Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat
CEMARAN
Esmmumm
CoLi
PADA BAHAN PANGAN ASAL
TERNAK PERIODS 2000-2004 DAN RESISTENSINYA TERHADAP
ANTIBIOTIKA
TATI ARIYANTI, SUPAR dan ANNI KUSUMANINGSIH Balai Besar Penelitian Veterine A RE. Martadinata No. 30, Bogor 16114
ABSTRAK
Escherichia coli merupakan bakteri enterik bersifat oportunis patogen. Serotipe tertentu sangat patogen terhadap hewan dan manusia. Keberadaannya pada bahan pangan asal ternak sebagai cemaran berpotensi menimbulkan masalah pada konsumen. Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui keberadaan cemaran Ecoli pada bahan pangan asal ternak berupa sampel daging dan jeroan ayam, daging sapi, telur Berta produk olahannya berupa sosis, daging sapi asap maupun pepes ayam selama periode tahun 2000-2004. E. coli diisolasi dari sampel dari sampel dan diidentifikasi menggunakan media agar selektif EMB/ Mc Conkey, TSIA, semisolid dan uji IMViC. Uji resistensi terhadap antibiotika dilakukan dengan metode agar difusi menggunakan cakram kertas yang mengandung antibiotik. Dari 292 sampel yang diuji ditemukan positif E. coli sebanyak 221 sampel (75,68%). Lima isolat dilakukan uji resistensi terhadap 10 macam antibiotika. Empat isolat diantaranya multi resisten terhadap 3-5 macam antibiotika dan 1 isolat resisten terhadap 1 macam antibiotika. Dari fiasff tersebut disimpulkan tingkat cemaran E. coli pada bahan-bahan pangan asal ternak maupun olahannya sangat tinggi. Perlu adanya peningkatan dalam penerapan sanitasi yang baik dari awal produksi sampai tingkat konsumen untuk memperoleh jaminan pangan asal ternak yang aman untuk dikonsumsi.
Kata kunci: E toll, cemaran, pangan asal ternak
PENDAHULUAN
Escherichia coli
merupakan mikroflora yang
paling mendominasi saluran pencernaan manusia
dan hewan. Bakteri tersebut berpotensi patogenik
baik di dalam maupun di luar saluran pencernaan.
Di dalam saluran pencernaan dapat menyebabkan
diare. Di luar saluran pencernaan dapat menginfeksi
saluran urinari, dari asimtomatik sampai urosepsis.
D a p a t m e n y e b a b k a n n e o n a t a l m e n i n g i t i s ,
pneumonia clan infeksi pada permukaan tubuh dan
luka.
E. coliterdiri dari banyak serotipe, sekitar 160
serotipe. Berdasarkan sifat antigen virulensi yang
dimiliki oleh serotipe
E. colidalam menimbulkan
penyakit, bakteri ini dapat clikelompokkan
menjadi enteropatogenik, enterohemorrhagik,
enterotoksigenik, entero-agregatif, enteroinvasif,
uropatogenik clan lain-lain. Dosis
E. coliuntuk
dapat menimbulkan gejala infeksi pada hospes
tergantung pada sifat virulensi tersebut
(CARY et al.,2000; BARNES
dan GRoss, 1997),
E. coli
sebagai salah satu bakteri
foodbornedapat menimbulkan penyakit secara langsung
dari hewan ke
manusia rne)ahii makanan.Ternak
merupakan reservoir penting dari strain
E. coll.Beberapa penelitian melaporkan bahwa strain
E. colisering diisolasi dari feses hewan sehat
(DURST et al., 1999). Selain berasal
dari kotoran
atau feses atau isi saluran pencernaan, sumber
kontaminasi
E. coliadalah dari lingkungan (air,
tanah, udara clan debu), alas-alas yang dipergunakan
selama mempersiapkan karkas clan para pekerja
(SOEPARNO,
1994).
SuPARDiclan
SUKAMTO(1999)
menjelaskan bahwa pada umumnya kontaminasi
E. coli
pada bahan pangan asal ternak berasal dari
kontaminasi pada saat proses pemotongan hingga
pemrosesan atau pengolahan bahan pangan asal
ternak tersebut.
B a h a n p a n g a n a s a l t e r n a k y a n g s e r i n g
terkontam inasi oleh
E.toll diantaranyaadalandaging
ayam, daging sapi, telur clan produk olahannya.
Bahan pangan yang terkontaminasi bakteri patogen
E. colidapat menghasilkan perubahan fisik clan
kimiawi yang merugikan dan berbahaya apabila
dikonsumsi karena dapat menimbulkan penyakit.
Sindroma klinik akibat
E. colipatogen adalah
Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat
gastroenteritis akut yang menyerang terutama
anak-anak balita clan, wring menyebabkan wabah diare
baik di rumah sakit maupun di masyarakat
(SuPARDiclan SUKAMTO, 1999).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
keberadaan cemaran
E. colipada bahan pangan
asal ternak berupa sampel daging dan jeroan
ayam, daging sapi, telur Berta produk olahannya
berupa sosis, daging sapi asap maupun pepes ayam
selama periode tahun 2000-2004
di B.Balitvet
dan melakukan uji resistensi isolat
E. coliyang
diperoleh terhadap 10 macam antibiotika.
MATERI DAN METODA
Sampel
Sampel berupa daging clan jeroan ayam (usus,
hati, limpa, jantung, paru-paru), daging sapi, telur
clan produk olahannya berupa sosis, daging sapi
asap dan pepes ayam yang diterima di Bbalitvet
selama periode tahun 2000-2004.
Isolasi dan identifikasi
E. colidari sampel
Sampel daging ayam, sapi, sosis clan pepes
ayam ditimbang secara aseptic sebanyak 25
gram, dipotong kecil-kecil dan dihaluskan dengan
stomacher
"80"lalu dimasukkan ke dalam 225
ml
Buffer Pepton Water
(BPW) clan diinkubasikan
pada suhu 37°C
selama 24
jam. Sampel yang
berupa telur clan organ ayam (usus, hati, limpa,
jantung, paru-paru) masing-masing dibuat suspensi
dengan perbandingan 10% sampel clan 90% BPW
kemudian diinkubasikan pada suhu 37°C selama
24jam. Keesokan harinya biakan dalam BPW
ditanam pada medium agar selektif untuk
E. coliyaitu
Eosin methylene blue(EMB) clan atau Mc
Conkey lalu diinkubasikan pada suhu 37°C selama
24jam. Dari masing-masing biakan medium agar
diambil koloni bakteri yang diduga ke arah
E. colikemudian ditanam pada medium diferensial untuk
identifikasi lebih lanjut. Medium diferensial yang
digunakan adalah
Triple sugar iron (TSIA),agar
semisolid untuk uji pergerakan bakteri, pewarnaan
Gram clan uji indol, agar urea, medium MR-VP
dan agar
Simmons citrat(uji IMViC). Isolat yang
positif
E. coliakan menunjukkan pertumbuhannya
pada media EMB yang berupa koloni berwarna
hijau metalik dan pada media Mc Conkey berwarna
merah muda.
E. colimampu memfermantasi-kan
laktosa, glukosa, menghasilkan asam dan gas.
E. coliberbentuk batang, bersifat motil/ bergerak dan
Gram negatif. Uji urea negatif, uji indol positif,
uji MR positif, uji VP negatif dan uji penggunaan
Citrat sebagai sumber karbon negatif
(BADAN STANDARISASi NASIONAL, 1992; COWAN, 2003). Uji resistensi E. coli terhadap antibiotikaIsolat
E. coliyang telah diisolasi dari bahan
pangan asal ternak dan olahannya kemudian
dilakukan uji resistensi terhadap 10 macam
antibiotika secara
in vitromenggunakan metoda uji
difusi. Antibiotika yang digunakan berupa cakram
kertas. Antibiotik tersebut adalah amoksisilin,
siprofloksasin, enro-floksasin, eritromisin,
fosfomisin, gentamisin, lincomisin, neomisin,
oksitetrasiklin dan sulfamethoksazole-trimetoprim.
Kertas cakram yang mengandung antibiotika
diletakkan di permukaan medium Mueller Hinton
agar, yang sebelumnya telah diinokulasikan dengan
bakteri
E. coli,medium inokulasi tersebut kemudian
diinkubasikan pada suhu 37°C selama 24
jam.
Pengamatan hasil berclasarkan pada daerah hambat
di sekeliling kertas cakram, daerah hambat yang
terbentuk tersebut diukur dalam satuan milimeter.
Sebagai standar dipergunakan bakteri
E. coli ATCC25922 (BAUER et al., 1966).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Selama periode tahun 2000-2004
telah diperiksa
sampel sebanyak 292 buah yang terdiri dari daging
ayam 1 buah, jeroan ayam berupa usus 78 buah,
hati 75
buah, jantung 38
buah, limpa 17 buah,
paru-paru 23
buah, telur ayam 51
buah, daging
sapi 5
buah, daging sapi asap 2
buah, sosis 1 buah
dan pepes ayam 1 buah (Tabel 1). Dari data ini
menggambarkan jeroan ayam mendominasi sampel
yang harus diuji. Hal ini mungkin berkaitan peran
Jeroan ayam seperti usus selain sebagai campuran
dalam masakan, usus ayam juga dimanfaatkan
sebagai makanan camilan berupa kripik usus atau
Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII Dukungan Teknologi Untuk Meningkalkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat
lainnya seperti hati, jantung, limps dan paru-paru
selain sebagai campuran dalam masakan juga wring
dipilih sebagai ]auk-pauk. Perlunya pengujian
cemaran mikroba pada jeroan ayam adalah agar
dapat diketahui jeroan ayam tersebut bebas dari
cemaran mikroba dan aman untuk dikonsumsi
masyarakat.
Pemeriksaan bakteriologik secara kumulatif
fifenanj4kkan bahwa c(arf
Z91Zsampef yang
memberikan hasil uji positif
E. colisebanyak 221,
data dapat dilihat pada Tabel 1. Tingginya angka
cemaran
E. coliyaitu 75,68% (221/292) dapat
disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor utama
adalah kurang hygienisnya dalam penanganan
maupun pengolahan bahan pangan asal ternak. Di
camping itu faktor kontaminasi lingkungan, sanitasi
yang buruk dan adanya kontaminasi selama
proses penanganan dapat meningkatkan Jumlah cemaranmikroba pada pangan asal ternak
(HAYES,1996).
Hal serupa dilaporkan oleh
MUKARTFNi et al.(1995)
bahwa kandungan mikroba dalam bahan pangan
asal ternak ditemukan cukup t
jjjg_nyiterutama-vang
berasal dari Rumah Potong Hewan modem atau
tradisional yang kotor. Sebanyak 70% daging
yang berasal dari RPH modern atau tradisional
tersebut dilaporkan positif mengandung
E. coli> 10 sel/cm' daging. Kontaminasi
E. colijugs
dapat diperoleh selama transportasi yang tidak
m-n
'-gunakan pendingin Berta kontaminasi saat
pemasaran di pengecer. Laporan yang lebih rinci
disampaikan oleh
SOEPARNO(1994) bahwa awal
kontaminasi pada bahan pangan asal ternak berasal
dari mikroorganisme yang memasuki peredaran
darah pada saat penyembelihan, apabila alai-alai
yang dipergunakan untuk pengeluaran darah fidak
steril. Beberapa saat setelah penyembelihan darah
masih bersirkulasi. Kontaminasi selanjutnya terjadi
pada saat proses pembelahan karkas, pendinginan,
pembekuan, penyegaran daging beku, pemotongan
karkas atau daging, pembuatan produk daging,
preservasi, pengepakan dan penyimpanan.
Kontaminasi silang juga dapat terjadi akibat bakteri
dari salah sate somber yang tercemar pindah ke
temp at yan g b elum tercemar b iasan ya melalui
alat-alat/perkakas dapur atau tangan yang tidak
dicuci bersih pada saat meletakkan makanan atau
pada saat menyiapkan, mengolah dan memasak
makanan di J.9
-plir fDzjrjj;D dan J-99-J-)Kemungkinan yang lain adalah bahan pangan asal
ternak tersebut berasal dari hewan ternak yang sakit
tanpa menunjukkan gejala klinis yang jelas.
Tabel 1. Sampel positif E. coli dari bahan pangan asal ternak clan olahannya selama periode tahun 2000-2004 di B, Balitvet
No. Jenis sampef Isolasi E. coli, periode tahun total
2000 2001 2002 2003 2004
Sampel
Jumlah Positif Jumlah Positif Jumlah Positif Jumlah Positif Jumlah Positif Jumlah Positif
1. Daging ayam - - - - - - - I 1 1 1 2. Jeroan ayam Usus 27 24 17 10 4 3 20 17 10 4 78 58 Hati 27 24 15 9 9 8 11 11 13 6 75 58 Jantung 13 9 6 5 6 6 13 5 38 25 Limps - 13 7 2 1 2 2 17 10 Paru-paru I I 11 5 3 4 4 3 3 23 21 3. Telur 5 0 3 3 40 40 3 3 51 46 4. Daging sari 5 0 5 0 5. Daging asap - 2 1 2 1 6. Sosis - 1 0 1 0 7. Peres ayam I 1 I 1 Sub total 70 59 66 41 65 61 51 42 40 18 292 221
Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat
Tabel 2. Uji resistensi isolat E. coli terhadap antibiotika
AML CIP ENR
1. R R 2,
3 . R
R
4 . R
R
Resistensi E. coli terhadap antibiotika
E FOS CN MY R S S R S R R N OT SXT S S R S R R R R No. Keterangan: AML : amoksisilin CIP siprofloksasin N neomisin R resisten CN : gentamisin MY : lincomisin FOS fosfomisin S sensitif ENR : enrofloksasin E eritromisin OT oksitetrasiklin SXT : sulfamethoksazole-trimetoprim
Jenis antibiotika yang diuji merupakan jenis
antibiotika yang digunakan oleh masyarakat
peternak pada produksi ternak dengan maksud
untuk pencegahan, terapi (pengobatan) maupun
sebagai imbuhan pakan. Pemakaian antibitika
secara terus-menerus clan penggunaan closis yang
berlebihan/tidak sesuai aturan dapat menyebabkan
timbulnya resistensi
(EMEA, 1999; MADIGGAN et al.,2000).
Uji resistensi
E. coliterhadap antibiotika (Tabel
2)menunjukkan bahwa 4 dari 5
isolat
E. coliyang diuji bersifat multi resisten terhadap 3 — 5
macam antibiotika yaitu isolat nomor 1, 3, 4, clan
5. E. colibersifat resisten terhadap amoksisilin,
siprofloksasin, enro-floksasin, eritromisin,
gentamisin dan oksitetrasiklin. Hanya satu isolat
yang resisten terhadap satu macam antibiotika
(eritromisin) yaitu isolat nomor 2. Hasil ini serupa
dengan penelitian sebelumnya bahwa isolat
E. coliyang diisolasi dari karkas ayam di daerah Jakarta,
sebesar 73% bersifat resistensi terhadap antibiotika
amoksisilin
(MOORclan
POELOENGAN, 2005).Hasil penelitian sebelumnya juga dilaporkan
b a h w a
E . c o l ib e r s i f a t r e s i s t e n t e r h a d a p
oksiterasiklin, eritromisin clan neomisin
(POERNOMO et al. 1992).Pemeriksaan tersebut serupa dengan
yang dilaporkan oleh
UTOMO (1996), hanya berbedapada tingkat resistensinya. Resistensi antibiotika
bakteri penyebab
foodbornedi Indonesia tidak
mudah didapat karena jarang dilaporkan atau
dipublikasikan dalam jurnal ilmiah (NOOK clan
POELOENGAN, 2005).
Variasi sifatresistensi
E.coliterhadap antibiotika
ini dapat dipengaruhi beberapa faktor antara lain
antibiotika yang berbeda di masing-masing wilayah
(POERNOMO et al., 1992).
Faktor lain mungkin
berkaitan adanya gen resistensi (faktor R) pada
plasmid bakteri yang dapat dipindahkan ke bakteri
lain yang masih sensitif terhadap antibiotika.
E. colimerupakan bakteri komensal pada manusia clan
hewan yang mempunyai kemampuan mentransfer
gen penyandi resisten antibiotika ke spesies lain
termasuk bakteri patogen (EMEA, 1999;
MADIGGAN et al., 2000).E. coli
yang resisten terhadap antibiotika dapat
mengakibatkan dampak yang merugikan bagi
kesehatan manusia. Selain menimbulkan terjadinya
resistensi antibiotika pada bakteri penyebab
penyakit hewan,
E. coliyang mencemari bahan
pangan asal ternak dapat mengakibatkan infeksi
pada manusia yang mengkonsumsinya clan apabila
bakteri tersebut resisten terhadap antibiotika maka
dapat menyebabkan penyakit yang parch pada
manusia clan mengakibatkan kegagalan pengobatan
dengan antibiotika sejenis.
KESIMPULAN
Dari kegiatan pengamatan di atas disimpulkan
tmgkat cemaran
E. colipada bahan-bahan pangan
asal ternak maupun olahannya sangat tinggi yaitu
sebesar
75,68% (221/292). Hal ini menginclikasikanbahwa proses clan pengolahan bahan pangan
tersebut kurang higienik. Antibiogram isolat
E. coli
menunjukkan adanya multi resistensi
terhadap antibiotika amoksisilin, siprofloksasin,
enrofloksasin, eritromisin, gentamisin dan
oksitetrasiklin. Kondisi ini sebagai indikator bahwa
Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat
pada proses produksi ternak, antibiotik dipakai
untuk pengobatan penyakit dan atau
feed additive.D A F T A R P U S T A K A
BADAN STANDARISASI NASIONAL. 1992. Cara uji cemaran
mikroba, SNI 01-2897-1992.
BAUER, A.W., W.M. KIRBY, J. C. SHERRIS dan M.
TRUCK, 1966. Antibiotic susceptibility testing by
standardized single disc method. Amer. J Clin.
Pathol 45 : 493-496.
BARNES, H. J. and W. B. GROSS, 1997. Colibacibacillosis.
In: Disease of poultry. Tenth Edition. Edited by:
B. W. Calnek with H. J. Barnes, C. W. Beard, L.R. Mc Dougald and Y M. Saif. Iowa State University Press, Ames, Iowa, USA. PP: 131-14 1.
CARY, J.W., J.E. LINZ and D. BHATNOGEr (Eds) 2000.
Mechanism of pathogenesis and toxin synthesis.
In: Microbial foodborne diseases. Techomic
Publishing Company Book.
COWAN, S.T., 2003. Cowan and Steel's in manual for the
identification medical bacteria, 3d Ed., Cambridge
University Press.
DUGUID, J.P. dan R.A.E. NORTH, 1991. Eggs and
Salmonella food-poisoning: an evaluation. J Med. Microbial. 34: 65-72.
DURST, R. A., S. PARK and W. R. WOROBO., 1999.
Escherichia coli 0157 : 117 as an emerging
foodborne disease : A Literatur Review. In Critical Reviews in Food Science and Nutrition. 39 (6) 481 –502.
EMEA. The European Agency for the evaluation of
medical products, veterinary medicine evaluation unit, 1999. Antibiotic resistence in the European
Union associated with therapeutic use of veterinary medicines. Report and qualitative risk assessment by the committee for veterinary medicinal products. 7 Westferry Circus, Canary Wharf. London, UK pp: 79.
HAYES, P. R., 1996. Food Microbiology and Hygiene.
Second Edition. Champman and Hall. London.
MADIGGAN, M.T., J. M. MARTINKO, dan J. PARKER, 2000.
Microbial growth control. Capter 18. In book: Biology of microorganisms (91 Ed). Southern
Illionis University, Carbondale. Printice Hall. Upper Saddle River, NJ. Pp: 991.
MUKARTINI, S., C. JEHNE, B. SHAY dan C.M.L. HARPER,
1995. Microbiology status of beef carcass meat in Indonesia. J of Food Safety. Vol. 15 pp: 291-303.
NOOK, S. M. dan M. POELOENGAN, 2005. Pemakaian antibiotika pada ternak dan dampaknya pada kesehatan manusia. Prosiding Lokakary a Nasional Keamanan Pangan Produk Petemakan. Puslitbangnak. Balitbang Pertanian, Bogor, 14 September 2005. Hlm: 56 - 64.
POERNOMO, S., SUTARMA, JAENURI dan ISKANDAR, 1992.
Kolibasilosis pada unggas di Indonesia: II Uji kepekaan Escherichia coli asal petemakan ayam di beberapa wilayah di Jawa dan Bali terhadap beberapa antibiotika. Penyakit Hewan Vol XXIV No. 43 A. Hlm: 39-43.
SOEPARNO, 1994. Ilmu dan Teknologi Daging. Cetakan II.
Gadjah Mada University Press.
SUPARDI, I. dan SUKAMTO, 1999. Mikroorganisme
penyebab penyakit menular. Dalam Mikrobiologi dalam pengolahan dan keamanan pangan. Cetakan Pertama. Penerbit Alumni Bandung. Hlm: 182-193.
Seminar Nasional Hari Pangan SeduniaUYII Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat
PENINGKATAN KEAMANAN PRODUK TERNAK DARI
K O N T A M I N A N A F L A T O K S I N M E N G G U N A K A N
"TOXIN BINDER"
SRI RACHMAWATI Balai Besar Penelitian Veteriner Jln. RE Martadinata 30, Bogor 16114
Ph. (0251) 334456; Fax. (0251) 336425; e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Pangan yang aman sudah menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia saat ini, terutama masyarakat golongan menengah keatas. Aflatoksin dijumpai secara alami dan dapat mengkontaminasi pakan ternak non ruminansa maupun ruminansia berupa residu pada produk ternak yang dihasilkan, seperti daging, hati, telur dan sebagainya. Upaya peningkatan keamanan pangan produk temak (daging dan hati) dari kontaminan aflatoksin dilakukan dalam penelitian ini dengan menambahkan "toxinbinder", suatu bahan pengikat toksin yang diperoleh secara komersial yang ditambahkan pada pakan. Perlakuan pada ayam pedaging dilakukan sebagai berikut. Grup I: ayam kontrol, Grup II: pakan + AFB1 100 ppb, Grup III: pakan + AFBI 3300 ppb, Grup IV: pakan + "toxin binder"A, Grup V: pakan + AFB1
100 ppb + "toxinbinder"A, Grup VI: pakan + AFB1 3300 ppb + "toxin binder"A, Grup VII: pakan + "toxin binder"B,
Grup VIII: pakan + AFBI 100 ppb + "toxin binder 13, Grup IX: pakan + AFB1 3300 ppb + "toxin binder"B, Grup
X: pakan + AFB1 100 ppb + "toxin binder"C, Grup XI: pakan + AFBI 3300 ppb + "toxin binder"C. "Toxin binder"
yang ditambahkan adalah dosis rekomendasi (0,2%). Ayam pedaging umur sate hari (DOC) dipelihara dalam empat minggu. Pada akhir penelitian, ayam dipotong, daging dan hati diambil untuk dianalisis residu aflatoksin secara ELISA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan dengan kandungan aflatoksin lebih tinggi mengandung residu aflatoksin dalam daging dan hati yang lebih tinggi pula. Penambahan "toxinbinder" berpengaruh terhadap penurunan kadar residu aflatoksin. Jenis "toxinbinder" A dan B memberikan pengaruh yang lebih balk terhadap penurunan residu aflatoksin pada hati. Kadar residu aflatoksin pada hati dan daging ayam yang terdeteksi masih berada di bawah batas kadar maksimum yang dipersyaratkan (<20ppb), masih aman dikonsumsi manusia.
Kata kunci: Keamanan pangan, produk ternak, aflatoksin, toxin binder
PENDAHULUAN
Aflatoksin adalah senyawa racun yang dapat dijumpai di alum, dilaporkan menjadi masalah dalam suplai pangan dan pakan Berta menjadi penghalang pada perdagangan produk pertanian sedunia (BRERETON, 1999). Diantara jenis aflatoksin B, (AFB), B2 (AFB2), G, (AFG) dan G, (AFG2),
AFB1 merupakan senyawa yang paling toksik dan
hasil penelitian International Agency for Research on Cancer (IARQ, terhadap hewan percobaan,
terbukti bahwa AFB1 merupakan senyawa racun bersifat karsinogen. AFB, juga termasuk dalam urutan senyawa karsinogen bagi manusia.
Pada usaha peternakan, kontaminasi aflatoksin p a d a p a k a n a t a u b a h a n d a s a r p a k a n d a p a t
ternak unggas pakan yang mengandung aflatoksin dapat menyebabkan penurunan bobot bahan dan produksi telor. MANi et al., 2001, melaporkan
penurunan bobot ay am pedaging terjadi pada pemberian pakan yang mengandung AFB, 200 ppb selama 8 minggu. Bobot ayam turun secara nyata yaitu 1853,3+18,9 gram pada ayam yang d i b e r i p e r l a k u a n A F B , d i b a n d i n g k a n d e n g a n bobot ayam kontrol 1999,3+25,1 gr, sedangkan hasil penelitian MUTHIAH et aL, 1998, pada ayam
petelur mendapatkan bahwa makin tinggi AFB, d a l a m p a k a n y a ng d i b e r i k a n , m a k a p r o d u k s i
telur makin menurun. Ayam petelur yang diberi pakan mengandung AFB1 0; 0,5; 1,0 dan 1,5 ppm menghasilkan telur yang berbeda nyata untuk masing-masing perlakuan. Produksi telur ayam
Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Heivani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat
64,7%. Terkontaminasi-nya pakan oleh aflatoksin juga dapat menyebabkan kegagalan vaksinasi (JASSAR dan SINGH, 1989), terganggunya penyerapan
unsur mineral, terutama unsur kalsium, magnesium
dan besi (DimRi et al., 1994). Efek lebih lanjut dari adanya kontaminasi aflatoksin pada pakan, yaitu terdeteksinya residu aflatoksin pada produk ternak daging, hati dan SUSU (MARYAM, 1996; WIDIASTUTI,
2000; ARSHAD et al., 1993), yang pada akhirnya akan merugikan manusia yang mengkonsumsi produk temak yang mengandung residu racun tersebut.
Kebutuhan akan pangan y ang aman sudah menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia pada maser "'m, terutama bags masyarakat Menengh keatas dimana tingkat pendidikan sudah Iebih tinggi dan kesejahteraan hidup lebih balk. Oleh karenanya penyediaan bahan pangan produk ternak yang bebas residu toksin uiperlukan. Pada penelitian ini bahan pengikat toksin (toxin binder) dicoba digunakan untuk meningkatkan keamanan produk ternak, dahat hae ini dituSuLuL ulafu(, me-%vKm7,k residu
aflatoksin pada produk ternak yang dihasilkannya. MATERI DAN METODA
Sejumlah ayam dipelihara secara berkelompok dengan perlakuan sebagai berikut:
Grup 1: kelompok ayam kontrol (ayam diberi pakan tanpa penambahan aflatoksin dan tanpa toxin binder), Grup 11: pakan + AFBI 100 ppb, Grup
III: pakan + AFBI 3300 ppb, Grup IV: pakan +
"toxin binder" A, Grup V: pakan + AFB, 100 ppb '+ "toxinbinder" A, Grup VI: pakan + AFBI 3300
ppb + "toxin binder" A, Grup VII: pakan + "toxin binder" B, Grup VIII: pakan + AFBI 100 ppb +
"toxin binder" B, Grup IX: pakan +AFB, 3300 ppb +"toxin binder" B, Grup X: pakan +AFB , 100ppb+ "toxin binder" C, Grup XI: pakan +AFB, 3300 ppb+ "toxin binder" C. Aflatoksin yang ditambahkan pada pakan diproduksi dengan menumbuhkan biakan A.
flavus pada media Sabarouth dectrose broth (SDB)
diinkubasikan selama 10 hari, kemudian supernatan yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan Berta dianalisis kadar aflatoksinnya. Aflatoksin dalam
supernatan pekat ini yang dicampurkan pada pakan sesuai konsentrasi yang diinginkan pada perlakuan,
sedangkan toxin binder juga dicampurkan kedalam
pakan dengan menggunakan dosis rekomendasi yaitu 0,2%. Ayam dipelihara dari mulai umur I hari (DOC) sampai umur 4 minggu. Pada umur 4 minggu ayam dipotong 5 ekor per grup, diambil organ hati dan daging untuk selanjutnya diektrak dan dianalisis kandungan residu aflatoksinnya dengan metoda Enzyme linked immunosorbent
assay (ELISA) yang dikembangkan B.Balitvet
(RACHMAWATI, 2006).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada Tabel I disajikan basil analisis kandungan residu Aflatoxin B, (AFB) pada daging dan hati ayam perlakuan. Ternyata bahwa residu AFB, terdeteksi lebih kecil pada daging dibandingkan p a d a o r g a n b o t i n vq. K , ? , v J 2 ) , v p ? . v a f i a t o k s . ' h F a l ? G lebih tinggi pada pakan memberikan kadar residu AFB, yang lebih tinggi puler pada daging dan hati
ayam. Pengaruh toxin binder lebilijelas terlihat pada penurunan residu pada organ hati dibandingkan pada daging (Gambar 1). Tidak terdeksi adanya residu AFB, (kadar < 0,2 ppb) pada daging ayam grup kontrol, ayam yang diberi pakan saja tanpa perlakuan aflatoksin dan toxin binder, sedangkan pada grup ayam yang mendapat perlakuan kadar residu relatif rendah berkisar antara rata-rata 0,3- 2,0 ppb. Pada organ hati grup ayam kontrol, terdeteksi residu AFB, yang cukup besar yaitu rata-rata 12,5 ppb Limuk pakan yang ditambahkan AFB 3300 ppb, dan penggunaan toxin binder memberikan penurunan kadar residu pada hati ayam terlihat pada grup VI, IX dan XI, dimana kadar rata- rata residu AFB, yang terdeteksi masing-masing 3,3 ; 3,1 dan 5,7 ppb. Namun demikian secara keseluruhan kadar residu AFB, pada hati ayam dalam kisaran 1,7-12,5 ppb. Batas rnaksimum yang dipersyratkan residu AFB, pada produk temak adalah 20 ppb (SNI, 2000), jadi daging dan hati ayam percobaan masih layak dan aman dikonsumsi manusia.
Seminar Nasional Hari Pangan SeduniaUMI Dukungan Tekwologi Unluk Meningkatk-mi ProAk PmTtvi Hewwfi Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Alfasyarakal
Tabel 1. Kandungan residu AFB, pada daging dan hati a
,, am perlakuan
Organ 1 11 111 IV Kadar residu AFB I (ppb) GrupV VI VII VIII IX X XI Daging <0,2 1,5 2,0 0,2 1,3 1,2 0,3 2,0 1,8 0,9 1,1 <0,2 1,9 1,9 0,2 0,7 1,3 0,2 1,9 1,7 1,1 1,3 <0,2 1,6 2,0 0,2 0,9 0,8 0,2 1,5 1,9 1,3 0,9 <0,2 1,0 2,1 0,3 0,9 1,0 0,6 1,0 2,9 1,5 2,1 <0,2 1,4 2,2 0,4 1.0 1,3 0.4 1,1 1,0 1,1 2,2 Rata-rata <0,2 1,5 2,0 0,3 1.0 1.8 0.3 1,5 1,9 1,2 1,5 Hati 1,5 3,2 11,8 3,5 1,9 1,7 1,9 1,2 3,4 2,5 6,4 1,0 3,2 11,3 1,1 1,5 2,6 2,1 2,6 2,9 2,4 5,7 1,5 5,4 13,8 1,6 1,2 5,0 1,7 1,1 3,1 1,7 4,2 2,0 3,8 9,9 1,9 2,2 4,7 1,3 1,9 2,4 1,7 5,9 L8 3,0 15,8 2,0 1,0 2,7 0.9 1,3 3,8 2,3 6,4 Rata-rata 1,7 3,7 12.5 2.0 1,6 3,3 1,6 1.6 3,1 2,1 5.7 Keterangan:
Grup I: ayam kontrol, Grup II: pakan +AFB, 100 ppb, Grup III: pakan +AF13, 3300 ppb, Grup IV: pakan + "toxin binder" A, Grup V: pakan + AFB, 100 ppb + "toxinbinder" A, Grup VI: pakan + AF13, 3300 ppb + "toxin binder" A, Grup VII: pakan + "toxin binder" B, Grup VIII: pakan + AFI3, 100 ppb + "toxin binder" B,
Grup IX: pakan + AF13 1 3300 ppb + "toxin binder" B,
Grup X: pakan + AF13 I 100 ppb + "toxin binder" C,
Grup XI: pakan + AFBI 3300 ppb + "toxin binder" C
0 ___
--o -10 C) C) 0 Q) CO 0 A 0,2% B 0,2% 0,2% 1 2 - 1 0 -Jenis toxin binder
~ D a g i n g * H a t i
Gambar 1. Histogram kadar residu AFB, pada daging dan hati ayam
Residu AFB, pada daging dan hati relatif
rendah, karena dalam metabolisms tubuh ayam
AFB, berubah menjadi metabolitnya seperti
aflatoksikol dan AFM,. Sebagian diekresikan dan
sebagian terdistribusi di darah, hati, tembolok, dada
dan paha. Pada percobaan pemberian 3 ppm AFB,
pada ayam pedaging dan petelur, residu AFB, dan
metabolitnya yang terbentuk, terdeposit di organ
hati 10 kali lebih besar dibandingkan j aringan tubuh
yang lain
(MABEEdan
CHIPLEY,1973;
BINTVIHOKet
Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXV11 Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat
Hasil studi yang dilaporkan terdahulu dari 31 sampel hati ayam, sebanyak 14 sampel positif mengandung residu AFB, dengan kadar rata-rata 0,01 ppb dan 30 sampel mengandung AFM, kadar rata-rata 12,1 ppb (MARYAm, 1996). Sampel hati yang dikumpulkan dari pasar tradisionil dan swalayan didaerah Jawa Barat ternyata juga mengandung residu AFB, dan AFM,' 13 dari 21 sampel hati sapi
yang dikumpulkan mengandung residu AFB, dalam kisaran 0,33-1,44 ppb (WIDIASTUTI, 2000).
K E S I MP U L A N
Dari hasil percobaan ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
I. Kadar aflatoksin yang tinggi pada pakan memberikan residu aflatoksin yang cukup tinggi pula terutama pada organ hati ayam
2. Kadar residu aflatoksin terdeteksi lebih kecil pada daging dibandingkan hatinya
3. Penggunaan toxin binder meningkatkan keamanan pangan dalam hal ini mengurangi residu aflatoksin terutama pada hati ayam
4. Jenis "toxinbinder" A dan B memberikan p e n g a r u h y a n g l e b i h b a i k t e r h a d a p penurunan residu aflatoksin pada hati dan daging
5. Kadar resiodu aflatoksin B, yang terdeteksi
dalam daging dan bard ayam
masih dalam kisaran aman untuk dikonsurnsi manuasia.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada PT. Kalbe Farina Tbk atas bantuan "toxin binder" dan tim untuk koleksi sampel.
DAFTAR PUSTAKA
ARSHAD, S., M.Z. KHAN, M. SIDDiQuE and M.T. JAVED. 1993. Studies on enzyme level and residual effects of aflatoxins in experimentally induced mycotoxicosis in broiler chicks. Indian. Vet. J 70(10): 898-902.
BRERETON, P. 1999. Mycotoxins in the UK food supply: Actions taken to assess and reduce exposure.
In: Mycotoxin Contamination: Health Risk and Prevention Project. Proc. of International Symposium of Micotoxicology 99: 63-68.
BINTVIHOK, A, S. TMENGNIN, K. DOL, and S. KUMAGAI. 2002. Residues of aflatoxins in the liver, muscle and eggs of domestic fowl. J Vet. Med. Sci. 64
(11):1037-1039.
Dimpd, U., V.N. RAO and H.C. JOSH[. 1994. Effect of
chronic aflatoxin BI feeding on serum-calcium, magnesium and iron profile in chicken. Indian. Vet. J 71 (9) : 907-910.
JASSAR B. S. and BALWANT-SINGH. 1989. Immunosupressive effect of aflatoxin in broiler chicks. Indian. J Anim.
Sci. 59 (1): 61-62.
MABEE, M.S. and J.R. CHIPLEY. 1973. Tissue distribution and metabolism of aflatoxin B1-14 C in broiler chickens. Appl microbial.25(5):763-769. MANI, K., K. SUNDARESAN AND K. VISWANATHAN. 2001.
Effect of immunomodulators on the performance of broilers in aflatoxicosis. Indian. Vet. J 78 (12) :1126-1129.
MARYAM, R. 1996. Residu aflatoksin dan metabolitnya dalam daging dan hati ayam. Pros. Temu Ilmiah Nasional Biding Veteriner. Balai Penelitian Veteriner, Bogor: him. 336-339.
MUTHIAH, J., P. REDDY and N.D.J. CHANDRAN. 1998. Effect of graded levels of aflatoksin B, and the effect of direct fed microbials (DFM) on egg production in egg type breeders. Indian. Vet. J 75 (3): 231-233.
RAcHmAwATi, S. 2006. Pengembangan metoda analisis aflatoksin BI dalam hati ayam secara Enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner 2006. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Bogor 5-6 September, 2006.783-789.
STANDAR NASIONAL INDONESIA. 1995. Batas maksimum residu untuk mikroba dan kontaminan kimia pada produk ternak. Badan Standarisasi Nasional, Indonesia
WIDIASTUTI, R. 2000. Residu aflatoksin pada daging dan hati sapi di pasar tradisionil dan swalayan di Jawa Barat. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner, Bogor, 18-19 oktober 1999. him. 609-614.