• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN EMBRIOLOGI Perspektif QUR AN DAN SAINS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN EMBRIOLOGI Perspektif QUR AN DAN SAINS"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN EMBRIOLOGI Perspektif QUR’AN

DAN SAINS

Bambang Sugiyanto1)

1) DosenFakutas Ilmu Tarbiyah (FITK) UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo

ABSTRAK

Manusia diciptakan dengan dua unsur yakni tanah (saripati tanah) dan ruh (ruh Ilahiah). Maka jika dilihat dari proses penciptaannya, juga dapat dikategorikan menjadi dua kategori, yakni proses penciptaan manusia pertama (Adam as,), Hawa, Isa as, dan proses penciptaan Bani Adam (Manusia pada umumnya). Dalam proses penciptaan Adam dan manusia umumnya, ternyata terdapat perbedaan. Al-Qur’an menginformasikan bahwa Adam as, adalah manusia pertama yang diciptakan secara langsung oleh Allah dari tanah (lumpur hitam) yang diberi bentuk, (Q.S. Al-Hjir:26), kemudian Allah meniupkan “ruh” (ruh ciptaan-Nya) pada lumpur hitam tersebut, sehingga menjadilah ia sosok mahluk yang sempurna. (QS. As-Shaad: 72). Sedangkan dalam proses penciptaan manusia umumnya, tidaklah demikian adanya, sebab “sari pati tanah” yang pada mulanya untuk menciptakan Adam as, oleh kuasa Allah telah dirubah bentuknya menjadi cairan yang disebut dengan “air mani” (nutfah). (Q.S. Al-Mukminuun : 13).

Kata Kunci: Embriologi, AL Qur’an, Sains

A. PENDAHULUAN

Al-Qur’an memberikan perhatian yang besar tentang manusia, ini terbukti dengan begitu banyaknya ayat-ayat dalam al-Qur’an yang membicarakan hal ikhwal manusia dalam berbagai aspek-nya, baik yang berkenaan dengan tugas, tanggung jawab, hak dan kewajibannya, sifat dan tabiat-nya, hingga pada masalah kebutuhan dan kecenderungan-kecenderungannya. Bahkan manusia adalah makhluk pertama yang disebut dua kali dalam rangkaian Wahyu yang pertama kali diturunkan Allah Swt.

                                  

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang

Maha pemurah, yang mengajar

(manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang

tidak diketahuinya”. (Q.S. Al A’laq:1-5)

Bentuk perhatian al-Qur’an terhadap manusia juga dapat dilihat dengan nama-nama yang diberikan al-Qur’an untuk menyebut manusia, dalam al-Qur’an manusia disebut dengan nama al-insan,

an-nas dan al-basyar, kesemua nama

tersebut menggambarkan sebagian dari sifat, tabiat, kecenderungan serta ciri khas manusia.

Manusia adalah kreasi terbaik Allah Swt, yang diciptakan dengan begitu indah lagi sempurna. Kesempurnaan dan keungulan manusia ini bukan hanya

(2)

dalam dimensi fisik (jasmaniah) saja, akan tetapi manusia juga sempurna dan unggul dalam psikisnya (ruhaniah-nya).

Dilihat dari fisik-nya manusia benar-benar mahluk yang paling baik, tubuh manusia indah dan cantik, susunan tubuhnya juga sangat serasi dan seimbang, dan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan alam sekitarnya dengan sangat baik. Selain itu fisik manusia juga dilengkapi dengan indera-indera, seperti indera penglihatan, pendengaran, penciuman dan sebagainya, dimana masing-masing indera itu memiliki tugas dan fungsi yang berbeda satu dengan yang lain. Selain indera, tubuh manusia juga dilengkapi dengan organ/anggota tubuh, seperti kaki, tangan dan sebagainya, sebagaimana indera anggota tubuh manusia juga memiliki peran yang berbeda satu dengan yang lainnya. Kesemua ini menambah indah dan sempurnanya fisik/tubuh manusia. Sedangkan dalam sisi psikis-nya, manusia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki mahluk jenis lain, kemampuan untuk berfikir, kesadaran akan realitas, kemampuan untuk mengungkapkan ide dan gagasan adalah bagian dari kehebatan sisi psikis manusia, yang tidak dimiliki mahluk jenis lain.

Kemudian, jika dilihat dari unsur penciptaan dan sifat-sifat yang dimiliki, manusia juga lebih unggul daripada malaikat, jin, hewan atau tumbuhan. Jika malaikat dicipta dengan akal suci dan pikiran yang murni (cahaya), tanpa aspek duniawi, hawa nafsu, kemarahan, dengki dan sebagainya. Senantiasa tunduk dan patuh terhadap perintah Allah, tidak memiliki cipta, rasa, karsa dan nafsu (keinginan) sebagaimana manusia. Sementara Iblis yang dicipta dari Nar (Api), yang sifatnya merusak dan sebagai musuh utama bagi manusia, dan jin yang dicipta dari asap beracun yang sifatnya memabukan. Tumbuhan hanya mempunyai naluri, Hewan hanya

memiliki syahwat dan tidak mempunyai apa yang dalam al-Qur’an disebut “Ruh

Ilahi”. Maka manusia dicipta dari dua

unsur yang berlainan sifat dan karakter-nya, yakni unsur yang bersifat padat berupa tanah (saripati tanah), dan unsur yang bersifat ilahiah (Ruh Ilahi). Ruh inilah yang menjadi hakikat kesempurnaan manusia, yang memungkinkan manusia untuk merambah jalan Ilahi dan dekat kepada Allah melebihi para Malaikat.

Manusia selain mempunyai kelebihan daripada hewan, ternyata ia juga mempunyai semua yang dimiliki jenis-jenis makhluk tersebut, disamping mampu berpikir dan serta mempunyai pilihan untuk berbuat dan untuk tidak berbuat. Tak hanya itu, taklif yang Allah berikan kepada manusia juga tugas yang sangat terhormat, yakni sebagai duta/wakil Allah untuk menguasai bumi

(khalifiah fil ardh), memelihara dan

memanfaat apa saja yang terdapat didalamnya, dan sebagai hamba Allah

(abdullah) yang diwajibkan untuk

menyembah dan taat hanya kepada-Nya. Manusia diciptakan dengan dua unsur yakni tanah (saripati tanah) dan ruh (ruh

Ilahiah). Maka jika dilihat dari proses

penciptaannya, juga dapat dikategorikan menjadi dua kategori, yakni proses penciptaan manusia pertama (Adam as,), Hawa, Isa as, dan proses penciptaan Bani Adam (Manusia pada umumnya). Dalam proses penciptaan Adam dan manusia umumnya, ternyata terdapat perbedaan. Al-Qur’an menginformasikan bahwa Adam as, adalah manusia pertama yang diciptakan secara langsung oleh Allah dari tanah (lumpur hitam) yang diberi bentuk, (Q.S. Al-Hjir:26), kemudian Allah meniupkan “ruh” (ruh ciptaan-Nya) pada lumpur hitam tersebut, sehingga menjadilah ia sosok mahluk yang sempurna. Firman Allah Swt: “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya

(3)

roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya". (QS. As-Shaad: 72)

Sedangkan dalam proses penciptaan manusia umumnya, tidaklah demikian adanya, sebab “sari pati tanah” yang pada mulanya untuk menciptakan Adam as, oleh kuasa Allah telah dirubah bentuknya menjadi cairan yang disebut dengan “air mani” (nutfah). Dalam kerangka inilah Allah Swt, berfirman:

Dan sesungguhnya Kami telah

menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh

(rahim)” (Q.S. Al-Mukminuun : 13).

Artikel ini akan mencoba menelaah dan mengkomperasikan tahapan penciptaan manusia dalam perpektif al-Qur’an dan Sains, metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah kualitatif dengan pendekatan library research.

B. PEMBAHASAN

1. Perkembangan Janin dalam Perspektif Al Qur’an

Berbeda dengan tahapan atau proses penciptaan Adam dan Hawa, ataupun Isa putra Maryam. Tahapan penciptaan manusia umumnya (bani Adam), tidaklah diciptakan secara langsung oleh Allah, dalam arti sebagaimana Allah ketika menciptakan Adam, Hawa atau Isa as,. Dikatakan dalam al-Qur’an bahwa “sari pati tanah” yang pada mulanya digunakan untuk menciptakan Adam manusia pertama, telah dirubah bentuknya menjadi cairan yang disebut dengan sperma (nutfah/air mani) yang tersimpan di dalam organ reproduksi laki-laki, dan ovum atau sel telur yang berada di dalam alat reproduksi wanita.

Ini telah diterangkan Allah Swt, dalam firman-Nya:                   

“dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”. (Q.S. Al Mu’minuun: 12-13).

Sedangkan Ruh ciptaan Allah ditiupkan dalam tubuh manusia ketika Ia masih berada dalam rahim (kandungan) atau dalam masa kehamilan, yang akan terjadi ketika adanya hubungan seksual (bercampurnya) antara suami istri. Dari hubungan seksual atau bercampurnya suami istri inilah, sperma akan keluar dari buah pelir laki-laki (suami) melalui penis, kemudian akan masuk ke dalam vagina yang dekat dengan mulut leher rahim. Dari sini sperma bergerak menuju ke arah lubang rahim dan akhirnya sampai kesaluran feloopi, biasanya akan bertemu dengan ovum di tempat yang disebut ampullatubea.

Dari sekian ribu bahkan jutaan nutfah atau sperma yang terpancar dari alat kelamin laki-laki ini, yang menurut ilmu kedokteran berjumlah sekitar 300-400 juta spermatozoa, tidak kesemuanya akan bertemu dengan ovum di dalam rahim, namun hanyalah sebagian kecilnya saja. Dalam konteks ini Baginda Nabi Saw, pernah bersabda:

“Tidak dari keseluruhan cairan yang ditumpahkan manusia dibuat, tetapi dari

sebagain kecilnya saja” (H.R. Muslim).

Dengan bertemunya ovum dan

sperma, maka bersatulah keduanya dan

terjadilah pembuahan (dzigot; ovum yang telah dibuahi). Dzigot ini kemudian bergerak keruangan atau rongga rahim dan disimpan ditempat tersebut, maka pada saat itulah terjadi kehamilan yang

(4)

sebenarnya, kemudian setelah dzigot terbentuk dan menempel pada dinding rahim bagian dalam, mulailah berkembang menjadi janin selama 9 bulan 10 hari, adapun makan dan pernafasan janin terjadi melalui hubungan dengan ibu hubungan ini terjalin melalui plesenta atau ari-ari.

Selama 9 bulan 10 hari inilah tahapan-tahapan atau proses penciptaan manusia sempurna berlangsung, dalam kaitannya dengan ini al-Qur’an menjelaskan bahwa selama sembilan bulan sepuluh hari masa kehamilan akan terjadi beberapa fase atau tahapan penciptaan manusia sempurna, adapun fase-fase tersebut telah diterangkan Allah Swt., melalui firman-Nya dalam surat al mu’minuun ayat 12-14, yang artinya:                                                   12. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

13. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

14. kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.

Sementara itu dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim juga dijelaskan: “Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan :

Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya...” (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Mendasarkan pada Al Qur’an Surat Al Mukminum dan Hadist di atas maka dapat dipahami bahwa Allah menciptakan anak cucu adam melalui fase-fase berikut :

2. Nuthfah

Nuthfatun adalah sperma laki-laki dan sel telur perempuan yang telah bertemu dan terjadi pembuahan kemudian terjadi perubahan dari keadaan yang satu kepada yang lain dan dari bentuk yang satu kepada bentuk yang lain. Air mani yang tersusun dari berbagai campuran tersebut telah disebutkan dalam Al- Qur'an. "Yang membuat segala sesuatu yang Dia

ciptakan sebaik-baiknya dan Yang

memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya

dari sari pati air yang hina (mani)". (QS.

