• Tidak ada hasil yang ditemukan

USU Law Journal, Vol.6. No.5 (Oktober 2018) 76-94

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "USU Law Journal, Vol.6. No.5 (Oktober 2018) 76-94"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

USU Law Journal, Vol.6. No.5 (Oktober 2018) 76 - 94

76 ANALISIS YURIDIS ATAS PERMOHONAN ADA ATAU TIDAKNYA PENYALAHGUNAAN

WEWENANG BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN TERHADAP PROSES PERADILAN PIDANA KORUPSI

Mathilda Chrystina Katarina

Syafruddin Kalo, M. Hamdan, Faisal Akbar Nasution

[email protected]

ABSTRACT

The development of its administrative HR law between State and criminal law entered into a "gray area" giving rise to debate ebelitas am ong legal experts. How not to, a decision State officials well in order "beleid" nor "diskresi" became the arena of academic studies for was made the base an pem idanaan justification or denial, but on the other hand diskresi without based on legislation give rise to an abuse of authority. By the existence of article 20 and article 21 of ACT No. 30 of 2014 about governm ent administration, opening up space for the internal auditing of the Government Apparatus (APIP) to supervise the prohibition of abuse of authority and PTUN to check and decide there is or none of the elements of abuse of authority, as may be made by the Court of abusing authority in testing TIPIKOR article 3 of ACT PTPK. The results showed that according to the theory of the point of tangent equation, there are administrative law and criminal law related to abuse of authority, including the use of the term Equation 1) 2) Equation, Equation 3) understanding the subject of the norm i.e. Gov ernment officials, 4) equation of norgeddrag, i.e. the forbidden deeds (verbod). The close relationship of law and the administration of criminal law that raises the legal experts am ong the pros cons when APIP inspection results and/or Verdict PTUN stating there are no elements of abuse of authority committed government officials, whether binding the process of crim inal justice. Meanwhile, other legal experts have different opinions that the Government officials are convicted could do if the deed Tipikor against crim inal law, which preceded and followed the evil inner attitude (m ensrea) and result in the loss finances of the State, but in addition to the second opinion there is another legal experts who argued that there are no conflicts of norm s, because good PTUN nor the District Court (Criminal/Tipikor) runs the function of each. Parameter test of legality PTUN decisions and/or actions of governm ent officials is legislation (written) and the General principles of good gov ernance/AUPB (not written), while Court TIPIKOR based solely on regulation in writing only. In administrative law distinguished between personal responsibility and position responsibilities. Responsibilities of the position with regard to the legality of the (validity) or defects regarding the juridical authority, procedures, and the substances while personal responsibility with regards to the functionaries or approach the approach behavior, maladministrasi. Criminal responsibility is personal responsibility in the context of losses of State accompanied by malicious intent to benefit y ourself.

Keywords: abuse of Authority, law Adminintrasi, and criminal law.

PENDAHULUAN Latar Belakang

Undang-Undang Nom or 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pem erintahan (selanjutnya disingkat dengan UU No. 30 Tahun 2014) menjadi salah satu dasar hukum bagi badan dan/atau pejabat pem erintahan, warga masyarakat dan pihak-pihak lainnya yang terkait dengan administrasi pemerintahan dalam upaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan pem erintahan.1

Latar belakang lahirnya UU No. 30 Tahun 2014 yang antara lain untuk m enyelesaikan permasalahan dalam penyelenggaraan pem erintahan, pengaturan m engenai adm inistrasi pemerintahan diharapkan dapat menjadi solusi dalam m emberikan perlindungan hukum baik bagi warga masyarakat maupun pejabat pemerintahan.2

Selain mem berikan hak kepada warga masyarakat, UU No. 3 0 Tahun 2014 juga m emberikan hak kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan yaitu untuk mengajukan perm ohonanberdasarkan Pasal 21 ayat (2) UU No. 30 Tahun 2014 disebutkan:

“Badan dan/atau pejabat pemerintahan dapat mengajukan perm ohonan kepada Pengadilan untuk m enilai ada atau tidak ada unsur penyalahgunaan wewenang dalam keputusan dan/atau tindakan”.

1Republik Indonesia, Undang-Undang Nom or 30 Tahun 2014 tentang Adm inistrasi Pem erintahan, Bab II, Pasal 2.

2Republik Indonesia, Undang-Undang Nom or 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pem erintahan., Bagian Menim bang Huruf b.

(2)

USU Law Journal, Vol.6. No.5 (Oktober 2018) 76 - 94

77 Berkaitan dengan perm ohonan penilaian ada atau tidak ada unsur penyalahgunaan wewenang, ada suatu peristiwa yang mengejutkan terjadi pada tanggal 9 Juli 2015, Komisi Pem berantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan. Penangkapan dilakukan karena Majelis Hakim tersebut menerima suap dari Adv okad pada kantor pengacara Otto Cornelius Kaligis & Associates untuk m emenangkan gugatan yang diajukan Drs.Ahmad Fuad Lubis,Msi (selaku Pem ohon) kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (selaku Term ohon), dengan dalil gugatan bahwa tindakan Term ohon mengeluarkan panggilan permintaan keterangan Nom or: B-473/N.2.5/Fd.1/03/2015 tanggal 31 Maret 2015 terkait tindak pidana korupsi Dana Bantuan Sosial (BANSOS), Pem ohon m endalilkan bahwa pemanggilan yang dilakukan oleh Term ohon telah m enyalahgunakan kewenangan dan bertentangan dengan ketentuan Undang-undang Nom or 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pem erintahan.

Operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh KPK tersebut m embuat masyarakat semakin gerah dengan tindakan aparatur sipil negara dan penegak hukum yang dianggap sering m emperjual-belikan hukum, namun disisi lain peristiwa tersebut m embuat pem erhati hukum mem berikan perhatian khusus terhadap substansi Undang-Undang Nom or 3 0 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan khususnya terhadap Pasal 21 ayat (2) tentang perm ohonan untuk m enilai ada atau tidak ada unsur penyalahgunaan wewenang dalam keputusan dan/atau tindakan . Perm ohonan yang dapat diajukan oleh badan dan/atau pejabat pem erintahan ini menjadi menarik untuk dibahas adalah karena dapat mem pengaruhi proses hukum pidana khususnya tindak pidana korupsi.

Penyalahgunaan wewenang m enjadi unsur yang menjadi penilaian didalam perm ohonan berdasarkan UU No. 30 Tahun 2014 tersebut, sementara disisi lain berdasarkan Pasal 3 Undang-Undang Nom or 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang -Undang Nom or 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disingkat dengan UU PTPK), unsur penyalahgunaan wewenang juga menjadi bagian inti (bestanddeeldelict) didalam pem buktian tindak pidana korupsi.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang diatas, maka terdapat beberapa pokok permasalahan dalam penelitian ini yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana perbedaan y ang prinsipil tentang penyalahgunaan wewenang bersadarkan hukum administrasi dan hukum pidana?

2. Bagaimana sistem pembuktian dalam sidang PTUN dan pembuktian dalam persidangan tindak pidana korupsiatas ada atau tidaknya penyalahgunaan wewenang dari tindakan pejabat pemerintah?

3. Bagaimana konsekuensi atas pengajuan perm ohonan ada atau tidaknya penyalahgunaan kewenangan dalam keputusan pejabat pem erintah kepada PTUN dapatuntuk m enghentikan penyelidikan, penyidikan, penuntutan maupun proses Persidangantindak pidana korupsi?

Tujuan Penelitian

Memperhatikan latar belakang dan perumusan masalah yang dikemukakan sebelumnya, maka yang menjadi fokus tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk m engetahuiperbedaan secara prinsipil tentang penyalahgunaan wewenang bersadarkan hukum administrasi dan hukum pidana.

2. Untuk m engetahui tentang sistem pembuktian dalam sidang PTUN dan pem buktian dalam persidangan tindak pidana korupsi atas ada atau tidaknya Penyalahgunaan wewenang dari tindakan pejabat Pem erintah.

3. Untuk mengetahui dan menganalisis terhadap konsekuensi atas pengajuan perm ohonan ada atau tidaknya penyalahgunaan kewenangan dalam keputusan pejabat pem erintah kepada PTUN apakah dapat m enghentikan penyelidikan, penyidikan, penuntutan dalam proses Peradilan tindak pidana korupsi.

Manfaat Penelitian

Maka penelitian ini juga diharapkan dapat m emberikan manfaat dalam pengembangan ilmu atau meberikan manfaat dibidang teoritis dan praktis, yaitu sebagai berikut:

1. Secara teoritis

Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat m emperkaya khazanah keilmuan Hukum Pidana, khususnya dalam bidang yang berhubungan dengan status dan akibat hukum terhadap ada atau tidaknya penyalahgunaan wewenang melalui tindakan pejabat pem erintah yang berdam pak kepada proses peradilan tindak pidana korupsi.

2. Secara praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini dapat memberi manfaat sebagai masukan bagi penegak hukum agar dapat m emberikan ruang di dalam kanca peradilan terhadap penerapan dan pem berlakuan proses peradilan bagi penyalahgunaan wewenang m elalui tindakan pejabat pemerintah di Pengadilan Tipikor atau m elalui Pengadilan TUN khususnya ataspengajuan perm ohonan ada tidaknya penyalahgunaan kewenangan dalam keputusan dan/atau tindakan pejabat pem erintah kepada Pengadilan TUN terhadap proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan peradilan Tipikor.

(3)

USU Law Journal, Vol.6. No.5 (Oktober 2018) 76 - 94

78 KERANGKA TEORI

Konseptual teori yang dipergunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian tesis ini adalah : 1. Teori kepastian hukum

Menurut Utrecht, kepastian hukum m engandung dua pengertian, pertama, adanya aturan yang bersifat umum mem buat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua, berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara terhadap individu.3

Ada empat hal yang berhubungan dengan kepastian hukum yaitu Pertama, bahwa hukum itu positif, artinya bahwa ia adalah perundang-undangan (gesetzliches recht);Kedua, bahwa hukum itu didasarkan pada fakta (tatsachen), bukan suatu rumusan tentang penilaian yang nantinya akan dilakukan oleh hakim seperti “kemauan baik“, “kesopanan “;Ketiga, bahwa fakta itu harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga menghindari kekeliruan dalam pemaknaan, disamping juga dijalankan ; Keempat, hukum positif itu tidak boleh sering di ubah -ubah.4

Kepastian hukum tersebut dalam masyarakat dibutuhkan demi tegaknya ketertiban dan keadilan.

Ketidakpastian hukum akan m enimbulkan kekacauan dalam masyarakat dan setiap anggota masyarakat akan berbuat sesuka hati serta bertindak main hakim sendiri. Keberadaan seperti ini, m enjadikan kehidupan berada dalam suasana kekacauan sosial.5

2. Teori kewenangan

Teori kewenangan (authority theory) m erupakan teori yang mengkaji dan menganalisis tentang:

“kekuasaan dari organ pemerintah untuk m elakukan kewenangannya, baik dalam lapangan hukum publik maupun hukum privat”.6

Unsur-unsur yang terkadung dalam teori kewenangan, meliputi :7

1) Adanya kekuasaan; 2) adanya organ pemerintah; dan 3) sifat hubungan hukumnya.

Menurut Indrohartotiga macam kewenangan yang bersumber dari peraturan perundang- undangan. Kewenangan itu, m eliputi: 8

a). Atribusi; b). Delegasi; dan c). Mandat.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Perbedaan Secara Prinsipil Tentang Penyalahgunaan Wewenang Ber dasarkan Hukum Administrasi Dan Hukum Pidana Korupsi

1. Penyalahgunaan Wewenang Menurut Hukum Administrasi

Istilah wewenang dan kewenangan dalam bahasa Inggris dikenal dengan “ authority”dan tidak ada pembedaan antara keduanya. Hal ini sama dengan istilah dalam bahasa Belanda, yang tidak mem bedakan istilah kewenangan dengan istilah wewenang. Istilah yang sering digunakan adalah

“bevoegdheid”, m eskipun ada istilah lain yang terjemahannya adalah kewenangan atau kom petensi yaitu bekwaamheid,9Authority dalam Black’s LawDictionary, 10diartikan sebagai:“Legal power; a right to command or toact; the right and power of public officersto require obedience to their orders lawfullyissued in scope of their public duties .”(kewenangan atau wewenang adalah kekuasaan hukum, hak untuk m emerintah atau bertindak; hak atau kekuasaan pejabat publik untuk m ematuhi aturan hukum dalam lingkup m elaksanakan kewajiban publik).11

UU No. 30 Tahun 2014, m emberikan defenisi berbeda antara wewenang dengan kewenangan, pada Pasal 1 angka 5 disebutkan: “wewenang adalah hak yang dimiliki oleh Badan dan/atau Pejabat Pem erintahan atau penyelenggara negara lainnya untuk mengam bil keputusan dan/atau tindakan dalam penyelenggaraan pemerintahan”. Sedangkan pengertian kewenangan, pada Pasal 1 angka 6 disebutkan:

“kewenangan adalah kekuasaan Badan dan/atau Pejabat Pemerintah atau penyelenggara negara lainnya untuk bertindak dalam ranah hukum publik”.

Walaupun secara yuridis UU No. 30 Tahun 2014 mem bedakan pengertian “wewenang” dan

“kewenangan”, pada hakekatnya keduanya merupakan halyang sama karena sama -sama dilekatkan kepada

“jabatan” yang yang dimiliki olehbadan dan/atau pejabat pemerintahan atau penyelenggara lainnya.

Perbedaannya antara“wewenang” dan “kewenangan” terletak pada luasan cakupannya, yang nam pak pada

3Riduan Syahri, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999), hlm . 23.

4Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (legal theory) dan Teori Peradilan (judicial prudence) termasuk interpretasi undang-undang (legisprudence) (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), hlm . 292-293.

5M. Yahyah Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali (Edisi Kedua; Jakarta: Sinar Grafika, 2006), hlm. 76.

6H. Salim . H. S dan Erlies Septiana Nurbani, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis Dan Disertasi (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014), hlm . 186.

7Ibid.

8Ridwan H.R, Hukum Adm inistrasi Negara.(Edisi Rev isi; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2016), hlm.101 .

9Susi Moeimam dan Hein Steinhauer, Kamus Belanda-Indonesia, (Jakarta: Gram edia Pustaka, 2005), hlm. 100.

10Henry Campbell Black, Black’s Law Dictionary, Revised Fourth Edition, (ST. Paul, Minn: West Publishing, 1968), hlm. 169.

11Dani Elpah. et.al., Op.Cit., hlm. 20.

(4)

USU Law Journal, Vol.6. No.5 (Oktober 2018) 76 - 94

79 kata “hak”12 pada definisi wewenang dan “kekuasaan”13pada definisi kewenangan, cakupan wewenang lebih sem pit karena hanya dikaitkan dengan pengambilan keputusan dan/atau tindakan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Sedangkan kewenangan cakupannya lebih luas karena berkaitan dengan tindakan dalam ranah hukum publik. Pembedaan tersebut menurut Yulius, hanya sebatas “spesies”

dan“genus” dari sebuah jabatan.14

1. Pengertian Penyalahgunaan Wewenang

Penyalahgunaan wewenang dalam konsep Hukum Administrasi Negara selalu diparalelkan dengan konsep detournament de pouvoir dalam sistem hukum Prancis atau abuse of power/misuseof power dalam istilah bahasa Inggris.15

Konsep “detournament depouvoir” pertama kali muncul di Prancis dan merupakan dasar pengujian lembaga peradilan administrasi negara terhadap suatu tindakan pemerintahan dan dianggap sebagai asas hukum yang merupakan bagian dari“de principes generaux du droit”.Conseild’Etat adalah lem baga peradilan pertama yang menggunakannya sebagai alat uji,yang kemudian diikuti oleh negara - negara lain seperti Belanda dan Indonesia. Pejabat pem erintahan dinyatakan m elanggar prinsip détournement de pouvoir, manakala tujuan dari keputusan yang dikeluarkan atau tindakan yang dilakukan bukan untuk kepentingan atau ketertiban umum tetapi untuk kepentingan pribadi si pejabat (termasuk keluarga atau rekannya).16

Indriyanto Seno Adji, mem berikan pengertian penyalahgunaan wewenang dengan m engutip pendapatnya Jean Rivero danWaline dalam kaitannya “ detournement de pouvoir” dengan “Freis Ermessen”, penyalahgunaan wewenang dalam hukum administrasi dapat diartikan dalam 3 (tiga) wujud yaitu:17

1. Penyalahgunaan kewenangan untuk m elakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kepentingan umum untuk m enguntungkan kepentingan pribadi, kelom pok atau golongan ; 2. Penyalahgunaan kewenangan dalam arti bahwa tindakan pejabat tersebut adalah benar diajukan

untuk kepentingan umum, tetapi m enyimpang dari tujuan apa kewenangan tersebut diberikan oleh undang-undang atau peraturan-peraturan lainnya;

3. Penyalahgunaan kewenangan dalam arti m enyalahgunakan prosedur seharusnya dipergunakan untuk m encapai tujuan tertentu, tetapi telah menggunakan prosedur lain agar terlaksana.

UU No. 30 Tahun 2014 menyebutkan tentang larangan penyalahgunaan wewenang, pada Pasal 17 ayat (2) diatur tiga larangan yakni: (a) larangan m elam paui wewenang; (b) larangan m encampur adukkan wewenang;dan/atau (c) larangan bertindak sewenang-wenang.Selanjutnya berdasarkan Pasal 18 ayat (1) UU No 3 0 Tahun 2014, kriteria larangan m elam paui wewenang terjadi ketikakeputusan dan/atau tindakan Badan dan/atauPejabat Pemerintahan dilakukan dengan :(a) m elam paui masa jabatan atau batas waktu berlakunya wewenang; (b) melampaui batas wilayah berlakunya wewenang; dan/atau (c) bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang -undangan.

Pada Pasal 18 ayat (2) UU No 30 Tahun 2014 disebutkan larangan m encam pur adukkan wewenang terjadi apabila keputusan dan/atau tindakan tersebut dilakukan :(a) di luar cakupan bidang atau materi wewenang yang diberikan; dan/atau (b) bertentangan dengan tujuan wewenang yang diberikan.

Dalam hukum adm inistrasi, wewenang dapat dikategorikan dalam wewenang terikat dan wewenang bebas (diskresi). Dalam kategori wewenang terikat (wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan), untuk menilai ada tidaknya penyalahgunaan wewenang harus dicari lebih dahulu ketentuan hukum mana yang dilanggar, sedangkan pada wewenang bebas (Discretionary Power, Freies Ermessen) asas “wetmatigheid” tidak m emadai, maka tolok ukurnya adalah asas-asas hukum yang tidak tertulis, dalam hukum administrasi dikenal dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik (algemene beginselen van behoorlijk bestuur).18

Memperhatikan AUPB, maka dapat dilihat mengenai m enyalahgunakan kewenangan karena jabatan adalah termasuk sebagai bagian dari AUPB, yang disebutdengan asas “tidak menyalahgunakan kewenangan”. Pada penjelasan UU No. 30 Tahun 2014 dinyatakan bahwa yang dimaksud asas “tidak

12“hak” dalam konteks hukum m enurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dimaknai sebagai “wewenang m enurut hukum”. Lihat: KBBI, “Arti dari Hak”, kbbi.web.id/hak(diakses pada tanggal 14 Juni 2017).

13“kekuasaan” m enurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam konteks hukum dimaknai sebagai-eksekutif Huk kekuasaan (wewenang) untuk m enjalankan undang-undang; legislatif Huk kekuasaan untuk m em buat (m embentuk) undang-undang; perundang-undangan kekuasaan legislatif. yudikatif kekuasaan untuk m engawasi pelaksanaan undang-undang.” Lihat: KBBI, “Arti dari Kuasa”, kbbi.web.id/kuasa(diakses 14 Juni 2017).

14Yulius, “Perkem bangan Pem ikiran dan Pengaturan Penyalahgunaan Wewenang di Indonesia (Tinjauan Singkat Dari Perspektif Hukum Adm inistrasi Negara Pasca Berlakunya Undang-Undang Nom or 30 Tahun 2014)”, Jurrnal Hukum dan Peradilan, Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan Mahkamah AgungRI Vol. 04, No. 3, (Nov em ber 2015), hlm . 373.

15Philipus M. Hadjon. et. al.,Hukum Adm inistrasi Dan Tindak Pidana Korupsi (Yogyakarta: Gajah Mada Univ ersity Press, 2012), hlm. 21 -22.

16Yulius, Op. Cit., hlm. 364.

17Sjachran Basah, Eksistensi dan Tolak Ukur Peradilan Administrasi di Indonesia (Bandung: Alumni, 1985), hlm . 223.

18Nur Basuki Minarno, Penyalahgunaan Wewenang Dan Tindak Pidana Korupsi Dalam Pengelolaan Keuangan Daerah (Surabaya: Laksbang Mediatama, 2009), hlm. 58-59.

(5)

USU Law Journal, Vol.6. No.5 (Oktober 2018) 76 - 94

80 menyalahgunakan kewenangan” adalah: asas “yang mewajibkan setiap Badan dan/atau Pejabat Pem erintahan untuk tidak m enggunakan kewenangannya bagi kepentingan pribadi atau kepentingan yang lain dan tidak sesuai dengan tujuan pemberian kewenangan tersebut, tidak melam paui, tidak menyalahgunakan, dan/atau tidak m encampuradukkan kewenangan”. Apabila dicermati, unsur -unsur yang terdapat dalam penjelasan asas “tidak menyalahgunakan kewenangan”, isinya sama dengan tigalarangan penyalahgunaan wewenang yang diatur pada Pasal 17 UU No. 30 Tahun 2014, selain hal tersebut yang terpenting dalam penjelasan asas tersebut adalah unsur penyimpangan tujuan (Asas Spesialitas),19 yang dalam ruang lingkup hukum administrasi negara selalu diidentikkan dengan pengertian “penyalahgunaan wewenang” dan juga dimasukkan dalam penjelasan asas “tidak menyalahgunakan kewenangan”.

2. Sumber Wewenang

Secara yuridis dalam hukum administrasi negara, perlu diketahui sumber dan cara mem peroleh wewenang, hal ini berkaitan dengan pertanggungjawaban hukum dalam penggunaan wewenang, seiring dengan salah satu prinsip dalam negara hukum. “geen bevoegheid zonder veraantwoordelijkheid atau there is no authority without responsibility” (tidak ada kewenangan tanpa pertanggung jawaban) setiap pem berian kewenangan kepada pejabat pemerintahaan, tersirat didalamnya pertanggungjawaban dari pejabat yang bersangkutan.20

Menurut hukum administrasi wewenang diperoleh atau sumber wewenang adalah a tribusi, delegasi dan/atau mandat.

Atribusi adalah pemberian kewenangan kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 atau Undang -Undang (Vide Pasal 1 angka 22 UU No. 30 Tahun 2014).Lebih lanjut tentang atribusi diatur didalam Pasal 12 UU No. 30 Tahun 2014.

Delegasi adalah pelim pahan kewenangan dari badan dan/atau pejabat pem erintahan yang lebih tinggi kepada badan dan/atau pejabat pem erintahan yang lebih rendah dengan tanggung gugat beralih sepenuhnya kepada penerima delegasi (Vide Pasal 1 angka 23 UU No. 30 Tahun 2014). Lebih lanjut tentang delegasi diatur pada Pasal 13 UU No. 30 Tahun 2014.

Mandat adalah pelim pahan kewenangan dari badan dan/atau pejabat pemerintahan yang lebih tinggi kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan yang lebih rendah dengan tanggungjawab dan tanggung gugat tetap berada pada pemberi mandate (Vide Pasal 1 angka 24 UU No. 30 Tahun 2014). Lebih lanjut tentang mandat diatur pada Pasal 14 UU No. 30 Tahun 2014.

3. Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik

Meskipun undang-undang dianggap sebagai sum ber Hukum Administrasi Negara yang paling penting, namun undang-undang sebagai peraturan tertulis mem iliki kelemahan. Menurut Bagir Manan, sebagai ketentuan tertulis (written rule) atau hukum tertulis (written law), peraturan perundang- undangan mem punyai jangkauan terbatas, sekedar “moment opname” dari unsur-unsur politik, ekonomi, sosial, budaya, dan hankam yang paling berpengaruh pada saat pem bentukan, karena itu mudah sekali aus (out of date) bila dibandingkan dengan perubahan masyarakat yang semakin m enyepat atau dipercepat.21 Oleh karena itu, administrasi negara dapat m engam bil tindakan-tindakan yang dianggap penting dalam rangka pelayanan kepada masyarakat, m eskipun belum ada aturannya dalam undang -undang (hukum tertulis). Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh administrasi negara ini akan m elahirkan hukum tidak tertulis atau konvensi, jika dilakukan secara teratur dan tanpa keberatan ( bezwaar) atau banding (beroep) dari warga masyarakat. Hukum tidak tertulis yang lahir dari tindakan adm inistrasi negara inilah yang dapat menjadi sumber hukum dalam arti formal dalam rangka pem buatan peraturan perundang - undangan dalam bidang hukum administrasi negara. Dikalangan penulis Hukum Administrasi Negara, HAN tidak tertulis ini dikenal dengan nama asas-asas umum pem erintahan yang baik (algemeen beginselen van behoorlijk bestuur).22

Penerapan Asas-Asas Umum Pem erintahan Yang Baik pada Peradilan Tata Usaha Negara semula berpedoman pada Juklak Mahkamah Agung Republik Indonesia nom or 052/Td.TUN/III/1992 , akan tetapi saat ini sudah diatur dalam Pasal 53 ayat 2 melalui UU No. 9 tahun 2004,23kemudian ditegaskan kem bali pada UU Nom or 30 tahun 2014 tentang Administrasi Pem erintahan, yaitu :Pasal 5 menyebutkan:

penyelenggara Administrasi Pem erintahan berdasarkan : (a) Asas legalitas; (b) Asas perlindungan teerhadap hak asasi manusia; dan (c) AUPB.Pasal 8 ayat (2) menyebutkan : Badan dan/atau Pejabat Pem erintahan dalam menggunakan wewenang wajib berdasarkan : (a) Peraturan perundang-undangan;

dan (b) AUPB.Pasal 10 ayat (1) AUPB yang dimaksud dalam Undang-undang ini m eliputi asas : (a) Kepastian hukum; (b) Kemanfaatan; (c) Ketidakberpihakan; (c) Kecermatan; (d) Tidak menyalahgunakan kewenangan; (e) Keterbukaan; (f) Kepentingan umum, dan (g) Pelayanan yang baik.

19Asas Spesialitas disebut juga dengan Asas Tujuan adalah: Param eter “tujuan dan maksud” pem berian wewenang dalam m enentukan terjadinya penyalahgunaan wewenang.

20Ridwan. H. R, Op. Cit., hlm . 1 05.

21Bagir Manan dalam Ridwan. H. R,Hukum Adm inistrasi Negara (Edisi Rev isi; Jakarta : RajaGrafindo Persada), hlm .63.

22Ridwan H.R,Op. Cit., hlm .64.

23Philipus M.Hadjon. et.al.,Op. Cit., hlm . 8.

(6)

USU Law Journal, Vol.6. No.5 (Oktober 2018) 76 - 94

81 4. Diskresi

Diskresi dan syarat-syarat pelaksanaannya telah diatur didalam UU No. 30 Tahun 2014. Pengertian diskresi diatur dalam Pasal 1 angka 9 UU No. 30 Tahun 2014, disebutkan diskresi adalah keputusan dan/atau tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan oleh pejabat pemerintahan untuk m engatasi persoalan konkret yang dihadapi dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam hal peraturan perundang - undangan yang m emberikan pilihan, tidak mengatur, tidak lengkap atau tidak jelas, dan/atau adanya stagnasi pemerintahan.

Dari berbagai rumusan pengertian yang dikemukakan oleh para pakar ilmu administrasi negara, dapat kiranya diperoleh beberapa hal penting mengenai pouvoir discretionnaire, yaitu:24

1. Merupakan salah satu bentuk kekuasaan;

2. Bersumber pada ketentuan perundang -undangan atau peraturan yang sah;

3. Ditetapkan dalam dan untuk mencapai tujuan tertentu pada penyelenggaraan fungsi -fungsi keadministrasian negara;

4. Tindak pelaksanaannya lebih dilandasi oleh pertimbangan m oral daripada hukum ; serta 5. Tindakan dan akibatnya harus dapat dipertanggungjawabkan secara m oral dan hukum.

Undang-Undang Nom or 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, m enyebutkan bahwa hanya pejabat pemerintahan yang berwenang saja yang dapat m elakukan diskresi, dan setiap penggunaan diskresi yang dilakukan oleh pejabat pem erintahan haruslah bertujuan untuk:25 (a) Melancarkan penyelenggaraan pemerintahan; (b) Mengisi kekosongan hukum; (c) Mem berikan kepastian hukum ; dan (d) Mengatasi stagnasi pem erintahan dalam keadaan tertentu guna kemanfaatan dan kepentingan umum.

Meskipun kewenangan pejabat pem erintah untuk melakukan diskresi dalam konsep administrasi disertai dengan “tujuan dan maksud” diberikannya wewenang itu, sehingga penerapan wewenang itu harus sesuai dengan tujuan dan maksud pem berian wewenang itu sendiri. Dalam hal pejabat pem erintahan m enggunakan wewenang tidak sesuai dengan tujuan dan maksud pemberian wewenang tersebut, maka pejabat pemerintahan yang demikian itu telah m elakukan penyalahgunaan wewenang (detournement de pouvoir) dan freis ermessen (diskresi).Dengan demikian sesungguhnya yang menjadi batu penguji (toetsteen) dari penggunaan diskresi adalah sejauh mana diskresi bersesuaian atau melampaui kewenangan (de bevoegheden) yang m elekat pada jabatan dari pejabat yang bersangkutan.Ketika terjadi pelam pauan kewenangan dari suatu jabatan, maka hal dimaksud bukan lagi hal ihwal diskresi tetapi pelanggaran hukum (onrecht matig) atau melawan hukum (wederrechtelijk).26

6. Tanggung Jawab Dalam Hukum Administrasi

Menurut konsep negara hukum, dianut prinsip bahwa setiap penggunaan kewenangan pem erintahan harus disertai pertanggungjawaban hukum. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa didalam hukum administrasi pertanggungjawaban m elihat kepada sumber dan cara mem peroleh wewenang tersebut, apakah wewenang tersebut diperoleh sebagai mandat, atribusi ataukah delegasi.

Sebab didalam hukum administrasi tidak semua pejabat yang m enjalankan wewenang pemerintahan secara otomatis m emikul tanggung jawab. Pejabat yang mem peroleh dan menjalankan wewenang secara atribusi dan delegasi maka ia yang memikul pertanggungjawaban hukum, sedangkan pejabat yang melaksanakan tugas atau pekerjaan atas dasar mandat maka tidak memikul tanggung jawab hukum.

Selain melihat kepada sumber dan cara m emperoleh wewenang, tanggung jawab juga harus dilihat sebagai pejabat dan sebagai pribadi. Dalam perspektif hukum administrasi negara, jabatan merupakan persoalan mendasar berkaitan dengan fungsi negara. Negara berisi berbagai jabatan atau lingkungan tetap dengan berbagai fungsi untu k m encapai tujuan negara.27Agar jabatan dan fungsi negara dapat berjalan, maka diperlukan seseorang (pribadi seorang manusia) untuk duduk sebagai pemangku jabatan yang disebut pejabat atau jika mengacu kepada UU No. 30 Tahun 2014 disebut pejabat pem erintahan.

Menurut Pasal 1 angka 3 UU No. 30 Tahun 2014 pengertian pejabat pemerintahan disamakan dengan Pengertian badan.Badan dan/atau pejabat pemerintahan adalah unsur yang melaksanakan fungsi pem erintah, baik di lingkungan pem erintah maupun penyelenggara negara lainnya.

Menurut Jimliy Asshidiqie, konsep pertanggungjawaban ada dua, yaitu pertanggungjawaban personal atau pribadi dan pertanggungjawaban institusional atau jabatan. Jika seorang pejabat didalam melaksanakan tugas dan kewenangannya melanggar norma atau aturan hukum yang berlaku, maka pelaksanaan tindakannya tersebut dipertanggungjawabkan secara pribadi atau pertanggungjawaban personal.28

Perbedaan antara tanggung jawab jabatan dan tanggung jawab pribadi pada tindakan pem erintahan tersebut m embawa konsekuensi yang berbeda dalam kaitannya dengan tanggung jawab pidana, tanggung gugat perdata dan tanggung gugat tata usaha negara (TUN).Tanggung jawab pidana

24Jawade Hafidz Arsyad,Korupsi Dalam Perspektif HAN (Hukum Adm inistrasi Negara) (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), hlm . 93-94.

25Republik Indonesia, Undang-Undang Nom or 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pem erintahan, Bab VI,Pasal 22 ayat (2).

26Disiplin. F. Manao, Penyalahgunaan Wewenang Pada Tindak Pidana Korupsi Dalam Perspektif Hukum Adm inistrasi Negara (Bandung: Kreasi Sahabat Bersama, 2017), hlm . 63 -64.

27Ridwan. H. R, Op. Cit., hlm . 71.

28Disiplin. F. Manao, Op.Cit., hlm. 1 62.

(7)

USU Law Journal, Vol.6. No.5 (Oktober 2018) 76 - 94

82 adalah tanggung jawab pribadi. Dalam kaitannya dengan tindak pemerintahan, tanggung jawab pribadi seorang pejabat berhubungan dengan adanya maladministrasi. Tanggung gugat perdata dapat menjadi tanggung gugat jabatan berkaitan dengan perbuatan m elanggar hukum oleh penguasa. Tanggung jawab pribadi apabila terdapat unsur maladministrasi. Tanggung gugat TUN pada dasarnya adalah tanggung jawab jabatan.29

7. Peranan APIP dalam proses hukum administrasi dan pidana

Melakukan pengawasan, mengindentifikasi adanya Penyalahgunaan Wewenang dan menjatuhkan sanksi apabila terjadi penyalahgunaan wewenang yang dilakukan Pejabat Pem erintahan di dilingkungan internal Pem erintahan, dilakukan oleh Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP).

Berdasarkan ketentuan Pasal 20 UU No. 3 0 Tahun 2014, maka dalam hal pelaksanaan administrasi pem erintahan terjadi penyalahgunaan wewenang maka pengawasannya dilakukan oleh APIP.

Apabila Badan atau Pejabat Pemerintahan menolak putusan yang dijatuhkan Aparat Internal Pengawas Pem erintahan,maka dapat mengajukan perm ohonan kepada Pengadilan Tata Usaha Negara untuk dilakukan uji kebenaran ada atau tidaknya Penyalahgunaan Wewenang.

Dalam ketentuan Pasal 20 UU No. 30 Tahun 2014 tersebut tidak m engatur apabila hasil pem eriksaan APIP ditemukan penyimpangan yang bersifat pidana, namun dem ikian dalam ketentuan Pasal 385 ayat (5) Undang-Undang RI Nom or : 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan, apabila hasil pemeriksaan APIP ditemukan bukti adanya penyimpangan yang bersifat pidana, proses lebih lanjut diserahkan kepada aparat penegak hukum sesuai ketentuan peraturan perundang -undangan.

Berdasarkan uraian tersebut, tim bul pertanyaan apakah aparat penegak hukum harus terlebih dahulu menunggu hasil pem eriksaan APIP baru dapat m elakukan proses hukum pidana. Jawabannya tidak karena UU No. 30 Tahun 2014 tidak mewajibkan aparat penegak hukum melakukan proses hukum pidana setelah adanya hasil pem eriksaan APIP, sedangkan Undang -Undang RI Nom or : 23 tahun 2014 tentang Pem erintahan Daerah pada Pasal 385 ayat (3 ) hanya m enegaskan agar aparat penegak hukum terlebih dahulu berkoordinasi dengan APIP dalam ha l pengaduan yang disam paikan oleh masyarakat kepada APIP. APIP bekerja sebagai pengawas internal untuk m enciptakan tertib penyelenggaran adminitrasi pemerintahan, kepastian hukum, m encegah terjadinya penyalahgunaan wewenang, dan mem berikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat.Namun demikian aparat penegak hukum dapat menjadikan hasil pemeriksaan APIP sebagai salah satu sumber penyelidikan/penyidikan, selain dari m edia masa, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), maupun informasi masyarakat.

Penyalahgunaan Wewenang Menurut Hukum Pidana 1. Pengertian Penyalahgunaan Wewenang

Dalam hukum pidana terdapat konsep yang mirip dengan penyalahgunaan wewenang, yaitu ketentuan dalam Pasal 52 KUHP, yang m enyebutkan: “Bilamana seorang pejabat karena m elakukan perbuatan melanggar suatu kewajiban khusus dari jabatannya, atau pada waktu melakukan perbuatan pidana m emakai kekuasaan, kesem patan, atau sarana yang diberikan kepadanya karena jabatan, pidananya dapat ditambah sepertiga”. Frasa “melanggar kewajiban khusus dari jabatannya” bermakna menyimpang dari kewajiban yang ditentukan secara khu sus (asas specialitet).30

Dalam Undang-Undang Nom or 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang -Undang Nom or31 Tahun 1999 tentang Pem berantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disingkat dengan UU PTPK), istilah penyalahgunaan wewenang ditemukan dalam Pasal 3 Undang-Undang Nom or 20 Tahun 2001.

Indriyanto Seno Adji mengatakan, unsur “penyalahgunaan wewenang” tidak m endapatkan penjelasan yang memadai. Hal ini akan menimbulkan penafsiran beragam. Adanya asas “ius curia novit”

hakim perlu m elakukan rechtvinding (penemuan hukum) terhadap pengertian konsep “penyalahgunaan wewenang”.31 Pendapat yang sama juga dikemukakan Adami Chazawi mengenai apa yang dimaksud dengan menyalahgunakan kewenangan tidak ada keterangan lebih lanjut dalam undang -undang.32 Dem ikian juga pendapat Nur Basuki Minarno, dalam hal pengertian “penyalahgunaan kewenangan” tidak diketemukan secara ekplisit dalam aturan hukum pidana, apakah yang dapat dilakukan untuk mem berikan batasan pengertian/konsep tentang “penyalahgunaan wewenang”? Hal ini penting sekali untuk dilakukan karena “penyalahgunaan wewenang” merupakan “bestanddeel delict” (bagian inti delik) dan harus dibuktikan m engingat dalam hukum pidana berlaku asas “ nullum delictum nulla poena siena praevia lege poenali”.33

Mengingat tidak adanya eksplisitas pengertian m enyalahgunakan kewenangan dalam Hukum pidana, maka dipergunakan pendekatan ekstensif berdasarkan doktrin yang dikemukakan oleh H.A.Demersem en dengan menggunakan pendekatan ekstensif tentang kajian “De Autonomie van het Materielle Staffrecht” (otonom i dari Hukum Pidana Materiel), yang pada intinya m empertanyakan apakah

29Ibid., hlm. 16-17.

30Dani Elpah. et.al.,Op. Cit., hlm. 49.

31In driyanto Seno Adji dalam Nur Basuki Minarno, Penyalahgunaan Wewenang Dan Tindak Pidana Korupsi Dalam Pengelolaan Keuangan Daerah (Surabaya: Laksbang Mediatama,2009), hlm. 15.

32Adami Chazawi, Hukum Pidana Korupsi di Indonesia (Selanjutnya Adam i Chazawi I) (Edisi rev isi;Jakarta:

RajaGrafindo, 2016) hal. 60.

33Nur Basuki Minarno, Op.Cit., hlm . 1 0.

(8)

USU Law Journal, Vol.6. No.5 (Oktober 2018) 76 - 94

83 ada harm oni antara pengertian yang sama antara hukum pidana, khususnya dengan hukum perdata dan hukum tata usaha negara sebagai cabang hukum lainnya.34

Putusan Mahkamah Agung RI dalam rangka perkara Tindak Pidana Korupsi yang secara expressis verbis m erujuk secara langsung kepada Pasal 53 ayat (2) huruf b Undang -undang Nom or 5 Tahun 1986 sebagai dasar untuk m enguji ada tidaknya unsur penyalahgunaan wewenang adalah Putusan Mahkamah Agung RI Nom or 1340 K/Pid/1992 tanggal 17 -2-1992, Putusan Mahkamah Agung RI Nom or 977 K/2004, dan Putusan Mahkamah Agung RI Nom or 742 K/PID/2007 .35

2. Perbuatan Melawan Hukum

Dalam ajaran hukum pidana, untuk m enjatuhkan pidana harus m emenuhi dua syarat yang sifatnya komulatif yaitu melakukan perbuatan pidana (actus reus) dan pertanggungjawaban pidana (unsur kesalahan/mens rea). Dapat dikatakan m elakukan perbuatan pidana apabila perbuatan terdakwa telah mem enuhi unsur-unsur delik, dalam hal ini harus dibuktikan untuk pertama kali. Jika terbukti, langkah selanjutnya apakah terpenuhinya unsur pertanggungjawaban pidana (unsur kesalahan). Untuk pertanggungjawaban pidana (unsur kesalahan) meliputi dapatnya dipertanggungjawabkan pembuat, adanya kaitan psikis antara pembuat dan perbuatan, yaitu adanya sengaja atau kesalahan dalam arti sempit (culpa), tidak adanya dasar peniadaan pidana yang menghapuskan dapatnya dipertanggungjawabkan sesuatu perbuatan kepada pem buat.36

Secara im plisit penyalahgunaan wewenang in haeren dengan m elawan hukum, karena penyalahgunaan wewenang essensinya merupakan perbuatan m elawan hukum. Unsur “melawan hukum”

merupakan “genus” nya, sedangkan unsur “penyalahgunaan wewenang” adalah “species”nya.37

Menurut Moeljatno, sejak adanya putusan pengadilan berkaitan dengan perkara Cohen- Lindenbaum tahun 1919 di Belanda, pengertian perbuatan melawan hukum tidak lagi diartikan secara tektual pada ketentuan perundang-undangan atau hukum tertulis, tetapi m eliputi pelanggaran terhadap nilai atau kepatutan yang ada dalam masyarakat. Dalam hukum pidana, yang memperoleh pengaruh perubahan pandangan dalam hukum perdata, hal itu dikenal sebagai materieele wederrechtelijkheid, yaitu setiap perbuatan yang mengandung suatu sikap tercela atau tidak patut bagi masyarakat.38

Undang-Undang Nom or 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nom or 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang -Undang Nom or 31 Tahun 1999 Tentang Pem berantasan Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK), telah m engadopsi adanya perbuatan melawan hukum formil dan materi sebagaimana diungkapkan dalam penjelasan Pasal 2 ayat (1).

3. Pertanggungjawaban Dalam Hukum Pidana

Prinsip pertaggungjawaban pidana dapat ditemui dalam Pasal 2 Kitab Undang -Undang Hukum Pidana (KUHP), bahwa “ketentuan pidana dalam perundang -undangan Indonesia diterapkan bagi setiap orang yang melakukan sesuatu tindak pidana di Indonesia.39

Dalam common law system, pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban pidana apabila adanya kehendak jahat (mens rea) sebagai unsur subjektifdan adanya perbuatan tindak pidana ( actus reus) sebagai unsur objektif, berlaku maksim Latin actus reus non est reus, nisi mens sit rea, suatu perbuatan tidak dapat dikatakan bersifat kriminal jika tidak terdapat kehendak jahat didalamnya, pada hakekatnya sama dengan penerapan asas tiada pidana tanpa kesalahan (geen straf zonder schuld beginsel).40Hal ini juga sama dengan ajaran dualistis yang dikemukakan Moeljatno yang m emisahkan tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana, walaupun seseorang telah m elakukan tindak pidana, tetapi pembuatnya tidak diliputi kesalahan, maka tidak dapat dipertanggungjawabkan.41

Perihal kesalahan dalam hukum acara pidana terdapat dalam Pasal 191 ayat (1) KUHAP:

“jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pem eriksaan disidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan m eyakinkan, maka terdakwa diputus bebas”

Menurut Andi Ham zah, ciri atau unsur kesalahan dalam arti yang luas, yaitu:42 1) Dapat dipertanggungjawabkan pembuat.

2) Adanya kaitan psikis antara pem buat dan perbuatan, yaitu adanya sengaja atau kesalahan dalam arti sempit (culpa).

34Am ir Syam sudin, Putusan Perkara Akbar Tanjung Analisis Yuridis Para Ahli Hukum (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 2004), hlm.24.

35Dani Elpah. et.al., hlm .55.

36Andi Ham zah dalam Nur Basuki Minarno,Penyalahgunaan Wewenang Dan Tindak Pidana Korupsi Dalam Pengelolaan Keuangan Daerah (Surabaya: Laksbang Mediatama, 2009), hlm. 11 -12.

37Nur Basuki Minarno,Op. Cit., hlm . 58.

38Moeljatno dalam Tjandra Sridjaja Pradjonggo, Sifat Melawan Hukum dalam Tindak Pidana Korupsi(Cetakan Kedua; Jakarta: Indonesia Lawyer Club, 2010), hlm.64.

39Disiplin. F. Manao, Op. Cit., hlm . 164.

40Chairul Huda,Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Menuju Kepada Tiada Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan (Jakarta: Kencana, 2008), hlm.5.

41Ibid., hlm. 6.

42Andi Ham zah, Asas -Asas Hukum Pidana(Selanjutnya Andi Ham zahI)(Edisi Rev isi; Jakarta: Rineka Cipta, 2014), hlm . 138.

(9)

USU Law Journal, Vol.6. No.5 (Oktober 2018) 76 - 94

84 3) Tidak adanya dasar peniadaan pidana yang menghapus dapatnya dipertanggungjawabkan sesuatu

perbuatan kepada pembuat.

Dalam KUHP alasan-alasan penghapusan pidana terdapat dalam Pasal 44, 48, 49, 50 dan Pasal 51.

Wirjono Prodjodikoro m embagi alasan -alasan yang m enghapuskan tindak pidana dalam KUHPidana menjadi 2 kelom pok, yaitu:43

1. Alasan Pembenar, termasuk didalamnya Pasal 49 ayat 1 KUHPidana (keperluan m embela diri atau Noodweer), pasal 50 dan Pasal 51 ayat 1 KUHPidana (tentang melaksanakan perintah jabatan).

Oleh karena yang dihilangkan adalah sifat melawan hukum atau wederrechtelijkheid, sehingga perbuatan si pelaku menjadi dibenarkan, maka alasan menghilangkan tindak pidana (strafuitsluitings- grond) ini juga dikatakan sebagai alasan pembenar (Rechtsvaardigings-grond).

2. Alasan Pemaaf, termasuk didalamnya Pasal 44 ayat 1 KUHPidana (tentang gangguan penyakit pada daya pikir seseorang), Pasal 48 KUHPidana (tentang Overmacht), Pasal 49 ayat 2 KUHPidana (tentang Noodwee Exces), Pasal 51 ayat 2 KUHPidana (tentang perintah jabatan yang wenang).

Perbedaan Secara Prinsipil Penyalahgunaan Wewenang Dalam Hukum Administrasi dan Hukum Pidana Korupsi

Berikut perbedaan prinsipil penyalahgunaan wewenang dalam Hukum Administrasi dan Hukum Pidana Korupsi dibuat dalam bentuk tabel agar m empermudah serta mem persingkat uraian pada naskah publikasi tesis ini.

Tabel I

Perbedaan prinsipil Penyalahgunaan Wewenang antara UU Administrasi Pem erintahan dengan UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Perbedaan Penyalahgunaan Wewenang menurut

UU No. 30 Tahun 2014 Penyalahgunaan Wewenang menurut UU Tipikor

Perbuatan m elawan hukum formil dan materiil, sehingga param eter pengujian yang digunakan untuk penyalahgunaan wewenang adalah peraturan perundang-undangan (tertulis) dan AAUPB (tidak tertulis).

Perbuatan m elawan hukum formil, parameter pengujian penyalahgunaan wewenang adalah peraturan perundang - undangan (tertulis).

Perbedaan Penyalahgunaan Wewenang menurut

UU No. 30 Tahun 2014 Penyalahgunaan Wewenang menurut UU Tipikor

Tanggung jawab dalam administrasi:

tanggung jawab jabatan dan tanggung jawab pribadi

Tanggung jawab dalam pidana adalah tanggung jawab pribadi

Harus ada hasil pem eriksaan APIP dan belum ada proses pidana untuk dapat diajukan

perm ohonan ke PTUN.

Didahului penyelidikan/penyidikan berdasarkan informasi m edia, LSM, hasil audit BPKP, BPK, APIP, dan sum ber lainnya,

kemudian dilakukan

prapenuntutan/penuntutan dan pem eriksaan di persidangan.

Penyalahgunaan wewenang tanpa adanya kerugian negara atau kesalahan administratif yang menimbulkan kerugian negara.

Penyalahgunaan wewenang konteks kerugian negara yang didahului dan diikuti sikap batin jahat (mens rea) yaitu maksud menguntungkan diri sendiri/orang lain/korporasi.

Tujuan UU No. 30 Tahun 2014 adalah untuk menciptakan tertib penyelenggaran adminitrasi pem erintahan, kepastian hukum, mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang, dan mem berikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat, sehingga UU Adm inistrasi Pem erintahan lebih menitikberatkan pada pembangunan adminitrasi pemerintahan yang baik dan benar.

Undang-Undang Tipikor lebih menitikberatkan pada sistem penindakan (represif).

43In driyanto Seno Adji, Korupsi Kebijakan Aparatur Negara & Hukum Pidana (Jakarta: Diadit Media, 2009), hlm . 102.

(10)

USU Law Journal, Vol.6. No.5 (Oktober 2018) 76 - 94

85 Alat bukti pengujian penyalahgunaan

wewenang berupa: bukti surat atau tulisan, keterangan saksi, keterangan ahli, pengakuan pem ohon, pengetahuan hakim, alat bukti lain (informasi elektronik atau dokumen elektronik)

Alat bukti pengujian penyalahgunaan wewenang berupa: keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, keterangan terdakwa. Petunjuk dapat diperoleh dari alat bukti lain berupa informasi secara elektronik dan dokumen elektronik

Para pihak: hanya ada Pem ohon (tidak ada

term ohon) Para pihak: JPU dan Terdakwa/Penasihat

Hukum

Sanksi adminitratif ringan, sedang atau berat. pidana penjara dan denda dan uang pengganti

I. SISTEM PEMBUKTIAN DALAM SIDANG PERMOHONAN PENILAIAN ADA ATAU TIDAK PENYALAHGUNAAN WEWENANG DI PTUN DAN PEMBUKTIAN DALAM PERSIDANGAN TIPIKOR ATAS ADA ATAU TIDAK UNSUR PENYALAHGUNAAN WEWENANG

A. Sistem Pembuktian Dalam Sidang PTUN Terhadap Permohonan Ada Atau Tidak Penyalahgunaan Wewenang

1. Tata Cara Persidangan Permohonan Ada Atau Tidak Penyalahgunaan Wewenang Pasal 21 ayat (2) UU No. 30 Tahun 2014 m enyebutkan “Badan dan/atau Pejabat Pem erintahan dapat m engajukan perm ohonan kepada Pengadilan untuk m enilai ada atau tidak ada unsur penyalahgunaan wewenang dalam keputusan dan/atau tindakan”. Sesuai dengan ketentuan umum Pasal 1 angka 18 UU No. 30 Tahun 2014 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Pengadilan pada Undang - Undang ini adalah Pengadilan Tata Usaha Negara.

Undang-Undang Nom or 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang -Undang Nom or 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, tidak ada disebutkan apakah yang dimaksud dengan perm ohonan dan belum ada m engatur hukum acara persidangan penilaian perm oh onan ada atau tidak ada unsur penyalahgunaan wewenang.

Berpedoman kepada PERMA No. 4 Tahun 2015, tata cara persidangan perm ohonan penilaian ada atau tidak unsur penyalahgunaan wewenang sebagai berikut:44

1. Pem eriksaan persidangan dilaku kan oleh Majelis Hakim.

2. Persidangan dilakukan tanpa m elalui proses dismissal mau pun pemeriksaan persiapan (sebagaimana biasanya proses perkara gugatan di PTUN).

3. Persidangan dilakukan dalam persidangan yang terbu ka untu k umum, kecuali ditentu kan lain oleh peraturan perundang-undangan.

4. Setelah Ketua Majelis Hakim meny atakan persidangan dibu ka dan terbuka untu k umum, maka selanjutnya dilakukan pem eriksaan:

a. Pem eriksaan pokok perm ohonan. Pem eriksaan pokok perm ohonan maksudnya adalah dimulai dengan m emberikan kesem patan kepada pem ohon untuk m enyampaikan pokok- pokok perm ohonan yang diajukannya.

b. Pem eriksaan bukti surat atau tulisan.

c. Mendengarkan keterangan saksi.

d. Mendengarkan keterangan ahli.

e. Pem eriksaan alat-alat bukti lain berupa informasi elektronik atau dokumen elektronik.

5. Setelah acara pemeriksaan selesai selanjutny a adalah putu san dari Majelis Hakim.

6. Dalam hal pem ohon mencabut perm ohonannya, maka Majelis Hakim akan menerbitkan Penetapan Pencabutan Perm ohonan. Penetapan Pencabutan Perm ohonan tersebut diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum dan Majelis akan m emerintahkan kepada Panitera untuk m encoret Perm ohonan tersebut dari Buku Register Perm ohonan, yang salinannya akan disam paikan kepada pem ohon.

Pada Pasal 21 UU No. 30 Tahun 2014 diatur bahwa Pengadilan wajib memutus perm ohonan penilaian ada atau tidak penyalahgunaan wewenang paling lama 21 (dua puluh satu) hari kerja sejak perm ohonan diajukan, dan upaya hukum terhadap putusan Pengadilan adalah banding ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara.

Memperhatikan seluruh uraian diatas maka dapat disim pulkan sebagai berikut:

a. Yang berhak m engajukan perm ohonan/subjek pem ohon untuk m engajukan perm ohonan adalah badan dan/atau pejabat pemerintah.

b. Tidak m elalui proses dismissal maupun pemeriksaan persiapan.

c. Dalam persidangan permohonan hanya ada satu pihak yakni pem ohon tidak ada pihak lain yang ditarik sebagai lawan (sebagai term ohon maupun sebagai tergugat).

44Mahkamah Agung, PERMA Nom or 4 Tahun 2015 tentang Pedom an Beracara Dalam Penilaian Unsur Penyalahgunaan Wewenang, Pasal 1 0, 11, 12 dan 16 .

(11)

USU Law Journal, Vol.6. No.5 (Oktober 2018) 76 - 94

86 Jika hanya ada satu pihak saja, maka tidak ada pihak lawan yang harus menyangkal/m embuktikan bahwa apa yang dim ohonkan oleh pem ohon tida k benar adanya, dengan dem ikian seyogyanya permasalahan yang dim ohonkan adalah tidak m engandung sengketa dengan pihak lain. Pada Pasal 4 ayat (1) huruf d PERMA No. 4 Tahun 2015 diatur bahwa amar putusan perm ohonan adalah hanya menyatakan keputusan dan/atau tindakan pejabat pemerintah ada atau tidak ada unsur penyalahgunaan wewenang, amar putusan tidak ada memutuskan untuk “menghukum” siapapun untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu hal, dengan demikian permohonan ini lebih bersifat kepada kepentingan sepihak yakni pem ohon saja. Mem perhatikan hal tersebut jika m embandingkannya dengan hukum perdata, maka ciri-ciri perm ohonan penilaian ada atau tidak penyalahgunaan wewenang menyerupai gugatan voluntair /gugatan perm ohonan, akan tetapi gugatan voluntair dalam hukum acara perdata diputus dengan penetapan (putusan declatoir) yaitu suatu putusan yang bersifat m enetapkan.

Biasanya gugatan voluntair diperiksa dan diadili oleh hakim tunggal, sedangkan perm ohonan penilaian ada atau tidak penyalahgunaan wewenan g diputus dalam bentuk putusan dan diperiksa serta diadili oleh majelis hakim (vide Pasal 1 angka 6 PERMA No.4 Tahun 2015).

d. Yang menjadi objek perm ohonan adalah keputusan dan/atau tindakan.

Dalam Pasal 21 ayat (2) UU No. 30 tahun 2014 disebutkan badan dan /atau Pejabat Pemerintahan dapat mengajukan “perm ohonan kepada Pengadilan untuk menilai ada atau tidak ada unsur penyalahgunaan wewenang dalam keputusan dan/atau tindakan”, sedangkan dalam Pasal 3 PERMA No. 4 Tahun 2015 disebutkan perm ohonan yang diajukan berisi tuntutan agar “keputusan dan/atau tindakan pejabat pemerintahan dinyatakan ada atau tidak ada unsur penyalahgunaan wewenang”. Pasal 21 adalah termasuk kedalam Bagian ketujuh tentang Larangan Penyalahgunaan Wewenang didalam UU No. 30 Tahun 2014. Bagian ketujuh didalam undang-undang ini dimulai dari Pasal 17 hingga Pasal 21. Bagian ketujuh mengatur hal-hal yang dilarang berkenaan dengan penyalahgunaan wewenang, pada Pasal 20 disebutkan bahwa pengawasan terhadap penyalahgunaan wewenang dilakukan oleh Pengawas Intern Pem erintah (APIP), jika terdapat kesalahan administratif dalam hal penyalahgunaan wewenang, maka badan dan/atau pejabat pem erintahan dapat dikenakan sanksi administratif, apabila badan dan/atau pejabat pemerintahan dikenakan sanksi maka perm ohonan penilaian ada atau tidak penyalahgunaan wewenang adalah seperti upaya yang dapat dilakukan oleh badan dan/atau pejabat pemerintahan atas hasil pengawasan APIP, berdasarkan Pasal 3 PERMA No. 4 Tahun 2015 disebutkan “badan dan/atau pejabat pemerintahan yang m erasa kepentingannya dirugikan oleh hasil pengawasan aparat pengawasan intern pem erintahan dapat mengajukan perm ohonan….”, selain itu sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa pada persidangan perm ohonan penilaian ada atau tidak penyalahgunaan wewenang hanya terdapat satu pihak yakni pem ohon dan putusan Pengadilan adalah “menyatakan” bukan

“menghukum” siapapun, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tindakan dan/atau keputusan yang dijadikan dasar untuk dim ohonkan dinilai oleh Pengadilan adalah t indakan dan/atau keputusan pejabat pem erintahan itu sendiri, dengan kata lain dalam perm ohonan ini badan dan/atau pejabat pemerintahan berm ohon kepada Pengadilan untuk turut menilai apakah dalam keputusan dan/atau tindakannya telah terdapat unsur penyalahgunaan wewenang, oleh karena itu lah dalam perm ohonan ada atau tidak penyalahgunaan wewenang, hasil penilaian APIP tidak diajukan sebagai objek dalam persidangan dan APIP tidak pula disertakan sebagai pihak didalam persidangan perm ohonan ini.

2. Pembuktian Dalam Permohonan Ada Atau Tidak Penyalahgunaan Wewenang Berdasarkan pada Pasal 13 PERMA No. 4 Tahun 2015 disebutkan alat bukti dalam perm ohonan penilaian ada atau tidak ada unsur penyalahgunaan wewenang m eliputi: (a) Surat atau tulisan; (b) Keterangan saksi; (c) Keterangan ahli, Pada Pasal 14 disebutkan: bahwa Saksi dan/atau ahli dapat diajukan oleh pem ohon atau dipanggil atas perintah Pengadilan. (d) Pengakuan Pem ohon; (e) Alat bukti lain berupa informasi elektronik atau dokumen elektronik.

Pada Pasal 15 PERMA No. 4 Tahun 2015 disebutkan bahwa alat bukti informasi elektronik atau dokumen elektronik dapat berupa rekaman data atau informasi yang dilihat, dibaca dan/atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, maupun rekaman secara elektronik, yang berupa tulisan, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka yang memiliki makna.

B. Sistem Pembuktian Dalam Sidang Tindak Pidana Korupsi 1. Sistem pembuktian

Sistem pembuktian adalah pengaturan tentang macam -macam alat bukti yang boleh dipergunakan, penguraian alat bukti dan dengan cara -cara bagaimana alat-alat bukti itu dipergunakan dan dengan cara bagaimana hakim harus mem bentuk keyakinannya, sedangkan yang dimaksud dengan hukum pem buktian adalah merupakan sebagian dari hukum acara pidana yang mengatur macam -macam alat bukti yang sah m enurut hukum, sistem yang dianut dalam pembuktian, syarat -syarat dan tata cata mengajukan bukti tersebut serta kewenangan hakim untuk m enerima, m enolak dan menilai suatu pem buktian.45

45Hari Sasangka dan lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana (Bandung: Mandar Maju, 2003), hlm . 10.

(12)

USU Law Journal, Vol.6. No.5 (Oktober 2018) 76 - 94

87 Karena hukum pembuktian m erupakan bagian dari hukum acara pidana, maka sumber hukum yang utama adalah Undang-undang Nom or 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana atau KUHAP.

Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nom or 76 dan penjelasannya yang dimuat dalam Tam bahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nom or 3209. Apabila didalam praktik menemui kesulitan dalam penerapannya atau m enjum pai kekurangan atau untuk mem enuhi kebutuhan maka dipergunakan doktrin atau yurisprudensi.

Negara Indonesia jika m emperhatikan kepada Kitab Hukum Acara Pidana (KUHAP) m enganut sistem atau teori pem buktian berdasar undang -undang secara negatif (negatief wettelijk) sebagaimana terkandung dalam Pasal 183 KUHAP yang berbunyi sebagai berikut:46

“Hakim tidak boleh m enjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang - kurangnya dua alat bukti yang sah ia m emperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar - benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah m elakukannya”.

Dengan demikian Pasal 183 KUHAP m engatur, untuk m enentukan salah atau tidaknya seorang terdakwa dan untuk m enjatuhkan pidana kepada terdakwa, harus:47

- kesalahannya terbukti dengan sekurang-kurangnya “dua alat bukti yang sah”,

- dan atas keterbuktian dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah, hakim “mem peroleh keyakinan” bahwa tindak pidana benar -benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Pada dasarnya dalam tindak pidana korupsi juga berlaku sistem pembuktian b erdasar undang- undang secara negatif (negatief wettelijk), akan tetapi ada beberapa kekhususan sistem pembuktian dalam hukum pidana formal korupsi, yakni tentang:48

1. Perluasan bahan yang dapat digunakan untuk mem bentuk alat bukti petunjuk (Pasal 26 A).

2. Beberapa sistem beban pembuktian yang berlainan dengan sistem yang ada dalam KUHAP.

2. Jenis Alat Bukti

Alat bukti adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan suatu perbuatan, dimana dengan alat-alat bukti tersebut, dapat dipergunakan sebagai bahan pembuktian guna m enim bulkan keyakinan hakim atas kebenaran adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh terdakwa.49

Dalam hukum pidana formal umum, macam -macam alat bukti serta cara penggunaan dan batas- batasnya telah ditentukan di dalam KUHAP. Penegakan hukum pidana materiil korupsi m elalui hukum pidana formal secara umum termasuk ketentuan perihal pem buktian tetap tunduk dan diatur dalam KUHAP, namun sebagai hukum pidana khusus ter dapat pula ketentuan mengenai hukum acara yang sifatnya khusus dan merupakan perkecualian.Ketentuan khusus m engenai pembuktian dalam hukum pidana formal korupsi yang dirumuskan dalam UU Tindak Pidana Korupsi merupakan perkecualian dari hukum pem buktian yang ada dalam KUHAP.50

Dalam KUHAP jenis-jenis alat bukti diatur dalam Pasal 184 KUHAP, yaitu: (1) Keterangan saksi;

(2) Keterangan ahli; (3) Surat; (4) Petunjuk; (5) Keterangan terdakwa.

Dalam Pasal 26A UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang -Undang Nom or 31 Tahun 1999 tentang Pem berantasan Tindak Pidana Korupsidisebutkan:

Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 188 ayat (2) Undang-Undang Nom or 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, khusus untuk tindak pidana korupsi juga dapat diperoleh dari:

a. Alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima atau disim pan secara elektronik dengan optic atau yang serupa dengan itu; dan

b. Dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca dan atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang diatas kertas, benda fisik ataupuns elain kertas, maupun yang terekam secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau ferforasi yang memiliki makna.

3. Sistem Pembebanan Pembuktian Tindak Pidana Korupsi

Sistem pembuktian yang berlaku pada penanganan perkara tindak pidana korupsi pada dasarnya berpedoman kepada Kitab Undang-undang Acara Pidana,, demikian pula terhadap beban pembuktian, sebagai aparat yang berwenang untuk membuktikan unsur -unsur tindak pidana yang didakwakan ada di tangan Jaksa selaku Penuntut Umum. Akan tetapi pada Pasal 12B ayat (1) huruf a dan b, Pasal 37, Pasal 37A, Pasal 38B Undang-undang Nom or 20 tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang -Undang Nom or 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi terdapat beberapa ketentuan khusus tentang sistem pembuktian, dimana pada penanganan tindak pidana korupsi juga berlaku sistem pem bebanan pem buktian terbalik.

46Republik Indonesia, Undang-undang Nom or 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, Pasal 1 83.

47M. Yahyah Harahap, Op.Cit., hlm. 280.

48Adami ChazawiI ,Op. Cit., hlm . 359.

49Andi Ham zah,Hukum Acara Pidana Indonesia(Edisi Kedua; Jakarta: Sinar Grafika,2016),(selanjutnya Andi Ham zah II),hlm. 11 .

50Adami Chazawi I, Op.Cit., hlm . 359.

(13)

USU Law Journal, Vol.6. No.5 (Oktober 2018) 76 - 94

88 4. Penyidikan, Penuntutan dan Pemeriksaan di Sidang Pengadilan Tindak Pidana

Korupsi a. Penyidikan

Pengertian penyidikan m enurut Pasal 1 angka 2 UU No.8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana adalah: “serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Undang - Undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya”.

Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU No.8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, yang disebut penyidikan adalah: pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh Undang -Undang untuk m elakukan penyidikan.

Dalam tindak pidana korupsi yang diberi wewenang oleh Undang -Undang untuk m elakukan penyidikan adalah:

1. Penyidik Kepolisian

Selain berdasarkan Pasal 1 angka 1 KUHAP, juga berdasarkan Pasal 14 ayat (1) huruf g Undang - Undang RI Nom or 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia disebutkan

“kepolisian bertugas m enyelidik da n menyidik semua tindak pidana sesuai hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya.

2. Penyidik Kejaksaan

Pasal 30 ayat (1) huruf d Undang -Undang RI Nom or 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan disebutkan: “melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan Undang- Undang”, dan Pasal 39 UU No. 31 tahun 1999 dirubah dengan UU Tipikor Pem berantasan Tindak Pidana Korupsi disebutkan: “Jaksa Agung m engkoordinasikan dan mengendalikan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan tindak pidana korupsi yang dilakukan bersama-sama oleh orang yang tunduk pada peradilan umum dan peradilan militer”, berdasarkan kedua ketentuan tersebut maka Kejaksaan diberi wewenang m elakukan penyidikan dalam perkara tindak pidana korupsi.

3. Penyidik Komisi Pemberantasan Koru psi (KPK)

Berdasarkan Pasal 6 huruf c Undang -Undang RI Nom or 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi yang menyatakan KPK mem punyai tugas m elakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi.

b. Penuntutan

Penuntutan berdasarkan Pasal 1 angka 7 KUHAP adalah tindakan penuntut umum untuk melim pahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan m enurut cara yang diatur dalam Undang-Undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputuskan oleh hakim di sidang pengadilan.

Menurut Pasal 1 angka 6 huruf a KUHAP, disebut Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh Undang-Undang ini untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah mem peroleh kekuatan hukum tetap, sedangkan pada huruf b disebutkan Penuntut Umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh undang -undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.

Dalam perkara tindak pidana korupsi, apabila yang bertindak sebagai penyidik adalah Kepolisian maka setelah dilakukan tindakan penyidikan selanjutnya berkas tindak pidana korupsi dilim pahkan kepada kejaksaan selaku penuntut umum, sebab Kepolisian tidak m empunyai wewenang untuk melakukan penuntutan dalam perkara tindak pidana korupsi. Apabila y ang m elakukan penyidikan perkara tindak pidana korupsi itu, maka pihak Kejaksaan juga berwenang dalam melakukan penuntutan. Sedangkan jika yang melakukan penyidikan adalah KPK, maka yang melakukan penuntutan adalah KPK sendiri, sebab berdasarkan Pasal 6 huruf c Undang-Undang RI Nom or 30 Tahun 2002 tentang Kom isi Pem berantasan Korupsi yang menyatakan KPK m empunyai tugas melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi. Oleh sebab itu pada Kom isi Pemberantasan Korupsi (KPK) ditugaskan jaksa dari Kejaksaan Agung RI untuk bertugas di KPK.

c. Pemeriksaan di Persidangan Perkara Tindak Pidana Korupsi

Memeriksa, mengadili serta m emutus perkara tindak pidana korupsi adalah m erupakan kewenangan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang berada di lingkungan peradilan umum (vide Pasal 2 dan Pasal 5 Undang-Undang RI Nom or 46 tahun 2009 tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi).

Ketentuan beracara didalam pemeriksaan dan persidangan perkara tindak pidana korupsi adalah sama dengan ketentuan beracara persidangan perkara tindak pidana umum, oleh karena berdasarkan Pasal 26 UU Tipikor di sebutkan: “Penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan persidangan pengadilan terhadap tindak pidana korupsi, dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang berlaku, kecua li ditentukan lain dalam Undang-Undang ini”. Terdapat beberapa prinsip yang berbeda dengan tindak pidana umum, yakni: dalam perkara tindak pidana umum, tidak m emungkinkan untuk diperiksa dan diputus tanpa hadirnya terdakwa, atau dilakukan secara in absentia, namun dalam perkara korupsi dibenarkan untuk digelar dan diputus tanpa hadirnya terdakwa. (vide Pasal 38 ayat (1) UU Nom or 20 Tahun 2001).

d. Perbedaan Sistem Pembuktian Hukum Administrasi Dan Hukum PidanaKorupsi Di Pengadilan Dalam Pengujian Ada Tidaknya Penyalahgunaan Wewenang

Referensi

Dokumen terkait

Cawan kosong dan tutupnya dikeringkan dalam oven pada suhu 103 o C selama 15 menit dan didinginkan dalam desikator, kemudian cawan tersebut ditimbang.. Sebanyak 5

Untuk keperluan uji aerodinamika di terowongan angin, LAGG telah mengembangkan satu sistem pengukuran aliran turbulen, yang terdiri dari software sistem akuisisi dan pengolahan

Dari hasil analisa laboratorium (Tabel 1), tanah lokasi pengkajian tergolong sangat masam, C-organik sangat rendah, N, P tersedia dan K tersedia sangat rendah sampai

pencaharian sebagai penjual gerabah sudah terjadi secara turun temurun dan sudah melekat di keluarga Ibu Sagiran, tentunya hal tersebut ruang yang dimiliki harus dibagi antara

[r]

a) Model pembelajaran Inquiry merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotor.. secara seimbang, sehingga

Konsep Sekolah Ramah Anak di SD didefinisikan sebagai sekolah dasar yang aman, bersih dan sehat, peduli dan berbudaya lingkungan hidup, mampu menjamin, memenuhi, menghargai hak-hak

Ditinjau dari peraturan perundang-undangan, terkait alat bukti yang sah dan boleh dipergunakan untuk proses pembuktian telah diatur di dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP,