KAPATA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Volume 2, Nomor 1 (2021): 27–50 jurnal-sttba.ac.id/index.php/KJTPK ISSN: 2722-9033 (online), 2722-9513(print) Diterbitkan oleh: Sekolah Tinggi Teologi Bethel Ambon
Kebenaran Menang Atas Kejahatan: Tinjauan Reflektif Terhadap 1 Samuel 17
Sostenis Nggebu
Sekolah Tinggi Teologi Saint Paul Bandung email: [email protected] Abstract
This article explains that truth always reigns over evil. In the text of 1 Samuel 17 tells about Yahweh's war against evil people symbolized by the Philistines and Goliaths. The author uses the literature study method to compile this paper.
In his discussion it is clear that God has acted through David to achieve this victory. The Philistines who opposed God, ridiculed and despised the Israelites as a form of resistance from the power of evil had been conquered by David as a symbol of Christ disarming the power of evil. Thus evil should have no place in the life of the believer. For God has given believers spiritual armor to resist the attacks and deceptions of the Evil One. Evil has been defeated by Christ, so those who believe in Him are called to be pioneers of righteousness on earth.
Believers' lives should reflect the love of Christ who has reconciled themselves to God.
Keywords: God, David, Goliath, truth, evil.
Abstrak
Artikel ini menjelaskan tentang kebenaran senantiasa berkuasa atas kejahatan.
Dalam teks 1 Samuel 17 mengetengahkan tentang peperangan Yahweh terhadap orang-orang yang jahat yang dilambangkan oleh bangsa Filistin dan Goliat. Penulis menggunakan metode studi literatur untuk menyusun karya tulis ini. Dalam pembahasannya tampak jelas bahwa Tuhan telah bertindak melalui Daud untuk meraih kemenangan tersebut. Orang Filistin yang menentang Allah, mencemooh dan merendahkan orang orang Israel sebagai bentuk perlawanan dari kuasa kejahatan telah ditaklukan Daud sebagai lambang dari Kristus yang melucuti kekuasaan kejahatan. Dengan demikian kejahatan semestinya tidak memiliki tempat dalam hidup orang percaya. Sebab Tuhan telah memberikan perlengkapan senjata rohani bagi orang percaya untuk melawan serangan dan tipuan dari Si Jahat. Kejahatan telah dikalahkan Kristus maka orang yang percaya kepada-Nya dipanggil untuk menjadi pelopor kebenaran di muka bumi. Hidup orang percaya seyogianya mencerminkan kasih Kristus yang telah mendamaikan diri mereka dengan Allah.
Kata kunci: Allah, Daud, Goliat, kebenaran, kejahatan.
Pendahuluan
Dunia ini tak pernah padam dari konflik sejak kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Pemberontakan Adam itu telah melahirkan kejahatan berikutnya.
Seakan-akan dosa dan kejahatan menguasai dunia ini dan merampas damai sejahtera dalam hidup manusia, bahkan menjauhkan mereka dari kebenaran.
Emanuel Bria membedakan antara kejahatan moral dan alamiah. Kejahatan moral muncul dari pelaku kejahatan yang secara sadar dan bebas melakukan tindakan yang salah secara moral seperti tidakadilan atau ketidakjujuran termasuk juga tindakan keji seperti pembunuhan, pemerkosaan, pencurian dan lain-lain.
Sedangkan kejahatan alamiah muncul dari determinasi alamiah seperti cacat bawaan, gempa bumi, banjir bandan, tsunami, kebakaran dan lain-lain.1 Dalam penelitiannya, R. Tutrianto memandang kejahatan alamiah dalam masyarakat berasal dari faktor ketimpangan sosial-ekonomi dan rendahnya daya dukung untuk mencapai kemapanan hidup.2 Bagi beliau sumber kejahatan itu berasal lingkungan masyarakat yang merugikan kepentingan sesama. Studi para kriminolog juga berpendapat serupa. Nur Hidayah mengatakan kejahatan sebagai bagian dari perilaku manusia yang berdasar pada tingkat emosi tertentu perlakuan yang tidak adil, emosional dan dendam; sedangkan dari lingkungan karena pengaruh sosial, ekonomi dan rendahnya tingkat pendidikan.3 Kajian tentang masalah kejahatan cenderung memaparkan kasus yang terjadi di tengah masyarakat. Mata orang banyak terbuka bahwa kejahatan memang sedang marak di lingkungan masyarakat dan menggelisahkan banyak pihak.
Munculnya pertentangan antara kebenaran dan kejahatan tak dapat dielakkan. Hal ini menjadi pergumulan dalam konteks iman Kristen. Niel T.
Anderson mengatakan bahwa orang yang berjalan bersama Kristus masih saja dihantui oleh pikiran yang melenceng seperti ‘saya orang yang bodoh. Rupanya, saya termasuk orang yang buruk. Saya tidak berharga di mata Allah.’4 Ini sebagai peperangan secara rohani–yang bergejolak dalam batin manusia. Kejahatan hendak melumpuhkan manusia dari segi pemikirannya. Timotius Lo mengulas bahwa sebagai umat Allah, orang percaya tidak bisa mengalahkan musuh dengan kekuatan
1 Emanuel Bria, Jika Ada Tuhan Mengapa Ada Kejahatan (Yogyakarta: Kanisius, 2008), 41–
43.
2 R. Tutrianto, “Munculnya Wilayah Kejahatan Di Perkotaan (Studi Pada Kota Pekanbaru),”
Indonesian Journal of Criminology 14, no. 1 (2018): 23.
3 Bandingkan Nur Hidayah, “Tinjauan Kriminologis Kejahatan Yang Dilakukan Secara Bersama-Sama Di Muka Umum” (Universitas Hasanudin Makassar, 2017), 4,54.
4 Lihat kajian Niel T Anderson, The Victory of the Darkness, E-Book (Minneapolis: Bethany House, 2020), 125.
sendiri tetapi kemenangan itu diraih atas pertolongan Allah.5 Penegasan Lo menunjukkan bahwa orang Kristen memiliki harapan besar untuk mengalahkan kejahatan. Orang Kristen jangan terlena dengan situasi dunia tetapi perlu bangkit melawan kejahatan dalam bentuk apa pun.
Semakin maraknya kejahatan dan dampaknya di tengah masyarakat, penulis mencermati bahwa ada permasalahan kejahatan bukan saja tampak secara kasad mata tetapi juga bersifat supranatural. Jelas sekali orang Kristen pun sedang berhadapan dengan dilema tentang kuasa kejahatan yang mendominasi sistem berpikir manusia juga realitas permusuhan di tengah masyarakat.
Untuk menjawab tantangan tersebut di atas penulis terinspirasi dari kisah heroik Daud versus Goliat. Di situ bukan saja tampak pertarungan adu fisik tetapi menggambarkan pertarungan antara kebenaran versus kejahatan. Dan meskipun Daud itu terlihat kecil dan tak berdaya di hadapan Goliat–yang raksasa dan prajurit terlatih itu–namun Daud sanggup menumbangkannya. Apa rahasianya? Analogi dalam teks 1 Samuel 17 dipakai untuk menjawab permasalahan yang dikemukakan di atas. Untuk itu penulis merumuskan beberapa pertanyaan pengarah untuk membahas tema ini sesuai pandangan firman Allah dan menarik implikasi praktis bagi kehidupan kekinian. Apa konteks yang dihadapi oleh Daud dalam memerangi bangsa Filistin? Bagaimana kaitan antara kehidupan Daud (dari sudut pandang kebenaran) melawan Goliat (yang mewakili dunia kejahatan). Dan, bagaimana pula merumuskan jawaban terhadap perlambangan tersebut dari sudut pandang firman Tuhan untuk konteks kekinian pada masa kini?
Metode
Untuk mengkaji artikel ini, penulis menggunakan metode literatur.
Penelitian jenis ini menurut Muhamad A. Ahmad berkaitan dengan mengeksplorasi sejumlah literatur yang sesuai topik kajian untuk menjawab permasalahan yang tengah diteliti.6 Untuk itu penelitian ini ditujukan untuk menggali pokok-pokok pikiran penting dari literatur yang telah diterbitkan baik berupa pustaka cetak atau e-book maupun berupa jurnal ilmiah online. Dalam kaitan itu Sony Eli Zaluchu menegasakan agar peneliti dapat menggali sebanyak mungkin data dari sumber literatur untuk mendukung kajian ilmiah sesuai dengan tema dalam artikel yang
5 Timotius Lo, “Kenali Diri, Kenali Musuh, Gunakan Strategi Yang Tepat : Pengajaran Tentang Peperangan Rohani Menurut Surat Efesus,” Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan 13, no. 2 (2012): 169.
