• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN BARU INTERIOR RUMAH SAKIT ISLAM ASSHOBIRIN DI TANGERANG SELATAN DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI RUANG HALAMAN JUDUL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERANCANGAN BARU INTERIOR RUMAH SAKIT ISLAM ASSHOBIRIN DI TANGERANG SELATAN DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI RUANG HALAMAN JUDUL"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN BARU INTERIOR RUMAH SAKIT ISLAM ASSHOBIRIN DI TANGERANG SELATAN DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI RUANG

HALAMAN JUDUL

LAPORAN PENGANTAR KARYA TUGAS AKHIR

Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Desain dari Universitas Telkom Bandung

Disusun Oleh:

Muhammad Wally Alphasundan NIM: 1603174209

Dosen Pembimbing 1:

Dosen Pembimbing 2:

PROGRAM STUDI S1 DESAIN INTERIOR FAKULTAS INDUSTRI KREATIF

UNIVERSITAS TELKOM BANDUNG

2022

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rumah Sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, gawat darurat (PerMenKes, 2016). Bangunan Rumah Sakit merupakan sarana kesehatan yang memerlukan perhatian khusus dari segi keamanan, keselamatan, kenyamanan dan kemudahan pelayanan kesehatan yang berdasarkan UU RI Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit Pasal 3 menyebutkan bahwa pengaturan penyelenggaraan Rumah Sakit yang bertujuan untuk mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, memberikan pelindungan terhadap kesehatan keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan Rumah Sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit, serta meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit.

Dengan populasi masyarakat Tangerang, Banten yang beragama Islam mencapai 94,8%

(KeMenDaGri, 2021) untuk itu memerlukan hadirnya fasilitas pada rumah sakit sesuai dengan kaidah Islam untuk membantu penyembuhan, pemeliharaan kesehatan, sekaligus mampu menjadi sarana peningkatan keimanan seorang Muslim yang menjalani pengobatan dan pelayanan kesehatan. Fasilitas penting tersebut berawalan dari Instalasi Gawat Darurat atau biasa disingkat IGD, rawat jalan dan rawat inap yang termasuk pelayanan penyembuhan berjangka panjang.

Rumah Sakit Islam Asshobirin merupakan salah satu Rumah Sakit Islam (RSI) dengan akreditasi Rumah Sakit Umum Tipe C yang berlokasi di Jl. Raya Serpong Km. 11, Pondok Jagung, Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten. Fasilitas dan Layanan rawat jalan yang disediakan oleh RS Islam Asshobirin diantaranya Ambulance, Instalasi Gawat Darurat, Farmasi / Apotek, Ruang Operasi, Instalasi Gizi, Layanan Operasi, Katarak, Terapi Wicara, Bidan dan Perawat, Dokter Umum dan Dokter Spesialis. Selain itu, adapun fasilitas untuk penunjang medis diantaranya Laboratorium, Patologi Klinik, Radiologi rontgen, Ultrasonografi (USG), Elektrokardiogram (EKG), dan Fisioterapi. Untuk layana rawat inap pasien terdapat perawatan khusus dan intensif

(3)

yaitu ruang ICU, Ruang Isolasi, dan ruang perawatan bayi. Dan layanan ruang inap perawatan umum dengan pemmbagian ruang kelas I-III dan ruang inap kelas VIP.

Rumah Sakit Islam Asshobirin ini didirikan pada tahun 1992 dan merupakan rumah sakit umum swasta yang dikelola Yayasan Muslimin Tangerang. Rumah Sakit Islam Asshobirin dipimpin oleh direktur dr.Hj. Tri Widowati, MARS. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara RS Islam Asshobirin semakin berupaya untuk meningkatkan mutu pelayanan dan berupaya untuk menjadi rumah sakit yang memberikan pelayanan persalinan tingkat lanjutan bagi masyarakat yang memiliki kartu BPJS dan KIS. Untuk itu, pihak Rumah Sakit ingin melakukan penambahan pada fasilitas dan layanan yang disediakan dengan menambah jumlah TT (Tempat Tidur) dan kebutuhan ruang medis lainnya.

