• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PEMILIHAN MESIN PRODUKSI INJECTION PLASTIK DENGAN METODE AHP (ANALYTIC HIERARCHY PROCESS)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PEMILIHAN MESIN PRODUKSI INJECTION PLASTIK DENGAN METODE AHP (ANALYTIC HIERARCHY PROCESS)"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PEMILIHAN MESIN PRODUKSI INJECTION PLASTIK DENGAN METODE AHP (ANALYTIC HIERARCHY

PROCESS)

(Study Kasus Pemilihan Mesin di PT Sekisui Techno Molding Indonesia)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu syarat menjadi Sarjana Manajemen ( S1 )

Disusun Oleh:

MUHAMMAD SAMSUDIN NIM : 111510611

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI , BISNIS DAN ILMU SOSIAL UNIVERSITAS PELITA BANGSA

BEKASI - 2019

(2)

ii

SURAT PERNYATAAN

(3)

iii

LEMBAR PERSETUJUAN

(4)

iv

(5)

v ABSTRAK

ANALISIS PEMILIHAN MESIN PRODUKSI INJECTION PLASTIK DENGAN METODE AHP (ANALYTIC HIERARCHY PROCESS)

Oleh

MUHAMMAD SAMSUDIN NIM : 111510611

Didalam proses produksi manufacture of Injection Plastik penentuan mesin untuk membuat produk dari bahan biji plastik sangatlah penting agar tercapainya proses produksi yang lebih efektif dan efisien.Dengan metode AHP (Analytic Hierarchy Process) agar pengambilan keputusan pemilihan mesin yang digunakan tidak salah pilih mesin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Mesin yang layak digunakan untuk memproduksi di PT. Sekisui Techno Molding Indonesia dengan kinerja mesin-mesin yang ada berdasarkan kriteria Kualitas, Produktivitas, Biaya Perawatan, dan Serviceability.

Dari hasil analisis, diperoleh prioritas utama dalam pemilihan mesin adalah dilihat dari kualitas Mesin tersebut. Kualitas merupakan kriteria yang paling penting dalam proses seleksi mesin yang akan dibeli oleh PT. Sekisui Techno Molding Indonesia dengan bobot 0,400 atau 40%, selanjutnya produktivitas dengan bobot 0,370 atau 37 %, kemudian biaya perawatan dengan bobot 0,150 atau 15 % dan yang terakhir adalah serviceability dengan bobot 0,080 atau 8 %. Kemudian berikut adalah urutan Mesin dengan nilai tertinggi Peringkat 1 : Toshiba ( nilai bobot 0,427 atau 42,7 % ) Peringkat 2 : Haitian ( nilai bobot 0,365 atau 36,5 % ) Peringkat 3 : Fu Chun Shin (nilai bobot 0,208 atau 20,8 % )

Kata Kunci : ANALYTIC HIERARCHY PROCESS,Produktivitas,Kualitas, Biaya Perawatan,Serviceability

(6)

vi ABSTRACT

In the production process of making Plastic Injection determine the machine to make products from plastic materials determines the importance of achieving a more effective and efficient production process. With the AHP (Analytic Hierarchy Process) method so that the decision to choose the engine used is not the wrong engine. This research is useful for studying machines that are suitable for production at PT. Sekisui Techno Molding Indonesia with the performance of existing machines based on the criteria of Quality, Productivity, Maintenance Costs, and Serviceability.

From the results of the analysis, obtained the main priority in the selection of machines seen from the quality of the machine. Quality is the most important criteria in the process of selecting machines to be purchased by PT. Sekisui Techno Molding Indonesia with a weight of 0,400 or 40%, then productivity with a weight of 0.370 or 37%, then maintenance costs with a weight of 0.150 or 15%

and the last is ease of service with a weight of 0.080 or 8%. Then the following is the sequence of machines with the highest value of Rank 1: Toshiba (weight value of 0.427 or 42.7%) Rank 2: Haitian (weight value of 0.365 or 36.5%) Rank 3: Fu Chun Shin (weight value of 0.208 or 20.8 %)

Keywords : ANALYTIC HIERARCHY PROCESS, Productivity, Quality, Maintenance Costs, Serviceability

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur yang sedalam – dalamnya penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul : ANALISIS Pemilihan Mesin Produksi Injection Plastik Dengan Metode Ahp (Analytic Hierarchy Process)

Tujuan dari pada ranjangan Proposal Skripsi adalah untuk memenuhi syarat dalam mencapai gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Manajemen STIE Pelita Bangsa.

Sehubungan selesainya karya akhir tersebut, penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :

1. Bapak Hamdan Amaruddin.,SE.,ME, yang telah memberikan arahan ketika proses pengujian Proposal Skripsi.

2. Ibu Preatmi Nurastuti., SE., MM, Selaku Dekan Fakultas Ekonomi,Bisnis dan Ilmu Sosial Universitas Pelita Bangsa.

3. Ibu Yunita Ramadhani DS., SE., MSc Selaku Ketua Manajemen Universitas Pelita Bangsa.

4. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pelita Bangsa angkatan 2015.

5. Keluarga tercinta yang senantiasa memberikan dukungan dan dorongan semangat.

Penulis menyadari penyusunan proposal skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu saran serta kritik yang membangun sangat kami harapkan. Semoga karya akhir ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bekasi, September 2019

Peneliti

(8)

viii

DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN... ii

LEMBAR PERSETUJUAN... iii

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian... 4

1.5 Sistematika Penulisan Skripsi ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 7

2.1 Landasan Teori ... 7

2.1.1 Produktivitas ... 7

2.1.2 Kualitas ... 8

2.1.3 Biaya Perawatan ... 12

2.1.4 Serviceability ... 13

2.1.5 AHP (Analytical Hierarchy Process) ... 13

2.2 Penelitan Terdahulu ... 27

BAB III METODE PENELITIAN... 31

3.1 Jenis Penelitian ... 31

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian... 32

3.3 Kerangka Pikiran ... 33

3.4 Populasi Dan Sample ... 35

3.5 Metode Pengumpulan Data ... 35

3.6 Metode Analisis Data ... 36

(9)

ix

BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN ... 37

4.1 Sejarah Obyek Penelitian ... 37

4.2 Visi PT. Sekisui Techno Molding Indonesia ... 38

4.3 Misi PT. Sekisui Techno Molding Indonesia ... 39

4.4 Struktur Organisasi PT. Sekisui Techno Molding Indonesia ... 39

4.5 Lokasi PT. Sekisui Techno Molding Indonesia ... 40

4.6 Produk PT. Sekisui Techno Molding Indonesia ... 40

4.7 Bagian Bagian Mesin Injection ... 41

4.8 Mesin Injection Plastik PT. Sekisui Techno Molding Indonesia ... 42

4.9 Alur Proses manufaktur PT. Sekisui Techno Molding Indonesia ... 45

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 46

5.1 Analisis Data Penelitian ... 46

5.2 Interprestasi Data / Pembahasan ... 47

5.2.1 Perhitungan Faktor Pembobotan Hirarki Untuk Semua Kriteria ... 47

5.2.2 Perhitungan Faktor Pembobotan Hirarki Untuk Kualitas ... 52

5.2.3 Perhitungan Faktor Pembobotan Hirarki Untuk Produktivitas ... 55

5.2.4 Perhitungan Faktor Pembobotan Hirarki Untuk Biaya Perawatan ... 58

5.2.5 Perhitungan Faktor Pembobotan Hirarki Untuk Serviceability ... 61

5.2.6 Perhitungan Total Rangking / Prioritas Global ... 64

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 67

6.1 Kesimpulan ... 67

6.2 Saran ... 68

DAFTAR PUSTAKA ... 69

LAMPIRAN SKRIPSI ... 71

(10)

x

DAFTAR TABEL

No. Judul Tabel Hal.

2.1 Skala Saaty untuk Perbandingan Berpasangan……….. 20

2.2 Matriks Perbandingan Berpasangan……….. 21

2.3 Tabel Nilai Indeks Random………... 24

3.1 Jadwal Kegiatan Penelitian……… 32

5.1 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki untuk Semua Kriteria……….. 48

5.2 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki untuk Semua Kriteria yang di Sederhanakan………. 49 5.3 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki untuk Semua Kriteria yang di normalkan………. 50 5.4 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki untuk Kualitas………. 52

5.5 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki untuk Kriteria kualitas yang di normalkan.………. 54 5.6 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki untuk Produktivitas ………. 55

5.7 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki untuk Kriteria Produktivitas yang di normalkan………. 57 5.8 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki untuk Biaya Perawatan ………….. 58

5.9 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki untuk Kriteria Biaya Perawatan yang di normalkan.……… 60 5.10 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki untuk Serviceability……… 61

5.11 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki untuk Kriteria Serviceability yang di normalkan………. 63 5.12 Matriks Hubungan antara Kriteria dan Alternatif ……… 64

(11)

xi

DAFTAR GAMBAR

Hal.

Gambar 2.1 Bentuk Struktur Hirarki Lengkap... 34

Gambar 4.1 Struktur Organisasi………... 39

Gambar 4.2 Peta Letak PT. Sekisui Techno Molding Indonesia... 40

Gambar 4.3 Contoh Produk PT. STMI... 41

Gambar 4.4 Bagian-bagian Mesin Injection... 41

Gambar 4.5 Mesin Toshiba PT. STMI………... 42

Gambar 4.6 Mesin HAITIAN PT. STMI……... 43

Gambar 4.7 Mesin Fuchunshin PT. STMI... 44

Gambar 4.8 Alur Proses manufaktur PT. STMI... 45

(12)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Hal.

Lampiran 1 Penelitian terdahulu…………... 71

Lampiran 2 Daftar Pertanyaan Wawancara... 77

Lampiran 3 Chek List Maintenance………... 78

Lampiran 4 Produktivitas... 78

Lampiran 5 Ratio Barang cacat ………... 79

Lampiran 5 Daftar Riwayat Hidup………... 80

(13)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Untuk mewujudkan proses produksi agar selalu berjalan dengan baik, maka dibutuhkan suatu manajemen yang bisa mengelola keseluruhan kegiatan produksi tersebut. Didalam proses produksi manufacture of Injection Plastik penentuan mesin untuk membuat produk dari bahan biji plastik sangatlah penting agar tercapainya proses produksi yang lebih efektif dan efisien. Mesin yang bagus memiliki faktor mempengaruhi produktivas output yang dihasilkan lebih banyak serta dapat mengurangi produk cacat serta akan meminimalisir problem lainnya.

Mesin yang bagus juga akan mengurangi biaya perbaikan.

PT. Sekisui Techno Molding Indonesia merupakan perusahaan yang berlokasi di Delta Silicon I, Jl. Angsana Raya Blok L6 No. 1, Lippo Cikarang, Sukaresmi, Cikarang Selatan, Sukaresmi, Cikarang Sel., Bekasi, Jawa Barat. PT.

Sekisui Techno Molding Indonesia bergerak di bidang Injection Plastik dengan produk-produk yang terbuat dari biji plastik. PT. Sekisui Techno Molding Indonesia memiliki beberapa customer seperti PT. Honda Prospect Motor , PT. TS Tech Indonesia , PT. Indonesia Thai Summit Plastech , PT. Suzuki Indomobil Motor, PT. Kojima Auto Technology Indonesia, PT. Meiwa Indonesia , PT.

Sekisui Indonesia, PT. Summit Adyawinsa Indonesia , PT. Toyota Boshoku Indonesia dan beberpa customer lainnya. PT. Sekisui Techno Molding Indonesia

(14)

memiliki mesin Injection Plastik dengan jumlah 13 unit dengan menghasilkan produk lebih dari 200 jenis. 13 unit mesin yang dimiliki PT. Sekisui Techno Molding Indonesia memiliki Maker yang bervarian tentunya dengan karakter mesin yang berbeda juga.

Dengan berkembangnya bisnis yang dijalankan PT. Sekisui Techno Molding Indonesia ada kemungkinan akan melebarkan bisnis dengan cara berinvestasi pengadaan mesin injection . Fungsi dari pengadaan mesin injection baru adalah untuk memperbesar operasional serta mencari peluang untuk menabah order dari customer . Untuk berinvestasi mesin injection tentunya Manajemen PT.

Sekisui Techno Molding Indonesia harus memilih mesin injection yang bagus dari beberapa maker yang bervarian tentunya dengan kualitas dan harga yang berbeda.

PT. Sekisui Techno Molding Indonesia saat ini memiliki 13 unit mesin dengan 4 maker yang berbeda .

Manajemen PT. Sekisui Techno Molding Indonesia dalam hal ini tentunya harus ada system pendukung untuk membantu Analisis pengambilan keputusan dengan tepat agar segera mendapat mesin yang bagus proses produksi yang efisien dan efektif sehingga menghasilkan produk yang berkualitas. Mencari metode Pengambilan keputusan tentunya sangat dibutuhkan agar mempermudah menejemen dalam pengambilan keputusan karena banyaknya alternatif pilihan maker mesin yang beredar di pasaran sehingga menejemen untuk memilih salah satu diantara alternatif tersebut yang merupakan hasil keputusan terbaik. Sistem pendukung keputusan dapat memberikan solusi dari suatu situasi yang kompleks dengan memberikan bobot terhadap kriteria (Suyatno,2010).

(15)

Dengan ini Sistem pendukung keputusan ini menggunakan metode AHP (Analytic Hierarchy Process). Dengan AHP (Analytic Hierarchy Process), suatu masalah yang kompleks dapat diuraikan ke dalam kriteria-kriteria tertentu yang kemudian diatur menjadi suatu bentuk hirarki sehingga permasalahan akan tampak lebih terstruktur dan sistematis.(Syaifullah:2010).

Metode AHP adalah suatu metode pengambilan keputusan yang komprehensif dan terstruktur. Metode ini meliputi proses penilaian yang dimulai dari pembobotan kriteria untuk mengetahui kepentingan masing-masing indikator, kemudian indikator yang dapat menghasilkan bobot alternatif untuk mengetahui nilai tertinggi dari alternatif yang ada.

Dengan metode AHP (Analytic Hierarchy Process) agar pengambilan keputusan pemilihan mesin yang digunakan tidak salah pilih mesin dan mendapat atau memilih mesin yang sangat baik. Dengan ini ada harapan agar peneliti bisa memberi masukan ke pada Manajemen PT. Sekisui Techno Molding Indonesia bila suatu saat akan investasi mesin dapat memberi masukan dalam memilih mesin injection yang akan di beli dengan maker yang lebih bagus atau tidak salah beli mesin yang akan berakibat merugikan perusahaan.

Berdasarkan Latar belakang diatas dan uraian- uraian di atas maka penelitian ini mendapat judul ”ANALISIS PEMILIHAN MESIN PRODUKSI INJECTION PLASTIK DENGAN METODE AHP (ANALYTIC HIERARCHY PROCESS) “ .

(16)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah kinerja mesin mesin yang ada berdasarkan kriteria Kualitas, Produktivitas, Biaya Perawatan, dan Serviceability ?

2. Mesin manakah yang memiliki kinerja yang paling bagus berdasarkan semua kriteria yang ada?

1.3 Tujuan penelitian

Tujuan dari penelitian ini untuk :

1. Menetukan hasil kinerja mesin mesin yang ada berdasarkan kriteria Kualitas, Produktivitas, Biaya Perawatan, dan Serviceability.

2. Menetukan mesin yang memiliki kinerja yang paling bagus berdasarkan semua kriteria yang sudah di tetapkan.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Bagi Peneliti sebagai sarana untuk melatih kemampuan ANALISIS agar dapat menentukan proses produksi yang lebih baik secara produktivitas yang dihasilkan, Kualitas produk yang dihasilkan, mesin rate yang digunakan , dan biaya perawatan mesin yang digunakan sehingga mendapatkan proses produksi yang efektif dan efisien.

2. Dapat memberi masukan kepada manajemen PT. Sekisui Techno Molding Indonesia dalam proses pemilihan mesin atau mengutamakan mesin yang bagus untuk digunakan.

(17)

3. Bagi Pembaca sebagai ilmu pengetahuan terhadap teori-teori yang digunakan dalam penelitian sehingga dapat di terapkan jika ada permasalahan yang sama. Bagi Pembaca bisa digunakan sebagai refrensi penelitian untuk dikembangkan guna memecahkan suatu masalah yang sama.

1.5 Sistematika Penulisan Skripsi

Sistematika penulisan skripsi yang akan dilakukan peneliti melakukan penelitian menggunakan aturan berdasarkan pada aturan sistematika yang sudah ditetapkan oleh Program Studi Manajemen STIE Pelita Bangsa (Surya Bintarti, 2015:38-48), sehingga dapat diuraikan sebagai berikut :

BAB 1 : PENDAHULUAN

Bab ini paparan tentang latar belakang dilaksanakannnya penelitian, perumusan masalah yang akan dibahas, tujuan dari penelitian ini, manfaat dari peneltian , dan batasan dan asumsi yang digunakan penelitian serta sistematika penulisannya.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Menyajikan teori-teori dari para ahli dari berbagai sumber buku-buku atau jurnal jurnal terdahulu yang melandasi penelitian ini, dimana teori-teori ini mendukung dari berbagai referensi. Selain refrensi pada BAB II ini terdapat simpulan penelitian terdahulu sebagai acuan teori yang akan di terapkan.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini diuraikan tentang tahapan-tahapan pengerjaan yang terstruktur, mulai dari tahapan persiapan , tempat penelitian, jadwal penelitian, populasi dan sample

(18)

penelitian , langkah langkah penelitian berdasarkan teori-teori dari berbagai ahli sampai tahap penarikan kesimpulan.