As Sajdah : 7-8).

Kata-kata sulalah (saripati) pada ayat tersebut merupakan bagian yang mendasar atau "bagian dari satu kesatuan".

(5)

3. Alaqah

Alaqah secara bahasa mempunyai arti

sesuatu yang mengambang atau menempel, sedangkan pada 'alaqah ini embrio berbentuk segumpal darah sebagaimana ditegaskan Allah SWT : "Dia telah menciptakan manusia dari

segumpal darah" (QS. Al 'Alaq : 2)

Alaqah merupakan bahan dasar bayi

yang berupa sel tunggal, dalam istilah biologi sel ini disebut zigot sebagai "segumpal darah", istilah 'alaqah ini juga tersebut dalam firman Allah SWT : "kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya,dan

menyempurnakannya". (QS. Al Qiyamah

: 38).

4. Mudghah

Mudghah yang mempunyai arti

segumpal daging ini merupakan fase yang mana berbentuk lengkung, dengan penampakan gelembung-gelembung serta alur-alur. Embrio yang tumbuh berumur 40-42 hari tidak lagi mirip dengan embrio hewan karena sudah dilengkapi dengan pendengaran, penglihatan, kulit, otot dan tulang sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW dari Hudzaifah ibnu Asid:

"Ketika nuthfah telah lewat 42 malam dari penciptaan, Allah Ta`ala mengirim

malaikat untuk membentuknya dan

menciptakan pendengaran, penglihatan, kulit, otot dan tulang. Kemudian malaikat bertanya : Ya Allah, ini akan dijadikan laki-laki atau perempuan? Dan Allah memutuskan apa yang dikehendakiNya, .." (HR. Muslim)

Dalam tahap ini sudah berlaku pembentukan otak, saraf tunjang, telinga dan anggota-anggota yang lain. Selain itu sistem pernafasan bayi sudah terbentuk. Jantung bayi pula mula berdengup,darah mulai mengalir dengan lebih banyak

membekalkan oksigen dan pemakanan yang secukupnya. Menjelang tujuh minggu sistem pernafasan bayi mula berfungsi sendiri.

5. Izam dan Lahm

Pada tahap ini pembentukan tulang mendahului pembentukan oto-otot. Apabila tulang belulang telah dibentuk, otot-otot akan membungkus rangka tersebut.Firman Allah yang bermaksud : "Lalu Kami mengubahkan pula mudghah itu menjadi izam da kemudiannya Kami

membalutkan Izam dengan daging" (

al-Mukminun : 14)

Kemudian pada minggu ketujuh perut dan usus , seluruh saraf, otak dan tulang belakang mulai terbentuk. Serentak dengan itu sistem pernafasan dan saluran pernafasan dari mulut ke hidung dan juga ke paru-paru mula kelihatan. Begitu juga dengan organ pembiakan, kelenjar, hati, buah penggang, pundi air kencing dan lain-lain terbentuk dengan lebih sempurna lagi. Kaki dan tangan juga mula tumbuh. Begitu juga mata, telinga dan mulut semakin sempurna. Pada minggu kelapan semuanya telah sempurna dan lengkap.

6. Nafkh

u

r-ruh

Ruh merupakan penggerak dan pertanda dari kehidupan seorang hamba, tanpa adanya ruh maka jasad yang telah terbentuk tidak akan sempurna.Allah Ta`ala berfirman :

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan

sedikit". (QS. Al Isra' : 85)

Proses peniupan ruh oleh malaikat tersebut diiringi dengan proses penentuan rizkinya, ajalnya, amalnya dan ia celaka atau bahagia. Proses peniupan ruh pada embrio tersebut ketika berumur 120 hari

(6)

sebagaimana disebutkan pada hadits dari Abi Abdirrahman Abdillah bin Mas'ud RA. Hal lain yang disebutkan dalam Al Qur'an adalah bahwa embrio terselubungi oleh tiga kegelapan "dzulumatin tsalats". Para pakar embriologi menyebutkan bahwa maksud dari tiga tabir kegelapan itu adalah; 1. Dinding bagian dalam perut ibu, 2. Dinding uterus, dan 3. Membran amniokorionik. Dalam konteks ini al qur’an telah mengungkapkan: "…Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga

kegelapan…". (QS. Az Zumar : 6).