Perancangan Interior Rumah Sakit Islam Asshobirin dilakukan perancangan baru atau new design di daerah Tangerang Selatan, Banten dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan pelayanan kesahatan warga sekitar dengan memberikan fasilitas yang nyaman dan sesuai dengan kaidah agama Islam dan mampu memberikan pelayanan yang baik bagi fisik maupun psikologis untuk pasien melalui pendekatan Psikologi pengguna ruang yang diterapkan pada elemen interior.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang dan fenomena dari fasilitas dan layanan pada Rumah Sakit Islam Asshobirin yang diambil dari hasil survey masalah yang dapat di identifikasi adalah:

a. Kurangnya jumlah kebutuhan ruang pada rumah sakit islam Asshobirin yang mempengaruhi kenyamanan pada fasilitas dan pemilihan furnitur yang sesuai dengan tingkat keamanan & kenyamanan tinggi sesuai dengan antropometri.

b. Kurangnya penerapan standarisasi persyaratan ruang rumah sakit umum tipe C dan sistem sirkulasi ruang tidak mengikuti standar umum, dan tata kondisi ruang.

c. Suasana ruang yang kurang nyaman dapat mempengaruhi psikologis pasien sehingga aktivitas tidak optimal dan efektif. Contohnya penerapan intesitas dan warna cahaya, warna kamar rawat inap yang tidak tepat dan tidak beraturan akan memberi emosi negatif yang dapat mempengaruhi perilaku pengguna sehingga image pengguna pada ruang menjadi tidak sesuai.

(4)

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dijabarkan di atas, terdapat beberapa permasalahan yang dapat dirumuskan terkait dengan perancangan baru interior untuk Rumah Sakit Islam Asshobirin antara lain:

a. Bagimana mewujudkan sarana dan prasarana pelayanan Kesehatan untuk pasien Rumah Sakit Islam Asshobirin yang sesuai dengan standarisasi rumah sakit umum Tipe C?

b. Bagaiamana mewujudkan desain yang ramah, aman, dan nyaman secara fisik, serta mampu memberi pengaruh emosi postif pada psikologis pengguna Rumah Sakit Islam Asshobirin khususnya pada pasien?

1.4 Tujuan Perancangan dan Sasaran Perancangan 1.4.1 Tujuan Perancangan

Tujuan Perancangan baru Rumah Sakit Untuk dapat memfasilitasi kebutuhan sarana dan prasarana pada fasilitas pelayanan Kesehatan yang ada pada RS Islam Asshobirin dengan membuat suasana rumah sakit yang nyaman baik secara fisik maupun psikologis pengguna. Selain itu, dapat membantu penyembuhan pasien, meringankan kekhawatiran pengunjung dan mengurangi kejenuhan para staff dengan memerhatikan Kesehatan dan keselamatan para pengguna ruang di Rumah Sakit.

1.4.2 Sasaran Perancangan

Sasaran penulis menyesuaikan dengan permasalahan perancangan yang telah diungkapkan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan fasilitas Rumah Sakit Umum Kelas C berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No 3 Tahun 2020 dan tidak hanya fokus pada pelayanan yang diberikan, tapi juga memperhatikan pengaruh suasana ruang terhadap psikis pasien melalui pendekatan Psikologi Ruang.

1.5 Batasan Perancangan

Melihat permasalahan yang sangatlah luas supaya perancangan ini lebih terarah maka penulis melakukan pembatasan masalah, yaitu lingkup desain perancangan meliputi Instalasi Rawat Inap (IRNA), Instalasi Rawat Jalan (IRJ), serta fasilitas penujang umum lainnya seperti lobby, ruang tunggu, adiministrasi, farmasi dan area servis dengan luas lahan sebesar 2.300m2.

(5)

1.6 Manfaat Perancangan

Adapun manfaat yang diperoleh dari perancangan baru Rumah Sakit Islam Asshobirin ini antara lain:

a. Manfaat bagi masyarakat

Menyediakan fasilitas pelayanan Kesehatan yang sesuai dengan standarisasi Rumah Sakit Umum tipe C dan sebagai referensi dalam perancangan interior Rumah Sakit Islam.

b. Manfaat bagi Institusi

Adapun manfaat bagi institusi yaitu sebagai pembelajaran mengenai desain interior ruang publik khususnya Rumah Sakit Islam Asshobirin yang termasuk dalam katagori Rumah Sakit Umum tipe C.

c. Manfaat bagi Keilmuan Interior

Menambah referensi dalam keilmuan interior dalam perancangan Rumah Sakit Umum tipe C melalui pendekatan Psikologis Ruang.

1.7 Metode Perancangan

Metode perancangan yang digunakan pada perancangan baru interior Rumah Sakit Islam Asshobirin agar lebih sistematis, diantaranya dilakukan tahap sebagai berikut:

1.7.1 Tahapan Pengumpulan Data

Pengumpulan data mengenai sesuatu yang berhubungan dengan objek perancangan dan masalah pada objek perancangan. Pengumpulan data-data yang dibutuhkan untuk perancangan baru interior Rumah Sakit Islam Asshobirin ini dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya wawancara, observasi, studi lapangan dan dokumentasi dan pengumpulan data sekunder meliputi studi literatur dari berbagai jurnal, artikel, karya tugas akhir dan buku yang relevan dengan perancangan.

a. Wawancara

Dalam tahap ini secara langsung mengumpulkan sejumlah informasi yang dibutuhkan yaitu tentang Rumah Sakit Islam Asshobirin secara mendalam dengan cara tanya jawab. Wawancara dilakukan langsung di Rumah Sakit Islam Asshobirin. Tujuan dari wawancara dengan staff Rumah Sakit Islam Asshobirin untuk melihat gambaran fasilitas dan pelayanan yang ada untuk mengetahui kebutuhan yang diperlukan. Wawancara juga dilakukan dengan masyarakat untuk mengetahui fasilitas dan layanan seperti apa yang dibutuhkan oleh pengunjung.

b. Observasi

(6)

Observasi atau survei lapangan dengan cara pengamatan langsung yang dilakukan di lokasi esksisting dari Rumah Sakit Islam Asshobirin di Jl. Raya Serpong Km. 11, Pondok Jagung, Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten. Dengan tujuan untuk mengetahui informasi mengenai kondisi eksisting dari Rumah Sakit Islam Asshobirin. Dan mengetahui batasan rancangan melalui buku sejarah, narasumber, peraturan daerah maupun pemerintah dan mengetahui aktivitas dan masalah pada objek survey.

c. Studi Banding

Studi Banding dilakukan kebeberapa rumah sakit umum tipe C yang memilki konsentrasi perancangan rumah sakit umum dan pelayanan Kesehatan yang disediakan, pengamatan dilakukan di ketiga objek berikut ini:

• Nama Tempat : Rumah Sakit Islam Sari Asih Ar-Rahmah

Alamat : Jl. K.S Tubun No.44 Koang Jaya Kec. Karawaci, Tangerang

• Nama Tempat : Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tangerang

Alamat :Jl. Pulau Putri Raya Perumahan Modernland, Kel. Kelapa Indah Kec. Tangerang, Banten

• Nama Tempat : Rumah Sakit Umum Mitra Keluarga Gading Serpong

Alamat : Jl. Raya Legok - Karawaci, Kel. Medang, Kab. Tangerang 15334

d. Dokumentasi

Dokumentasi adalah sebuah kegiatan untuk menghasilkan evidence atau bukti digital untuk dianalisa lebih detail mengenai data-data maupun kondisi eksistingnya. Dokumentasi dilakukan pada saat mengunjungi lokasi perancangan maupun studi banding dengan cara membuat sketsa detail bangunan atau memotret sisi bangunan terkait kelebihan dan kekurangan objek yang akan dirancang.

e. Studi Literatur

Studi literatur yang dilakukan adalah untuk mendapatkan data dan referensi yang dijadikan acuan dalam melakukan perancangan. Referensi tersebut bisa didapatkan dari artikel, buku, jurnal, makalah penelitian dan situs-situs daring terpercaya lainnya. Adapun beberapa Aturan-aturan pendukung dalam perancangan baru Rumah Sakit Islam Asshobirin.

