• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI PENGARUH NILAI PERUSAHAAN, RISIKO KEUANGAN, DAN HARGA SAHAM TERHADAP TINDAKAN INCOME SMOOTHING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI PENGARUH NILAI PERUSAHAAN, RISIKO KEUANGAN, DAN HARGA SAHAM TERHADAP TINDAKAN INCOME SMOOTHING"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH NILAI PERUSAHAAN, RISIKO KEUANGAN, DAN HARGA SAHAM TERHADAP TINDAKAN INCOME

SMOOTHING PADA PERUSAHAAN SUB SEKTOR PERTAMBANGAN MINYAK

& GAS BUMI YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2015-2019

OLEH

AYU WILDANI NASUTION 170502035

PROGRAM STUDI STRATA 1 MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(2)
(3)
(4)
(5)

i ABSTRAK

PENGARUH NILAI PERUSAHAAN, RISIKO KEUANGAN, DAN HARGA SAHAM TERHADAP TINDAKAN INCOME

SMOOTHING PADA PERUSAHAAN SUB SEKTOR PERTAMBANGAN MINYAK

& GAS BUMI YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2015-2019

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Nilai Perusahaan, Risiko Keuangan dan Harga Saham terhadap tindakan Income Smoothing pada Perusahaan Sub Sektor Pertambangan Minyak & Gas Bumi yang terdaftar di BEI tahun 2015-2019. Populasi penelitian ini adalah 13 Perusahaan Sub Sektor Pertambangan Minyak & Gas bumi yang terdaftar di BEI tahun 2015-2019. Berdasarkan kriteria purposive sampling, 9 perusahaan dipilih sebagai sampel penelitian ini. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi logistik, untuk menemukan hasilnya, peneliti melakukan uji hosmer and lemeshow, uji wald, uji overall model fit, dan koefisien determinasi. Penelitian ini bersifat penelitian asosiatif dan jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari website resmi Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara serempak Nilai Perusahaan, Risiko Keuangan, dan Harga Saham berpengaruh positif dan signifikan terhadap tindakan Income Smoothing pada Perusahaan Sub Sektor Pertambangan Minyak & Gas Bumi yang terdaftar di BEI tahun 2015-2019.

Secara parsial, Nilai Perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap tindakan Income Smoothing, Risiko Keuangan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tindakan Income Smoothing dan Harga Saham berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap tindakan Income Smoothing.

Kata Kunci: Nilai perusahaan, Risiko Keuangan, Harga saham, dan Income Smoothing

(6)

ii ABSTRACT

THE EFFECTS OF FIRM VALUE, FINANCIAL LEVERAGE, AND STOCK PRICE ON INCOME SMOOTHING POLICIES IN THE

OIL & NATURAL GAS MINING COMPANIES LISTED IN IDX FOR THE YEAR OF 2015-2019

This research aims to determine and analyze the effect of Firm Value, Financial Leverage, and Stock Price on Income Smoothing Policies in The Oil & Natural Gas Mining Companies Listed in IDX for the Year of 2015-2019. The population of this study is 13 The Oil and Natural Gas Mining Companies Listed in IDX for the Year of 2015-2019. Based on the purposive sampling criteria, 9 companies were selected as the sample of this study. This research using logistic regression analysis techniques. To find the results, the researchers conducted a hosmer and lemeshow test, a wald test, an overall model fit test, the coefficient of determination. This research is associative research and the type of data used is secondary data, The data used in this study are secondary data obtained from the official website of the Indonesia Stock Exchange. The results of this study indicate that simultaneously Firm Value, Financial Leverage, and Stock Price have a positive and significant effect on Income Smoothing Policies in The Oil &

Natural Gas Mining Companies Listed in IDX for The Year of 2015-2019.

Partially, the results showed Firm Value has a positive and significant effect on Income Smoothing Policies, Financial Leverage has a negative and significant effect on Income Smoothing Policies and Stock Price has a negative and not significant on Income Smoothing Policies.

Key words: Firm Value, Financial Leverage, Stock Price, and Income Smoothing

(7)

iii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji dan syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas rahmat dan karunia-Nya peneliti masih diberikan kesehatan sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Nilai Perusahaan, Risiko Keuangan, dan Harga Saham Terhadap Tindakan Income Smoothing Pada Perusahaan Sub Sektor Pertambangan Minyak &

Gas Bumi yang Terdaftar di BEI Tahun 2015-2019”, guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini, peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada kedua orang tua tercinta Ayahanda (Alm) H. M. Syarif Nasution dan Ibunda tercinta Hj. Siti Kulimah Nasution yang telah membesarkan, mendidik, memberi dukungan, dan doa yang tak henti-hentinya kepada peneliti. Peneliti juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Fadli, SE, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. Khaira Amalia Fachrudin, SE, MBA, AK, dan Ibu Inneke Qamariah, SE, M.Si, selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dr. Nisrul Irawati, MBA, selaku Dosen Pembimbing yang telah membantu dan memberikan bimbingan, dukungan, arahan kepada peneliti dalam penyelesaian skripsi ini.

4. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, SE, M.Si, dan Ibu Beby Kendida

(8)

iv

Hasibuhan, SE, M.Si, selaku Dosen Penguji I dan Dosen Penguji II yang telah membantu dan memberikan saran untuk kesempurnaan dalam skripsi ini.

5. Kepada Bapak dan Ibu Dosen Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan memberikan ilmunya kepada peneliti selama mengikuti perkuliahan.

6. Kepada saudara kandung saya Siti Maryam Nst, S.Kep, Rahkmad Amin Nst, S.P, Riska Sari Nst, S.pd dan apt Fithri Khairani Nst, S.farm yang telah memberikan doa, semangat, dan dukungan kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Kepada sahabat terbaik Dinda, Indah, Silvi, Mely, Tassa, dan Widia serta teman-teman seperjuangan angkatan 2017 Manajemen reguler yang membuat masa perkuliahan menyenangkan dan sulit dilupakan.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala dapat memberikan balasan atas kebaikan-kebaikan yang telah diberikan kepada peneliti baik di dunia maupun di akhirat kelak. Peneliti berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan menjadi bahan masukan bagi peneliti selanjutnya.

Medan, Agustus 2021 Peneliti,

Ayu Wildani Nasution 170502035

(9)

v DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 14

1.3 Tujuan Penelitian... 15

1.4 Manfaat Penelitian ... 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 17

2.1 Landasan Teori ... 17

2.1.1 Agency Theory ... 17

2.1.2 Signalling Theory ... 18

2.1.3 Manajemen Laba... 20

2.1.4 Income Smoothing ... 26

2.1.5 Nilai Perusahaan ... 30

2.1.6 Risiko Keuangan ... 31

2.1.7 Harga Saham ... 33

2.2 Penelitian Terdahulu ... 34

2.3 Kerangka Konseptual ... 36

2.3.1 Pengaruh Nilai Perusahaan Terhadap Income Tindakan Smoothing ... 36

2.3.2 Pengaruh Risiko Keuangan Terhadap Income Tindakan Smoothing ... 37

2.3.3 Pengaruh Harga Saham Terhadap Income Tindakan Smoothing ... 38

2.4 Hipotesis Penelitian ... 40

BAB III METODE PENELITIAN ... 41

3.1 Jenis dan Sifat Penelitian... 41

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian... 41

3.3 Batasan Operasional ... 41

3.4 Definisi Operasionalisasi Variabel ... 42

3.5 Populasi dan Sampel ... 42

3.5.1 Populasi ... 42

3.5.2 Sampel ... 43

3.6 Jenis dan Sumber Data ... 44

3.7 Metode Pengumpulan Data ... 45

(10)

vi

3.8 Teknik Analisis Data ... 45

3.8.1 Statistik Deskriptif ... 45

3.8.2 Analisis Regresi Logistik ... 46

3.8.3 Menilai Kelayakan Model Regresi (Hoswer and Leweshow Test) ... 46

3.9 Pengujian Hipotesis ... 47

3.9.1 Pengujian Variabel Secara Parsial (Uji Wald) . 47 3.9.2 Uji Overall Model Fit ... 48

3.9.3 Koefisien Determinan (R²) ... 49

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA ... 50

4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 50

4.2 Analisis Statistik Deskriptif ... 54

4.3 Analisis Regresi Logistik ... 57

4.3.1 Menilai kelayakan model regresi (Hoswer and Lemeshow Test) ... 58

4.3.2 Koefisien McFadden R-squared ... 59

4.3.3 Uji Overall Fit ... 60

4.4 Pengujian Hipotesis ... 60

4.4.1 Uji Wald ... 60

4.4.2 Uji Pengaruh Serempak (LR test) ... 61

4.5 Pembahasan ... 62

4.5.1 Analisis Pengaruh Nilai Perusahaan Terhadap Tindakan Income Smoothing... 62

4.5.2 Analisis Pengaruh Risiko Keuangan Terhadap Tindakan Income Smoothing... 63

4.5.3 Analisis Pengaruh Harga Saham Terhadap Tindakan Income Smoothing... 64

4.5.4 Analisis Pengaruh Nilai Perusahaan, Risiko Keuangan, Harga Saham Terhadap Tindakan Income Smoothing ... 65

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 66

5.1 Kesimpulan ... 66

5.2 Saran ... 66

DAFTAR PUSTAKA ... 68

DAFTAR LAMPIRAN ... 72

(11)

vii

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

1.1 Indeks Perataan Laba pada Perusahaan Pertambangan Minyak

& Gas Bumi yang Terdaftar di BEI pada Tahun 2015-2019 ... 4

2.1 Penelitian Terdahulu ... 34

3.1 Defenisi Operasional Variabel ... 42

3.2 Daftar Perusahaan Sub Sektor Pertambangan Minyak & Gas Bumi yang menjadi Populasi dalam Penelitian ... 43

3.3 Kriteria Pengambilan Sampel ... 44

3.4 Daftar Perusahaan Sub Sektor Pertambangan Minyak & Gas Bumi yang menjadi Sampel Penelitian ... 44

4.1 Hasil Analisis Statistik Deskriptif ... 54

4.2 Hasil Perhitungan Income Smoothing pada Perusahaan Sub Sektor Pertambangan Minyak & Gas Bumi pada Tahun 2015- 2019 yang menjadi Sampel Penelitian ... 54

4.3 Hasil Analisis Regresi Logistik ... 57

4.4 Hoswer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test ... 59

4.5 Hasil Uji Koefisien McFadden R-squared ... 60

4.6 Uji Overall Fit ... 60

4.7 Uji Wald ... 61

(12)

viii

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

1.1 Price Book Value Perusahaan Sub Sektor Pertambangan Minyak & Gas Bumi yang Terdaftar di BEI pada Tahun 2015-

2019 ... 8 1.2 Risiko Keuangan Perusahaan Sub Sektor Pertambangan

Minyak & Gas Bumi yang Terdaftar di BEI pada Tahun 2015-

2019 ... 10 1.3 Harga Saham Perusahaan Sub Sektor Pertambangan Minyak &

Gas Bumi yang Terdaftar di BEI pada Tahun 2015-2019... 12 2.1 Kerangka Konseptual ... 40

(13)

ix

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

1. Hasil Perhitungan Nilai Perusahaan/PBV (X1)... 72

2. Hasil Perhitungan Risiko Keuangan/DAR (X2) ... 72

3. Hasil Perhitungan Harga Saham/Closing Price (X3) ... 73

4. Hasil Perhitungan Income Smoothing ... 73

5. Hasil Data Mentah Eviews ... 74

6. Hasil Transformasi LN (Logaritma Natural Eviews) ... 75

7. Analisis Statistik Deskriptif ... 76

8. Hasil Hoswer and Lemeshow’a Goodness of Fit Test ... 77

9. Hasil Uji Wald X1 ... 78

10. Hasil Uji Wald X2 ... 78

11. Hasil Uji Wald X3 ... 79

12. Hasil Uji OverAll Fit ... 79

13. Hasil Model -2LogLikehood ... 80

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam mengambil sebuah keputusan investasi biasanya investor melihat terlebih dahulu laporan keuangan sebuah perusahaan. Laporan keuangan merupakan sumber informasi atas kondisi keuangan suatu perusahan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan berbagai pihak, baik internal maupun eksternal perusahaan (Kasmir, 2011). Salah satu parameter dari laporan keuangan yang digunakan untuk mengukur kinerja manajemen perusahaan adalah laba, karena laba mengandung informasi potensial yang sangat penting.

Menurut Subramanyam & Wild (2012) laba merupakan ringkasan hasil bersih aktivitas operasi usaha dalam periode tertentu yang dinyatakan dalam istilah keuangan, serta informasi perusahaan yang paling diminati dalam pasar uang, sehingga dalam menganalisis laporan keuangan investor cenderung berfokus terhadap laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Jika investor terfokus pada laba, maka manager perusahaan akan berfokus memperbaiki labanya dan berusaha semaksimal mungkin agar labanya terlihat baik dan terlihat menarik di mata investor.

Jika perusahaan memiliki fluktuasi laba yang rendah dan stabilitas pendapatan yang baik maka akan menjamin kualitas laba yang dihasilkan, sehingga investor cenderung memilih perusahaan yang memiliki revenue yang stabil. Kondisi inilah yang mendorong manajer untuk secara oportunistik memilih kebijakan akuntansi yang sesuai dengan kepentinganya dan kesejahteraannya (Belkaoui, 2007). Kondisi tersebut mendorong para manager untuk melakukan

(15)

manajemen laba (earning management) atau bahkan terdorong untuk melakukan manipulasi laba (earnings manipulation).

Manajemen laba (earning management) merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan dimana akan mempengaruhi laba untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Subramanyam & Wild (2012) manajemen laba terjadi karena beberapa alasan yaitu untuk meningkatkan kompensasi, menghindari persyaratan utang, memenuhi ramalan analis, dan mempengaruhi harga saham. Menurut Scott (2003) menyatakan bahwa tindakan manajemen laba dapat dibedakan menjadi empat yaitu taking a bath, income minimization, income maximization, dan income smoothing.

Tindakan untuk mengurangi fluktuasi laba adalah income smoothing atau perataan laba. Income smoothing adalah proses manipulasi waktu terjadinya laba atau laporan laba agar laba yang dilaporkan keliatan stabil (Fudenberg & Tirole, 1995). Perataan laba adalah suatu tindakan untuk meminimalisir fluktuasi laba agar laba yang dilaporkan perusahaan terlihat stabil. Menurut Subramanyam &

Wild (2012) perataan laba merupakan bentuk umum dari manajemen laba dimana manajer meningkatkan atau menurunkan laba yang dilaporkan untuk mengurangi fluktuasi. Tindakan income smoothing adalah salah satu praktik dimana untuk mengurangi fluktuasi laba, perusahaan akan menggambarkan bahwa perusahaan memiliki revenue yang stabil dari periode satu keperiode lainnya. Menurut Ilmainir (1993) usaha untuk mengurangi fluktuasi laba adalah suatu bentuk manipulasi laba agar jumlah laba suatu periode tidak terlalu berbeda dengan jumlah laba pada periode sebelumnya. Oleh karena itu perataan laba (income

(16)

smoothing) meliputi penggunaan teknik-teknik tertentu untuk memperkecil atau memperbesar jumlah laba suatu periode agar jumlah laba pada periode itu mendekati jumlah laba pada periode sebelumnya.

Dalam penelitian ini, peneliti berfokus pada perusahaan sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi yang terdaftar di BEI pada tahun 2015-2019.