6 Muhamad Aswar Ahmad, “Penelitian Kausal Komparatif,” in Metode Penelitian, ed. Elyas Ismael (Makassar: Gunadarma Ilmu, 2018), 99–100.
sedang digarap.7 Dengan begitu materi yang diperoleh semakin beragam dan juga update. Beliau juga mengatakan bahwa paneliti perlu mencemati bahan bacaan tersebut agar menemukan masalah yang tepat untuk dijawab.8 Bahan-bahan yang telah dikumpulkan itu dibaca, diteliti dan dipilah untuk mendapatkan data yang akurat guna menjawab persoalan dalam penelitian ini. Pengoperasian metode ini melalui serangkaian kegiatan pengumpulan literatur, memilih data, dan menganalisis data tersebut dari sudut pandang teologi Alkitab guna memberi jawaban tentang perlambangan yang terdapat dalam pertarungan antara Daud versus Goliat dalam Kitab 1 Samuel 17.
Hasil Dan Pembahasan
Fakta-Fakta Dibalik Peperangan Antara Daud Melawan Goliat Berdasakan Teks 1 Samuel 17
Dalam bagian ini penulis merumuskan beberapa pokok pikiran tentang kebenaran menang atas kejahatan yang dilambangkandengan kehadiran Allah yang memberi kemenangan bagi orang Israel.
Analisis terhadap Konteks dan Teks
Daud bukanlah apa-apa dibandingkan dengan raksasa yang berdiri tegak di hadapannya. Namun Daud memiliki kelebihan yang dahsyat. Kekuatan itu tak diduga oleh lawannya. Malcolm Gladwell berusaha menjelaskan kepiawian Daud melawan Goliat atas dasar keyakinannya bahwa dia telah mengalahkan lawan- lawan yang lebih ganas daripada si raksasa yang sombong itu.9 Goliat di hadapan Daud, tidak ada apa-apanya. Tony W. Cartledge beragumentasi bahwa Daud menjadi seorang pahlawan yang telah lama dipersiapkan Tuhan jauh sebelum berhadapan dengan Goliat.10 Dialh tentara Allah yang telah digembleng Tuhan sendiri. Dalam kajiannya, Chandra Koewoso, mengungkapkan citra Allah sebagai Allah yang adil sehingga Dia peduli terhadap keadilan.11 Allah yang adil itu juga adalah Allah yang berdaulat membasmi kejahatan. TUHAN tidak inginkan orang berdosa mencemooh
7 Sonny Eli Zaluchu, “Metode Penelitian Di Dalam Manuskrip Jurnal Ilmiah Keagamaan,”
Jurnal Teologi Berita Hidup 3, no. 2 (March 25, 2021): 249–266, https://e- journal.sttberitahidup.ac.id/index.php/jbh/article/view/93.
8 Sonny Eli Zaluchu, “Strategi Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif Di Dalam Penelitian Agama,” Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 4, no. 1 (2020): 28–38, accessed February 21, 2020, https://journal.sttsimpson.ac.id/index.php/EJTI/article/view/167.
9 Bandingkan Malcolm Gladwell, David & Goliath (e-Book) (London: Confer Books, 2015), 9–
13.
10 Tony W. Cartledge, 1&2 Samuel, Interlinear Bible (Macon, Georgia 31210: Smyth &
Helwys Publishing, Inc, 2008), 214–215.
11 Chandra Koewoso, “Perang Dari Perspektif Etika Kristen” 2, no. Juli (2019): 140.
nama-Nya. Itulah sebabnya John Galdingay mengamati tampilnya Daud dalam barisan Israel demi menegakkan martabat orang Israel dengan tekad kuat menumbangkan Goliat.12 Dia hadir di Lembah Tarbantin untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.
Dalam 1 Samuel 17, tampil dua sosok terkemuka dan terpandang. Goliat mewakili bangsa Filistin13 (ayat 1-11); dan Daud tampil mewakili umat Israel.
Mereka bertemu di lembah Elah yang terletak di Pegunungan Yudea di sebelah timur dengan hamparan dataran Mediterania yang luas dan datar. Mereka berkemah di antara Sokko dan Azekah yang terletak 15 mil dari Betlehem. Itu sebagai area terbuka dengan keindahan yang menakjubkan–rumah bagi kebun anggur dan ladang gandum dan hutan sycamore (sejenis pohon) dan terebinth (pistacia terebinthus). Ini yang menunjang daerah ini begitu strategis.14 Di lokasi ini pernah terjadi beberapa pertempuran yang sengit dalam sejarah Israel. Pada zaman Makabe, mereka berperang melawan Suriah. Bahkan lebih dari itu saat Kerajaan Israel yang muda pada beberapa abad sebelumnya mereka telah berhadapan dengan tenrara Filistin.15 Kelly Devries mengatakan malah di era berikutnya Sultan Saladin dari Suriah juga bertempur dengan tentara salib dari Eropa di lokasi yang sama.16 Tampaknya lembah Tarbantin telah menjadi saksi bisu tentang pertempuran fisik maupun supranatural yang menentukan.
Pada zaman Saul, orang Filistin yang berasal dari tepi pantai, bergerak arah timur dan memutar haluan ke lembah Elah. Kahadiran mereka tentu saja dipandang oleh Saul sebagai sebuah ancaman. Dia pun mengumpulkan pasukannya, turun ke lembah itu untuk menghadang pasukan Filistin yang hendak mencaplok teritorialnya.
Kedua pasukan tidak bisa berbuat banyak. Karena orang Felistin berada di punggung bukit di sebelah selatan dan orang Israel berada juga di punggung bukit di sebelah utara. Di antara keduanya terbentang jurang. Sehingga, tidak ada yang berinisiatif maju ke arena peperangan di lembah Elah tersebut.
Orang Filistin menjadi muak dengan sikap Israel yang berdiam diri. Mereka bertekad segera mengakhiri kebuntuan satu lawan satu. Dengan menggunakan pendekatan psikologis untuk menekan Israel dengan mengirim orang terhebat mereka maju ke medan pertempuran yang mengadopsi sistem perang kuno.17 Dia
12 John Galdingay, 1 and 2 Samuel for Everyone (Louisville, Kentucky 40202: Westminster John Knox Press, 2011), 81–84.
13 Gladwell, David & Goliath (e-Book).
14 Ibid.
15 Ibid.
16 Bandingkan Kelly Devries, Iain Dickie, and Martin J. Dougherty, Perang Salib 1097-1444 (Jakarta: Kompas Gramedia, 2014), 103–110.
17 Cartledge, 1&2 Samuel.
itu Goliat. Seorang tentara terlatih, raksasa, tingginya sekitar enam kaki, mengenakan helm perunggu dan pelindung seluruh tubuh. Dia membawa lembing, tombak, dan pedang.
Goliat dan Daud dipilih untuk bertarung satu lawan satu. Goliat yang mengandalkan kekuatannya hendak membela bangsanya. Sedangkan Daud datang dalam nama Tuhan untuk menegakkan kebenaran Allah di muka bumi ini. Goliat bersifat pongah sedangkan Daud yang mengambil sikap memasrahkan diri kepada Tuhan.
Tampaknya bahwa salah satu bentuk peperangan yang lazim pada masa itu ialah peperangan yang diwakilkan.18 Prinsip seperti ini memang sudah menjadi tradisi yang lazim yang diterima secara luas bahwa wibawa sebuah suku atau keluarga diwakilkan kepada seorang individu untuk kepentingan kolektivitas. Pola semacam ini juga dianut oleh bangsa-bangsa di dunia timur dekat, termasuk orang Israel.
Ronald Youngblood mengatakan Goliat dikenal sebagai seorang pendekar terpilih dari antara orang Filistin untuk menghancurkan umat Allah (ayat 4). Bangsa Filistin ditengarai sebagai nenek moyang dari orang Anakim yakni Enak (bdk Bil 13:13). Pada waktu itu para pengintai melihat bahwa orang-orang Filistin itu seperti orang-orang raksasa. Ini sebuah pemandangan yang kontras dengan diri mereka yang kecil-kecil seperti belalang saja. Goliat sebagai prajurit raksasa yang siap bertarung dengan Israel diterangari sebagai keturunan dari orang Enak tersebut di atas yang senantiasa berseteru dengan umat Allah.19 Robert Alter mengutarakan Goliat unjuk kekuatan dan tampil ke garis depan sebagai the champion20 untuk memerangi orang Israel. Gadweel menilai Goliat sebagai seorang tentara yang terlatih–pejuang yang perkasa21 berdiri membusungkan dada sebagai orang terkuat pada masa itu sambil melecehkan umat Israel.
L.T Holdcroft mengatakan tentu saja ciri-ciri fisik Goliat yang bertubuh tinggi (lebih dari 6 hasta) telah menjadi andalan bagi orang Filistin.22 Itu berarti tingginya sekitar depalan kaki atau 3 meter. Ia mungkin sisa dari keturunan orang Enak yang masih hidup, yang bertubuh raksasa (Bi 13:33).
18 W.S LaSor, D.A Hubbard, and F.W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama 1 (Jakarta: Gunung Mulia, 2012), 342.
19 Bandingkan Ronald F (editor) Youngblood, New Illustrated Bible Dictionary (Nasville, TN:
Thomas Nelson Publishers, 1995), 514–515.
20 Robert Alter, The David Story: An Translation with Commentary of 1 and 2 Samuel (London: W.W Norton & Company, Inc, 1999), 101.
