PETERNAKAN
DITERBITKAN OLEH
FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS UDAYANA
MAJALAH ILMIAH
Volume 20 Nomor 2 Juni 2017
FERMENTABILITAS RANSUM SAPI PERAH BERBASIS JERAMI PADI YANG MENGANDUNG KONSENTRAT YANG DIFERMENTASI
Saccharomyces creviseae DAN EM-4
Hernaman I., A. R. Tarmidi, dan T. DhalikaUPAYA PERBAIKAN NUTRISI DAN PROFIL LIPIDATELUR PADA ITIK BALI YANG MENDAPATKAN SEKAM PADI MENGANDUNG DAUN NONI
(Morinda citrifolia L) DISUPLEMENTASI MULTIENZIM
Yadnya, T. G. B., I W. Wirawan, A. A. P. P. Wibawa, dan N. M. S. Sukmawati
KANDUNGAN NUTRISI SILASE JERAMI JAGUNG
MELALUI FERMENTASI POLLARD DAN MOLASES
Trisnadewi, A. A. A. S., I G. L. O. Cakra., dan I W SuarnaANALISIS PENDAPATAN USAHA PENGGEMUKAN BABI BALI YANG MENGGUNAKAN PAKAN KOMERSIAL (Studi Kasus di Desa Gerokgak-Buleleng)
Sukanata, I W., B. R. T. Putri, Suciani, dan I G. Suranjaya
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KAMBING GEMBRONG YANG TERANCAM PUNAH MELALUI SUPLEMENTASI MULTI VITAMIN-MINERAL
DALAM RANSUM BERBASIS HIJAUAN LOKAL
Tjokorda Istri Putri dan Made DewantariKUALITAS FISIK TELUR AYAM KAMPUNG YANG DIBERI RANSUM MENGANDUNG PROBIOTIK
Ardika, I N., N.W. Siti, N. M. S. Sukmawati, dan I M. Wirapartha
PERFORMA REPRODUKSI BABI BALI JANTAN DI PROVINSI BALI
SEBAGAI PLASMA NUTFAH ASLI BALI
Sumardani, N. L. G., I. W. Suberata, N. M. A. Rasna, dan I. N. Ardika
PROFILE USAHA PETERNAKAN BABI SKALA KECIL DI DESA PUHU
KECAMATAN PAYANGAN KABUPATEN GIANYAR
Suranjaya, I G., M. Dewantari, I K. W. Parimartha, dan I W. Sukanata
ISSN : 0853-8999
FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
PETERNAKAN Volume 20 Nomor 2 Juni 2017
MAJALAH ILMIAH
FERMENTABILITAS RANSUM SAPI PERAH BERBASIS JERAMI PADI YANG MENGANDUNG KONSENTRAT YANG DIFERMENTASI OLEH Saccharomyces creviseae DAN EM-4
Hernaman I., A. R. Tarmidi, dan T. Dhalika ... 45
UPAYA PERBAIKAN NUTRISI DAN PROFIL LIPIDATELUR PADA ITIK BALI YANG MENDAPATKAN SEKAM PADI MENGANDUNG DAUN NONI (Morinda citrifolia L) DISUPLEMENTASI MULTIENZIM
Yadnya, T. G. B., I W. Wirawan, A. A. P. P. Wibawa, dan N. M. S. Sukmawati ... 49
KANDUNGAN NUTRISI SILASE JERAMI JAGUNG MELALUI FERMENTASI POLLARD DAN MOLASES
Trisnadewi, A. A. A. S., I G. L. O. Cakra., dan I W Suarna ... 55
ANALISIS PENDAPATAN USAHA PENGGEMUKAN BABI BALI YANG MENGGUNAKAN PAKAN KOMERSIAL (STUDI KASUS DI DESA GEROKGAK-BULELENG)
Sukanata, I W., B. R. T. Putri, Suciani, dan I G. Suranjaya ... 60
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KAMBING GEMBRONG YANG TERANCAM PUNAH MELALUI SUPLEMENTASI MULTI VITAMIN-MINERAL DALAM RANSUM BERBASIS HIJAUAN LOKAL
Tjokorda Istri Putri dan Made Dewantari ... 64
KUALITAS FISIK TELUR AYAM KAMPUNG YANG DIBERI RANSUM MENGANDUNG PROBIOTIK
Ardika, I N., N.w. Siti, N. M. S. Sukmawati, dan I M. Wirapartha ... 68
PERFORMA REPRODUKSI BABI BALI JANTAN DI PROVINSI BALI SEBAGAI PLASMA NUTFAH ASLI BALI
Sumardani, N. L. G., I. W. Suberata, N. M. A. Rasna, dan I. N. Ardika ... 73
PROFILE USAHA PETERNAKAN BABI SKALA KECIL DI DESA PUHU KECAMATAN PAYANGAN KABUPATEN GIANYAR
Suranjaya, I G., M. Dewantari, I K. W. Parimartha, dan I W. Sukanata ... 79
Jurnal Peternakan
SUSUNAN DEWAN REDAKSI
MAJALAH ILMIAH PETERNAKAN – UNUD
KETUA PENYUNTING KOMANG BUDAARSA
WAKIL KETUA PENYUNTING NI NYOMAN SURYANI
PENYUNTING PELAKSANA 1. I GEDE MAHARDIKA
2. I WAYAN SUARNA 3. ANTONIUS WAYAN PUGER
4. I MADE SUASTA
5. I GUSTI NYOMAN GDE BIDURA 6. I MADE NURIYASA
7. GEDE SURANJAYA 8. I KETUT MANGKU BUDIASA 9. ANAK AGUNG PUTU PUTRA WIBAWA
ADMINISTRASI
I GUSTI AGUNG ISTRI ARIANI NI LUH GEDE SUMARDANI
A. A.A. SRI TRISNADEWI
ALAMAT REDAKSI
Fakultas Peternakan Universitas Udayana Jalan PB Sudirman Denpasar-Bali 80232
Email: [email protected]
PENERBIT
Fakultas Peternakan Univeritas Udayana
ISSN: 0853-8999
Hernaman I., A. R. Tarmidi, dan T. Dhalika
FERMENTABILITAS RANSUM SAPI PERAH BERBASIS JERAMI PADI YANG MENGANDUNG KONSENTRAT YANG DIFERMENTASI
OLEH Saccharomyces creviseae DAN EM-4
HERNAMAN I., A. R. TARMIDI, DAN T. DHALIKA
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran e-mail : [email protected]
ABSTRAK
Musim kemarau menyebabkan banyak peternak sapi perah memanfaatkan jerami padi sebagai pakan sumber serat, namun bahan pakan ini memiliki kualitas dan kecernaan nutrien yang rendah. Pengunaan konsentrat fermentasi diharapkan dapat menutupi kekurangan limbah tersebut dalam ransum. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dan data yang terkumpul dianalisis dengan Uji Kontras Orthogonal. Ransum percobaan terdiri atas 1) 50% jerami padi+50% konsentrat 2) 50% jerami padi+25% konsentrat+25% konsentrat terfermentasi.
3) 50% jerami padi+50% konsentrat terfermentasi. Konsentrat terfermentasi yang digunakan diperoleh dari hasil fermentasi oleh Saccharomyces cerevisiae dan Effective Microorganisms-4 (EM-4) selama 3 hari. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan konsentrat terfermentasi sebanyak 50% dalam ransum dapat menurunkan (P<0,05) produksi asam lemak terbang dan N-NH3 dalam cairan rumen dengan rataan konsentrasi yang diperoleh untuk masing-masing sebesar 114 dan 4,27 mM, namun konsentrasi ini masih dalam kisaran yang dibutuhkan oleh mikroba rumen. Kesimpulan, konsentrat termentasi dapat digunakan sampai 50% dalam ransum sapi perah berbasis jerami padi.
Kata Kunci: Microorganisms-4, fermentabilitas, jerami padi, konsentrat, Saccharomyces cerevisiae, sapi perah
THE FERMENTABILITY OF RICE STRAWS BASED DAIRY COWS’
RATION CONTAINING CONCENTRATE FERMENTED BY SACCHAROMYCES CREISEAE AND EM-4
ABSTRACT
During dry season, many dairy farmers use rice straws as fiber source of diet. However, this low quality feed has also minimal nutrients digestibility so that the use of concentrate can improve the quality of the diet. This reseach used a Completely Randomized Design and the data was analyzed with Orthogonal Contrast Test. The experimental diets consisted of 1) 50% rice straws + 50% concentrate, 2) 50% rice straws + 25% concentrate + 25%
fermented concentrate, 3) 50% rice straws + 50% fermented concentrate. Fermented concentrate was produced by fermenting concentrate with the help of Saccharomyces cerevisiae and Effective Microorganisms-4 (EM-4) for 3 days. The results showed that the use of 50% fermented concentrate decreased (P<0.05) volatile fatty acids and NH3 productions in vitro with the averaged values of 114 and 4.27 mM, respectively. These concentrations are still in the range of microbials need. It can be concluded that fermented concentrate can be used up to 50% in rice straws based dairy cows’ diets.
Keywords: Effective microorganisms-4, fermentability, rice straws, concentrate, Saccharomycescerevisiae, dairy cows
PENDAHULUAN
Kelangkaan hijauan pakan di musim kemarau memaksa peternak sapi perah memanfaatkan jerami padi sebagai pengganti rumput. Padahal jerami padi
memiliki kualaitas nutrien dan kecernaan yang rendah, sehingga tidak dapat mencukupi untuk kebutuhan sapi perah dalam memproduksi susu yang maksimal (Wanapat, 1985; Wanapat et al. 2013). Untuk melengkapi kebutuhan nutrien pada sapi perah berbasis limbah
Fermentabilitas Ransum Sapi Perah Berbasis Jerami Padi yang Mengandung Konsentrat yang Difermentasi oleh Saccharomyces Creviseae ....
pertanian hendaknya diberi pakan tambahan berupa konsentrat, dan hal ini terbukti dapat meningkatkan produktivitasnya (Wardhani dan Musofie, 1985).
Pada musim yang sama ternyata banyak juga bahan baku konsentrat yang terbatas ketersediaannya, sehingga terpaksa memanfaatkan bahan pakan alternatif berupa produk pangan yang sudah kadaluarsa. Hal ini mengingat jumlahnya yang cukup banyak seperti mie, tepung terigu, dan tepung beras afkir. Namun limbah ini seringkali mengandung zat pengawet, sudah berjamur dan bau tengik yang dikhawatirkan dapat mengurangi palatabilitas dan derajat kesehatan hewan.
Masalah tersebut sebenarnya dapat dikurangi, jika sebelum diberikan pada ternak, terlebih dahulu dio- lah melalui proses fermentasi. Penelitian telah mem- buktikan bahwa pengolahan dengan fermentasi mem- berikan banyak keuntungan diantaranya aroma pakan menjadi lebih baik, mengurangi atau menghilangkan senyawa beracun dan antinutrisi, meningkatkan kuali- tas dan palatabilitas pakan serta mampu meningkatkan produksi susu (Callaway dan Martin, 1997; Westby et al. 1997; Reddy dan Pierson 1994; Eastridge, 2006; Sal- cedo et al. 2010).
Saccharomyces cerevisieae dan Effective Microorganism-4 (EM-4) adalah mikroorganisme dan kumpulan mikroorganisme yang banyak digunakan sebagai agen yang bersifat fermentasi (peragian) dan sintetik (Umiyasih dan Anggraeny 2008;Surung, 2008).
Banyak penelitian yang menggunakan mikroorganisme tersebut sebagai agen fermentasi ternyata mampu menghasilkan kualitas pakan yang lebih baik serta produknya mampu meningkatkan produktivitas ternak.
Penelitian bertujuan untuk mengkaji fermentabilitas ransum sapi perah berbasis jerami padi yang mengandung konsentrat yang telah difermentasi oleh Saccharomyces cerevisieae dan EM-4 secara In Vitro.
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Saccaromyces cerevisiae dan EM-4 sebanyak 0,125% v/b dan 0,5% ditambahkan pada konsentrat yang tersusun dari campuran beberapa bahan baku pakan yang terdiri atas mie kering afkir, terigu afkir, tepung beras afkir, kulit kopi, dedak, ongok, kedelai, ampas kecap, molases, urea, mineral, dan premix.
Kondisi akhir konsentrat yang telah dicampur inokulum mengandung kadar air sebesar 30%. Konsentrat yang telah ditambahkan inokulum dimasukan ke dalam kantong plastik dan ditimbang sebanyak 2 kg, lalu difermentasi selama 3 hari.
Sampel konsentrat terfementrasi dicampur dengan jerami padi sesuai dengan perlakuan (Tabel 1) dan ditimbang masing-masing sebanyak 0,5g, kemudian diuji fermentabilitasnya secara in vitro (Tilley dan
Terry 1963) dengan mengunakan cairan rumen sapi perah sebagai inokulum. Setelah 3 jam masa inkubasi diambil cairan rumennya untuk diukur konsentrasi N-NH3 menggunakan metode mikrodifusi pada cawan Conway (Conway, 1962) dan konsentrasi asam lemak terbang (VFA) mengunakan seperangkat alat destilasi uap Markham (Markham, 1942).
Percobaan dilakukan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap terdiri atas 3 perlakuan dan 6 ulangan. Data yang terkumpul dilakukan analisis Uji Kontras Orthogonal (Steel dan Torrie 1993).
Tabel 1. Susunan dan Kandungan Nutrien Ransum Percobaan
No Bahan Pakan R1 R2 R3
%
1 Jerami Padi 50 50 50
2 Konsentrat 50 25 -
3 Konsentrat Terfermentasi - 25 50
Kandungan Nutrien
1 Abu (%) 16,26 16,65 17,04
2 Protein Kasar (%) 8,24 8,79 9,34
3 Lemak Kasar (%) 4,04 4,25 4,47
4 Serat Kasar (%) 27,11 26,28 25,46
5 Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (%) 44,37 44,04 43,71 6 Total Digestible Nutrient (%) 60,61 61,56 62,51
HASIL DAN PEMBAHASAN
Inkubasi secara in vitro ransum sapi perah selama 3 jam menghasilkan produk fermentasi mikroba rumen yang disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Fermentabilitas ransum sapi perah berbasis jerami padi yang mengandung berbagai level konsentrat terfermentasi
Peubah R1 R2 R3
Asam Lemak Terbang (mM) 163c 126b 114a
N-NH3 (mM) 5,86c 5,26b 4,27a
Keterangan : Superskrip yang berbeda kearah baris menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)
Tabel tersebut menunjukkan bahwa rataan tertinggi asam lemak terbang dan N-NH3 dicapai pada ransum sapi perah yang mengandung konsentrat tanpa fermentasi dan mengalami penurunan yang nyata (P<0,05) sejalan dengan meningkatnya penggunaan konsentrat terfermentasi dalam ransum. Namun secara umum masih dalam kisaran normal karena kadar asam lemak terbang dan N-NH3 yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme dalam rumen adalah 80-160 mM dan 4-14 mM, dan apabila nilai kurang dari kisaran tersebut maka proses fermentasi akan terganggu (Preston dan Leng 1987; McDonald et al. 2002).
Penurunan asam lemak terbang pada penggunaan konsentrat fermentasi disebabkan banyaknya karbohi- drat terutama pati dan gula yang telah dimanfaatkan se-
Hernaman I., A. R. Tarmidi, dan T. Dhalika
bagai sumber energi pada proses fermentasi, sehingga pasokan sumber karbohidrat bagi mikroba rumen un- tuk difermentasi menjadi asam lemak terbang menjadi berkurang yang berakibat pada produksi asam lemak terbang juga menjadi berkurang. Dengan demikian se- cara keseluruhan ransum sapi perah yang mengandung konsentrat terfermentasi memiliki konsentrasi asam le- mak terbang yang rendah. Konsentrat yang digunakan memberikan porsi setengahnyan dari ransum sapi per- ah dibandingkan dengan jerami padi. Perubahan yang terjadi pada konsentrat akan berpengaruh besar pada keseluruhan ransum.
Dalam proses fermentasi membutuhkan energi agar proses tersebut berjalan dengan baik. Menurut Fardiaz (1992) mikroorganisme menggunakan karbohidrat se- bagai sumber energi setelah terlebih dahulu dipecah menjadi glukosa. Pemecahan glukosa selanjutnya di- lakukan melalui jalur glikolisis sampai akhirnya dihasil- kan energi. Saccharomyces cerevisieae memiliki aktivi- tas dalam mencerna terutama sellulosa, pati, dan gula yang lebih (Suprayogi 2010). Dilaporkan oleh Umiyasih dan Anggraeny (2008) bahwa Saccharomyces cere- visiae yang diinkubasikan selama 72 jam pada ampas aren mempunyai serat kasar terendah. Sementara itu, EM-4 digunakan untuk mengoptimalkan pemanfaatan zat-zat makanan karena mikroorganisme yang terdapat dalam EM-4 dapat mencerna sellulosa, pati, gula (Su- rung, 2008). Menurut Sandi dan Saputra, (2012) bahwa penambahan EM-4 sebanyak 10% (v/b) pada substrat mampu menurunkan kadar serat bahan.
Di sisi lain menurunnya kadar N-amonia diduga ter- kait dengan jumlah asam lemak terbang yang dihasil- kan lebih kecil pada perlakuan yang mengandung kon- sentrat terfermentasi dibandingkan dengan konsentrat tanpa fermentasi. Asam lemak terbang digunakan oleh mikroba untuk pertumbuhan bakteri termasuk juga bakteri proteolitik. Kekurangan asam lemak terbang akan mengurangi jumlah bakteri proteolitik dalam mencerna protein menjadi N-NH3. Hal ini sesuai den- gan pendapat Bryant dan Robinson, (1962) bahwa ke- banyakan bakteri rumen memerlukan asam lemak ter- bang untuk pertumbuhannya.
Meskipun penggunaan konsentrat terfermentasi dalam ransum sapi perah berbasis jerami padi dapat menurunkan fermentabilitas dalam rumen secara in vitro, namun hasil menunjukkan masih dalam kisaran normal. Berdasarkan pengamatan secara organoleptik konsentrat terfermentasi memiliki aroma yang wangi dan lebih baik dibandingkan dengan konsentrat tanpa fermentasi, hal ini diduga akan disukai oleh ternak.
Oleh karena itu pemanfaatannya sebanyak 50% dalam ransum sapi perah tidak menjadi kendala yang berarti.