Perusahaan sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi dan berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara dikarenakan sebagai penyedia sumber daya energi yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan perekonomian suatu negara. Dalam situs CNBC Indonesia tahun 2019, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan bahwa target investasi perusahaan sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi tidak tercapai, realisiasi investasi pada sektor migas pada tahun 2019 yaitu sebesar US$

12,5 miliar, nilai ini lebih rendah dari target investasi sektor migas yaitu US$ 16,8 miliar. Dalam situs Bisnis.com tahun 2020, Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bahwa produksi minyak dan gas bumi di Indonesia tidak mengalami peningkatan, pada tahun 2017 produksi migas sebesar 804 ribu barel per hari, kemudian pada tahun 2018 produksi minyak menurun menjadi sebesar 778 ribu barel per hari, dan pada tahun 2019 produksi minyak juga mengalami penurunan yaitu sebesar 746 ribu barel per hari, hal ini disebabkan kegiatan dalam mengekspolasi sumber daya energi yang ada di Indonesia masih kurang. Perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi dalam kegiatan produksinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit,

(17)

Perusahaan membutuhkan investor yang bersedia memberikan dana yang besar untuk mendukung eksistensi dan operasional perusahaan.

Tindakan income smoothing merupakan fenomena umum yang dilakukan oleh perusahaan, income smoothing bukan merupakan hal baru di Indonesia, karena terdapat beberapa kasus bahwa perusahaan melakukan tindakan income smoothing, salah satunya yaitu perusahaan PT Elnusa Tbk, mengutip dari Iwan Supriyatna dalam situs Economy Okezone tahun 2013, bahwa PT Elnusa Tbk memiliki laba bersih yang meningkat hingga 400%, PT Elnusa Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp 123,6 miliar hingga akhir 2012. Laba tersebut naik 396 persen dibandingkan dengan rugi yang dicatatkan tahun lalu sebesar Rp 42,7 miliar (www.economy.okezone.com).

Berdasarkan kasus tersebut bahwa perusahaan sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi melakukan tindakan income smoothing, pernyataan ini selanjutnya dibuktikan dari identifikasi data perusahaan sub sektor pertambangan minyak & gas bumi yang terdaftar di BEI pada tahun 2015-2019 dengan menghitung indeks perataan laba, dari data sampel penelitian ini terdapat beberapa perusahaan sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi yang melakukan tindakan income smoothing yaitu pada Tabel 1.1 sebagai berikut:

Tabel 1.1

Indeks Perataan Laba pada Perusahaan Sub Sektor Pertambangan Minyak

& Gas Bumi yang Terdaftar di BEI pada Tahun 2015-2019

No. Kode

Emiten Nama Perusahaan Indeks Peratan

Laba Keterangan

1. APEX Apexindo Pratama Duta Tbk -312.7622783 Melakukan income smoothing

2. ARTI Ratu Prabu Energi Tbk 0.318999289 Melakukan income

smoothing

(18)

Lanjutan Tabel 1.1

No. Kode

Emiten Nama Perusahaan Indeks Peratan

Laba Keterangan

3. BIPI Benakat Integra Tbk 17.51284862 Tidak Melakukan income smoothing

4. ELSA Elnusa Tbk -15.91950064 Melakukan income

smoothing 5. ENRG Energi Mega Persada Tbk -3.043371117 Melakukan income

smoothing

6. ESSA Surya Esa Perkasa Tbk -22.50030294 Melakukan income

smoothing 7. MEDC Medco Energi Internasional Tbk 8.64296116 Tidak Melakukan income

smoothing 8. PKPK Perdana Karya Perkasa Tbk -1.43657501 Melakukan income

smoothing 9. RUIS Radiant Utama Interinsco Tbk 0.008347766 Melakukan income

smoothing Sumber : Laporan Keuangan masing-masing perusahaan (data diolah, 2021)

Berdasarkan Tabel 1.1 perusahaan PT Apexindo Pratama Duta Tbk, PT Ratu Prabu Energi Tbk, PT Elnusa Tbk, PT Energi Mega Persada Tbk, PT Surya Esa Perkasa Tbk, PT Perdana Karya Perkasa Tbk, dan PT Radiant Utama Interinsco Tbk dengan nilai indeks perataan laba dibawah nilai satu melakukan tindakan income smoothing, sedangkan perusahaan PT Benakat Integra Tbk, dan PT Medco Energi Internasional Tbk dengan nilai indeks perataan laba satu atau lebih dari satu maka perusahaan tidak melakukan tindakan income smoothing.

Manfaat dilakukan tindakan income smoothing pada perusahaan yaitu agar investor tidak menarik dana yang sudah diinvestasikannya sehingga perusahaan dapat terus tumbuh dan berkembang dalam rangka menjaga kelangsungan hidupnya. Menurut Koch (1981) income smoothing mempunyai manfaat untuk mengurangi variabilitas atas laba yang dilaporkan guna mengurangi resiko pasar atas saham perusahaan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan harga pasar perusahaan dan menarik minat investor.

(19)

Dasar seorang manager perusahaan melakukan tindakan income smoothing adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan, mengurangi konsekuensi pajak, dan benefit–benefit lain dari manajemen laba itu sendiri. Ketika suatu perusahaan memutuskan melakukan manajemen laba, maka akan terjadi asimetri informasi, dimana laba yang dihasilkan di dalam laporan keuangan tidak akan relevan dengan kondisi yang sebenarnya. Jika hal ini terjadi maka pengguna laporan keuangan akan membuat keputusan investasi yang salah dikarenakan informasi yang digunakan tidak relevan dengan kondisi yang sebenarnya pada perusahaan dan hal ini sangat merugikan untuk pengguna-pengguna laporan keuangan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan income smoothing di dalam penelitian ini menggunakan variabel nilai perusahaan, risiko keuangan, dan harga saham. Dalam menganalisis permasalahan income smoothing dan hubungannya, berikut data empiris dan teoritis mengenai faktor yang mempengaruhi tindakan income smoothing. Teori yang menjelaskan mengenai konsep manajemen laba tersebut adalah teori keagenan dan teori sinyal. Teori keagenan menyatakan bahwa praktik manajemen laba dipengaruhi oleh konflik kepentingan antara manajemen (agent) dan pemilik (principal) yang timbul karena adanya keinginan untuk memaksimalkan kemakmuran masing-masing (Baridwan, 2000). Teori sinyal (signalling theory) menjelaskan bagaimana sinyal-sinyal keberhasilan atau kegagalan manajemen yang disampaikan kepada pemilik. Teori sinyal berkaitan dengan asimetri informasi, karena pemberian sinyal kepada investor atau publik melalui keputusan-keputusan manajemen menjadi sangat penting bagi investor (Atmaja, 2008).

(20)

Nilai perusahaan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tindakan income smoothing. Menurut Aji & Mita (2010) semakin tinggi nilai perusahaan maka kecenderung melakukan income smoothing lebih besar, dikarenakan nilai perusahaan yang baik dianggap laba yang dihasilkan perusahaan tersebut stabil sehingga menarik minat manajemen untuk melakukan perataan laba. Nilai perusahaan yang baik berarti citra perusahaan dianggap baik bagi investor sehingga investor berkeinginan membeli saham tersebut. Menurut Widjaja &

Maghviroh (2011) menyatakan bahwa price per book value merupakan indikasi dari nilai perusahaan, karena price to book value yang tinggi akan membuat pasar percaya atas prospek perusahaan kedepan. Perusahaan yang memiliki nilai pasar tinggi cenderung melakukan praktek perataan laba, karena perusahaan akan cenderung menjaga konsistensi laba agar nilai pasar perusahaan tetap tinggi dan dapat menarik sumber daya ke dalam perusahaannya (Suranta & Merdistuti, 2004). Nilai perusahaan yang baik membentuk citra perusahaan yang baik bagi investor sehingga investor cenderung membeli saham pada perusahaan dengan nilai pasar yang baik (Peranasari & Dharmadiaksa, 2014). Perusahaan yang memiliki nilai perusahaan yang tinggi akan cenderung melakukan praktik perataan laba. Hal ini dikarenakan suatu perusahaan dengan nilai yang tinggi memiliki tingkat kestabilan laba yang tinggi pula sehingga dapat lebih menarik investor untuk menanamkan modal pada perusahaan tersebut. Berikut Gambar 1.1 nilai perusahaan atau price book value dari 2 sampel perusahaan sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2015-2019.

(21)

Sumber : www.idx.id, 2021 (Data Diolah)

Gambar 1.1

Price Book Value Perusahaan Sub Sektor Pertambangan Minyak & Gas Bumi yang Terdaftar di BEI pada Tahun 2015-2019

Berdasarkan Gambar 1.1 nilai perusahaan pada perusahaan PT Elnusa Tbk yang melakukan tindakan income smoothing mengalami peningkatan pada tahun 2016, namun mengalami penurunan pada tahun 2017 sampai 2018, dan pada tahun 2019 mengalami peningkatan nilai perusahaan. Kemudian pada Perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk yang tidak melakukan tindakan income smoothing, pada tahun 2016-2017 mengalami peningkatan nilai perusahaan, sedangkan pada tahun 2018-2019 mengalami penurunan nilai perusahaan.

Menurut penelitian Aji & Mita (2010) semakin tinggi nilai perusahaan maka kecenderung melakukan income smoothing lebih besar, dikarenakan nilai perusahaan yang baik dianggap laba yang dihasilkan perusahaan tersebut stabil sehingga menarik minat manajemen untuk melakukan praktik income smoothing.

Nilai perusahaan yang baik berarti citra perusahaan dianggap baik bagi investor sehingga investor berkeinginan membeli saham tersebut. Nilai perusahaan yang semakin tinggi memberikan insentif bagi perusahaan untuk melakukan perataan

0,68

1,12

0,89

0,77 0,82

0,27

0,45

1,01

0,58

0,07

2015 2016 2017 2018 2019

Nilai Perusahaan/Price Book Value

ELSA MEDC

(22)

laba untuk mempertahankan agar nilai perusahaan tetap tinggi sehingga semakin diminati investor dan semakin mudah menarik sumber daya ke dalam perusahaan (Aji & Mita, 2010).

Penelitian yang dilakukan oleh Husaini & Sayunitia (2016) bahwa nilai perusahaan secara silmultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap income smooothing. Namun penelitian yang dilakukan oleh Leviany, Wiwin, & Melinda (2019) bahwa nilai perusahaan tidak berpengaruh secara parsial dan simultan terhadap perataan laba hal ini disebabkan karena tinggi rendahnya nilai perusahaan tidak mempengaruhi tindakan manajemen untuk melakukan tindakan perataan laba.

Selanjutnya, risiko keuangan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tindakan income smoothing. Menurut Suranta & Merdistuti (2004) bahwa income smoothing dilakukan manajemen untuk menghindari terjadinya pelanggaran perjanjian utang yang sudah disepakati antara manajemen dengan kreditor sehingga apabila perusahaan cenderung mempunyai risiko keuangan tinggi maka manajemen akan melakukan income smoothing. Risiko keuangan merupakan risiko yang berhubungan dengan segala macam resiko yang berhubungan dengan keuangan. Risiko keuangan atau financial leverage menunjukkan sejauh mana aset perusahaan telah dibiayai oleh penggunaan hutang (Kasmir, 2011). Financial leverage diproksikan dengan debt to total asset yang diperoleh melalui total utang dibagi dengan total aset. Adanya indikasi perusahaan melakukan perataan laba yaitu untuk menghindari pelanggaran perjanjian utang dapat dilihat melalui kemampuan perusahaan tersebut untuk melunasi utangnya dengan menggunakan

(23)

aset yang dimiliki (Yulia, 2013). Perusahaan yang mempunyai tingkat leverage yang tinggi diduga melakukan perataan laba karena perusahaan terancam default sehingga manajemen membuat kebijakan yang dapat meningkatkan pendapatan.

Berikut Gambar 1.2 risiko keuangan dari perusahaan sektor pertambangan minyak dan gas bumi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2019.

Sumber : www.idx.id, 2021 (Data Diolah)

Gambar 1.2

Resiko Keuangan Perusahaan Sub Sektor Pertambangan Minyak & Gas Bumi yang Terdaftar di BEI pada Tahun 2015-2019

Berdasarkan Gambar 1.2 risiko keuangan dari perusahaan PT Elnusa Tbk yang melakukan tindakan income smoothing mengalami penurunan pada tahun 2016 dan mengalami meningkatkan dari tahun 2017-2019. Kemudian pada Perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk yang tidak melakukan tindakan income smoothing mengalami penurunan risiko keuangan pada tahun 2016-2017 dan pada tahun 2018-2019 nilai risiko keuangan perusahaan meningkat. Tingkat leverage yang tinggi memicu manajemen untuk mengurangi risiko perusahaan dengan berupaya mengstabilkan tingkat laba perusahaan dengan berbagai cara, baik itu melalui tindakan income smoothing (Subramanyam & Wild, 2013).

0,40

0,31 0,37 0,42 0,47

0,76 0,75 0,73 0,74 0,77

2015 2016 2017 2018 2019

Resiko Keuangan/Debt to Asset Ratio

ELSA MEDC

(24)

Menurut Subramanyam & Wild (2012) bahwa tingkat leverage yang tinggi mengidentifikasikan bahwa resiko perusahaan juga tinggi sehingga kreditor sering memperhatikan besarnya resiko ini, namun dengan tingkat laba yang tinggi (stabil) maka resiko perusahaan akan kecil. Maka terdapat pengaruh risiko keuangan terhadap tindakan income smoohing.

Penelitian yang dilakukan oleh Peranasari & Dharmadiaksa (2014) bahwa risiko keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap income smoothing.

Namun penelitian yang dilakukan oleh Leviany, Wiwin, & Melinda (2019) bahwa risiko keuangan dan nilai perusahaan tidak berpengaruh secara parsial dan simultan terhadap perataan laba, hal ini disebabkan karena kreditor atau pihak ketiga akan mengawasi perusahaan yang memiliki risiko keuangan yang tinggi, sehingga perusahaan tersebut tidak melakukan perataan laba.

Selanjutnya, harga saham adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tindakan income smoothing. Menurut Surifah (1999) mengemukakan bahwa faktor pendorong perataan laba adalah harga saham. Saham merupakan salah satu sekuritas yang diperdagangkan di pasar modal, oleh karena itu harga saham selalu mengalami fluktuasi naik dan turun dari waktu ke waktu yang lain. Apabila pendapatan perusahaan atau dalam hal ini laba yang dilaporkan lebih besar daripada laba ekspektasi, harga saham cenderung naik, dan sebaliknya. Sebuah perusahaan dengan harga saham naik atau turun akan meningkatkan probabilitas perusahaan untuk melakukan praktek perataan laba. Harga saham yang tinggi akan menggambarkan respon positif investor dari laporan keuangan yang telah disusun pihak manajemen, sehingga kinerja manajemen di nilai baik. Berikut

(25)

Gambar 1.3 harga saham dari perusahaan sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2019.

Sumber : www.idx.id, 2021 (Data Diolah)

Gambar 1.3

Harga Saham Perusahaan Sub Sektor Pertambangan Minyak & Gas Bumi yang Terdaftar di BEI pada Tahun 2015-2019

Berdasarkan Gambar 1.3 harga saham dari perusahaan PT Elnusa Tbk yang melakukan tindakan income smoothing pada tahun 2016 mengalami peningkatan, namun pada tahun 2017 sampai 2018 mengalami penurunan dan pada tahun 2019 harga saham perusahan kembali meningkat. Kemudian pada Perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk yang tidak melakukan tindakan income smoothing harga saham perusahaan mengalami peningkatan pada tahun 2016, tahun 2017 harga saham perusahaan tetap, dan pada tahun 2018-2019 mengalami kenaikan harga saham. Menurut Surifah (1999) mengemukakan bahwa faktor pendorong perataan laba adalah harga saham. Dengan melakukan perataan laba, maka perusahaan dapat mengendalikan abnormal return yang terjadi ketika laba diumumkan. Jika informasi laba yang diumumkan merupakan good news bagi investor, maka harga saham akan meningkat dan memberikan abnormal

247

420 372 344 364

795

1320 1320

890

620

2015 2016 2017 2018 2019

Harga Saham/Closing Price

ELSA MEDC

(26)

return bagi investor sehingga akan menarik perhatian investor lain untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut, tetapi jika sebaliknya informasi laba perusahaan bad news, maka harga saham akan turun dan menyebabkan investor menarik investasinya dari perusahaan yang bersangkutan. Perataan laba (income smoothing) merupakan tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk mengurangi variabilitas laba yang dilaporkan agar dapat mengurangi risiko pasar atas saham perusahaan, yang pada akhirnya akan meningkatkan harga saham perusahaan (Budiasih, 2009). Harga saham yang tinggi akan menggambarkan respon yang positif dari laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, sehingga kinerja manajemen akan dinilai baik. Harga saham yang cukup tinggi akan memberikan keuntungan berupa citra yang lebih baik bagi perusahaan sehingga memudahkan bagi manajemen untuk mendapatkan dana dari luar perusahaan agar dapat meningkatkan kegiatan operasi perusahaan (Yulia, 2013).

Penelitian yang dilakukan oleh menurut Fachrorozi, Sinarwati, &

Purnamawati (2017) bahwa variabel harga saham perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap income smoothing. Namun penelitian yang dilakukan oleh Algery (2013) dan Nurliyasari & Saifudin (2017) bahwa harga saham tidak berpengaruh terhadap praktek perataan laba, hal ini diikarenakan pada saat harga saham turun terdapat perusahaan yang tidak melakukan prakek manajemen laba, hal ini disebabkan karena sebagian besar perusahaan yang melakukan tindakan income smoothing mampu mengendalikan abnormal return yang terjadi ketika laba diumumkan. Harga saham perusahaan yang tinggi tidak menjamin bahwa perusahaan tidak akan melakukan perataan laba. Hal ini dikarenakan Harga

(27)

Saham cenderung meningkat ketika laba yang dilaporkan semakin besar sehingga akan mendorong perusahaan untuk berusaha menunjukkan laba yang baik atau tinggi untuk melakukan praktik perataan laba (Algery, 2013).

Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Nilai Perusahaan, Risiko Keuangan, dan Harga Saham terhadap Tindakan Income Smoothing pada Perusahaan Sub Sektor Pertambangan Minyak & Gas Bumi yang Terdaftar di BEI Tahun 2015-2019”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dirumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah nilai perusahaan, risiko keuangan, dan harga saham secara serempak berpengaruh terhadap tindakan income smoothing pada perusahaan sub sektor pertambangan minyak & gas bumi yang terdaftar di BEI pada tahun 2015-2019?

2. Apakah nilai perusahaan berpengaruh terhadap tindakan income smoothing pada perusahaan sub sektor pertambangan minyak & gas bumi yang terdaftar di BEI pada tahun 2015-2019?

3. Apakah resiko keuangan berpengaruh terhadap tindakan income smoothing pada perusahaan sub sektor pertambangan minyak & gas bumi yang terdaftar di BEI padatahun 2015-2019?

(28)

4. Apakah harga saham berpengaruh terhadap tindakan income smoothing pada perusahaan sub sektor pertambangan minyak & gas bumi yang terdaftar di BEI pada tahun 2015-2019?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang ada, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui dan menganalisa nilai perusahaan, risiko keuangan, dan harga saham secara serempak berpengaruh terhadap tindakan income smoothing pada perusahaan sub sektor pertambangan minyak & gas bumi yang terdaftar di BEI pada tahun 2015-2019.

2. Untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh nilai perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap tindakan income smoothing pada perusahaan sub sektor pertambangan minyak & gas bumi yang terdaftar di BEI pada tahun 2015-2019.

3. Untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh risiko keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap tindakan income smoothing pada perusahaan sub sektor pertambangan minyak & gas bumi yang terdaftar di BEI pada tahun 2015-2019.

4. Untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh harga saham berpengaruh positif dan signifikan terhadap tindakan income smoothing pada perusahaan sub sektor pertambangan minyak & gas bumi yang terdaftar di BEI pada tahun 2015-2019.

(29)

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada berbagai pihak, antara lain:

1. Bagi Peneliti

Menambah wawasan peleliti mengenai nilai perusahaan, resiko keuangan, harga saham, dan tindakan income smoothing. Sehingga dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam melakukan sebuah penelitian.

2. Bagi Investor

Bagi Investor, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi investor maupun calon investor terhadap keputusan investasi yang tepat.

3. Bagi Emiten

Dapat digunakan sebagi bahan masukan dalam tindakan income smoothing yang dilakukan oleh perusahaan guna menarik investor.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Memberikan tambahan pengetahuan serta dapat menjadi bahan referensi yang dapat dijadikan sebagai perbandingan dalam melakukan penelitian lebih lanjut.

(30)

17 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Agency Theory

Teori keagenan adalah teori yang menjelaskan mengenai sebuah fenomena ketidaksamaan kepentingan antara principal dan agent. Hubungan keagenan adalah sebuah kontrak antara pihak pemegang saham (principal) dan pihak manajer perusahaan (agent) (Jensen, Michael, William, & Meckling, 1976).

Tindakan income smoothing berkaitan erat dengan konsep manajemen laba yang pembahasannya menggunakan pendekatan teori keagenan (agency theory).

Masalah yang mendasari teori keagenan (agency theory) adalah konflik kepentingan antara pemilik dan manajer. Teori Agensi merupakan suatu pendekatan yang dapat menjelaskan timbulnya tindakan income smoothing dalam konsep manajemen laba.

Menurut Jensen, Michael, William, & Meckling (1976) menyatakan bahwa masalah keagenan dapat terjadi dalam 2 bentuk hubungan, yaitu: antara pemegang saham dan manajer, dan antara pemegang saham dan kreditor. Selain itu, perusahaan mempunyai banyak kontrak, misalnya kontrak kerja antara perusahaan dengan para manajer dan kontrak pinjaman antara perusahaan dengan kreditornya. Kedua jenis kontrak tersebut sering dibuat berdasarkan angka laba, sehingga dikatakan bahwa agency theory mempunyai implikasi terhadap akuntansi. Kontrak kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kontrak kerja antara manajemen dengan pemegang saham. Manajemen (agent) dan pemegang

(31)

saham (principal) ingin memaksimumkan kemakmuran mereka dengan informasi yang dimilikinya.

Hubungan keagenan terjadi ketika satu atau lebih individu yang disebut sebagai principal menyewa individu atau organisasi lain yang disebut agent untuk melakukan sejumlah jasa dan mendelegasikan wewenang untuk membuat keputusan kepada agent tersebut. Menurut Komalasari (1999) menyatakan bahwa salah satu kunci dari teori agensi adalah adanya perbedaan tujuan antara principal dan agent, sehingga semua individu berusaha untuk bertindak sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Permasalahan yang terjadi di dalam perusahaan sering disebabkan oleh benturan kepentingan antara pemilik modal dengan mereka yang mengelola modal (manajemen perusahaan).

2.1.2 Signalling Theory

Signalling theory atau teori sinyal dikembangkan oleh Ross (2008), menyatakan bahwa pihak eksekutif perusahaan memiliki informasi lebih baik mengenai perusahaannya akan terdorong untuk menyampaikan informasi tersebut kepada calon investor agar harga saham perusahaannya meningkat. Hal positif dalam signalling theory dimana perusahaan yang memberikan informasi yang bagus akan membedakan mereka dengan perusahaan yang tidak memiliki “berita bagus” dengan menginformasikan pada pasar tentang keadaan mereka, sinyal tentang bagusnya kinerja masa depan yang diberikan oleh perusahaan yang kinerja keuangan masa lalunya tidak bagus tidak akan dipercaya oleh pasar.

Menurut Connelly (2011) teori sinyal merupakan teori yang berguna untuk menggambarkan perilaku dari dua pihak yang memiliki akses berbeda terhadap

(32)

suatu informasi. Agen mengetahui informasi perusahaan dibandingkan dengan prinsipal sehingga informasi tersebut diharapkan dapat menjadi sinyal mengenai kondisi perusahaan disebabkan karena investor mengalami kesulitan dalam membedakan kinerja perusahaan yang baik dan kinerja perusahaan yang buruk.

Informasi dapat diterjemahkan sebagai sinyal yang baik dan sinyal yang buruk.