BAB IV : GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN

Pada bab ini menguraikan tentang gambaran umum PT. Sekisui Techno Molding Indonesia sebagai objek umum penelitian seperti Alamat lengkap perusahaan, Struktur Organisasi, Tata letak perusahaan , dan gambaran umum lainnya.

BAB V : PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Berisi data-data yang telah dikumpulkan dan diperlukan dalam penelitian untuk kemudian dilakukan pengolahan data sesuai dengan yang telah dirumuskan pada bab III, metodologi penelitian

BAB VI : KESIMPULAN

Bab ini merupakan tahapan akhir, yang mana berisikan penarikan kesimpulan terhadap hasil penelitian serta saran-sarann sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya.

(19)

7 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

Pada bab ini akan menjelaskan teori teori , penelitian terdahulu , dan kerangka penelitian sebagai acuan penelitian untuk mengANALISIS masalah dan memecahkan masalah di PT. Sekisui Techno Molding Indonesia. Adapun teori yang akan dibahas sebagai berikut.

2.1.1 Produktivitas

Menurut Blocher, Chen, Lin (2000:847) Produktivitas adalah hubungan antara berapa output yang dihasilkan dan berapa input yang dibutuhkan untuk memproduksi output tersebut. Perbandingan antara hasil yang dicapai (output) denan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input). Rumus produktivitas sebagai berikut: Produktivitas = Efektifitas menghasilkan output Efisiensi menggunakan input.

Produktivitas merupakan istilah dalam kegiatan produksi sebagai perbandingan antara luaran (output) dengan masukan (input). Menurut Herjanto, produktivitas merupakan suatu ukuran yang menyatakan bagaimana baiknya sumber daya diatur dan dimanfaatkan untuk mencapai hasil yang optimal.

Di dalam Manajemen Produksi dan Operasi, kita sering mendengar istilah Produktivitas untuk mengukur efisiensi seseorang, mesin, pabrik ataupun sistem dalam mengubah Input (masukan) menjadi Output (Keluaran) yang diinginkan.

Yang dimaksud dengan Input dalam Produktivitas ini dapat berupa sumber daya

(20)

yang digunakan seperti Modal, Tenaga Kerja, Bahan (Material) dan Energi sedangkan Output dapat berupa Jumlah Unit Produk ataupun Pendapatan yang dihasilkan. Ukuran Produktivitas biasanya dinyatakan dengan ratio yang membandingkan antara Output terhadap Input yang digunakan dalam proses produksi atau Output per Input unit.

2.1.2 Kualitas

Pengertian Kualitas merupakan salah satu aspek terpenting yang harus diperhatikan oleh perusahaan dalam mencapai profitabilitas. Pengertian dari kualitas sendiri sebenarnya sangat luas sekali. Kualitas di definisikan berdasarkan sudut pandang dan perspektif yang berbeda dari setiap individu. Deitiana (2011:64) mengungkapkan bahwa kualitas adalah saat dimana suatu produk ataupun jasa memenuhi kriteria dan keinginan konsumen.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa definisi kualitas adalah suatu keadaan dimana suatu proses mulai dari awal sampai akhir produk/jasa tersebut diproses dan sampai pada konsumennya memenuhi persyaratan produksi yang ada dan sesuai dengan harapan konsumen.

Secara umum kualitas didefinisikan terhadap lima pendekatan utama menurut Gaspersz (2012: 1-2) yakni:

1. Transcendent quality adalah suatu kondisi ideal menuju keunggulan.

2. Product-based quality adalah suatu atribut produk yang memenuhi kualitas.

3. User-based quality adalah kesesuaian atau ketepatan dalam penggunaan produk (barang atau jasa).

(21)

4. Manufacturing based quality adalah kesesuaian terhadap persyaratan- persyaratan standar.

5. Value-based quality adalah derajat keunggulan pada tingkat harga yang kompetitif.

Sehingga pernyataan Gaspersz terhadap kualitas tersebut sudah mewakili lima sudut pandang atau pendekatan kualitas yakni dari kualitas sudut pandang keadaan yang sukar untuk diukur atau bersifat abstrak dimana suatu kualitas diukur berdasarkan kondisi yang sedang berlangsung dan terdapat standar-standar untuk pencapaian kualitas. Yang kedua adalah suatu kualitas diukur menurut atribut-atribut dari produk itu sendiri seperti, bentuk kemasan, dan sebagainya.

Hal tersebut yang menjadi tolok ukur suatu barang berkualitas atau tidak. Yang ketiga adalah mengenai bagaimana suatu barang digunakan atau kesesuaian penggunaan barang terkait dengan penggunanya. Yang keempat adalah terkait dengan kesesuaian proses produksi terhadap prosedur atau ketentuan-ketentuan dalam proses produksi. Yang terakhir adalah kesesuaian harga dengan nilai suatu barang atau jasa yang diberikan.

Kualitas dari suatu perusahaan memiliki peranan yang sangat penting terutama di era globalisasi seperti sekarang ini yang menuntut adanya persaingan.

Berikut adalah implikasi dari kualitas menurut Heizer dan Render (2011:223):

1. Company reputation

Kulitas akan menempel pada suatu perusahaan baik itu baik ataupun buruk. Dari persepsi masyarakat mengenai kualitas suatu perusahaan akan mencerminkan gambaran bagaimana produk dari

(22)

perusahaan tersebut, kinerja karyawan, dan hubungan dengan pemasok.

Dengan perusahaan yang sudah memiliki image yang baik di mata masyarakat maka kepercayaan dan loyalitas dari konsumen akan meningkat yang berakhir pada peningkatan laba dari perusahaan.

2. Product liability

Produk dengan kualitas yang tinggi dapat berarti memiliki standar yang tinggi. Dengan memiliki standar yang tinggi maka kemungkinan suatu produk tersebut membahayakan konsumen akan kecil. Jika suatu produk memiliki kualitas yang rendah, maka besar kemungkinan produk tersebut akan membahayakan penggunanya dan akan berakhir pada tuntutan kepada pihak perusahaan sehingga perusahaan harus menanggung kerugian atas apa yang terjadi. Dari sudut pandang hukum, perusahaan yang tidak memenuhi standar kualitas yang baik akan dikenakan sanksi yang akan merugikan pihak perusahaan sendiri.

3. Global implications

Dampak dari kemajuan teknologi mengakibatkan peningkatan kualitas secara internasional, itulah yang terjadi pada standar kualitas pada zaman sekarang, sudah mengacu pada standarisasi internasional. Bagi perusahaan yang ingin go international tentunya harus memenuhi kriteria- kriteria yang menjadi standar internasional baik dari desain, kualitas, maupun harga.

Didalam bukunya, Hidayat (2007: 4) mengutip sebuah dimensi kualitas dari Garvin. Terdapat 9 dimensi kualitas, yaitu:

(23)

1. Performance

Merupakan kinerja dari produk tiu sendiri, bagaimana produk tersebut memiliki kesesuaian dengan fungsi utama dari produk itu sendiri.

2. Features

Merupakan karakteristik tambahan, seperti fasilitas atau kemampuan dari produk tersebut yang membedakannyadari produk yang lain.

3. Conformance

Merupakan kesesuaian produk tersebut dengan standar-standar, spesifikasi, operasi dari prosedur yang ada/ditetapkan.

4. Reliability

Merupakan keandalan dari suatu produk tersebut seperti suatu barang diandalkan karena kemungkinan rusak yang rendah maupun suatu barang tersebut memiliki kemampuan kerja yang baik.

5. Durability

Mengenai daya tahan dari suatu produk dan umur dari suatu produk.

Apakah suatu produk tersebut cepat rusak atau tidak.

6. Service

Merupakan pelayanan yang diberikan atas masalah-masalah yang timbul dari produk tersebut. Hal ini mencakup ketersediaan komponen-komponen yang diperlukan oleh produk tersebut.

7. Response

Merupakan hubungan antara produsen dengan konsumen.

8. Aesthetics

(24)

Mengenai aspek-aspek psikologi dari suatu produk seperti keindahan dan daya tarik dari produk tersebut.

9. Reputation

Kinerja yang telah tercapai dari kesuksesan yang diraih atas kepuasan konsumen, maupun citra suatu maker.

2.1.3 Biaya Perawatan

Sistem perawatan untuk pemeliharaan cukup luas, tidak hanya menyangkut langsung peralatan produksi tetapi juga menyangkut sarana dan prasarana lainnya yang ada kaitannya langsung maupun tidak langsung dengan sistem produksi.

