• Tidak ada hasil yang ditemukan

Executive Summary EVALUASI IMPLEMENTASI SISTEM INATRADE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Executive Summary EVALUASI IMPLEMENTASI SISTEM INATRADE"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

Executive Summary

EVALUASI IMPLEMENTASI SISTEM INATRADE

Sistem perijinan INATRADE yang dibangun oleh Kementerian Perdagangan merupakan salah satu upaya untuk mengurangi biaya transaksi melalui peningkatan efisiensi waktu, biaya dan akurasi data dalam proses penanganan perijinan dalam rangka mendukung pelaksanaan Indonesia National Single Window (INSW) dan meningkatkan daya saing nasional melalui. Melalui sistem tersebut, diharapkan proses pengajuan perijinan menjadi lebih mudah dan cepat karena diakses secara online; memiliki document tracking untuk mengetahui sampai dimana proses dokumen yang diajukan; mengurangi penggunaan kertas (paperless); monitoring lebih baik; database perijinan lengkap; verifikasi dokumen secara otomatis karena memiliki akses ke Government Agency (GA) yang terkait dengan ekspor dan impor; serta mempercepat Customs Clearance.

Namun demikian, sejak diberlakukannya Peraturan Menteri Perdagangan No. 28/M-DAG/PER/6/2009 terkait Sistem Perijinan Online, hanya sekitar 6,8% dari 1.688 perusahaan yang telah menggunakan hak aksesnya dalam melaksanakan perijinan dengan sistem elektronik untuk periode 30 Juni 2009 sampai dengan 20 Oktober 2010. Berkaitan dengan fakta tersebut, maka kajian ini berupaya untuk menjawab pertanyaan mengenai permasalahan dan hambatan dalam implementasi INATRADE, manfaat yang diperoleh pelaku usaha baik sebelum maupun sesudah penerapan INATRADE, bagaimana sosialisasi yang dilakukan baik sebelum maupun sesudah adanya INATRADE, bagaimana meningkatkan pemanfaatan INATRADE, serta bagaimana strategi kebijakan optimalisasi manfaat INATRADE dalam rangka memperlancar arus barang di Indonesia.

Kajian ini pada dasarnya menggunakan metode survei lapangan dengan responden pengguna sistem INATRADE. Survei dilakukan melalui wawancara baik secara langsung dan tidak langsung melalui web INATRADE, namun secara keseluruhan kuesioner diberikan kepada responden untuk kemudian dikembalikan kepada tim pengkaji dimana pertanyaan yang digunakan dibuat terstruktur. Penyajian hasil survei menekankan pada analisa deskriptif berdasarkan temuan di lapangan.

Manfaat Sebelum dan Sesudah Penerapan INATRADE

Untuk menilai manfaat sebelum dan setelah penerapan INATRADE, responden dikelompokkan menjadi dua yaitu mereka yang baru pertama kali menggunakan INATRADE dan kelompok responden yang sudah menggunakan INATRADE terlebih dahulu. Manfaat sebelum dan sesudah penerapan INATRADE dilihat dari beberapa aspek diantaranya kemudahan dalam mengakses sistem, pemonitoran proses perijinan, dan proses kelengkapan dokumen.

Manfaat yang diperoleh responden terhadap kemudahan dalam mengakses sistem INATRADE terhitung tinggi. Bagi responden yang menggunakan INATRADE pertama kali, merasakan manfaat kemudahan dalam mengakses INATRADE yang lebih besar (95,15%) dibandingkan responden yang sudah terlebih dahulu menggunakan (84,78%). Manfaat yang diperoleh responden dalam mengecek atau memonitor ijin menunjukkan hal yang sama dengan sebelumnya dimana responden yang baru menggunakan INATRADE memberikan penilaian yang tinggi mencapai 93,65%. Sementara itu,

(2)

responden yang baru pertama kali menggunakan INATRADE merasakan manfaat kemudahan dalam proses kelengkapan dokumen sebesar 93,55%.

Selain manfaat penggunaan INATRADE, dilakukan pula penilaian terhadap kejelasan informasi yang berguna untuk meningkatkan efisiensi proses perijinan melalui prosedur, syarat, biaya, dan waktu. Kelompok responden yang baru pertama kali menggunakan INATRADE memberikan penilaian yang tinggi terhadap kejelasan informasi (83,61%) daripada responden yang sudah menggunakan INATRADE terlebih dahulu. Penilaian responden terkait kejelasan prosedur dan syarat menunjukkan bahwa penilaian responden yang sudah menggunakan INATRADE terlebih dahulu memberikan penilaian yang lebih tinggi dibandingkan pengguna pemula

Bagi kelompok responden yang pertama kali menggunakan INATRADE, seluruh responden mengganggap biaya yang dibebankan sudah jelas untuk pengurusan prosedur perijinan. Namun ketika ada penambahan intensitas pengurusan dokumen, penilaian responden cenderung beragam bahkan terdapat banyak ketidakpastian dengan persentase penilaian responden yang cukup besar dalam menjawab tidak jelas dan kurang jelas, masing-masing sebesar 40% dan 30%. Sementara itu, mayoritas bahkan seluruhnya memberikan penilaian cukup jelas terkait ketepatan waktu dokumen yang berhasil diajukan. Namun bagi kelompok responden yang sudah pernah menggunakan sistem tersebut, hanya separuh kelompok responden tersebut yang memberikan penilaian cukup jelas untuk ketepatan waktu. Temuan ini memberikan indikasi bahwa untuk efisiensi dari implementasi INATRADE perlu ditingkatkan karena dari segi biaya dan waktu dirasa masih kurang bagi responden.

Evaluasi Implementasi Sistem INATRADE

Survei yang dilakukan dalam studi evaluasi pelaksanaan INATRADE ini memperoleh 119 responden perusahaan yang telah mencoba layanan publik satu pintu melalui sistem INATRADE. Responden yang menjadi narasumber kuesioner sistem INATRADE yang Jakarta menempati porsi terbesar yaitu 24,37% kemudian diikuti Medan (10,08%), Bekasi (8,4%), Tangerang (7,56%), Semarang (5,88%), Bandung (5,04%), Bogor (4,2%) dan kota-kota lain di Indonesia. Responden berjenis kelamin pria, lebih banyak dibandingkan dengan wanita.

Sebagian besar responden (84,04%) menjawab penggunaan INATRADE mudah yang menunjukkan bahwa sistem perijinan online INATRADE sudah cukup user friendly. Sementara responden yang menjawab tidak mudah dalam menggunakan sistem sebagian besar dikarenakan koneksi internet lambat (45,45%) dan beberapa responden juga tidak paham tahapan penggunaan sistem perijinan online INATRADE (36,36%).

Menurut pendapat responden, sebagian besar merasakan kemudahan layanan mengecek atau memonitor ijin dengan presentase yaitu sebesar 84,04%, Bagi responden yang menjawab tidak merasakan kemudahan pelayanan INATRADE dalam mengecek atau memonitor ijin, alasan terbanyak karena informasi sulit didapat dari situs INATRADE dan sistem tidak meng-update ijin pemohon (masing-masing sebesar 25,00%). Kemudian diikuti karena alasan sistem sering error, sistem sering keliru menampilkan status ijin pemohon, dan konfirmasi via email sering tidak dibalas oleh petugas (masing-masing sebesar 16,67%).

Terkait waktu yang dibutuhkan untuk pengurusan dokumen melalui sistem INATRADE, sebagian besar responden memberikan penilaian yang baik terhadap

(3)

kecepatan pengurusan dokumen melalui sistem INATRADE. Beberapa responden (35,29%) menjawab butuh waktu tiga hari untuk pengurusan dokumen, sedangkan mayoritas responden menjawab lebih dari 14 hari waktu yang diperlukan untuk mengurus dokumen (46,22%). Padahal jumlah hari yang dibutuhkan bisa lebih singkat menjadi 3 hari sesuai dengan Standard Operational Procedure (SOP) yang telah ditetapkan.

Pengguna INATRADE merasa dibantu dalam proses kelengkapan dokumen dengan prosentase sebesar 83,19%. Namun ada pula yang merasakan tidak terbantudengan alasan informasi item kelengkapan dokumen tidak disajikan secara lengkap (40%), sering munculnya item dokumen tambahan (33,33%), dan adanya perbedaan item dokumen yang muncul disitus dengan yang ada di petugas lapangan (26,67%).

Praktis tidaknya sistem INATRADE juga menjadi penilaian bagi pengguna. Sebanyak 83,19% responden menyatakan sistem INATRADE praktis, sedangkan 10,92%. Responden lainya mengatakan bahwa sistem tersebut tidak praktis. Penilaian ini termasuk baik mengingat sistem INATRADE masih tergolong baru. Kepraktisan yang dirasakan pengguna tentunya sejalan dengan visi sistem ini diadakan sebagai media pengurusan dokumen terkomputerisasi yang praktis dan efisien. Kendala ketidakpraktisan bagi sebagian responden disebabkan karena pada tahapan pengisian masih berbelit (30,77%), terlalu banyaknya pihak yang terlibat (30,77%), selain itu lokasi pengurusan yang tidak satu atap (23,08%), dan bahasa yang digunakan sulit dipahami bagi beberapa responden (15,38%).

Tingkat kejelasan informasi yang diberikan sistem INATRADE diukur dengan empat indikator pengukuran yaitu prosedur, syarat, waktu, dan biaya. Meskipun bagi mayoritas responden menyatakan bahwa sistem ini memberikan informasi yang jelas (93%), namun keempat komponen indikator pengukuran tingkat kejelasannya dirasa masih kurang memuaskan dimana persentase kekurangjelasan setiap komponen yaitu prosedur (88,89%), syarat (66,67%), waktu (61,11%), dan biaya (73,33%). Ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan sistem INATRADE haruslah mudah dipahami, tidak bermakna ganda, dan dapat menyesuaiakan dengan tingkat pendidikan pengguna yang beragam.

Terkait dengan keberadaan jasa perantara, mayoritas responden (68,91%) menyatakan bahwa tidak ada kemungkinan adanya jasa perantara dalam pengurusan perijinan secara online. Sedangkan sebanyak 25,21% responden menyatakan bahwa kemungkinan jasa perantara itu ada dalam pengurusan perijinan meskipun sudah ada penerapan sistem INATRADE. Bagi responden yang menjawab ada kemungkinan jasa perantara, mereka menyatakan bahwa keberadaan jasa perantara tidak mengganggu (50%). Sedangkan responden yang menyatakan bahwa keberadaan jasa perantara tersebut sangat mengganggu dan mengganggu hanya sebesar 18,42% dan 26,32%. Bahkan ada juga responden yang merasa diuntungkan dengan adanya jasa perantara yaitu sebesar 5,26%

Beberapa responden yang menggunakan jasa perantara juga perlu mengalokasikan waktu untuk bertemu sehingga kepastian selesainya dokumen bisa dipantau. Hampir separuh responden menjawab beberapa kali untuk sebagian kecil tahapan, sedangkan yang melakukan pertemuan hanya sekali pertemuan sebanyak 46,15%. Adapula responden yang perlu bertemu setiap kali untuk sebagian tahapan proses perijinan dengan persentase sebesar 3,85%. Ini menunjukkan bahwa responden yang menggunakan jasa

(4)

perantara masih belum yakin jika prosedur yang sedang diurus tidak dapat selesai sebagaimana yang diharapkan atau tepat waktu

Sementara itu, keinginan untuk bertemu dari pemohon kepada pihak perantara mempunyai latar belakang motivasi yang beragam. Sebagian besar pertemuan tersebut karena untuk melengkapi sejumlah persyaratan yang kurang dan mempercepat waktu pengurusan, masing-masing sebesar 37,5%. Alasan berikutnya adalah mengambil dokumen yang sudah jadi (15%), menjalin perkenalan dengan petugas (7,5%) dan menegoisasikan biaya tambahan untuk kecepatan dokumen (2,5%). Kelima motivasi tersebut bersifat jamak dan memunculkan potensi biaya tambahan yang dikenakan kepada pengguna

Pengurusan dokumen dengan sistem INATRADE juga memberikan peluang munculnya keluhan dari pengguna. Berdasarkan hasil survei menyatakan bahwa mayoritas responden (68,07%) belum pernah mengajukan keluhan kepada petugas. Sedangkan responden yang sudah pernah mengajukan keluhan kepada petugas hanya sebesar 26,05%. Tingginya responden yang menjawab belum pernah mengajukan keluhan kepada petugas perlu diapresiasi bagus artinya sistem ini telah mampu mengakomodir kepentingan pengguna dalam mengurus perijinan yang lebih mudah. Sementara itu, keluhan yang diajukan pengguna juga direspon dengan baik oleh petugas Mayoritas responden yang memberikan penilaian positif terhadap tanggapnya komplain yang diajukan membuktikan keseriusan lembaga pengelola sistem untuk terus menyempurnakan dan memperbaiki INATRADE.

Kesimpulan dan Saran

Hasil temuan dari studi implementasi pelaksanaan INATRADE dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem INATRADE masih memiliki beberapa permasalahan dan hambatan. Permasalahan yang dirasakan oleh pengguna INATRADE diantaranya mengenai kesulitan memperoleh informasi dari situs INATRADE, perbedaan item dokumen disitus dengan petugas lapangan, dan pengguna belum cukup paham tahapan penggunaan INATRADE dikarenakan penggunaan bahasa yang sulit dipahami

Sistem INATRADE telah disarakan manfaatnya bagi mayoritas penggunanya, baik berupa kemudahan dalam mengakses, kemudahaan dalam mengecek atau memonitor, maupaun kemudahan dalam membantu proses kelengkapan dokumen. Mayoritas responden merasakan peningkatan manfaat dan terbantu dengan sistem INATRADE terutama dalam bentuk kepraktisan pengurusan beragam dokumen perjinan.

Sistem INATRADE memberikan kemungkinan yang kecil bagi jasa perantara untuk terlibat dalam pengurusan dokumen. Meskipun jumlahnya kecil, namun latar belakang motivasi pengguna INATRADE untuk bertemu dengan perantara patut dicermati. Sebagian besar pertemuan tersebut karena untuk melengkapi sejumlah persyaratan yang kurang dan mempercepat waktu pengurusan, mengambil dokumen yang sudah jadi, menjalin perkenalan dengan petugas, dan menegoisasikan biaya tambahan untuk kecepatan dokumen. Kelima motivasi tersebut bersifat jamak dan memunculkan potensi biaya tambahan yang dikenakan kepada pengguna

Terakhir, pengelola sistem INATRADE dinilai telah memperhatikan dan proaktif terhadap komplain atau pengaduan yang diajukan oleh pengguna. Sebagian besar responden memberikan penilaian sangat baik dan baik terkait respon petugas terhadap

(5)

pengajuan komplain atau pengaduan. Hal ini membuktikan keseriusan lembaga pengelola sistem untuk terus menyempurnakan dan memperbaiki INATRADE.

Hasil kajian ini pada gilirannya menuntut pengelolan sistem INATRADE untuk meningkatkan kinerja sehingga dapat memacu perbaikan prosedur pengurusan ijin via INATRADE secara keseluruhan. Adapun saran yang dapat dijadikan solusi implementatif bagi perbaikan system INATRADE adalah sebagai berikut:

 Sistem INATRADE perlu mempertimbangkan adanya kegiatan sosialisasi dan mekanisme pemanduan serta pendampingan terhadap pengguna yang dilakukan secara massif hingga tingkat daerah atau SKPD teknis.

 Sistem INATRADE perlu memperbaiki tampilan, pilihan kosakata, dan kinerja karena masih ada responden yang mengeluhkan sistem sering error, tahapan pengisian masih berbelit, bahasa yang digunakan sulit dipahami, serta terlalu banyak pihak yang terlibat.

 Sistem INATRADE sebaiknya memberikan kepastian tidak adanya perantara dalam pengurusan dokumen yang sudah terkomputerisasi.

 Sistem INATRADE perlu memberikan jaminan kepastian dan ketepatan waktu terhadap prosedur pengurusan dokumen yang sedang diajukan oleh pemohon

(6)

1

1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

National Single Window (NSW) yang dibangun oleh Indonesia dilaksanakan dengan menggunakan prinsip yang sedikit lebih jika dibandingkan prinsip yang dalam perjanjian ASEAN Single Window (ASW) yaitu untuk meningkatkan efisiensi pelayanan dalam penyelesaian dokumen, customs clearance dan cargo release sekaligus berfungsi untuk meningkatkan efektivitas pengawasan ekspor impor. NSW merupakan sistem pelayanan yang memiliki 2 sub sistem pelayanan yaitu trade net dan port net dengan tujuan untuk kelancaran dokumen dan kelancaran arus barang; melayani kegiatan ekspor tidak hanya dengan negara-negara ASEAN namun juga semua negara.

Di dalam sistem Indonesia National Single Window (INSW) dapat menyampaikan data dan informasi secara tunggal (single submission of data and information) seperti yang tertuang dalam Peraturan Presiden No. 10 Tahun 2008, selain itu juga dalam sistem ini dapat melakukan pemrosesan data dan informasi secara tunggal dan sinkron (single and synchronous processing of data and information), termasuk pembuatan keputusan secara tunggal untuk pemberian izin kepabeanan dan pengeluaran barang ( single decision making for customs clearance and release of cargoes).

Di Indonesia sistem NSW dilakukan secara bertahap untuk aktivitas impor, ekspor, arus komoditi, aktivitas pelabuhan, instansi yang terlibat serta kelembagaanya. Untuk pelayanan impor dilakukan sejak 17 Desember 2007 dan hingga saat ini sudah diterapkan

(7)

2 secara mandatory di 5 (lima) pelabuhan utama, yaitu Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Belawan dan Bandara Soekarno Hatta. Pada saat implementasi NSW tahap nasional pada Oktober 2010, seluruh perijinan dikirim ke portal NSW baik yang proses pengajuannya masih dilakukan secara manual maupun yang sudah dilakukan secara online. Sejak diterapkannya, Kementerian Perdagangan telah menerima pengajuan sebanyak 53 (lima puluh tiga) perijinan impor secara online melalui portal NSW.

Untuk mempercepat proses customs clearance sampai dengan akhir tahun 2009 sisa perijinan impor yang diproses secara manual dikirimkan ke portal NSW melalui webservice INATRADE. Sehingga sampai dengan saat ini seluruh perijinan impor (78 perijinan) telah dikirim ke portal NSW. Selain itu juga, Laporan Surveyor (LS) dan Certificate of Inspection (COI) untuk impor juga telah dikirim ke portal NSW melalui INATRADE (Ditjen Daglu, 2011).

Sementara untuk sistem NSW pelayanan ekspor penerapannya diawali dengan penerapan secara mandatory di pelabuhan Tanjung Perak pada tanggal 18 Januari 2010, kemudian di Tanjung Emas mulai tanggal 17 Juni 2010, pelabuhan Belawan mulai tanggal 15 Juli 2010, Tanjung Priok mulai tanggal 5 Agustus 2010 dan di bandara Soekarno Hatta pada tanggal 23 September 2010. Terkait dengan perijinan ekspor tersebut telah dibangun sistem Surat Keterangan Asal (SKA) otomasi/online di 28 (dua puluh delapan) Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA) guna mempercepat layanan publik terkait dengan penerbitan SKA dan 57 (lima puluh tujuh) IPSKA yang melaksanakan penerbitan secara manual sehingga total sudah ada 85 (delapan puluh lima) IPSKA.

(8)

3 Beberapa upaya diperlukan untuk mengurangi biaya transaksi melalui peningkatan efisiensi waktu, biaya dan akurasi data dalam proses penanganan perijinan dalam rangka mendukung pelaksanaan Indonesia National Single Window (INSW) dan meningkatkan daya saing nasional serta meningkatkan fasilitasi perdagangan dalam menghadapi persaingan global, adalah salah satunya pembuatan sistem perijinan INATRADE oleh Kementerian Perdagangan. Sistem perijinan ini diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 28/M-DAG/PER/6/2009.

Tujuan diterapkannya sistem perijinan INATRADE sebagai pendukung NSW dan ASW adalah agar proses pengajuan perijinan menjadi lebih mudah dan cepat karena diakses secara online melalui internet tanpa perlu melakukannya secara manual; memiliki document tracking untuk mengetahui sampai dimana proses dokumen yang diajukan; mengurangi penggunaan kertas (paperless); monitoring lebih baik; database perijinan lengkap; verifikasi dokumen secara otomatis karena memiliki akses ke Government Agency (GA) yang terkait dengan ekspor dan impor; serta mempercepat Customs Clearance (Ditjen Daglu, 2011).

Sistem INATRADE tidak hanya digunakan untuk mengajukan perijinan secara online namun juga dapat digunakan untuk melihat status proses perijinan manual yang diajukan oleh pemohon perijinan pada Ditjen Perdagangan Luar Negeri. Disamping itu, laporan realisasi yang harus disampaikan oleh importir atau eksportir telah dapat dikirimkan melalui website tersebut, sehingga importir maupun eksportir tidak perlu lagi datang ke Kementerian Perdagangan untuk menyampaikan file hardcopy. Sejak diberlakukannya Peraturan Menteri Perdagangan No. 28/M-DAG/PER/6/2009 terkait Sistem Perijinan

(9)

4 Online pada 30 Juni 2009 sampai dengan 20 Oktober 2010 ada sebanyak 1.688 perusahaan yang telah memiliki hak akses, namun pada kenyataannya dari 1.688 perusahaan tersebut hanya sekitar 6,8% yang telah menggunakan hak aksesnya untuk melaksanakan perijinan dengan sistem elektronik (Ditjen Daglu, 2011).

Berkaitan dengan fakta bahwa rendahnya pemanfaatan hak akses dalam sistem perijinan INATRADE di atas, maka kajian ini mencoba untuk menjawab pertanyaan bagaimana permasalahan dan hambatan dalam implementasi INATRADE, bagaimana manfaat yang diperoleh pelaku usaha baik sebelum maupun sesudah penerapan INATRADE, bagaimana sosialisasi yang dilakukan baik sebelum maupun sesudah adanya INATRADE, bagaimana meningkatkan pemanfaatan INATRADE, serta bagaimana strategi kebijakan optimalisasi manfaat INATRADE dalam rangka memperlancar arus barang di Indonesia maka dilakukan kajian mengenai “Evaluasi Implementasi INATRADE”.

1.2. Permasalahan

Fakta sedikitnya pemanfaatan hak akses yaitu sebesar 6,8% dari 1.688 pemilik hak akses, maka permasalahan yang akan diangkat dalam kajian ini adalah:

1. Apa permasalahan dan hambatan yang dihadapi dalam implementasi INATRADE dalam rangka mendukung INSW?

2. Manfaat apa yang diperoleh baik sebelum maupun sesudah penerapan INATRADE? 3. Bagaimana sosialisasi yang dilakukan baik sebelum maupun sesudah penerapan

INATRADE?

(10)

5 5. Bagaimana rekomendasi kebijakan optimalisasi manfaat INATRADE dalam rangka

memperlancar arus barang di Indonesia?

1.3. Ruang Lingkup

Ruang lingkup kajian ini adalah sistem perijinan online INATRADE di Kementerian Perdagangan, dilihat dari manfaat yang diperoleh seperti waktu, transparansi, akurasi, biaya, dan sosialisasi sistem tersebut.

1.4. Tujuan

Secara umum kajian ini bertujuan:

1. Mengetahui permasalahan dan hambatan dalam implementasi INATRADE; 2. Mengetahui manfaat sebelum dan sesudah penerapan INATRADE

3. Mengetahui bagaimana sosialisasi sebelum dan sesudah adanya INATRADE 4. Mengetahui peningkatan pemanfaatan INATRADE

5. Menghasilkan bahan rekomendasi dalam menyusun kebijakan optimalisasi manfaat INATRADE dalam rangka memperlancar arus barang di Indonesia.

(11)

6

2 STUDI EMPIRIS

2.1. Gambaran Asean Single Window (ASW) dan National Single Window (NSW) Pengembangan dan implementasi ASEAN Single Window (ASW) telah menjadi komitmen para kepala pemerintahan di kawasan ASEAN untuk meningkatkan fasilitasi perdagangan dengan menyediakan platform yang terintegrasi antara institusi pemerintah dengan pengguna akhir seperti operator transportasi dan operator logistik dalam pergerakan barang. Negara-negara anggota ASEAN telah berupaya dengan sungguh-sungguh membangun ASW dengan meletakkan fondasi yang kuat yang fokus pada keamanan inter-operabilitas dan inter-konektivitas berbagai sistem otomasi pengolahan informasi. Inisiatif strategis ini dimaksudkan mendukung proses integrasi ekonomi bagi terwujudnya Masyarakat Ekonomi ASEAN sebelum tahun 2015 dan dapat dijadikan momentum bagi negara anggota ASEAN untuk mengakselerasi perbaikan sistem pelayanan terpadu dalam transaksi perdagangan internasional.

Landasan Hukum Pembentukan ASEAN Single Window

Kesepakatan para Pemimpin negara anggota ASEAN yang dikenal dengan Declaration of ASEAN Concord II (Bali Concord II) tahun 2003 yang ditandatangani oleh seluruh Pemimpin Negara-negara ASEAN mengenai visi integrasi ekonomi untuk membentuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community) pada tahun 2020 (yang kemudian dipercepat menjadi 2015) merupakan mandat secara politis untuk

(12)

7 pembangunan sistem ASEAN Single Window. Deklarasi tersebut ditindaklanjuti oleh Menteri-menteri Ekonomi negara ASEAN dengan penandatanganan Persetujuan untuk Membangun dan Melaksanakan ASEAN Single Window (Agreement to Establish and Implement The ASEAN Single Window), dikenal dengan nama ASW Agreement, pada tanggal 9 Desember 2005 di Kuala Lumpur, dimana dari Indonesia diwakili oleh Menteri Perdagangan Republik Indonesia. Untuk melaksanakan ASW Agreement tersebut, penjelasan teknis lebih lanjut dituangkan kedalam Protokol untuk Membangun dan Melaksanakan ASEAN Single Window (Protocol to Establish and Implement The ASEAN Single Window), dikenal dengan nama ASW Protocol, yang ditandatangani secara sirkulasi oleh para Menteri Keuangan pada tanggal 20 Desember 2006. Penandatanganan ASW Agreement and ASW Protocol merupakan milestone dimulainya pembentukan Single Window di regional ASEAN.

Pengertian, Tujuan, dan Konsep Single Window

ASEAN Single Window merupakan suatu lingkungan fasilitasi perdagangan yang beroperasi berdasarkan pada parameter standar informasi, prosedur, formalitas, praktek-praktek terbaik internasional yang relevan untuk proses pelepasan dan penyelesaian kepabeaan (release and clearance) kargo di titik masuk ASEAN di bawah sistem kepabeanan tertentu (impor, ekspor, dan sebagainya). Hal tersebut ditujukan untuk mempercepat pelepasan kargo yang diangkut ke dan dari ASEAN dalam rangka untuk mengurangi biaya transaksi dan waktu yang dibutuhkan di wilayah tersebut. ASW juga

(13)

8 harus dilihat sebagai bagian dari rantai pasokan global dan industri logistik yang bekerja untuk merealisasikan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang efektif.

Perspektif pengembangan ASW terdiri dari suatu kolaborasi yang harmonis dan kemitraan antara Administrasi Pabean dan instansi pemerintah, serta aktor-aktor ekonomi dan para operator (misalnya importir, eksportir, operator transportasi, broker pabean, forwarder, entitas perbankan komersial dan lembaga keuangan, asuransi, dan sejenisnya) dalam kerangka rantai pasokan internasional di mana transaksi internasional berlangsung. ASW dan National Single Windows (NSW) beroperasi di lingkungan terbuka (fungsional dan teknis) yang memberikan peluang lebih lanjut bagi hubungan operasional untuk sistem kliring lain terhadap negara lain setelah kondisi siap.

Batasan ASW yang disepakati sejauh ini adalah suatu lingkungan dimana NSW dari negara-negara anggota ASEAN beroperasi dan berintegrasi. NSW sendiri didefinisikan sebagai sebuah sistem yang memungkinkan dilakukannya:

a) Satu pengajuan data dan informasi (a single submission of data and information); b) Suatu sistem pemrosesan yang terintegrasi (a single and synchronous processing of

data and information);

c) Keputusan tunggal/akhir dalam proses penyelesaian pabean (a single decision-making for customs release and clearance).

Pembuatan keputusan tunggal diartikan sebagai satu titik ujung keputusan penyelesaian barang oleh pabean berdasarkan keputusan-keputusan (yang relevan atas barang tersebut) dari departemen/lembaga terkait yang disampaikan tepat waktu kepada Pabean.

(14)

9 ASW adalah lingkungan di mana sepuluh NSW (merepresentasikan jumlah negara anggota ASEAN) beroperasi dan berintegrasi untuk mempercepat pelepasan dan penyelesaian pabean. Cara kerja ASW didasarkan pada hubungan antara aktor ekonomi dalam bentuk Pemerintah-ke-Pemerintah, Pemerintah-ke-Bisinis, Bisnis-ke-Bisnis atau Bisnis-ke-Pemerintah. Sistem ini juga bekerja dalam konteks peningkatan penyederhanaan dan harmonisasi prosedur kepabeanan dan formalitas serta standardisasi dari parameter informasi dengan standar internasional. ASW menerapkan pengolahan informasi yang canggih (Teknologi Informasi dan Komunikasi-TIK), dan mengintegrasikan dirinya melalui lingkungan jaringan yang aman. Model konseptual ASW adalah sebagai berikut:

Gambar 1. Model Konseptual ASEAN Single Window

(15)

10 Dalam konsep yang lebih luas, ASW beroperasi di lingkungan yang terdiri dari fitur sinkronisasi progresif dan proses integrasi dan parameter informasi yang terstandarisasi oleh pihak terkait (pemerintah dan bisnis). Pengolahan hubungan konseptual dan fungsional dalam Model Konseptual ASW adalah sebagai berikut:

Gambar 2. Diagram Alur Pengelolaan Informasi ASEAN Single Window

Sumber: ASW Technical Guide, 2006

Pada tingkat nasional, terdapat enam area utama pengolahan informasi dan data yang terkoordinasi untuk proses penyelesaian yang lebih cepat seperti yang diilustrasikan pada Gambar 2. Area tersebut memperhatikan transaksi rinci antara pemerintah dan lembaga administrasi, agen ekonomi dan operator (misalnya importir, eksportir, operator transportasi,

(16)

11 broker pabean, forwarder, entitas perbankan komersial dan lembaga keuangan, asuransi, dan sejenisnya), dan penyelesaian prosedur oleh otoritas manajemen di setiap bagian (manajemen perdagangan, bea cukai dan manajemen pajak, dan lain-lain). Area pengolahan informasi di NSW meliputi

a) Pabean;

b) Instansi Pemerintah lainnya (OGAs); c) Industri Perbankan dan Asuransi; d) Industri Transportasi;

e) Dunia Usaha; dan

f) Mata Rantai ASEAN/ Internasional.

Struktur tersebut juga menjelaskan bahwa, meskipun Administrasi Pabean merupakan komponen vital dari sebuah national single window, kerjasama dan keterlibatan komponen-komponen lain sangat menentukan apakah sebuah sistem pelayanan kepabeanan memenuhi kriteria sebagai sistem single window. Bahkan terdapat mata rantai ASEAN/Internasional yang memungkinkan hubungan komunikasi data antar 10 (national) single window di ASEAN bahkan dimungkinkan dengan entitas non-ASEAN.

Perlu diingat bahwa NSW diupayakan untuk menjadi poros (hub) yang netral, aman dan handal untuk bisnis, industri dan pemerintah untuk berkomunikasi, bertukar dan mengolah informasi perdagangan dan logistik dalam rangka mewujudkan proses penyelesaian perizinan barang dan komoditas yang efisien. Model konseptual NSW adalah sebagai berikut:

(17)

12 Gambar 3. Model Konseptual National Single Window

Sumber: ASW Technical Guide, 2006

ASW dan NSW berkerja di lingkungan yang lebih global untuk meningkatkan efisiensi perdagangan dan daya saing. Peningkatan daya saing untuk transaksi internasional pada perekonomian regional ditempuh melalui:

 Standardisasi perdagangan terkait data dan informasi yang sesuai;

 Standarisasi dan harmonisasi dokumen dan formalitas dengan standar dan konvensi

internasional;

 Penyederhanaan dan standarisasi alur proses bisnis yang berhubungan dengan

perizinan kargo; dan

(18)

13 ASW dan NSW berfungsi untuk memfasilitasi perdagangan dan investasi berdasarkan penyederhanaan, standarisasi dan modernisasi prosedur, praktek dan parameter informasi yang relevan untuk manajemen perdagangan dan kepabeanan kargo, dengan maksud untuk mencapai rilis barang dan pengiriman yang lebih pasti dan cepat di kawasan ASEAN. Pelaksanaannya akan dipengaruhi oleh upaya-upaya kolektif oleh kementerian dan lembaga, khususnya Administrasi Pabean. ASW dan NSW dibentuk untuk mempromosikan integrasi regional melalui ASEAN Economic Community melalui perbaikan kompatibilitas sistem fungsional transaksi perdagangan internasional, manajemen perdagangan (termasuk sistem release dan clearance) dan kontrol oleh para pemangku kepentingan di masing-masing negara.

Tujuan dibangunnya sistem NSW dan ASW adalah untuk meningkatkan kinerja pelayanan atas lalu-lintas barang di kawasan ASEAN, khususnya yang menyangkut masalah kepabeanan dan kargo. Oleh karena itu ada 4 prinsip yang menjadi dasar bagi pengimplementasian sistem NSW dan ASW ini, yaitu konsistensi, simplifikasi, transparansi, dan juga efisiensi. Secara sederhana, apa yang dikehendaki oleh ASW Agreement tersebut adalah agar masing-masing negara ASEAN dapat membuat suatu Common-portal, yang memungkinkan dilakukannya pertukaran data dalam rangka customs clearance and cargo release dalam satu layanan tunggal elektronik. Common-portal yang ada di masing-masing negara ASEAN itulah yang kemudian diintegrasikan ke dalam common-portal ASW, sehingga memungkinkan dilakukannya pertukaran data dalam rangka customs clearance and cargo release secara lebih luas lagi ditingkat ASEAN.

(19)

14 ASW Agreement mengamanatkan negara-negara anggota ASEAN untuk membangun dan mengimplementasikan NSW secara tepat waktu dalam rangka pembentukan ASW. Negara ASEAN-6 yang meliputi Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand ditargetkan mengimplementasikan NSW masing-masing pada akhir tahun 2008, sedangkan negara ASEAN lainnya yang mencakup Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam diharapkan dapat mengoperasikan NSW-nya paling lambat pada akhir tahun 2012.

2.2. Perkembangan INATRADE

Tahapan pembangunan dan pengembangan NSW sampai saat ini telah mencapai implementasi tahap nasional untuk perizinan impor yang diresmikan oleh Presiden RI tanggal 29 Januari 2010. Mengingat besarnya cakupan sistem yang akan dibangun, kompleksitas permasalahan dan banyaknya instansi yang dilibatkan serta jumlah pengguna yang sangat besar, maka penerapan Sistem NSW di Indonesia dilakukan secara bertahap (Gambar 4).

(20)

15 Gambar 4. Tahapan Pembangunan NSW di Indonesia

Sumber: Ditjen Daglu, 2011

Dalam rangka mendukung pelaksanaan Indonesia National Single Window (INSW), Kementerian Perdagangan telah membangun dan mengembangkan sistem perijinan secara elektronik melalui internet (e-licencing) dengan nama INATRADE. Sistem INATRADE mulai beroperasi sejak tanggal 17 Desember 2007 bersamaan dengan implementasi NSW Tahap I di pelabuhan Tanjung Priok. Sebagai landasan hukum pembangunan dan pengembangan INATRADE telah diterbitkan Peraturan Menteri Perdagangan sebagai berikut :

(21)

16 a. Permendag No. 28/M-DAG/PER/6/2009, tentang Ketentuan Pelayanan Perijinan Ekspor Dan Impor Dengan Sistem Elektronik Melalui INATRADE Dalam Kerangka Indonesia National Single Window;

b. Kepmendag No. 934/M-DAG/KEP/6/2009, tentang Pembentukan Tim Pengelola INATRADE;

c. Perdirjen No. 14/DAGLU/KEP/8/2009, tentang Prosedur Operasi Standar (Standard Operating Procedure) Registrasi Hak Akses INATRADE dan Dokumen Persetujuan Hak Akses INATRADE Dalam Kerangka Indonesia National Single Window;

d. Permendag No. 32/M-DAG/PER/10/2010, tentang Unit Pelayanan Perdagangan (UPP); e. Permendag No. 40/M-DAG/PER/10/2010, tentang Jenis Perijinan Ekspor Dan Impor,

Prosedur Operasi Standar (Standard Operating Procedure) Dan Tingkat Layanan (Service Level Arrangement) Dengan Sistem Elektronik Melalui INATRADE Dalam Kerangka Indonesia National Single Window.

Berdasarkan Permendag tersebut di atas, Kementerian Perdagangan terus berupaya meningkatkan pelayanan publik khususnya pelayanan di Bidang Perdagangan Luar Negeri, salah satunya melalui penerapan INSW dan INATRADE yang perkembangannya cukup signifikan dalam mendorong kinerja pelayanan ekspor impor untuk mengatasi permasalahan yang menghambat kelancaran arus barang.

Selain itu, website INATRADE dapat digunakan untuk mengajukan perijinan secara online, melihat status perijinan manual sehingga pelaku usaha tidak perlu lagi datang secara langsung ke kantor Kementerian Perdagangan, serta laporan realisasi yang harus

(22)

17 disampaikan oleh importir atau eksportir sebagai amanat Peraturan Menteri Perdagangan (Tinjauan Terkini Perdagangan Indonesia, 2010).

Sejak diterapkan, Kementerian Perdagangan telah menerima pengajuan 53 (lima puluh tiga) jenis perijinan yang merupakan penyederhanaan dari 78 (tujuh puluh delapan) perijinan impor yang dapat diajukan secara online melalui website INATRADE (http://inatrade.kemendag.go.id) ke portal INSW oleh seluruh importir yang terlebih dahulu mereka harus memiliki password dan user name sesuai dengan aturan yang ditetapkan dan mempercepat proses customs clearance dengan mengirimkan sisa perijinan impor yang diproses secara manual ke portal INSW melalui webservice INATRADE, dengan demikian seluruh perijinan impor (53 perijinan) telah dikirim secara mandatory ke portal NSW secara elektronik untuk customs clearance (Gambar 5). Selain itu juga, terkait perijinan ekspor Kementerian Perdagangan telah membangun sistem SKA otomasi di 28 (dua puluh delapan) Instansi Penerbit SKA (IPSKA) serta telah mempercepat layanan publik terkait dengan penerbitan SKA.

Selain perijinan impor melalui website INATRADE yang dikirim ke portal INSW, Laporan Surveyor (LS) dan Certificate of Inspection (COI) yang diterbitkan oleh Surveyor juga dikirimkan ke portal INSW. Sementara itu, dalam rangka uji coba NSW ekspor di pelabuhan Tanjung Perak, perijinan ekspor yang telah dikirimkan ke portal NSW sudah mencakup 5 (lima) perijinan, yaitu: Eksportir Terdaftar Rotan (ETR), Persetujuan Ekspor Rotan, LS Ekspor Rotan, Persetujuan Ekspor Migas dan Persetujuan Ekspor Skrap Logam. Dalam rangka mandatory NSW ekspor yang dilakukan bulan Oktober 2010, maka seluruh perijinan ekspor yang diterbitkan oleh Kementerian Perdagangan akan dikirim melalui

(23)

18 portal NSW yaitu terdiri dari 28 (dua puluh delapan) Perijinan Ekspor, 7 (tujuh) Laporan Surveyor (LS), serta 1 (satu) Perijinan Ekspor berupa Endorsement dari BRIK.

Gambar 5. Skema INATRADE Dalam Rangka INSW & ASW

SAP /

Customs

e-BPOM, Sister Karolin

- Sipusra / Karantina

Kementerian

Lainnya

INATRADE/ Kemendag

INSW

ASW

Importir Eksportir Daglu PDN Bapebti Lembaga Lainnya

* KSO, IPSKA, Disperindag dll

Sumber: Ditjen Daglu, 2011

2.3. Mekanisme Sistem Online INATRADE

Aplikasi INATRADE merupakan aplikasi pengajuan perijinan ekspor-impor milik Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang dapat dilakukan secara online melalui internet, sangat mudah, dan efisien. Aplikasi INATRADE ini dapat digunakan para pelaku usaha dalam proses pengajuan permohonan perijinan baik ijin ekspor maupun impor.

(24)

19 Tatacara penggunaan pelayanan perijinan ekspor dan impor dengan sistem elektronik melalui aplikasi INATRADE, baik yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan maupun dalam panduan-panduannya, sebagai berikut :

Penggunaan layanan online perijinan ekspor/impor melalui INATRADE, yang diatur

dalam Peraturan Menteri Perdagangan No : 28/M-DAG/PER/6/2009;

 Panduan penggunaan aplikasi INATRADE;

 Pendaftaraan registrasi untuk mendapatkan Hak Akses INATRADE dan kemilikan

Kode Verifikasi data realisasi ekspor/impor yang dimiliki perusahaan. Adapun alur dari permohonan ijin melalui INATRADE adalah sebagai berikut: 1. Pelaku usaha membuka website INATRADE

2. Pelaku usaha melakukan login atau registrasi bagi yang belum memiliki user name dan password

3. Setelah melakukan pendaftaran, akan mendapatkan email konfirmasi. Setelah itu segera datangi Unit Pelayanan Terpadu untuk validasi profile user dan perusahaan, selain itu harus menyerahkan dokumen yang dibutuhkan.

4. Petugas loket akan memeriksa kelengkapan dokumen pengaju perijinan. Setelah semuanya lengkap maka user pun telah selesai divalidasi dan dapat langsung digunakan.

5. Setelah melakukan login atau registrasi, pelaku usaha dapat mengajukan permohonan perijinan secara online dan melihat status perijinannya.

(25)

20 6. Setelah surat permohonan telah selesai diterbitkan, pelaku usaha dapat datang untuk

mengambil perijinan tersebut (Ditjen Daglu, 2011).

Layanan Aplikasi INATRADE

Untuk masuk pada layanan aplikasi INATRADE terlebih dahulu user harus membuka website INATRADE yang ada di http://inatrade.kemendag.go.id/; kemudian user bisa memilih apakah akan masuk pada konten Layanan Perdagangan Luar Negeri (DAGLU), Layanan Perdagangan Dalam Negeri (DAGRI), atau masuk pada konten Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI). Konten Layanan DAGLU dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, dimana dalam konten ini menyediakan layanan pengajuan permohonan perijinan secara online, dengan jenis layanannya sebagai berikut :

 Status Permohonan, layanan untuk mengecek status terkini permohonan perusahaan

dengan mengisi data sesuai dengan lembar Tanda Terima Permohonan Perijinan;

 Laporan Realisasi, bagi perusahaan/importir/pelaku usaha yang ingin melaporkan data

realisasi impor melalui form entry yang tersedia pada aplikasi INATRADE;

 Impor Barang Jadi, layanan untuk melakukan permohonan penetapan dalam daftar

produsen yang dapat melakukan impor barang jadi;

 Daftar HS, Gunakan layanan ini untuk mengetahui HS diatur oleh ijin di Kementerian

Perdagangan;

(26)

21

 Laporan Realisasi, untuk melaporkan setiap kegiatan importasi yang dilakukan melalui

form entry yang tersedia pada aplikasi INATRADE;

 Larangan dan Pembatasan, konten bagi perusahaan/importir/pelaku usaha untuk dapat

melihat barang-barang yang terkena larangan dan pembatasan impor.

Sementara itu konten Layanan DAGRI, dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, dengan menyediakan konten layanan online sebagai berikut:

Pengajuan Online, perusahaan/importir/pelaku usaha dapat mengajukan permohonan

perijinan secara online;

Document Tracking, perusahaan/importir/pelaku usaha dapat melihat alur proses

permohonan perijinan yang di ajukan;

 Cek Status Sertifikat, perusahaan/importir/pelaku usaha dapat melihat status sertifikat

yang sudah diajukan;

 Berita, perusahaan/importir/pelaku usaha dapat melihat berita-berita terbaru mengenai

perdagangan dalam negeri.

Sedangkan konten BAPPEBTI, dilaksanakan oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi yang memiliki tugas pokok melaksanakan pembinaan, pengaturan dan pengawasan kegiatan perdagangan berjangka serta pasar fisik dan jasa. Adapaun BAPPEBTI menyediakan konten layanan online sebagai berikut:

 Resi Gudang Anda dapat melihat dan mencari resi gudang;

(27)

22

 Harga Komoditi, perusahaan/importir/pelaku usaha dapat melihat harga-harga komoditi

di seluruh Indonesia mulai level terbawah hingga teratas;

Edukasi, perusahaan/importir/pelaku usaha dapat melihat glossary, brosur/leaflet dan

artikel.

Dalam setiap melakukan pengajuan perijinan online, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah kemudahan akses ke web, kemudahan mengakses form laporan realisasi ekspor/impor serta kepastian keamanan data, selain itu kemudahan melakukan registrasi untuk mendapatkan hak akses INATRADE harena 1 (satu) hak akses ini hanya diberikan kepada satu perusahaan. Dengan memiliki hak akses INATRADE, para pelaku usaha tidak perlu lagi memiliki Kode Verifikasi untuk setiap perijinan yang dimiliki perusahaan. Selain untuk melaporkan realisasi ekspor/impor secara online, hak akses juga dapat digunakan untuk mengajukan permohonan perijinan impor.

(28)

23

3

METODOLOGI

3.1 Kerangka Teori

Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006). Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnyakondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.

Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan sobjek yang diteliti secara tepat. Dalam perkembangan akhir-akhir ini, metode penelitian deskriptif juga banyak di lakukan oleh para penelitian karena dua alasan. Pertama, dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian di lakukan dalam bentuk deskriptif. Kedua, metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia.

Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak melakukan manipulasi variabel dan tidak menetapkan peristiwa yang akan terjadi, dan biasanya menyangkut peristiwa-peristiwa yang saat sekarang terjadi. Dengan penelitian deskriptifi, peneliti memungkinkan untuk

(29)

24 menjawab pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan hubungan variabel atau asosiasi, dan juga mencari hubungan komparasi antarvariabel.

Langkah-langkah pelaksanaan penelitian deskriptif

Penelitian dengan metode deskriptif mempunyai langkah penting seperti berikut:

 Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui

metode deskriptif.

 Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas.

 Menentukan tujuan dan manfaat penelitian.

 Melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan.

 Menentukan kerangka berpikir, dan pertanyaan penelitian dan atau hipotesis penelitian.

 Mendesain metode penelitian yang hendak digunakan termasuk dalam hal ini

menentukan populasi, sampel, teknik sampling, menentukan instrumen, mengumpulkan data, dan menganalisis data.

 Mengumpulkan, mengorganisasikan, dan menganalisis data dengan menggunakan

teknik statistika yang relevan.

 Membuat laporan penelitian

Furchan (2004:448-465) menjelaskan, beberapa jenis penelitian deskriptif, yaitu; (1) Studi kasus, yaitu, suatu penyelidikan intensif tentang individu, dan atau unit sosial yang dilakukan secara mendalam dengan menemukan semua variabel penting tentang perkembangan individu atau unit sosial yang diteliti. Dalam penelitian ini dimungkinkan

(30)

25 ditemukannya hal-hal tak terduga kemudian dapat digunakan untuk membuat hipotesis. (2) Survei. Studi jenis ini merupakan studi pengumpulan data yang relatif terbatas dari kasus-kasus yang relatif besar jumlahnya. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan informasi tentang variabel dan bukan tentang individu. Berdasarkan ruang lingkupnya (sensus atau survai sampel) dan subyeknya (hal nyata atau tidak nyata), sensus dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori, yaitu: sensus tentang hal-hal yang nyata, sensus tentang hal-hal yang tidak nyata, survei sampel tentang hal yang nyata, dan survei sampel tentang hal-hal yang tidak nyata. (3) Studi perkembangan. Studi ini merupakan penelitian yang dilakukan untuk memperoleh informasi yang dapat dipercaya bagaimana sifat-sifat anak pada berbagai usia, bagaimana perbedaan mereka dalam tingkatan-tingkatan usia itu, serta bagaimana mereka tumbuh dan berkembang. Hal ini biasanya dilakukan dengan metode longitudinal dan metode cross-sectional. (4) Studi tindak lanjut, yakni, studi yang menyelidiki perkembangan subyek setelah diberi perlakukan atau kondisi tertentu atau mengalami kondisi tertentu. (5) Analisis dokumenter. Studi ini sering juga disebut analisi isi yang juga dapat digunakan untuk menyelidiki variabel sosiologis dan psikologis. (6) Analisis kecenderungan. Yakni, analisis yang dugunakan untuk meramalkan keadaan di masa yang akan datang dengan memperhatikan kecenderungan-kecenderungan yang terjadi. (7) Studi korelasi. Yaitu, jenis penelitian deskriptif yang bertujuan menetapkan besarnya hubungan antar variabel yang diteliti.

(31)

26 3.2 Data dan Sumber Data

Data primer diperoleh melalui survey dan focus group discussion (FGD) dengan pelaku usaha/importir. Survey telah dilakukan dibeberapa daerah yaitu Sulawesi Selatan, Batam, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, sedangkan FGD dilakukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk importir, beberapa aspek yang digali informasinya meliputi:

(i) Pengetahuan dan pemahaman pelaku usaha terkait perijinan impor online melalui INATRADE

(ii) Kemudahan dalam mengakses sistem INATRADE (iii) Kejelasan informasi melalui sistem INATRADE

(iv) Persepsi mengenai prosedur layanan perijinan INATRADE (v) Persepsi responden terhadap keberadaan sistem INATRADE

Selain itu data primer juga diperoleh melalui benchmarking ke beberapa negara yaitu Taiwan, Korea Selatan dan Thailand untuk membandingkan sistem online yang mendukung NSW di masing-masing negara dengan diarahkan untuk hal-hal sebagai berikut:

(i) Tujuan dari dikeluarkannya kebijakan perijinan online di masing-masing negara; (ii) Jenis dan jumlah perijinan yang ditangani secara online dan apakah menyatu dengan

sistem NSW;

(iii) Koordinasi sistem perijinan online antar instansi di masing-masing negara.

Selain data primer, data yang dikumpulkan untuk penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari publikasi di internet, yakni dari website INATRADE.

(32)

27 3.3 Metode & Instrumen Survey

Survey lapangan dilakukan kepada pengguna sistem INATRADE. Survey dilakukan melalui wawancara baik secara langsung dan tidak langsung melalui web INATRADE, namun secara keseluruhan kuesioner diberikan kepada responden untuk kemudian dikembalikan kepada tim pengkaji dimana pertanyaan yang digunakan dibuat terstruktur.

Sebelum survey dilaksanakan, kuesioner telah ditelaah dan direview sehingga diperoleh masukan baik dari kalangan akademisi serta pejabat, ketua, dan anggota tim pengkaji dari Kementrian Perdagangan yang berkepentingan terhadap kegiatan ini. Survey awal atau pre-test dilakukan sebelum pelaksanaan survey sesungguhnya, kemudian diperoleh masukan tentang pertanyaan yang sukar dipahami agar diperbaiki dan dimodifikasi untuk mempermudah pelaksanaan survey sesungguhnya.

Kuesioner penelitian terdiri dari lima bagian, meliputi (1) pertanyaan saringan; (2) identitas responden; (3) pemanfaatan internet dalam perusahaan; (4) penggunaan sistem INATRADE; dan (5) persepsi responden terhadap keberadaan sistem INATRADE. Disamping itu, ada juga kuesioner tambahan untuk mengetahui sejauhmana pengalaman responden dalam menggunakan sistem INATRADE berkaitan dengan permohonan pengajuan ijin.

Penyajian hasil survey menekankan pada analisa deskriptif berdasarkan temuan dilapangan. Hasil survey disajikan dalam bagian tersendiri yang merupakan output dari kuesioner yang telah diberikan kepada responden, dalam hal ini adalah responden yang telah menggunakan sistem INATRADE dalam pengurusan dokumen perijinannya.

(33)

28 3.4 Kerangka Pemikiran Penelitian

Dalam rangka mendukung pelaksanaan Indonesia National Single Windows (INSW), Kementerian Perdagangan berinisiatif membangun sistem perijinan secara online yaitu INATRADE. Dengan adanya sistem tersebut diharapkan proses perijinan menjadi lebih sederhana karena diproses melalui layanan elektronik melalui internet (e-licencing) serta biaya murah sehingga pada akhirnya akan memperlancar arus barang serta dapat meningkatkan daya saing Indonesia dalam persaingan global. Namun, sejak beroperasinya sistem perijinan online INATRADE pada 17 Desember 2007 hingga saat ini, ada sebanyak 1.688 pemilik hak akses namun hanya 6,8% yang memanfaatkan hak akses tersebut melakukan perijinan secara online melalui webservice INATRADE.

Oleh karena itu, kajian ini ingin mengevaluasi bagaimana implementasi dari pelaksanaan sistem perijinan INATRADE, dengan membandingkan manfaat yang diperoleh pelaku usaha baik sebelum dan sesudah diterapkannya sistem INATRADE ini, serta mengetahui permasalahan dan hambatan apa yang dihadapi selama implementasi system ini dilihat dari sisi pengguna, unit pengelola serta pemilik hak akses. Untuk mengetahui ini semua dianalisis secara deskriptif berdasarkan hasil survey dan Focus Group Discussion (FGD). Seperti yang terlihat pada gambar 6 di bawah ini:

(34)

29 Gambar 6. Kerangka Pemikiran Penelitian

INATRADE (Perijinan Impor)

Rendahnya pemanfaatan hak akses Sebelum INATRADE Setelah INATRADE Manfaat  Waktu  Transparansi  Akurat  Biaya  Sosialisasi Manfaat  Waktu  Transparansi  Akurat  Biaya  Sosialisasi

Rekomendasi kebijakan optimalisasi manfaat INATRADE dalam rangka memperlancar arus barang di Indonesia

Permasalahan dan hambatan implementasi INATRADE

 SDM (pengguna, unit pengelola)

 Pemilik hak akses

Indonesia National Single Window

(INSW)

(35)

30

4

HAMBATAN DAN PERMASALAHAN INATRADE

4.1. Manfaat Sebelum dan Sesudah Penerapan INATRADE

Sistem INATRADE diterapkan untuk meningkatkan efisiensi pelayanan penyelesaian dokumen sekaligus berfungsi untuk meningkatkan efektivitas pengawasan ekspor impor. Sistem ini diharapkan menjadi salah solusi untuk mendukung pelaksanaan INSW dan meningkatkan daya saing nasional serta meningkatkan fasilitas perdagangan dalam menghadapi persaingan global.

Bagian ini akan melihat sejauh mana manfaat yang diperoleh responden dari kelompok sebelum dan sesudah penerapan INATRADE. Responden yang merasakan manfaat sebelum penerapan INATRADE dilihat dari mereka yang menggunakan sistem INATRADE untuk pertama kalinya sedangkan responden yang merasakan manfaat setelah penerapan INATRADE dilihat dari mereka yang telah menggunakan sistem INATRADE atau dengan kata lain sistem INATRADE bukan pertama kali digunakan oleh responden.

Manfaat yang dirasakan responden terkait penggunaan sistem INATRADE adalah kemudahan dalam mengakses sistem INATRADE, kemudahan dalam mengecek atau memonitor ijin, kemudahaan dalam membantu proses kelengkapan dokumen, dan kemudahan dalam prioritas layanan prosedur perijinan.

Gambar 7 menunjukkan manfaat yang diperoleh responden terhadap kemudahan dalam mengakses sistem INATRADE terhitung tinggi. Bagi responden yang menggunakan INATRADE pertama kali, merasakan manfaat kemudahan dalam mengakses INATRADE

(36)

31 yang lebih besar (95,15%) dibandingkan responden yang sudah terlebih dahulu menggunakan (84,78%). Rendahnya penilaian responden yang bukan pertama kali menggunakan INATRADE terhadap manfaat yang diperoleh harus menjadi perhatian serius bagi pengelola sistem. Karena jika perhatian yang diberikan kurang optimal maka pengguna yang baru pertama kali mencoba dan akan menggunakan layanan untuk kedua kalinya berpotensi untuk memberikan penilaian serupa dengan responden yang bukan pertama kali menggunakan INATRADE.

Gambar 7. Kemudahaan dalam Mengakses INATRADE

Ya 95.16% Tidak 4.84%

Sebelum

Ya 84.78% Tidak 15.22%

Sesudah

Sumber : Data primer diolah

Manfaat yang diperoleh responden dalam mengecek atau memonitor ijin menunjukkan hal yang sama dengan sebelumnya (Gambar 8). Responden yang baru menggunakan INATRADE memberikan penilaian yang tinggi (sebesar 93,65%) terhadap kemudahan dalam mengecek atau memonitor ijin. Meskipun penilaian ini lebih rendah

(37)

32 dibandingkan manfaat sebelumnya, terbilang cukup konsisten. Penilaian yang lebih rendah diberikan bagi mereka yang telah menggunakan INATRADE terkait manfaat kedua.

Gambar 8. Kemudahaan dalam Mengecek atau Memonitor Ijin

Ya 93.65% Tidak 6.35%

Sebelum

Ya 84.78% Tidak 15.22%

Sesudah

Sumber : Data primer diolah

Berikutnya, manfaat yang diperoleh responden untuk kemudahan dalam melengkapi dokumen (Gambar 9). Responden yang baru pertama kali menggunakan INATRADE merasakan manfaat kemudahan dalam proses kelengkapan dokumen (93,55%). Sebaliknya, responden yang sudah terlebih dahulu menggunakan INATRADE memberikan penilaian yang lebih kecil untuk manfaat kemudahan dalam proses kelengkapan dokumen yaitu sebesar 83,33%.

(38)

33 Gambar 9. Kemudahaan dalam Membantu Proses Kelengkapan Dokumen

Sumber : Data primer diolah

Gambar 10. Kemudahaan dalam Prioritas Layanan Prosedur Perijinan

Ya 86.44% Tidak 13.56%

Sebelum

Ya 89.36% Tidak 10.64%

Sesudah

(39)

34 Bentuk manfaat lain adalah kemudahan pemohon untuk menerima prioritas layanan dalam pengurusan prosedur perijinan. Gambar 10 menunjukkan bahwa responden yang baru pertama kali menggunakan INATRADE memberikan penilaian yang lebih rendah (86,44%) dibandingkan dengan responden yang terlebih dahulu menggunakan sistem tersebut. Penilaian yang rendah dari responden pemula terhadap manfaat prioritas layanan merupakan yang paling kecil dibandingkan bentuk manfaat lain yang telah diperoleh sebelumnya. Tentu, ini harus dicarikan jalan keluar karena jika dilihat dari kelompok responden bukan pemula ternyata memberikan jawaban yang cenderung konsisten terhadap bentuk manfaat yang telah diperoleh sebelumnya.

Kecenderungan penurunan dari penilaian kelompok responden yang bukan pertama kali menggunakan sistem INATRADE perlu ditelusuri sebabnya. Jika dilihat lebih jauh, sistem ini tampaknya belum menjamin kepastian dan ketepatan terhadap prosedur pengurusan dokumen yang sedang diajukan oleh pemohon sehingga mereka merasa belum mendapatkan manfaat yang optimal dari sistem INATRADE tersebut.

4.2. Peningkatan Efisiensi Pemanfaatan INATRADE

INATRADE dibangun untuk mengurangi biaya transaksi melalui peningkatan efisiensi waktu, biaya dan akurasi data dalam proses penanganan perijinan. Sistem INATRADE diharapkan dapat mendukung pelaksanaan Indonesia National Single Window (INSW) dan meningkatkan daya saing nasional serta meningkatkan fasilitasi perdagangan dalam menghadapi persaingan global.

(40)

35 Maka, sudah seharusnya jika sistem ini memberikan kejelasan sistem informasi yang diberikan dalam petunjuk penggunaan INATRADE. Bagian ini akan menyajikan penilaian responden terkait kejelasan informasi yang berguna untuk meningkatkan efisiensi proses perijinan melalui prosedur, syarat, biaya, dan waktu. Responden dibagi menjadi dua kelompok yaitu mereka yang baru pertama kali menggunakan INATRADE dan kelompok responden yang sudah menggunakan INATRADE terlebih dahulu.

Gambar 11 menunjukkan penilaian responden terhadap kejelasan informasi yang diterima dalam pengurusan dokumen perijinan dengan INATRADE. Kelompok responden yang baru pertama kali menggunakan INATRADE, memberikan penilaian sebesar 83,61%. Penilaian ini lebih tinggi dibandingkan responden yang sudah menggunakan INATRADE terlebih dahulu yang hanya sebesar 79,59%. Tingginya persentase penilaian dari kelompok responden yang sudah terlebih dahulu menggunakan INATRADE perlu diperhatikan serius oleh pengelola sistem INATRADE karena persentase dengan kelompok yang baru pertama kali ternyata tidak jauh berbeda.

Gambar 11. Kejelasan Informasi INATRADE

Sumber : Data primer diolah

Ya 83.61% Tidak 16.39%

Sebelum

Ya 79.59% Tidak 20.41%

Sesudah

(41)

36 Gambar 12. Kejelasan Prosedur

Cukup Jelas 75.00% Tidak Jelas 12.50% Kurang Jelas 12.50%

Sebelum

Cukup Jelas 90.91% Tidak Jelas 9.09% Kurang Jelas 0.00%

Sesudah

Sumber : Data primer diolah

Penilaian responden terkait efektivitas dalam bentuk kejelasan prosedur menunjukkan bahwa penilaian responden yang sudah menggunakan INATRADE terlebih dahulu memberikan penilaian yang lebih tinggi dibandingkan pengguna pemula (Gambar 12). Penilaian yang diberikan sebesar 90,91% untuk kelompok responden pemohon INATRADE bukan pemula, sedangkan kelompok responden pemula sebesar 75,00%. Kelompok responden pengguna pemula masih merasa kurang jelas untuk prosedur tersebut. Ini ditunjukkan dengan masih adanya responden yang memberikan pilihan tersebut yaitu sebesar 12,5%.

(42)

37 Gambar 13. Kejelasan Syarat

Cukup Jelas 87.50% Tidak Jelas 12.50% Kurang Jelas 0.00%

Sebelum

Cukup Jelas 77.78% Tidak Jelas 22.22% Kurang Jelas 0.00%

Sesudah

Sumber : Data primer diolah

Gambar 13 menunjukkan penilaian responden terhadap kejelasan syarat yang diinformasikan dalam sistem INATRADE. Responden yang pertama kali menggunakan sistem INATRADE menganggap syarat yang diinformasikan sudah cukup jelas, ini terlihat dari 87,5% responden menjawab pilihan tersebut. Sedangkan responden yang sudah terlebih dahulu menggunakan sistem INATRADE cenderung memberikan penilaian yang lebih rendah (77,28%) terkait kejelasan syarat yang diinformasikan melalui sistem INATRADE.

Responden yang memberikan kejelasan biaya dalam pengurusan prosedur perijinan melalui sistem INATRADE sangat berbeda diantara kelompok responden yang pertama kali menggunakan sistem tersebut dibandingkan kelompok yang sudah (gambar 14). Bagi kelompok responden yang pertama kali menggunakan INATRADE, seluruh responden

(43)

38 mengganggap biaya yang dibebankan sudah jelas untuk pengurusan prosedur perijinan. Disini ada ekspektasi yang tinggi dari pengguna bahwa sistem INATRADE yang terkomputerisasi dapat memberikan kepastian biaya pengurusan dokumen. Namun ketika ada penambahan intensitas pengurusan dokumen, penilaian responden cenderung beragam bahkan terdapat banyak ketidakpastian. Ini ditunjukkan dengan persentasepenilaian responden yang cukup besar dalam menjawab tidak jelas dan kurang jelas. Masing-masing sebesar 40% dan 30%. Hanya 30% responden saja yang menjawab cukup jelas terkait kejelasan biaya pengurusan dokumen dengan INATRADE.

Gambar 14. Kejelasan Biaya

Cukup Jelas 100% Tidak Jelas 0% Kurang Jelas 0%

Sebelum

Cukup Jelas 30% Tidak Jelas 40% Kurang Jelas 30%

Sesudah

Sumber : Data primer diolah

Pendapat hampir senada dengan diatas juga terjadi untuk kejelasan waktu dalam pengurusan prosedur perijinan dengan sistem INATRADE. Responden yang baru pertama kali mengguankan INATRADE menaruh harapan besar bahwa sistem ini dapat

(44)

39 memberikan kejelasan waktu selesainya dokumen perijinan yang mereka ajukan. Mayoritas bahkan seluruhnya memberikan penilaian cukup jelas terkait ketepatan waktu dokumen yang berhasil diajukan. Namun bagi kelompok responden yang sudah pernah menggunakan sistem tersebut, hanya separuh kelompok responden tersebut yang memberikan penilaian cukup jelas untuk ketepatan waktu. Sisanya, responden memberikan penilaian kurang jelas dan tidak jelas, masing-masing sebesar 37,5% dan 12,5%. Temuan ini memberikan indikasi bahwa untuk efisiensi dari implementasi INATRADE perlu ditingkatkan karena dari segi biaya dan waktu dirasa masih kurang bagi responden (gambar 15).

Gambar 15. Kejelasan Waktu

Sumber : Data primer diolah

Cukup Jelas 100% Tidak Jelas 0% Kurang Jelas 0%

Sebelum

Cukup Jelas 50% Tidak Jelas 12% Kurang Jelas 38%

Sesudah

(45)

40 Tabel 1. Kepraktisan INATRADE

Sebelum Sesudah

Tidak Mengisi 23.53 10.77 Ya 76.47 89.23

100.00

100.00

Sumber : Data primer diolah

Peningkatan efisiensi manfaat dalam bentuk kepraktisan yang dirasakan responden pengguna sistem INTARADE ditunjukkan dalam tabel 1. Bagi responden yang baru pertama kali menggunakan sistem, mayoritas yang menjawab “ya” sebesar 76,47%. Sedangkan responden yang telah menggunakan sistem dan menjawab “ya” adalah sebesar 89,23%. Tingginya persentase yang diberikan responden yang sudah menggunakan sistem dan menjawab “ya” bisa jadi karena responden tersebut sudah merasakan kepraktisan dari pengurusan dokumen yang bisa dilakukan dari tempat kerja dengan bermodalkan koneksi internet yang baik.

4.3. Hasil Survey Luar Negeri

Survey ke luar negeri dilakukan untuk membandingkan sistem online yang mendukung NSW di masing-masing negara dengan diarahkan untuk hal-hal sebagai berikut:

Tujuan dari dikeluarkannya kebijakan perijinan online di masing-masing negara; Jenis dan jumlah perijinan yang ditangani secara online dan apakah menyatu dengan sistem NSW;

(46)

41 Koordinasi sistem perijinan online antar instansi di masing-masing negara. Ada tiga negara yang dipilih sebagai tujuan survey kajian ini, yaitu Taiwan, Korea Selatan dan Thailand.

4.3.1. Taiwan

Taiwan telah memulai untuk membangun sistem online sejak 1992. Pada tahun tersebut paperless/online system digunakan pada customs clearance. Dalam online system tersebut terdapat 16 lembaga yang terlibat dan lebih dari 90% sertifikat telah dikeluarkan secara paperless. Namun demikian, berdasarkan informasi yang di peroleh dari pelaku usaha di Taiwan, pelaku usaha lebih banyak menggunakan jasa custom brokers untuk mengurus perijinan yang terkait dengan customs clearance.

Taiwan akan meluncurkan National Single Window (NSW) pada tahun 2013. NSW tersebut mengintegarsikan 3 sistem online yaitu: administrasi perdagangan, administrasi pelabuhan dan kepabeanan. Tujuan dikeluarkannya kebijakan perijinan online yang ada di Taiwan adalah mengkombinasikan sistem komputer yang digunakan oleh berbagai lembaga dan biro dalam 3 area: trade administration, port administration dan customs; mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk aplikasi, dan meningkatkan keamanan dalam wilayah perbatasan, di luar wilayah perbatasan dan dalam daerah perbatasan. Ada beberapa jenis perijinan yang ada di Taiwan yaitu: perijinan di bidang ekspor/impor untuk komoditi yang harus dikontrol ekspor/impornya yang berada di Bureau of Foreign Trade (BOFT) Ministry of Economic Affairs, sistem jaringan cargo clearance automation yang dilaksanakan sejak tahun 1990 oleh Trade Van Information Services Co. yang merupakan lembaga yang didirikan oleh Kementerian Keuangan.

(47)

42 Selain Custom Clearance Automation, layanan Trade-Van terdiri dari: Layanan Monitoring Cargo Secara Real Time (Real Time Cargo Status Tracking and Monitoring Services), E-Tax Filing dan E-procurement. Layanan Monitoring Cargo Secara Real Time adalah layanan jasa yang dapat mendeteksi pergerakan kontainer barang dengan alat tertentu. Saat ini Trade-Van juga menjalin kerjasama dengan Korea melalui Korea Trade Net (KTNET) yang merupakan Korea Customs Service Provider dalam proyek E-Certificate of Origin (ECO). Sistem ini diharapkan dapat mempermudah pelaku usaha di kedua negara.

4.3.2. Korea Selatan

Ada beberapa jenis sistem online yang ada di Korea Selatan, antara lain:

Terkait dengan penerbitan Surat Keterangan Asal (C/O) yang dilakukan oleh Korea

Chamber of Commerce and Industry (KCCI). Penerbitan C/O baik untuk non-preferential C/O dan non-preferential C/O secara elektronik melalui sistem WEB/internet baru direalisasikan pada bulan Oktober 2006 dengan terlebih dahulu diperkenalkan sistem ASP (Active server Pages) pada tahun 2001 oleh KCCI. Tujuan adanya sistem ini adalah untuk meningkatkan keamanan dan pemeliharaan sistem keamanan internet, serta dapat berbagi basis data dengan institusi pemerintah terkait.

Landasan hukum KCCI untuk menerbitkan C/O adalah Foreign Trade Act (Ministry of Knowledge Economy mendelegasikan pernerbitan C/O kepada KCCI), Special Act for FTA (KCCI dan Korea Customs Service ditujuk sebagai institusi resmi penerbit C/O

Gambar

Gambar 1. Model Konseptual ASEAN Single Window
Gambar 2. Diagram Alur Pengelolaan Informasi ASEAN Single Window
Gambar 5. Skema INATRADE Dalam Rangka INSW & ASW
Gambar 7.  Kemudahaan dalam Mengakses INATRADE
+7

Referensi

Dokumen terkait