BAB II TAHFIDZ AL-QUR AN DAN METODE AL-QOSIMI. Kata tahfidz atau bisa juga disebut dengan istilah hifdz. Kata hifdz

Teks penuh

(1)

16 A. Tahfidz Al-Qur’an

1. Pengertian Tahfidz Al-Qur‟an

Kata tahfidz atau bisa juga disebut dengan istilah hifdz. Kata hifdz

dalam bahasa arab

ظُ فْ حِ

adalah masdar dari kata

ظُ حَ فْ حَ

_

حَ حِ حَ

yang mempunyai arti kata penjagaan, perlindungan, hafalan.1

Al-Hifdz (hafal) memelihara sesuatu atau tidak lupa, kalau yang hafal satu orang maka disebut hafidz, sedang yang hafal orang banyak misalnya satu kaum, maka disebut huffadz.

Firman Allah dalam Al-Qur‟an disebutkan: Al-Baqarah ayat 238.









Artinya:“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa.

Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.” (QS.Al-Baqarah:238)

Sedangkan Al-Qur‟an berasal dari kata “Qara‟a” yang berarti mengumpulkan, menggabungkan, dan membaca. Yakni menggabungkan huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain. Sedangkan menurut istilah adalah firman Allah swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad

1 Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir, cet 14 (Jakarta: Pustaka Progresif, 1997),

(2)

saw. diriwayatkan secara mutawatir, membacanya adalah ibadah dan dijadikan objek tantangan bagi orang-orang yang pandai berbahasa arab untuk menandingi walaupun seperti surat terpendek dari Al-Qur‟an.2

Dengan demikian yang dimaksud tahfid Al-Qur‟an adalah menghafal Al-Qur‟an sesuai urutan yang terdapat dalam mushaf Ustmani.

HifdzlAl-Qur‟an bila dihubungkan ke Allah swt. berarti menjaga dan memelihara dari perubahan, penyimpangan, penambahan dan pengurangan.

Allah telah menjamin pemeliharaan Al-Qur‟an ini dengan ungkapan yang tegas, diantaranya perangkat untuk memeliharanya adalah dengan mempersiapkan tiap generasi untuk menghafalnya. .

2. Metode Menghafal Al-Qur‟an

Metode yang lazim digunakan seseorang yang pernah atau sedang menghafalkan Al-Qur‟an, diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Thariqatu Takriry al- Qiraati al-Juz‟i.

Thariqatu Takriry al- Qiraati al-Juz‟i adalah membaca ayat-ayat yang akan dihafal berulang kali, frekuensi pengulangan tersebut dapat bervareasi (7 kali, 11 kali, 15 kali, 21 kali, atau lebih). Setelah dibaca berulang-ulang dan muncul bayangan dalam fikiran mengenai ayat-ayat yang telah diulang-ulang kemudian baru dihafal ayat demi ayat, setiap selesai satu ayat diulang kembali ayat yang pertama yang baru dihafal.

2 Ibrahim Eldeeb, Be a Living Qur‟an, Petunjuk Praktis Penerapan Ayat-ayat Al-Qur‟an

(3)

Hal semacam itu dilakukan hingga sampai pada ayat yang terakhir yang sedang dihafal.3

b. Thariqatu Takriry al-Qiraati al-Kulli.

Thariqatu Takriry al-Qiraati al-Kulli adalah mengawali dengan membaca Qur‟an mulai dari awal surat hingga menghatamkan Al-Qur‟an beberapa kali, dalam beberapa minggu atau bulan. Frekuensi menghatamkan tersebut dapat bervareasi (7 kali, 11 kali, 15 kali, 21 kali, atau lebih). Setelah mampu menghatamkan beberapa kali diharapkan memberikan bekas/pengaruh terhadap lisannya, pikirannya, dan daya rasanya.