Menururt Fandy Tjiptono dalam buku Total Quality Manajemen di kemukakan bahwa Pemeliharaan berarti memperbaiki kemampuan yang telah ada sebelumnya (2000 : 311)

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan adalah upaya yang di lakukan perusahaan untuk menjaga atau memperbaiki peralatan pabrik agar tetap dalam kondisi yang dapat menunjang tujuan organisasi. Dalam buku yang sama juga Total Quality Manajemen di kemukakan bahawa Perbaikan berarti menjadikan sesuatu menjadi lebih baik dari keadaan semula (2000 : 311)

Dalam perusahaan manufaktur, kelancaran proses produksi merupakan hal penting untuk dapat mencapai target produksi. Oleh karena itu segala sesuatu yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dalam proses produksi harus benar-benar diperhatikan.

(25)

Perusahaan manufaktur yang dalam proses produksinya menggunakan mesin, harus dapat menyiapkan mesin ada dalam kondisi baik dan mampu bekerja secara optimal sebelum proses produksi dimulai. Untuk itu kegiatan pemeliharaan dan perbaikan yang teratur dan efektif harus diselenggarakan. Setiap mesin memiliki umur ekonomis yang berbeda-beda. Semakin lama mesin digunakan untuk melakukan proses produksi maka kualitas kerjanya akan semakin berkurang, hal ini disebabkan karena banyak suku cadang yang mengalami aus dan bahkan jadi tidak berfungsi sama sekali. Untuk mengembalikan keadaan mesin seperti semula maka perlu dilakukan pemeliharaan dan perbaikan terhadap mesin tersebut. Kegiatan perbaikan dan pemeliharaan mesin tersebut akan menimbulkan suatu biaya yang disebut biaya reparasi dan pemeliharaan mesin.

2.1.4 Serviceability

Serviceability yaitu pelayanan yang diberikan sebelum penjualan, dan selama proses penjualan hingga purna jual. Karakteristik yang menunjukkan kecepatan, kenyamanan di reparasi serta keluhan yang memuaskan.Serviceability juga sering diartikan karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan, kompetensi, kemudahan, dan akurasi dalam memberikan layanan dalam perbaikan barang yang sudah di jual. Serviceability yang di harapkan di penelitian ini yaitu berharap setiap maker mesin PT. Sekisui Techno Molding Indonesia

2.1.5 AHP (Analytical Hierarchy Process)

Metode Analytical Hierarchy Process ini pertama kali dikemukan oleh Dr.

Thomas L. Saaty dari Wharton School of Business pada tahun 1970. Analytical Hierarchy Process merupakan suatu metode yang digunakan dalam proses

(26)

pengambilan keputusan suatu masalah–masalah kompleks seperti permasalahan perencanaan, penentuan alternatif, penyusunan prioritas, pemilihan kebijaksanaan, alokasi sumber, penentuan kebutuhan, peramalan kebutuhan, perencanaan kinerja, optimasi dan pemecahan konflik (Saaty, 1980). Ada beberapa kelebihan yang diperoleh dengan menggunakan AHP dalam memecahkan suatu persoalan yang kompleks (Marimin, 2004), yaitu: (1) AHP Kinerja disamakan dengan efisiensi dari sebuah produk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Secara umum dapat dikatakan bahwa produk yang memiliki kinerja baik juga memiliki kualitas yang baik.

Langkah-langkah dan prosedur dalam menyelesaikan persoalan dengan menggunakan metode AHP adalah sebagai berikut :

1. Mendefinisikan permasalahan dan menentukan solusi yang diinginkan.

2. Membuat hirarki, masalah disusun dalam suatu hirarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan subtujuan-subtujuan, kriteria dan kemungkinan alternatifalternatif pada tingkatan kriteria yang paling bawah.

3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atas kriteria yang setingkat.

Perbandingan dilakukan berdasarkan "judgment" dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya.

Beberapa kelebihan yang diperoleh dengan menggunakan AHP dalam memecahkan suatu persoalan yang kompleks (Marimin, 2004, dikutip) yaitu:

(27)

1. AHP (Analytical Hierarchy Process) membuat permasalahan yang luas dan tidak terstruktur menjadi suatu model yang fleksibel dan mudah dipahami.

2. Kompleksitas, AHP (Analytical Hierarchy Process) memecahkan permasalahan yang kompleks melalui pendekatan sistem dan pengintcgrasian secara deduktif.

3. Saling ketergantungan, AHP (Analytical Hierarchy Process) dapat digunakan pada elemen-elemen sistem yang saling bebas dan tidak memcrlukan hubungan linier.

4. Penyusunan Hirarki, AHP (Analytical Hierarchy Process) mewakili pemikiran alamiah yang cenderung mengelompokkan elemen sistem ke level-level yang berbeda dari masing-masing level berisi elemen yang serupa.

5. Pengukuran, AHP (Analytical Hierarchy Process) menyediakan skala pengukuran dan metode untuk mendapatkan prioritas.

6. Konsistensi, AHP (Analytical Hierarchy Process) mempertimbangkan konsistensi logis dalam penilaian yang digunakan untuk menentukan prioritas.

7. Sintesis, AHP (Analytical Hierarchy Process) mengarah pada perkiraan keseluruhan mengenai seberapa diinginkannya masing-masing alternatif.

8. Tawar – menawar, AHP (Analytical Hierarchy Process) pertimbangan prioritas relatif faktor - faktor pada sistem sehingga orang mampu memilih alternatif terbaik berdasarkan tujuan makera.

(28)

9. Penilaian dan Konsensus, AHP (Analytical Hierarchy Process) tidak mengharuskan adanya suatu konsensus, tapi menggabungkan hasil penilaian yang berbeda.

10. Pengulangan Proses, AHP (Analytical Hierarchy Process) mampu membuat orang menyaring definisi dari suatu permasalahan dan mcngembangkan penilaian serta pengertian makera melalui proses pengulangan.

Beberapa kelemahan menggunakan metode AHP (Analytical HierarchyProcess), yaitu :

1. Ketergantungan model AHP (Analytical Hierarchy Process) pada input utamanya. Input utama ini berupa persepsi seorang ahli, sehingga dalam hal ini melibatkan subjektivitas sang ahli selain itu juga model menjadi tidak berarti jika ahli tersebut memberikan penilaian yang keliru.

2. Metode AHP (Analytical Hierarchy Process) ini hanya metode matematis tanpa ada pengujian secara statistik, sehingga tidak ada batas kepercayaan dari kebenaran model yang terbentuk.

2.2.5.1 Landasan Aksiomatik AHP

Landasan aksiomatik dari Analytical Hierarchy Process (AHP) terdiri dari 1. Reciprocal Comparison, yang mengandung arti bahwa matriks

perbandingan berpasangan yang terbentuk harus bersifat berkebalikan.

2. Homogenity, yaitu mengandung arti kesamaan dalam melakukan perbandingan. Misalnya, tidak memungkinkan membandingkan jeruk

(29)

dengan bola tenis dalam hal rasa, akan tetapi lebih relevan jika membandingkan dalam halberat.

3. Dependence, yang berarti setiap jenjang atau level mempunyai kaitan (complete hierarchy) walaupun mungkin saja terjadi hubungan yang tidak sempurna (incomplete hierarchy).

4. Expectation, yang berarti menonjolkan penilaian yang bersifat ekspektasi dan preferensi dari pengambilan keputusan. Jadi yang diutamakan bukanlah rasionalitas tetapi juga yang bersifat irasional. Penilaian dapat merupakan data kuantitatif maupun data yang bersifatkualitatif

2.2.5.2 Prinsip Prinsip Pokok AHP

Seperti permainan yang di dalamnya terdapat rule of the game (aturan bermain), penyusunan model AHP juga harus memperhatikan prinsip-prinsip yang harus dipatuhi agar dihasilkan model yang benar-benar fit (pas) dan feasible (dapat dipercaya). Ada empat hal yang menjadi prinsip-prinsip atau aksioma dalam menyusun model AHP. Thomas L. Saaty (2008:4) mengungkapkan ada tiga poin dasar yang melandasi pembentukann prinsip/aksioma AHP :

1.Atribut Properti : A adalah sekumpulan elemen n yang disebut alternative dan C adalah sekumpulan property atau atribut yang akan diperbandingkan dengan A.

2.Hubungan Berpasangan : ketika dua objek diperbandingkan atas dasar property disebut perbandingan berpasangan. Hubungan berpasangan menunjukkan lebih disukai dibandingkan property C. Hubungan berpasangan menunjukkan ketidaksamaan dengan property C.

(30)

3.Skala Fundamental : ketika P menunjukkan gambaran dari A x A ke R,f:є->P, dan P=f(C) untuk C є C. Maka dari itu, setiap pasang P (Ai,Aj)= aij menunjukkan intensitas relative yang merupakan persepsi individual property C є C dalam elemen A є A dengan berhubungan A є A :

Ai>c Aj jika dan hanya jika P (Ai,Aj)>1 Ai = c jika dan hanya jika P (Ai,Aj)=1

Dengan memperhatikan tiga landasan tersebut, maka kita dapat mendefinisikan aksioma-aksioma AHP yang penting bagi proses pengambilan keputusan (Saaty 2008).

Prinsip 1 : Reciprocal Comparison, artinya ada sesuatu yang diperbandingkan dan dinyatakan dengan preferensi antara dua hal, dimana preferensi tersebut harus memenuhi syarat resiprokal. Misalnya ada dua hal yang dibandingkan, A dengan B, bila A lebih disukai dari pada B dengan skala x, maka B lebih disukai dari A dengan skala 1/x.

Pelanggaran terhadap aksiomam ini menunjukkan bahwa preferensi dari dua pasang elemen adalah tidak tepat atau tidak jelas yang mengakibatkan hasil perhitungan AHP menjadi tidak konsisten.

Prinsip 2 : Homogenity (homogenitas), setiap elemen yang dibandingkan harus bersifat homogeny (parallel) dan dapat dinyatakan dalam skala yang terbatas.

Prinsip ini mengacu pada pengertian bahwa elemen-elemen yang dibandingkan harus masuk akal. Bila aksioma ini tidak dipenuhi, maka elemen-elemen yang tidak homogeny harus diturunkan/dikelompokkan dalam suatu cluster yang baru.

(31)

Aksioma Homogenitas sebenarnya menjelaskan keterbatasan otak manusia dalam membuat perbandingan terutama untuk elemen-elemen yang kurang jelas hubungannya satu sama lain.

Prinsip 3 : Independence, preferensi dinyatakan dengan mengasumsikan babhwa kriteria tidak dipengaruhi alternative-alternatif, melainkan dipengaruhi oleh tujuan secara keseluruhan. Ini menunjukkan pola hubungan elemen dalam AHP searah ke atas, artinya perbandingan elemen-elemen dalam satu level dipengaruhi oleh elemen-elemen dalam level diatasnya.

Pelanggaran terhadap aksioma ini mengakibatkan bentuk hierarki AHP non-linear, yang memungkinkan hubungan timbale balik antara kriteria dan alternatif, dengan demikian pemilihan kriteria dipengaruhi oleh alternatif. Metode supermatrik bias menjadi solusi kondisi seperti ini.

Prinsip 4 : Expectations, prinsip ini menyatakan bahwa hierarki diasumsikan lengkap. Hal ini untuk memungkinkan supaya kebikan/keputusan yang diambil meng-cover sluruh elemen yang ada lengkap dan detail.

2.2.5.3 Penyusunan Prioritas

Langkah pertama dalam menetapkan prioritas elemen-elemen dalam suatu persoalan keputusan adalah dengan membuat perbandingan berpasangan (pairwise comparison), yaitu elemen-elemen dibandingkan secara berpasangan terhadap suatu kriteria yang ditentukan.

Perbandingan berpasangan ini dipresentasikan dalam bentuk matriks.

Skala yang digunakan untuk mengisi matriks ini adalah 1 sampai dengan 9 (skala Saaty) dengan penjelasan pada tabel 2.1.

(32)

Tabel 2.1 Skala Saaty untuk Perbandingan Berpasangan Intensitas Definisi Keterangan Kepentingan

1 Equal Importance Kedua elemen mempunyai pengaruh (sama penting) yang sama pentingnya.

3 Weak Importance Elemen yang satu sedikit lebih penting one over another daripada elemen yang lainnya atau (sedikit lebih penting) penilaian sangat memihak satu elemen

dibandingkan pasangannya.

5 Essential or strong Elemen yang satu lebih penting daripada Importance elemen yang lainnya.

(Lebih penting)

7 Demonstrated Satu elemen jelas lebih mutlak penting Importance daripada elemen yang lainnya.

(Sangat penting)

9 Extreme Importance Satu elemen mutlak penting daripada (Mutlak lebih elemen yang lainnya pada tingkat

penting) keyakinan tertinggi.

2,4,6,8 Intermediate values Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan between the two yang berdekatan.

adjacent judgements.

Resiprokal Kebalikan Jika aktivitas i mendapat satu angka dibandingkan dengan aktivitas j, maka j memiliki nilai kebalikannya

dibandingkan dengan i.

(33)

Setelah keseluruhan proses perbandingan berpasangan dilakukan, maka dapat di bentuk matriks perbandingan berpasangan. Misalkan, terdapat n objek yang dinotasikan dengan (A1, A2, …, An) yangakan dinilai berdasarkan pada nilai tingkat kepentingannya antara lain Aidan Ajdipresentasikan dalam matriks Pair- wise Comparison. Maka hasil perbandingan dari elemen-elemen operasi tersebut membentuk matriks A berukuran n × n seperti pada tabel 2.2:

Tabel 2.2 Matriks Perbandingan Berpasangan

C A1 A2 . . . An

A1 a11 a12 . . . a1n

A2 a21 a22 . . . a2n

. . . . .

. . . . .

Am an1 an2 . . . ann

Nilai a11 adalah nilai perbandingan elemen A1 (baris) terhadap A1 (kolom) yang menyatakan hubungan :

a. Seberapa jauh tingkat kepentingan A1(baris) terhadap kriteria C dibandingkan dengan A1(kolom)atau

b. Seberapa jauh dominasi Ai(baris) terhadap Ai(kolom)atau

c. Seberapa banyak sifat kriteria C terdapat pada A1 (baris) dibandingkan dengan A1 kolom.

(34)

d. Nilai perbandingan a11 = a22 = . . . amn = 1 yaitu diagonal utama.

2.2.5.4 Eigen Value dan Eigen Vector

Untuk melengkapi pembahasan tentang eigen value dan eigen vector maka akan diberikan definisi-defini matriks dan vector

1. Matriks

Matriks adalah sekumpulan himpunan objek (bilangan riil atau kompleks, variabel–variabel) yang disusun secara persegi panjang (yang terdiri dari baris dan kolom) yang biasanya dibatasi dengan kurung siku atau biasa. Jika sebuah matriks memiliki m baris dan n kolom maka matriks tersebut berukuran (ordo) m x n.

Matriks dikatakan bujur sangkar (square matrix) jika m = n. Dan skalar–

skalarnya berada di baris ke-i dan kolom ke-j yang disebut (ij) matriks entri.

Matriks dinotasikan dengan huruf capital A,B,C , ….. . adalah elemen A yang posisinya terletak pada baris ke-i dan kolom ke-j.

2. Jenis-Jenis Matriks

Ada beberapa jenis matriks perlu diketahui, yaitu : a. Matriks Baris

Matris baris adalah matriks yang terdiri dari satu baris dan disebut juga vector baris. Contoh : A = [1 2 3]

(35)

b. Matriks Kolom

Matriks kolom adalah matriks yang terdiri dari satu kolom saja dan disebut juga vector kolom.

2.2.5.5 Uji Konsistensi Indeks dan Rasio

Dalam penilaian perbandingan berpasangan sering terjadi ketidak konsistenan dari pendapat atau preferensi yang diberikan oleh pengambil keputusan (decision maker). Konsistensi dari penilaian berpasangan tersebut dievaluasi dengan menghitung Consistency Ratio(CR). Thomas Lorie Saaty menetapkan apabila CR ≤ 0,1, maka hasil penilaian tersebut dikatakankonsisten.

Saaty telah membuktikan bahwa Indeks Konsistensi dari matriks berordo n dapat diperoleh dengan rumus:

Keterangan :

C1 = Rasio Penyimpangan (deviasi) konsistensi (consisten cyratio)

n= Ukuran matrik

Apabila CI bernilai nol, maka pairwise comparison matrix (matriks perbandingan berpasangan) tersebut konsisten. Batas ketidak konsistenan (inconsistency) yang telah ditetapkan oleh Thomas Lorie Saaty ditentukan dengan menggunakan Rasio Konsistensi (CR), adalah perbandingan indeks konsistensi dengan nilai random

(36)

indeks (RI) yang didapatkan dari suatu eksperimen oleh Oak Ridge National Laboratory kemudian dikembangkan oleh Wharton School. Nilai ini bergantung pada ordo matriks n. Dengan demikian, Rasio Konsistensi dapat dirumuskan sebagai berikut :

CR = Rasio Konsistensi

RI = Indeks Random

Nilai CI tidak akan berarti bila tidak terdapat acuan untuk menyatakan apakah CI menunjukkan suatu matriks yang konsisten atau tidak konsisten.Saaty mendapatkan nilai rata-rata Random Index (RI) seperti pada tabel berikut:

Tabel 2.3 Tabel Nilai Indeks Random Ukuran

Matriks Indeks Random

1 , 2 0,00

3 0,58

4 0,90

5 1,12

6 1,24

7 1,32

8 1,41

9 1,45

10 1,49

11 1,51

12 1,54

13 1,56

14 1,57

15 1,59

(37)

Bila matriks perbandingan berpasangan dengan nilai CR lebih kecil dari 0,1 maka ketidak konsistenan pendapat dari decision maker masih dapat diterima jika tidak maka penilaian perlu diulang. jika tidak maka penilaian perlu diulang.