(7)

1.8 Kerangka Berpikir

PERANCANGAN BARU RUMAH SAKIT ISLAM ASSHOBIRIN DI TANGERANG SELATAN DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI RUANG

LATAR BELAKANG

PENGUMPULAN DATA

ANALISIS DATA

TUJUAN PERANCANGAN

SINTESA DATA

KONSEP PERANCANGAN

OUTPUT

GAMBAR KERJA PRESENTASI

STUDI PUSTAKA STUDI PRESEDEN STUDI JURNAL/

TUGAS AKHIR PERATURAN WAWANCARA

OBSERVASI

DOKUMENTASI STUDI LAPANGAN

Perancangan baru interior Rumah Sakit Islam Asshobirin perlu dilakukan karena masih kurangnya kebutuhan ruang untuk prasarana fasilitas pelayanan pada rumah sakit dan kurangnya penerapan persyaratan ruang atau standarisasi RSU tipe C pada interior rumah sakit Islam Asshobirin.

memfasilitasi kebutuhan sarana dan prasarana pada fasilitas pelayanan Kesehatan yang ada pada RS Islam Asshobirin dengan membuat suasana rumah sakit yang nyaman baik secara fisik maupun psikologis pengguna.

Dan dapat membantu penyembuhan pasien, meringankan kekhawatiran pengunjung dan mengurangi kejenuhan para staff dengan memerhatikan Kesehatan dan keselamatan para pengguna ruang di Rumah Sakit.

Kurangnya jumlah kebutuhan ruang yang mempengaruhi kenyamanan pada fasilitas Kurangnya penerapan standarisasi persyaratan ruang rumah sakit umum tipe C dan sistem sirkulasi ruang tidak mengikuti standar umum, dan tata kondisi ruang.

Suasana ruang yang kurang nyaman dapat mempengaruhi psikologis pasien sehingga aktivitas tidak optimal dan efektif.

IDENTIFIKASI MASALAH DATA SEKUNDER

DATA PRIMER

Konsep Perancangan Desain Interior

Data Proyek

Konsep Perancangan

Organisasi ruang dan layout furniture

Konsep Visual

Persyaratan Umum Ruang

RUMUSAN MASALAH

(8)

1.9 Sistematika Pembahasan

Sistematika penulisan pada laporan perancangan baru Rumah Sakit Islam Asshobirin ini antara lain sebagai berikut:

BAB I- PENDAHULUAN

Bab ini berisi uraian mengenai latar belakang pengangkatan perancangan Rumah Sakit Islam Asshobirin, Identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan dan sasaran perancangan, ruang lingkup dan batasan masalah, manfaat perancangan, metoda perancangan, Kerangka berfikir dan sistematika penulisan.

BAB II- KAJIAN LITERATUR DAN DATA PERANCANGAN

Bab ini berisi uraian mengenai kajian literatur dan acuan standarisasi yang akan diterapkan didalam konsep perancangan interior Rumah Sakit Islam Asshobirin.

Dimulai dari teori Bangunan Rumah Sakit Umum tipe C, Instalasi Rawat Inap (IRNA), Instalasi Rawat Jalan (IRJ), serta fasilitas penujang umum lainnya seperti lobby, ruang tunggu, adiministrasi, farmasi dan area servis.

BAB III- ANALISIS STUDI BANDING, DESKRIPSI PROYEK & ANALISIS DATA

Bab ini berisikan uraian tentang data studi banding menngenai objek perancangan ,deskripsi proyek perancangan, analisis data terkait analisa site, bangunan eksisting, kebutuhan ruang, alur aktivitas, dan lain-lainnya.

