• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

19 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

1. Tinjauan Mengenai Sengketa

Kenyataan bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat dihindarkan dari interaksi terhadap sesamanya menjadi faktor kunci dalam munculnya sengketa. Pertentangan, perselisihan dan perdebatan argumentatif merupakan salah satu upaya yang dilakukan manusia untuk mempertahankan pendirian dan pengakuan dalam proses pencapaian suatu kepentingan (Handayani, 2017:591). Dalam penelitian ini, istilah sengketa, konflik, dan perselisihan akan digunakan berdasarkan pengertian secara luas sehingga dianggap memiliki arti yang serupa (Penulis menegaskan hal ini karena beberapa tulisan memberikan pengertian yang berbeda-beda terhadap masing-masing istilah tersebut). Interaksi yang terjadi antara manusia yang satu dengan lainnya tidak selalu berjalan dengan mulus, perbedaan pendapat, ketersinggungan, ataupun perselisihan merupakan risiko yang turut hadir dalam interaksi tersebut. Hal inilah yang kemudian kita kenal dengan perselisihan, konflik, atau sengketa. Secara istilah, bila kita menilik Kamus Besar Bahasa Indonesia, ’konflik’ dan ’sengketa’ sama- sama mengandung ’perselisihan’ sebagai salah satu maknanya. Kemudian bila kita membedah secara kebahasaan, ’perselisihan’ sendiri diartikan sebagai 'hal berselisih’. Perselisihan muncul dari kata dasar 'selisih' yang didefinisikan sebagai beda, kelainan, atau hal tidak sependapat (sehaluan dan sebagainya), pertentangan pendapat, dan pertikaian. Bila dirangkai dengan pemahaman bahwa 'hal' bermakna tentang, soal, atau urusan;

sedangkan awalan 'ber-' dalam konteks ini memiliki makna 'berada dalam keadaan' maka perselisihan dapat dipahami sebagai ’hal yang berada dalam keadaan pertentangan’. Flippo menyatakan bahwa perselisihan terjadi jika dua orang (kelompok) atau lebih merasa bahwa mereka mempunyai tujuan- tujuan yang tidak selaras dan kegiatan yang saling bergantung (Flippo, commit to user

(2)

1994:208). Kasus Mavrommatis tahun 1924 di Permanent Court of International Justice, yang merupakan awal mula terbentuknya Mahkamah Internasional, menyebutkan definisi perselisihan sebagai sebuah perbedaan pendapat terhadap suatu poin hukum atau fakta, sebuah konflik atas pandangan hukum atau atas kepentingan di antara dua orang (...a disagreement on a point of law or fact, a conflict of legal views or of interests between two persons) (Mavrommatis Palestine Concessions (Greece v. U.K.), 1924:5). Vilhem Aubert mendefinisikan sengketa sebagai suatu kondisi yang ditimbulkan oleh dua orang atau lebih, yang dicirikan oleh beberapa tanda pertentangan secara terang-terangan, yang kemudian ia bedakan menjadi dua macam konflik, yaitu konflik kepentingan (conflict of interest) dan klaim kebenaran (claims of right) (Friedman, 1975:225-226).

Konflik kepentingan terjadi manakala dua orang memiliki keinginan yang sama terhadap satu objek yang dianggap bernilai. Konflik kepentingan timbul jika dua pihak memperebutkan satu objek. Sementara klaim kebenaran adalah klaim yang menyatakan bahwa kebenaran berada di satu pihak dan menganggap pihak lain bersalah. Konflik karena klaim kebenaran diletakkan pada terminologi benar atau salah. Misalnya, dalam tuntutan pengadilan masing-masing pihak melakukan klaim bahwa dia yang benar sementara pihak lain salah. Argumen klaim ini akan didasarkan pada terminologi kebenaran (bukan kepentingan), norma-norma, dan hukum.

Konflik kepentingan lebih kompromis penyelesaiannya bila dibandingkan dengan konflik karena klaim kebenaran. Menurut Henry Campbell Black, ada berbagai macam konflik yang harus diselesaikan, yakni konflik atau kontroversi; konflik mengenai tuntutan-tuntutan atau hak-hak; tuntutan atas hak, klaim, atau tuntutan suatu pihak, melawan tuntutan atau tuduhan atau hal lain yang berlawanan (…a conflict or controversy; a conflict of claims or rights; an assertion of right, claim, or demand one side, met by contrary claims or allegations or the other) (Black, 2004:204). Secara lebih luas, konflik bahkan dapat didefinisikan sebagai benturan kepentingan, nilai, tindakan, atau tujuan. Konflik mengacu pada keberadaan benturan tersebut. commit to user

(3)

Kata konflik dapat diterapkan sejak saat benturan itu muncul. Bahkan ketika kita mengatakan bahwa ada potensi konflik, kita telah menyiratkan bahwa sudah ada konflik tentang arah atau tujuan dari sesuatu, meskipun benturan itu (benturan yang dikhawatirkan) mungkin belum terjadi (Bono, 1986:5).

2. Tinjauan Penyelesaian Sengketa

Perselisihan harus diselesaikan, membiarkan konflik berkepanjangan akan mengurangi energi untuk lebih memikirkan kemajuan bisnis. Pemilihan cara penyelesaian sengketa yang tepat dapat memberikan efek positif di kemudian hari bagi hubungan bisnis para pihak yang bersengketa (Pujiyono, 2014:25-26). Ada tiga jalan untuk menyelesaikan konflik, yaitu bertarung dalam litigasi, saling tawar-menawar melakukan negosiasi, dan merancang jalan keluar. Hanya dua jalan pertama yang dikuasai sepenuhnya oleh para pihak yang bersengketa. Untuk merancang jalan keluar diperlukan adanya pihak ketiga di luar permasalahan yang mampu melihat situasi melalui perspektif orang ketiga (Bono, 1986:vii).

Menurut William Ury, J. M. Brett, dan S. B. Goldberg sebagaimana yang dikutip dalam Suyud Margono, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi proses penyelesaian sengketa, yaitu kepentingan (interest); hak-hak (rights); dan status kekuasaan (power). Para pihak yang bersengketa menginginkan agar kepentingannya tercapai, hak-haknya dipenuhi, dan kekuasaannya diperlihatkan dan dipertahankan. Dalam proses penyelesaian sengketa para pihak lazimnya akan bersikeras untuk mempertahankan ketiga faktor tersebut (Margono, 2004:35).

Hani Handoko menyatakan bahwa cara yang sering digunakan untuk penyelesaian sengketa, antara lain adalah dominasi dan penekanan, kompromi, serta pemecahan masalah integratif (Handoko, 1986:352-353).

Sementara Filley, House, dan Kerr sebagaimana dikutip oleh Sukanto Reksohadiprojo dan Hani Handoko, dengan berorientasi pada hasil penyelesaian sengketa menyatakan bahwa strategi penyelesaian konflik dapat berupa: kalah dan kalah (lose-lose), kalah dan menang (win-lose), commit to user

(4)

serta menang dan menang (win-win) (Reksohadiprojo & Handoko, 1992:243-244). Robbins dan Judge menyatakan bahwa penyelesaian perselisihan antara pihak satu dengan pihak lainnya dapat dilakukan dengan delapan cara, yaitu 1) cara menang atau kalah; 2) menarik diri dari perselisihan; 3) menganggap perbedaan tersebut terlihat kurang penting; 4) mengutamakan tujuan dengan meminta penghentian perselisihan untuk sementara; 5) kompromi; 6) penyerahan pengambilan keputusan kepada suatu pihak ketiga; 7) mengundang suatu pihak ketiga untuk menengahi dan membantu para pihak mencapai penyelesaian; dan 8) konfrontasi pemecahan masalah secara terbuka dengan saling memberikan informasi untuk mengatasi perbedaan-perbedaan yang terjadi sehingga mendapatkan pemecahan yang diterima oleh seluruh pihak (Robbins & Judge, 2008:209).

Model dari upaya penyelesaian sengketa tentulah perlu mengikuti dinamika zaman. Perkembangan kehidupan sosial yang pesat menuntut upaya penyelesaian sengketa yang dapat mengakomodir kebutuhannya. Dari penjelasan di atas jelas bahwa pendekatan tradisional ”win-lose” atau ”lose- lose” harus digantikan dengan falsafah perilaku (behaviour) ”win-win”

(Blake & Mouton, 1971:49-57). Gatot Soemartono menjelaskan dengan lebih operasional bahwa untuk menyelesaikan sengketa pada umumnya terdapat beberapa cara yang dapat dipilih, yaitu negosiasi, mediasi, arbitrase, dan pengadilan (Soemartono, 2006:1). Menurut Komar Kantaatmaja seperti yang dikutip dalam Huala Adolf, sarana penyelesaian sengketa dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu penyelesaian sengketa secara litigasi baik nasional maupun internasional; penyelesaian sengketa dengan menggunakan negosiasi baik yang dilakukan secara langsung ataupun dengan melibatkan pihak ketiga; dan penyelesaian sengketa dengan menggunakan arbitrase baik yang bersifat ad-hoc maupun kelembagaan (Adolf, 2002:4).

Terdapat dua aliran besar yang dapat dipilih sebagai upaya penyelesaian sengketa, yaitu litigasi dan nonlitigasi. Litigasi dikenal sebagai upaya baku yang dirujuk untuk menjadi sarana penyelesian sengketa. Dalam commit to user

(5)

litigasi, para pihak menyelesaikan sengketa melalui pengadilan untuk kemudian melakukan tindakan hukum dengan berdasar kepada putusan yang dijatuhkan oleh hakim. Sedangkan nonlitigasi yang dikenal juga sebagai alternatif penyelesaian sengketa didefinisikan sebagai ’lembaga’

penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati oleh para pihak, secara spesifik merujuk pada penyelesaian sengketa di luar pengadilan.

a. Litigasi

Litigasi adalah penyelesaian sengketa antara para pihak yang dilakukan di muka pengadilan. Umumnya, pelaksanaan gugatan disebut litigasi. Gugatan adalah suatu tindakan sipil yang disampaikan melalui pengadilan di mana penggugat (pihak yang mengklaim telah mengalami kerugian sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan oleh tergugat) menuntut upaya hukum atau keadilan. Tergugat diperlukan untuk menanggapi keluhan penggugat. Jika penggugat berhasil, penilaian akan diberikan dalam mendukung penggugat, dan berbagai perintah pengadilan mungkin dikeluarkan untuk menegakkan hak, kerusakan penghargaan; atau memberlakukan perintah pengadilan sementara atau permanen untuk mencegah atau memaksakan suatu tindakan. Secara konvensional, penyelesaian sengketa dalam dunia bisnis, seperti dalam perdagangan, perbankan, proyek pertambangan, minyak dan gas, energi, infrastruktur, dan sebagainya dilakukan melalui proses litigasi. Dalam proses litigasi para pihak diposisikan untuk saling berlawanan satu sama lain, selain itu penyelesaian sengketa secara litigasi merupakan sarana akhir (ultimum remidium) setelah alternatif penyelesaian sengketa lain tidak membuahkan hasil (Winarta, 2012:1-2). Indonesia mengatur mengenai penyelesaian sengketa bisnis melalui litigasi lewat kaidah- kaidah dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) yang berfungsi sebagai hukum materiil, kemudian sebagai pelaksana hukum acaranya, kewenangan dalam memeriksa, mengadili dan memutus perkara perdata dilaksanakan oleh lingkungan Peradilan commit to user

(6)

Umum sebagai salah satu badan peradilan di bawah Mahkamah Agung serta pengadilan lain yang diatur khusus. Pengadilan Negeri berada pada lingkungan Peradilan Umum yang mempunyai tugas dan kewenangan berdasarkan Pasal 50 dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 yang telah mengalami beberapa perubahan, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum (UU Peradilan Umum);

untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara pidana dan perkara perdata di tingkat pertama. Selanjutnya, Pasal 51 UU Peradilan Umum mengatur Pengadilan Tinggi sebagai pengadilan yang bertugas dan berwenang mengadili perkara pidana dan perkara perdata di tingkat banding.

Penyelesaian sengketa secara litigasi mengenal asas-asas yang harus diperhatikan oleh para pihak dalam proses gugat-menggugat melalui pengadilan, antara lain:

1) Asas Objektivitas

Semua putusan pengadilan harus memuat alasan dan dasar putusan, memuat pula pasal tertentu dari peraturan perundang- undangan atau sumber hukum tidak tertulis yang dijadikan dasar mengadili. Alasan-alasan yang dimaksud adalah sebagai pertanggungjawaban hukum kepada rakyat, karena itu merupakan nilai objektif.

2) Asas Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan

Makna dari sederhana adalah proses beracara di persidangan harus jelas, mudah dipahami, dan tidak berbelit-belit. Cepat, merujuk pada jalannya peradilan. Hal ini bukan hanya jalannya peradilan dalam pemeriksaan di muka sidang tetapi juga penyelesaian berita acara pemeriksaan di persidangan sampai dengan penandatanganan putusan oleh hakim dan pelaksanaannya. Biaya ringan dimaksudkan pada pembebanan commit to user

(7)

biaya perkara yang dapat dijangkau oleh masyarakat dalam melakukan penyelesaian sengketa di persidangan.

3) Persidangan Terbuka Untuk Umum

Sidang pemeriksaa pengadilan dalam sengketa bisnis pada dasarnya terbuka untuk umum. Jika hakim lupa mengucapkan bahwa sidang terbuka untuk umum maka akan berakibat pada putusannya yang menjadi batal demi hukum.

4) Audi et Alteram Partem

Asas ini memiliki arti ‘dengarkan sisi lain’ atau ‘listen to the other side’. Makna dari asas ini adalah bahwa dalam beracara di pengadilan para pihak, masing-masing, diberikan kesempatan untuk mengutarakan kepentingannya serta hal-hal yang terkait dengan kepentingannya di muka persidangan. Menyangkut hal pembuktian, dapat diartikan juga bahwa pengajuan alat bukti harus dilakukan di muka persidangan yang dihadiri oleh kedua belah pihak. Berdasarkan asas inilah, hakim tidak boleh menjatuhkan putusan sebelum memberikan kesempatan untuk mendengarkan kedua belah pihak.

5) Ius Curia Novit

Ius curia novit adalah ungkapan untuk ‘the court knows the law’ yang berarti hakim dianggap mengetahui semua hukum sehingga Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa dan mengadili perkara. Berdasarkan prinsip ius curia novit, hakim dianggap mengetahui dan memahami segala hukum. Dengan demikian, hakimlah yang berwenang menentukan hukum objektif mana yang harus diterapkan sesuai dengan materi pokok perkara yang menyangkut hubungan hukum pihak-pihak yang berperkara.

commit to user

(8)

b. Nonlitigasi

Alternative Dispute Resolution (ADR) atau dalam bahasa Indonesia kita kenal sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS) telah diatur dalam hukum nasional melalui Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (UU AAPS).

Menurut pandangan para sarjana pada umumnya, Alternatif Penyelesaian Sengketa mencakup berbagai bentuk-bentuk penyelesaian sengketa selain proses peradilan (Nopiandri, 2018:51). Bila dicermati, sistem hukum kita sebenarnya memisahkan arbitrase dari istilah alternatif penyelesaian sengketa. Ada beberapa cara yang diklasifikasikan sebagai alternatif penyelesaian sengketa dan disebutkan secara tegas dalam UU AAPS. Pasal 1 butir 1 UU AAPS mendefinisikan Arbitrase sebagai cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Arbitrase yang diatur dalam undang-undang ini merupakan cara penyelesaian suatu sengketa di luar peradilan umum yang didasarkan atas perjanjian tertulis dari pihak yang bersengketa. Tetapi tidak semua sengketa dapat diselesaikan melalui arbitrase, melainkan hanya sengketa mengenai hak yang menurut hukum dikuasai sepenuhnya oleh para pihak yang bersengketa atas dasar kata sepakat mereka. Terkait APS, Pasal 1 butir 10 UU AAPS merumuskan Alternatif Penyelesaian Sengketa sebagai lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsolidasi, atau penilaian ahli.

Ketentuan tersebut tidak merumuskan definisi secara spesifik mengenai APS, tetapi hanya mengatakan bahwa APS diselenggarakan di luar pengadilan. Perlu pula dicatat bahwa pengaturan mengenai APS dalam undang-undang yang bersangkutan sangatlah sumir, yaitu hanya dalam satu pasal, yakni Pasal 6 dalam UU AAPS (Umar, 2016:56).

commit to user

(9)

3. Tinjauan Mengenai Mediasi a. Definisi Mediasi

Mediasi merupakan suatu proses pembuatan keputusan dimana para pihak yang bersengketa didampingi oleh pihak ketiga yang berperan sebagai mediator. Mediator berusaha mengoptimalkan jalannya proses pembuatan keputusan dan membantu para pihak untuk mencapai hasil yang dapat diterima oleh para pihak (Boulle, 1996:3). Mediasi adalah proses di mana orang ketiga yang netral membantu orang yang terlibat dalam konflik untuk berkomunikasi secara efektif satu sama lain untuk mencapai keputusan yang mereka sepakati sendiri. Prinsip dasar mediasi meliputi kerahasiaan, penentuan nasib sendiri, kesukarelaan, dan ketidakberpihakan (Moore, 2017:543). Hal yang ingin dicapai oleh mediasi adalah agar pihak ketiga yang netral dapat membantu para pihak bersengketa untuk mencapai kesepakatan dengan keputusan dan pertimbangan mereka sendiri. Daripada memaksakan suatu solusi, seorang mediator profesional lebih cenderung untuk bekerja dengan pihak yang bertentangan untuk menggali kepentingan tersembunyi dalam posisi para pihak (Harvard Law School, 2012:1). Mediasi pada dasarnya adalah perpanjangan dari negosiasi, namun dengan keberadaan mediator sebagai peserta aktif, yang berwenang, dan memang diharapkan, untuk mengajukan usulan baru dan untuk menerjemahkan serta menyampaikan usulan para pihak satu sama lain (Merrills, 2011:26-40). Dalam mediasi, mediator ada di posisi netral dan berlaku seperti penyampai pesan antara para pihak. Mediator juga dapat menerangkan pada para pihak mengenai kemungkinan keberhasilan ataupun kegagalan atas klaim, tuntutan, maupun pembelaan mereka (Cara C Putman, 2009:22). Mediator melakukan fasilitasi untuk terjadinya diskusi yang produktif guna membantu para pihak yang bersengketa mencapai solusi jangka panjang, mudah dilaksanakan, dan dapat diterima oleh semua pihak. Sifat mediasi yang fleksibel dan suasana para pihak yang tidak diletakkan dalam posisi pertentangan commit to user

(10)

mengarahkan adanya kecenderungan penghematan waktu dan biaya, terutama pada kasus-kasus antar negara yang mungkin melibatkan penasihat-penasihat dari berbagai yurisdiksi disamping juga permasa- lahan hukum yang rumit (Singapore International Mediation Centre, 2015:1). Mediasi bisa menjadi sangat efektif untuk menjadi wadah dimana para pihak yang bersengketa dapat menyampaikan apa yang mereka rasakan dalam konflik yang dihadapi. Dalam prosesnya, dimungkinkan bagi mediator untuk bertemu dengan para pihak secara bersamaan dan terkadang secara terpisah dalam keadaan tertentu.

Mediasi merupakan proses fasilitatif yang membantu para pihak menyelesaikan permasalahan melalui cara nonkonfrontasi. Karena para pihak dibimbing oleh mediator untuk mencapai solusi yang diterima bersama, mereka pun biasanya cenderung lebih puas dengan hasil yang didapatkan, dan hal tersebut membantu menjaga hubungan para pihak (Singapore Mediation Centre, 2015:1). Mediator berusaha membantu menempa sebuah penyelesaian yang berkelanjutan dan sukarela.

UNCITRAL, Komisi PBB Bidang Perdagangan Internasional, mendefinisikan mediasi sebagai sebuah proses, terlepas dari istilah ataupun dasar apa yang digunakan dalam pelaksanaannya, di mana para pihak yang bersengketa berusaha mencapai penyelesaian yang damai atas perselisihan mereka dengan bantuan dari pihak ketiga yang disebut mediator, yang mana si mediator tidak memiliki wewenang untuk memaksakan suatu solusi kepada para pihak dalam sengketa tersebut.

Sedangkan dalam Perma Nomor 1 Tahun 2016, mediasi didefinisikan sebagai cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa unsur utama dari mediasi adalah sebuah proses pembuatan keputusan, dimana para pihak dibantu oleh pihak ketiga sebagai mediator, yang berusaha meningkatkan kualitas proses pembuatan keputusan, dan untuk membantu para pihak mencapai penyelesaian yang dapat diterima para pihak. Penekanannya commit to user

(11)

berada pada poin ’pembuatan keputusan,’ hal inilah yang membedakan mediasi dari cara penyelesaian lain. Mediasi tidak hanya dapat digunakan untuk menyelesaikan konflik, namun juga dapat dimanfaatkan, antara lain untuk memberi penegasan terhadap hal apa yang termasuk dalam perselisihan dan apa yang tidak, mengelola konflik, menegosiasikan kontrak, pembentukan peraturan, serta mencegah konflik.

b. Tahapan Mediasi

Secara umum mediasi dapat dibagi dalam tiga tahap: pra-mediasi, mediasi, dan pasca mediasi (Gould, King, & Britton, 2010:8). Pertama, tahap pra-mediasi yaitu tahap dimana para pihak sepakat untuk melakukan mediasi beserta persiapan pelaksanaannya. Tahap ini bisa saja dimulai dari penjelasan tentang proses yang akan dijalani dan upaya membujuk pihak yang enggan untuk mau bermediasi. Sebuah kontrak atau perjanjian mediasi biasanya digunakan agar seluruh pihak mengetahui dan bisa menyetujui seluruh aturan dasar dan syarat-syarat mediasi. Perjanjian tersebut mencakup hal-hal seperti biaya, kerahasiaan, sifat 'tanpa praduga' dalam mediasi, wewenang untuk menyelesaikan, dan jadwal. Dari sudut pandang mediator, tahap pra- mediasi pada intinya bertujuan untuk membuat para pihak setuju untuk bermediasi.

Kedua, tahap mediasi yaitu berjalannya proses mediasi, dalam mediasi komersial biasanya mediasi dilakukan dalam satu hari meskipun bisa diperpanjang hingga beberapa hari, minggu, atau bulan.

Mediasi biasanya dilakukan di tempat yang netral daripada di kantor salah satu pihak. Hal itu dimaksudkan untuk mencegah adanya ketimpangan kekuatan yang dapat terjadi jika salah satu pihak bergerak dalam wilayah yang familiar. Peran mediator mencakup pengelolaan proses yang mana mediatorlah yang akan berperan untuk 'mempersilakan duduk' para pihak sebelum memulai perkenalan. Saat commit to user

(12)

sesi mediasi berlangsung, para pihak yang bersengketa akan diberikan kesempatan untuk menyuarakan hal-hal yang menjadi perhatian mereka.

Mediator akan mengarahkan mereka kepada masalah-masalah yang penting untuk diselesaikan, biasanya bisa juga dalam bentuk urutan prioritas, kemudian melakukan fasilitasi agar para pihak dapat bernegosiasi untuk mencapai solusi yang dapat diterima bersama (Singapore Mediation Centre, 2015:1). Proses mediasi sangat fleksibel, ketika para pihak telah menyampaikan pernyataan dari sisi mereka, mediator dapat memilih untuk melakukan pembahasana selanjutnya dalam pertemuan bersama atau mengajukan pertemuan 'kaukus'.

Kaukus adalah pertemuan mediator secara tertutup dengan salah satu pihak tanpa kehadiran pihak lainnya secara bergantian, dengan tujuan untuk menggali lebih dalam permasalahan yang terjadi dan mencari tahu apa saja alternatif penyelesaian yang ada.

Ketiga, tahap pascamediasi, mematuhi dan melaksanakan hasil mediasi. Tahap ini termasuk untuk melaksanakan kesepakatan perdamaian atau, jika tidak ada kesepakatan atau jika yang berhasil disepakati hanya sebagian, melanjutkan proses ke persidangan atau arbitrase. Mediator masih dapat terlibat sebagai pengawas penyelesaian atau jika terjadi mediasi lebih lanjut pada aspek lain dalam sengketa tersbut, atau sengketa terkait. Hanya karena mediasi tidak mencapai kata sepakat bukan berarti mediasi tersebut gagal. Para pihak mungkin telah mendapatkan pemahaman yang lebih dalam atas sengketa yang terjadi, yang mana dapat mengarah pada efisiensi penyelesaian di kemudian hari.

Mediasi adalah bagian dari industri penyelesaian sengketa yang sedang berkembang, ia menelaah dan mengembangkan berbagai sistem, metode, dan teknik untuk pembuatan keputusan, penyelesaian sengketa, dan pemecahan masalah. Dalam penelitian ini, fokus pembahasan akan

commit to user

(13)

berada pada peranan mediasi dalam penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksudkan pada terminologi alternatif penyelesaian sengketa.

4. Teori Sistem Hukum Friedman

Lawrence M. Friedman (Friedman), seorang profesor di bidang hukum yang juga merupakan pakar sejarah hukum Amerika, mengemukakan bahwa dalam sistem hukum terdapat tiga elemen utama, yaitu Struktur Hukum, Substansi Hukum, dan Budaya Hukum. Menurutnya, berhasil atau tidaknya penegakan hukum tergantung pada tiga elemen tersebut. Pertama, yang dimaksud dengan Struktur Hukum adalah hal-hal yang menentukan bisa atau tidaknya suatu hukum untuk dilaksanakan dengan baik. Dalam perspektif ini, suatu peraturan hukum tidak peduli seberapa bagusnya akan sia-sia dan tidak berfungsi secara optimal bila tidak didukung oleh perangkat yang baik dan kuat. Dalam pandangan Friedman, mula-mula sistem hukum mempunyai struktur dari sebuah sistem hukum yang terdiri dari elemen-elemen sebagai berikut: jumlah dan cakupan pengadilan dan kaitannya dengan kewenangan mengadili. Struktur juga berarti bagaimana badan legislatif dikelola, prosedur yang bagaimana yang diikuti oleh aparat penegak hukum, dan sebagainya. Stuktur, sedikit banyak merupakan persimpangan dari sistem hukum, seperti foto yang tidak bergerak, ia membakukan tindakan hukum.

Kedua, aspek lain dari sistem hukum adalah substansinya. Yang dimaksud di sini adalah secara nyata aturan, norma, dan pola perilaku manusia di dalam sistem hukum. Penekanan yang diberikan adalah pada hukum yang hidup, bukan semata hukum yang tertulis dalam peraturan perundangan dan buku-buku.

Komponen ketiga dari sistem hukum adalah budaya hukum. Melalui istilah tersebut yang dimaksud adalah sikap orang-orang, manusia, atau massyarakat terhadap hukum dan sistem hukum yang mereka yakni, dengan kata lain pendapat sosial dan kekuatan masyarakat lah yang menentukan bagaimana hukum dipergunakan, dihindari, dan disalahgunakan. Budaya commit to user

(14)

hukum berkaitan erat dengan kesadaran masyarakat. Bahkan dapat dikatakan salah satu indikator keberhasilan hukum adalah seberapa tinggi tingkat kepatuhan masyarakat salam menaatinya (Friedman, 1975:20).

Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berhubungan satu dengan lainnya. Dalam hubungan tersebut ada cita bersama yang ingin dicapai oleh anggota sosial tersebut, untuk itu diperlukan langkah-langkah signifikan yang dapat mempengaruhi kognitif, afektif, dan konatif manusia. Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi kognitif, afektif, dan konatif manusia, yakni pengalaman pribadi, pengaruh orang yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, lembaga pendidikan dan agama, serta pengaruh emosional (Azwar, 1995:30-38). Perilaku merupakan manifestasi dari nilai yang akhirnya menjadi sikap. Soewarno Handayaningrat menyatakan, bahwa: ”...perilaku ialah apa yang kita lakukan, bukan mengapa kita melakukan itu” (Handayaningrat, 2001:83). Perilaku yang dilakukan secara terus menerus akan menjadi kebiasaan. Apabila kebiasaan ini terlembagakan maka akan menjadi budaya. Perilaku yang dilakukan secara terus menerus akan menjadi budaya. Pengertian kebudayaan salah satunya dikemukakan oleh Koentjaraningrat, yaitu: ”Kebudayaan adalah keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat” (Koentjaraningrat, 2004:2). Dari definisi ini kebudayaan bersumber dari nilai yang diperilakukan. Perilaku manusia ini penting diamati karena beberapa teori mengidentikkan mengenai tingkatan masyarakat tertentu dengan bagaimana perilaku mereka menyelesaikan sengketa.

Secara holistik, hubungan tiga elemen sistem hukum tampak layaknya seperti sistem mekanik. Struktur diibaratkan sebagai mesin, dengan substansi sebagai apa yang dikerjakan atau dihasilkan oleh mesih tersebut, sementara budaya hukum adalah ada atau tidaknya yang meghidupkan atau mematikan mesin itu. Meskipun struktur hukum dan subtansi hukum telah mengakui upaya penyelesaian sengketa melalui commit to user

(15)

mediasi, akan tetapi budaya hukum masyarakat di Indonesia baik budaya hukum mereka yang bersengketa maupun kuasa hukumnya masih menunjukkan kecenderungan untuk menempuh upaya hukum melalui pengadilan karena merasa memiliki kedudukan hukum (legal standing).

5. Tinjauan Politik Hukum

Untuk membahas pengertian dari politik hukum, pertama-tama perlu kita lihat makna politik dan hukum dari kaidah kebahasaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, politik dapat dipahami dengan beberapa pengertian, antara lain sebagai pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan, seperti tentang sistem pemerintahan maupun dasar pemerintahan; sebagai segala urusan dan tindakan, termasuk kebijakan, siasat, dan sebagainya, mengenai pemerintahan negara atau yang dilakukan terhadap negara lain; dan sebagai cara bertindak dalam menghadapi atau menangani suatu masalah; suatu kebijakan. Hukum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia juga memiliki beberapa makna, antara lain peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah; undang-undang, peraturan, dan sebagainya untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat; patokan (kaidah, ketentuan) mengenai peristiwa yang tertentu; atau bila dalam konteks yang lebih spesifik, sebagai keputusan (pertimbangan) yang ditetapkan oleh hakim (dalam pengadilan); vonis. Dengan pengertian yang demikian, kita bisa pahami bahwa politik hukum merupakan suatu cara, tindakan, yang ditempuh dengan berdasarkan pada pengetahuan akan urusan pemerintahan negara untuk mencapai tujuan diadakannya suatu hukum atau tujuan tertentu untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat.

Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., S.H., S.U., M.I.P., atau yang lebih dikenal publik sebagai Mahfud MD, mendefinisikan politik hukum sebagai suatu arahan yang dijadikan sebagai landasan dalam pembentukan dan pelaksanaan hukum, yang dilakukan untuk mencapai tujuan bangsa dan negara. Politik hukum merupakan ikhtiar mencapai tujuan negara dengan commit to user

(16)

menggunakan hukum sebagai rangkaian tindakannya. Politik hukum merupakan jawaban atas pertanyaan tentang mau diapakan hukum itu dalam perspektif formal kenegaraan guna mencapai tujuan negara. Dalam pengertian ini, pijakan utama politik hukum nasional adalah tujuan negara yang kemudian melahirkan sistem hukum nasional yang harus dibangun dengan pilihan isi dan cara-cara tertentu. Dengan demikian, politik hukum mengandung dua sisi yang tak terpisahkan, yakni sebagai arahan pembuatan hukum dan sekaligus sebagai alat untuk menilai dan mengkritisi apakah sebuah hukum yang dibuat sudah sesuai atau belum dengan kerangka pikir politik hukum tersebut untuk mencapai tujuan negara (Mahfud MD, 2010:15-16). Memang kenyataannya hukum dan peraturan perundang- undangan adalah merupakan kristalisasi nilai-nilai dari nilai tertentu sesuai dengan preferensi politik yang berkembang saat dibuat (Riwanto, 2016:109). Politik Hukum sebagai kebijakan dasar yang menentukan arah, bentuk, maupun isi dari hukum yang akan dibentuk. Politik Hukum adalah kebijakan penyelenggara negara tentang apa yang dijadikan kriteria untuk menghukumkan sesuatu. Dalam hal ini, kebijakan tersebut dapat berkaitan dengan pembentukan hukum, penerapan hukum, dan penegakannya sendiri (Wahjono, 1983:7-9).

Politik hukum ini diwujudkan dalam kebijakan-kebijakan dasar negara yang dibuat oleh penyelenggara negara, meliputi arah pembuatan hukum, pelaksanaan dan penerapan hukum, serta penilaian dan penegakan hukum itu sendiri, apakah sebuah hukum yang dibuat sudah sesuai atau belum dengan kerangka pikir politik hukum.

commit to user

(17)

B. Kerangka Pemikiran

SENGKETA BISNIS

PENYELESAIAN SENGKETA

LITIGASI Undang-Undang Nomor

48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan

Kehakiman

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian

Sengketa

BOTTLENECK PENANGANAN

PERKARA

RESOLUSI MELALUI MEDIASI

COURT-ANNEXED MEDIATION (MEDIASI DI PENGADILAN)

OUT OF COURT MEDIATION (MEDIASI DI LUAR

PENGADILAN)

NON LITIGASI

PROBLEM

1. Mengapa mediasi belum menjadi model utama dalam upaya penyelesaian sengketa bisnis?

2. Politik hukum apa yang harus dilakukan agar mediasi menjadi model utama dalam upaya penyelesaian sengketa bisnis?

• Tinjauan Mengenai Sengketa

• Tinjauan Penyelesaian Sengketa

• Tinjauan Mengenai Mediasi

• Teori Sistem Hukum Friedman

• Tinjauan Politik Hukum

SOLUSI

commit to user

(18)

Keterangan:

Sengketa bisnis merupakan hal yang banyak terjadi dan, dalam beberapa kondisi, merupakan risiko yang tidak dapat dihindari dalam melakukan kegiatan bisnis.

Penyelesaian sengketa di Indonesia secara umum dilakukan dengan mekanisme litigasi yang diatur, antara lain melalui Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Penyelesaian melalui litigasi semakin hari menunjukkan adanya kendala, yaitu terjadinya penumpukan perkara (bottleneck).

Untuk mengatasi hal tersebut Mahkamah Agung memunculkan terobosan berupa resolusi melalui mediasi yang diwujudkan dengan mewajibkan mekanisme Mediasi di Pengadilan. Nonlitigasi, di sisi lain, telah diatur juga melalui Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, yang juga menyebutkan mediasi sebagai salah satu alternatif penyelesaian sengketa.

Hal yang menarik bagi Penulis adalah, ketika mediasi eksis, baik dalam litigasi maupun nonlitigasi, mengapa sampai sekarang masih ada bottleneck penumpukan perkara? Kemudian bagaimana agar mediasi dapat didayakan secara optimal untuk mengatasi permasalahan tersebut di Indonesia? Guna mencari jawaban atas kegelisahan tersebut, Penulis menggunakan tinjauan-tinjauan mengenai sengketa, penyelesaian sengketa, mediasi, serta teori hukum dari Friedman sebagai landasan analisis.

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Untuk tujuan ini, baik Fakultas maupun Sekolah menyediakan sumber daya akademik maupuan sumber daya pendukung akademik (laboratorium, studio, perpustakaan), bukan

Permasalahan yang didapat Subjek 14.. Pada permasalahan nomor 2, pada poin a peserta didik mampu mengontruksi bangunan dengan tepat. Ketika ditanya observer peserta

Sesuai dengan kriteria diterima atau ditolaknya hipotesis maka dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa menerima hipotesis yang diajukan terbukti atau dengan kata lain variabel

From a series of research methodology, analysis and discussion design of a system that has been done then it can be drawn the conclusion, has produced an application

Jalankan tools iperf di komputer staf fti melaui command prompt dengan perintah “iperf – c 192.168.50.103 –u” delay < = 150 ms, jitter < = 20 ms, packet loss < = 1

Perencanaan yang dilakukan Humas Pusat Survei Geologi Melalui Kegiatan Geoseminar Dalam Mempertahankan Citra Perusahaan Dikalangan Peserta Seminar adalah melakukan diskusi

71 wakaf mampu untuk menunjukkan kapabilitasnya sebagai sebuah sistem pendistribusian ekonomi (dalam hal harta kekayaan) dan sebagai lembaga keuangan nirlabag,

Dengan teknologi multimedia dapat digunakan sebagai media pembuatan video profil “Vihara Dhama Sundara” yang menjadi media informasi dan promosi agar dikenal oleh masyarakat