21 Gladwell, David & Goliath (e-Book).
22 Holcrob L.Thomas, Kitab-Kitab Sejarah, 1st ed. (Malang: Gandum Mas, 1992).
Mereka telah menghadirkan Goliat di medan laga, tetapi orang Israel tidak dapat menemukan seorang pun yang pantas berhadapan dengan Goliat, bahkan Saul tak berani tampil.23
Bukan main gelagat jawara Filistin yang satu ini. Ia mengejek Israel “hamba Saul” dan menunjukkan dirinya sebagai “pahlawan Filistin” (ayat 8). Tidak tanggung-tanggung, ia mengintimidasi, mencemooh dan merendahkan martabat orang Israel (ayat 9-10). Selama 40 hari, pria bertubuh besar itu menantang barisan Saul untuk menemukan seorang yang bersedia bertempur satu lawan satu.24
Jelas sekali bahwa Goliat bukan saja menentang bangsa Israel, tetapi ia menentang Allah Israel. TUHAN Allah berkenan memanggil keturunan Abraham untuk menyembah-Nya dan menjadi milik kepunyaan-Nya. Mereka sebagai umat kesayangan-Nya dan senantiasa dibela dan dilindungi-Nya. Sebagai bangsa monotheis, mereka memandang realitas hidup mereka berada di bawah kekuasaan Allah. Keyakinan mendasar mereka bahwa Tuhan bertindak secara langsung di dalam setiap aspek hidup mereka. Akan tetapi sekarang, orang yang kafir (tidak bersunat) secara tegas menentang Israel dan Allah yang hidup. Goliat merendahkan martabat bangsa Israel dan juga mencela TUHAN Allah, Sang Mahakuasa.
Allah Menyertai Daud (Ayat 12-39)
Secara tak terduga oleh saudara-saudaranya, Daud yang berfisik kerdil ini hadir di medan pertempuran. Dalam ayat 12-25 dinarasikan mengenai kehadiran Daud di tengah barisan tentara Israel yang berhadapan dengan orang Filistin di Lembah Tarbantin. Sesungguhnya dia dikenal sebagai seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, pandai bicara, elok perawakannya dan TUHAN menyertai dia (16:18). Hidup di padang gurun sebagai gembala petarung yang menyelamatkan kawanan ternaknya dari serbuan binatang buas. Pengalaman itu turut menggemblengnya menjadi seorang yang berpenderian teguh. Tak gentar terhadap musuh. Dia juga hidup melekat kepada TUHAN. Sang Mahakuasa senantiasa berpihak kepadanya.
Daud berada di sekitar barisan bangsa Israel mendengar sendiri bagaimana Goliat menantang orang Israel untuk berperang. “Pilihlah seorang di antara kamu untuk maju melawan aku” kata pria bermulut besar itu kepada orang Israel.
23 Bandingkan John Walvoord, “The Bible Knowledge Commentary Old Testament”
(Wheaton, Il: Victor Books, 1998), 448.
24 Youngblood, New Illustrated Bible Dictionary.
Mendengar suara lantang dari Goliat, ciutlah Saul.25 Saul seorang pemimpin militer tetapi dia tak berdaya mengalahkan orang Filistin.26 Baginda raja menjadi gusar. Dilanda rasa cemas dan ketakutan. Sebab dia tak menemukan seorang pun yang siap bertarung dengan Goliat.
Tetapi Daud meresponi dengan sikap tenang dan penuh keberanian. Daud memiliki perspektif yang beda dengan baginda raja, Saul. Sesungguhnya orang Filistin itu menghina Israel dan mencemooh barisan (tentara) Allah yang hidup.
“Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: "Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari Allah yang hidup?" (ayat 26). Kaum tidak bersunat berani menentang Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Mereka telah merendahkan martabat Israel sebagai milik pusaka TUHAN Allah di dunia ini.
Menurut pengamatan Cartledge, Daud tampil di hadapan Sual untuk melakukan peran yang tidak bisa dilakukan oleh sang raja sendiri.27
Daud menghadapi tantangan Eliab (ayat 28-30). Sebenarnya ini sebuah dialog singkat antara kakak beradik yang menarik. Tetapi dari sudut pandang Eliab kedengarannya tidak diharapkan Daud. Namun ini sebuah tantangan bagi Daud yang sudah dikenal oleh Eliab, bahwa adiknya itu seorang pemberani. Tentu saja seorang pemberani selalu siap menghadapi tantangan apa pun di hadapannya.
Kisah tentang kehadiran Daud di medan pertempuran telah sampai ke telinga Saul (ayat 31-39). Maka beliau menyuruh orang memanggil Daud untuk mengonfirmasi mengapa ia ada medan laga (ayat 31).
Di hadapan baginda raja, dialognya menjadi sangat dinamis dan cair dibandingkan dengan Eliab yang agak kaku karena memandang rendah reputasi adiknya. Bagi Daud, tak boleh seorang pun merasa rendah diri. Apalagi cemas dan gusar. Daud menegaskan agar raja tidak tawar hati. Ia sendiri bersedia melawan Goliat (ayat 32). “Berkatalah Daud kepada Saul: "Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu" (ayat 32).
Kepribadian semacam ini sangat dibutuhkan dalam situasi sulit. Daud hadir untuk memecahkan masalah. Daud penuh keyakinan bahwa TUHAN mampu berbuat yang terbaik bagi Israel.
Raja Saul agak ragu dengan jawaban Daud.28 Saul berkata kepada Daud:
"Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia,
25 Robert Alter, The Wisdom Book: Job, Proverbs and Ecclesiastes (New York: W.W. Norton &
Company, 2010), 110.
26 Cartledge, 1&2 Samuel.
27 Ibid.
28 Cartledge Ibid 217-218.
sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit" (ayat 33).
Menurut pandangan Alter, Daud mengamati keraguan lawan bicaranya, dengan melibatkan Tuhan melalui penjelasannya. Ini sebuah argumen teologis untuk membujuk Saul mengakui tentang kedaulatan Tuhan.29 Di sini sebenarnya Daud hendak membandingkan orang Filistin yang membanggakan Goliat sementara orang Israel diam seribu bahasa–pengecut dan dikuasai kegelisahan (lihat ayat 8- 10). Bangsa Filistin begitu ngotot dengan hujatan mereka tetapi Israel membisu saja, yang oleh Alter digambarkan bahwa “X” berbicara dengan “Y”, tetapi “Y” tidak merespons.30 Dalam pandangan Daud, sikap dan mentalitas seperti ini tidak logis.
Anthony F. Chambell menegaskan, maka gembala kecil dari Betlehem ini tampil penuh kepercayaan diri berdialog dengan sang raja secara terbuka untuk meyakinkannya. Daud mendorong beliau untuk memiliki perspektif sebagai kaum monoteis yang percaya kepada Allah Sang Pencipta yang lebih berkuasa daripada segala ciptaan-Nya. Umat Israel seyogianya meresponi dengan mengandalkan TUHAN yang berdaulat dan hidup. Daud hanya percaya kepada TUHAN, maka pada saat maju bertempur, dia meraih kemenangan.31 Tampaknya Daud lebih arif menjelaskan kapasitas dan alasan dari perkataanya kepada sang raja (ayat 34-37).
Mendengar jawaban dari Daud, Saul menjadi terkesima kepadanya. Agaknya ia mengagumi perspektif anak muda itu yang masuk akal dan logis. Kehadiran Daud di sisinya telah membawa paradigma baru bagi umat Israel tentang beriman kepada Tuhan. Tanpa rasa ragu baginda raja mengenakan jubah perangnya kepada Daud.
“Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya” (ayat 38). Walaupun hal itu sebagai sebuah penghargaan kepadanya tetapi dia menanggalkannya karena merasa kurang leluasa memakai jubah perang (ayat 39).
Dari paparan di atas, dapat ditarik benang merah bahwa Daud memiliki alasan yang kuat untuk mengalahkan bangsa Filistin. Goliat yang suka membual itu dapat ditaklukannya. Alasannya terdapat dalam ayat 37: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Keyakinan Daud merupakan keyakinan mendasar bagi kaum teistik. TUHAN adalah sumber kemenangan bagi umat-Nya. Galdingay meyakini TUHAN sendirilah yang berperang bagi Israel. Dialah panglima perang itu
29 Ibid.
30 Ibid.
31 Antony F Champbell, From Philistine To Throne: Fellowship to Bible Study 1 Samuel 16:14- 18:16 (NP: NN, n.d.), 38 Diunduh dari www.fbs.org.edu-campbell34 pada tanggal 14/10/20 pkl 10.38.
sendiri.32 Itulah tekad kuat dari anak bungsu Isai, yang setiap hari bergelut di padang gurun sebagai seorang gembala kawakan.
Saul pun dibuat sangat yakin dengan tekad dan pendirian Daud, bahwa TUHAN akan bertindak yang terbaik bagi umat-Nya. Baginda raja berkata kepadanya: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau."
Keselamatan Datang dari Tuhan Semesta Alam (Ayat 45-47)
Daud melawan Goliat atas dasar iman kepada Allah (ayat 37). Dia hanyalah seorang “gembala petarung” (melawan binatang buas) yang tidak memiliki keterampilan khusus sebagai seorang ksatria. Kehadirannya di medan lagi untuk mengemban tugas mulia bagi kepentingan umat Allah, menegakkan kebenaran dan keadilan serta mengagungkan TUHAN.
