DALAM MENGURANGI RESIKO CEDERA
BERULANG DAN DERAJAT Q-ANGLE PADA
PENDERITA PATELLOFEMORAL PAIN SYNDROME
ABDURRASYID
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2013
DALAM MENGURANGI RESIKO CEDERA
BERULANG DAN DERAJAT Q-ANGLE PADA
PENDERITA PATELLOFEMORAL PAIN SYNDROME
ABDURRASYID NIM 1190361008
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI FISIOLOGI OLAHRAGA-FISIOTERAPI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
ii
BERULANG DAN DERAJAT Q-ANGLE PADA
PENDERITA PATELLOFEMORAL PAIN SYNDROME
Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister
Pada Program Magister Program Studi Fisiologi Olah Raga Konsentrasi Fisioterapi,
Program Pascasarjana Universitas Udayana
ABDURRASYID NIM 1190361008
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI FISIOLOGI OLAHRAGA-FISIOTERAPI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
iii
TESIS INI TELAH DISETUJUI
TANGGAL SEPTEMBER 2013
Mengetahui,
Ketua Program Studi Fisiologi Olahraga – Fisioterapi Program Pascasarjana Universitas Udayana, Prof.DR.dr.J.Alex Pangkahila,M.Sc,Sp.And NIP. 19440201 196409 1 001 Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana, Prof.Dr.dr.A.A.Raka Sudewi,Sp.S(K) NIP. 195902151985102001
iv
Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor
Universitas Udayana, No.: 1815/UN.14.4/HK/2013, Tanggal 25 September 2013
Ketua : Prof. dr. Dewa Putu Sutjana, PFK, M.Erg
Anggota :
1. Muhammad Irfan, SKM, S.Ft, M.Fis 2. Dr. dr. Bagus Komang Satriyasa, M.Repro 3. Syahmirza Indra Lesmana, SKM, S.Ft, M.OR 4. DR. dr. I Made Jawi, M.Kes
v
Telepon (036021-701812), 701954, 703138, 703139, Fax.(0361)-701907, 702442 Laman: www.unud.ac.id
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Abdurrasyid
Nim : 1190361008
Program Studi : Magister Fisiologi Olahraga Konsentrasi Fisioterapi Judul Tesis : Penggunaan Kinesiotape Selama Tiga Hari Tidak Berbeda
Dengan Perekat Plasebo Dalam Mengurangi Resiko Cedera Berulang dan Derajat Q-Angle Pada Penderita Patellofemoral Pain Syndrome.
Dengan ini menyatakan bahwa karya ilmiah tesis ini bebas plagiat. Apabila dikemudian hari terbukti terdapat plagiat dalam karya ilmiah ini, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai peraturan Mendiknas RI No . 17 tahun 2010 dan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Denpasar, 3 Oktober 2013 Pembuat pernyataan
Abdurrasyid Nim: 1090361008
vi
bentuk ibadah dalam pencarian ilmu dan menjadi manfaat yang berguna bagi penulis dan sesama manusia. Berkat rizki-Nya, penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan lancar.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Prof. dr. Dewa Putu Sutjana, PFK, M. Erg selaku pembimbing I, yang telah membimbing penulis untuk dapat memahami dan menyelesaikan tesis ini. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada Muhammad Irfan, SKM, S.Ft, M.Fis yang telah memberikan semangat kepada penulis untuk terus belajar memahami dan membimbing penulis agar dapat menyelesaikan tesis ini. Berkat jasa mereka, penulis dapat terus memperjuangkan penelitian ini. Selain itu, mereka juga sebagai motivator yang dapat dicontoh dalam pengaplikasian ilmu.
Ucapan terimakasih juga ditujukan kepada Rektor Universitas Udayana Prof. Dr. dr. Ketut Suastika,Sp.PD,KEMD atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magister Di Universitas Udayana. Ucapan terimakasih ini juga ditujukan kepada Direktur Program Pasca Sarjana Universitas Udayana Prof.Dr.dr.A.A.Raka Sudewi,Sp.S(K) atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menjadi mahasiswa Program Magister pada Program Pasca Sarjana Universitas Udayana. Tidak lupa pula penulis ucapkana terimakasih kepada Prof.Dr.dr.J.Alex Pangkahila,M.Sc,Sp.And selaku Ketua Program Studi
vii
Ucapan terimakasih penulis sampaikan pula kepada para penguji tesis, Dr. dr. Bagus Komang Satriyasa, M.Repro, Syahmirza Indra Lesmana, SKM, S.Ft, M.OR, Muhammadn Irfan, SKM,S. FT, M.Fis, DR. dr. I Made Jawi, M.Kes yang telah memberikan masukan, saran, bimbingan, sanggahan dan koreksi sehingga tesis ini dapat terwujud menjadi lebih baik.
Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada seluruh staff dosen pengajar dan staff pengelola Program Studi Fisiologi Olahraga Konsentrasi Fisioterapi Pascasarjana Universitas Udayana yang telah membantu dan memberi dukungan bagi penulis sebagai mahasiswa. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak dan Ibu tercinta, Idrus Jus’at, Phd, dan Childa Maisni,
M. Kes beserta seluruh keluarga yang telah menjadi inspirasi bagi penulis untuk menyelesaikan tesis ini. Tidak lupa pula sahabat dan kekasih, Ayu Rahma Aisyah, S.Ft yang selalu mendukung dalam proses penyelesaian tesis ini. Selain itu Kepada rekan Indonesia Sport Medicine Centre (ISMC), Sport and Wellness Centre Universitas Pelita Harapan, Jong Physiotherapy Project (JPP) dan ARA Physiotherapy Clinic yang telah memberikan kesempatan dan waktu bagi penulis untuk menyelesaikan Program Pascasarjana Fisiologi Olahraga Konsentrasi Fisioterapi Universitas Udayana. Tak lupa pula saya hanturkan rasa terima kasih kepada rekan Magister Fisiologi Olahraga 2011/2012 seperti Fadhil, Kak Medi,
viii
profesi setelah menyelesaikan pendidikan Program Pascasarjana Fisiologi Olahraga Konsentrasi Fisioterapi Universitas Udayana.
Semoga Allah SWT selalu menuntun dan melimpahkan rahmatnya kepada penulis dan memberikan rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tesis ini. AMIN.
Denpasar, 3 Oktober 2013 Hormat Saya,
ix
PENDERITA PATELLOFEMORAL PAIN SYNDROME
Abdurrasyid
Banyaknya atlet yang menderita Patellofemoral Pain Syndrome (PFPS) menggunakan kinesiotape saat bertanding atau dalam waktu kurang dari dua minggu, menjadi sebuah pertanyaan apakah ada efektifitasnya saat digunakan ketika bertanding dan berlatih. Tujuan penelitian ini untuk memastikan penggunaan kinesiotape selama tiga hari tidak berbeda dengan perekat plasebo dalam mengurangi resiko cedera berulang dan menurunkan q-angle pada penderita patellofemoral pain syndrome (PFPS). Metode penelitian ini eksperimental dengan rancangan randomized clinical trial design. Sampel sebanyak 17 atlit yang menderita PFPS dan waktu observasi selama tiga hari. Kelompok dibagi menjadi dua, yaitu kelompok kinesiotape (n=9) sebagai perlakuan dan kelompok plasebo (n=8) sebagai kontrol. Instrumen pengukuran yang digunakan adalah functional movement screening (FMS) dan q-angle.
Hasil yang didapat dari penelitian ini didapatkan kelompok kinesiotape mampu mengurangi resiko cedera berulang p = 0,002 (p < 0,05). Begitu pula dengan kelompok plasebo juga mampu mengurangi resiko cedera berulang p = 0,01 (p < 0,05). Kinesiotape mampu menurunkan derajat q-angle dengan p = 0,004 (p < 0,05). Begitu pula dengan kelompok plasebo juga mampu mengurangi derajat q-angle dengan p = 0,008 (p < 0,05). Uji beda pada pengukuran FMS menggunakan independent-t test didapatkan p = 0,777 (p > 0,05), dan uji beda dengan pengukuran q-angle menggunakan mann-whitney test didapatkan p = 0,63 (p > 0,05).
Kesimpulan yang didapat bahwa penggunaan kinesiotape dan perekat plasebo mampu mengurangi resiko cedera berulang dan derajat q-angle selama tiga hari. Hal ini menjelaskan bahwa menggunakan kinesiotape memiliki efektifitas yang sama dengan perekat plasebo yang tidak elastis saat digunakan ketika bertanding dan berlatih.
Kata kunci : kinesiotape, resiko cedera berulang, q-angle, patellofemoral pain syndrome, functional movement screening.
x
PATELLOFEMORAL PAIN SYNDROME
Abdurrasyid
Many athletes who suffer Patellofemoral Pain Syndrome (PFPS), they using kinesiotape while playing or less than two weeks, this condition make a question of there are efficacy when used kinesiotape while playing and practicing. The purpose of this study to ensure the use of kinesiotape for three days did not differ with adhesive placebo in reducing the risk of repetitive injury and q-angle in patients with patellofemoral pain syndrome (PFPS). The experimental research method to design randomized clinical trial design. Sample of 17 athletes who suffer from PFPS and time of observation for three days. Divided into two groups, kinesiotape groups (n = 9) as the treatment and placebo groups (n = 8) as a control. Measurement instruments used were Functional Movement Screening (FMS) and Q-angle.
The results of this study, kinesiotape group able to reduce the risk of repetitive injury with p = 0.002 (p <0,05). Placebo group was also able to reduce the risk of repetitive injury p = 0.01 (p <0,05). Kinesiotape able to decrease q- angle with p = 0.004 (p <0,05). Placebo group was also able to reduce the q-angle with p = 0.008 (p <0,05). At different test measurements FMS using independent t-test p = 0.777 (p> 0.05), and a different test with q-angle measurements using the Mann-Whitney test p = 0.63 (p> 0,05).
The conclusion that the use of kinesiotape and adhesives placebo can reduce the risk of recurrent injury and the degree of q-angle for three days. It is clear that using kinesiotape have the same effectiveness with placebo were not elastic adhesive while playing a game and practicing.
Key Words : kinesiotape, repeated injury, q-angle, patellofemoral pain syndrome, functional movement screening.
xi
PRASYARAT GELAR MAGISTER...……….. LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING………... LEMBAR PENETAPAN PENGUJI………. SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT……….. UCAPAN TERIMA KASIH………. ABSTRAK ………...………. ABSTRACT………... DAFTAR ISI……….. DAFTAR GAMBAR...……….. DAFTAR TABEL……….. DAFTAR LAMPIRAN………. DAFTAR SINGKATAN ATAU TANDA……… BAB I PENDAHULUAN……….. 1.1 Latar Belakang………... 1.2 Rumusan Masalah……….. 1.3 Tujuan Penelitian……… 1.3.1 Tujuan Umum………. 1.3.2 Tujuan Khusus……… 1.4 Manfaat Penelitian………. BAB II KAJIAN PUSTAKA……….
2.1 Patellofemoral Pain Syndrome……….. 2.1.1 Pengertian………... 2.1.2 Anatomi dan Biomekanik………..
2.1.2.1 Anatomi Patela………... 2.1.2.2 Gaya vektor Otot Quadriceps……… 2.1.2.3 Sudut Quadricep (Q-angle).……….. 2.1.2.4 Reseptor Saraf Sensoris………. 2.1.2.5 Rantai Kinetik……… 2.1.3 Etiologi Patellofemoral Pain Syndrome………. 2.1.4 Patofisiologi Patellofemoral Pain Syndrome………
2.1.4.1 Faktor Neuromuskular………... 2.1.4.2 Faktor Biomekanika……….. 2.1.5 Pemeriksaan Spesifik pada PFPS………...
2.1.5.1 Pemeriksaan Manual Ortopedi……….. 2.1.5.2 Mengukur Q-angle………. 2.1.5.3 Antropometri Quadriceps………. 2.1.6 Penanganan Patellofemoral Pain Syndrome……….. 2.2 Kinesiotape………. 2.2.1 Pengertian………... 2.2.2 Pengaruh Fisiologi………. ii iii iv v vi ix x xi xiv xvi xvii xviii 1 1 4 4 5 5 6 7 7 7 7 7 8 11 13 14 16 16 18 19 21 22 23 23 24 24 24 26
xii
BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS………... 3.1 Kerangka Berpkir ……….. 3.2 Kerangka Konsep………... 3.3 Hipotesis………. BAB IV METODE PENELITIAN……… 4.1 Rancangan Penelitian………. 4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian……….. 4.3 Penentuan Sumber Data……….
4.3.1 Populasi……….. 4.3.2 Sampel……… 4.3.2.1 Kriteria Inklusi………. 4.3.2.2 Kriteria Eksklusi……….. 4.3.3 Besar Sampel……….. 4.3.4 Teknik Pengambilan Sampel………. 4.4 Variabel Penelitian……… 4.4.1 Variabel Bebas……….. 4.4.2 Variabel Tergantung………. 4.4.3 Definisi Operasional……….. 4.5 Pengukuran Q-Angle……… 4.6 Instrumen Penelitian……….. 4.7 Prosedur Penelitian………. 4.7.1 Tahap Persiapan………. 4.7.2 Pengambilan Data Awal……….. 4.7.3 Tahap Pemilihan dan Penentuan Sampel……… 4.7.4 Tahap Pelaksanaan Penelitian……… 4.7.5 Alur Penelitian……… 4.8 Analisis Data……….. BAB V HASIL PENELITIAN……….
5.1 Deskripsi Karakteristik Subjek Penelitian.………. 5.2 Uji normalitas dan homogenitas data…...……….…. 5.3 Uji Peningkatan nilai FMS pada kelompok Kinesiotape……… 5.4 Uji peningkatan nilai FMS pada kelompok plasebo……….. 5.5 Uji penurunan q-angle pada kelompok kinesiotape………... 5.6 Uji Penurunan q-angle pada kelompok plasebo………. 5.7 Uji Kompatibilitas………..………. 5.8 Uji Hipotesis Peningkatan Kemampuan Functional Movement
Screening Antara Kedua Kelompok Perlakuan .……… 5.9 Uji Hipotesis Penurunan Q-angle Antara Kedua Kelompok Perlakuan.
36 36 38 39 40 40 41 41 41 41 41 42 42 43 44 44 44 44 59 59 59 59 60 60 61 62 63 67 67 68 70 71 71 72 72 74 75
xiii
6.2 Penggunaan Kinesiotape Selama Tiga Hari Tidak Berbeda Dengan Perekat Plasebo Dalam Menurunkan Q-angle pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome……….. 6.3 Kelemahan dan Upaya Penelitian.……… BAB VII SIMPULAN DAN SARAN..……… 7.1 Simpulan…………..……… 7.2 Saran………... . DAFTAR PUSTAKA……… LAMPIRAN……….. 79 81 83 83 83 85 93
xiv
2.2 Sudut tekanan pada sendi patellofemoral……… 2.3 Perlekatan Iliotibial band dan tractus iliotibial di tuberculum Gerdys’s… 2.4 Gambaran dari pengukuran Q-angle……… 2.5 Saraf Sensoris Sensi Lutut……… 2.6 Ilustrasi Patela tilt ke lateral akibat tidak stabilnya sisi medial………… 2.7 Grafik perbedaan Q-angle antara yang tidak cedera dengan yang cedera... 2.8 A. Sendi Patellofemoral dalam posisi normal. B. (lihat dari atas ke bawah) Patela bergeser ke lateral, patella terangkat ke lateral, dan patela internal rotasi……….. 2.9 Patellar Apprehension Test……….. 2.10 Pengukuran Q-angle……… 2.11 Pengaruh Kinesiotape Pada Jaringan Lunak……… 2.12 Grafik Observasi EMG Perubahan Aktivitas Otot dengan Menggunakan Kinesiotape……… 2.13 Piramida hubungan aktifitas fisik terhadap resiko cedera……… 2.14 Komponen kemampuan fungsional……… 2.15 Grafik linear hubungan antara nilai FMS dengan resiko cedera………… 3.1 Bagan Kerangka Konsep……… 4.1 Rancangan Penelitian……… 4.2 Aplikasi Kinesiotape pada Otot Vastus Medialis Oblique……… 4.3 Aplikasi Kinesiotape pada Patela……… 4.4 Aplikasi Kinesiotape pada Otot Vastus Lateralis dan Iliotibial Band…… 4.5 Aplikasi Kinesiotape Koreksi Facia Iliotibial Band dan Vastus Lateralis. 4.6 Aplikasi Perekat Placebo……… 4.7 Gerakan Deep Squat……… 4.8 Gerakan Hurdle Step……… 4.9 Gerakan In Line Lunges……… 4.10 Active Straight Leg Raise…………...………
9 11 12 14 19 20 21 22 23 27 28 29 31 34 38 40 45 46 47 48 48 50 52 54 55
xv
6.1 Grafik rerata Peningkatan FMS Pada kedua kelompok perlakuan……… 6.2 Grafik rerata penurunan Q-angle pada kedua kelompok………
78 80
xvi
2.2 Etiologi PFPS menurut beberapa pendapat……….. 2.3 Kemampuan Uluran Kinesiotape………. 2.4 Potensi Faktor Resiko Cedera……… 2.5 Nilai Kappa dalam perbandingan nilai rata-rata penilai amatir dengan penilai berpengalaman……… 4.1 Formulir Penilaian FMS……….……… 4.2 Penilaian Functional Movement Screening……… 4.3 Instrumen Penelitian yang digunakan……… 5.1 Data Numerik Karakteristik Subjek Penelitian……… 5.2 Data kategorik Umum Karakteristik Subjek Penelitian……… 5.3 Uji Normalitas dan Uji Homogenitas Data instrument Hasil Penelitian … 5.4 Uji Peningkatan nilai FMS pada kelompok kinesiotape dengan t-test related……… 5.5 Uji Peningkatan nilai FMS pada kelompok plasebo dengan t-test related.. 5.6 Uji penurunan Q-angle pada kelompok kinesiotape dengan Wilcoxon Sign Rank test………. 5.7 Uji penurunan Q-angle pada kelompok plasebo dengan Wilcoxon Sign Rank test………... 5.8Uji Kompatibilitas sebelum perlakuan kedua kelompok variabel FMS….. 5.9 Uji Kompatibilitas sebelum perlakuan kedua kelompok variabel Q-angle……… 5.10 Uji Hipotesis kemampuan Functional Movement Screening Antara kedua kelompok perlakuan dengan Independent T-test……… 5.11 Uji Hipotesis Penurunan Q-angle Antara Kedua Kelompok Perlakuan dengan Mann-Whitney test………
17 26 30 35 56 58 59 67 68 69 70 71 71 72 73 73 74 75
xvii
Lampiran 3. Lembar Evaluasi………...……….. Lampiran 4.Uji Statistik……….………
105 107
xviii VMO VL Q-Angle FMS SIAS VI RF VML VLL VLO ITB MPFL MPML MPTL ASIS PAN LAN MAN PCL ACL OKC CKC CSA MRI KT EMG PNF cm
: Vastus Medialis Oblique : Vastus Lateralis
: Quadriceps Angle
: Functional Movement Screening : Superios Illiac Anterior Spine : Vastus Intermedius
: Rectus Femoris
: Vastus Medialis Longus : Vastus Lateralis Longus : Vastus Lateralis Obilque : Illio-tibial Band
: Medial Patello-femoral Ligament : Medial Patello-Meniscal Ligament : Medial Patello-tibial Ligament : Anterior Superilliac Spine : Posterior Articular Nerve : Lateral Articular Nerve : Medial Articular Nerve : Posterior Cruciate Ligament : Anterior Cruciate Ligament : Open Kinetic Chain
: Closed Kinetic Chain : Cross Sectional Area
: Magnetic Resonance Imaging : Kinesiotape
: Electromyography
: Propioceptive Neuromuscular Facilitation : Centimeter
xix Maks ≥ o ± % < > = α p : Maksimal
: Lebih dari sama dengan : Derajat : Kurang Lebih : Persen : Kurang dari : Lebih dari : Sama Dengan : Alpha : Probabilitas
1
Perkembangan alat bantu kesehatan untuk atlet yang sedang mengalami cedera kini sudah sangat banyak jenisnya, salah satunya kinesiotape. Atlet biasanya menggunakan kinesiotape hanya saat bertanding dan berlatih, namun saat ini belum ada yang dapat menjelaskan efektifitas kinesiotape dalam penggunaan saat bertanding atau dalam waktu yang singkat. Menurut beberapa pendapat, kinesiotape yang digunakan saat bertanding bertujuan untuk mengurangi gejala nyeri yang terjadi dan mengurangi resiko cedera berulang (Mostavafifar et al. 2012; Mo-An et al. 2012). Kinesiotape merupakan perekat elastis yang diaplikasikan di atas kulit untuk mengurangi rasa nyeri, mengurangi bengkak, menurunkan spasme, dan membantu kinerja otot-otot saat melakukan aktifitas olahraga (Cheng-Fu et al. 2008). Perekat ini sangat elastis dan dapat diulur hingga 100%, sehingga saat digunakan tidak membatasi gerak sendi dan membantu kinerja otot khususnya (Kase et al.2003).
Salah satu cedera yang sering dialami oleh atlet adalah Patellofemoral Pain Syndrome (PFPS) yaitu gangguan pada persendian patela dengan adanya nyeri lutut bagian depan (Aminaka et al. 2005; Wayasz et al. 2008). Patellofemoral pain syndrome ini ditandai dengan adanya bengkak, ketegangan otot quadriceps, kelemahan kelompok otot quadriceps, ketegangan otot illiotibial band, posisi lutut valgus, dan bentuk telapak kaki yang datar. Umumnya, PFPS disebabkan oleh karena penurunan kekuatan dan penurunan aktivitas fungsional pada otot
vastus medialis oblique (VMO) yang sebagai stabilisator dinamis sisi medial tulang patella (Powers et al. 2010). Sampai saat ini data prevalensi PFPS di Indonesia belum ada. Namun, melihat prevalensi di Iran pada atlit wanita berkisar 16,74% lebih kecil dibandingkan di negara Amerika yang angkanya mencapai 25% (Nejati et al. 2011).
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadi cedera berulang pada penderita patellofemoral pain syndrome, yaitu faktor biomekanika, faktor neuromuskular, dan faktor psikologis. Faktor psikologis sebagai alat prediksi cedera ada empat faktor yang memungkinkan terjadinya cedera pada atlet, yaitu sifat kecemasan somatik, sifat kecemasan psikis, rentan timbulnya stress, dan sifat mudah marah (Ivarsson dan Johnson. 2010).
Selain itu, faktor biomekanika dan neuromuskular merupakan faktor yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya, kedua faktor tersebut mempengaruhi kinerja gerakan fungsional untuk mendapatkan performa olahraga yang optimal. Faktor biomekanika mempengaruhi dari luas gerak sendi dan posisi postur tubuh. Sedangkan faktor neuromuskular mengarahkan gerakan fungsional karena adanya aktivitas kinerja dari saraf yang akan mempengaruhi gerakan otot dan sendi menjadi satu kesatuan kinerja yang kompleks (Samuel et al. 2012).
Untuk memastikan metode kinesiotape yang digunakan saat pertandingan (dalam waktu singkat) berhasil atau tidak, tentunya memerlukan alat untuk mengukur terkait dalam mengurangi resiko cedera berulang dan menurunkan q-angle pada penderita PFPS pada saat bertanding atau berlatih. Resiko cedera dapat diprediksi dengan cara mengobservasi setiap gerakan fungsional dalam aktivitas
olahraga. Observasi tersebut menilai ada tidaknya gerakan kompensasi ataupun kehilangan keseimbangan dalam gerakan fungsional yang dijadikan sebagai pemeriksaan. Penilaian tersebut dengan Functional Movement Screening (FMS) (Cook et al. 2006).
FMS digunakan untuk mengidentifikasi faktor resiko yang potensial untuk melihat resiko cedera muskuloskeletal yang mungkin akan terjadi. FMS dapat digunakan sebagai program awal dalam menyusun program latihan pencegahan cedera. FMS menggunakan observasi gerakan fungsional sebagai tolak ukur dalam memprediksi resiko cedera. Gerakan fungsional merupakan gerakan dasar dalam olahraga yang memerlukan kekuatan otot, kelenturan, luas gerak sendi, koordinasi, keseimbangan, dan propiosepsi (Schneider et al. 2011).
Pengukuran q-angle ialah mengukur sudut kemiringan dari otot quadriceps terhadap tulang panggul sisi depan (superior illiac anterior spine (SIAS) dan tuberositas tibia dengan menggunakan goniometer. Hal tersebut untuk melihat posisi tulang patela yang mengalami pergeseran ke lateral pada penderita PFPS.
Berdasarkan penjelasan di atas atlet yang menderita PFPS memerlukan penanganan agar atlit dapat melakukan latihan dan bertanding, sehingga dapat mengurangi resiko cedera berulang ataupun memperburuk kondisi cedera PFPS yang saat ini dialaminya. Maka dari itu, peneliti ingin membuktikan pengaruh dari pemberian kinesiotape dalam mengurangi resiko cedera berulang dan menurunkan q-angle pada penderita PFPS dengan memberikan pembanding menggunakan perekat tidak elastis sebagai plasebo yang di aplikasikan dengan tujuan yang sama pada kinesiotape.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.2.1 Apakah penggunaan kinesiotape selama tiga hari dapat mengurangi resiko cedera berulang pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome?
1.2.2 Apakah penggunaan perekat plasebo selama tiga hari dapat mengurangi resiko cedera berulang pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome? 1.2.3 Apakah penggunaan kinesiotape selama tiga hari dapat mengurangi derajat
Q-angle pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome?
1.2.4 Apakah penggunaan perekat plasebo selama tiga hari dapat mengurangi derajat Q-angle pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome?
1.2.5 Apakah penggunaan kinesiotape selama tiga hari tidak berbeda dengan perekat plasebo dalam mengurangi resiko cedera berulang pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome?
1.2.6 Apakah penggunaan kinesiotape selama tiga hari tidak berbeda dengan perekat plasebo dalam mengurangi derajat Q-angle pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1.3.1 Tujuan Umum
1.3.1.1 Untuk mengetahui tidak adanya perbedaan penggunaan kinesiotape dengan perekat plasebo selama tiga hari dalam mengurangi cedera berulang pada penderita patellofemoral pain syndrome.
1.3.1.2 Untuk mengetahui tidak adanya perbedaan penggunaan kinesiotape dengan perekat plasebo selama tiga hari dalam mengurangi derajat Q-angle pada penderita patellofemoral pain syndrome.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui penggunaan kinesiotape selama tiga hari dapat mengurangi resiko cedera berulang pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome.
1.3.2.2 Untuk mengetahui penggunaan perekat plasebo selama tiga hari dapat mengurangi resiko cedera berulang pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome.
1.3.2.3 Untuk mengetahui penggunaan kinesiotape selama tiga hari dapat mengurangi derajat Q-angle pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome.
1.3.2.4 Untuk mengetahui penggunaan perekat plasebo selama tiga hari dapat mengurangi derajat Q-angle pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan yang telah disebutkan di atas. Saya sebagai peneliti mengharapkan dari hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1.4.1 Peneliti
Dapat mengetahui tidak adanya perbedaan penggunaan kinesiotape dengan perekat plasebo selama tiga hari pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome (PFPS) dalam mencegah resiko cedera ulang dan mengurangi derajat q-angle dapat memberi tahukan kepada antar peneliti dan praktisi.
1.4.2 Fisioterapi
Untuk dapat mengaplikasikan kinesiotape, serta mampu mengevaluasi resiko cedera yang mungkin akan terjadi dengan menggunakan Functional Movement Screening (FMS) pada atlit.
1.4.3 Atlit
Untuk dapat mengaplikasikan pemasangan kinesiotape secara mandiri jika tidak ada fisioterapis yang mendampingi.
1.4.4 Pelatih Fisik
Untuk dapat mengaplikasikan Functional Movement Screening (FMS) untuk melihat resiko cedera atlit pada pre-season.
7 2.1 Patellofemoral Pain Syndrome (PFPS)
2.1.1 Pengertian
Permasalahan Patellofemoral pain syndrome (PFPS) ini tepatnya mengalami kelainan pada komponen sendi lutut, yaitu pada sendi patellofemoral. PFPS merupakan salah satu permasalahan pada sendi lutut yang sering dialami oleh masyarakat dan atlet, selain dari kesobekan pada ligamen sendi lutut (Heintjes et al. 2003; Lankhorst et al. 2012). PFPS merupakan istilah untuk kumpulan gejala dari patologi atau kelainan anatomi yang mengarah pada nyeri lutut depan seperti chondromalasia patella, jumper’s knee, intra-artcular patella chondropathy, patella arthralgia, runner’s knee (Witvrouw et al. 2005; Waryasz et al. 2008). Beberapa literatur menyatakan bahwa angka kejadian PFPS pada wanita lebih sering dibandingkan pria (Lankhorst et al. 2012). Nyeri tersebut dirasakan ketika melakukan aktivitas naik-turun tangga, squat, jogging, dan lompat (Hafez et al. 2012; Boonkerd. 2012).
2.1.2 Anatomi dan Biomekanik
2.1.2.1 Anatomi Patela
Melihat dari letaknya, posisi tulang patela melayang dan melekat insersi tendon quadriceps dan tendon patela. Serta berada di jalur trochlea femur, dimana tulang patela harus bergerak pada jalur tersebut untuk menghindari pergesekan
atau kontak langsung antar tulang patela dan femur yang dapat mempengaruhi dari ketidakseimbangan posisi dari tulang patela. Posisi tersebut dapat dilihat menggunakan foto sinar X dengan posisi sendi lutut fleksi 45o pada bidang aksial (Waryasz et al. 2008). Hasil foto pada posisi tersebut dapat kita lihat sudut kemiringan dan pergeseran ataupun stabilitas posisi tulang patella terhadap trochlea.
Gambar 2.1 Posisi Normal Patela Medial (Ym) dan Lateral (Yn) (Peterson et al. 2008)
2.1.2.2 Gaya Vektor Otot Quadriceps
Normalnya, sendi lutut pada posisi ekstensi posisi patela berada pada jalur trochlea dan saat sendi lutut posisi fleksi atau menekuk patela bergeser ke arah posterolateral. Penyebabnya, karena adanya ketegangan dari otot quadriceps dan tendon patela yang menghasilkan vektor gaya resultan yang dapat menggeser dan menekan patella ke arah posterolateral, namun saat sendi lutut diekstensikan tekanan tersebut berkurang dan patela kembali ke posisi normal (Amis. 2007).
Gambar 2.2 Sudut tekanan pada sendi patellofemoral (Reinold. 2009)
Gambar di atas menjelaskan gaya resultan yang menyebabkan pergeseran tulang patela ke sisi lateral saat sendi lutut difleksikan. Gaya resultan quadriceps berorientasi pada kekuatan otot vastus lateralis (VL), vastus intermedius (VI), rectus femoris (RF), dan vastus medialis (VM). Otot vastus lateralis disusun oleh dua komponen yang membentuk garis vektor, yaitu vastus lateralis longus (VLL) dan vastus lateralis oblique (VLO). Begitu pula dengan vastus medialis juga disusun dua komponen yang membentuk vektor, yaitu vastus medialis longus (VML) dan vastus medialis oblique (VMO). Jika dilihat dari bidang koronal, tekanan vektor otot quadriceps di tarik oleh VLO pada posisi 35o dan VLL pada sudut 14o ke arah lateral, oleh VI dan RF pada posisi 0o, dan pada sisi medial ditarik oleh VMO pada sudut 47o dan VML pada sudut 15o (Waryasz dan McDermott. 2008). Menurut Brotzman et al (2011), serabut otot VMO bekerja pada sudut 50o-55o dan serabut otot VLO bekerja pada sudut 30o-40o sepanjang garis tulang femur pada bidang coronal. Secara keseluruhan kemampuan otot
quadriceps adalah untuk menarik patella kearah posterior sagital untuk tetap menjaga posisi patella terhadap trochlea femur.
Tabel 2.1
Orientasi Resultan otot Quadriceps
Sumber VMO VLO
Brotzman et al. 2011 50o-55o 30o-40o Waryasz dan McDermott. 2008 47o 35o
Patela memerlukan jaringan lunak untuk dapat menstabilkan posisinya terhadap trochlea, jaringan tersebut terdiri dari medial dan lateral retinaculum. Pada retinaculum lateral terdiri dari dua lapisan; superficial oblique retinaculum dan deep tranverse retinaculum. Superficial oblique retinaculum merupakan puncak akhir dari perlekatan tendon patella, group otot vastus lateralis, dan illiotibial band (Waryasz dan McDermott. 2008). Illio-tibial band (ITB) berorigo pada tensor facia lata dan gluteus maximus. Berinsersi pada tuberculum gerdy’s dan melekat pada tendon patela, serta lapisannya melekat pada sisi lateral tulang patela (Amis. 2007). Berdasarkan letak melekatnya, insersi tendon ITB juga dapat menarik patela ke lateral saat sendi lutut fleksi dan meningkatkan gesekan antara patela dengan femur (Herrington et al. 2006).
Deep tranverse retinaculum terdiri dari tiga struktur; epicondylopatellar band atau lateral patellofemoral ligament, midportion, dan patellotibial band. Epicondylopatellar band menahan tulang patela pada sisi superolateral, midportion menahan pada posisi lateral dan patellotibial band mempertahankan posisi patela pada posisi inferolateral. Midportion berorigo dari ITB dan berinsersi pada sisi lateral patela (Waryasz dan McDermott. 2008).
Gambar 2.3 Perlekatan Iliotibial band dan tractus iliotibial di tuberculum Gerdys’s (Donnatelli dan Wooden. 2010)
Retinaculum sisi medial lebih tipis dibandingkan dengan sisi lateral dan terdiri dari tiga ligament yang mendukungnya; medial patellofemoral ligament (MPFL), medial patellomeniscal ligament (MPML), dan medial patellotibial ligament (MPTL) (Waryasz dan McDermott. 2008). MPFL menyatu dengan tendon VMO untuk dapat mempertahankan posisi patela ke medial agar tidak terjadi deviasi tulang patela ke lateral, terutama pada saat sendi lutut bergerak ekstensi dari posisi fleksi. Struktur jaringan ini memiliki kontribusi besar dalam mempertahankan posisi patela agar tidak terlalu bergeser atau dislokasi ke lateral sebesar 50%-60% saat fleksi 0-20o (Amis, 2007). Berdasarkan pemeriksaan in vitro menemukan kekuatan ligamen ini rata-rata 208 N (Amis et al. 2003).
2.1.2.3 Sudut Quadriceps (Q-angle)
Garis tegak lurus (alignment) anggota gerak bawah sangat mempengaruhi dari problem patellofemoral pain syndrome. Dimana telah dijelaskan di atas
Illiotibial band
Illiotibial tract
bahwa terdapat gaya resultan pada sendi lutut terkait dengan ketegangan dari kelompok otot quadriceps. Gaya resultan tersebut juga dipengaruhi oleh sudut dari panjangnya otot quadriceps terhadap sendi lutut dan gerak dari sendi patellofemoral. Sudut tersebut biasa disebut dengan Q-angle. Q-angle ini dilihat dengan menarik garis maya lurus dari anterior super iliac spine (ASIS) ke titik tengah dari tulang patela dan dari titik tengah patela ke tuberositas tibia (Jaiyesimi et al. 2009; Omololu et al. 2009). Sudut ini dapat diukur dengan menggunakan goniometer.
Menurut Grelsamer et al (2005), dalam penelitiannya menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan sudut q-angle antara pria dan wanita. Namun akan mengalami perbedaan jika salah satu dari pria atau wanita dengan tinggi badan yang berbeda. Karena pada tubuh dengan tinggi 168 sentimeter sudut q-angle berbeda 2 derajat dibandingkan dengan tubuh yang tingginya lebih dari 168 sentimeter.
2.1.2.4 Reseptor Saraf Sensoris
Reseptor saraf sensoris pada sendi patelofemoral terdiri dari ujung saraf bare, pacini, ruffini, golgi tendon organ, dan muscle spindle. Saraf sensoris utama yang mensuplai rangsangan sensoris sendi lutut adalah posterior articular nerve (PAN), lateral articular (LAN), medial articular (MAN), intramuskular, dan saraf otot. PAN adalah percabangan dari saraf tibialis yang didistribusikan ke posterior cruciate ligament (PCL), anterior cruciate ligament (ACL), posterior oblique ligament, insersi dari annular ligament pada meniskus mediolateral, posterior patela, kapsul posterior patela, ligamen kolateral fibular, dan ligament kolateral tibial. LAN adalah percabangan umum dari saraf peroneus yang mempersarafi kapsul sendi tibiofibula dan jaringan lunak sendi lutut sisi lateral. MAN adalah percabangan dari saraf saphenous yang mendistribusikan rangsangan ke kapsul sendi sisi anterior dan medial, meniskus medial, ligament kolateral tibia, kapsul posterior, permukaan patela, dan tendon patela. Intramuskular dan saraf otot termasuk dalam golgi tendon organ dan muscle spindle yang didistribusikan oleh
percabangan saraf femoralis, obturator, atau saraf sciatic tergantung dari posisi myotome (Waryasz dan McDermott. 2008).
Gambar 2.5 Saraf Sensoris Sendi Lutut (Jensen. 2008) 2.1.2.5 Rantai Kinetik
Kalau kita perhatikan dalam komponen rantai kinetik (kinetic chain) sendi lutut yaitu gerak fleksi dan ekstensi yang berhubungan dengan fungsi gerak dasar sendi lutut. Berdasarkan hal tersebut biomekanika dari sendi lutut dibagi menjadi dua komponen rantai kinetik, yaitu open kinetic chain (OKC) dan closed kinetic chain (CKC). Rantai kinetik ditujukan untuk melihat kinerja otot pada angota gerak bawah, yang memungkinkan untuk memberikan kekuatan, stabilisasi anggota gerak bawah, dan memberikan tekanan berkelanjutan mulai dari bagian distal pada akhir rantai kinetik (Nobre. 2012).
Open kinetic chain (OKC) merupakan suatu gerakan yang mentitik beratkan pada satu sendi saja, digerakkan oleh satu atau kelompok otot, melawan gravitasi bumi, dan tidak bertumpu pada tubuh. Sedangkan closed kinetic chain (CKC) merupakan suatu gerakan yang menggunakan lebih dari satu sendi yang bergerak dengan bertumpu pada berat tubuh untuk memberikan pembebanan pada lebih dari satu kelompok otot yang bekerja dalam waktu yang sama, baik agonis maupun antagonis dan meningkatkan aktifasi dari propiosepsi angota gerak bawah (Karandika et al. 2011; Nobre. 2012).
Berdasarkan konsep rantai kinetik tersebut, akan mempengaruhi dari gerak sendi patellofemoral. Saat gerakan OKC hanya ada kinerja dari otot quadriceps dan meningkatkan tekanan pada sendi patellofemoral. Karena titik gravitasi berada di depan sendi lutut dan jika dilakukan pada posisi 90 derajat fleksi ke ekstensi akan meningkatkan tekanan antara patela dengan trochlea. Saat gerakan dengan bentuk rantai kinetik CKC, akan meningkatkan stabilitas sendi patellofemoral dan meningkatkan aktivitas fungsional (Witvrouw et al. 2004 ; Nobre. 2012). Sendi patela ini ditujukan untuk mengatur gerak dari sendi lutut, yaitu untuk membantu gerak dari fleksi ke ekstensi dan sebagai lengan ayun yang membantu kinerja otot quadriceps pada posisi fleksi 20o-60o (Power et al. 2010). Tendon quadriceps yang melekat pada tulang patela disebut dengan tendon patela. Tendon patela ini merupakan komponen dari mekanisme gerak ekstensi dari sendi lutut. Tendon patela ini dapat menahan beban ketika posisi lutut fleksi saat gerakan closed kinetic chain (DeFrate et al. 2007).
2.1.3 Etiologi Patellofemoral Pain Syndrome
Berdasarkan pengertian yang sudah dijelaskan bahwa PFPS perupakan gangguan fungsi dari tulang patela terhadap letaknya pada trochlea tulang femur. Tentunya ada beberapa penyebab yang mengakibatkan adanya nyeri di sekitar tulang patela khususnya pada atlet. Dari beberapa studi mengatakan bahwa penyebab PFPS yang utama adalah adanya penurunan fungsi dari otot quadriceps. Menurut MacLean (2004), PFPS disebabkan oleh adanya ketidakstabilan tulang patela terhadap femur yang bergeser ke sisi lateral akibat dari kelemahan otot vastus medialis oblique (VMO). Bahkan otot VMO bisa menjadi atrofi sehingga kontrol kerja otot menurun (Jensen. 2008) (Tabel 2.2).
Otot VMO yang atrofi tersebut dibuktikan pula oleh Petty et al (2011), menyebutkan bahwa penyebab dari PFPS itu diakibatkan oleh adanya pengecilan otot (atrofi) vastus medialis sehingga terjadinya ketidakseimbangan kinerja dari grup otot quadriceps yang menjadikan kontrol motorik fungsional anggota gerak bawah menjadi berubah dan membentuk gerak kompensasi. Dalam penelitiannya, pada penderita PFPS terjadi penurunan cross sectional area dari otot VMO dengan pebedaan kurang lebih dua sentimeter (± 2 cm) dengan yang bukan penderita PFPS.
2.1.4 Patofisiologi Patellofemoral Pain Syndrome
PFPS merupakan kasus non trauma, melihat etiologi yang sudah dijelaskan di atas, tentunya ada proses yang menjadikan patellofemoral pain syndrome mengganggu aktifitas fisik atlet. Oleh karena adanya pergeseran dari posisi patela
terhadap trochlea yang dapat menimbulkan gesekan dan merusak dari kapsul sendi patellofemoral sehingga menimbulkan iritasi pada badan tulang patella sisi posterior dan tulang femur. Tentunya adanya iritasi tersebut menimbulkan rasa nyeri pada lutut sebagai tanda-tanda dari peradangan, seperti adanya bengkak dan suhu sendi lutut lebih hangat dibandingkan dengan kaki yang normal. Namun pada penderita PFPS yang sudah kronis akan ditemukan adanya atrofi grup otot quadriceps terutama pada otot vastus medialis oblique (Petty et al. 2011). Patofisiologi PFPS dapat disimpulkan menjadi dua faktor, yaitu faktor neuromuskular dan biomekanika.
Tabel 2.2
Etiologi PFPS menurut beberapa pendapat
Sumber Etiologi PFPS
Lankhorst et al. 2013 Besarnya Q-angle
Besarnya sudut sulcus & Patella Tilt
Lemahnya otot Abduktor sendi panggul
Terbatasnya gerak eksternal rotasi sendi panggul Bolgla & Boling. 2011 Quadriceps lemah,
Kerja otot quadriceps tidak seimbang,
Ketegang jaringan lunak sendi lutut,
Meningkatnya Q-angle,
Otot sendi panggul lemah,
Perubahan posisi/bentuk kaki Jensen. 2008 Substance-P meningkat,
Posisi sendi lutut abnormal,
Reflex Simpathetic Dystrophy (RSD),
Menurunnya kekuatan quadriceps MacLean. 2004 Lemah VMO,
Maltracking patella,
Joint Stress
Juhn. 1999 Overuse & overload,
Problem biomekanika & penurunan fungsi otot (pes planus, pes cavus, q-angle, quadriceps lemah, tight ITB & hamstring).
2.1.4.1 Faktor Neuromuskular
Quadriceps merupakan otot penggerak utama dan stabilisator dinamis tulang patella. Pada penderita PFPS ditemukan penurunan kekuatan ekstensor lutut (Pappas et al. 2012) dan ketidakseimbangan kerja otot (muscle imbalance) dari quadriceps yaitu kinerja otot vastus medial oblique (VMO) lebih lambat dibandingkan dengan otot vastus latelaris (VLO dan VLL) (Van Tiggelen et al. 2009). Selain adanya kelemahan dari otot VMO, tentu adanya penurunan masa otot (atrofi) dari otot VMO. Atrofi otot tersebut meninhibisi dari sistem neuromuskular dan menyebabkan kontrol motorik otot VMO menurun (Bolgla et al. 2008; Page et al. 2010). Inhibisi tersebut membuat stabilisasi patella sisi medial menjadi menurun, sehingga ligamen patellofemoral sisi medial (MPFL) bekerja terus menerus untuk dapat mempertahankan posisi patella. Melihat dari letaknya, MPFL yang melekat dengan tendon otot VMO memiliki hubungan cross sectional area (CSA) dalam memberikan kemampuan stabilisasi pada tulang patella. Maka dari itu stabilisator patella sisi lateral akan menarik patella lebih ke arah lateral dan menyebabkan tulang patella bergesakan dengan tulang femur pada trochlea. Setelah dilakukan observasi ternyata onset kinerja otot VMO pada penderita PFPS menurun lima millisecond (5 ms) (Fagan dan Delahunt. 2008)
Seiring dengan aktifitas fungsional olahraga yang memerlukan kekuatan dari grup otot quadriceps. Otot quadriceps memerlukan otot lain untuk tetap dapat melakukan gerak fungsional. Oleh karena itu otot vastus lateralis dan illiotibial band akan terus-menerus bekerja untuk dapat menstabilkan patela hingga menimbulkan ketegangan otot dan juga dapat meningkatkan tarikan patela ke
lateral yang dapat menekan patella terhadap trochlea femur (Pecina dan Bojanic. 2004). Tidak simetrisnya rotasi dari sendi panggul (hip joint) ke arah internal rotasi menyebabkan gerak kompensasi dari sendi lutut untuk dapat menstabilkan posisi patella ke sisi medial yang ditujukan untuk dapat mengurangi nyeri pada sendi lutut (Cibulka et al. 2005). Menurut Page et al (2010), ketegangan otot-otot stabilisator patela sisi lateral dikarenakan adanya pemendekan facia dari stabilisator lateral patella dan illiotibial band sisi distal karena adanya kelemahan dari otot gluteus medius.
Gambar 2.6 Ilustrasi Patela tilt ke lateral akibat tidak stabilnya sisi medial (Pecina dan Bojanic. 2004)
2.1.4.2 Faktor Biomekanika
Melihat gangguan pada sistem neuromuskular grup otot quadriceps terhadap pergeseran tulang patella ke lateral akibat dari ketidakseimbangnya fungsi otot quadriceps. Pergeseran patella menjadi mekanika penyebab dari kasus PFPS ini. Pergeseran patella tersebut dapat meningkatkan sudut dari grup otot quadriceps (q-angle). Sudut normal dari q-angle kurang dari 15o. Jika lebih maka akan mengakibatkan kerusakan pada badan facet patela sisi lateral dengan trochlea (Bolgla dan Boling. 2011).
Postur anggota gerak bawah akan mempengaruhi dari q-angle. Dimana tulang tibia yang mengalami perputaran (torsion) ke arah eksternal rotasi saat sendi lutut bergerak ektensi penuh yang disebut dengan screw home mechanism (Amis. 2007). Sudut resultan yang meningkat berakibat tarikan otot quadriceps meningkat, sehingga dapat menarik patella ke proximal-lateral saat ekstensi. Sudut Q-angle lutut yang tidak normal sebesar ≥ 15o-20o. Karena perubahan dari sudut q-angle menyebabkan patella tertarik ke arah lateral (Aminaka et al. 2005; Sheehan et al. 2010). Namun, beberapa pendapat mengatakan PFPS dikarenakan oleh adanya postur anggota gerak bawah atlet membentuk huruf X atau disebut dengan valgus postur. hal tersebut dapat dijadikan indikator khusus pada kasus PFPS (Tallay et al. 2004; Santos. 2006).
Gambar 2.7 Grafik perbedaan Q-angle antara yang tidak cedera dengan yang cedera (Herrington. 2012)
Pergeseran tulang patella ada yang hanya bergeser ke lateral saja, tulang patela mengalami perputaran diagonal, dan bahkan sisi medial patella terangkat (patellar tilt) sehingga sisi lateral patella dengan femur saling bergesekan.
Gambar 2.8 A. Sendi Patellofemoral dalam posisi normal. B. (lihat dari atas ke bawah) Patela bergeser ke lateral, patella terangkat ke lateral, dan patella internal
rotasi (Aminaka et al. 2005)
2.1.5 Pemeriksaan Spesifik pada PFPS
Untuk dapat memastikan suatu atlit tersebut mengalami patellofemoral pain syndrome memerlukan pemeriksaan spesifik yang akurat. Pemeriksaan spesifik
yang dapat dilakukan adalah dengan menggunaan pemeriksaan ortopedi khusus patella, magnetic resonance imaging (MRI), X-ray, dan musculoskeletal ultrasound diagnostic. Dalam penelitian ini menggunakan tehnik pemeriksaan ortopedi secara manual dengan cara memprovokasi rasa nyeri, mengukur q-angle, dan antropometri quadriceps.
2.1.5.1 Pemeriksaan manual ortopedi
Pemeriksaan manual ortopedi dilakukan dengan cara observasi dan memprovokasi nyeri pada patella. Dengan menggunakan tehnik patellar apprehension test. Patela apprehension test adalah pemeriksaan untuk melihat reaksi nyeri yang terjadi saat patela di geser ke lateral. Caranya dengan memposisikan pasien tidur terlentang dengan sendi lutut ditekuk 30 derajat. Dalam posisi tersebut pemeriksa menarik patella ke lateral dan secara perlahan pemeriksa meluruskan kaki pasien hingga ekstensi penuh (Nijs-jo et al. 2006). Pemeriksaan ini tingkat akurasinya mencapai 94,1 % jika dilakukan dengan benar ( Ahmad et al. 2009).
2.1.5.2 Mengukur Q-angle
Mengukur q-angle dengan menggunakan goniometer adalah dengan memposisikan pasien tidur terlentang dan menarik garis dengan titik poros di titik tengah tulang patela. Kemudian menarik garis superior iliac anterior spine (SIAS) ke patela dan tuberositas tibia ke patella. Agar hasilnya akurat posisi tulang patella di posisikan ke tengah dari trochlea dengan menekuk sendi lutut 30 derajat (Madani et al. 2010).
Gambar 2.10 Pengukuran Q-angle (Madani et al. 2010) 2.1.5.3 Antropometri Quadriceps
Untuk mengukur besar masa otot vastus medialis oblique diperlukan pengukuran lingkar paha dengan menggunakan pita ukur. Dengan pengukuran di mulai dari titik tengah patela, dan titik tengah tulang paha (10 sentimeter ke atas
dari titik tengah patela dan 20 sentimeter dari titik tengah patela) (Petty et al. 2011) .
2.1.6 Penanganan Patellofemoral Pain Syndrome
Berdasarkan problem-problem yang dialami oleh penderita PFPS dan telah kita ketahui beberapa faktor penyebabnya yang menjadikan PFPS ini kasus yang sering terjadi dan dialami oleh beberapa atlit. Oleh karena itu adapun tujuan penanganan konservatif berupa pengembalian fungsi dari otot VMO dan mengontrol postur anggota gerak bawah menjadi prioritas utama. Program konservatif tersebut dengan menggunakan terapi latihan dan menggunakan tambahan taping atau perekat sebagai koreksi dari posisi patella dan kinesiotaping untuk memfasilitasi kinerja otot vastus medialis oblique untuk menstabilkan posisi patella ke posisi normal, serta menginhibisi vastus lateral oblique dan vastus lateralis longus juga sangat efektif untuk mengurangi tarikan patela ke lateral dan nyeri saat dilakukannya program terapi latihan (Chi-Chen et al. 2007; Slupik et al. 2007).
2.2 Kinesiotape 2.2.1 Pengertian
Kinesiotape (KT) merupakan salah satu perekat yang digunakan oleh fisioterapis, dokter, sport medicine, & personal trainer untuk membantu pemulihan dan menopang otot yang sedang mengalami cedera. KT ini ditemukan oleh seorang chiropractor, Kase et al (2003), di Jepang dan sangat sering
digunakan di Eropa dan Asia, namun sangat popular di United States. Kinesiotape ini berbeda dengan taping/perekat yang sering digunakan untuk menyokong atau menahan sendi, melainkan perekat yang dibuat hampir menyerupai dengan kulit dan ketebalannya seperti epidermis kulit tubuh manusia, serta dapat diregangkan hingga 140% dari panjang normal sebelum di aplikasikan ke kulit, sehingga memberikan ketegangan yang kuat saat di aplikasikan pada kulit (Thelen. 2008; Prentice. 2011).
Metode kinesiotape ini dikembangkan berdasarkan struktur jaringan otot yang sebagai penggerak utama tubuh manusia. Pemasangan diawali dengan mengukur lembar kinesiotape mulai dari 2 inci dibawah origo atau 2 inci diatas insersi otot. Pemasangannya tentu diharuskan untuk menyesuaikan bentuk dari posisi anatomi tubuh manusia. dasar dari pemasangan kinesiotape ini selalu di awali dan diakhiri tanpa adanya tegangan dari kinesiotaping. Hal tersebut dikarenakan untuk meminimalisir rasa yang kurang nyaman dari aplikasi kinesiotape ini (Kase et al. 2003).
Ketika menggunakan aplikasi ini perlu mengetahui derajat dari tegangan atau uluran yang diperlukan pada area yang menjadi target. Jika terlalu banyak uluran atau tegangan, maka tidak akan ada pengaruh apapun di bawah kulit. Jadi lebih baik jangan memberikan aplikasi ini dengan uluran yang terlalu panjang. Karena tegangan atau uluran pada kinesiotape akan mempengaruhi keberhasilan yang diharapkan. Dalam pengaplikasiannya, tehnik yang diperlukan hanya sebesar 25%, Namun pengukuran persentase penguluran tersebut sangatlah deskriptif dan
tergantung dari kemampuan feeling dan pengalaman dalam mengulur taping tersebut (Kase et al. 2003).
Tabel 2.3
Kemampuan Uluran Kinesiotape Tarikan Kinesiotape Persentase
Penuh = 100%
Berat = 75%
Sedang = 50%
Ringan (ketika kertas dilepas) = 15-25%
Sangat ringan = 0-15%
Tidak diulur = 0%
Sumber Kase et al. 2003 2.2.2 Pengaruh Fisiologi
Kinesiotape ini merangsang atau memfasilitasi beberapa proses fisiologi tubuh manusia, seperti melancarkan aktivitas sistem limfatik, dan mekanisme analgesic endogen serta meningkatkan mikrosirkulasi. Kinesiotape memiliki pangaruh recoil yang dapat mengangkat kulit dan memberikan ruang pemisah antara kulit dengan otot, sehingga dapat melancarkan sirkulasi limfatik dan darah dengan adanya gerakan otot (Hendrick. 2010). Serta meningkatkan aktivitas propiosepsi melalui kulit untuk menormalisasikan tonus otot, mengurangi nyeri,
mengkoreksi ketidaksesuaian posisi jaringan dan menstimulus atau merangsang mekanoreseptor di kulit (Slupik et al. 2007; Akbas. 2011; Prentice. 2011).
2.2.3 Pengaruh Neuromuskular
Kinesiotape melalui reseptor di cutaneous dapat memberikan rangsangan kepada sistem neuromuskular dalam mengaktifasi kinerja saraf dan otot saat melakukan suatu gerak fungsional (Yasukawa et al. 2006). Selain itu juga kinesiotape dapat menurunkan tonus otot yang mengalami ketegangan yang
berlebih akibat adanya kontrol neuromuskular yang kurang baik. Kinesiotape akan memfasilitasi melalui mekanoreseptor yang berada pada kulit untuk mengarahkan gerakan yang diinginkan dan akan memberikan rasa nyaman pada area yang dipasangkan KT ini (Kase et al. 2003). Pada praktiknya, kinesiotape dapat memfasilitasi suatu gerakan karena adanya tarikan atau penguluran dari kinesiotape itu sendiri baik dari sisi distal ke proksimal dan dari sisi proksimal ke distal, ataupun diberikan ke arah gerakan yang diinginkan.
Gambar 2.11 Pengaruh Kinesiotape Pada Jaringan Lunak (Graham dan Howey.2011)
Dalam sebuah penelitian, KT secara klinis akan meningkatkan kemampuan bioelektrik otot dengan menggunakan electromyography (EMG) setelah 24 jam pemasangan KT dan akan menurun fungsinya setelah empat hari pemakaian. Hal tersebut dapat menjelaskan bahwa pemberian kinesiotape cukup sampai dengan tiga hari karena puncak pengaruh dari kinesiotape setelah 24 jam akan memfasilitasi motor unit untuk dapat melakukan kontraksi dan setelah 72 jam
tonus otot menurun, sehingga untuk mengurangi dari tonus otot yang berlebih disarankan pemasangan cukup sampai dengan tiga hari (Kase et al. 2003; Slupik et al. 2007).
Gambar 2.12 Grafik Observasi EMG Perubahan Aktivitas Otot dengan Menggunakan Kinesiotape (Slupik et al. 2007)
2.2.4 Pengaruh Biomekanika
Setelah melihat aktifitas motor unit setelah menggunakan kinesiotaping dengan menggunakan EMG setelah 24 jam terjadi peningkatan yang sangat signifikan. Oleh karena itu aktifitas dari motor unit untuk dapat menggerakkan sendi tentu akan mempermudah gerakan menjadi lebih terbantu dan efisien. Hal tersebut dapat kita lihat dari penelitian oleh Hsu et al. (2009), bahwa kinesiotape memliki pengaruh positif terhadap perubahan gerak scapula pada kasus impingement sendi bahu.
2.3 Resiko Cedera
2.3.1 Pengertian
Setiap aktivitas fisik dalam kegiatan olahraga, baik itu sebagai olahraga rekreasi dan olahraga prestasi tentunya memiliki resiko cedera. Resiko cedera tersebut tergantung dari tingkat kesulitan atau beban olahraga itu sendiri. Jika aktivitas olahraga itu ringan atau tidak dilakukan dengan ada kontak tubuh ataupun dengan kecepatan tinggi, resiko cedera yang mungkin terjadipun ringan, begitu pula sebaliknya.
Gambar 2.13 Piramida hubungan aktifitas fisik terhadap resiko cedera (Simunovic. 2002)
Cedera olahraga adalah cedera pada sistem integument, otot dan rangka yang disebabkan oleh kegiatan olahraga. Ada beberapa faktor yang menyebabkan cedera, antara lain kesalahan metode latihan, kelainan struktural, kelemahan otot dan penopang sendi (Bahr et al. 2003). Resiko terjadinya cedera dibagi menjadi dua faktor, yaitu faktor internal atlit sendiri (intrinsik) yang berhubungan dengan faktor resiko dan faktor lingkungan (ektrinsik).
Faktor intrinsik terdiri dari komponen yang dimiliki oleh atlit (kekuatan, umur, riwayat cedera, dll). Dimana komponen tersebut mempengaruhi dari performa atlit ketika berlatih dan bertanding. Faktor resiko cedera intrinsik ini dapat diminimalisir untuk terjadinya resiko cedera. Faktor ekstrinsik merupakan faktor dari lingkungan luar tubuh atlit yang mempengaruhi terjadinya resiko cedera (Meeuwise et al. 2007). Potensi faktor resiko cedera dibagi menjadi dua, yaitu potensi yang tidak dapat dimodifikasi dan potensi yang dapat di modifikasi (Habelt et al. 2011). Hal tersebut berkaitan dengan faktor intrinsik dan ekstrinsik yang dimiliki dan dialami oleh atlit itu sendiri.
Tabel 2.4
Potensi Faktor Resiko Cedera
Faktor Ekstrinsik Faktor Intrinsik Potensi yang tidak dapat
dimodifikasi
Tipe Olahraga Umur
Tingkat Olahraga (pro/amatir)
Cedera Sebelumnya
Posisi Jenis Kelamin
Waktu Musim Pertandinga Cuaca
Potensi yang dapat dimodifikasi Peralatan Koordinasi
Permukaan Lapangan Tingkat Kebugaran Waktu Pertandingan Kelenturan
Peraturan Propiosepsi
Kekuatan Bentuk Pelatihan Fisik
Faktor Psikologis Sumber Habelt et al. 2011
Pada era saat ini banyak peneliti mencari suatu alat ukur untuk mengetahui resiko cedera pada atlit atau olahragawan. Dimana alat ukur tersebut mempengaruhi dari faktor intrinsik yang dimiliki oleh atlit. Terkait dengan gerakan fungsional dalam aktifitas olahraga.
Pentingnya kita mengetahui dari kemampuan gerak fungsional pada setiap individu pada atlit ataupun pemain adalah untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh fisioterapis, pelatih, dokter, fisiologi olahraga, dan ahli olahraga lainnya terkait dengan kemampuan fungsional atlit. Kemampuan fungsional merupakan kombinasi dari performa otot, daya tahan otot, fleksibilitas, koordinasi, stabilitas, dan keseimbangan (Kisner et al. 2007). Jika seluruh kemampuan tersebut sudah dimiliki dalam tubuh individu, maka kemampuan fungsional atlit sudah siap untuk melakukan gerakan-gerakan yang memerlukan tenaga, daya ledak, kecepatan, dan kelincahan pada permainan dalam cabang olahraga yang ditekuninya. Dan jika salah satu komponen dalam fungsional tidak dimiliki oleh atlit, akan dapat mempengaruhi komponen lainnya.
Gambar 2.14 Komponen kemampuan fungsional (Kisner et al. 2007)
Ada sebuah sistem yang dibuat oleh Gray Cook dan Lee Burton (2006), yaitu Functional Movement Screening (FMS) atau pemeriksaan gerakan fungsional.
FMS ini dapat dijadikan sebagai alat evaluasi yang kuantitatif. Dimana terdapat tiga penilaian yang diberikan untuk mengetahui kemampuan gerak fungsional individu. Dan tujuh gerakan fungsional terdiri dari kemampuan fungsional anggota gerak atas dan anggota gerak bawah (Mo-An et al. 2012).
FMS berbeda dengan pemeriksaan fisik lainnya yang selalu mengukur banyaknya repetisi dalam waktu yang telah ditentukan ataupun lamanya waktu yang dapat dilakukan sampai atlit tersebut berhenti. FMS mengukur dari sisi pendekatan fungsional dengan prinsip propioceptive neuromuscular facilitation (PNF), sinergi kinerja otot dan pembelajaran motorik (motor learning) (Cook et al. 2006).
2.3.2 Prediktor Resiko Cedera
Banyak program latihan yang diberikan oleh beberapa pelatih dan fisioterapis terkait dengan program preventif untuk memperkecil resiko terjadinya cedera. Namun program-program latihan yang diberikan belum tentu efektif jika tidak diuji menggunakan alat evaluasi yang sesuai. Resiko terjadi cedera diakibatkan oleh karena adanya gerak kompensasi yang seharusnya tidak ada. Gerak kompensasi merupakan gerakan diluar dari satu pola gerak fungsional, namun gerakan kompensasi tersebut ditujukan untuk mencapai satu pola gerak fungsional tertentu (Cook et al. 2006).
Berdasarkan penjelasan di atas kita telah mengetahui bahwa FMS ini berhubungan dengan gerakan-gerakan fungsional dalam olahraga. Sehingga FMS
dapat dijadikan sebagai alat ukur prediktor resiko cedera dan alat evaluasi program latihan preventif.
Beberapa hasil penelitian menyatakan FMS sangat cocok untuk mengukur kemampuan fungsional dalam mengurangi resiko cedera. Total dari nilai pengukuran FMS ini 21 jika setiap pemeriksaan mendapat nilai tiga, dan jika total nilai kurang dari 14 (< 14) dapat disimpulkan resiko cedera tinggi (Kiesel et al. 2007; Chorba et al. 2010). Secara statistik tidak ada perbedaan nilai FMS antara pria dan wanita (Schneiders et al. 2011).
Ketidaksimetrisan dan keterbatasan gerak dalam FMS sudah dihubngkan dengan peningkatan resiko cedera. Ketidakmampuan untuk melakukan gerakan fungsional ini menghasilkan gerak kompesasi yang tidak efisien. Kompensasi ini menyebabkan tingginya resiko cedera, bahkan jika dilakukan pada tingkat performa yang tinggi (Mo-An et al. 2012).
Berdasarkan penelitian Chorba et al. (2010), gerak kompensasi pada aktivitas fungsional dapat mempengaruhi resiko terjadinya cedera terutama pada anggota gerak bawah, 69% dari 38 sampel penelitiannya mendapatkan nilai kurang dari sama dengan 14 dan mengalami cedera sepanjang musim pertandingan. Dapat disimpulkan bahwa nilai dari FMS memiliki korelasi terhadap resiko cedera yang mungkin akan terjadi saat musim pertandingan.
Evaluasi menggunakan FMS tentunya memerlukan penilai yang mampu mengobservasi setiap gerakan fungsional dalam pemeriksaan ini. Dengan mengetahui gerakan normal dan gerakan kompensasi yang akan terjadi saat
pemeriksaan dilakukan. Releabilitas FMS ini, jika diuji oleh dua orang penguji yang berbeda (Interrater) maka hasilnya akan tetap sama.
Gambar 2.15 Grafik linear hubungan antara nilai FMS dengan resiko cedera (Chorba et al. 2010)
Hal tersebut dibuktikan bahwa FMS memiliki reabilitas interrater yang tinggi dan dapat digunakan oleh siapapun yang sudah diberi pelatihan FMS sebelum melakukan skrining pada atlet (Minick et al. 2010; Smith et al. 2012; Onate et al. 2012; Teyhen et al. 2012). Hal tersebut di uji dengan statistik kappa untuk melihat hasil pemeriksaan oleh pemeriksa amatir dibandingkan dengan pemeriksa yang berpengalaman.
Gerakan yang digunakan dalam FMS terdiri dari Deep Squat, Hurdle Step, In Line Lunge, Shoulder Mobility, Active Straight Leg Raise, Trunk Stability Push Up,dan Rotary Stabilty. Namun pada penelitian ini berfokus pada anggota gerak bawah terkait dengan kasus patellofemoral pain syndrome. Dengan mengambil
enam dari tujuh gerakan FMS berupa gerakan Active Straight Leg Raise, Trunk Stability Push Up, Rotary Stabilty, Deep Squat, Hurdle Step, dan In Line Lunge.
Tabel 2.5
Nilai Kappa dalam perbandingan nilai rata-rata penilai amatir dengan penilai berpengalaman (L=Kiri, R=Kanan; n=39)
36 3.1 Kerangka Berpikir
Pada individu atau atlit yang memiliki permasalahan patellofemoral pain syndrome akan mengalami beberapa problema seperti nyeri di sekitar lutut bagian depan saat squat, naik-turun tangga, dll. PFPS memiliki permasalahan pada stabilisator medial patela yaitu kelemahan otot vastus medialis oblique yang berkontribusi besar pada gerak sendi lutut baik pada open chain kinetic dan closed kinetic chain. Permasalahan tersebut disebabkan oleh perpindahan posisi tulang patela ke arah lateral dan menghasilkan rasa nyeri di sisi depan sendi lutut. Terdapat kinerja otot quadriceps yang tidak seimbang, dimana aktifitas otot vastus lateralis terus meningkat untuk tetap dapat melakukan aktifitas fungsional. Beberapa literatur mengatakan bahwa penderita PFPS perlu mengaktifasi atau meningkatkan kinerja dari otot vastus medialis oblique yang ditujukan untuk dapat mereposisi dan menstabilkan posisi dari tulang patella yang mengalami kesalahan posisi (maltracking), baik patella tersebut mengalami rotasi ke lateral (internal rotation), bergeser ke lateral, dan terangkat ke lateral.
Namun melihat kondisi kompetisi yang harus dilakukan oleh atlit yang mengalami patellofemoral pain syndrome memerlukan penanganan yang tepat untuk mengurangi gejala dan mencegah cedera berulang atau memperburuk kondisi. Saat ini banyak perkembangan alat bantu yang dapat digunakan seperti kinesiotape.
Pada PFPS penggunaan kinesiotape ditujukan untuk memfasilitasi kinerja otot vastus medialis oblique untuk meningkatkan kinerja neuromuskular anggota gerak bawah dan mengontrol posisi patella. Reposisi patela ke medial ditujukan untuk mengurangi gesekan antar tulang patela dan femur sehingga rasa nyeri dan bengkak dapat berkurang. Serta menginhibisi otot vastus lateralis dalam mengurangi gesekan dari patela ke arah lateral terhadap femur.
Untuk mengetahui manfaat kinesiotape pada penderita PFPS dalam mencegah resiko cedera berulang, memerlukan evaluasi berupa skrining kemampuan fungsional atlit dalam mendeteksi resiko cedera yang mungkin akan terjadi. Functional Movement Screening (FMS) merupakan salah satu skrining yang dapat dilakukan kepada atlet. Sebagai tolak ukur posisi patela yang sudah di reposisi menggunakan kinesiotape dapat diberikan evaluasi dengan mengukur sudut q-angle menggunakan goniometer. Berdasarkan manfaat penggunaan kinesiotape, observasi pengukuran ini dilakukan selama tiga hari.
3.2 Kerangka Konsep
Berdasarkan analisis dan sintesis dari teori di atas yang menjadi landasan berpikir peneliti dalam penelitian ini, peneliti menggambarkan konsep penelitian sebagai berikut:
Gambar 3.1 Bagan Kerangka Konsep
Faktor Eksternal a. Gerakan Sendi b. Waktu Pertandingan c. Performa Penggunaan Kinesiotaping a. Fasilitasi VMO b. Reposisi Patela c. Inhibisi VL & ITB
Menurunkan Resiko Cedera berulang PFPS
dan derajat Q-Angle Faktor Internal a. Usia b. Riwayat PFPS c. Anatomi Patellofemoral Pain Syndrome (PFPS)
3.3 Hipotesis
Berdasarkan hal tersebut peneliti membuat hipotesis yang berkaitan dengan kerangka berpikir dan konsep tersebut diatas, sebagai berikut:
3.3.1 Penggunaan kinesiotape selama tiga hari tidak berbeda dengan perekat plasebo dalam mengurangi resiko cedera berulang pada penderita patellofemoral pain syndrome.
3.3.2 Penggunaan Kinesiotape selama tiga hari tidak berbeda dengan perekat plasebo dalam mengurangi derajat Q-angle pada penderita patellofemoral pain syndrome.
3.3.3 Penggunaan kinesiotape selama tiga hari dapat mengurangi resiko cedera berulang pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome.
3.3.4 Penggunaan perekat plasebo selama tiga hari dapat mengurangi resiko cedera berulang pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome.
3.3.5 Penggunaan kinesiotape selama tiga hari dapat mengurangi derajat Q-angle pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome.
3.3.6 Penggunaan perekat plasebo selama tiga hari dapat mengurangi derajat Q-angle pada penderita Patellofemoral Pain Syndrome.