Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata
Satu (S-1) dalam Ilmu al-Qur’an dan Tafsir
Oleh:
SAHDAH DZAKIYAH NIM: E03213080
PRODI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
ABSTRAK
Sahdah Dzakiyah, “Penafsiran Sayyid Quthb Tentang Khima>r dalam Al-Qur’an Surat An-Nur Ayat 31.
Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana penafsiran Sayyid Quthb tentang ayat khimar dalam surat an-Nur ayat 31? 2) Bagaimana analisa penafsiran Sayyid Quthb terhadap surat an-Nur ayat 31?
Tujuan penelitian ini untuk memaparkan ayat tentang khimar menurut Sayyid Quthb serta mendiskripsikan analisa penafsiran Sayyid Quthb dalam surat an-Nur ayat 31.
Dalam menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini bersifat kepustakaan (library researching) yang langkah-langkahnya melalui penggalian dan penelususran terhadap kitab-kitab, buku-buku dan catatan-catatan yang berhubungan dengan penelitian ini. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan bentuk / model kualitatif yaitu untuk memperoleh data mengenai kerangka ideologis, epistomologis, dan asumsi-asumsi metodologis pendekatan terhadap kajian tafsir dengan cara menelusuri literatur yang terkait secara langsung.
Penelitian ini juga menggunakan metode tahlili dalam menafsirkan al-Qur’an,
Hasil penelitian menyimpulkan, dalam penafsiran Sayyid Quthb yang dimaksud khimar adalah kain penutup kepala, leher, dan dada untuk menutup godaan-godaan fitnah yang ada padanya. Namun permasalahanya para mufassir berbeda pendapat mengenai makna khimar. Ada yang berpendapat khimar itu adalah tutup kepala, dan ada juga yang memahaminnya bhawa khimar itu adalah kain kudung.
DAFTAR ISI
SAMPUL DALAM ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... ii
PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN ... iv
MOTTO ... v
PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
PEDOMAN TRANSLITERASI ... xiii
BAB I: PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah ... 9
C. Rumusan Masalah ... 10
D. Tujuan Penelitian ... 10
E. Kegunaan Penelitian ... 10
F. Penegasan Judul ... 11
G. Tela’ah Pustaka ... 12
H. Metode Penelitian ... 13
I. Sistematika Pembahasan ... 15
1. Riwayat Hidup dan Pendidikan ... 17
2. Karya-Karya Sayyid Quthb ... 22
3. Pemikiran Sayyid Quthb ... 25
B. Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an ... 28
1. Latar Belakang Penulisan ... 28
2. Metode dan Corak ... 34
BAB III: KHIMAR DALAM SURAT AN-NUR AYAT 31 TELAAH PENAFSIRAN SAYYID QUTH DAN ANALISIS TERHADAP PENAFSIRANNYA A.Tafsir Sayyid Quthb Terhadap Surat An-Nur Ayat 31 ... 39
B.Kontekstualisasi ... 56
BAB IV: PENUTUP A.Kesimpulan ... 65
B.Saran ... 66
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’a>n sebagai pedoman hidup umat Islam berisi pokok-pokok ajaran
yang berguna sebagai tuntunan manusia dalam menjalani kehidupan.1 Al-Qur’a>n
sebagai sumber hukum pertama, memuat tata nilai dan kehidupan yang sempurna,
pokok-pokok ajaran ketauhidan, ibadah, dan muamalah, janji dan ancaman yang
bersifat global dan universal.2
Manusia dalam kehidupannya membutuhkan aturan-aturan yang dapat
menuntun mereka ke jalan yang benar. Oleh karena itu, Allah menurunkan
al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dengan tujuan seluruh hamban-Nya dapat
mengikuti aturan dan petunjuk yang telah dibuat khusus untuk para hamba-Nya.
Dengan demikian al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia dalam menghadapi
berbagai problematika kehidupan. Tidak hanya dalam taraf itu saja, Allah juga
memerintahkan kepada manusia untuk selalu berpegang teguh dengan kalam-Nya.
Sebelum Islam datang, keadaan khususnya di daerah Arab , banyak terjadi
pelanggaran moral yang dilakukan oleh masyarakat setempat.
1 Tim penyusun MKD UIN Sunan Ampel; Surabaya, Studi Al-Qur’an, (Surabaya: UIN
Sunan Ampel Press, 2013), cet 3, 10.
2 Miftah Faridl dan Agus Syihabuddin, Al-Qur’an Sumber Islam yang Pertama,
pelanggaran yang dilakukan yang dilakukan oleh masyarakat waktu itu memang
benar-benar sebuah upaya menjauhkan dari risalah yang benar.3
Keinginan umat Islam untuk selalu mendialogkan al-Qur’an sebagai teks
yang terbatas, dengan perkembangan problem sosial kemanusiaan sebagai konteks
yang terbatas merupakan spirit tersendiri bagi dinamika kajian tafsir al-Qur’an. Hal
ini mengingat betapapun al-Qur’an turun di masa lalu, dengan konteks dan lokalitas
sosial budaya tertentu, tetapi ia mengandung nilai-nilai universal yang s}a>lih li kulli
zama>n wa maka>n. Karenanya, di era kontemporer yang dihadapi umat manusia.
Dengan kata lain, sebagai orang yang hidup di era kontemporer, kita tidak perlu
menggunakan kacamata orang dulu dalam menafsirkan al-Qur’an yang mengingat
problem dan tantangan yang kita hadapi berbeda dengan mereka.4
Seseorang yang telah menyatakan dirinya sebagai muslim harus
mematuhi aturan atau norma-norma yang ditetapkan oleh agama Islam. Aturan
atau norma tersebut mencakup beberapa dimensi diantaranya hubungan antara
manusiadan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan
manusia dengan dirinya sendiri. Jika perintah tersebut dipatuhi maka akan
mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Agama Islam sangat menghormati kedudukan seorang wanita, hal ini
dapat terlihat bagaimana Islam memperlakukan kaum Muslimahnya dari segala
aspek, termasuk tata cara berpakaian. Hal ini dimaksudkan tidak lain untuk
melindungi dan menjaga kehormatan kaum Muslimah.
3Zaidan, al-‘Ara Qabla Isla>m. (Kairo: Da>r al-Hila>l, 2006), 53.
4 Abdul Mustaqim, Metode Penelitian al-Qur’an dan Tafsir, (Yogyakarta: CV. Idea
Perhatian Islam terhadap wanita muslimah sungguh sangat besar, hal ini
agar mereka para wanita dapat menjaga kesuciannya, serta supaya menjadi wanita
yang mulia dan memiliki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Syarat-syarat yang
diwajibkan pada pakaian dan perhiasannya tidak lain adalah untuk mencegah
kerusakan yang timbul akibat tabarruj (berhias diri). Inipun bukan untuk
mengekang kebebasannya, akan tetapi sebagai pelindung baginya agar tidak
tergelincir pada lumpur kehinaan atau menjadi sorotan mata.
Pada dasarnya manusia memiliki kebiasaan untuk menyesuaikan perilaku
dirinya dengan pakaian yang ia pakai saat itu. Dimana saat tidak berpakaian
manusia seperti halnya perilaku manusia yang masih tertinggal peradabannya.
Manusia cenderung memiliki perilaku yang lebih bebas dan lebih agresif,
sedangkan saat berpakaian maka perilaku manusia diarahkan sesuai dengan kondisi
tempat dan pakaian yang sedang berlaku pada suatu daerah.
Masalah dalam penelitian ini secara garis besar adalah tentang ekspresi
kebahasaan dalam menafsirkan Khimar dalam surat an-Nur ayat 31 yang berarti
kain kudung(kerudung). Sebelum melangkah pada permasalahan dalam penelitian
ini, peneliti mencoba untuk melihat ruang definisi tersebut terlebih dahulu tentang
Khimar secara global. Kata Khimar dengan Jilbab memiliki kolerasi makna yang
hampir sama, tapi tidak sama. Jilbab itu memiliki arti yang lebih luas, karena Jilbab
dapat diartikan sebagai busana muslimah yang menjadi satu corak, yaitu busana
yang menutup seluruh tubuhnya, mulai dari atas kepala sampai kedua telapak
(kerudung) yang panjang agar dapat menutupi kepala hingga dada dan bagian
sekitarnya.
Di Indonesia istilah Jilbab sebelumnya dikenal dengan sebutan kerudung.
Baru sekitar tahun 1980-an istilah jilbab mulai populer dikalangan masyarakat.
Pada dasarnya memakai jilbab dianggap sebagai perilaku yang religius, tetapi
karena arus perkembangan zaman, memakai jilbab telah menjadi popularisasi dan
dianggap biasa saja oleh masyarakat.
Saat ini perkembangan fashion semakin pesat dengan berbagai jenis, motif
dan model, serta tak terkecuali jilbab. Sering kita jumpai jilbab saat ini dari yang
panjangnya sampai lutut atau bahkan hanya sampai leher saja, yang pasti
bermacam-macam. Biasanya yang memakai jilbab kebanyakan kaum remaja,
mahasiswa, bahkan ibu-ibu yang juga ingin tampil trendy. Pada dasarnya jilbab itu
dirancang dengan baju yang menutup aurat, yaitu baju yang tidak ketat dan
transparan sesuai dengan tuntunan syariat, namun melihat trend jilbab yang beredar
sekarang, jilbab disalahgunakan dan bertentangan tuntunan syariat Islam. Para
wanita memakai jilbab tapi berpakaian tipis, transparan dan ketat, sehingga
mempertontonkan lekuk tubuhnya. Dan ini menunjukkan bahwa jilbab bagi mereka
hanya sebagai trend atau simbol bukan Islami.