c. Thariqatu al-Jumlah

Thariqatu al-Jumlah adalah menghafal rangkaian-rangkaian kalimat yang terdapat pada setiap ayat-ayat Al-Qur‟an. Seorang penghafal memulai menghafal dari setiap kalimat dan kemudian dirangkai dengan kalimat berikutnya sehingga selesai dalam satu ayat. Demikian juga dilanjutkan pada ayat berikutnya dengan cara yang sama pula.

d. Thariqotu al-Tadabburi

Thariqatu al-Tadabburi berarti mengangan-angan kandungan makna. Dengan cara memperhatikan makna lafadz/kalimat, sehingga

3 M. Samsul Ulum, Menangkap Cahaya Al-Qur‟an (Malang: UIN-Malang Press, 2007),

(4)

diharapkan ketika membaca ayat-ayat Al-Qur‟an dapat tergambar makna-makna lafdziyah yang terucap (terbaca).4

e. Metode Thariqah Kitabah

Kitabah artinya menulis, pada metode ini penghafal terlebih dahulu menulis ayat-ayat yang akan dihafalnya pada secarcik kertas yang telah disediakan untuknya. Kemudian ayat-ayat tersebut dibacanya sehingga lancar dan benar bacaannya, lalu dihafalkannya. Menghafalnya bisa

menggunakan metode wahdah atau dengan berkali-kali

menuliskannya.5 f. Metode Tasmi

Yaitu mendengarkan hafalan kepada orang lain baik kepada perseorangan maupun kepada jama‟ah. Dengan tasmi‟ ini seorang penghafal Al-Qur‟an akan diketahui kekurangan pada dirinya, karena bisa saja ia lengah dalam mengucapkan huruf atau harokat. Dengan

tasmi‟ juga seseorang akan lebih berkonsentrasi dalam hafalan.6

g. Metode (Thariqah) gabungan

Metode ini merupakan gabungan antara metode wahdah dan metode kitabah. Hanya saja kitabah (menulis) disini lebih memiliki fungsional sebagai uji coba terhadap ayat-ayat yang telah dihafalkannya. Maka dalam hal ini, setelah penghafal selesai menghafal

4

Ibid., hlm. 138-139.

5Ahsin Wijaya Al-Hafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qu‟ran, Cet ke 5

(Jakarta:Amzah, 2009), hlm. 64.

(5)

ayat yang telah dihafalnya, kemudian ia mencoba menuliskannya di atas kertas yang telah disediakan untuknya dengan hafalnya pula.7 3. Strategi Menghafal Al-Qur‟an

Untuk membantu mempermudah membentuk kesan dalam ingatan terhadap ayat-ayat yang dihafal, maka diperlukan strategi menghafal yang baik. Strategi itu antara lain adalah sebagai berikut:

a. Manajemen Waktu

Penghafal Al-Qur‟an dalam sehari harus menyediakan waktu khusus untuk menghafal atau mengulang hafalannya. Misalnya bagi pemula, minimal harus menyediakan waktu kurang lebih satu jam dalam sehari untuk menambah atau mengulang hafalannya. Apabila hafalannya semakin bertambah, maka harus ditambah pula waktu yang disediakan untuk mengulang-ulang hafalannya.

b. Manajemen Kegiatan

Penghafal Al-Qur‟an harus mampu mengatur segala aktivitas yang berkaitan dengan dirinya, selama menghafal hendaknya memilih aktivitas kegiatan-kegiatan yang tidak menguras tenaga atau pikiran. c. Manajemen Qalbu

Bagi seorang penghafal Al-Qur‟an agar kegiatan hafalannya tidak mengalami banyak gangguan sedapat mungkin dia harus menjaga

(6)

hatinya dari hal-hal yang mengendorkan semangat, memancing emosi, menimbulkan pikiran kacau (ruwet), dan sebagainya.8

d. Mengulang-ulang membaca (bin-nazhar) sebelum menghafal.

