BAB 3 ANALISIS DATA. 3.1 Analisis Kamon sebagai Bentuk dari Konsep Uchi Soto yang ada dalam Sistem

Teks penuh

(1)

25

ANALISIS DATA

3.1 Analisis Kamon sebagai Bentuk dari Konsep Uchi Soto yang ada dalam Sistem Ie

Hubungan antara kamon dengan sistem kekerabatan masyarakat Jepang yang didalamnya terdapat konsep uchi dan soto merupakan sesuatu yang menarik untuk dicermati. Karena adanya kamon serta fungsi kamon itu sendiri ada keterkaitan dengan cara pikir masyarakat Jepang. Oleh karena itu, menurut penulis kamon dapat diinterprestasikan sebagai bentuk atau perwakilan dari sistem kekerabatan masyarakat Jepang yaitu sistem Ie yang di dalamnya terdapat konsep uchi dan soto. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan teori tentang ie dan kamon yang menjelaskan bahwa nama setiap ie memiliki simbol keluarga.

Konsep Ie mengandung dua pengertian, pertama Ie sebagai satuan unit keluarga, dan kedua Ie sebagai satuan unit kerjasama. Jadi ie bukan hanya dipakai oleh keluarga akan tetapi digunakan juga oleh organisasi-organisasi maupun perusahaan. Dalam sistem ie juga terdapat dua lingkungan yang berbeda yaitu lingkungan uchi dan soto. Dari teori dan data yang telah dianalisi oleh penulis, menurut penulis dalam melakukan interaksi sosialnya, masyarakat Jepang selalu memperhatikan aturan-aturan yang berlaku di lingkungannya. Dan Interaksi sosial mereka itu tidak lepas atau masih diwarnai oleh konsep Ie. Kesibukan dan tempat tinggal yang berjauhan tidak membuat mereka lupa atau tidak mengenal kerabatnya. Berdasarkan teori tentang sistem Ie dan konsep uchi dan soto, dalam lingkungannya pun mereka memiliki atau membentuk kelompoknya

(2)

sendiri. Yang termasuk dalam lingkungan kelompok uchi yaitu seperti keluarga, perusahaan, sekolah, dan kelompok lainnya. Dalam penyebutan diri, mereka menggunakan kata ie atau uchi sebagai identitas diri mereka. Dan masing-masing dari mereka berusaha untuk setia dan menjaga nama baik kelompoknya maupun lingkungan mereka.

Contoh lingkungan ie atau uchi yaitu keluarga. Keluarga atau kazoku adalah tempat dimana seseorang dilahirkan, dibesarkan, dibimbing, dan dididik. Kazoku juga dijelaskan sebagai unit terkecil di dalam masyarakat dan merupakan komponen terkecil dalam pembentukan sistem kekerabatan keluarga Jepang. Kekerabatan ada yang terjadi berdasarkan pada hubungan darah, dalam arti hubungan kerabat dekat atau jauh, yang pada prinsipnya masih keturunan dan adapula kekerabatan yang terbentuk karena adanya perkawinan. Dan hal itu di tegaskan oleh Morioka Kiyomi yang menjelaskan bahwa keluarga adalah kelompok yang membentuk hubungan saudara dekat yang penting seperti kakak-adik dan orang tua-anak dengan hubungan suami-isteri sebagai dasar dan didukung oleh rasa kesatuan bertujuan untuk mencapai kesejahteraan.

Pernikahan yang menjadi salah satu dari pengikat hubungan kekerabatan akan melahirkan keturunan-keturunan yang akan menyandang nama keluarga yang berdasarkan nama ayahnya. Nama keluarga atau ie sangatlah penting dalam sistem kekerabatan Jepang karena dari nama keluarga dapat diketahui identitas seseorang. Penggunaan nama keluarga menjadi hal umum di Jepang, ketika mereka menikah umumnya seseorang akan mengikuti nama keluarga dari pihak laki-laki atau yang biasa disebut dengan yome, akan tetapi terkadang ada hal khusus seperti keluarga yang tidak mempunyai anak laki-laki, mereka akan berunding dengan pihak laki-laki agar pihak

(3)

laki-laki tersebut mengikuti nama keluarga dari pihak perempuan yang disebut dengan istilah yoshi.

Setelah penulis menganalisis data, penulis mengetahui bahwa pada hubungan keluarga pun terdapat lagi pembagian kelompok lingkungan yang berdasarkan garis keturunan. Dan menurut penulis hal tersebut itu didasari oleh konsep uchi dan soto. Hubungan tersebut yaitu keluarga yang memiliki hubungan langsung dengan keluarga induk (honke) dan keluarga cabang (bunke). Dalam hal kepemilikan kamon atau simbol keluarga pihak dari keluarga yang mempunyai hubungan langsung dengan keluarga induk (honke) akan mewariskan kamon yang diwarisi dari ayahnya. Sedangkan bagi keluarga cabang (bunke) mereka harus membuat simbol baru berdasarkan kamon original dari Ienya. Dan hal tersebut akan membedakan mana orang yang termasuk Uchi dari lingkungan keluarganya masing-masing. Dari konsep tersebut maka ketika seseorang yang memiliki Chonan (anak laki pertama) dan juga memilki anak laki-laki ataupun perempuan dari keturunannya sendiri, maka seorang chonan akan mewarisi kamon yang dimiliki ayahnya. Sedangkan anak-anaknya yang lain harus membuat kamon yang berbeda dari kamon yang asli atau original. Anak kedua atau ketiga dan juga anak yang selanjutnya memodifikasi kamon dari ayahnya ketika mereka sudah menikah dan membentuk keluarga sendiri serta menjadi bagian dari keluarga inti (bunke). Mereka akan membuat kamon tersebut menjadi berbeda dengan kamon yang original, yang dimiliki oleh keluarga inti atau utama (honke) dengan menambahkan desain lain atau mengabungkan desain yang dimiliki oleh suami ataupun isterinya. Cara-cara yang umum dilakukan dalam pemodifikasian kamon yaitu; 1) modifikasi dari kamon yang original, 2) menambahkan lingkaran atau menambahkan bentuk lain di luar kamon, 3) memodifikasi kamon tersebut menjadi dua, 4) mengabungkan kamon yang

(4)

original dari keluarga ayah dengan keluarga mertuanya, 5) mengabungkan kamon original dengan corak yang berbeda. Dari perubahan corak kamon dan kepemilikan kamon itu penulis berpendapat bahwa hal tersebut terjadi dikarenakan juga adanya sistem ie dan konsep uchi dan soto.

Contoh lainnya yaitu lingkungan perusahaan, dalam lingkungan ini kita dapat melihat bagaimana pegawai perusahaan berinteraksi dengan karyawan perusahaan yang lain. Ketika berbicara dengan orang luar pegawai perusahaan sering menyebut perusahaannya sebagai ie atau uchinya, untuk menegaskan garis antara “mereka” dan “kita”. Dalam berintaraksi pegawai tersebut tidak bisa mendiskusikan maupun membicarakan masalah sensitif tentang perusahaan tempat mereka bekerja dengan orang luar (soto), karena hal tersebut merupakan tabu bagi tata cara interaksi sosial masyarakat Jepang. Menurut penulis hal tersebut dikarenakan adanya sikap yang berbeda yang dimiliki orang Jepang yaitu tatemae dan honne ketika mereka berinteraksi. Pendapat penulis itu diambil berdasarkan teori konsep uchi dan soto yang didalamnya terdapat dua sikap yaitu tatemae dan honne yang diunggkapkan oleh Nieda Rokusaburo. Dalam konteks interaksi tersebut seseorang akan mengatur penampilannya sedemikian rupa agar terjadi hubungan manusia yang seimbang dan harmonis.

Dari hasil analisis diatas penulis berpendapat bahwa dalam lingkungan Ie atau uchinya, agar mereka tidak salah bertindak mereka harus mempunyai “sesuatu” sebagai tanda pengenal identitas mereka. Dan “sesuatu” itu adalah kamon yang berperan sebagai tanda pengenal terselubung untuk memperlihatkan perbedaan antara orang dalam (uchi) dengan orang luar (soto) dalam lingkungan ienya. Berdasarkan analisis penulis, diketahui bahwa kamon dapat dikatakan sebagai bentuk dari konsep uchi dan soto yang ada dalam sistem ie.

(5)

3.2 Analisis Peranan Dan Keberadaan Kamon Dalam Kehidupan Masyarakat Jepang

Dalam menganalisis peranan kamon yang mengalami perkembangan dan perubahan dari zaman ke zaman. Penulis akan menganalisis data dari zaman Joumon sampai zaman sekarang agar dari data tersebut dapat diketahui bahwa peranan kamon dalam kehidupan masyarakat Jepang didasari oleh konsep uchi dan soto.

Sebelum kamon dikenal secara luas dan diakui sebagai simbol keluarga pada zaman Joumon, suku Ainu sudah menggunakan simbol-simbol untuk membedakan barang-barang yang mereka punya. Simbol-simbol itu mereka gunakan sebagai pengganti huruf karena pada zaman itu mereka belum mengenal huruf. Contoh penggunaan simbol pada masa itu misalnya barang milik A ditandai dengan diikat mengunakan daun Kashiwa sedangkan barang milik B ditandai dengan mengikat barang tersebut dengan mengunakan daun Tsuta.