Islam menjelaskan tentang pentingnya pemakaian jilbab bagi muslimah
antara lain, untuk menutup aurat dan sebagai perhiasan bagi perempuan seperti
yang dijelaskan dalam QS. An-Nur ayat 31 tentang pentingnya pemakaian jilbab.
Kata jilbab secara epistomologi berasal dari bahasa Arab, dan bentuk jamaknya
pakaian luar yang lebar sekaligus kerudung yang bisa dipakai seorang perempuan
sebagai tameng untuk menghindari bahaya yang tidak diinginkan. Bahaya yang
dimaksud ada dua yaitu bahaya alamiah dan bahaya yang ada kaitannya dengan
kondisi alam, sperti cuaca panas dan dingin, sehingga seorang perempuan memakai
pakaian dengan tujuan untuk menjaga dirinya dari bahaya penyakit yang
diakibatkan oleh kondisi alam. Sedangkan bahaya sosiologis adalah bahaya yang
disebabkan oleh pakaian yang dikenakannya yang bisa menimbulkan perilaku atau
tindak kejahatan.5 Meskipun telah ada perintah untuk menutup aurat dengan
berjilbab, tetapi masih banyak perempuan muslim yang enggan berjilbab karena
kurang stylish. Jilbab yang seharusnya untuk menutup aurat malah dijadikan hanya
untuk membalut aurat saja. Maksudnya berjilbab dengan ketentuan yang mereka
buat sendiri tanpa memperhatikan tuntunan syariat, dengan alasan biar modis,
cantik dan tidak ketinggalan zaman. Berjilbab merupakan dorongan hati yang
paling dalam. Jangan berjilbab karena kondisi dan waktu tertentu, misalnya
berjilbab hanya pada waktu kuliah, sekolah, dan bekerja saja, diluar itu itu tidak
berjilbab.
Pemakaian jilbab pada wanita akan berpengaruh pada perilaku keagamaan
bagi mereka. Dengan berjilbab mereka dituntut untuk melaksanakan ibadah sesuai
dengan ajaran yang mereka anut seperti rajin shalat, mengaji atau berpuasa, karena
apabila mereka tidak melaksanakan itu semua mereka akan merasa malu dan
terkucilkan. Selain itu dari pandangan masyarakat bahwa orang yang memakai
jilbab adalah orang yang mempunyai sikap baik, dengan demikian mereka akan
menjaga sikap, perilaku dan akhlak mereka dimanapun mereka berada. Mereka juga
akan selalu berusaha lebih baik dalam mendalami ilmu pengetahuan terutama yang
berkaitan dengan hal keyakinan atau keagamaan, karena sebagai bukti identitas
mereka dalam memakai jilbab.6
Berbicara mengenai jilbab, banyak para mufassir yang berbeda pendapat
mengenai jilbab tersebut. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nur ayat 31:
ُقَو
اَم َِإ ُ َتَنيِز َ يِدۡ ُي
ََو ُ َجوُرُف َ ۡظَفۡحَيَو ِهِرٰ َصۡب
َ
َ
أ ۡ ِم َ ۡض ُضۡغَي ِ ٰ َنِمۡ ُ
ۡ
ِ ل
َء ۡو
َ
أ ِ ِ
ََ ُعُِِ َِإ ُ َتَنيِز َ يِدۡ ُي َََو ۖ ِ ِب ُيُج َٰ َل ِهِرُ ُ ِِ َ ۡبِ َۡۡ َۡۡو ۖاَ ۡ ِم َرَ َظ
ِِئ
كاَبا
َ
أ
ِ ِنَٰوۡخِإ ك َِِب ۡو
َ
أ ِ ِنَٰوۡخِإ ۡو
َ
أ ِ ِ
ََ ُعُب ِءكاَ ۡبَأ ۡوَأ ِ ِئكاَ ۡبَأ ۡوَأ ِ ِ ََ ُعُب ِءكاَباَء ۡو
ك َِِب ۡو
َ
أ
ِو
َ
أ ُ ُ ٰ َمۡي
أ ۡ َ َ َ اَم ۡو
َ
َ
أ ِ ِئكاَسِن ۡوَأ ِ ِتَٰوَخَأ
َيِعِ ٰتلٱ
ِِْو
ُ
أ ِ ۡۡ
َغ
َبۡرِ
ۡٱ
ۡ
َ ِم ِ
ِلاَجِ ر ٱ
ِو
َ
أ
ِ ۡفِ طلٱ
َ يَِٱ
ِتَٰرۡ َع ٰ
َ َل ْاوُرَ ۡظَي ۡ َ
ِء
كاَسِ نلٱ
ِم َيِفۡ ُُ اَم َ َ ۡعُ ِۡ ِ ِ ُجۡر
َ
ِب َ ۡبِ
َۡۡي َََو
َ
َِإ
ْاك ُب ُتَو ۚ ِ ِتَنيِز
ِّٱ
َ ي
أ اًعيِ ََ
َ
َن ُ ِمۡ ُ
ۡ
ٱ
َن ُحِ ۡفُت ۡ ُك َعَل
١
31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung
Ayat diatas Allah SWT memerintahkan kepada kaum muslimah agar tidak
memamerkan perhiasan kecuali sekadar yang biasa terlihat darinya seperti cincin
dan gelang tangan, serta wajib menutupi dada dan leher dengan selendang,
kerudung atau jilbab. Perhiasan hanya boleh diperlihatkan kepada sepuluh
kelompok manusia yang disebutkan dalam ayat tersebut, janganlah sengaja
menghentakkan kaki agar diketahui atau didengar orang pehiasan yang tersembunyi
(gelang kaki dan lain-lain).
Khimar berasal dari kata khamara, secara bahasa berarti menutupi, yang
tersusun dari tiga huruf, kha, ma, dan ra. Setiap kata atau kalimat yang terdapat dari
tiga huruf tersebut maknanya satu, yaitu tertutup atau menutupi.7 Minuman keras
dalam bahasa Arab juga memakai tiga huruf ini, yaitu khamr, bermakna
tertutupi.karena ketika seseorang meminum minuman keras atau khamr, akalnya
akan tertutupi oleh pengaruh minuman tersebut.8 Secara spesifik, Khimar adalah
kain yang menutupi kepala wanita.9 Sebagian ahli bahasa mengatakan Khimar
adalah yang menutupi kepala wanita. Jamaknya akhmarah, atau khumr, atau
khumur, atau khimir.10 Kata khumr bentuk jma’ dari kata khimar yang berarti
penutup kepala atau kerudung. Sedangkan kata yadribna berasal dari kata daraba
yang dalam susunan bahasa Arab jika disatukan dengan kata depan ‘ala maka
maknanya adalah meletakkan sesuatu di atas sesuatu. Adapun juyub (kerah baju)
dalam ayat ini dikiaskan sebagai penutup dada.
7Ahmad Ibn Faris, Maqayis al-Lughah, Vol. 2, (Kairo: Dar al-Fikr, 1979), 215. 8Muhammad Sayyid Thantawi, al-Tafsir al-Wasit li al-Qur’an al-Karim, Vol. 1, 479. 9Ibn Mandur, Lisan al-Arab, Vol. 12, 190.
Pada kata Khimar yang terdapat pada surat an-nur ayat 31 diatas, banyak
mufassir kontemporer yang mengartikan Khimar adalah kain yang menutupi wanita
dari kepala hingga menjulur ke dada mereka. Dalam tafsir Jalalain menjelaskan
makna Khimar yaitu menutupi kepala, leher serta dada mereka dengan qina’
(semacam kerudung).11 Ibnu Katsir menjelaskan, “kain atau kerudung yang
dijulurkan dari kepala hingga ke dada wanita.12 Al-Tabari juga menjelaskan hampir
sama serupa dengan Ibnu Katsir “kain yang dijulurkan ke dada wanita sehingga
tertutuplah rambut, leher dan anting-anting.13
Berangkat dari problema tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji lebih
jauh masalah penafsiran Sayyid Quthb tentang Khimar dalam al-Qur’an surat an
-Nur ayat 31. Dan dalam kitabnya menggunakan metode adabi Ijtima’i yang
menurut penulis sesuai dengan persoalan ini. Alasan penulis memilih mufassir ini
dikarenakan Sayyid Quthb ini menggunakan sumber-sumber primer yang
menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an dengan bahasa yang sedeharna dan mudah di
fahami. Dalam tafsir Fi Zhilal al-Qur’an, bahwasanya Sayyid Quthb juga
menggunakan metode tahlili yang mana penyajiannya sangat terperinci dengan
memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat yang ditafsirkan.14 Sayyid
Quthb juga menggunakan hadist-hadist Nabi Saw sebagai penjelas, sebagian
dengan menyebut perawi pertama dan terakhir, tanpa menyertakan rangkaian
11Jala>l al-Di<n al-Mahally dan Jala>l al-Di<n al-Suyu>t}iy, Tafsi<r Jala>layn, (Kairo: Da>r al-Hadis, t.th), 462
12Abu al-Fida>’ Isma’il ibn Kathir, Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Ad}zi>m, vol 6, (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiah, 1998), 42.