Seorang penghafal Qur‟an sangat dianjurkan membaca Al-Qur‟an dengan melihat mushaf (bin-nazhar) dengan istiqamah sebelum mulai menghafalnya. Oleh karena itu, semakin sering mengulang bacaan akan semakin mudah menghafalnya. Cara mengulang bacaan secara bin-nazhar ini sangat cocok bagi penghafal yang daya ingatnya agak lemah.9

e. Selalu mengulang (takrir) hafalan sendiri.

Seseorang yang menghafal harus bisa memanfaatkan waktu untuk

takrir atau untuk menambah hafalan. Hafalan yang baru harus selalu

di-takrir minimal setiap hari dua kali dalam jangka waktu satu minggu. Sedangkan hafalan yang lama harus di-takrir setiap hari atau dua hari sekali. Artinya, semakin banyak hafalan, harus semakin banyak pula waktu yang dipergunakan untuk takrir.

f. Mengulang (takrir) hafalan dalam shalat.

Takrir dalam shalat sanagt bermanfaat untuk menguatkan hafalan, karena di dalam shalat tubuh kita tidak bisa seenaknya bergerak. Sehingga seluruh pancaindra: mata, telingan dan perasaan kita benar-benar berkonsentrasi agar hafalan Al-Qur‟an kita tidak lupa. Oleh

8 M. Samsul Ulum, op.cit., hlm. 135-136

(7)

sebab itu, kemampuan membaca ayat-ayat Al-Qur‟an di dalam shalat merupakan salah satu ukuran kekuatan hafalan.

g. Mengulang (takrir) hafalan bersama-sama

Seseorang yang menghafal perlu melakukan takrir bersama dengan dua teman atau lebih. Takrir ini dapat dilakukan dengan cara:

1) Duduk berhadap-hadapan. Setiap orang membaca materi takrir yang ditetapkan (satu halaman misalnya) secara bergantian dan ketika seorang membaca maka yang lain mendengarkan.

2) Duduk berbaris seperti dalam shalat, kemudian membaca hafalan Al-Qur‟an yang telah ditetapkan secara bersama-sama.

h. Mengulang (takrir) hafalan dihadapan guru

Seseorang yang menghafal Al-Qur‟an harus selalu menghadap guru untuk takrir hafalan yang sudah diajukan. Melakukan takrir di hadapan guru/ instruktur sangat bermanfaat untuk menguatkan hafalan yang sudah ada dalam memori otak kita. Disamping itu, bermanfaat juga untuk mengevaluasi benar/tidaknya bacaan.10

i. Memahami (pengertian) ayat-ayat yang dihafalnya

Memahami pengertian, kisah atau asbabun-nuzul yang terkandung dalam ayat yang sedang dihafalnya merupakan unsur yang sangat mendukung dalam mempercepat proses menghafal Al-Qur‟an. Pemahaman itu sendiri akan lebih memberi arti bila didukung dengan pemahaman terhadap makna kalimat, tata bahasa dan struktur kalimat

(8)

dalam satu ayat. Dengan demikian maka penghafal yang menguasai bahasa arab dan memahami struktur bahasanya akan lebih banyak mendapatkan kemudahan daripada mereka yang tidak mempunyai bekal penguasaan bahasa arab sebelumnya.

j. Memperhatikan ayat-ayat yang serupa

Ditinjau dari aspek makna, lafadz dan susunan atau struktur bahasanya di antara ayat-ayat dalam Al-Qur‟an banyak yang terdapat keserupaan atau kemiripan antara satu dengan yang lainnya. Ada yang benar-benar sama, ada yang hanya berbeda dalam dua, atau tiga huruf saja, ada pula yang hanya berbeda susunan kalimatnya saja. Maka akan mempermudah dalam mewujudkan hafalan yang didinginkan. Hal ini telah disinyalir dalam firman Allah:









Artinya: “.Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun." (Az-Zumar:23)

(9)

4. Keutamaan Menghafal Al-Qur‟an

Ada beberapa manfaat dan keutamaan menghafal Al-Qur‟an, diantaranya adalah:

a. Kebahagiaan di dunia dan di akhirat

Rosulullah saw. bersabda: “Dari Abu Sa‟id al-Khudri, dari Nabi saw. beliau bersabda: Allah swt. berfirman: Barangsiapa membaca Al-Qur‟an dan dzikir kepada-Ku sehingga ia tidak sempat memohon apa-apa kepada-Ku, maka ia akan Kuberi anugerah yang paling baik, yang diberikan kepada orang-orang yang memohon kepada-Ku” (HR. Tirmidzi, Ad-Darami dan Al-Baihaqi).

b. Sakinah (tenteram jiwanya)

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:‟ tidak ada orang yang berkumpul di dalam satu rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Al-Qur‟an, melainkan mereka akan memperoleh ketenteraman, diliputi rahmat, dikitari oleh Malaikat dan nama mereka disebut-sebut Allah di kalangan para Malaikat‟”. (HR. Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Daud).11

c. Orang yang menghafal Al-Qur‟an akan mendapatkan anugerah dari Allah berupa ingatan yang tajam dan pemikiran yang cemerlang. Karena itu, para penghafal Al-Qur‟an lebih cepat mengerti, teliti dan lebih hati-hati karena banyak latihan untuk mencocokkan ayat serta membandingkan dengan ayat lainnya.

11 Ibid., hlm. 35-36.

(10)

d. Menghafal Al-Qur‟an merupakan bahtera ilmu, karena akan mendorong seseorang yang hafal Al-Qur‟an untuk berprestasi lebih tinggi daripada teman-temannya yang tidak hafal Al-Qur‟an, sekalipun umur, kecerdasan, dan ilmu mereka berdekatan.12

e. Fasih dalam berbicara

Orang yang banyak membaca atau menghafal Al-Qur‟an akan membentuk ucapannya tepat dan dapat mengeluarkan fonetik Arab pada landasannya secara alami.

Allah berfirman:













“...

ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas” (QS. Asy-Syu‟ara:194-195)

f. Memiliki doa yang mustajab

Dari Anas r.a. Rasulullah saw. bersabda: “sesungguhnya orang yang hafal Al-Qur‟an itu setiap khatam Al-Qur‟an mempunyai doa yang mustajab, dan sebuah pohon di surga. Seandainya ada burung gagak terbang dari pangkal pohon itu menuju cabangnya, maka hingga pikun ia tidak akan sampai ke tempat yang dituju.” (HR. Al-Khatib al-Baghdadi).13

g. Para penghafal Al-Qur‟an menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempelajari dan mengajarkan sesuatu yang bermanfaat dan

12 Sa‟adulloh, op.cit., hlm. 21.

(11)

bernilai ibadah. Hal ini menjadikan hidupnya penuh barokah sekaligus memosisikannya sebagai manusia yang sempurna.14

h. Kehormatan dan kemuliaan yang diberikan oleh Allah swt. tidak hanya kepada sang penghafal Al-Qur‟an itu sendiri, melainka juga bagi kedua orang tuanya. Sebab, sesungguhnya orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya akan dipakaikan mahkota yang terbuat dari cahaya kelak dihari kiamat. Cahaya tersebut bagaikan cahaya matahari dan kedua orang tuanya akan dipakaikan jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. 15

5. Faktor-faktor yang Mendukung Proses Menghafal Al-Qur‟an.

Terdapat beberapa hal yang dianggap penting sebagai pendukung tercapainya tujuan menghafal Al-Qur‟an. Faktor-faktor pendukung yang dimaksud adalah:

a. Usia yang ideal

Seorang penghafal yang berusia relatif masih muda jelas akan lebih potensial daya serap dan resapnya terhadap materi-materi yang dibaca, dihafal, atau didengarnya dibanding dengan mereka yang berusia lanjut. Dalam hal ini, ternyata usia dini (anak-anak) lebih mempunyai daya rekam yang kuat terhadap sesuatu yang dilihat, didengar, atau dihafal.16

b. Manajemen waktu

14

Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal Al-Qur‟an, cet ke 7 (Jogjakarta:

Diva Press, 2014). hlm. 146.