Gambar 3.1 Kashiwa Gambar 3.2 Tsuta

Pada zaman Jomon juga dikenal adanya kebudayaan tembikar, tembikar- tembikar itu mereka hias dengan menggunakan simbol- simbol yang sangat sederhana. Tetapi lama kelamaan seiring berkembangnya pengetahuan dan pengaruh masuknya budaya lain hiasan tembikar yang tadinya sangat sederhana menjadi lebih baik. Memasuki abad ke tiga sebelum masehi sampai kira-kira enam ratus tahun sesudahnya disebut zaman Yayoi. Pada zaman ini kebudayaan mendapat pengaruh dari Cina dan Eropa

(6)

perkembangan model hiasan simbol dikarenakan adanya kompas yang datang dari bangsa tersebut. Simbol-simbol tersebut menjadi lebih simetris dan indah, selain itu mulai banyak bentuk- bentuk simbol yang dibuat. Bentuk simbol yang mereka buat tidak lagi berupa gambar abstrak tetapi mulai berbentuk seperti aslinya.

Setelah bangsa Cina masuk ke Jepang lewat jalur yang disebut silkroad dan kemudian mengenalkan kebudayaannya seperti ajaran agama, teknik berternak ulat suera, membuat tenunan, dan kanji serta ilmu-ilmu pengetahuaan kehidupan orang Jepang menjadi berkembang dengan pesat. Semua itu dijadikan dasar pengetahuan, pikiran, ajaran agama dan seni orang Jepang. Dari semua kebudayaan yang masuk ke Jepang huruf cina (kanji) merupakan hal yang paling penting karena untuk membuat catatan mereka menggunakan huruf kanji. Setelah mereka mulai mengenal huruf (kanji) mereka tidak lagi membedakan barang dengan mengikat barang tersebut, mereka mulai menggunakan kanji. Kanji yang didatangkan dari Cina merupakan simbol huruf yang pertama kali digunakan. Walaupun kebudayaan itu didatangkan dari Cina tetapi kebiasaan menggunakan lambang untuk keluarga tidak ada di Cina. Oleh karena itu walaupun kamon yang awal mulanya mendapat pengaruh dari Cina, akan tetapi kamon merupakan kebudayaan khas yang dimiliki oleh bangsa Jepang.

Periode berikutnya yaitu sekitar abad ke enam dikenal juga sebagai zaman Asuka. Menurut buku catatan sejarah tertua yang ada di Jepang yaitu Nihon Shoki dikatakan bahwa pada zaman Asuka, Kaisar Suiko menggunakan simbol pada benderanya untuk membedakan anggota keluarganya dengan masyarakat biasa dan pada saat itulah awal mula dari simbol keluarga atau yang disebut dengan kamon. Periode ini mendapat pengaruh dari daratan Asia dan juga menerima pengaruh yang tidak sedikit dari kebudayaan Yunani dan Asia Barat. Dari berbagai kebudayaan yang masuk ke Jepang

(7)

membuat kebudayaan Jepang berkembang, khususnya pada pembuatan simbol yang digunakan oleh keluarga di Jepang.

Periode setelah Asuka yaitu zaman Nara kebudayaan pada masa ini semakin berkembang khususnya dibidang arsitektur. Istana Kaisar, rumah kaum bangsawan, dan kuil-kuil yang besar dibangun dengan sangat indah dan mewah. Pada bangunan yang mendapat pengaruh dari arsitektur gaya Cina tersebut di berikan simbol keluarga pada pintu gerbangnya. Dan pada masa inilah awal mula kamon digunakan pada bangunan. Para bangsawan memasang kamonnya pada bangunan agar mereka juga dapat memperlihatkan bahwa bangunan tersebut adalah lingkungan uchinya.

Pada masa selanjutnya yaitu zaman Heian peranan serta corak kamon semakin berkembang. Pada zaman Heian (794-1192) simbol untuk keluarga mulai dikenal. Pada masa inilah pertamakali simbol-simbol yang tadinya hanya dipakai sebagai alat untuk mambedakan barang-barang, mulai dipakai untuk membedakan darimana asal klan atau keluarga seseorang yang memakai lambang tersebut. Pada zaman ini orang yang disebut Kuge (keluarga bangsawan) menggunakan lambang dari masing-masing keluarganya di kereta kuda, furniture, dan rumah mereka. Dan pada zaman ini simbol-simbol yang digunakan sudah mulai benar-benar diakui sebagai lambang keluarga.