BAB IV- KONSEP PERANCANGAN DESAIN INTERIOR

Bab ini berisi uraian tema perancangan, konsep perancangan, organisasi ruang, layout, bentuk, material, warna, pencahayaan dan penghawaan, keamanan dan akustik beserta pengaplikasiannya pada Rumah Sakit Islam Asshobirin.

BAB V- KESIMPULAN & SARAN

Merupakan bagian akhir dari penulisan laporan yang berisikan simpulan,saran dan kritik bagi pengguna dan penulis.

(9)

BAB II

KAJIAN LITERATUR DAN STANDARISASI

2.1 Definisi Proyek 2.1.1 Definisi Rumah Sakit

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 3 Tahun 2020 Pasal 1menyebutkan bahwa Rumah Sakit adalah Institusi pelayanan Kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Menurut American Hospital Assosiation (1974), Rumah sakit adalah suatu alat organisasi yang terdiri dari tenaga medis professional yang terorganisir serta sarana kedokteran, asuhan keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien. Menurut WHO (World Health Organization), rumah sakit adalah bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang didalamnya terdiri dari tenaga medis professional yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan berupa rawat jalan, rawat inap, dan gawat darurat. Adapun pengertian Rumah Sakit Umum yaitu Rumah Sakit yang memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit.

2.1.2 Tujuan Rumah Sakit

Berdasarkan UU No 14 Tahun 2009, menyebutkan bahwa tujuan rumah sakit adalah sebagai berikut :

a. Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan Kesehatan

b. Memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit

c. Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit

d. Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya manusia rumah sakit dan rumah sakit.

(10)

2.1.3 Fungsi Rumah Sakit

Menurut Pasal 4 UU No 14 Tahun 2009 Rumah sakit memiliki fungsi dan tugas. Tugas rumah sakit adalah memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna.

Sementara fungsi dari rumah sakit adalah :

a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan Kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit

b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis

c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan Kesehatan

d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang Kesehatan

Menurut UU No 14 Tahun 2009 , Tanggung jawab pemerintah, baik pemerintah pusat ataupun daerah adalah:

a. Menyediakan Rumah sakit berdasarkan kebutuhan masyarakat

b. Menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan di rumah sakit bagi fakir miskin, atau orang tidak mampu sesuai ketentuan peraturan perundang undangan

c. Membina dan mengawasi penyelenggaraan rumah sakit

d. Memberikan perlindungan kepada rumah sakit agar dapat memberikan pelayanan kesehatan secara professional dan bertanggung jawab

e. Memberikan perlindungan kepada masyarakat pengguna jasa pelayanan rumah sakit sesuai dengan ketentuan perundang-undangan

f. Menggerakan peran serta masyarakat dalam pendirian rumah sakit sesuai dengan jenis pelayanan yang dibutuhkan masyarakat

g. Menyediakan informasi kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat

h. Menjamin pembiayaan pelayanan kegawat daruratan di rumah sakit akibat bencana dan kejadian luar biasa

i. Menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan dan mengatur pendistribusian dan penyebaran alat kesehatan berteknologi tinggi dan bernilai tinggi

(11)

2.1.4 Bentuk Rumah Sakit

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 3 Tahun 2020 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit, Bentuk rumah sakit terdiri dari:

a. Rumah Sakit Statis merupakan rumah sakit yang didirikan di suatu lokasi dan bersifat permanen untuk jangka waktu yang lama untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan kegawat daruratan.

b. Rumah Sakit Bergerak merupakan Rumah sakit yang siap guna dan bersifat sementara dalam jangka waktu tertentu dan dapat dipindahkan dari satu loksi ke lokasi lain, yang dapat berbentuk bus, pesawat, kapal laut, caravan, gerbong kereta api, atau container. Pada daerah tertinggal, perbatasan, kepulauan, daerah yang tidak mempunyai rumah sakit, dan/atau kondisi bencana dan situasi darurat lainnya.