2.2.5.6 Hubungan Prioritas Sebagai Eigen Vector Terhadap Konsistensi Terdapat banyak cara untuk mencari vektor prioritas dari matriks pairwise comparison. Tetapi penekanan pada konsistensi menyebabkan digunakan rumus eigen value (Mulyono, 2004). Diketahui elemen-elemen dari suatu tingkat dalam suatu hirarki adalah C1, C1,….., Cn dan bobot pengaruh makera adalah w1, w2,….., wn. Misalkan aij =wi/wj menunjukkan kekuatan Ci jika dibandingkan dengan Cj. Matriks dari angka-angka aij ini dinamakan matriks pairwise comparison, yang diberi simbol A Telah disebutkan bahwa A adalah matriks reciprocal, sehingga aij = 1/aij. Jika penilaian kita sempurna pada setiap perbandingan, maka aij = aij, ajk untuk semua i, j, k dan matriks A dinamakan konsisten. Kemudian ikuti manipulasi matematik berikut:

Dalam bentuk matriks : Aw = nw

Hal ini menunjukkan bahwa w merupakan eigen vector dari matriks A dengan eigen value n. Jika aij tidak didasarkan pada ukuran pasti (seperti wi, ….., wn), tetapi pada penilaian subyektif, maka aij akan menyimpang dari rasio wi/wj yang sesungguhnya, dan akibatnya Aw = nw tak dipenuhi lagi. Dua kenyataan dalam teori matriks memberikan kemudahan,pertama jika z1,……,zn adalah

(38)

angka-angka yang memenuhi persamaan Aw= Zw di mana Z merupakan eigen value dari matrika A, dan jika aij = 1 untuk i, maka

Karena itu, jika Aw = Zw dipenuhi, maka semua eigen value sama dengan nol, kecuali eigen value yang satu, yaitu sebesar n. Maka jelas dalam kasus konsisten, n merupakan eigen value A terbesar. Kedua, jika salah satu aij dari matriks reciprocal A berubah sangat kecil, maka eigen value juga berubah sangat kecil.

Kombinasi keduanya menjelaskan bahwa jika diagonal matriks A terdiri dari aij = 1 dan jika A konsisten, maka perubahan kecil pada aij menahan eigen value terbesar, Z mak dekat ke n, dan eigen value sisanya dekat ke nol. Karena itu persoalannya adalah jika A merupakan matriks pairwise comparison, untuk mencari vektor prioritas, harus dicari w yang memenuhi :

AW = Z max.w

Perubahan aij menyebabkan perubahan Z maksimum, penyimpangan Z maksimum dari n adalah ukuran konsistensi. Indikator terhadap konsistensi diukur melalui Consistency Index (CI). AHP mengukur seluruh konsistensi penilaian dengan menggunakan Consistency Ratio (CR). Suatu tingkat konsistensi yang tertentu memang diperlukan dalam penentuan prioritas untuk mendapatkan hasil yang sah. Nilai CR semestinya tidak lebih dari 10%. Jika tidak, penilaian yang telah dibuat mungkin secara random dan perlu revisi.

(39)

2.2 Penelitan Terdahulu

Penelitian terdahulu,merupakan hasil – hasil penelitian terdahulu yang memberikan informasi terkait dengan metode penelitian,hasil,pembahasan yang digunakan sebagai dasar perbandingan dengan penelitian yang dilakukan, penelitian terdahulu dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mustika dalam artikel Penggunaan Metode Analytical Hierarchy Process Dalam Pemilihan Lokasi Mangrove Park dalam jurnal Vol 4, No 1 (2017) menghasilkan kesimpulan Sistem Pendukung Keputusan dengan mengunakan metode AHP dapat digunakan sebagai alat bantu untuk memilih lokasi yang paling baik untuk mangrove park.Terdapat empat aspek yang mempengaruhi pemilihan lokasi yaitu keadaan lahan, View, Aksebilitas dan Infrastruktur. Setiap aspek memiliki kriteria, total kriteria yang digunakan sebanyak sepuluh kriteria yaitu area mangrove yang masih rimbun, keadaan tanah relatif datar, diperuntukkan sebagai kawasan pariwisata, view pemandangan laut, memiliki hamparan mangrove, memiliki pemandangan sunset, dapat di akses kendaraan bermotor dan pejalan kaki, jaringan air bersih, tersedia drainase dan pembuangan air kotor, tersedia jaringan listrik. Derajat konsistensi yang diperoleh pada saat pengukuran konsistensi <0.10 maka disimpulkan bahwa derajat konsistensinya memuaskan, artinya metode AHP menghasilkan solusi optimal. Alternatif lokasi yang memiliki nilai total prioritas global paling tinggi yang direkomendasikan sebagai lokasi yang terpilih yang paling baik.

Dari tiga alternatif lokasi yang dipilih, desa Bedono terpilih yang paling baik

(40)

untuk mangrove park, karena memiliki total prioritas global tertinggi, yaitu 1,2349.

2. Siti Rohana Nasution dalam dalam artike Proses Hirarki Analitik dengan Expert Choice 2000 untuk menentukan Fasilitas Pendidikan Yang Diinginkan Konsumen, dalam jurnal teknik ftup, volume 26 nomor 2 ,Juni 2013 menghasilkan kesimpulan Kesatuan (Unity)Proses Hirarki Analitik memberikan model yang tunggal, mudah dimengerti, fleksibel untuk masalah yang luas dan tidak terstruktur. Kompleksitas (Complexity)Proses Hirarki Analitik mengintegrasikan pendekatan deduktif dan sistem dalam memecahkan masalah kompleks. Ketergantungan (Interdependence) Proses Hirarki Analitik berhubungan dengan interdependence dari elemen-elemen sistem dan tidak berdasarkan berpikir linear.

3. Eko Darmanto , Noor Latifah , Nanik Susanti dalam artikel Penerapan metode AHP (Analytihic Hierarchy Process ) Untuk Menetukan Kualitas Gula Tumbu Jurnal SIMETRIS , Vol 5 No 1 April 2014 menghasilkan kesimpulan Aplikasi SPK Menentukan Kualitas Gula Tumbu ini , Sudah dapat melakukan perhitungan dengan metode AHP (Analytihic Hierarchy Process ) Lebih cepat dibanding dengan perhitungan Manual sehingga bisa lebih efisien dan tingkat ke akuratan data sudah mendekati Sempurna. Seluruh pendataan yang berhubungan dalam aplikasi SPK menentukan Kualitas Gula Tumbu ini dan dapat terorganisasi dengan baik.

4. Asma M. A. Bahurmoz dalam artikel The Analytic Hierarchy Process: A Methodology for Win-Win Management jurnal Econ. & Adm.,Vol.20 No. 1

(41)

2006 King Abdulaziz University, Jeddah, Saudi Arabia menghasilkan kesimpulan Sebagai rangkuman, AHP adalah alat yang sangat berguna bagi para manajer di banyak bidang, sosial, politik serta sektor ekonomi dan bisnis. Telah ditunjukkan bagaimana AHP bekerja. Tinjauan menyeluruh atas konsepnya dan berapa banyak bidang manajerial dapat mengambil manfaat dari AHP dalam membuat keputusan yang valid ketika data langka atau ada beragam kriteria kualitatif dan kuantitatif dan / atau ada banyak aktor atau lebih dari satu pembuat keputusan. Manajer dan pembuat keputusan menghadapi pilihan sulit di antara alternatif yang sering kompleks akan mendapat manfaat besar dari belajar dan menggunakan teknik ini.

5. Johan Oscar Ong and Dicky Salim , dalam artikel Supplier Selection Method using analytical Hierarchy Procss. Dalam Jurnal Ilmiah Teknik Industri 2014, Vol 2 No.1, hal 1~7 menghasilkan kesimpulan Metode AHP yang diusulkan, sebagai metode untuk memilih pemasok dalam keputusan multi orang dan multi kriteria, bertujuan untuk memenuhi semua permintaan dalam proses pemilihan pemasok dengan mempertimbangkan semua 5 kriteria dan 4 pemasok potensial. Kelima kriteria tersebut adalah biaya, kualitas tinggi, pengalaman pemasok, kemampuan pemasok, dan waktu tunda (pengiriman).

Metode AHP terbukti menjadi metode yang tepat yang mampu mewakili kriteria kinerja yang tepat untuk menghasilkan solusi yang kuat dalam memilih pemasok terbaik. AHP diusulkan karena termasuk mengidentifikasi indikator utama dan analisis langkah demi langkah yang terperinci. Metode ini lebih mencerminkan kriteria apa yang lebih penting bagi pemasok dan

(42)

bagi perusahaan di antara kriteria seleksi dalam proses pemilihan pemasok.

Berdasarkan tujuan dan hasil penelitian ini, CHS direkomendasikan sebagai pemasok terbaik untuk dipilih dan HIL bukan pemasok yang direkomendasikan. Karena metode ini terbukti dapat memilih pemasok berdasarkan kriteria yang diberikan dalam masalah pengambilan keputusan yang kompleks dan tidak terstruktur, rekomendasi untuk menggunakan metode ini untuk penelitian lebih lanjut yang memerlukan proses seleksi struktural dan terperinci.

6. Sotiris Politis, Matthias Klumpp, Dilay Celebi dalam artikel Analytical Hierarchy Process in Supplier Evaluation. Dalam Jurnal In: Grubbström, R.W./Hinterhuber, H.H. (eds.): 16th International Working Seminar on Production Economics, Conference Proceedings, Innsbruck 01.-05.03.2010, Innsbruck (Eigenverlag), Vol. 3, p. 411-424. Menghasilkan kesimpulan bahwa AHP dalam evaluasi pemasok menjamin hasil yang obyektif dalam keputusan tim yang mengarah pada akhir pemilihan mitra bisnis yang tepat dan meminimalkan dengan cara ini kesusahan perangkap dalam proses keputusan sukses-kritis seperti evaluasi pemasok.

(43)

31 BAB III

METODE PENELITIAN

Metodologi penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan memahami suatu objek penelitian, sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya.

(Rosady, 2003:24). Sedangkan menurut Sugiyono(2009:6), metode penelitian adalah cara-cara ilmiah untuk mendatakan data yang valid, dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan serta dibuktikan, sehingga dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah. Dari pernyataan diatas, dapat kami simpulkan bahwa metode penelitian adalah suatu proses pengumpulan data sampai dengan analisis data secara sistematis dengan tujuan untuk menyelesaikan suatu masalah atau meneliti isu tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Adapun tahapan-tahapan dalam metode penelitian ini dijelaskan sebagai berikut.

3.1 Jenis Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian maka penelitian ini termasuk ke dalam penelitian dengan pendekatan Kualitatif deskriptif . Kualitatif deskriptif dalah penelitian yang menggambarkan atau melukiskan objek peneliti-an berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya Nawawi dan Martini (1996: 73). Penelitian deskriptif kualitatif berusaha mendeskripsikanse- luruh gejala atau keadaan yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanyapa- da saat penelitian dilakukan. Mukhtar (2013: 28).

(44)

Alasan menggunakan penelitian kualitatif karena penelitian ini dilakukan guna memperoleh gambaran mendalam tentang objek penelitian yaitu mengenai baigamana Memilih mesin untuk produksi dengan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) PT. Sekisui Techno Molding Indonesia . Hirarki merupakan alat yang paling mudah untuk memahami masalah yang kompleks dimana masalah-masalah tersebut diuraikan ke dalam elemen-elemen yang bersangkutan, menyusun elemen-elemen tersebut secara hirarki dan akhirnya melakukan penilaian atas elemen-elemen tersebut sekaligus dapat menentukan keputusan apa yang diambil.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di PT. Sekisui Techno Molding Indonesia dan waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2019 .

Tabel 3.4

Jadwal Kegiatan Penelitian

NO URAIAN MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER

1 Bimbingan 1 √ √ √

2 Observasi √

3 Wawancara √

4 Analisi Data √ √

5 Pengolahan Data √

6 Bimbingan 2 √

7 Pengesahan Penelitian √

8 Ujian Skripsi √

(45)

3.3 Kerangka Pikiran

Rancangan penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif yaitu rancangan penelitian yang tidak hanya teratas pada masalah pengumpulan atau penyusunan data tetapi juga meliputi analisis dan interpretasi data tersebut. Oleh karena itu, penelitian deskriptif memungkinkan mengambil bentuk penelitian komparatif yaitu suatu penelitian yang membandingkan suatu gejala atau kriteria dengan kriteria yang lain. Tujuan dari penelitian deskriptif yaitu menghasilkan gambaran yang akurat terhadap suatu permasalahan yang sedang di teliti. Pada penelitian ini, dicari gambaran tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses pemilihan mesin untuk produksi komponen dengan nama 2wf Splash Guard Rh , 2wf Splash Guard Lh, 2xp Splash Guard Rh ,Dan 2xp Splash Guard Lh di PT.

Sekisui Techno Molding Indonesia dengan Variabel Poduktivitas , Kualitas , dan biaya Perawatan dengan memilih mesin yang terbaik diantara mesin HAITIAN , TOSHIBA ,dan FU CHUN SHIN.

Dalam menyelesaikan permasalahan dengan metode AHP ada beberapa prinsip dasar yang harus dipahami, yaitu :

a. Decomposition

Decomposition merupakan prinsip utama dalam metode AHP yang menggunakan konsep yakni menguraikan atau memecahkan persoalan yang utuh menjadi unsur-unsurnya yang diwujudkan ke dalam bentuk hirarki setelah mendefinisikan permasalahan atau persoalan. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, pemecahan dilakukan terhadap unsur-unsurnya sampai tidak mungkin dilakukan pemecahan lebih lanjut, sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari

(46)

persoalan yang hendak dipecahkan. Ada dua jenis hirarki, yaitu lengkap (complete) dan tidak lengkap (incomplete). Dalam hirarki lengkap, semua elemen pada suatu tingkat memiliki hubungan terhadap semua elemen yang ada pada tingkat berikutnya. Sementara hirarki tidak lengkap kebalikan dari hirarki lengkap.

Bentuk struktur decomposition yakni:

Gambar 3.1 Bentuk Struktur Hirarki Lengkap (Complete) TUJUAN

Produktivitas Kualitas Biaya Perawatan Serviceability

Mesin Haitian Mesin Toshiba Mesin FuChunShin

b. Synthesis of Priority

Synthesis of Priority dilakukan dengan menggunakan eigen vector method untuk mendapatkan bobot relatif bagi unsur-unsur pengambilan keputusan. Pada setiap matriks “pairwise comparison” terdapat local priority. Oleh karena “pairwise comparison” terdapat pada setiap tingkat, maka untuk mendapatkan global priority harus dilakukan sintesa di antara local priority tersebut. pengurutan elemen-elemen tersebut menurut kepentingan relatif melalui prosedur sintesa yang dinamakan priority setting.

(47)

3.4 Populasi Dan Sample

Populasi dalam penelitian ini adalah mesin Injection Plastik di PT. Sekisui Techno Molding Indonesia dengan jumlah 13 mesin .

Untuk Pengambilan sample yang digunakan dengan teknik Purosive sampling dengan kriteria sebagai berikut :

1. Mesin dengan Kapasitas produksi diatas 75 % 2. Mesin dengan Tahun pembuatanya sama.

3. Mesin yang mampu memproduksi komponen yang sama, Dalam penelitian ini komponen yang sama adalah Spash guard.

Adapun mesin yang memenuhi kriteria diatas adalah Mesin Haitian 2100 ton, Mesin Toshiba 1300 ton ,dan Mesin Fu Chun Shin 850 ton.

Penelitian.(Margono, 2004: 130) menyatakan bahwa dalam setiap penelitian, populasi yang dipilih erat hubungannya dengan masalah yang ingin dipelajari.

3.5 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Observasi, Dengan cara mengamati proses produksi di PT. Sekisui Techno Molding Indonesia .

2. Wawancara, Dengan cara membuat daftar Wawancara di bagian Produksi , Quality, dan Maintenance.

3. Data yang di peroleh merupakan data Sekunder yang di peroleh dari hasil laporan di PT. Sekisui Techno Molding Indonesia . Dengan data yang

(48)

peroleh dibagi 2 yaitu data kuantitatif yang di peroleh dari hasil laporan hasil produksi , dan kualitatif di peroleh dari bagian QC Mengenai hasil kualitas produk serta bagian Maintenance mengenai biaya perawatan mesin.

3.6 Metode Analisis Data

Dalam metode AHP dilakukan langkah-langkah sebagai berikut (Suryadi et all.,1998) :

1) Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.

2) Membuat struktur hierarki yang diawali dengan tujuan utama.

3) Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau kriteria yang setingkat.

4) Menormalkan data yaitu dengan membagi nilai dari setiap elemen didalam matriks yang berpasangan dengan nilai total dari setiap kolom.

5) Menghitung eigen value dan menguji konsistensinya. Jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi.

6) Mengulangi langkah 1,2,3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.

7) Menghitung eigen vector dari setiap matriks perbandingan berpasangan.

8) Memeriksa konsistensi hirarki.Yang diukur dalam AHP adalah rasio

konsistensi dengan melihat index konsistensi. Konsistensi yang diharapkan adalah yang mendekati sempurna agar menghasilkan keputusan yang mendekati valid.

Rasio konsistensi diharapkan kurang dari atau sama dengan 10 % atau 0,1.