Sesuai dengan pengalaman Daud dalam kitab Mazmur bahwa bukan pedang dan tombak yang mendatangkan keselamatan atau kemenangan, tetapi TUHAN. Ini keyakinan dasarnya. Sehingga, tatkala dia maju berhadapan dengan Goliat ia memakai pola yang sama bahwa intervensi TUHAN yang akan mendatangkan kemenangan bagi bangsa Israel.33 Bahkan Daud mengumandangkan pernyataan yang membakar semangat mereka bahwa: “all the earth shall know that Israel has a God.” Inilah saatnya seluruh mata umat manusia akan memandang kekuasaan dan kehebatan Tuhan semesta alam akan bertindak membela dan menegakkan kebenaran di muka bumi ini. Tak ada satu pun makhluk lemah yang terbuat dari debu tanah yang mudah ditiupkan angin boleh bebas menganggap enteng Sang Pencipta dan bahkan merendahkan-Nya. Dell Schultz menegaskan bahwa Allah itu mahasuci. Dia membenci dosa.34 Jerry Bridge membenarkan bahwa watak Allah adalah kudus sehingga Dia tak berkompromi dengan dosa.35 Dia tak segan-segan menghancurkan orang-orang angkuh. Allah Israel adalah Allah yang perkasa. Dia telah mencungkirbalikkan Firaun yang pongah mengejar orang Israel seperti orang mengejar pencuri. Saat ini, detik ini juga, Allah akan menghancurkan orang-orang yang pongah seperti Goliat, si raksasa itu.
Di sini jelas sekali bahwa peperangan Israel adalah peperangan Yahweh.
Dalam sejarah umat Allah, mereka senantiasa menyaksikan bahwa Allah sering bertindak sebagai Panglima Perang bagi mereka. TUHAN Allah sendiri turun tangan mengalahkan orang-orang Amalek (Kel 17:8-16). Ia menunjukkan kuasa-Nya mengalahkan segala musuh Israel–siapa pun mereka. Allah sendiri sebagai pembela
32 Galdingay, 1 and 2 Samuel for Everyone.
33 Champbell, From Philistine To Throne: Fellowship to Bible Study 1 Samuel 16:14-18:16.
34 Dell Schultz, Sampaikan Cerita Keselamatan, ed. H.l Cermat (Bandung: LLB, 1999), 93–94.
35 Jerry Bridges, Mengejar Kekudusan, ed. Sari Badudu (Bandung: NavPress, 2004).
mereka. Dalam Zakharia 14:3 dikatakan Tuhan maju berperang melawan bangsa- bangsa yang memusuhi Israel. Dia meniup sangkakala tanda memulai penyerangan atau pertempuran (Zak 9:14,15). Maksud ayat ini bahwa Tuhan turun untuk mengobarkan perang atau datang untuk bertarung melawan musuh-musuh Israel serta menaklukan mereka.
Daud maju dengan perlengkapan seadanya: umban dan lima batu (ayat 40).
Itu sudah cukup untuk bertempur. Tuhan sanggup memakai sarana alakadarnya untuk mendatangkan kemenangan. Bahkan kalau Daud hanya berdiam diri saja memohon pertolongan-Nya, Dia akan memberikan kemenangan yang sempurna.
Goliat memandang bahwa Daud bukanlah apa-apa dan ia tersinggung pada penampilan Daud. Ia mengancam Daud dengan mengatakan, “Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang" (ayat 44). Ini gertakan ini tajam dan mengancam tetapi isinya hampa dan tak berarti apa-apa!
Iman Daud bahwa keselamatan datang dari TUHAN (ayat 45-47). Israel tidak akan pernah menang dengan kekuatannya sendiri tetapi karena kemurahan Allah.
Sebab mereka bukan keturunan orang-orang raksasa. Mereka juga tidak memiliki perlengkapan senjata yang memadai. Mereka tidak memiliki kereta besi seperti bangsa-bangsa lain. Dari segi populasi, mereka kalah dengan bangsa-bangsa tetangga. Namun mereka memiliki sumber daya yang paling hebat. Karena Allah adalah Panglima bagi mereka. Sang Pencipta bertindak menegakkan kebenaran dan keadilan di muka bumi.
Daud menegaskan kepada Goliat bahwa ia maju dengan “nama TUHAN semesta alam” (ayat 45). Dalam BibleWork 10, kata TUHAN dalam ayat ini diambil dari bahasa Ibrani yakni הוהי (Yahweh). Kata yang sama digunakan dalam Kejadian 2:4 yang mengungkapkan jati diri Allah sebagai Sang Pencipta langit dan bumi. Kata Yahweh mengacu pada jati diri Allah Israel sendiri (bdk. 2 Sam 22:35; 2 Taw 32:8;
Mzm 124:8).36 G. van Niftrik mengatakan Yahweh dapat diartikan TUHAN semesta alam. TUHAN yang mahakuasa. Kemahakuasaan-Nya itu dinyatakan secara realistis kepada umat Israel.37 Sementara itu Louis Berkhof mengungkapkan jati diri Yahweh yang sakral dan suci sehingga Dia tak sudi dihujat oleh ciptaan-Nya. Siapa yang menghujat Yahweh pasti dihukum mati (Im 24:16). Sejak awal orang Israel menyebut Allah dengan nama Adonai. Tetapi mereka merasa tak layak menyebut
36 Ludwig Koehler and Walter Baumgartner, The Hebrew and Aramic Lexicon of the Old Tesatament (London: Brill, 2002) Lihat uraian kata Yahweh.
37 B. J. van Niftrik, G. C & Boland, Dogmatika Masa Kini (Jakarta: Gunung Mulia, 2014), 105–
107.
nama yang sakral itu maka mereka menggatikan dengan kata Yehova atau Yahweh.38 Sosok Yahweh ini sebagai pribadi yang mahatinggi dan senantiasa diagungkan oleh orang Israel. Berarti Daud maju menghadapi Goliat dengan mengandalkan Allah Israel yang hidup-Sang Pencipta sendiri, yang senantiasa membela dan memelihara umat pilihan-Nya. R. Soedarmo menegaskan bahwa YHWH itu adalah nama eksklusif bagi umat pilihan Allah, bangsa Israel. Nama YHWH itu sama sekali tidak digunakan untuk menyebut allah dari bangsa lain.39 Bridges memaparkan unik sekali bahwa dalam Alkitab, Allah disebut Yang Kudus atau Yang Kudus dari Israel.40 Orang Filistin mengandalkan Goliat dan kekuatan kemanusiaannya. Sebaliknya Daud mengatakan kepada mereka bahwa dia mengandalkan Allah Israel, Allah yang hidup. Orang Filistis mengandalkan manusia tetapi ia mengandalkan Sang Pencipta.
Lanjutnya, ia akan mendatangi Goliat dengan nama Tuhan semesta langit dan akn menghancurkan mereka dai mayat-mayat mereka akan diserahkan kepada burung-burung di udara. Itu terjadi supaya membuktikan bahwa Israel memiliki Allah yang hebat yang berdaulat penuh atas alam semesta (ayat 46-47). Sekali lagi Daud menegaskan kepadanya bahwa TUHAN sendiri yang akan bertindak membela umat pilihan-Nya.
Anthony Campbell mengatakan bahwa Goliat memiliki peluang untuk menang karena Daud hanya mengandalkan media sederhana, sebuah umban biasa.
Apa artinya umban itu di medan laga yang dipenuhi senjata dari pihak musuh.
Dalam gaya imajinasinya beliau memaparkan bahwa orang yang merasa kuat justru punya kelemahan yang besar. Apa yang dianggap besar–sangat mungkin mempunyai kelemahan yang sama besarnya–jika dilihat dari sudut yang tepat.41 Sebuah pengumban dan sebongkah batu bulat licin telah mengenai dahi sang pahlawan Filistin itu. Batu licin itu menerobos masuk ke dalam batok kepalanya.
Daud telah memanfaatkan kelemahan itu dengan mengumban secara tepat pada sasaran yang tepat pula. Daud lontarkan umban itu dari jarak 200 yard dengan sangat akurat. Sasaran umban yang dituju tepat mengena pada titik lemah sang raksasa yang pongah itu. Maka pertarungan tunggal itu menjadi tak berarti karena sang jagoan tumbang seketika. Campbell melanjutkan bahwa hal itu disebabkan juga oleh karena Goliat paling rentang. Sang raksasa itu bergerak agak lambat, bertindak canggung dan setengah buta.42 Sehingga, ia tidak bisa mengelak batu dari
38 Louis Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrin Allah: Doktrin Manusia Jilid 2, ed. Yudha Thianto (Jakarta: Lembaga Reform Injili Indonesia, 1994).
39 R Soedarmo, Kamus Istilah Theologia (Jakarta: Gunung Mulia, 1994), 116–117.
40 Bridges, Mengejar Kekudusan.
41 Antony F Champbell, David and Golith (NP: NN, 2010) e-book tanpa halaman.
42 Ibid.
umban yang dilontarkan Daud kepadanya. Titik lemah itulah yang membuat dirinya tak berdaya dan hancur di hadapan Daud.
Dia seketika itu pun roboh ke tanah seperti sebatang pohon kelapa tua tumbang. Bahkan Daud menghampirinya dan mengambil pedang Goliat sendiri dan memenggal kepalanya. Kejam memang! Tetapi begitulah kejahatan yang menentang kebenaran patut dihukum. Ester Gunawan mengemukakan pandangannya bahwa Allah berkuasa memakai kejahatan demi tujuan tertentu bagi kepentingan manusia atau kejahatan tak selamanya bersifat buruk tetapi sasaran finalnya berguna bagi hidup manusia.43 Kejahatan bangsa Filistin dipakai TUHAN untuk mengagungkan nama-Nya sendiri dengan cara menghancurkan barisan musuh yang menentang dan mencemooh Sang Pencipta dan umat pilihan-Nya. Orang yang raksasa tak berarti apa-apa di hadapan orang yang senantiasa bersandar kepada TUHAN Allah yang hidup. Gunawan menegaskan bahwa teodesi kebaikan Allah itu sangat agung karena memakai kejahatan demi memuliakan-Nya.44
Logis sekali bahwa hanya satu pemenang yang muncul, Daud. TUHAN sendiri telah turun tangan melawan musuh Israel. TUHAN telah memberikan kemenangan bagi Israel, umat-Nya. TUHAN berperang melawan setiap musuh Israel seperti yang telah terjadi pada masa lalu. Dia berkuasa atas Israel sampai selama-lamanya.
Kekuasaan-Nya besar dan mampu mengoyakkan bangsa-bangsa yang menentang kebesaran-Nya. Maka tepat sekali yang dikatakan oleh Hawker bahwa peperangan di Lembah Tarbantin itu adalah sebuah “perang suci” antara orang benar dengan orang jahat.45 Orang jahat tak dapat bertahan di hadapan TUHAN. Dia bertindak menghancurkan mereka yang memberontak kepada-Nya. Kemenangan Daud itu sama seperti kemenangan Yosua saat berperang melawan bangsa Amalek. Allah bergembira jika umat-Nya mengandalkan diri-Nya. Yosua turun ke medan laga dengan bersandar kepada Allah Israel. Itulah sebabnya Allah sendiri telah turun tangan menumpas musuh-musuh-Nya. Dia tidak membiarkan bangsa-bangsa lain menindas umat-Nya dengan semena-mena.
Peperangan Israel Melawan Bangsa-Bangsa Asing Melambangkan Peperangan Tuhan Melawan Kerajaan Si Jahat
Penulis mengutarakan peran Mesias dalam mengalahkan musuh supranatural dan jaminnannya bagi orang percaya.
Kebenaran Berkuasa atas Kejahatan
43 Esther Gunawan, “Meneropong Makna Penderitaan Manusia Menurut Konsep Teodesi C.S. Lewis,” Veritas 16 No. 1 J, no. 30 (2017): 28.
44 Gunawan, “Meneropong Makna Penderitaan Manusia Menurut Konsep Teodesi C.S.
Lewis.”
45 Robert Hawker, Bible Study 1 Samuel, n.d. diunduh pada tanggal 14/10/20 pkl 8.47 WIB.
Daud menunjukkan bahwa kebenaran berkuasa atas kejahatan. Dengan pertolongan TUHAN, Israel memperoleh kemenangan atas orang Filistin. TUHAN sering bertindak bahwa diri-Nyalah panglima perang bagi Israel. Dia memerangi bangsa-bangsa yang menindas keturunan Abraham, Ishak dan Yakub. Dia tidak akan membiarkan diri-Nya dicemooh oleh sistem dunia ini. Dia akan bertindak atas nama-Nya sendiri untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di muka bumi ini.
Daud dengan iman yang teguh dan yang mengandalkan TUHAN mampu mengalahkan Goliat. Siapakah Goliat itu sesungguhnya? Hawker melihat bahwa karakter Goliat orang Gat itu sebagai seorang pembangkang yang berani dan mengatai-ngatai orang Israel sesuka hatinya, berkeras kepala, sombong dan angkuh itu, musuh terkutuk Allah dan manusia. Dia dikuasai Iblis, yang pergi dan mencari siapa yang dapat disergapnya. Dia sering berdiri di hadapan manusia dan menentang Tuhan dan sang penebus.46 Dia sebagai lambang dari kuasa kejahatan yang berusaha menindas umat pilihan Allah. Dia mencemooh orang Israel sama dengan dia sedang mencemooh kedaulatan Allah Israel. Dia merendahkan martabat Israel sama dengan dia merendahkan kekuasaan Sang Pencipta yang diamini kaum keturunan Abraham, Ishak dan Yakub. TUHAN bertindak sesuai dengan kedaulatan- Nya. Dia menghancurkan orang-orang yang memberontak kepada-Nya. Sekaligus juga TUHAN menunjukkan kasih dan kemurahan-Nya bagi orang-orang yang bersandar kepada-Nya seperti Daud, yang hidup dalam iman dan memandang TUHAN berkuasa atas segala sesuatu dalam dunia.
Narasi tentang Daud dan Golith sering mendorong rasa ingin tahu mereka tentang dunia pertarungan antara orang benar melawan orang jahat. Rivaldy Abraham Michael Tulung dkk mengatakan games tentang tentang tokoh Daud vs Goliat dapat membantu anak-anak sekolah minggu untuk memahami materi yang diajarkan kepada mereka. bagaimana menghiduupkan cerita Alkitab bagi anak-anak milenial dapat ditempuh melalui media ilustrasi games.47 Sehingga, cerita ini dapat menumbuhkan iman mereka kepada Allah yang mahakuasa. Bahwa sejak dini mereka diperkenalkan tentang kuasa Allah dalam kehidupan orang percaya, termasuk mereka.
Pada saat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa (Kej 3), hubungan mereka dengan Allah terputus dan mereka “mati” secara rohani. Menurut Neil T. Anderson, Adam dan Hawa dipisahkan dari hadapan Allah sehingga mereka tidak dapat menghapirinya lagi.48 Hal serupa juga terjadi dengan seluruh umat manusia, bahwa
46 Hawker Ibid.
47 Rivaldy Abraham Michael Tulung, Arie SM Lumanta, and Virgnia Tulenan, “Rancang Bangun Aplikasi Game Untuk Anak Sekolah Minggu,” Jurnal Teknik Informatika 12, no. 1 (2017): 1–
7.
48 Anderson, The Victory of the Darkness, E-Book.
mereka terlahir dalam kekuasaan dosa sehingga terpisah dari Allah (Rm 5:12; 1 Kor 15:21-22). Konsekuensinya manusia juga mati secara fisik dan telah terpisah dari Allah (Ef 2:1). Manusia di luar Kristus dikuasai oleh Si Jahat. Manusia hidup dalam dunia yang serba kacau dan penuh kegetiran hidup–dibayangi oleh kekuasaan kejahatan dan egoisme. Iblis menguasai dunia dengan berbagai tipu-muslihat yang membawa mereka menjauh dari Allah dan lebih mengandalkan prestasi dan jasanya.
Di lain pihak kutuk menimpa bumi. Ilalang, onak dan duri tumbuh subur di muka bumi. Sistem dunia telah kacau. Iblis sebagai ilah yang menguasai dunia dan hati manusia. Sehingga, manusia sering tidak dapat mengenal Allah yang suci seperti yang diimani oleh Adam sebelum kejatuhannya. Iblis telah bekerja secara hebat dan halus dengan cara menipu manusia dengan menggunakan akal budi, filsafat dan agama untuk mencari kebenaran. Dunia yang damai dan aman kini telah menjadi dunia yang penuh depresi, penyakit, ketakutan, penindasan, ketidakadilan dan penganiayaan. Seperti yang terjadi pada abad pertengahan yakni bahwa para cendikia semakin mendewakan akal budi dan menyingkirkan Alkitab dari kehidupan manusia. Dalam penelitian terkini sebagaimana dikatakan oleh David Alinurdin peristiwa ilahi ditinjau dari perspektif dunia natural.49 Lanjut beliau dalam mengungapkan penolakan para sains modern yang diwakilkan oleh para penganut ajaran Newton, untuk tunduk terhadap azas mekanika Newton bahwa determinasi dapat berlaku pada sistem tertutup.50 Tampak jelas motif mereka yang menganut sistem tertutup akan menolak campur tangan Allah dalam dunia empiris.
Studi tersebut bertujuan menampik pengaruh sains modern dibalik asumsi-asumsi filosofis yang menyerang iman Kristen seperti menolak campur tangan Allah dalam kehidupan realitas dunia. Tentu saja semua ini adalah prakarsa si Jahat. Padahal bagian ini menjadi salah dasar keyakinan iman Kristen tentang keterlibatan Allah dalam sejarah dunia. Hal serupa dikemukakan oleh W.S. Heath bahwa para penganut sains modern telah menghidupkan kembali filsafat Yunani kuno menjadi dasar dalam membangun dunia yang maju.51 Dengan kata lain orang modern lebih tertarik pada sains (yang menganut close system) dan menolak otoritas firman Allah atas hidup manusia dan sejarah dunia serta hidup secara sekuler.
49 Lihat David Alinurdin, “Allah versus Setan Laplace: Sebuah Usulan Konsep Tindakan Ilahi Khusus Yang Trinitarian, Kovenantal Dan Saintifik,” Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan 19, no. 1 (2020): 25–49.
50 Alinurdin, “Allah versus Setan Laplace: Sebuah Usulan Konsep Tindakan Ilahi Khusus Yang Trinitarian, Kovenantal Dan Saintifik.”
51 Bandingkan Warren S. Heath, Iman Kristen Dan Ilmu Pengetahuan, ed. Sostenis Nggebu (Bandung: Biji Sesawi, 2012), 22–24.
Orang sering mempertanyakan mengapa dunia ini begitu kacau. Sebenarnya Rasul Paulus sudah menjawab dengan tegas: “Iblis adalah ilah dunia ini” (2 Kor 4:4).
Bapa segala dusta ini senantiasa menindas manusia, merencanakan kejahatan dan membelokkan manusia dari jalan kebenaran. Rasul Yohanes mengatakan dalam Injil Yohanes 10:10 untuk membedakan antara rencana Allah dan dusta si Iblis, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
Secara logis dapat dipahami bahwa jika orang mencuri, membunuh, menghancurkan, memecahbelah satu sama lain, iri hati, dengki, dusta, munafik, menjadi pembangkang–semua itu merupakan pekerjaan Iblis, bukan dari Allah. Lo mengatakan bahwa sifat dasar dari pemberontakan Iblis adalah berusaha menggagalkan pemerintahan Allah atas dunia dengan cara menipu dan menguasai manusia.52 Boleh dikatakan Iblis bekerja dengan hebat untuk mengacaukan manusia agar memberontak kepada Tuhan dan lebih mementingkan kepentingan keduniawian semata-mata.
Kemenangan yang Dijanjikan
Selanjutnya dalam Perjanjian Lama, para nabi senantiasa berbicara tentang Mesias yang mulia. Tetapi sebelum Dia dimuliakan, Dia akan menderita dan mati, untuk memikul dosa manusia. Bagaimana Yesus menggenapi nubuat itu? Itulah sebabnya hamba Tuhan yang menderita dalam Yesaya 53 dan raja yang mulia di atas singgasana Daud terdapat dalam diri Kristus, Mesias yang sama juga. Dalam hal ini Paulus menegaskannya bahwa kematian Yesus Kristus pada salib membuat-Nya meraih segala kuasa (Flp 2:7-11). Dari bagian firman Allah tersebut, jelas sekali bahwa Mesias yang dijanjikan Allah itu untuk mengalahkan Iblis. D.A. LaSor dkk.
mengatakan Yesus adalah Hamba Allah yang memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (Mrk 10:44).53 Schultz mengatakan sama seperti janji Allah bahwa seorang dari keturunan Daud akan menjadi Juruselamat (Mikha 5:1).
Melalui para nabi pada zaman raja-raja Israel memberitahu orang-orang Israel bahwa seorang yang dilahirkan nanti akan mengalahkan Iblis.54 Penegasan LaSor dan Schultz sangat jelas tentang nubuat Mikha mengenai kedatangan Mesias. Dalam penelitiannya, Ayub Sugihasto berusaha menjabarkan nubuat Mikha tentang Mesias
52 Lo, “Kenali Diri, Kenali Musuh, Gunakan Strategi Yang Tepat : Pengajaran Tentang Peperangan Rohani Menurut Surat Efesus.”
53 Bandingkan W.S LaSor, D.A. Hubbard, and F.W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama 2 (Jakarta: Gunung Mulia, 2000), 303.
54 Schultz, Sampaikan Cerita Keselamatan.
tetapi beliau belum memaparkan apa tujuan dari nubuatan itu secara spesifik.55 Jikalau umat Israel mendengarkan para nabi, mereka akan mengetahui banyak mengenai orang itu. Sebab Allah tidak melupakan janji-Nya kepada Adam, Abraham dan Daud. Dia akan meremukkan Iblis (Kej 3:15); berkat Abraham datang dari orang ini (Kej 12:3); Dia mewarisi kedaulatan Daud (Yesaya 9:7; Mat 1:1); Dia dilahirkan di Betlehem (Mik 5:1-2; Mat 2:1); menderita demi orang lain (Yes 53:3-4; Mat 8:16- 17); disalibkan (Yes 53:12; Mat 27:38); tangan dan kaki-Nya dipaku (Maz 22:16; Yoh 20:25-27); dikuburklan di antara orang kaya (Mat 27:57-60); bangkit dari kubur- Nya (Mzm 16:10; Luk 24:1-8 dan 24:35-36). Elmer Martens melihat bahwa hubungan antara suara para nabi dalam Perjanjian Baru memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan Yesus dan pemberitaan-Nya. Bahwa berita dari kedua perjanjian ini memiliki kesinambungan sesuai dengan rancangan Allah sendiri.56 Orang Israel percaya bahwa Allah akan mengirim Sang Juruselamat itu. Allah mengetahui bahwa mereka tetap percaya, oleh karena itu Allah memberkati mereka karena mereka hidup sesuai dengan rencana-Nya. Mereka menunggu dengan penuh pengharapan akan kelahiran sosok yang dijanjikan Allah itu. Charles Benson mengatakan bahwa hari pembalasan dimuliakan dengan kedatangan si Pembalas, Kristus, yang datang untuk membela umat-Nya terhadap bangsa-bangsa yang menindas umat-Nya.57
Sebagaimana Daud mengalahkan Goliat yang dilambangkan dengan kekuasaan Iblis yang menindas orang-orang benar. Demikian juga Mesias berkuasa menghancurkan Iblis. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah menghancurkan kuasa si jahat di atas kayu salib. Iblis berkuasa tetapi ia tidak mahakuasa. Iblis tidak dapat melakukan apa yang dikerjakan Allah (Yoh 10:21). Di sini terdapat perbedaan antara Allah dan Iblis. Allah yang maha benar, suci dan tanpa dosa. Sedangkan Iblis penuh dengan dosa, tipu-muslihat sehingga tepat dijuluki bapa segala dusta karena pekerjaanya hanya mendustai manusia supaya memberontak kepada Sang Pencipta. Secara teologis, jelas bahwa Allah yang menciptakan Iblis dan juga berkuasa menghancurkannya karena kepongahannya dan pemberontakkannya.
Kemenangan bersama Allah dapat Dialami oleh Orang Percaya
Gustaf Aulen dalam bukunya Christus Victor menegaskan bahwa kematian Yesus pada salib sebagai pertempuran terakhir dan yang menentukan dan untuk
55 Ayub Sugiharto, “Pengharapan Mesias Dalam Masa Intertestament” 1, no. 1 (2020): 77–
78.
56 Bandingkan Elmer Martens, God’s Design: A Focus on Old Testament Theology (Michigan:
Baker Books House, 1981), 253.
57 Charles Benson, Pengantar Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 1999) 46.
mengalahkan kuasa kegelapan.58 Dan bahwa kemenangan-Nya itu secara khusus adalah kemenangan atas Iblis.59 Dia mati untuk menghancurkan maut dan memberi kemenangan bagi manusia untuk memperoleh hidup. Dalam hal ini Kristus Pemenang merupakan konsep yang memusatkan perhatian pada peperangan kosmik (cosmic battle) antara Allah dan Setan. Yakni bahwa Yesus mati pada peperangan itu untuk melucuti kuasa dosa dan maut. Ferry Y. Mamahit membahas panjang lebar mengenai konsep Christus Victor dalam artikelnya. Beliau memahami teori penebusan Aulen itu dalam kaitan dengan konsep dualistik: adanya peperangan atau ketegangan antara dua kekuatan, antara Allah dan setan, yang mengambil tempat secara kosmik.60 Fokus utama kematian Kristus menjadi jaminan kemenangan atas segala perbudakan, dosa, kematian dan kuasa kegelapan.61 Hal serupa dikemukakan oleh George O. Everson, Kristus mati untuk mengalahkan dunia kejahatan.62 Kristus dalam kedaulatan-Nya telah menghancurkan kuasa Iblis dan antek-anteknya. Sehingga, manusia diberi kemenangan dan kebebasan dari kekuasaan Si Jahat untuk hidup dalam kebenaran Allah sendiri. Orang yang memegang ajaran Kristus akan mampu menangkal ajaran sesat yang muncul di dalam komunitas Tubuh Kristus.63
Dari sudut pandang yang lain, menurut Leon Morris, tema kemenangan Kristus bergetar dalam surat-surat Paulus. Kristus berkuasa atas penguasa dunia kegelapan dan kuasa-kuasa roha jahat di angkasa (Ef 6:12); Kristus menjadi Kepala atas semua penguasa (Kol 2:10); makluk-makluk tersebut tidak dapat berkuasa untuk memisahkan orang percaya dari kasih Allah di dalam Kristus (Rm 8:38-30).64 Lanjutnya bahwa sebagai sang pemenang Kristus membawa keselamatan bagi semua orang. Melalui kematian-Nya, Yesus Kristus berkenan menanggung dosa banyak orang (Ibr 8:28). Dia menanggung apa yang seharusnya ditanggung oleh orang-orang berdosa. Dengan kematian Yesus Kristus, Allah tidak lagi mengingat lagi dosa-dosa orang yang percaya kepada-Nya.65 “Dia yang tidak berdosa dibuat- Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan Allah” (2 Kor:5:21).
58 Bandingkan Gustaf Aulen, Christus Victor, ed. A. G Hebert (The Macmillan Company, 1957), 30.
59 Aulen, Christus Victor.
60 10 Ferry Y Mamahit, “Christus Victor Dan Kemenangan Orang Kristen Terhadap Kuasa Kegelapan,” veritas 5/1 (April 2004) 1, no. April (2004): 1–21 Lihat.
61 Aulen, Christus Victor.
62 George O. Evenson, “A Critique of Aulen’s Christus Victor,” Concordia Theological Monthly 2 (1957): 13.
63 Sostenis Nggebu, “Pemuridan Model Epafras Sebagai Upaya Pendewasaan Iman Kristen The Model of Epaphras Discipleship as an Effort of Maturing of Church Members Faith,” Pengarah:
Jurnal Teologi Kristen 3, no. 1 (2021): 40.
64 Leon Moris, Teologi Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 2013), 86.
65 Moris, Teologi Perjanjian Baru.
Morris menyimpulkan bahwa kematian Kristus bukan sebuah kekalahan; kematian- Nya merupakan sarana yang dipakai Allah untuk mengalahkan segala bentuk kejahatan.66
Paulus menegaskan bahwa Tuhan Yesus datang untuk menghancurkan kerajaan Iblis dan kekuatannya melalui kematian dan kebangkitan-Nya (1 Kor 15:3- 4) dan Ia mengalahkan kuasa kejahatan dan maut (1 Kor 15:54-55). Salib Kristus merupakan jawabannya bahwa Yesus yang mati tersalib menanggung dosa dunia;
melalui salib jalan keselamatan tersedia di dalam kebangkitan-Nya juga, yang membawa kemenangan dan memerdekakan manusia dari belenggu dunia ini.
Namun patut diingat bahwa sekalipun kuasa kejahatan sudah dikalahkan melalui kematian Yesus pada salib namun ia masih bekerja secara bebas di tengah dunia ini. Lo mengemukakan bahwa musuh yang dihadapi oleh orang Kristen dalam peperangan rohani merupakan kekuatan supranatural yang sebenarnya sudah dikalahkan oleh Tuhan Yesus Kristus melalui kematian-Nya pada salib, namun si Jahat masih memiliki kekuatan dan tipu muslihat, kelicikan dan keinginan jahat untuk mencelakakan umat manusia.67 Oleh karena itu, kekuatan orang percaya terletak pada janji Allah sendiri. TUHAN berjanji bahwa Dia membekali orang percaya dengan senjata-senjata rohani untuk berperang melawan kuasa kegelapan tersebut, sebagaimana yang telah diuraikan dalam Efesus 6:10-20. Sutikno Wijaya mengatakan peperangan rohani sebagai suatu realitas yang nyata dalam kehidupan menusia. Iblis bekerja secara tipu muslihat untuk menjatuhkan orang percaya menjauhkan diri mereka dari Tuhan.68 Sonya Laura Kendra mengatakan cara kerja Iblis bersikeras untuk menenggelamkan orang percaya dalam kekuasaannya.69 Tidak aca cara jitu melawan penguasa dunia kegelapan ini kecuali memanggunakan perlengkapan senjata rohani yang telah disediakan bagi orang percaya. Maka perlengkapan senjata rohani mutlak digunakan oleh orang Kristen dalam menghadapi serangan si Jahat.
Siap Sedia Meraih Kemenangan
Teologi Alkitab memaparkan bahwa melalui keturunan Abraham (Gal 4:4;
Mat 1:1; Luk 3:23-38), Yesus (Yeshua “Yahweh adalah keselamatan”) dilahirkan, mati pada kayu salib dan dibangkitkan dari antara orang mati menjadi Juruselamat
66 Ibid.
67 Lo, “Kenali Diri, Kenali Musuh, Gunakan Strategi Yang Tepat : Pengajaran Tentang Peperangan Rohani Menurut Surat Efesus.”
68 Sutikno Wijaya, “Kajian Biblika Realita Peperangan Rohani Menurut Efesus 6:12,”
TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 1, no. 1 (2021): 77.
69 Sonya Luana Kendra, “Peperangan Melawan Kuasa Kegelapan Dan Relevansinya Bagi Pelayanan Pelepasan Gereja Dan Jemaat,” HAGGADAH: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 2, no. 1 (2021): 11.
dunia (Kis 4:12; 1 Kor 15). Yesus telah menang dan maut telah dikalahkan-Nya. Iblis tidak lagi berkuasa atas hidup orang percaya karena mereka telah menjadi milik Allah. Kejahatan telah dikalahkan-Nya. Allah yang hidup senantiasa mengasihi orang percaya di dalam Anak-Nya yang telah mati dan bangkit dari antara orang mati serta menyediakan kekekalan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Dunia kejahatan selalu bermusuhan dengan orang percaya. Sudah dapat diduga bahwa kuasa kejahatan itu berusaha memisahkan orang percaya dari kasih Allah. Namun TUHAN memerintahkan agar setiap orang percaya berjuang dalam iman dan melawan dunia serta godaan Iblis. Si pendusta seperti singa mengaum, yang mengumpat dan mencari mangsa. Boleh jadi ada di antara orang Kristen yang merasa tertawan oleh Iblis dan kuasa kejahatan sehingga merasa tak berdaya hidup dalam keduniawian. Apakah mereka telah dibuatnya menjadi tak berdaya untuk menyerah kepadanya?
Sejak dunia diciptakan–Iblis senantiasa menggoda manusia dan berusaha membinasakan mereka–tetapi dia tidak pernah menang atas kebenaran. Rasul Paulus mengatakan, “Hai maut di manakah sengatmu!” (1 Kor 15:58). Allah telah merencanakan bahwa Yesus harus mati pada salib demi menebus manusia dari kekuasaan dosa. Ajaibnya, melalui kematian-Nya, Yesus menanggung hukuman manusia agar mereka dibebaskan dari dosa dan kematian kekal. Manusia diberi kemanangan mutlak atas dosa. Andreas Budi Setyobekti menegasakan agar orang- orang percaya perlu menerapkan perlengkapan sejanta rohani yang diberikan oleh Tuhan Yesus untuk membentengi diri dari serangan Iblis.70 Sejenis doa peperangan rohani untuk melawan kuasa kegelapan sebagaimana diteknakan oleh Setyobekti.
Daniel Sutoyo mengatakan dalam kalangan Pentakosta bagian ini menjadi salah satu perhatian dalam rangka mengusir kuasa-kuasa kegelapan.71 Itulah sebabnya kuasa doa menjadi tekanan penting di kalangan gereja-gereja beraliran Pentakosta. Jessica Novia Layantara memandang bahwa kebangkitan Kristus sebagai tanda kemenangan dan jaminan bagi masa depan bagi orang percaya.72 Tersedia jaminan yang pasti bagi orang percaya bahwa dalam kemenangan Kristus pada salib juga menjadi milik umat-Nya. Tidak ada cara lain kecuali orang Kristen menyerahkan anggota-anggota tubuhnya kepada Allah untuk dipakai sebagai senjata kebenaran (Rm 6:13); menggunakan senjata-senjata Allah untuk menyerang dan membela diri
70 Bandingkan kajian Andreas Budi Setyobekti, “Pemahaman Akktivis GBI Kapten Tandean Tnetang Perlengkapan Rohani Orang Percaya Berdasarkan Teks Efesus 6:10-18,” Diegenis: Jurnal Teologi 5, no. 5 (2020): 54–55.
71 Daniel Sutoyo, “Dunamis : Jurnal Teologi Dan New Apostolic Reformation Dan
Pengaruhnya Terhadap Eklesiologi,” Duanis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 4, no. 2 (2020):
271.
72 Jessica Novia Layantara, “Kejahatan Tanpa Ampun Dan Inkarnasi Kristus,” Stulos 2, no.
Juli (2019): 260.
dari serangan Iblis (2 Kor 6:7); gunakan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup meruntuhkan benteng-benteng (2 Kor 10:4); dan senantiasa kenakan perlengkapan senjata Allah supaya setiap orang percaya dapat melawan tipu muslihat Iblis (Ef 6:11, 13)–pedang Roh yaitu firman Allah.
Implikasi
Setiap orang Kristen diharapkan memiliki pendirian yang teguh di hadapan Tuhan bahwa Tuhan berdaulat penuh atas hidupnya. Menjauhkan diri dari setiap perasaan minder seperti yang terjadi dalam diri orang Isreal ketika menghadapi musuh (Goliat) yang ada di depan mereka. Sebaliknya jadilah seperti Daud yang mengandalkan Tuhan dalam melawan tantangan di depan matanya maka orang Kristen akan menang atas tipuan Si Jahat. Kebenaran firman Allah tetap faktual bahwa tidak ada yang mustahil bagi orang-orang yang bersandar kepada Tuhan sekalipun mereka sebagai kaum minoritas. Allah itu hidup dan karena itu Dia akan bertindak membela umat-pilihan-Nya.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa Iblis memiliki pola-pola kerja yang nyaris bisa dianggap seperti kejadian biasa dalam keseharian yang dihadap oleh manusia (baca: umat Allah) yakni seperti: pola pikir keduniawian; pertentangan di tengah masyarakat; sikap menang sendiri;
menganggap diri lebih baik daripada orang lain; merendahkan martabat orang lain atau suku lain atau bangsa lain; mementingkan diri atau kelompoknya; memecah belah persekutuan atau komunitas; membuli karyawan baru; menaruh sentiman pribadi baik kepada bawahan atau rekan kerja atau atasan dan lain-lain. Untuk itu setiap orang Kristen perlu memiliki kepekaan rohani yang tajam terhadap pola-pola kerja Si Jahat agar dapat menangkal siasatnya dengan mengembangkan kebergantungan kepada Allah dan firman-Nya. Tuhan telah memberikan perlengkapan rohani bagi orang percaya melawan serangan dan tipuan dari Si Jahat yakni firman Allah. Maka dengan demikian setiap orang percaya memiliki keunggulan untuk menang atas kejahatan dalam peperangan adikodrati yang dihadapinya pada setiap saat: bahwa secara praktis jika orang Kristen menganggap orang lain lebih utama dan menghadirkan diri sebagai pendamai bagi sesama maka itulah tanda kemenangan secara rohani ber-ada dalam genggamannya.
Rujukan
Ahmad, Muhamad Aswar. “Penelitian Kausal Komparatif.” In Metode Penelitian, edited by Elyas Ismael, 93–122. Makassar: Gunadarma Ilmu, 2018.
Alinurdin, David. “Allah versus Setan Laplace: Sebuah Usulan Konsep Tindakan Ilahi Khusus Yang Trinitarian, Kovenantal Dan Saintifik.” Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan 19, no. 1 (2020): 25–49.
Alter, Robert. The David Story: An Translation with Commentary of 1 and 2 Samuel.
London: W.W Norton & Company, Inc, 1999.
———. The Wisdom Book: Job, Proverbs and Ecclesiastes. New York: W.W. Norton &
Company, 2010.
Anderson, Niel T. The Victory of the Darkness, E-Book. Minneapolis: Bethany House, 2020.
Aulen, Gustaf. Christus Victor. Edited by A. G Hebert. The Macmillan Company, 1957.
Benson, Charles. Pengantar Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 1999.
Berkhof, Louis. Teologi Sistematika: Doktrin Allah: Doktrin Manusia Jilid 2. Edited by Yudha Thianto. Jakarta: Lembaga Reform Injili Indonesia, 1994.
Bria, Emanuel. Jika Ada Tuhan Mengapa Ada Kejahatan. Yogyakarta: Kanisius, 2008.
Bridges, Jerry. Mengejar Kekudusan. Edited by Sari Badudu. Bandung: NavPress, 2004.
Cartledge, Tony W. 1&2 Samuel. Interlinear Bible. Macon, Georgia 31210: Smyth &
Helwys Publishing, Inc, 2008.
Champbell, Antony F. David and Golith. NP: NN, 2010.
———. From Philistine To Throne: Fellowship to Bible Study 1 Samuel 16:14-18:16.
NP: NN, n.d.
Devries, Kelly, Iain Dickie, and Martin J. Dougherty. Perang Salib 1097-1444.
Jakarta: Kompas Gramedia, 2014.
Evenson, George O. “A Critique of Aulen’s Christus Victor.” Concordia Theological Monthly 2 (1957): 13.
Galdingay, John. 1 and 2 Samuel for Everyone. Louisville, Kentucky 40202:
Westminster John Knox Press, 2011.
Gladwell, Malcolm. David & Goliath (e-Book). London: Confer Books, 2015.
Gunawan, Esther. “Meneropong Makna Penderitaan Manusia Menurut Konsep Teodesi C.S. Lewis.” Veritas 16 No. 1 J, no. 30 (2017): 17–32.
Hawker, Robert. Bible Study 1 Samuel, n.d.
Heath, Warren S. Iman Kristen Dan Ilmu Pengetahuan. Edited by Sostenis Nggebu.
Bandung: Biji Sesawi, 2012.
Hidayah, Nur. “Tinjauan Kriminologis Kejahatan Yang Dilakukan Secara Bersama- Sama Di Muka Umum.” Universitas Hasanudin Makassar, 2017.
Kendra, Sonya Luana. “Peperangan Melawan Kuasa Kegelapan Dan Relevansinya
Bagi Pelayanan Pelepasan Gereja Dan Jemaat.” HAGGADAH: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 2, no. 1 (2021): 1–12.
Koehler, Ludwig, and Walter Baumgartner. The Hebrew and Aramic Lexicon of the Old Tesatament. London: Brill, 2002.
Koewoso, Chandra. “Perang Dari Perspektif Etika Kristen” 2, no. Juli (2019): 133–
155.
L.Thomas, Holcrob. Kitab-Kitab Sejarah. 1st ed. Malang: Gandum Mas, 1992.
LaSor, W.S, D.A. Hubbard, and F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 2. Jakarta:
Gunung Mulia, 2000.
LaSor, W.S, D.A Hubbard, and F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1. Jakarta:
Gunung Mulia, 2012.
Layantara, Jessica Novia. “Kejahatan Tanpa Ampun Dan Inkarnasi Kristus.” Stulos 2, no. Juli (2019): 241–264.
Lo, Timotius. “Kenali Diri, Kenali Musuh, Gunakan Strategi Yang Tepat : Pengajaran Tentang Peperangan Rohani Menurut Surat Efesus.” Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan 13, no. 2 (2012): 159–172.
Mamahit, Ferry Y. “Christus Victor Dan Kemenangan Orang Kristen Terhadap Kuasa Kegelapan.” veritas 5/1 (April 2004) 1, no. April (2004): 1–21.
Martens, Elmer. God’s Design: A Focus on Old Testament Theology. Michigan: Baker Books House, 1981.
Moris, Leon. Teologi Perjanjian Baru. Malang: Gandum Mas, 2013.
Nggebu, Sostenis. “Pemuridan Model Epafras Sebagai Upaya Pendewasaan Iman Kristen The Model of Epaphras Discipleship as an Effort of Maturing of Church Members Faith.” Pengarah: Jurnal Teologi Kristen 3, no. 1 (2021): 26–42.
van Niftrik, G. C & Boland, B. J. Dogmatika Masa Kini. Jakarta: Gunung Mulia, 2014.
Schultz, Dell. Sampaikan Cerita Keselamatan. Edited by H.l Cermat. Bandung: LLB, 1999.
Setyobekti, Andreas Budi. “Pemahaman Akktivis GBI Kapten Tandean Tnetang Perlengkapan Rohani Orang Percaya Berdasarkan Teks Efesus 6:10-18.”
Diegenis: Jurnal Teologi 5, no. 5 (2020): 54–63.
Soedarmo, R. Kamus Istilah Theologia. Jakarta: Gunung Mulia, 1994.
Sugiharto, Ayub. “Pengharapan Mesias Dalam Masa Intertestament” 1, no. 1 (2020): 66–82.
Sutoyo, Daniel. “Dunamis : Jurnal Teologi Dan New Apostolic Reformation Dan Pengaruhnya Terhadap Eklesiologi.” Duanis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 4, no. 2 (2020): 264–274.
Tulung, Rivaldy Abraham Michael, Arie SM Lumanta, and Virgnia Tulenan.
“Rancang Bangun Aplikasi Game Untuk Anak Sekolah Minggu.” Jurnal Teknik
Informatika 12, no. 1 (2017): 1–7.
Tutrianto, R. “Munculnya Wilayah Kejahatan Di Perkotaan (Studi Pada Kota Pekanbaru).” Indonesian Journal of Criminology 14, no. 1 (2018): 267428.
Walvoord, John. “The Bible Knowledge Commentary Old Testament.” Wheaton, Il:
Victor Books, 1998.
Wijaya, Sutikno. “Kajian Biblika Realita Peperangan Rohani Menurut Efesus 6:12.”
TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 1, no. 1 (2021): 64–78.
Youngblood, Ronald F (editor). New Illustrated Bible Dictionary. Nasville, TN:
Thomas Nelson Publishers, 1995.
Zaluchu, Sonny Eli. “Metode Penelitian Di Dalam Manuskrip Jurnal Ilmiah
Keagamaan.” Jurnal Teologi Berita Hidup 3, no. 2 (March 25, 2021): 249–266.
https://e-journal.sttberitahidup.ac.id/index.php/jbh/article/view/93.
———. “Strategi Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif Di Dalam Penelitian Agama.”
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 4, no. 1 (2020):
28–38. Accessed February 21, 2020.
https://journal.sttsimpson.ac.id/index.php/EJTI/article/view/167.