• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "UNIVERSITAS SUMATERA UTARA"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan peternak ayam di Kabupaten Aceh Tamiang.

Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga ayam, modal kerja, lama usaha, waktu kerja. Data yang digunakan adalah data primer dengan 60 responden. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan kuesioner yang berhubungan dengan penelitian ini.

Dianalisis dengan model regresi linear berganda menggunakan program Eviews 7.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa harga ayam pedaging berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan peternak ayam pedaging di Kabupaten Aceh Tamiang, sedangkan untuk harga ayam kampung berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pendapatan peternak ayam kampung di Kabupaten Aceh Tamiang. Modal kerja peternak ayam pedaging berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan peternak ayam pedaging di Kabupaten Aceh Tamiang.

Demikian juga untuk modal kerja peternak ayam kampung berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan peternak ayam kampung di Kabupaten Aceh Tamiang. Lama usaha peternak ayam pedaging berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pendapatan peternak ayam pedaging di Kabupaten Aceh Tamiang. Sedangkan untuk lama usaha peternak ayam kampung berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan peternak ayam kampung di Kabupaten Aceh Tamiang. Waktu kerja peternak ayam pedaging berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pendapatan peternak ayam pedaging di Kabupaten Aceh Tamiang. Sedangkan untuk waktu kerja peternak ayam kampung berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan peternak ayam kampung di Kabupaten Aceh Tamiang.

Kata kunci:. Harga Ayam, Modal Kerja, Lama Usaha, Waktu Kerja, Pendapatan ...Peternak

(8)

This study aims to analyze and determine the factors that affecting chicken farmer income in Aceh Tamiang District. The independent variables used in this study are chicken prices, working capital, length of business, work time.

The data used are primary data with 60 respondents. Data collection techniques were carried out by means of interviews, observations, and questionnaires related to this study. Analyzed by multiple linear regression models using the Eviews 7 program. The results of this study indicate that broiler farmer chicken prices has a positive and significant effect on broiler farmer income in Aceh Tamiang District, while native chicken price has a positive and not significant effect on native farmer income in Aceh Tamiang District. Broiler farmer working capital has a positive and significant effect on broiler farmer income in Aceh Tamiang District. As for the working capital of native farmer, it has a positive and insignificant effect on native farmer income in Aceh Tamiang District. Broiler farmers length of business has a positive and not significant effect on broiler farmer income in Aceh Tamiang District. While for length of business of native farmer has a positive and significant effect on native farmer income in Aceh Tamiang District. Broiler farmer work time has a positive and not significant effect on broiler farmer income in Aceh Tamiang District. Whereas work time of native farmer has a positive and significant effect on native farmer income in Aceh Tamiang District.

Keywords:..Chicken Prices, Working Capital, Length of Business, Work Time, Farmer Income.

(9)

Penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.

Selama melakukan penelitian dan penulisan tesis ini, penulis banyak memperoleh bantuan moril dan materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Irsyad, SE, M.Soc.Sc, PhD selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan Anggota Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis ini..

4. Bapak Dr. Rahmanta, M.Si selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis ini.

5. Bapak Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam Hasyim, SE selaku Komisi Pembanding atas saran dan kritik yang diberikan.

6. Bapak Dr. Rujiman, MA selaku Komisi Pembanding atas saran dan kritik yang diberikan.

7. Bapak Dr. Ahmad Albar selaku Komisi Pembanding atas saran dan kritik yang diberikan.

8. Orang Tua yang saya cintai dan saya sayangi yang telah memberikan kasih sayang dan segala dukungan baik moril maupun materiil.

9. Bapak/Ibu Peternak Ayam Kabupaten Aceh Tamiang yang telah memberi waktu mengisi kuesioner dan bersedia untuk diwawancarai.

10. Bapak/Ibu dan Staf Pegawai Magister Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis hingga tesis ini dapat selesai.

(10)

Penulis menyadari Tesis ini masih banyak memiliki kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Namun harapan penulis semoga Tesis ini bermanfaat kepada seluruh pembaca. Semoga kiranya Tuhan Yang Maha Esa memberkati kita semua.

Amin.

Medan, 25 Mei 2019 Penulis,

Agus Ismawan

(11)

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR SINGKATAN ... x

DAFTAR LAMPIRAN... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 8

1.3. Tujuan Penelitian ... 9

1.4. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Teoritis ... 11

2.1.1. Pengertian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ... 11

2.1.1.1. Usaha Mikro... 12

2.1.1.2. Usaha Kecil... 13

2.1.1.3. Usaha Menengah... 15

2.1.2. Usaha Peternakan Ayam ... 16

2.1.3. Jenis-Jenis Ayam ... 18

2.1.3.1. Ayam Kampung (Chicken)... 18

2.1.3.2. Ayam Pedaging (Broiler)... 19

2.1.4. Pasar ... 20

2.1.5. Pedagang ... 24

2.1.6. Konsep Pendapatan ... 25

2.2. Faktor–faktor Eksternal dan Internal yang Mempengaruhi Pendapatan Peternak... .31

2.2.1. Harga... 31

2.2.2. Modal Kerja... ..32

2.2.3. Lama Usaha... .32

2.2.4. Waktu Kerja... 33

2.3. Penelitian Terdahulu ... 34

2.4. Kerangka Konseptual ... 38

2.5. Hipotesis ... 39

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Ruang Lingkup Penelitian ... 40

3.2. Lokasi Penelitian ... 40

3.3. Jenis dan Sumber Data Penelitian ... 40

3.4. Metode Pengumpulan Data Penelitian ... 41

3.5. Populasi dan Sampel Penelitian ... 41

3.6. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 43

(12)

3.7.1. Model Analisis ... 45

3.7.2. Uji Asumsi Klasik ... 46

3.7.3. Uji Kesesuaian (Test of Goodness Fit) ... 48

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskriptif Kabupaten Aceh Tamiang ... 51

4.1.1. Letak Geografis Kabupaten Aceh Tamiang ... 51

4.1.2. Keadaan Penduduk Kabupaten Aceh Tamiang ... 51

4.1.3. Kondisi Perekonomian Kabupaten Aceh Tamiang ... 53

4.2. Karakteristik Responden ... 56

4.2.1. Distribusi Responden Menurut Jenuis Kelamin ... 56

4.2.2. Distribusi Responden Menurut Kelompok Umur ... 58

4.2.3. Distribusi Responden Menurut Pendidikan ... 60

4.2.4. Distribusi Responden Menurut Pendapatan ... 62

4.2.5. Distribusi Responden Menurut Harga Ayam ... 62

4.2.6. Distribusi Responden Menurut Modal Kerja ... 64

4.2.7. Distribusi Responden Menurut Lama Usaha ... 65

4.2.8. Distribusi Responden Menurut Waktu Kerja ... 66

4.3. Hasil Penelitian ... 66

4.3.1. Pengujian Asumsi Klasik ... 66

4.3.2. Hasil Regeresi Linear Berganda ... 70

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 88

5.2. Keterbatasan Penelitian ... 89

5.3. Saran ... 89

DAFTAR PUSTAKA ... 91

LAMPIRAN ... 96

(13)

Nomor Judul Halaman 1.1. Penduduk dan Populasi Ayam di Kabupaten Aceh Tamiang

Tahun 2013–2017... 4

1.2. Produksi Daging Ayam di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013–2017... 5

2.1. Penelitian Terdahulu... 35

3.1. Jumlah Populasi Ayam di Kabupaten Aceh Tamiang Menurut Kecamatan 2017... 40

3.2. Jumlah Sampel Penelitian Ayam Pedaging dan Kampung per Kecamatan di Kabupaten Aceh tamiang 2019... 43

4.1. Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin di Kabupaten Aceh Tamiang 2017 ... ... 52

4.2. PDRB Menurut Lapangan Usaha atas Dasar Harga Konstan 2010 di Kabupaten Aceh Tamiang2017... 54

4.3. PDRB Menurut Lapangan Usaha atas Dasar Harga Berlaku di Kabupaten Aceh Tamiang 2017... 55

4.4. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin dan Tingkat Pendidikan... 57

4.5. Distribusi Responden Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin... 59

4.6. Distribusi Responden Menurut Pendidikan dan Kelompok Umur ... 61

4.7. Distribusi Responden Menurut Pendapatan... 62

4.8. Distribusi Responden Menurut Harga Ayam Pedaging... 63

4.9. Distribusi Responden Menurut Harga Ayam Kampung... .63

4.10. Distribusi Responden Menurut Modal Kerja... ..64

4.11. Distribusi Responden Menurut Lama Usaha... 65

4.12. Distribusi Responden Menurut Waktu Kerja... 66

(14)

4.15. Uji Multikolinearitas... 69 4.16. Uji Autokorelasi... 69 4.17. Hasil Regresi Harga Ayam Pedaging , Modal Kerja, Lama

Usaha, Waktu Kerja terhadap Pendapatan Peternak Ayam Pedaging... 71 4.18. Hasil Regresi Harga Ayam Kampung, Modal Kerja, Lama

Usaha, Waktu Kerja terhadap Pendapatan Peternak Ayam

Kampung... 79

(15)

Nomor Judul Halaman

1.1. Kerangka Konseptual... 39

4.1. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin dan Tingkat Pendidikan ... 57

4.2. Distribusi Responden Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin... 60

4.3. Distribusi Responden Menurut Pendidikan dan Kelompok Umur.... 61

4.4. Distribusi Responden Menurut Pendapatan... 62

4.5. Distribusi Responden Menurut Harga Ayam Pedaging... 63

4.6. Distribusi Responden Menurut Harga Ayam Kampung ... 63

4.7. Distribusi Responden Menurut Modal Kerja... 64

4.8. Distribusi Responden Menurut Lama Usaha... 65

4.9. Distribusi Responden Menurut Waktu Kerja... 66

(16)

ANOVA Analysis of Variance

ASEAN Association of Southeast Asian Nations

BPS Badan Pusat Statistik

BAPPENAS Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

MEA Masyarakat Ekonomi ASEAN

OLS Ordinary Least Square

PDB Produk Domestik Bruto

PDRB Produk Domestik Regional Bruto

RPJMN Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

UMKM Usaha Mikro Kecil dan Menengah

UU Undang-Undang

VIF Variace Inflation Factor

(17)

Nomor Judul Halaman

1. Kuesioner ... 96

2. Deskriptif Kabupaten Aceh Tamiang ... 99

3. Data View ... 102

4. Uji Asumsi Klasik dan Hasil Regresi ... 104

5. Dokumentasi ... 106

(18)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkembangan perekonomian suatu negara maupun daerah tidak terlepas dari aktivitas perekonomian masyarakat. Perekonomian tersebut terbentuk dari beberapa sektor usaha baik sektor formal maupun informal dengan tujuan untuk mendapatkan penghasilan yang layak guna memenuhi kebutuhan hidup serta mensejahterakan anggota keluarganya.

Setiap orang yang berusaha mengharapkan pendapatan, semakin tinggi pendapatan seseorang maka semakin tinggi tingkat kesejahteraannya serta semakin banyak kebutuhan dan keinginannya yang dapat tercapai (Todaro, 2000:43).

Dengan demikian anggota masyarakat dewasa ini berlomba-lomba dalam meningkatkan tingkat pendapatannya. Oleh karena itu, masyarakat berupaya seoptimal mungkin mengejar untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Dalam mencapai kebutuhan dan keinginan tersebut dilakukan dengan berbagai usaha, seperti bekerja pada sektor pemerintahan, perusahaan swasta, buruh bangunan, bertani, berternak, berdagang dan usaha lainnya.

Dalam program pembangunan era orde baru menerangkan bahwa pembangunan diprioritaskan pada sektor peternakan yang bertujuan untuk menetapkan swasembada pangan dan juga meningkatkan hasil produksi pertanian. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor andalan dalam pembangunan nasional, dikarenakan sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar pada perekonomian nasional setelah sektor industri pengolahan (Sukirno, 2009:78). Perkembangan sektor industri pengolahan tentu sebagian juga bergantung dan bahkan

(19)

membutuhkan dukungan perkembangan dari sektor pertanian. Hal tersebut karena produk–produk hasil pertanian inilah yang kemudian dapat diolah dan menghasilkan pendapatan.

Subsektor peternakan yang merupakan bagian dari sektor pertanian memiliki peranan penting dalam menopang perekonomian regional maupun nasional.

Berdasarkan data statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional tahun 2000 sampai 2006 (dalam Ilham, 2006:30), produk domistik bruto (PDB) subsektor peternakan mulai bangkit kembali setelah terpuruk akibat krisis ekonomi, dengan rata–rata pertumbuhan produk domistik bruto (PDB) antara tahun 2000 sampai 2006 sebesar 3,63 persen. Pada periode yang sama, angka tersebut berada di atas laju pertumbuhan sektor tanaman pangan 2,05 persen, subsektor perkebunan 3,24 persen dan subsektor kehutanan -0,07 persen. Subsektor peternakan mampu tumbuh dengan cepat, karena didukung oleh perkembangan industri peternakan terutama ayam potong (pedaging/broiler) dan sapi potong.

Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2015- 2019 bidang pangan dan pertanian disusun sebagai upaya untuk penyusunan RPJMN 2015-2019 khususnya bidang pangan dan pertanian. Pada tahun 2013, badan perencanaan pembangunan nasional (BAPPENAS) juga telah menyelenggarakan kegiatan penyusunan studi pendahuluan (background study) yang lebih diarahkan untuk menampung isu-isu utama di sektor pangan dan pertanian, sementara dalam tahun 2014 melalui penyusunan RPJMN 2015-2019 isu-isu yang telah diidentifikasi sebelumnya dielaborasi lebih mendalam sebagai bahan masukan dalam penysusun rancangan teknokratik RPJMN. Untuk Bidang pangan dan pertanian terdapat dua isu utama yang dimasukan dalam rancangan RPJMN 2015-2019 yaitu isu-isu yang terkait dengan ketahanan pangan dalam

(20)

rangka pencapaian kedaulatan peangan serta isu-isu yang terkait dengan peningkatan agroindustri. Isu-isu yang terkait dengan ketahanan pangan masih dipandang relevan mengingat isu-isu pangan telah semakin berkembang tidak sekadar hanya pada aspek penyediaan sumber pangan namun juga meliputi upaya- upaya pembangunan pangan yang memiliki perspektif keberlanjutan dan pemenuhan pangan dengan kualitas lebih baik (premium) seiring dengan peningkatan jumlah kelas menengah Indonesia. Sementara isu yang terkait dengan peningkatan agroindustri sangat penting dalam konteks peningkatan nilai tambah dan daya saing sektor pertanian seiring dengan masuknya Indonesia dalam komunitas masyarakat ekonomi association of southeast asian nations (ASEAN) (MEA) pada tahun 2015.

Selama 50 tahun lebih perkembangan populasi unggas, terutama ras ayam (ayam kampung, ayam pedaging, ayam petelur) di Indonesia telah terjadi perkembangan yang sangat luar biasa (Abidin, 2002:7). Ayam merupakan salah satu jenis komoditi di bidang peternakan yang menghasilkan protein dan gizi serta nilai ekonomi yang cukup potensial (Hartono, 2001:13). Sebagian besar penduduk Indonesia adalah konsumen daging ayam, hal ini karena harga daging ayam per kilogramnya lebih murah dari pada harga daging sapi, kerbau atau daging kambing.

Selain itu, daging ayam sangat mudah didapatkan karena saluran distribusinya hingga ke tingkat pengecer yang langsung menyalurkan kepada konsumen. Realitas ini mengindikasikan bahwa pengembangan peternakan mempunyai harapan yang baik di masa depan. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, peningkatan pendapatan dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi makanan bergizi tinggi maka permintaan akan bahan–bahan yang berasal dari ternak pun

(21)

akan terus meningkat. Salah satu cara untuk pemenuhan daging ayam adalah dengan pengembangan usaha ayam oleh peternak ayam.

Ayam merupakan hewan ternak yang mudah dipelihara dan paling ekonomis dibandingkan ternak yang lain (Rasyaf, 2010:5). Usaha ternak ayam dapat dilakukan di perkarangan rumah penduduk yang merupakan usaha sampingan dan ada juga yang memeliharanya di lahan yang sangat luas. Usaha ternak ayam juga sangat menjanjikan dari tahun ke tahun sehingga semakin menonjol peranannya dalam meningkatkan pendapatan usaha peternak ayam.

Permintaan akan produk hasil ternak ayam diperkirakan akan terus meningkat, hal ini dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu: (1) Pendapatan, konsumsi produk hasil ternak meningkat ketika pendapatan penduduk naik; (2) Harga, menurunnya harga akan meningkatkan konsumsi (Priyatno, 2000:89).

Peningkatan jumlah penduduk di suatu daerah atau wilayah akan meningkatkan jumlah permintaan ayam (Rasyaf, 2010:30). Penduduk atau masyarakat yang setiap harinya membutuhkan makanan atau konsumsi seperti ayam yang kaya akan protein untuk menambah tenaga dalam menjalani aktivitasnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013-2017, jumlah penduduk dan populasi ayam dapat dilihat pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1.

Penduduk dan Populasi Ayam di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013–2017

Tahun Jumlah Penduduk (Jiwa)

Populasi Ayam (Ekor)

Ayam Kampung Ayam Pedaging

2013 269.007 137.684 106.700

2014 272.228 152.401 126.603

2015 278.324 160.450 141.754

2016 282.921 168.690 149.111

2017 287.007 172.930 152.900

Sumber: Kabupaten Aceh Tamiang dalam Angka 2014-2018, BPS Kabupaten Aceh Tamiang

(22)

Pada Tabel 1.1. menunjukkan bahwa secara keseluruhan peningkatan jumlah penduduk tiap tahun akan berakibat pada peningkatan jumlah populasi ayam di Kabupaten Aceh Tamiang. Jumlah penduduk Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2013 jumlah penduduknya 269.007 jiwa hingga pada tahun 2017 jumlah penduduk sebesar 287.007. Sedangkan jika dilihat populasi ayam mengalami peningkatan kuantitas ekor dari tahun ke tahun, pada tahun 2015 jumlah ayam kampung sebesar 160.450 ekor dan jumlah ayam pedaging sebesar 141.754 ekor. Peningkatan ini terus berlanjut di tahun 2017 di mana jumlah ayam kampung sebesar 172.930 ekor dan ayam pedading sebesar 152.900 ekor.

Tabel 1.2.

Produksi Daging Ayam di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013–2017

Tahun Produksi Daging Ayam (Kg)

Ayam Kampung Ayam Pedaging

2013 37.684 379.400

2014 42.401 426.603

2015 51.114 559.238

2016 67.226 676.809

2017 75.664 808.512

Sumber: Kabupaten Aceh Tamiang dalam Angka 2014-2018, BPS Kabupaten Aceh Tamiang

Tabel 1.2. menunjukkan bahwa produksi daging ayam terjadi peningkatan jumlah setiap tahunnya. Tercatat pada tahun 2015 jumlah produksi ayam kampung sebesar 51.114 kilogram, ayam pedaging 559.238 kilogram. Sedangkan di tahun 2017 terjadi peningkatan kuantitas produksi di mana jumlah produksi ayam kampung sebesar 75.664 kilogram, ayam pedaging 808.512 kilogram. Peningkatan produksi inilah yang dapat dijadikan indikator adanya peningkatan pada konsumsi daging ayam di Kabupaten Aceh Tamiang. Ayam memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan karena produksi yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Mengingat peranan dalam pemenuhan kebutuhan akan daging relatif murah,

(23)

maka produksi ayam lebih banyak dilakukan daripada produksi daging lainnya.

Dengan kata lain, pembangunan subsektor peternakan bidang perunggasan, khususnya peternakan ayam menjadi salah satu usaha yang diharapkan dapat membawa perubahan perekonomian masyarakat ke arah yang lebih baik. Hal ini pula yang turut mendukung perkembangan usaha peternakan ayam di berbagai provinsi di Indonesia termasuk di Aceh terkhusus Kabupaten Aceh Tamiang.

Kesejahteraan seorang peternak ayam dapat dilihat dari pendapatannya dan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan peternak ayam. Jika kegiatan jual- beli berjalan lancar maka pendapatan peternak ayam akan stabil dan kesejahteraannya meningkat.

Krisis ekonomi yang berlangsung pada tahun 2009 menyebabkan usaha di bidang peternakan mengalami hambatan. Salah satunya adalah kenaikan harga dan biaya produksi yang diikuti dengan kenaikan harga ayam yang cenderung fluktuatif (Samantha, 2015:7). Fluktuasi harga ayam juga membawa dampak negatif bagi para peternak. Apabila terjadi penurunan harga ayam, maka peternak akan mengalami kerugian karena pendapatan peternak akan menurun. Akan tetapi, jika harga ayam meningkat, para peternak akan cenderung mendapatkan keuntungan.

Sesuai dengan arah dan tujuan serta kebijakan dalam pembangunan pertanian dilaksanakan melalui berbagai program antara lain; perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Program ini tidak terlepas dengan program lainnya, seperti program penelitian dan pengembangan prasarana serta kebijakan harga pangan. Maka dengan berkembangnya prasarana fisik tentunya petani, peternak dan pedagang semakin tanggap terhadap perubahan harga pasar, kebijakan harga dan prasarana yang ditempuh dalam program pembangunan yang merupakan kebijakan terpenting di dalam mencapai dan memantapkan swasembada pangan. Adanya

(24)

kebijakan ini telah terbukti dapat mendorongnya peningkatan produksi serta pendapatan peternak ayam dan menjamin daya beli masyarakat. Kebijakan ini sangat bermanfaat guna untuk peningkatan efisiensi serta ekonomi pertanian dan peternakan.

Modal merupakan hal yang sangat penting dalam melakukan usaha. Modal adalah semua bentuk kekayaan yang dapat digunakan langsung maupun tidak langsung dalam proses produksi untuk menambah output (Sukirno, 2009:22).

Modal untuk berternak dapat bersumber dari internal peternak dan sumber lain selain dari peternak, baik itu berupa pinjaman dari bank dan lembaga non bank.

Berdasarkan hasil wawancara pra-penelitian ke beberapa peternak ayam di Kabupaten Aceh Tamiang banyak yang mengeluhkan susahnya mendapatkan permodalan, untuk mendapatkan pinjaman modal harus ada agunan yang mereka serahkan sebagai jaminan atas pinjaman. Namun banyak dari para peternak ayam yang tidak memenuhi persyaratan tersebut, dan tingginya bunga yang harus dibayar menjadikan permasalahan tersendiri. Inilah permasalahan terkait permodalan dari para peternak ayam.

Selain faktor modal, menurut Sawir (2001:40) lama usaha juga mempengaruhi pendapatan peternak ayam. Semakin lama usaha berdiri, maka akan meningkatkan pendapatan peternak ayam (Wicaksono, 2011:16). Hal ini dikarenakan pada umumnya usaha yang telah lama mampu mengambil kebijakan yang lebih matang berdasarkan pengalaman yang ada. Hal ini tentunya dapat meningkatkan pendapatan peternak ayam.

Faktor internal lain seperti waktu, waktu kerja yang sesuai dan fleksibel juga mempengaruhi pendapatan. Waktu kerja yang semakin lama tentunya akan memberikan kesempatan yang semakin banyak dalam menarik pengunjung yang

(25)

datang dan waktu yang pendek cenderung berpengaruh terhadap pendapatan peternak ayam yang diperoleh saat ini (Firdausa, 2013:33).

Prospek sektor perternakan di Kabupaten Aceh Tamiang akan terus berkembang yang dilihat dari indikator pertama, pesatnya jumlah penduduk di Kabupaten Aceh Tamiang yang setiap tahunnya bertambah, tercatat pada tahun 2017 jumlah penduduknya sebesar 287.007jiwa, dibanding jumlah penduduk pada tahun 2016, terjadi pertambahan penduduk sebesar 4.086 jiwa (1,44%). Kedua, peningkatan kuantitas produksi 2017 di mana jumlah produksi ayam kampung sebesar 75.664 kilogram, ayam pedaging 808.512 kilogram maka diperlukan sebuah studi yang mendalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan peternak ayam di Kabupaten Aceh Tamiang.

Pada saat ini masih belum diketahui berapa pendapatan peternak ayam di Kabupaten Aceh Tamiang dan variabel-variabel apa saja yang mempengaruhi pendapatan mereka. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini akan meneliti analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan peternak ayam di Kabupaten Aceh Tamiang.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah harga ayam berpengaruh terhadap pendapatan peternak ayam di Kabupaten Aceh Tamiang?

2. Apakah modal kerja berpengaruh terhadap pendapatan peternak ayam di Kabupaten Aceh Tamiang?

3. Apakah lama usaha berpengaruh terhadap pendapatan peternak ayam di Kabupaten Aceh Tamiang?

(26)

4. Apakah waktu kerja berpengaruh terhadap pendapatan peternak ayam di Kabupaten Aceh Tamiang?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menganalisis pengaruh harga ayam terhadap pendapatan peternak ayam di Kabupaten Aceh Tamiang.

2. Menganalisis pengaruh modal kerja terhadap pendapatan peternak ayam di Kabupaten Aceh Tamiang.

3. Menganalisis pengaruh lama usaha terhadap pendapatan peternak ayam di Kabupaten Aceh Tamiang.

4. Menganalisis pengaruh waktu kerja terhadap pendapatan peternak ayam di Kabupaten Aceh Tamiang.

1.4. Manfaat Penelitian

Setiap penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya maupun yang secara langsung terkait didalamnya. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Untuk Dinas Peternakan

Sebagai bahan masukan kepada Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Tamiang dalam merumuskan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan ayam.

2. Untuk Peternak Ayam

Sebagai bahan informasi dan sumbangan pemikiran bagi Peternak Ayam dalam pengambilan kebijakan usaha khususnya mengenai kajian tentang pendapatan Peternak Ayam.

(27)

3. Untuk Mahasiswa

Sebagai referensi bagi mahasiswa Jurusan Magister Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara dalam menambah wawasan dan apresiasi yang berhubungan dengan analisis pendapatan.

4. Untuk Peneliti

Penelitian ini adalah sebagai bahan pembelajaran yang bermanfaat untuk dapat memperluas pengetahuan dan wawasan peneliti tentang analisis Pendapatan dan mengembangkan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang yang diteliti.

(28)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Teoritis

2.1.1. Pengertian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

Sampai saat ini batasan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah masih berbeda- beda tergantung pada fokus permasalahan masing-masing. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah telah didefinisikan dengan cara yang berbeda tergantung pada kepentingan organisasi. Beberapa instansi menggunakan batasan dan kriteria menurut fokus permasalahan yang dituju. Usaha Mikro Kecil dan Menengah hadir sebagai solusi dari sistem perekonomian yang sehat. Sektor UMK merupakan salah satu sektor industri kreatif yang sedikit bahkan tidak sama sekali terkena dampak krisis globalisasi yang mendunia (Venkatesh, 2006:67).

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah menjelaskan bahwa Usaha Mikro kecil menengah dapat diandalkan dan diperhitungkan dan mampu meningkatkan persaingan pasar dan stabilisasi sistem perekonomian hingga saat ini.

Dari hasil penelitian Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah lebih jauh menginformasikan bahwa permasalahan yang sangat vital di hadapi oleh Usaha Mikro Kecil Menengah adalah rendahnya kualitas teknologi (masih konvensional) yang akhirnya menyebabkan tingkat produktifitas dan kualitas produk Usaha Mikro Kecil Menengah menjadi sangat rendah.

Rendahnya kualitas produk Usaha Mikro Kecil Menengah menyebabkan mereka kesulitan untuk memasarkan produknya ke pasar bebas, sehingga terus menerus terikat pada pembeli tradisional yaitu kelompok pemilik modal (Dirlanudin, 2008:41). Rendahnya kualitas produk Usaha Mikro Kecil Menegah

(29)

menjadi kesempatan bagi kalangan pemilik modal untuk mengambil kesempatan dan keuntungan dengan cara sepihak menetapkan harga pembelian.

2.1.1.1. Usaha Mikro

Usaha mikro juga sering diidentikkan dengan industri rumah tangga karena sebagian besar kegiatan dilakukan di rumah, menggunakan teknologi sederhana atau tradisional, mempekerjakan anggota keluarga dan berorientasi pada pasar lokal. Kegiatan usaha seperti ini banyak ditemukan di negara-negara berkembang dan berperan cukup besar dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan pengentasan kemiskinan. Beberapa pihak telah berupaya untuk memberikan definisi yang tepat untuk usaha mikro. Hal ini penting karena hingga saat ini kriteria yang digunakan untuk mendefinisikan usaha mikro masih beragam karena masih sering terjadi pengertian tumpang tindih antara usaha mikro dan usaha kecil.

Usaha Mikro menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor: 7/39/Pbi/2005 Tentang Pemberian Bantuan Teknis Dalam Rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah adalah usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga Negara Indonesia, secara individu atau tergabung dalam koperasi dan memiliki hasil penjualan secara individu paling banyak Rp 100.000.000 per tahun.

Sementara Departemen Keuangan seperti yang tercantum dalam keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor:40/KMK.06/2003, menitik beratkan pada besarnya hasil atau pendapatan usaha dalam mendefinisikan usaha mikro. Menurut keputusan tersebut usaha mikro adalah usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga Negara Indonesia dan memiliki hasil penjualan paling banyak Rp 100.000.000 per tahun.

Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan batasan jumlah tenaga kerja dalam menentukan skala usaha terutama di sektor industri. Industri Kerajinan

(30)

Rumah Tangga (IKRT) atau usaha bersekala mikro yaitu usaha produktif milik keluarga atau perorangan dengan jumlah pekerja 1-4 pekerja. Sementara itu Departemen Perindustrian dan Perdagangan juga memberikan batasan yang sama dalam membagi skala usaha, industri dagang mikro yaitu jenis usaha yang mempunyai jumlah pekerja 1-4 pekerja. Kriteria lain untuk industri mikro adalah dari jenis usaha yang mempunyai jumlah penjualan sebesar Rp 1.000.000.000 per tahun.

Sementara itu pengertian usaha mikro menurut lembaga-lembaga internasional adalah usaha non pertanian dengan jumlah pekerja maksimal 10 orang (termasuk wirausaha, pekerja magang, pekerja upahan dan pekerja yang tidak dibayar karena termasuk anggota keluarga), menggunakan teknologi sederhana atau tradisional, memiliki keterbatasan akses terhadap kredit, mempunyai kemampuan managerial rendah dan cenderung beroperasi di sektor informal. Jadi dapat kita simpulkan bahwa Usaha mikro adalah usaha produktif milik keluarga atau perorangan yang memiliki hasil penjualan paling banyak Rp 100.000.000 per tahun, dengan jumlah pekerja 1-4 pekerja dengan menggunakan teknologi sederhana atau tradisional.

2.1.1.2. Usaha Kecil

Menurut UU No. 5 tahun 1992 tentang Usaha Kecil. Usaha kecil adalah kegiatan Ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih dan hasil penjualan tahunan serta kepemilikan sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini. Usaha Kecil menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor:7/39/PBI/2005 Tentang Pemberian Bantuan Teknis Dalam Rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria sebagai berikut:

(31)

1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000.

3. Milik Warga Negara Indonesia.

4. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha Menengah atau usaha Besar.

5. Berbentuk usaha perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi (FA, CV, PT dan Koperasi).

Pengertian usaha kecil secara jelas tercantum dalam UU No. 9 Tahun 1995, yang menyebutkan bahwa usaha kecil adalah usaha dengan kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) dengan hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000. Definisi yang tercantum dalam UU ini adalah definisi yang paling banyak digunakan oleh badan/lembaga yang terkait dengan usaha mikro-kecil. Kementrian Negara Koperasi & UKM menggunakan UU tersebut sebagai dasar dalam mengelompokkan jenis-jenis usaha. Menurut kementrian ini, kelompok usaha mikro termasuk di dalam kelompok usaha kecil.

Badan Pusat Statistik memberikan pengertian mengenai Industri Kecil (IK) yaitu usaha produktif yang memiliki jumlah pekerja 5-19 pekerja termasuk pemiliknya. Sementara itu, Departemen Perindustrian dan Perdagangan juga memberikan pengertian usaha kecil dengan batasan yang sama dalam membagi skala usaha, industri dagang kecil adalah jenis usaha dengan 5-19 pekerja.

(32)

Usaha kecil adalah Perorangan atau Badan Usaha yang telah melakukan kegiatan atau usaha yang mempunyai penjualan atau omzet per tahun setinggi- tingginya Rp 1.000.000.000 atau aset atau aktiva setinggi-tingginya Rp 200.000.000 di luar tanah dan bangunan yang ditempati, yang terdiri dari: Badan Usaha (Firma, CV, PT, atau Koperasi) dan atau Perorangan (pengrajin/industri rumah tangga, petani, peternak, nelayan, penambang, pedagang barang dan jasa, dan sebagainya).

2.1.1.3. Usaha Menengah

Pengertian usaha menengah menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 tahun 1995 tentang usaha kecil, usaha menengah adalah kegiatan ekonomi yang mempunyai kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari pada hasil kekayaan bersih dan penjualan tahunan usaha kecil.

Usaha Menengah menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor:

7/39/PBI/2005 Tentang Pemberian Bantuan Teknis Dalam Rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah adalah usaha dengan kriteria sebagai berikut:

1. Memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp 200.000.000 sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

2. Milik warga negara Indonesia.

3. Berdiri sendiri dan bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha besar.

4. Berbentuk usaha orang perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum atau badan usaha yang berbadan hukum.

(33)

Sementara itu Departemen Perindustrian dan Perdagangan juga memberikan batasan dalam membagi skala usaha dimana industri dagang menengah adalah jenis usaha yang mempunyai 20-99 pekerja. Kesimpulan yang dapat kita ambil mengenai pengertian usaha menengah adalah jenis usaha Perorangan atau Badan Usaha dengan kekayaan bersih lebih besar dari Rp 200.000.000 sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha dengan jumlah pekerja 20-99 pekerja.

2.1.2. Usaha Peternakan Ayam

Peternakan adalah suatu usaha pembibitan atau budidaya peternakan dalam bentuk perusahaan atau peternakan rakyat, yang dilakukan secara teratur dan terus- menerus pada suatu tempat dan dalam jangka waktu tertentu untuk tujuan komersil atau sebagai usaha sampingan untuk menghasilkan ternak bibit atau ternak potong, telur, susu, serta menggemukkan suatu jenis ternak termasuk mengumpulkan, mengedarkan dan memasarkan. Peternakan merupakan sektor yang memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional yaitu sebagai penyedia lapangan pekerjaan, sumber devisa negara dan penyedia bahan pangan. Peranan penting peternakan menyebabkan peternakan menjadi sektor yang diminati pengusaha untuk dijadikan bisnis sumber penghasilan utama maupun sampingan. Usaha peternakan yang banyak diminati adalah peternakan ayam karena memiliki permintaan yang tinggi.

Seiring dengan berjalannya waktu, usaha peternakan ayam saat ini telah banyak berdiri. Melalui aktivitas bisnisnya yaitu memproduksi ayam, yang meliputi budidaya ayam (farming operation) dan industri pengolahan daging ayam, industri peternakan ayam telah memberikan peranan yang nyata terhadap perkembangan subsektor peternakan di Indonesia. Usaha peternakan ayam saat ini berkembang

(34)

sangat pesat, baik dari segi skala usaha maupun dari segi tingkat efisiennya. Banyak para pelaku usaha menekuni usaha peternakan ayam, baik secara sistem mandiri maupun secara sistem plasma, alasannya adalah selain jumlah permintaan daging ayam yang terus meningkat, perputaran modal yang sangat cepat merupakan daya tarik tersendiri bagi para pelaku usaha untuk menekuni usaha peternakan ayam.

Alasan lainnya adalah tersedianya faktor-faktor produksi dalam jumlah yang banyak (Hafsah, 2003:42).

Usaha peternakan terbagi menjadi tiga kategori, yaitu peternak rakyat, pengusaha kecil peternakan, dan pengusaha peternakan (Rasyaf, 2004:10). Peternak rakyat adalah peternak yang mengusahakan budidaya ayam dengan jumlah populasi maksimal 15.000 ekor per periode. Pengusaha kecil peternakan adalah peternak yang membudidayakan ayam dengan jumlah populasi maksimal 65.000 ekor per periode. Pengusaha peternakan adalah peternak yang membudidayakan ayam dengan jumlah populasi melebihi 65.000 ekor per periode.

Sub sektor peternakan mampu tumbuh dengan cepat, karena didukung oleh perkembangan industri peternakan terutama ayam ras dan sapi potong. Pelaku dua komoditi tersebut berpotensi dijadikan salah satu sumber pertumbuhan baru dalam sektor pertanian. Salah satu komoditas peternakan yang memiliki potensi yang cukup tinggi di Indonesia adalah peternakan ayam, perkembangan jumlah populasi ayam mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dengan adanya peluang tersebut maka perlu ditingkatkan daya saing komoditi hasil ternak (Ilham, 2006:113).

Pengusaha peternakan ini bahkan memiliki kelebihan yaitu berhak mendapatkan bimbingan dan pengawasan dari pemerintah. Hal tersebut ditegaskan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 16 Tahun 1977 tentang Usaha Peternakan. Peraturan Pemerintah tersebut menjelaskan bahwa Menteri yang

(35)

bertanggung jawab dalam bidang peternakan atau pejabat yang ditunjuk olehnya berkewajiban melakukan bimbingan dan pengawasan atas pelaksanaan perusahaan- perusahaan peternakan (Hafsah, 2003:14).

2.1.3. Jenis-Jenis Ayam

2.1.3.1. Ayam Kampung (Chicken)

Ayam kampung adalah ayam lokal Indonesia yang berasal dari ayam hutan merah yang telah berhasil dijinakkan. Berawal dari proses evolusi dan domestikasi, maka terciptalah ayam kampung yang telah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga lebih tahan terhadap penyakit dan cuaca dibandingkan dengan ayam ras (Sarwono, 1991:67).

Salah satu ciri ayam kampung adalah sifat genetiknya yang tidak seragam.Warna bulu, ukuran tubuh dan kemampuan produksinya tidak sama merupakan cermin dari keragaman genetiknya, selain itu badan ayam kampung kecil, mirip dengan badan ayam ras petelur tipe ringan (Rasyaf, 2004:3). Ayam kampung mempunyai kemampuan untuk menentukan kebutuhannya akan protein dan energi sesuai dengan masa pertumbuhannya (Kompiang dan Supriyati, 2001:22).

Krista et al. (2010:43) menyatakan bahwa mengkonsumsi daging ayam kampung lebih sehat, karena kandungan kolesterolnya lebih rendah dibandingkan dengan ayam broiler dan rasa dagingnya juga lebih gurih dan lebih kering. Telur ayam kampung juga banyak dicari karena dipercaya dapat meningkatkan stamina atau vitalitas. Keunggulan beternak ayam kampung diantaranya peluang pasar besar dan berkesinambungan; harga jual tinggi dan relatif stabil; semakin lama pemeliharaan semakin mahal harga jual; relatif tahan terhadap penyakit dan stress;

sebagai suatu kebanggaan beternak unggas lokal. Zainuddin (2002:21)

(36)

mengungkapkan kelemahan ayam lokal antara lain tingkat produktivitas sangat bervariasi antar individu dalam satu kelompok, penyediaan bibit unggul masih terbatas, mortalitas cukup tinggi (di atas 10%) terutama pada periode pertumbuhan.

Perkembangan ayam kampung sangat pesat dan telah banyak dipelihara oleh peternak-peternak maupun masyarakat umum sebagai usaha untuk pemanfaatan pekarangan, pemenuhan gizi keluarga serta meningkatkan pendapatan (Bappenas, 2010:98). Namun, masih terdapat beberapa kendala diantaranya adalah secara biologis pertumbuhan ayam kampung lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan ayam ras dan produktivitas ayam kampung terbilang masih rendah, tingkat kematian tinggi serta pemberian pakan belum sesuai dengan kebutuhan ayam tersebut.

2.1.3.2. Ayam Pedaging (Broiler)

Ayam broiler adalah istilah untuk menyebut strain ayam hasil budidaya teknologi yang memiliki sifat ekonomis, dengan ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan irit, siap dipotong pada umur relatif muda, serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak (Murtidjo, 2006:76).

Rasyaf (2004:87) menyatakan bahwa ayam broiler mempunyai pertumbuhan yang cepat serta mempunyai dada yang lebar dengan timbunan daging yang baik dan banyak. Ayam broiler pertumbuhannya sangat fantastik sejak umur satu minggu hingga lima minggu. Pada saat berumur tiga minggu ternak sudah menunjukkan pertumbuhan bobot badan yang memuaskan, menurut Lestari (1992:98) bahwa ayam pedaging adalah ayam yang berumur enam minggu, mempunyai pertumbuhan yang cepat dengan berat akhir antara 1,5–2 kg. Ayam broiler sudah dapat dipasarkan pada usia lima sampai enam minggu dengan bobot hidup antara 1,3 sampai 1,6 kg per ekor (Rasyaf, 2004:22). Namun demikian

(37)

kebanyakan masyarakat di Indonesia lebih banyak menyukai daging ayam broiler yang tidak begitu besar terutama untuk konsumsi rumah makan dan pasar-pasar tradisional.

Sebenarnya istilah ayam broiler merupakan istilah asing yang menunjukkan cara memasak ayam di negara–negara barat (Rasyaf, 2004:12).

Sehingga sampai saat ini belum ada istilah yang tepat untuk mengantikannya masyarakat dari pedesaan hingga pelosok sampai saat ini tetap menyebut denganistilah ayam broiler.

2.1.4. Pasar

Definisi pasar secara sederhana yang sering didengar di masyarakat, di mana pasar adalah suatu tempat pertemuan penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual beli barang dan jasa. Menurut Sudirmansyah (2011:55), pasar adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan, uang untuk berbelanja serta kemauan untuk membelanjakannya. Pasar juga dapat didefinisikan tempat untuk mendapatkan informasi tentang produk dan mencari keuntungan secara efisien (Federico, 2006:11). Sedangkan menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2007, pasar adalah tempat bertemunya penjual yang mempunyai kemampuan untuk menjual barang/jasa dan pembeli yang melakukan uang untuk membeli barang dengan harga tertentu. Syarat-syarat terjadinya pasar yaitu; ada tempat untuk berniaga, ada barang dan jasa untuk diperdagangkan, terdapat penjual barang tertentu, adanya pembeli barang, dan adanya hubungan dalam transaksi jual-beli.

(38)

Menurut Hentiani (2011:123), jenis-jenis pasar dapat dibagi menjadi sebagai berikut:

a) Jenis Pasar Menurut Jenis Barang

Jenis-jenis pasar menurut jenis barangnya, yaitu beberapa pasar yang hanya menjual satu jenis barang tertentu, misalnya:

1. Pasar Hewan 2. Pasar Sayur

3. Pasar Ikan dan Daging 4. Pasar Loak

5. Pasar Seni

b) Jenis Pasar Menurut Bentuk Kegiatannya

Menurut bentuk kegiatannya, pasar dibagi menjadi 2 yaitu pasar nyata ataupun pasar tidak nyata (abstrak):

1. Pasar nyata adalah pasar dimana barang-barang yang akan diperjualbelikan dan dapat dibeli oleh pembeli. Contoh pasar tradisional dan pasar swalayan.

2. Pasar abstrak adalah pasar dimana para pedagangnya tidak menawar barang barang yang akan dijual dan tidak membeli secara langsung tetapi hanya dengan menggunakan surat dagangannya saja. Contoh pasar online, pasar saham, pasar modal dan pasar valuta asing.

c) Jenis Pasar Menurut Keleluasaan Distribusi

Menurut keleluasaan distribusi barang yang dijual, pasar dapat dibedakan menjadi:

1. Pasar Lokal

(39)

2. Pasar Daerah 3. Pasar Nasional 4. Pasar Internasional

d) Jenis Pasar Menurut transaksinya

Jenis pasar menurut cara transaksinya dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu : 1. Pasar Tradisional

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar yang terjadi (Wahyuning, 2006:42).

Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian, barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia, dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan dan perkampungan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar. Sisi negatif dari pasar tradisional adalah keadaannya yang cenderung kotor dan kumuh sehingga banyak orang yang segan berbelanja disana (Paramita, 2013:21). Dengan keunikan dan ciri khas dari pasar tradisional tersebut maka pasar tradisional merupakan urat nadi perkembangan perekonomian masyarakat secara luas karena masyarakat terkonsentrasi melakukan transaksi jual beli barang dan jasa (Sheng Tai, 2006:77). Pasar tradisional sebagian besar berlokasi di jalur strategis atau mudah dijangkau oleh masyarakat luas (Tiasta, 2012:43). Karateristik dari pasar tradisional lainnya yaitu penjual dan pembeli bebas melakukan tawar menawar untuk mendapatakan harga yang sesuai. Untuk menghilangkan kesan kotor dan

(40)

kumuh maka diperlukan suatu kerjasama dan pengertian yang baik antara pemerintah, pengelola pasar dan masyarakat dalam hal mengelola kebersihan dan kenyamanan pasar tersebut sehingga pembeli atau wisatawan menjadi nyaman untuk melakukan proses transaksi jual beli barang dan jasa di pasar tradisional (Isniani, 2012:54).

2. Pasar Modern

Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Pebelanjaan dan Toko Modern. Pasar / toko modern adalah pasar jenis ini penjual dan pembeli tidak bertransaksi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. Barang-barang yang dijual, selain bahan makanan makanan seperti; buah, sayuran, daging; sebagian besar barang lainnya yang dijual adalah barang yang dapat bertahan lama, seperti piring, gelas, pisau, kipas, dan lain-lain. Berbeda dengan pasar tradisional yang identik dengan lingkungannya yang kotor, pasar modern justru kebalikannya. Maka dari itu, masyarakat sekarang cenderung memilih pasar modern sebagai tempat belanja guna memenuhi kebutuhan sehari- hari. Contoh dari pasar modern adalah pasar swalayan, hypermarket, supermarket, dan minimarket. Pasar Modern dimiliki oleh seseorang yang mempunyai modal besar dengan beberapa karyawan serta memiliki sistim menajemen yang teratur (pembelian, penjualan dan pengeluaran lainnya tercatat dengan baik) sehingga dapat diketahui dengan mudah keuntungan bersih setiap bulannya. Juga secara bebas menentukan nilai jual terhadap

(41)

barang – barang yang ada. Keuntungan dari hasil penjualan dinikmati oleh pengusaha itu (Lukas, 2006:87). Dengan kelebihan tersebut masyarakat bersikap apatis terhada pasar tradisional dan cenderung beralih ke pasar modern karena lebih cepat dan praktis. Dengan demikian pasar tradisional berangsur angsur mulai ditinggalkan oleh pembeli. Jika hal ini tidak ditanggulangi dengan membuat suatu aturan pembatasan atau moratorium penghentian operasional pasar modern oleh Pemerintah sebagai pengambil kebijakan maka pasar tradisional akan terpinggirkan oleh ekspansi pasar modern (Isniani, 2012:44).

2.1.5. Pedagang

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pedagang adalah orang yang mencari nafkah dengan berdagang. Pedagang adalah orang yang menjalankan usaha berjualan, usaha kerajinan, atau usaha pertukangan kecil (Sudirmansyah, 2011:21).

Pedagang dapat dikategorikan menjadi:

a) Pedagang Grosir, beroprasi dalam rantai distribusi antara produsen dan Pedagang eceran.

b) Pedagang Eceran, disebut juga pengecer menjual produk komuditas langsung kepada konsumen.

Menurut Hentiani (2011:45) dalam pasar tradisional pedagang dibedakan menjadi dua, yaitu pedagang kios dan pedagang non kios.

a) Pedagang Kios adalah Pedagang yang menempati bangunan kios di pasar.

b) Pedagang Non Kios adalah pedagang yang menempati tempat selain kios, yaitu dalam los, luar los, dasaran dan palyon

(42)

2.1.6. Konsep Pendapatan

Pendapatan dalam ilmu ekonomi didefinisikan sebagai hasil berupa uang atau hal materi lainnya yang dicapai dari penggunaan kekayaan atau jasa manusia bebas.

Sedangkan pendapatan rumah tangga adalah total pendapatan dari setiap anggota rumah tangga dalam bentuk uang atau natural yang diperoleh baik sebagai gaji atau upah usaha rumah tangga atau sumber lain. Kondisi seseorang dapat diukur dengan menggunakan konsep pendapatan yang menunjukkan jumlah seluruh uang yang diterima oleh seseorang atau rumah tangga selama jangka waktu tertentu (Samuelson dan Nordhaus, 2002:65).

Dalam arti ekonomi, pendapatan merupakan balas jasa atas penggunaan faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh sektor rumah tangga dan sektor perusahaan yang dapat berupa gaji/upah, sewa, bunga serta keuntungan (Sukirno, 2009:23).

Pendapatan adalah penerimaan bersih seseorang, baik berupa uang kontan maupun natural. Pendapatan atau juga disebut juga income dari seorang warga masyarakat adalah hasil penjualannya dari faktor-faktor produksi yang dimilikinya pada sektor produksi. Dan sektor produksi ini membeli faktor-faktor produksi tersebut untuk digunakan sebagai input proses produksi dengan harga yang berlaku di pasar faktor produksi. Harga faktor produksi dipasar faktor produksi (seperti halnya juga untuk barang-barang di pasar barang) ditentukan oleh tarik-menarik, antara penawaran dan permintaan. Secara singkat pendapatan seorang warga masyarakat ditentukan oleh:

a) Jumlah faktor-faktor produksi yang ia miliki yang bersumber pada:

1. Hasil-hasil tabungannya di tahun-tahun yang lalu 2. Warisan atau pemberian

(43)

b) Harga per unit dari masing-masing faktor produksi. Harga-harga ini ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan di pasar faktor produksi.Penawaran dan permintaan dari masing-masing produksi ditentukan oleh faktor-faktor yang berbeda :

1. Tanah (termasuk didalamnya kekayaan-kekayaan yang terkandung didalam tanah, mineral, air dan sebagainya ) mempunyai penawaran yang dianggap tidak akan bertambah lagi. Sedangkan permintaan (demand) akan tanah biasanya menaik dari waktu ke waktu karena: naiknya harga barang-barang pertanian, naiknya harga barang-barang lainnya (mineral, barang-barang industri yang menggunakan bahan-bahan mentah dari tanah), bertambahnya penduduk (yang membutuhkan tempat tinggal). Dengan demikian harga dari tanah akan menaik dengan cepat dari waktu ke waktu.

2. Modal (sumber-sumber ekonomi ciptaan manusia) mempunyai penawaran yang lebih elastis karena dari waktu ke waktu warga masyarakat menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk ditabung (saving) dan kemudian sektor produksi akan menggunakan dana tabungan ini untuk pabrik-pabrik baru, membeli mesin-mesin yaitu investasi. Karena adanya saving dan investasi, maka penawaran dari barang-barang modal dari waktu ke waktu bisa bertambah sedangkan permintaan akan barang-barang modal terutama sekali dipengaruhi oleh gerak permintaan akan barang-barang jadi. Bila harga pakaian naik, maka permintaan akan mesin-mesin tenun, mesin jahit juga akan naik.

3. Tenaga Kerja mempunyai penawaran yang terus menerus menaik sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Sedangkan permintaan akan tenaga kerja tergantung pada kenaikan permintaan akan barang jadi (seperti halnya dengan

(44)

permintaan akan barang-barang modal. Disamping itu permintaan akan tenaga kerja dipengaruhi pula oleh kemajuan teknologi ini. Permintaan akan tenaga kerja tidak tumbuh secepat penawaran tenaga kerja (atau pertumbuhan penduduk) maka ada kecenderungan bagi upah (harga faktor produksi tenaga kerja) untuk semakin menurun.

4. Kepengusahaan (entrepreunership) merupakan faktor produksi yang paling sulit untuk dianalisis, karena faktor-faktor yang menentukan penawaran pun permintaannya sangat beraneka ragam (dan sering faktor-faktor ini diluar kemampuan ilmu ekonomi untuk menganalisis, misalnya: faktor-faktor motivasi lain dan sebagainya). Pada umumnya penawaran pada negara berkembang orang yang berjiwa enterpreuner masih sangat kecil. Inilah sebabnya penghasilan untuk pengusaha yang sukses juga cukup besar di negara tersebut. Cara yang banyak dilakukan adalah dengan tetap mempertahankan hak milik perseorangan, dengan tujuan mengurangi ketidakmerataan distribusi pendapatan. Cara-cara yang bisa dilakukan oleh negara antara lain adalah: pajak progesif atas kekayaan atau penghasilan, penyediaan kebutuhan hidup dasar (misalnya makanan pokok, pakaian, perumahan), penyediaan jasa-jasa yang berguna untuk umum oleh negara (misalnya rumah sakit, klinik), memperkecil pengangguran, pendidikan yang murah dan merata, berbagai kebijaksanaan yang menghilangkan hambatan- hambatan bagi mobilitas (baik vertikal maupun horizontal).

Kondisi seseorang dapat diukur dengan menggunakan konsep pendapatan yang menunjukkan jumlah seluruh uang yang diterima oleh seseorang atau rumah tangga selama jangka waktu tertentu (Samuelson dan Nordhaus, 2002:76). Definisi lain dari pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diperoleh dari hasil pekerjaan

(45)

dan biasanya pendapatan seseorang dihitung setiap tahun atau setiap bulan. Dengan demikian pendapatan merupakan gambaran terhadap posisi ekonomi keluarga dalam masyarakat. Pendapatan keluarga berupa jumlah keseluruhan pendapatan dan kekayaan keluarga, dipakai untuk membagi keluarga dalam tiga kelompok pendapatan, yaitu: pendapatan rendah, pendapatan menengah dan pendapatan tinggi. Pembagian di atas berkaitan dengan, status, pendidikan dan keterampilan serta jenis pekerja seseorang namun sifatnya sangat relatif.

Sebagaimana pendapat di atas, bahwa pendapatan merupakan gambaran terhadap posisi ekonomi keluarga dalam masyarakat, oleh karenanya setiap orang yang bergelut dalam suatu jenis pekerjaan tertentu termasuk pekerjaan di sektor informal atau perdagangan, berupaya untuk selalu meningkatkan pendapatan dari hasil usahanya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dan sedapat mungkin pendapatan yang diperoleh dapat meningkatkan taraf hidup keluarganya.

Menurut Sukirno (2009:21), pendapatan dapat dihitung melalui tiga cara yaitu:

a) Cara Pengeluaran. Cara ini pendapatan dihitung dengan menjumlahkan nilai pengeluaran/perbelanjaan ke atas barang-barang dan jasa.

b) Cara Produksi. Cara ini pendapatan dihitung dengan menjumlahkan nilai barang dan jasa yang dihasilkan.

c) Cara Pendapatan. Dalam penghitungan ini pendapatan diperoleh dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan yang diterima.

Secara garis besar pendapatan digolongkan menjadi tiga golongan (Suparmoko, 2000:44), yaitu:

a) Gaji dan Upah. Imbalan yang diperoleh setelah orang tersebut melakukan

(46)

pekerjaan untuk orang lain yang diberikan dalam waktu satu hari, satu minggu maupun satu bulan.

b) Pendapatan dari Usaha Sendiri. Merupakan nilai total dari hasil produksi yang dikurangi dengan biaya-biaya yang dibayar dan usaha ini merupakan usaha milik sendiri atau keluarga dan tenaga kerja berasal dari anggota keluarga sendiri, nilai sewa kapital milik sendiri dan semua biaya ini biasanya tidak diperhitungkan.

c) Pendapatan dari Usaha Lain. Pendapatan yang diperoleh tanpa mencurahkan tenaga kerja, dan ini biasanya merupakan pendapatan sampingan antara lain:

pendapatan dari hasil menyewakan aset yang dimiliki seperti rumah, ternak dan barang lain, bunga dari uang, sumbangan dari pihak lain, pendapatan dari pensiun, dan lain-lain.

Menurut Todaro (2000:11) pendapatan perseorangan adalah jumlah pendapatan yang diterima setiap orang dalam masyarakat yang sebelum dikurangi transfer payment. Transfer Payment yaitu pendapatan yang tidak berdasarkan balas jasa dalam proses produksi dalam tahun yang bersangkutan. Pendapatan dibedakan menjadi :

a) Pendapatan asli yaitu pendapatan yang diterima oleh setiap orang yang langsung ikut serta dalam produksi barang.

b) Pendapatan turunan (sekunder) yaitu pendapatan dari golongan penduduk lainnya yang tidak langsung ikut serta dalam produksi barang seperti dokter, ahli hukum dan pegawai negeri.

Sedangkan pendapatan menurut perolehannya dibedakan menjadi:

a) Pendapatan kotor yaitu pendapatan yang diperoleh sebelum dikurangi pengeluaran dan biaya–biaya.

b) Pendapatan bersih yaitu pendapatan yang diperoleh sesudah dikurangi

(47)

pengeluaran dan biaya-biaya.

Sedangkan pendapatan menurut bentuknya dibedakan menjadi:

a) Pendapatan berupa uang adalah segala penghasilan yang sifatnya reguler dan yang diterima biasanya sebagai balas jasa, sumber utamanya berupa gaji, upah, bangunan, pendapatan bersih dari usaha sendiri dan pendapatan dari penjualan seperti: hasil sewa, jaminan sosial, premi asuransi.

b) Pendapatan berupa barang adalah segala penghasilan yang sifatnya reguler dan biasanya tidak berbentuk balas jasa dan diterima dalam bentuk barang.

Menurut Yudhohusodo dalam Ariyani (2006:21) tingkat pendapatan seseorang dapat digolongkan dalam 4 golongan yaitu:

a) Golongan yang berpenghasilan rendah (low income group) yaitu pendapatan rata-rata dari Rp 150.000 per bulan.

b) Golongan berpenghasilan sedang (Moderate income group) yaitu pendapatan rata-rata Rp 150.000–Rp 450.000 per bulan.

c) Golongan berpenghasilan menengah (midle income group) yaitu pendapatan rata-rata yang diterima Rp 450.000 – Rp 900.000 per bulan.

d) Golongan yang berpenghasilan tinggi (high income group) yaitu rata-rata pendapatan lebih dari Rp900.000.

Dalam hal ini pendapatan juga bisa diartikan sebagai pendapatan bersih seseorang baik berupa uang atau natura. Secara umum pendapatan dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) yaitu :

a) Gaji dan upah. Suatu imbalan yang diperoleh seseorang setelah melakukan suatu pekerjaan untuk orang lain, perusahaan swasta atau pemerintah.

b) Pendapatan dari kekayaan. Pendapatan dari usaha sendiri. Merupakan nilai total produksi dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan baik dalam bentukuang atau

(48)

lainnya, tenaga kerja keluarga dan nilai sewa kapital untuk sendiri tidak diperhitungkan.

c) Pendapatan dari sumber lain. Dalam hal ini pendapatan yang diperoleh tanpa mencurahkan tenaga kerja antara lain penerimaan dari pemerintah, asuransi pengangguran, menyewa aset, bunga bank serta sumbangan dalam bentuk lain.

Tingkat pendapatan (income level) adalah tingkat hidup yang dapat dinikmati oleh seorang individu atau keluarga yang didasarkan atas penghasilan mereka atau sumber-sumber pendapatan lain. (Samuelson dan Nordhaus, 2002:23).

2.2. Faktor–faktor Eksternal dan Internal yang Mempengaruhi Pendapatan Peternak

Pada usaha perternakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan produksi yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat pendapatan yang akan diterima oleh peternak ayam di Kabupaten Aceh Tamiang. Adapun variabel- variabel yang mempengaruhi tingkat pendapatan adalah: harga ayam, modal kerja, lama usaha, waktu kerja peternak.

2.2.1. Harga

Harga adalah sejumlah uang yang ditagihkan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari nilai yang ditukarkan para pelanggan untuk memperoleh manfaat dari memiliki atau menggunakan suatu produk atau jasa (Kotler dan Keller, 2009:345). Harga semata-mata tergantung pada kebijakan perusahaan, tetapi juga memperhatikan berbagai hal. Murah atau mahalnya harga suatu produk tergantung pada spesifikasi dan keunggulan dari produk itu sendiri yang sangat relatif sifatnya.

Menurut Lamb (2001:268) “Harga adalah apa yang harus diberikanoleh konsumen (pembeli) untuk mendapatkan suatu produk”. Harga sering merupakan elemen yang paling fleksibel di antara keempat elemen bauranpemasaran. Selain itu, Walker

(49)

(2000:78) “Menerapkan kebijakan harga rendah dibandingkan dengan pesaing dapat diciptakan, apabila perusahaan memiliki keunggulan bersaing pada biaya rendah (low cost)”. Dalam artian yang lebih luas, harga adalah jumlah semua nilai yang konsumen tukarkan dalam rangka mendapatkan manfaat (dari) memiliki atau menggunakan barang atu jasa. Secara historis, harga telah menjadi faktor utama yang mempengaruhi pilihan pembeli.

2.2.2. Modal Kerja

Menurut Sawir (2001:87) modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan atau dapat pula dimaksudkan dana yang harus tersedia untuk membiayai operasi perusahaan. Karena modal sangat menunjang sekali dalam kelancaran kegiatan perusahaan, sebagai contoh bagian produksi membutuhkan bahan baku, maka mereka harus membeli dulu bahan tersebut atau bagian pemasaran akan melakukan kegiatan promosi guna mengenalkan barang atau jasa yang mereka tawarkan pada konsumen atau bagian personalia membutuhkan pegawai baru, untuk itu dilakukan kegiatan perekrutan karyawan baru. Sedangkan Riyanto (2002:90:87) mengemukakan modal adalah barang konkrit yang ada dalam rumah tangga perusahaan yang terdapat di neraca debet maupun daya beli atau nilai tukar yang terdapat diselah kredit. Menurut Sutrisno (2007:11) menyatakan bahwa modal kerja adalah dana yang diperlukan oleh perusahaan untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan sehari-hari, seperti pembelian bahan baku, pembayaran upah buruh, membayar hutang dan pembayaran lainnya.

2.2.3. Lama Usaha

Dalam menjalankan suatu usaha, lama usaha memegang peranan penting dalam proses melakukan usaha perdagangan (Utama, 2012:65). Lamanya suatu

(50)

usaha dapat menimbulkan suatu pengalaman berusaha, di mana pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan seseorang dalam bertingkah laku (Asmie, 2008:32).

Lama pembukaan usaha dapat mempengaruhi tingkat pendapatan, lama seorang pelaku bisnis menekuni bidang usahanya akan mempengaruhi produktivitasnya sehingga dapat menambah efisiensi dan menekan biaya produksi lebih kecil daripada penjualan (Firdausa, 2013:56). Semakin lama menekuni bidang usaha perdagangan akan makin meningkatkan pengetahuan tentang selera dan perilaku konsumen serta semakin banyak relasi bisnis dan pelanggan.

2.2.4. Waktu Kerja

Analisis Jam kerja merupakan bagian dari teori ekonomi mikro, khususnya pada teori penawaran tenaga kerja yaitu tentang kesediaan individu untuk bekerja dengan harapan memperoleh penghasilan atau tidak bekerja dengan konsekuensi mengorbankan penghasilan yang seharusnya didapatkan. Kesediaan tenaga kerja untuk bekerja dengan jam kerja panjang atau pendek adalah merupakan keputusan individu (Nicholson, 2011:22). Menurut Ehrenberg dan Smith (1988:76) keputusan untuk bekerja merupakan suatu keputusan puncak mengenai bagaimana seharusnya memanfaatkan waktu.

Jones G. dan Bondan Supraptilah membagi lama jam kerja seseorang dalam satu minggu menjadi tiga kategori yaitu (Ananta dan Hatmaji, 1985:75):

a) seseorang yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu. Jika seseorang bekerja dibawah 35 jam per minggu, maka ia dikategorikan bekerja dibawah jam normal.

b) seseorang yang bekerja antara 35 sampai 44 jam per minggu. Disini seseorang dikategorikan bekerja pada jam kerja normal.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian mengenai Strategi Pemasaran Produk Tempe Samodra, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta maka dapat disimpulkan

penelitian hukum yang digunakan penulis adalah buku-buku yang terkait dengan materi atau bahasan mengenai Legal Standing partai politik sebagai pemohon dalam sengketa

Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui kesalahan yang terdapat pada pengisian SPT yang dilakukan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi di Kantor Pelayanan Pajak

Hasil analisis dengan Anova pengaruh pemberian suplemen telur puyuh organik terhadap konsumsi pakan pada tikus putih periode laktasi menunjukkan hasil yang tidak

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tentang mutu hedonik daging burung puyuh dengan pemberian tepung limbah kulit kopi daram ransum bahwa dengan pemberian

Secara umum stasiun di Pulau Payung yang memiliki kandungan logam berat Cu dan Pb yang lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun yang berada pada aliran

pengalaman di satuan pendidikan rintisan). Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum. Ratna, Nyoman Kuntha. Stilistika: kajian puitika bahasa, sastra,

Maka mau tidak maun, pendidikan Islam harus meninggalkan paradigma lama menuju paradigma baru, berorientasi pada masa depan, merintis kemajuan, berjiwa demokratis,