(49)

37 BAB IV

GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN

4.1 Sejarah Obyek Penelitian

PT. Sekisui Techno Moulding Indonesia (STMI) merupakan perusahaan yang berlokasi di Delta Silicon I, Jl. Angsana Raya Blok L6 No. 1, Lippo Cikarang, Sukaresmi, Cikarang Selatan, Sukaresmi, Cikarang Sel., Bekasi, Jawa Barat. PT. Sekisui Techno Molding Indonesia bergerak di bidang Injection Plastik dengan produk-produk yang terbuat dari biji plastik. PT. Sekisui Techno Moulding Indonesia (STMI) perusahaan dengan 100% saham Sekisui Group Merupakan Penanaman Modal Asing dari Jepang sejak Maret 2018 Sehingga Nama yang dulu PT. ASTM diubah ke PT. SEKISUI TECHNO MOULDING INDONESIA(STMI). Dengan berubahnya nama tentunya ada perubahan yang lebih baik lagi dengan mempraktikkan layanan pelanggan berdasarkan kualitas dan teknologi yang sama dibangun di Jepang. PT. Sekisui Techno Moulding Indonesia (STMI) memiliki moto “kepercayaan dan keandalan “ dengan tujuan Perusahaan yang berkontribusi pada masyarakat.

PT. Sekisui Techno Moulding Indonesia (STMI) tersertifikasi IATF 19649 sertifikat yang wajib dimiliki oleh perusaahaan yang bergerak dalam otomotif.

Dengan dimilikinya tersertifikasi IATF 19649 maka seluruh proses manufacture harus memilki standart sesuai yang di tetapkan oleh SAI Global sebagai Assesment sertification .

(50)

PT. Sekisui Techno Moulding Indonesia (STMI) memiliki karyawan 180 orang terdiri dari HR-GA ,Marketing ,Engineering ,PPIC ,Produksi ,Purchasing ,Fainance ,Dan IT. PT. Sekisui Techno Moulding Indonesia Juga memiliki Organisasi dibawah manajemen yang di beri nama Forum Komunikasi Karyawan STMI.

PT. Sekisui Techno Molding Indonesia memiliki beberapa customer seperti PT. Honda Prospect Motor , PT. TS Tech Indonesia , PT. Indonesia Thai Summit Plastech , PT. Suzuki Indomobil Motor, PT. Kojima Auto Technology Indonesia, PT. Meiwa Indonesia , PT. Sekisui Indonesia, PT. Summit Adyawinsa Indonesia , PT. Toyota Boshoku Indonesia dan PT. Inoac Politechno Indonesia .

4.2 Visi PT. Sekisui Techno Molding Indonesia

Mempunyai Visi menjadi perusahaan plastik Injection yang kuat di dunia industri otomotif, dengan meningkatkan :

1. Kualitas Produk 2. Kualitas manusia

3. Keselamatan kerja Karyawan 4. Kualitas tanggung jawab Keuangan 5. Kualitas keselarasan dalam Lingkungan

(51)

4.3 Misi PT. Sekisui Techno Molding Indonesia

Kembali ke hakikatnya sebagai perusahaan injection molding, Mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja, Melakukan kaizen pada produktivitas dan kualitas, Melakukan pendekatan secara aktif kepada pelanggan untuk meningkatkan Order, Serta melakukan revolusi metal sebagai perusahaan injection molding Jepang.

4.4 Struktur Organisasi PT. Sekisui Techno Molding Indonesia Gambar 4.1 Struktur Organisasi

(52)

4.5 Lokasi PT. Sekisui Techno Molding Indonesia

PT. Sekisui Techno Molding Indonesia merupakan perusahaan yang berlokasi di Delta Silicon I, Jl. Angsana Raya Blok L6 No. 1, Lippo Cikarang, Sukaresmi, Cikarang Selatan, Sukaresmi, Cikarang Sel., Bekasi, Jawa Barat.

Gambar 4.2 Peta Letak PT. Sekisui Techno Molding Indonesia

4.6 Produk PT. Sekisui Techno Molding Indonesia

PT. Sekisui Techno Molding Indonesia memiliki mesin Injection Plastik dengan jumlah 13 unit dengan menghasilkan produk lebih dari 200 jenis. Salah satu produk adalah Splash Guard untuk Mobil Honda. Berikut contoh produknya :

(53)

Gambar 4.3 Contoh Produk PT. STMI

4.7 Bagian Bagian Mesin Injection Gambar 4.4 Bagian-bagian Mesin Injection

(54)

4.8 Mesin Injection Plastik PT. Sekisui Techno Molding Indonesia 1. Mesin Toshiba

Gambar 4.5 Mesin Toshiba PT. STMI

PT. Sekisui Techno Molding Indonesia memiliki mesin Toshiba 1 unit mesin dengan spesifikasi berikut ini :

1. Maker dari Jepang.

2. Tahun 2013

3. Clamp Force 1300 TON.

4. Location Ring 150 Mm.

5. Distancetie Bar Size Hxv 1310x1265 mm 6. Mould Openingstroke Min.- Max 0-2600mm 7. Clamping Thickness Min.- Max 700- 1200 mm

(55)

2. Mesin Haitian

Gambar 4.6 Mesin Haitian PT. STMI

PT. Sekisui Techno Molding Indonesia memiliki mesin Haitian 10 unit , akan tetapi sebagai objek penelitian salah satu mesin dengan spesifikasi berikut ini :

1. Maker dari China.

2. Tahun 2013

3. Clamp Force 2100 TON.

4. Location Ring 120 mm.

5. Distancetie Bar Size Hxv 1800x1600 mm 6. Mould Openingstroke Min.- Max 0-2700 mm 7. Clamping Thickness Min.- Max 800-1700 mm

(56)

3. Mesin Fu Chun Shin

Gambar 4.7 Mesin Fu Chun Shin PT. STMI

PT. Sekisui Techno Molding Indonesia memiliki mesin Fu Chun Shin 1 unit dengan spesifikasi berikut ini :

1. Maker dari China.

2. Tahun 2013

3. Clamp Force 850 TON.

4. Location Ring 200 mm.

5. Distancetie Bar Size Hxv 1060x1060 mm 6. Mould Openingstroke Min.- Max 0-1200 mm 7. Clamping Thickness Min.- Max 400- 1300 mm

(57)

4.9 Alur Proses manufaktur PT. Sekisui Techno Molding Indonesia Gambar 4.8 Alur Proses manufaktur PT. STMI

(58)

46 BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada Bab ini akan dibahas mengenai penetapan urutan prioritas dari semua kriteria-kriteria pemilihan mesin injection plastik yang layak untuk dibeli guna investasi mesin dengan metode AHP.

5.1 Analisis Data Penelitian

Tahapan Pengambilan keputusan dengan metode AHP :

1) Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.

2) Membuat struktur hierarki yang diawali dengan tujuan utama.

3) Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau kriteria yang setingkat di atasnya.

4) Menormalkan data yaitu dengan membagi nilai dari setiap elemen didalam matriks yang berpasangan dengan nilai total dari setiap kolom.

5) Menghitung eigen value dan menguji konsistensinya. Jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi.

6) Mengulangi langkah 1,2,3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.

7) Menghitung eigen vector dari setiap matriks perbandingan berpasangan.

8) Memeriksa konsistensi hirarki.

Gambar

Tabel 2.1  Skala Saaty untuk Perbandingan Berpasangan  Intensitas  Definisi  Keterangan  Kepentingan
Tabel 2.2  Matriks Perbandingan Berpasangan
Tabel 2.3  Tabel Nilai Indeks Random  Ukuran
Gambar 3.1 Bentuk Struktur Hirarki Lengkap (Complete)    TUJUAN
+7

Referensi

Dokumen terkait

Metode ini diawali dengan membentuk struktur hirarki dari permasalah yang ingin dipecahkan, struktur hirarki ini terdiri dari tujuan yang ingin dicapai atau goal,

Dari kelima kriteria yang mempengaruhi pemilihan notebook oleh mahasiswa Sistem Informasi ITHB, dengan menggunakan perhitungan metode AHP untuk mengolah kelima kriteria

XYZ merupakan salah satu penghasil unit roda empat terbesar di Indonesia. Dimana seperti yang telah diketahui, komponen mobil ini begitu banyak ragamnya. Dalam

Jika anda memberi tanda ( √ ) pada skala sebelah kanan, maka artinya adalah dalam memilih pasar modern yang akan dikembangkan lokasi 4 tingkat lebih penting dari pada

XYZ merupakan salah satu penghasil unit roda empat terbesar di Indonesia. Dimana seperti yang telah diketahui, komponen mobil ini begitu banyak ragamnya. Dalam

Sistem pendukung keputusan ini juga dibuat untuk membantu pembeli memilih laptop yang sesuai dengan kebutuhannya supaya pembeli tidak kebingungan karena banyaknya

Ibu Idria Maita, S.Kom, M.Sc selaku Sekertaris Jurusan Sistem Informasi dan juga sebagai penguji I yang telah memberikan banyak masukan dan saran dalam penulisan tugas

Kegunaan aplikasi sistem pendukung keputusan pemilihan handphone ini di harapkan pembeli atau konsumen tidak merasa binggung dalam memilih handphone, meskipun