• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURAT PERNYATAAN. Manokwari,.. Agustus Paulina Rohua

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SURAT PERNYATAAN. Manokwari,.. Agustus Paulina Rohua"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

1

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tugas akhir yang berjudul ”Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair Asal Daun-daun Hijau Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai Varietas Cikuray” adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada Perguruan Tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan oleh penulis lain, telah disebutkan dalam tubuh tulisan dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka pada akhir karya tulis ini.

Manokwari,.. Agustus 2010

Paulina Rohua 2007 29 027

(2)

2

RINGKASAN

PAULINA ROHUA. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair Asal Daun-Daun Hijau Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai Varietas Cikuray (dibimbing oleh EKO A. MARTANTO).

Upaya peningkatan produksi kedelai, baik melalui cara intensifikasi maupun ekstensifikasi, telah dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri. Untuk mendukung upaya tersebut, kebutuhan informasi tanaman kedelai mulai dari morfologi, budidaya, pascapanen, sosial-ekonomi

,

sampai pengolahan kedelai dalam skala industri olahan dan bahan pakan sangat diperlukan. Kedelai merupakan salah satu komoditi tanaman pangan yang termasuk dalam kebijakan tersebut. Oleh karena itu penanaman komoditi ini perlu diperluas dan lebih diintensifkan agar produksi dapat ditingkatkan.

Pupuk organik merupakan pupuk dengan bahan dasar yang diambil dari alam dengan jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung secara alami, sementara pupuk anorganik merupakan pupuk buatan pabrik dengan jenis dan kadar unsur hara yang sengaja ditambahkan atau diatur dalam jumlah tertentu. Pupuk organik merupakan salah satu bahan yang sangat penting dalam upaya untuk memperbaiki kebutuhan tanah dan penggunaannya masih sering dibarengi dengan pupuk anorganik atau pupuk kimia buatan pabrik.

Untuk memudahkan unsur hara dapat diserap tanah dan tanaman bahan organik dapat dibuat menjadi pupuk cair terlebih dahulu.Pupuk cair meyediakan nitrogen dan unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti halnya pupuk nitrogen kimia. Pupuk cair mempunyai manfaat seperti, kemampuan menyerap hara. Pengunaan pupuk cair lebih memudahkan pekerjaan,

(3)

3

dan penggunan pupuk cair berarti melakukan tiga macam proses dalam sekali pekerjaan, yaitu memupuk tanaman, menyiram tanaman dan mengobati tanaman.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh frekwensi pemberian pupuk organik cair dari daun-daun hijau terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai varietas Cikuray. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang jenis pupuk organik cair yang tepat terhadap upaya peningkatan hasil kedelai.

Metode yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), Rancangan percobaan ini terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan sehingga diperoleh 16 satuan percobaan. Perlakuannya adalah sbb :

P0 = Kontrol atau tanpa pupuk.

P1 = POC Asal daun-daun hijau (20 cc/ ltr air) P2 = POC Asal daun-daun hijau (40 cc/ ltr air) P3 = POC Asal daun-daun hijau (60 cc/ ltr air)

Hasil percobaan pupuk organik cair dengan menggunakan daun-daun hijauan pada tanaman kedelai ternyata tidak memberikan pengaruhnya, pada komponen tinggi tanaman 2 MST tidak memberikan pengaruh tinggi tanaman yang baik. Untuk umur berbunga, jumlah cabang, jumlah buku subur pertanaman, jumlah polong pertanaman, jumlah polong bernas pertanaman, jumlah polong hampa pertanaman, bobot 100 biji dan produksi perpetak juga tidak menghasilkan hasil yang berbeda jauh.

(4)

4

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR

ASAL DAUN-DAUN HIJAU

TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL

TANAMAN KEDELAI VARIETAS CIKURAY

Oleh Paulina Rohua

2007 29 027

Tugas Akhir

sebagai salah satu syarat memperoleh sebutan Ahli Madya Pertanian

Pada

Fakultas Pertanian dan Teknologi Pertanian Universitas Negeri Papua

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN DAN TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS NEGERI PAPUA

MANOKWARI

2010

(5)

5

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR ASAL DAUN-DAUN HIJAU

TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI VARIETAS CIKURAY

Nama : PAULINA ROHUA NIM : 2007 29 027

Jurusan : Budidaya Pertanian

Program Studi : BUDIDAYA TANAMAN PANGAN Program Pendidikan : Strata 0/ Diploma III

Menyetujui ,

Dr. Ir. Eko A. Martanto, MP Pembimbing

Mengesahkan,

Ketua Jurusan Dekan

Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian dan Teknologi Pertanian

Dr. Ir. Nouke L. Mawikere, M.Si Ir. Jopie W. Pattiasina, MS NIP. 19661116 199303 2 002 NIP. 19521226 198012 1 001

(6)

6

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Korem, pada tanggal 10 April sebagai anak ke-4 dari 7 bersaudara dari Ayah yang bernama Perkolius Rohua dan Ibu Arina Kapitarauw.

Penulis memulai pendidikan SD Inpres korem pada tahun 1996 dan lulus pada tahun 2002. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di SLTP Negri 1 Biak Utara dan lulus pada tahun 2004. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke SPMA Negri Jayapura dan lulus pada tahun 2007.

Penulis diterima di Fakultas Pertanian dan Teknologi Pertanian Universitas Negeri Papua, Jurusan Budidaya Pertanian Program Studi Diploma III Budidaya Tanaman Pangan pada tahun 2007.

(7)

7

PRAKATA

Pertama-tama penulis memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas penyertaan dan berkat serta karunia yang diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik.

Tugas akhir ini berjudul ”Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair Asal Daun-Daun Hijau Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai Varietas Cikuray”. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Manggoapi Fakultas Pertanian dan Teknologi Pertanian Universitas Negeri Papua Manokwari.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Eko A. Martanto, MP yang telah mencurahkan waktu dan pikiran untuk membimbing dalam penulisan Tugas Akhir ini. Ucapan yang sama pula penulis sampaikan kepada :

1. Rektor Universitas Negeri Papua

2. Dekan Fakultas Pertanian dan Teknologi Pertanian UNIPA 3. Ketua Jurusan Budidaya Pertanian Fapertek UNIPA

4. Ketua Program Studi D-3 Budidaya Tanaman Pangan Fapertek UNIPA 5. Ayah, Ibu, saudara-saudaraku serta teman-teman atas bantuan doa, dana dan

dorongan serta semangat yang senantiasa diberikan kepada penulis selama menjalani studi hingga selesai.

(8)

8

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dan memperbaiki sangat diharapkan guna menyempurnakan tulisan ini. Harapan penulis semoga tulisan ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Manokwari , ...Agustus 2010

(9)

9

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR ISI ... ix DAFTAR TABEL ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 2 Masalah ... 3

Tujuan dan Manfaat ... 5

TINJAUAN PUSTAKA... 6 Tanaman Kedelai ... 6 Taksonomi ... 6 Morfologi ... 7 Syarat tumbuh ... 10 Pupuk Organik ... 10 METODOLOGI ... 13

Tempat dan Waktu ... 13

Bahan dan Alat ... 13

Rancangan Percobaan ... 13

Pelaksanaan Kegiatan... 14

Variabel Pengamatan ... 16

Pengolahan dan Analisis Data ... 17

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 18

Hasil ... 18

Pembahasan ... 21

KESIMPULAN DAN SARAN……….. ... 22

Kesimpulan ... 22

Saran ... 22

DAFTAR PUSTAKA ... 23

(10)

10

DAFTAR TABEL

No.

Halaman

1. Luas Panen, Produktifitas dan Produksi Tanam Kedelai Propinsi

Papua Barat ... 4 2. Rata-rata tinggi tanaman kedelai umur 2-5 MST ... 18 3. Rata-rata umur berbunga, jumlah cabang dan jumlah buku subur ... 19 4. Rata-rata jumlah polong polong/tanaman, jumlah polong bernas/

tanaman, jumlah polong hampa/tanaman, bobot 100 biji dan produksi

(11)

11

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Denah percobaan ... 24

2. Rata-rata dan analisis ragam tinggi tanaman 2 MST ... 25

3. Rata-rata dan analisis ragam tinggi tanaman 3 MST ... 25

4. Rata-rata dan analisis ragam tinggi tanaman 4 MST ... 26

5. Rata-rata dan analisis ragam tinggi tanaman 5 MST ... 26

6. Rata-rata dan analisis ragam umur berbunga (HST) ... 27

7. Rata-rata dan analisis ragam jumlah cabang ... 27

8. Rata-rata dan analisis ragam jumlah buku subur ... 28

9. Rata-rata dan analisis ragam jumlah polong per tanaman ... 28

10. Rata-rata dan analisis ragam jumlah polongbernas per tanaman ... 29

11. Rata-rata dan analisis ragam jumlah polong hampa per tanaman ... 29

12. Rata-rata dan analisis ragam 100 biji (g)... 30

13. Rata-rata dan analisis ragam bobot biji per petak (kg) ... 30

14. Data jumlah curah hujan dan hasil hujan bulanan (mm)………..….. 31

(12)

12

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR

ASAL DAUN-DAUN HIJAU

TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL

TANAMAN KEDELAI VARIETAS CIKURAY

Oleh Paulina Rohua

2007 29 027

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN DAN TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS NEGERI PAPUA

MANOKWARI

2010

(13)

13

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kedelai (Glycine max (L) Merril), merupakan salah satu tanaman leguminosa yang telah dibudidayakan. Tanaman ini merupakan sumber protein nabati, bahan baku industri dan sebagai bahan makanan ternak. Sebagai bahan pangan, setiap 100 gr kedelai mengandung 330 kalori, 35% protein, 18% lemak, 35% karbohidrat dan 8% air, sisanya terdiri dari mineral-mineral dan vitamin (Sumarno dan Hartono, 1983; Suprapto , 1988).

Penggunaan kedelai sebagai bahan makanan dalam bentuk tempe, tahu, kecap dan makanan lain sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Hal ini menyebabkan pemasaran kedelai dalam negeri tidak menemui kesulitan (Sumarno dan Hartono,1983).

Kedelai sebagai bahan makanan manusia cukup baik dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi dan kesehatan tubuh, karena di samping kaya protein, juga mengandung zat-zat gizi lainnya yang cukup lengkap. Kandungan protein pada kedelai lebih tinggi dibandingkan dengan bahan makanan lainnya seperti beras, jagung, tepung, ubi kayu, kacang tanah, kacang hijau, daging, ikan segar, susu sapi, dan telur ayam. Walaupun demikian, protein kedelai tidak sebaik protein susu sapi dan telur ayam, terutama dalam hal kadar asam amino methionin dan sistin (Sumarno dan Hartono, 1983).

Rendahnya produksi rata-rata kedelai di Indonesia disebabkan antara lain penerapan teknologi oleh petani belum memadai, masalah kekeringan dan kebanjiran, waktu tanam yang kurang tepat serta gangguan hama dan penyakit (Rukmana dan Yuniarsri, 1996).

(14)

14

Banyak varietas kedelai yang ditanam di Indonesia adalah hasil introduksi asal luar negeri. Namun sebagian varietas-varietas kedelai introduksi tersebut telah melalui serangkaian seleksi, ternyata kurang cocok ditanam secara merata di Indonesia. Adaptasinya yang sempit terhadap kondisi di suatu tempat yang erat hubungannya dengan penampilan hasil suatu varietas, menyebabkan sifat keunggulan bergeser (Rukmana dan Yuniasari, 1996). Nilai impor kedelai yang memenuhi kebutuhan dalam negeri sangat besar, mencapai jutaan ton setiap tahunnya.

Upaya peningkatan produksi kedelai, baik melalui cara intensifikasi maupun ekstensifikasi, telah dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri. Untuk mendukung upaya tersebut, kebutuhan informasi tanaman kedelai mulai dari morfologi, budidaya, pascapanen, sosial-ekonomi

,

sampai pengolahan kedelai dalam skala industri olahan dan bahan pakan sangat diperlukan (Marlina, 1977). Kedelai merupakan salah satu komoditi tanaman pangan yang termasuk dalam kebijakan tersebut. Oleh karena itu penanaman komoditi ini perlu diperluas dan lebih diintensifkan agar produksi dapat ditingkatkan.

Pupuk organik merupakan pupuk dengan bahan dasar yang diambil dari alam dengan jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung secara alami, sementara pupuk anorganik merupakan pupuk buatan pabrik dengan jenis dan kadar unsur hara yang sengaja ditambahkan atau diatur dalam jumlah tertentu. Pupuk organik merupakan salah satu bahan yang sangat penting dalam upaya untuk memperbaiki kebutuhan tanah dan penggunaannya masih sering dibarengi dengan pupuk anorganik atau pupuk kimia buatan pabrik (Musnawar, 2009).

(15)

15

Untuk memudahkan unsur hara dapat diserap tanah dan tanaman bahan organik dapat dibuat menjadi pupuk cair terlebih dahulu. Pupuk cair menyediakan nitrogen dan unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti halnya pupuk nitrogen kimia. Pupuk cair mempunyai manfaat seperti, kemampuan menyerap hara. Pengunaan pupuk cair lebih memudahkan pekerjaan, dan penggunan pupuk cair berarti melakukan tiga macam proses dalam sekali pekerjaan, yaitu memupuk tanaman, menyiram tanaman dan mengobati tanaman (Hardjowigeno, 2007).

Masalah

Produksi kedelai di Papua, khususnya di Manokwari masih tergolong rendah. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik Manokwari (2009) produksi tanaman kedelai mencapai 1206 ton dengan luas panen 1144 Ha. Di bandingkan dengan hasil produksi sebelumnya maka terjadi penurunan produksi per tahunnya dengan kisaran rata-rata 1816,75 kg per tahun. (Tabel 1).

(16)

16

Tabel 1. Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Tanaman Kedelai Kabupaten Manokwari

Tahun Luas Panen (Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Produksi (Ton)

1999 0 0,00 0 2000 0 0,00 0 2001 0 0,00 0 2002 0 0,00 0 2003 0 0,00 0 2004 0 0,00 0 2005 2,137 10,66 2,279 2006 1,795 10,51 1,887 2007 1,282 10,62 1,361 2008 1,624 10,71 1,740 2009 1,144 10,54 1,206

Penggunaan varietas unggul baik nasional maupun introduksi merupakan salah satu cara untuk mengatasi rendahnya produksi. Namun demikian, rekomendasi nasional mengenai keunggulan penggunaan varietas tidak terwujud secara nyata karena interaksinya dengan kondisi lingkungan lokal dengan varietas dalam jumlah kecil, sehingga rekomendasinya dapat diberikan pada wilayah yang besar maka rekomendasi diberikan untuk wilayah tertentu yang memenuhi persyaratan varietas unggul.

Salah satu penyebab rendahnya produksi kedelai adalah prokduktifitas lahan yang rendah sebagai akibat dari menurunnya kesuburan tanah karena penggunaan lahan yang terus menerus. Disamping itu penyebab rendahnya produksi juga karena kesadaran petani dalam melaksanakan pemupukan masih kurang.

(17)

17

Rendahnya produksi kedelai di tingkat petani merupakan masalah sekaligus sebagai faktor penghambat dalam memenuhi permintaan kedelai yang terus meningkat. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu solusi guna meningkatkan prodiksi kedelai. Peningkatan lahan dan kesuburan tanah merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan produksi kedelai. Pentingnya penggunaan pupuk organik karena dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian dan tanaman kedelai.

Tujuan dan Manfaat

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh dosis pemberian pupuk organik cair dari daun-daun hijau terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai varietas Cikuray. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang jenis pupuk organik cair yang tepat terhadap upaya peningkatan hasil kedelai.

(18)

18

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman kedelai

Tanaman kedelai dikenal dengan beberapa nama botani, yaitu Glycine soja dan Soja max . Namun demikian, pada tahun 1948 telah disepakati bahwa nama botani yang dapat diterima dalam istilah ilmiah, yaitu Glicine max (L.) Merill. 1. Taksonomi

Divisio (divisi) : Spermatophyta (tanaman berbiji) Subdivisio (subdivisi) : Angiospermae (biji berada dalam buah) Clas (kelas) : Dicotyledoneae (biji berkeping dua) Ordo (bangsa) : Polypetales

Familia (suku) : Leguminoceae (kacang-kacangan) Subfamilia : Papillionoideae

Genus (marga) : Glycine Spesies (jenis) : Glycine max

(19)

19 2. Morfologi

Tanaman kedelai (Glycine max) tergolong ke dalam golongan tanaman palawija (tanaman pangan). Tanaman kedelai membentuk polong pada setiap cabang tanaman .Tanaman berbentuk perdu atau semak,

Berdasarkan tipe pertumbuhan batang, varietas-varietas yang tergolong spesies Glycine max dibagi dalam tiga kelompok, yakni tipe determinit,

indeterminit, dan semideterminit.

a. Tipe determinit, memiliki ciri-ciri ujung batang yang ukurannya hampir sama dengan batang bagian tengah, berbunga serempak, pertumbuhan vegetatif berhenti setelah tanaman berbunga, tinggi tanaman pendek sampai sedang, daun berukuran seragam mulai dari daun teratas sampai daun terbawah, dan tanaman tumbuh tegak.Varietas kedelai yang tergolong kelompok determinit, antara lain Galunggung, Lokon, Wilis, Shakti, Clark 63, Dempo, Krinci, dan sebagainya.

b. Tipe indeterminit, memiliki ciri-ciri ujung batang memiliki ukuran lebih kecil dari pada batang tengah, batang agak melilit, ruas batang panjang, tanaman berbunga secara bertahap mulai dari bagian pangkal batang terus ke bagian ujung batang, pertumbuhan vegetatif terus berlanjut walaupun tanaman telah berbunga, tinggi tanaman sedang sampai tinggi, daun berukuran tidak seragam, dimana daun atas memiliki ukuran lebih kecil dari pada daun bagian tengah dan terbawah. Varietas kedelai yang tergolong kelompok indeterminit, antara lain No.29, No.27 dan sebagainya.

c. Tipe semideterminit, memiliki ciri-ciri yang merupakan perpaduan dari tipe determinit dan indeterminit. Varietas kedelai yang tergolong kelompok

(20)

20

semideterminit antara lain varietas Orba, Guntur, Dempo, Merbabu, Lompobatang, dan sebagainya (Adisarwanto, 2005).

a. Akar

Perakaran tanaman kedelai tersusun atas akar tunggang, akar serabut dan akar lateral. Akar tunggang merupakan akar primer yang tumbuh paling awal dari benih yang tumbuh. akar tunggang tumbuh ke pusat bumi mencapai kedalaman 1,5m. Akar lateral merupakan akar sekunder atau cabang-cabang akar yang tumbuh pada akar primer. Akar sekunder ini tumbuh tersebar menyamping (Horizontal) dekat dengan permukan tanah dengan lebar 30-40 cm. Akar tersebut merupakan akar-akar ranbut yang tumbuh pada akar lateral. Akar kedelai dapat berbentuk bintil akar (nodule), bintil-bintil akar tersebut terdapat pada akar-akar lateral. Akar kedelai mulai membentuk bintil sekitar 11-13 hari setelah benih ditanam. Akan tetapi, pada tanah-tanah yang belum pernah di tanami jenis tanaman kacang-kacangan dan bakteri Rizobium japonicum tidak terdapat dalam tanah. Bintil-bintil akar mulai aktif mengikat nitrogen dari udara zat node kedua atau ketiga sudah berbentuk.

b. Batang

Batang tanaman kacang kedelai tidak berkayu, berbatang jenis perdu (semak), berambut atau berbulu dengan struktur bulu yang beragam, berbentuk bulat, berwarna hijau, dan panjang bervariasi antara 30-10 cm. Batang tanaman kedelai dapat membentuk cabang 3-6 cabang. Percangan mulai terbentuk atau tumbuh ketika tingi tanaman sudah mencapai 20 cm. Cabang pertama tumbuh dari node pertama dan setiap cabang tumbuh daun, node, tunas, bunga, dan polong seperti halnya pada batang utama (Adisarwanto, 2005).

(21)

21 c. Daun

Tanaman kedelai berdaun majemuk yang bersusun tiga helaian anak daun setiap helaian daun ( daun bersusun tiga ). Daun berbentuk lonjong dengan bagian ujung runcing. Daun berwarna hijau sampai hijau tua dengan permukaan daun mempunyai struktur bulu yang beragam,tergantung dari varietasnya. Daun juga memiliki ukuran yang beragam tergantung dari varietasnya. Kedudukan daun tegak dan daun memiliki tangkai utama.

d. Bunga

Bunga tanaman kedelai berbentuk menyerupai kupu-kupu dengan mahkota bunga berwarna ungu atau putih. Bunga tanaman kedelai berukuran kecil.

e. Buah

Buah atau polong kedelai berbentuk pipih dan lebar yang panjangnya 5 cm, warna polong kedelai bervariasi, tergantung pada varietasnya. Ada yang berwarna coklat muda, coklat, coklat kehitaman, putih, dan kuning kecoklatan (warna jerami). Polong kedelai tersusun bersekmen-sekmen yang berisi biji. Jumlah biji dalam satu polong bervariasi antara 1 - 4 buah, bergantung pada panjang polong. Polong kedelai terbentuk di setiap pangkal cabang, jika kondisi pertumbuhan tanaman baik polong yang terbentuk dapat menghasilkan biji yang penuh.

f. Biji

Bentuk biji kedelai ada yang bulat lonjong, bulat, dan bulat agak pipih. Warnanya ada yang putih, krem, kuning, hijau, coklat, hitam, dan sebagainya. Ukuran biji ada yang berukuran kecil (6-10 g/100 biji), sedang (11-12 g/100 biji), dan besar (13 g/100 biji) Di luar negeri, (Amerika dan Jepang) biji yang memiliki

(22)

22

bobot 25 g/100biji dikategorikan berukuran besar, Sedangkan yang yang berukuran lebih dari 25 g/100 biji dikategorikan berukuran kecil.

3. Syarat Tumbuh a. Iklim

Tanaman kedelai untuk mencapai pertumbuhan tanaman yang optimal, memerlukan kondisi lingkungan tumbuh yang optimal pula. Tanaman kedelai sangat peka terhadap perubahan faktor lingkungan tumbuh, khususnya tanah dan iklim. Kebutuhan air sangat tergantung pada pola curah hujan yang turun selama pertumbuhan, pengelolaan tanaman, serta umur varietas yang ditanam.

a. Tanah

Tanaman kedelai sebenarnya dapat tumbuh di semua jenis tanah. Namun demikian, untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan produktivitas yang optimal, kedelai harus ditanam pada jenis tanah berstruktur lempung berpasir atau liat berpasir (Adisarwanto, 2005).

Pupuk Organik

Pupuk organik merupakan pupuk dengan bahan dasar yang diambil dari alam dengan jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung secara alami, sementara pupuk anorganik merupakan pupuk buatan pabrik dengan jenis dan kadar unsur hara yang sengaja ditambahkan atau diatur dalam jumlah tertentu. Pupuk organik merupakan salah satu bahan yang sangat penting dalam upaya untuk memperbaiki kebutuhan tanah dan penggunaannya masih sering dibarengi dengan pupuk anorganik atau pupuk kimia buatan pabrik (Musnamar, 2009).

(23)

23

Pupuk organik merupakan bahan pembenah tanah yang paling baik dan alami dari pada bahan pembenah buatan/sintetis. Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro N,P,K rendah, tetapi mengandung hara mikro dalam jumlah cukup yang sangat diperlukan pertumbuhan tanaman (Susanto, 2002). Sumber pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan, bahan tanaman dan limbah, misalkan: pupuk kandang (ternak besar dan kecil), hijaun tanaman rerumputan, semak, perdu dan pohon, limbah pertanaman (jerami padi, batang jagung, sekam padi dll), dan limbah agroindustri. Tanah yang di beri pupuk organik mempunyai stuktur yang baik dan tanah yang kecukupan bahan organik mempunyai kemampuan mengikat air lebih besar daripada tanah yang kandungan bahan organiknya rendah.

1. Kelebihan Dan Kekurangan Pupuk Organik Kelebihan Pupuk Organik

Ada beberapa kelebihan pupuk organik yaitu sebagai berikut : 1. Sebagai sumber makanan untuk tanaman dan tanah

2. Selain N, P dan K, juga mengandung 16 macam unsur hara yang diperlukan pertumbuhan tanaman,

3. Tekstur tanah menjadi lebih baik, hasil tanaman dapat diperbaiki

4. Adanya kegiatan cacing tanah dan mikroorganisme lain yang menyebabkan kesuburan tanah meningkat dan tanah lebih sarang maka udara, air dan sinar matahari mampu menembus tanah lebih dalam sehingga terjadi keseimbangan kelembaban dan temperatur yang lebih baik sehingga hama penyakit dapat terkendali

(24)

24

5. Selama hujan gerimis pendek, kelembaban tanah dapat bertahan di permukaan tanah dan apabila terjadi hujan deras mengalir ke lapisan yang paling dalam. Tanah tetap dalam keadaan dingin pada saat panas (Musnamar, 2009).

Kekurangan pupuk organik

Ada beberapa kekurangan pupuk organik yaitu sebagai berikut :

1. Pupuk organik seperti pupuk kandang masih sering mengandung biji tanaman pengganggu. Biji-bijian yang termakan ternak tidak akan tercerna sehingga dapat tumbuh dan menggangu tanaman. Akibatnya biaya produksi meningkat untuk penggendaliannya seperti tenaga kerja atau herbisida. 2. Pupuk organik sering menjadi faktor pembawa hama penyakit karena

mengandung larva atau telur serangga sehingga tanaman dapat diserang. Hal ini akan meningkatkan biaya pestisida.

3. Kandungan unsur hara sukar diramalkan dan diatur.

4. Kandungan unsur hara relatif lebih rendah dibanding pupuk anorganik sehingga penggunaannya lebih tinggi. Akibatnya, biaya transportasi, gudang, dan tenaga kerja pun meningkat.

5. Respon tanaman terhadap tanaman terhadap pupuk organik lebih lambat dibanding pupuk anorganik.

6. Adanya budaya lama sulit digantikan dengan budaya baru, terutama penerapan hasil-hasil bioteknologi seperti pupuk mikroba (Musnamar, 2009).

(25)

25

METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Manggoapi Amban milik Universitas Negeri Papua Manokwari, terletak pada ketinggian 110 m di atas permukaan laut. Penelitian ini berlangsung empat bulan dari bulan Februari – Juni 2010.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kedelai varietas Cikuray, pupuk dasar daun-daun hijau. Alat yang digunakan adalah cangkul, sekop, garu-garu, parang, tali rafia, ember, timbangan gram, hand sprayer, meter rol, ajir, traktor, dan alat tulis menulis.

Rancangan Percobaan

Metode yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), Rancangan percobaan ini terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan sehingga diperoleh 16 satuan percobaan. Perlakuannya adalah sbb :

K0 = Kontrol atau tanpa pupuk.

K1 = POC Asal daun-daun hijau (20 cc/ ltr air) K2 = POC Asal daun-daun hijau (40 cc/ ltr air) K3 = POC Asal daun-daun hijau (60 cc/ ltr air)

(26)

26

Pelaksanaan Kegiatan

1. Pembukaan lahan

Lahan dibersihkan dengan menggunakan parang dan mesin babat, pembersihan lahan ini untuk membersihkan rumput-rumput pengganggu (gulma).

2. Pembersihan lahan/pembakaran

Pembersihan lahan dengan menggunakan garu-garu. Penggunaan garu-garu

berfungsi untuk menarik semua rumput-rumput yang sudah dibabat dan kemudian dikumpul lalu dibakar.

3. Penggolahan tanah

Tanah diolah dengan menggunakan bajak rotary, kemudian digemburkan dengan menggunakan skop dan cangkul.

4. Penggukuran dan pembuatan bedengan

Pembuatan bedengan untuk tanaman kedelai dilakukan dengan ukuran 2,8 x 2,4 m untuk masing-masing blok terdiri dari 16 petak.

5. Penanaman

Benih yang disediakan terlebih dahulu direndam selama satu malam, dimasukkan ke dalam lubang tanam yang dibuat menggunakan tugal, tutup kembali lubang yang berisi benih dengan jarak tanam 40 cm x 30 cm, Tiap lubang tanam diisi 2 benih kedelai.

6. Pemupukan

Setiap ulangan diberi perlakuan yang berbeda, satu ulangan terdiri dari 4 ulangan. Penyiraman POC dilakukkan pada tanaman P1, P2, P3 sesuai dosis yang dianjurkan. Larutan POC dimasukkan ke dalam air diaduk hingga merata dan

(27)

27

kemudian dilakukan penyiraman. Bagian tanaman yang disemprot adalah sekeliling tanaman.

7. Pemeliharaan

Pemeliharaan yang dilakukkan meliputi penyiangan gulma, penyulaman, penyiraman serta pemberantasan hama. Penyiangan pertama dilakukkan bersamaan dengan penyulaman yaitu pada saat tanaman berumur 5-7 hari. Penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari atau disesuaikan dengan kondisi kelembaban tanah. Pengendalian hama bekicot dengan menggunakan abu tunggu/dapur dan akar tuba.

8. Pemanenan

Kedelai dipanen jika 70% daun telah mengguning dan rontok serta polong keras dan berubah warna menjadi kecoklatan. Kedelai dipanen serentak. Caranya adalah batang utama dipotong tepat di atas permukaan tanah. Cara panen ini lebih baik daripada tanaman langsung dicabut karena akar yang kaya nitrogen ditinggalkan berdekomposisi di tanah.

(28)

28

Variabel Pengamatan Karakter morfologi yang diamati meliputi :

Tinggi tanaman (cm)

Tinggi tanaman diukur pada umur 2, 3, 4, 5 minggu setelah tanam, cara penggukuran dilakukan pada permukaan tanah sampai titik tumbuh.

Jumlah cabang

Jumlah cabang, yaitu jumlah semua cabang primer yang keluar dari batang utama, di hitung pada akhir pengamatan (saat panen) Umur berbunga

Umur berbunga (hari), dihitung mulai dari saat tanam sampai saat tanaman berbunga.

Jumlah polong tiap buku subur per tanaman

Dengan menghitung jumlah polong yang ada pada setiap tanaman contoh pada akhir pengamatan.

Jumlah polong bernas/isi Jumlah polong hampa

Bobot 100 biji

Yaitu berat 100 biji bernas pada kadar air 10% Bobot biji per petak

(29)

29

Pengolahan dan Analisis Data

Data hasil pengamatan diuji dengan menggunakan analisis ragam. Apabila ada perbedaan antara perlakuan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT).

(30)

30

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Hasil yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, umur berbungga, jumlah cabang, jumlah buku subur, jumlah polong per tanaman, jumlah polong bernas, jumlah polong hampa, bobot 100 biji dan berat biji per petak.

Rata-rata tinggi tanaman kedelai umur 2-5 MST disajikan pada tabel 1. Tabel 1. Rata-rata tinggi tanaman kedelai umur 2 – 5 MST (cm)

Perlakuan Umur pengamatan (MST)

2 3 4 5 K0 9,34 12,03 16,27 21,96 K1 9,27 12,04 15,99 21,16 K2 9,09 11,90 16,05 21,18 K3 9,28 12,22 15,88 21,19

Berdasarkan hasil analisa terhadap rata-rata tinggi tanaman diperoleh hasil bahwa tidak ada perbedaan antara perlakuan baik pada umur pengamatan 2 MST sampai 5 MST. Tetapi berdasarkan nominal angka yang dicatat bahwa pada 2 MST, rata-rata tanaman tertinggi ditunjukkan pada perlakuan tanpa pupuk (K0) sebesar 9,34 cm dan rata-rata tanaman terendah pada perlakuan K3 sebesar 9,09 cm. Pada umur 3MST rata-rata tanaman tertinggi pada perlakuan K3 sebesar 12,22 cm dan rata-rata tanaman terendah pada perlakuan K2 yaitu 11,90. Pada umur 4 MST rata-rata tanaman tertinggi ditunjukkan pada perlakuan tanpa pupuk (K0) sebesar 16,27 cm dan rata-rata tanaman terendah pada perlakuan K3 yaitu 15,88 cm. Pada pengamatan terakhir (5 MST), tanaman tertinggi ditunjukkan

(31)

31

pada perlakuan K0 sebesar 21,96 cm dan tanaman terendah pada perlakuan K1 sebesar 21,16.

Rata-rata umur berbunga, jumlah cabang dan jumlah buku subur dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata umur berbunga, jumlah cabang, dan jumlah buku subur

Perlakuan Umur berbunga

(hari) Jumlah cabang Jumlah buku subur

K0 39,95 6,75 5,30

K1 40,53 6,33 5,50

K2 40,28 6,70 5,63

K3 40,05 6,78 5,35

Berdasarkan hasil analisa terhadap umur berbunga, jumlah cabang dan jumlah buku subur diperoleh hasil bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan pada semua variabel pengamatan tersebut. Berdasarkan nominal angka pengamatan terlihat bahwa umur berbunga K0 (39,95 hari) lebih cepat dibanding perlakuan K1 (40,53 hari), K2 (40,28 hari) dan K3 (40,05 hari). Jumlah cabang pada perlakuan K3 (6,78) lebih banyak dibanding perlakuan K0 (6,75), K1 (6,33) dan K2 (5,63) lebih banyak dibanding K1 (5,30), K2 (5,50) dan perlakuan K3 (5,35).

Rata-rata jumlah polong pertanaman, jumlah polong bernas pertanaman, jumlah polong hampa pertanaman, bobot 100 biji dan produksi per petak dapat dilihat pada tabel 3.

(32)

32

Tabel 3. Rata-rata jumlah polong per tanaman, jumlah polong bernas per tanaman, jumlah polong hampa per tanaman, bobot 100 biji dan prpduksi perpetak Perlakuan Jumlah polong/tanam an Jumlah polong bernas/tanam an Jumlah polong hampa/tanam an Bobot 100 biji (g) Produksi/peta k (kg) K0 199,75 198,50 3,28 10,47 4,61 K1 210,13 208,68 4,03 10,10 4,74 K2 200,00 197,83 3,35 9,82 4,71 K3 198,30 195,05 3,25 10,08 5,22

Berdasarkan hasil analisa dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antar perlakuan pada semua (jumlah polong per tanaman, jumlah polong bernas per tanaman, jumlah polong hampa per tanaman, bobot 100 biji dan produksi kedelai per petak). Pada tabel dapat dilihat pada jumlah polong per tanaman terbanyak ditunjukkan pada perlakuan K1 (210,13) dan yang terendah pada perlakuan K3(198,30). Jumlah polong bernas per tanaman terbanyak ditunjukkan pada K1(208,68) dan yang terendah pada perlakuan K3 (195,05). Jumlah polong hampa per tanaman terbanyak ditunjukkan pada perlakuan K1 (4,03) dan yang terendah pada perlakuan K3 (3,25), sedangkan produksi kedelai per tanaman tertinggi ditunjukkan pada perlakuan K3 (5,22 kg) dan yang terendah pada perlakuan K0 (4,61 kg). Bobot 100 biji tertinggi ditunjukkan pada perlakuan K0 (10,47 g) dan yang terendah pada perlakuan K2 (9,82 g).

(33)

33 B. Pembahasan

Pupuk merupakan formulasi bahan yang mengandung unsur hara untuk keperluan pertumbuhan dan produksi tanaman. Respon tanaman terhadap pupuk yang diberikan sangat dipengaruhi oleh lingkungan jenis tanaman dan pupuk itu sendiri.

Hasil percobaan pupuk organik cair dengan menggunakan daun-daun hijauan pada tanaman kedelai ternyata tidak memberikan pengaruhnya, pada komponen tinggi tanaman 2 MST – 5 MST tidak memberikan pengaruh tinggi tanaman yang baik. Untuk umur berbunga, jumlah cabang, jumlah buku subur pertanaman, jumlah polong pertanaman, jumlah polong bernas pertanaman, jumlah polong hampa pertanaman, bobot 100 biji dan produksi perpetak juga tidak menghasilkan hasil yang berbeda jauh.

Selain status hara tanah, faktor lingkungan seperti cuaca juga dapat mempengaruhi efektifitas pertumbuhan. Pada saat pemeliharaan, setelah penyiraman pupuk terjadi hujan sehingga pupuk yang disiram di sekeliling tanaman ikut tercuci dengan air hujan dan tidak diserap oleh tanaman, sehingga pemberian beberapa perlakuan tidak berbeda nyata. Dari data BMG Manokwari (2010), setelah perlakuan penyiraman pupuk pada bulan Maret, jumlah curah hujan mencapai 364,9 mm dan jumlah hari hujan 24 hari (lampiran 14). Hal ini didukung oleh Haryadi (1991) yang menyatakan bahwa kemampuan tumbuh dan berkembang tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.

Walaupun perlakuan yang ditunjukkan telah berbeda nyata tetapi usaha yang di lakukan untuk peningkatan produksi harus tetap terus dilaksanakan.

(34)

34

Menurut Depertemen Pertanian Republik Indonesia (1988) yang tertuang dalam Repelita-V Pertanian, bahwa usaha penanganan peningkatan produksi kedelai harus dilakukan secara sungguh-sungguh karena mempunyai nilai strategi dalam menunjang pelaksanaan pembangunan nasional.

(35)

35

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Secara umum pemberian pupuk organik cair tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai. 2. Hujan yang turun setelah pemupukan menyebabkan pupuk tercuci dan tidak terserap oleh tanaman.

Saran

Perlu dilakukan uji coba pupuk organik cair ini pada status kesuburan tanah yang berbeda pada kondisi lingkungan yang lain.

(36)

36

DAFTAR PUSTAKA

Adisarwanto, T. 2005. Budi Daya dengan Pemupukan yang Efektif dan Pengoptimalan Peran Bintil Akar. Penebar Swadaya. Jakarta.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Manokwari 2009. Data Produksi Palawija Diakses pada tanggal 15 Februari 2010.

Haryadi M. M. 1991. Pupuk dan Cara Pemupukan. Swadaya. Jakarta. Hardjowinego, S. 2007. Ilmu Tanah. Akademik Presido Jakarata.

Marlina, S. 1997. Pengaruh NPK Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Kedelai (Glicyne max (L)Merill) Di daerah Transmigrasi Sidey Manokwari. Skripsi Sarjana Pertanian Faperta Uncen Manokwari. (Tidak di terbitkan).

Musnamar, E. I. 2009 Pupuk Organik. Penerbit swadaya.

Rukmana, R dan Yuniarsih. 1996. Kedelai Budidaya Dan Paska Panen. Kanisius Jakarta.

Susanto, R. 2002. Pertanian Organik Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Sumarno dan Hartono. 1983. Kedelai dan Cara Bertanamnya. Penebar Swadaya. Jakarta.

Gambar

Tabel  3.  Rata-rata  jumlah  polong  per  tanaman,  jumlah  polong  bernas  per  tanaman,            jumlah  polong  hampa  per  tanaman,  bobot  100  biji  dan  prpduksi perpetak               Perlakuan  Jumlah  polong/tanam an  Jumlah polong  bernas/tan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa pengaruh cara pemberian pupuk organik cair ke daun dan ke tanah berpengaruh tidak nyata terhadap berat basah tanaman

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pupuk organik cair berpengaruh nyata pada komponen pertumbuhan tanaman kedelai yang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun

Ada beberapa kaitan sejarah antara Bung Karno dengan kota Blitar, antara lain kota Blitar adalah kota kelahiran dan tempat Bung Karno dibesarkan, selain itu kota Blitar juga

Bakteri ini berbentuk filamen atau benang dan menyerang tubu bgian luar, terutama insang.Seluruh stadia hidup udang panaeid dapat terngsang oleh mikroorganisme ini

Maksudnya adalah pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung di Kabupaten Badung sudah ada faktor- faktor yang mempengaruhi penerapan K3 tetapi masih belum

Pemberian perlakuan Pupuk Organik Cair (POC) dengan konsentrasi 8 ml L -1 memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, lebar kanopi

Dalam kebaktian hari Minggu,19 Maret 2017 Pk.10.00 Wib, jemaat juga akan melepas dengan rasa syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, para Penatua yang telah mengakhiri

Pipa PVC DIA 2" vinilon / 4 meter Pipa PVC DIA 3" vinilon / 4 meter Pipa PVC DIA 4" vinilon / 4 meter Pipa PVC DIA 1/2" wavin / 4 meter Pipa PVC DIA 3/4" wavin