13Muhammah Ibn Jari>r al-T{abary, Ja<mi’ al-Baya>n fi> Ta’wi>l al-Qur’a>n, vol 19, 159. 14Nashrudin Baidan, Metodologi Penafsiran al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
sanadnya secara lengkap. Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an juga merupakan tafsir kontemporer yang actual dalam memberikan terapi berbagai persoalan dan
menjawab berbagai tuntutan abad modern berdasarkan petunjuk al-Qur’an. di
antara persoalan dan tuntutan abad modern yang paling menonjol adalah persoalan
seputar pemikiran, ideologi, konsepsi, pembinaan, hukum, budaya, peradaban,
politik, psikologi, spritualisme, dakwah, dan pergerakan dalam suatu rumusan
kontemporer sesuai dengan tuntutan zaman. Karena itu tafsir Fi Zhilal al-Qur’an
dapat dikategorikan sebagai tafsir corak baru yang khas dan unik, serta langkah
baru yang jauh dalam tafsir. Kemudian untuk corak tafsir Sayyid Quthb ini lebih
dominan Lughowi memakai pendekatan corak kebahasaan.
B. Batasan Masalah
Bertolak dari latar belakang diatas dan keterbatasan kemampuan
jangkauan penulis untuk menganalisis pemikiran Sayyid Quthb yang begitu luas
cakupannya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan kehidupannya, maka
penulis membatasi dan merumuskan masalah Khimar sebagaimana yang dijelaskan
menurut al-Qur’an (Telaah Penafsiran Sayyid Quthb Terhadap Surat an-Nur ayat
31). Membatasi dalam masalah yang diteliti yakni bagaimana penafsiran Sayyid
Quthb terhadap ayat-ayat Khimar yang di dalam surat an-Nuur ayat 31, kemudian
menitik beratkan pada analisa terhadap penerapan teori apa yang dipakai dalam
penafsiran Sayyid Quthb yang akan dibahas dalam peneliti, guna mengetahui
C. Rumusan Masalah
Dari pemaparan di atas, dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana penafsiran Sayyid Quthb tentang ayat Khimar dalam surat an-Nur
ayat 31?
2. Bagaimana kontesktualisasi penafsiran Sayyid Quthb terhadap surat an-Nur ayat
31?
D. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas, dapat disusun tujuan penelitian sebagai
berikut:
1. Untuk memamaparkan ayat tentang Khimar yang ditafsirkan Sayyid Quthb
2. Untuk mendiskripsikan kontekstualisasi Sayyid Quthb dalam menafsirkan
an-Nur ayat 31.
E. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan keilmuan dalam
bidang tafsir. Agar hasil penelitian ini jelas dan berguna untuk perkembangan ilmu
pengetahuan, maka perlu dikemukakan kegunaan dari penelitian ini, yaitu:
1. Kegunaan teoritis
Dengan adanya kajian ini, dapat menambah wawasan keilmuan khususnya
dijadikan sebagai literatur dan dorongan untuk mengkaji masalah tersebut lebih
lanjut.
2. Kegunaan praktis
Implementasi penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi yang
memberi solusi terhadap problematika yang terkait tentang masalah khimar.
F. Penegasan Judul
Agar terhindar dari kekeliruan dalam memahami penelitian yang berjudul
Penafsiran Sayyid Quthb tentang Khimar dalam al-Qur’an Surat an-Nur ayat 31.,
maka akan sedikit dijelaskan ulang bahwa pembahasan penelitian ini tertuju hanya
pada penafsiran Sayyid Quthb tentang Khimar dalam Surat an-Nur ayat 31, dengan
menggunakan pendekatan teori munasabah, teori ini nantinya akan menjadi titik
fokus dalam penelitian ini, yang mana konsekuensi penafsir yang menggunakan
dan sebaliknya. Karena, penelitian tersebut menjadi acuan terhadap bagaimana
penting teori itu diterapkan di dalam menafsirkan al-Qur’an, tentunya akan
menghasilkan tolak ukur seorang penafsir apakah itu dipahami atau tidak bisa
dipahami. Sehingga akan membuat ketidakjelasan di dalam sebuah penafsiran yang
dilakukan oleh ulama ahli di bidang tafsir tersebut. Meskipun nantinya ada
ayat-ayat pendukung. Akan tetapi, ayat-ayat-ayat-ayat pendukung disini hanya bersifat membantu
G. Telaah Pustaka
Telaah pustaka dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui
keorsinilan penelitian yang akan dilakukan. Dalam penelitian ini, setelah dilakukan
telaah pustaka, telah ditemukan beberapa karya yang membahas masalah yang
serupa dengan penelitian ini di antaranya:
1. Perbedaan Interaksi Sosial Siswa yang Berhijab dan Tidak Berhijab di SMAN 16 Surabaya Tahun Akademik 2013/2014, Priyo Abhi Sudewo, Tahun 2014. Skripsi mahasiswa UIN Sunan Ampel ini menjelaskan tentang di dalam batasan
umur kelompok remaja memiliki pengembangan sikap tersendiri. Mereka
mengalami perkembangan dari tidak menyukai lawan jenis menjadi menjadi
menyukai lawan jenis. Kesempatan dalam berbagai kegiatan sosial semakin luas,
yang menjadikan remaja memiliki wawasan yang lebih luas. Namun dalam
Islam sendiri memberikan sebuah sistem dalam berinterkasi sosial antar lawan
jenis dalam masyarakat yaitu sistem hijab yang dibuat untuk menanggulangi
perilaku buruk dari pihak pria karena terstimulus oleh bentuk tubuh wanita.
2. Analisis Hukum Islam Terhadap Pandangan Mahasiswa Fakultas Syari’ah daN
Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya tentang Busana Muslimah, Zandi Fathur Rohim, Tahun 2015. Skripsi mahasiswa UIN Sunan Ampel ini menjelaskan
bahwa ada dua persepsi kelompok pada mahasiswa tentang konsep berbusana
muslim, yaitu: kelompok pertama, hijab adalah perintah Allah dan Rasul-Nya
dengan dalil presepsi Qs. Al-A’raf ayat 26, kelompok kedua, persepsi bahwa
hijab merupakan pengaruh trend budaya yang diadopsi dari Arab yang dibawa
3. Aurat dalam Al-Qur’anPrespektif M. Quraish Shihab dan Ahmad Mustafa Al-Maraghi: Surat Al-A’raf ayat 26, An-Nur ayat 31, Al-Ahzab ayat 59, Hamzah Ainul Yaqin. Skripsi mahasiswa UIN Sunan Ampel ini menjelaskan tentang
penafsiran M. Quraish Shihab dan Ahmad Musthafa al-Maraghu tentang aurat
sebagai salah satu wacana bagi umat Islam terkait dengan berbagai macam
penafsiran yang muncul pada zaman dulu sampai sekarang.
4. Representasi PerempuanHijabers dalam Film Hijab (Analisis Semiotik Roland Barthes), Mia Rahayu, Tahun 2016. Skripsi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga ini berisi tentang hijab itu merupakan sebuah film religius yang menceritakan
tentang kehidupan empat sahabat perempuan yang berstatus sebagai ibu rumah
tangga, namun sati diantara mereka belum menikah. Film ini di kemas secara
modern dengan menekankan kepada fashion hijabnya.
5. Teknik Komunikasi Persuasif dalam Buku Hijab I’M In Love Karya Oki Setiana
Dewi, Febi Febiana, Tahun 2016. Skripsi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga ini
menjelaskan bahwa ada lima teknik komunikasi persuasif, yaitu cognitif
Dissonance, Pay-off Technique and Fear Hearing. Teknik Emphaty, Packing,
dan Asosiasi.
H. Metode Penelitian
Metode merupakan upaya agar kegiatan penelitian dapat dilakukan secara
optimal.15
15 Winarto Surahmad, Pengantar Metodologi Ilmiah Dasar Metode dan Teknik (Bandung:
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah library research. Dalam penelitian kepustakaan,
pengumpulan data-datanta diolah melalui penggalian dan penelusuran terhadap
kitab-kitab, buku-buku dan catatan lainnya yang memiliki hubungan dan dapat
mendukung penelitian.
2. Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
diantarannya adalah:16
a. Penulisan dalam berbagai literatur keperpustakaan.
b. Menelaah berbagai macam buku yang berkaitan dengan permasalahan yang
ada penulis teliti.
3. Teknik analisa data
Untuk sampai pada prosedur akhir penelitian, penulis menggunakan
metode analisa data untuk menjawab persoalan yang akan muncul dalam
penelitian ini, dalam hal ini penulis menggunakan analisi deskriptif yaitu
menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian (seseorang, lembaga,
masyarakat, dan lain-lain) berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana
adanya dengan menuturkan atau menafsirkan data yang berkenaan dengan fakta,
keadaan, variabel dan fenomena yang terjadi saat penelitian berlangsung dan
menyajikan apa adanya.17
16 Sugioyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D (Bandung: Alfabeta,
2008), 247.
17 Lexy J. Moleing, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdarya, 2002),
4. Sumber data
Sumber data yang digunakan sebagai landasan pembahasan dalam
penelitian ini mengambil sumber-sumber yang sesuai dan ada hubungannya
dengantopik pembahasan serta dapat dipertanggung jawabkan. Adapaun
sumber-sumbernya sebagai berikut:
a. Sumber primer
1. Tafsi>r Fi> Zila>l al-Qur’an karya Sayyid Quthb
b. Sumber sekunder
1. Studi Al-Qur’an karya TIM penyusun MKD UIN Sunan Ampel Surabaya
2. Al-Qur’an Sumber Islam yang Pertama karya Miftah Faridl dan Agus Syihabuddin
3. Metode Penelitian al-Qur’an dan Tafsir karya Abdul Mustaqim
4. Wawasan Al-Qur’an karya M. Quraish Shihab
5. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia karya Ahmad Warson Munawir.
6. Al-Mar’ah Al-Muslimah wa Qadhaya Al-Ashr atau Problematika Muslimah di
Era Modern karya Dr. Muhammad Haitsam Al-Khayyat.
7. Studi Kitab Tafsir Klasik Tengah karya Ahmad Baidowi.
8. Metodologi Penelitian al-Qur’an karya Nashruddin Baidan.
I. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan pada skripsi ini terdiri dari lima bab yang
masingmasing menempatkan titik berat yang berbeda, namun dalam satu kesatuan
Bab I, berisi pendahuluan yang meliputi: Latar Belakang Masalah,
Identifikasi dan Batasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan
penelitian, Telaah Pustaka, Metode Penelitian, Sistematika Pembahasan. Dalam
bab pendahuluan ini tampak penggambaran isi skripsi secara keseluruhan namun
dalam satu kesatuan yang ringkas dan padat guna menjadi pedoman bab kedua,
ketiga, dan keempat..
Bab II, berisikan tentang biografi Sayyid Quthb, mengupas metode, dan
corak yang digunakan dalam kitab tafsirnya Fi Zhilal al-Qur’an
Bab III, penulis akan mendiskripsikan penafsiran Sayyid Quthb dalam
surat an-Nur ayat 31, dan menganalisa penafsiran Sayyid Quthb dalam surat
tersebut.
Bab IV, berisi penutup, penulis akan menguraikan kesimpulan dan
BAB II
BIOGRAFI SAYYID QUTHB DAN KITAB TAFSIR
FI ZHILAL
AL-
QUR’AN
A. Biografi Sayyid Quthb
1. Riwayat Hidup dan Pendidikan
Nama lengkap Sayyid Quthb adalah Ibrahim Husain Syadzili. Ia lahir di
Mausyah, provinsi Asyuth Mesir pada tanggal 19 Oktober 1906. Al-Faqir
Abdullah adalah kakeknya yang ke-enam datang dari India ke Makkah untuk
beribadah haji. Setelah selesai haji, ia meninggalkan Makkah dan menuju
dataran tinggi Mesir. Kakeknya merasa takjub atas daerah Mausyah dengan
pemandangan-pemandangan, kebun-kebun sertakesuburannya. Maka akhirnya
ia pun tinggal disana. Di antara anakturunnya itu lahirlah Sayyid Quthb.1
Sayyid Quthb terlahir dari pasangan Al-Haj Quthb bin Ibrahim dengan
Sayyidah Nafash Quthb. Bapaknya merupakan seorang petani dan menjadi
anggota komisaris partai nasional di desanya. Rumahnya dijadikan markas bagi
kegiatan politik. Disamping itu juga dijadikan pusat informasi yang selalu
didatangi oleh orang-orang yang ingin mengikuti berita-berita nasional dan
internasional dengan diskusi-diskusi para aktivis partai yang sering berkumpul
di sana atau tempat membaca Koran.2 Ketika masih kuliah, Sayyid Quthb
ditinggal ayahnya untuk selamanya dan pada tahun 1941 ibunya juga meninggal.
Sepeninggal kedua orang tuanya, Sayyid Quthb merasa sangat kesepian. Akan
tetapi, dalam keadaan seperti itu berdampak positif bagi pemikiran dan karya
tulisnya.
Sayyid Quthb menempuh pendidikan dasar Selama 4 tahun, dan ketika
berumur sepuluh tahun Sayyid Quthb mendapat gelar tahfidz. Dengan
pengetahuannya yang luas tentang Al-Qur’an dalam konteks agama ia sering kali
mengikuti lomba hafalan Al-Qur’an di desanya. Dengan adanya bakat seperti itu,
Sayyid Quthb dipindah oleh orang tuanya ke pinggiran Kairo yaitu Halwan. Pada
tahun 1929, ia mendapat kesempatan untuk meneruskan studynya di sebuah
Universitas di Kairo atau dapat disebut dengan Tajhiziah Darul Ulum. Perguruan
tinggi ini merupakan Universitas yang terkemuka dalam bidang pengkajian ilmu
Islam dan sastra Arab. Empat tahun ia menekuni belajarnya di Universitas
tersebut, dan pada akhirnya ia lulus dalam bidang sastra dan diploma dibidang
Tarbiyah.
Setelah lulus kuliah, ia bekerja di Departemen Pendidikan dengan tugas
sebagai tenaga pengajar di sekolah-sekolah milik Departemen Pendidikan
selama enam tahun. Setelah itu ia berpindah kerja sebagai pegawai kantor di
Departemen Pendidikan sebagai pemilik untuk beberapa waktu, kemudian
berpindah tugas lagi di Lembaga Pengawasan Pendidikan Umum selama
2Nuim Hidayat, Sayyid Quthb Biografi dan Kejernihan Pemikirannya (Jakarta: Gema
delapan tahun. Sewaktu di lembaga ini, ia mendapat tugas belajar ke Amerika
Serikat untuk memperdalam pengetahuannya di bidang pendidikan selama dua
tahun. Ketika disana, ia membagi waktu studinya antara Wilson’s Teacher’s
College di Washington (saat ini bernama the University of the District of
Columbia) dan Greeley College di Colorado, lalu setelah selesai ia meraih gelar
MA di universitas itu dan juga di Stanford University. Setelah tamat kuliah ia
sempat berkunjung ke Inggris, Swiss dan Italia.
Sayyid Quthb adalah tokoh yang monumental dengan segenap
kontroversinya dan ia juga adalah seorang mujahid dan pemburu Islam
terkemuka yang lahir di abad ke-20. Pikiran- pikirannya yang kritis dan tajam
sudah tersebar dalam berbagai karya besar yang menjadi rujukan berbagai
gerakkan Islam.3 Tidak seperti rekan-rekan seperjuangannya, keberangkatannya
ke Amerika itu ternyata memberikan saham yang besar dalam dirinya dalam
menumbuhkan kesadaran dan semangat Islami yang sebenarnya, terutama
setelah ia melihat bangsa Amerika berpesta pora atas meninggalnya Al-Imam
Hasan Al-Banna pada awal tahun 1949. Hasil studi dan pengalamannya selama
di Amerika Serikat itu memberikan wawasan pemikirannya mengenai
problem-problem sosial kemasyarakatan yang ditimbulkan oleh paham materialisme yang
gersang akan paham ketuhanan.
Sayyid Quthb semakin yakin Ketika kembali ke Mesir bahwa Islamlah
yang sanggup menyelamatkan manusia dari paham materialisme sehingga
3K.Salim Bahnasawi, Butir- butir Pemikirannya Sayyid Quthb Menuju Pembaruan
terlepas dari cengkeraman material yang tidak pernah terpuas. Sekembali pulang
dari sana dalam kondisi lebih erat dalam berpegang kepada Islam dan lebih
mendalam keyakinannya terhadap pentingnya Islam serta berkewajiban untuk
berkomitmen dengannya. Ia berubah menjadi seorang muslim yang Amil (aktif)
sekaligus mujahid serta bergabung ke dalam barisan gerakan Islam sebagai
seorang tentara dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin yang ia mengikatkan
langkahnya dengan langkah jamaah ini serta mempercayakan prinsip-prinsip
keislamannya sepanjang hayatnya. Saat itu ia memegang sebagai Ketua
Penyebaran Dakwah dan Pemimpin Redaksi Koran Ikhwanul Muslimin.4
Sayyid Quthb ikut berpatisipasi di dalam memproyeksikan revolusi serta
ikut berpatisipasi secara aktif dan berpengaruh pada pendahuluan revolusi. Para
pemimpin revolusi terutama Gamal Abdul Nasser, ia sering ke rumah Sayyid
Quthb untuk menggariskan langkah-langkah bagi keberhasilan revolusi. Ketika
revolusi itu berhasil, maka Sayyid Quthb menjadi sangat dihormati dan
dimuliakan oleh para tokoh revolusi seluruhnya. Ia adalah orang sipil yang
terkadang menghadiri pertemuan-pertemuan Dewan Komando Revolusi
(Majelis Quyadah Ats-Tsaurah). Para tokoh revolusi pernah menawarkan padanya jabatan menteri serta kedudukan yang tinggi lainnya, namun sebagian
besar ditoalaknya. Dalam waktu yang tidak begitu lama, ia sudi bekerja sebagai
penasihat (musytasyar) Dewan Komando Revolusi dan bidang kebudayaan,
kemudian menjadi sekretaris bagi lembaga penerbitan pers.5 Tetapi kerja sama
Ikhwan dengan Nasser tidak langsung lama.
Sayyid Quthb kecewa karena kalangan pemerintah Nasser tidak menerima
gagasannya untuk membentuk negara Islam. Dua tahun kemudian, tepatnya
November 1954, ia ditangkap oleh Nasser bersama-sama penangkapan besar
besaran pemimpin Ikhwan. Ia bersama rekan rekannya di tuduh bersekongkol
untuk membunuh (subversif), melakukan kegiatan agitasi anti pemerintah dan
dijatuhi hukuman lima belas tahun serta mendapat berbagai jenis siksaan yang
kejam.
Sayyid Quthb ditahan di beberapa penjara Mesir hingga pertengahan tahun
1964. Ia dibebaskan pada tahun itu atas permintaan presiden Iraq yaitu Abdul
Salam Arif yang mengadakan kunjungan muhibah ke Mesir. Akan tetapi baru
setahun ia menghirup udara segar dengan bebasnya dari penjara, ia kembali
ditangkap bersama tiga orang saudaranya yaitu Muhammad Quthb, Hamidah
dan Aminah dan juga serta 20.000 orang lainnya yang ikut ditahan, diantaranya
700 wanita. Presiden Nasser lebih menguatkan tuduhannya bahwa Ikhwanul
Muslimin berkomplot untuk membunuhnya. Di Mesir berdasarkan
Undang-Undang Nomor 911 Tahun 1966, presiden mempunyai kekuasaan untuk
menahan tanpa proses, siapa pun yang dianggap bersalah, dan mengambil alih
kekuasaannya, serta melakukan langkah-langkah yang serupa itu.6
5Ibid., 11.
6Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedi islam 4 (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,
Sayyid Quthb bersama dua orang temannya menjalani hukuman mati pada
29 Agustus 1966. Pemerintah Mesir tidak menghiraukan protes yang
berdatangan dari Organisasi Amnesti Internasional, yang memandang proses
peradilan militer terhadap Sayydi Quthb sama sekali bertentangan dengan rasa
keadilan.7
Dalam pengakuannya pun ia merasa tak bersalah dan dizalimi:
Walaupun saya belum mengetahui fakta yang sebenarnya, telah tumbuh perasan dalam diri saya bahwa politik telah dirancang oleh Zionisme dan Salibisme-imperialis untuk menghancurkan gerakan Ikhwanul Muslimun di kawasan ini, guna mewujudkan kepentingan-kepentingan pihaknya. Mereka telah berhasil. Hanya pada waktu yang sama, ada usaha untuk menangkis rencana-rencana mereka dengan jalan membangkitkan dan menggiatkan kembali Gerakan Islam, walaupun pihak pemerintah, karena satu sebab atau lainnya, tidak menghendakinya. Pemerintah kadang-kadang benar dan kadang-kadang salah. Begitulah, saya dipenuhi perasaan dizalimi, sebagaimana yang telah diderita oleh ribuan orang dan ribuan keluarga, karena peristiwa yang jelas sekali sudah diatur walaupun pada waktu itu belum diketahui secara pasti siapa yang mengatur peristiwa itu dan karena keinginan mereka untuk mempertahankan pemerintah yang sah dari bahaya yang dibesar-besarkan oleh oknum-oknum yang tidak dikenal untuk tujuan yang jelas, melalui buku-buku, Koran-koran dan laporan mereka.8
Dengan demikian Sayyid Quthb dikenal sebagai seorang syahid yang
dalam hukuman, bersama teman satu selnya, Abdul Fatah Ismail dan
Muhammad Yusuf Hawwasy.
2. Karya-Karya Sayyid Quthb
Sayyid Quthb telah banyak menghasilkan sebuah karya, ia mulai
mengembangkan bakatnya menulis dengan membuat buku unutk anak-anak
yang meriwayatkan pengalaman (sejarah) Nabi Muhammad SAW dan
7Ibid., 146.
8Sayyid Quthb, Mengapa Saya Dihukum Mati?. Terj. Ahmad Djauhar Tanwiri, (Bandung:
cerita lainnya dari sejarah Islam. Perhatiannya kemudian meluas dengan menulis
cerita-cerita pendek, sajak-sajak, kritik sastra, serta artikel untuk majalah.
Karya-karya Sayyid Quthb sangat banyak yang beredar di kalanagan
Negara Islam. Bahkan beredar di kawasan Eropa, Afrika, Asia dan Amerika.
Dimana terdapat pengikut Ikhwanul Muslimin, dan hampir dipastikan disana ada
buku-bukunya, karena ia merupakan tokoh Ikhwan terkemuka. Adapun
karya-karya buku hasil torehan Sayyid Quthb adalah sebagai berikut:9
a. Muhimmatus Sya’ir fil Hayah wa Syi’ir Al-Jail Al-Hadhir, tahun terbit 1933.
b. As-Sathi’ Al-Majhul, kumpulan sajak Quthb satu-satunya, terbit Februari
1935.
c. Naqd Kitab Mustaqbal Ats-Tsaqafah di Mishr li Ad-Duktur Thaha Husain,
terbit tahun 1939.
d. At-Tashwir Al-Fanni fi Al-Qur’an, buku Islamnya yang pertama, terbitApril
1954.
e. Al-Athyaf Al-Arba’ah, ditulis bersama-sama saudaranya yaitu Aminah,
Muhammad dan Hamidah, terbit tahun 1945.
f. Thilf min Al-Qaryah, berisi tentang gambaran desanya, serta catatan masa kecilnya di desa, terbitan 1946.
g. Al-Madinah Al-Manshurah, sebuah kisah khayalan semisal kisah SeribuSatu Malam, terbit tahun 1946.
h. Kutub wa Syakhsyiat, sebuah studinya terhadap karya- karya pengaranglain, terbit tahun 1946.
i. Ashwak, terbit tahun 1947.
j. Mashahid Al-Qiyamah fi Al-Qur’an, bagian kedua dari serial Pustaka Baru
Al-Qur’an, terbit pada bulan April 1947.
k. Raudhatul Thifl, ditulis bersama Aminah As’said dan Yusuf Murad,terbit dua
episode.
l. Al-Qashash Ad-Diniy, ditulis bersama Abdul Hamid Jaudah As-Sahar. m.Al-Jadid Al-Lughah Al-Arabiyyah, bersama penulis lain.
n. Al-Adalah Al-Ijtima’iyah fil Al-Islam. Buku pertamanya dalam pemikiran
Islam, terbit April 1949.
o. Ma’rakah Al-Islam wa Ar-Ra’simaliyah, terbit Februari 1951.
p. As-Salam Al-Islami wa Al-Islam, terbit Oktober 1951.
q. Tafsir Fi-Zhilal Al-Qur’an, diterbit dalam tiga masa yang berlainan.
r. Dirasat Islamiah, kumpulan bermacam artikel yang dihimpun oleh Muhibbudin al-Khatib, terbit 1953.
s. Al-Mustaqbal li Hadza Ad-Din, buku penyempurna dari buku Hadza Ad-Din. t. Khashaish At-Tashawwur Al-Islami wa Muqawwimatahu, buku dia yang
mendalam yang dikhususkan untuk membicarakan karakteristik akidahdan
unsur-unsurnya.
u. Al-Islami wa Musykilat Al-Hadharah.
Sedangkan studinya yang bersifat keislaman harakah yang matang, yang
menyebabkan ia dieksekusi (dihukum penjara) adalah sebagai berikut:10
a. Ma’alim fith-Thariq
b. Fi-Zhilal As-Sirah.
c. Muqawwimat At-Tashawwur Al-Islami.
d. Fi Maukib Al-Iman. e. Nahwu Mujtama’ Islami.
f. Hadza Al-Qur’an.
g. Awwaliyat li Hadza Ad-Din.
h. Tashwibat fi Al-Fikri Al-Islami Al-Mu’ashir.
3. Pemikiran Sayyid Quthb
Dalam kitabnya yang berjudul “Sayyid Quthb: Khulashatuhu wa Manhaju
Harakatihi, Muhammad Taufiq Barakat membagi fase pemikiran Sayyid Quthb
menjadi tiga tahap. Pertama, tahap pemikiran sebelum mempunyai orientasi
Islam. Kedua, Tahap mempunyai orientasi Islam secara umum. Ketiga, Tahap
pemikiran berorientasi Islam militan.
Pada fase ketiga inilah, Sayyid Quthb sudah mulai merasakan adanya
keengganan dan rasa muak terhadap westernisasi, kolonialisme dan juga
terhadap penguasa Mesir. Masa-masa inilah yang kemudian menjadikan beliau
aktif dalam memperjuangnkan Islam dan menolak segala bentuk westernisasi
yang kala itu sering digembor-gemborkan oleh para pemikir Islam lainnya yang
silau akan kegemilingan budaya-budaya Barat.
Dalam pandangannya, Islam adalah aturan yang komprehansif. Islam
sosial-kemasyarakatan. Al-Qur’an dalam tataran umat Islam dianggap sebagai
acuan pertama dalam pengambilan hukum maupun mengatur pola hidup
masyarakat karena telah dianggap sebagai prinsip utama dalam agama Islam,
maka sudah menjadi sebuah keharusan jika al-Qur’an dapat mengatasi
permasalahan-permasalahan yang ada. Berdasarkan asumsi itulah, Sayyid Quthb
mencoba melakukan pendekatan baru dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an
agar dapat menjawab segala macam bentuk permasalahan. Adapun pemikiran
Sayyid Quthb yang sangat mendasar adalah keharusan kembali kepada Allah dan
kepada tatanan kehidupan yang telah digambarkan-Nya dalam al-Qur’an, jika
manusia menginginkan sebuah kebahagiaan, kesejahteraan, keharmonisan dan
keadilan dalam mengarungi kehidupan dunia ini.
Meski tidak dipungkiri bahwa Al-Qur’an telah diturunkan sejak
berabad-abad lamanya di zaman Rasulullah dan menggambarkan tentang kejadian masa
itu dan sebelumnya sebagaimana yang terkandung dalam Qashash al-Qur’an,
namun ajaran-ajaran yang dikandung dalam al-Qur’an adalah ajaran yang
relevan yang dapat diterapkan di segala tempat dan zaman. Maka, tak salah jika
kejadian-kejadian masa turunnya al-Qur’an adalah dianggap sebagai cetak biru
perjalanan sejarah umat manusia pada fase berikutnya. Dan tidak heran jika
penafsiran-penafsiran yang telah diusahakan oleh ulama klasik perlu disesuaikan
kembali dalam masa sekarang. Berangkat dari itu, Sayyid Quthb mencoba
membuat terobosan terbaru dalam menafsirkan al-Qur’an yang berangkat dari
realita masyarakat dan kemudian meluruskan apa yang dianggap tidak benar
Sayyid Quthb sering mengkritik pemerintahan Gamal Abdul Naser setelah
kepulangannya ke Mesir. Ia berpendapa bahwa Mesir pada saat itu secara sosial
politik berada pada tingkat kebobrokan. Hal ini diakibatkan oleh undang-undang
yang berlaku di Mesir sangat bertentangan dengan jiwa kebudayaan manusia dan
agama. Selain itu undang-undang yang berlaku tidak sesuai dengan kondisi
social dan geografis, karena menurutnya, secara kultur masyarakat Mesir sangat
berbeda dengan barat yang sekuler, dan lebih dekat dengan tradisi Islam.
Dengan adanya beberapa kritiknya bahwa undang-undang itu ternyata
berdampak sistemik terhadap pemerintahan dan aplikasinya dalam kehidupan
masyarakat sehari-hari. Maka mendirikan pemerintahan yang didasarkan atas
dasar ideologi nasionalisme Arab telah gagal, karena meniru barat yang mencoba
memisahkan agama dan masyarakat.
Sayyid Quthb tidak hanya mengkritik pemerintahan Mesir yang terkesan
sekuler pada saat itu, namun juga memberikan solusi dengan menyodorkan
Islam sebagai satu-satunya ideologi yang Sholih li kulli wal Makan, menurutnya
Islam mempunyai jawaban untuk segala problem sosial dan politik, selain itu
Islam juga memiliki konsep untuk menciptakan masyarakat yang harmonis.11
Sayyid Quthb juga menambahkan bahwa Islam harus menguasai
pemerintahan guna menjamin kesejahteraan yang merata, dan memberikan
bimbingan dalam hal-hal kebijaksanaan umum, serta berusaha melakasanakan
11Esposito, Dinamika Kebangunan Islam, ter. Bakri Siregar (Jakarta: Jakarta Press,
pandangan-pandangan dan nilai-nilainya.12 Karena suatu ideologi tidak dapat
dilaksanakan dalam kehidupan, kecuali apabila diwujudkan dalam suatu sistem
sosial khusus dan ditranformasikan menjadi undang-undang yang menguasai
kehidupan.13
B. Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an
1. Latar belakang penulisan Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an
Sayyid Quthb adalah salah satu ulama kontemporer yang sangat
concern terhadap penafsiran al-Qur’an. ia membuktikan dengan menulis kitab
tafsir Fi Zhilal al-Qur’an yang kemudian menjadi master diantara karya-karya
lainnya yang dihasilkannya. Para intelektual sangan meminati karyanya karena
memiliki pemikiran sosial kemasyarakatan yang sangat dibutuhkan oleh
generasi muslim kontemporer. Didalam tafsirnya ia menggunakan metode
pemikiran yang bercorak tahlili, yang artinya ia menafsirkan al-Qur’an ayat demi
ayat, surat demi surat, dari juz pertama hingga juz terakhir. Dimulai dari surat
al-Fatihah sampai surat an-Nas.
Sayyid Quthb menulis tafsir Fi Zhilal al-Qur’an dalam rentang waktu
antara tahun 1952-1962. Ia sempat merevisi ketiga belas juz pertama semasa
penahanannya yang panjang. Kitab tafsir ini merupakan sebuah kitab tafsir
al-Qur’an yang tidak memakai metode tafsir tradisional, yaitu metode yang selalu
12Munawir Syadzali, Islam dan Tata Negara; Ajaran, Sejarah dan Pemikiran (Jakarta:
UI Press, 1990), 103.
merujuk ke ulasan sebelumnya yang sudah diterima, dan merujuk ke otoritas lain
yang mapan. Sebagai gantinya, ia mengemukakan tanggapan pribadi dan
spontanitasnya terhadap ayat-ayat al-Qur’an.14
Sayyid Quthb mempunyai metode tersendiri dalam memberi tafsiran
al-Qur’an yaitu dengan melakukan pembaharuan dalam bidang penafsiran dan
mengesampingkan pembahasan yang dirasa kurang begitu penting dari segi
bahasa. Salah satu hal yang menonjol dari corak penafsiran Quthb adalah dilihat
dari segi sastra dan istilah-istilah sastrawan yang bersifat sajak, naghom, untuk
melakukan pendekatan dalam menafsirkan al-Qur’an.15
Tafsir fi Zhilal al-Qur’an merupakan salah satu tafsir yang menjadi
kajian para aktivis Islam. Tafsir ini terbentuk dari perenungan dan pengalaman
Sayyid Quthb yang memuat dan mempengaruhi kehidupan manusia. Dalam
menerapkan meode penafsirannya Sayyid Quthb mempunyai pandangan
Universal dan komperhensif terhadap al-Qur’an.
Sayyid Quthb mulai mempelajari al-Qur’an sejak kecil, sebuah
kewajaran bagi seorang anak yang hidup pada lingkungan keluarga yang
menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Ibunya seorang perempuan yang memiliki
andil besar pada lahirnya karya-karya besar Sayyid Quthb terutama Tafsir Fi
Zhilal al-Qur’an. ia menjadi motivator dan sumber inspirasi terbesar bagi Sayyid
Quthb dalam berkarya.
14Muhammad Chirzin, Jihad Menurut Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an
(Solo: Era Intermedia, 2001), 134.
15Fuad Luthfi, Konsep Politik Islam Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an,
Dalam bukunya al-Tashwir al-Fanniy fi al-Qur’an, ia mengatakan
“Dulu khayalanku, saat aku masih kecil, seperti angan anak-anak biasa yang
polos, namun khayalan yang polos tersebut memberikan gambaran yang indah
saat aku mendalami beberapa ungkapan yang terdapat dalam al-Qur’an.
gambaran dan deskripsi yang ada di dalamnya sebenarnya adalah biasa-biasa
saja, tetapi gambaran tersebut mampu untuk membuat hatiku terpana dan
memahami makna-makna al-Qur’an. Aku merasakan kegembiraan dengan
melakukan hal itu. Ada semangat yang mengalirkan darahku saat
melakukannya.”
Sebelum menulis Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an, buku pertama terfokus
pada warna Islami adalah at-Tashwir al-Fanniy Fi al-Qur’an, ditulisnya pada
tahun 1945 M. Dalam buku tersebut Sayyid Quthb mendeskripsikan bagaimana
al-Qur’an berkisah dengan begitu indahnya. Bagaimana al-Qur’an
mengilustrasikan sejarah para Nabi, keingkaran suatu kaum dan azabnya, sampai
berbagai karakter manusia dengan terperinci serta begitu jelas. Kisah-kisah yang
dipaparkan akan menyentuh jiwa. Alur-alur tiap surat sampai ayat per ayat, ia
bahas secara luas dan ia tafsirkan secara unik dan komprehensif.
Ia menjadikan buku al-Tashwir al-Fanniy Fi al-Qur’an sebagai tolak
ukur dalam kitab-kitabnya yang membahas al-Qur’an dari aspek Bayan, Adab
dan keindahannya. Sayyid Quthb men-Tadabbur al-Qur’an dengan Tadabbur
yang sangat jelas dan tajam, hingga ia mampu mengeluarkan isi kandungannya
dari aspek pemikiran dan pembaharuan. Adapun bukunya yang berbicara
Dalam penulisan Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an dapat dibagi kepada tiga
tahap:
a. Tahap pertama Fi Zhilal al-Qur’an dalam majalah al-Muslimun. Pada
penghujung tahun 1951, Sa’id Ramadhan menerbitkan majalah al-Muslimun,
sebuah majalah pemikiran Islam yang terbit bulanan. Di dalam majalah ini
pemikir Islam menuangkan tulisannya. Pemilik majalah ini memohon kepada
Sayyid Quthb agar ikut berpartisipasi menulis artikel bulanan, serta
mengemukakan keinginannya bahwa sebaiknya artikel ini ditulis dalam
sebuah serial atau rubrik tetap. Episode pertamanya dimuat dalam majalah
Mulimun edisi ketiga yang terbit bulan Februari 1952, dimulai dari surat
al-Fatihah, dan di teruskan dengan surat al-Baqarah dalam episode-episode
berikutnya. Sayyid Quthb mempublikasikan tulisannya dalam majalah ini
sebanyak tujuh episode secara berurutan. Tafsir ini sampai pada surat
al-Baqarah ayat 103.
b. Tahap kedua, Fi Zhilal al-Qur’an menjelang ditangkapnya Sayyid Quthb
pada akhir episode ke tujuh dari episode-episode Fi Zhilal al-Qur’an dalam
majalah al-Muslimun mengumumkan pemberhentian episode ini dalam
majalah, karena ia akan menafsirkan al-Qur’an secara utuh dan dalam kitab
(tafsir) tersendiri, yang akan ia luncurkan dalam juz-juz secara bersambung.
Dalam pengumumannya tersebut Sayyid Quthb mengatakan dengan kajian
(episode ketujuh) ini, maka berakhirlah serial dalam majalah al-Muslimun.
Sebab Fi Zhilal al-Qur’an akan dipublikasikan tersendiri dalam tiga puluh
awal setiap dua bulan, diterbitkan oleh Dae Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah milik
Isa al-Halabi dan CO. Sedangkan majalah al-Muslimun mengambil tema lain
dengan judul Nahwa Mujatama’ Islami (Menuju Masyarakat Islami). Juz
pertama dari Fi Zhilal al-Qur’an terbit bulan Oktober 1952. Sayyid Quthb
memenuhi janjinya kepada para pembaca, sehingga iaa meluncurkan satu juz
dan Fi Zhilal al-Qur’an setiap dua bulan. Bahkan terkadang lebih cepat dari
waktu yang ditargetkan. Pada periode antara Oktober 1952 dan Januari 1954,
ia telah meluncurkan enam belas juz dari Fi Zhilal al-Qur’an.
c. Tahap ketiga, Sayyid Quthb menyempurnakan Fi Zhilal al-Qur’an di
penjara. Sayyid Quthb berhasil menerbitkan enam belas juz sebelum ia
dipenjara. Kemudian ia dijebloskan ke penjara untuk pertama kalinya, dan
tinggal dalam penjara itu selama tiga bulan, tehitung dari bulan Januari hingga
Maret 1954. Ketika di dalam penjara itu, ia menerbitkan dua juz Fi Zhilal
al-Qur’an.
Setelah ia keluar dari penjara, ia tidak meluncurkan juz-juz yang baru
karena banyaknya kesibukan yang tidak menyisakan waktu sedikitpun untuk ia.
Di samping itu, ia belum sempat tinggal agak lama di luar penjara bersama
puluhan ribu personel jamaah Ikhwan al-Muslimin pada bulan November 1954
setelah “Sandiwara” Insiden al-Mansyiyah di Iskandariyah, yang jamaah Ikhwan
al-Muslimin di tuduh berusaha melakukan pembunuhan terhadap pemimpin
Mesir Jamal Abdun Nashir.
Pada tahap pertama di penjara, ia tidak menerbitkan juz-juz baru dari
bayangkan pedihnya tanpa henti siang dan malam. Hal itu sangat berdampak
pada tubuh dan kesehatan Sayyid Quthb. Setelah ia dihadapkan ke pengadilan,
akhirnya ia dijatuhi hukuman lima belas tahun. Penyiksaan terhadap ia pun
berhenti, dan ia tinggal di penjara Liman Thurrah serta berdaptasi dengan Milieu
yang baru ia mengkonsentrasikan untuk menyempurnakan tafsirnya dan menulis
juz-juz Fi Zhilal al-Qur’an berikutnya.
Peraturan penjara sebenarnya telah menetapkan bahwa orang hukuman
tidak boleh menulis (mengarang) bila sampai ketahuan melakukan hal itu, maka
ia akan disiksa lebih keras lagi. Akan tetapi, Allah SWT, menghendaki Fi Zhilal
al-Qur’an itu ditulis dan dari dalam penjara sekalipun. Maka Allah pun
melenyapkan segala rintangan itu, membuat kesulitan yang dihadapi Sayyid
Quthb tersingkir, serta membukakan jalan di hadapannya menuju dunia
publikasi.
Kisahnya adalah bahwa Sayyid Quthb sebelumnya telah membuat
kontrak atau kesepakatan dengan Dar Ihya’ al-Kutub Arabiyah Milik Isa
al-Bahi al-Halabi & CO. Untuk menulis Fi Zhilal al-Qur’an sebagai sebuah kitab
tafsir al-Qur’an yang utuh. Ketika pemerintah melarang Sayyid Quhb untuk
menulis di dalam penjara, maka pihak penerbit ini mengajukan tuntutannya
terhadap pemerintah dengan meminta ganti rugi dari nilai Fi Zhilal al-Qur’an
itu sebanyak sepuluh Ribu Pound, karena pihak penerbiyt mengalami kerugian
material dan immaterial dari larangan tersebut. Akhirnya pemerintah memilih
untuk mengizinkan Sayyid Quthb untuk menyempurnakan Fi Zhilal al-Qur’an
2. Metode dan Corak Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an
Metode penafsiran
Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an, karangan Sayyid Quthb terdiri atas delapan
jilid, dan masing-masing jilidnya yang diterbitkan Dar al-Syuruq, Mesir,
mencapai ketebalan rata-rata 600 halaman.
Term Dzilal yang berarti “naungan” sebagai judul utama tafsir Sayyid
Quthb, memiliki hubungan langsung dengan kehidupannya sebagai catatan
mengenai riwayat hidup Sayyid Quthb, dan juga telah disinggung pada uraian
yang lalu bahwa ia sejak kecilnya telah menghafal al-Qur’an, dan dengan
kepakarannya dalam bidang sastra, ia mampu memahami al-Qur’an secara baik
dan benar dengan kepakarannya itu, serta segala kehidupannya selalu mengaju
pada ajaran al-Qur’an. Oleh karena itu, Sayyid Quthb menganggap bahwa hidup
dalam “naungan” al-Qur’an sebagai suatu kenikmatan.16
Tafsir Zhilal (demikian biasa orang menyebut tafsir Fi Zhilal
al-Qur’an) adalah tafsir yang fenomenal. Ia hadir dengan sosoknya yang khas,
berbeda dengan umumnya kitab tafsir. Melalui goresan penanya yang diisi
dengan tinta seorang ilmuwan dan darah seorang syahid, Ahmed Hasan Farhatt
mengatakan bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang turun lima belas abad lampau ini,
kini seakan kembali hidup dan menemukan kekuatan maknanya. Ayat-ayat
16Ilyas Muhakbar, “Biografi Singkat Sayyid Quthb”,
Qur’an yang bertebaran dalam lembaran-lembaran mushaf dengan berbagai
tema yang terkadang dipahami tidak saling berhubungan, berhasil dihimpun,
dijalin, disinergikan sehingga muncullah dari sana daya doktrinnya yang kuat,
daya pemanduannya yang jelas, dan daya pencerahannya yang menggairahkan
dengan komprehensivitas dan universalsalitas nilai-nilai ajarannya yang
paripurna.17
Apabila karya tafsir Fi Zhilal al-Qur’an dicermati aspek-aspek
metodologisnya, ditemukan bahwa karya ini menggunakan metode tahlili, yakni
metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Qur’an dari
seluruh aspeknya secara runtut, sebagaimana yang tersusun dalam mushaf.
Dalam tafsirnya, diuraikan kolerasi ayat, serta menjelaskan hubungan maksud
ayat-ayat tersebut satu sama lain. Begitu pula, diuraikan latar belakang turunnya
ayat (sabab nuzul), dan dalil-dalil yang berasal dari al-Qur’an, Rasul, atau
sahabat, atau para tabiin, yang disertai dengan pemikiran rasional (ra’yu).
Kerangka metode tahlili yang digunakan Sayyid Quthb tersebut, terdiri
atas dua tahap dalam menginterpretasikan ayat-ayat al-Qur’an. pertama, Sayyid
Quthb hanya mengambil dari al-Qur’an saja, sama sekali tidak ada peran bagi
rujukan, refrensi, dan sumber-sumber lain. Ini adalah tahap dasar, utama, dan
langsung. Tahap kedua, sifatnya skunder, serta penyempurnaan bagi tahap
pertama yang dilakukan Sayyid Quthb. Dengan metode yang kedua ini,
sebagaimana dikatakan Adnan Zurzur yang dikutip oleh al-Khalidi bahwa
17 Shalah Abdul Fatah Al-Khalidi, Pengantar Memahami Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an,
Sayyid Quthb dalam menggunakan rujukan skunder, tidak terpengaruh terlebih
dahulu dengan satu warna pun di antara corak-corak tafsir dan takwil,
sebagaimana hal itu juga menunjukkan tekad ia untuk tidak keluar dari
riwayat-riwayat yang sahih dalam tafsir al-ma’sur.
Dalam upaya memperkaya metode penafsirannya tersebut, Sayyid
Quthb selalu mengutip penafsiran-penafsiran ulama lainnya yang sejalan dengan
alur pemikiranya. Adapun rujukan utama Sayyid Quthb dalam mengutip
pendapat-pendapat ulama adalah merujuk pada beberapa karya tafsir ulama yang
diklain sebagai karya tafsir bi al-ma’sur, kemudian merujuk juga pada karya
tafsir bi al-ra’y. Dari sini dapat dipahami bahwa metode penafsiran Sayyid
Quthb, juga tidak terlepas dari penggunaan metode tafsir muqaran.
Corak Penafsiran
Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an yang dikarang oleh Sayyid Quthb termasuk
salah satu kitab tafsir yang mempunyai terobosan baru dalam melakukan
penafsiran al-Qur’an. Hal ini dikarenakan tafsir ia selain mengusung pemikiran
-pemikiran kelompok yang berorientasi untuk kejayaan Islam, juga mempunyai
metodologi tersendiri dalam menafsirkan al-Qur’an. Termasuk di antarannya
adalah melakukan pembaharuan dalam bidang penafsiran dan di satu sisi ia
mengesampingkan pembahasan yang dia rasa kurang begitu penting. Salah satu
yang menonjol dari corak penafsirannya adalah mengetengahkan segi sastra
untuk melakukan pendekatan dalam menafsirkan al-Qur’an.
Sisi sastra ia terlihat jelas ketika kita menjulurkan pandangan kita ke
pemahaman ushlub al-Qur’an, karakteristik ungkapan al-Qur’an, serta dzauq
yang diusung semuanya bermuara untuk menunjukkan sisi hidayah al-Qur’an
dan pokok-pokok ajarannya untuk memberikan pendekatan pada jiwa
pembacanya pada khususnya dan orang-orang Islam pada umumnya. Melalui
pendekatan semacam ini diharapkan Allah dapat memberikan manfaat serta
hidayah-Nya. Karena pada dasarnya, hidayah merupakan hakikat dari al-Qur’an
itu sendiri. Hidayah juga merupakan tabiat serta esensi al-Qur’an. Menurutnya,
al-Qur’an adalah kitab dakwah, undang-undang yang komplit serta ajaran
kehidupan. Dan Allah telah menjadikan sebagai kunci bagi setiap sesuatu yang
masih tertutup dan obat bagi segala penyakit.
Pandangan seperti Sayyid Quthb ini didasarkan Firman Allah yang
berbunyi “dan kami turunkan dari al-Qur’an sebagai penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman...” dan Firman Allah: “Sesungguhnya al-Qur’an ini
memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus...”.
Sayyid Quthb sudah menampakkan karakteristik seni yang terdapat
dalam al-Qur’an. Dalam permulan surat al-Baqarah misalnya, akan kita temukan
gaya yang dipakai al-Qur’an dalam mengajak Madinah dengan gaya yang khas
dan singkat. Dengan hanya beberapa ayat saja dapat menampakkan gambaran
yang jelas dan rinci tanpa harus memperpanjang kalam yang dalam ilmu
balaghah disebut dengan ithnab, namun dibalik gambaran yang singkat ini tidak
meninggalkan sisi keindahan suara dan keseraian irama.
Bisa dikatakan bahwa tafsir Fi Zhilal al-Qur’an dapat digolongkan ke
mengingat background ia yang merupakan seorang sastrawan hingga ia bisa
merasakkan keindahan bahasa serta nilai-nilai yang dibawa al-Qur’an yang
memang kaya dengan gaya bahasa yang sangat tinggi.18
Corak pemikiran Sayyid Quthb dipengaruhi oleh perkembangan
pemikiran dalam kehidupannya. Ketika masih mudah Sayyid Quthb menjabat
sebagai seorang sastrawan. Kemudian keilmuannya bertambah luas mulai dari
baik pemikiran dan amal, aqidah dan perilaku serta wawasan dan jihad. Fase ini
mulai dari sekembalinya dari Amerika sampai ia bersama-sama dengan
sahabatnya di masukkan ke dalam penjara pada penghujung tahun 1954. Di
tahun ini Sayyid Quthb berhasil menyelesaikan tulisanya dengan judul
Ma’rakatul Islam War Ra’simaiyah as-Salam al-Alami Wal Islam dan Fi Zhilal
al-Qur’an pada juz-juz pertama edisi pertama.
Adapun menurut Muhammad Taufiq Barakat membagi fase pemikiran
Sayyid Quthb menjadi tiga tahap yaitu: 1. Tahap pemikiran sebelum mempunyai
orientasi Islam, 2. Tahap mempunyai orientasi Islam secara umum, 3. Tahap
pemikiran berorientasi Islam militan. Pada saat tahap Islam militan, Sayyid
Quthb sangat muak dengan westernisme, konoliasme dan penguasaan Mesir.
Pada fase ketiga ini, Sayyid Quthb menjadi aktif dalam
memperjuangkan Islam dan menolak segala bentuk westernisasi yang kali itu
sering digembor-gemborkan oleh para pemikir Islam lainnya yang silau akan
kegemilangan budaya-budaya Barat. Dalam pandangannya, Islam adalah way of
18Mahdi Fadullah, Titik Temu Agama dan Politik (Analisa Pemikiran Sayyid Quthb), CV.
life yang komprehensif. Islam mampu memberikan solusi atas segala problem
kehidupan masyarakat yang timbul dalam sistem Islami.
Sayyid Quthb juga berpendapat bahwa al-Qur’an merupakan acuan
pertama dalam pengambilan hukum maupun mengatur pola hidup masyarakat
karena telah dianggap jalan untuk menuju kepada Allah, sehingga apabila
manusia menginginkan kesejahteraan, kedamaian dan keharmonisa dengan
hukum alam dan fitrah didunia, maka manusia harus kembali pada sistem yang
BAB III
KHIMAR
DALAM SURAT AN-NUR AYAT 31 TELAAH
PENAFSIRAN SAYYID QUTHB DAN ANALISIS TERHADAP
PENAFSIRANYA
A. Penafsiran Sayyid Quthb Terhadap Surat an-Nur Ayat 31
Ayat dan terjemah
ُقَو
َِإ ُ َتَنيِز َ يِدۡ ُي
ََو ُ َجوُرُف َ ۡظَفۡحَيَو ِهِرٰ َصۡب
َ
َ
أ ۡ ِم َ ۡض ُضۡغَي ِ ٰ َنِمۡ ُ
ۡ
ِ ل
َ
أ ِ ِ
ََ ُعُِِ َِإ ُ َتَنيِز َ يِدۡ ُي َََو ۖ ِ ِب ُيُج َٰ َل ِهِرُ ُ ِِ َ ۡبِ َۡۡ َۡۡو ۖاَ ۡ ِم َرَ َظ اَم
ۡو
ِِئ
كاَباَء
َ
أ
ِ ِنَٰوۡخِإ ك َِِب ۡو
َ
أ ِ ِنَٰوۡخِإ ۡو
َ
أ ِ ِ
ََ ُعُب ِءكاَ ۡبَأ ۡوَأ ِ ِئكاَ ۡبَأ ۡوَأ ِ ِ ََ ُعُب ِءكاَباَء ۡو
ِو
َ
أ ُ ُ ٰ َمۡي
أ ۡ َ َ َ اَم ۡو
َ
َ
أ ِ ِئكاَسِن ۡوَأ ِ ِتَٰوَخَأ ك َِِب ۡوَأ
َيِعِ ٰتلٱ
ِِْو
ُ
أ ِ ۡۡ
َغ
َبۡرِ
ۡٱ
ۡ
ِم ِ
َ
ِلاَجِ ر ٱ
ِو
َ
أ
ِ ۡفِ طلٱ
َ يَِٱ
ِتَٰرۡ َع ٰ
َ َل ْاوُرَ ۡظَي ۡ َ
ِءكاَسِ نلٱ
َ َ ۡعُ ِۡ ِ ِ ُجۡر
َ
ِب َ ۡبِ
َۡۡي َََو
َ
َِإ
ْاك ُب ُتَو ۚ ِ ِتَنيِز ِم َيِفۡ ُُ اَم
ِّٱ
َ ي
أ اًعيِ ََ
َ
َن ُ ِمۡ ُ
ۡ
ٱ
َن ُحِ ۡفُت ۡ ُك َعَل
١
131. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka
1Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Surabaya: Sygma Examedia Arkanleema,
sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.2
Asbab an-Nuzul
Ayat ini diturunkan di Madinah yang merupakan ayat dari surat an-Nur
yaitu surat keseratus, termasuk golongan Madaniyah. Ayat ini juga merupakan
perintah dari Allah bagi kaum laki-laki mukmin maupun kaum perempuan
mukminah, serta merupakan penghargaan dari Allah bagi suami mereka serta
sebagai perbedaan dengan perempuan jahiliyah dan perilaku musyrik.
Sebab turunnya ayat ini adalah sebagaimana diceritakan oleh Muqatil bin
Hayan. Dia berkata, “telah sampai berita kepada kami, dan Allah Maha Tahu,
bahwa Jabir bin Abdillah al-Anshari telah menceritakan bahwa Asma’ binti
Murtsid tengah berada ditempatnya, yaitu Bani