1 A. Latar Belakang Masalah
Ibadah haji merupakan rukun Islam yang ke-5. Hukum haji wajib bagi yang istitha’ah yaitu mampu dalam melaksanakan ibadah haji baik secara mental, fisik dan perbekalan. Ibadah haji tidak bisa dilakukan di sembarang waktu dan tempat, itulah mengapa ibadah haji memiliki kekhususan tersendiri, dengan kata lain ibadah haji hanya dilakukan di Tanah Suci Mekah al-Mukarramah, dengan waktu yang tertentu yaitu bulan haji atau bulan
Zulhijjah.1
Wahbah Zuhaili dalam Memahami Haji dan Umrah menjelaskan dalam terminologi fiqh, haji didefinisikan sebagai perjalanan mengunjungi Ka'bah untuk melakukan ibadah tertentu untuk melakukan ibadah tawaf, sa’i, wukuf dan manasik-manasik lain.2
Kewajiban melaksanakan haji telah dijelaskan dalam firman Allah SWT QS. Ali-Imran/3: 97.
ُّج ِح ِساَّنلٱ ىَلَع ِ َّ ِلِلّ َو ۗاٗنِهاَء َىاَك ۥُهَلَخَد يَه َو ََۖنيِه ََٰرۡبِإ ُماَقَّه ٞتََٰنِّيَب ُُۢتََٰياَء ِهيِف ييِوَلََٰعۡلٱ ِيَع ٌّيِنَغ َ َّلِلّٱ َّىِإَف َرَفَك يَه َو ۚ ٗلٗيِبَس ِهۡيَلِإ َعاَطَت ۡسٱ ِيَه ِتۡيَبۡلٱ
1 Achmad Ja’far Sodik, Tuntunan Haji & Umrah (Yogyakarta: Buku Pintar, 2013) h. 5.
2 Ichsanuddin Kusumadi, Memahami Haji & Umrah (Semarang: Mutiara Aksara, 2019) h.1.
Artinya: Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) maqam Ibrahim;
Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.3
Dalam Undang-Undang No. 08 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah ditegaskan secara eksplisit bahwa Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah bertujuan: memberikan pembinaan, pelayanan, dan pelindungan bagi Jemaah Haji dan Jemaah Umrah sehingga dapat menunaikan ibadahnya sesuai dengan ketentuan syariat.4
Indonesia adalah Negara dengan populasi umat Islam terbesar di dunia, karena itulah Indonesia mengantarkan tamu Allah terbanyak di tanah suci, yakni sekitar 200.000 jemaah haji setiap tahun.
Sejak tahun 2016 jumlah jemaah haji Indonesia mengalami peningkatan. Pada tahun 2018, jemaah haji Indonesia mencapai 203.350 jiwa, naik 0,13% dari tahun sebelumnya sebesar 203.070 Dengan kuota normal sebanyak 221.000 jemaah.5
Pertumbuhan penduduk, kemajuan ekonomi, perkembangan pesat merupakan aspek yang memacu dinamika penyelenggaraan ibadah haji agar selalu tanggap pada persoalan yang dihadapi dan selalu melakukan inovasi serta improvisasi.
Operasional penyelenggaraan ibadah haji dulunya sampai tahun 1990-an sangat sederhana, pelayanan oleh pemerintah baik di Tanah Air maupun di Tanah Suci
3 Departemen Agama R.I., Al-Qur’an dan Terjemahnya (Mataram: Magfirah Pustaka, 2006) h.62.
4 Republik Indonesia, “Undang-undang R.I. Nomor 8 Tahun 2019 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah,” (Jakarta, 2019) h.6.
5 Badan Pusat Statistik (BPS), Jumlah Jemaah Haji Indonesia, Statista, 2018, (Online)
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/02/28/berapa-jumlah-jemaah-haji-di-indonesia (diakses 13 Juli 2020).
masih menggunakan mesin ketik, mesin stensil, tulisan tangan, fotocopy dan kalkulator untuk menghitung data dan informasi, menggunakan lembaran kertas administrasi dan dokumen yang semuanya dilakukan secara manual.
Minimnya teknologi dalam pendataan dan pengelolaan data pernah mengakibatkan terjadinya peristiwa tragedi kecelakaan di terowongan Mina yang terjadi pada 2 Juli 1990, sebanyak 1.426 jemaah menjadi korban meninggal dunia karena desakan yang terjadi di terowongan. Lebih dari 600 orang di antaranya merupakan jemaah haji asal Indonesia.6
Pemerintah mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi data korban, karena teknologi informasi masih beroperasi secara manual, sehingga sulit untuk menginformasikan kepada keluarga korban. Akhirnya dampak besar juga sangat dirasakan akibat minimnya teknologi pengolahan data.
Penumpukan waiting list pada tahun 1995 menyebabkan pertama kalinya terjadi over quota. Pendaftaran jemaah dari tahun ke tahun yang begitu pesat dan pembatasan pemberangkatan jemaah haji ke Tanah Suci menyebabkan penumpukan jemaah haji yang semakin panjang. Kondisi masa tunggu jemaah yang mencapai puluhan tahun tidak mungkin dilakukan secara manual dengan mengandalkan tumpukan berkas yang akan memperlambat kinerja pelayanan publik di Kementerian Agama.
Sebelum adanya SISKOHAT, calon jemaah juga bisa saja batal berangkat karena sistem yang masih manual. Foto calon jemaah bisa diubah, dan datanya bisa diganti, sehingga calon jemaah lain tersingkir.
6 Kompas.com, 29 Tahun Tragedi Terowongan Mina,(Online)
https:/.www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/property/read/2019/07/02/130734121/29-tahun-tragedi- terowongan-mina-ini-sejarah-konstruksinya (diakses 1 Juni 2020).
Dalam menghadapi peningkatan jemaah haji dari tahun ke tahun, dikeluarkan keputusan Menteri Agama Nomor 199 Tahun 1995 tanggal 29 April 1995 sebagai dasar hukum dimulainya perintisan pembangunan sistem yang diperkirakan bisa mengatasi masalah ketidakjelasan pelayanan pendaftaran haji dengan memanfaatkan jasa komputerisasi.
Dibentuklah pengelolaan data yang dimulai pada tahun 1992 yang semula disebut Sistem Manajemen Haji (SIMHAJ), kemudian diubah dari SIMHAJ menjadi SISKOHAT pada tahun 1996.
SISKOHAT merupakan sistem besar yang menjadi tulang punggung penyelenggaraan ibadah haji oleh pemerintah. SISKOHAT punya jasa besar dalam menciptakan keteraturan terkait penggerakan jemaah haji baik di tanah air hingga ke Arab Saudi.
Kementerian Agama telah menciptakan SISKOHAT berbasis komputer yang terkoneksi dengan 34 lokasi Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi, 574 Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, 31 BPS-Bipih, 13 Embarkasi dan 3 daerah kerja Arab Saudi ini merupakan langkah tepat yang ditempuh oleh Kementerian Agama untuk meningkatkan pelayanan haji di Indonesia.
Perkembangan SISKOHAT di Kementerian Agama Kabupaten/Kota mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010, Kementerian Agama meluncurkan versi terbaru SISKOHAT yaitu SISKOHAT Gen-1. Sebagai penyempurna SISKOHAT Gen-1, Kementerian Agama telah meluncurkan SISKOHAT Gen-2 sejak 2013 hingga sekarang.
SISKOHAT memberikan nomor porsi kepada setiap pendaftar dengan prinsip first come, first served (pertama datang pertama dilayani). SISKOHAT tidak hanya
bertujuan untuk memberikan layanan secara online (tersambung) untuk pendaftaran haji, tetapi juga mendukung seluruh prosesi penyelenggaraan haji termasuk pengurusan dokumen haji, persiapan keberangkatan (embarkasi), monitoring operasional di tanah suci dan proses kepulangan jemaah ke tanah air (debarkasi).
Peningkatan calon jemaah haji yang mendaftar juga menjadikan keberadaan SISKOHAT semakin vital.
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan memiliki tanggung jawab penuh sebagai penyelenggara dan pemberi layanan kepada jemaah haji dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menyangkut pelayanan ibadah haji mulai dari perumusan dan pelaksanaan, penyusunan norma-norma, penetapan standar operasional, prosedur dan kriteria, bimbingan teknis, monitoring operasional ibadah haji, juga evaluasi dalam pelayanan penyelenggaraan ibadah haji.
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka disusunlah penelitian dengan judul: “Efektivitas Layanan Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan.”
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan?
2. Bagaimana efektivitas layanan Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan.
2. Mengetahui efektivitas layanan Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan.
D. Signifikansi Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini yaitu:
1. Manfaat Teoritis
Dapat menjadi salah satu landasan dan bahan untuk penelitian ilmiah di bidang Manajemen Dakwah dalam meningkatkan kompetensi keilmuan khususnya konsentrasi Manajemen Haji dan Umrah, serta dapat menambah literatur khususnya di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
Memperluas dan menambah wawasan mengenai Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) dalam penerapan fungsi dan tugasnya dalam pelayanan penyelenggaraan ibadah haji.
2. Manfaat Praktis
Bagi lembaga, hasil dari penelitian ini diharapkan bisa memberikan masukan yang bermanfaat dalam menentukan langkah selanjutnya untuk mencapai harapan yang diinginkan dan menjadi lebih baik dalam proses pelayanan ibadah haji di Provinsi Kalimantan Selatan.
Penelitian ini juga dapat menambah referensi yang berguna dalam peningkatan sistem komputerisasi haji di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan.
E. Definisi Operasional
Agar menghindari kesalahpahaman dan penafsiran serta membatasi fokus masalah yang dibahas dari penelitian Efektivitas Layanan Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan, maka definisi operasional yang akan dijelaskan yaitu:
1. Efektivitas
Sondang P. Siagian menyatakan efektivitas merupakan pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah barang atas jasa kegiatan yang dijalankannya.7
Secara harfiah konsep keefektifan (effectiveness) berasal dari kata efektif, yang artinya terjadi suatu efek atau sebuah akibat yang dikehendaki dari suatu perbuatan. Ensiklopedia umum menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan
7 Sondang P. Siagian, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001) h. 24.
keefektifan yaitu menunjukkan taraf tercapainya suatu tujuan.8 Jadi, efektivitas menunjukkan kemampuan lembaga atau sebuah organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
Efektivitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah terlaksananya tugas pokok dan tercapainya tujuan dalam pemanfaatan fasilitas yang berkaitan dengan sistem komputer dalam pelayanan jemaah haji di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan sebagai usaha mewujudkan tujuan operasional penyelenggaraan ibadah haji.
2. Pelayanan
Philip Kotler menyatakan bahwa pelayanan merupakan setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.9
Layanan yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu kegiatan atau tindakan dari staf SISKOHAT di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan dalam proses pelayanan ibadah haji di Tanah Air khususnya di Provinsi Kalimantan Selatan.
3. Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT)
SISKOHAT dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 08 Tahun 2019 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah adalah sistem pengelolaan data dan informasi penyelenggaraan Ibadah Haji secara terpadu.10
8 Daradjat Kartawidjaja, Konsep dan Efektivitas Implementasi Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), (Jakarta: Madani Publishing, 2011) h. 213.
9 Philip Kotler, Manajemen Pemasaran di Indonesia: Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian, (Jakarta: Salemba Empat, 2002) h. 83.
SISKOHAT merupakan sistem pelayanan secara online (tersambung) dan real time (tepat waktu) antara Bank Penerima Setoran Biaya Perjalanan Ibadah
Haji (BPS-Bipih), Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi, Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota dengan pusat komputer, Komputer Kementerian Agama Republik Indonesia.
Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu dalam penelitian ini menjelaskan bagaimana proses pengelolaan data dan informasi dalam pelayanan ibadah haji di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan dengan memanfaatkan sumber daya dan teknologi yang tersedia.
F. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka atau kajian pustaka adalah tinjauan yang memuat penelitian dan karya ilmiah terdahulu. Tinjauan pustaka bertujuan untuk memperkaya penelitian dan menghindari duplikasi hasil penelitian sebelumnya. Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan tema penelitian ini adalah sebagai berikut:
Pertama, skripsi Ardi Kurniawan dengan judul Efektivitas Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) Dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gowa. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis pendekatan komunikasi yaitu secara langsung mendapat informasi langsung dari informan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) Dalam
10 Republik Indonesia, “Undang-undang R.I. Nomor 8 Tahun 2019 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah,” (Jakarta, 2019) h. 5.
Penyelenggaraan Ibadah Haji Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gowa sangat efektif dalam meningkatkan kinerja pelayanan.
Berbeda dengan penelitian terdahulu, penelitian ini berfokus pada penyelenggaraan haji yang berarti meneliti keseluruhan prosesi ibadah haji.
Sedangkan peneliti akan meneliti mengenai Efektivitas Layanan Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan. Sehingga terlihat bahwa fokus penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya.
Kedua, skripsi oleh Melia Iska Novitasari dengan judul Efektivitas Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) Dalam Pelayanan Pendaftaran Jemaah Haji Khusus di Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif dengan cara mengumpulkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis maupun lisan serta perilaku yang dapat diamati. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa SISKOHAT di Kemenag DIY sudah berlangsung secara efektif, terlihat bahwa penggunaan SISKOHAT telah sesuai dengan kebutuhan pengguna, memberikan dampak positif bagi penggunanya dan juga Kanwil Kemenag DIY.
Perbedaan dengan penelitian ini yaitu dalam objek yang diteliti, penelitian di atas meneliti pelayanan pendaftaran haji khusus di Kanwil Kemenag DIY, yang mana penelitian tersebut berfokus pada prosedur pendaftaran haji khusus dan SISKOHAT sebagai sistem pendukungnya. Penelitian ini sedikit berbeda dengan
penelitian sebelumnya, karena penelitian ini menjelaskan efektivitas SISKOHAT dalam pelayanan ibadah haji yang berfokus pada pendaftaran dan pembatalan jemaah haji reguler.
Ketiga, jurnal Implementasi Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) oleh Herni Yuliani, dkk. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran SISKOHAT yang paling utama yaitu sebagai pemberi informasi. Penerapan SISKOHAT bisa dilihat dari layanan program yang dijalankan oleh SISKOHAT sehingga menghasilkan informasi yang akurat dan tepat untuk jemaah haji.
SISKOHAT yang berada dibawah lembaga pemerintahan menunjukkan usaha dari pemerintah dalam upaya memberikan pelayanan optimal bagi masyarakat khususnya jemaah haji.
Perbedaan dengan penelitian ini yaitu subjek dan objek penelitian, hal yang diteliti adalah mengenai efektivitas SISKOHAT di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan, dinilai bukan hanya dari informasi yang diterima oleh jemaah haji saja, namun meneliti mengenai tugas SISKOHAT dalam pelayanan mengenai pendaftaran, pembatalan haji dll. agar dapat menjadi bahan evaluasi untuk pelayanan ibadah haji yang lebih baik lagi khususnya di Kalimantan Selatan.
G. Sistematika Penulisan
Penelitian ini menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan yang membahas latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, signifikansi penelitian, definisi operasional, penelitian terdahulu, dan sistematika penulisan.
BAB II : Landasan Teori yang membahas pengertian definisi efektivitas, Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT), pelayanan ibadah haji, serta fungsi Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT).
BAB III : Metode penelitian yang berisikan jenis dan pendekatan penelitian, lokasi penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik pengolahan dan analisis data, pengecekan keabsahan data.
BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan.
BAB V: Penutupan berupa simpulan dan saran-saran.