54 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Novel Gajah Mada : Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara dan Perang Bubat Karya Langit Kresna Hariadi
Novel Gajah Mada : Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara dan Perang Bubat karya Langit Kresna Hariadi adalah novel berseri yang pada mulanya adalah suksesnya hasil penjualan terbaik novel seri pertama Gajah Mada yang diterbitkan oleh PT Tiga Serangkai Surakarta. Oleh karena permintaan penerbit yang sama, maka Langit Kresna Hariadi dikontrak untuk melanjutkan novel Gajah Mada seri berikutnya.
Gambar 1
Novel Gajah Mada : Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara diterbitkan tahun 2006 dengan ketebalan 508 halaman yang terbagi dalam 44 bab dan cover luks bergambar Gajah Mada yang akan menaiki tangga sebuah pura yang dilukiskan dalam suasana langit yang memerah.
Dalam novel ini diceritakan Gajah Mada sebagai tokoh utama yang memberikan andil besar dalam penentuan masa depan kerajaan Majapahit. Tokoh- tokoh penting lainnya dalam novel Gajah Mada : Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara yang kemudian mengalami perkembangan perwatakannya dalam novel Gajah Mada : Perang Bubat adalah seperti Gajah Enggon, Gagak Bongol, Macan Liwung, Pradhabasu, Dyah Menur Hardiningsih dan Prajaka. Perwatakan
tokoh-tokoh tersebut yang mengalami perkembangan di novel Gajah Mada : Perang Bubat sangat penting kita cermati agar dapat memilah perbedaannya.
Cerita dalam novel Gajah Mada : Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara penuh dengan konflik-konflik pembunuhan yang penuh dengan teka-teki.
Berbagai gejolak terjadi karena pendukung Raden Kudamerta dan Raden Cakradara berambisi terhadap kekuasaan setelah mangkatnya Prabu Jayanegara.
Selain itu, dendam Nyai Tanca terhadap Dyah Wiyat dan Gajah Mada atas kematian suaminya membuatnya melakukan tindakan makar.
Ketika digelarnya pasewakan, Gajah Mada menyarankan kepada Ibu Suri Ratu Gayatri untuk menunda keputusan pemilihan ratu menggantikan Jayanegara yang telah mangkat. Saran yang diberikan Gajah Mada kepada Ibu Suri Ratu Gayatri didasarkan atas terjadinya pembunuhan secara beruntun di kotaraja, dan bersamaan dengan Prabu Jayanegara yang telah mangkat.
Peristiwa pembunuhan terus terjadi dan membuat Gajah Mada berpikir untuk menyelidikinya lebih lanjut. Senopati Gagak Bongol dan Macan Liwung ditugaskan untuk menyelidiki hal ini. Teridentifikasi bahwa pendukung Raden Kudamerta dan Raden Cakradara lah yang berniat merebut tahta kerajaan apabila kemudian dapat mempersunting sekar kedaton.
Di antara konflik yang terjadi di seputar kotaraja, Pradhabasu tampil memberikan informasi kepada Ibu Suri Ratu Gayatri bahwa di Karang Watu ada pemusatan kekuatan yang mengarah kepada makar. Hal ini ditanggapi oleh Gajah Mada dengan mengirimkan telik sandi untuk menyelidikinya lebih lanjut.
Pakering Suramurda yang diidentifikasi sebagai paman dari Raden Cakradara ternyata dibunuh oleh orang yang kemudian melarikan diri. Hal ini membuat Gajah Mada semakin dibingungkan oleh peristiwa yang terjadi. Di satu sisi, Gajah Mada menduga Raden Cakradara lah yang menjadi dalang pembunuhan yang terjadi, sedangkan di sisi yang lain ternyata paman dari Raden Cakradara juga dibunuh oleh orang yang kemudian melarikan diri.
Konflik berakhir ketika Gajah Enggon, pemimpin pasukan Bhayangkara yang diduga masih dalam pengobatan, tetapi tampil dalam pengungkapan konflik yang terjadi di kotaraja. Gajah Enggon akhirnya bisa menangkap Rangsang
Kumuda. Kekuatan makar yang berpusat di Karang Watu pun bisa digagalkan oleh pasukan Bhayangkara setelah pemimpinnya ditangkap, dan kemudian diketahui pelakunya adalah Nyai Tanca yang menyamar sebagai laki-laki bernama Panji Rukmamurti.
Gambar 2
Novel Gajah Mada : Perang Bubat diterbitkan tahun 2006 dan mengalami cetak ulang pada tahun 2007. Novel ini tebalnya 448 halaman yang terbagi dalam 54 bab dan cover luks bergambar para prajurit yang gugur di sebuah medan yang juga dilukiskan dengan suasana langit yang memerah.
Buku ini adalah buku novel keempat dalam seri Gajah Mada karangan Langit Kresna Hariadi. Cerita yang diangkat dalam episode kali ini adalah latar belakang masalah yang memicu terjadinya Perang Bubat antara bala tentara kerajaan Majapahit melawan tentara kerajaan Sunda Galuh. Pada buku ini diceritakan yang memegang tampuk pemerintahan Majapahit adalah Hayam Wuruk, Patih Majapahit masih dipegang oleh Sang Legenda Gajah Mada. Gajah Mada yang sudah mengucapkan Sumpah Palapa masih penasaran karena masih ada 1 negara yang belum berada dalam kekuasaan Majapahit. Adalah kerajaan Sunda Galuh di bagian barat Pulau Jawa yang belum tunduk pada kekuasaan Majapahit, padahal pada saat itu hampir semua negara di nusantara sudah tunduk dalam kekuasaan Majapahit. Diceritakan Hayam Wuruk yang sudah beranjak dewasa ingin mencari permaisuri, sudah banyak calon yang ditawarkan belum menyentuh hati Hayam Wuruk. Ironisnya di saat Gajah Mada bernafsu ingin segera menaklukan Sunda Galuh, Hayam Wuruk malah jatuh cinta pada putri
Prabu Sunda Galuh yang bernama Dyah Pitaloka. Konon Dyah Pitaloka digambarkan sangat cantik. Dua kepentingan besar bertikai di dalam kerajaan Majapahit; ada kubu yang mendukung Mahapatih Gajah Mada untuk segera menggilas Sunda Galuh, ada pula kubu yang menginginkan Sunda Galuh bisa ditaklukan secara halus dengan pernikahan Hayam Wuruk dengan putri pertama Prabu Sunda Galuh. Singkat cerita lamaran pun dikirimkan dari Majapahit ke Sunda Galuh.
Tidak mudah bagi Sang Prabu Sunda Galuh untuk menerima lamaran dari Majapahit. Menerima lamaran Majapahit sama saja dengan menyerah terjajah di bawah kekuasaan Majapahit. Untuk menyelamatkan harga diri kerajaan Sunda Galuh, Sang Prabu rela turun dari tahta dan mengangat putrinya menjadi ratu memimpin kerajaan Sunda Galuh. Diharapkan dengan naiknya Dyah Pitaloka sebagai ratu, perkawinannya dengan Hayam Wuruk akan mencegah Sunda Galuh menjadi negara terjajah melainkan akan membawa Sunda Galuh sejajar dengan Majapahit. Kisah bertambah makin rumit ketika ternyata Dyah Pitaloka sudah memiliki kekasih gelap. Demi negaranya, Dyah Pitaloka menerima lamaran Hayam Wuruk.
Rombongan Sunda Galuh berangkat ke Majapahit memenuhi undangan untuk menggelar pesta pernikahan di Majapahit. Adanya pihak-pihak kecil yang ingin mengail di air keruh dalam kerajaan Majapahit, kedatangan rombongan dari Sunda Galuh malah berujung petaka. Ada pihak yang mengadu domba bala tentara Majapahit dengan rombongan Sunda Galuh. Pihak Majapahit diberi kabar bohong bahwa kedatangan rombongan Sunda Galuh akan datang mundur dari jadwal semula. Akibatnya tidak ada penyambutan sama sekali saat rombongan Sunda Galuh datang. Inilah yang memicu perang di lapangan Bubat antara bala tentara Majapahit melawan rombongan Sunda Galuh. Semua orang dalam rombongan tersebut habis terbantai, termasuk mantan Prabu, permaisurinya, dan juga calon mempelai Dyah Pitaloka.Dyah Pitaloka memilih bunuh diri. Pihak yang mengadu domba mengatasnamakan Gajah Mada sebagai pencetus ide pembantaian ini. Padahal saat itu Gajah Mada sedang bermeditasi selama
beberapa hari sehingga tidak tahu sama sekali tentang pembantaian di lapangan Bubat.
B. Analisis Unsur-unsur Intrinsik Novel Gajah Mada : Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara Karya Langit Kresna Hariadi 1. Alur
Alur cerita sering disebut dengan kerangka cerita/plot. Alur merupakan kerangka dasar yang sangat penting. Alur mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus bertalian satu sama lain, bagaimana tokoh digambarkan dan berperan dalam peristiwa itu yang semuanya terikat dalam kesatuan waktu.
Alur yang terdapat dalam novel Gajah Mada : Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara memiliki empat alur, yaitu alur Mundur-Maju-Mundur-Maju.
Hal ini dapat diidentifikasi sebagai alur campuran. Penjabarannya seperti eksposisi, yaitu paparan awal cerita novel yang menceritakan alur flashback, yaitu akhir cerita novel yang dipaparkan di awal dan kemudian dilanjutkan dengan alur maju. Hal ini berlanjut dengan inciting moment, yaitu saat terjadinya cerita yang dibawakan oleh tokoh Pancaksara yang menceritakan secara flashback kerajaan Singasari. Alur berubah menjadi maju, kemudian mulai menyebar dan konflik mulai bermunculan (rising action). Konflik menjadi semakin ruwet (compilation) ketika semakin bertambahnya konflik yang memunculkan teka-teki tokoh-tokoh yang memiliki tendensi perebutan tahta kerajaan. Konflik mencapai klimaksnya (climax) ketika diadakan penyelidikan dan penyerangan terhadap kubu-kubu yang berniat makar setelah terjadinya berbagai peristiwa pembunuhan. Konflik berakhir (denoument) ketika pasukan Bhayangkara berhasil menangkap pemimpin makar di Karang Watu, dan Gajah Enggon yang menangkap tokoh Rangsang Kumuda sebagai kubu pendukung Raden Kudamerta yang berniat meraih tahta kerajaan.
a. Eksposisi
Cerita dalam novel Gajah Mada : Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara diawali dengan kisah Dyah Wiyat yang kehilangan seorang embannya dan kemudian telah ditemukannya tidak jauh dari pintu purawaktra, dua orang berjalan yang menandainya benar. Orang yang
dicarinya karena menghilang adalah Dyah Menur yang menyamar sebagai seorang emban dengan nama Sekar Tanjung yang berjalan beriringan dengan Pradhabasu. Padahal kisah ini juga menandai berakhirnya novel ini. Hal ini dapat diidentifikasi sebagai alur mundur.
Berikut adalah kutipan di awal penceritaan novel ini.
....Nun jauh di barat setelah melintas Purawaktra, Dyah Wiyat akhirnya melihat dua orang yang berjalan kaki berdampingan.
Dyah Wiyat yang akhirnya berhasil menandai orang itu benar....(GM : BdKTdA, 2006 : 2).
Alur cerita kemudian maju dengan mulai diceritakan sakitnya Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana, raja pertama Majapahit. Seluruh rakyat dan abdi dalem sangat mencintai pendiri kerajaan Majapahit ini dengan ikut mendo’akan kesembuhan rajanya. Berikut adalah kutipan yang menggambarkan hal tersebut.
Kala itu tahun 1309. Segenap rakyat berkumpul di alun-alun.
Semua berdo’a, apapun warna agamanya, apakah Siwa, Budha maupun Hindu. Semua arah perhatian ditujukan dalam satu pandang, ke Purawaktra yang tidak dijaga terlampau ketat. Segenap prajurit bersikap sangat ramah kepada siapapun karena memang demikian sikap keseharian mereka. Lebih dari itu, segenap prajurit merasakan gejolak yang sama, oleh duka mendalam atas gering yang diderita Kertarajasa Jayawardhana (GM : BdKTdA, 2006 : 3).
Cerita berlanjut ketika Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana kemudian mangkat setelah penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Berita mangkatnya Sang Prabu dikabarkan melalui suara bende Kiai Samudra yang ditabuh sebagai isyarat adanya kematian. Hal ini membuat seluruh rakyat Majapahit berduka cita. Berikut ini adalah kutipan yang menggambarkan hal tersebut.
....Dan ketika bende Kiai Samudra dipukul bertalu, tangis serentak membuncah. Ayunan pada bende yang getar suaranya mampu menggapai sudut-sudut kota merupakan isyarat yang sulit dipahami. Gelegar bende dengan nada satu demi satu, namun berjarak sedikit lebih lama dari isyarat kebakaran merupakan pertanda Sang Prabu mangkat. Semua orang yang mendengar isyarat itu merasa denyut jantungnya berhenti berdetak (GM : BdKTdA, 2006 : 6).
b. Inciting Moment
Terjadinya alur cerita dibawakan oleh tokoh Pancaksara dengan menceritakan secara flashback kerajaan Singasari kepada Gajah Mada.
Penceritaan ini dikarena tokoh Gajah Mada menginginkan penjelasan dari Pancaksara sebagai orang yang melanjutkan menulis sejarah Majapahit dari mendiang ayahnya, Samenaka yang sejak awal menulis sejarah Singasari. Hal ini seperti dalam kutipan dialog berikut ini.
”Tolong ceritakan bagaimana sebenarnya silsilah raja-raja yang memerintah negeri ini,” ucapnya sambil memejamkan mata.
”Ah, bukankah kau sudah tahu?” jawab Pancaksara.
”Aku ingin lebih meyakinkan, tolong,” balas Gajah Mada (GM : BdKTdA, 2006 : 26).
Pancaksara menceritakan awal berdirinya kerajaan Singasari dengan Ken Arok sebagai pendirinya. Latar belakang Ken Arok sebagai orang yang berkelakuan tidak terpuji akhirnya bisa meraih ambisinya menjadi raja setelah menggunakan akal liciknya. Berikut adalah kutipan yang menggambarkan hal tersebut.
Jika dirunut jauh ke belakang, awalnya Ken Arok yang kelak di kemudian hari bergelar Sri Ranggah Rajasa Batara Sang Amurwabumi hanyalah sampah masyarakat belaka. Namanya melekat dengan sarangnya, Padang Karautan, yang berada tidak jauh dari Istana Singasari. Ia terkenal sebagai maling, perampok, penyamun, dan perbuatan tidak terpuji lainnya. Meski ia seorang penyamun, otaknya jalan dan encer, bahkan jahat. Setidaknya Ken Arok, anak pasangan suami istri Gajah Para dan Ken Endok ini bisa menggunakan akalnya untuk menggapai sebuah tujuan yang luar biasa, menjadi raja. Sebuah kesempatan yang ia peroleh setelah Brahmana Lohgawe membawanya ke Istana Pakuwon Tumapel (GM : BdKTdA, 2006 : 27).
c. Rising Action
Ketika alur menjadi maju, kemudian mulai menyebar dan konflik mulai bermunculan dan menanjak ketika banyak terjadi peristiwa pembunuhan di dalam kotaraja. Berbagai peristiwa pembunuhan ini diduga dilakukan oleh dua kubu pendukung Raden Kudamerta dan Raden Cakradara yang berambisi meraih tahta kerajaan. Di awal pembunuhan
terjadi melalui tempat tersembunyi yang menggunakan anak panah. Hal ini dapat diidentifikasi dari kutipan berikut ini.
....di balik bayang pohon asoka yang tumbuh lebat dan bunganya sedang mekar, sebuah anak panah yang dilepas dari gendewa direntang melesat dan menggapai tenggorokan seseorang. Pelaku perbuatan itu segera melenting melenyapkan diri di balik dinding....
(GM : BdKTdA, 2006 : 61).
Pembunuh bayaran melakukan pembunuhan atas perintah ini kemudian diberikan upah uang kampil oleh orang yang memberi perintah tersebut. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Dengan amat tenang, orang yang memberi perintah mengeluarkan sebuah kampil berwarna hitam....(GM : BdKTdA, 2006 : 61).
Upah diterima oleh pembunuh bayaran tadi, dan kemudian ternyata terdapat ular beracun yang diselipkan dalam uang kampil tersebut. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Ada yang tidak disadari oleh pembunuh bayaran itu. Ada sesuatu yang kenyal melingkar di dalam kantung itu, yang punya tenaga untuk menggeliat dan mematuk (GM : BdKTdA, 2006 : 61).
Ular beracun yang diselipkan dalam uang kampil tersebut kemudian membuat pembunuh bayaran tadi mengalami sekarat hingga menuju kematian. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Hanya dalam hitungan tak sampai sepenginang, kesakitan yang diderita oleh orang yang dipatuk ular itu berakhir. Napas yang tersisa berhenti setelah sebuah tarikan panjang....(GM : BdKTdA, 2006 :62).
Pembunuhan-pembunuhan terus terjadi. Dua mayat yang dikirim ke kotaraja melalui kuda mengindikasikan ada beberapa pihak yang memecah perhatian pihak Majapahit. Peristiwa ini diketahui oleh Gajah Enggon dan teridentifikasi salah satu kuda yang pahanya terdapat cap bakar bergambar bulatan yang dibelit ular dengan membawa dua mayat.
Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Dua ekor kuda itu menyita perhatian Gajah Enggon yang tidak berkedip dalam memandanginya. Namun, Gajah Enggon tidak mengenali siapa pemilik kuda tegar itu. Di atas paha kanannya
melekat cap bakar bergambar bulatan dibelit ular. Selebihnya ia hanya kuda berwarna cokelat. Sedangkan yang seekor lagi tidak memiliki tanda apapun, tidak ada cap punggung atau tanda khusus yang lain yang bisa dikenali. Gajah Enggon kemudian mengarahkan perhatiannya pada dua sosok mayat yang digeletakkan di bangunan jaga (GM : BdKTdA, 2006 : 123).
Di pihak lain terdapat peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Sekar Kedaton Dyah Wiyat oleh orang yang tidak dikenal melalui kiriman buah mangga yang diselipkan ular beracun. Kiriman tersebut kemudian diterima oleh seorang emban bernama Jalak Pripih. Peristiwa ini menambah permasalahan bagi Majapahit, sehingga teka-teki yang belum terjawab pun semakin bertambah. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
”Orang itu tidak menyebut nama dan asalnya. Hanya itu pesannya dan orang itu pun pergi. Aku sungguh tidak menyangka di bawah buah mangga ada tiga ekor ular itu.” (GM : BdKTdA, 2006 : 343).
Percobaan pembunuhan juga terjadi ketika sedang diadakan upacara pemakaman mangkatnya Sang Prabu Jayanegara. Rubaya melakukan percobaan pembunuhan tersebut ketika sedang terpusat prosesi pembakaran. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Saat semua perhatian sedang terpusat macam itulah Rubaya merasa telah tiba waktunya. Dengan memutar pergelangan tangan, pisau yang semula tersimpan di balik lengan bajunya melorot turun dengan gagang menempatkan diri di telapak tangan. Rubaya mencari kesempatan. Dan, saat ledakan batang bambu yang terbakar terulang kembali, dengan perhitungan cermat ia mempersiapkan diri mengayunkan pisaunya (GM : BdKTdA, 2006 : 159).
Raden Kudamerta menjadi sasaran target pembunuhan Rubaya.
Rubaya adalah salah seorang anggota Bhayangkara yang dijebak oleh orang-orang yang berniat merebut tahta Majapahit. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Raden Kudamerta yang menjadi sasaran bidik terhenyak manakala merasakan sakit yang datang dengan tiba-tiba. Perih yang bukan kepalang terasa di dada kirinya, yang ketika dengan cermat ia
perhatikan ternyata berasal dari sebilah pisau yang tertancap di dadanya (GM : BdKTdA, 2006 : 159).
Peristiwa pembunuhan terjadi lagi di Bale Gringsing, tempat Gajah Enggon dirawat dari sakitnya. Teridentifikasi korban pembunuhan bernama Ajar Langse. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
”Kutemukan sebuah jejak, Kakang Gajah,” kata Riung Samudra.
”Orang yang membunuh Lurah Ajar Langse melompati dinding, ada jejak darah di tembok ketika pelaku pembunuhan itu berusaha meninggalkan tempat ini.” (GM : BdKTdA, 2006 : 391).
d. Compilation
Konflik semakin ruwet ketika bertambahnya peristiwa pembunuhan lagi sehingga dugaan-dugaan dua kubu pendukung Raden Kudamerta dan Raden Cakradara sebagai dalang pembunuhan semakin kabur. Di pihak lain juga diketahui ada kekuatan yang berpusat di Karang Watu yang dicurigai melakukan makar secara terpisah. Informasi ini disampaikan kepada Ibu Suri Ratu Gayatri oleh Pradhabasu ketika digelarnya pasewakan. Pradhabasu mengetahui informasi ini berdasarkan perjalanannya ketika berada di luar Majapahit. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
”Menurut hamba, Keta dan Sadeng saat ini sedang menyiapkan makar, Tuan Putri,” ucap bekas Bhayangkara Pradhabasu (GM : BdKTdA, 2006 : 169).
Pakering Suramurda yang sebelumnya diduga sebagai dalang atas berbagai peristiwa pembunuhan yang terjadi, akhirnya tidak bisa dibuktikan. Konflik ini semakin ruwet karena dugaan-dugaan sementara atas dalang rangkaian pembunuhan yang terjadi di kotaraja semakin kabur. Hal ini diidentifikasi ketika Pakering Suramurda, paman dari Raden Cakradara dibunuh dengan anak panah oleh seseorang secara sembunyi. Berikut kutipan yang menggambarkan hal tersebut.
Pakering Suramurda terbelalak dalam memegangi gagang anak panah yang tenggelam di tengah dadanya. Sakit yang timbul dirasakan nyeri bukan kepalang dan tidak memberi kesempatan kepada paman Raden Cakradara itu untuk bertahan lama. Hal itu
karena ujung anak panah yang menancap berlumur bisa. Pekering Suramurda ambruk untuk berkelejotan dan mati (GM : BdKTdA, 2006 : 443).
e. Climax
Climax terjadi ketika seseorang yang menyamar dengan jubah putih dan topeng putih bersama Pradhabasu berusaha menangkap Rangsang Kumuda yang ingin mencegat Dyah Menur Hardiningsih ketika berada di pasar bersama Sekar Kedaton Dyah Wiyat. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Dyah Menur tetap tak sadar adanya bahaya yang mengintai. Lelaki bercaping itu berjalan makin dekat. Siapa pun orang itu, ia telah mencabut pisau tajam dan menggenggamnya menggunakan tangan kanan, sementara tongkat kayu penuntunnya pindah tangan kiri.
Orang itu berencana memaksa Dyah Menur untuk mengikutinya dan apabila perempuan yang menjadi sasarannya itu tidak mau, tersedia pilihan lain, meneggelamkan pisau itu ke tubuh Dyah Menur (GM : BdKTdA, 2006 : 477).
Pradhabasu menangkap orang yang dianggap bernama Rangsang Kumuda bersama orang-orangnya yang mengintai dari berbagai tempat.
Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
“Kisanak ikut aku. Kau tidak bisa menolak karena ada cukup banyak anak buahku yang mengawasi Kisanak. Kaulihat orang yang berdiri di dekat kuda putih itu? Dia juga temanku. Jadi, kau tak bisa lari ke manapun.”
Orang berjubah putih yang berhasil menagkap Rangsang Kumuda tersebut membawanya ke balai prajurit. Hal ini kemudian membuat para prajurit Majapahit menyiagakan panahnya yang diarahkan ke orang berjubah putih tersebut. Hal ini dicegah Gajah Mada dan kemudian memeriksanya. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Dua kuda yang datang itu langsung menerobos masuk menyibak orang-orang yang bergerombol. Menghadapi kemungkinan tak terduga, beberapa prajurit segera merentang anak panah mengarah kepada orang itu. Akan tetapi, Gajah Mada mengangkat tangan mencegahnya. Tanpa basa-basi, orang berjubah putih itu menurunkan barang bawaannya. Tubuh terikat dengan kepala
tertutup kain itu diturunkan di depan Patih Daha Gajah Mada (GM : BdKTdA, 2006 : 487).
Konflik juga mencapai klimaksnya ketika diadakan penyerangan di Karang Watu oleh pasukan Jalapati, Sapu Bayu. Sebelumnya ada dari kesatuan Jalapati bernama Ra Kembar yang membawa pasukan tanpa minta izin dari Senopati Panji Sryo Manduro sebagai pimpinannya sehingga dikhawatirkan hal ini berdampak buruk. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
“Kuminta pada kalian berdua untuk masing-masing mengirim pasukan dan menyerbu tempat itu. Apa pun kesalahan yang dilakukan Ra Kembar yang mengambil jalan sendiri tanpa minta izin, tetap saja niatnya baik. Aku mencemaskan Ra Kembar sedang masuk sarang harimau karena kesembronoannya. Nah, Panji Suryo, apabila kamu masih menyayangi anak buahmu itu segera kirim pasukan untuk membantunya agar Ra Kembar kelak bisa tampil sebagai kesatria yang pinunjul dan dibicarakan oleh banyak orang.
Ditepuktangani oleh para gadis.” (GM : BdKTdA, 2006 : 420).
Pasukan Majapahit yang telah dikirim ke Karang Watu atas instruksi Gajah Mada untuk menumpas kekuatan makar ternyata belum cukup dengan mengandalkan kesatuan Jalapati, Sapu Bayu dan ditambah kekuatan dari pasukan Ra Kembar yang melakukan penyerangan tanpa izin pimpinannya. Oleh karena itu, perlu strategi lain untuk menumpasnya. Gajah Mada menambah kekuatan dengan mengirimkan pasukan Bhayangkara yang diturunkan untuk melewati tebing. Medan daerah Karang Watu untuk melewatinya dari belakang adalah tebing yang menjulang tinggi. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
“Kita masih buta ada berapa besar kekuatan yang menghimpun diri di tempat itu dan seberapa kental semangat tempur kelompok berencana makar itu. Akan tetapi, sebagaimana kalian mengetahui, kesatrian Jalapati dan kesatrian Sapu Bayu telah mengirim kekuatan untuk menyerbu tempat itu, juga ditambah kekuatan Ra Kembar yang berangkat lebih dulu. Nah, seberapa banyak kekuatan Bhayangkara yang harus diterjunkan dari tebing?” (GM : BdKTdA, 2006 : 422).
f. Denoument
Penyelesaian konflik terjadi ketika tertangkapnya pemimpin makar yang berpusat di Karang Watu dan Rangsang Kumuda sebagai orang pendukung Raden Kudamerta yang berniat merebut tahta kerajaan.
Pihak-pihak yang berniat makar tersebut selanjutnya diajukan dalam persidangan untuk diadili. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Berita akan diselenggarakannya sidang untuk memeriksa para petualang yang berniat makar tersalur melalui udara yang bergetar oleh hantaman gada sebesar paha yang diayunkan ke bende Kiai Samudra. Gelegar suaranya memekakkan telinga, apalagi suara bende itu masih disusul dengan suara genderang yang ditabuh berderap, ditambah paduan suara sangkakala yang saling melangkapi (GM : BdKTdA, 2006 : 484).
2. Tokoh dan Penokohan
Berikut dipaparkan beberapa tokoh beserta penokohannya dalam novel Gajah Mada : Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara yang ikut dalam alur penceritaan yang penting. Disebut penting karena beberapa tokoh beserta penokohannya yang dianalisis penulis ini adalah tokoh yang bersinggungan dengan tokoh utama dan mengalami perkembangan penokohannya dalam seri selanjutnya, yaitu pada novel Gajah Mada : Perang Bubat.
Tokoh utama dalam novel Gajah Mada : Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara adalah Gajah Mada. Intensitas keterlibatan tokoh ini dalam membangun cerita sangat dominan. Selain itu, sebagai tokoh protagonis ia memiliki sifat yang menonjol yang terkesan monoton, sehingga dapat dikatakan Gajah Mada memiliki sifat datar. Berikut ini adalah gambaran tokoh Gajah Mada secara fisiologis, sosiologis, dan psikologis.
1. Gajah Mada
Dilihat dari dimensi fisiologis, Gajah Mada adalah seorang pemuda yang gagah dan bertubuh kekar. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa kutipan berikut ini.
Dengan beriringan dua pemuda gagah itu masuk ke dalam ruangan.
Karena Gajah Mada tidak termasuk orang yang dipanggil, Mahapatih Tadah segera menghadang kedatangan Patih Daha yang berbadan kekar dengan otot-otot yang melingkar itu (GM : BdKTdA, 2006 : 91).
Dari beberapa kutipan di atas, tokoh Gajah Mada secara fisik digambarkan secara analitik. Pengarang mengemukakan secara langsung kondisi fisik Gajah Mada, yaitu dengan penyebutan sebagai pemuda berbadan kekar, berkaki kukuh dan tangan yang yang kekar dengan otot-otot yang melingkar.
Tokoh Gajah Mada dilihat dari dimensi sosiologis adalah seorang pemuda yang berpangkat bekel, yaitu sebuah pangkat ketentaraan di bawah senopati.
Berawal dari pangkat tersebut Gajah Mada bisa meraih jabatan sebagai pimpinan Bhayangkara (sebuah pasukan khusus yang melindungi istana, raja, dan keluarganya).
Gajah Mada yang semula berpangkat bekel akhirnya mampu menduduki jabatan sebagai patih setelah ia melakukan jasa besar bagi kerajaan Majapahit, yaitu mampu menyelamatkan raja dari makar yang dilakukan oleh Ra Kuti.
….Peristiwa makar ini melambungkan Gajah Mada yang hanya berpangkat bekel, tetapi karena keberanian dan kecerdasan otaknya mampu menyelamatkan raja dari marabahaya dan mengembalikannya ke tampuk pimpinan negara (GM : BdKTdA, 2006 : 8).
Gajah Mada memeroleh kedudukan sebagai Patih Kahuripan di Jiwana dan Patih Daha setelah berjasa kepada kerajaan. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut.
Setelah jasa besar yang diperbuatkan ketika melakukan penyelamatan raja dari makar yang dilakukan Ra Kuti, Gajah Mada memperoleh anugerah dengan kedudukan sebagai Patih Kahuripan di Jiwana yang dilanjutkan anugerah itu dengan menjabat patih di Daha (GM : BdKTdA, 2006 : 26).
Dari kutipan di atas dapat dilihat bahwa jasa Gajah Mada yang begitu besar bagi raja membuatnya memperoleh keberhasilan, yaitu dinaikkan pangkatnya yang semula berpangkat bekel menjadi seorang patih.
Dilihat dari dimensi psikologis, Gajah Mada memiliki sifat sebagai seorang prajurit yang cakap dalam berbicara maupun bertindak, berjiwa pemimpin, dan memiliki pengabdian yang tinggi kepada raja. Dari dimensi psikologis, sifat cakap Gajah Mada ditunjukkan ketika ia menyampaikan hasil pemikirannya. Adapun Sri Gitarja, Dyah Wiyat dan Prabu Jayanegara pernah dibuat kagum dengan kemampuan berbicara serta kecerdasan otaknya dalam
menyampaikan gagasan-gagasannya. Bahkan, Arya Tadah sampai berangan- angan Gajah Mada akan menggantikan kedudukannya sebagai mahapatih di Majapahit.
Para Ratu saling pandang. Ratu Gayatri mengangkat tangannya memberikan sebuah isyarat agar Gajah Mada melanjutkan bicara.
Pandangan mata Sri Gitarja tidak berkedip kepada sosok prajurit yang dikaguminya itu, demikian pula dengan Dyah Wiyat tidak mengalihkan perhatiannya….(GM : BdKTdA, 2006 : 79-80).
Gajah Mada memiliki gagasan-gagasan yang membuat Prabu Jayanegara kagum. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
….Melengkapi tubuhnya yang demikian gagah dan kekar, Gajah Mada memiliki otak yang cerdas, pendapat dan cara pandangnya ada kalanya bahkan jauh tembus ke masa depan. Jayanegara termasuk orang yang sering terkaget-kaget mendengar gagasan yang keluar dari benak Gajah Mada (GM : BdKTdA, 2006 : 92).
Gajah Mada adalah orang yang memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.
Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini yang selalu membela kepangtingan bangsa dan negara.
….Gajah Mada dengan usianya yang masih muda dan tatapan matanya yang tajam dalam memandang jauh ke depan sangat mungkin mempunyai sumbang saran yang akan bermanfaat bagi kepentingan bangsa dan negara.
Ke depan pula, Arya Tadah bahkan berangan-angan pemuda itu nantinya akan menggantikan kedudukannya menjadi Mahapatih Wilwatikta apabila ia sudah tidak mampu lagi ngemban jabatan itu (GM : BdKTdA, 2006 : 72).
Sifat Gajah Mada yang mencerminkan jiwa seorang pemimpin, antara lain sebagai berikut :
a) Bijaksana
Sifat bijaksana Gajah Mada tercermin saat Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri meminta Gajah Mada memberi pendapat tentang masalah kekosongan tahta kerajaan setelah mangkatnya Sri Jayanegara. Berikut ini adalah kutipan yang menggambarkan kutipan tersebut.
….Rupanya usulan Gajah Mada itu sungguh bijaksana. Dengan ditundanya pengangkatan raja baru, maka di rentang waktu yang ada akan bias dimanfaatkan untuk menilai sosok macam apa Raden Cakaradara dan
Raden Kudamerta. Menjadi suami ratu dengan sendirinya akan menempatkan suaminya tak ubahnya raja (GM : BdKTdA, 2006 : 83).
b) Bertanggung Jawab
Gajah Mada merupakan sosok prajurit teladan yang memiliki penghormatan yang tinggi kepada orang yang diabdinya, sehingga segala sesuatu yang diperintahnya selalu dapat dilaksanakan dengan baik.
….dalam melaksanakan tugas, Gajah Mada selalu mampu melaksanakan dengan baik….(GM : BdKTdA : 2006 : 115).
c) Memiliki Hati yang Keras
Sifat keras Gajah Mada ditunjukkan ketika ia ingin menyampaikan pendapatnya kepada para ibu suri ratu tetapi ditentang oleh Mahapatih Arya Tadah. Berikut kutipan yang menggambarkan sifat tersebut.
Namun, bukan Gajah Mada kalau terpangkas niatnya hanya oleh jawaban itu. Gajah Mada mundur membelakangi Arya Tadah untuk kemudian berbalik lagi. “Dulu ketika terjadi makar yang dilakukan Ra Kuti, suaraku amat didengar. Manakala urusannya ada hubungannya dengan perebutan kekuasaan, suaraku sangat didengar. Dan sekarang, di luar sana titik api dalam sekam itu kembali menyala, bau perebutan kekuasaan dimulai lagi.
Adakah paman masih akan menghalangi aku menghadap para ratu untuk menyampaikan pendapatku?....(GM : BdKTdA : 2006 : 71).
d) Berwibawa
Berikut ini adalah kutipan yang menggambarkan kewibawaan Gajah Mada meskipun saat itu ia masih menjadi prajurit yang berpangkat bekel.
….Dengan agak ragu prajurit itu mendekat. Gajah Mada memiliki wibawa yang sangat besar menyebabkan prajurit merasa gugup, tangan kirinya bahkan agak buyutan (GM : BdKTdA, 2006 : 88).
e) Memiliki Pengabdian yang Tinggi
Pengabdian Gajah Mada yang begitu besar kepada raja ditunjukkan dengan sikapnya dalam melindungi Jayanegara dan selalu waspada bila ada sesuatu yang membahayakan nyawa Sang Raja.
Pengabdian Gajah Mada yang tinggi kepada istana membuat Ratu Gayatri dan Mahapatih bersedia memberikan amanat kepada Gajah Mada untuk memberikan perintah tidak ubahnya seperti ratu atau patih sendiri.
“Janganlah kau kehilangan akal, berpikirlah dengan tenang dan bertindaklah. Janganlah kau ikut-ikutan bingung sampai tak tahu apa yang harus dikerjakan,“ ucap Gayatri sambil mengalungkan selempang samir di lehernya.
…Arya Tadah tidak mau ketinggalan. Arya Tadah melepas lencana kepatihan yang dikenakan dan menyelamatkan lencana itu ke dada kanan Gajah Mada. Siapapun yang berhadapan dengan Gajah Mada tidak ubahnya berhadapan dengan Mahapatih Amangkubumi Arya Tadah sendiri (GM : BdKTdA, 2006 : 16).
Gajah Mada menerima kepercayaan sebagai pemimpin upacara pemakaman Sang Prabu Jayanegara. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Atas pertimbangan pengabdian luar biasa yang diberikan selama ini dan dianggap paling berpengalaman, maka meski tanpa ada serah terima yang jelas, juga tidak dari Ratu Gayatri, Gajah Mada langsung mengambil kendali menempatkan diri tidak ubahnya panglima perang itu. Melihat itu, tak seorang pun yang menolak karena semua berpikir Patih Daha Gajah Mada memang mampu dan layak berada di tempat yang sekarang ia pegang. Tidak seorang pun yang mempersoalkan kepemimpinan Gajah Mada karena ia memegang samir khusus yang diterimanya dari Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri. Gajah Mada juga mengenakan lencana kepatihan yang dengan sendirinya keberadaan Gajah Mada tak ubahnya Mahapatih Arya Tadah sendiri. (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 133-134).
2. Prabu Sri Jayanegara
Selain tokoh utama, dalam novel Gajah Mada : Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara menghadirkan tokoh tambahan Jayanegara. Tokoh Jayanegara ini muncul dan menyertai cerita perjuangan Gajah Mada yang relatif pendek. Munculnya tokoh ini dalam novel Gajah Mada : Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara hanya di awal saja.
Dalam novel Gajah Mada : Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara, permasalahan muncul setelah kematian Jayanegara. Banyaknya misteri atas kematian Jayanegara yang disebabkan oleh Ra Tanca membuat kalangan kerajaan menjadi bertanya-tanya atas sebuah alasan pembunuhan yang belum juga terungkap. Seperti disebutkan dalam kutipan sebagai berikut.
“Ra Tanca banyak menyimpan alasan, “jawab Gajah Mada. “Ia kecewa karena apa yang pernah diimpikan terpangkas. Bukan rahasia lagi apabila Ra Tanca diam-diam menyukai Tuan Putri Dyah Wiyat. Ia pendam perasaan itu sudah sejak lama, jauh sebelum ia akhirnya memutuskan mengawini perempuan lain….
….”Tidak hanya itu, jawabnya. “Setidaknya Ra Tanca masih mempunyai alasan lain. Jangan kau lupa, Ra Tanca adalah bagian dari Dharmawangsa Winehsuka yang pernah makar. Barangkali kematian Ra Kuti dan teman- temannya masih meninggalkan dendam di hatinya. Alasan apa lagi yang mendorong Ra Tanca berbuat gila itu, hanya Ra Tanca yang tahu” (GM : BdKTdA, 2006 : 37-38).
Mangkatnya Jayanegara membuat genting pihak istana karena Jayanegara merupakan satu-satunya keturunan laki-laki Raden Wijaya dari istri kelimanya, yaitu Dara Petak. Kondisi politik yang tidak menentu akibat kekosongan tahta di istana membuat keadaan Majapahit tidak stabil. Pembunuhan dan pemberontakan yang terjadi saat itu membuktikan adanya perebutan kekuasaan untuk mengisi kekosongan tahta kerajaan.
3. Ibu Suri Ratu Gayatri
Ibu Suri Gayatri adalah seorang biksuni sehingga pembawaan tokoh ini begitu tenang dan begitu dihormati oleh segenap abdi perempuan. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Berhadapan dengan Ibu Ratu Narendraduhita, Ibu Ratu Rajapatni Gayatri yang dalam setahun terakhir mempersiapkan diri menjadi seorang biksuni, justru terlihat amat tenang, tidak tampak kesedihan di wajahnya. Ibu Ratu Gayatri sangat sadar bahwa pada dasarnya kematian merupakan pintu gerbang menuju nirwana yang kedatangannya tidak perlu ditangisi. Pada suatu tingkat kesadaran, kematian justru harus disambut dengan kebahagiaan, toh kematian akan menimpa siapa saja, juga raja. Itu sebabnya, Ibu Ratu Gayatri selalu menampakkan raut wajah yang sangat bersih, raut muka ikhlas. Segenap abdi perempuan sangat dekat dengan Ibu Ratu Gayatri. Namun, kedekatan itu berbalut rasa hormat dan segan.
(Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 5).
Ibu Suri Gayatri digambarkan sebagai sosok yang cantik walaupun di usia yang di atas lima puluh tahun. Hal ini seperti yang ada dalam kutipan berikut ini.
….Meski usianya telah berada di atas lima puluhan tahun, kecantikan Ratu Gayatri masih memancar bercahaya. (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 64).
Ibu Suri Gayatri digambarkan sebagai tokoh yang memiliki kejernihan hati dan memiliki pandangan ke depan yang bagus, karena ia sebagai seorang biksuni.
Ia juga dipercaya oleh Ibu Suri Ratu yang lain untuk menentukan siapa yang menempati kedudukan sebagai Ratu menggantikan Jayanegara. Hal ini seperti yang ada dalam kutipan berikut ini.
….Untuk menunjuk siapa yang akan menggantikan Jayanegara dibutuhkan kejernihan mata hati, dan itu hanya adiknya yang seorang biksuni yang memiliki. Ketajaman mata hati Ratu Gayatri tentu bisa mengintip ke depan, ke sebuah masa yang masih berada di wilayah akan datang….(Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 65).
Ibu suri Biksuni Gayatri juga digambarkan sebagai tokoh yang dipercaya oleh ibu suri yang lain untuk menggantikan sementara mendiang Anakmas Jayanegara sebagai ratu, sampai nanti terpilih raja yang baru. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Ratu Pradnya Paramita juga menyumbangkan senyum.
“Aku sependapat dengan Gajah Mada. Silahkan Adi Gayatri yang duduk di atas dampar singgasana.”
“Baiklah, aku terima usulan Gajah Mada yang didukung para Mbakyu Ratu dan Paman Patih Arya Tadah. Sampai ketika kita kelak melihat siapa yang pantas menduduki dampar istana, aku yang akan menempatinya lebih dulu. (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 84).
Ibu Ratu Gayatri juga digambarkan sebagai orang yang bijak dengan menawarkan Pradhabasu untuk kembali ke pasukan Bhayangkara. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
….Sebagai pengganti sementara Anakmas Sri Jayanegara yang telah kembali ke swargaloka sebelum nanti diputuskan siapa raja yang baru, aku ingin menawarkan kepadamu untuk kembali. Pintu Bhayangkara masih terbuka untukmu….(Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 173).
Pengarang melibatkan tokoh Ibu Suri Gayatri sebagai tokoh statis karena tidak mengalami perkembangan sebagai akibat peristiwa-peristiwa yang terjadi.
4. Mahapatih Arya Tadah
Mahapatih Arya Tadah adalah tokoh yang bijaksana, penyayang terhadap keluarga kedaton. Meskipun Mahapatih Arya Tadah kurang tegas dalam mengambil keputusan sehingga kedudukannya diibaratkan hanya seperti dewan
penasihat, bukan sebagai mahapatih. Hal ini justru merupakan skenario bagus yang diidealkan karena sifat-sifat ketegasan dengan sosok yang hebat telah dimiliki bawahannya Gajah Mada yang menjabat sebagai Patih Daha, sehingga membuat Majapahit memiliki keselarasan kepemimpinan. Arya Tadah juga digambarkan sebagai tokoh yang kebapak-bapakan. Ia digambarkan pula sebagai seorang yang setia kepada mendiang istrinya dengan tidak menikah lagi sampai akhir hayatnya. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Berdiri tak jauh dari Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri, Mahapatih Arya Tadah terlihat sangat bahagia. Mahapatih Arya Tadah yang tua itu merasa bahkan mati pun ikhlas manakala melihat momongannya telah memasuki gerbang rumah tangganya. Bagi Mapatih Amangkubumi Arya Tadah, para sekar kedaton telah menyita banyak ruang kasih sayangnya. Dalam menyayangi Sri Gitarja dan Dyah Wiyat memang tak ubahnya terhadap anak sendiri. Arya Tadah sendiri adalah orang yang tidak punya siapa- siapa. Istrinya telah meninggalkannya lebih dari sepuluh tahun lampau dan tidak meninggalkan keturunan. Arya Tadah tidak berniat untuk berumah tangga lagi. Kesetiannya kepada mendiang istrinya harus ditebus dengan menduda sampai tua, bahkan diniati sampai mati. Terhadap keadaan itu Sri Gitarja pernah menjodoh-jodohkan, misalnya dengan seorang emban abdi dalem istana, namun Mahapatih Arya Tadah menolak. Arya Tadah pilih menebus kesetiannya dengan tetap hidup sendiri dengan harapan, kelak manakala pintu gerbang kematian dibukakan untuknya, ia akan bertemu kembali dan hidup bersama di alam abadi dengan istri yang sangat dicintai….(Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 98).
Pengarang melibatkan tokoh ini sebagai tokoh statis karena penokohannya tidak mengalami perkembangan walaupun banyak terjadi kemelut dalam perebutan tahta di kerajaan Majapahit.
5. Sekar Kedaton Dyah Wiyat
Sekar Kedaton Dyah Wiyat digambarkan sebagai tokoh yang memiliki kecerdasan, berwawasan luas dan lebih tegar. Hal ini seperti yang ada dalam kutipan berikut.
Sri Gitarja sangat mungkin terpilih sebagai ratu karena dari calon yang ada, Sri Gitarja lebih tua. Akan tetapi, apabila dilihat dari sisi kemampuan, adiknya banyak memiliki kemampuan yang tak terduga. Lebih tegar, lebih berwawasan luas, lebih jauh memandang ke depan, dan lebih berwibawa….(Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 66).
Dyah Wiyat adalah orang yang digambarkan memiliki kecerdasan luar biasa. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Sementara dalam olah pikir, tidak jarang Dyah Wiyat melontarkan pendapat yang mengagetkan. Ini menjadi gambaran anak bungsu mendiang Raden Wijaya itu memiliki kecerdasan yang tak bisa diremehkan. (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 66).
Dyah Wiyat juga digambarkan masih memendam perasaan cintanya kepada Ra Tanca di hari pernikahannya dengan Raden Kudamerta, meskipun sudah meninggal seiring dengan pembunuhan kakaknya dengan racun. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
….Ia merasa dua kakinya melayang tidak berpijak di atas tanah. Dyah Wiyat merasa apa yang harus dijalaninya kali ini benar-benar menjadi peristiwa amat penting dalam perjalanan hidupnya, yang celakanya ia tidak punya kemampuan untuk menghindar. Menatap calon suaminya, Dyah Wiyat sungguh merasa gamang karena sama sekali tidak menyimpan gumpalan asmara sebagaimana layaknya diperlukan seorang gadis terhadap jejaka. Asmara yang demikian Dyah Wiyat tidak memiliki, kecuali kepada Ra Tanca justru ia pernah memilikinya. Kepada Kudamerta meskipun ia merasa akrab, meskipun telah berulang kali ia ditunjuk mengalungkan rangkaian bunga di lehernya ketika menjadi juara dalam lomba keterampilan berkuda, tetapi hubungan yang terjalin lebih dirasakan sebagai hubungan kakak dan adik, atau sahabat karib. Kepada laki-laki itu, Dyah Wiyat tidak memiliki gelagak jiwa sebagaimana ia pernah memiliki terhadap Dharmaputra Winehsuka Rakrian Tanca. (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 99).
Tokoh Sekar Kedaton Dyah Wiyat dilibatkan oleh pengarang sebagai tokoh berkembang karena penokohannya selalu ikut dalam alur perkembangan konflik, sebelum dan setelah menikah dengan Raden Kudamerta. Hal ini ditunjukkan pula oleh keinginannya menjadi ratu setelah merasa konflik yang terjadi membutuhkan dirinya menjadi ratu. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
“Apakah Dyah Wiyat ingin Rajadewi Maharajasa yang terpilih menjadi ratu menggantikan Anakmas Prabu Jayanegara.”
“Hamba, Ibu Ratu,” jawabnya. “Sikap hamba sekarang berubah. Hamba ingin, hambalah yang dipilih menjadi ratu memimpin negeri ini.”
“Semula memang hamba tidak bermimpi, Ibu,” tambah Dyah Wiyat.
“Hamba tak ingin hamba yang diangkat menjadi ratu. Di sisi lain, sebelah hamba ada Mbakyu Sri Gitarja yang lebih tua dari hamba, Mbakyu Gitarja
lebih berhak memimpin negeri ini didampingi Kakang Raden Cakradara.
Akan tetapi, melihat perkembangan keadaan sekarang, hamba justru terpanggil oleh tugas berat itu. Di hadapan Ibu Ratu Gayatri junjungan sesembahan hamba, hamba berjanji akan melaksanakan tugas dengan baik.
Hamba akan menjawab perbuatan orang-orang yang berniat memperebutkan tahta dan kekuasaan itu dengan cara Raden Wijaya, menggunakan carat rah Rajasa. Hamba tak akan berbagi kekuasaan meski dengan suami hamba.” (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 242-243).
Tokoh Sekar Kedaton Dyah Wiyat digambarkan sebagai seorang yang bijak dalam mengambil sikap. Ia mau menerima Dyah Menur kembali ke istana meskipun mengetahuinya sebagai istri pertama suaminya, Raden Kudamerta, walaupun akhirnya Dyah Menur menolak untuk kembali. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Dyah Menur memandang Dyah Wiyat dengan tatapan mata berkaca-kaca.
Ia sama sekali tidak menyangka Dyah Wiyat akan mampu bersikap seperti itu. Dugaan dan penilaian yang terbentuk seketika ambruk. Sekar Kedaton ternyata tidak seburuk yang ia sangka. Dengan lengan bajunya, Dyah Menur membasuh air matanya. (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 505).
6. Sekar Kedaton Sri Gitarja
Sekar Kedaton Sri Gitarja dalam usia yang begitu muda memiliki kedudukan sebagai wali pemangku istana Kahuripan. Akan tetapi, tokoh ini sebagai anak tertua dari Ratu Gayatri dipandang lemah untuk memangku jabatan itu. Hal ini seperti yang ada dalam kutipan berikut.
