• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mata Kuliah : AGAMA Koordianator M.K : P. Bone Bin Ola, Pr Kelas : A Kelompok 1 Tema Paper : Kerukunan Beragama Indonesia: dulu dan sekarang dalam per

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Mata Kuliah : AGAMA Koordianator M.K : P. Bone Bin Ola, Pr Kelas : A Kelompok 1 Tema Paper : Kerukunan Beragama Indonesia: dulu dan sekarang dalam per"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1 1 Mata

Mata Kuliah Kuliah : : AGAMAAGAMA Koordianator M.K

Koordianator M.K : : P. P. Bone Bone Bin Bin Ola, Ola, PrPr Kelas

Kelas : : A A Kelompok Kelompok 11 Tema

Tema Paper Paper : : Kerukunan Kerukunan Beragama Beragama Indonesia: Indonesia: dulu dulu dan dan sekarang sekarang dalamdalam perbandingan.

perbandingan.

TUGAS PAPER TUGAS PAPER

“Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama Di

“Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama Di Indonesia Dan Indonesia Dan

 Peran Pemerintah

 Peran Pemerintah Di Dalamnya” Di Dalamnya”

Disusun oleh : Disusun oleh : Fernando

Fernando Hengkelare Hengkelare (09061030) (09061030)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE

MANADO MANADO

2011 2011

(2)

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Negara Indonesia adalah termasuk Negara yang penduduknya majemuk  Negara Indonesia adalah termasuk Negara yang penduduknya majemuk  dalam suku, adat, budaya dan agama. Kemajemukan dalam hal agama terjadi dalam suku, adat, budaya dan agama. Kemajemukan dalam hal agama terjadi karena masuknya agama-agama besar ke Indonesia yang diawali oleh agama karena masuknya agama-agama besar ke Indonesia yang diawali oleh agama Hindu dan Buddha, kemudian Islam, Katolik dan (Kristen) Protestan.

Hindu dan Buddha, kemudian Islam, Katolik dan (Kristen) Protestan.

Perkembangan agama-agama tersebut telah menjadikan bangsa Indonesia Perkembangan agama-agama tersebut telah menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beragama, dimana kehidupan beragama, dimana kehidupan sebagai bangsa yang beragama, dimana kehidupan beragama, dimana kehidupan keagamaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat dan bangsa keagamaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu Indonesia. Perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu penjajah, sangat dipengaruhi antara lain oleh motivasi agama. Selain itu inspirasi penjajah, sangat dipengaruhi antara lain oleh motivasi agama. Selain itu inspirasi dan aspirasi keagamaan tercemin dalam rumusan Pancasila dan UUD 1945.

dan aspirasi keagamaan tercemin dalam rumusan Pancasila dan UUD 1945.

Proses penyebaran dan perkembangan agama-agama di Indonesia Proses penyebaran dan perkembangan agama-agama di Indonesia berlangsung dalam suatu rentangan waktu yang cukup panjang sehingga terjadi berlangsung dalam suatu rentangan waktu yang cukup panjang sehingga terjadi kerukunan beragama antara yang satu dengan yang lainnya. Upaya mewujudkan kerukunan beragama antara yang satu dengan yang lainnya. Upaya mewujudkan kerukunan hidup beragama tersebut tidak lepas dari peranan Pemerintah kerukunan hidup beragama tersebut tidak lepas dari peranan Pemerintah Indonesia.

Indonesia.

(3)

3 3 TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA

A.

A. PERGAULAN ANTAR PARA PENGANUT AGAMA YANG BERBEDA.PERGAULAN ANTAR PARA PENGANUT AGAMA YANG BERBEDA.

Dalam pergaulan antar umat beragama, sering muncul sikap:

Dalam pergaulan antar umat beragama, sering muncul sikap:

1.

1. ApologetisApologetis

Apologetis berasal dari kata Yunani apo yang berarti

Apologetis berasal dari kata Yunani apo yang berarti daridari,, jauh darijauh dari,, dan

dan logoslogos yang berartiyang berarti kata, pikiran, alasankata, pikiran, alasan.. Apologos Apologos berartiberarti pembelaan pembelaan..

Sikap apologetis adalah sikap membela agama

Sikap apologetis adalah sikap membela agama yang dianut.yang dianut.

2.

2. PolemisPolemis

Polemis berasal dari kata Yunani

Polemis berasal dari kata Yunani  polemos polemos yang berartiyang berarti perang perang. Sikap. Sikap  polemis

 polemis menciptakan menciptakan “senjata” “senjata” untuuntuk mengalahkan para penganut agamak mengalahkan para penganut agama lain dan melumpuhkan kegiatan mereka. Senjata itu dapat berupa media lain dan melumpuhkan kegiatan mereka. Senjata itu dapat berupa media tertulis (edaran, bulletin, majalah, surat kabar), audio (radio, pita kaset), tertulis (edaran, bulletin, majalah, surat kabar), audio (radio, pita kaset), audio-visual (tv,film) di mana isi iman dan ajaran agama yang dianut audio-visual (tv,film) di mana isi iman dan ajaran agama yang dianut orang lain dibeberkan untuk di cari

orang lain dibeberkan untuk di cari kelemahan dan kemudian diserangkelemahan dan kemudian diserang..

3.

3. PersainganPersaingan

Pertemuan antarpara penganut agama yang berbeda dapat menciptakan Pertemuan antarpara penganut agama yang berbeda dapat menciptakan persaingan keagamaan (

persaingan keagamaan (religious competitionreligious competition). Persaingan dan kekerasan). Persaingan dan kekerasan keagamaan itu muncul bila para penganut agama bersifat fanatik dan keagamaan itu muncul bila para penganut agama bersifat fanatik dan membuat agamanya menjadi mutlak,

membuat agamanya menjadi mutlak, absoluteabsolute..

4.

4. ToleransiToleransi

Toleransi berasal dari kata Latin

Toleransi berasal dari kata Latin toleraretolerare yang berartiyang berarti menanggung,menanggung, membiarkan

membiarkan dandan menderitamenderita. Sikap toleransi adalah sikap lunak,. Sikap toleransi adalah sikap lunak, membiarkan dan member keleluasan kepada penganut agma l

membiarkan dan member keleluasan kepada penganut agma l ain.ain.

5.

5. DialogDialog

Dialog berasal dari kata

Dialog berasal dari kata YunaniYunani dialogosdialogos yang berarti pembicaraan danyang berarti pembicaraan dan perbincangan. Dalam dialog para penganut agama yang berbeda bertemu perbincangan. Dalam dialog para penganut agama yang berbeda bertemu dan mengadakan pembahasan bersama untuk saling mencari pengertian dan mengadakan pembahasan bersama untuk saling mencari pengertian dan pemahaman. Tujuannya adalah bersama-sama mencari kebenaran dan pemahaman. Tujuannya adalah bersama-sama mencari kebenaran universal yang dapat dalam agama masing-masing. Landasannya adalah universal yang dapat dalam agama masing-masing. Landasannya adalah saling menghargai dan kesediaan untuk belajar satu sama lain.

saling menghargai dan kesediaan untuk belajar satu sama lain.

(4)

B.

B. KERUKUNAN HIDUP BERAGAMA DI INDONESIAKERUKUNAN HIDUP BERAGAMA DI INDONESIA 1.

1. Kerukunan Hidup Beragama Di Kalangan Umat Islam.Kerukunan Hidup Beragama Di Kalangan Umat Islam.

a.

a. Kerukunan Intern Umat Islam.Kerukunan Intern Umat Islam.

Akibat Indonesia berada dibawah pemerintahan penjajah selama tiga Akibat Indonesia berada dibawah pemerintahan penjajah selama tiga abad, timbul dan membekas kepincangan segala aspek kehidupan abad, timbul dan membekas kepincangan segala aspek kehidupan masyarakat dan bangsa termasuk kehidupan beragama. Saat masa masyarakat dan bangsa termasuk kehidupan beragama. Saat masa penjajahan upaya dalam menciptakan persaudaraan dilingkungan umat penjajahan upaya dalam menciptakan persaudaraan dilingkungan umat Islam selalu mendapat rintangan dari penjajah.

Islam selalu mendapat rintangan dari penjajah.

Pada tahun 1921 berlangsung Kongres umat islam di solo dengan Pada tahun 1921 berlangsung Kongres umat islam di solo dengan motif persaudaraan/kerukunan intern umat islam, disusul dengan kongres motif persaudaraan/kerukunan intern umat islam, disusul dengan kongres di tahun-tahun kemudian. Atas kesepakatan para pemuka agama islam dan di tahun-tahun kemudian. Atas kesepakatan para pemuka agama islam dan dengan lampu hijau dari pemerintah indonesia, berdirilah MUI pada dengan lampu hijau dari pemerintah indonesia, berdirilah MUI pada tanggal 1975 setelah kemerdekaan diraih dari

tanggal 1975 setelah kemerdekaan diraih dari tangan penjajah.tangan penjajah.

b.

b. Kerukunan Ekstern Antara Umat Islam Dengan Umat Beragama Lain.Kerukunan Ekstern Antara Umat Islam Dengan Umat Beragama Lain.

Dalam upaya mengalang kerukunan hidup antar umat beragama telah Dalam upaya mengalang kerukunan hidup antar umat beragama telah dilangsungkan konferensi antar umat beragama, November 1967 di dilangsungkan konferensi antar umat beragama, November 1967 di Jakarta. Dan pada tanggal 30 Juni 1980 terbentuk Wadah Musyawarah Jakarta. Dan pada tanggal 30 Juni 1980 terbentuk Wadah Musyawarah antar umat beragama terdiri dari 5 Majelis Agama Yaitu MUI, PGI, KWI, antar umat beragama terdiri dari 5 Majelis Agama Yaitu MUI, PGI, KWI, PARISADA Hindu Dharma dan WALUBI

PARISADA Hindu Dharma dan WALUBI

Faktor yang mendukung terciptanya kerukunan antar umat beragama Faktor yang mendukung terciptanya kerukunan antar umat beragama adalah sifat bangsa Indonesia yang ramah, bersahabat, bergotong-royong, adalah sifat bangsa Indonesia yang ramah, bersahabat, bergotong-royong, pemaaf dan luwes sedangkan Faktor yang menghambat adalah perbedaan pemaaf dan luwes sedangkan Faktor yang menghambat adalah perbedaan sosial, ekonomi, budaya yang menimbulkan ketidakserasian, meningkat sosial, ekonomi, budaya yang menimbulkan ketidakserasian, meningkat menjadi protes,

menjadi protes, pembangkangpembangkangan hingga an hingga pemberontakan.pemberontakan.

2.

2. Kerukunan Hidup Beragama Di Kalangan Umat (Kristen) Protestan.Kerukunan Hidup Beragama Di Kalangan Umat (Kristen) Protestan.

a.

a. Kerukunan intern umat (Kristen) Protestan.Kerukunan intern umat (Kristen) Protestan.

Kerukunan intern di kalangan umat (Kristen) Protestan pada umunya Kerukunan intern di kalangan umat (Kristen) Protestan pada umunya tidaklah mengalami permasalahan yang amat serius. Mengenai kehidupan tidaklah mengalami permasalahan yang amat serius. Mengenai kehidupan intern umat Kristen upaya penguatan kesadaran kebersamaan telah intern umat Kristen upaya penguatan kesadaran kebersamaan telah mendorong umat (Kristen) Protestan melihat dirinya tidak semata-mata mendorong umat (Kristen) Protestan melihat dirinya tidak semata-mata sebagai anggota-anggota dari gereja-gereja yang memiliki kepelbagaian sebagai anggota-anggota dari gereja-gereja yang memiliki kepelbagaian

(5)

5 5 sebagai sesama saudara seiman yang satu dalam melakukan pelayanan, sebagai sesama saudara seiman yang satu dalam melakukan pelayanan, pembinaan kesadaran religious yang dilakukan umat (Kristen) Protestan pembinaan kesadaran religious yang dilakukan umat (Kristen) Protestan antara lain mengarah pada penampakan bersama, keterbukaan serta antara lain mengarah pada penampakan bersama, keterbukaan serta kesediaan untuk terus berinteraksi dalam segala bentuk dan cara.

kesediaan untuk terus berinteraksi dalam segala bentuk dan cara.

b.

b. Kerukunan Ekstern Antar Umat (Kristen) Protestan Dengan UmatKerukunan Ekstern Antar Umat (Kristen) Protestan Dengan Umat Beragama Lain.

Beragama Lain.

Kerukunan yang dicita-

Kerukunan yang dicita-citakan bukanlah sekedar “rukuncitakan bukanlah sekedar “rukun--rukunan”,rukunan”, melainkan kerukunan yang benar-benar otentik dan dinamis. Kerukunan melainkan kerukunan yang benar-benar otentik dan dinamis. Kerukunan otentik 

otentik  yaitu kerukunan yang didasarkan dan berlandaskan pada ajaranyaitu kerukunan yang didasarkan dan berlandaskan pada ajaran agama masing-masing. Kerukunan yang

agama masing-masing. Kerukunan yang dinamisdinamis, yang dimaksudkan, yang dimaksudkan bukan sekedar kerukunan yang berdasarkan kesediaan untuk menerima bukan sekedar kerukunan yang berdasarkan kesediaan untuk menerima eksistensi yang lain dalam suasana hidup bersama tapi tanpa saling eksistensi yang lain dalam suasana hidup bersama tapi tanpa saling menyapa. Melainkan kerukunan yang didorong oleh kesadaran bahwa, menyapa. Melainkan kerukunan yang didorong oleh kesadaran bahwa, walaupun berbeda, semua kelompok agama mempunyai tugas dan walaupun berbeda, semua kelompok agama mempunyai tugas dan tanggung jawab bersama, yaitu mengusahakan kesejahteraan lahir batin tanggung jawab bersama, yaitu mengusahakan kesejahteraan lahir batin yang sebesar-besarnya bagi semua orang (bukan hanya umatnya sendiri).

yang sebesar-besarnya bagi semua orang (bukan hanya umatnya sendiri).

3.

3. Kerukunan Hidup Beragama Di Kalangan Umat Katolik.Kerukunan Hidup Beragama Di Kalangan Umat Katolik.

a.

a. Kerukunan Intern Umat Katolik.Kerukunan Intern Umat Katolik.

Dalam gereja Katolik dapat dibedakan antara lembaga teritorial dan Dalam gereja Katolik dapat dibedakan antara lembaga teritorial dan kategorial. Lembaga teritorial terpokok adalah keuskupan. Di Indonesia kategorial. Lembaga teritorial terpokok adalah keuskupan. Di Indonesia kerukunan antara keuskupan satu dengan yang lainnya dijaga melalui kerukunan antara keuskupan satu dengan yang lainnya dijaga melalui kerjasama reksa pengabdian dalam satu provinsi gerejawi. Dalam hal itu, kerjasama reksa pengabdian dalam satu provinsi gerejawi. Dalam hal itu, Indonesia dibagi menjadi beberapa provinsi Gerejawi: Medan, Jakarta, Indonesia dibagi menjadi beberapa provinsi Gerejawi: Medan, Jakarta, Semarang, Pontianak, Ujung Pandang, Ende, Merauke-Jayapura. Masing- Semarang, Pontianak, Ujung Pandang, Ende, Merauke-Jayapura. Masing- masing uskup mandiri dalam wilayahnya tetapi mengkoordinasikan masing uskup mandiri dalam wilayahnya tetapi mengkoordinasikan pengabdianny

pengabdiannya a dengan kawan-kawan seprovinsi.dengan kawan-kawan seprovinsi.

Pada lingkup lembaga kategorial usaha kerukunan dilakukan dengan Pada lingkup lembaga kategorial usaha kerukunan dilakukan dengan mewajibkan setiap tarekat dan lembaga pelayanan awam maupun mewajibkan setiap tarekat dan lembaga pelayanan awam maupun biarawan/wati untuk menyesuaikan langkah pengabdiannya dengan biarawan/wati untuk menyesuaikan langkah pengabdiannya dengan kebijakan keuskupan. Masalah kerukunan yang kadang kala muncul kebijakan keuskupan. Masalah kerukunan yang kadang kala muncul diakibatkan oleh kepentingan perorangan dalam organisasi atau adanya diakibatkan oleh kepentingan perorangan dalam organisasi atau adanya orang yang sering disebut radikal.

orang yang sering disebut radikal.

(6)

b.

b. Hubungan Antara Umat Katolik Dengan Umat Bergama Lain.Hubungan Antara Umat Katolik Dengan Umat Bergama Lain.

Banyak umat Katolik yang bekerjasama dengan lembaga-lembaga Banyak umat Katolik yang bekerjasama dengan lembaga-lembaga agama lain, baik (Kristen) Protestan maupun Muslim. Tidak sedikitpula agama lain, baik (Kristen) Protestan maupun Muslim. Tidak sedikitpula kawan-kawan yang beragama lain yang membantu secara sangat kawan-kawan yang beragama lain yang membantu secara sangat konstruktif lembaga-lembaga katolik. Kehadiran putera/putri Islam dalam konstruktif lembaga-lembaga katolik. Kehadiran putera/putri Islam dalam lembaga-lemaga

lembaga-lemaga pendidikan, pendidikan, kesehatan, kesehatan, dan sodan sosial Katolik sial Katolik merupakanmerupakan ungkapan kerukunan umat beragama.

ungkapan kerukunan umat beragama.

4.

4. Kerukunan Hidup Beragama Di Kalangan Umat Hindu.Kerukunan Hidup Beragama Di Kalangan Umat Hindu.

a.

a. Kerukunan Intern Umat HinduKerukunan Intern Umat Hindu

Meningkatkan ketakwaan dan pemahaman umat akan ajaran agama Meningkatkan ketakwaan dan pemahaman umat akan ajaran agama merupakan usaha mendasar yang terus menerus digalangkan oleh umat merupakan usaha mendasar yang terus menerus digalangkan oleh umat Hindu melalui

Hindu melalui  Dharma  Dharma WacanaWacana (kutbah agama),(kutbah agama),  Dharma  Dharma TulaTula (diskusi(diskusi agama),

agama),  Dharma  Dharma GitaGita (mengembangkan lagu-lagu kerohanian), dan(mengembangkan lagu-lagu kerohanian), dan  Dharma

 Dharma YatraYatra yaitu perjalanan suci mengunjungi tempat-tempat suciyaitu perjalanan suci mengunjungi tempat-tempat suci untuk melakukan

untuk melakukan dharma sadhanadharma sadhana atau kebaktian kepada Tuhan Yangatau kebaktian kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Maha Esa.

b.

b. Kerukunan EKerukunan Ekstern Antar Umat kstern Antar Umat Hindu Dengan Hindu Dengan Umat Beragama LUmat Beragama Lain.ain.

Umat Hindu di

Umat Hindu di Indonesia sebagIndonesia sebagian terbesar berasal dari satu ian terbesar berasal dari satu stok sukustok suku bangsa yang disebut Proto dan Deutro Melayu atau Melayu Polinesia dan bangsa yang disebut Proto dan Deutro Melayu atau Melayu Polinesia dan Melanesia, sama dengan sebagian terbesar dari umat Islam, Nasrani dan Melanesia, sama dengan sebagian terbesar dari umat Islam, Nasrani dan lain-lainnya yang leluhurnya juga berasal sari Proto dan Deutro Melayu lain-lainnya yang leluhurnya juga berasal sari Proto dan Deutro Melayu atau Melayu Polinesia dan Melanesia. Tradisi, adat, kebiasaan, atau Melayu Polinesia dan Melanesia. Tradisi, adat, kebiasaan, temperaman budaya, bahasa dan sebagainya banyak persamaannya antara temperaman budaya, bahasa dan sebagainya banyak persamaannya antara satu suku pribumi dengan suku pribumi yang lain di Indonesia. Unsur- satu suku pribumi dengan suku pribumi yang lain di Indonesia. Unsur- unsur persamaan itu merupakan salah satu kekuatan beragama yang unsur persamaan itu merupakan salah satu kekuatan beragama yang semakin mapan, sehat dan dinamais. Demikian juga kultur atau tempramen semakin mapan, sehat dan dinamais. Demikian juga kultur atau tempramen suku bangsa Melayu yang suka damai, toleran dan bersifat merangkul, suku bangsa Melayu yang suka damai, toleran dan bersifat merangkul, merupakaan kekayaan yang turut menunjang terbinanya kerukunan merupakaan kekayaan yang turut menunjang terbinanya kerukunan beragama antar umat Bergama di Indonesia.

beragama antar umat Bergama di Indonesia.

5.

5. Kerukunan Hidup Beragama Di Kalangan Umat Kerukunan Hidup Beragama Di Kalangan Umat BuddhaBuddha a.

a. Kerukunan Intern Umat BuddhaKerukunan Intern Umat Buddha

(7)

7 7 Pada awal tahun 60-70an telah banyak terdapat umat Buddha yang Pada awal tahun 60-70an telah banyak terdapat umat Buddha yang terhimpun dalam berbagai organisasi. Organisasi berkembang sejalan terhimpun dalam berbagai organisasi. Organisasi berkembang sejalan dengan perkembangan umat Buddha. Organisasi ini diperlukan untuk  dengan perkembangan umat Buddha. Organisasi ini diperlukan untuk  dapat melakukan kebaktian dan kegiatan keagamaan lainnya diperlukan dapat melakukan kebaktian dan kegiatan keagamaan lainnya diperlukan izin lebih dahulu dari pejabat pemerintah setempat. Organisasi Buddhis izin lebih dahulu dari pejabat pemerintah setempat. Organisasi Buddhis merupakan organisasi yang mencangkup segi sosial kemasyarakatan dan merupakan organisasi yang mencangkup segi sosial kemasyarakatan dan kerohanian lebih mencolok.

kerohanian lebih mencolok.

b.

b. Kerukunan Ekstern Antara Umat Buddha Dengan Umat Beragama Lain.Kerukunan Ekstern Antara Umat Buddha Dengan Umat Beragama Lain.

Faktor pendukung kerukanan antara umat Buddha dengan penganut Faktor pendukung kerukanan antara umat Buddha dengan penganut agama lain adalah belum pernah terjadi aksi kekerasan, seperti perang agama lain adalah belum pernah terjadi aksi kekerasan, seperti perang agma di Indonesia maupun di Luar Negeri. Faktor pendukung lainnya agma di Indonesia maupun di Luar Negeri. Faktor pendukung lainnya adalah kesediaan secara bersama-sama memajukan nilai-nilai moral, adalah kesediaan secara bersama-sama memajukan nilai-nilai moral, mempersiapkan diri secara mental dalam menghadapi dampak negative era mempersiapkan diri secara mental dalam menghadapi dampak negative era moderinisasi dan industrialisis. Faktor-faktor pengambat kerukunan adalah moderinisasi dan industrialisis. Faktor-faktor pengambat kerukunan adalah kadang-muncul penyakit Mayoritas di daerah-daerah, misalnya sukarnya kadang-muncul penyakit Mayoritas di daerah-daerah, misalnya sukarnya untuk mendirikan tempat Ibadah, dan lain-lain.

untuk mendirikan tempat Ibadah, dan lain-lain.

C.

C. PERAN PEMERINTAH DALAM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DIPERAN PEMERINTAH DALAM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA.

INDONESIA.

1.

1. Sebelum Kemerdekaan (Pemerintahan Penjajah)Sebelum Kemerdekaan (Pemerintahan Penjajah)

Dalam sejarah kehidupan keagamaan di Indonesia diakui pernah terjadi Dalam sejarah kehidupan keagamaan di Indonesia diakui pernah terjadi ketegangan atau friksi, namun masih dalam batas-batas kewajaran sebagai ketegangan atau friksi, namun masih dalam batas-batas kewajaran sebagai dinamaika dalam hubungan pergaulan atau interaksi antar

dinamaika dalam hubungan pergaulan atau interaksi antar umat beragama.umat beragama.

Salah satu penyebab terjadinya ketegangan atau konflik dalam kehidupan Salah satu penyebab terjadinya ketegangan atau konflik dalam kehidupan beragama adalah akibat politik pecah belah (

beragama adalah akibat politik pecah belah ( devide et imperadevide et impera) penjajah.) penjajah.

Dalam usaha politik tersebut pihak penjajah sering memanfaatkan perbedaan Dalam usaha politik tersebut pihak penjajah sering memanfaatkan perbedaan agama atau pahaman agama untuk menumbuhkan atau mempertajam konflik- agama atau pahaman agama untuk menumbuhkan atau mempertajam konflik- konflik dikalangan bangsa Indonesia yang sedang berjuang menentang konflik dikalangan bangsa Indonesia yang sedang berjuang menentang pemerintahan kolonial.

pemerintahan kolonial.

2.

2. Sesudah Kemerdekaan.Sesudah Kemerdekaan.

Suasana ketegangan dan pertentangan dalam kehidupan beragama yang Suasana ketegangan dan pertentangan dalam kehidupan beragama yang akarnya telah ditanamkan oleh penjajah terbawa pula kedalam alam akarnya telah ditanamkan oleh penjajah terbawa pula kedalam alam

(8)

kemerdekaan. Dari segi Pemerintah, upaya pembinaan kerukunan hidup telah kemerdekaan. Dari segi Pemerintah, upaya pembinaan kerukunan hidup telah dimulai sejak tahun 1965, dengan ditetapkannnya Penpres Nomor 1 Tahun dimulai sejak tahun 1965, dengan ditetapkannnya Penpres Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama yang 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama yang kemudian dikukuhkan menjad

kemudian dikukuhkan menjadi UU No i UU No 5 Tahun 1969.5 Tahun 1969.

Pada zaman pemerintahan Orde Baru, Pemerintah senantiasa Pada zaman pemerintahan Orde Baru, Pemerintah senantiasa memprakarsai berbagai kegiatan guna mengatasi ketegangan dalam kehidupan memprakarsai berbagai kegiatan guna mengatasi ketegangan dalam kehidupan beragama, agar kerukunan hidup beragama selalu tercipta, demi persatuan dan beragama, agar kerukunan hidup beragama selalu tercipta, demi persatuan dan kesatuan bangsa serta pembangunan. Maka dibentuklah Majelis-Majelis kesatuan bangsa serta pembangunan. Maka dibentuklah Majelis-Majelis Agama pada waktu itu yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 1975 dan Agama pada waktu itu yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 1975 dan Perwalian

Perwalian Umat Buddha IUmat Buddha Indonesia (WALUBI) pndonesia (WALUBI) pada 1979. Sebeada 1979. Sebelum itu telahlum itu telah terbentuk Majelis Agung Waligerja Indonesia (MAWI) bagi umat Katolik  terbentuk Majelis Agung Waligerja Indonesia (MAWI) bagi umat Katolik  pada tahun 1950an yang kemudian pada 1985 menjadi Konferensi Waligereja pada tahun 1950an yang kemudian pada 1985 menjadi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI) bagi umat Indonesia (KWI) dan Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI) bagi umat (Kristen) Protestan pada 1950, yang kemudian menjadi Persekutuan Gereja- (Kristen) Protestan pada 1950, yang kemudian menjadi Persekutuan Gereja- Gerja di Indonesia (PGI) pada 1984 serta Parisada Hindu Dharma Pusat Gerja di Indonesia (PGI) pada 1984 serta Parisada Hindu Dharma Pusat (PHDP) bagi umat hindu pada 1959; yang kemudian menjadi Parisada Hindu (PHDP) bagi umat hindu pada 1959; yang kemudian menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) pada 1986. Dengan tekad dan usaha bersama Dharma Indonesia (PHDI) pada 1986. Dengan tekad dan usaha bersama Majelis-Majelis Agama dan Pemerintah berupaya mengatasi faktor-faktor Majelis-Majelis Agama dan Pemerintah berupaya mengatasi faktor-faktor penghambat kerukunan hidup beragama dan mengembangkan faktor-faktor penghambat kerukunan hidup beragama dan mengembangkan faktor-faktor yang mendukungnya.

yang mendukungnya.

(9)

9 9 PENUTUP

PENUTUP

Kerukunan umat beragama adalah suatu bentuk sosialisasi yang damai dan Kerukunan umat beragama adalah suatu bentuk sosialisasi yang damai dan tercipta berkat adanya toleransi agama. Toleransi agama adalah suatu sikap saling tercipta berkat adanya toleransi agama. Toleransi agama adalah suatu sikap saling pengertian dan menghargai tanpa adanya diskriminasi dalam hal apapun, pengertian dan menghargai tanpa adanya diskriminasi dalam hal apapun, khususny

khususnya dalam a dalam masalah agama.masalah agama.

Kerukunan umat beragama adalah hal yang sangat penting

Kerukunan umat beragama adalah hal yang sangat penting untuk mencapaiuntuk mencapai sebuah kesejahteraan hidup di negeri ini. Indonesia memiliki keragaman yang sebuah kesejahteraan hidup di negeri ini. Indonesia memiliki keragaman yang begitu banyak. Tak

begitu banyak. Tak hanya masalah adat hanya masalah adat istiadat istiadat atau budaya seni, atau budaya seni, tapi jtapi jugauga termasuk

termasuk agama. agama. Walaupun Walaupun mayoritas mayoritas penduduk penduduk Indonesia memeluk Indonesia memeluk agamaagama Islam, ada beberapa agama lain yang juga dianut penduduk ini: (Kristen) Islam, ada beberapa agama lain yang juga dianut penduduk ini: (Kristen) Protestan, Katolik, Hindu, dan

Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha.Buddha.

Setiap agama tentu punya aturan

Setiap agama tentu punya aturan masing-masing dalam beribadah. Namunmasing-masing dalam beribadah. Namun perbedaan ini bukanlah alasan untuk berpecah belah. Oleh karna itu, marilah perbedaan ini bukanlah alasan untuk berpecah belah. Oleh karna itu, marilah sebagai satu saudara dalam tanah air yang sama, kita bekerjasama dengan sebagai satu saudara dalam tanah air yang sama, kita bekerjasama dengan Pemerintah menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia agar negara ini tetap Pemerintah menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia agar negara ini tetap menjadi satu kesatuan yang utuh, aman dan sejahtera.

menjadi satu kesatuan yang utuh, aman dan sejahtera.

(10)

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mursyid. 1999.

Ali, Mursyid. 1999. Studi Agama-Agama Di Perguruan Tinggi: Bingkai Sosio-Studi Agama-Agama Di Perguruan Tinggi: Bingkai Sosio- Kultural Kehidupan Hidup Antar Umat Beragama Di Indonesia Seri 3 Kultural Kehidupan Hidup Antar Umat Beragama Di Indonesia Seri 3..

Jakarta: Departemen Agama RI.

Jakarta: Departemen Agama RI.

BPPA. 1991.

BPPA. 1991. Pengkajian Dan Pengembangan Kerukunan Hidup Beragama DiPengkajian Dan Pengembangan Kerukunan Hidup Beragama Di  Indonesia

 Indonesia. Jakarta: Departemen Agama RI.. Jakarta: Departemen Agama RI.

Dhavamony

Dhavamony, , Mariasusai. 1997.Mariasusai. 1997. Phenomenology Of ReligionPhenomenology Of Religion. Yogyakarta:. Yogyakarta:

Penerbit Kanisius.

Penerbit Kanisius.

Hardjana, AM. 1993.

Hardjana, AM. 1993. Penghayatan Agama: Yang Otentik Dan Tidak Otentik Penghayatan Agama: Yang Otentik Dan Tidak Otentik ..

Jakarta: Penerbit Kanisius.

Jakarta: Penerbit Kanisius.

Lefebure, Leo D. 2003.

Lefebure, Leo D. 2003. Pernyataan Allah, Agama Dan KekerasanPernyataan Allah, Agama Dan Kekerasan. Jakarta:. Jakarta:

Gunung Mulia.

Gunung Mulia.

Referensi

Dokumen terkait

Sementara Lin dan Liu (2009) menemukan hasil empiris bahwa perusahaan dengan ukuran dewan pengawas yang lebih kecil cenderung kurang menyewa auditor besar.Dari uraian tersebut

LSPP menetapkan kebijakan dan prosedur program pemeliharaan atau sertifikasi ulang sesuai dengan persyaratan skema sertifikasi, yaitu dapat dilakukan oleh LSPP

Dalam hal ini dapat diketahui pula bahwa alih kode akan terjadi antar bahasa atau dalam bahasa satu ke bahasa kedua, misalnya peralihan dari bahasa Indonesia ke bahasa Prancis,

Adapun manfaat kemampuan motorik kasar anak usia dini menurut Hurlock (1978: 162) yaitu melalui keterampilan motorik anak dapat menghibur dirinya untuk memperoleh

Pada konteks penelitian ini, sama artinya anggota komunitas Pkuvidgram bergantung kepada media sosial instagram, semakin lama mereka bergabung dengan instagram

a. 1) Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima

1) Diantara parameter proses injection molding yang ada cacat penyusutan sangat dipengaruhi oleh waktu injeksi, backpressure dan temperature leleh , terlihat dari hasil

Berdasarkan hasil penelitian dan fakta pada variabel keputusan pembelian di FABRIK Eatery & Bar Bandung memiliki penilaian yang tinggi, namun restoran harus memperhatikan sub