21
Universitas Kristen Petra
3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah menggunakan data numerik sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian ini menggunakan penelitian yang bersifat kuantitatif.
Menurut Mudjarad Kuncoro (2007) Metode kuantitatif adalah pendekatan ilmiah terhadap pengambilan keputusan manajerial dan ekonomi, dimana pendekatan ini terdiri dari perumusan masalah, penyusunan model, mendapatkan data, mencari solusi, menganalisa, dan mengimplementasikan hasil. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
3.2 Gambaran Sampel 3.2.1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2007:55). Populasi pada penelitian ini adalah perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2007-2014.
3.2.2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2007:55). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan go public yang membagikan deviden periode 2007-2014. Metode pemilihan sampel yang digunakan adalah metode Puposive Sampling dimana sampel harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
1. Perusahaan tercatat membagikan deviden tunai dari periode 2007-2014 secara berturut-turut.
2. Perusahaan tidak pernah mengalami delisting (tidak terdaftar/ keluar) di BEI selama periode penelitian.
22
Universitas Kristen Petra
3. Laporan keuangan perusahaan tersedia di Pusat Referensi Pasar Modal (Capital Market Reference Centre) dan dapat diakses melalui website www.idx.co.iddelapan tahun secara berturut-turut selama 2007-2014.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Data merupakan keterangan-keterangan atau fakta-fakta yang dikumpulkan dari suatu populasi atau bagian populasi yang akan digunakan untuk menerangkan ciri-ciri populasi yang bersangkutan (Lungan, 2006). Jenis data dibedakan menjadi dua, yaitu: data primer dan data sekunder. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari berbagai media secara tidak langsung dan dalam bentuk yang sudah jadi dimana data tersebut merupakan hasil olahan pihak lain. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Data dari Bursa Efek Indonesia, berupa Laporan keuangan tahunan perusahaan yang membagikan deviden tunai periode 2007-2014.
2. Data dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD), berupa Laporan keuangan tahunan perusahaan yang membagikan deviden tunai periode 2007-2014.
3. Data dari website www.finance.yahoo.com, berupa harga saham perusahaan yang membagikan deviden tunai periode 2007-2014.
3.4 Metode dan Prosedur Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah metode atau cara yang digunakan dalam mengumpulkan sumber data adalah dengan:
a. Studi kepustakaan sebagai daftar penelitian dalam pembuatan analisis teori.
Studi pustaka perlu dilakukan dengan pertimbangan bahwa studi pustaka dapat menjadi jembatan yang ada di lapangan sehingga dapat membantu penulis memperoleh pendalaman yang lebih terhadap obyek yang diteliti yaitu jurnal dan buku.
b. Pengumpulan data sekunder dengan mengakses dari website yaitu di www.idx.co.id, www.finance.yahoo.com, dan ICMD.
23
Universitas Kristen Petra
3.5 Definisi Operasional
Definisi operasional variabel adalah petunjuk pelaksanaan bagaimana mengukur suatu variabel (Singarimbun dan Effendy, 1995, p.46). Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah proporsi komisaris independen, komite audit, kepemilikan saham institusi, insider shareholder, dan kepemilikan saham publik. Variabel dependen yang dipakai dalam penelitian ini adalah dividend yield. Variabel kontrol yang digunakan adalah Firm Size.
3.5.1 Proporsi Komisaris Independen Konsep : Komisaris Independen.
Definisi operasional : Anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak semata-mata demi kepentingan perusahaan (Komite Nasional Kebijakan Governance, 2004 dalam Ujiyantho dan Pramuka, 2007) .
Indikator Empirik : 𝑃𝑟𝑜𝑝𝑜𝑟𝑠𝑖 𝐾𝑜𝑚𝑖𝑠𝑎𝑟𝑖𝑠 𝐼𝑛𝑑𝑒𝑝𝑒𝑛𝑑𝑒𝑛 =
Σ 𝑘𝑜𝑚𝑖𝑠𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑖𝑛𝑑𝑒𝑝𝑒𝑛𝑑𝑒𝑛
Σ dewan komisaris … . . . .(3.1) 3.5.2 Komite Audit
Konsep : Komite Audit
Definisi operasional : Suatu badan yang dibentuk di dalam perusahaan klien yang bertugas untuk memelihara independensi akuntan pemeriksa terhadap manajemen (Supriyono, 1998 dalam Susiana dan Herawaty, 2007).
Indikator Empirik : Komite Audit = Σ komite audit. . . .(3. 2) 3.5.3 Kepemilikan Saham Institusi
Konsep : Kepemilikan Saham Institusi.
24
Universitas Kristen Petra
Definisi operasional : Jumlah persentase hak suara yang dimiliki oleh institusi (Beiner et al., 2003 dalam Ujiyantho dan Pramuka, 2007).
Institusi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah semua investor yang berbentuk lembaga.
Indikator Empirik : Kepemilikan Saham Institusi = Σ % Kepemilikan saham Institusi . . . .(3. 3) 3.5.4 Insider Shareholder
Konsep : Insider Shareholder.
Definisi operasional : Jumlah kepemilikan saham oleh pihak manajemen dari seluruh modal saham perusahaan yang dikelola (Boediono, 2005)
Indikator Empirik : Insider Shareholder = Σ % Kepemilikan saham oleh manajerial… . . . . (3.4 ) 3.5.5 Kepemilikan Saham Publik
Konsep : Kepemilikan Saham Publik.
Definisi operasional : Proporsi kepemilikan saham oleh masyarakat, yang mana masing-masing kepemilikannya kurang dari 5% (Nuraeni, 2010).
Proksi :Penilaian variabel ini mengunakan presentase dari kepemilikan saham Publik di perusahaan.
3.5.6 Firm Size
Konsep : Firm size.
Definisi operasional : Variabel yang dapat diukur menggunakan total asset, penjualan atau modal dari perusahaan tersebut. Total aktiva digunakan karena total aktiva berisi keseluruhan aktiva yang dimiliki perusahaan baik current assets maupun non-current assets, sehingga lebih menunjukkan firm size yang sebenarnya.
Indikator empirik : Firm size = ln Total Asset. . . .(3. 5)
25
Universitas Kristen Petra
3.5.7 Kebijakan Deviden
Konsep : Dividend Yield.
Definisi operasional : Rasio deviden yang dibayarkan terhadap harga saham biasa.
Indikator empirik : Dividend Yield = Annual Dividen paid
Stock price … . . . . (3. 6) 3.6 Teknik Analisa Data
Teknik Analisa data yang digunakan untuk menganalisis pengaruh corporate governance terhadap kebijakan deviden adalah analisis regresi berganda dengan menggunakan software SPSS 20. Sebelum diuji menggunakan regresi berganda, dipersyaratkan bahwa data penelitian memenuhi kualitas data yaitu berdistribusi normal, tidak terjadi multikolinieritas, tidak terdapat heteroskedastisitas, dan tidak terdapat autokorelasi ( Gujarati, 2001).
Adapun Langkah- langkah yang digunakan dalam analisis regresi berganda pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
3.6.1 Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif adalah sebuah statistik yang menggambarkan atau mendeskripsikan suatu data yang dilihat dari rata-rata, standar deviasi, variance, maksimum, minimum, kurtosis dan skewness (Ghozali, 2009). Dalam statsitik deskriptif data dapat dianalisis dengan nilai maksimum dan minimum yang menunjukan nilai data besar dan kecil.
3.6.2 Pengujian Asumsi Model
Menurut Kuncoro (2007), dalam analisis regresi terdapat empat asumsi yang harus diuji, yaitu multikolinearitas, heteroskedastisitas, normalitas dan autokorelasi. Dimana uji normalitas untuk mengetahui apakah error term menyebar normal atau tidak.
3.6.2.1 Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah hubungan linear yang kuat antara variabel- variabel independen di dalam persamaan regresi. Adanya multikolinearitas menyebabkan pendugaan koefisien regresi tidak nyata walaupun nilai R2-nya besar.
Hal tersebut dapat dideteksi dari nilai R2 yang tinggi (0,7-1), tetapi hanya sedikit
26
Universitas Kristen Petra
sekali atau bahkan tidak terdapat koefisien dugaan yang berpengaruh nyata.
Multikolinearitas dapat diatasi dengan memberi perlakuan General Least Square/GLS (cross section weight), sehingga parameter dugaan pada taraf uji tertentu menjadi signifikan. Sebelum dilakukan pengujian, dibuat hipotesis sebagai berikut :
H0 : Tidak ada multikolinearitas H1 : Ada multikolinearitas
Pengujian masalah Multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai variance inflation factor (VIF) pada program SPSS. Korelasi dikatakan kuat jika nilai VIF lebih besar dari 10 sehingga patut diduga bahwa antar variabel bebas telah terjadi multikolinieritas atau terima H1 sedangkan jika nilai VIF lebih kecil dari 10 sehingga patut diduga bahwa antar variabel bebas tidak terjadi multikolinieritas atau terima H0.(Ghozali, 2009)
3.6.2.2 Heteroskedastisitas
Salah satu asumsi penting dalam model ekonomi klasik adalah nilai varian darivariabel bebas yang konstan yang disebut dengan homoskedastisitas.
Apabila asumsi ini tidak terpenuhi, maka nilai varian dari variabel bebas tidak lagi bersifat konstan yang disebut heteroskedastisitas. Pengujian masalah heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji Glesjer. Sebelum dilakukan pengujian, dibuat hipotesis sebagai berikut :
H0 : Homokedastisitas H1 : Heteroskedastisitas
Pengujian dilakukan dengan meregresikan nilai absolut residual.
Apabila nilai signifikansi masing-masing variabel independen lebih kecil dari taraf nyata berarti terdapat heteroskedastisitas pada model atau menolak hipotesis H0. Bila nilai nilai signifikansi masing-masing variabel independen lebih besar dari taraf nyata berarti tidak ada gejala heteroskedastisitas pada model atau menerima hipotesis H0. Diketahui taraf nyata (α) = 5 persen.
3.6.2.3 Autokorelasi
Autokorelasi adalah adanya korelasi serial antara sisaan (ƒÊt). Juanda (2009) menjelaskan akibat adanya autokorelasi dalam model yang diestimasi yaitu pendugaan parameter masih tetap tidak bias dan konsisten namun penduga ini
27
Universitas Kristen Petra
memeiliki standar error yang bias ke bawah, atau lebih kecil dari nilai yang sebenarnya sehingga nilai statistik uji-t tinggi (overestimate). Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan metode Generalized Least Square dalam estimasi model(Gujarati, 2004).
Tabel. 3.1 Nilai Statistik Durbin-Watson serta Keputusannya Nilai Durbin Watson Kesimpulan
DW < 1,079 Ada autokorelasi 1,079< DW < 1,891 Tanpa kesimpulan 1,9 < DW < 2,109 Tidak ada autokorelasi 2,109 < DW < 2,921 Tanpa kesimpulan DW > 2,93 Ada autokorelasi
Sumber: Lampiran 3
Sebelum dilakukan pengujian, dibuat hipotesis sebagai berikut : H0 : Tidak ada autokorelasi
H1 : Ada autokorelasi
Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi dapat dilakukan uji Durbin- Watson (DW). Apabila nilai DW tersebut sudah lebih dari 1,079 dan mendekati 2,921 maka dapat dikatakan tidak ada autokorelasi. Tabel 3.1 yang memperlihatkan distribusi nilai DW dimana nilai tersebut telah disusun oleh Durbin-Watson untuk derajat keyakinan 95 persen (α= 5%).
3.6.2.4 Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk memeriksa apakah error term menyebar normal atau tidak. Hipotesis yang diunakan adalah:
H0 : residual menyebar normal H1 : residual tidak meyebar normal
Uji normalitas diaplikasikan dengan melakukan Uji statistik non- parametrik Kolmogorov – Smirnov (KS), jika nilai probabilitas yang diperoleh lebih besar dari α= 5% yang digunakan, maka terima H0 yang berarti error term dalam model sudah menyebar normal.
28
Universitas Kristen Petra
3.6.3 Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilaksanakan menggunakan Ordinary Least Square (OLS). Secara sistematis model yang dikembangkan dalam penelitian adalah sebagai berikut ini :
1. Model tanpa variabel kontrol firm size..
DY = α + β1.PKI + β2.KA +β3. KI + β4. IS +β5. KP + ε...(3.7) Keterangan:
DY = Dividend yield
α = konstanta
β1, β2, β3, β4, β5, = koefisien regresi masing-masing variabel independen
PKI = Proporsi Komisaris Independen
KA = Komite Audit
KI = Kepemilikan Institusi
IS = Insider Shareholder
KP = Kepemilikan Saham Publik
ε = error term
2. Model dengan variabel kontrol firm size.
DY = α + β1.PKI + β2.KA + β3. KI + β4. IS +β5. KP +β6.
FS+ε...(3.8) Keterangan:
DY = Dividend yield
α = konstanta
β1, β2, β3, β4, β5, β6 = koefisien regresi masing-masing variabel independen
PKI = Proporsi Komisaris Independen
KA = Komite Audit
KI = Kepemilikan Institusi
IS = Insider Shareholder
KP = Kepemilikan Saham Publik
FS = Firm Size
ε = error term
29
Universitas Kristen Petra
3.6.3.1 Uji t-statistik
Pengujian hipotesis dari koefisien pada masing-masing peubah bebas dilakukan dengan uji-t untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependennya atau tidak.
Langkah-langkah analisis dalam pengujian t-statistik adalah :
1. Uji Signifikan antara Proporsi Komisaris Independen dengan Kebijakan Deviden
a. Perumusan hipotesis.
H0 : β1 = 0 H1 : β1 ≠ 0
b. Penentuan tarif nyata (α)
c. Membandingkan P-value dengan α.
d. Penentuan penolakan atau penerimaan H0.
Nilai sig. < α: tolak H0. Artinya, proporsi komisaris independen berpengaruh signifikan terhadap kebijakan deviden.
2. Uji Signifikan antara Komite Audit dengan Kebijakan Deviden a. Perumusan hipotesis.
H0 : β2 = 0 H1 : β2 ≠ 0
b. Penentuan tarif nyata (α)
c. Membandingkan Nilai sig. dengan α.
d. Penentuan penolakan atau penerimaan H0.
Nilai sig. < α: tolak H0. Artinya, komite audit berpengaruh signifikan terhadap kebijakan deviden.
3. Uji Signifikan antara Kepemilikan Institusi dengan Kebijakan Deviden a. Perumusan hipotesis.
H0 : β4 = 0 H1 : β4 ≠ 0
b. Penentuan tarif nyata (α)
c. Membandingkan Nilai sig. dengan α.
30
Universitas Kristen Petra
d. Penentuan penolakan atau penerimaan H0.
Nilai sig. < α: tolak H0. Artinya, kepemilikan institusi berpengaruh signifikan terhadap kebijakan deviden.
4. Uji Signifikan antara Insider Shareholder dengan Kebijakan Deviden a. Perumusan hipotesis.
H0 : β5 = 0 H1 : β5 ≠ 0
b. Penentuan tarif nyata (α)
c. Membandingkan Nilai sig. dengan α.
d. Penentuan penolakan atau penerimaan H0.
Nilai sig. < α: tolak H0. Artinya, insider shareholder berpengaruh signifikan terhadap kebijakan deviden.
5. Uji Signifikan antara Kepemilikan Saham Publik dengan Kebijakan Deviden
a. Perumusan hipotesis.
H0 : β6 = 0 H1 : β6≠ 0
b. Penentuan tarif nyata (α)
c. Membandingkan Nilai sig. dengan α.
d. Penentuan penolakan atau penerimaan H0.
Nilai sig. < α: tolak H0. Artinya, kepemilikan saham publik berpengaruh signifikan terhadap kebijakan deviden.
3.6.3.2 Uji F-statistik
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen.
Pengujian dilakukan dengan menggunakan distribusi F dengan membandingkan antara nilai kritis F dengan nilai F-hitung yang terdapat pada hasil analisis.
Langkah-langkah analisis dalam pengujian hipotesis terhadap variasi nilai variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variasi nilai variabel independen adalah sebagai berikut :
31
Universitas Kristen Petra
1. Uji Signifikansi dengan variabel kontrol firm size.
a. Perumusan hipotesis.
H0 : β1 = β2 = β3 = β4= β5= β6= 0 H1 : β1 = β2 = β3 = β4= β5= β6= β7 ≠ 0.
b. Penentuan tarif nyata (α).
c. Membandingkan Nilai sig. dengan α.
d. Penentuan penerimaan atau penolakan H0.
Nilai sig. < α: tolak H0. Artinya, proporsi komisaris independen, komite audit, kepemilikan saham institusi, insider shareholder, dan kepemilikan saham publik secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kebijakan deviden dengan adanya variabel kontrol (firm size).
2. Uji Signifikansi tanpa variabel kontrol firm size.
a. Perumusan hipotesis.
H0 : β1 = β2 = β3 = β4= β5= 0 H1 : β1 = β2 = β3 = β4= β5= β6 ≠ 0.
b. Penentuan tarif nyata (α).
c. Membandingkan Nilai sig. dengan α.
d. Penentuan penerimaan atau penolakan H0.
Nilai sig. < α: tolak H0. Artinya, proporsi komisaris independen, komite audit, kepemilikan saham institusi, insider shareholder, dan kepemilikan saham publik secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kebijakan deviden .
3.6.3.3 Koefisien Determinasi
Kesesuaian model dihitung dengan menggunakan nilai adjusted koefisien determinasi (adj R2) yang bertujuan untuk mengukur keragaman variabel dependen yang dapat diterangkan oleh variabel independen. Adj R2 menunjukkan besarnya pengaruh semua variabel independen terhadap variabel dependen.
Dimana :
Adj R2 yang digunakan adalah 0 ≤ Adj R2 ≤ 1. Adj R2 = 1 berarti 100 persen variasi dalam variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independennya. Sedangkan Adj R2 = 0 berarti tidak satu pun variabel dependen tidak dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independennya.