15Ibid., hlm. 155.

(12)

Bagi mereka yang menempuh program khusus menghafal

Al-Qur‟an dapat mengoptimalkan seluruh kemampuan dan

memaksimalkan seluruh kapasitas waktu yang dimilikinya, sehingga ia akan dapat menyelesaikan program menghafal Al-Qur‟an lebih cepat, karena tidak menghadapi kendala dari kegiatan-kegiatan lainnya.17 c. Tempat menghafal

Situasi dan kondisi suatu tempat ikut mendukung tercapainya program menghafal Al-Qur‟an. Suasana yang bising, kondisi lingkungan yang tak sedap dipandang mata, penerangan yang tidak sempurna dan polusi udara yang tidak nyaman akan menjadi kendala berat terhadap terciptanya konsentrasi. Oleh karena itu, untuk menghafal diperlukan tempat yang ideal untuk terciptanya konsentrasi.18

d. Kesehatan

Kesehatan merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi orang yang akan menghafalkan Al-Qur‟an. Jika tubuh sehat maka proses menghafalkan akan menjadi lebih mudah dan cepat tanpa adanya penghambat, dan batas waktu menghafal pun menjadi relatif cepat. Namun juka tubuh tidak sehat maka akan sangat menghambat ketika menjalani proses menghafal.

e. Faktor Psikologis

17Ibid., hlm. 58.

(13)

Orang yang menghafalkan Al-Qur‟an sangat membutuhkan ketenangan jiwa, baik dari segi pikiran atau hati. Namun, bila banyak sesuatu yang dipikirkan atau dirisaukan, proses menghafalpun akan menjadi tidak tenang. Akibatnya banyak ayat yang sulit untuk dihafalkan.

f. Faktor kecerdasan

Kecerdasan merupakan salah satu faktor pendukung dalam menjalani proses menghafalkan Al-Qur‟an. Setiap individu mempunyai kecerdasan yang berbeda-beda. Sehingga, cukup mempengaruhi terhadap proses hafalan yang dijalani.

g. Faktor motivasi

Orang yang menghafalkan Al-Qur‟an, pasti sangat membutuhkan motivasi dari orang-orang terdekat, kedua orang tua, keluarga dan sanak kerabat. Dengan adanya motivasi, ia akan bersemangat dalam menghafal Al-Qur‟an. Tentunya, hasilnya akan berbeda jika motivasi yang didapatkan kurang.19

B. Metode Al-Qosimi

1. Pengertian Metode al-Qosimi

Metode al-Qosimi adalah metode menghafal Al-Qur‟an dengan cara berulang-ulang dan disertai dengan modifikasi dalam menghafalnya. Dapat dipraktekkan dengan guru maupun tanpa disertai guru.

(14)

Metode ini sebenarnya sama seperti Thariqatu Takriry Qiraati al-Juz‟i yaitu dengan membaca ayat-ayat yang akan dihafal berulang kali, frekuensi pengulangan tersebut dapat bervareasi (7 kali, 11 kali, 15 kali, 21 kali, atau lebih). Setelah dibaca berulang-ulang dan muncul bayangan dalam fikiran mengenai ayat-ayat yang telah diulang-ulang kemudian baru dihafal ayat demi ayat, setiap selesai satu ayat diulang kembali ayat yang pertama yang baru dihafal. Hal semacam itu dilakukan hingga sampai pada ayat yang terakhir yang sedang dihafal.20

Yang membedakan metode ini dengan metode al-Qosimi adalah dalam metode al-Qosimi disamping mengulang-ulang juga menggunakan modifikasi. Dalam pelaksanaan metode ini bisa disertai guru maupun tanpa disertai guru

Modifikasi disini adalah mengulang-ulang menghafal sampai 40 kali, dalam hitungan genap membacanya dengan melihat mushaf. Sedang dalam hitungan ganjil dengan tanpa melihat mushaf. Ketika menghafal tanpa melihat mushaf murid disuruh untuk melihat benda-benda disekitarnya sambil mengucapkan ayat yang dihafalkannya. Atau diselingi dengan permainan anggota badan misalnya, meregangkan anggota tangan, memijat-mijat punggung temannya.

Modifikasi ini bertujuan agar murid membaca ayat-ayat yang diajarkan sebanyak-banyaknya tanpa terasa olehnya dan menghilangkan rasa jenuh atau bosan. Modifikasi sangat membantu murid untuk

(15)

menghafal dengan baik, karena kemungkinan besar mereka tidak akan melihat mushaf. Selain itu pengulangan ayat sebanyak-banyaknya akan menguatkan hafalan, sehingga hafalan tidak cepat lepas. Jikapun lepas atau hilang hafalan tersebut akan mudah dihafal kembali.21

2. Metode al-Qosimi

Dibawah ini merupakan metode menghafal dengan disertai guru. Pengajaran 1 kali pertemuan hafal 5 ayat atau 2 baris.

a. Guru membaca ayat pertama, murid menirukan, sampai 3 kali. b. Murid mengulangi ayat pertama minimal 3 kali.

c. Modifikasi (murid diminta membaca ayat pertama sambil melihat benda-benda disekitarnya, kemudian ditunjuk salah satu atau beberapa murid untuk mengulangi ayat tersebut).

d. Guru membaca ayat kedua, murid menirukan, sampai 3 kali. e. Murid mengulangi ayat kedua minimal 3 kali.

f. Modifikasi (murid diminta membaca ayat kedua sambil melihat benda-benda disekitarnya, kemudian ditunjuk salah satu atau beberapa murid untuk mengulangi ayat tersebut).

g. Guru membaca ayat ketiga, murid menirukan, sampai 3 kali. h. Murid mengulangi ayat ketiga minimal 3 kali.

i. Modifikasi (murid diminta membaca ayat ketiga sambil melihat benda-benda disekitarnya, kemudian ditunjuk salah satu atau beberapa murid untuk mengulangi ayat tersebut).

21 Khusnul khotimah, Peserta Pelatihan Metode Al-Qosimi, Wawancara Pribadi,

(16)

j. Guru membaca ayat ketiga, murid menirukan, sampai 3 kali. k. Murid mengulangi ayat ketiga minimal 3 kali.

l. Modifikasi (murid diminta membaca ayat ketiga sambil melihat benda-benda disekitarnya, kemudian ditunjuk salah satu atau beberapa murid untuk mengulangi ayat tersebut).

m. Guru membaca ayat keempat, murid menirukan, sampai 3 kali. n. Murid mengulangi ayat keempat minimal 3 kali.

o. Modifikasi (murid diminta membaca ayat keempat sambil melihat benda-benda disekitarnya, kemudian ditunjuk salah satu atau beberapa murid untuk mengulangi ayat tersebut).

p. Guru membaca ayat keempat dan kelima (per ayat berhenti) , murid menirukan.

q. Murid mengulangi ayat keempat dan kelima, 3 kali.

r. Modifikasi (murid diminta membaca ayat keempat dan kelima sambil melihat benda-benda di sekitarnya, kemudian ditunjuk salah satu atau beberapa murid untuk mengulangi ayat-ayat tersebut).

s. Guru membaca ayat pertama sampai ayat kelima (per ayat berhenti), murid menirukan.

(17)

u. Modifikasi (murid diminta membaca ayat pertama sampai ayat kelima sambil melihat benda-benda disekitarnya, kemudian ditunjuk salah satu atau beberapa siswa untuk mengulangi ayat-ayat tersebut. 22

Setiap pertemuan target hafalan dapat ditingkatkan menjadi 3 baris atau sesuai mudahnya materi yang disampaikan.

Untuk metode menghafal tanpa disertai guru dibagi menjadi 3 yaitu:

a. MMUSBOB (Metode Menghafal Untuk Sebodoh-bodoh Orang Bisa). Metode ini memiliki tiga putaran yaitu setiap putaran masing-masing dibaca 25 kali. Jadi, hasil akhir setiap ayat akan dibaca 75 ayat. Jika surat yang akan dihafal banyak maka dikelompokkan setiap 5 ayat menjadi 1 kelompok. Jika ayatnya sedikit maka dibagi menjadi 2 bagian.23

Skema 1

Metode MMUSBOB dalam surat Asy-Syamsiyah Putaran pertama

(per ayat dibaca 25x)

Putaran kedua (per lima ayat dibaca 25x)

Putaran ketiga (per surat dibaca

25x) Ayat 1 dibaca 25x Ayat 1-5 dibaca 25x

22 Abu Hurri AL-Qosimi, Cepat dan Kuat Hafal Juz „Amma Metode Al-Qosimi (Solo:

Al-Hurri, 2010), hlm. 57-58.

(18)

Ayat 2 dibaca 25x Ayat 3 dibaca 25x Ayat 4 dibaca 25x Ayat 5 dibaca 25x Ayat 6 dibaca 25x Ayat 7 dibaca 25x Ayat 8 dibaca 25x Ayat 9 dibaca 25x Ayat 10 dibaca 25x Ayat 11dibaca 25x Ayat 12dibaca 25x Ayat 13 dibaca 25x Ayat 14dibaca 25x Ayat 15dibaca 25x Ayat 6-10 dibaca 25x Ayat 11-15 dibaca 25x Ayat1-15 dibaca 25x

b. MHL-PA (Metode Hafal Lancar per Ayat)

Dalam metode ini diharapkan penghafal minimal per ayat membaca 40 kali.24

c. MMC (Metode Menghafal Cepat)

24Ibid., hlm. 86.

(19)

Metode ini sama seperti dalam metode MMUSBOB hanya saja dalam metode ini lebih sedikit pengulangan bacaannya.25

3. Target Hafalan

Target hafalan dalam metode ini adalah membaca juz „Amma langsung sekali duduk. Maksudnya tidak perlu waktu membaca juz „Amma secara keseluruhan dua ataupun tiga kali. Maka dari itu untuk tidak memberatkan hal tersebut hendaknya melakukan berbagai tahapan-tahapan yaitu:

Jika anda mendapatkan hafalan seperempat juz maka ulangilah seperempat juz tersebut dalam sekali waktu secara berulang-ulang. Jika anda telah mendapatkan setengah juz yang awal, maka ulangilah setengah juz awal tersebut dalam sekali waktu juga secara berulang-ulang. Kemudian jika anda telah mendapatkan hafalan seperempat juz ketiga maka ulangilah seperempat juz tersebut dalam sekali waktu. Begitu juga lakukanlah seperempat juz yang keempat seperti seperempat juz yang ketiga. Kemudian ulangilah hafalan anda setengah juz yang akhir dalam sekali waktu secara berulang-ulang. Terakhir, bacalah hafalan anda dari awal hingga akhir atau satu juz secara keseluruhan dalam sekali duduk. Lakukanlah hal ini berulang-ulang minimal 40 kali.26

Atau bisa juga dibagi menjadi 4 semester, yaitu dengan target hafal tiga ayat per hari/ per pertemuan. Dimulai dari semester pertama dari surat An-Nas hingga surat Al-Zalzalah. Untuk semester kedua, dimulai dari

25Ibid., hlm. 88.

(20)

surat An-Naba‟ hingga surat At-Takwir. Untuk semester ketiga, dimulai dari surat Al-Infithar hingga surat Al-Ghasyiyah. Dan untuk semester keempat, dimulai dari surat Al-Fajr hingga akhir surat Al-Bayyinah.27 4. Indikasi Hafalan Bagus

a. Mampu menghafal dengan lancar tanpa persiapan. b. Mampu menghafal dengan lancar

c. Mampu menjawab ayat yang ditanyakan secara acak. d. Mampu menguasai urutan surat.

e. Ketika menghafal badan tidak cepat lelah, lidah mudah mengucapkan dan tidak terlalu memeras otak.28

5. Konsep Muroja‟ah

Ada beberapa macam muroja‟ah yang sebaiknya diketahui oleh pihak-pihak yang terkait dalam bidang tahfidz. Inilah beberapa macam muroja‟ah yang biasanya dilakukan oleh para penghafal Al-Qur‟an:

a. Muroja‟ah pribadi, maksudnya adalah muroja‟ah yang dilakukan tanpa melibatkan orang lain.

b. Muroja‟ah dengan teman, maksudnya adalah muroja‟ah yang dilakukan bersama teman (disimak teman). Muroja‟ah ini mempunyai banyak variasi, diantaranya adalah muroja‟ah yang dilakukan dalam kelompok yang paling kecil, yang hanya melibatkan dua orang, yang satu membaca dan yang satunya lagi menyimak.

27Ibid., hlm. 42.

(21)

Adapun muroja‟ah yang dilakukan dalam kelompok besar, minimal dilakukan oleh tiga orang atau boleh lebih dari itu. Langkah yang dilakukan adalah, salah satu dari peserta muroja‟ah membaca, dan yang lain menyimaknya hingga selesai. Bisa juga dilakukan secara bergiliran, salah satu peseta memulai membaca ayat yang telah disepakati, kemudian teman yang berada disampingnya meneruskan ayat berikutnya, dan terus berputar hingga materi muroja‟ah selesai, atau jika telah selesai diulangi lagi hingga beberapa kali.

Muroja‟ah dengan teman mempunyai banyak manfaat, diantaranya adalah seseorang akan mempersiapkan hafalan yang akan disimak oleh temannya, yang berarti muroja‟ah secara pribadi mesti dilakukannya. Begitu juga jika sebagian orang sedang tertimpa rasa malas maka yang lain akan memotivasinya.

c. Muroja‟ah dengan guru maksudnya adalah muroja‟ah yang dilakukan bersama guru (disimak guru). Jika hafalan seseorang akan disimak temannya saja harus melakukan persiapan, maka ketika akan disimak oleh gurunya ia akan lebih mematangkan hafalan tersebut. 29

6. Kelebihan dan kekurangan metode al-Qosimi.

a. Pengajar dapat melayani pengajaran diberbagai tempat karena pertemuan hanya sebulan sekali selama kurang lebih 4 jam.

b. Menggunakan sistem talaqqi (guru membaca santri menirukan) dengan tujuan memperbaiki kualitas bacaan peserta didik yang biasanya

(22)

disebut tahsin (memperbaiki bacaan). Dan metode talaqqi ini ternasuk metode terbaik mengajarkan Al-Qur‟an khususnya dalam bidang tahsin, dan sangat membantu peserta didik dalam menghafal. Metode ini dipakai malaikat jibril dalam mengajarkan Al-Qur‟an kepada Rasulullah saw. begitu juga Nabi Muhammad saw. mengajarkan Al-Qur‟an kepada para sahabatnya.

c. Kelemahan metode ini terdapat dalam pengontrolan terhadap peserta didik. Namun, hal ini dapat diatasi dengan melakukan pengecekan melalui lembar pemantau perkembangan tahfidz. Dan alangkah baiknya para peserta dipasangkan dengan peserta lainnya untuk saling menyimak apa yang sudah dihafalkannya, sesuai dengan jarak antara peserta yang satu dengan yang lainnya.

d. Dalam sistem ini pengajar tidak bisa menerima setoran hafalan 1 juz secara keseluruhan karena waktu tidak memungkinkan. Namun bisa diatasi dengan pengecekan hafalan yang telah dicapai melalui pertanyaan ketika peserta didik menyetor satu halaman setiap kali pertemuan.

e. Setoran hafalan kepada pengajar dimulai pada pertemuan ketiga sampai pertemuan ke-enam. Adapun peserta didik menghafalkan setelah pertemuan kedua atau setelah di-talaqqi. 30

30Ibid., hlm. 74.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :