45 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum SDN Asinan 02
SDN Asinan 02 terletak di Dusun Sumurup Desa Asinan Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Sekolah ini didirikan pada tahun 1976 dengan biaya INPRES di atas tanah hibah dari masyarakat seluas 900 m2. Selama ini SDN Asinan 02 sudah mengalami beberapa kali perbaikan dengan bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK), sehingga menjadikan SDN Asinan 02 mempunyai ruangan yang cukup lengkap.
Sarana yang ada di SDN Asinan 02 diantaranya 6 ruang kelas, 1 ruang guru dan kepala sekolah, 1 ruang ekstrakurikuler, 1 mushola, 1 ruang UKS, 1 gudang, 1 koperasi, 1 kantin, 2 WC untuk siswa dan 2 WC untuk guru. Setiap ruangan memiliki keadaan yang cukup baik, terdapat ventilasi yang memadai, penerangan yang cukup dan suasan yang nyaman. Selain itu, halaman SDN Asinan 02 juga cukup luas yang biasanya digunakan untuk upacara bendera dan kegiatan sekolah lainnya. Letaknya yang berada di pedesaan menjadikan suasana SDN Asinan 02 masih asri serta tenang dan nyaman untuk kegiatan pembelajaran. Alat peraga pembelajaran yang dimiliki SDN Asinan 02 cukup lengkap, hanya saja penggunaannya yang jauh dari maksimal. Untuk buku pembelajaran yang dimiliki kurang mencukupi, karena jumlahnya lebih sedikit dari jumlah siswa. Adapun tenaga pengajar yang ada di SDN Asinan 02 ada 11 terdiri dari 1 kepala sekolah, 6 guru kelas, 1 guru olah raga, 1 guru agama islam, 1 guru mulok dan 1 penjaga sekolah. Jumlah keseluruhan siswa SDN Asinan 02 sebanyak 100 siswa. Siswa yang menjadi subyek penelitian adalah siswa kelas IV yang berjumlah 12 siswa yang terdiri dari 7 siswa laki – laki dan 5 siswa perempuan.
4.2 Pelaksanaan Penelitian 4.2.1 Deskripsi Kondisi Awal
Kondisi awal merupakan kondisi sebelum penelitian tindakan kelas dilakukan. Terlebih dahulu peneliti melakukan observasi awal dengan tujuan untuk mengetahui suasana pembelajaran dan hasil belajar siswa terutama pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Pada saat observasi tersebut, penulis memberikan soal prasiklus tentang materi yang diajarkan guru saat itu. Dari nilai sebanyak 12 siswa dapat disajikan tabel distribusi frekuensi pencapaian hasil belajar berikut:
Tabel 4.1
Rekapitulasi Hasil Belajar IPA Kondisi Awal
No Nilai Sebelum Tindakan Keterangan Jumlah Siswa Persentase (%) 1 41-50 6 50 Belum tuntas 2 51-60 2 16,66 Belum tuntas 3 61-70 2 16,66 Belum tuntas 4 71-80 1 8,33 Tintas 5 81-90 1 8,33 Tuntas Jumlah 12 100 Rata-rata 58,33 Nilai Tertinggi 90 Nilai Terendah 45
Berdasarkan Tabel Tersebut, terlihat bahwa siswa yang telah mencapai KKM adalah 2 siswa atau 16,67% dan siswa yang belum mencapai KKM adalah 10 siswa atau 83,33%. Nilai rata-rata yang diperoleh kelas adalah 58,33 dengan perolehan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 45. Untuk lebih jelasnya, rekapitulasi ketuntasan hasil belajar sebelum diberikan tindakan disajikan dalam diagram 4.1 berikut.
Diagram 4.1
Ketuntasan Hasil Belajar IPA Kondisi Awal
Mengacu pada KKM yaitu 80, maka presentase keseluruhan siswa yang sudah mencapai kriteria ketuntasan maupun belum, disajikan dalam tebel berikut ini:
Tabel 4.2
Persentase Ketuntasan Hasil Belajar IPA Kondisi Awal
No Nilai Sebelum Tindakan Keterangan Jumlah siswa Persentase (%) 1 ≤ 80 10 83.33 Belum Tuntas 2 ≥ 80 2 16.67 Tuntas Jumlah 12 100 Rata-rata 58,33 Nilai Tertinggi 90 Nilai Terendah 45
Berdasarkan tabel persentase ketuntasan hasil belajar siswa kelas IV SDN Asinan 02 sebelum tindakan, menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh nilai kurang dari KKM 80 sebanyak 10 siswa atau 83,33% dari total keseluruhan siswa.
0 20 40 60 80 100
Sedangkan siswa yang nilainya telah mencapai KKM sebanyak 2 siswa atau 16,67 dari total keseluruhan siswa.
Rendahnya hasil belajar siswa dipengaruhi oleh tingkat pemahaman siswa terhadapa materi yang disajikan masih rendah. Hal itu disebabkan oleh guru kurang mempunyai keterampilan menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan selalu menggunakan metode konvensional. Penggunaan metode konvensional secara terus menerus akan terasa monoton sehingga mengakibatkan pembelajaran kurang menarik bagi siswa. Siswa merasa kurang berminat dan terkesan pasif dalam pembelajaran. Transformasi ilmupun terjadi kurang maksimal, karena pembelajaran hanya berpusat pada guru sehingga pembelajaran berjalan kurang efektif.
Berdasarkan data hasil belajar yang rendah dari siswa kelas IV di SD Asinan 02 Kecamatan Bawen Semester II Tahun Pelajaran 2013/2014, penulis akan melakukan sebuah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sesuai dengan rancangan penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya.Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan model pembelajaran tipe Numbered Heads Together / NHT guna meningkatkan hasil belajar siswa yang akan dilakukan dalam dua siklus, dimana setiap siklus akan dilakukan dua pertemuan.
4.2.2 Pelaksanaan Siklus I
4.2.3.1 Tahap Perencanaan Tindakan Siklus I
Sebelum melaksanakan tindakan, ada beberapa langkah yang dilakukan oleh penulis, antara lain :
a. Bersama dengan guru kolaborator memeriksa kembali RPP yang telah disusun dan mencermati setiap butir yang akan dilaksanakan dalam pelaksanaan tindakan.
b. Menyiapakan alat peraga dan sarana lain yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tindakan.
c. Mengecek kembali kelengkapan alat pengumpul data, seperti lembar observasi.
d. Membuat kesepakatan dengan teman sejawat untuk menentukan fokus observasi.
4.2.3.2 Tahap Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Setelah menyusun langkah-langkah kegiatan pembelajaran, penulis bersama observer menyepakati untuk melakukan kegiatan pembelajaran yang terdiri dari dua pertemuan pembelajaran yaitu:
Pertemuan I
Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2014 dengan kompetensi dasar menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan (erosi , abrasi , banjir , longsor). Pada pertemuan pertama terdapat tujuh indikator pembelajaran yang disampaikan yaitu mengidentifikasi beberapa dampak perubahan lingkungan, menjelaskan pengertian erosi, menyebutkan penyebab erosi, menyebutkan dampak erosi, menjelaskan pengertian abrasi, menyebutkan penyebab abrasi, menyebutkan dampak abrasi. Berikut adalah langkah – langkah pembelajaran pada Siklus I pertemuan pertama:
a)Kegiatan awal
Kegiatan awal yang dilakukan oleh pengajar meliputi beberapa kegiatan yang telah didesain dalam rencana pembelajaran yaitu membuka pembelajaran dengan salam, berdoa, mengabsen dan melakukan apersepsi. Kegiatan apersepsi dilakukan dengan memperlihatkan gambar-gambar perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan. Siswa diminta menyebutkan beberapa dampak perubahan lingkungan yang ada dalam gambar. Setelah apersepsi, kemudian pengajar mengkomunikasikan tujuan pembelajaran dan cara belajar yang ditempuh dalam pembelajaran Numbered Heads Together. Dan siswa diminta untuk membuat kelompok dengan jumlah 4 orang per kelompok .
b)Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, pengajar memberikan teks bacaan mengenai perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan yakni erosi dan abrasi serta memberikan soal – soal yang bersangkutan dengan erosi dan abrasi . Dari teks bacaan tersebut secara berkelompok siswa melakukan penyelikan untuk menjawab soal – soal yang telah diberikan sebelumnya . Selama kegiatan tersebut
berlangsung, pengajar berperan sebagai fasilitator dan motivator bagi siswa untuk menemukan pengertian , penyebab dan dampak dari erosi dan abrasi . Setelah mendapat pengarahan dari pengajar, kemudian mereka berdiskusi dengan kelompoknya untuk menemukan pengertian penyebab dan dampak dari erosi dan abrasi. Jawaban yang ditemukan kemudian ditulis di kertas jawaban yang telah dibagikan sebelumnya.
Secara bergantian sesuai nomor kepala yang dipanggil oleh pengajar siswa mempresentasikan pengertian, penyebab dan dampak dari erosi dan abrasi yang ditemukannya di depan kelas. Suasana yang tercipta pada tahap ini sangat gaduh, karena siswa yang belum mendapatkan giliran untuk berpresentasi justru berjalan kesana kemari. Namun, hal tersebut dapat segera diatasi oleh pengajar ketika siswa yang lain menanggapi atau mengomentari hasil presentasi. Selama kegiatan inti berlangsung, pengajar melakukan penilaian proses. Penilaian yang dilakukan menyangkut penilaian afektif dan psikomotor siswa. Untuk memantapkan siswa mengenai materi yang dipelajari, pengajar memberikan umpan balik dan penguatan terhadap proses Numbered Heads Together dalam menemukan pengertian, penyebab dan dampak dari erosi dan abrasi. Pengajar dan siswa melakukan refleksi dalam mengikuti pembelajaran Numbered Heads Together. Pengajar juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk menanyakan hal – hal yang belum dipahami.
c)Kegiatan Penutup
Pengajar bersama-sama dengan siswa membuat penegasan atau kesimpulan tentang pengertian , penyebab dan dampak dari erosi dan abrasi yang telah ditemukan oleh siswa dalam pembelajaran NHT. Pengajar memberikan pesan kepada siswa untuk mempelajari lagi materi tersebut. Pengajar juga menyampaikan pembelajaran yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya. Pengajar memberikan pesan kepada siswa untuk mempelajari lagi materi tersebut dan materi pertemuan sebelumnya, karena pada pertemuan selanjutnya akan diadakan evaluasi.
Pertemuan II
Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari kamis tanggal 14 Maret 2014 dengan kompetensi dasar yang masih sama yaitu menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan (erosi , abrasi , banjir , longsor). Pada pertemuan terakhir dari Siklus I ini terdapat enam indikator pembelajaran yang disampaikan yaitu menjelaskan pengertian banjir, menyebutkan penyebab banjir, menyebutkan dampak banjir, menjelaskan pengertian longsor, menyebutkan penyebab longsor, menyebutkan dampak longsor. Berikut adalah langkah – langkah pembelajaran pertemuan terakhir pada Siklus I:
a)Kegiatan Awal
Kegiatan awal yang dilakukan oleh pengajar meliputi beberapa kegiatan yang telah didesain dalam rencana pembelajaran yaitu membuka pembelajaran dengan salam, berdoa, mengabsen dan melakukan apersepsi. Sebelum melakukan kegiatan apersepsi, pengajar melakukan kegiatan prasyarat dengan menanyakan pembelajaran pada pertemuan selanjutnya. Kegiatan apersepsi dilakukan dengan menunjukkan perubahan lingkungan fisik terhadap daratan yakni banjir dan longsor. Setelah apersepsi, kemudian pengajar mengkomunikasikan tujuan pembelajaran dan cara belajar yang ditempuh dalam pembelajaran Numbered Heads Together. Dan siswa diminta untuk membuat kelompok dengan jumlah 4 orang per kelompok .
b)Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, pengajar memberikan teks bacaan mengenai perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan yakni banjir dan longsor serta memberikan soal – soal yang bersangkutan dengan banjir dan longsor . Dari teks bacaan tersebut secara berkelompok siswa melakukan penyelikan untuk menjawab soal – soal yang telah diberikan sebelumnya . Selama kegiatan tersebut berlangsung, pengajar berperan sebagai fasilitator dan motivator bagi siswa untuk menemukan pengertian , penyebab dan dampak dari banjir dan longsor . Setelah mendapat pengarahan dari pengajar, kemudian mereka berdiskusi dengan kelompoknya untuk menemukan pengertian penyebab dan dampak dari banjir dan
longsor. Jawaban yang ditemukan kemudian ditulis di kertas jawaban yang telah dibagikan sebelumnya.
Secara bergantian sesuai nomor kepala yang dipanggil oleh pengajar siswa mempresentasikan pengertian, penyebab dan dampak dari erosi dan abrasi yang ditemukannya di depan kelas. Suasana yang tercipta pada tahap ini sangat gaduh, karena siswa yang belum mendapatkan giliran untuk berpresentasi justru berjalan kesana kemari. Namun, hal tersebut dapat segera diatasi oleh pengajar ketika siswa yang lain menanggapi atau mengomentari hasil presentasi. Selama kegiatan inti berlangsung, pengajar melakukan penilaian proses. Penilaian yang dilakukan menyangkut penilaian afektif dan psikomotor siswa. Untuk memantapkan siswa mengenai materi yang dipelajari, pengajar memberikan umpan balik dan penguatan terhadap proses NHT dalam menemukan pengertian, penyebab dan dampak dari banjir dan longsor . Pengajar dan siswa melakukan refleksi dalam mengikuti pembelajaran NHT. Pengajar juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk menanyakan hal – hal yang belum dipahami.Pengajar juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk menanyakan hal – hal yang belum dipahami dari pertemuan pertama sampai pertemuan kedua.
a)Kegiatan Penutup
Pengajar bersama – sama dengan siswa membuat penegasan atau kesimpulan tentang pengertian, penyebab dan dampak banjir dan longsor yang telah ditemukan oleh siswa dalam pembelajaran NHT. Pengajar menyampaikan kepada siswa tentang kesiapan dalam mengikuti evaluasi pembelajaran. Pengajar menjelaskan pada siswa tentang peraturan dalam mengerjakan soal evaluasi, kemudian pengajar membagikan soal evaluasi pada setiap siswa. Siswa mengerjakan soal evaluasi dengan baik dan pengajar mengawasi jalannya tes dari awal sampai akhir. Setelah semua siswa selesai mengerjakan soal evaluasi, pengajar bersama siswa mencocokkan hasil kerja siswa dan langsung mengumumkan hasil nilai tes kepada siswa.
4.2.3.3 Minat Belajar Siklus I
Tabel 4.3
Minat Belajar Siswa Siklus I
No Kriteria Interval Frekuensi Persentase(%)
1 Sangat tidak setuju 35-39 3 25
2 Tidak setuju 40-44 3 25 3 Setuju 45-49 4 33,33 4 Sangat setuju 50-54 2 16,67 Jumlah 12 100 Nilai tertinggi 53 Nilai terendah 35
Dari tabel diatas didapat bahwa nilai minat pada interval 35-39 ada 3 siswa atau mencapai persentase 25% , pada interval 40-44 ada 3 siswa atau mencapai 25%, pada interval 45-49 ada 4 siswa atau mencapai persentase 33,33% dan pada interval 50-54 ada 2 siswa atau 16,67%.
4.2.3.4 Tahap Observasi Tindakan Siklus I
Kegiatan observasi dilakukan bersamaan dengan kegiatan pelaksanaan tindakan. Dalam penelitian ini pengamatan dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi atau pengamatan yang mengacu pada kegiatan siswa pada saat melakukan pembelajaran. Hasil observasi akan dianalisis untuk memantau sejauh mana pengaruh upaya tindakan perbaikan terhadap tujuan pembelajaran yang diinginkan. Observasi dilakukan oleh penulis.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, pengajar telah menerapkan pembelajaran NHT dengan baik. Pengajar dapat mengatur serta mengendalikan keberlangsungan proses belajar mengajar. Pada saat awal pembelajaran NHT banyak siswa yang masih bingung, tetapi pengajar dapat mengantisipasi hal tersebut dengan cara menjadi fasilitator yang baik dan membantu siswa – siswa yang mengalami kesulitan.
Observasi yang dilakukan pada tahap ini juga meliputi observasi respon siswa dengan cara mengamati aktifitas setiap siswa dan menyesuaikan dengan indikator respon siswa pada lembar observasi. Berdasarkan pengamatan respon siswa yang telah dilakukan, menunjukkan sudah lebih dari separuh siswa yang memberikan respon positif dalam mengikuti pembelajaran. Namun, masih ada siswa yang bingung dalam melaksankan pembelajaran berdasarkan masalah walapun siswa sudah turut serta dalam tugas belajarnya.
4.2.3.5 Hasil Analisis Data Hasil Belajar Siklus I I. Paparan Hasil Belajar Siklus Belajar Siklus I
Hasil belajar setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I yang diperoleh selama pelaksanaan Pembelajaran model Numbered Heads Together pada mata pelajaran IPA kelas IV SDN Asinan 02 adalah sebagai berikut :
Tabel 4.4
Rekapitulasi Hasil Belajar IPA Siklus I
No Nilai Siklus I Keterangan Jumlah Siswa Persentase (%) 1 51-60 2 16,67 Belum tuntas 3 61-70 2 16,67 Belum tuntas 4 71-80 4 33,33 Tuntas 5 81-90 4 33,33 Tuntas Jumlah 12 100 Rata-rata 77,5 Nilai Tertinggi 90 Nilai Terendah 60
Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat bahwa dengan menerapkan pembelajaran NHT menunjukkan bahwa perbandingan siswa yang mencapai ketuntasan belajar (KKM 80) adalah sebanyak 8 siswa atau 66,67 % sedangkan
siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar sebanyak 4 siswa atau 33,33%. Kondisi ini mengalami perubahan dibandingkan pada kondisi awal sebelum tindakan. Pada kondisi setelah siklus I siswa yang mendapatkan nilai pada rentang 51-60 sebanyak 2 siswa, pada rentang 61-70 sebanyak 2 siswa, pada rentang 71-80 4 siswa, pada rentang 81-90 sebanyak 4 siswa. Nilai rata-rata siswa meningkat meningkat pada kondisi awal sebelum tindakan yaitu 58,33 menjadi 77,5 pada siklus I. nilai terendah yang dicapai pada siklis I adalah 60 dan nilai tertinggi yang dicapai adalah 90. Untuk lebih jelasnya mengenai data ketuntasan hasil belajar siklus I dapat dilihat pada diagram 4.2 berikut ini.
Diagram 4.2
Ketuntasan Hasil Belajar IPA siklus I
Berdasarkan data perolehan hasil belajar dan mengacu pada KKM=80 dapat disajika dalam bentuk tabel 4.5 berikut :
0,00% 20,00% 40,00% 60,00% 80,00%
Tabel 4.5
Persentase Ketuntasan Hasil Belajar IPA siklus I
No Nilai Siklus I Keterangan Jumlah siswa Persentase (%) 1 ≤ 80 4 33.33 Belum Tuntas 2 ≥ 80 8 66.67 Tuntas Jumlah 12 100 Rata-rata 77,5 Nilai Tertinggi 90 Nilai Terendah 60
Berdasarkan tabel persentase ketuntasan hasil belajar siswa kelas IV SDN Asinan 02 siklus I, menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh nilai kurang dari KKM sebanyak 4 siswa atau 33,33 dari total keseluruhan siswa. Sedangkan siswa yang nilainya telah mencapai KKM sebanyak 8 siswa atau 66,67% dari total keseluruhan siswa.
II. Perbandingan Hasil Belajar Sebelum Tindakan dan Siklus I
Pada kondisi awal, siswa yang hasil belajarnya telah tuntas hanya 2 siswa atau 16,67%, sedangkan siswa yang hasil belajarnya belum sebanyak 10 siswa atau 83,33 dengan nilai rata-rat sebelum tindakan 58,33. Pada siklus I hasil belajar siswa meningkat menjadi 8 siswa yang telah tuntas hasil belajarnya atau 66,67% , sedangkan siswa yang belum tuntas hasil belajarnya hanya 4 siswa atau 33,33 dengan nilai rata-rata menjadi 77,5. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dan sesuai dengan criteria yang diharapkan yaitu dengan ketuntasan klasikal sebesar 80% dari 12 siswa.
Untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa sebelum tindakan dan setelah dilakukan tindakan pada siklus I, berikut disajikan tabel perbandingan hasil belajar siswa sebelum tindakan dan setelah tindakan siklus I :
Tabel 4.6
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Kondisi Awal dan Siklus I
No Nilai
Kondisi Awal Siklus I Jumlah Siswa Persentase (%) Jumlah Siswa Persentase (%) 1 Tuntas 2 16.67 8 66.67 2 Belum Tuntas 10 83.33 4 33.33 Jumlah 12 100 12 100
Mengacu pada tabel tersebut, dilihat bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas dalam belajar setelah diberikan tindakan pada siklus I. Dari kondisi awal ke siklus I mengalami peningkatan ketuntasan belajar yang signifikan, yaitu dari ketuntasan 16,67 % menjadi 66,67. Selain ketuntasan, rata – rata nilai juga mengalamipeningkatan, yaitu dari 58,33 menjadi 77,5. Pada siklus I ini ketuntasan belajar 66,67 % berarti peningkatan tersebut belum mencapaikriteria yang diharapkanyaitu 80% dari total jumlah siswa. Untuk lebih jelasnya mengenai perbandingan ketuntasan hasil belajar sebelum tindakan dan setelah tindakan siklus I tersaji pada diagram berikut ini:
Diagram 4.3
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar IPA Sebelum Tindakan dan Setelah Siklus I
4.2.3.6 Tahap Refleksi Siklus I
Tahap ini dilakukan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan. Refleksi bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan baik secara proses maupun hasil. Kegiatan refleksi dilakukan bersama antara guru pengajar, guru kolabolator (observer) dan perwakilan beberapa siswa. Berdasarkan observasi yang dilakukan terdapat kelebihan dan kelemahan dalam pembelajaran model Numbered Heads Together .
Pembelajaran IPA kelas IV pada materi perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan pada siklus I ini belum berhasil . sesuai criteria yang telah ditentukan yaitu ketuntasan klasikal telah mencapai lebih dari 80%. Nilai yang dipetoleh pada siklus I ini terendah 60 dan tertinggi 90 dengan rata-rata 77,5. Hal ini belum tercapai karena kekurangan pada pembelajaran model NHT diantaranya adalah sebagai berikut :
0,00% 10,00% 20,00% 30,00% 40,00% 50,00% 60,00% 70,00% 80,00% 90,00% 1 2 Tuntas Belum tuntas
1) Pembelajaran masih gaduh dan kurang terkendali ketika siswa bekerja didalam kelompok dan prsentasi didepan kelas.
2) Pada awal pertemuan, siswa masih belum memahami langkah – langkah pembelajaran NHT dengan benar.
3) Guru belum memberikan reward/penguatan pada siswa yang menjawab benar.
4) Tidak semua siswa memberikan komentar dan tanggapan terhadp hasil presentasi temannya.
5) Tidak semua siswa memberikan komentar dan tanggapan terhadap hasil presentasi temannya.
Mengacu pada kelemahan – kelemahan yang terjad selama proses pembelajaran, peneliti memutuskan untuk mengadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II sebagai berikut:
1) Pengajar lebih membimbing siswa selama langkah – langkah pembelajaran
2) Pengajar mengarahkan siswa untuk lebih memperhatikan siswa yang sedang presentasi dan meminta untuk memberikan komentar terhadap hasil presentasi tersebut.
3) Memberikan reaward/penguatan kepada siswa yang menjawab benar, baik secara individu maupun berpasangan.
4.2.4 Pelaksanaan Siklus II
4.2.4.1 Tahap Perencanaan Tindakan Siklus II
Pada tahap perencanaan tindakan siklus II ini, peneliti memperbaiki skenario pembelajaran berdasarkan masalah yang akan dilaksanakan pada siklus II. Berdasarkan hasil refleksi siklus I, maka guru pengajar melakukan upaya perbaikan pembelajaran, membimbing siswa selama langkah – langkah pembelajaran, mengarahkan siswa untuk memperhatikan dan memberikan komentar terahadap hasil presentasi siswa lain dan memberikan reward/penguatan kepada siswa yang menjawab benar. Selain itu guru pengajar juga menyiapkan kembali lembar kerja siswa, lembar evaluasi, rubrik penilaian dan alat peraga.
4.2.4.2 Tahap Pelaksanaan Tindakan Siklus II
Pelaksanaan tindakan siklus II ini sama dengantindakan siklus I, pembelajaran dilaksanakan dua pertemuan pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Langkah – langkah pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut:
Pertemuan I
Pertemuan pertama siklus II dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2014 dengan kompetensi dasar mendiskripsikan cara pencegahan kerusakan lingkungan (erosi, abrasi). Pada pertemuan pertama terdapat dua indikator pembelajaran yang disampaikan yaitu menjelaskan cara mencegah erosi dan menjelaskan cara mencegah abrasi. Berikut adalah langkah – langkah pembelajaran pada Siklus II pertemuan pertama:
a)Kegiatan awal
Kegiatan awal yang dilakukan oleh pengajar meliputi beberapa kegiatan yang telah didesain dalam rencana pembelajaran yaitu membuka pembelajaran dengan salam, berdoa, mengabsen dan melakukan apersepsi. Kegiatan apersepsi dilakukan dengan memperlihatkan gambar-gambar perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan. Siswa diminta menyebutkan cara mencegah kerusakan lingkungan yang ada dalam gambar. Setelah apersepsi, kemudian pengajar mengkomunikasikan tujuan pembelajaran dan cara belajar yang ditempuh dalam pembelajaran Numbered HT. Dan siswa diminta untuk membuat kelompok dengan jumlah 4 orang per kelompok .
b)Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, pengajar mengorientasikan siswa yaitu dengan memberikan teks bacaan mengenai perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan yakni erosi dan abrasi serta memberikan soal – soal yang bersangkutan dengan erosi dan abrasi . Dari teks bacaan tersebut secara berkelompok siswa melakukan penyelikan untuk menjawab soal – soal yang telah diberikan sebelumnya . Selama kegiatan tersebut berlangsung, pengajar berperan sebagai fasilitator dan motivator bagi siswa untuk menemukan penjelasan cara mencegah erosi dan abrasi. Setelah mendapat pengarahan dari pengajar, kemudian
mereka berdiskusi dengan kelompoknya untuk menemukan cara mencegah erosi dan abrasi. Jawaban yang ditemukan kemudian ditulis di kertas jawaban yang telah dibagikan sebelumnya.
Secara bergantian sesuai nomor kepala yang dipanggil oleh pengajar siswa mempresentasikan cara mencegah erosi dan abrasi yang ditemukannya di depan kelas. Suasana yang tercipta pada tahap ini sangat gaduh, karena siswa yang belum mendapatkan giliran untuk berpresentasi justru berjalan kesana kemari. Namun, hal tersebut dapat segera diatasi oleh pengajar ketika siswa yang lain menanggapi atau mengomentari hasil presentasi. Selama kegiatan inti berlangsung, pengajar melakukan penilaian proses. Penilaian yang dilakukan menyangkut penilaian afektif dan psikomotor siswa. Untuk memantapkan siswa mengenai materi yang dipelajari, pengajar memberikan umpan balik dan penguatan terhadap proses NHT dalam menemukan cara mencegah dari erosi dan abrasi . Pengajar dan siswa melakukan refleksi dalam mengikuti pembelajaran NHT. Pengajar juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk menanyakan hal – hal yang belum dipahami.
c)Kegiatan Penutup
Pengajar bersama – sama dengan siswa membuat penegasan atau kesimpulan tentang cara mencegah banjir dan longsor yang telah ditemukan oleh siswa dalam pembelajaran NHT. Pengajar menyampaikan kepada siswa tentang kesiapan dalam mengikuti evaluasi pembelajaran. Pengajar menjelaskan pada siswa tentang peraturan dalam mengerjakan soal evaluasi, kemudian pengajar membagikan soal evaluasi pada setiap siswa. Siswa mengerjakan soal evaluasi dengan baik dan pengajar mengawasi jalannya tes dari awal sampai akhir. Setelah semua siswa selesai mengerjakan soal evaluasi, pengajar bersama siswa mencocokkan hasil kerja siswa dan langsung mengumumkan hasil nilai tes kepada siswa.
4.2.4.3 Minat Belajar Siklus II
Tabel 4.7
Minat Belajar Siklus II
No Kriteria Interval Frekuensi Persentase(%)
1 Sangat tidak setuju 41-45 2 16,67
2 Tidak setuju 46-50 1 8,33 3 Setuju 51-55 5 41,67 4 Sangat setuju 56-60 4 33,33 Jumlah 12 100 Nilai tertinggi 60 Nilai terendah 41
Dari tabel diatas didapat bahwa nilai minat pada interval 41-45 ada 2 siswa atau mencapai 16,67%, pada interval 46-50 ada 1 siswa atau mencapai 8,88%, pada interval 51-55 ada 5 siswa atau mencapai 41,67% dan pada interval 56-60 ada 4 siswa atau mencapai 33,33%.
4.2.4.4 Tahap Observasi Tindakan Siklus II
Sama halnya pada siklus sebelumnya, pada siklus ini kegiatan observasi dilakukan bersamaan dengan kegiatan pelaksanaan tindakan. Observasi dilakukan meliputi kegiatan respon siswa.
Berdasarkan pengamatan pembelajaran model NHT pada siklus II lebih kondusif dan terkendali. Sebagian besar siswa telah memberikan respon positif dalam pembelajaran berdasarkan masalah. Hanya ada satu siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran.
4.2.4.5 Hasil analisis Data Hasil Belajar Siklus II
Hasil belajar setelah pelaksanaan tindakan pada siklus II yang diperoleh selama pelaksanaan pembelajaran model Numbered Heads Together pada mata pelajaran IPA kelas IV SDN Asinan 02 adalah sebagai berikut :
Tabel 4.8
Rekapitulasi Hasil Belajar IPA siklus II
No Nilai Siklus II Keterangan Jumlah Siswa Persentase (%) 1 71-80 4 33,33 Tuntas 2 81-90 4 33,33 Tuntas 3 91-100 4 33,33 Tuntas Jumlah 12 100 Rata-rata 89.17 Nilai Tertinggi 100 Nilai Terendah 80
Berdasarkan Tabel 4.8 dapat dilihat bahwa KKM pada siklus II mencapai 100% atau sebanyak 12 siswa yang tuntas. Kondisi ini mengalami peningkatan dari hasil tindakan siklus I. nilai rata-rata siswa juga meningkat, pada siklus I yaitu 77,5 menjadi 89,17 pada siklus II. Nilai terendah yang dicapai pada siklus II. Nilai terendah yang dicapai pada siklus II adalah 80 dan nilai tertinggi yang dicapai adalah 100. Untuk lebih jelasnya mengenai data ketuntasan hasil belajar siklus II dapat dilihat pada diagram 4.4 .
Diagram 4.4
Ketuntasan Hasil Belajar IPA Siklus II
0% 20% 40% 60% 80% 100% 120%
Tuntas Belum tuntas
Berdasarkan data perolehan hasil belajar dan mengacu pada KKM dapat disajikan dalam bentuk tabel 4.9 berikut :
Tabel 4.9
Persentase Ketuntasan Hasil Belajar IPA Siklus II
No Nilai siklus II Keterangan Jumlah siswa Persentase (%) 1 < 80 0 0 Belum Tuntas 2 ≥ 80 12 100 Tuntas Jumlah 12 100 Rata-rata 89.17 Nilai Tertinggi 100 Nilai Terendah 80
Berdasarkan tabel persentase ketuntasan hasil belajar siswa kelas IV SDN Asinan 02 siklus II, menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh nilai kurang dari KKM sebanyak 0 siswa atau 0% dari total keseluruhan siswa. Sedangkan siswa yang nilainyatelah mencapai KKM sebanyak 12 siswa atau 100% dari total keseluruhan siswa. Dengan hasil ini membuktikan bahwa penelitian tindakan yang dilakukan sebanyak 2 siklus telah berhasil karena telah melebihi batas ketuntasan yaitu 80%.
II. Perbandingan Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II
Pada siklus I hasil belajar siswa yang telah tuntas sebanyak 8 siswa atau 77,5%, sedangka siswa yang belum tuntas hasil belajarnya 4 siswa atau 22,5%, dengan nilai rata-rata 77,5. Hasil tersebut meningkatkan kembali setelah dilaksanakan siklus II, yaitu siswa yang telah tuntas belajarnya sebanyak 12 siswa atau 100% dengan nilai rata-rata menjadi 89,17.
Untuk mengetahui perbandingan hasil belajar setelah dilakukan tindakan pada siklus I dan II . berikut disajikan tabel perbandingan hasil belajar siswa setelah siklus I dan silus II .
Tabel 4.10
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I dan siklus II
No Nilai siklus I siklus II Jumlah Siswa persentase (%) Jumlah Siswa persentase (%) 1 Tuntas 8 77,5 12 100 2 Belum Tuntas 4 22,5 0 0 Jumlah 12 100 12 100
Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan kembali ketuntasan, rata-rata nilai mengalami peningkatan kembali, yaitu dari 77,5 menjadi 89,17. Baik pada siklus I maupun siklus II dalam penelitian tindakan ini telah mencapai kriteria yang diharapkan, karena ketuntasan klasikal yang dicapai telah lebih dari 80%. Berikut tersaji diagram untuk memahami lebih jelas mengenai perbandingan ketuntasan hasil belajar siklus I dan siklus II.
Diagram 4.5
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II
0,00% 20,00% 40,00% 60,00% 80,00% 100,00% 120,00% 1 2 Tuntas Belum tuntas Siklus I Siklus II
III. Perbandingan Hasil Belajar Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
Tabel 4. 11
Perbandingan Hasil Belajar Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
No Nilai Kondisi Awal Siklus I Siklus II
Jumlah Siswa Persen tase (%) Jumlah Siswa Persen tase (%) Jumlah Siswa Persen tase (%) 1 Tuntas 2 16,67 8 66,67 12 100 2 Belum Tuntas 10 83,33 4 33,33 0 0 Jumlah 12 100 12 100 12 100 Rata-rata 58,33 77,5 89,17 Nilai Tertinggi 90 90 100 Nilai Terendah 45 60 80
Berdasaran tabel 4.11, penelitian tindakan dengan menerapkan pembelajaran NHT ini telah meningkatkan ketuntasan hasil belajar siswa. Pada kondisi awal siswa yang telah mencapai nilai ketuntasan kriteria minimal (KKM=80) sebanyak 2 siswa dari 10 siswa atau 16,67%. Nilai rata – rata yang diperoleh pada kondisi awal adalah 58,33 dengan pencapaian nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 45. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I mendapatkan hasil peningkatan yang signifikan, yaitu sebanyak 8 siswa telah memperoleh nilai diatas kriteria ketuntasan minimal, jika dalam prosentase siswa yang telah tuntas sebanyak 66,67%. Nilai – rata – rata yang dicapai juga meningkat menjadi 77,5 dengan pencapaian nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 60.
Berdasarkan hasil tersebut penelitian tindakan pada siklus I ini belum berhasil karena belum mencapai kriteria keberhasilan dalam penelitian ini, yaitu ketuntasan klasikal sebesar 80%.dikarenakan siklus I belum berhasil, penelitian tindakan ini dilanjutkan ke siklus II. Hasil dari penelitian tindakan siklus II juga mengalamai peningkatan lagi, dengan ketuntasan belajar menjadi 100%.
Sebanyak 12 siswa yang mencapai nilai lebih dari KKM, tidak ada satupun siswa yang tidak tuntas setelah penelitian tindakan siklus II ini. Nilai rata – rata yang dicapai setelah siklus II ini juga mengalami peningkatan dari siklus sebelumnya yaitu 89,17 dengan pencapaian nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 80. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran model Numbered Heads Together dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPA materi perubahan lingkungan fisik dan pengaruh pada daratan serta cara pencegahannya pada siswa kelas IV SDN Asinan 02 Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang tahun pelajaran 2013/2014. Hasil tersebut disajikan pada grafik perbandingan ketuntasan hasil belajar pada kondisi awal, siklus I, dan siklus II berikut :
Diagram 4.6
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar IPA Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II 0,00% 20,00% 40,00% 60,00% 80,00% 100,00% 120,00% 1 2 3 Tuntas Belum tuntas
4.2.4.6 Tahap Refleksi Siklus II
Pada tahap refleksi kali ini, penulis membandingkan antara hasil yang diperoleh dengan indikator keberhasilan yang telah ditentukan sebelumnya. Berdasarkan indikator keberhasilan tersebut sampai pada siklus II ini penelitian sudah berhasil . untuk variabel tindakan dikatakan berhasil apabila 80% (≥6 langkah) langkah – langkah model Numbered Heads Together dilaksanakan oleh guru. Dan untuk variabel hasil belajar pencapaian KKM = 80 pada 80%. Pada siklus I siswa yang telah mencapai ketuntasan hasil belajar sebanyak 66.67 % sedangkan siklus 2 100%. Berdasarkan hasil yang telah mencapai indikator keberhasilan tersebut, maka penelitian ini sampai pada siklus II dan tidak dilanjutkan ke siklus selanjutnya.
4.3 Pembahasan
Penelitian tindakan ini difokuskan pada upaya perbaikan untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Asinan 02 dengan menerapkan pembelajaran model Numbered Heads Tigether. Model pembelajaran ini melatih siswa untuk mengembangkan hasil dalam belajar, mengembangkan kemampuan diri, sehingga siswa mampu mengaitkan pengetahuan yang didapatkan dikelas serta melatih siswa agar lebih berani mengungkapkan pendapat atau pertanyaan dikelas sesuai dengan pemahan siswa. Tugas guru dalam pembelajaran ini bukan sebagai pentransfer pengetahuan tetapi hanya sebagai fasilitator. Dalam pembelajaran ini siswa belajar secara berkelompok sehingga akan dapat mengoptimalkan kerjasama siswa dalam kelompok kecil. Setelah itu, siswa juga diminta untuk mempresentasikan hasil penyelesaiaannya di depan kelas dan siswa lain memberi komentar atau tanggapan. Dominasi guru dalam pembelajaran Numbered Heads Together menjadi berkurang sehingga siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Guru selalu berusaha mengoptimalkan interaksi antar siswa atau antara siswa dengan guru melalui kegiatan diskusi dan presentasi. Pada akhir pembelajaran guru memberikan evaluasi untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.
Menurut Slavin (dalam Rusman 2011:205) bahwa : (1) penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain, (2) pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif tipe NHT (NumberedHeads Together).
Perolehan hasil belajar siswa pada siklus I sudah menunjukkan adanya peningkatan, dengan ketuntasan klasikal yang telah mecapai 66,67% dan perolehan nilai rata – rata 77,5. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian tindakan pada siklus I belum keberhasilan. Siswa yang aktif dalam pembelajaran sudah merata, hanya saja pada awal pertemuan banyak siswa yang masih bingung dalam mengikuti langkah pembelajaran NHT. Terdapat dua siswa yang terlihat belum aktif dalam pembelajaran, salah satunya disebabkan karena meraka masih merasa takut salah dan malu untuk bertanya, menjawab pertanyaan atau mengemukakan pendapat. Kerjasama antar siswa juga sudah nyata dalam diskusi berpasangan dan saat mempresentasikan hasil kerja. penelitian dilanjutkan ke siklus II dengan memperbaiki dan lebih mengoptimalkan pembelajaran sesuai dengan hasil refleksi. Perbaikan tersebut diantaranya guru lebih memberikan bimbingan kepada siswa selama langkah – langkah pembelajaran, siswa lebih diarahkan untuk memperhatikan siswa yang sedang presentasi dan meminta untuk memberikan komentar terhadap hasil presentasi tersebut, dan guru memberikan reward/penguatan kepada siswa yang menjawab benar baik secara individu maupun berpasangan.
Dari pengamatan terhadap proses pembelajaran yang terjadi pada tindakan siklus II, siswa menjadi lebih aktif, kreatif dan partisipatif. Siswa sudah lebih paham dalam mengikuti langkah – langkah pembelajaran model Numbered Heads Together. Hasil ketuntasan belajar 12 siswa pada siklus II ini meningkat lagi menjadi 100%.Dapat dikatakan bahwa siswa telah mencapai ketuntasan belajar
sebab telah memenuhi standar ketuntasan belajar 80%. Sampai pada perbaikan pembelajaran siklus II, semua siswa telah mencapai nilai tuntas.