Corak lambang atau simbol yang mereka pakai menjadi lebih banyak dan semakin bervariasi. Sangat berbeda sekali dengan simbol yang digunakan pada zaman Jomon yang masih sederhana dengan hanya menggunakan daun Kashiwa dan daun Tsuta serta beberapa corak binatang sebagai lambang. Pada zaman ini sekitar 350 bentuk kamon mereka gunakan sebagai lambang yang motifnya berupa tanaman, binatang, serangga, corak alam (gunung, laut, matahari, bulan, bintang) dan simbol-simbol dari musim seperti salju serta corak berupa huruf Cina (kanji).

(8)

Pada zaman ini pakaian dan alat-alat perabotan mulai dibuat, pada perabotan dan pakaian itu diberikan simbol keluarga sebagai hiasannya. Corak yang baru dan yang paling banyak dibuat yaitu corak bunga krisan dan kupu-kupu. Dari masing-masing corak itu dibuat berbagai variasi. Contoh dari variasi kupu misalnya corak kupu-kupu terbang, lipatan sayap kupu-kupu-kupu-kupu, dan sepasang kupu-kupu-kupu-kupu. Corak lain yang banyak dibuat selain kupu-kupu dan kiku yaitu kiri ( pohon paulownia).

Gambar 3.3 Kiri Gambar 3.4 Kiku Gambar 3.5 Chô

Dari sekitar 350 corak dasar yang diciptakan pada zaman heian ini dibuat lagi variasi-variasi yang lebih rumit dan semakin indah. Mengapa corak tersebut menjadi lebih bervariasi dan menjadi lebih banyak? Menurut hasil analisis penulis hal tersebut dikarenakan kemajuan ilmu pengetahuan, dan juga adanya struktur dari sistem keluarga yang biasa disebut dengan Ie yang didalamnya terdapat konsep pemikiran orang dalam (uchi) dan orang luar (soto). Pendapat penulis tersebut diambil berdasarkan teori sistem ie yang membagi dua lingkungan yaitu honke dan bunke. Dalam konteks ini yang merupakan lingkungan uchi yaitu keluarga utama (honke) sedangkan lingkungan soto yaitu keluarga cabang (bunke). Seseorang yang memiliki Chonan (anak laki-laki pertama) akan mewarisi kamon yang dimiliki ayahnya yaitu kamon yang original. Sedangkan anak-anaknya yang lain harus membuat kamon yang berbeda dari kamon yang asli atau original dengan cara memodifikasi kamon dari ayahnya. Seorang chonan akan mewarisi kamon yang original dan merupakan kepala ie dari keluarga utama

(9)

(honke) sedangkan anak selanjutnya sebagai keluarga cabang (bunke). Walaupun ketika mereka berinteraksi dalam satu lingkungan ie yang sama maka bunke akan dianggap sebagai orang luar bagi honke. Sebagai contoh penulis akan memberikan contoh dari kamon Igeta.

Gambar 3.6 kamon Igeta

Dengan cara memodifikasi dari kamon original dapat terlihat dengan jelas dari mana asal usul keturunan orang itu berasal walaupun mereka sudah memodifikasi kamon yang sudah ada.

Pada zaman Muromachi dan zaman Azuchi Momoyama di dalam negeri Jepang terjadi perang. Pada zaman ini para samurai memegang peranan penting dalam pemerintahan. Pada masa ini juga muncul berbagai macam klan militer yang menguasai daerahnya masing-masing. Karena munculnya berbagai macam klan militer pertumbuhan kamon pun bertambah dalam hal jumlah maupun variasi coraknya. Klan atau keluarga yang paling terkenal pada masa itu yaitu Yoshimitsu Ashikaga pada Zaman Muromachi, Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi pada Zaman Azuchi Momoyama. Lambang keluarga atau kamon mereka gunakan di bendera perang, pedang, rumah, pakaian untuk membedakan klan seseorang.

Para bushi (samurai) mendapatkan kamonnya dengan cara yang berbeda-beda. Contohnya mereka mendapatkan lambang keluarga dari tuannya sebagai hadiah atas kesetiaannya dan jasanya, selain itu mereka mendapatkan lambang keluarga atau kamon

(10)

karena mewariskan kamon dari keluarga mereka yang berasal dari Buke (keluarga samurai). Baik warisan maupun hadiah atas loyalitasnya kepada atasan, para samurai sangat menginginkan kamon karena pada Zaman Muromachi (1333-1568) kamon dijadikan sebagi tanda jasa dan tanda kehormatan kelas samurai. SHOGUN Yoshimitsu Ashikaga pada periode Muromachi adalah orang pertama yang mencetak kamon pada pakaiannya. Pada masa perang ini peranan kamon sangat penting karena kamon digunakan sebagai tanda pengenal agar dapat membedakan mana kawan mana lawan. Dari data tersebut, menurut pendapat penulis hal itu dikarenakan adanya konsep uchi dan soto yang peranan dari kamon itu untuk membedakan klan penguasa.

Ketika Tokugawa mengalahkan keluarga Toyotomi dalam pertempuran Sekigahara pada tahun 1600 ia memulai menjalankan pemerintahan yang disebut Bakufu. Pada abad ke tujuh belas ketika Tokugawa berkuasa peperangan berakhir dan kehidupan yang damai telah kembali. Masyarakat mulai menikmati hidup yang damai dan mulai menciptakan kebudayaan yang unik selama 268 tahun pada masa pemerintahan yang dipimpim oleh Tokugawa ini disebut zaman Edo (1600-1868). Pada pemerintahan bakufu dibuat sistem golongan masyarakat yang disebut shinokoso (kaum militer, petani, pekerja, pedagang). Adanya pengelompokan stratifikasi sosial tersebut menurut penulis hal itu juga dipengaruhi konsep uchi dan soto. Para keluarga samurai tidak ingin disamakan dengan rakyat biasa.

Zaman Edo merupakan masa yang damai sehingga perkembangan kebudayaan dan karya-karya sastra mengalami kemajuan. Dan buku-buku tentang keturunan dan album kamon dibuat. Zaman Edo merupakan zaman keemasan perkembangan kamon. Perkembangan kamon itu berupa corak dan orang yang menggunakan kamon dan juga benda-benda yang memakai kamon. Kamon tidak lagi digunakan oleh kaisar, bangsawan,

(11)

samurai melainkan orang-orang biasa seperti pedagang, dan rakyat biasa dapat menggunakan kamon. Para pedagang mengunakan kamon yang mereka miliki di barang dagangannya, tempat usahanya, dan kerai tempat usahanya yang disebut noren.

Gambar 3.7 NOREN

Pada Zaman Edo kebudayaan Jepang juga dipengaruhi oleh bangsa Eropa yaitu Negara Belanda yang masuk ke Jepang dan memperkenalkan kebudayaannya. Contoh kebudayaan Eropa yang masuk ke Jepang yaitu huruf roma (romaji), agama Kristen, dan kebudayaan Eropa lainnya. Dalam perkembangannya kamon juga menggunakan huruf roma sebagai corak kamon. Karena Zaman ini merupakan zaman keemasan bagi perkembangan kamon, maka seseorang yang tadinya tidak mempunyai kamon seperti pedagang dan rakyat biasa dengan semaunya membuat kamon untuk keluarganya. Walaupun demikian mereka juga memperhatikan batas-batas pembuatan kamon khususnya masalah corak. Corak seperti bunga krisan (kiku) hanya boleh digunakan oleh keluarga kaisar saja. Pada masa ini kamon digunakan juga pada kesenian Jepang yang disebut kabuki yang biasanya menceritakan kehidupan para kaum bangsawan pada saat itu. Pengunaan kamon dapat kita lihat pada pakaian yang dikenakan oleh para pemain, katana, dan sarung pedangnya.

Perkembangan kamon tidak hanya terjadi pada Zaman Edo pada zaman selanjutnya yaitu Zaman Meiji perubahan fungsi kamon mulai mengalami perubahan dan corak- coraknya pun semakin berkembang. Pada Zaman Meiji (1868 – 1912) banyak orang dari golongan orang biasa yang mengambil simbol keluarga berdasarkan hubungan

(12)

dengan nama keluarga mereka. Sejak saat itu fungsi kamon yang paling dasar yaitu untuk mengetahui asal usul keluarga mereka mulai hilang. Dan setelah Perang Dunia ke Dua (1945-), seiring dengan perubahan zaman sistem keluarga di Jepang yang ditetapkan setelah perang rasa kecintaan masyarakat yang besar terhadap “keluarga” telah hilang dan akhirnya pengakuan terhadap kamon sebagai simbol atau lambang keluarga telah banyak hilang. Menurut hasil analisis penulis hal itu dikarenakan adanya sistem keluarga inti yang mana adalah desentralisasi anggota-anggota keluarga sesuai dengan sistem sosial demokrat yang baru.

Akan tetapi menurut pendapat penulis bagi orang yang masih menghargai dan menghormati tradisi keluarga dan kebudayaannya, mereka tetap mempertahankan simbol keluarga yang original maupun hasil modifikasi mereka dari leluhurnya secara turun temurun. Dan bagaimana pun juga, di Jepang pada saat sekarang ini keindahan kamon sebagai suatu desain atau corak masih merupakan daya tarik bagi masyarakat Jepang, sehingga menjadi bagian dari keseluruhan corak tradisional Jepang. Barang-barang berseni seperti pakaian kimono, ikat kepala, catatan bersejarah, majalah-majalah, judul games komputer, serta benda-benda untuk peerayaan festival dan lain-lain menjadi lebih indah dengan adanya tambahan rasa seni dari kamon. Selain untuk memperindah barang-barang berseni, masyarakat Jepang menggunakan kamon pada saat acara-acara khusus seperti pada saat upacara perkawinan, kematian, dan acara penting lainnya. Kamon digunakan sebagai tanda pengenal yang terselubung atau tak resmi untuk mengetahui asal-usul keluarga. Pada saat upacara kematian, perkawinan, dan upacara khusus lainnya kita dapat melihat kamon pada montsuki. Montsuki yaitu kimono formal yang bercorak kamon. Pada saat acara formal maupun semi formal mereka memakai montsukinya untuk mengetahui dengan jelas darimana asal usul keturunan keluarga

(13)

tersebut dan juga untuk mengetahui apakah mereka orang dalam (uchi) atau orang luar (soto). Selain itu dengan memakai montsukinya mereka juga dapat menunjukan rasa bangga mereka terhadap garis keturunannya dan sebagai bentuk penghormatan dan cinta mereka terhadap leluhurnya.

Perubahan kamon yang terjadi dari zaman ke zaman, tidak akan membuat kamon menjadi hilang, karena kamon merupakan sesuatu yang sangat penting dan penuh makna bagi orang Jepang. Dan hal itu terbukti bahwa kamon dapat bertahan selama ribuan tahun dan masih ada di Jepang.

3.3 Analisis Hubungan Kamon Dalam Proses Simbolisasi

Untuk lebih memudahkan pemahaman dalam analisa ini, yang pertama akan dibahas adalah pengertian tentang simbol itu sendiri. Seperti yang kita ketahui bersama baik dalam keadaan sadar maupun tidak sadar, sebenarnya dalam kehidupan manusia selalu dikelilingi oleh simbol-simbol. Contohnya garpu dan sendok sebagai lambang restoran, bendera putih sebagai simbol menyerah, dan masih banyak contoh lainnya.

Simbol atau lambang adalah sesuatu seperti tanda yang menyatakan suatu hal atau mengandung maksud tertentu, tanda pengenal yang tetap (menyatakan sifat dan keadaan). Dan dapat diartikan pula sebagai perwakilan dari “sesuatu” yang dapat berupa pemikiran, nilai atau emosi. Dikatakan “sesuatu” karena simbol biasanya mempunyai bentuk fisik yang dapat berupa objek nyata. Sebagai contoh penulis memberikan contoh kamon dibawah ini.

(14)

Gambar 3.8 Kiku

Kamon diatas adalah kiku (bunga krisan), lambang ini memiliki arti, nilai, dan juga mengandung maksud tertentu. Lambang bunga krisan adalah corak yang paling banyak dipakai, karena bunga tersebut dianggap sebagai tanaman obat dan juga sebagai jimat untuk melawan setan. Akan tetapi sejak pemerintahan Meiji selain kaisar corak bunga krisan (kiku) khususnya bunga krisan yang berbunga enam belas lembar, orang biasa tidak boleh menggunakan lambang tersebut. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa kamon yang bercorak kiku ini memiliki arti, nilai, dan makna tersendiri bagi orang yang mempunyainya. Mulai dari statusnya sebagai tanaman obat, jimat serta simbol atau perwakilan dari status stratifikasi sosial dalam masyarakat Jepang.

Selain itu berdasarkan teori dari Geerzt yang menbagi pengertian simbol ke dalam tiga kelas berbeda yaitu; pertama simbol yang dipakai untuk tanda-tanda konvensional eksplisit dari sesuatu; awan gelap adalah tanda-tanda simbolis dari hujan akan datang, bendera warna merah adalah suatu simbol bahaya, bendera putih adalah simbol atau tanda menyerah dan sebagainya. Yang kedua adalah simbol terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung dan figuratif apa yang tidak bisa dinyatakan secara langsung dan harafiah seperti dalam puisi. Ketiga adalah simbol yang dipakai untuk objek, tindakan, peristiwa, kualitas, atau relasi yang berlaku sabagai wahana untuk sebuah konsep. Menurut pendapat penulis, pengertian simbol yang terakhir menunjukan simbol seperti apa yang akan penulis teliti, yaitu simbol yang menurut Geerzt mewakili

(15)

konsep dan bukan hanya gejala alam, tanda-tanda biasa maupun simbol-simbol yang dipakai dalam karya sastra. Simbol semacam inilah yang dijadikan bahan penelitian oleh penulis karena simbol tersebut mendukung pengertian utama simbol.

Dari teori yang diungkapkan oleh Geerzt diatas penulis berpendapat bahwa kamon merupakan simbol atau bentuk perwakilan konsep pemikiran orang Jepang yaitu sistem kekerabatan Jepang (ie) dan konsep uchi dan soto. Pendapat tersebut penulis ambil karena keberadaan kamon serta peranan kamon dalam kehidupan masyarakat Jepang dipengaruhi oleh konsep pemikiran tersebut. Contohnya yaitu peranan dan keberadaan kamon yang berfungsi sebagai identitas seseorang agar mereka lebih mudah untuk mengetahui asal-usul keluarga, status, dan menentukan sikap ketika berhadapan dengan lingkungan uchi maupun lingkungan soto.

Setelah mengetahui pengertian dari simbol, penulis akan menganalisis kamon dalam hubungannya dengan kedudukan makna berdasarkan pengelompokan data yang simbol miliki. Dari teori yang diungkapkan oleh Tunner mengenai pembagian simbol menjadi dua yaitu; simbol dominan dan simbol instrumental akan diketahui bahwa pada kamon terdapat kemiripan dengan kedudukan makna yang simbol miliki. Yang dimaksud simbol dominan yaitu simbol yang tidak hanya dipandang sebagai alat pemenuhan maksud dari ritual tertentu saja akan tetapi lebih mangacu sebagai nilai dasar dari ritual tersebut. Kamon sebagai simbol dominan mengandung makna dasar yang menyangkut nilai dalam masyarakat Jepang, dalam hal ini adalah sistem keluarga (Ie), yang didalamnya tedapat dua lingkungan yaitu lingkungan dalam (uchi), dan lingkungan luar (soto). Hal tersebut dapat dilihat dari seseorang memiliki kamon tersebut secara turun temurun khususnya garis keturunan laki-laki dan juga pewarisan kamon kepada chonan yang merupakan tata cara yang ada pada sistem ie. Contoh kamon sebagai

(16)

simbol dominan yang didalamnya terdapat konsep uchi dan soto dapat kita lihat dari perubahan atau pemodifikasian kamon original oleh anak yang bukan pewaris dari Ienya atau yang bukan mengantikan kepala dari keluarga inti (honke). Sedangkan sebagai simbol instrumental adalah peranan kamon yang digunakan sebagai simbol status seseorang dan juga simbol-simbol upacara keagamaan seperti lambang swastika yang merupakan lambang dari agama Budha.

Untuk menganalisis kamon sebagai simbol dominan dan instrumental, penulis mengumpulkan data dan selanjutnya mengamati bentuk eksternal dan karakteristik-karakteristik yang dapat diamati. Contoh dari data-data tersebut yaitu penggunaan montsuki yang menunjukkan asal-usul ie, lamanya nama ie, status keluarga, dan lingkungan dari mana mereka berasal. selain pada montsuki kita juga dapat melihat kamon pada ohaka (makam). Kamon yang tertera di nisan itu juga menunjukan asal usul keluarganya. Disana tertera juga nama keluarga bukan nama individu yang meninggal karena dalam ohaka pemakaman dilakukan secara bersama dalam satu lingkungan uchi atau Ienya mulai dari nenek moyang sampai keturunan yang menyandang nama yang sama. Hal tersebut dilakukan karena penyebutan nama pribadi dapat menyinggung orang secara langsung, tindakan seperti itu dapat berarti pengasingan seseorang dari Ienya.

Data lainya yaitu peranan kamon dari masa-masa sebelumnya yang sudah dijabarkan oleh penulis pada bab sebelumnya pun kita dapat melihat penggunaan kamon sebagai identitas diri dari uchi dan Ienya. Mulai dari zaman Joumon sampai zaman sekarang fungsi utama dari kamon yaitu sebagai tanda pengenal yang terselubung atau tak resmi untuk mengetahui asal-usul keluarga dan juga lingkungan mereka berasal. Pada masa peperangan, kamon digunakan untuk mengenali mana lawan dan mana kawan. Kamon juga digunakan sebagai lambang bagi sebagian perusahaan atau tempat

(17)

usaha lainnya seperti toko ramen, perhiasan dan lain-lain. Pada perusahaan contohnya kita dapat melihat kamon pada perusahaan Mitsubishi. Dari contoh-contoh penggunaan kamon diatas, dapat dikatakan kamon dapat menjadi tanda pengenal bagi perusahaan, tempat usaha, seragam kemiliteran dan lain-lain agar seseorang dapat mengenali orang yang berada dalam uchinya.