KESIMPULAN
Penggunaan konsentrat fermentasi dapat menu- runkan fermentabilitas, namun masih dapat digunakan sampai 50% dalam ransum sapi perah berbasis jerami padi.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penelitian ini didanai melalui Program Penelitian Swadana Fakultas dengan SK Dekan Fakultas Peternakan No: 178/UN6.J/KP/2014. Oleh karena itu penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Dekan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran yang telah memfasilitasi dan memberikan izin dalam melaksanakan kegiatan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Bryant, M.P. and I. M. Robinson. 1962. Some nutritional requirements of predominant cultivable ruminal bac- teria. J. Bacteriol. 84: 605- 614.
Callaway, E.S. and S.A. Martin. 1997. Effects of Saccharo- myces cereviseae culture on ruminal bacterial that utilize lactate and digest cellulose. J. Dairy Sci. 20 : 2035-2044.
Conway, E. J. 1962. Ammonia. General method,. In microdif- fusion analysis and volumetric error. Crosby Lockwood and Son Ltd., London. p. 98-100.
Eastridge M.L. (2006): Major advances in applied dairy cattle nutrition. J. Dairy Sci. 89: 1311–1323.
Fardiaz, S., 1992. Mikrobiologi Pangan I. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Markham, R. 1942. A steam distillation apparatus suitable for micro-Kjeldahl analysis. Biochem. J. 36: 790–791 McDonald P., R.A. Edward, J.F.D. Greenhagh, and C.A.
Morgan. 2002. Animal Nutrition. Ed ke-6. Gosport:
Ashford Colour Pr.
Preston T.R and R.A. Leng. 1987. Matching Ruminant Production System With Available Resources In The Tropics And Sub-Tropics. Penambul Books. Armidale Reddy, N.R. and M.D. Pierson. 1994. Reduction in anti- nuttritional toxic components in plant foods by fer- mentation. Food Research International 27: 281-290.
Salcedo, G., L. Martinez-Suller, H. Arriaga, and P. Merino.
2010. Effects of forages supplements on milk produc- tion and chemical properties, in vivo digestibility, rumen fermentation and N excretionin dairy cows offered red clover silage and corn silage or dry ground corn. Irish Journal of Agricultural and Food Research 49:115-128.
Sandi, S., dan Saputra, A. 2012. The Effect of Effective Microorganisms-4 (EM4) Addition on the Physical Quality of Sugar Cane Shoots Silage. In International
Fermentabilitas Ransum Sapi Perah Berbasis Jerami Padi yang Mengandung Konsentrat yang Difermentasi oleh Saccharomyces Creviseae ....
Seminar on Animal Industry.
Steel, R. G. D. dan J. H Torrie. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistika. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Suprayogi, W.P.S. 2010. Inkorporasi sulfur dalam protein onggok melalui teknologi Fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae. Caraka Tani XXV No.1, 34-38
Surung, M.Y. 2008. Pengaruh dosis EM-4 (effective micro- organisms-4) dalam air minum terhadap berat badan ayam buras. Jurnal Agrisitem. Vol 4. No. 2,
Tilley, J. M. A. and R. A. Terry. 1963. A two stage technique for the in vitro digestion of forage crops. J. British.
Grassl. Soc. 18: 104-111.
Umiyasih, U dan Y.N. Anggraeny. 2008. Pengaruh Fermen- tasi Saccharomyces cerevisiae terhadap Kandungan Nutrisi dan Kecernaan Ampas Pati Aren (Arenga pin- nata MERR.). Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 241-246.
Wanapat. 1985. Nutritional Aspects Of Ruminant Produc- tion In Southeast Asia With Special Reference in Thailand. Printed in Thailand by Funny Press, 549/1 Senanikom 1, Phaholyothin 32, Bangkok.
Wanapat, M., S. Kang, N. Hankla, and K.Phesatcha. 2013.
Effect of rice straw treatment on feed intake, rumen fermentation, and milk production in lactating dairy cows. African Journal of Agricultural Research. Vol.
8 (17) 1677-1687.
Wardhani, N.K. dan A. Musofie. 1985. Respon Sapi Perah Dara terhadap Pemberian Wafer Pucuk Tebu dan Rumput Gajah. Proc. Seminar Pemanfaatan Limbah Tebu untuk Pakan Ternak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. hal. 56-60.
Westby, A., A. Reilly and Z. Bainbridge. 1997. Review of the effects of fermentation on naturally occurring toxins.
Food Control. Vol. 8 No. 5/6 329-339.
Yadnya, T. G. B., I W. Wirawan, A. A. P. P. Wibawa, dan N. M. S. Sukmawati
UPAYA PERBAIKAN NUTRISI DAN PROFIL LIPIDATELUR PADA ITIK BALI YANG MENDAPATKAN SEKAM PADI MENGANDUNG DAUN NONI
(Morinda citrifolia L) DISUPLEMENTASI MULTIENZIM
YADNYA, T. G. B., I W. WIRAWAN, A. A. P. P. WIBAWA, DAN N. M. S. SUKMAWATI
Fakultas Peternakan Universitas Udayana e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya penurunan kadar kolesterol telur pada itik yang mendapatkan sekam padi yang mengandung daun noni (Morinda citrifolia L.) disuplementasi dengan multi enzim. Menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan yaitu ransum tanpa sekam padi, dan tanpa daun noni serta Starbio (A), ransum mengandung 10% sekam padi (B), ransum mengandung 10% sekam padi dan 5% daun noni (C) dan ransum mengandung 10% sekam padi, 5% daun noni serta disuplementasi multi enzim (D). Setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan dan setiap ulangan berisi empat ekor itik. Variabel yang diamati adalah konsumsi ransum, konsumsi antioksidan ransum, dan profil lipida telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 10% sekam padi dalam ransum (B) dapat meningkatkan konsumsi ransum secara nyata (P<0,05). Pemberian perlakuan C dan D dapat mengurangi konsumsi ransum serta meningkatkan kapasitas antioksidan ransum (P<0,05) dibandingkan perlakuan A. Pemberian perlakuan D juga dapat menekan total kolesterol, LDL, dan Trigliseriada sedangkan pada HDL meningkat secara nyata (P<0,05) dibandingkan dengan perlakuan A. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan pemberian 10% sekam padi yang mengandung daun noni (Morinda citrifolia L.) disuplementasi multi enzim dapat memperbaiki profil lipida telur itik bali pada fase peneluran pertama.
Kata kunci: profil lipida telur, sekam padi, multi enzim, daun noni, itik bali
THE EFFORT TO IMPROVE NUTRITION AND EGG PROFILE LIPID ON BALI DUCK FED DIET WITH RICE HULL CONTAIN NONI (MORINDA CITRIFOLIA L) LEAF
SUPPLEMENTED WITH MULTI ENZYME
ABSTRACT
The research was carried out to study the effect of egg cholesterol decrease of ducks fed with rice hull contain noni leaf (Morinda citrifolia L.) supplemented with multy enzyme. This study used a completely randomized design (CRD) consists of four treatments: diets without rice hull, noni leaf, and multi enzyme (A); diets with 10% rice hull (B); diets with 10% rice hull and 5% noni leaves (C); and diets with 10% rice hull, 5% noni leaves and supplemented multi enzyme (D). There were three replicates and four ducks in each replication. The variables observed were diet consumption, antioxidant consumption and diet, and also egg lipid profile. The results showed that 10% rice hull in diet (B) can increase diet consumption significantly (P<0,05). Treatments C and D could decrease diet consumption and diet antioxidant capacity (P<0,05) compared to treatment A. In addition, treatment D could also press the total of cholesterol, low density lipoprotein (LDL), and Triglyceride Acid (TGA). In contrast, high density lipoprotein (HDL) increased significantly compared to treatment A. The result showed that bali ducks fed with 10% rice hull contained noni leaf (Morinda citrifolia L.) and supplemented multi enzyme can increase lipid profile of bali duck eggs in the first phase.
Key world: egg lipid profile, rice hull, Morinda citrifolia L. leaf, multi enzym, bali duck eggs PENDAHULUAN
Ternak itik sangat produktif untuk menghasilkan protein hewani yang dapat diperoleh dari daging dan
telurnya (Murtidjo, 1988). Namun Setyawardani et al.
(2001), daging itik atau telur kandungan kolesterol- nya relatif tinggi, terutama telur mengandung koles- terol sebesar 340 mg/54 g telur (Anggorodi, 1984).
Upaya Perbaikan Nutrisi dan Profil Lipidatelur pada Itik Bali yang Mendapatkan Sekam Padi Mengandung Daun Noni (Morinda citrifolia L) ...
Maka dari itu perlu dimanfaatkan bahan ransum yang mengan dung senyawa yang bersifat antioksidan dian- taranya adalah daun mengkudu (Morinda citrifolia L.) yang mengan dung unsur selium (Se) dan magnesium (Mg) yang bersifat antioksidan yang dapat menetral- kan radikal bebas, serta mengandung Xeronine yang mampu membantu dalam biosintesa protein (Bangu et al., 2002). Pemanfaatan bahan ransum yang mem- punyai sifat antioksidan dapat dikombinasikan dengan bahan ransum yang berasal dari limbah pertanian atau agroindustri untuk mengurangi biaya pakan yang ha- rus dikeluarkan dalam usaha peternakan berkisar 60%
(Nitis, 1980), diantaranya adalah sekam padi. Sekam padi mempunyai kandungan serat yang tinggi (35%) dengan kandungan protein yang relatif rendah (3,1%) (Lubis, 1992). Untuk itulah perlu dimanfaatkan zat pro- biotik diantarnya adalah Starbio (Lembah Hijau, 1993).
Lebih lanjut dijelaskan bahwa Starbio mengandung enzim-enzim yang berguna dalam proses pencernaan, yaitu selulase untuk menghancurkan selulosa menjadi senyawa gula sederhana, misalnya glukosa (C6H12), lipase merombak lemak menjadi asam-asam lemak dan gliserol, dan protease merombak protein menjadi asam-asam amino. Yadnya et al. (2007) melaporkan fermentasi serbuk gergaji kayu dengan amoniasi urea dan larutan Effective Microorganism-4 (EM-4) dapat meningkatkan protein dari 0,91% menjadi 8,5% dan serat kasar dari 88% menjadi 48%., dan dicoba pada ternak itik dengan pemberian 10% serbuk gergaji ter- fermentasi tidak berpenga ruh terhadap penampilan, namun pada karkas dapat meningkat dan dapat menu- runkan kolesterol darah itik. Roni dan Yadnya (2006) melaporkan pemberian ransum mengandung sekam padi diamoniasi urea dan starbio dapat memperbaiki bobot potong dan komposisi fisik karkas, lemak tubuh serta kualitas daging pada ayam broiler. Yadnya dan Sukmawati (2006) melaporkan penggantian dedak padi dengan 50% serbuk gergaji kayu atau sekam padi yang suplememtasi Starbio tidak berpengaruh terhadap penampilan pada itik pada fase pertumbuhan. Yadnya (2010) melaporkan pemberian ransum sekam padi yang difermentasi dengan larutan EM-4 yang disuplementasi dengan Mono Sodium Glutamat (MSG) dapat mening- katkan penampilan pada itik bali. Susila et al. (2015) melaporkan pemberian ransum sekam padi yang difer- mentasi Arpergillus niger disuplementasi daun ubi ja- lar ungu dapat meningkatktkan penampilan serta mem- perbaiki kolesterol daging itik pada fase pertumbuhan.
Mengingat informasi yang terkait dengan peman- faatan sekam padi yang disuplementasi Starbio sebagai sumber mikroorganisme yang dikombinasikan dengan daun noni masih kurang, maka perlu dicoba dalam suatu penelitian dengan judul upaya perbaikan nutrisi dan profil lipidatelur pada itik bali yang mendapatkan
sekam padi mengandung daun noni (Morinda citrifolia L) disuplementasi multienzim.
MATERI DAN METODE Tempat dan Lama Penelitian
Penelitian tentang kajian pemanfaatan sekam padi dalam ransum mengandung daun noni (Morinda citrifolia L.) dilakukan di dua tempat yaitu penelitian kandang dilaksanakan di Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Bali. Penelitian sifat kimia telur dilaksanakan di Lab. Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, terutama sifat kimia telur diantaranya kadar kolesterol termasuk HDL, LDL, dan Trigliserida, kadar air, protein, dan lemak, sifat fisik terdiri atas warna kuning telur, persentase putih, kuning dan kulit, indek dan berat jenis telur dilaksanakan di Lab. Kimia Biofisik, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Kapasitas antioksidan dan antosianin ransum dilaksanakan di Lab. Kimia dan Mikroorganisme, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana.
ItikItik yang digunakan dalam penelitian adalah itik bali, umur 22 minggu sebanyak 100 ekor dengan umur dan berat yang homogen yang diperoleh dari seorang pengepul dari Kabupaten Gianyar.
Kandang dan perlengkapannya
Dalam penelitian ini menggunakan kandang sistem battery colony berlantai dua sebanyak 15 petak. setiap petak kandang mempunyai ukuran panjang 70 cm, lebar 70 cm, dan tinggi 70 cm. Kandang dilengkapi dengan tempat makanan, dan tempat minum yang terbuat dari bilah-bilah bambu yang letaknya disebelah luar, dan juga dilengkapi dengan tempat penampung kotoran serta penampung sisa makanan, dan juga dilengkapi dengan lampu untuk penerangan di waktu malam.
Komposisi Ransum
Ransum terdiri dari jagung giling, kacang kedelai, bungkil kelapa, dedak padi, tepung ikan, mineral B12, garam dapur (NaCl), dan sekam padi. Sekam padi ada yang tanpa diolah dan ada yang disuplementasi dengan multienzim yang berasal dari Starbio, dan daun noni (Morinda citrifolia L.).
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang dilaksanakan menggu- nakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu ransum tanpa sekam padi, daun noni dan Starbio (A), ransum mengandung 10% sekam padi (B), ransum mengandung 10% sekam padi dan daun noni (C), dan ransum mengandung 10% sekam padi,
Yadnya, T. G. B., I W. Wirawan, A. A. P. P. Wibawa, dan N. M. S. Sukmawati
5% daun noni dan Starbio (D). Setiap perlakuan de- ngan tiga ulangan, dan setiap ulangan berisi lima ekor itik betina umur 22 minggu dengan bobot badan yang homogen
Variabel yang diamati meliputi:
a. Konsumsi ransum: jumlah ransum yang diberikan selama penelitian dikurangi dengan sisa makanan b. Kapasitas antioksidan ransum adalah kemampuan
daripada antioksidan untuk mebetralkan radikal bebas
c. Profil lipida telur dengan metode Enzymatic Choles- terol High Performance (Broehriner, 1993).
Analisis Statistika
Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan apabila terdapat perbedaan yang nyata diantara perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan’s (Steel dan Torrie, 1989).
HASIL DAN PEMBAHASAN.
Konsumsi Ransum, Kapasitas Antioksidan Ransum, dan Nutrisi Telur
Konsumsi ransum pada itik yang mendapatkan perlakuan A selama 12 minggu adalah 10,234 kg/ekor (Tabel 3). Pemberian ransum dengan 10% sekam padi (perlakuan B) mengkonsumsi ransum 2,35% lebih tinggi (P>0,05), sedangkan pemberian perlakuan C dan D dapat menekan konsumsi ransum secara nyata (P<0,05) daripada perlakuan A. Adanya serat kasar yang tidak terfermentasi pada sekam padi yang menyebabkan kecernaan ransum lebih rendah, maka untuk memenuhi kebutuhan akan energi dan zat nutrisi lainnya maka itik harus mengkonsumsi lebih banyak agar kebutuhan energi dan zat gizi yang diperlukan bisa terpenuhi (Anggorodi, 1984). Kapasitas antioksidan ransum pada pemberian peralkuan A adalah 45,30%
(Tabel 3). Pemberian ransum B dapat menurunkan kapasitas antioksidan secara tidak nyata (P>0,05), sedangkan dengan pemberian ransum C dan D dapat meningkatkan kapasitas antioksidan ransum sebesar 21,85% dan 41,50% (P<0,05) dibandingkan pemberian ransum A (kontrol). Peningkatan kapasitas antioksidan pada ransum C dan D disebabkan adanya daun noni yang bersifat antioksidan (Prangdimurti et al., 2012) yang menyebabkan kapasitas antioksidan ransum C dan D lebih besar dari pada ransum A atau B.
Tabel 3. Kajian pemanfaatan sekam padi dalam ransum yang men- gadung daun noni (Morinda citrifolia L.) terhadap konsumsi ransum, kapasitas antioksidan ransum dan nutrisi telur itik
lakuanPer-
Variabel yang diamati Konsumsi
ransum (kg/
ekor)
Kapasitas antioksidan ransum (%)
Kadar air
telur (%) Kadar pro-
tein telur (%)Kadar lemak telur (%)
A 10,234a2) 45,30c 52,00a 12,53c 11,67a
B 10,475a 43,50c 55,00a 11,33d 12,30a
C 9,684b 55,20b 47,50b 13,53b 10,40b
D 9,467b 64,10a 38,50b 14,13a 9,83b
SEM 0,036 0,917 1,7795 0,828 0,2089
Keterangan:
1) A: ransum tanpa sekam padi (kontrol); B: ransum mengandung 10% sekam padi: C:
ransum mengandung 10% sekam padi dan daun noni; D: ransum mengandung 10%
sekam padi, daun noni dan Starbio
2) Nilai dengan huruf yang berbeda pada kolom yang sama berarti berbeda nyata (P<0,05)
3) SEM: Stardard Error of the Treatment Means
Kadar air, protein dan lemak telur pada itik yang mendapatkan ransum kontrol (A) adalah 52; 12,53 dan 11,67% (Tabel 3). Pemberian ransum B dapat mening- katkan kadar air berbeda tidak nyata (P>0,05), sedang- kan dengan perlakuan C dan D dapat menurunkan ka- dar air secara nyata (P<0,05) daripada perlakuan A.
Banyaknya kandungan air dalam telur sangat tergan- tung daripada besarnya berat kering dalam bahan. yang terkandung. Adanya daun noni mengandung xeronin Tabel 1. Komposisi bahan penyusunan ransum itik bali umur 22 -34
minggu Komposisi bahan
ransum (%) Perlakuan
A B C D
Jagung kuning 55,36 49,98 49,98 47,32
Kacang kedelai 9,37 12,45 12,45 13,88
Bungkil kelapa 11,31 9,82 9,82 7,28
Tepung ikan 10,13 8,10 8,10 10,29
Dedak padi 13,26 9,00 9,00 5,55
Sekampadi - 10,00 10,00 10,00
Daun Noni - - 5,00 5,00
Mineral B12 0,50 0,50 0,50 0,50
Multi-enzim (Starbio) - - - 0,01
NaCl 0,15 0,15 0,15 0,15
Total 100 100 100 100
Keterangan
A: ransum tanpa mengandung sekam padi dan tanpa daun noni
B: ransum mengandung 10% sekam padi tanpa Starbio dan tanpa daun noni C: ransum mengandung 10% sekam padi dan daun noni
D: ransum mengandung 10% sekam padi, daun noni dan Starbio
Tabel 2. Kandungan zat nutrisi dalam ransum penelitian itik bali umur 22 – 34 minggu
Kandungan zat
nutrisi Perlakuan Standar
A B C D
Energi metabolisme
(Kkal/kg) 28885,6 2860,8 2889,0 2895,2 2800 – 2900 1) Protein kasar (%) 17,22 16,58 16,98 17,29 15 – 17 2) Lemak kasar (%) 5,34 6,08 5,68 5,39 4 – 7 3) Serat kasar (%) 6,90 7,76 6,80 6,11 3 – 8 3)
Kalsium (%) 0,94 0,78 0,85 0,95 0,80 4)
Phosphor tersedia
(%) 0,51 0,52 0,55 0,58 0,60 4)
Keterangan :
1) NRC (1984). 2) Murtidjo (1988). 3) Morrison (1961) dan 4) Scott et al. (1982)
Upaya Perbaikan Nutrisi dan Profil Lipidatelur pada Itik Bali yang Mendapatkan Sekam Padi Mengandung Daun Noni (Morinda citrifolia L) ...
(Bangun et al., 2002) yang dapat memacu biosintesa protein, kandungan protein meningkat yang menyebab- kan berat kering telur meningkat, sedangkan kandun- gan lemak akan berkurang, dengan adanya lemak akan terhidrolisa menghasilkan air, sehingga pada perlakuan A dan B kadar airnya lebih tinggi daripada perlakuan C dan D.
Profil lipida terdiri atas total kolesterol (TK) high density lipoprotein (HDL), low density lipoprotein (LDL), dan Trigliserida (TGA) (Murray et al., 2009). Itik yang mendapatkan ransum tanpa sekam padi dan tanpa daun noni sebagai ransum kontrol (A) menghasilkan TK, HDL, LDL dan TGA adalah 246,35; 12,92; 134,48;
dan 495,55 mg/100 g (Tabel 6.4). Pemberian perlakuan B dapat menurunkan total kolesterol telur secara tidak nyata (P>0,05), sedangkan pemberian perlakuan C dan E dapat menurunkan kadar kolesterol masing – masing 13,67% dan 19,05% (P<0,05) dibandingkan dengan pemberian perlakuan A. Penurunan kolesterol dalamdaging, karena adanya senyawa yang bersifat antioksidan,misalnya Mg dan Selium (Se) yang dapat mengaktikan aktivitas dari Superoksida dismutase (SOD) yang dapat menetralkan radikal bebas (Ba- ngun et al., 2002). Adanya senyawa antioksidan dapat menghambat aktivitas kerja enzim 3 Hidroksi, Metyl-Gluteryl-Ko.A reduktase (Argawa dan Rao, 2002) sehingga berubahan dari Asam Mevalonat menjadi 3Hidroksi, 3 Metyl, Gluteryl-Ko.A berkurang produksinya , sehingga kolesterol yang terbentuk dalam jaringan atau hati berkurang sehingga kolesterol yang terakumulasi di dalam daging berkurang. Hasil penelitian ini sesuai yang diperoleh oleh Yadnya et al.,(2015), melaporkan pemberian kulit ubi jalar ungu terfermentasi dapat menurunkan kadar kolesterol pada darah dan pada daging itik bali fase pertumbuhan.
Pemberian daun Noni dalam ransum juga dapat menurunkan kadar kolesterol pada darah itik bali.
Di dalam metabolisme lipoprotein ada dua sistem pengangkutan kolesterol dari hati ke jaringan perifer adalah Low Density Lipoprotein (LDL)dan yang mengangkut kolesterol dari bagian tepi ke hati adalah High Density Lipoprotein (HDL) (Wirahadikusumah, 1985). Pemberian perlakuan B dapat meningkatkan HDL secara tidak nyata (P>0,05), sedangkan pemberian sekam padi tanpa fermentasi atau terfermentasi yang disuplementasi daun noni (perlakuan C dan D) dapat meningkatkan kadar HDL berbeda nyata (P<0,05), dengan peningkatan kadar HDL untuk mencegah terjadinya penimbunan LDL pada dinding pembuluh darah. Pemberian perlakuan B, C dan D dapat menurunkan LDL telur, karena sebagian kolesterol telah dimanfaatkan oleh jaringan perifer, karena kapasitas antioksidan ransum meningkat yang dapat menagkal aktivitas radikal bebas (Kumalaningsih,
2008). Hasil penelitian sesuai dengan yang dicoba oleh Yadnya(2013). . Pemberian perlakuan B, C ternyata ada penurunan kadar TGA berbeda tidak nyata (P>0,05), sedangkan dengan pemberian perlakuan D dapat menurunkan kadar TGA sebesar 26,31% (P<0,05) daripada perlakuan A.
Tabel 4. Profil lipida telur yang mendapatkan ransum asekam Padi terfermentasi disuplementasi daun ubi jalar ungu
Variabel Perlakuan SEM2)
A B C D
Total kolesterol
(mg/100 g) 246,35a1)235,55a 212,65b 199,40c 3,960 High density lipoprotein
(g/100 g) 12,92b 14,39ab 15,70a 15,67a 0,58 Low density lipoprotein
(mg/100 g) 134,48a 125,62b 106,7c 110,7c 2,00 Trigliserida (mg/100 g) 495,55a 495,51a 471,78a 365,15b 13,52 Keterangan;
1) Nilai dengan huruf yang berbeda pada kolom yang sama berarti berbeda nyata (P<
0,05)
2) SEM: Stardard Error of the Treatment Means
Besar kecilnya TGA sangat tergantung dari banyak sedikitnya gliserol dan asam lemak yang tersedia dalam makanan atau tergantung dari asupan ransum, Trigliserida akan terombak menjadi kolesterol dan asam lemak yang sangat bermanfaat dalam pembentukan VLDL (Very Low Density Lipoprotein) yang sangat berguna dalam metabolisme kolesterol (Wirahadikusumah, 1985). Hasil penelitian ini sesuai dengan yang diperoleh oleh Susila et al. (2016, unpublish), melaporkan pemberian sekam padi terfermentasi dapat menurunkan total kolesterol, menurunkan kadar LDL dan TGA serta dapat meningkatkan HDL daging itik bali fase pertumbuhan.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian ransum sekam padi mengandung daun noni (Morinda citrifolia L.) disuplementasi multi enzim dapat meningkatkan kapasitas antioksidan ransum, dan memperbaiki profil lipida telur itik bali pada fase peneluran pertama.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan ucapan terima kasih kepada Rektor Universitas Udayana/ Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat memberikan dana Hibah Unggulan Program Studi yang dibiayai oleh DIPA PNBP Universitas Udayana sesuai dengan Surat Perjanjian Penugasan Pelaksanaan Penelitian, Nomor :475A/UN14.1.25/PL/2016 tanggal 16 Maret 2016, melalui Dekan Fakultas Peternakan, Universitas
Yadnya, T. G. B., I W. Wirawan, A. A. P. P. Wibawa, dan N. M. S. Sukmawati
Udayana sehingga penelitian dapat berjalan dengan semestinya.
DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, R. 1984. Ilmu Makanan ternak Umum. Penerbit PT Gramedia, Jakarta.
Apriyantono, A., D. Elias., J. J. Kelley, R. S. C. Lin, and I.
R. K. Robson. 1989. Petunjuk Laboratorium Analisis Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Argawa, L. S, Rao, A.V. 2000. Role of Antioxidant Lyco- pene in Cancer and Heart Desease. J. Coll. Nutr. 19 (5): 563 -9
Bangun, A. P. Dan Sarwono, B. 2002. Sehat dengan Ramuan Tradisional Khasiat dan Manfaat Mengkudu. Agrome- dia Pustaka. Jakarta.
Bidura, I G. N. G. 2007. Aplikasi Produk Bioteknologi Pakan Ternak. Penerbit Universitas Udayana.
Hustiany, R. 2001. Identifikasi dan keragaman komponen off-odor pada daging itik. Skripsi, Fakultas Pascasar- jana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Jawi, I M., D. N. Suprapta, A. A. N. Subawa. 2008. Ubi Ja- lar Ungu Menurunkan Kadar MDA.dalam Darah dan Hati Mencit setelah Aktivitas Fisik Maksimal, Jurnal Veteriner, Juni 2008, ISSN:1411-8327.
Kumalaningsih, S. 2008. Antioksidan SOD (Superoksida dismutase) antioxidant. Centre.Com. Http ://antioxi- dant Centre, Com (Januari 2008).
Laconi, E. B. 1998. Peningkatan mutu cangkang kakao me- lalui amoniasi dengan urea dan biofermentasi dengan Pharenochaete chrysporium serta penjabarannya ke dalam formulasi ransum ruminansia. Desertasi, Pro- gram Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Larmond.E. 1977. Laboratory Method for Sensory Evalua- tion of Food. Research Branch Canada. Department of Agriculture.
Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT. Pembanguan, Jakarta.
Murtidjo, B. A. 1988. Mengelola Itik. Kanisius, Yogyakarta.
Nitis, I M. 1980. Makanan ternak salah satu sarana untuk meningkatkan produksi ternak. Pidato Ilmiah Pe- ngukuhan Guru Besar dalam Ilmu Makanan Ternak, FKHP, Universitas Udayana Denpasar.
Piliang, W.G. 1997. Straregi Penyediaan Pakan Berkelan- jutan melalui Pemanfaatan Energi Alternatif, Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Nutrisi Ternak.IPB, Bogor, 5 Juli 1997.
Prangdimurti, E., D. Mushtadi, D. M. Astawan, F. R. Za- karia. 2006. Kapasitas Antioksidan dan Hipokoles- terolemik Ekstrak Daun Suji. http :// Respository.ipb.
ac.id/123456789/42306.
Roni, N. G. K., N. M. S. Sukmawati, dan N. L. P. Sriyani.
2006. Pengaruh Pemberian Ransum Mengandung Sekam Padi Diamoniasi disuplementasi dengan Zat Probiotik terhadap Bobot Badan, Perlemakan Tubuh, dan Karkas Ayam Broiler. Laporan Penelitian, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana.
Siregar, A. P., R. B. Cumming, and D. J. Farre. 1982. The Nutrition of Meat Type Ducks II. The Effect of Fibre on Biological Perfprmance and Carica Characteristic.
Aust.J. Agric.R.
Soeparno. 2005. ilmu dan Teknologi Daging Gadjah Mada University, Press, Yogyakarta.
Setyawardani, T., D. Ningsih., D. Fernando, dan Arcawah.
2001. Pengaruh pemberian ekstrak buah nenas dan pepaya terhadap kualitas daging itik petelur afkir.
Buletin Peternakan. Fakultas Peternakan, UGM, Yogyakarta, ISSN, 0126-4400, edisi Tambahan, De- sember 2001.
Steel, R. G. D and J. M. Torrie. 1989. Priciples and Proce- dure of Statistic. Mc.Graw, Hill, Book Co Inc, New York, London.
Sumardika, I W. dan I M. Jawi. 2011.Pengaruh pemberian ekstrak daun ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L) terhadap profil lipida dan superoksida dismutase (SOD) serum darah mencit. Prosiding International, 3rd International Conference on Biociences and Bio- technology, Bali. September 21– 22.
Sukmawati, N. M., N. P. Sriyani, dan P. A. Astawa. 2008.
Respon pemberian sagu cincang (Metroxylon sagu Rottb) dalam ransum disuplementasi Starnox terha- dap peningkatan produksi dan perbaikan mutu fisik telur itik. Laporan Penelitian, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana.
Susila, T. G. O., T. G. B. Yadnya, dan N. G. K. Roni. 2016.
Kajian pemanfaatan sekam padi terfermentasi disu- plementasi daun ubi jalar ungu terhadap kapasitas antioksidan ransum, karkas, dan kadar kolesterol daging pada itik bali. Laporan Penelitian Ungggulan DIKTI, Tahun Anggaran 2016, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Denpasar.
Yadnya, T. G. B. dan N. M. S. Sukmawati. 2006. Pengaruh penggantian dedak padi dengan sekam padi dan Ser- buk gergaji kayu tang disuplementasi dengan probiotik terhadap efisiensi penggunaan ransum dan kadar asam urat darah itik Bali. Majalah Ilmiah Peternakan.
Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Terakre- ditasi No. 23a/DIKTI/Kep/2004, Volume 9, nomor 2, Tahun 2006, ISSN: 0853 – 8999
Yadnya, T. G. B., N. M. S. Sukmawati, dan I K. M. Budiasa.
2007. Pengaruh pemberian serbuk gergaji kayu yang diamoniasi terfermentasi dan daun salam dalam ran- sum terhadap penampilan, karkas dan kadar kolesterol darah itik bali. Prosiding Seminar Nasional, Fakultas Peternakan, UGM, Yogyakarta, 24 – 27 Juli 2007.
Yadnya, T. G. B. dan I M. Mudita. 2010. Pengaruh Pembem-
Upaya Perbaikan Nutrisi dan Profil Lipidatelur pada Itik Bali yang Mendapatkan Sekam Padi Mengandung Daun Noni (Morinda citrifolia L) ...
berian Monosodium Glutamat (MSG) dalam Ransum yang Disuplementasi dengan Larutan Effective Micro- organism-4 (EM-4) terhadap karkas, Asam Urat dan Kadar Protein Darah Itik Campbell. Seminar Nasional, BPTP. Denpasar Bali.
Yadnya, T. G. B. and A. A. A. S. Trisnadewi. 2011. Inproving the Nutritive of Purple Sweet Potato (Ipomoea batatas L) through Biofermentasi of Aspergillus niger as Feed Substance Containing Antioxidant. International. 3rd International Conference on Biosciences and Biotech- nology, Bali, September 21 – 22, 2011.
Yadnya, T. G. B., I. B. G. Partama, dan A. A. A. S. Trisnadewi 2012. Pengaruh pemberian ransum yang mengandung ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L) terfermentasi As- pergillus niger terhadap kecernaan ransum, retensi protein, dan pertambahan bobot badan itik bali. Pro-
siding Semnas FAI 2012 ISBN: 978 – 602 – 18810 – 0 – 2. Universitas Mercu Buana, Yogyakarta.
Yadnya, T. G. B., N. M. S. Sukmawati, dan I W. Wirawan.
2013. Pemanfaatan daun ubi jalar ungu dalam ransum disuplementasi Starpig terhadap kadar kolesterol serum darah dan karkas itik bali. Makalah Seminar Nasional. Fakultas Agroindustri, Universitas Mercu Buana, Yogyakarta, 9 Oktober 2013.
Yadnya, T. G. B., I G. L. Oka, I G. A. I. Aryani, dan A. A. A. S.
Trisnadewi. 2013. Kajian Pengaruh Pemanfaatan Daun Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L), Daun Mengkudu (Morinda citrifolia L), dan Daun Sirih) (Piper betle L) dalam Ransum terhadap Profil Kimia Darah Itik Bali.
Laporan Penelitian, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana.
Trisnadewi, A. A. A. S., I G. L. O. Cakra., dan I W Suarna
KANDUNGAN NUTRISI SILASE JERAMI JAGUNG MELALUI FERMENTASI POLLARD DAN MOLASES
TRISNADEWI, A. A. A. S., I G. L. O. CAKRA., DAN I W SUARNA
Fakultas Peternakan Universitas Udayana e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Kendala utama penggunaan jerami jagung sebagai pakan adalah kandungan protein yang rendah dan tinggi serat kasar sehingga perlu diberi perlakuan untuk meningkatkan nilai nutrisinya. Tujuan penelitian adalah menentukan formulasi silase jerami jagung terbaik dengan menggunakan pollard dan molases terhadap kandungan nutrisi silase. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang empat kali, sehingga terdapat 24 unit percobaan. Keempat perlakuan tersebut adalah A = 100%
jerami jagung + 20% pollard + 0% molases; B = 100% jerami jagung + 10% pollard + 10% molases; C = 100%
jerami jagung + 0% pollard + 20% molases; D = 100% jerami jagung + 10% pollard + 0% molases; E = 100%
jerami jagung + 5% pollard + 5% molases; dan F = 100% jerami jagung + 10% pollard + 0% molases. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah kandungan bahan kering (BK), bahan organik (BO), energi, serat kasar (SK), protein kasar (PK), abu, bahan ektrak tanpa nitrogen (BETN), dan total digestible nutrient (TDN) Hasil penelitian menunjukkan bahwa silase jerami jagung pada perlakuan A yaitu silase jerami jagung dengan suplementasi 20%
pollard menunjukkan kualitas nutrisi yang paling baik dibandingkan perlakuan lainnya.
Kata kunci: jerami jagung, silase, kandungan nutrisi
NUTRIENT CONTENT OF CORN STRAW SILAGE TRHOUGH POLLARD AND MOLASES FERMENTATION
ABSTRACT
The main constraints of corn straw is low protein and high crude fiber content. The effort to overcome the lack of corn waste is giving treatment before offering to animal or through preservation process, so the nutrient content could increase. The research aim to determine the best silage formulation using pollard and molasses to the nutrient value. The experiment use completely randomized design (CRD) with four treatments and four times replication, so it has 16 units experiment. The four treatments are treatment A = 100% corn straw + 20% pollard + 0% molases; B
= 100% corn straw + 10% pollard + 10% molases; C = 100% corn straw + 0% pollard + 20% molases; D = 100% corn straw 10% pollard + 0% molases; E = 100% corn straw + 5% pollard + 5% molases; dan F = 100% corn straw 10%
pollard + 0% molases. Variables observe are nutrient content including dry matter, organic matter, energy, crude fiber, crude protein and ash. The results showed that corn straw silage with 20% pollard suplementation (treatment A) is the best in nutrient content.
Key words: corn straw, silage, nutrient content PENDAHULUAN
Penggunaan rumput sebagai sumber serat dan sum- ber energi pada ternak ruminansia bisa dikombinasikan dengan penggunaan limbah tanaman pertanian. Salah satu limbah yang berpotensi digunakan sebagai sumber serat adalah limbah tanaman jagung. Pada saat musim panen ketersediaan limbah tanaman jagung cukup tinggi sehingga bisa dimanfaatkan sebagai pakan ter-
nak ruminansia. Limbah tanaman jagung yang bisa di- manfaatkan sebagai pakan ternak adalah bagian daun, batang, tongkol dan kulit tongkol. Menurut Rekso- hadiprodjo (1994), jerami jagung merupakan sisa dari tanaman jagung setelah buahnya dipanen dan dapat diberikan pada ternak, baik dalam bentuk segar mau- pun dalam bentuk kering. Pemanfaatan jerami jagung sebagai pakan ternak telah dilakukan terutama untuk ternak sapi, kambing, domba.
Kandungan Nutrisi Silase Jerami Jagung Melalui Fermentasi Pollard dan Molases
Jerami jagung merupakan hasil ikutan bertanam jagung dengan tingkat produksi mencapai 4-5 ton/ha.
Kandungan nutrisi jerami jagung diantaranya protein 5,56%, serat kasar 33,58%, lemak kasar 1,25, abu 7,28 dan BETN 52,32% (BPTP Sumatera Barat, 2011). Data di atas menunjukkan bahwa kendala utama penggunaan limbah tanaman pertanian termasuk jagung sebagai pakan adalah nilai nutrisi yang rendah terutama tingginya kandungan serat kasar dan kandungan protein yang rendah. Kandungan serat kasar yang tinggi menyebabkan rendahnya kecernaan limbah tanaman jagung. Upaya untuk mengatasi keterbatasan limbah tanaman jagung adalah dengan memberi perlakuan sebelum diberikan pada ternak atau melalui proses pengawetan sehingga kandungan nutrisinya dapat ditingkatkan. Menurut Hanafi (2008) bahwa untuk meningkatkan nilai gizi dari pakan ternak yang umum dilakukan adalah dengan membuat menjadi hijauan kering (hay), penambahan urea (amoniasai), dan awetan hijauan (silase). Selanjutnya Kartasujana (2001) menyatakan bahwa silase berasal dari hijauan makanan ternak ataupun limbah pertanian yang diawetkan dalam keadaan segar (dengan kandungan air 60-70%) melalui proses fermentasi dalam silo (tempat pembuatan silase), sedangkan ensilage adalah proses pembuatan silase. Yuniarsih dan Nappu (2013) mengutip dari hasil analisa Lab. Kimia Pakan Unhas (2012) bahwa kandungan nutrisi jerami jagung (daun) adalah protein kasar 5,80%, serat kasar 27,38%, lemak kasar 2,90%
dan abu 20,8.21%. Hidayat (2014) mendapatkan bahwa dengan pelayuan yang baik (kadar air hijauan ± 60 %) penggunaan aditif tetes dengan level 1 – 3 % maupun katul dengan level 5 – 15 dapat mempertahankan karakteristik dan kandungan gizi silase rumput raja dibanding penggunaan onggok 5 – 15 persen.
Mengingat belum ada informasi tentang formulasi silase jagung dengan menggunakan pollard dan mola- ses maka dilakukan penelitian untuk menentukan kan- dungan nutrisi silase yang berasal dari limbah tanaman jagung.
MATERI DAN METODE Materi
Bahan yang digunakan dalam pembuatan silase jerami jagung adalah jerami jagung, pollard, dan mo- lases. Alat-alat yang digunakan antara lain pisau untuk memotong jerami jagung, papan sebagai alas pemo- tong, lembaran plastik/terpal untuk mencampur silase, kantong plastik sebagai silo.
Tempat dan lama penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Udayana.
Pembuatan silase
Jerami jagung dipotong-potong dengan ukuran 3-5 cm, di atasnya ditaburkan pollard dan molases sesuai perlakuan. Campur semua bahan secara merata, kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik, ditekan dan dimampatkan sampai tidak ada udara di dalam kantong plastik sehingga tercipta keadaan anaerob.
Selanjutnya diikat erat dan disimpan di tempat yang sejuk dan tidak terkena matahari. Analisa laboratorium dilakukan setelah pemeraman berlangsung selama 21 hari.
Rancangan percobaan
Rancangan yang dipergunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan empat ulangan, sehingga terdapat 24 unit percobaan. Keenam perlakuan adalah A = 100%
jerami jagung + 20% pollard + 0% molases; B = 100%
jerami jagung + 10% pollard + 10% molases; C = 100%
jerami jagung + 0% pollard + 20% molases; D = 100%
jerami jagung + 10% pollard + 0% molases; E = 100%
jerami jagung + 5% pollard + 5% molases; dan F = 100%
jerami jagung + 10% pollard + 0% molases.
Peubah yang diamati
Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah kandungan bahan kering (BK), bahan organik (BO), serat kasar (SK), protein kasar (PK), dan abu.
Analisis Statistik
Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis dengan menggunakan sidik ragam, apabila nilai rataan perlakuan berpengaruh nyata pada peubah dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf 5% (Steel dan Torrie, 1991).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bahan kering pada perlakuan D adalah 94,68% dan nyata lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan A, B, C, dan F masing-masing 3,11%, 3,43%, 3,36%, dan 4,02%, sedangkan dengan perlakuan E menunjukkan perbedaan yang tidak nyata yaitu 2,21% lebih tinggi.
Pemberian suplementasi pollard yang lebih rendah dibandingkan dengan molases baik pada 20% (per- lakuan A, B, dan C) dan 10% (perlakuan D, E, dan F) cenderung menurunkan bahan kering silase jerami ja- gung. Pollard mengandung bahan kering yang lebih tinggi dibandingkan dengan molases sehingga ketika disuplementasi pada jerami jagung menyebabkan kan- dungan bahan kering silase jerami jagung juga menin- gkat. Menurut Hartadi et al. (1986) pollard merupakan limbah dari pengolahan gandum. Kandungan nutrisin- ya cukup baik yaitu berat kering 87,32%; protein kasar
Trisnadewi, A. A. A. S., I G. L. O. Cakra., dan I W Suarna
13,66%; abu 3,51%; serat kasar 6,22%; lemak 4,06%;
BETN 59,85; kalsium (Ca) 0,08%; fosfor 0,63%; energi 4032 kkal/g. Sedangkan molases memiliki kandungan protein kasar 3,1 %; serat kasar 0,6 %, BETN 83,5 %, lemak kasar 0,9 %, dan abu 11,9 %.
Bahan organik tertinggi pada perlakuan D yaitu 93,40% sedangkan perlakuan A, C, E, dan F masing- masing 0,07%, 4,08%, 1,69%, dan 3,35% % nyata (P<0,05) lebih rendah dibandingkan perlakuan D.
Perlakuan B adalah 0,86% lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan D tetapi berbeda tidak nyata (P>0,05). Semakin menurunnya persentase pollard baik pada suplementasi 20% maupun 10% menyebabkan menurunnya kadar bahan organik silase jerami jagung. Hal ini mengikuti kecenderungan seperti pada kandungan bahan kering jerami jagung karena bahan organik merupakan bagian dari bahan kering. Jika kandungan bahan kering tinggi maka bahan organik juga tinggi begitu juga sebaliknya apabila kandungan bahan kering rendah maka kandungan bahan organik juga menurun. Hal ini disebabkan karena bahan organik merupakan bagian dari bahan kering, sehingga semakin tinggi konsumsi bahan kering maka konsumsi bahan organik akan cenderung meningkat. Menurut Tillman et al. (1998) bahan organik adalah bagian terbesar bahan kering, sehingga peningkatan bahan kering meningkatkan bahan organik
Kadar abu tertinggi pada perlakuan C yaitu 10,44%, sedangkan perlakuan A, B, D, E, dan F masing-mas- ing 35,88%, 28,83%, 26,95%, 21,39, dan 6,54% nyata (P<0,05) lebih rendah. Antara perlakuan B dan D menun- jukkan perbedaan tidak nyata (P>0,5). Kadar abu sema- kin meningkat dengan semakin menurunnya persentase pollard baik pada suplementasi 20% maupun 10%.
Protein kasar tertinggi pada perlakuan A yaitu 16,19% dan nyata lebih tinggi (P<0,05) masing-masing 12,25%, 21,27%, 8,21%, 14,14%, dan 18,73% pada perlakuan B, C, D, E, dan F. Perlakuan B 2,15% dan 7,
38% tidak nyata (P>0,05) lebih tinggi dibandingkan perlakuan E dan F, sedangkan perlakuan B 4,41%
lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan D tetapi berbeda tidak nyata (P>0,05). Semakin menurunnya persentase pollard baik pada suplementasi 20%
maupun 10% menyebabkan menurunnya kadar protein kasar silase jerami jagung (Tabel 1). Dilihat dari kandungan protein kasar maka dapat dijelaskan bahwa tingginya protein kasar pada silase jerami jagung perlakuan A besar kemungkinan disebabkan oleh terbentuknya protein dari pertumbuhan mikroba, dimana pada silase perlakuan A dengan adanya pollard yang cukup mengandung protein dapat menghasilkan nitrogen (N) sebagai sumber N bagi mikroba. Hal ini juga dapat dihubungkan dengan kandungan bahan organik, dimana semakin tinggi kandungan bahan organik berarti pencernaan oleh mikroba semakin tinggi. Disamping itu karena kandungan protein kasar pada pollard lebih tinggi daripada molases masing- masing 13,66% dan 3,1% (Hartadi et al., 1986). Hidayat (2014) pada penelitiannya mendapatkan semakin tinggi level tetes maupun bekatul kandungan protein kasar cenderung semakin meningkat dibandingkan onggok.
Kandungan serat kasar semakin meningkat dengan menurunnya suplementasi pollard baik 20% maupun 10%. Kandungan serat kasar tertinggi pada perlakuan F yaitu 22,59%, sedangkan perlakuan A, B, dan C masing- masing 33,01%, 24,77%, dan 11,74% nyata (P<0,05) lebih rendah dibandingkan perlakuan F. Perlakuan D dan E masing-masing 6,33% dan 7,24% tidak nyata (P>0,05) lebih rendah dibandingkan perlakuan F.
Kandungan serat kasar semakin meningkat dengan menurunnya suplementasi pollard dan meningkatnya suplementasi molases pada 20% maupun 10%.
Penggunaan suplementasi molases 20% (perlakuan C) kandungan serat kasar silase jerami jagung lebih rendah dibandingkan suplementasi 10% molases (perlakuan F). Hal ini kemungkinan dengan penggunaan suplemen Tabel 1. Kandungan nutrisi silase jerami jagung
Variabel Perlakuan1)
SEM2)
A B C D E F
Bahan kering (%) 91,74 a 91,43 a 91,50 a 94,68 b 92,59 ab 90,87 a 0,80
Bahan organik (%) 93,31 e 92,57 d 89,56 a 92,37 d 91,79 c 90,24 b 0,13
Abu (%) 6,69 a 7,43 b 10,44 e 7,63 b 8,21 c 9,76 d 0,13
Protein kasar (%) 16,19 d 14,21 bc 12,75 a 14,86 c 13,90abc 13,16 ab 0,43
Serat kasar (%) 15,13 a 17,00 b 19,94 c 21,16 cd 20,96 cd 22,59 d 0,60
Lemak kasar (%) 7,12 d 6,08 c 4,75 ab 6,67 cd 5,33 b 4,35 a 0,23
Bahan ekstrak tanpa nitrogen (%) 46,59 c 46,72 c 43,62 b 43,78 b 44,20 bc 41,01 a 0,86 Total Digestible Nutrient (%) 35,53 c 32,59 c 27,61 b 22,76 a 24,73 ab 22,22 a 1,23
Keterangan:
1) A = 100% jerami jagung + 20% pollard+ 0% molases; B = 100% jerami jagung +10% pollard + 10% molases; C = 100% jerami jagung + 0% pollard + 20% molases; D = 100% jerami jagung +10% pollard + 0% molases; E = 100% jerami jagung + 5% pollard + 5% molases; F = 100% jerami jagung + 0% pollard + 10% molases
2) Standard Error of the Treatment Means
3) Huruf berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)
Kandungan Nutrisi Silase Jerami Jagung Melalui Fermentasi Pollard dan Molases
yang lebih tinggi (20%) maka proses ensilase akan lebih sempurna sehingga dapat menurunkan kadar serat kasar. Molases memiliki kandungan protein kasar 3,1 %;
serat kasar 0,6 %, BETN 83,5 %, lemak kasar 0,9 %, dan abu 11,9 % (Pond et al., 1995). Kandungan serat kasar silase silase jerami jagung perlakuan A nyata paling rendah dibandingkan dengan yang lainnya. Hal ini juga berhubungan dengan kuantitas dan kualitas mikroba pada silase perlakuan A lebih tinggi sehingga dapat mencerna serat kasar lebih tinggi yang mengakibatkan kandungan serat kasar pada silase jerami jagung perlakuan A paling rendah. Hasil penelitian Hidayat (2014) mendapatkan adanya kecenderungan semakin tinggi level tetes maupun katul kandungan serat kasarnya semakin menurun dibandingkan onggok.
Kandungan lemak kasar tertinggi pada perlakuan A yaitu 7,1226% dan nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan perlakuan B, C, E, dan F masing- masing 14,64%, 33,31%, 25,23%, 38,88%. Sedangkan antara perlakuan A dengan D, dan perlakuan B dan D menunjukkan perbedaan tidak nyata (P>0,05). Terdapat kecenderungan bahwa kandungan lemak kasar semakin menurun dengan semakin menurunnya suplementasi pollard pada silase baik pada suplementasi 20% maupun 10%. Hal ini disebabkan karena kandungan lemak kasar pollard lebih tinggi dibandingkan dengan molases.
Amrullah et al. (2015) mendapatkan lemak kasar pada silase limbah sayuran dengan penambahan dedak padi lebih tinggi dibandingkan dengan tepung gaplek dan molases yang disebabkan karena kemampuan bakteri asam laktat dalam memecah lemak sebagai nutrisi dalam pertumbuhannya memiliki pengaruh yang berbeda-beda pada masing-masing perlakuan.
Bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) tertinggi pada perlakuan B yaitu 46,7163 masing-masing 0,27% dan 5,39% pada perlakuan B dan E tidak nyata (P>0,05) lebih tinggi. Perlakuan C, D, da, F masing-masing 6,63%, 6,29%, dan 12,22% nyata lebih tinggi dibandingkan perlakuan A. Amrullah et al. (2015) menyatakan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) merupakan bagian dari bahan makanan yang mengandung karbohidrat, gula dan pati. Bahan ekstrak tanpa nitrogen ini dibutuhkan dalam proses ensilase sebagai sumber energi bagi bakteri asam laktat dalam melakukan fermentasi.
Total Digestible Nutrient (TDN) tertinggi pada perlakuan A yaitu 35,5261 dan masing-masing 22,29%, 35,93%, 30,40%, dan 37,46% nyata lebih tinggi dibandingkan perlakuan C, D, E, dan F, sedangkan perlakuan A 8,25% tidak nyata (P>0,05) lebih tinggi dibandingkan perlakuan B. Tingginya TDN pada perlakuan A kemungkinan disebabkan karena kandungan protein kasar yang juga tinggi. Siregar (1994) menyatakan bahwa semua pakan mengandung zat-zat makanan yang dapat menjadi sumber energi,
yakni protein, serat kasar, lemak dan bahan ekstraktanpa nitrogen (BETN).
Berdasarkan kandungan nutrisinya yaitu bahan kering, bahan organik, protein kasar, serat kasar, bahan ekstrak tanpa nitrogen dan TDN maka silase A memiliki kuantitas nutrisi yang paling baik dibandingkan dengan silase lainnya. Hal ini terjadi karena pada silase A menggunakan aditif polard 20%. Hal yang sama juga dapat dilihat pada silase jerami jagung perlakuan E dan F jika dibandingkan dengan silase jerami jagung perlakuan D maka jelas terlihat perlakuan D terbaik.
Ini juga sebagai akibat penggunaan aditif polard tetapi dengan jumlah aditif 10%. Dari 6 kombinasi perlakuan yang dicobakan maka dapat dikatakan bahwa suplementasi pollard sebagai aditif lebih baik dibandingkan dengan molases.
SIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa silase jerami jagung dengan 20% pollard menunjukkan kan- dungan nutrisi tertinggi dibanding perlakuan lainnya,
UCAPAN TERIMAKASIH
Peneliti mengucapkan terimakasih kepada Direk- torat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direk- torat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui dana Hibah Bersaing sehingga tulisan ini dapat diselesaikan.
DAFTAR PUSTAKA
Amrullah, F. A., Liman, dan Erwanto. 2015. Pengaruh penambahan berbagai jenis sumber karbohidrat pada silase limbah sayuran terhadap kadar lemak kasar, serat kasar, protein kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen. Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol.
3(4): 221-227.
BPTP Sumatera Barat. 2011. Teknologi Pembuatan Silase Jagung untuk Pakan Sapi Potong. Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indone- sia. Sumber: http//sumbar.litbang.pertanian.go.id.
Diakses 15 Maret 2015..
Hanafi, N. D., 2008. Teknologi Pengawetan Pakan Ternak.
Medan: USU Repository. Diakses 8 Februari 2014 Hartadi, H. S. Reksohadiprodjo, dan A. Tillman. 1986. Ta-
bel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Hidayat, N. 2014. Karakteristik dan kualitas silase rum- put raja menggunakan berbagai sumber dan tingkat penambahan karbohidrat fermentable. Agripet Vol 14, No. 1, April 2014.
Trisnadewi, A. A. A. S., I G. L. O. Cakra., dan I W Suarna
Kartasudjana, R. 2001. Modul Program Keahlian Budi- daya Ternak, Mengawetkan Hijauan Pakan Ternak.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Proyek Pengembangan Sistem dan Standar Pengelolaan SMK Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.
Pond, W.G., D.C. Church and K.R. Pond. 1995. Basic Animal Nutrition and Feeding. 4th ed. John Willey and Sons, Canada
Reksohadiprodjo. 1994. Produksi Hijauan Makanan Ternak Tropika. BPFE. Yogyakarta.
Siregar, S.B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Steel, R. G. D., and J. H. Torrie. 1991. Prinsip dan Posedur Statistik. Suatu Pendekatan Biometrik. Edisi Kedua.
Alih bahasa B. Sumantri. Jakarta. Gramedia.
Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S.
Prawirokusumo, dan S. Lebdosoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan keenam. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Yuniarsih, E. T. dan M. B. Nappu. 2013. Pemanfaatan lim- bah jagung sebagai pakan ternak di sulawesi selatan.
Prosiding. Seminar Nasional Serealia, hlm 329-338.