…Dalam usianya yang masih belia, Sri Gitarja telah menyandang kedudukan yang tak bisa dianggap ringan. Kepadanya telah diserahkan tugas untuk menjadi wali pemangku istana Kahuripan. Dengan kedudukannya sebagai anak yang lebih tua, adakah dengan demikian Sri Gitarja harus melaksanakan tugas amat berat mengemban kedudukan sebagai ratu menyelenggarakan pemerintahan?. (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 25).
Sekar Kedaton Sri Gitarja juga digambarkan sebagai tokoh yang menginginkan adiknya, Dyah Wiyat yang diangkat menjadi ratu. Alasan yang dipilih karena ia tahu akan diangkat menjadi ratu, sementara ia mengetahui bahwa suaminya, Cakradara terlibat dalam usaha perebutan tahta. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
“Aku minta tolong, Paman. Bantu aku menyampaikan sikapku kepada Ibunda Ratu Gayatri dan para Ibunda Ratu yang lain. Aku menolak kedudukan itu. Aku lihat Adi Dyah Wiyat justru lebih pantas dan tepat ditunjuk menjadi ratu. Adi Dyah Wiyat lebih gesit, lebih ringan tangan, dan tegas. Dibutuhkan sikap yang tegas dan kuat untuk memimpin negeri ini. Sikap semacam itu ada pada adikku.”
“Pembunuhan-pembunuhan yang terjadi dimulai bersamaan dengan mangkatnya Sang Prabu, suamiku terlibat,” jawab Sri Gitarja dengan suara serak dan parau. (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 335).
Pengarang melibatkan tokoh Sekar Kedaton Sri Gitarja sebagai tokoh datar/sederhana karena penokohannya mudah dikenali dan mudah diingat.
7. Raden Kudamerta
Raden Kudamerta adalah tokoh yang digambarkan dengan sosok yang memiliki ketampanan dan tubuh yang gagah. Akan tetapi masih kalah dengan Cakradara apabila dilihat dari kemampuan memanahnya.
Pesaing terdekat Cakradara memang hanya Kudamerta. Dengan usia yang sebaya, bentuk tubuh yang sangat mirip, tinggi dan gagah serta tampan, Kudamerta juga menjadi perhatian siapa pun atau gadis mana pun.
Walaupun Kudamerta tak mampu menyaingi Cakradara dalam olah panah ngembat watang, tetapi tak seorang pun yang menandingi dalam adu kecepatan berlari….(Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 56).
Raden Kudamerta juga digambarkan sebagai tokoh yang menyukai kuda dengan memiliki kuda keturunan dari kuda yang pernah dimiliki mendiang Patih Nambi. Hal ini seperti yang ada dalam kutipan berikut.
….Kudamerta juga tak kalah demikian bangga pada kudanya karena Burat Mawut adalah kuda keturunan Brahma Cikur, kuda yang pernah menjadi kebanggaan Mahapatih Nambi yang pernah digunakan bertempur ketika menyerbu Tuban….(Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 57).
Raden Kudamerta digambarkan sebagai tokoh yang memiliki penasaran tinggi dan cepat merasa untuk membalaskan dendam terhadap orang-orang yang menyakiti dirinya dan orang-orang terdekatnya. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
....Kudamerta tak bisa memusatkan perhatiannya pada acara yang sedang dan harus dijalaninya. Kematian Ki Panji Wiradapa mulai memunculkan prasangka yang tumbuh dan mekar dengan cepat bagaikan jamur di tumpukan jerami yang membusuk. Kematian Panji Wiradapa sangat
mengganggu pemusatan pikiran, membuat Raden Kudamerta seperti melayang, tidak menghayati rangkaian acara perkawinannya. Siapa pembunuh pamannya, pertanyaan itu sangat mengganggu benaknya (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 98-99).
Raden Kudamerta juga digambarkan sebagai tokoh yang tidak memiliki pendirian dengan menikahi Sekar Kedaton Dyah Wiyat, sementara ia masih terikat perkawinan dengan Dyah Menur Hardiningsih. Hal ini seperti dalam kutipan berikut.
....Raden Kudamerta yang oleh Ratu Gayatri dianugerahi gelar Sri Wijaya Rajasa Sang Apanji Wahninghyun itu tidak mampu memusatkan perhatiannya pada rangkaian acara yang diikutinya. Ketika mata Kudamerta terpejam, selalu muncul wajah seseorang yang amat mencuri dan menyita perhatiannya. Wajah itu wajah perempuan yang dipelukannya ada bayi yang tengah menyusu.
Rupanya wajah itulah yang menyebabkan Raden Kudamerta kurang sepenuh hati menerima kehadiran Dyah Wiyat untuk selalu muncul dan melekat dalam setiap gerak kegiatannya, dalam ayunan irama kehidupannya di sepanjang hari di sepanjang waktu karena bukankah pasangan suami istri haruslah selalu menghamburkan waktu dan menghabiskan bersama-sama?. (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 149)
”Aku minta maaf, Dyah Wiyat. Aku tak berniat menyembunyikan hal itu.
Aku bahkan ingin meluruskan perkawinan ini sejak awal, tetapi aku tidak punya pilihan,” jawab Raden Kudamerta. (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 266).
Di Balai Prajurit setelah digelar sidang orang-orang yang melakukan makar terhadap Majapahit, kemudian Kudamerta diinterogasi Ibu Ratu Gayatri mengenai kebenaran apakah Kudamerta sudah beristri sebelum menikahi Dyah Wiyat. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
”Raden Kudamerta,” kata Gayatri. ”Mumpung rakyat banyak saat ini sedang berkumpul dan untuk meredam jangan sampai muncul desas-desus yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, aku ingin bertanya kepadamu, Raden, apakah benar ketika kukawinkan kau dengan Dyah Wiyat, kau telah beristri, yang dengan demikian telah kau tempatkan Sekar Kedaton sebagai istri kedua?.
”Hamba belum pernah mengawini siapa pun, Tuan Putri,” jawab Kudamerta dengan suara amat tegas.
Jawaban itu menyentakkan Sekar Kedaton Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa. Jelas Raden Kudamerta menyampaikan hal yang sama sekali tidak benar. Gajah Mada juga terkejut karena Raden Kudamerta
memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan.” (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 498).
Pengarang melibatkan tokoh Kudamerta sebagai tokoh bulat karena penokohannya tidak segera dapat dimaklumi pembaca.
8. Raden Cakradara
Raden Cakradara adalah tokoh yang digambarkan dengan sosok yang memiliki ketampanan, tubuh yang gagah, dan memiliki kemampuan bertanding yang bagus. Hal ini seperti dalam kutipan berikut.
Cakradara memiliki tubuh yang tegap dan sangat gagah. Tubuh yang berotot dengan dada bidang, alisnya tebal. Dalam olah kanuragan Cakradara selalu mencuri perhatian siapa pun. Kemampuan yang menggunakan berbagai senjata sulit ditandingi. Yang paling menonjol adalah kemampuannya ngembat watang. Sulit para prajurit memahami bagaimana Cakradara mampu mengarahkan anak panahnya pada buah maja yang dilemparkan melayang di udara. Demikian pula terhadap anak panah yang melesat cepat, dengan kemampuan bidiknya yang tajam Cakradara dapat menggapainya dengan baik. Benturan anak panah yang dilepas untuk menjemput anak panah yang lain, kemampuan macam itu selalu dijemput dengan tepuk sorak gemuruh dari mereka yang menyaksikan (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 56).
Kelebihan yang dimiliki Raden Cakradara membuat para gadis ingin memilikinya. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Ketampanan Cakradara dan segala kelebihan yang dimilikinya menjadikan dirinya buah gunjing siapa pun, terutama para gadis. Nyaris tidak seorang pun gadis di Ibukota Majapahit yang tidak mengenal namanya dan semua berangan-angan menjadi pendamping hidupnya…(Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 56).
Raden Cakradara juga digambarkan penyuka kuda dengan memelihara kuda dengan kualitas yang bagus, yaitu keturunan dari kuda milik mendiang Ranggalawe. Dari hal ini, Raden Cakradara bisa juga disebut sebagai pengagum Ranggalawe. Ia juga sering beradu balap dengan Kudamerta dan selalu memenangkannya. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut.
….Apabila petang datang senja membayang, dua satria tampan itu sering berkuda menyusuri jalanan, saling membalap beradu cepat. Masing- masing memiliki kuda pilihan yang saling mengalahkan. Pada saat tertentu
menempuh jarak tertentu, Cakradara yang mengendarai Mega Malang mampu melesat mengalahkan Kudamerta…
Kuda kesayangan Cakradara yang bergelar Mega Malang sejatinya bukanlah kuda sembarangan. Tidak salah bila Mega Malang akan mengingatkan para prajurit Majapahit pada Mega Lamat milik mendiang Ranggalawe. Sebenarnyalah dua ekor kuda itu memiliki hubungan secara langsung, Mega Malang adalah keturunan Nila Ambara yang juga disebut Mega Lamat…(Gajah Mada : BdKTdA, 2006 :57).
Raden Cakradara digambarkan sebagai tokoh yang menentang keinginan pamannya, Pakering Suramurda yang berambisi terhadap kekuasaan. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
”Semua itu bukan angan-anganku, Paman,” teriak Raden Cakradara.
”Angan-angan itu angan-angan Paman, bukan angan-anganku. Mimpi itu mimpi Paman bukan mimpiku.”
”Kata-kata Paman kelewatan. Meski kau pamanku, aku tak peduli meski kau mati di tanganku.” (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 440).
Pengarang melibatkan tokoh Cakradara sebagai tokoh datar/sederhana karena keterlibatan penokohannya dalam cerita membuat pembaca mudah mengingatnya.
9. Gajah Enggon
Gajah Enggon merupakan tokoh yang disiapkan untuk menggantikan Gajah Mada dalam memimpin pasukan Bhayangkara. Gajah Enggon dinaikkan pangkatnya menjadi senopati setelah Gajah Mada dibebastugaskan dalam memimpin Bhayangkara dan kemudian menjabat sebagai Patih Jiwana di Kahuripan dan Patih di Daha. Hal tersebut bisa kita lihat dalam kutipan sebagai berikut.
Tugas berat memimpin dan membina pasukan Bhayangkara selanjutnya diserahkan kepada Gajah Enggon yang juga memiliki nama Gajah Pradamba…
Gajah Pradamba terpilih menjadi pimpinan pasukan Bhayangkara karena ia tidak memiliki cacat...(Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 17).
Gajah Enggon diberi kepercayaan oleh Gajah Mada untuk mengungkap beberapa pembunuhan yang terjadi setelah mangkatnya Sang Prabu Jayanegara.
Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
“Siapa yang melakukan pembunuhan ini?”, tanya Senopati Gajah Enggon.
“Aku serahkan penelusurannya kepadamu,” jawab Gajah Mada.
“Berpikirlah dengan segenap rasa penasaran, Gajah Enggon. Bahwa malam ini Tuanku Baginda Jayanegara tewas terbunuh, ternyata pada malam yang sama, di dalam lingkungan istana, terjadi sebuah pembunuhan yang lain. Seseorang mati melalui pembunuhan pula. Masalahnya yang mati adalah Ki Panji Wiradapa yang jejak jati dirinya baru kita temukan belum sebulan yang lalu. Kesamaan hari kematian itu, adakah hanya sebuah kebetulan atau ada kaitannya, apalagi kecurigaan itu bisa mengganggu para Tuan Putri Ratu dalam siding menentukan siapa yang bakal ditunjuk menjadi raja menggantikan Tuanku Baginda. Jangan sampai para Tuan Putri Ratu mengambil pilihan yang salah. Sekali lagi, bukan anak-anaknya yang layak dipersoalkan, namun para calon suami mereka yang harus dipelototi dengan teliti.” (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 93).
Gajah Enggon juga mengungkap jati diri beberapa orang yang melakukan makar setelah menyamar dengan topeng putih dan berjubah putih, seperti dalam kutipan berikut.
Kesatria berjubah putih yang menggunakan kalimat sandi Bagaskara Manjer Kawuryan itu memang membuat penasaran Gajah Mada. Rasa penasaran itu kini akan segera berakhir karena orang itu tidak keberatan dan berniat memenuhi permintaan itu. Dengan tidak perlu tergesa-gesa, kesatria berkuda putih itu membuka topengnya.
Bila ada yang tidak kaget melihat Gajah Engggon sudah siuman adalah Dyah Wiyat. Rasa terkejutnya telah lewat, terjadi beberapa saat sebelumnya di pasar daksina. Orang berkuda putih yang menunggu dan kemudian berbicara dengan Pradhabasu di pasar daksina adalah Gajah Enggon. (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 488).
Gajah Enggon menjelaskan kepada Ibu Suri Ratu terkait orang-orang yang ditangkapnya karena setelah ditelusuri adalah pihak-pihak yang memiliki keterkaitan dengan berbagai peristiwa pembunuhan di kotaraja. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
“Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Enggon. “Orang ini menggunakan nama Panji Wiradapa yang bukan nama sebenarnya. Karena di balik nama Panji Wiradapa ada nama Brama Rahbumi yang lenyap lebih dari sepuluh tahun bersamaan sejak Mahapati dihukum mati. Panji Wiradapa juga menggunakan nama lain Rangsang Kumuda. Ini orangnya, dalang semua kekacauan itu.” (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 490).
Tokoh Gajah Enggon dilibatkan pengarang sebagai tokoh tipikal karena unsur pelibatannya mengedepankan kualitas pekerjaannya dan kebangsaannya dengan menjadi pahlawan mengungkap keberadaan Panji Wiradapa yang melakukan makar dan berbagai peristiwa yang merugikan Majapahit lainnya.
Gajah Enggon tidak menunjukkan jati dirinya dalam melakukan tugasnya dengan memakai jubah putih dan topeng berwarna putih. Hal inilah yang merupakan kepahlawanan Gajah Enggon.
10. Gagak Bongol
Gagak Bongol adalah tokoh yang bertanggung jawab terhadap kesalahannya di masa lalu yang membunuh Mahisa Kingkin sebagai korban fitnah Singa Parepen, tangan kanan Ra Kuti. Gagak Bongol bertanggung jawab dengan mengasuh anak Mahisa Kingkin. Hal yang sebenarnya membuat Gagak Bongol kewalahan karena memelihara anak yang termasuk kategori difabel. Bahkan, seandainya Gagak Bongol dihadapkan pada dua pilihan antara memelihara anak difabel atau maju berperang, ia akan lebih memilih maju berperang. Akan tetapi, Gagak Bongol menerima Prajaka untuk diasuhnya sebagai anugerah. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Padahal, Gagak Bongol benar-benar menganggapnya sebagai anugerah.
Sekian tahun Gagak Bongol dibayangi rasa bersalah, kali ini tiba-tiba mendapat kesempatan untuk menebus kesalahan itu dengan memungut keturunan Mahisa Kingkin sebagai anak meski keadaan bocah itu tidak waras, cacat pada jiwanya. (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 193).
Gagak Bongol juga diberi kepercayaan oleh Gajah Mada untuk memimpin pembuatan candi mendiang Sang Prabu Jayanegara. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
“Sementara apa yang harus aku kerjakan, Kakang Gajah?” Tanya Bongol.
“Ada sebuah pekerjaan besar yang harus dikerjakan dengan sempurna tanpa cacat. Walaupun belum ada perintah secara langsung dari para Tuan Putri Ratu, tetapi jelas bakal ada pencandian dan pendarmaan. Kuserahkan pengendalian pekerjaan besar ini kepadamu.” (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 95).
Gagak Bongol mendapatkan kepercayaan kembali setelah beberapa tahun terakhir tidak pernah dilibatkan dalam pekerjaan-pekerjaan besar. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Setelah sekian lama, baru kali inilah Gagak Bongol diserahkan pekerjaan yang amat terhormat itu. Untuk mendapatkan kepercayaan lagi, Gagak Bongol harus menunggu Sembilan tahun lamanya. (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 96).
Tokoh Gagak Bongol dilibatkan pengarang sebagai tokoh sederhana karena unsur pelibatannya yang relatif sering sehingga mudah dikenali dan diingat oleh pembaca, walaupun sebenarnya andilnya tidak begitu besar dalam penceritaan.
11. Pradhabasu
Pradhabasu adalah tokoh yang setia membela bangsa dan negaranya. Akan tetapi, dapat kita lihat bahwa Pradhabasu memiliki sifat dendam walaupun kadarnya hanya sedikit. Hal ini dibuktikan dengan mengundurkan diri dari pasukan Bhayangkara karena kasus kematian Mahisa Kingkin sebagai adik iparnya, dan adiknya sebagai istri Mahisa Kingkin kemudian menyusulnya dengan bunuh diri. Pradhabasu juga tidak mau bergabung kembali ketika ditawarkan oleh Ibu Ratu Gayatri. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
“Pradhabasu,” kata Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri.
“Hamba, Tuan Putri Ratu,” jawab Pradhabasu sigap.
“Aku mempunyai sebuah pertanyaan untukmu,” Ibu Ratu Biksuni berbicara. “Apakah kamu masih akan membiarkan dirimu terseret ke mata rantai sakit hati dan dendam?. Waktu telah lama berlalu, apakah sebagai ungkapan rasa tidak sependapat kau masih akan tetap berada di luar sana?.
Sebagai pengganti sementara Anakmas Jayanegara yang telah kembali ke swargaloka sebelum nanti diputuskan siapa raja yang baru, aku ingin menawarkan kepadamu untuk kembali. Pintu Bhayangkara masih terbuka untukmu. Bukankah demikian, Gajah Enggon?. (Gajah Mada : dKTdA, 2006 : 173).
Tokoh Pradhabasu juga digambarkan sebagai tokoh yang telah berjasa menyelamatkan Raden Kudamerta dari sasaran bidik Rubaya dengan pisaunya di tengah pemakaman mendiang Sang Prabu Jayanegara. Oleh karena jasanya,
diharapkan Pradhabasu kembali ke dalam kesatuan keprajuritan Bhayangkara. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
….Pada saat terakhir walaupun Adi Pradhabasu berada di luar Bhayangkara, kembali ia telah berbuat jasa. Kalau tidak karena kesigapannya, barangkali pisau itu telah menancap di bagian yang berbahaya di dada Raden Kudamerta. Mungkin bisa terkena jantungnya.
Sebagaimana Tuan Putri Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri, hamba juga amat berharap Adi Pradhabasu akan kembali menjadi bagian dari Bhayangkara.” (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 174).
Tokoh Pradhabasu dilibatkan pengarang sebagai tokoh tipikal karena unsur pelibatannya mengedepankan kualitas pekerjaannya dan kebangsaannya dengan mengabdikan diri kepada Majapahit di luar keprajuritan.
12. Dyah Menur Hardiningsih/Sekar Tanjung
Dyah Menur Hardiningsih adalah tokoh yang dikisahkan sebagai istri Raden Kudamerta yang tidak dianggap karena lebih memilih menikahi Sekar Kedaton Dyah Wiyat. Dyah Menur Hardiningsih juga menyamar dengan nama Sekar Tanjung ketika menjadi emban dengan mengabdikan diri kepada Sekar Kedaton Dyah Wiyat. Hal tersebut dilakukan semata-mata agar dekat dengan suaminya, Raden Kudamerta. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
”Telah kusulap istri Raden dengan nama panggilan baru. Raden mengenalinya sebagai Dyah Menur, di sini namanya Sekar Tanjung.” (GM : BdKTdA, 2006 : 401).
Dyah Menur Hardiningsih atau dalam nama penyamarannya sebagai Sekar Tanjung dilibatkan pengarang sebagai tokoh netral karena penokohannya hidup demi cerita itu sendiri.
13. Senopati Macan Liwung
Senopati Macan Liwung adalah tokoh prajurit Bhayangkara yang ditugaskan oleh Gajah Mada untuk menjaga Raden Kudamerta dalam proses pemakaman Sang Prabu Jayanegara dan juga untuk memata-matai keselamatan Raden Kudamerta yang diduga akan menjadi sasaran pembunuhan oleh pihak yang ingin merebut tahta. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Macan Liwung yang bertanggung jawab atas keselamatan Raden Kudamerta dan istrinya mulai merasakan bau bahaya yang akan mendekat.
Karenanya Bhayangkara Macan Liwung berada pada puncak kewaspadaannya. Demikian pula dengan Gajah Geneng, matanya melotot nyaris sejengkal. Pesan yang diberikan Gajah Mada yang disalurkan melalui Senopati Gajah Enggon dilaksanakan dengan sebaik-baiknya (GM : BdKTdA, 2006 : 158).
Penokohan Senopati Macan Liwung disimpulkan sebagai perwira telik sandi karena banyak ditugaskan sebagai mata-mata. Hal ini tidak saja pada kedua tugas tadi, tetapi juga melaporkan beberapa terjadinya pembunuhan terhadap Ajar Langse dan ditugaskan untuk menyergap Pakering Suramurda yang akan mengadakan pertemuan dengan Raden Cakradara. Meskipun ia tidak ikut ditugaskan memimpin pasukan Bhayangkara dalam menggempur Sadeng dan Keta, tetapi perannya yang stabil membuat Gajah Mada mempercayainya untuk tugas-tugas penting yang lain. Senopati Macan Liwung dilibatkan oleh pengarang sebagai tokoh sederhana karena mudah dikenali dengan unsur pelibatannya yang selalu ada dalam penceritaan, meskipun andilnya kurang begitu maksimal.
14. Senopati Panji Suryo Manduro
Senopati Panji Suryo Manduro adalah tokoh yang dikisahkan sebagai pimpinan pasukan Sapu Bayu. Akan tetapi, kemampuan perangnya hanya bisa face to face, yaitu perang dengan model perang seperti biasanya karena memang pasukan Sapu Bayu adalah kesatuan terpisah dari pasukan Bhayangkara yang memiliki kemampuan khusus. Senopati Panji Suryo Manduro kurang bisa mengkoordinasikan para divisi di bawahnya karena Ra Kembar yang berasal dari kesatuannya terbukti bisa melakukan gerakan dengan membawa pasukan untuk menggempur kekuatan makar di Karang Watu tanpa sepengetahuannya.
Pengarang melibatkan tokoh Senopati Panji Suryo Manduro sebagai tokoh tambahan karena unsur pelibatannya yang relatif pendek dan kurang memberikan andil dalam konflik yang terjadi dalam penceritaan.
Kekuatan lima ribu orang pasukan Sapu Bayu di bawah pimpinan Senopati Panji Suryo Manduro terlalu tinggi untuk dihadapkan hanya dengan dua ratus orang itu (GM : BdKTdA, 2006 : 448).
Panji Suryo Manduro sebagai pimpinan kesatuan Sapu Bayu diperintahkan Gajah Mada untuk menggempur Karang Watu. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
....Nah, Panji Suryo, apabila kamu masih menyayangi anak buahmu itu segera kirim pasukan untuk membantunya agar Ra Kembar kelak bisa tampil sebagai kesatria yang pinunjul dan dibicarakan oleh banyak orang.
Ditepuktangani oleh para gadis.” (GM : BdKTdA, 2006 : 420).
15. Senopati Haryo Teleng
Senopati Haryo Teleng adalah tokoh yang dikisahkan sebagai pimpinan pasukan Jalapati, yaitu kesatuan dalam keprajuritan Majapahit. Kemampuan berperangnya hampir sama dengan Senopati Panji Suryo Manduro. Senopati Haryo Teleng dilibatkan oleh pengarang sebagai tokoh tambahan karena unsur pelibatannya hanya dalam porsi yang relatif pendek dan kurang memberikan andil, hanya sebagai pelengkap saja.
Di belakang Panji Suryo Manduro dan Haryo Teleng, Lurah Prajurit Singa Darba tidak banyak bicara. Ia memacu kudanya tak kalah cepat dari dua orang senopati pimpinan Jalapati dan Sapu Bayu (GM : BdKTdA, 2006 : 420).
16. Rakrian Kembar
Rakrian Kembar adalah tokoh yang picik, culas dan tidak bertanggung jawab dengan membawa pasukan sebanyak lima puluh yang tidak dilaporkan kepada Senopati Panji Suryo Manduro sebagai pimpinannya, untuk menggempur kekuatan makar di daerah Karang Watu. Hal ini dilakukannya agar dianggap sebagai pahlawan dengan memukul kekuatan makar dan menginginkan dinaikkan jabatannya. Akan tetapi, yang terjadi adalah pasukan yang dibawanya untuk menggempur Karang Waktu bisa ditumpas oleh pasukan makar tersebut. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
Ra Kembar membayangkan, ke depan akan mengalami kesulitan besar, tak tahu apa yang harus dilakukan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada pimpinannya. Melangkah tanpa minta izin pimpinan, hal itu sudah merupakan kesalahan yang berat, apalagi kini terbukti terlalu besar korban jiwa yang jatuh sebagai akibat kecerobohan yang diperbuatnya. Ke depan pula namanya akan menjadi buah bibir. Siapa pun akan menertawakannya. Para gadis tak lagi mengaguminya, mereka akan menjadikannya sebagai bahan guyonan (GM : BdKTdA, 2006 : 463).
Rakrian Kembar juga ditokohkan sebagai orang yang tidak menyukai kesuksesan orang lain terutama pada Gajah Mada dengan menjelek-jelekkannya kepada orang lain. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
”Di mana-mana dan dalam setiap kesempatan, Ra Kembar menjelek- jelekkan Kakang Gajah Mada. Di setiap kesempatan ia selalu berusaha merusak nama Kakang. Aku tidak tahu untuk dendam yang mana Ra Kembar melakukan itu.” (GM : BdKTdA, 2006 : 365).
Pengarang melibatkan tokoh ini sebagai tokoh bulat karena penokohannya tidak dapat segera dimaklumi oleh pembaca.
17. Lurah Ajar Langse
Lurah Ajar Langse adalah tokoh yang berkhianat kepada bangsa dan negara karena telah mencoba membunuh Gajah Enggon sebagai pemimpin Bhayangkara ketika dalam penyembuhan di Bale Gringsing dengan meminumkan racun. Akan tetapi, kecekatan Gajah Enggon sehingga bisa terhindar dari pembunuhan. Pengarang melibatkan tokoh Lurah Ajar Langse sebagai tokoh bulat karena penokohannya tidak dapat segera dimaklumi pembaca. Hal ini dapat kita lihat dari kiprahnya dalam keprajuritan yang kemudian membelok dengan berbagai kepentingan dengan melakukan percobaan pembunuhan terhadap Gajah Enggon yang pada saat itu sedang dirawat di Bale Gringsing. Hal ini seperti dalam kutipan berikut ini.
”Jadi, kamu yang membunuh Ajar Langse?” bertanya Gajah Mada.
”Ya,” jawab Gajah Enggon tegas. ”Kubunuh Ajar Langse karena berencana membunuhku menggunakan racun. Ajar Langse akan melakukan itu atas kehendak Ra Kembar.” (GM : BdKTdA, 2006 : 489).
18. Panji Wiradapa/Rangsang Kumuda
Panji Wiradapa atau Rangsang Kumuda digambarkan dalam novel ini adalah paman dari Raden Kudamerta. Dapat kita cermati bahwa tokoh Panji Wiradapa atau Rangsang Kumuda memiliki sifat penghasut dengan cara-cara tidak benar untuk mewujudkan ambisi merebut kekuasaan dengan memanfaatkan keponakannya Cakradara. Pengarang menampilkan tokoh Panji
Wiradapa/Rangsang Kumuda sebagai tokoh antagonis yang menjadi musuh internal Majapahit. Hal tersebut bisa kita lihat dari kutipan berikut.
“Kau bisa menjadi raja, Kudamerta. Manfaatkanlah kesempatan yang sangat langka ini. Mulai sekarang bermainlah dengan cantik. Untuk meraih gegayuhan itu memerlukan pengorbanan. Untuk sebuah tujuan yang kau yakini, kau bahkan harus menggunakan dan membenarkan cara apapun.
Mulai menyusun rencana dari sekarang, kau bisa memanfaatkan hubunganmu dengan Tuan Putri,”…(Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 52)
“Kau harus bermimpi, Kudamerta,” ucap Panji Wiradapa tegas, tetapi dalam nada berbisik. “Kau harus menggantungkan angan-anganmu setinggi langit. Akan tetapi, tidak sekedar bermimpi, jauh lebih penting dari itu, kau harus berusaha dengan keras mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan. Kau punya peluang itu, kau bisa menjadi raja, menjadi orang terdepan. Kini saatnya, gunakan kesempatan yang terbuka jelas di depan matamu.” (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 53-54).
Panji Wirada hanya menjabat sebagai Lurah Prajurit di Majapahit. Akan tetapi, memiliki ambisi meraih kekuasaan setelah mangkatnya Prabu Jayanegara dengan cara-cara yang tidak benar. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut ini.
Bila berkaca pada brenggala, dahulu Panji Wiradapa pernah menggantungkan cita-cita setinggi langit. Jabatan keprajuritannya kali ini hanyalah sebagai lurah prajurit, padahal Panji Wiradapa merasa dirinya pantas menjadi seorang patih, orang kedua setelah raja. Karena mimpi menjadi orang penting itu ternyata tidak terwujud, cukuplah orang lain yang mewakilinya. Asal bisa melihat Raden Kudamerta menjadi raja maka puaslah rasanya. Ki Panji merasa cita-cita itu telah terwakili. (Gajah Mada : BdKTdA, 2006 : 54).
19. Pakering Suramurda
Pakering Suramurda digambarkan dalam novel ini adalah paman dari Raden Cakradara. Ia bekerja sebagai pengurus dan perawat kuda atau biasa disebut sebagai pekatik. Dapat kita cermati bahwa tokoh Pakering Suramurda memiliki sifat penghasut dengan cara-cara yang tidak benar untuk mewujudkan ambisi merebut kekuasaan dengan memanfaatkan keponakannya Cakradara yang akan menikahi Sekar Kedaton Sri Gitarja. Pengarang menampilkan tokoh Pakering Suramurda sebagai tokoh antagonis. Hal tersebut bisa kita lihat dari kutipan berikut.
“Kamu harus pusatkan perhatianmu, Cakradara. Hubunganmu dengan Sri Gitarja harus segera dituntaskan ke perkawinan. Sri Gitarja akan diangkat