Signalling theory adalah sinyal informasi yang dibutuhkan oleh para investor untuk menentukan apakah investor tersebut akan menanamkan sahamnya pada perusahaan yang bersangkutan atau tidak. Teori ini muncul karena adanya pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan tidak mempunyai informasi yang sama mengenai prospek dan risiko perusahaan (asimetri informasi). Pihak tertentu mempunyai informasi yang lebih dari pihak lainnya. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan oleh investor sebelum maupun sesudah melakukan investasi.

Teori ini berfungsi untuk memberikan kemudahan bagi investor untuk mengembangkan sahamnya yang dibutuhkan oleh manajemen perusahaan dalam menentukan arah atau prospek perusahaan ke depan. Oleh sebab itu, manajemen diharapkan mampu menyampaikan informasi yang berkaitan dengan perusahaan sebagai wujud tanggung jawab manajemen atas pengelolaan perusahaan.

Informasi yang dipublikasikan oleh perusahaan dapat memberikan sinyal bagi investor dalam mengambil keputusan investasi. Jika informasi yang dipublikasikan perusahaan tersebut mengandung nilai positif, diharapkan pasar akan bereaksi pada saat informasi diterima oleh pelaku pasar. Signalling theory menyatakan bahwa perusahaan yang berkualitas baik dengan sengaja akan memberikan sinyal pada pasar, dengan demikian pasar diharapkan dapat

(33)

membedakan perusahaan yang berkualitas baik dan buruk. Untuk mendapatkan sinyal yang efektif, maka sinyal tersebut harus dapat ditangkap dan dipersepsikan baik, sehingga tidak mudah ditiru perusahaan yang berkualitas buruk.

Manajemen (agent) memiliki informasi yang lebih banyak dibanding principal, karena manajemen yang mengelola perusahaan secara langsung sedangkan bagi investor hal tersebut menyebabkan kesulitan bagi principal untuk mengontrol tindakan manajemen secara efektif karena hanya memiliki sedikit informasi mengenai manajemen perusahaan. Oleh karena itu, manajemen perusahaan berpeluang untuk memilih kebijakan tertentu tanpa sepengetahuan pihak pemilik modal atau investor. Seorang Manajer berkewajiban untuk memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada pemegang saham atau investor melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan.

Laporan keuangan tersebut penting bagi para pengguna informasi eksternal terutama karena pihak eksternal mendapatkan segala informasi dari laporan keuangan untuk melihat kondisi atau keadaan dari suatu perusahaan.

2.1.3 Manajemen Laba

Menurut Schipper (dalam Subramanyam & Wild, 2012), manajemen laba adalah intervensi manajemen dengan sengaja dalam proses penentuan laba, biasanya untuk memenuhi tujuan pribadi. Manajemen laba merupakan hasil dari kebebasan dalam aplikasi akuntansi akrual yang mungkin terjadi. Hal ini menyebabkan kebebasan manajer dalam menetapkan angka akuntansi. Sementara itu, menurut Fischer & Rosenzweig (1995) menyatakan bahwa manajemen laba merupakan suatu tindakan manajer yang menaikkan (menurunkan) laba yang

(34)

dilaporkan dari unit yang menjadi tanggung jawabnya yang tidak mempunyai hubungan dengan kenaikan atau penurunan profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang. Berdasarkan penjabaran definisi tentang manajemen laba diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen laba adalah upaya yang dilakukan manajer dalam mengintervensi informasi yang terkandung dalam laporan keuangan dengan cara menaikkan atau menurunkan laba yang dilaporkan.

Manajemen laba terjadi karena beberapa alasan, seperti untuk meningkatkan kompensasi, menghindari persyaratan utang, memenuhi ramalan analis dan mempengaruhi harga saham (Subramanyam & Wild, 2012).

Manajemen laba dapat dilakukan melalui dua cara: (1) mengubah metode akuntansi, yang merupakan bentuk manajemen laba yang paling jelas terlihat, dan (2) mengubah estimasi dan kebijakan akuntansi yang menentukan angka akuntansi, merupakan suatu bentuk manajemen laba yang lebih samar (Subramanyam & Wild, 2012).

Menurut Skousen & Stice (2004) alasan yang mendorong manajer perusahaan melakukan manajemen laba adalah sebagai berikut:

1. Memenuhi Target Internal

Target laba internal merupakan alat penting dalam memotivasi para manajer untuk meningkatkan usaha penjualan, pengendalian biaya, dan penggunaan sumber daya yang lebih efisien. Tetapi, seperti alat pengukuran kinerja yang lain, adalah suatu fakta. Kehidupan bahwa pihak yang dievaluasi kinerjanya akan cenderung melupakan faktor ekonomi yang mendasari pengukuran ini dan mengalihkan perhatiannya kepada angka yang teratur. Penelitian

(35)

akademis yang membenarkan bahwa perhitungan bonus internal berdasarkan laba turut mendorong munculnya manajemen laba, misalnya, seorang manajer yang menjadi subjek rencana bonus atas dasar laba cenderung untuk menaikkan laba jika mereka sudah berada dalam posisi mendekati batasan bonus dan akan menurunkan laba jika laba yang akan dilaporkan berada diatas batas bonus maksimal. Kecenderungan ini pada dasarnya berarti bahwa para manajer memiliki tendensi untuk menunda pengakuan laba di periode yang baik untuk berjaga-jaga apabila hasil operasi periode berikutnya tidak begitu memuaskan.

2. Memenuhi Harapan Eksternal

Berbagai stakeholders eksternal memiliki kepentingan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Para pegawai dan pelanggan menginginkan perusahaan tetap berjalan dengan baik sehingga dapat bertahan dalam jangka panjang dan melaksanakan kewajiban pensiun dan garansinya. Para pemasok menginginkan jaminan atas pembayaran dan perusahaan akan tetap menjadi pembeli yang dapat diandalkan selama bertahun-tahun ke depan. Bagi pihak yang berkepentingan, adanya tanda dari kelemahan keuangan, seperti pelaporan rugi, benar-benar merupakan suatu berita buruk terutama bagi analisis keuangan. Pihak analisis akan merekomendasikan untuk menjual atau membeli saham perusahaan berdasarkan estimasi atas laba perusahaan. Riset yang mendalam telah menunjukkan bahwa pelaporan laba yang lebih kecil dibandingkan laba yang diestimasi oleh analis akan menyebabkan turunnya harga saham. Oleh karena itu, perusahaan memiliki intensif untuk melakukan

(36)

manajemen laba guna menjamin agar angka yang dilaporkan paling sedikit sama dengan laba yang diperkirakan oleh para analis. Kemampuan perusahaan yang luar biasa untuk secara konsisten memenuhi target laba seperti yang diperkirakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan tidak mungkin terjadi jika perusahaan tidak melakukan paling tidak satu jenis manajemen laba.

Terdapat tiga strategi manajemen laba menurut Subramanyam & Wild (2012) yaitu (1) Manajer meningkatkan laba (increasing income) adalah meningkatkan laba yang dilaporkan pada periode kini untuk membuat perusahaan dipandang lebih baik, (2) manajer melakukan "mandi besar" (big bath) adalah Strategi big bath dilakukan melalui penghapusan (write-off) sebanyak mungkin pada satu periode, dan (3) manajer mengurangi fluktuasi laba dengan perataan laba (income smoothing) yang merupakan bentuk umum manajemen laba.

Pada strategi ini, manajer meningkatkan atau menurunkan laba yang dilaporkan untuk mengurangi fluktuasinya. Seringkali manajer melakukan satu atau kombinasi dari tiga strategi ini pada waktu yang berbeda untuk mencapain tujuan manajemen laba jangka panjang.

Menurut Scott (2003) mengidentifikasikan adanya empat pola yang dilakukan manajemen untuk melakukan manajemen laba yaitu sebagai berikut:

1. Taking a Bath

Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru dengan melaporkan kerugian dalam jumlah besar. Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan laba di masa datang.

(37)

2. Income Minimization

Dilakukan pada saat perusahaan mengalami tingkat laba yang tinggi sehingga jika laba pada periode mendatang diperkirakan turun drastis dapat diatasi dengan mengambil laba periode sebelumnya.

3. Income Maximization

Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan atas income maximization bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar. Pola ini dilakukan oleh perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian hutang.

4. Income Smoothing

Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil. Seringkali manajer melakukan satu atau kombinasi dari empat strategi ini pada waktu yang berbeda untuk mencapai tujuan manajemen. Dalam penelitian ini akan dibahas lebih lanjut tentang praktik perataan laba.

Konsep perataan laba sejalan dengan konsep manajemen laba (earning management) yang pembahasannya menggunakan pendekatan teori keagenan (agency theory). Teori ini menyatakan bahwa praktik manajemen laba dipengaruhi oleh konflik kepentingan antara manajemen (agent) dan pemilik (principal) yang timbul karena adanya keinginan untuk memaksimalkan kemakmuran masing-masing (Baridwan, 2000). Ketika manajer mempunyai informasi yang lebih cepat dan lebih banyak dibandingkan pihak eksternal,

(38)

manajer kemudian menggunakan informasi yang diketahuinya untuk memanipulasi pelaporan keuangan dalam usaha memaksimalkan kemakmurannya.

Anggapan yang melekat pada teori keagenan adalah bahwa antara agen dengan prinsipal terdapat konflik kepentingan.

Konflik kepentingan bisa terjadi antara seorang manajer yang ingin memaksimumkan kekayaannya sendiri dengan pemegang saham yang juga ingin memaksimumkan kekayaannya. Konflik akan terjadi jika usaha manajer untuk memaksimumkan kekayaannya tidak memaksimumkan kekayaan pemegang saham. Upaya untuk mengatasi kepentingan antara agen dan prinsipal, maka manajer melakukan upaya perataan laba.

Menurut Subramanyam & Wild (2012) motif seorang manager melakukan manajemen laba adalah

1. Insentif perjanjian, banyak perjanjian yang menggunakan angka akuntansi.

Misalnya perjanjian kompensasi manjer biasanya mencakup bonus berdasarkan laba.

2. Dampak harga saham, insentif manajemen laba lainnya adalah potensi dampak terhadap harga saham. Misalnya, manajer dapat meningkatkan laba untuk menaikkan harga saham perusahaan sementara sepanjang satu kejadian tertentu seperti manajer yang akan dilakukan atau penawaran surat berharga, atau rencana untuk menjual saham atau melaksanakan opsi.

3. Insentif lain, laba seringkali diturunkan untuk menghindari biaya politik dan penelitian yang dilakukan beban pemerintah, misalnya untuk ketaatan undang-undang antimonopoli dan IFRS. Selain itu, perusahaan dapat

(39)

menurunkan laba untuk memperoleh keuntungan dari pemerintah, misalnya subsidi atau proteksi dari persaingan asing.

2.1.4 Income Smoothing

Menurut Beidleman (1973) mendefinisikan perataan laba (income smoothing) adalah pengurangan atau fluktuasi yang disengaja terhadap beberapa tingkatan laba yang saat ini dianggap normal oleh perusahaan. Sedangkan menurut Murtanto (2004) perataan laba merupakan usaha yang dilakukan oleh manajemen untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa perataan laba (income smoothing) merupakan salah satu pola dari manajemen laba dimana manajemen berusaha menstabilkan (meratakan) laba perusahaan selama beberapa periode dengan tujuan tertentu. Manajemen perusahaan ingin informasi yang terkandung dalam laporan keuangan mereka tampak lebih stabil sehingga mecapai tingkat yang diinginkan oleh manajemen maka dilakukanlah perataan laba tersebut.

Menurut Beidleman (dalam Belkaoui, 2007) tujuan perataan laba adalah sebagai berikut :

1. Mencapai keuntungan pajak;

2. Untuk memberikan kesan baik dari pemilik dan kreditur terhadap kinerja manajemen;

3. Mengurangi fluktuasi pada pelaporan laba dan mengurangi risiko, sehingga harga sekuritas yang tinggi menarik perhatian pasar;

4. Untuk menghasilkan pertumbuhan profit yang stabil;

5. Untuk menjaga posisi atau kedudukan mereka dalam perusahaan;

(40)

6. Untuk kelonggaran organisasi dan kelonggaran penganggaran.

Ada dua jenis perataan laba menurut Belkaoui (2007) yaitu :

1. Intentional atau designed smoothing ialah keputusan atau pilihan yang dibuat dengan sengaja atau dirancang untuk mengatur fluktuasi laba pada level yang diinginkan;

2. Natural smoothing adalah income generating process atau proses penghasilan pendapatan yang secara natural, bukan hasil dari tindakan yang diambil oleh manajemen;

Menurut Sulistiyanto (2008) perataan laba (income smoothing) dilakukan oleh perusahaan karena dua hal yaitu :

1. Dalam konteks kompensasi manajerial maka upaya perataan laba ini dilakukan manajer agar setiap periode dapat selalu memperoleh bonus yang dijanjikan pemilik perusahaan, apa lagi jika bonus dihitung berdasarkan laba yang diperoleh perusahaan. Manajer akan meratakan laba agar laba yang dilaporkan tidak melebihi batas atas (cap) dan tidak kurang dari batas bawah (boogey) untuk memperoleh bonus sebab kelebihan laba itu tidak akan dipakai lagi untuk menentukan berapa besarnya bonus yang dapat diterima manajer itu. Sedangkan kelebihan laba yang belum dilaporkan pada periode berikutnya, sehingga dalam setiap periode manajer dapat memperoleh bonus yang dijadikan pemilik perusahaan.

2. Dalam konteks perpajakan maka upaya perataan laba dilakukan agar perusahaan dapat mengatur jumlah pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah pada periode berjalan.

(41)

Menurut Sulistiyanto (2008) dalam bukunya menyatakan alasan utama mengapa seorang manajer perusahaan mengelola dan mengatur laba padahal kegiatan dan cenderung melanggar peraturan. Secara sederhana, seorang manajer mengelola laba untuk terciptanya kesejahteraan untuk pemilik atau pemegang saham (stockholders) perusahaan yang dikelolanya. Hal ini sejalan dengan teori agensi yang menegaskan bahwa kewenangan yang diterima manajer dari pemilik perusahaan untuk mengelola dan menjalankan perusahaan membawa konsekuensi logis yang harus dijalankan dan manajer dan pemilik perusahaan. Manajer memiliki kewajiban untuk meningkatkan nilai perusahaan dan kesejahteraan pemilik serta memiliki hak untuk mendapatkan penghargaan atas apa yang sudah diperbuatnya. Manajer bisa merekayasa labanya menjadi lebih tinggi atau lebih rendah daripada laba sesungguhnya tergantung motivasi apa yang mendasarinya.

Demikian juga apabila manajer merekayasa laba agar cenderung selalu sama selama beberapa periode.

Dalam konsep perataan laba, pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan cenderung bersifat risk averse, yaitu menghindari risiko yang tinggi sehingga mereka lebih meminati perusahaan dengan laba yang stabil dibandingkan laba yang fluktuatif. Laba yang stabil mencerminkan keadaan yang lebih pasti dan tidak berisiko tinggi untuk masa depan. Praktik perataan laba oleh manajemen juga didorong oleh adanya konflik kepentingan antara principal dan agent (agency theory).

Dalam menentukan apakah suatu perusahaan melakukan praktik perataan laba atau tidak dalam penelitian ini dapat diketahui dengan menggunakan indeks

(42)

eckel (Eckel, 1981). Menurut Eckel (1981) indeks eckel mempunyai kelebihan sebagai berikut :

1. Objek dan berdasarkan statistik dengan pemisahan (cut off) yang jelas antara perusahaan yang melakukan praktik perataan laba dengan yang tidak.

2. Mengukur terjadinya praktik perataan laba tanpa melaksanakan prediksi pendapatan, pembuatan model dari laba yang diharapkan,pengujian biaya atau pertimbangan objektif.

3. Mengukur terjadinya praktik perataan laba yang menjumlahkan pengaruh dari beberapa variabel praktik perataan laba yang potensial dan menyelidiki pola dari perilaku praktik perataan laba selama periode waktu tertentu.

Untuk mengidentifikasi apakah perusahaan melakukan income smoothing atau tidak melakukan income smoothing yaitu dengan menggunakan Indeks Eckel (Eckel, 1981). Menurut Eckel (1981) digunakan Indeks Eckel dengan rumusan sebagai berikut :

Dimana √∑ dan √∑

Keterangan:

: Perubahan laba dalam satu periode (income) : Perubahan penjualan dalam satu periode (sales)

: Rata-rata perubahan laba dalam suatu periode (income) : Rata-rata perubahan penjualan dalam suatu periode (sales) n : Banyaknya tahun yang diamati

(43)

CV : Koefisien variasi dari variabel yaitu standar deviasi atau dibagi dengan rata-rata atau dibagi dengan rata-rata atau

Apabila CV > CV, maka perusahaan tidak digolongkan sebagai perusahaan yang melakukan tindakan perataan laba.

CV : Koefisien variasi untuk perubahan laba CV : Koefisien variasi untuk perubahan penjualan Sedangkan dan dihitung dengan menggunakan rumus:

√∑ ̅ ̅ Keterangan:

: Perubahan penghasilan bersih atau laba (I) atau penjualan (S) antara tahun n, tahun n-1

̅ : Rata-rata perubahan penghasilan bersih atau laba (I) atau penjualan (S) antara tahun n, tahun n-1

n : Banyaknya tahun yang diamati Apabila :

1. Indeks perataan laba 1 berarti perusahaan termasuk yang melakukan perataan laba (diberi nilai 1).

2. Indeks perataan laba 1, berarti perusahaan tidak termasuk yang melakukan perataan laba (diberi nilai 0).

2.1.5 Nilai Perusahaan

Secara normatif, tujuan dari keputusan keuangan adalah untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Nilai Perusahaan adalah nilai jual sebuah

(44)

perusahaan sebagai suatu bisnis yang sedang beroperasi (Sartono, 2016), sedangkan menurut Wiagustini (2010) nilai perusahaan merupakan kondisi tertentu yang telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran dari kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan setelah melalui suatu proses kegiatan selama beberapa tahun, yaitu sejak perusahaan tersebut didirikan sampai dengan saat ini, sementara menurut Husnan (2010) nilai perusahaan adalah harga sebuah saham yang beredar dipasar saham yang harus dibayar oleh investor untuk dapat memiliki sebuah perusahaan. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai perusahaan adalah sebuah prestasi dari sebuah perusahaan tersebut, karena dengan meningkatnya nilai perusahaan maka kesejahteraan para pemilik juga akan meningkat. Dengan demikian nilai perusahaan yang tinggi akan membuat pasar percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini tapi pada prospek perusahaan di masa depan. Rasio ini dapat dihitung dengan membagi nilai pasar per lembar saham dibagi dengan nilai buku per lembar saham (Ross, 2008). Nilai perusahaan pada beberapa penelitian dapat didefinisikan melalui Price per Book Value Ratio (PBV) yang dihasilkan dari rasio antara nilai pasar ekuitas perusahaan terhadap nilai buku ekuitas perusahaan.

Price per Book Value Ratio (PBV) dirumuskan sebagai berikut:

2.1.6 Resiko Keuangan

Risiko keuangan atau financial leverage menunjukkan sejauh mana aset perusahaan telah dibiayai oleh penggunaan hutang (Kasmir, 2011). Financial

(45)

leverage diproksikan dengan debt to total asset yang diperoleh melalui total utang dibagi dengan total aset. Adanya indikasi perusahaan melakukan perataan laba untuk menghindari pelanggaran perjanjian utang dapat dilihat melalui kemampuan perusahaan tersebut untuk melunasi utangnya dengan menggunakan aset yang dimiliki. Menurut Djohanputro & Bramantyo (2008) risiko keuangan adalah sejauh mana perusahaan bergantung pada pembiayaan eksternal (termasuk pasar modal dan bank) untuk mendukung operasi yang sedang berlangsung. Perusahaan yang mengandalkan dana dari pihak eksternal untuk pembiayaan berisiko lebih besar daripada yang menggunakan dana sendiri yang dihasilkan secara internal.

Dana dari pihak ekternal diakui sebagai hutang. Menurut Sartono (2016)

“Penggunaan hutang suatu perusahaan akan meningkatkan nilai perusahaan sampai pada suatu titik struktur modal yang optimal”. Nilai perusahaan akan mulai menurun dengan semakin bertambahnya proporsi hutang dalam struktur modal. Hal ini diakibatkan oleh manfaat yang diperoleh dari penggunaan hutang menjadi lebih kecil dari biaya yang timbul atas penggunaan hutang tersebut.

Risiko keuangan dapat dijadikan sebagai tolak ukur dari investor untuk mengetahui bagaimana perusahan membayar beban-beban yang ditanggung oleh perusahaan tersebut. Manajemen melakukan tindakan perataan laba untuk menunjukkan kepada kreditor bahwa risiko yang dimiliki perusahaan kecil dengan cara berusaha menstabilkan nilai laba, hal ini dikarenakan cenderung menolaknya kreditor untuk memberikan pinjaman kepada perusahaan dengan fluktuasi laba yang tinggi. Risiko keuangan dapat diukur menggunakan rumus debt to asset ratio (DAR) sebagai berikut:

(46)

2.1.7 Harga Saham

Harga saham adalah harga yang terjadi dipasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan dipasar modal (Jogiyanto, 2008). Perubahan tersebut terkait permintaan dan penawaran antara pembeli saham dengan penjual saham.

Harga yang ideal dari suatu saham adalah harga yang sepenuhnya mencerminkan nilai intrinsik perusahaan. Harga saham merupakan cerminan dari nilai suatu perusahaan bagi para investor. Semakin baik perusahaannya mengelola usahanya dalam memperoleh keuntungan, semakin tinggi juga nilai perusahaan tersebut dari di mata para investor (Algery, 2013).

Harga saham yang cukup tinggi akan memberikan return bagi para investor berupa capital gain yang pada akhirnya akan berpengaruh juga terhadap citra perusahaan (Wira, 2011). Secara umum, semakin banyak kinerja suatu perusahaan semakin tinggi laba usahanya dan semakin banyak keuntungan yang dapat dinikmati oleh pemegang saham, juga semakin besar kemungkinan harga saham akan naik. Harga saham adalah faktor yang membuat para investor menginvestasikan dananya di pasar modal dikarenakan dapat mencerminkan tingkat pengembalian modal. Pada prinsipnya, investor membeli saham adalah untuk mendapatkan dividen serta menjual saham tersebut pada harga yang lebih tinggi (capital gain). Harga saham dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Harga Saham = Closing Price

Gambar

Gambar  1.3  harga  saham  dari  perusahaan  sub  sektor  pertambangan  minyak  dan  gas bumi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2019
Tabel 2.1  Penelitian Terdahulu  No  Peneliti  (Tahun)  Judul  Penelitian  Variabel  Penelitian  Teknik
Gambar 2.1  Kerangka Konseptual Nilai Perusahaan
Tabel 4.7  Uji Wald

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dividen yield, volume perdagangan, besar perusahaan dan harga saham secara serempak berpengaruh signifikan terhadap bid-ask spread pada

Apakah kinerja keuangan yang terdiri dari rasio EPS, DER, PER, ROI dan ROE berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara serempak harga saham dan volume perdagangan saham berpengaruh signifikan terhadap likuiditas saham baik sebelum maupun setelah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara serempak harga saham dan volume perdagangan saham berpengaruh signifikan terhadap likuiditas saham baik sebelum maupun setelah

Hasil penelitian menunjukkan secara parsial struktur modal yang diproxykan dengan DER berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap harga saham, serta kinerja

Maka berarti Ho diterima dan Ha ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa TATO tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan otomotif dan

Frekuensi perdagang berpengaruh positif tidak signifikan terhadap harga saham dikarenakan beberapa hal, yaitu perusahaan yang memiliki frekuensi perdagangan saham

Pengaruh Current RatioTerhadap Harga Saham Hipotesis 1e pada penelitian ini beragumen bahwa Current Ratio berpengaruh positif namun tidak signifikan Terhadap Harga Saham, berdasarkan