Setelah mengelompokkan data, kita diharapkan dapat menafsirkan makna dan sifat dari simbol. Namun sebelum menjelaskan sifat simbol yang akan berkaitan dengan makna, maka sangatlah penting untuk menjelaskan terlebih dahulu kedudukan makna pada simbol. Berdasarkan teori dari Tunner yang menyimpulkan kedudukan makna menjadi tiga yaitu makna exegesis, operasional, dan posisi menurut pendapat penulis kedudukan makna kamon termasuk kedalam makna opersional. Karena makna kamon ditafsirkan dari uraian bagaimana sistem kekerabatan diterapkan pada simbol keluarga atau kamon dan bagaimana sistem kekerabatan yang kita kenal dengan sistem Ie dan lingkungan uchi mempengaruhi arti dan makna dari penggunaan kamon.

Setelah mengetahui kedudukan makna yang akan diteliti maka kita dapat menyimpulkan sifat-sifat simbol. Sifat pertama dari simbol yang paling sederhana adalah kondensasi (condensation) yang dalam kamus berarti pemadatan atau penyingkatan. Maksudnya simbol dominan mewakili suatu benda dan tindakan yang mencakup keseluruhan nilai atau makna yang mendalam dipadatkan dalam formasi tunggal. Artinya, nilai-nilai, tindakan-tindakan dirangkum dalam satu objek tunggal yang dianggap telah mewakili dan diwujudkan dalam sebuah simbol yang jika diuraikan simbol tersebut akan mengandung nilai dan makna dari yang disimbolkan.

Sifat yang kedua adalah penyatuan significata (makan-makna pokok dari simbol) yang berbeda (unification of disparate significata). Contohnya pohon susu, pohon susu

(18)

memiliki banyak arti diantaranya hubungan ibu dan anak, ibu sebagai pemberi makan dan mendidik anak dan sebagainya. Makna-makna tersebut dipadukan oleh simbol menjadi makna dasar yang mencakupi nilai-nilai yang ada pada masyarakat Ndembu tersebut yaitu matrilineal. Dalam kamon makna yang terkandung juga tidak sedikit, seperti kamon sebagai identitas diri, rasa bangga terhadap leluhur dan keturunannya, pewarisan kamon kepada anak laki-laki tertua dan sebagainya. Namun didalam makna-makna itu semua tersimpan makna-makna yang paling mendasar yang menentukan bagaimana makna-makna itu tersusun, terlaksana dan terpelihara dengan baik yaitu makna yang terletak pada sistem kekerabatan masyarakat Jepang, yaitu sistem Ie dan konsep pemikiran tentang uchi dan soto.

Sifat yang ketiga yaitu pengkutuban makna (polarisation of meaning) yang menerangkan bahwa sesungguhnya setiap simbol memiliki dua kutub makna. Mengambil contoh dari simbol masyarakat Ndembu yaitu pohon susu yang memiliki dua kutub makna. Pada satu kutub ditemukan sekelompok significa yang mengacu pada komponen moral dan susunan sosial masyarakat Ndembu, prinsip organisasi sosial pada macam-macam kelompok yang bekerja sama dan norma serta nilai yang melekat pada hubungan masyarakat. Dengan kata lain kutub pertama adalah kutub ideologis (ideological pole) dan kutub yang kedua adalah kutub inderawi (sensory pole). Dengan perbandingan contoh yang dikemukakan oleh Tunner, pada kamon juga terdapat dua kutub makna. Pada satu kutub kamon mengacu pada susunan status sosial masyarakat Jepang dan kelompok kerja sama yang ada dalam sistem ie.

Pada kutub inderawi (sensory pole) makna berkaitan dengan wujud luar (outward form) dari objek, seperti makna pohon susu adalah “payudara” yang mengacu pada getah dari kulit pohon. Pada kamon terlihat pada simbol yang tertera pada pakaian, pedang,

(19)

lambang perusahaan, ohaka, rumah, tempat usaha, dan lain-lain yang menunjukan identitas diri dari pemiliknya secara umum yaitu Ienya dan lingkungan uchinya. Pada kutub ideologi (ideological pole) terdapat susunan norma dan nilai yang menuntun individu sebagai anggota dari suatu kelompok masyarakat. Pada masyarakat Jepang susunan tersebut adalah sistem kekerabatan dengan Ie sebagai pondasinya.

Dari hasi analisis diatas dapat dilihat bahwa kamon memiliki sifat seperti yang simbol miliki. Pengumpulan data dan sifat simbol serta makna simbol itu sendiri membuktikan bahwa kamon memang mewakili pemikiran masyarakat Jepang tentang adanya perbedaan antara orang dari lingkungan dalam (uchi) dan orang dari lingkungan luar (soto).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : uchi-soto