• Tidak ada hasil yang ditemukan

Unduh BRS Ini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Unduh BRS Ini"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BPS PROVINSI SUMATRA SELATAN

No. 13/02/16/Th.XVIII, 05 Februari 2016

PERDAGANGAN KOMODITAS STRATEGIS 2015

DI SUMATRA SELATAN, MARJIN PERDAGANGAN DAN PENGANGKUTAN BERAS 15,24 PERSEN, CABAI MERAH 24,48 PERSEN, BAWANG MERAH 19,23 PERSEN, JAGUNG PIPILAN 26,40 PERSEN, DAN DAGING AYAM RAS 22,10 PERSEN

1. Pendahuluan

Survei pola distribusi perdagangan beberapa komoditi (Poldis) 2015 merupakan survei yang dirancang untuk mendapatkan pola distribusi perdagangan, peta wilayah distribusi perdagangan, marjin perdagangan, dan margin pengangkutan mulai tingkat pedagang besar sampai dengan pedagang eceran.

Survei Poldis memilih komoditi strategis nasional, yaitu komoditi yang memenuhi kriteria sebagai berikut: paling banyak dikonsumsi masyarakat; berperan dalam pembentukan inflasi, kontribusi cukup besar dalam pembentukan

Gejolak margin perdagangan dan pengangkutan komoditas strategis di Sumatra Selatan tidak setajam gejolak nasional.

Di Sumatra Selatan, alur distribusi perdagangan komoditas terpanjang terjadi untuk beras, yaitu 7 (tujuh) rantai perdagangan. Terpendek dialami bawang merah (2 rantai perdagangan): yaitu sebagian pedagang pengepul (pengumpul) menjual 11,67% bawang merahnya langsung ke konsumen akhir (sebagian besar rumahtangga).

Distributor beras di Sumatra Selatan menjual 51,97 persen berasnya ke Agen, 36,64 persen ke Pedagang Pengepul, 9,99 persen ke Grosir, dan 1,40 persen langsung ke Rumahtangga.

Agen Bawang Merah SumSel menjual 40,62 persen bawang merahnya ke Pedagang Eceran, 31,25 persen ke konsumen akhir, dan 28,13 persen ke grosir. Agen Cabe Merah SumSel menjual 60 persen cabe merahnya ke Pedagang

Eceran, 32,07 persen ke kegiatan usaha lain, dan langsung ke rumahtangga 7,93 persen.

Agen (juga bertindak sebagai Pengepul dan Grosir) Jagung Pipilan SumSel menjual 53,73 persen jagungnya ke kegiatan usaha lain, 18,89 persen ke Pedagang Eceran, 15,35 persen ke Industri Pengolahan, dan 12,03 persen langsung ke Rumahtangga.

(2)

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB); dan dampak cukup besar terhadap kebutuhan masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, komoditi terpilih untuk survei Poldis 2015 adalah beras, cabai merah, bawang merah, jagung pipilan, dan daging ayam ras.

2. Pola Distribusi Perdagangan

Distribusi komoditi perdagangan dari produsen hingga sampai ke konsumen melibatkan hampir seluruh fungsi kelembagaan perdagangan yaitu

Produsen Importir/Eksportir Pedagang Pengepul (pengumpul)Distributor Sub distributor Agen Sub agenpedagang grosir

swalayan/supermarket/pedagang eceran konsumen akhir (rumah

tangga/industri pengolahan/kegiatan usaha lainnya/pemerintah/ lembaga nirlaba).

Tidak semua transaksi melalui seluruh rantai perdagangan tersebut. Berbagai variasi rantai perdagangan dapat terjadi, sesuai proses bisnis yang harus dilalui untuk melakukan transaksi. Rantai terpendek dapat terjadi ketika Produsen atau Importir/Eksportir langsung menjual sebagian atau seluruh barangnya ke konsumen akhir.

3. Peta Distribusi Perdagangan

Untuk memenuhi kebutuhan, selera, ataupun bagian proses bisnis suatu komoditi, Sumatra Selatan wilayah dapat membeli atau mendatangkan atau mengimpor dari luar provinsi. Sebaliknya, jika produksi berlebih atau proses bisnis suatu komoditi menghendaki, Sumatra Selatan menjualnya atau mengekspornya ke daerah lain atau ke mancanegara. Peta distribusi perdagangan menggambarkan distribusi barang dalam suatu provinsi yang dilihat berdasarkan wilayah (provinsi lainnya atau mancanegara) pemasoknya dan wilayah (provinsi lainnya atau luar negeri) penjualan komoditi yang bersangkutan. 4. Marjin Perdagangan dan Pengangkutan (MPP)

(3)

5. PERDAGANGAN BERAS

Distributor beras di Sumatra Selatan, yang dalam hal ini juga bertindak mewakili Penggilingan Padi (sebagai produsen beras), menjual sebagian besar hasil produksinya melalui agen, yaitu sebesar 51,97 persen. Selain dijual melalui agen, beras hasil penggilingan tersebut oleh distributor juga dijual melalui pedagang pengepul (36,64 persen), pedagang eceran (9,99 persen), dan langsung ke rumah tangga (1,40 persen).

Gambar 1. Pola Perdagangan Beras di Sumatra Selatan, 2015

(4)

tersebut oleh pedagang kemudian dijual ke dalam Provinsi Sumatera Selatan sebesar 95,35 persen, sedangkan sisanya dijual ke Jambi, Lampung, dan DKI Jakarta. Peta distribusi perdagangan komoditas beras di Provinsi Sumatera Selatan disajikan pada gambar berikut.

Gambar 2. Peta Distribusi Perdagangan Beras di Provinsi Sumatera Selatan

Pedagang Besar (PB) beras di Sumatra Selatan rata-rata memperoleh marjin (rasio MPP) sebesar 15,19 persen, dan rata-rata perolehan marjin setelah dikurangi biaya transportasi (rasio MP) adalah sebesar 13,86 persen. Yang dimaksud Pedagang Besar adalah seluruh pedagang perantara meliputi importir, eksportir, pedagang pengepul, distributor, subdistributor, agen, sub agen, dan grosir. Adapun Pedagang Eceran (PE) beras rata-rata memperoleh marjin (rasio MPP) sebesar 26,87 persen, sedangkan rata-rata perolehan marjin setelah dikurangi biaya transportasi (rasio MP) adalah sebesar 24,02 persen. Dengan demikian rata-rata perolehan marjin pedagang beras di Provinsi Sumatera Selatan adalah sebesar 15,24 persen dan rata-rata perolehan marjin setelah dikurangi biaya transportasi adalah sebesar 13,9 persen.

6. PERDAGANGAN BAWANG MERAH

Sebagian besar bawang merah yang diperdagangkan di Sumatera Selatan dipasok dari luar provinsi, yaitu Jawa Tengah dengan persentase sebesar 83,71 persen. Sementara itu, pasokan dari internal wilayah Sumatera Selatan sendiri menyumbang 16,18 persen. Dari sisi penjualan, hampir seluruh persediaan

(5)

bawang merah tersebut dijual ke dalam wilayah Sumatera Selatan. Sedikit sisanya dipasarkan ke provinsi terdekat yakni Lampung (0,01 persen). Berikut visualisasi distribusi perdagangan bawang merah di Provinsi Sumatera Selatan.

Gambar 3. Peta Distribusi Perdagangan Bawang Merah di Provinsi Sumatera Selatan

Pola distribusi perdagangan bawang merah di provinsi Sumatera Selatan melibatkan beberapa fungsi usaha pedagang besar seperti pedagang pengepul, agen dan pedagang grosir. Dari sisi konsumen, diketahui pemerintah/lembaga nirlaba, industri, kegiatan usaha lain hingga rumah tangga merupakan konsumen akhir, sebagai muara dari rantai distribusi yang berlangsung.

(6)

Secara umum, agen dan pedagang eceran memainkan peran penting dalam rangkaian distribusi bawang merah di Sumatera Selatan. Hal ini ditunjukkan dengan keberadaan agen yang memasok bawang merah ke pedagang grosir, pedagang eceran, sekaligus kegiatan usaha. Di level pedagang besar lainnya, pedagang pengepul dan pedagang grosir juga menjual sebagian besar stoknya ke PE. Selanjutnya, PE yang berhubungan langsung dengan konsumen mendistribusikan stok bawang merah yang di dapat ke empat konsumen akhir, dimana penjualan ke rumahtangga memiliki persentase terbesar (82,01 persen).

Rata-rata Marjin Perdagangan dan Pengangkutan Pedagang Besar bawang merah di Sumatra Selatan adalah 19, 18 persen. Setelah dikurangi margin pengangkutan (MP PB) menjadi 18,31 persen. Pedagang Eceran beras di Sumatra Selatan mengambil rata-rata MPP sedikit lebih tinggi, yaitu 20,66 persen. Setelah dikurangi margin pengangkutan (MP PE) menjadi 20,38 persen. Jika digabung, rata-rata MPP untuk pelaku perdagangan adalah 19,23 persen. Indikator ini menggambarkan bahwa secara umum pedagang bawang merah di Sumatera Selatan mengambil keuntungan penjualannya rata-rata sebesar 19,23 persen. Bila dikurangi biaya angkutan sehingga tersisa Margin Perdagangan 18,39 persen.

7. PERDAGANGAN CABE MERAH

(7)

Gambar 5. Pola Distribusi Perdagangan Cabai Merah di Provinsi Sumatera Selatan

Berdasarkan peta distribusi perdagangan, wilayah pembelian cabai merah berasal dari Provinsi Sumatera Selatan sendiri (85,90%) dan dari provinsi lain yaitu Jawa Tengah (14,10%). Penjualan cabai merah sebagian besar ke Provinsi Sumatera Selatan sendiri (99,99%) dan sisanya ke luar provinsi yaitu Lampung (0,01%).

Gambar 6. Peta Distribusi Perdagangan Cabai Merah di Provinsi Sumatera Selatan

Perolehan marjin Pedagang Besar cabai merah di Provinsi Sumatera Selatan adalah sebesar 23,48 persen dan rata-rata perolehan marjin setelah

99,99%

85,90%

Keterangan :

: Arus Pembelian [n %] : Arus Penjualan [n %]

Sumatera Selatan

0,01%

Lampung

(8)

dikurangi biaya transportasi adalah sebesar 22,75 persen. Di tahun 2015 tidak dilakukan survei MPP terhadap Pedagang Eceran cabe merah di Sumatra Selatan.

8. PERDAGANGAN JAGUNG PIPILAN

Saluran distribusi perdagangan jagung pipilan di Provinsi Sumatera Selatan dimulai dari pedagang pengepul yang mendapat pasokan langsung dari petani, kemudian dijual seluruhnya ke agen. Agen menjual kembali sebagian besar jagung pipilannya ke kegiatan usaha lainnya (53,73 persen), sisanya ke pedagang eceran, industri pengolahan, dan rumah tangga. Pedagang besar grosir yang mendapat pasokan dari agen menjual sebagian besar jagung pipilan ke pedagang eceran sebesar 60,00 persen sisanya ke rumah tangga. Pada tingkat eceran dijual ke rumah tangga sebesar 70,00 persen dan sesama pengecer. Pola saluran distribusi perdagangan jagung pipilan di Provinsi Sumatera Selatan disajikan pada Gambar berikut:

Gambar 7. Pola Distribusi Perdagangan Jagung Pipilan di Provinsi Sumatera Selatan

(9)

Keterangan :

wilayah sendiri sebesar 40,48 persen, sisanya ke luar wilayah yaitu ke Sumatera Barat sebesar 42,03 persen dan ke Jambi sebesar 17,49 persen.

Gambar 8. Peta Distribusi Perdagangan Jagung Pipilan di Provinsi Sumatera Selatan

Pedagang besar jagung pipilan di Sumatra Selatan rata-rata memperoleh marjin (rasio MPP) sebesar 26,39 persen dan rata-rata perolehan marjin setelah dikurangi biaya transportasi (rasio MP) adalah sebesar 22,87 persen. Adapun kategori pedagang eceran jagung pipilan rata-rata memperoleh marjin (rasio MPP) sebesar 33,33 persen, sedangkan rata-rata perolehan marjin setelah dikurangi biaya tranSportasi (rasio MP) adalah sebesar 19,95 persen. Dengan demikian rata-rata perolehan marjin pedagang jagung pipilan di Provinsi Sumatera Selatan adalah sebesar 26,4 persen dan rata-rata perolehan marjin setelah dikurangi biaya transportasi adalah sebesar 22,86 persen.

9. PERDAGANGAN DAGING AYAM RAS

(10)

sebesar 63,93 persen, rumah tangga serta pemerintah dan institusi nirlaba. Selain itu, distribusi perdagangan daging ayam ras juga berlangsung pada pedagang eceran yang mendapat pasokan dari produsen dan agen. Selanjutnya, pedagang eceran menjual barang dagangannya ke sesama pedagang eceran sebesar 23,56 persen dan sisanya dijual ke rumah tangga sebesar 76,44 persen. Adapun pola distribusi perdagangan daging ayam ras beserta presentase penjualan dari setiap fungsi usaha perdagangan di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada Gambar berikut.

Gambar 9. Pola Distribusi Perdagangan Daging Ayam Ras di Provinsi Sumatera Selatan

(11)

Gambar 10. Peta Distribusi Perdagangan Daging Ayam Ras

di Provinsi Sumatera Selatan

Marjin Perdagangan dan Pengangkutan komoditas daging ayam ras di Provinsi Sumatera Selatan sebagai berikut. Pedagang besar daging ayam ras rata-rata memperoleh marjin (rasio MPP) sebesar 16,21 persen dan rata-rata perolehan marjin setelah dikurangi biaya transportasi (rasio MP) adalah sebesar 13,88 persen. Adapun kategori pedagang eceran daging ayam ras rata-rata memperoleh marjin (rasio MPP) sebesar 26,36 persen, sedangkan rata-rata perolehan marjin setelah dikurangi biaya transportasi(rasio MP) adalah sebesar 26,17 persen. Dengan demikian rata-rata perolehan marjin pedagang daging ayam ras di Provinsi Sumatera Selatan adalah sebesar 22,21 persen dan rata-rata perolehan marjin setelah dikurangi biaya transportasi adalah sebesar 21,14 persen.

10. PERBANDINGAN MPP SUMATRA SELATAN DAN INDONESIA

Secara umum, MPP (margin perdagangan dan pengangkutan) beras, bawang merah, cabe merah, jagung pipilan, dan daging ayam ras di Sumatra Selatan relatif lebih stabil dibanding kondisi nasional Indonesia. Berdagang beras dan ayam ras di Sumatra Selatan lebih menguntungkan dibandingkan kondisi

Sumatera Selatan

100%

100% Keterangan :

(12)

nasional. Sebaliknya, keuntungan perdagangan cabai merah, bawang merah, dan jagung pipilan di Sumatra Selatan sedikit lebih rendah dibandingkan kondisi nasional.

Tabel 1

Rata-Rata Rasio Marjin Perdagangan dan Pengangkutan (MPP)

No Komoditi

MPP

Indonesia Sumatra Selatan

[1] [2] [3] [4]

1 Beras 10,42 15,24

2 Cabai Merah 25,33 22,75

Gambar

Gambar 1. Pola Perdagangan Beras di Sumatra Selatan, 2015
Gambar 2. Peta Distribusi Perdagangan Beras di Provinsi Sumatera Selatan
Gambar 3. Peta Distribusi Perdagangan Bawang Merah di Provinsi Sumatera Selatan
Gambar 5. Pola Distribusi Perdagangan Cabai Merah di Provinsi Sumatera Selatan
+6

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

bandeng, kakap putih dan kerapu macan, juga telah berhasil dipijahkan dan diproduksi benihnya antara lain berbagai jenis kerapu kerapu lumpur (E. corallicola),

Jika proposal yang diajukan mahasiswa telah disetujui oleh Dosen Pembimbing maka mahasiswa dapat melanjutkan untuk mengerjakan proyek akhir tersebut melalui penelitian

Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa peningkatan produksi keripik pare ke depan lebih menjanjikan dari pada keripik sayur lainnya, disamping pula ada

Hasil analisis diperoleh probability value sebesar 0,000 < 0,05 maka H o ditolak, berarti model yang digunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas yaitu

,engingatkan kembali ke"ada ibu tentang "ers/nal $ygiene "ada balita  dengan membiasakan kebiasaan 9u9i tangan setela$ melakukan aktiitas?.

Per Po 201 Ketimpangan Ketidakmera dapat menja Menganalisi bagi pemben Selatan Mengetahui dari strategi- n Sumberda hasil analisi ang telah Cianjur pada an (34,375% yah dengan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh rasio keuangan (rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas, rasio profitabilitas) dan ukuran

Jika nilai b2 yang merupakan koefisien korelasi dari Kualitas Produk (X 2 ) sebesar 0.609 yang artinya mempunyai pengaruh positif terhadap variabel dependen (Y)