• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIARAN PERS SWISINDO final

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SIARAN PERS SWISINDO final"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

No. SP 56/DKNS/OJK/6/2016

SIARAN PERS

WASPADAI JANJI PELUNASAN KREDIT OLEH PIHAK

TIDAK BERTANGGUNGJAWAB

__________________________________________________________________________________

Jakarta, 20 Juni 2016. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta masyarakat untuk mewaspadai penawaran dari perusahaan atau lembaga yang menjanjikan pelunasan kredit dan ajakan tidak membayar utang ke bank-bank, perusahaan pembiayaan maupun lembaga jasa keuangan lainnya.

Penawaran dan ajakan itu belakangan muncul di beberapa daerah dengan mengatasnamakan PT Swissindo World Trust International Orbit di Cirebon dan Koperasi Pandawa Mandiri Grup di Yogyakarta.

Terkait hal tersebut, OJK menyatakan bahwa praktek tersebut tidak dibenarkan

karena dapat merugikan industri jasa keuangan dan masyarakat. Kegiatan tersebut tidak sesuai dengan mekanisme pelunasan kredit ataupun pembiayaan yang lazim berlaku di perbankan dan lembaga pembiayaan.

Oleh karena itu, OJK mengajak semua pihak khususnya para debitur dan pelaku usaha jasa keuangan untuk waspada dan berhati-hati terhadap penawaran dan atau ajakan dari pihak manapun terkait hal tersebut.

Di sisi lain, bagi debitur yang masih memiliki kewajiban kredit kepada industri jasa keuangan diminta agar tetap menyelesaikan seluruh kewajibannya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati dan menghubungi pihak bank atau perusahaan pembiayaan terkait.

Selanjutnya, OJK juga menghimbau agar pihak-pihak yang merasa dirugikan melakukan upaya hukum sesuai dengan koridor hukum yang berlaku agar terdapat kepastian hukum dan mencegah kerugian yang lebih besar pada industri jasa keuangan akibat perilaku pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Menyikapi hal di atas, OJK sedang berkoordinasi dengan lembaga dan otoritas terkait guna mencegah adanya kerugian bagi Industri Jasa Keuangan dan masyarakat.

Modus penawaran pelunasan kredit dilakukan dengan menawarkan janji pelunasan kredit/pembebasan hutang rakyat dengan sasaran para debitur macet pada bank-bank, perusahaan-perusahaan pembiayaan maupun lembaga-lembaga jasa keuangan lainnya, dengan cara menerbitkan surat jaminan/pernyataan pembebasan hutang yang dikeluarkan dan mengatasnamakan presiden dan negara Republik Indonesia maupun lembaga internasional dari negara lain. Para debitur tersebut, dihasut untuk tidak perlu membayar hutang mereka kepada para kreditur.

Modus lain penawaran ini antara lain sebagai berikut:

1. Mengatasnamakan negara dan/atau lembaga negara tertentu dengan dasar kedaulatan rakyat berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, 2. Mencari korban yang terlibat kredit macet dan menjanjikan akan

menyelesaikan utangnya dengan jaminan Surat Berharga Negara,

(2)

4. Meminta korban untuk mencari debitur bermasalah lain untuk diajak bergabung.

OJK meminta masyarakat untuk terlebih dahulu berkonsultasi terkait penawaran kegiatan keuangan yang dianggap mencurigakan ke Layanan Konsumen OJK melalui telepon 1500655 atau [email protected], ataupun mendatangi kantor OJK terdekat yang ada di berbagai kota.

***

Informasi lebih lanjut:

Referensi

Dokumen terkait

BAB IV AKIBAT HUKUM ATAS EKSEKUSI BENDA JAMINAN KREDIT YANG TIDAK MENCUKUPI UNTUK PELUNASAN HUTANG PADA KOPERASI SIMPAN PINJAM SUTA PARIKRAMA JIKA TERJADI KREDIT MACET

PERTANGGUNGJAWABAN DEBITUR I PENANGGUNG HUTANG DALAM PENGURUSAN PIUTANG NEGARA (KREDIT MACET) PADA KANTOR PELAYANAN PENGUROSAN PIUTANG NEGARA (KP3N) MEDAN DITINJAU DARI UU

Dalam praktek pemberian kredit tersebut pihak bank menawarkan debitur untuk mengasuransikan jiwanya sehingga proses penyelesaian kredit dari debitur yang meninggal dunia

Dengan program penjaminan dari pemerintah lewat Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), bank-bank penyalur menggiring kredit macet yang sebelumnya tidak dalam wadah KUR, menjadi

Dalam praktek pemberian kredit tersebut pihak bank menawarkan debitur untuk mengasuransikan jiwanya sehingga proses penyelesaian kredit dari debitur yang meninggal dunia

Jadi, dalam perjanjian kredit dengan jaminan fidusia apabila pihak debitur cidera janji atau wanprestasi dan mengalami kredit macet maka dalam pasal 29 Undang-Undang

Penggunaan jasa pihak ketiga atau yang dikenal dengan penagih hutang dalam penagihan kredit macet dapat menimbulkan kerugian bagi debitur akibat ketidak

Rumah yang dibeli oleh debitur menjadi jaminan pelunasan kredit (utang) debitur kepada bank yang dibebani Hak Tanggungan. Rumah tersebut berbentuk rumah