II. LANDASAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu
Dasar atau acuan yang berupa teori-teori atau temuan-temuan melalui hasil berbagai penelitian sebelumnya merupakan hal yang sangat perlu dan dapat dijadikan sebagai data pendukung. Salah satu data pendukung yang menurut peneliti perlu dijadikan bagian tersendiri adalah penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan yang sedang dibahas dalam penelitian ini.
Dalam hal ini, fokus penelitian terdahulu yang dijadikan acuan adalah terkait dengan masalah faktor produksi ikan nila. Oleh karena itu, peneliti melakukan langkah kajian terhadap beberapa hasil penelitian terdahulu. Berikut merupakan penelitian terdahulu yang didapatkan dari skripsi, tesis dan jurnal- jurnal ilmiah.
Penelitian Putra W.O, Chalid N dan Aqualdo N (2014) berjudulAnalisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Budidaya Ikan Nila di Kecamatan Singingi Kabupaten Kuantan Singingimenunjukkan bahwa keseluruhan variabel bebas (jumlah benih, jumlah pakan, luas lahan, obat- obatan dan tenaga kerja) secara serentak berpengaruh terhadap produksi budidaya ikan nila pada tingkat kepercayaan 95%. Berdasarkan kelima variabel bebas (jumlah benih, jumlah pakan, luas lahan, obat-obatan dan tenaga kerja) hanya dua variabel jumlah benih dan pakan yang berpengaruh terhadap variabel terikat (produksi budidaya ikan nila di Kecamatan Singingi).
Algamar, Rommy A dan Nyayu Neti (2013) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Produksi Dan Efisiensi Alokatif Usaha Budidaya Ikan Nila Merah (Oroechromis Sp) Di Desa Tegalrejo Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan menyatakan bahwa nilai koefisien regresi untuk luas kolam adalah 0,212 dan hasil uji t pada taraf kepercayaan 95% menunjukkan bahwa nilai t-hitung 2,643 lebih besar dari nilai t-tabel 2,045 sehingga luas kolam berpengaruh positif terhadap produksi ikan nila merah. Nilai koefisien variabel jumlah pakan sebesar 0,732 dan berpengaruh positif terhadap produksi ikan nila merah di daerah penelitian.
8
Faktor atau variabel luas kolam dan jumlah pakan berpengaruh positif terhadap produksi ikan nila merah di Desa Tegalrejo, sementara faktor jumlah bibit, jumlah pupuk kandang dan jumlah tenaga kerja tidak berpengaruh.
Penelitian Muhamad Iqbal Iskandar (2008) berjudul Optimalisasi Penggunaan Input dan Analisis Finansial Usaha Pembesaran Ikan Nila dalam Kolam Air Deras di Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa input yang berpengaruh terhadap output pembesaran ikan nila adalah benih, pakan dan tenaga kerja dengan nilai elastisitas masing- masing sebesar 0,1599, 0,7121 dan 0,1280. Hasil analisis optimalisasi menunjukkan bahwa penggunaan input masih belum optimal. Penggunaan input optimal dicapai bila penggunaan benih sebesar 11,02 kg per m2, penggunaan pakan sebesar 112,09 kg per m2 dan penggunaan tenaga kerja sebesar 0,7 HOK per m2 sehingga menghasilkan output sebesar 87,18 kg per m2 per musim panen dengan tambahan modal yang diperlukan agar usaha optimal adalah sebesar Rp75.314.258,34. Pada kondisi aktual diperoleh keuntungan senilai Rp13.135.599,90, nilai R/C sebesar 1,12 dan payback period (PP) sebesar 11,65, sedangkan pada kondisi optimal diperoleh keuntungan senilai Rp44.403.958,21, nilai R/C 1,25 dan PP 3,45 tahun. Pada kondisi aktual BEP dicapai pada volume produksi sebesar 6.490,78 kg, sedangkan BEP kondisi optimal dicapai pada volume produksi 6.040,93 kg.
Berdasarkan analisis kriteria investasi dengan menggunakan pembobot Indeks Harga Konsumen diperoleh nilai NPV, Net B/C dan IRR yang menunjukkan bahwa usaha pembesaran ikan nila pada kolam air deras di Desa Cinagara yang dilakukan dengan enam skenario layak untuk dijalankan. Berdasarkan analisis sensitivitas usaha pembesaran ikan nila dalam kolam air deras di Desa Ciangara sensitif terhadap penurunan harga output dan kenaikan harga pakan dimana usaha paling sensitif adalah usaha dengan menggunakan skenario kelima.
Phillumami (2006) dengan judul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usaha Pembenihan Ikan Nila di Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi dengan jumlah sampel yang sampel berjumlah 73 orang dan
menggunakan metode analisis m regresi fungsi produksi cobb douglas menunjukkan bahwa faktor produksi berupa modal dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi usaha pembenihan ikan nila. Tenaga kerja sangat dibutuhkan dalam melakukan budidaya bamun jumlah waktu yang diperlukan tidak terlalu lama setiap harinya yaitu sekitar 0,44 HOK.
Usaha pembenihan di Kecamatan Genteng berada pada kondisi increasing return to scale sehingga penggunaan input selama ini belum optimal.
Endah Sutiah (2008) berjudul Optimalisasi Produksi Usaha Pembenihan Ikan Nila Gift Di Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi menunjukkan hasil analisis pendugaan fungsi produksi Cobb-Douglas bahwa terdapat empat input yang mempunyai pengaruh nyata terhadap usaha pembenihan yaitu kolam, induk, pakan dedak, dan pitik. Sedangkan input yang tidak berpengaruh nyata terhadap usaha pembenihan ini adalah kapur dan tenaga kerja. Namun kedua input tersebut tidak dapat dihilangkan dalam analisis ini karena sangat penting, terutama tenaga kerja. Tenaga kerja sangat dibutuhkan dalam melakukan budidaya, namun jumlah waktu yang diperlukan tidak terlalu lama setiap harinya yaitu sekitar 0,44 HOK atau sekitar empat jam.Dengan analisis optimalisasi dapat diperoleh jumlah input optimal bagi setiap faktor produksi.
Faktor produksi yang perlu ditambah penggunaannya adalah luas kolam, induk, dan kapur (NPM/BKM > 1). Sedangkan faktor produksi yang perlu dikurangi penggunaannya adalah pakan dedak, pitik, dan tenaga kerja (NPM/BKM <1).
Sadiq, Sanusi M, Singh, dan Kolo (2015) dengan judul penelitian Resource Optimization in Small-Scale Fish Farming in Minna Agricultural Zone of Niger State, Nigeria mendapatkan hasil bahwa koefisien determinasi R2 dari hasil regresi adalah sebesar 63,3% artinya sebesar 63.3% variasi perubahan produksi ikan dapat dijelaskan oleh variabel yang masuk dalam model dan sisanya sebesar 36.7% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak masuk dalam model. Hasil regresi menunjukkan bahwa faktor pakan, benih, air, luas kolam dan tenaga kerja signifikan terhadap produksi ikan di Nigeria, sedangkan variabel modal dan obat-obatan menunjukkan hasil yang tidak
signifikan. Elastisitas produksi dari faktor-faktor tersebut menghasilkan hasil yang belum optimal dalam penggunaannya. Untuk meningkatkan alokasi sumberdaya yang digunakan oleh petani agar efisien, dibutuhkan peningkatan jumlah input produksi untuk meningkatkan jumlah produksi untuk peningkatan pendapatan. Selain itu juga dibutuhkan bantuan dari kebijakan pemerintah bagi akses informasi dan teknologi untuk petani dalam usaha budidaya ikan yang dijalankan.
Christian Crentsil dan Ukpong (2014) berjudul Production Function Analysis Of Fish Production In Amansie West District Of Ghana West Africa.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa bahwa variabel luas kolam, jumlah benih dan pakan signifikan terhadap produksi ikan. Sedangkan tenaga kerja dan pupuk tidak signifikan yang berarti bahwa kedua faktor tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap produksi ikan. Pada proses produksi, teknologi dibutuhkan untuk meningkatkan pendapatan petani.
Penda, Unaji, dan Odoenmenem (2013) berjudul Profitability Analysis Of Fish Production From Concrete Pond System In Benue State, Nigeria.
Hasil penelitian dari analisis data deskriptif menunjukkan bahwa 62% petani ikan responden berumur sekitar 20-50 tahun dan 50,8% responden berpendidikan hingga tingkat menengah. Biaya total untuk produksi budidaya ikan dikeluarkan oleh para petani responden sebesar N 302,614.25 dengan keuntungan yang didapatkan sebesar N 16.995,59. Dari hasil analisis statistik, faktor-faktor yang mempengaruhi produksi secara signifikan diantaranya yaitu biaya pakan, luas lahan dan jumlah bibit dengan tingkat efisiensi teknisnya didapatkan hasil 0,619. Hal ini menandakan bahwa 61,9% input yang digunakan oleh petani sudah cukup efisien dalam menghasilkan outputnya. Sedangkan faktor tenaga kerja dan pupuk tidak berpengaruh secara nyata terhadap produksi ikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa produksi ikan dengan sistem kolam bersemen menghasilkan pekerjaan yang lebih efisien, memperbesar pendapatan dan lebih mensejahterakan petani.
Kaju Nath (2015) berjudul Production and market efficiency for inland fisheries in North East India: The empirical study of Lohit and Lower
Subansiri districts of Arunachal Pradesh. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan 300 petani sebagai reponden. Hasil dari analisis regresi dari fungsi produksi, R2 bernilai 0,664 yang berarti bahwa sebesar 66,4% variasi perubahan produksi dapat dijelaskan oleh variabel jumlah benih, jumlah pakan, pupuk, dan tenaga kerja. Hasil analisis uji individu dari sampel yang berada di Daerah Lohit menunjukkan bahwa variabel jumlah benih merupakan variabel yang signifikan terhadap produksi ikan, hal ini berarti variabel benih ikan berpengaruh secara nyata terhadap tingkat output yang dihasilkan. Sedangkan uji individu dengan sampel yang berada di Lower Subansiri menunjukkan hasil bahwa variabel yang paling signifikan adalah variabel jumlah pakan. Sedangkan hasil dari analisis rantai pemasaran menunjukkan hasil bahwa pemasaran ikan yang berada di daerah penelitian tergolong belum efisien. Dibutuhkan informasi pasar terhadap petani ikan untuk mempertinggi posisi tawarnya.
Penelitian terdahulu menjadi reverensi dalam memperkaya bahan kajian dan menjadi acuan penulis dalam melakukan penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan. Berdasarkan beberapa hasil penelitian yang telah diuraikan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa persamaan dan perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan. Berikut adalah persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu sebagai acuan yang relevan bagi peneliti:
1. Persamaan penelitian
a. Jika dilihat dari tujuan penelitian, terdapat persamaan bahwa penelitian ini dengan penelitian terdahulu memiliki persamaan yang bertujuan untuk meneliti tentang faktor produksi yang mempengaruhi budidaya ikan nila.
b. Faktor-faktor yang ditetapkan sebagai variabel untuk membahas pokok permasalahan penelitian terdapat persamaan. Faktor-faktor yang dimaksud diantaranya yaitu luas kolam, jumlah benih, jumlah pakan, dan tenaga kerja.
c. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian untuk mengkaji faktor- faktor produksi yaitu dengan menggunakan analisis regresi linear berganda dengan fungsi produksi Cobb-Douglas.
2. Perbedaan Penelitian
a. Perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian terdahulu terletak pada lokasi yang digunakan untuk melaksanakan penelitian. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Klaten.
b. Perbedaan lain antara penelitian ini dengan penelitian terdahulu yang digunakan sebagai acuan penelitian yaitu terletak pada data jumlah sampel yang digunakan untuk penelitian. Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 60 responden sampel.
B. Tinjauan Pustaka
1. Arti Penting Ekonomi Ikan Nila
Budidaya perikanan di Indonesia merupakan salah satu komponen yang penting di sektor perikanan. Hal ini berkaitan dengan perannya dalam menunjang persediaan pangan nasional, penciptaan pendapatan dan lapangan kerja serta mendatangkan penerimaan negara dari ekspor.
Budidaya perikanan juga berperan dalam mengurangi beban sumber daya laut. Di samping itu budidaya perikanan dianggap sebagai sektor penting untuk mendukung perkembangan ekonomi pedesaan (Sukano, 2002).
Besarnya kontribusi perikanan budidaya dan penangkapan ikan air tawar terhadap total produksi ikan nasional sebesar 29,1%. Total produksi perikanan budidaya meningkat 20,14% per tahun dari 1.076.750 ton pada tahun 2001 menjadi 2.163.674 ton di tahun 2005. Peningkatan ini merupakan dampak dari inovasi teknologi, pertambahan areal dan ketersediaan benih ikan yang berkualitas. Pada tahun 2005, total produksi nasional dari budidaya ikan sebesar 2,16 juta ton (Umar, 2005).
Prospek pengembangan budidaya ikan, terutama ikan nila diperkirakan memiliki peluang yang sama baiknya dengan pengembangan jenis ikan konsumsi lainnya. Hal ini terkait dengan peningkatan konsumsi kan per kapita per tahun meningkat tajam seiring dengan peningkatan laju
pertumbuhan penduduk. Berdasarkan FAO, kebutuhan ikan untuk pasar dunia sampai ahun 2010 masih kekurangan pasokan sebesar 2 juta ton per tahun. Pemenuhan kekurangan pasokan sebesar itu tidak mungkin dipenuhi oleh hasil tangkapan saja, tetapi harus dipasok dari hasil budidaya. Salah satunya budidaya ikan nila (Amri dan Khairunman, 2008).
Menurut data Food and Agriculture Organization of the United Nations (2015), negara produsen penghasil produk perikanan terbesar dunia ada 10, diantaranya yaitu China, India, Indonesia, Vietnam, Bangladesh, Norwegia, Mesir, Chili, Myanmar dan Thailand. Sepuluh negara penghasil ikan terbesar tersebut menyumbangkan sekitar 89% pada total produksi ikan di dunia tahun 2015. Indonesia menduduki peringkat ke tiga setelag China dan India dengan jumlah produksi sebesar 4,3 milyar ton.
Berikut adalah tabel ekspor-impor hasil produksi perikanan Indonesia pada tahun 2013-2015.
Tabel 4. Ekspor-Impor Hasil Produksi Perikanan Indonesia Pada Tahun 2013-2015
No. Tahun Ekpor Impor
1. 2013 3.835.699 371.584
2. 2014 4.243.821 345.658
3. 2015 3.604.492 308.679
Sumber: FAO, 2015
Dari tabel tersebut diketahui bahwa ekspor negara Indonesia dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2014 mengalami peningkatan, sedangkan pada tahun 2015 mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan karena permintaan di pasar dunia juga berkurang. Jumlah impor hasil perikanan Indonesia dari tahun 2013 hingga 2015 semakin menurun. Penurunan jumlah impor ini mengartikan bahwa produksi Indonesia sudah mampu memenuhi kebutuhan ikan untuk pasar dalam negeri, sehingga tidak diperlukan lagi impor hasil perikanan dalam jumlah yang besar.
Berdasarkan Badan Agribisnis Departemen Perikanan (2000), Ikan nila merah dikembangkan secara komersial sejak awal tahun 1990 an,
yaitu di Jawa Tengah (Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, dan Kedung Ombo di Boyolali). Dua Kabupaten tersebut beroperasi perusahaan PMA yang mengolah nila merah menjadi fillet dengan tujuan ekspor ke Amerika, Jepang dan Eropa. Selama ini Amerika merupakan negara yang mengimpor ikan nila merah terbesar di dunia.
Berikut adalah tabel negara-negara pengekspor ikan nila ke negara Amerika.
Tabel 5. Negara Pengekspor Ikan Nila ke Amerika tahun 2012-2017 No. Negara 2013 2014 2015 2016 2017 1. China
(Mainland)
316.915 325.461 308.795 253.294 239.598 2. Indonesia 26.017 25.592 22.991 17.056 15.530 3. China
(Taiwan)
3.309 2.394 3.444 3.304 3.499
4. Thailand 3.214 3.276 2.543 1.917 720
5. Mexico 48 2.033 4.667 3.890 1.403
6. Malaysia 279 715 678 1.221 701
7. Honduras 152 1.191 2.175 618 695
8. Lainnya 2.541 2.910 2.114 1.521 1.746 Total 352.474 363.572 347.407 282.821 263.892 Sumber: USDA, 2018
Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa negara Indonesia merupakan merupakan negara ke 2 sebagai negara pengekspor ikan nila ke negara Amerika setelah negara China. Ikan nila merah hasil produksi Indonesia di sebagian besar di ekspor ke negara Amerika. Ikan nila merah yang di ekspor biasanya dalam bentuk fillet dan beku, mengingat jarak yang cukup jauh dari negara Indonesia ke negara Amerika.
2. Usahatani
Ada banyak definisi mengenai ilmu usahatani yang telah banyak dikemukakan oleh mereka yang melakukan analisis usahatani, diantaranya yangdikemukakan oleh Suratiyah (2015), bahwa ilmu usahatani merupakan merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengusahakan dan mengkoordinir faktor-faktor produksi berupa lahan dan alam sebagai modal sehingga memberikan manfaat yang sebaik-baiknya. Ilmu ini mempelajari cara-cara untuk menentukan, mengkoordinasikan penggunaan
faktor-faktor produksi seefektif dan seefisien mungkin sehingga usaha tersebut berikan pendapatan semaksimal mungkin.
Menurut Mosher (1968) dalam Shinta (2011), usahatani sendiri merupakan pertanian rakyat dari perkataan farm dalam bahasa Inggris. Dr.
Mosher memberikan definisi farm sebagai suatu tempat atau sebagian dari permukaan bumi di mana pertanian diselenggarakan oleh seorang petani tertentu, apakah ia seorang pemilik, penyakap atau manajer yang digaji. Atau usahatani adalah himpunan dari sumber-sumber alam yang terdapat pada tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian seperti tanah dan air, perbaikan-perbaikan yang dilakukan atas tanah itu, sinar matahari, bangunan-bangunan yang didirikan di atas tanah itu dan sebagainya.
Usahatani termasuk dalam ilmu pertanian yang mempelajari tentang segala sesuatu tentang pertanian, baik mengenai subsektor tanaman pangan dan hortikultura, subsektor perkebunan, subsektor perternakan maupun perikanan (Daniel, 2002). Salah satu usaha di bidang perikanan yang mempunyai prospek bagus adalah usaha pembesaran ikan nila.
Kebutuhan ikan di Indonesia diperkirakan akan terus bertambah setiap tahunnya seiring dengan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat.
Pemenuhan kebutuhan protein hewani ini tentu sudah tidak mungkin lagi dipenuhi dari hasil tangkapan laut saja. Hal ini menjadikan peluang bagi masyarakat untuk usaha budidaya ikan nila, terutama pembesaran ikan nila (Amri dan Khairunman, 2012). Penelitian ini akan membahas tentang usahatani pada subsektor perikanan pada budidaya ikan nila di Kabupaten Klaten.
Tujuan seorang petani melakukan kegiatan usahatani adalah untuk memperoleh pendapatan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
Berhasilnya kegiatan usahatani dapat diketahui dari besarnya pendapatan yang diperoleh. Dalam menjalankan usahataninya, petani dihadapkan pada perhitungan biaya produksi untuk untuk kelangsungan usaha yang akan menentukan besarnya penerimaan dan pendapatannya. Biaya produksi
adalah uang yang dikeluarkan oleh petani untuk mendapatkan sejumlah input secara akuntansi yang sama dengan jumlah uang yang keluar. Biaya ini tercermin dari biaya korbanan (Sugiharto et al., 2002).
Menurut Hadisapoetra (1973) dalam Suratiyah (2015), biaya usahatani dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:
a. Biaya alat-alat luar yaitu semua pengorbanan yang dikeluarkan dalam usahatani untuk memproleh pendapatan kotor, kecuali bunga seluruh aktiva yang digunakan dan biaya untuk kegiatan pengusaha (keuntungan pengusaha) dan upah tenaga kerja keluarga sendiri.
b. Biaya mengusahakan yaitu biaya alat-alat luar ditambah dengan dengan upah tenaga kerja keluarga sendiri yang diperhitungkan berdasarkan upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja luar.
c. Biaya menghasilkan yaitu biata mengusahakan ditambah dengan bunga dari aktiva yang dipergunakan dalam usahatani.
Menurut Suratiyah (2015), biaya dan pendapatan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal eksternal dan faktor manajemen. Faktor internal maupun eksternal akan bersama-sama mempengaruhi biaya dan pendapatan. Faktor internal meliputi umur petani, tingkat pendidikan dan pengetahuan, jumlah tenaga kerja keluarga, luas lahan dan modal. Faktor eksternal terdiri dari input yang meliputi ketersediaan dan harga, serta output yang meliputi permintaan dan harga. Faktor manajemen berkaitan dengan bagaimana seorang petani sebagai manajer dalam kegiatan usahataninya. Pendapatan merupakan balas jasa terhadap penggunaan faktor- faktor produksi. Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya. Adapun fungsi pendapatan memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan kegiatan usahatani selanjutnya.
3. Ekonomi Produksi Pertanian
Iswardono (2004) menyatakan bahwa teori produksi sebagaimana teori perilaku konsumen merupakan teori pemilihan atas berbagai alternatif yang tersedia berupa keputusan yang diambil seorang produsen untuk menentukan pilihan atas alternatif tersebut. Produsen mencoba
memaksimalkan produksi yang bisa dicapai dengan suatu kendala ongkos tertentu agar dapat dihasilkan keuntungan yang maksimum. Sedangkan Sudarman (2004) menyatakan bahwa teori produksi yaitu teori yang mempelajari bagaimana cara mengkombinasikan berbagai macam input pada tingkat teknologi tertentu untuk menghasilkan sejumlah output tertentu. Sasaran teori produksi adalah untuk menentukan tingkat produksi yang efisien dengan sumber daya yang ada.
a. Fungsi Produksi
Menurut Sukirno (2014), untuk menggambarkan hubungan diantara faktor-faktor produksi yang digunakan dan tingkat produksi yang dicapai, maka yang di gambarkan adalah hubungan antara jumlah tenaga kerja yang digunakan dan jumlah produksi yang dicapai.
Faktor-faktor produksi dikenal pula dengan istilah input dan jumlah produksi dikenal dengan istilah output. Fungsi produksi ini selalu dinyatakan dalam bentuk rumus, yaitu sebagai berikut:
Q = f (K, L, R, T)
Dimana K adalah stok modal awal, L adalah jumlah tenaga kerja meliputi jenis tenaga kerja dan keahlian keusahawanan, R adalah kekayaan alam dan T adalah tingkat teknologi yang digunakan.
Sedangkan Q merupakan jumlah produksi yang dihasilkan oleh berbagai jenis faktor-faktor produksi .
Menurut Miller dan Meiners (2000), pada teori ekonomi digunakan asumsi dasar mengenai sifat fungsi produksi dimana semua produsen tunduk pada hukum the law of dimishing return atau hukum hasil lebih yang semakin berkurang dalam sistem produksi. Kondisi ini
menjelaskan bahwa apabila faktor input ditambah secara terus menerus maka produk total akan mengalami pertambahan yang proporsional.
Namun penambahan akan semakin berkurang hingga akhirnya tidak terjadi pertambahan atau terjadi penurunan produk total ketika input ditambah terus menerus. Berikut adalah gambar grafik dari tahapan proses produksi.
Gambar 1. Tahapan Proses Produksi
Pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa terdapat tiga tahapan produksi, yaitu :
• Pada Daerah produksi I dimana merupakan daerah produksi irrational. Pada daerah ini MPP dan APP selalu meningkat, dimana nilai MPP > APP sehingga EP > 1. (Elastisitas produksi/ EP > 1 ) mengartikan bahwa produsen tidak perlu
berpikir panjang (irrational) karena penambahan input akan selalu meningkatkan output dalam proporsi yang lebih besar (kenaikan 1 % input akan menaikan produksi > 1 %).
• Pada Daerah II (Rational Stage of production) yang merupakan daerah produksi rational dimana pada daerah ini ketika MPP menurun, APP masih meningkat sehingga MPP > APP sehingga EP > 1. Apabila MPP menurun dan APP menurun maka besar MPP < APP sehingga EP < 1. Nilai dari EP pada daerah ini adalah 0 < EP > 1 sehingga penambahan 1 % input akan menaikakan output antara 0 - 1 %. Pada daerah produksi ini akan dicapai keuntungan maksimum dimana nilai tambahan input yang digunakan sama dengan nilai tambahan output yang diperoleh.
• Pada daerah produksi III dimana Ep < 0 juga merupakan daerah produksi irrational. Nilai MPP < 0 (negatif) dan APP menurun dengan MPP < 0 sehingga EP < 0. Daerah ini merupakan daerah irrational karena penambahan input jelas akan selalu mengurangi keuntungan. Setiap penambahan satu satuan input akan menurunkan produksi.
Menurut Soekartawi (2003), ada berbagai macam fungsi produksi, diantaranya fungsi Linier, Kuadratik, dan Eksponensial (Cobb-Douglas). Penelitian ini akan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas.
b. Fungsi Produksi Cobb Douglas
Model Cobb-Douglas adalah suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana variabel yang satu disebut dengan variabel dependen, yang dijelaskan (Y), dan yang lain disebut variabel independen, yang menjelaskan (X). Model Cobb-Douglas digunakan dengan asumsi bahwa data tersebar normal dan faktor produksi yang digunakan mewakili variabel-variabel yang mempunyai hasil produksi (Soekartawi, 2003).
Ada empat alasan pokok mengapa fungsi Cobb-Douglas lebih banyak dipakai para peneliti, yaitu:
1) Penyelesaian fungsi Cobb-Douglas relatif lebih mudah dibandingkan dengan fungsi yang lain, seperti fungsi kuadratik.
Fungsi Cobb-Douglas dapat dengan mudah ditransfer ke bentuk linear.
2) Hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb-Douglas akan menghasilkan koefisien regresi yang sekaligus juga menentukan besaran elastisitas.
3) Besaran elastisitas tersebut sekaligus menunjukkan tingkat besaran return to scale.
(Soekartawi, 2003).
Secara matematis fungsi produksi Cobb-Douglas dapat ditulis sebagai berikut (Soekartawi 2003) :
𝑌 = 𝑎𝑋1𝑏1𝑋2𝑏2𝑋3𝑏3… . 𝑋𝑛𝑏𝑛𝑒𝑢 Keterangan:
Y = jumlah output yang dihasilkan / variabel yang dijelaskan X = jumlah input ke i yang digunakan / variabel yang menjelaskan a = intercept
bi = koefisien regresi dari variable X ke i e = 2,7182 (bilangan natural)
u = kesalahan (disturbance term)
Persyaratan yang harus dipenuhi dalam menggunakan fungsi produksi Cobb Douglas menurut Soekartawi (2003) yaitu :
1) Tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol, sebab logaritma dari nol adalah suatu bilangan yang besarnya tidak diketahui (infinite).
2) Dalam fungsi produksi, perlu asumsi tidak ada perbedaan teknologi pada setiap pengamatan (non- neutral difference in the respective technologies). Ini artinya apabila fungsi Cobb-Douglas yang dipakai sebagai model dalam suatu pengamatan dan bila memerlukan lebih dari satu model, maka perbedaan model tersebut
terletak pada intercept dan bukan pada kemiringan garis (slope) model tersebut.
3) Tiap variabel X adalah perfect competition.
4) Perbedaan lokasi (pada fungsi produksi) seperti iklim sudah tercakup pada faktor kesalahan, µ
Penggunaan fungsi Cobb-Douglas berlaku dalam keadaan hukum kenaikan hasil yang semakin berkurang atau law of diminishing returns untuk setiap input i, sehingga informasi yang diperoleh dapat dipakai untuk melakukan upaya agar setiap penambahan masukan- produksi dapat menghasilkan tambahan produksi yang lebih besar (Soekartawi, 2002).
c. Faktor Produksi Usahatani
Faktor produksi adalah semua korbanan yang diberikan pada tanaman agar tanaman tersebut mampu tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Faktor produksi dikenal pula dengan istilah input, production factor dan korbanan produksi. Faktor produksi memang sangat menentukan besar kecilnya produksi yang diperoleh. Untuk menghasilkan suatu produk, diperlukan pengetahuan hubungan antara faktor produksi (input) dan produksi (output). Hubungan antara input dan output ini disebut dengan fungsi produksi atau factor relationship (Soekartawi, 2001).
Menurut Purwaningsih (2017), faktor produksi yang digunakan untuk usahatani meliputi tanah (land), modal (capital), tenaga kerja (labour), dan manajemen (management).
1) Tanah
Salah satu faktor yang memiliki tingkat produktivitas output adalah tanah. Faktor-faktor tanah yang berpengaruh terhadap produksi atau pendapatan adalah luas lahan garapan, kondisi fisik, fragmentasi tanah, lokasi tanah dari pusat perekonomian, serta status pengusaan tanah. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin luas lahan garapan maka semakin besar pula jumlah
produksi yang dihasilkan oleh lahan tersebut. Lahan atau tanah merupakan salah satu faktor produksi utama dalam proses produksi pertanian. Dilihat dari ketersediaannya, maka jumlahnya tetap sehingga penawaran tanah (lahan) tersebut jumlahnya tetap.
2) Modal
Pada konteks usahatani, modal yang dimaksudkan sebagai barang ekonomi untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar dan mempertahankan pendapatn yang diperolehnya. Soekartawi mengelompokkan modal ke dalam dua golongan, pertama yaitu barang yang tidak habis dalam sekali produksi (seperti peralatan pertanian, bangunan yang dihitung biaya perawatan dan penyusutannya selama 1 tahun) dan kedua yaitu barang yang habis dalam sekali produksi (seperti bibit, pupuk, obat-obatan dan sebagainya). Sumber modal dalam usahatani bisa berasal dari petani itu sendiri atau dari pinjaman. Besar kecilnya modal yang dipakai ditentukan oleh besar kecilnya skala usahatani. Semakin besar skala usahatani maka semakin besar pula modal yang dipakai dan sebaliknya. Macam komoditas tertentu dalam proses produksi pertanian juga menentukan besar kecilnya modal yang dipakai.
3) Tenaga kerja
Tenaga kerja dalam usahatani merupakan salah satu faktor input yang utama. Tenaga kerja dalam pertanian dapat diperoleh dari tenaga kerja dalam dan luar keluarga. Tenaga kerja luar keluarga diperoleh dengan cara upahan atau arisan tenaga kerja.
Sedangkan tenaga kerja dalam keluarga adalah tenaga kerja yang berasal dari rumah tangga petani, seperti istri, anak atau famili yang tinggal satu rumah dengan rumah tangga petani yang bersangkutan. Penggunaan tenaga kerja dapat dinyatakan sebagai curahan tenaga kerja. Curahan tenaga kerja ini merupakan besarnya tenaga kerja efektif yang dipakai. Ukuran tenaga kerja dapat dinyatakan dalam hari orang kerja (HOK). Satuan ukuran yang
digunakan untuk menghitung besarnya tenaga kerha adalah satu HOK atau sama dengan satu hari kerja pria (HKP), yaitu jumlah kerja yang dicurahkan untuk seluruh proses produksi yang diukur dengan ukuran kerja pria dengan 8 jam kerja dalam satu hari.
4) Manajemen
Manajemen merupakan seni untuk mencapai hasil yang diinginkan dengan sumber daya yang tersedia. Manajemen yang baik tergantung pada kemampuan manajer untuk mencapai hasil melalui orang lain. Pada usahatani, manajemen atau pengelolaan adalah kemampuan petani dalam menentukan, mengorganisasikan dan mengkoordinasikan penggunaan input dan kombinasi input seefektif mungkin, sehingga produksi pertanian memberikan hasil yang lebih baik
d. Faktor Produksi Usaha Budidaya Ikan Nila
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari hasil penelitian terdahulu yang disesuaikan dengan kondisi daerah di Kabupaten Klaten, maka faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap produksi pada usaha budidaya ikan nila di Kabupaten Klaten adalah sebagai berikut:
1) Luas Kolam
Menurut Mubyarto (1995) luas lahan adalah keseluruhan wilayah yang menjadi tempat penanaman atau mengerjakan proses penanaman, luas lahan menjamin jumlah atau hasil yang akan diperoleh petani. Jika luas lahan meningkat maka pendapatan petani akan meningkat, demikian juga sebaliknya. Sehingga hubungan antara luas lahan dengan pendapatan petani merupakan hubungan yang positif.
Pada budidaya ikan nila, luas kolam akan mempengaruhi besarnya tingkat produksi yang dihasilkan oleh pembudidaya.
Menurut penelitian dari Sadiq, Mohammad Sanusi, Singh, dan Kolo M.D (2015) dengan judul penelitian Resource Optimization
in Small-Scale Fish Farming in Minna Agricultural Zone of Niger State, Nigeria mendapatkan hasil bahwa faktor luas kolam berpengaruh secara nyata terhadap produksi ikan di petani ikan daerah Nigeria. Luas kolam budidaya menjadi faktor dalam usaha budidaya di bidang perikanan karena akan menentukan jumlah sebaran benih yang akan dibudidayakan dalam kolam untuk menghasilkan jumlah output yang diharapkan.
2) Jumlah benih
Benih yang baik sangat penting untuk mendapatkan produksi yang sangat tinggi. Benih tersebut harus sudah cukup umur untuk dilepas, ukurannya sudah memenuhi syarat, dan sehat, serta persentase kematiannya rendah, berwarna cerah dan pergerakannya lincah (Soekartawi, 2002). Hal ini juga didukung oleh penelitian dari Putra, Chalid dan Aquado (2014) dengan judul Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Budidaya Ikan Nila di Kecamatan Sengingi Kabupaten Kuntan Singingi menunjukkan hasil bahwa variabel jumlah benih berpengaruh terhadap produksi budidaya ikan nila di Kecamatan Singingi. Penggunaan benih yang berkualitas dengan jumlah yang optimal tentunya akan memberikan hasil produksi yang maksimal dan memberikan keuntungan sesuai dengan yang diharapkan oleh pembudidaya ikan nila.
3) Jumlah pakan
Pakan merupakan salah satu faktor utama yang sangat penting dalam usaha peningkatan produktivitas budidaya ikan dan menduduki bagian terbesar dari seluruh biaya produksi. Usaha budidaya ikan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pakan yang cukup dalam jumlah dan kualitasnya untuk mendukung kualitas yang maksimal. Faktor pakan menentukan biaya produksi sebesar 60-70% dalam usaha budidaya ikan, sehingga perlu pengelolaan yang efektif dan efisien. Beberapa syarat bahan yang baik untuk
diberikan adalah memenuhi kandungan nutrien (protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral) sesuai dengan kebutuhan kultivan (spesies yang dibudidayakan), tidak beracun, mudah diperoleh, mudah diolah dan bukan sebagai makanan pokok manusia (Handajani, 2006).
Penelitian Christian Crentsil dan George Ukpong (2014) berjudul Production Function Analysis Of Fish Production In Amansie West District Of Ghana West Africa menunjukkan hasil bahwa faktor pakan berpengaruh nyata terhadap produksi dari budidaya ikan di Ghana, Afrika Barat. Pakan yang digunakan dalam budidaya ikan dapat mencapai 60% dari seluruh biaya produksi. Banyaknya pakan yang diberikan harus diperhitungkan dengan harga pakan dan nilai produksi ikan yang diperoleh (Suyanto, 2010).
4) Tenaga kerja
Menurut Harsanto (2013), tenaga kerja memberikan kontribusi sekitar 10 persen terhadap produktivitas. Peningkatan kontribusi tenaga kerja terhadap produktivitas adalah hasil dari tenaga kerja yang lebih terdidik dan lebih sehat. Hal lain yang dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja adalah waktu kerja yang tepat, artinya tidak terlalu panjang atau terlalu pendek. Pada penelitian Phillumami (2006) dengan judul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usaha Pembenihan Ikan Nila di Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi, faktor tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap budidaya ikan nila. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan tenaga kerja yang sesuai sebagai input produksi dapat meningkatkan jumlah produksi ikan Nila.
4. Efisiensi Produksi
Suatu penggunaan faktor produksi dikatakan efisiensi teknis jika produksi yang dipakai menghasilkan produksi yang maksimum. Dikatakan efisiensi harga jika nilai dari produk marginal sama dengan harga faktor
produksi yang bersangkutan dan dikatakan efisiensi ekonomi jika usahatani tersebut mencapai efisiensi teknis sekaligus juga mencapai efisiensi harga (Soekartawi, 2005).
Dalam Soekartawi (2005) efisiensi diartikan sebagai upaya penggunaan input yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan produksi yang sebesar-besarnya. Situasi yang demikian akan terjadi kalau petani mampu membuat suatu upaya sehingga nilai produk marginal (NPM) untuk suatu input sama dengan harga input (P) tersebut; atau dapat dituliskan sebagai berikut:
NPMX = PX ; atau NPMX / PX = 1
Pada kenyataannya NPMx tidak selalu sama dengan Px, dan yang terjadi adalah keadaan sebagai berikut:
a. NPMX / PX> 1 ; artinya bahwa penggunaan input x belum efisien.
Untuk mencapai tingkat efisiensi maka input perlu ditambah.
b. NPMX / PX< 1 ; artinya penggunaan input x tidak efisien. Untuk mencapai atau menjadi efisien maka input harus dikurangi.
Konsep yang digunakan dalam efisiensi ekonomis adalah meminimalkan biaya artinya suatu proses produksi akan efisien secara ekonomis pada suatu tingkatan output apabila tidak ada proses lain yang dapat menghasilkan output serupa dengan biaya yang lebih murah.
C. Kerangka Teori Pendekatan Masalah
Usahatani merupakan merupakan merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengusahakan dan mengkoordinir faktor-faktor produksi berupa lahan dan alam sebagai modal agar dapat memberikan manfaat yang sebaik-baiknya untuk manusia. Salah satu subsektor pertanian yang mempunyai prospek bagus untuk diusahakan adalah subsektor perikanan. Usaha bidang perikanan yang dimaksud adalah usaha budidaya ikan nila merah.Salah satu daerah penghasil ikan nila merah di Provinsi Jawa Tengah yang mempunyai prospek bagus untuk dikembangkan adalah Kabupaten Klaten.
Tujuan seorang melakukan kegiatan usahatani adalah untuk memperoleh pendapatan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Pendapatan yang diperoleh petani ditentukan oleh besarnya biaya yang dibutuhkan dalam usahatani. Biaya yang diperhitungkan dalam penelitian ini adalah biaya mengusahakan. Biaya mengusahakan merupakan biaya alat-alat luar ditambah biaya tenaga kerja keluarga sendiri yang diperhitungkan berdasarkan upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja luar. Biaya alat-alat luar dihitung meliputi biaya untuk pembelian sarana produksi, biaya upah tenaga kerja, biaya penyusutan peralatan, dan biaya lain-lain.
Pada analisis usahatani untuk budidaya ikan nila merah, penerimaan usahatani merupakan nilai produksi total dari usaha budidaya ikan nila.
Penerimaan dihitung dengan mengalikan produksi (Y) dengan harga produksi (Py) yang dinyatakan dakam rupiah. Setelah diperoleh besarnya penerimaan usaha maka dapat diperoleh pendapatan pembudidaya. Pendapatan pembudidaya diketahui dengan rumus:
Pd = TR – TC TR = Y × Py Keterangan:
Pd = pendapatan usaha budidaya ikan nila merah(Rp/periode)
TR = total penerimaan usaha budidaya ikan nila merah(total revenue) (Rp) TC = total biaya mengusahakan usaha budidaya ikan nila merah(Rp/periode) Y = produksi ikan nila merah(kg)
Py = harga ikan nila merahper kg (Rp)
Faktor produksi merupakan semua korbanan yang diberikan pada tanaman agar tanaman tersebut mampu tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Berdasarkan penelitian terdahulu, faktor-faktor produksi yang berpengaruh terhadap budidaya ikan nila merah diantaranya yaitu:
a. Luas Kolam
Luas kolam budidaya menjadi faktor dalam usaha budidaya di bidang perikanan karena akan menentukan jumlah sebaran benih yang
akan dibudidayakan dalam kolam untuk menghasilkan jumlah output yang diharapkan.
b. Jumlah benih
Penggunaan benih yang berkualitas dengan jumlah yang optimal tentunya akan memberikan hasil produksi yang maksimal dan memberikan keuntungan sesuai dengan yang diharapkan oleh pembudidaya ikan nila.
c. Jumlah pakan
Usaha budidaya ikan dipengaruhi oleh ketersediaan pakan yang cukup untuk mendukung produksi yang maksimal. Faktor pakan menentukan biaya produksi sebesar 60-70% dalam usaha budidaya ikan, sehingga perlu pengelolaan yang efektif dan efisien
d. Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan faktor manajemen yang bisa mengelola usaha budidaya. Penggunaan tenaga kerja yang sesuai sebagai input produksi dapat meningkatkan jumlah produksi ikan Nila.
Untuk mengetahui hubungan antara faktor-faktor produksi dengan hasil produksi pada budidaya ikan nila di Kabupaten Klaten digunakan analisis regresi linier berganda dengan model fungsi Cobb-Douglas. Model fungsi produksi Cobb-Douglas dapat ditulis sebagai berikut:
Y = a X1b1. X2b2. X3b3. X4b4
Keterangan : a : konstanta,
b1, b2, b 3, b 4, dan b5 : intercept/ koefisien variabel Y : Produksi budidaya ikan Nila (kg)
X1 : Luas kolam (m2)
X2 : Benih ikan nila merahper satu periodebudidaya (kg) X3 : Pakan per satu periodebudidaya (kg)
X4 : Tenaga Kerja (HKP)
Model fungsi produksi Cobb-Douglas yang digunakan dalam penelitian ini memiliki lebih dari satu variabel bebas sehingga analisisnya menggunakan
analisis regresi linear berganda. Fungsi produksi Cobb-Douglas yang tidak berbentuk linear tersebut harus diubah menjadi bentuk linear agar mempermudah perhitungan dan analisis. Oleh karena itu, persamaan tersebut harus diubah menjadi persamaan linear sebagai berikut:
Ln Y = Ln a + b1 LnX1 + b2 LnX2 + b3 LnX3 + b4 LnX4+ µ
Untuk mengetahui pengaruh faktor produksi secara bersama-sama terhadap produksi, digunakan uji F dengan taraf kepercayaan sebesar 95%, dan untuk menguji pengaruh dari masing-masing faktor produksi secara individu terhadap produksi digunakan uji t dengan taraf kepercayaan sebesar 95%.
Efisiensi suatu usahatani dapat menunjukkan perbandingan antara nilai hasil produksi dengan nilai faktor produksi yang digunakan. Tujuan utamanya adalah untuk mengukur tingkat produksi yang dicapai pada tingkat penggunaan input tertentu. Tingkat efisiensi merupakan tolok ukur terhadap pengelolaan faktor-faktor produksi pembudidaya selama kegiatan usaha budidaya berlangsung, apakah pengelolaan faktor-faktor tersebut memberikan pengaruh positif atau negatif pada produksi.Efisiensi ekonomi tertinggi pada usaha budidaya ikan nila merahakan tercapai jika pembudidaya dapat mengkombinasikan faktor-fator produksi yang digunakan secara optimal.
Efisiensi ekonomi terjadi ketika nilai produk marginal untuk suatu faktor produksi (NPMx) sama dengan harga faktor produksi (Px), atau dapat dituliskan:
NPMxi = Pxi atau NPMxiPxi = 1 Dengan kriteria:
NPMxi
Pxi > 1, berarti penggunaan faktor produksi xi belum mencapai efisiensi ekonomi tertinggi.
NPMxi
Pxi < 1, berarti penggunaan faktor produksi xi tidak efisien.
Maka kerangka pemikiran pada penelitian ini tentang analisis faktor- faktor yang mempengaruhi produksi ikan nila di Kabupaten Klaten adalah sebagai berikut:
Gambar 2. Kerangka Berpikir Pendekatan Masalah D. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari pokok permasalahan penelitian yang akan diuji kebenarannya. Berdasarkan pada rumusan permasalahan, tujuan penelitian, dan kajian-kajian teori yang relevan ataupun hasil penelitian sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Luas kolam berpengaruh nyata terhadap jumlah produksi usaha budidaya ikan nilamerah di Kabupaten Klaten.
2. Jumlah benih berpengaruh nyata terhadap jumlah produksi usaha budidaya ikan nilamerah di Kabupaten Klaten.
3. Jumlah pakan berpengaruh nyata terhadap jumlah produksi usaha budidaya ikan nilamerah di Kabupaten Klaten.
4. Tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap jumlah produksi usaha budidaya ikan nilamerah di Kabupaten Klaten.
5. Faktor-faktor produksi berupa luas kolam, benih, pakan dan tenaga kerja pada usaha budidaya ikan nila di Kabupaten Klaten belum mencapai efisiensi ekonomi tertinggi.
E. Asumsi-asumsi
Usaha Budidaya Ikan Nila
Biaya Produksi
Produksi Budidaya Ikan Nila
Penerimaan Usaha budidaya Ikan Nila
Pendapatan Usaha budidaya Ikan Nila
Efisiensi Ekonomi Budidaya Ikan
Nila Faktor-Faktor Produksi:
X1 : Luas kolam (m2) X2 : jumlah benih (kg) X3 : jumlah pakan (kg) X4 : Tenaga Kerja (HKP)
1. Teknologi yang diterapkan di daerah penelitian dianggap tetap selama penelitian berlangsung.
2. Pembudidaya dalam menjalankan usahanya bertindak rasional yaitu ingin memperoleh keuntungan maksimal.
3. Kondisi daerah penelitian seperti kondisi air, curah hujan, serangan penyakit dianggap berpengaruh normal terhadap hasil produksi budidaya ikan nilamerah.
4. Harga hasil produksi, dan harga faktor-faktor produksi diperhitungkan sesuai dengan harga di daerah penelitian pada waktu penelitian berlangsung.
5. Variabel-variabel lain yang tidak diamati pada saat penelitian dianggap tetap.
F. Pembatasan Masalah
1. Ikan nila yang diteliti merupakan jenis ikan nila merah.
2. Jenis budidaya ikan nila yang diteliti adalah budidaya pembesaran yang dilakukan dengan menggunakan benih ikan nila dalam ukuran gelondongan.
3. Data yang diambil pada usaha budidaya ikan nila merahdi Kabupaten Klaten dibatasi selama satu periode usaha budidaya pembesaran ikan nilamerah. Penelitian dilakukan pada bulan Januari - Februari 2018.
4. Responden penelitian ini adalah pembudidaya ikan nila di Kabupaten Klaten yang merupakan pembudidaya ikan nila di daerah sampel yang telah ditentukan.
5. Responden yang dimaksud yaitu pembudidaya yang mengusahakan budidaya pembesaran ikan nila merah di lahan kolam.
6. Variabel bebas yang diteliti yaitu luas kolam, jumlah benih, pakan, dan tenaga kerja.
G. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
1. Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh memanjang dan pipih kesamping. Ikan nila yang diteliti pada penelitian
ini adalah ikan nila merah pada budidaya pembesaran yang di budidayakan di Kabupaten Klaten.
2. Produksi ikan nila merah adalah jumlah hasil panen ikan nila yang dihasilkan dari usaha budidaya ikan nila oleh pembudidaya ikan nila di Kabupaten Klaten. Jumlah produksi ikan nila dihitung pada satu kali periode dalam satuan luas kolam budidaya yang dinyatakan dalam satuan kilogram (kg/periode).
3. Periode budidaya pembesaran ikan nila merah adalah lama usaha budidaya yang dihitung dari sebar benih ke kolam hingga panen. Periode budidaya ikan nila merah dilakukan kurang lebih selama 4 bulan sehingga dalam satu tahun dilakukan 3 kali periode budidaya.
4. Biaya usaha budidaya ikan nila merah adalah total biaya yang dikeluarkan oleh pembudidaya dalam satu periode budidaya. Biaya usaha budidaya ikan nila merahpada penelitian ini menggunakan biaya mengusahakan yang dihitung dari penjumlahan biaya alat-alat luar dalam kegiatan budidaya ikan nila merah ditambah dengan biaya tenga kerja dalam keluarga (Rp/periode).
5. Penerimaan usaha budidaya ikan nila merah adalah nilai produksi total usahatani budidaya ikan nila merahdi Kabupaten Klaten. Penerimaan usaha budidaya ikan diukur dengan mengalikan produk fisik ikan nila merahdengan harga ikan nila merah per kg, dan dinyatakan dalam satuan rupiah per periode (Rp/periode).
6. Pendapatan budidaya ikan nila merah adalah besar pendapatan yang diperoleh pembudidaya dari usaha budidaya ikan nila di Kabupaten Klaten. Pendapatan budidaya diperhitungkan dari selisih antara penerimaan budidaya ikan nila dengan biaya menggusahakan dari budidaya ikan nila selama satu periode budidaya (Rp/periode).
7. Faktor-faktor produksi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah faktor yang diduga berpengaruh terhadap produksi budidaya ikan nila di Kabupaten Klaten diperoleh berdasarkan acuan dari penelitian terdahulu.
Faktor-faktor produksi budidaya yang diteliti berupa luas kolam, jumlah
benih, jumlah pakan, dan tenaga kerja yang dihitung dalam satu kali periode budidaya. Faktor-faktor produksi diperhitungkan dengan menggunakan analisis regresi linear berganda.
8. Analisis regresi linear berganda adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Analisis ini menggunakan software SPSS 20.
9. Jumlah produksi (Y) adalah jumlah ikan nila merahyang dihasilkan oleh pembudidaya saat masa panen, dihitung dalam satuan kilogram (Kg).
10. Luas kolam (X1) yaitu luas kolam yang digunakan untuk budidaya ikan nila dalam satu periode budidaya. Luas kolam dihitung dalam satuan meter (m2).
11. Jumlah benih (X2) yaitu jumlah pemakaian benih ikan nila merahdalam satu periode budidaya. Jumlah benih dihitung dalam satuan kilogram (kg).
12. Jumlah pakan (X3) merupakan jumlah pakan yang digunakan dalam budidaya ikan nila merah selama satu periode budidaya. Jumlah pakan diperhitungkan dalam satuan kilogram (Kg).
13. Tenaga kerja (X4), yaitu jumlah tenaga kerja baik dari keluarga sendiri maupun dari luar keluarga yang digunakan per kegiatan dalam satu kali periode budidaya yang diperhitungkan dengan pengukuran hari kerja pria dengan waktu kerja 8 jam per hari (HKP).
14. Efisiensi ekonomi produksi merupakan kemampuan menghasilkan output pada tingkat kualitas tertentu dengan biaya yang rendah. Efisiensi ekonomi produksi dihitung dari perbandingan nilai produk marginal (NPMxi) dengan harga produk tersebut (Pxi). Faktor produksi dikatakan efisien jika perbandingan antara nilai produk maginal (NPM) untuk suatu input sama dengan 1.