Perihal : Warkat dan Dokumen Kliring serta Pencetakannya pada Perusahaan Percetakan Warkat dan Dokumen Kliring
Sehubungan dengan adanya beberapa perubahan kebijakan yang terkait dengan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring dalam rangka mendukung kelancaran penyelenggaraan Kliring, dipandang perlu untuk mengatur kembali peraturan pelaksanaan dari Peraturan Bank Indonesia Nomor 1/3/PBI/1999 tanggal 13 Agustus 1999 tentang Penyelenggaraan Kliring Lokal dan Penyelesaian Akhir Transaksi Pembayaran Antar Bank Atas Hasil Kliring Lokal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3873) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 2/14/PBI/2000 tanggal 9 Juni 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 88), sebagai berikut.
I. PEMBAKUAN WARKAT DAN DOKUMEN KLIRING
Dalam upaya untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, keamanan, dan kemudahan pengawasan dalam penyelenggaraan Kliring, perlu dilakukan pembakuan Warkat dan Dokumen Kliring yang digunakan dalam Kliring. A. WARKAT
Warkat merupakan alat pembayaran bukan tunai yang diperhitungkan atas beban atau untuk untung rekening nasabah atau Bank yang digunakan dalam penyelenggaraan Kliring.
1. JENIS WARKAT
Jenis Warkat yang dibakukan untuk diperhitungkan dalam Kliring yaitu:
a. Cek adalah cek sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD), dan jenis-jenis Warkat serupa cek yang penggunaannya dalam Kliring telah disetujui oleh Bank Indonesia, antara lain cek deviden
(dividend cheque), cek perjalanan (traveller’s cheque), cek
cinderamata (gift cheque), dan cek bank (bank’s cheque). b. Bilyet Giro adalah surat perintah dari nasabah kepada Bank
penyimpan dana untuk memindahbukukan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan kepada rekening pemegang yang disebutkan namanya sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai Bilyet Giro, termasuk Bilyet Giro Bank Indonesia (BGBI).
c. Wesel Bank Untuk Transfer (WBUT) adalah wesel sebagaimana diatur dalam KUHD yang diterbitkan oleh Bank khusus untuk sarana transfer.
d. Surat Bukti Penerimaan Transfer (SBPT) adalah surat bukti penerimaan transfer dari luar kota yang dapat ditagihkan kepada Bank Peserta penerima dana transfer melalui Kliring.
e. Nota Debet adalah Warkat yang digunakan untuk menagih dana pada Bank lain untuk untung Bank atau nasabah Bank yang menyampaikan Warkat tersebut. Nota Debet yang dikliringkan hendaknya telah diperjanjikan dan dikonfirmasikan terlebih dahulu oleh Bank yang
menyampaikan Nota Debet kepada Bank yang akan menerima Nota Debet tersebut.
f. Nota Kredit adalah Warkat yang digunakan untuk menyampaikan dana pada Bank lain untuk untung Bank atau nasabah Bank yang menerima Warkat tersebut.
2. SPESIFIKASI TEKNIS WARKAT
a. Spesifikasi Teknis yang harus dicantumkan dalam Warkat Spesifikasi teknis Warkat yang harus dicantumkan dalam Warkat yang akan digunakan dalam penyelenggaraan Kliring secara Manual, Semi Otomasi, Otomasi dan Elektronik diatur sebagai berikut:
1) Kertas
Kertas yang digunakan harus memenuhi kualitas “The
London Clearing Bank’s Paper Specification No. 1”
(kertas CBS-1), yang sekurang-kurangnya memenuhi standar sebagai berikut:
a) berat kertas (gramatur) : 95 +/- 5 % g/M2; b) ketebalan : 105 sampai dengan 135 micron; dan c) memuat tanda air (watermark) berupa logo
perusahaan percetakan Warkat dan Dokumen Kliring (PPWDK).
2) Ukuran
Ukuran Warkat yang digunakan harus merupakan ukuran seragam, yaitu panjang 7 (tujuh) inci dan lebar 2 ¾ (dua tiga per empat) inci. Khusus untuk Nota
Kredit, dapat pula digunakan ukuran panjang 8 (delapan) inci dan ukuran lebar 3 ⅔ (tiga dua per
tiga) inci.
3) Rancang Bangun
Pembakuan Warkat tidak dimaksudkan untuk membakukan redaksi yang tercantum dalam Warkat. Namun demikian untuk lebih memudahkan pengenalan dan pemeriksaan Warkat maupun sandi atau informasi yang tercantum di dalamnya maka rancang bangun Warkat diatur sebagai berikut:
a) nama dan logo Bank
nama dan logo Bank harus dicetak lebih jelas dan atau lebih besar daripada cetakan lainnya pada Warkat dimaksud dan ditempatkan pada bagian kiri atas Warkat. Pencantuman logo dimaksud tidak berlaku dalam hal Peserta tidak memiliki logo;
b) penulisan jenis Warkat
jenis Warkat sebagaimana dimaksud dalam angka 1 harus ditulis dalam bahasa Indonesia dan apabila diperlukan dapat ditambahkan padanan katanya dalam bahasa Inggris. Tulisan jenis Warkat tersebut harus dicetak lebih jelas dan atau lebih besar daripada tulisan lain pada redaksi Warkat dan ditempatkan pada bagian atas Warkat;
c) penggunaan bahasa Indonesia pada redaksi Warkat
redaksi Warkat harus ditulis dalam bahasa Indonesia dan apabila diperlukan, dapat ditambahkan padanan katanya dalam bahasa Inggris;
d) nomor seri
nomor seri yang digunakan sebagai sarana kontrol penggunaan Warkat harus dicantumkan pada bagian kanan atas Warkat;
e) nilai nominal
ruangan untuk menuliskan nilai nominal dalam angka dan huruf harus cukup luas dan ditempatkan di bagian tengah Warkat, sehingga perbandingan tulisan nilai nominal dalam angka dan huruf pada Warkat dapat terlihat atau terbaca dengan jelas;
f) tempat dan tanggal penerbitan
kolom penulisan tempat dan tanggal penerbitan Warkat harus disediakan pada Warkat;
g) ruangan tanda tangan
ruangan untuk tanda tangan dan atau pencantuman nama jelas penerbit atau penarik Warkat harus disediakan dengan cukup luas
serta ditempatkan pada bagian bawah Warkat di atas garis batas clear band;
h) nama PPWDK
nama PPWDK harus dicantumkan secara vertikal pada sisi sebelah kiri atau kanan Warkat, atau secara horisontal di bagian bawah Warkat di atas garis batas clear band;
i) penulisan Peserta Kliring Warkat Luar Wilayah Peserta Kliring Warkat Luar Wilayah harus menuliskan istilah “Peserta Kliring Warkat Luar Wilayah”, “Dapat dikliringkan pada seluruh cabang bank di Indonesia”, “Peserta intercity
clearing” atau istilah yang sejenis lainnya pada
bagian tengah atas Warkat atau pada bagian lain yang masih kosong dan menurut Peserta merupakan tempat yang paling tepat. Contoh penulisan istilah Peserta Kliring Warkat Luar Wilayah pada Cek dan Bilyet Giro adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran 1.a dan Lampiran 1.b;
j) penggunaan warna yang kontras
komposisi warna antara latar belakang Warkat dan tulisan pada Warkat yang digunakan pada seluruh sistem penyelenggaraan Kliring harus cukup kontras, sehingga apabila Warkat diproses oleh mesin baca pilah (reader sorter) pada ./.
sistem Otomasi atau Elektronik, tulisan pada hasil reproduksi image Warkat atas Warkat yang sebelumnya telah direkam gambarnya dalam penyelenggaraan Kliring dengan menggunakan mesin baca pilah, dapat dibaca dengan jelas. Dengan demikian, dalam pemilihan komposisi warna pada latar belakang Warkat, Peserta harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
(1) menghindari penggunaan warna yang sama atau hampir sama antara latar belakang Warkat dengan warna tulisan pada redaksi Warkat (tidak kontras);
(2) khusus untuk tulisan pada redaksi Warkat, hendaknya menggunakan pilihan jenis dan besar huruf yang memadai serta menggunakan pilihan warna tinta yang tegas;
4) tinta
untuk mencetak Magnetic Ink Character Recognition
E-13B (MICR) code line pada bagian clear band
Warkat, harus menggunakan tinta MICR yang memenuhi standar ISO 1004:1995;
5) clear band
clear band adalah ruang kosong dengan ukuran
seragam yang terdapat pada bagian bawah Warkat dengan panjang disesuaikan dengan ukuran panjang
Warkat sebagaimana dimaksud dalam angka 2) dan lebar 5/8 (lima per delapan) inci diukur dari sisi bagian paling bawah Warkat. Ruangan clear band
tersebut disediakan khusus untuk pencetakan angka dan simbol MICR code line untuk diproses dalam penyelenggaraan Kliring dengan menggunakan sistem Otomasi atau Elektronik;
6) garis batas clear band
pada setiap clear band Warkat sebagaimana dimaksud dalam angka 5) harus terdapat batas clear band
dengan bagian lain dari Warkat dimaksud yang dapat berupa garis, huruf mikro (micro text) atau perbedaan warna yang membentuk garis pada posisi 5/8 (lima per delapan) inci dari bagian paling bawah Warkat; 7) pembedaan warna
untuk lebih memudahkan pengenalan dan pembedaan Warkat Kredit (Nota Kredit) dengan Warkat Debet (Cek, Bilyet Giro, Nota Debet, WBUT dan SBPT) dalam pemrosesan Warkat di tempat Peserta pengirim, Penyelenggara dan Peserta penerima, maka pada sudut kanan atas semua Nota Kredit sebagaimana dimaksud dalam butir 1.f harus diberi tanda dengan bentuk segitiga siku-siku berwarna merah, dengan ukuran sisi tegak masing-masing 1½ (satu setengah) centimeter;
8) pertinggal
untuk keperluan administrasi atas penarikan atau penerbitan Cek dan Bilyet Giro, pada setiap lembar Cek dan Bilyet Giro harus ditambahkan lembar pertinggal yang ditempatkan pada sebelah kiri atau sebelah atas Warkat dan diadministrasikan di bagian depan/belakang bundel Warkat atau berupa
carbonized paper. Dalam hal diperlukan, Peserta
dapat menambahkan lembar pertinggal dimaksud pada Warkat-Warkat selain Cek dan Bilyet Giro;
9) perforasi
untuk menghindari kerusakan pada waktu pengolahan oleh mesin baca pilah dan atau MICR
encoder/reader-encoder, perforasi untuk memisahkan Warkat dengan
lembar pertinggal harus ditempatkan pada sebelah kiri atau sebelah atas Warkat. Dalam hal digunakan
continuous form, perforasinya disesuaikan dengan
kebutuhan dan harus dilakukan secara deep cut.
Selain itu lem perekat tidak dapat digunakan pada Warkat, kecuali apabila ditujukan untuk menjilid blanko Warkat yang telah diperforasi.
b. Spesifikasi Teknis Warkat yang Dapat Ditambahkan dalam Warkat (bersifat fakultatif)
Spesifikasi teknis Warkat yang dapat ditambahkan dalam Warkat yang akan digunakan dalam penyelenggaraan
Kliring secara Manual, Semi Otomasi, Otomasi dan Elektronik, diatur sebagai berikut:
1) disain sekuriti pada latar belakang
untuk meningkatkan keamanan Warkat dari kemungkinan upaya pemalsuan, disain sekuriti latar belakang Warkat dapat menggunakan satu atau lebih fitur disain sekuriti seperti guillosche, roschette,
numismatic (line relief) atau raster sekuriti lain seperti
raster anti fotokopi, micro text (huruf mikro), dan atau
hidden image;
2) personalisasi nasabah
dalam hal diperlukan personalisasi nasabah pada Warkat Cek atau Bilyet Giro, maka pencantuman informasi personalisasi nasabah (nama, alamat, nomor rekening dan atau identitas lainnya dari nasabah penarik Cek atau Bilyet Giro) dimaksud dapat ditempatkan di sebelah kiri bawah Warkat, sejajar dengan tanda tangan atau di tempat lain yang menurut Peserta merupakan tempat yang paling tepat. Contoh personalisasi nasabah pada Cek dan Bilyet Giro adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran 2.a dan Lampiran 2.b.
3) tinta
a) tinta sekuriti untuk latar belakang Warkat
untuk meningkatkan keamanan terhadap kemungkinan adanya upaya pemalsuan, ./.
pencetakan latar belakang Warkat dapat menggunakan satu atau lebih tinta sekuriti. Tinta sekuriti yang digunakan dapat merupakan tinta tak tampak (invisible ink) yang akan berpendar apabila disinari dengan cahaya ultra violet, dan atau tinta tampak (visible ink) yang ditempatkan pada latar belakang Warkat. Lokasi cetakan tinta tak tampak (invisible ink) dapat meliputi: (1) tempat penulisan tanggal penerbitan
Warkat;
(2) tempat penulisan angka nominal;
(3) tempat penulisan terbilang angka nominal; atau
(4) tempat tanda tangan penarik atau penerbit Warkat.
b) tinta penetrasi untuk nomor seri Warkat
untuk meningkatkan keamanan terhadap upaya manipulasi terhadap nomor seri (nomorator) Warkat, maka pencetakan nomor seri (nomorator) Warkat dapat menggunakan tinta penetrasi merah ber-fluorescent hijau atau kuning.
c. Contoh rancang bangun Warkat adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran 3.a sampai dengan Lampiran 3.e, Lampiran 3.f.1) sampai dengan Lampiran 3.f.4) dan Lampiran 3.g.1) serta Lampiran 3.g.2).
./.
3. SARANA PENUNJANG WARKAT
Sarana penunjang Warkat berupa stiker hanya dapat digunakan dalam penyelenggaraan Kliring yang menggunakan sistem Otomasi dan Elektronik. Stiker digunakan untuk mengoreksi kesalahan encode MICR code line pada clear band Warkat,
dengan cara menutup informasi MICR code line yang salah secara penuh dengan stiker kosong dan meng-encode kembali informasi MICR code line yang benar di atasnya. Adapun penggunaan stiker harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : a. ukuran stiker tidak melebihi ruang clear band dan dengan
ketebalan yang memadai sehingga tidak mengganggu pembacaan MICR code line hasil koreksi oleh mesin baca pilah;
b. stiker tidak diperkenankan digunakan untuk mengoreksi kesalahan encode pada Dokumen Kliring.
B. DOKUMEN KLIRING
Dokumen Kliring merupakan dokumen kontrol dan berfungsi sebagai alat bantu dalam proses perhitungan Kliring.
1. JENIS DOKUMEN KLIRING
Jenis Dokumen Kliring yang digunakan dalam kegiatan Kliring adalah sebagai berikut:
a. Dalam Sistem Otomasi dan Elektronik adalah :
1) Bukti Penyerahan Warkat Debet - Kliring Penyerahan (BPWD);
2) Bukti Penyerahan Warkat Kredit - Kliring Penyerahan (BPWK);
3) Kartu Batch Warkat Debet (KBWD); 4) Kartu Batch Warkat Kredit (KBWK);
5) Bukti Penyerahan Rekaman Warkat - Kliring Pengembalian (BPRWKP); dan
6) Lembar Substitusi.
b. Dalam Sistem Semi Otomasi adalah:
1) Bukti Rekaman Warkat Penyerahan - Kliring Penyerahan (BRWPKP);
2) Daftar Warkat Kliring Penyerahan Menurut Bank Penerima;
3) Daftar Warkat Kliring Penyerahan Menurut Bank Pengirim;
4) Bukti Rekaman Warkat Tolakan Kliring Pengembalian;
5) Daftar Warkat Kliring Pengembalian Menurut Bank Penerima;
6) Daftar Warkat Kliring Pengembalian Menurut Bank Pengirim; dan
7) Daftar Warkat Yang Ditolak Dengan Alasan Kosong. c. Dalam Sistem Manual adalah Daftar Warkat Kliring
Penyerahan/Pengembalian.
2. SPESIFIKASI TEKNIS DOKUMEN KLIRING
Spesifikasi teknis Dokumen Kliring yang akan digunakan dalam penyelenggaraan Kliring secara Manual, Semi Otomasi, Otomasi dan Elektronik diatur sebagai berikut:
a. Dokumen Kliring Sistem Otomasi dan Elektronik
1) Spesifikasi teknis yang harus ada pada BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK
a) Kertas
Kertas yang digunakan harus memenuhi kualitas CBS-1, yang sekurang-kurangnya memenuhi standar sebagai berikut:
(1) berat kertas (gramatur) : 95 +/- 5 % g/M2;
(2) ketebalan : 105 sampai dengan 135
micron; dan
(3) memuat tanda air (watermark) berupa logo PPWDK;
b) Ukuran
Ukuran BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK yang digunakan harus merupakan ukuran seragam, yaitu panjang 7 (tujuh) inci dan lebar 2¾ (dua tiga per empat) inci;
c) Rancang Bangun
Untuk lebih memudahkan dalam pengenalan dan pemeriksaan sandi atau informasi di dalam BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK, rancang bangun BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK diatur sebagai berikut:
(1) nama dan logo Bank
nama dan logo Bank harus dicetak lebih jelas dan atau lebih besar daripada cetakan lainnya pada BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK dimaksud dan ditempatkan pada bagian kiri atas BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK. Pencantuman logo dimaksud tidak berlaku dalam hal Peserta tidak memiliki logo;
(2) penulisan BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK
BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK harus ditulis dalam bahasa Indonesia. Tulisan BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK tersebut harus dicetak lebih jelas dan atau lebih besar daripada tulisan pada redaksi Dokumen Kliring dan ditempatkan pada bagian atas BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK;
(3) penggunaan bahasa Indonesia pada redaksi BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK
redaksi BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK harus ditulis dalam bahasa Indonesia;
(4) nomor seri
nomor seri yang digunakan sebagai sarana kontrol penggunaan BPWD, BPWK, KBWD, dan KBWK harus dicantumkan pada bagian kanan atas BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK dimaksud;
(5) nilai nominal
ruangan untuk menuliskan nilai nominal harus cukup luas yang ditempatkan di bagian kanan BPWD dan BPWK, di atas ruangan untuk tanda tangan dan pencantuman nama jelas petugas yang menyerahkan, sehingga nilai nominal pada BPWD dan BPWK dimaksud dapat terlihat atau terbaca dengan jelas;
(6) tempat dan tanggal penerbitan
kolom penulisan tempat dan tanggal penerbitan BPWD dan BPWK harus disediakan pada BPWD dan BPWK;
(7) ruangan tanda tangan
ruangan untuk tanda tangan dan pencantuman nama jelas petugas yang menyerahkan harus disediakan dengan cukup luas serta ditempatkan pada bagian
sebelah kanan bawah BPWD dan BPWK di atas garis batas clear band;
(8) tinta
untuk mencetak MICR code line pada bagian clear band BPWD, BPWK, KBWD, dan KBWK, harus menggunakan tinta MICR yang memenuhi standar ISO 1004:1995;
(9) clearband
clear band adalah ruang kosong dengan
ukuran seragam yang harus terdapat pada bagian bawah BPWD, BPWK, KBWD, dan KBWK dengan panjang sesuai ukuran panjang BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK sebagaimana dimaksud dalam butir 1).b) dan lebar 5/8 (lima per delapan) inci diukur dari sisi bagian paling bawah BPWD, BPWK, KBWD, dan KBWK. Ruangan clear band tersebut disediakan khusus untuk pencetakan angka dan simbol MICR code line untuk diproses dalam penyelenggaraan Kliring dengan menggunakan sistem Otomasi atau Elektronik;
(10) garis batas clear band
pada clear band BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK sebagaimana dimaksud dalam angka (9), harus terdapat batas clear band dengan bagian lain dari BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK dimaksud yang dapat berupa garis, huruf mikro
(micro text) atau perbedaan warna yang
membentuk garis pada posisi 5/8 (lima perdelapan) inci dari bagian paling bawah BPWD, BPWK, KBWD, dan KBWK; (11) pembedaan warna
untuk membedakan BPWD, BPWK, KBWD, dan KBWK dalam pengolahan di Penyelenggara, maka pada bagian paling atas:
(a) BPWD dan KBWD harus diberi warna hijau; dan
(b) BPWK dan KBWK harus diberi warna merah,
dengan ukuran panjang 7 (tujuh) inci dan lebar 1 (satu) centimeter.
2) Spesifikasi teknis yang dapat ditambahkan pada BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK (bersifat fakultatif)
a) nama PPWDK
nama PPWDK dapat dicantumkan secara vertikal pada sisi sebelah kiri atau kanan BPWD, BPWK, KBWD, dan KBWK, atau secara horisontal di bagian bawah BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK di atas garis batas clear
band;
b) disain sekuriti pada latar belakang
untuk meningkatkan keamanan BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK dari kemungkinan upaya pemalsuan, disain sekuriti latar belakang BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK dapat menggunakan satu atau lebih fitur disain sekuriti seperti guillosche, roschette, numismatic (line
relief) atau raster sekuriti lain seperti raster anti
fotokopi, micro text (huruf mikro), dan atau
hidden image;
c) tinta
(1) tinta sekuriti untuk mencetak latar belakang BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK
untuk meningkatkan keamanan terhadap kemungkinan adanya upaya pemalsuan, pencetakan latar belakang BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK dapat menggunakan satu atau lebih tinta
sekuriti. Penggunaan tinta sekuriti merupakan tinta tak tampak (invisible ink) yang akan berpendar apabila disinari dengan cahaya ultra violet, dan atau tinta tampak (visible ink) yang ditempatkan pada latar belakang BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK. Lokasi cetakan tinta tak tampak (invisible ink) ditempatkan di bagian Dokumen Kliring yang menurut Peserta paling tepat, kecuali pada bagian
clear band;
(2) tinta penetrasi untuk nomor seri BPWD, BPWK, KBWD, dan KBWK
untuk meningkatkan keamanan terhadap upaya menipulasi terhadap nomor seri (nomorator) BPWD, BPWK, KBWD, dan KBWK, maka pencetakan nomor seri (nomorator) BPWD, BPWK, KBWD, dan KBWK dapat menggunakan tinta penetrasi merah ber-fluorescent hijau atau kuning.
3) Lembar Substitusi
Lembar Substitusi harus menggunakan kertas HVS minimal 60 g/M2 warna putih, tanpa mencantumkan logo dan nama Bank, dengan ukuran panjang 7 (tujuh) inci dan lebar 2 ¾ (dua tiga per empat) inci.
4) BPRWKP
BPRWKP merupakan cetakan (print out) hasil pengolahan rekaman Warkat melalui aplikasi sistem Semi Otomasi yang digunakan untuk penyelenggaraan Kliring Pengembalian pada sistem Otomasi dan Elektronik. BPRWKP tersebut harus dicetak pada kertas continuous form yang menggunakan printer dot matrix dengan minimal kualitas cetak sebesar 300 cps dibuat rangkap 2 (dua), dengan lembar kedua menggunakan carbonized
paper.
b. Dokumen Kliring sistem Semi Otomasi
Dokumen Kliring yang digunakan pada penyelenggaraan Kliring dengan menggunakan sistem Semi Otomasi harus merupakan cetakan (print out) hasil pengolahan rekaman Warkat melalui aplikasi sistem Semi Otomasi. Dokumen Kliring tersebut harus dicetak pada kertas continuous form
yang menggunakan printer dot matrix dengan minimal kualitas cetak sebesar 300 cps.
c. Dokumen Kliring sistem Manual
Dokumen Kliring berupa Daftar Warkat Kliring Penyerahan/ Pengembalian yang digunakan pada penyelenggaraan Kliring dengan menggunakan sistem Manual harus memenuhi spesifikasi teknis sebagai berikut:
1) Kertas
Kertas yang digunakan untuk lembar pertama adalah jenis kertas HVS minimal 60 g/M2 warna putih, sedangkan untuk lembar kedua dan ketiga menggunakan carbonized paper.
2) Ukuran
Ukuran Dokumen Kliring yang digunakan yaitu panjang 27 (dua puluh tujuh) centimeter dan lebar 8 ½ (delapan setengah) centimeter.
3) Rancang Bangun
Rancang bangun Dokumen Kliring memuat hal-hal sebagai berikut:
a) nama Bank
pada bagian atas Dokumen Kliring dicantumkan nama Bank penerbit yang dicetak lebih jelas dibandingkan cetakan lainnya dan ditempatkan pada sudut kiri atas;
b) keterangan Daftar Warkat Kliring Penyerahan/ Pengembalian
pada bagian tengah atas Dokumen Kliring tercantum keterangan Daftar Warkat Kliring Penyerahan/ Pengembalian;
c) keterangan debet/kredit
keterangan Debet/Kredit dicantumkan di bawah keterangan Daftar Warkat Kliring Penyerahan/ Pengembalian;
d) nilai nominal
ruangan nilai nominal pada Dokumen Kliring dibuat cukup luas sehingga nilai nominal dapat terlihat secara jelas;
e) tanda tangan dan nama jelas
ruangan untuk tanda tangan dan pencantuman nama jelas petugas yang menyerahkan dan yang menerima dibuat cukup luas dan ditempatkan di bagian bawah dan bersebelahan;
d. Contoh rancang bangun Dokumen Kliring pada huruf a dan huruf c adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran 4.a sampai dengan Lampiran 4.g.
II. PENCETAKAN DAN PERSETUJUAN PENCETAKAN WARKAT DAN DOKUMEN KLIRING, SERTA PELAPORAN PENCETAKAN WARKAT DAN DOKUMEN KLIRING KE BANK INDONESIA
A. PENCETAKAN WARKAT DAN DOKUMEN KLIRING
1. Pencetakan Warkat yang digunakan untuk seluruh sistem kliring, yaitu Manual, Semi Otomasi, Otomasi dan Elektronik wajib dilakukan oleh perusahaan percetakan dokumen sekuriti (PPDS) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai PPWDK.
./.
2. Pencetakan Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD, dan KBWK) untuk sistem Otomasi dan Elektronik wajib dilakukan oleh PPWDK sebagaimana dimaksud dalam angka 1.
B. PERSETUJUAN PENCETAKAN WARKAT DAN ATAU DOKUMEN KLIRING OLEH BANK INDONESIA
1. Peserta wajib memperoleh persetujuan secara tertulis terlebih dahulu dari Bank Indonesia apabila akan melakukan pencetakan Warkat dan atau Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK) untuk digunakan dalam penyelenggaraan Kliring, yang merupakan pencetakan:
a. untuk pertama kalinya;
b. untuk perubahan atas disain dan atau rancang bangun Warkat dan Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK) yang sebelumnya telah disetujui pencetakan dan penggunaannya oleh Bank Indonesia, antara lain yang meliputi perubahan sebagai berikut:
1) nama Peserta; 2) logo Peserta;
3) redaksi, termasuk tetapi tidak terbatas pada penambahan tulisan sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.2.a.3).i);
4) disain gambar latar belakang; 5) komposisi warna; dan atau 6) disain sekuriti latar belakang.
c. pemesanan baru pada PPWDK yang berbeda.
2. Pengajuan permohonan persetujuan secara tertulis sebagaimana dimaksud dalam angka 1, dilakukan oleh:
a. Kantor Pusat Bank Konvensional; b. Kantor Pusat Bank Syariah;
c. Kantor Cabang dari suatu Bank yang berkedudukan di luar negeri;
d. Kantor Cabang Peserta yang berkedudukan di Jakarta berdasarkan surat kuasa dari Kantor Pusat Peserta yang berkedudukan di luar Jakarta;
e. UUS atau Kantor Pusat Bank Konvensional yang membawahi UUS tersebut;
f. UUS atau Kantor Cabang dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri yang membawahi UUS tersebut.
3. Untuk mencegah adanya duplikasi pengajuan spesimen Warkat dan Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK), maka Kantor Pusat Peserta yang berkedudukan di luar Jakarta yang telah memberikan surat kuasa kepada Kantor Cabang Peserta yang berkedudukan di Jakarta sebagaimana dimaksud dalam butir 2.d, tidak dapat lagi mengajukan permohonan pencetakan Warkat dan atau Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK) kepada Bank Indonesia yang mewilayahi kecuali telah terdapat pencabutan surat kuasa tersebut secara tertulis.
4. Spesimen Warkat Cek dan atau Bilyet Giro Peserta yang sebelumnya telah disetujui pencetakan dan penggunaannya oleh
Bank Indonesia dan hanya mengalami perubahan atas rancang bangun Warkat berupa penambahan informasi personalisasi nasabah sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.2.b.2), maka atas penambahan informasi dimaksud, Peserta yang bersangkutan dapat langsung melakukan pemesanan dan pencetakan Warkat Cek dan atau Bilyet Giro dimaksud pada PPWDK sesuai dengan kebutuhannya, tanpa perlu memperoleh persetujuan secara tertulis terlebih dahulu dari Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam angka 1.
C. PERSYARATAN DAN TATA CARA BAGI PESERTA UNTUK MEMPEROLEH PERSETUJUAN PENCETAKAN WARKAT DAN ATAU DOKUMEN KLIRING
Untuk memperoleh persetujuan atas pencetakan Warkat dan atau Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK) sebagaimana dimaksud dalam butir B.1, Peserta harus melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Menyampaikan surat permohonan persetujuan pencetakan Warkat dan atau Dokumen Kliring kepada Bank Indonesia yang mewilayahi sesuai contoh dalam Lampiran 5.a, yang sekurang-kurangnya memuat informasi sebagai berikut:
a. jenis Warkat dan atau Dokumen Kliring yang akan dicetak pada PPWDK. Dalam hal jenis Warkat yang akan dicetak tersebut merupakan cek yang penggunaannya dalam Kliring belum disetujui oleh Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.1.a, maka permohonan persetujuan atas penggunaan cek dimaksud harus dinyatakan secara jelas dalam surat permohonan;
b. nama PPWDK yang akan mencetak Warkat dan atau Dokumen Kliring; dan
c. alamat khusus Peserta untuk penyampaian surat balasan dari Bank Indonesia yang mewilayahi mengenai persetujuan atau penolakan atas permohonan persetujuan pencetakan Warkat dan atau Dokumen Kliring Peserta, dalam hal alamat khusus Peserta dimaksud berbeda dengan alamat surat-menyurat Peserta yang tercantum dalam header atau footer surat permohonan Peserta.
2. Menyampaikan dokumen-dokumen tertentu sebagai lampiran surat permohonan persetujuan pencetakan Warkat dan atau Dokumen Kliring sebagaimana dimaksud dalam angka 1, yang terdiri atas :
a. spesimen Warkat dan atau Dokumen Kliring sebanyak 135 (seratus tiga puluh lima) lembar untuk masing-masing jenis Warkat dan Dokumen Kliring yang akan dicetak, dengan ketentuan sebagai berikut:
1) seluruh spesimen Warkat dan atau Dokumen Kliring harus memenuhi ketentuan spesifikasi teknis Warkat dan Dokumen Kliring sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.2 dan butir I.B.2;
2) seluruh spesimen Warkat dan atau Dokumen Kliring harus dibubuhi tambahan tulisan “spesimen”, ”specimen”, ”speciment”, ”cetak coba” atau tulisan lain yang sejenis, dengan ukuran tulisan yang relatif besar dan menggunakan warna yang tegas/terang. Tulisan tersebut ditulis pada bagian depan Warkat dan
atau Dokumen Kliring, sehingga mudah dibedakan dengan Warkat dan atau Dokumen Kliring yang bukan merupakan spesimen Warkat dan Dokumen Kliring;
3) seluruh lembar spesimen Warkat harus telah dipisahkan dari lembar pertinggal sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.2.a.8);
4) khusus untuk spesimen Warkat berupa Cek dan Bilyet Giro, spesimen Warkat dimaksud harus memenuhi ketentuan yang mengatur mengenai Cek dan Bilyet Giro sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.1.a dan butir I.A.1.b, khususnya terkait dengan pemenuhan persyaratan formal atas Cek dan Bilyet Giro serta ketentuan mengenai tata cara penulisan Warkat dan Dokumen Kliring sebagaimana dimaksud dalam angka III;
5) apabila spesimen Warkat dan Dokumen Kliring akan digunakan oleh Peserta dalam sistem Kliring Otomasi dan atau Elektronik maka :
a. khusus pada bagian depan dari 5 (lima) lembar spesimen Warkat sebagaimana dimaksud dalam angka 1), dapat ditambahkan informasi dummy
dalam bentuk tulisan yang antara lain mencakup nama penerima, jumlah nominal dalam angka dan huruf, tempat dan tanggal penerbitan/ penarikan, tanda tangan serta nama jelas
penandatangan untuk dilakukan uji reproduksi spesimen Warkat dalam bentuk image.
b. pada clear band spesimen Warkat dan atau Dokumen Kliring sebagaimana dimaksud dalam angka 1) harus dibubuhi informasi MICR code line
guna diuji dengan mesin baca pilah Penyelenggara.
c. pencantuman informasi MICR code line
sebagaimana dimaksud dalam huruf b) harus dilakukan sesuai dengan tata cara pencantuman
MICR code line sebagaimana diatur dalam
ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai Penyelenggaraan Kliring secara Otomasi dan Elektronik, dengan pedoman tambahan sebagai berikut:
(1) Spesimen Warkat
(a) Kolom Nomor Seri, diisi dengan data dummy yang bukan angka “000000” (6 (enam) digit);
(b) Kolom Sandi Peserta untuk semua jenis Warkat, diisi dengan sandi khusus pengujian Warkat dan Dokumen Kliring yaitu 888 9993 (7 (tujuh) digit);
(c) Kolom Nomor Rekening, diisi dengan data dummy yang bukan
angka “0000000000” (10 (sepuluh) digit);
(d) Kolom Sandi Transaksi, diisi dengan sandi transaksi yang sesuai dengan jenis Warkat, yaitu:
i. 00 sampai dengan 09 untuk Cek (2 (dua) digit);
ii. 10 sampai dengan 19 untuk Bilyet Giro (2 (dua) digit); iii. 20 sampai dengan 29 untuk
WBUT (2 (dua) digit);
iv. 30 sampai dengan 39 untuk SBPT (2 (dua) digit);
v. 40 sampai dengan 49 untuk Nota Debet (2 (dua) digit); vi. 50 sampai dengan 59 untuk
Nota Kredit (2 (dua) digit). (e) Kolom Nilai Nominal, diisi dengan
data dummy yang bukan angka “00000000000000” (14 (empat belas) digit). Khusus untuk nilai nominal Warkat Nota Debet diisi data dummy dengan nilai nominal paling banyak Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah). Sedangkan untuk nilai nominal Warkat Nota Kredit diisi dengan data dummy
yang bukan angka “00000000000000” (14 (empat
belas) digit) dengan nilai nominal paling banyak disesuaikan dengan ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai batasan nilai nominal Warkat Kliring.
(2) Spesimen Dokumen Kliring
(a) Kolom Nomor Seri, diisi dengan sandi khusus pengujian Warkat dan Dokumen Kliring yaitu 888 9993 (7 (tujuh) digit), dengan tata cara pengisian yang berbeda dengan tata cara pengisian Nomor Seri pada spesimen Warkat, yaitu 3 (tiga) digit pertama diisi dengan angka “000” dan 3 (tiga) digit terakhir diisi dengan angka “888”. Dengan demikian, kolom Nomor Seri pada Dokumen Kliring dimaksud diisi dengan data “000888”;
(b) Kolom Sandi Peserta, diisi dengan tata cara yang berbeda dengan tata cara pengisian Sandi Peserta pada spesimen Warkat, yaitu 3 (tiga) digit pertama diisi dengan angka “999” dan 4 (empat) digit terakhir
diisi dengan angka “9999”. Dengan demikian, kolom Sandi Peserta pada spesimen Dokumen Kliring dimaksud diisi dengan data “999 9999”;
(c) Kolom Nomor Rekening, tidak perlu dilakukan pengisian (dibiarkan kosong);
(d) Kolom Sandi Transaksi, diisi dengan angka “60” (2 (dua) digit) untuk BPWD, angka “61” (2 (dua) digit) untuk BPWK, dan angka “96” (2 (dua) digit) untuk KBWD/KBWK; (e) Kolom Nilai Nominal Warkat, diisi
dengan data dummy yang bukan angka “00000000000000” (14 (empat belas) digit).
b. Surat pernyataan dari PPWDK sesuai contoh dalam Lampiran 5.b, yang menerangkan informasi sebagai berikut:
1) bahwa kertas CBS-1 yang digunakan untuk mencetak Warkat dan Dokumen Kliring, merupakan kertas CBS-1 yang telah diuji di Balai Besar Pulp dan Kertas-Bandung (BBP&K) serta telah disetujui oleh Bank Indonesia; dan atau
./.
2) penjelasan atas spesifikasi fitur disain sekuriti pada latar belakang yang digunakan dalam Warkat dan atau Dokumen Kliring, serta lokasi penempatan fitur disain sekuriti tersebut (bila ada).
c. Surat pemberian kuasa dari pimpinan Kantor Pusat Peserta yang berkedudukan di luar Jakarta kepada Kantor Cabang Peserta yang berkedudukan di Jakarta, dalam hal surat permohonan persetujuan diajukan oleh Kantor Cabang Peserta yang berkedudukan di Jakarta sebagaimana dimaksud dalam butir B.2.d.
3. Spesimen Warkat dan atau Dokumen Kliring sebagaimana dimaksud dalam butir 2.a.1) yang telah diisi sandi MICR
sebagaimana dimaksud dalam butir 2.a.5).c), harus memenuhi syarat pengujian dengan mesin baca pilah, sebagai berikut:
a. tingkat penolakan Warkat dan atau Dokumen Kliring (KBWD dan atau KBWK) paling tinggi sampai dengan 2% (dua perseratus); dan
b. reproduksi spesimen Warkat sebagaimana dimaksud dalam butir 2.a.5).a) yang telah diambil rekaman gambarnya menunjukkan hasil yang baik yaitu tulisan pada reproduksi Warkat dapat terlihat cukup jelas.
D. PERSETUJUAN PENGGUNAAN DAN PENCETAKAN WARKAT DAN DOKUMEN KLIRING OLEH BANK INDONESIA
Hasil penelitian dan pengujian terhadap kelengkapan surat permohonan serta spesimen Warkat dan Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK) sebagaimana dimaksud dalam butir C.1,
butir C.2 dan butir C.3, diberitahukan kepada Peserta yang mengajukan permohonan (Peserta pemohon) sebagaimana dimaksud dalam butir B.2, dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Pemberitahuan mengenai hasil penelitian dan pengujian disampaikan dengan menggunakan surat tertulis paling lambat 21 (dua puluh satu) hari kerja sejak surat permohonan persetujuan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring beserta lampirannya sebagaimana dimaksud dalam butir C.1 dan butir C.2 diterima secara lengkap dan benar oleh Bank Indonesia yang mewilayahi;
2. Surat tertulis sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dapat berupa:
a. Surat penolakan, dalam hal surat permohonan persetujuan pencetakan Warkat dan atau Dokumen Kliring serta lampirannya sebagaimana dimaksud dalam butir C.1 dan butir C.2 yang diteliti dan diuji tersebut, tidak memenuhi salah satu atau lebih ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir C.1, butir C.2 dan butir C.3. Berkenaan dengan hal ini, selanjutnya Bank Indonesia yang mewilayahi menyampaikan surat penolakan dan mengembalikan seluruh spesimen Warkat dan atau Dokumen Kliring dimaksud kepada Peserta pemohon untuk diperbaiki/diperbaharui. Peserta pemohon kemudian dapat menyampaikan kembali surat permohonan kepada Bank Indonesia yang mewilayahi dengan melampirkan spesimen Warkat dan atau Dokumen Kliring yang telah diperbaiki/diperbaharui;
b. Surat persetujuan, dalam hal surat permohonan persetujuan pencetakan Warkat dan atau Dokumen Kliring serta lampirannya sebagaimana dimaksud dalam butir C.1 dan butir C.2 yang diteliti dan diuji tersebut telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir C.1, butir C.2 dan butir C.3. Berkenaan dengan hal ini, selanjutnya Bank Indonesia yang mewilayahi menyampaikan surat persetujuan kepada Peserta pemohon yang bersangkutan untuk dapat melakukan pencetakan Warkat dan atau Dokumen Kliring sesuai kebutuhan untuk dipergunakan dalam kegiatan Kliring, dengan dilampiri sebanyak 3 (tiga) lembar dari masing-masing spesimen Warkat dan atau Dokumen Kliring sebagaimana dimaksud dalam butir C.2.a yang telah diuji dengan hasil baik. Adapun sebanyak 132 (seratus tiga puluh dua) lembar sisa masing-masing spesimen Warkat dan atau Dokumen Kliring digunakan oleh Bank Indonesia yang mewilayahi sebagai arsip dan didistribusikan ke seluruh kantor Bank Indonesia (termasuk Kantor Pusat Bank Indonesia) dan Penyelenggara di daerah yang tidak terdapat kantor Bank Indonesia lainnya untuk digunakan sebagai arsip.
3. Dalam penyelenggaraan Kliring, Peserta wajib menggunakan Warkat dan atau Dokumen Kliring yang dicetak pada PPWDK berdasarkan surat persetujuan dari Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam butir 2.b.
E. PELAPORAN PENCETAKAN WARKAT DAN DOKUMEN KLIRING.
1. Kantor Pusat Peserta dan Kantor Cabang Peserta dari suatu Bank yang berkedudukan di luar negeri, setiap periode 1 (satu) tahun wajib menyampaikan laporan tahunan tertulis dengan menggunakan surat tertulis kepada Kantor Pusat Bank Indonesia mengenai Warkat dan atau Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK) yang telah dicetak oleh PPWDK (ditandai dengan adanya delivery order dari PPWDK) pada periode 1 (satu) tahun sebelumnya, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. laporan tahunan wajib memuat : 1) nama Bank;
2) periode laporan; 3) tanggal pemesanan; 4) nama PPWDK;
5) tanggal pengiriman; dan
6) jenis dan jumlah lembar Warkat dan atau Dokumen Kliring yang telah dicetak oleh PPWDK selama periode 1 (satu) tahun sebelumnya, dengan contoh format sesuai dengan Lampiran 6;
b. dalam hal pada kurun waktu 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud dalam angka 1, Kantor Pusat Peserta atau Kantor Cabang Peserta dari suatu Bank yang berkedudukan di luar negeri tidak melakukan pencetakan Warkat dan atau Dokumen Kliring maka Kantor Pusat Peserta atau dan Kantor Cabang Peserta dari suatu Bank yang berkedudukan di luar negeri yang bersangkutan tetap diwajibkan ./.
menyampaikan laporan pencetakan Warkat dan atau Dokumen Kliring dengan keterangan ‘Nihil’ pada laporan tahunan sesuai dengan format Lampiran 7;
c. penyampaian laporan tahunan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dilakukan paling lambat pada tanggal 25 Januari tahun berikutnya. Dalam hal tanggal 25 tersebut di atas adalah hari libur maka batas waktu pelaporan tersebut dihitung pada tanggal hari kerja berikutnya;
d. penyampaian laporan tersebut ditujukan kepada :
Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran, Bagian Pengawasan Sistem Pembayaran, dengan alamat :
Bank Indonesia
Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Bagian Pengawasan Sistem Pembayaran Gedung D, Lantai 9
Jl. MH. Thamrin No. 2 Jakarta 10110;
2. Dalam hal Kantor Pusat Peserta sebagaimana dimaksud dalam angka 1 berada di luar wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia, maka Kantor Pusat Peserta tersebut wajib menyampaikan tembusan surat dan laporan tertulis sebagaimana dimaksud dalam angka 1 kepada kantor Bank Indonesia yang mewilayahi.
F. BANK INDONESIA YANG MEWILAYAHI
Bank Indonesia yang mewilayahi sebagaimana dimaksud dalam butir B.3, huruf C, huruf D dan huruf E adalah :
1. Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran - Bagian Pengawasan Sistem Pembayaran (Bagian PwSP), untuk Peserta yang:
a. Kantor Pusatnya berkedudukan di wilayah DKI Jakarta Raya, Serang, Pandeglang, Lebak, Tangerang, Bogor, Karawang dan Bekasi; atau
b. Kantor Pusatnya berkedudukan di luar wilayah Kantor Pusat Bank Indonesia, namun telah memberikan surat kuasa kepada Kantor cabangnya yang berkedudukan di Jakarta sebagaimana dimaksud dalam butir B.2.d;
dengan alamat surat sebagaimana dimaksud dalam butir E.1.d. 2. Kantor Bank Indonesia setempat, untuk Peserta yang Kantor
Pusatnya berkedudukan di luar wilayah Kantor Pusat Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a.
G. KETENTUAN KHUSUS MENGENAI PERUBAHAN NAMA PESERTA
Berkenaan dengan permohonan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK) yang disebabkan oleh adanya perubahan nama Peserta sebagaimana dimaksud dalam butir B.1.b.1), berlaku ketentuan sebagai berikut :
1. Bagi Peserta yang berubah nama baik karena merger, konsolidasi atau karena sebab lainnya, Peserta yang bersangkutan harus
memberitahukan perubahan nama tersebut dengan menggunakan surat tertulis kepada Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran - Bagian Pengawasan Sistem Pembayaran dengan alamat surat sebagaimana dimaksud dalam butir E.1.d paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender terhitung sejak tanggal perubahan nama Peserta dimaksud disetujui oleh Bank Indonesia. Surat pemberitahuan perubahan nama tersebut memuat informasi sebagai berikut:
a. jumlah Warkat dan Dokumen Kliring lama yang masih tersedia pada Peserta;
b. perkiraan lamanya waktu untuk menghabiskan persediaan Warkat dan Dokumen Kliring lama sebagaimana dimaksud dalam huruf a; dan
c. rencana waktu pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring dengan nama Peserta yang baru.
2. Peserta yang berubah nama sebagaimana dimaksud dalam angka 1 harus mengajukan permohonan persetujuan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring dengan nama Peserta yang baru paling lambat sebelum Warkat dan Dokumen Kliring lama diperkirakan habis, dengan persyaratan dan tata cara pengajuan permohonan persetujuan sebagaimana dimaksud dalam huruf C. 3. Dalam hal Peserta sebagaimana dimaksud dalam angka 1 tidak
melakukan pencetakan seluruh Warkat dan atau Dokumen Kliring dengan nama Peserta yang baru secara sekaligus pada saat yang sama, pengajuan surat permohonan persetujuan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring dimaksud dapat dilakukan lebih dari 1 (satu) kali sesuai dengan jenis Warkat dan
atau Dokumen Kliring yang dicetaknya, dengan tetap memperhatikan ketersediaan Warkat dan Dokumen Kliring sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a).
4. Warkat dan atau Dokumen Kliring dengan nama Peserta yang lama masih dapat dipergunakan dalam Kliring sampai persediaan Warkat dan atau Dokumen Kliring lama tersebut habis, dengan ketentuan sebagai berikut :
a. untuk Warkat dan Dokumen Kliring Peserta lama yang masih terdapat pada tata usaha Peserta, maka Peserta yang bersangkutan harus melakukan hal-hal sebagai berikut:
1) memperhatikan aspek risiko keamanan dan risiko reputasi (corporate image) serta aspek kepercayaan nasabah, terkait dengan rencana penggunaan Warkat dan atau Dokumen Kliring lama dimaksud;
2) mencoret nama Peserta yang lama dan menambahkan tulisan nama Peserta yang baru dengan menggunakan ketikan, stempel atau dengan cara-cara sejenis lainnya;
3) khusus untuk perubahan nama Peserta yang diikuti dengan perubahan sandi Peserta, maka:
a. dalam penyelenggaraan Kliring dengan sistem Otomasi dan Elektronik, dalam hal terdapat Warkat Peserta lama yang kolom sandi Pesertanya telah terlanjur di-encode dengan menggunakan sandi MICR code line Peserta yang lama, maka sandi Peserta lama dalam
bentuk MICR code line dimaksud harus disesuaikan menjadi sandi MICR code line
Peserta yang baru dengan menggunakan stiker sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.3 paling lama dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal efektif perubahan nama Peserta dikeluarkan Penyelenggara untuk Kantor Pusat Peserta atau atau Kantor Cabang dari suatu Bank yang kantor pusatnya berkedudukan di luar negeri tersebut; dan
b. dalam penyelenggaraan Kliring dengan sistem Manual dan Semi Otomasi, penyesuaian sandi Peserta baik pada Penyelenggara maupun seluruh Peserta Kliring dilakukan pada tanggal yang sama dengan tanggal efektif perubahan nama Peserta sebagai Peserta Kliring.
b. Untuk Warkat berupa Cek, Bilyet Giro, WBUT dan SBPT dengan nama Peserta lama yang telah beredar di masyarakat dan perubahan nama Peserta tersebut diikuti pula dengan perubahan sandi Peserta sebagaimana dimaksud dalam butir a.3), maka Peserta penerima yang bermaksud melakukan penagihan Cek, Bilyet Giro, WBUT dan SBPT dimaksud dalam penyelenggaraan Kliring, harus menyesuaikan sandi Peserta lama menjadi sandi Peserta baru dengan menggunakan stiker sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.3.
III. TATA CARA PENULISAN WARKAT DAN DOKUMEN KLIRING
Untuk memperlancar proses penyelenggaraan Kliring baik di Penyelenggara maupun di Peserta dan menjamin pemenuhan ketentuan hukum yang berlaku atas Warkat-Warkat yang dikliringkan khususnya untuk Cek, Bilyet Giro dan WBUT, serta dalam rangka mengurangi risiko pemalsuan Warkat dan Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK), maka dalam penulisan Warkat dan Dokumen Kliring tersebut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
A. WARKAT
1. Warkat dinyatakan dalam mata uang rupiah;
2. Pencantuman nilai nominal Warkat dalam mata uang rupiah ditulis secara lengkap dengan angka dan huruf dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.
3. Penulisan nilai nominal dalam angka dan huruf serta pengisian redaksional Wakat dilakukan dengan menggunakan huruf latin, kecuali untuk tanda tangan.
4. Penulisan dan atau penandatanganan Cek dan Bilyet Giro hendaknya menggunakan alat tulis atau sarana yang:
a. tidak menyebabkan kerusakan pada Warkat tersebut dan atau menyebabkan tulisan dalam Cek dan Bilyet Giro sulit terbaca dengan jelas; dan atau
b. tidak mudah diubah.
karena hasilnya dapat menimbulkan bermacam-macam penafsiran, misalnya perbedaan penafsiran dalam hal angka dan huruf yang ditulis oleh penarik berbeda dengan cheque-writer (protectograph).
6. Penulisan Cek, Bilyet Giro, dan Warkat lainnya disarankan untuk tidak diperjelas dengan menggunakan fluorescent pen
karena akan menimbulkan kesulitan untuk mendeteksi apabila terjadi perubahan penulisan. Di samping itu, penggunaan alat tersebut pada angka rupiah dapat menimbulkan cahaya sehingga akan menyulitkan penelitian dalam hal terjadi perubahan nilai nominal. Dalam hal masih terdapat Warkat yang menggunakan
fluorescent pen maka sebelum Peserta melakukan pembayaran
hendaknya terlebih dahulu menghubungi nasabah yang bersangkutan untuk konfirmasi.
B. DOKUMEN KLIRING
1. Penulisan Dokumen Kliring pada penyelenggaraan Kliring dengan menggunakan sistem Elektronik, Otomasi dan Manual mengacu pada cara penulisan Warkat sebagaimana dimaksud dalam huruf A, kecuali butir A.2 dan butir A.3 dimana dalam Dokumen Kliring nilai nominal yang ditulis adalah hanya berupa angka saja.
2. Penulisan Dokumen Kliring pada penyelenggaraan Kliring dengan menggunakan sistem Semi Otomasi merupakan cetakan
(print out) hasil pengolahan rekaman Warkat melalui aplikasi
sistem Semi Otomasi.
IV. PENETAPAN PERUSAHAAN PERCETAKAN WARKAT DAN DOKUMEN KLIRING
Perusahaan percetakan dokumen sekuriti (PPDS) yang bermaksud untuk menjadi PPWDK, harus dapat memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu dari Bank Indonesia.
A. PERSYARATAN
PPDS yang dapat memperoleh penetapan dari Bank Indonesia untuk melakukan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK) harus memenuhi sekurang-kurangnya persyaratan sebagai berikut:
1. mempunyai izin operasional yang masih berlaku sebagai PPDS yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang;
2. mempunyai rencana kerja (business plan) terkait dengan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring;
3. mempunyai kertas CBS-1 dengan spesifikasi teknis kertas sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.2.a.1) dan butir I.B.2.a.1).a);
4. mempunyai laporan hasil uji atas kertas CBS-1 sebagaimana dimaksud dalam angka 3, dari Balai Besar Pulp dan Kertas – Bandung (BBP&K);
5. mempunyai mesin disain sekuriti, mesin cetak sekuriti, mesin cetak penomoran untuk mencetak MICR code line dan mesin pembaca MICR yang dapat berfungsi dengan baik;
dalam butir I.B.1.a.1) sampai dengan butir I.B.1.a.4) dengan kertas CBS-1 sebagaimana dimaksud dalam angka 3 dan menggunakan mesin-mesin sebagaimana dimaksud dalam angka 5.
B. TATA CARA PENETAPAN
1. Untuk memperoleh penetapan dari Bank Indonesia agar dapat mencetak Warkat dan Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK), PPDS harus mengajukan surat permohonan menjadi PPWDK secara tertulis kepada Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran, Jl. M.H. Thamrin No. 2 - Jakarta 10110, dengan melampirkan dokumen-dokumen sebagai berikut:
a. fotokopi izin operasional sebagai PPDS yang masih berlaku dari instansi yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam butir A.1, yang telah mendapatkan pernyataan dari Notaris bahwa fotokopi izin operasional tersebut sesuai dengan asli dokumen yang diperlihatkan PPDS kepada Notaris;
b. fotokopi anggaran dasar PPDS beserta perubahan-perubahannya, yang telah mendapatkan pernyataan dari Notaris bahwa fotokopi anggaran dasar PPDS tersebut sesuai dengan asli dokumen yang diperlihatkan PPDS kepada Notaris;
c. rencana kerja (business plan) yang terkait dengan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring;
d. daftar mesin dan atau peralatan untuk mencetak Warkat dan Dokumen Kliring sebagaimana dimaksud dalam butir A.5 dengan menyebutkan kapasitas mesin dimaksud;
e. fotokopi laporan hasil uji kertas CBS-1 milik PPDS dari BBP&K sebagaimana dimaksud dalam butir A.4, yang telah mendapatkan pernyataan fotokopi sesuai dengan aslinya dari BBP&K atau Notaris, yang memuat informasi mengenai spesifikasi kertas sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.2.a.1) atau butir I.B.2.a.1)a);
f. spesimen kertas CBS-1 milik PPDS sebagaimana dimaksud dalam butir A.3 yang telah memiliki laporan hasil uji kertas CBS-1 dari BBP&K sebagaimana dimaksud dalam butir A.4, masing-masing dengan ukuran :
1) 20 cm x 20 cm sebanyak 50 (lima puluh) lembar yang pada bagian depannya harus telah diberi stempel atau cetakan nama PPDS yang bersangkutan; dan
2) 7 (tujuh) inci x 2¾ (dua tiga per empat) inci sebanyak 135 (seratus tiga puluh lima) lembar yang pada bagian depannya telah diberi stempel atau cetakan nama PPDS yang bersangkutan dan MICR code line sesuai dengan tata cara pencantuman MICR code line
sebagaimana dimaksud dalam butir II.C.2.a.5).c). Khusus untuk pengisian kolom sandi transaksi, Peserta dapat menggunakan salah satu sandi transaksi yang ada, yaitu 00 (Cek), 10 (Bilyet Giro), 20 (WBUT), 30 (SBPT), 40 (Nota Debet) atau 50 (nota Kredit).
2. Setelah surat permohonan dan lampiran sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a sampai dengan butir 1.f diterima secara lengkap, Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran melakukan :
a. pemeriksaan administratif terhadap kelengkapan dan kesesuaian dokumen-dokumen Peserta sebagaimana dimaksud dalam angka 1;
b. pengujian spesimen kertas CBS-1 sebagaimana dimaksud dalam butir 1.f.2) pada mesin baca pilah Bank Indonesia. Spesimen kertas CBS-1 dianggap memenuhi syarat pengujian dengan mesin baca pilah apabila tingkat penolakan (tingkat reject) spesimen kertas CBS-1 paling tinggi sampai dengan 2% (dua perseratus). Dalam hal tingkat penolakan hasil pengujian spesimen kertas CBS-1 dimaksud pada mesin baca pilah menunjukkan tingkat penolakan spesimen yang lebih tinggi dari 2% (dua per seratus), PPDS dimaksud berdasarkan surat pemberitahuan tertulis dari Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran dapat diberikan kesempatan untuk menyampaikan kembali spesimen kertas CBS-1 yang telah diperbaiki kepada Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran untuk dilakukan pengujian kembali dengan mesin baca pilah; dan
c. melakukan pemeriksaan langsung (on site supervision) ke PPDS yang bersangkutan untuk melakukan verifikasi atas kebenaran dokumen-dokumen Peserta sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, apabila spesimen kertas CBS-1 yang disampaikan PPDS telah memenuhi syarat pengujian dengan mesin baca pilah sebagaimana dimaksud dalam huruf
3. Dalam hal kegiatan pemeriksaan administratif dokumen, pengujian kertas CBS-1 dan pemeriksaan langsung sebagaimana dimaksud dalam angka 2 telah dilakukan, Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran akan melakukan : a. penolakan, apabila hasil kegiatan pemeriksaan administratif
dokumen, pengujian kertas CBS-1 dan atau pemeriksaan langsung menunjukkan hasil yang tidak baik atau tidak memenuhi salah satu atau lebih persyaratan yang ditetapkan Bank Indonesia. Selanjutnya Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran menyampaikan surat penolakan dengan menyebutkan alasan penolakan, dengan disertai pengembalian seluruh lampiran sebagaimana dimaksud dalam angka 1 kepada PPDS yang bersangkutan untuk dapat diperbaiki dan atau dilengkapi. Terhadap penolakan dimaksud, PPDS yang bersangkutan, dapat mengajukan kembali surat permohonan izin operasional beserta lampirannya yang telah diperbaiki atau dilengkapi kepada Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran, dengan mengikuti tata cara sebagaimana dimaksud dalam angka 1; atau
sebagaimana dimaksud dalam angka 2 menunjukkan hasil baik atau memenuhi keseluruhan persyaratan yang ditetapkan Bank Indonesia.
4. Dalam hal surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 disetujui oleh Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran sebagaimana dimaksud dalam butir 3.b, persetujuan tersebut dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Direktur Akunting dan Sistem Pembayaran menerbitkan Keputusan yang berisi penetapan PPDS dimaksud sebagai PPWDK;
b. menyampaikan surat pemberitahuan penetapan sebagai PPWDK disertai asli Keputusan sebagaimana dimaksud dalam huruf a kepada PPWDK yang bersangkutan;
c. menyampaikan surat pemberitahuan penetapan sebagai PPWDK disertai tembusan Keputusan sebagaimana dimaksud dalam huruf a kepada instansi yang berwenang memberikan izin operasional kepada PPDS;
d. mengumumkan penetapan PPWDK sebagaimana dimaksud dalam huruf a dengan menggunakan Pengumuman Bank Indonesia kepada seluruh Kantor Pusat Peserta, Kantor Cabang Peserta dari Bank yang berkedudukan di luar negeri dan PPWDK lainnya di seluruh Indonesia.
5. Pemberian surat penolakan atau Keputusan persetujuan kepada PPDS untuk mencetak Warkat dan Dokumen Kliring sebagaimana dimaksud dalam butir 3.a dan butir 3.b, dilakukan
Bank Indonesia paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender sejak tanggal pemeriksaan langsung ke PPDS yang bersangkutan sebagaimana dimaksud dalam butir 2.c.
V. KEWAJIBAN PERUSAHAAN PERCETAKAN WARKAT DAN
DOKUMEN KLIRING
Dalam melakukan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK), PPWDK wajib :
1. menerima pesanan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring hanya dari Peserta sebagaimana dimaksud dalam butir II.B.2;
2. melaksanakan sendiri segala pekerjaan yang berkaitan dengan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring (prinsip Do It
Yourself/Under One Roof) atau tidak mensubkontrakkan atau
mengalihkan pekerjaan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring tersebut kepada PPWDK lain, atau menerima pengalihan pekerjaan dari PPWDK lain;
3. mencetak Warkat dan Dokumen Kliring sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan dalam butir I.A.2 dan butir I.B.2;
4. melakukan pengujian ke BBP&K atas setiap kertas CBS-1 sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.2.a.1) dan butir I.B.2.a.1)a) yang akan digunakan untuk mencetak Warkat dan Dokumen Kliring Peserta yang merupakan:
a. kertas CBS-1 baru yang akan digunakan untuk mencetak Warkat dan Dokumen Kliring Peserta untuk pertama kalinya; atau
b. kertas CBS-1 yang telah disetujui oleh Bank Indonesia dan mengalami perubahan atau penggantian yang berupa perubahan atau penggantian:
1) produsen kertas CBS-1;
2) tanda air (water mark) logo PPWDK yang bersangkutan; dan atau
3) ketentuan Bank Indonesia yang mengubah spesifikasi teknis kertas CBS-1.
5. melaporkan hasil pengujian kertas CBS-1 sebagaimana dimaksud dalam angka 4 yang telah memenuhi standar Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.2.a.1) atau butir I.B.2.a.1)a) kepada Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran dengan menggunakan surat tertulis paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender sejak tanggal surat BBP&K kepada PPWDK yang bersangkutan perihal hasil pengujian kertas CBS-1, dengan melampirkan:
a. fotokopi laporan hasil uji kertas CBS-1 baru dari BBP&K, yang telah mendapatkan pernyataan dari Notaris bahwa fotokopi laporan tersebut sesuai dengan dokumen asli yang diperlihatkan kepada Notaris atau yang telah mendapatkan pernyataan sesuai aslinya oleh BBP&K, yang memuat informasi mengenai spesifikasi kertas sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.2.a.1) atau butir I.B.2.a.1)a);
b. spesimen kertas CBS-1 yang diuji oleh BBP&K sebagaimana dimaksud dalam angka 4 dan telah memiliki laporan hasil uji
kertas CBS-1 sebagaimana dimaksud dalam huruf a, masing-masing dengan ukuran :
1) 20 cm x 20 cm sebanyak 50 (lima puluh) lembar yang telah dibubuhi stempel PPWDK; dan
2) 7 (tujuh) inci x 2¾ (dua tiga per empat) inci sebanyak 135 (seratus tiga puluh lima) lembar yang telah dibubuhi stempel PPWDK dan MICR code line sesuai dengan tata cara pencantuman informasi MICR code line sebagaimana dimaksud dalam butir II.C.2.a.5).c), untuk dilakukan pengujian dengan mesin baca pilah oleh Penyelenggara. Spesimen kertas CBS-1 dianggap memenuhi syarat pengujian dengan mesin baca pilah apabila tingkat penolakan (tingkat reject) spesimen kertas CBS-1 paling tinggi sampai dengan 2% (dua perseratus). Dalam hal tingkat penolakan hasil pengujian spesimen kertas CBS-1 dimaksud pada mesin baca pilah menunjukkan tingkat penolakan spesimen yang lebih tinggi dari 2% (dua per seratus), PPDS dimaksud berdasarkan surat pemberitahuan tertulis dari Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran dapat diberikan kesempatan untuk menyampaikan kembali spesimen kertas CBS-1 yang telah diperbaiki kepada Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran untuk dilakukan pengujian dengan mesin baca pilah;
6. melakukan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring Peserta dengan
menggunakan kertas CBS-1 sebagaimana dimaksud dalam
butir I.A.2.a.1) dan butir I.B.2.a.1)a) yang telah disetujui oleh Bank Indonesia;
7. setiap tahun menyampaikan laporan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring dengan menggunakan surat kepada Kantor Pusat Bank Indonesia mengenai Warkat dan Dokumen Kliring yang telah dicetak dan dikirim oleh PPWDK tersebut kepada Peserta pada periode 1 (satu) tahun sebelumnya, yaitu periode bulan Januari sampai dengan bulan Desember. Laporan tersebut wajib memuat:
a. nama Bank; b. periode laporan; c. tanggal pemesanan; d. nama PPWDK;
e. tanggal pengiriman; dan
f. jenis dan jumlah lembar Warkat dan atau Dokumen Kliring yang telah dicetak oleh PPWDK selama periode 1 (satu) tahun sebelumnya;
dengan contoh format sesuai dengan Lampiran 8;
8. apabila dalam kurun waktu 1 (satu) tahun sebelumnya sebagaimana dimaksud dalam angka 7, tidak terdapat pemesanan/pencetakan Warkat dan atau Dokumen Kliring, maka PPWDK yang bersangkutan tetap diwajibkan menyampaikan laporan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring dengan keterangan ‘Nihil’ pada laporan sesuai dengan format dalam Lampiran 9;
./.
./.
9. menyampaikan laporan periode 1 (satu) tahun sebelumnya paling lambat pada tanggal 25 Januari tahun berikutnya. Dalam hal tanggal 25 tersebut di atas adalah hari libur maka batas waktu pelaporan tersebut adalah hari kerja berikutnya;
10. menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam angka 7 dan 8 yang ditujukan kepada Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran - Bagian Pengawasan Sistem Pembayaran dengan alamat surat sebagaimana dimaksud dalam butir II.E.1.d.
11. menyampaikan fotokopi perubahan anggaran dasar PPWDK yang berkaitan dengan perubahan nama, kepemilikan, direksi dan atau komisaris yang telah dinyatakan sesuai dengan aslinya oleh Notaris, kepada Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran - Bagian Pengawasan Sistem Pembayaran, dengan alamat surat sebagaimana dimaksud dalam butir II.E.1.d;
12. menyampaikan tembusan atau fotokopi ”surat permohonan perpanjangan izin operasional PPDS kepada instansi yang berwenang” dan atau fotokopi ”surat dalam masa proses” yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang tersebut, kepada Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran - Bagian Pengawasan Sistem Pembayaran dengan alamat surat sebagaimana dimaksud dalam butir II.E.1.d;
13. menyampaikan fotokopi perpanjangan izin operasional PPDS dari instansi yang berwenang dengan menggunakan surat kepada Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran – Bagian Pengawasan Sistem Pembayaran dengan alamat surat sebagaimana dimaksud dalam butir II.E.1.d, paling lambat 14
(empat belas) hari kerja sejak dikeluarkan perpanjangan izin operasional dimaksud;
14. mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku, antara lain Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
VI. PENCABUTAN PENETAPAN PERUSAHAAN PERCETAKAN
WARKAT DAN DOKUMEN KLIRING
Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran dapat mencabut penetapan PPWDK sebagaimana dimaksud dalam butir IV.B.4, apabila terdapat kondisi-kondisi sebagai berikut:
1. izin operasional PPDS sebagaimana dimaksud dalam butir IV.A.1 tidak diperpanjang lagi dan atau telah dicabut oleh instansi yang berwenang;
2. PPWDK dikenai suatu sanksi tertentu oleh instansi yang berwenang yang telah memiliki kekuatan hukum tetap;
3. PPWDK tidak lagi mempunyai mesin disain sekuriti, mesin cetak sekuriti, mesin cetak penomoran untuk mencetak MICR code line dan atau mesin pembaca MICR yang dapat berfungsi dengan baik sebagaimana dimaksud dalam butir IV.A.5 dan sekurang-kurangnya telah memperoleh surat teguran dari Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran - Bagian Pengawasan Sistem Pembayaran sebanyak 2 (dua) kali.
VII. PENGAWASAN
Untuk memastikan kepatuhan terhadap ketentuan Bank Indonesia yang terkait dengan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring, Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran - Bagian Pengawasan Sistem Pembayaran melakukan pengawasan secara langsung dan tidak langsung terhadap Peserta dan PPWDK.
A. Pengawasan Langsung
1. Dalam pelaksanaan pengawasan secara langsung, Bank Indonesia dapat melakukan sendiri pengawasan secara langsung atau meminta bantuan kepada instansi lain yang mempunyai keahlian dan kompetensi dalam operasional pencetakan dokumen sekuriti.
2. Pengawasan langsung terhadap Peserta, antara lain dapat meliputi :
a. pengecekan atas kebenaran laporan yang disampaikan Peserta;
b. penelitian terhadap keabsahan perusahaan percetakan yang digunakan untuk mencetak Warkat dan atau Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK) Peserta. 3. Pengawasan langsung terhadap PPWDK, antara lain dapat
meliputi :
a. pengecekan atas kebenaran laporan yang disampaikan PPWDK;
b. penelitian terhadap ketersediaan dan kondisi mesin-mesin percetakan Warkat dan Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK).
B. Pengawasan Tidak Langsung
Pengawasan tidak langsung dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. menganalisis laporan-laporan yang disampaikan oleh Peserta dan
PPWDK, yang antara lain meliputi ketepatan waktu penyampaian laporan, keakuratan isi laporan dan kesesuaian penggunaan format laporan yang ditetapkan Bank Indonesia;
2. melakukan pengujian secara sampling terhadap Warkat dan atau Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK) Peserta yang memiliki tingkat reject relatif tinggi (di atas 2%) dan atau memiliki indikasi ketidaksesuaian dengan spesifikasi teknis Warkat dan Dokumen Kliring sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.2 dan butir I.B.2.
VIII. SANKSI
Apabila dalam penyelenggaraan Kliring Peserta tidak memenuhi kewajiban penggunaan Warkat dan atau Dokumen Kliring yang dicetak pada PPWDK berdasarkan surat persetujuan dari Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam butir II.D.3, dan PPWDK tidak mencetak Warkat dan Dokumen Kliring (BPWD, BPWK, KBWD dan KBWK) sesuai kewajiban sebagaimana dimaksud dalam angka V, berlaku ketentuan sebagai berikut: A. Sanksi Untuk Peserta
1. Dalam hal Warkat dan atau Dokumen Kliring Peserta menggunakan kertas CBS-1 yang tidak memenuhi persyaratan spesifikasi teknis Warkat dan Dokumen Kliring sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.2.a.1) dan butir I.B.2.a.1)a) atau tidak
menggunakan kertas CBS-1, maka berlaku ketentuan sebagai berikut:
a. Peserta wajib mengganti Warkat dan atau Dokumen Kliring tersebut dengan Warkat dan Dokumen Kliring yang menggunakan kertas CBS-1 sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.2.a.1) dan butir I.B.2.a.1)a), dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari kalender sejak tanggal surat pengenaan sanksi oleh Bank Indonesia;
b. Kewajiban penggantian Warkat dan Dokumen Kliring oleh Peserta sebagaimana dimaksud dalam huruf a menjadi tanggungjawab PPWDK, apabila tidak dipenuhinya persyaratan tersebut timbul akibat adanya kelalaian atau kesalahan PPWDK;
c. Warkat dan Dokumen Kliring yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 tidak diperkenankan untuk digunakan dalam penyelenggaraan Kliring.
2. Peserta sebagaimana dimaksud dalam butir II.B.2 yang melakukan pencetakan Warkat dan Dokumen Kliring selain kepada PPWDK yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam butir IV.B.4, berlaku ketentuan sebagai berikut:
Pengawasan Sistem Pembayaran berupa kewajiban membayar sebesar Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah); dan b. kewajiban untuk mengganti Warkat dan atau Dokumen
Kliring yang dicetak di perusahaan percetakan selain PPWDK, dengan Warkat dan atau Dokumen Kliring yang dicetak pada PPWDK paling lambat 60 (enam puluh) hari kalender sejak diterbitkan surat pengenaan sanksi oleh Bank Indonesia.
c. Warkat dan Dokumen Kliring yang dicetak di perusahaan percetakan selain PPWDK tersebut tidak diperkenankan untuk digunakan dalam penyelenggaraan Kliring.
2. Dalam hal Peserta sebagaimana dimaksud dalam butir II.B.2 tidak melaksanakan penggantian Warkat dan atau Dokumen Kliring dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a dan butir 2.b, Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran mengenakan sanksi berupa kewajiban membayar sebesar Rp 2.000.000,00 (dua juta rupiah) untuk setiap hari keterlambatan dengan maksimum kewajiban membayar sebesar Rp 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah).
3. Dalam hal Peserta telah melakukan pencetakan Warkat dan atau Dokumen Kliring dengan menggunakan kertas CBS-1 sesuai ketentuan dalam butir I.A.2.a.1) dan atau butir I.B.2.a.1).a) namun tidak memenuhi spesifikasi teknis Warkat sebagaimana dimaksud dalam butir I.A.2.a.2) sampai dengan butir I.A.2.a.9) dan atau spesifikasi teknis Dokumen Kliring sebagaimana dimaksud dalam butir I.B.2.a.1).b) dan butir I.B.2.a.1).c), serta
tanpa memperoleh persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam butir II.D.2.b, maka, Kantor Pusat Bank Indonesia c.q Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran mengenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) per hari terhitung sejak tanggal pencetakan dimaksud sampai dengan tanggal surat persetujuan pencetakan Warkat dan atau Dokumen Kliring dikeluarkan oleh Bank Indonesia dengan maksimum sebesar Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah).
4. Dalam hal Kantor Pusat Peserta atau Kantor Cabang dari suatu Bank yang kantor pusatnya berkedudukan di luar negeri terlambat atau belum menyampaikan laporan tahunan sebagaimana dimaksud dalam butir II.E.1, Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran mengenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp 100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk setiap hari keterlambatan dengan maksimum sebesar Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah). Khusus Kantor Pusat Peserta atau Kantor Cabang dari suatu Bank yang kantor pusatnya berkedudukan di luar negeri yang belum menyampaikan laporan, yang bersangkutan tetap diwajibkan untuk menyampaikan laporan tersebut.
5. Dalam hal Kantor Pusat Peserta tidak melaporkan perubahan nama Bank dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kalender sebagaimana dimaksud dalam butir II.G.1, Kantor Pusat Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran mengenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis.
B. Sanksi Untuk PPWDK
1. Dalam hal PPWDK mencetak Warkat dan atau Dokumen Kliring Peserta dengan menggunakan kertas CBS-1 yang tidak memenuhi persyaratan s