• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DAN PASAR GLOBAL SERTA TREN INDUSTRI MAKANAN HALAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DAN PASAR GLOBAL SERTA TREN INDUSTRI MAKANAN HALAL"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

38 BAB II

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DAN PASAR GLOBAL SERTA TREN INDUSTRI MAKANAN HALAL

Pada bab ini akan menggambarkan arah perkembangan perekonomian dan jangkauan pasar global yang terus berkembang dalam rangka menumbuhkan perekonomian nasional bagi negara-negara yang terlibat didalamnya. Analisis mengenai ekspansi pasar ini menjadi penting guna melihat potensi-potensi baru dalam dunia perekonomian internasional, salah satunya adalah potensi pasar halal yang cukup menjanjikan karena tersedianya konsumen dengan jumlah yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya populasi masyarakat muslim di dunia yang tidak lain merupakan target utama pasar tersebut. Peningkatan ini kemudian secara signifikan akan mempengaruhi tingginya daya konsumsi yang akan bermanfaat bagi keberlangsungan perekonomian global.

Selain itu, bab ini juga akan membahas perkembangan tren usaha yang dijalankan oleh negara-negara di dunia untuk dapat menjadi pemain utama di pasar global dimana pengembangan sektor industri makanan halal merupakan salah satu usaha yang paling popular didalamnya. Komponen-komponen analisis ini akan dibahas secara terstruktur melalui sub-bab dibawah yang diawali dengan pembahasan terkait perekonomian global dan tren ekspansi pasar global secara umum, potensi serta perkembangan pasar halal di negara-negara di dunia, dan perkembangan industri produk makanan halal.

(2)

39 2.1 Arah Perkembangan Perekonomian dan Industri Halal Global

Perekonomian adalah salah satu aspek penting dalam mengukur kesejahteraan suatu masyarakat, rasionalitas hal tersebut adalah jika suatu negara memiliki ekonomi yang tidak stabil, maka masyarakat secara langsung (direct) mendapatkan dampaknya. Dampak yang di maksud yakni salah satunya seperti sulitnya suatu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Atas hal tersebut kemudian menjadikan aspek ekonomi menjadi tolak ukur dalam klasifikasi suatu negara dikatakan negara maju atau negara berkembang.

Peningkatan atau pertumbuhan ekonomi menjadi fokus utama bagi berbagai negara di belahan dunia. Bila aspek ekonomi suatu negara tinggi, maka akan turut mempengaruhi aspek penting lainnya, seperti keamanan, politik, dan juga kesejahteraan sosial. Beberapa alasan tersebut juga menjadikan aspek ekonomi menjadi aspek yang memerlukan perhatian lebih dan orientasi aspek tersebut tidak hanya pada tatanan domestik saja, melainkan juga pada tatanan global.1

Dewasa ini, globalisasi terus berkembang dengan tujuan pencapaian peningkatan ekonomi bagi negara-negara di seluruh dunia. perkembangan tersebut tidak terlepas dari pemanfaatan perkembangan teknologi dan komunikasi yang ada yang mendukung kegiatan ekspansi pasar berbagai negara. Kondisi tersebut menjadikan tidak terlihatnya border antara negara-negara di dunia dalam melaksanakan kerja sama, hal demikian mudah terjadi akibat dari kemajuan teknologi khususnya dalam berkomunikasi, sekaligus kemajuan tersebut mampu

1 Zisca Veybe Sumolang., Op.Cit.

(3)

40 mempersempit jarak yang ada. Sehingga hal tersebut menjadi sebab lahir dan mudahnya sebuah perdagangan bebas berjalan. Selain itu juga terdapat satu keuntungan dari kemajuan teknologi tersebut yakni meningkatnya Foreign Direct Investment (FDI) atau investasi yang dilakukan oleh negara di luar negaranya

sendiri secara langsung. Hal ini kemudian menjadi penggerak banyaknya kerjasama lintas negara. Berikut data berbagai negara sebagai tujuan dari aktivitas FDI tersebut.

Grafik 2.1 Negara-negara Tujuan FDI di ASEAN

Sumber: Data diolah dari Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) berdasarkan United Nations Conference on Trade and Development

(UNCTAD).2

Pada negara-negara ASEAN misalnya, terlihat pada data grafik di atas menunjukkan Thailand menempati peringkat ketiga sebagai destinasi penting FDI setelah Singapura dan Indonesia, dengan Jepang menjadi negara yang turut berkontribusi sekitar 60% dari total pemasukan, dengan sektor tertingginya adalah manufaktur, keuangan dan asuransi, real estate, kendaraan bermotor serta

2 OECD Investment Policy Review: Thailand, diakses dalam https://www.oecd-

ilibrary.org/sites/59874f17-en/index.html?itemId=/content/component/59874f17-en (17/11/2021 14.53 WIB)

(4)

41 informasi dan komunikasi.3 Sebanyak kurang lebih 4.000 perusahaan Jepang beroperasi di Thailand sejak tahun 2016, dan pada tahun 2015 tercatat telah melakukan investasi sebesar US$ 4,2 miliar dengan perusahaan terbesar adalah Toyota.4

Selain globalisasi memiliki keuntungan, globalisasi juga memiliki dampak negatif bagi negara, contohnya yaitu mampu menciptakan kondisi ekonomi yang tidak setara, dimana ada kecenderungan dari negara maju. Selain itu juga, globalisasi mampu mengancam kedaulatan negara karena bebasnya perusahaan global masuk ke dalam suatu negara.5 Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwasanya sebuah Negara tidak bisa menolak perkembangan dari globalisasi tersebut, karena akan membuat negara tersebut menjadi negara yang tertinggal dan sulit bersaing dalam tatanan global.

Garis batas negara yang tidak terlihat dalam melakukan kerjasama ini kemudian membuat mudahnya suatu negara melakukan perjanjian kerjasama internasional, seperti contoh, banyaknya kerjasama antar negara yang dilakukan seperti ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Agreement (AANZFTA), Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan contoh kerjasama antarnegara dalam bidang ekonomi.6

3 Ibid

4 Aldi Abidin, Foreign Direct Investment Thailand, diakses dalam

https://forbil.id/investasi/foreign-direct-investment-thailand/aldi-abidin/ (17/11/2021 16.05 WIB)

5 Justin Kuepper, The Impact of Globalization on Economic Growth, diakses dalam https://www.thebalance.com/globalization-and-its-impact-on-economic-growth-1978843 (11/11/2021)

6 Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/BAPPENAS 2015, Perkembangan Ekonomi Indonesia dan Dunia, diakses dalam

https://www.bappenas.go.id/blocks/policy_paper_viewer/Laporan_Triwulan_IV_Tahun_2015_De puti_Ekonomi_Bappenas.pdf (30/9/2021 15.23 WIB)

(5)

42 Pentingnya menciptakan inovasi dalam melakukan kegiatan ekonomi ini juga yang kemudian melihat potensi dari dunia Islam. Populasi muslim yang terus mengalami peningkatan setiap tahun kemudian menjadikan pasar halal sebagai pasar yang cukup menjanjikan dikarenakan apabila populasi Islam terus meningkat, maka biaya konsumsi yang dikeluarkan juga semakin besar, tidak hanya daya konsumsi pada industri makanan, namun juga terhadap industri halal lainnya. Pada tahun 2015, Indonesia menjadi negara dengan populasi Islam tertinggi di dunia yaitu sebesar 219.960.000 jiwa yang diestimasikan akan mengalami peningkatan pada tahun 2060 hingga 333.090.000 jiwa.7

2.2 Potensi Pasar Halal di Negara-negara non-Muslim

Pasar makanan halal merupakan salah satu pasar konsumen terbesar di dunia sebagaimana dalam Stated of The Global Islamic Economy Report dalam Thomson Reuters.8 Kemudian berdasarkan data, umat Islam menghabiskan 16,6 persen dari total pengeluaran makanan global yang pada akhirnya menyebabkan pasar makanan halal sebagai salah satu pasar makanan terbesar di dunia.9

Secara historis, pasar Halal global disumbang oleh pertumbuhan populasi Muslim global. Pertumbuhan penduduk muslim dunia akan mengalami peningkatan sebesar 35 persen dari 1,6 miliar pada 2010 menjadi 2,2 miliar pada

7 Pew Research Center, The Countries with the 10 largest Christian Populations and The 10 Largest Muslim Populations, diakses dalam https://www.pewresearch.org/fact-

tank/2019/04/01/the-countries-with-the-10-largest-christian-populations-and-the-10-largest- muslim-populations/ (31/9/2021 9.48 WIB)

8 Rininta Nurrachmi, The Global Development of Halal Food Industry: A Survey, 2017 dalam https://www.researchgate.net/publication/324151189 (diakses pada 05/04/2022, 20;00)

9 Ibid

(6)

43 2030.10 Oleh karena itu pasar makanan halal akan terus mendominasi pasar makanan global karena umat Islam harus mengkonsumsi makanan halal terlepas dari apakah mereka hidup dalam masyarakat mayoritas atau minoritas Muslim.11

Pada era globalisasi saat ini juga berdampak pada kesadaran mengkonsumsi makanan halal yang tidak hanya datang dari kalangan muslim melainkan juga non muslim, hal demikian terjadi karena adanya anggapan rasa aman untuk membeli produk halal. Selain itu, fokus pada umur simpan dan kesegaran yang dibutuhkan untuk makanan adalah alasan mengapa industri makanan halal sangat menarik.12

Kondisi ini mendorong munculnya dan pertumbuhan pasar makanan halal dengan penerimaan yang luas di kalangan konsumen non-Muslim yang menganggap makanan halal sebagai produk yang aman, higienis, berkualitas dan sehat. Peluang ini dimanfaatkan oleh negara-negara maju seperti Jepang, Inggris, dan Australia juga negara berkembang seperti Indonesia, Thailand dan Malaysia yang sebagian besar bergantung pada manufaktur otomotif dan elektronik. Mereka menganggap bahwa segmen makanan halal merupakan katalis dalam mengembangkan sektor potensial lainnya yang terkena dampak negatif dari gejolak ekonomi.

10 The Pew Research Center, 2011, dalam Runita Nurrachmi dalam jurnal Tazkia Islamic Finance and Business Review, The Global Development of Halal Food Industry: A Survey. 2017.

11 Razzaque dan Chaudhry, 2013, dalam Runita Nurrachmi dalam jurnal Tazkia Islamic Finance and Business Review, The Global Development of Halal Food Industry: A Survey. 2017.

12 Ibid

(7)

44 Saat ini Islam telah menjadi agama dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Berdasarkan data dalam penelitian yang dilakukan oleh Rininta Nurrachmi13 menyatakan bahwa populasi Muslim di antara anggota OKI (Organization Islamic Committee) terdiri dari Asia (805 juta), Afrika (300 juta) dan Timur Tengah (210 juta). Dengan pertumbuhan makanan halal di pasar global, statistik menunjukkan bahwa negara-negara Muslim terbesar berada di negara-negara Asia dengan 63,3% dari total pasar Halal.14Negara-negara maju seperti Jepang, Australia dan Inggris misalnya menghadirkan permintaan yang tinggi akan produk halal yang sesuai dengan orientasi gaya hidup pada kenyamanan. Berikut disajikan data industri makanan halal di negara maju.

Tabel 2.1

Data Industri Makanan Halal di Negara Maju Negara Maju Jepang Australia UK Jumlah umat

Muslim

0,14% dari 127,3 juta

2,25% dari 23,1 juta

4,8% dari 64,1 juta

Ukuran pasar untuk industri Makanan Halal (2014)

USD 888,325 (JYP 120 Juta)

USD 1,016 juta (AUD 1.420 juta)

USD 1.462 Juta (1 billion UK Pound)

Sumber Makanan Halal

Self production Self production Self production

Ekosistem Fokus pada penyediaan menu makanan halal di universitas, bandara internasional

Fokus pada daging produksi Exporters for Halal red meat to Organization

Fokus pada produksi daging dan unggas

13 Rininta Nurrachmi. The Global Development of Halal Food Industry: A Survey, Jurnal Tazkia Islamic Finance and Business Review, 2017 Volume 11(1)

14 Ibid

(8)

45 Ekspor makanan

dan minuman halal ke ASEAN

Islamic

Committee (OIC) countries (OKI) Manajemen

Rantai Persediaan

Sebagian besar pertanian komersial

Sebagian besar pertanian komersial

Sebagian besar komersial peternakan Sertifikasi

Halal

JHA Menggunakan standar JAKIM Malaysia

Program Halal resmi pemerintah Australia

(AGAHP)

Otoritas

Makanan Halal (HFA)

Sources: www.bt.com.bn; www.theguardian.com; www.boi.go.th;

www.bangkokpost.com; www.salaamgateway.com; www.Moslempopulation.com;

Minister of International Trade and Industry Malaysia (2015); Australian Government Department of Agriculture (2014); Mori (2014).

Berdasarkan data tersebut dapat dijelaskan bahwa market size makanan halal di tahun 2014 mampu mencapai lebih dari USD 1 juta. Adapun sumber konsumen tidak hanya berasal dari Muslim, melainkan juga berasal dari pemeluk agama lain yang juga membeli makanan halal dengan alasan keamanan. Selain itu, Inggris misalnya dengan populasi Muslim sekitar 3 juta memiliki konsumsi daging halal yang tinggi yaitu lebih dari 6 juta dolar dengan kontribusi permintaan dari non-Muslim.

Melalui data tersebut potensi pasar halal food pada negara non-Muslim sangat tinggi, rata-rata konsumsi mampu melampaui dua kali lipat dari jumlah penduduk muslim pada suatu negara tersebut. Secara sederhana rasionalisasi dari tingginya angka konsumsi tersebut dikarenakan rasa aman terhadap produk halal.

(9)

46 2.3 Perkembangan Industri Halal Dunia

Dalam beberapa tahun terakhir, industri halal telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan, karena telah banyak aspek kehidupan yang telah dipengaruhi oleh nilai halal. Tidak hanya makanan dan minuman saja, namun industri halal telah menyebar ke sektor pariwisata, busana, pemasaran, logistik dan lain-lain. Tingginya minat terhadap produk halal menjadikan organisasi hingga negara mengusung halal di dalam kebijakan mereka, sehingga memberikan dampak kepada PDB suatu negara, meningkatkan kesadaran akan jaminan mutu halal bahkan meningkatkan daya konsumerisme terkait gaya hidup halal.15

2.3.1 Perkembangan Industri Makanan Halal Thailand

Populasi Muslim saat ini sebesar 2,18 miliar yang merupakan 28,26% dari total populasi meningkat 1,84% per tahun.16 Selain itu, pendapatan rata-rata per kapita (PDB) Muslim telah meningkat dari USD$1763 menjadi USD$10,728 dari tahun 1993 hingga 2015 dan 57 Negara OKI memiliki PDB gabungan sebesar USD 27,9 triliun. Statistik tersebut menunjukkan potensi terkait industri halal seperti industri makanan, pariwisata, busana, ataupun kosmetik halal untuk memasuki pasar konsumen Muslim global.

Sektor makanan halal turut menjadi bagian industri halal dengan pertumbuhan tercepat dalam perekonomian secara global dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 20%.. Pada tahun 2016 ukuran pasar halal global diperkirakan mencapai US$ 5,73 triliun dan diproyeksikan mencapai US$ 6,53

15 Unititled. Seeing the Potetial of The Global Halal Industry. ISEF. Retrieved 2022, Juli 19.

16 Rininta Nurrachmi. Op.Cit..

(10)

47 triliun pada 2024. Salah satu komponen industri halal yang potensial dan berkembang pesat adalah sektor makanan.

Berdasarkan data tersebut, memberikan gambaran bahwa industri halal telah berkembang dengan cepat dan progresif. Akan tetapi perlu diketahui cakupan halal tidak hanya berfokus pada industri makanan saja melainkan telah berkembang pada beberapa sektor seperti; kosmetik, produk kesehatan, farmasi dan alat kesehatan, serta komponen sektor jasa seperti pemasaran, logistik cetak dan media, pengemasan dan pembiayaan.17 Selain itu, dengan meningkatnya populasi Muslim, industri halal telah berkembang lebih jauh ke dalam penawaran gaya hidup termasuk perjalanan Halal, fashion dan perhotelan.18

Industri halal tidak eksklusif terhadap negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim saja, melainkan juga diterima pada negara-negara dengan minoritas penduduk muslim. Terdapat beberapa negara non-Muslim seperti Jepang, Australia dan Thailand telah mengakui tren global yang muncul dalam konsumerisme terhadap produk dan layanan Halal yang pada gilirannya mencoba memasuki industri Halal.19

Peluang pada industri halal saat ini menjadi sangat menarik, terutama perkembangan pendapatan melalui perkembangan teknologi pada masing-masing sektor. Platform keterlacakan halal pada industri makanan, misalnya, mampu memberikan konektivitas untuk seluruh rantai pasokan mulai dari produsen hingga auditor dan lembaga sertifikasi, sementara perusahaan fintech yang mulai

17 KNKS, Is the Halal Industry Becoming More Attractive than Before? diakses dalam

https://knks.go.id/hotissue/19/is-the-halal-industry-becoming-more-attractive-than-before. Diakses pada 3 Jun. 2022.

18 Ibid.

19 Ibid.

(11)

48 mempertimbangkan aspek syariah terhadap produk sebagai alternatif pembiayaan bisnis. Di sektor gaya hidup halal, layanan gaya hidup Islami berbasis aplikasi dapat menjadi salah satu investasi signifikan bagi investor, pemerintah, dan bisnis.20

Beberapa sektor halal antara lain industri makanan dan minuman, kosmetik, produk kesehatan, farmasi hingga pengemasan dan pembiayaan, sektor makanan dan minuman. Sektor makanan dan minuman menjadi sektor halal unggulan berdasarkan kategori sebesar US$1,37 triliun, diikuti oleh pakaian sebesar US$283 miliar, belanja media dan rekreasi sebesar US$220 miliar, dan belanja pariwisata serta obat-obatan dan kosmetik konsumen masing-masing sebesar US$189 miliar dan US$156 miliar.21 Potensi dari pasar halal khususnya makanan juga kemudian dilirik oleh Thailand untuk mereka kembangkan.

Thailand mulai melihat pentingnya untuk mengkonsumsi makanan halal bagi masyarakat Islam ini dilatarbelakangi oleh kegagalan ekspor produk unggas dari Thailand ke negara-negara di Timur Tengah, karena tidak adanya jaminan halal terkait produk unggas tersebut sehingga tidak adanya kepercayaan untuk mengkonsumsi produk Thailand. Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi Pemerintah memberikan bantuan dana untuk melahirkan Halal Standar Institute of Thailand pada tahun 2003 di bawah kebijakan CICOT yang berguna sebagai pusat laboratorium di Universitas Chulalongkorn.22 Meskipun memiliki penduduk

20 Ibid.

21Ibid.

22 Nugrah Novita Nurarbani. Upaya Thailand Menggunakan Halal Food sebagai Soft Power Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Diakses pada 21/7/2022 dalam

(12)

49 bermayoritaskan Buddha, Thailand menunjukkan potensi yang cukup kuat dengan menempati urutan ke-5 di dalam produk halal global.23

Dalam perjalanannya, Thailand menjadi salah satu negara minoritas penduduk Islam yang mengadopsi nilai halal dalam industri makanannya yang terkenal dengan cita rasa pedas manis yang dimilikinya. Namun, keseriusan Thailand dapat dilihat melalui prestasi Thailand dalam memproduksi serta mengekspor produk halal mereka, terbukti dengan Thailand berhasil menjadi urutan ke-5 sebagai produsen makanan halal.24 Selain plan kitchen of the world, yang merupakan misi Thailand untuk menjadikan Thailand sebagai pusat pangan dunia, Thailand juga memiliki strategi lainnya dalam mempromosikan industri makanan halalnya, yaitu melalui Global Thai, yang memiliki tujuan yang hampir sama dengan plan kitchen of the world, yaitu untuk memperkenalkan kekayaan industri makanannya ke mancanegara.25 Selain itu, keseriusan Thailand terhadap industri makanan halal ini melahirkan HAL-Q (Halal Assurance and Liability Quality System) sebagai wadah bagi masyarakat Islam terkait jaminan kualitas makanan halal yang akan dikonsumsi oleh masyarakat Islam.

Dalam mengembangkan industri makanan halal ini, pemerintah bekerjasama dengan sektor swasta di dalam proses produksi hingga pemasaran poduk halal tersebut. Diakuinya potensi dari pasar halal yang mampu mempengaruhi ekonomi nasional kemudian menciptakan hubungan kerjasama http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/19567/11.%20Naskah%20Publikasi.pdf?s equence=1

23 Mohd Saiful Anwar. Halal Food Industry Thailand: History, Prospect, and Challenges. IHMC 2017.

24 Untitled. The Rise of Thai Halal Industry. Retrieved 2022, July 21.

https://www.chula.ac.th/en/clipping/50789/

25 Nugrah Novita Nurarbani. Op.Cit.

(13)

50 antara pelaku usaha, lembaga Islam dan pemerintah untuk memanfaatkan hasil pertanian mereka. Kerjasama antar aktor inilah kemudian menjadikan ekspor produk halal Thailand terbesar ke-10 di dunia dengan pendapatan total USD 6 milyar atau setara dengan 22% dari total ekspor makanan secara keseluruhan.26

2.3.2 Sektor Pariwisata sebagai Salah Satu Industri Halal

Pengaruh dari globalisasi dan kemajuan teknologi memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan pariwisata hingga awal tahun 2020. Para wisatawan diuntungkan dari tiket pesawat yang lebih murah, peluang untuk merencanakan dan memesan perjalanan mereka sendiri secara mudah dan kemudian berbagi pengalaman mereka secara online. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2018 mengidentifikasi 4

mega-tren yang akan membentuk masa depan pariwisata di tahun 2040, seperti permintaan pengunjung yang terus berkembang, pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan, teknologi yang memungkinkan, mobilitas perjalanan. Pertumbuhan diproyeksikan akan terus berlanjut, dipengaruhi oleh perubahan demografi, kondisi lingkungan, dan inovasi.27

Akan tetapi pada tahun 2019 pariwisata global terhenti saat dimana munculnya pandemi Covid-19 yang menyebabkan pemberlakukan karantina dan pembatasan jarak. Berbagai bentuk kegiatan ekonomi, terutama pariwisata, menderita akibat guncangan langsung dan besar pada sektor tersebut. Kurang dari

26 Abi Abdul Jabbar. (2018, Agustus 21). Seriusi Industri Halal, Thailand Masuk 10 Besar Pengekspor Produk Makanan Halal. Diakses pada https://www.madaninews.id/3418/seriusi- industri-halal-thailand-masuk-10-besar-pengekspor-produk-makanan-halal.html

27 Alina Ianioglo & Marko Rissanen, Global trends and tourism development in peripheral areas, 2020. Journal of Hospitality and Tourism, 20:5, 520-539. Diakses pada (06/04/2022).

(14)

51 lima bulan pertama, industri pariwisata telah kehilangan USD 320 juta, bila disandingkan dengan krisis ekonomi global pada tahun 2009, jumlah kerugian saat Covid-19 mencapai tiga kali lebih tinggi dari krisis ekonomi tersebut.28

Berdasarkan data PBB, pendapatan ekspor dari pariwisata bisa turun hingga USD 910 juta hingga USD 1,2 triliun di tahun 2020. Jumlah kedatangan wisatawan internasional turun sebesar 58%–78% di tahun 2020. PBB memperkirakan bahwa pengeluaran pariwisata tidak akan mampu kembali dengan cepat ke tingkat sebelum krisis hingga tahun 2024.29 Berbagai negara seperti Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, Swedia mencatat penurunan kunjungan wisatawan yang signifikan sejumlah 78% pada bulan April dan sejumlah 38%

dalam 5 bulan pertama dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dari sisi pendapatan, pariwisata kehilangan pendapatan secara permanen, karena kapasitas akomodasi yang tidak terjual tidak dapat dipasarkan pada tahun-tahun mendatang.30

28 Ibid

29 Ibid

30 Ibid

Referensi

Dokumen terkait

Pertimbangan yang diajukan adalah (1) simbiosis antara karang dengan zooxanthellae memberikan konstribusi fenomenal dalam proses evolusi karang dan (2) kriteria

- Tersedianya sarana dan prasarana penunjang ekonomi yang memadai guna terciptanya sarana distribusi perdagangan yang refresentatif khususnya di daerah- daerah tertinggal/

pemerintah setempat tidak semua terealisasikan kepada petani, Jenis pupuk yang diberikan pemerintah sangat terbatas dan tidak memenuhi kebutuhan petani sperti pupuk organik

Berdasarkan observasi di kawasan Desa Belangian, keadaan masyarakatnya masih tradisional dan banyak memanfaatkan sumber daya alam di sekitar adanya hal tersebut maka

Pada titk uji 4 (TP4), yaitu pengujian Modul Relay 4 Channel sebagai penghidup dan matinya lampu-lampu. Terdapat 4 lampu yang digunakan yaitu lampu1, lampu2, lampu3 dan lampu4.

Disebut ladder diagram karena teknik pemrograman ini menggunakan diagram yang bentuknya mirip seperti tangga. Sistem penulisan program dengan ladder diagram ini adalah

Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan yaitu: (1) Pada umumnya guru telah memahami pada pendekatan saintifik, akan tetapi belum memahami cara

Rata-rata nilai hasil tes kemampuan berpikir kreatif matematik dan skor rasa ingin tahu siswa di kelas yang mengikuti model Problem Based Learning (PBL) dengan metode brainstorming