• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Volume Lalu Lintas Untuk Perencanaan Geometri Dan Perkerasan Jalan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Volume Lalu Lintas Untuk Perencanaan Geometri Dan Perkerasan Jalan"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

 VOLUME LALU-LINT

 VOLUME LALU-LINTAS RENCANA UNT

AS RENCANA UNTUK 

UK 

GEOMETRIK DAN PERKERASAN JALAN

GEOMETRIK DAN PERKERASAN JALAN

Hikmat Iskandar Hikmat Iskandar Puslitbang Jalan dan

Puslitbang Jalan dan Jembatan, Jembatan, Jl. A.H. Nasution 264 BandungJl. A.H. Nasution 264 Bandung RI

RINGKASNGKASANAN

IIndi

ndikasi

kasi ke

kerrusakan jal

usakan jalan bany

an banyak di

ak ditudu

tuduhkan ke

hkan kepada pe

pada penye

nyebab

bab

utam

utamany

anya,

a, ove

overrlloadi

oading kh

ng khusus

ususnya k

nya ke

endaraan-

ndaraan-ke

kendaraan berat yang te

ndaraan berat yang terrjjadi

adi

di j

di jal

alur P

ur Pan

antu

tura,

ra, pu

pullau J

au Jaw

awa. I

a. Ind

ndiika

kasi yan

si yang p

g pe

errna

nah t

h te

errjjadi, m

adi, miisa

sallny

nya

a

ke

kerrun

untuh

tuhan j

an je

em

mbata

batan ti

n tipe Cal

pe Cale

ende

nder

r H

Ham

amiillton ”

ton ”C

Ciipun

pune

egara

gara L

Lam

ama”

a” pad

pada

a

tahun 2003. Sekalipun demikian, berapa besar overloading

tahun 2003. Sekalipun demikian, berapa besar overloading

kendaraan-ke

kendaraan te

ndaraan terrse

sebut, sam

but, sampai saat i

pai saat ini ”

ni ”be

bellum

um”

” ada p

ada publ

ubliikasi yang

kasi yang

m

men

engurai

guraikanny

kannya

a se

secar

cara

a pasti

pasti..

M

Makal

akalah i

ah ini

ni be

berrm

maksud m

aksud me

eny

nyaj

ajiikan bahasan te

kan bahasan tentang pe

ntang perren

encanaan

canaan

volume lalu-lintas yang melingkupi landasan hukum dan metodologinya,

volume lalu-lintas yang melingkupi landasan hukum dan metodologinya,

bai

baik untu

k untuk pe

k perre

encanaan ge

ncanaan geom

ome

etr

triik m

k maupun p

aupun perkerasan j

erkerasan jal

alan. D

an. Dar

arii

bahasannya, disimpulkan bahwa istilah overloading memiliki dua arti yang

bahasannya, disimpulkan bahwa istilah overloading memiliki dua arti yang

be

berrbe

beda, per

da, pertam

tama yai

a yaitu be

tu berrat as ke

at as kendar

ndaraan m

aan mel

elam

ampaui

paui batas M

batas Muatan

uatan

Sumbu Terberat (MST), dan yang kedua yaitu terjadinya kerusakan dini

Sumbu Terberat (MST), dan yang kedua yaitu terjadinya kerusakan dini

akibat beban rencana lalu-lintas dicapai lebih cepat dari yang

akibat beban rencana lalu-lintas dicapai lebih cepat dari yang

diperkirakan. Untuk mengatasi masalah tersebut, disarankan untuk

diperkirakan. Untuk mengatasi masalah tersebut, disarankan untuk

m

me

ellakukan pe

akukan penguk

ngukuran

uran vol

volum

ume l

e lal

alu-

u-lliintas dan be

ntas dan beban ke

ban kendaraan

ndaraan yang

yang

representatif sebagai dasar perencanaan.

representatif sebagai dasar perencanaan.

K

Kata Kata Kununci ci : : KKeerrususakaakan Jn J alalan, Beban, Beban As Kan As Keendndaraan, Maraan, Muatuatan San Sumumbu Tebu Terrbeberratat

SUMMARY SUMMARY

IIndindicatication of pavemon of pavemenent damt damages on ages on mmany rany roads address to uloads address to ultitimmateate causes, ie. Overloading of heavy vehicles especially trucks operating along the causes, ie. Overloading of heavy vehicles especially trucks operating along the P

Pantantura lura laneane, Nor, North of Jth of J avava ia island. Psland. Prrovoveed wd which has bhich has beeeen occun occurrrreed, e.gd, e.g. T. Thehe coll

collapsapse e of Calof Caleendndar Har Hamamiillton ton ““CiCipupunenegara Lgara Lamama” a” bribridgdge e at Pantura Lat Pantura Lane ane iinn ye

year ar 2002003. Al3. Althouthough, how gh, how far far the the vevehihiclcles es arare ove overlerloading, up to now thoading, up to now there iere is nos no yet for

(2)

 Th

 This pis paappeer r aaimims ts to do disisccuusss ts thhe de deessigign tn traraffffic vic voolulummees ws whhicich is ch is coovveereredd se

seveverral al topitopics, ics, ie. basie. basic rc regegululatiation and on and mmethodethods, both for s, both for gegeomometrietric and pavc and pavememenentt de

desisign. Tgn. The he didiscussioscussion concln concludeuded that the d that the term term of overof overlloadioading mng may have ay have twotwo m

meaneaniingsngs. F. Fiirrst, vest, vehihiclcle axe axlle we weight ieight is greates greater r than Maxithan Maximmum um peperrmmiissiblssible Axlee Axle Load (MST); and second, traffic load design which is expressed as Cumulative Load (MST); and second, traffic load design which is expressed as Cumulative E

Equivalquivalenent Stant Standard Axldard Axles es (C(CEESA) arSA) are reache reached ed earlearliier than eer than expexpectected (prd (premematureature dam

damage). Tage). To overcomo overcome the e the prprobloblemems, is, it it is sugs suggesgested to counted to count the traft the traffific datac data cove

coverriing vong vollumumes aes and lnd loads as boads as basiasic for c for dedesisign.gn.

Keywords : Road damage, Vehicle axle weight, Maximum permissible Axle Load Keywords : Road damage, Vehicle axle weight, Maximum permissible Axle Load

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Jalan, sebagai prasarana Jalan, sebagai prasarana transportasi, dibuat untuk  transportasi, dibuat untuk  menyalurkan berbagai moda menyalurkan berbagai moda transport jalan yang bergerak dari transport jalan yang bergerak dari asalnya ke tujuannya. Moda asalnya ke tujuannya. Moda transportasi seperti mobil transportasi seperti mobil penumpang, bus, dan truk, penumpang, bus, dan truk, merupakan alat untuk melakukan merupakan alat untuk melakukan perpindahan orang dan barang. perpindahan orang dan barang. Dalam kaitan ini, jalan Dalam kaitan ini, jalan direncanakan untuk menyalurkan direncanakan untuk menyalurkan aliran kendaraan dari berbagai aliran kendaraan dari berbagai klasifikasi kendaraan sesuai klasifikasi kendaraan sesuai fungsinya.

fungsinya.

Kendaraan-kendaraan, Kendaraan-kendaraan, menurut fungsinya terdiri dari menurut fungsinya terdiri dari kendaraan angkutan penumpang kendaraan angkutan penumpang dan angkutan barang, dengan dan angkutan barang, dengan berbagai ukuran. Dua hal yang berbagai ukuran. Dua hal yang sering dipakai sebagai dasar sering dipakai sebagai dasar perencanaan jalan, yaitu 1) perencanaan jalan, yaitu 1) dimensi kendaraan, dan 2) berat dimensi kendaraan, dan 2) berat

kendaran. UU No.14/1992 tentang kendaran. UU No.14/1992 tentang lalu-lintas beserta PP No.43/1993 lalu-lintas beserta PP No.43/1993 dan PP No.44/1993, mengatur dan PP No.44/1993, mengatur kriteria klasifikasi sarana kriteria klasifikasi sarana transportasi darat (kendaraan) transportasi darat (kendaraan) yang sesuai dengan prasara-nanya yang sesuai dengan prasara-nanya (jalan). Pengaturan ini, (jalan). Pengaturan ini, selanjutnya dimasukkan kembali selanjutnya dimasukkan kembali ke dalam Rancangan ke dalam Rancangan Undang-undang Lalu-lintas dan Angkutan undang Lalu-lintas dan Angkutan Darat (dipublikasikan 10 Oktober Darat (dipublikasikan 10 Oktober 2006), yang berkaitan dengan 2006), yang berkaitan dengan pengaturan Kelas Jalan, Fungsi pengaturan Kelas Jalan, Fungsi Jalan, dimensi maksimum dan Jalan, dimensi maksimum dan MST kendaraan, seperti MST kendaraan, seperti ditunjukkan Tabel 1.

ditunjukkan Tabel 1.

Sementara itu, untuk  Sementara itu, untuk  pengaturan MST Truk Peti kemas, pengaturan MST Truk Peti kemas, tergantung kepada konfigurasi tergantung kepada konfigurasi sumbu terberatnya, masih diatur sumbu terberatnya, masih diatur sesuai dengan KM Perhubungan sesuai dengan KM Perhubungan No.74-1990, seperti dalam Tabel No.74-1990, seperti dalam Tabel 2.

(3)

Tabel 1. Tabel 1.

Kelas dan Fungsi Jalan Kelas dan Fungsi Jalan (PP no.43-1993, pasal 11) (PP no.43-1993, pasal 11) Dimensi Kendaraan Dimensi Kendaraan (maksimum) (maksimum) No Kelas No Kelas Jalan Jalan Fungsi Jalan Fungsi Jalan Lebar, Lebar, mm mm Panjang, Panjang, mm mm Tinggi, mm Tinggi, mm (PP no.44-  (PP no.44-  1993, pasal  1993, pasal  115)  115)  MST, MST, ton ton 1 1 I I Arteri Arteri 2.500 2.500 18.000 18.000 >> 10,0 10,0 2 2 II II Arteri Arteri 2.500 2.500 18.00018.000 ≤≤ 10,0 10,0 3

3 IIIA IIIA Arteri Arteri atauatau Kolektor Kolektor

2.500 18.000

2.500 18.000 ≤≤8,08,0 4

4 IIIB IIIB Kolektor Kolektor 2.500 2.500 12.00012.000 ≤≤8,08,0 5

5 IIIC IIIC Lokal Lokal 2.100 2.100 9.0009.000

4.200 4.200mmmm dan dan ≤ ≤1,7x1,7x lebarlebar kendaraan kendaraan ≤ ≤8,08,0 Tabel 2. Tabel 2.

MST untuk Truk Angkutan Peti Kemas MST untuk Truk Angkutan Peti Kemas (KM Perhubungan No.74-1990, pasal 9) (KM Perhubungan No.74-1990, pasal 9) No

No Konfigurasi Konfigurasi As As dan dan Roda Roda Truk Truk MST, MST, ton ton CatatanCatatan Roda

Roda Tunggal Tunggal 6,06,0 1

1 Sumbu Sumbu TunggalTunggal

Roda

Roda Ganda Ganda 10,010,0 2

2 Sumbu Sumbu GandaGanda (Tandem) (Tandem)

Roda

Roda Ganda Ganda 18,018,0 3

3 Sumbu Sumbu Tiga Tiga (tripel) (tripel) Roda Roda Ganda Ganda 20,020,0

Tidak diatur ijin Tidak diatur ijin

untuk  untuk  beroperasi beroperasi pada fungsi pada fungsi  jalan atau kelas  jalan atau kelas  jalan tertentu.  jalan tertentu.

Pengaturan ini (Tabel 2) Pengaturan ini (Tabel 2) tidak bertentangan dengan tidak bertentangan dengan pengaturan yang ditetapkan pengaturan yang ditetapkan berikutnya pada tahun 1993 berikutnya pada tahun 1993 seperti ditunjukkan pada Tabel 1, seperti ditunjukkan pada Tabel 1, bahkan mengatur lebih ”ringan”  bahkan mengatur lebih ”ringan”  dari MST yang ditetapkan tahun dari MST yang ditetapkan tahun

1993 tersebut. Truk angkutan peti 1993 tersebut. Truk angkutan peti Kemas pada umumnya berupa Kemas pada umumnya berupa truk tempelan yang beroperasi di truk tempelan yang beroperasi di  jalan-jalan

 jalan-jalan arterial arterial dengan dengan MSTMST maksimum 10 ton. Baik untuk  maksimum 10 ton. Baik untuk  sumbu tunggal, sumbu Ganda, sumbu tunggal, sumbu Ganda, maupun sumbu Tiga, pembatasan maupun sumbu Tiga, pembatasan

(4)

beban as total maksimumnya tidak  beban as total maksimumnya tidak  lebih besar dari jika dihitung per lebih besar dari jika dihitung per sumbunya 10 ton sesuai dengan sumbunya 10 ton sesuai dengan aturan yang ada. Dengan aturan yang ada. Dengan pembatasan ini, beban maksimum pembatasan ini, beban maksimum truk tempelan (semi-triler) T1.2-22 truk tempelan (semi-triler) T1.2-22 dapat sampai 34 ton, T1.22-22 dapat sampai 34 ton, T1.22-22 sampai 42 ton, dan T1.22-222 sampai 42 ton, dan T1.22-222 sampai 44 ton.

sampai 44 ton.

MST Jalan kelas I lebih MST Jalan kelas I lebih besar dari 10 ton (kecuali diatur besar dari 10 ton (kecuali diatur lebih lanjut), berarti tidak ada lebih lanjut), berarti tidak ada pembatasan beban as kendaraan, pembatasan beban as kendaraan, kecuali untuk angkutan peti kemas kecuali untuk angkutan peti kemas yang diatur lebih lanjut oleh PP yang diatur lebih lanjut oleh PP No.74-1990, pasal 9. Hal ini No.74-1990, pasal 9. Hal ini mempertanyakan, apakah ada mempertanyakan, apakah ada  jalan

 jalan kelas kelas I I di di Indonesia? Indonesia? AtauAtau lebih spesifik, adakah jalan yang lebih spesifik, adakah jalan yang MST-nya tidak dibatasi? Jalan Tol MST-nya tidak dibatasi? Jalan Tol misalnya, sesuai UU No.15-2005 misalnya, sesuai UU No.15-2005

tentang jalan tol,

tentang jalan tol,

mengklasifikasikan berdasarkan mengklasifikasikan berdasarkan fungsi jalan bahwa jalan Tol paling fungsi jalan bahwa jalan Tol paling rendah berfungsi Kolektor dengan rendah berfungsi Kolektor dengan MST 8 ton dan ini bukan jalan MST 8 ton dan ini bukan jalan kelas I, kecuali tanpa pembatasan kelas I, kecuali tanpa pembatasan MST.

MST.

MST Jalan Kelas II lebih MST Jalan Kelas II lebih kecil atau sama dengan 10ton, ini kecil atau sama dengan 10ton, ini berkaitan dengan jalur jalan raya berkaitan dengan jalur jalan raya yang umum seperti Pantura dan yang umum seperti Pantura dan Jalintim sekalipun masih menjadi Jalintim sekalipun masih menjadi pertanyaan, apakah jalur ini kelas pertanyaan, apakah jalur ini kelas I atau Kelas II? Seyogianya jalur I atau Kelas II? Seyogianya jalur ini termasuk Kelas II, sehingga ini termasuk Kelas II, sehingga  jika diketahui

 jika diketahui terdapat terdapat kendaraan- kendaraan-kendaraan angkutan dengan berat kendaraan angkutan dengan berat

as >10 ton, maka dia

as >10 ton, maka dia Overload Overload 

kecuali angkutan peti kemas. kecuali angkutan peti kemas.

MST Jalan Kelas IIIA, IIIB, MST Jalan Kelas IIIA, IIIB, dan IIIC adalah

dan IIIC adalah ≤≤ 8 ton, ini8 ton, ini berkaitan dengan jalur-jalur jalan berkaitan dengan jalur-jalur jalan yang menghubungkan sentra yang menghubungkan sentra distribusi ke sentra lokal yang distribusi ke sentra lokal yang diangkut oleh kendaraan yang diangkut oleh kendaraan yang lebih kecil dimensinya dengan lebih kecil dimensinya dengan panjang maksimum 12 meter. panjang maksimum 12 meter. Dalam kaitannya dengan kelas Dalam kaitannya dengan kelas  jalan,

 jalan, ada ada beberapa beberapa hal hal yangyang terkait dengan sistem angkutan terkait dengan sistem angkutan  jalan:

 jalan:

• Perubahan Perubahan kelas kelas jalanjalan

seyogianya dilengkapi terminal seyogianya dilengkapi terminal yang berfungsi mengubah beban yang berfungsi mengubah beban kendaraan sesuai dengan kendaraan sesuai dengan kelasnya. Perubahan kelas jalan kelasnya. Perubahan kelas jalan yang tidak dilengkapi tempat yang tidak dilengkapi tempat

untuk perubahan beban

untuk perubahan beban

kendaraan, cenderung

kendaraan, cenderung

menyebabkan terjadinya

menyebabkan terjadinya

overloding 

overloding terhadap jalan kelasterhadap jalan kelas dibawahnya, misal perubahan dibawahnya, misal perubahan dari Kelas II ke kelas III.

dari Kelas II ke kelas III.

• Disamping Disamping itu, itu, perubahanperubahan

dimensi kendaraan pengangkut dimensi kendaraan pengangkut di jalan kelas IIIB ke kelas IIIA  di jalan kelas IIIB ke kelas IIIA  dan dari jalan Kelas IIIC ke dan dari jalan Kelas IIIC ke Kelas IIIB menuntut perubahan Kelas IIIB menuntut perubahan geometri, karena perubahan geometri, karena perubahan

dimensi kendaraan yang

dimensi kendaraan yang

diijinkan beroperasi. Hal ini diijinkan beroperasi. Hal ini berkaitan dengan lebar jalan, berkaitan dengan lebar jalan, radius tikungan di ruas-ruas radius tikungan di ruas-ruas  jalan,

 jalan, dan dan belokan belokan didi persimpangan.

(5)

• Kesemua ini terkait denganKesemua ini terkait dengan

sistem transportasi nasional sistem transportasi nasional

khususnya darat secara

khususnya darat secara

keseluruhan yang harus sesuai keseluruhan yang harus sesuai

dengan tuntutan kebutuhan

dengan tuntutan kebutuhan

((demand demand ) ) agar agar terwujudterwujud perpindahan orang dan barang perpindahan orang dan barang secara aman, cepat, murah, dan secara aman, cepat, murah, dan nyaman.

nyaman.

Hal-hal tersebut di atas Hal-hal tersebut di atas menjadi latar belakang ditulisnya menjadi latar belakang ditulisnya

makalah ini dengan tujuan

makalah ini dengan tujuan

melakukan evaluasi, khususnya melakukan evaluasi, khususnya dari sisi perencanaan, bagaimana dari sisi perencanaan, bagaimana seyogiannya suatu perencanaan seyogiannya suatu perencanaan  jalan,

 jalan, dari dari sisisisi traffic engineering traffic engineering ,, harus dilakukan.

harus dilakukan.

Prosedur umum perencanaan Prosedur umum perencanaan lalu-lintas untuk Jalan

lalu-lintas untuk Jalan 1.

1. Perencanaan Perencanaan Lalu-lintasLalu-lintas untuk Geometrik Jalan untuk Geometrik Jalan

Dalam perencanaan

Dalam perencanaan

geometrik jalan, yang harus geometrik jalan, yang harus ditetapkan dari komponen ditetapkan dari komponen Lalu-lintas adalah:

lintas adalah:

1) Dimensi Kendaraan Rencana, 1) Dimensi Kendaraan Rencana,

dan dan 2)

2) Volume Volume Lalu-lintas Lalu-lintas Rencana.Rencana.

Dimensi Kendaraan

Dimensi Kendaraan

Rencana; dipakai untuk 

Rencana; dipakai untuk 

menetapkan dimensi ruang jalan menetapkan dimensi ruang jalan yang harus dibangun agar jalan yang harus dibangun agar jalan dapat menampung semua jenis dapat menampung semua jenis

kendaraan yang akan

kendaraan yang akan

menggunakan jalan tersebut. Di menggunakan jalan tersebut. Di dalam design Geometrik, yang dalam design Geometrik, yang ditetapkan oleh dimensi kendaraan ditetapkan oleh dimensi kendaraan rencana adalah:

rencana adalah:

• lebar lajur dan jalur jalanlebar lajur dan jalur jalan •

• radius di tikungan dan radiusradius di tikungan dan radius

belokan di persimpangan. Dalam belokan di persimpangan. Dalam perencanaan sering dipakai perencanaan sering dipakai

angka tertentu untuk 

angka tertentu untuk 

menetapkan radius tikungan, menetapkan radius tikungan, sementara yang lebih baik  sementara yang lebih baik  adalah mengikuti lajur lapak ban adalah mengikuti lajur lapak ban kendaraan

kendaraan rencana rencana ((swepping swepping   path 

 path ))

• dan kelengkapan lainnya, sepertidan kelengkapan lainnya, seperti

tempat parkir dan

tempat parkir dan

pemberhentian bus pemberhentian bus

Tatacara Perencanaan Geometrik  Tatacara Perencanaan Geometrik  Jalan antar kota (Ditjen BM, 1997) Jalan antar kota (Ditjen BM, 1997)

belum menetapkan kendaraan

belum menetapkan kendaraan

rencana, yang ada adalah dimensi rencana, yang ada adalah dimensi kendaraan

kendaraan rencana rencana dan dan bukanbukan

nama kendaraannya atau

nama kendaraannya atau

kendaraan yang representatif. kendaraan yang representatif. Dalam tatacara tersebut, dimensi Dalam tatacara tersebut, dimensi kendaraan rencana didasarkan kendaraan rencana didasarkan

pada dimensi kendaraan

pada dimensi kendaraan

maksimum seperti ditunjukkan maksimum seperti ditunjukkan pada Tabel 1 di atas, yaitu pada Tabel 1 di atas, yaitu

Kendaraan Besar (lebar dan

Kendaraan Besar (lebar dan

panjang kendaraan = panjang kendaraan = 2500x18000mm), kendaraan 2500x18000mm), kendaraan Sedang (2500x12000mm), dan Sedang (2500x12000mm), dan kendaraan Kecil (2100x9000mm). kendaraan Kecil (2100x9000mm).

Sekalipun demikian, dimensi

Sekalipun demikian, dimensi

dinamis saat kendaraan ini

dinamis saat kendaraan ini

berjalan di jalan dengan

berjalan di jalan dengan

kecepatan tertentu dan membelok  kecepatan tertentu dan membelok 

(6)

di tikungan atau di persimpangan, di tikungan atau di persimpangan, dan melakukan manouver parkir, dan melakukan manouver parkir, selama ini

selama ini belum distandarisasikan.belum distandarisasikan.  Akibatnya,

 Akibatnya, sering sering sekali sekali ditemuiditemui kereb jalan, kereb median, kereb kereb jalan, kereb median, kereb kanal jalan, dan lain-lain fasilitas kanal jalan, dan lain-lain fasilitas  jalan

 jalan yang yang membatasi membatasi lajur lajur lalu- lalu-lintas, rusak akibat tergilas atau lintas, rusak akibat tergilas atau bersentuhan oleh

bersentuhan oleh body body kendaraan,kendaraan, khususnya kendaraan truk atau bis khususnya kendaraan truk atau bis yang berdimensi besar.

yang berdimensi besar.

Dimensi kendaraan seperti Dimensi kendaraan seperti ini perlu ditetapkan yang ini perlu ditetapkan yang kemudian menjadi dasar untuk  kemudian menjadi dasar untuk  menetapkan dimensi jalan (lebar menetapkan dimensi jalan (lebar lajur, jalur, dan bagian-bagian lajur, jalur, dan bagian-bagian  jalan

 jalan yang yang lainnya) lainnya) untuk untuk setiapsetiap fungsi jalan atau Kelas Jalan.

fungsi jalan atau Kelas Jalan.

2.

2. Praktek perencanaanPraktek perencanaan

Ditjen Bina Marga (1997) Ditjen Bina Marga (1997) menetapkan dimensi jalan seperti menetapkan dimensi jalan seperti pada Tabel 3. Lebar jalur dan pada Tabel 3. Lebar jalur dan bahu jalan ditetapkan sesuai tabel bahu jalan ditetapkan sesuai tabel tersebut. Tabel 4 memberikan opsi tersebut. Tabel 4 memberikan opsi ideal, jika LHRT masih dibawah ideal, jika LHRT masih dibawah nilai yang disyaratkan, Tabel 3 nilai yang disyaratkan, Tabel 3 dipakai sebagai dasar untuk dipakai sebagai dasar untuk mene-tapkan dimensi jalan minimum. tapkan dimensi jalan minimum. Jika LHRT telah cukup tinggi, Jika LHRT telah cukup tinggi, maka kondisi idealnya sebaiknya maka kondisi idealnya sebaiknya dipilih.

dipilih.

Pedoman penentuan lebar Pedoman penentuan lebar lajur dan jalur jalan tersebut lajur dan jalur jalan tersebut dewasa ini perlu di

dewasa ini perlu direview review  sesuaisesuai dengan telah ditetapkannya dengan telah ditetapkannya Undang-undang Jalan (2004) Undang-undang Jalan (2004) beserta Peraturan Pemerintah-nya beserta Peraturan Pemerintah-nya (2006). Disamping itu, dari sisi (2006). Disamping itu, dari sisi penggunaan jalan, Rancangan penggunaan jalan, Rancangan Undang-undang Lalu-lintas dan Undang-undang Lalu-lintas dan  Angkutan

 Angkutan Jalan Jalan (2006) (2006) sekalipunsekalipun masih rancangan, mengisyaratkan masih rancangan, mengisyaratkan beberapa perubahan. Suatu beberapa perubahan. Suatu pemikiran awal dikemukakan pemikiran awal dikemukakan tentang perubahan ini, khususnya tentang perubahan ini, khususnya berkaitan dengan klasifikasi jalan. berkaitan dengan klasifikasi jalan. Dalam Undang-undang No.38 Dalam Undang-undang No.38 tentang Jalan muncul klasifikasi tentang Jalan muncul klasifikasi  jalan

 jalan berdasarkan berdasarkan penyediaanpenyediaan prasarana, jalan diklasifikasikan prasarana, jalan diklasifikasikan menjadi 4 yaitu Jalan Bebas menjadi 4 yaitu Jalan Bebas Hambatan, Jalan Raya, Jalan Hambatan, Jalan Raya, Jalan Sedang, dan Jalan Kecil. Berkaitan Sedang, dan Jalan Kecil. Berkaitan dengan hal ini dipandang perlu dengan hal ini dipandang perlu untuk menetapkan lebih lanjut: 1) untuk menetapkan lebih lanjut: 1) apakah standar geometri jalan apakah standar geometri jalan akan diklasifikasikan berdasar-kan akan diklasifikasikan berdasar-kan penyediaan prasarana jalan, atau penyediaan prasarana jalan, atau 2) fungsinya.

2) fungsinya. Tabel 5 mengusulkanTabel 5 mengusulkan

matrik klasifikasi dan memuat matrik klasifikasi dan memuat usulan perubahan ukuran lajur usulan perubahan ukuran lajur dan jalur jalan.

(7)

Tabel 3. Tabel 3.

Penentuan Lebar Jalur dan Bahu Jalan Penentuan Lebar Jalur dan Bahu Jalan

((Ditjen BM, 1997Ditjen BM, 1997))

Keterangan Keterangan:: *)

*) = dua jalur terbagi, masing-masing nx3,50m, dimana n=jumlah lajur per jalur.= dua jalur terbagi, masing-masing nx3,50m, dimana n=jumlah lajur per jalur. **)

**) = mengacu kepada persyaratan ideal.= mengacu kepada persyaratan ideal. -

- = = tidak tidak ditentukanditentukan

Tabel 4. Tabel 4.

Lebar Jalur Jalan Ideal Lebar Jalur Jalan Ideal

(Ditjen BM, 1997) (Ditjen BM, 1997)

Tabel 5. Tabel 5.

Usulan penyesuaian pedoman penetapan lebar lajur dan

Usulan penyesuaian pedoman penetapan lebar lajur dan jalur jalanjalur jalan

Catatan: 

Catatan: *)*)untuk kendaraan untuk kendaraan selain kendaraaselain kendaraan bermotor n bermotor roda roda ≥ ≥ 3 3 

ARTERI

ARTERI K K O O L L E E K K T T O O R R L L O O K K A A LL Leb

Lebaar r IIddeeaal l LebLebaar r MinimMinimumum LebLebaar r IIddeeaal l LebLebaar r MinimMinimumum LebLebaar r IIddeeaal l LeLebbaar r MinimMinimumum LHRT

LHRT  J

 J aalulur r BBaahhu u JJ aalulur r BBaahhu u JJ aalulur r BBaahhu u JJ aalulur r BBaahhu u JJ aalulur r BaBahhu u JJ aalulur r BBaahhuu

(smp (smp/har/harii) ) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) ((mm) ) (m) (m) (m) (m) ((mm)) <3.000 <3.000 6,00 6,00 1,50 1,50 4,50 4,50 1,00 1,00 6,00 6,00 1,1,50 50 4,50 4,50 1,00 1,00 6,00 6,00 1,0 1,0 4,50 4,50 1,001,00 3.000-10.000 3.000-10.000 7,00 7,00 2,00 2,00 6,00 6,00 1,50 1,50 7,00 7,00 1,50 1,50 6,00 6,00 1,50 1,50 7,00 7,00 1,50 1,50 6,00 6,00 1,001,00 10.001-25.000 10.001-25.000 7,00 7,00 2,00 2,00 7,00 7,00 2,00 2,00 7,00 7,00 2,002,00 **) **) **)**) - - - - - - - ->25. >25.000 000 2nx3,502nx3,50*)*) 2,50 2x3,502,50 2x3,50*)*) 2,00 2nx3,502,00 2nx3,50*)*) 2,002,00 **) **) **)**) - - - - - - - -FUN

FUNGSGSI I JJ ALAN ALAN KELKEL AS AS LEBAR LEBAR LL AJAJ UR UR IDEALIDEAL (m (m)) ARTERI ARTERI II II, IIIA II, IIIA 3,75 3,75 3,50 3,50 KOLEK

KOLEKTOR TOR IIIIIA, IA, IIIIIB IB 33,0,000 LOKA

LOKA L L IIIII I C C 33,0,000

FUNGSI

FUNGSI ARTERARTERI I K K O O L L E E K K T T O O R R L L O O K K A A LL

KELAS KELAS berdasarkan berdasarkan Angkutan

Angkutan JJ alanalan I, I, II, II, ddaan n IIIIII A A IIIIII A A IIIIII A A IIIIII A A ddaan n IIII IB IB IIIIII C C IIIIII CC

KELAS KELAS berdasarkan berdasarkan penyediaan penyediaan prasarana prasarana  J

 J alaalan n BeBebabass Hambatan dan Hambatan dan

 J

 J alaalan n RayRayaa

 J  J ALAL ANAN SEDANG SEDANG

 J

 J aalan lan BeBebabass Hambatan dan Hambatan dan

 J

 J aalan lan RayRayaa

 J

 J ALAL AN SAN SEDANG EDANG JJ ALAL AN KECIAN KECI LL

2

2JJ alualur 4Lajurr 4Lajur (atau lebih) (atau lebih)TTeerbagirbagi

1Jalur 2Lajur 1Jalur 2Lajur

(2arah) (2arah)

2J

2J alualur 4Lajurr 4Lajur (atau lebih)

(atau lebih)TerbagiTerbagi 1 J1 J alur 2 Lajur (2arahalur 2 Lajur (2arah))  TI

 TI PEPE  J  J ALAL ANAN

Lajur

Lajur Bahu Bahu JJ alur alur BaBahuhu LL ajuajurr Bahu Bahu JJ alur alur BahBahu u JJ alur alur BahBahu u JJ alur alur BaBahuhu unit

unit (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m)(m) L

L ebebar Iar Idedealal 3,75 3,75 2,50 2,50 2x3,50 2x3,50 2,50 2,50 3,50 3,50 2,50 2,50 2x3,50 2x3,50 1,00 1,00 2x3,00 2x3,00 1,00 1,00 2x2,75 2x2,75 0,500,50

L L ebebarar Mi

(8)

3.

3.  Volume  Volume Lalu-lintasLalu-lintas

Rencana untuk 

Rencana untuk 

perencanaan perkerasan perencanaan perkerasan

Kekuatan perkerasan jalan Kekuatan perkerasan jalan ditetapkan (pada umumnya) ditetapkan (pada umumnya) berdasarkan jumlah kumulatif  berdasarkan jumlah kumulatif  lintasan kendaraan standar (CESA, lintasan kendaraan standar (CESA, cummulative equivalent standar cummulative equivalent standar axle) yang diperkirakan akan axle) yang diperkirakan akan melalui perkerasan tersebut, melalui perkerasan tersebut, diperhitungkan dari mulai diperhitungkan dari mulai perkerasan tersebut dibuat dan perkerasan tersebut dibuat dan dipakai umum sampai dengan dipakai umum sampai dengan perkerasan tersebut dikata-gorikan perkerasan tersebut dikata-gorikan rusak (habis nilai pelayanannya). rusak (habis nilai pelayanannya). Untuk menghitung lintasan Untuk menghitung lintasan rencana dilakukan prosedur rencana dilakukan prosedur sebagai berikut:

sebagai berikut: •

• Menghitung Volume Lalu-lintasMenghitung Volume Lalu-lintas Harian Rata-rata Tahunan Harian Rata-rata Tahunan (LHRT, atau biasa disebut (LHRT, atau biasa disebut  Average

 Average Annual Annual Dailly Dailly Traffic,Traffic,  AADT).

 AADT).

LHRT secara definisi adalah LHRT secara definisi adalah  jumlah

 jumlah lalu-lintas lalu-lintas selama selama satusatu tahun penuh (365 hari) dibagi tahun penuh (365 hari) dibagi  jumlah

 jumlah harinya harinya dalam dalam tahuntahun tersebut. LHRT ditetapkan dalam tersebut. LHRT ditetapkan dalam unit Satuan Mobil Penumpang unit Satuan Mobil Penumpang (smp) per hari atau dalam satuan (smp) per hari atau dalam satuan komposisi kendaraan per hari. komposisi kendaraan per hari. Untuk keperluan perencanaan, Untuk keperluan perencanaan, LHRT sangat jarang didasarkan LHRT sangat jarang didasarkan atas informasi data lalu-lintas atas informasi data lalu-lintas selama satu tahun penuh, selama satu tahun penuh, sehingga sering diprediksi dari sehingga sering diprediksi dari data survey yang pendek, data survey yang pendek,

misalnya 7 hari. TRL (Howe, 1989) misalnya 7 hari. TRL (Howe, 1989) menyarankan, untuk keperluan menyarankan, untuk keperluan LHRT, data yang efektif  LHRT, data yang efektif  dikumpulkan adalah selama 7x24 dikumpulkan adalah selama 7x24  jam, dengan

 jam, dengan catatan catatan penguranganpengurangan waktu pengumpulan data waktu pengumpulan data cenderung menyebabkan deviasi cenderung menyebabkan deviasi perkiraan LHRT yang lebih tinggi, perkiraan LHRT yang lebih tinggi, sementara penambahan waktu sementara penambahan waktu survey tidak menurunkan deviasi survey tidak menurunkan deviasi secara efisien, sedikit penambahan secara efisien, sedikit penambahan akurasi untuk usaha pengumpulan akurasi untuk usaha pengumpulan data yang banyak. Penelitian TRL data yang banyak. Penelitian TRL tersebut menjelaskan bahwa hal tersebut menjelaskan bahwa hal tersebut berkaitan dengan pola tersebut berkaitan dengan pola kegiatan rutin pelaku perjalanan kegiatan rutin pelaku perjalanan yang terpola mingguan.

yang terpola mingguan.

Informasi verbal dari Informasi verbal dari diskusi dengan para konsultan, diskusi dengan para konsultan, data lalu-lintas sering didasarkan data lalu-lintas sering didasarkan pada survei selama 3 hari. pada survei selama 3 hari. Sementara itu, Ditjen Bina Marga Sementara itu, Ditjen Bina Marga menggunakan data dari menggunakan data dari perhitungan lalu-lintas (Ditjen Bina perhitungan lalu-lintas (Ditjen Bina Marga, 1992) dengan Marga, 1992) dengan mengkatagorikan ruas jalan mengkatagorikan ruas jalan menjadi 3 tipe:

menjadi 3 tipe: 1)

1) tipe A (LHR tipe A (LHR ≥≥10000kendaraan),10000kendaraan), 2) 2) tipe B (5000<LHR<10000),tipe B (5000<LHR<10000), dan dan 3) 3) tipe C (LHR tipe C (LHR ≤≤5000),5000),

Dimana lamanya perhitungan data Dimana lamanya perhitungan data lalu-lintas ditentukan seperti pada lalu-lintas ditentukan seperti pada Tabel 6.

(9)

Tabel 6. Tabel 6.

Lama perhitungan Lalu-lintas Lama perhitungan Lalu-lintas

No

No Tipe Tipe Pos Pos LHR LHR Lama Lama surveysurvey

(jam) (jam) Frekuensi Frekuensi pengukuran pengukuran 1

1 Kelas Kelas A A  ≥≥10000 10000 40 40 ( ( dalam dalam 2 2 hari) hari) 4x 4x /tahun/tahun 2

2 Kelas Kelas B B 5000 5000 – – 10000 10000 Sama Sama dgn dgn kelas kelas A A 4x 4x /tahun/tahun 3

3 Kelas Kelas CC ≤≤5000 5000 16 16 (dalam (dalam 1 1 hari) hari) 4x 4x /tahun/tahun Manual perhitungan

Manual perhitungan lalu-lintas tersebut, diterbitkan pada lintas tersebut, diterbitkan pada tahun 1992. Hasil perhitungan tahun 1992. Hasil perhitungan lalu-lintas seperti ini dipandang lalu-lintas seperti ini dipandang perlu untuk diuji akurasinya, yaitu perlu untuk diuji akurasinya, yaitu berapa deviasi antara LHRT berapa deviasi antara LHRT sesungguhnya (dari data 365 hari) sesungguhnya (dari data 365 hari) terhadap LHRT perkiraan. Perlu terhadap LHRT perkiraan. Perlu ditetapkan kebijakan akurasi ditetapkan kebijakan akurasi perhitungannya, misalnya deviasi perhitungannya, misalnya deviasi maksimum 5%, sehingga maksimum 5%, sehingga perencana dalam merencanakan perencana dalam merencanakan tebal perkerasan telah memper tebal perkerasan telah memper hitungkan kemungkinan deviasi hitungkan kemungkinan deviasi prediksi lalu-lintas tersebut.

prediksi lalu-lintas tersebut. •

• Komposisi kendaraanKomposisi kendaraan..

Survey volume lalu-lintas Survey volume lalu-lintas yang dipakai acuan dewasa ini yang dipakai acuan dewasa ini oleh Direktorat Jenderal Bina oleh Direktorat Jenderal Bina Marga mengkatagorikan 11 Marga mengkatagorikan 11 kendaraan termasuk kendaraan kendaraan termasuk kendaraan tidak bermotor (

tidak bermotor (non motorised non motorised ).). Sebelumnya, manual perhitungan Sebelumnya, manual perhitungan lalu-lintas tersebut meng-lalu-lintas tersebut meng-katagorikan menjadi 8 kelas katagorikan menjadi 8 kelas

(Ditjen Bina Marga, 1992). Tabel 7 (Ditjen Bina Marga, 1992). Tabel 7 membedakan beberapa katagori membedakan beberapa katagori kendaraan tersebut.

kendaraan tersebut.

Untuk perencanaan Untuk perencanaan perkerasan jalan digunakan 11 perkerasan jalan digunakan 11 klasifikasi kendaraan. Untuk  klasifikasi kendaraan. Untuk  perencanaan geometrik, diguna perencanaan geometrik, diguna kan hanya 5 kelas kendaraan kan hanya 5 kelas kendaraan (MKJI, 1997).

(MKJI, 1997). Untuk hal inipun Untuk hal inipun  tidak ada kejelasan yang formal  tidak ada kejelasan yang formal  tentang panduan yang harus  tentang panduan yang harus  digunakan.

digunakan.

Implikasi dari perbedaan Implikasi dari perbedaan pengkatagorian kendaraan adalah pengkatagorian kendaraan adalah ketidak akuratan perencanaan ketidak akuratan perencanaan beban lalu-lintas. Semakin detail beban lalu-lintas. Semakin detail klasifikasinya, semakin detail data klasifikasinya, semakin detail data beban kendaraannya, semakin beban kendaraannya, semakin akurat perkiraan beban akurat perkiraan beban lalu-lintasnya. Sebaliknya, semakin lintasnya. Sebaliknya, semakin sedikit klasifikasinya, semakin sedikit klasifikasinya, semakin besar deviasi beban kendaraan besar deviasi beban kendaraan yang diwakilinya, semakin kurang yang diwakilinya, semakin kurang akurat perkiraan beban akurat perkiraan beban lalu-lintasnya.

(10)

Tabel 7. Tabel 7.

Katagori jenis kendaraan berdasarkan 3 referensi Katagori jenis kendaraan berdasarkan 3 referensi IRMS,

IRMS, BM BM BM BM 1992 1992 MKJI MKJI 19971997

1

1 Sepeda Sepeda motor, motor, skuter,skuter, kendaraan roda tiga kendaraan roda tiga

1

1 Sepeda Sepeda motor, motor, skuter,skuter, sepeda kumbang dan sepeda kumbang dan roda tiga

roda tiga

1. Sepeda motor (MC), 1. Sepeda motor (MC), kendaraan ber-motor roda kendaraan ber-motor roda 2 dan 3

2 dan 3 2

2 Sedan, Sedan, jeep, jeep, stationstation wagon

wagon

2

2 Sedan, Sedan, jeep, jeep, stationstation wagon

wagon 3

3 opelet, opelet, pikup pikup opelet,opelet, suburban, kombi, dan suburban, kombi, dan mini bus

mini bus

3

3 opelet, opelet, pikup pikup opelet,opelet, suburban, kombi, dan suburban, kombi, dan mini bus

mini bus 4

4 Pikup, Pikup, mikro mikro truk, dantruk, dan Mobil Hantaran

Mobil Hantaran

4

4 Pikup, Pikup, Mickro Mickro Truk,Truk, dan Mobil Hantaran dan Mobil Hantaran

2. Kendaraan Ringan (LV): 2. Kendaraan Ringan (LV): Mobil penumpang, oplet, Mobil penumpang, oplet, mikrobus, pickup, bis mikrobus, pickup, bis kecil, truk kecil kecil, truk kecil

5a

5a Bus Bus KecilKecil 5b

5b Bus Bus BesarBesar

5 Bus

5 Bus

6

6 Truk Truk 2 2 as as 6 6 Truk Truk 2 2 sumbusumbu

3. Kendaraan Berat (LHV): 3. Kendaraan Berat (LHV): Bis, Truk 2as,

Bis, Truk 2as,

7a

7a Truk Truk 3 3 asas 7b

7b Truk Truk GandenganGandengan 7c

7c Truk Truk Tempelan Tempelan (Semi(Semi trailer)

trailer)

7

7 Truk Truk 3 3 sumbu sumbu atauatau lebih dan Gandengan lebih dan Gandengan

4. HGV: Truk 3as, dan 4. HGV: Truk 3as, dan truk kombinasi (Truk  truk kombinasi (Truk  Gandengan dan Truk  Gandengan dan Truk  Tempelan).

Tempelan). 8

8 Kendaraan Kendaraan tidak tidak  bermotor: Sepeda, bermotor: Sepeda, Beca, Dokar, Keretek, Beca, Dokar, Keretek,  Andong.

 Andong.

8

8 Kendaraan Kendaraan tidak tidak  bermotor: Sepeda, bermotor: Sepeda, Beca, Dokar, Keretek, Beca, Dokar, Keretek,  Andong.  Andong. 5. Kendaraan Tidak  5. Kendaraan Tidak  Bermotor (UM) Bermotor (UM) •

• Perhitungan Perhitungan beban beban lalu- lalu-lintas untuk perkerasan lintas untuk perkerasan  jalan

 jalan

Setiap katagori jenis kendaraan Setiap katagori jenis kendaraan dengan konfigurasi dan berat dengan konfigurasi dan berat as-nya, dapat dihitung equivanlent nya, dapat dihitung equivanlent faktor pengrusakannya (relatif  faktor pengrusakannya (relatif  terhadap beban standar,) terhadap beban standar,) terhadap perkerasan jalan. terhadap perkerasan jalan. Besarannya

Besarannya dibandingkan terhadapdibandingkan terhadap lintasan beban as tunggal standar lintasan beban as tunggal standar

(Vehicle Damaging Factor, VDF). (Vehicle Damaging Factor, VDF). Setiap kelas kendaraan dalam Setiap kelas kendaraan dalam memiliki nilai daya perusak  memiliki nilai daya perusak  terhadap perkerasan yang dihitung terhadap perkerasan yang dihitung berda-sarkan nilai rata-rata berat berda-sarkan nilai rata-rata berat as-nya dalam satuan berat as as-nya dalam satuan berat as standar 8,16 ton (18 KSAL). Nilai standar 8,16 ton (18 KSAL). Nilai  VDF

 VDF dihitung dihitung menggunakanmenggunakan formula Liddle:

formula Liddle:  VDF =

 VDF = FFtdtd .. ∑∑i=as kei=as ke {(Axle Load){(Axle Load)ii // (8,20)}

(11)

dimana: dimana: •

• n = 4,0 (atau nilai lain)n = 4,0 (atau nilai lain) •

• FFtdtd = Faktor konfigurasi as,= Faktor konfigurasi as, single atau tandem

single atau tandem

Perencanaan Lintasan kendaraan: Perencanaan Lintasan kendaraan:

CESA = CESA = ∑∑NN ∑ ∑ j j{(VDF){(VDF) j jxLHRTxLHRT j jx365x(1+i)x365x(1+i)NN }} dimana: dimana: •

• j=  j= katagori katagori jenis jenis kendaraan kendaraan (1(1 s.d. 11 kelas)

s.d. 11 kelas) •

• CESA CESA = = Jumlah Jumlah Kumulatif Kumulatif  Lintasan Ken-daraan Lintasan Ken-daraan Rencana, Eq.18KSAL Rencana, Eq.18KSAL •

• N = Usia rencana, misal 5 tahun,N = Usia rencana, misal 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dst.

dst. •

• i = faktor pertumbuhan lalu-i = faktor pertumbuhan lalu-lintas

lintas

Formula di atas

Formula di atas

menjelaskan bahwa perencanaan menjelaskan bahwa perencanaan beban lintasan lalu-lintas adalah beban lintasan lalu-lintas adalah  jumlah

 jumlah total total lintasan lintasan kendaraankendaraan (per komposisinya) selama usia (per komposisinya) selama usia perencanaan. Biasanya dinyatakan perencanaan. Biasanya dinyatakan dalam jutaan lintasan ekuivalen dalam jutaan lintasan ekuivalen beban as standar.

beban as standar.

4.

4. Perhitungan Volume Lalu-Perhitungan Volume Lalu-lintas Rencana untuk  lintas Rencana untuk  menetapkan jumlah lajur menetapkan jumlah lajur  jalan

 jalan

Dua parameter dasar yang Dua parameter dasar yang sering dipakai untuk menetapkan sering dipakai untuk menetapkan  jenis

 jenis dan dan jumlah jumlah lajur lajur lalu-lintas,lalu-lintas, yaitu:

yaitu:

1)

1) LHRT per komposisi kendaraanLHRT per komposisi kendaraan (komposisi yang cenderung (komposisi yang cenderung berdasarkan dimensi dan berdasarkan dimensi dan manouverability kendaraan), manouverability kendaraan), dan

dan 2)

2) Design Hourly Volume Design Hourly Volume  (DHV)(DHV) atau sering juga dinotasikan atau sering juga dinotasikan  Volume

 Volume Jam Jam PerencanaanPerencanaan (VJP).

(VJP).

Komposisi kendaraan Komposisi kendaraan dalam hal ini berbeda dengan dalam hal ini berbeda dengan komposisi yang dipakai untuk  komposisi yang dipakai untuk  perencanaan perkerasan. Manual perencanaan perkerasan. Manual Kapasitas Jalan Indonesia Kapasitas Jalan Indonesia menggunakan katagori seperti menggunakan katagori seperti ditujukkan Tabel 7.

ditujukkan Tabel 7.  VJP

 VJP dirumuskan dirumuskan daridari hubungannya dengan LHRT hubungannya dengan LHRT dimana hubungan ini diturunkan dimana hubungan ini diturunkan dari suatu penelitian terhadap dari suatu penelitian terhadap distribusi volume lalu-lintas distribusi volume lalu-lintas jam- jaman

 jaman selama selama satu satu tahun, tahun, karenakarena mencerminkan karakteristik  mencerminkan karakteristik  wilayah yang mempengaruhi wilayah yang mempengaruhi volume lalu-lintasnya, yaitu volume lalu-lintasnya, yaitu K-faktor. VJP dihitung sbb.:

faktor. VJP dihitung sbb.:  VJP = LHRT x K 

 VJP = LHRT x K  dimana:

dimana: K adalah faK adalah faktor jam sibuk ktor jam sibuk  untuk volume jam untuk volume jam perencanaan, %. Nilai K  perencanaan, %. Nilai K  bervariasi, misal 6-15%. bervariasi, misal 6-15%. Nilai yang rendah sering Nilai yang rendah sering dipakai untuk jalan yang dipakai untuk jalan yang sudah padat.

(12)

5.

5. Prosedur untuk digunakanProsedur untuk digunakan dalam perencanaan

dalam perencanaan Penetapan LHRT

Penetapan LHRT; Karena; Karena LHRT praktis tidak efisien LHRT praktis tidak efisien ditetapkan dari data survey ditetapkan dari data survey selama 365 hari, maka LHRT selama 365 hari, maka LHRT diperkirakan dari LHR hari-hari diperkirakan dari LHR hari-hari sampel. Dengan demikian, nilainya sampel. Dengan demikian, nilainya akan berada dalam suatu kisaran akan berada dalam suatu kisaran perkiraan dengan nilai perkiraan dengan nilai kemungkinan tertentu. Untuk  kemungkinan tertentu. Untuk  mendapatkan nilai-nilai perkiraan mendapatkan nilai-nilai perkiraan tersebut, diperlukan data

tersebut, diperlukan data time time  series 

series yang menjadi dasar untuk yang menjadi dasar untuk  menurunkan variasi musiman yang menurunkan variasi musiman yang bisa dinyatakan dengan angka, bisa dinyatakan dengan angka, sehingga bisa dipakai sebagai sehingga bisa dipakai sebagai parameter untuk memperkirakan parameter untuk memperkirakan LHRT.

LHRT.

Hasil penelitian Puslitbang Hasil penelitian Puslitbang Teknologi Prasarana Jalan (1999) Teknologi Prasarana Jalan (1999) merumuskan LHRT taksiran (atau merumuskan LHRT taksiran (atau ditulis LHRT

ditulis LHRTTT) sbb.:) sbb.: LHRT

LHRTTT = LHR = LHR NN / P,/ P,

Dan selang kepercayaan LHRT Dan selang kepercayaan LHRT dinyatakan: dinyatakan: LHRT LHRTTT /(1+ /(1+αα.C.C /100)v /100)v ≤≤LHRTLHRT≤≤LHRTLHRT T T /(1- /(1-αα.C.Cvv /100) /100) dimana: dimana: •

• LHR LHR NN = LHR yang diperoleh dari= LHR yang diperoleh dari data survey N hari (N x

data survey N hari (N x 24 jam).24 jam). •

• P P = = faktor musiman pada saatfaktor musiman pada saat pengukuran lalu-lintas selama N pengukuran lalu-lintas selama N hari, lihat Tabel 8 s/d Tabel 10. hari, lihat Tabel 8 s/d Tabel 10. •

• αα = = koefisien koefisien yang yang menyatakanmenyatakan tingkat peluang kejadian.

tingkat peluang kejadian. αα ==

1.96 menunjukkan tingkat 1.96 menunjukkan tingkat peluang 95%

peluang 95% •

• CCvv= Koefisien= Koefisien variasi penaksiran,variasi penaksiran, besarnya ditetapkan sesuai besarnya ditetapkan sesuai pelaksanaan survey lalu-lintas N pelaksanaan survey lalu-lintas N hari

hari

Nilai P dan C

Nilai P dan Cvv merupakanmerupakan faktor-faktor yang faktor-faktor yang merepresen-tasikan variasi musiman (

tasikan variasi musiman (seasonal seasonal  variation 

variation ). ). Untuk Untuk keperluankeperluan penaksiran LHRT, Puslitbang penaksiran LHRT, Puslitbang Teknologi Prasarana Transportasi Teknologi Prasarana Transportasi pada tahun 1998-1999 telah pada tahun 1998-1999 telah melakukan perhitungan lalu-lintas melakukan perhitungan lalu-lintas di ruas Pantura selama satu tahun di ruas Pantura selama satu tahun penuh yang mencatat volume penuh yang mencatat volume lalu-lintas jam-jaman. Berdasarkan lintas jam-jaman. Berdasarkan data yang diperoleh, ditetapkan data yang diperoleh, ditetapkan angka-angka variasi musimannya angka-angka variasi musimannya yang disusun untuk digunakan yang disusun untuk digunakan sebagai faktor Mingguan, faktor 3 sebagai faktor Mingguan, faktor 3 harian dalam minggu tertentu, dan harian dalam minggu tertentu, dan faktor 3 harian 12 jam dalam faktor 3 harian 12 jam dalam minggu tertentu (Tabel 8, Tabel 9 minggu tertentu (Tabel 8, Tabel 9 dan Tabel 10).

(13)

Tabel 8. Tabel 8.

Faktor Minggu, N = 7 x 24 jam Faktor Minggu, N = 7 x 24 jam

Tabel 9. Tabel 9.

Faktor 3 hari (Senin, Selasa, Rabu), N = 7 x 24 jam Faktor 3 hari (Senin, Selasa, Rabu), N = 7 x 24 jam

Tabel 10. Tabel 10.

Faktor 3 hari @ 12 jam (Senin-Rabu, jam 06-18) Faktor 3 hari @ 12 jam (Senin-Rabu, jam 06-18)

M i n g g u M i n g g u k e k e 1 1 M i n g g u M i n g g u k e k e 2 2 M i n g g u M i n g g u k e k e 3 3 M i n g g u M i n g g u k e k e 44 B u l a n B u l a n P P CCvv P P CCvv P P CCvv P P CCvv 1 1 00,,88226 6 99,,664 4 00,,880011 77,,1144 00,,880066 66,,4455 00,,88007 7 66,,8866 2 2 11,,22009 9 1199,,773 3 11,,116666 2200,,2200 11,,115533 1144,,4488 11,,00992 2 1133,,1111 3 3 00,,99888 8 99,,114 4 00,,998888 77,,7711 00,,995533 77,,7711 00,,99555 5 66,,9988 4 4 00,,99770 0 44,,888 8 00,,995544 44,,4422 00,,995588 44,,4422 00,,99776 6 66,,6600 5 5 00,,99223 3 66,,661 1 00,,993300 77,,8800 00,,994466 1100,,9966 00,,88881 1 88,,4422 6 6 11,,00116 6 44,,996 6 11,,004477 33,,5588 11,,006644 22,,5566 11,,00994 4 33,,4400 7 7 11,,11997 7 77,,666 6 11,,229900 1166,,6644 11,,226633 1133,,5555 11,,11554 4 77,,7788 8 8 11,,00226 6 55,,994 4 11,,004433 55,,2200 00,,998855 66,,9944 00,,99996 6 88,,3377 9 9 11,,00228 8 77,,990 0 11,,002255 88,,0033 11,,002233 88,,4422 1,,010004 4 1100,,7766 1 10 0 00,,99442 2 33,,334 4 00,,992288 44,,2288 00,,995588 33,,7755 00,,99779 9 44,,4444 1 11 1 00,,99880 0 33,,440 0 00,,997722 33,,3322 00,,999911 33,,6622 00,,99995 5 44,,0022 1 12 2 00,,99779 9 33,,994 4 00,,998844 22,,0000 00,,997788 22,,9922 00,,99991 1 22,,6699 M i n g g u M i n g g u k e k e 1 1 M i n g g u M i n g g u k e k e 2 2 M i n g g u k e M i n g g u k e 3 3 M i n g g u M i n g g u k e k e 44 B u l a n B u l a n P P CCvv P P CCvv P P CCvv P P CCvv 1 1 00,,77772 2 1133,,119 9 00,,774400 1111,,7733 00,,772266 88,,6688 00,,77335 5 88,,4499 2 2 11,,33005 5 2211,,556 6 11,,116688 2244,,5588 11,,226688 1177,,7711 11,,11222 2 1133,,7744 3 3 00,,99772 2 1111,,339 9 00,,997700 99,,8833 00,,994433 99,,4411 00,,99118 8 1111,,6633 4 4 00,,99555 5 66,,118 8 00,,993366 55,,8899 00,,997733 55,,8899 0,,909660 0 1100,,1144 5 5 00,,88881 1 99,,227 7 00,,991144 99,,7788 00,,994411 1133,,9933 00,,99332 2 1111,,6611 6 6 11,,00224 4 77,,771 1 11,,006622 44,,9944 11,,008833 33,,8877 11,,11449 9 44,,8811 7 7 11,,22775 5 88,,112 2 11,,550088 2222,,8888 11,,449900 2211,,1122 11,,22111 1 88,,7700 8 8 11,,00779 9 77,,000 0 11,,008899 55,,9955 00,,998800 1100,,7744 00,,99888 8 1111,,2244 9 9 11,,00449 9 99,,335 5 11,,005522 99,,7799 11,,004400 1100,,1177 00,,99996 6 1133,,9977 1 10 0 00,,99220 0 55,,221 1 00,,888800 66,,1144 00,,992233 55,,2200 00,,99779 9 66,,5544 1 11 1 00,,99661 1 55,,996 6 00,,995599 44,,1166 00,,998866 44,,7700 11,,00001 1 55,,4477 1 12 2 00,,99779 9 55,,776 6 00,,998833 44,,9922 00,,996699 33,,7722 00,,99887 7 33,,2244 M i n g g u M i n g g u k e k e 1 1 M i n g g u k e M i n g g u k e 2 2 M i n g g u M i n g g u k e k e 3 3 M i n g g u M i n g g u k e k e 44 B u l a n B u l a n P P CCvv P P CCvv P P CCvv P P CCvv 1 1 00,,44663 3 1133,,770 0 00,,444444 1122,,3300 00,,443366 99,,4433 00,,44441 1 99,,2266 2 2 00,,77883 3 2211,,887 7 00,,770011 2244,,8855 00,,776611 1188,,0099 00,,66773 3 1144,,2233 3 3 00,,55883 3 1111,,998 8 00,,558822 1100,,5500 00,,556666 1100,,1111 00,,55551 1 1122,,2200 4 4 00,,55773 3 77,,221 1 00,,556622 66,,9966 00,,558844 66,,9966 0,,505776 6 1100,,8800 5 5 00,,55228 8 99,,998 8 00,,554488 1100,,4466 00,,556655 1144,,4411 00,,44999 9 1122,,1199 6 6 00,,66114 4 88,,555 5 00,,663377 66,,1177 00,,665500 55,,3355 0,,606889 9 66,,0077 7 7 00,,77665 5 88,,992 2 00,,990055 2233,,1188 00,,889944 2211,,4444 00,,77227 7 99,,4466 8 8 00,,66447 7 77,,992 2 00,,665544 77,,0011 00,,558888 1111,,3366 00,,55993 3 1111,,8833 9 9 00,,66330 0 1100,,006 6 00,,663311 1100,,4455 00,,662244 1100,,8822 00,,55998 8 1144,,4455 1 10 0 00,,55552 2 66,,339 9 00,,552288 77,,1177 00,,555544 66,,3388 00,,55887 7 77,,5511 1 11 1 00,,55777 7 77,,002 2 00,,557755 55,,5577 00,,559922 55,,9988 00,,66001 1 66,,6600 1 12 2 00,,55887 7 66,,884 4 00,,559900 66,,1166 00,,558811 55,,2244 00,,55992 2 44,,9922

(14)

Sebagai contoh aplikasi Sebagai contoh aplikasi dari faktor-faktor tersebut: Survey dari faktor-faktor tersebut: Survey lalu-lintas pada tanggal 30 lalu-lintas pada tanggal 30 September 1996 s/d, 6 Oktober September 1996 s/d, 6 Oktober 1996 (7 hari penuh) di salah satu 1996 (7 hari penuh) di salah satu ruas jalan di jalur Pantura, ruas jalan di jalur Pantura, menghasilkan LHR 16066. Survey menghasilkan LHR 16066. Survey dilaksanakan pada minggu dilaksanakan pada minggu pertama bulan Oktorber sehingga pertama bulan Oktorber sehingga dari Tabel faktor musiman (Tabel dari Tabel faktor musiman (Tabel 8) diperolah P=0,942 dan C 8) diperolah P=0,942 dan Cvv == 3,34%, Maka taksiran LHRT: 3,34%, Maka taksiran LHRT: LHRT LHRTTT=16066/0,942=17055=16066/0,942=17055 kendaraan /hari. kendaraan /hari. Selang kepercayaan LHRT: Selang kepercayaan LHRT: 17055/(1+1,96x3,34/100) 17055/(1+1,96x3,34/100)≤≤LHRTLHRT≤≤ 17055/(1-1,96x3,34/100) 17055/(1-1,96x3,34/100)

pada tingkat peluang 95% pada tingkat peluang 95% ((αα=1,96)=1,96) Sehingga: Sehingga: 16000 16000≤≤LHRTLHRT≤≤18250 18250 KendaraanKendaraan per hari, per hari,

Pada ruas ini, hasil survey Pada ruas ini, hasil survey (selama satu tahun) menunjukkan (selama satu tahun) menunjukkan LHRT=16353 Kendaraan / hari, LHRT=16353 Kendaraan / hari, sehingga prediksi seperti di atas sehingga prediksi seperti di atas sesuai dengan fakta nyatanya, sesuai dengan fakta nyatanya, Nilai taksiran LHRTnya

Nilai taksiran LHRTnya sendiri agak sendiri agak  tinggi dari nilai sebenarnya tetapi tinggi dari nilai sebenarnya tetapi masih di dalam batas kisaran masih di dalam batas kisaran dengan tingkat peluang 95% dengan tingkat peluang 95% sehingga cukup dapat diterima. sehingga cukup dapat diterima.

Perumusan Tabel seasonal  Perumusan Tabel seasonal  factors 

factors : Tabel 8, Tabel 9 dan: Tabel 8, Tabel 9 dan Tabel 10 merupakan faktor-faktor Tabel 10 merupakan faktor-faktor musiman yang dihitung didasarkan musiman yang dihitung didasarkan

atas pengukuran 1 kali selama atas pengukuran 1 kali selama satu tahun, Untuk menjadi tabel satu tahun, Untuk menjadi tabel yang bisa dimanfaatakan perlu yang bisa dimanfaatakan perlu asumsi yang mendasarinya bahwa asumsi yang mendasarinya bahwa variasi LHR dari hari ke hari, variasi LHR dari hari ke hari, minggu ke minggu dan bulan ke minggu ke minggu dan bulan ke bulan

bulan dalam tahun-tahun berikutnyadalam tahun-tahun berikutnya memiliki pola yang sama, artinya memiliki pola yang sama, artinya bahwa

bahwa system pembangkit dan system pembangkit dan   penarik

 penarik lalu-lintas lalu-lintas  tidak berubahtidak berubah secara signifikan atau berubah secara signifikan atau berubah bersama-sama secara linier, Untuk  bersama-sama secara linier, Untuk  membuktikan ini atau membuktikan ini atau merumus-kannya, diperlukan data

kannya, diperlukan data time time  serries 

serries  lalu-lintas yang cukuplalu-lintas yang cukup banyak (misal 5 tahun banyak (misal 5 tahun berturut-turut). turut). Komposisi kendaraan:  Komposisi kendaraan:  Perkiraan LHRT dari LHR  Perkiraan LHRT dari LHR  berdasarkan data yang ringkas berdasarkan data yang ringkas perlu memperhatikan komposisi perlu memperhatikan komposisi kendaraan. Jika porsi Truk dalam kendaraan. Jika porsi Truk dalam LHR 

LHR 7HARI7HARI X%, belum tentu padaX%, belum tentu pada minggu-minggu yang lain porsi minggu-minggu yang lain porsi X% tersebut sama, sehingga X% tersebut sama, sehingga belum tentu porsi tersebut benar belum tentu porsi tersebut benar untuk LHRT. Untuk tujuan praktis, untuk LHRT. Untuk tujuan praktis, porsi

porsi tersebut diasumsikan memilikitersebut diasumsikan memiliki porsi yang linear antara porsi porsi yang linear antara porsi dalam satu minggu terhadap porsi dalam satu minggu terhadap porsi dalam satu tahun. Tetapi, untuk  dalam satu tahun. Tetapi, untuk  tujuan mendapatkan akurasi yang tujuan mendapatkan akurasi yang dapat diterima, perlu mengkaji dapat diterima, perlu mengkaji linearitas

linearitas porsi komposisi kendaraanporsi komposisi kendaraan tersebut,

tersebut,

Perkiraan

Perkiraan LHRT LHRT NN

tahun kedepan

tahun kedepan; ; Untuk Untuk 

menghitung perkiraan LHRT menghitung perkiraan LHRT

(15)

kedepan, sering digunakan Faktor kedepan, sering digunakan Faktor Pertumbuhan Lalu-lintas sebagai Pertumbuhan Lalu-lintas sebagai model yang mendekati model yang mendekati pertum-buhan (

buhan (growth factor growth factor ) lalu-lintas) lalu-lintas empiris. AASHTO (2001) pun empiris. AASHTO (2001) pun menggunakan model ini seperti menggunakan model ini seperti ditunjukkan pada Tabel 11. ditunjukkan pada Tabel 11. Dengan mengali-kan faktor Dengan mengali-kan faktor tersebut terhadap LHRT awal tersebut terhadap LHRT awal tahun perencanaan, maka akan tahun perencanaan, maka akan diperoleh jumlah kumulatif diperoleh jumlah kumulatif lalu-lintas selama tahun perencanaan. lintas selama tahun perencanaan. Sebagai contoh, jika total traffic Sebagai contoh, jika total traffic pada awal perencanaan adalah pada awal perencanaan adalah 365xLHRT, dan jika tingkat 365xLHRT, dan jika tingkat pertumbuhan lalu-lintas i=8% pertumbuhan lalu-lintas i=8% serta usia rencana N=10 tahun, serta usia rencana N=10 tahun, maka Total traffic pada akhir maka Total traffic pada akhir tahun perencanaan adalah tahun perencanaan adalah 365xLHRTx14,49.

365xLHRTx14,49.

Model pertumbuhan Model pertumbuhan lalu-lintas seperti ini dipandang masih lintas seperti ini dipandang masih beralasan untuk diadopsi selama beralasan untuk diadopsi selama

belum ada data yang dapat belum ada data yang dapat dipakai untuk melakukan evaluasi. dipakai untuk melakukan evaluasi.  Yang

 Yang perlu perlu untuk untuk dimutahirkandimutahirkan segera adalah nilai tingkat segera adalah nilai tingkat pertumbuhan lalu-lintas tahunan, pertumbuhan lalu-lintas tahunan, biasa diberi notasi i, dinyatakan biasa diberi notasi i, dinyatakan dalam %. Jalan seperti jalur dalam %. Jalan seperti jalur Pantura yang LHRTnya sudah Pantura yang LHRTnya sudah cukup tinggi mendekati Kapasitas cukup tinggi mendekati Kapasitas ruas jalannya, terutama pada ruas jalannya, terutama pada waktu menghadapai perayaan waktu menghadapai perayaan Eidul Fitri, memiliki keterbatasan Eidul Fitri, memiliki keterbatasan untuk lebih meningkat volume untuk lebih meningkat volume lalu-lintasnya, kecuali jumlah lajur lalu-lintasnya, kecuali jumlah lajur  jalannya

 jalannya bertambah. bertambah. KondisiKondisi seperti ini cenderung memiliki seperti ini cenderung memiliki tingkat pertumbuhan yang bisa tingkat pertumbuhan yang bisa rendah. Demikian juga jika rendah. Demikian juga jika dibangun route alternatif atau dibangun route alternatif atau moda alternatif lainnya, moda alternatif lainnya, memungkinkan tingkat memungkinkan tingkat pertumbu-han lalu-lintas pada ruas ini han lalu-lintas pada ruas ini menurun.

(16)

Tabel 11. Tabel 11.

Faktor Pertumbuhan Lalu Lintas Faktor Pertumbuhan Lalu Lintas

 Volume

 Volume Jam PerencanaanJam Perencanaan

(VJP);

(VJP); VJP  VJP dipakai dipakai sebagai sebagai dasardasar untuk menentukan jumlah lajur untuk menentukan jumlah lajur  jalan

 jalan yang yang diperlukan, diperlukan, VJPVJP ditetapkan dari perkalian LHRT ditetapkan dari perkalian LHRT terhadap faktor jam sibuk ke 30 terhadap faktor jam sibuk ke 30 (faktor K). Referensi menunjukkan (faktor K). Referensi menunjukkan nilai K bervariasi, untuk ruas-ruas nilai K bervariasi, untuk ruas-ruas  jalan

 jalan dengan dengan kepadatan kepadatan yangyang tinggi seperti dijalan-jalan tinggi seperti dijalan-jalan perkotaan, nilai K bervariasi dari perkotaan, nilai K bervariasi dari 6% s/d, 12% sedangkan untuk  6% s/d, 12% sedangkan untuk 

 jalan

 jalan - - jalan jalan yang yang kurangkurang kepadatannya seperti jalan-jalan kepadatannya seperti jalan-jalan Rural 

Rural  dapat bervariasi dari 8%dapat bervariasi dari 8% s/d, 15%, Hasil analisis data tahun s/d, 15%, Hasil analisis data tahun 1998-1999 (Iskandar, 1999) untuk  1998-1999 (Iskandar, 1999) untuk   jalur

 jalur Pantura Pantura pulau pulau JawaJawa menunjukkan nilai K rata-rata menunjukkan nilai K rata-rata 8,1%

8,1% dengan dengan variasi variasi LHRT LHRT antaraantara 6100 s/d, 19,000 kendaraan / hari, 6100 s/d, 19,000 kendaraan / hari, K tersebut bervariasi antara 6,7% K tersebut bervariasi antara 6,7% s/d 11,9%, Nilai K ini perlu s/d 11,9%, Nilai K ini perlu

(17)

dimutahirkan lebih lanjut untuk  dimutahirkan lebih lanjut untuk 

mendapatkan nilai yang representatif. mendapatkan nilai yang representatif.

6.

6. Beban berlebihBeban berlebih Definisi

Definisi: Beban berlebih: Beban berlebih atau overloading perlu atau overloading perlu didefinisikan secara jelas. Ada didefinisikan secara jelas. Ada beberapa yang dapat beberapa yang dapat diidentifikasikan sebagai beban diidentifikasikan sebagai beban berlebih yaitu:

berlebih yaitu: 1.

1. Berat as kendaraan yangBerat as kendaraan yang melampaui batas maksimum melampaui batas maksimum yang diizinkan (MST=muatan yang diizinkan (MST=muatan sumbu terberat) yang dalam sumbu terberat) yang dalam hal ini MST ditetapkan hal ini MST ditetapkan berdasarkan PP (Peraturan berdasarkan PP (Peraturan Pemerintah) yang berlaku: Pemerintah) yang berlaku: a. Pasal 11 PP No,43/1993: a. Pasal 11 PP No,43/1993: MST berdasarkan berat As MST berdasarkan berat As Kendaraan: Kendaraan: •

• Jalan kelas I: MST > 10Jalan kelas I: MST > 10

ton ton

• Jalan Kelas II: MSTJalan Kelas II: MST ≤≤ 1010

ton ton

• Jalan Kelas III (A, B, C):Jalan Kelas III (A, B, C):

MST

MST ≤≤ 8 ton8 ton

b. Pasal 9 KM Perhubungan b. Pasal 9 KM Perhubungan No,75/1990, khusus untuk  No,75/1990, khusus untuk  Jenis Truk Angkutan Peti Jenis Truk Angkutan Peti Kemas:

Kemas:

• Sumbu Sumbu tunggal tunggal rodaroda

tunggal: 6 ton tunggal: 6 ton

• Sumbu Sumbu tunggal tunggal rodaroda

ganda: 10 ton ganda: 10 ton

• Sumbu Sumbu Ganda Ganda rodaroda

ganda: 18 ton ganda: 18 ton

• Sumbu tiga (tripel) rodaSumbu tiga (tripel) roda

ganda: 20 ton ganda: 20 ton 2.

2. Jumlah Jumlah lintasan lintasan rencanarencana tercapai oleh lalu-lintas yang tercapai oleh lalu-lintas yang operasional sebelum usia operasional sebelum usia rencana tercapai, Hal ini sering rencana tercapai, Hal ini sering diungkapkan sebagai diungkapkan sebagai ” 

” kerusakan dini kerusakan dini ”,”, 3.

3. Definisi lain? Mungkin masihDefinisi lain? Mungkin masih ada.

ada. Kasus

Kasus Overloading Overloading ;; Jalan- Jalan- jalan yang

 jalan yang rusak dewasa rusak dewasa ini seringini sering dituduh sebagai akibat dari dituduh sebagai akibat dari overloading kendaraan-kendaraan overloading kendaraan-kendaraan pengangkut barang (Truk). Hal-hal pengangkut barang (Truk). Hal-hal tersebut dipicu oleh fakta adanya tersebut dipicu oleh fakta adanya  jembatan

 jembatan runtuh runtuh di di jalur jalur PanturaPantura Jawa Barat, yaitu jembatan CH Jawa Barat, yaitu jembatan CH Cipunegara pada tahun 2003, Cipunegara pada tahun 2003, yang dituduh penyebabnya oleh yang dituduh penyebabnya oleh muatan berlebih. Secara definisi, muatan berlebih. Secara definisi, overloading yang terjadi (jika ada overloading yang terjadi (jika ada datanya), perlu ditetapkan datanya), perlu ditetapkan statusnya apakah

statusnya apakah overloading overloading  berdasarkan peraturan (ilegal) berdasarkan peraturan (ilegal) yaitu beban as yang ada yaitu beban as yang ada melampaui MST-nya, atau usia melampaui MST-nya, atau usia rencana yang telah dicapai lebih rencana yang telah dicapai lebih dini.

dini.

Perlu didefinisikan kelas jalan Perlu didefinisikan kelas jalan  jika

 jika akan akan ditetapkan ditetapkan jalan jalan dengandengan lalu-lintas yang

lalu-lintas yang overloaded overloaded , Hal ini, Hal ini pun perlu disesuaikan dengan pun perlu disesuaikan dengan Undang-undang No.38/2004 yang Undang-undang No.38/2004 yang baru, berkaitan dengan spesifikasi baru, berkaitan dengan spesifikasi prasarana jalan (pasal 10 ayat 3) prasarana jalan (pasal 10 ayat 3) yaitu tentang Jalan Bebas yaitu tentang Jalan Bebas

(18)

Hambatan, Jalan Raya, Jalan Hambatan, Jalan Raya, Jalan Sedang, dan Jalan Kecil. Sesuai PP Sedang, dan Jalan Kecil. Sesuai PP No.43/1993, jalan kelas satu No.43/1993, jalan kelas satu

memiliki spesifikasi mampu

memiliki spesifikasi mampu

menyalurkan lalu-lintas dengan menyalurkan lalu-lintas dengan MST>10 ton atau dengan kata lain MST>10 ton atau dengan kata lain ”Tidak ada pembatasan MST”. ”Tidak ada pembatasan MST”.

Peraturan ini masih berlaku

Peraturan ini masih berlaku

sampai ”mungkin” ada

sampai ”mungkin” ada

penggantinya. Di dalam RUU penggantinya. Di dalam RUU Lalu-lintas dan Angkutan jalan yang lintas dan Angkutan jalan yang diterbitkan 10 Oktober 2006, diterbitkan 10 Oktober 2006, klasifikasi jalan dengan aturan klasifikasi jalan dengan aturan MST-nya masih sama seperti pada MST-nya masih sama seperti pada PP no.43/1993 tersebut.

PP no.43/1993 tersebut.  Apapun

 Apapun statusstatus overloading overloading  yang ada, tetap sulit ditentukan yang ada, tetap sulit ditentukan karena tidak ada DATA yang karena tidak ada DATA yang

aktual untuk mengkonfirmasi

aktual untuk mengkonfirmasi

kannya!

kannya! Overloading Overloading  yangyang mungkin

mungkin terjadi adalahterjadi adalah overloading overloading 

yang didasarkan kepada Peraturan yang didasarkan kepada Peraturan yang berlaku, sedangkan dari sisi yang berlaku, sedangkan dari sisi ”perencanaan beban lalu-lintas”  ”perencanaan beban lalu-lintas”  untuk perkerasan tidak ada istilah untuk perkerasan tidak ada istilah overloading, yang ada adalah usia overloading, yang ada adalah usia rencana yang dicapai lebih dini, rencana yang dicapai lebih dini,

Mengapa? Karena dalam

Mengapa? Karena dalam

menghitung beban lalu-lintas

menghitung beban lalu-lintas

rencana (yang dinyatakan dalam rencana (yang dinyatakan dalam satuan Ekuivalen Lintasan beban satuan Ekuivalen Lintasan beban  As

 As Standar Standar 18 18 Kip) Kip) tidak tidak adaada pembatasan beban, Kendaraan pembatasan beban, Kendaraan dengan berat as yang besar dengan berat as yang besar

memiliki VDF yang besar pula, memiliki VDF yang besar pula, exponentially 

exponentially ..

Untuk segera mengatasi hal Untuk segera mengatasi hal ini, maka perlu pendataan volume ini, maka perlu pendataan volume

lalu-lintas dan Beban as

lalu-lintas dan Beban as

kendaraan. Disarankan, beban kendaraan. Disarankan, beban lalu-lintas dihitung berdasarkan lalu-lintas dihitung berdasarkan kondisi arus lalu-lintas yang ada kondisi arus lalu-lintas yang ada dilapangan termasuk berat as dilapangan termasuk berat as kendaraan yang ada.

kendaraan yang ada.

KESIMPULAN KESIMPULAN

Problem kerusakan jalan Problem kerusakan jalan dalam bidang Lalu-lintas dapat dalam bidang Lalu-lintas dapat disebabkan oleh Beban lalu-lintas disebabkan oleh Beban lalu-lintas rencana yang terlampaui lebih rencana yang terlampaui lebih

awal. Hal tersebut dapat

awal. Hal tersebut dapat

disebabkan oleh perhitungan disebabkan oleh perhitungan Lalu-lintas Rencana yang kurang tepat lintas Rencana yang kurang tepat yang dapat disebabkan oleh 1) yang dapat disebabkan oleh 1) metoda perkiraan yang kurang metoda perkiraan yang kurang tepat (hal ini jarang atau tidak  tepat (hal ini jarang atau tidak  pernah dibuktikan), atau 2) data pernah dibuktikan), atau 2) data dan faktor-faktor koreksi data dan faktor-faktor koreksi data

yang kurang sesuai dengan

yang kurang sesuai dengan

kondisi lalu-lintas yang

kondisi lalu-lintas yang

operasional. operasional.

Overloading secara legal, Overloading secara legal, sulit diidentifikasikan kecuali ada sulit diidentifikasikan kecuali ada data yang

data yang up to date up to date . Dalam. Dalam

perencanaan perkerasan, jika

perencanaan perkerasan, jika

direncanakan berdasarkan beban direncanakan berdasarkan beban

lalu-lintas yang ada (jelas

lalu-lintas yang ada (jelas

berdasarkan data yang terkini) berdasarkan data yang terkini)

maka tidak ada

maka tidak ada overloading overloading  kecuali kerusakan dini.

(19)

Untuk menetapkan masalah Untuk menetapkan masalah

kerusakan jalan dengan lebih kerusakan jalan dengan lebih tepat, agar segera dilakukan tepat, agar segera dilakukan pengukuran volume dan beban pengukuran volume dan beban lalu-lintas.

lalu-lintas.

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA

 AASHTO

 AASHTO (American (American Association Association of of  State Highway and State Highway and Transportation Officials), 2001, Transportation Officials), 2001, ”A policy on geometric design  ”A policy on geometric design  of highways and streets”. of highways and streets”. Published by AASHTO, Published by AASHTO, Washington DC.

Washington DC. Ditjen Bina Marga, 1992,

Ditjen Bina Marga, 1992, Penduan Penduan  Survai Perhitungan Lalu-lintas  Survai Perhitungan Lalu-lintas  (Cara Manual) 

(Cara Manual) ..

Ditjen Bina Marga, 1997,

Ditjen Bina Marga, 1997, Tatacara Tatacara  Perencanaan Geometrik Jalan  Perencanaan Geometrik Jalan  antar Kota.

antar Kota.

Ditjen Bina Marga, 1997,

Ditjen Bina Marga, 1997, Manual Manual  Kapasitas Jalan Indonesia  Kapasitas Jalan Indonesia  (MKJI) 

(MKJI) , Sweroad bekerja sama, Sweroad bekerja sama dengan PT. Bina Karya dengan PT. Bina Karya (Persero).

(Persero).

Howe, JDGF, 1972,

Howe, JDGF, 1972,  A  A review review of of  rural traffic counting methods  rural traffic counting methods  in developing countries  in developing countries , RRL, RRL Report LR 427, RRL Report LR 427, RRL Department of the Department of the Environment, Crowthorne, Environment, Crowthorne, Berkshire. Berkshire. Iskandar H, 1999,

Iskandar H, 1999, Penelitian Penelitian  Karakteristik Volume Lalu-  Karakteristik Volume Lalu-  lintas Perkotaan 

lintas Perkotaan , Laporan akhir, Laporan akhir

Penelitian dan Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Nomor

Nomor

6.1.02.471512.21.04.001, 6.1.02.471512.21.04.001, Puslitbang Teknologi Prasarana Puslitbang Teknologi Prasarana Jalan, Bandung.

Jalan, Bandung.

Peraturan Pemerintah No.43, Peraturan Pemerintah No.43,

1993,

1993, tentang tentang  Prasarana dan Prasarana dan  Lalu-lintas Jalan.

Lalu-lintas Jalan.

Peraturan Pemerintah No.44, Peraturan Pemerintah No.44,

1993,

1993, tentang tentang  Kendaraan dan Kendaraan dan  Pengemudi.

Pengemudi.

Peraturan Pemerintah No.34, Peraturan Pemerintah No.34,

2006,

2006, tentang Jalan tentang Jalan 

PerMen Perhubungan No.14, PerMen Perhubungan No.14,

2006,

2006, tentang Rekayasa Lalu- tentang Rekayasa Lalu-  lintas.

lintas.

Puslitbang Teknologi Prasarana Puslitbang Teknologi Prasarana

Jalan, 1999,

Jalan, 1999, Tata Tata Cara Cara  Perkiraan Volume Lalu-lintas, Perkiraan Volume Lalu-lintas, (Lampiran laporan, berupa (Lampiran laporan, berupa draft konsep Pedoman, draft konsep Pedoman, berjudul ”Penelitian berjudul ”Penelitian Karakteristik Volume Lalu-Karakteristik Volume Lalu-lintas Perkotaan”). Laporan lintas Perkotaan”). Laporan akhir Litbang No.6,1,02, akhir Litbang No.6,1,02, 471512,21,04,001, Bandung. 471512,21,04,001, Bandung. Rancangan Undang-undang Rancangan Undang-undang Lalu-lintas dan Angkutan Jalan lintas dan Angkutan Jalan (dipublikasikan tanggal 10 (dipublikasikan tanggal 10 Oktober 2006. Oktober 2006. Undang-undang No.14, 1992, Undang-undang No.14, 1992, tentang Lalu-lintas dan  tentang Lalu-lintas dan   Angkutan Jalan.  Angkutan Jalan. Undang-undang No.38, 2004, Undang-undang No.38, 2004, tentang Jalan. tentang Jalan. Undang-undang No.15, 2005, Undang-undang No.15, 2005,

tentang Jalan Tol. tentang Jalan Tol.

Referensi

Dokumen terkait

sosiologi, siswa, dan guru teman sejawat variasi gaya mengajar guru dalam meningkatkan minat belajar siswa sudah cukup baik, hal ini terbukti dari hasil tiga kali

tersaji di Taman Wisata Matahari Cisarua Bogor, suasanan alam yang hijau, udara yang sejuk, dialiri oleh sungai Ciliwung yang bersih. Itu semua sangat dijaga dan dipelihara dengan

System operasi open source berdeda dengan system operasi close source, system operasi open source hidupnya bergantung pada pengembang karena system operasi ini

Hal ini dapat diartikan bahwa kekuatan transversa plat resin akrilik heat cured yang direndam dalam 0,4% eugenol minyak kayu manis menunjukkan perbedaan yang

Terdapat pembesaran rahim tetapi tidak disertai tanda hamil, bentuk pembesaran tidak merata dan perdarahan banyak saat menstruasi. Terjadi pembesaran perut tetapi tidak

Berangkat dari cara pandang data sosiolinguistik di atas, metode analisis dalam kajian sosiolinguistik ini dapat dibagi ke dalam dua jenis, pertama, metode yang berkaitan dengan

The conclusions of the study can be summarised as follows: the &#34;locational&#34; aspect alone (no added symbols) of picture designs appears to be unhelpful in direct- ing

dalam analisis ini didapatkan dari frekuensi data curah hujan yang tersedia dengan menggunakan metode partial duration seriesi atau pemilihan data curah hujan dengan nilai