Tentang tahapan/proses penciptaan manusia ini, Umar Shihab dalam

Kontekstualitas Al-Qur‟an: Kajian

Tematik atas Ayat-ayat Hukum dalam

Al-Qur‟an , memaparkan bahwa proses

penciptaan manusia terbagi ke dalam beberapa fase kehidupan sebagai berikut.1

Pertama, fase awal kehidupan

manusia yang berupa tanah. Manusia berasal dari tanah disebabkan oleh dua hal: (1) manusia adalah keturunan Nabi Adam a.s. yang diciptakan dari tanah; (2) sperma atau ovum yang menjadi cikal bakal manusia bersumber dari saripati makanan yang berasal dari tanah.

Kedua, saripati makanan yang berasal dari tanah tersebut menjadi sperma atau ovum, yang disebut oleh Al-Qur’an dengan istilah nutfah.

Ketiga, kemudian sperma dan ovum tersebut menyatu dan menetap di rahim sehingga berubah menjadi embrio

(„alaqah).

1 Penjelasan mengenai fase kehidupan manusia ini didasarkan pada Q.S. al-Mu’minun [23]: 13-14. Lihat Umar Shihab, Kontekstualitas Al-Qur‟an: Kajian Tematik atas Ayat-ayat Hukum dalam Al-Qur‟an (Jakarta: Penamadani, 2005), hlm. 105-106.

Keempat, proses selanjutnya, embrio tersebut berubah menjadi segumpal daging (mudlghah).

Kelima, proses ini merupakan

kelanjutan dari mudlghah. Dalam hal ini, bentuk embrio sudah mengeras dan menguat sampai berubah menjadi tulang belulang („idzaam). Keenam, proses penciptaan manusia selanjutnya adalah menjadi daging (lahmah). Ketujuh, proses peniupan ruh. Pada fase ini, embrio sudah berubah menjadi bayi dan mulai bergerak. Kedelapan, setelah sempurna kejadiannya, akhirnya lahirlah bayi tersebut ke atas dunia.

Tahapan-tahapan yang terjadi dalam proses penciptaan manusia ini, juga diterangkan dalam sebuah hadist dari Anas bin Malik Ra, Nabi Saw, pernah bersabda:

“Allah Swt, mengutuskan Malaikat ke dalam rahim. Malaikat berkata: “Wahai Tuhan! Ia masih berupa air mani”. Setelah beberapa ketika Malaikat berkata lagi: “Wahai Tuhan! Ia sudah berupa

darah beku”. Begitu juga setelah berlalu

empat puluh hari Malaikat berkata lagi: “Wahai Tuhan! Ia sudah berupa seketul

daging”. Apabila Allah Swt, membuat

keputusan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka Malaikat berkata: “Wahai Tuhan! Orang ini akan

diciptakan lelaki atau perempuan?

Celaka atau bahagia? Bagaimana

rezekinya?, serta bagaimana pula

ajalnya?” Segala-galanya dicatat semasa

dalam perut ibunya”. (H.R. Bukhari Muslim).

Penggalan firman Allah dan hadist di atas, memberikan petunjuk terkait dengan beberapa fase (tahapan) yang terjadi dalam rahim (masa kehamilan), yang dimulai dengan tumpahnya air mani

(7)

melalui hubungan seksual antara suami istri, kemudian air mani tersebut bertemu dengan sel kelamin perempuan (ovum) dalam saluran telur (tuba falooppi). Selanjutnya nutfah yang telah bercampur akan membelah menjadi dua, lalu dua sel itu akan membelah menjadi empat. Tentang ini, Usman Najati memberian penjelasan, bahwa proses pembelahan ini akan terus berlangsung sampai dalam waktu 72 jam membentuk seperti buah

frambus dan fase ini dikenal dengan

nama morulla, kemudian bertambah besar yang dikenal dengan blastula.

Blastula ini kemudian begerak di dalam

saluran telur dibantu dengan dorongan tambut-rambut kecil (silia) sepanjang saluran telur. Kemudian dalam massa 5-7 hari barulah ia sampai pada rahim dan tertanam pada dinding rahim, fase ini disebut fase alaqah (implantasi). Alaqah ini mulai dapat dibedakan pada minggu kedua, setelah itu pembuahan menjadi lapisan ekstoderm dan entoderm.

Pada minggu ke 2 mulai tampak lapisan

mesoderm. Pada hari ke 20-21 mulai

terlihat bentuk tubuh pada alaqah berupa tonjolan dan lekukan yang salah satunya nanti akan menjadi tulang punggung. Dengan munculnya bentuk tubuh alaqah memasuki fase mudghah (embrio). Proses pembentukan ini terus berlangsung sampai hari ke 30 sampai akhir minggu keempat kita belum dapat mengenal angota tubuh tertentu. Kemudian pada awal minggu ke 5 mulailah proses pembentukan. Proses ini berakhir pada bulan ketiga. Inilah yang dinamakan fase mudghah yang sempurna kejadiannya, akan tetapi jika Allah tidak menghendaki Ia tercipta maka ia akan tetap menjadi segumpal daging yang

tidak sempurna kejadiannya, lalu rahim akan mengeluarkannya.2

Dan jika Allah menghendaki untuk menciptakannya maka janin tersebut akan terus berkembang menjadi tulang-belulang yang kemudian tulang tulang-belulang tersebut dibungkus dengan daging, dan telah ditetapkan taqdirnya oleh Allah, selanjutnya Allah meniupkan ruh ciptaan-Nya kedalam jasad tersebut. Terkait ini Nabi Saw, dalam salah satu hadist yang diriwayatkan Imam Muslim, bersabda:

“Penciptaan setiap kamu dikumpulkan dalam empat puluh hari, dan dia menjadikan alaqah kemudian mudqhah untuk waktu yang sama. Malaikat dikirim kepadanya dan malaikat mencatat empat hal mata pencaharainya, umurnya, kelakukannya, dan apakah dia akan susah atau senang. Kemudian ruh

ditiupkan kepadanya”. (H.R. Muslim).

Dengan ditiupkanya ruh, inilah Ia menjadi manusia sempurna dan siap untuk terlahirkan ke dunia, ini sejalan dengan firman Allah Swt., yang menyatakan:                       

“… kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. (Q.S. As-sajdah: 9).

2

(8)

C. SIMPULAN

Menurut sains, manusia terdiri daripada jasad yang bermula dengan benda, ia tidak banyak beza dengan jasad haiwan. Akan tetapi dari segi batiniah perbezaan yang amat ketara akan kelihatan. Manusia mempunyai jiwa yang memungkinkan otak itu berfikir. Kalbunya jadi sumber penghayatan rohaniah dan tangan menjadi pangkal teknik, mewujudkan apa yang difikirkan oleh otak dan dirasakan oleh kalbu. Sains juga telah menyediakan satu cabang khusus untuk jiwa yang lebih dikenali sebagai psikologi. Jiwa memungkinkan individu manusia membentuk kehidupan sosial. Kehidupan sosial inilah yang membentuk masyarakat dan di dalam masyarakatlah manusia hidup secara kemanusiaan. Sementara dalam Al-Qur’an, banyak menyebutkan proses kejadian manusia salah satunya QS. Al-Mu’minun ayat 14. Bahwa manusia diciptakan dari nuthfah (setetes air mani), kemudian air mani itu menjadi segumpal darah, lalu segumpal darah itu menjadi segumpal daging, dan segumpal daging itu menjadi tulang belulang, lalu tulang belulang itu dibungkus dengan daging. Kemudian Allah menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain yaitu manusia yang sempurna.

SARAN

Berdasarkan prnrlitian di atas perlu dilakukan kajian lebih lanjut tentang pendidikan anak sejak di dalam kandungan serta efeknya untuk kedewasaan mental anak

DAFTAR PUSTAKA

Al-Maraghi, Ahmad Musthafa. Tafsir AL-Maraghi. Semarang: Toha Putra. 1993 Az-Zuhaili . Wahbah, Tafsir Al Wasith Jilid

1. Jakarta : Gema Insani. 2012 Kiptiyah, Embriologi dalam

Al-Qur’an:Kajian Pada Proses Penciptaan Manusia, (Malang, UIN Press Malang. 2007)

Kiptiyah, Embriologi dalam Al-Qur‟an:Kajian Pada Proses Penciptaan Manusia, Malang : UIN Press Malang. 2007

Nadiah Thayyarah. 2013. Buku pintar Sains dalam al-Qur’an. Jakarta: Zaman. Quthb, Sayyid. Tafsir fi Zhilalil Qur‟an.

Jakarta: Gema Insani. 2004

Rakhmat Jalaluddin, Renungan-renungan Sufistik, (Bandung : Penerbit Mizan : 1997)

Redaksi, Dewan,Ensklopedi Islam vol. 4, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 1993. Rif’at Syauqi Nawawi, Konsep Manusia Menurut al-Qur’an, dalam Rendra K (Penyunting), Metodologi Psikologi Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000.

Shihab Qurais, Tafsir al-Mishbah . Jakarta: Lentera Hati. Vol.VIII. 2006

Shihab, Muhammad Quraish. Wawasan Al-Quran : Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung : PT Mizan Pustaka, 2007

Shihab, Quraisy, 2003, Membumikan al-Qur’an,”Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat”, Bandung: Mizan, Cet. XXV

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syeikh. Tafsir Al-Muyassar Jilid 1. Solo : An-Naba’. 2011

Syakir, Ahmad. Mukhtasar Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2. Jakarta : Darus Sunnah. 2014 Syati, Aisyah Bintu. Manusia Dalam

Perspektif AL-Qur‟an, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1955

Thayyarah.Nadiah. Buku pintar Sains dalam al-Qur‟an. Jakarta: Zaman. 2013 Umar Shihab, Kontekstualitas Al-Qur‟an:

Kajian Tematik atas Ayat-ayat Hukum dalam Al-Qur‟an (Jakarta: Penamadani, 2005),

Usman, M Ali, Manusia Menurut Islam, Bandung: Mawar, 1970.

Referensi

Dokumen terkait

Hain zuzen ere, material konposatuetan, nanozelulosa kopuru txiki bate- kin, horien indarra eta zurruntasuna asko handitu daitezke; horregatik, na- nozelulosa oso interesgarria

Berdasarkan hasil perhitungan proyeksi kebutuhan air bersih didapat total debit yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh sambungan rumah yang ada di Kabupaten

Menurut Bapak Riza selaku Kepala Unit Suroboyo bus menyatakan bahwa sumber daya manusia yang ada untuk mengelolah program ini sudah baik, untuk bagian operasonal

Negara Exportir utama komoditas krustasea adalah Negara Ekuador dengan total transaksi yang mencapai 255.928.000 juta USD pada tahun 2014 yang meningkat 10,9%

Pada prinsipnya, perbedaan tekanan pada sisi upstream dan downstream dari core plug akan menyebabkan fluida dapat mengalir, namun hal yang patut diperhatikan adalah dalam

H1 H2 H3 Manajemen Organisasi Kondisi Lingkungan Kerja Fisik Perilaku Keselamatan Kerja Pelatihan Keselamatan Kerja Komunikasi Keselamatan Kerja Peraturan & Prosedur

Jika keluarga skizofrenia memperlihatkan emosi yang diekpresikan secara berlebihan, misalnya penderita sering diomeli, atau terlalu banyak dikekang dengan aturan-aturan

Dan mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian