• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis-Jenis Ayam

Dalam dokumen UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (Halaman 35-40)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Teoritis

2.1.3. Jenis-Jenis Ayam

2.1.3.1. Ayam Kampung (Chicken)

Ayam kampung adalah ayam lokal Indonesia yang berasal dari ayam hutan merah yang telah berhasil dijinakkan. Berawal dari proses evolusi dan domestikasi, maka terciptalah ayam kampung yang telah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga lebih tahan terhadap penyakit dan cuaca dibandingkan dengan ayam ras (Sarwono, 1991:67).

Salah satu ciri ayam kampung adalah sifat genetiknya yang tidak seragam.Warna bulu, ukuran tubuh dan kemampuan produksinya tidak sama merupakan cermin dari keragaman genetiknya, selain itu badan ayam kampung kecil, mirip dengan badan ayam ras petelur tipe ringan (Rasyaf, 2004:3). Ayam kampung mempunyai kemampuan untuk menentukan kebutuhannya akan protein dan energi sesuai dengan masa pertumbuhannya (Kompiang dan Supriyati, 2001:22).

Krista et al. (2010:43) menyatakan bahwa mengkonsumsi daging ayam kampung lebih sehat, karena kandungan kolesterolnya lebih rendah dibandingkan dengan ayam broiler dan rasa dagingnya juga lebih gurih dan lebih kering. Telur ayam kampung juga banyak dicari karena dipercaya dapat meningkatkan stamina atau vitalitas. Keunggulan beternak ayam kampung diantaranya peluang pasar besar dan berkesinambungan; harga jual tinggi dan relatif stabil; semakin lama pemeliharaan semakin mahal harga jual; relatif tahan terhadap penyakit dan stress;

sebagai suatu kebanggaan beternak unggas lokal. Zainuddin (2002:21)

mengungkapkan kelemahan ayam lokal antara lain tingkat produktivitas sangat bervariasi antar individu dalam satu kelompok, penyediaan bibit unggul masih terbatas, mortalitas cukup tinggi (di atas 10%) terutama pada periode pertumbuhan.

Perkembangan ayam kampung sangat pesat dan telah banyak dipelihara oleh peternak-peternak maupun masyarakat umum sebagai usaha untuk pemanfaatan pekarangan, pemenuhan gizi keluarga serta meningkatkan pendapatan (Bappenas, 2010:98). Namun, masih terdapat beberapa kendala diantaranya adalah secara biologis pertumbuhan ayam kampung lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan ayam ras dan produktivitas ayam kampung terbilang masih rendah, tingkat kematian tinggi serta pemberian pakan belum sesuai dengan kebutuhan ayam tersebut.

2.1.3.2. Ayam Pedaging (Broiler)

Ayam broiler adalah istilah untuk menyebut strain ayam hasil budidaya teknologi yang memiliki sifat ekonomis, dengan ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan irit, siap dipotong pada umur relatif muda, serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak (Murtidjo, 2006:76).

Rasyaf (2004:87) menyatakan bahwa ayam broiler mempunyai pertumbuhan yang cepat serta mempunyai dada yang lebar dengan timbunan daging yang baik dan banyak. Ayam broiler pertumbuhannya sangat fantastik sejak umur satu minggu hingga lima minggu. Pada saat berumur tiga minggu ternak sudah menunjukkan pertumbuhan bobot badan yang memuaskan, menurut Lestari (1992:98) bahwa ayam pedaging adalah ayam yang berumur enam minggu, mempunyai pertumbuhan yang cepat dengan berat akhir antara 1,5–2 kg. Ayam broiler sudah dapat dipasarkan pada usia lima sampai enam minggu dengan bobot hidup antara 1,3 sampai 1,6 kg per ekor (Rasyaf, 2004:22). Namun demikian

kebanyakan masyarakat di Indonesia lebih banyak menyukai daging ayam broiler yang tidak begitu besar terutama untuk konsumsi rumah makan dan pasar-pasar tradisional.

Sebenarnya istilah ayam broiler merupakan istilah asing yang menunjukkan cara memasak ayam di negara–negara barat (Rasyaf, 2004:12).

Sehingga sampai saat ini belum ada istilah yang tepat untuk mengantikannya masyarakat dari pedesaan hingga pelosok sampai saat ini tetap menyebut denganistilah ayam broiler.

2.1.4. Pasar

Definisi pasar secara sederhana yang sering didengar di masyarakat, di mana pasar adalah suatu tempat pertemuan penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual beli barang dan jasa. Menurut Sudirmansyah (2011:55), pasar adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan, uang untuk berbelanja serta kemauan untuk membelanjakannya. Pasar juga dapat didefinisikan tempat untuk mendapatkan informasi tentang produk dan mencari keuntungan secara efisien (Federico, 2006:11). Sedangkan menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2007, pasar adalah tempat bertemunya penjual yang mempunyai kemampuan untuk menjual barang/jasa dan pembeli yang melakukan uang untuk membeli barang dengan harga tertentu. Syarat-syarat terjadinya pasar yaitu; ada tempat untuk berniaga, ada barang dan jasa untuk diperdagangkan, terdapat penjual barang tertentu, adanya pembeli barang, dan adanya hubungan dalam transaksi jual-beli.

Menurut Hentiani (2011:123), jenis-jenis pasar dapat dibagi menjadi sebagai berikut:

a) Jenis Pasar Menurut Jenis Barang

Jenis-jenis pasar menurut jenis barangnya, yaitu beberapa pasar yang hanya menjual satu jenis barang tertentu, misalnya:

1. Pasar Hewan 2. Pasar Sayur

3. Pasar Ikan dan Daging 4. Pasar Loak

5. Pasar Seni

b) Jenis Pasar Menurut Bentuk Kegiatannya

Menurut bentuk kegiatannya, pasar dibagi menjadi 2 yaitu pasar nyata ataupun pasar tidak nyata (abstrak):

1. Pasar nyata adalah pasar dimana barang-barang yang akan diperjualbelikan dan dapat dibeli oleh pembeli. Contoh pasar tradisional dan pasar swalayan.

2. Pasar abstrak adalah pasar dimana para pedagangnya tidak menawar barang barang yang akan dijual dan tidak membeli secara langsung tetapi hanya dengan menggunakan surat dagangannya saja. Contoh pasar online, pasar saham, pasar modal dan pasar valuta asing.

c) Jenis Pasar Menurut Keleluasaan Distribusi

Menurut keleluasaan distribusi barang yang dijual, pasar dapat dibedakan menjadi:

1. Pasar Lokal

2. Pasar Daerah 3. Pasar Nasional 4. Pasar Internasional

d) Jenis Pasar Menurut transaksinya

Jenis pasar menurut cara transaksinya dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu : 1. Pasar Tradisional

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar yang terjadi (Wahyuning, 2006:42).

Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian, barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia, dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan dan perkampungan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar. Sisi negatif dari pasar tradisional adalah keadaannya yang cenderung kotor dan kumuh sehingga banyak orang yang segan berbelanja disana (Paramita, 2013:21). Dengan keunikan dan ciri khas dari pasar tradisional tersebut maka pasar tradisional merupakan urat nadi perkembangan perekonomian masyarakat secara luas karena masyarakat terkonsentrasi melakukan transaksi jual beli barang dan jasa (Sheng Tai, 2006:77). Pasar tradisional sebagian besar berlokasi di jalur strategis atau mudah dijangkau oleh masyarakat luas (Tiasta, 2012:43). Karateristik dari pasar tradisional lainnya yaitu penjual dan pembeli bebas melakukan tawar menawar untuk mendapatakan harga yang sesuai. Untuk menghilangkan kesan kotor dan

kumuh maka diperlukan suatu kerjasama dan pengertian yang baik antara pemerintah, pengelola pasar dan masyarakat dalam hal mengelola kebersihan dan kenyamanan pasar tersebut sehingga pembeli atau wisatawan menjadi nyaman untuk melakukan proses transaksi jual beli barang dan jasa di pasar tradisional (Isniani, 2012:54).

Dalam dokumen UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (Halaman 35-40)

Dokumen terkait