhkan peneliti dari
beberapa informan yang memeiliki kredibilitas dalam
pemenuhan data dan yang sesuai dengan kriteria
17
d. Menyiapkan perlengkapan penelitian, semua
perlengkapan yang bersifat teknis maupun non teknis.17
Semua perlengkapan itu harus disiapkan peneliti secara
sempurna.
2. Tahap pekerjaan lapangan
Tahap ini peneliti mulai masuk pada lapangan penelitian guna
mencari data yang akurat serta dibatasi tiga bagian yaitu:
a. Memahami latar penelitian
Memahami latar penelitian diperlukan agar peneliti
lebih mengatahui seluk beluk gangguan mood yang dialami
GA. Hal ini dilakukan dengan cara, masuk dalam kegiatan
tersebut.
b. Memasuki lapangan
Kegiatan ini dilakukan dengan cara mengikuti kegiatan
serta aktifitas-aktifitas yang dilakukan oleh siswi.
c. Berperan serta sambil mengumpulkan data
Kegiatan ini dilakukan dengan cara mendekati nara
sumber pada saat beraktifitas serta melakukan wawancara
dengan berbagai informan yang masuk sebagai kriteria
informan.
17
18
3. Tahap analisis data
Analisis data kualitatif (Bogdan dan Biklen, 1982) dalam buku
metode penelitian kualitatif Lexy J. Moleong adalah upaya yang
dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan
data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola,
mensistensikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan
apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa
yang diceritakan kepada orang lain.
Pada tahap ini peneliti mengumpulkan semua data-data berupa
hasil wawancara, pengamatan lapangan, serta dokumen-dokumen
yang mendukung kemudian disusun, dikaji, serta ditarik
kesimpulan, dan dianalisa dengan analisis induktif.
4. Tahap penulisan laporan
Penulisan laporan merupakan hasil akhir dari suatu penelitian
sehingga peneliti mempunyai pengaruh terhadap hasil laporan. Hal
ini dilakukan peneliti setelah peneliti ikut serta aktifitas-aktifitas
yang dilakukan siswa terkait mood yang dialami oleh siswa
tersebut
5. Teknik pengumpula data
a. Wawancara mendalam (Depth Interview)
Wawancara mendalam adalah suatu cara mengumpulkan
19
dengan informan agar mendapatkan data yang lengkap dan
mendalam. Wawancara ini dilakukan dengan frekuensi tinggi
berulang-ulang secara intensif.18 Informan penelitian kali ini
diambil dari sumber data primer yang telah dipilih oleh peneliti
dan yang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan peneliti.
Wawancara tersebut dilakukan dengan dialog (tanya jawab)
secara lisan baik langsung maupun tidak langsung.
b. Pengamatan
Pengamatan dilakukan selama peneliti berada pada
aktifitas-aktifitas siswa yang sedang diteliti atau dijadikan
subyek penelitian, agar mendapatkan gambaran yang lebih
jelas yang dilakukan dengan pengamatan secara langsung
dilapangan.19 Dengan menggunakan metode ini diharapkan
peneliti dapat memperoleh data tentang perilaku siswa yang
mengalami gangguan moodbaik dilingkungan sekolah maupun
interaksi sosial dengan teman dan gurunya. Dalam pengamatan
ini penulis mengguanakan observasi untuk mengetahui secara
18
Rahmad Krisyanto,Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Kencana, 2006), hal.100
19
20
langsung tentang penerapan teori rasional emotif behavior
dalam mengatasi gangguanmoodpada siswa.
c. Dokumentasi
Dokumentasi ini diambil karena sangat diperlukan dalam
penelitian guna memperkuat bukti penelitian yang telah
dilakukan. Dokumentasi ini berupa foto, catatan, gambar dan
sebagainnya agar memperoleh arsip sebagai dokumen.
Dalam metode ini penulis menggunakan data berupa foto
subyek, cheklist, dan lain-lain. Ini berguna untuk
memperlengkap data siswa guna mempermudah melaksanakan
proses terapi.
6. Teknik analisis data
Analisis data kualitatif, menurut Bogdan dan Biklen (1982)
dalam buku metodologi penelitian kualitatif karya Lexy J. Moleong
adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan
data-data mengorganisasikan data-data, memilah-milahnya menjadi satuan
yang dapat dikelola, mensistensikannya, mencari dan menemukan
pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan
memutuskan ayang yang akan diceritakan kepada orang lain.20
20
21
Analisis data dalam penelitian kualitatif selalu bersifat induktif,
kegiatan analisisnya terjadi bersamaan dengan reduksi data, display
data, dan penarikan kesimpulan.
a. Reduksi data
Reduksi data dengan melakukan pemilihan dan
menganalisa data-data yang didapat. Mereduksi data berarti
merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada
hal-hal yang penting, dicaritema dan polanya dan membuang
yangtidak perlu. Proses reduksi data ini dilakukan oleh peneliti
secara terus menerus aat melakukan penelitian untuk
menghasilkan data sebanyak mungkin. Dalam eduksi data ini
peneliti memilih data-data yang telah diperoleh selama
melakukan proses pra penelitian atau sebelum penelitian
dilakukan yaitu ketika peneliti menjalankan observasi di
SMPN 3 Pulung Ponorogo. Hal ini dilakukan dengan
menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data
yang tida perlu dan mengorganisasikan data sehingga
kesimpulan finalnya diverifikasi, setelah itu dilakukan
penelitian secara mendalam.
22
Display data, dari sebagian data yang telah didapat
akan langsung diolah sebagai setengah jadi yang nantinya
anakn dimatangkan melalui data-data selanjutnya.
c. Verifikasi dan penarikan kesimpulan
Verifikasi dan penarikan kesimpulan merupakan suatu
kegiatan dari konfigurasi yang utuh, membuat rumusan
proposisi yang terkait dan mengangkatnya sebagai temuan
penelitian. Dari sini peneliti akan memulai mencari arti dari
setiap data yang terkumpul, menyimpulkan serta menverifikasi
data tersebut.
Pada tahap reduksi data peneliti berusaha untuk
memilah-milah data-data yang dianggap penting dan akurat.
Baik data dari sumber primer maupun dari data sumber
sekunder, oleh karena itu, pada tahap ini membutuhkan
ketelitian dan kecermatan agar tidak salah dalam memilih data
yang paling akurat.
Berikutnya dari data yag diperoleh dan dipilih mana
yang akurat, akan diolah menjadi setengah jadi. Hal tersebut
berlangsung sementara, karena jika ada data baru yang lebih
akurat, maka data sebelumnya akan dihapus, ini terjadi pada
23
Tahap berikutnya adalah verifikasi pemikiran
kesimpulan setelah data yang diperoleh dari penelitian di
SMPN 3 Pulung, tentang gangguan mood yang dialami siswi
yang mengalami gangguan mood di SMPN 3 Pulung , maka
diambil kesimpulan yang akan menjadi temuan dalam
penelitian.
7. Teknik pemeriksaan keabsahan data
Dalam penelitian ini teknik pemeriksaan keabsahan data yang
digunakan yaitu:
a. Perpanjang keikutsertaan, peneliti dengan perpanjang keikutsertaan
akan banyak mempelajari perkembangan bimbingan konseling, dapat
menguji ketidakbenaran informasi yang diperkenalkan oleh distori,
baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari informn serta
membangun kepercayaan subyek. Perpanjang keikutsertaan juga
menuntun peneliti terjun ke sekolah secara langsung dengan waktu
yang cukup panjang guna mendeteksi jika ditemukan data yang tidak
valid. Dalam perpanjangan keikutsertaan, pemeliti melakukannya
dengan cara mengamati dan menganalisis kegiatan siswa yang
mengalami gangguuanmooddi SMPN 3 Pulung .
b. Pemerisaan sejawat melalui diskusi, teknik ini dilakukan dengan
dengan mengekpose hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh
24
dilakukan adalah mengumpulkan rekan-rekan yaang memiliki
pengetahuan tentang pengetahuan terapi rasional emotif behavior
dalam mengatasi ganguan mood, sehingga bersama mereka peneliti
dapat me-review persepsi, pandangan dan analisis yang sedang
dilakukan.
c. Kemudian trianggulasi teknik ini merupakan pemeriksaan keabsahan
data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Trianggulasi merupakan
cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan konstruksi
kenyataan yang ada dalam suatu studi sewaktu mengumpulkan data
tentang berbagai kejadian dalam berbagai pandangan. Peneliti
melakukannya dengan cara mengajuan berbagai macam pertanyaan
kepada informan, mengecek dengan sumber-sumber data yang
didapat, serta memanfaatkan berbagai metode agar pengecekan
kepercayaan data dapat dilakukan.
G. Sistematika Pembahasan
Agar memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh mengenai
pembahasan penelitian ini, maka peneliti menulis dan merincikan dalam
sistematika pembahasan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini membahas tentang penjelasan latar belakang masalah serta hubungan
25
belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi konsep,
metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB II KAJIAN TEORI
Pada bab ini mendiskripsikan kajian pustaka berisi uraian tentang landasan teori
yang bersumber dari kepustakaan. Pada bab ini terdiri dari kajian pustaka yang
berkaitan dengan terapi rasional emotif behavior dan gangguanmood
BAB III PENYAJIAN DATA
Bab ini membahas tentang deskripsi umum objek penelitian dan deskripsi
hasil penelitian. Deskripsi umum objek penelitian meliputi penyajian data, di
dalam penyajian terdapat dua isi, antara lain: deskripsi uum objek penelitin yang
meliputi: lokasi penelitian, deskripsi konselor, deskripsi konseli, deskripsi
masalah, dan yang selanjutnya yaitu tentang deskripsi proses penanganan
gangguan mood pada siswi di SMPN 3 Pulung Ponorogo dengan rasional emotif
behavior teraphy (REBT), deskripsi hasi penanganan gangguan mood pada siswi
di SMPN 3 Pulung Ponorogo dengan rasional emotif behavior teraphy (REBT)
BAB IV ANALISIS DATA
Pada bab ini memaparkan tentang analisa: Analisis data tentang penanganan
gangguan mood pada siswi SMPN 3 Pulung ponorogo dengan rasional emotif
behavior teraphy (REBT), analisis data tentng hasil penanganan gangguan mood
pada siswi SMPN 3 Pulung Ponorogo dengan rasional emotif behavior teraphy
(REBT).
26
Bab ini merupakan bab terakhir dari skripsi yang meliputi kesimpulan yang
isinya lebih bersifat konseptual dan harus terkait langsung dengan rumusan
masalah dan tujuan penelitian. Kemudian saran, yang berupa rekomendasi dari
hasil penelitian yang terkait dengan hasil penelitian. Serta bagian akhir yaitu
26 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Islam 1. Bimbingan
Istilah bimbingan terjemahan dari bahasa inggris “guidance” dengan
asal katanya “guide” yang diartikan sebagai menuntun, memimpin,
menunjukkan jalan, memberi petunjuk, mengatur, mengarahkan, dan memberi
nasehat.1
2. Konseling
Konseling terjemahan dari bahasa inggris “counseling” dengan asal
katanya “counsel” yang diambil dari bahasa Latin yaitu “counsilium”, artinya
bersama atau bicara bersama. Pengertian bicara bersama-sama dalam hal ini
adalah pembicaraan konselor (counselor) dengan seorang atau beberapa klien
(counselee).2
Dari uraian tersebut dapat diartikan konseling adalah sebagai kegiatan
pemberian nasehat, pemberian anjuran untuk melakukan sesuatu atau
mengadakan pembicaraan dengan bertukar pikiran tentang sesuatu.3
3. Bimbingan dan koseling islam
1
Shahudi Siradj, Pengantar Bimbingan Dan Konseling, (Surabaya: PT Revka Petra Media, 2012), Hal 4
2
Latipun,Psikologi Konseling,(UMM Press, 2002), Hal 4 3
27
Hakikat bimbingan dan konseling islam adalah upaya membantu
membantu individu belajar mengembangkan fitrah dan atau kembali kepada
firah, dengan cara memberdayakan (empowering) iman, akal, dan kemauan
yang dikaruniakan Allah SWT. Kepadanya untuk mempelajari tuntunan Allah
dan rasulnya, agar fitrah yang ada pada individu itu berkembang dengan benar
dan kukuh sesuai tuntunan Allah SWT.
Dari rumusan diatas tampak, bahwa konseling islami adalah aktifitas yang
bersifat “membantu”, dikatakan membantu karena pada hakikatnya individu sendirilah yang perlu hidup sesuai tuntunan Allah (jalan yang lurus) agar
mereka selamat. Karena konselor bersifat membantu, maka konsekuensinya
individu sendiri yang harus aktif belajar memahami dan sekaligus
melaksanakan tuntunan islam (al-Qur’an dan sunah rasul-nya). Pada akhirnya
diharapkan agar individu selamat dan memperoleh kebahagiaan yang sejati di
dunia dan akhirat, bukan sebaliknya kesengsaraan dan kemelaratan didunia
dan akhirat.4
Pihak yang membantu adalah konselor, yaitu seorang mukmin yang
memiliki pemahaman yang mendalam tentang tuntunan Allah dan
menaatinya. Bantuan itu terutama berbentuk pemberian berbentuk dorongan
dan pendampingan. Dalam memahami dan mengamalkan syari’at islam.
Dengan memahami dan mengamalkan syari’at islam itu diharapkan segala
4
28
potensi yang dikaruniakan Allah kepada individu bisa berkembang optimal.
Akhirnya diharapkan individu menjadi hamba Allah yangmuttaqin mukhlisin,
mukhsinin, dan mutawakkilin; yang terjauh dari godaan setan, terjauh dari
tindakan maksiat, dan iklas melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.
B. Tinjauan tentangTerapi Rasional Emotif Behavior
1. PengertianTerapi Rasional Emotif Behavior
Terapi rasional emotif behavior sering dikenal dengan rational emotive
behavioral therapy (REBT) yang dipopulerkan oleh Albert Ellis pada tahun
1995, seorang ahli klinik psikologi setelah menimba pengalaman dari praktik
yang dilakukannya dalam konselng keluarga, perkawinan, dan seks. REBT
dulunya disebut dengan RET menjadi Rasional Emotive Behavioral Therapy
(REBT)
Pada mulanya Albert Ellis menggunakan prosedur Psikoanaisis dalam
praktiknya, tetapi dia menemukan ketidak puasan dengan prosedur tersebut.
Akhirnya dia mengembangkan teori Rasional Emotif Behavior Terapy.5
Terapi Rasional Emotive Behavior adalah terapi behavior kognitif yang
menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku, dan pikiran.6
Menurut Latipun dalam bukunya Psikologi konseling bahwa Terapi
Rasional Emotive Behavior adalah salah satu terapi yang menaruh perhatian
5
John Mc Leod,Pengantar Konseling Teori dan Studi Kasus(Jakarta: Open University Press, 2003), hal. 150
6
29
pada asumsi manusia bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk
berfikir rasional dan jujur maupun berfikir irrasional dan jahat sehingga
individu akan menjadi lebih produktif dalam kehidupannya.7
Menurut WS. Winkel dalam bukunya Bimbingan dan konseling di intuisi
pendidikan mengatakan bahwa Terapi Rasional Emotif Behavioradalah corak
konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berfikir dengan
akal sehat (Rational Thinking), dan berperasaan (Emoting), dan berperilaku
(Acting), sekaligus menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam
dalam cara berfikir dan berperasaan dapat mengakibatkan perubahan yang
berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku.8
Menurut Gerald Corey dalam bukunya teori dan praktek Konseling dan
Psikoterapi, Terapi Rasional Emotif Behavior adalah pemecahan masalah
yang menitik beratkan pada aspek berfikir, menilai, memutuskan, direktif
tanpa lebih banyak berurusan dengan dimensi-dimensi perasaan.9 Sedangkan
menurut Singgih D Gunarsih mengatakan bahwa Terapi Rasional Emotiv
Behavior adalah suatu teknik pendekatan yang berusaha memperbaiki pola
pikirnya yang irrasional. Jadi disini Terapi Rasional Emotif Behavior dilihat
sebagai usaha untuk mendidik kembali (reducation), jadi terapis bertindak
7
Latipun,Psikologi Konseling, (Malang: UMM Press, 2005), hal 201
8
WS. Winkel,Bimbingan dan Konseling di Intuisi Pendidikan, (Semarang: Satya Wacana, 2008), hal. 364
9
30
sebagai pendidik dengan antara lain memberi tugas yang harus dilakukan
klien srta memberikan terapi untuk memperkuat proses berfikirnya.10
Dari beberapa pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa
Terapi Rasional Emotif Behavior merupakan terapi yang berusaha
menghilangan cara berfikir klien yang tidak logis dan irrasional serta
menggantinya dengan sesuatu yang logis dan rasional dengan cara
mengkonfrontasikan klien dengan keyakinan-keyakinan irrasionalnya serta
menyerang, menentang, mempertanyakan, dan membahas
keyakinan-keyakinan yangirrasionalsehingga klien akan menjadi efektif dan bahagia.
2. Hakikat Manusia MenurutTerapi Rasional Emotif Behavior
Terapi Rasional Emotif Behavior adalah aliran psikoterapi yang
berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk
berfikirrasional dan jujur maupun untuk berfikir irrasionaldan jahat. Secara
umum ada dua prinsip yang mendominasi manusia, yaitu fikiran dan perasaan.
Terapi Rasional Emotif Behavior beranggapan bahwa setiap manusia yang
normal memiliki pikiran, perasaan, dan perilaku yang ketiganya berjalan
secarastimulan.11
Manusia memiliki kecnderungan-kecenderungan utuk memelihara diri,
berbahagia, berfikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang
10
Singgih D Gunarsih,Konseling dan Psikoterapi, (Jakarta: BPK Gunung Mulya, 2000), hal. 236
11
31
lain, serta tmbuh dan mengaktulisasikan diri. Akan tetapi manusia juga
memiliki kecenderungan-kecenderugan mengarah menghancurkan diri,
menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan
yang tidak berkesudahan tahayul, intoleransi, perfeksionisme, dan mencela
diri serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri.12
Menurut Dra. Gantina Komalasari dalam bukunya Teori dan Praktek
Konseling pendekatan Rastional Emotif Behavior Terapy (REBT)
memandang “manusia sebagai individu yang didominasi oleh sistem berfikir dan sistem perasaan yang berkaitan dalam sistem psikis individu.
Keberfungsian individu secara psikologis ditentukan oleh pikiran, perasaan,
dan tingkah laku. Tiga aspek ini saling berkatam karena satu aspek
mempengaruhi aspek yang lainnya”.13
Dalam Terapi Rasional Emotif Behavior teori ini memiliki beberapa
asumsi kebahagiaan dan ketidakbahagiaan dalam hubungannya dengan
dinamika perasaan dan pikiran. Ellis (1994) merumuskan hakikat manusia itu
dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya:
a. Individu pada dasarnya unik, yang memiliki kecenderungan untuk
berfikir rasional dan irasional
b. Reaksi emosional dilatar belakangi oleh intropeksi diri, interpretasi,
dan filosofi yang didasari ataupun tidak didasarioleh individu
12
Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi,(Bandung: Eresco, 1997), hal. 241
13
32
c. Hambatan psikologis dan emosional adalah akibat dari cara berfikir
yang tidak logis dan irrasional
d. Berfikir irrasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang
diperoleh dari orang tua dan kultur tempat dibesarkan.
e. Berfikir secara irrasional akan tercermin dari verbalisasiyang
digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berfikir
yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan verbalisasi yang
tepat pula.
f. Menunjukkan pada klien bahwa verbalisasi diri telah menjadi
hambatan emosional.
g. Membenarkan bahwa verbalisasi diri adalah tidak logis dan irrasional
h. Membenarkan dan meluruskan cara berfikir dengan verbalisasi diri
yang lebih logis dan efisien.14
Perasaan dan berfikir negatif dan penolakan diri harus dilawan dengan
cara befikir yang rasional dan logis yang dapat diterima dengan akal sehat,
serta menggunakan verbalisasi yang rasional.15 Dengan begitu prasangka dan
pemikiran negatif itu akan terkalahkan oleh hal-hal positif.
Landasan filosofis terapi rasional emotif behavior tentang manusia
tergambar daam Quontation dari Epictetus yang dikutip oleh Ellis. “Men are
14
Namora Lumongga Lubis,Memahami Dasar-Dasar Konseling dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: Kencana, 2011), hal. 159
15
33
disturbed not by things, but by the views which they take of them” (mereka
terganggu bukan karena sesuatu, tetapi pandangan terhadap sesuatu).16
Menurut Ellis seperti yang dikutip dalam buku Gerald Corey,
“gangguan emosi karena pada dasarnya erdiri atas kalimat atau arti-arti yang
keliru, tidak logis, dan tidak bisa disahihkan, orang yang terganggu secara
dogmatis dan tanpa kritik, dan terhadapnya beremosi atau bertindak sampai
kalah”.17 Dari itulah akhirnya muncul pikiran-pikiran irrasional yang
mengganggu manusia dalam berfungsi sebagaimana mestinya. Rasional
Emotif Behavior Terapy berasumsi bahwa berfikir logis itu tidak mudah.
Kebanyakan individu cenderung ahli dalam berfikir tidak logis, contoh
berfikir tidak logis yang banyak menguasai individu adalah:
a. Saya harus sempurna
b. Saya baru saja melakukan kesalahan, bodoh sekali
c. Ini adalah bukti bahwa sya tidak sempurna, maka saya tidak
berguna.18
Berfikir irrasional mengarah pada kebencian terhadap diri yang
mengarah pada tingkah laku yang merusak diri sendiri, kemudian individu
16
Gantina Komalasari,Teori dan Praktek Konseling(Jakarta: PT Indeks, 2011), hal. 203
17
Gerald Corey,Teori dan Praktek Konselig dan Psikoterapi, (Bandung: Rafika Aditama, 2009), hal. 243
18
34
akan membenci orang lain juga sehingga pada akhirnya menyebabkan
bertindak irrasional kepada orang lain secara terus menerus.
3. Konsep Teori Kepribadian dalam Rasional Emotif Therapy
Untuk memahami dinamika kepribadian dalam pendangan Terapi
Rasional Emotif Behavior perlu memahami konsep-konsep dasar yang
dikemukakan Ellis:
“ada tiga hal yang terkait dengan perilaku yaitu Antecedent Event(A), Belive
(B), dan Emotional Consequence (C) yang kemudian dikenal dengan rumus
A-B-C”19
Antecendant Event (A) merupakan keberadaan suatu fakta, suatu
peristiwa tingkah laku atau sikap seseorang. Seperti perceraian, kelulusan bagi
siswa, dan juga ujian skripsi juga menjadi Antecendant Event bagi sesorang.
Belive (B) merupakan keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri
individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam yaitu
keyakinan yang rasional (rasional belive atau rB) dan keyakinan yang tidak
rasional (irrasional belive atau iB).
Emotional Consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai
akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan
emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A).Kalau digambarkan
19
35
hubungan antara peristiwa, sistem keyakinan dan reaksi seperti gambar
sebagai berikut:
A B C D
Setelah ABC menyusul D yaitu penerapan D metode ilmiah untuk
membantu konseling menantang keyakinan emosional yang telah
mengakibatkan gangguan-gangguan emosi dan tingkah laku.20
Terapi Rasional Emotif Behavior tentang kepribadian menggunakan
formula ABC, akan tetapi dilengkapi oleh Ellis sebagai teori konseling
menjadi ABCDE (Antecendent event-Belive-Emotional
consequensi-Disputting-Effect). Effect yang dimaksud disini adalah keadaan psikologis
yang diharapkan terjadi pada klien setelah mengikuti proses konseling.
Jadi sistem keyakinan individu dalam Terapi Rasional Emotif
Behavior berkisar pada dua kemungkinan yaitu rasional atau tidak rasional.
Jika individu mampu berfikir rasional maka tidak akan mengalami hambatan
emosional, begitu juga sebaliknya.
4. Karakteristik Keyakinan Irrasional dalam Terapi Rasional Emitif Behavior
Menurut Nelson Jones yang dikutip oleh Latipun, karakteristik cara
berfikir irrasional yang dapat dijumpai secara umum adalah sebagai berikut:
a. Terlalu menuntut
20
36
Menurut rasional emotif behavior tuntutan, perintah dan
permintaan berlebihan dibedakan dengan hasrat, fikiran, dan
keinginan. Hambatan emosional terjadi ketika individu menuntut
“harus” merupakan cara berfikir absolut tanpa tolenransi-tuntutan
itu dapat membuat individu mengalami hambatan.
b. Generalisasi secara berlebihan
Generalisasi secara berlebihan (over generalization) yaitu individu
yang menganggap sebuah peristiwa atau keadaan di luar adalah
batas-batas yang wajar. Over generaalization dapat dilihat secara
sistematik seperti “saya orang yang paling bodoh di dunia ini”. Ini
adalah over generalization karena kenyataannya dia bukan orang
bodoh “saya tidak memiliki kemampuan apapun untuk melakukan
sesuatu”, dan sebagainya.
c. Pada dasarnya seseorang dapat memiliki sifat-sifatyang
menguntungkan dan tidak menguntungkan. Yang terpenting adalah
sesorang dapat menerima dirinya tanpa syarat (inconditioning
sel-regard). Sesuatu yang irrasional jika seseorang menilai dirinya
(self rating).21
d. Penekanan (awfulizing)
Memiliki makna yang hampir sama dengan demandigness. Jika
demandigness menunntut dengan harus tetapi dalam awfulizing
21
37
tuntutan atau harapan itu mengarah ada upaya peningkatan secara
emosional dicampur dengan kemampuan untuk problem solving
yang rasional. Penekanan ini akan mempengaruhi klien dalam
memandang actecedent event secara tepat dan karena itu
digolongkan sebagai cara berfikir yang irrasional
e. Kesalahan melakukan atribusi (atrtribution eror)
Kesalahan dalam menetapkan sebab dan motivasi perilaku baik
dilakukan sendiri maupun orang lain atau sebuah peristiwa.
Keslahan atribusi adalah sama dengan alasan palsu dari seorang
atau orang lain dan umumnya menimbukan hambatan emosional.22
f. Anti pada kenyataan (anti empiricism)
Hal ini terjadi karena menunjukkanfakta empiris secara tepat.
Orang yang berkeyakinan secara irrasional, pertamakali cenderung
kuat untuk memaksa keyakinan yang irrasional dan menggugurkan
sendiri gagasan yang sebenarnya irrasional. Orang yang rasional
akan dapat menunjukkan fakta secara empiris.
g. Repetisi
Keyakinan yang irrasional cenderung terjadi berulang-ulang.
Sebagaimana yang ditekankan pada Ellis seseorang yang
22
38
cenderung mengajarkan dirinya sendiri dengan
pandangan-pandangan menghambat dirinya.23
Hal ini akan berakibat negatif karena cenderung tida konsisten dan
selalu menuntut kesempurnaan, yang terbaik adalah menerima dirinya (self
acceptence)dan tidak melakukan penilaian terhadap dirinya (self evaluating).
Sebagaimana yang ditekankan oleh Ellis, seseorang cenderung mengajarkan
diri sendiri dengan pandangan-pandangan yang menghambat dirinya.
5. Perilaku Bermasalah
Perilaku yang bermasalah adalah perilaku yang didasari pada cara
berfikir yang irrasional yang berlaku secara universal, indikator orang yang
berkeyakinan irrasional tersebut sebagai berikut:24
a. Pandangan bahwa suatu keharusan bagi orang dewasa untuk
dicintai oleh orang lain dan segala sesuatu yang dikerjakan.
Seharusnya mengahargai diri sendiri (self-respect) dan
memenangkan tujuan-tujuan praktis dan mencintai dari pada
menjadi obyek yang dicintai.
b. Pandangan bahwa tindakan tertentu adalah mengerikan atau jahat,
dan orang yang melakukan tindakan demikian sangat terkutuk,
seharusnya berpandangan bahwa tindakan tertentu adalah
23
Latipun,Psikologi Konseling, (Malang; UMM Press, 2005), hal. 125
24
39
kegagalan diri atau antisosial orang yang melakukan tindakan
demikian adalah melakukan kebodohan ketidaktahuan atau
neurosis, akan lebih baik jika ditolong untuk berubah orang yang
berperilaku malang tidak membuat mereka manjadi individu yang
buruk.25
c. Pandangan yang menganggap bahwa hal yang mengerikan tidak
dinginkan oleh diri seseorang, seharsnya berpandangan menjadi
lebih baik, untuk mengubah atau mengendalikan kondisi yang
buruk. Bahwa yang berkeyakinan menjadi lebih memuaskan. Dan
jika hal itu tidak memungkinkan untuk sementara menerima dan
segera baik-baik mengubah keadaan.
d. Pandangan bawasannya kesengsaraan (permasalahan) itu muncul
karena faktor eksternal dan permasalahan yang menimpa melalui
perantara orang lain atau bisa dikatakan bahwasannya
permasalahan yang menimpa seseorang itu karena perbuatan orang
lain. Sehingga hanya mendapatkan akibat dari perbuatan orang
lain.26
e. Seseorang yang menganggap berbahaya bagi dirinya sendiri, itu
manjadi hal yang menakutkan, yang selalu dipikirkan disetiap
25
Imam Sayuti Farid,Pokok-Pokok Bimbingan Penyuluhan Agama Sebagai Teknik Dakwah, (Jakarta: Bulan Bintang, 2007), hal. 14
26
40
waktu karena seolah-olah hl yang menakutkan itu merupakan
ancaman yang menimbulkan masalah yang besar.27
f. Jika seseorang mempunyai anggapan jika lari dari tanggung jawab
dan meninggalkan permasalahan itu mudah dari pada
menghadapinya. Padahal lari dari permasalahan itu akan
menimbulkan permasalahan yang lebih besar lagi.
g. Jika manusia itu menganggap lebih baik menggantungkan
hidupnya kepada orang lain dibandingakan mandiri, karena dirasa
dirinya tidak mampu lagi mengahdapi permasalahan yang
dialaminya.
h. Selalu meremehkan hidupnya di dunia, sehingga tidak mempunyai
usaha untuk untuk membuat dirinya lebih baik dan selaras.28
Keyakinan-keyakinan yang irrasional tersebut aan menemui hasil akhir
reaksi emosional pada diri seseorang. Ellis memandang bawasannya keyakina
yang rasional akan menimbulkan perilaku yang tepat. Sebaliknya jika
seseorangberkeakinan irrasional akan menimbulkan emosional dan perilaku
yang salah dan negatif pula.29
6. Tujuan Rasional Emotif Behavior Teraphy
27
Latipun,Psikologi Konseling, (Malang; UMM Press, 2005), hal. 67
28
Gantina Komalasari,Teori dan Praktek Konseling(Jakarta: PT Indeks, 2011), hal.204
29
41
Tujuan Rational Emotive Behavior Therapy menurut Ellis yakni membantu
klien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik yang berarti
menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi-verbalisasi diri mereka telah
dan masih merupakan sumber utama dari gangguan-gangguan emosional yang
dialami oleh mereka.30 Sedangkan Tujuan dari Rational Emotive Behavior
Therapymenurut Mohammad Surya sebagai berikut:
a. Memperbaiki dan mengubah perilaku dan pola fikir yang irasional
dan tidak logis menjadi rasional dan lebih logis agar klien dapat
mengembangkan dirinya.
b. Menghilangkan gangguan emosional yang merusak.
c. Untuk membangun Self Interest, Self Direction, Tolerance,
Acceptance of Uncertainty, Fleksibel, Commitment, Scientific
Thinking, Risk Taking,danSelf Acceptance Klien.31
Berangkat dari pandangannya tentang hakikat manusia tujuan
konseling menurut Ellispada dasarnya membentuk pribadi yang rasional,
dengan jalan mengganti cara-cara berfikir yang irrasional itulah yang menjadi
individu mengalami gangguan emosional karena cara-cara berfikirnya harus
diubah menjadi yang lebih tepatyaitu cara berfikir yang rasional.32
30
Rochman Natawidjaya, Konseling Kelompok Konsep Dasar & Pendekatan (Bandung: Rizqi
Press, 2009), hal. 275 31
Mohammad Surya, Dasar-dasar Konseling Pendidikan (Konsep dan Teori)(Yogyakarta: Kota kembang, 2001)
32
42
Untuk mencapai tujuan-tujun konseling maka perlu pemahaman klien
tentang sistem keyakinan atau cara berfikirnya sendiri. Ada tiga tahaan
insight yang perlu dicapai dalamRasional Emotif Behavior Terapy
a. Pemahaman (insight)
Dicapai ketia klien memahami tentang penolakan diri dari yang
dihubungkan pada penyebab yang sebelumnya yang sebagian
besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa
yang diterima (antecendent event) yang lalu dan saat ini
b. Pemahaman terjadi ketika konselor atau terapis membantu klien
untuk memahami bahwa apa yang menganggu saat ini adalah
karena berkeyakinan yang irrasionalterus dipelajari dan yang
diperoleh sebelumnya.
c. Pemahaman yang dicapai pada saat konselor membantu klien
untuk mencapai pemahaman ketika tidak ada jalan lain untuk
keluar dari hambatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan
melawan keyakinan yang Irrasional.
Kesimpulan yang dapat diambil dari tujuan Rational Emotive
Behaviour Therapy di atas adalah menghilangkan gangguan emosional yang
dapat merusak diri (seperti benci, rasa bersalah, cemas, dan marah) serta
mendidik konseli agar mengahadapi kenyataan hidup secara rasional.33
7. Peran Konselor dalamTerapi Rasional Emotif Behavior
33
43
Peran konselor dalam pendekatan Terapi Rasional Emotif Behavior
adalah:
a. Aktif-direktif, yaitu mengambil peran lebih banyak untuk
memberikan penjelasan terutama pada awal konseling
b. Mengkonfrontasikan pikiran irrasional klien secara langsung
c. Menggunakan berbagai teknik untuk menstimulus klien untuk
berfikir dan mendidik kembali klien itu sendiri
d. Secara terus menerus menyerang pikiran irrasional klien
e. Mengajak klien untuk mengatasi masalahnya dengan kekuatan
berfikir bukan emosi
f. Bersifat didaktif dan filosofis34
Dalam meaksanakan Terapi Rasional Emotif Behavior konselor
diharapkan memiliki kemampuan berbahasa yang baik, karena dalam terapi
ini didominasi oleh teknik-teknik yang menggunakan pengolahan verbal.
Selain itu, secara umum konselor harus memiliki keterampilan untuk
membangun hubungan konseling.
8. Teknik-TeknikRasional Emotif Behavior Teraphy
Rational Emotive Behavior Therapy menggunakan berbagi teknik
yang bersifat kognitif, afektif, behavioral yang disesuaikan dengan kondisi
klien. teknik-teknikRational Emotive Behavior Therapysebagai berikut :
a. Teknik Kognitif
34
44
Adalah teknik yang digunakan untuk mengubah cara berfikir klien.
Dewa Ketut menerangkan ada empat tahap dalam teknik-teknik
kognitif:
1) Dispute kognitf (Cognitif Disputation)
Usaha untuk mengubah keyakinan irrasional klien melalui
philosophical persuatio, didactif presentation, socratic
dialogue, vicarius experiences, dan berbagai ekpresi verbal
lainnya. Teknik untuk melakukan cognitif disputation adalah
dengan bertanya (questioning)
2) Analisis rasional (Rational Analysis)
Teknik untu mengajarkan klien untuk mengajarkan klien
bagaimana membuka dan mendebat keyakinan irrasional
3) Dispute standard ganda (Doble Standard Dispute)
Mengajarkan klien melihat dirinya memilii standar ganda
tentang orang lain dan lingkungan sekitar
4) Skala katastropi (Catastrophe Scale)
Membuat proporsi tentang periswa-peristiwa yang meyakitkan,
misalnya dari 100% buatlah presentasi peristiwa yang
menyakitkan, urutkan dari yang paling tinggi presentase
sampai yang paling rendah.35
35
45
5) Devil’s Advocateatau (Rational Role Revelsal)
Meminta klien untuk memainkan peran yang memiliki
keyakinan rasional sementara konselor memainkan peran
menjadikan klien yang irrasional. Klien melawan keyakinan
konselor dengan keyakinan rasional yang diverbalisakan.
6) Membuat frem ulang (Reframing)
Mengevaluasi kembali hal-hal yang mengecewakan dan tidak
menyenangkan dengan mengubah frame berfikir klien.
b. TeknikImageri
1) Dispute imajinasi (Imaginal Dispution)
Strategi imaginal disputation melibatkan penggunaan
imageri. Setelah disputation secara verbal, konselor
meminta klien untuk membayangkan dirinya kembali
pada situasi yang menjadi masalah dan melibatkan
emosinya telah berubah. Bila ya maka konselor meminta
klien untuk mengatakan pada dirinya sebagai individu
yang berfikir rasional, bila belum maka pikiran irrasional
masih ada.
2) Kartu kontrol emosional (The Emotional Control
Card-ECC)
Alat yang dapat membantu klien menguatkan dan
46
beisi dua kategori perasaan paralel yaitu: perasaan yang
tidak seharusnya atau yang merusak diri dan perasaan
yang sesuai dan tidak merusak diri.
3) Teknik melebih-lebihkan (The Blow Up Technique)
Meminta klien membayangkan kejadian yang
menyakitkan atau kejadian yang menakutkan, kemudian
melebihlebihkan pada taraf yang paling tinggi. Hal ini
bertujuan agar klien dapat mengontrol ketakutannya.
4) Proyeksi waktu (Time Projection)
Meminta klien untuk menvisualisasikan kejadian yang
tidak menyenangkan ketika kejadian itu terjadi, setelah itu
membayangkan bagaimana seminggu kemudian, sebulan
kemudian, enam bulan kemudian, setahun kemudian, dan
seterusnya. Bagaimana klien merasakan perbedaan tiap
waktu yang dibayangkan klien dapat membutuhkan
penyesuaian
c. Teknik-TeknikBehavioristik
Terapi Rasional Emotif Behavior banyak menggunakan
teknik behavioristic terutama dalam hal upaya modifikasi perilaku
47
tidak rasional dan tidak logis, beberapa teknik yang tergolong
Behavioristikadalah:36
1) Dispute tingkah laku (Behavioral Disputation)
Memberi kesempatan pada klien untuk mengalami kejadian
yang menyebabkannya berfikir irrasional dan melawan
keyakinannya tersebut.
2) Bermain peran (Role Playing)
Dengan bantuan konselor klien melakukan role playing
tingkah laku baru yang sesuaidengan keyakinan
irrasionalnya.
3) Teknik peran rasional terbalik (Rational Role Reveral)
Meminta klien untuk memainkan peran yang memiliki
keyakinan irrasional begitu sebaliknya.
4) Pengalaman langsung (Exposure)
Klien sengaja memasuki situasi yang menakutkan, proses
ini dilakukan melalui perencanaan dan penerapan
keterampilan mengatasi masalah (copying skill)
5) Menyerang masa lalu (Shame Attacking)
Melakukan konfrontasi terhadap ketakutan untuk mau
dengan secara sengaja bertingkah laku yang memalukan
dan mengundang ketidak setujuan lingkungan sekitar,
36