Dalam memberikan pelayanannya, rumah sakit bergerak harus melapor kepada kepala dinas kesehatan daerah kabupaten/kota tempat pelayanan diberikan.

c. Rumah Sakit Lapangan merupakan Rumah sakit yang didirikan di lokasi tertentu dan bersifat sementara selama kondisi darurat dan masa tanggap darurat bencana, atau selama pelaksanaan kegiatan tertentu. Dapat berbentuk tenda, container, atau bangunan permanen yang difungsikan sementara sebagai rumah sakit.

Berdasarkan bentuknya, Perancangan Interior Rumah Sakit Islam Asshobirin ini termasuk kedalam Rumah Sakit Statis yang didirikan di Jl. Raya Serpong Km. 11, Tangerang Selatan dan bersifat permanen dan untuk jangka waktu yang lama.

2.1.5 Jenis Rumah Sakit

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 3 Tahun 2020 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit, Jenis rumah sakit terbagi menjadi dua (2), yaitu :

a. Rumah Sakit Umum

Rumah sakit umum yaitu sebuah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit.

b. Rumah Sakit Khusus

Rumah sakit khusus yaitu sebuah rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan lainnya. Salah satu kelebihan dari rumah sakit khusus yaitu dapat menyelenggarakan pelayanan lain diluar kekhususannya. Rumah sakit khusus merupakan sebuah rumah sakit yang

(12)

ditetapkan Menteri, atau merupakan penggabungan jenis kekhususan yang terkait keilmuannya atau jenis kekhususan baru.

Sehingga dapat disimpulkan, bahwa Perancangan Baru Inteior Rumah Sakit Islam Asshobirin ini termasuk kedalam Rumah Sakit Umum yang memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit.

2.1.6 Klasifikasi Rumah Sakit

a. Berdasarkan Jenis Kepemilikan Rumah Sakit terbagi atas:

• Rumah Sakit Umum Pemerintah

Rumah sakit umum pemerintah adalah rumah sakit umum milik pemerintah, baik pusat maupun daerah, departemen pertahanan dan keamanan, maupun Badan Usaha Milik Negara. Rumah sakit umum pemerintah dapat dibedakan berdasarkan pada unsur pelayanan, ketenagaan, fisik, dan peralatan :

- Rumah Sakit Kelas A

Rumah Sakit Kelas A merupakan rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan kemampuan medis yang bersifat spesialistik dan subspesialistik luas.

Mempunyai kapasitas tempat tidur minimal 400 buah (Permenkes No 3 Tahun 2020) dan merupakan rumah sakit rujukan tinggi seperti RSUP Dr.

Cipto Mangunkusumo.

- Rumah Sakit Kelas B

Rumah Sakit Kelas B merupakan Rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik sekurang-kurangnya 11 jenis meliputi Pelayanan medik umum, Pelayanan gawat darurat, Pelayanan medik spesialis dasar, Pelayanan spesialis penunjang medik, Pelayanan medik spesialis lain, Pelayanan medik spesialis gigi-mulut, Pelayanan medik subspesialis, Pelayanan keperawatan, Pelayanan kebidanan, Pelayanan penunjang non-klinik. Rumah sakit kelas B harus mempunyai kapasitas tempat tidur minimal 200 buah (Permenkes No 3 Tahun 2020).

- Rumah Sakit Kelas C

Rumah Sakit Kelas C merupakan Rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 4 Pelayanan medik spesialis dasar dan 4 Pelayanna spesialis penunjang medik. Rumah sakit

(13)

kelas C harus mempunyai kapasitas tempat tidur minimal 100 buah (Permenkes No 3Tahun 2020).

- Rumah Sakit Kelas D

Rumah Sakit Kelas D merupakan Rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik sekurang-kurangnya 2 pelayanan medik spesialis dasar. Rumah sakit kelas D harus memiliki kapasitas tempat tidur minimal 50 buah (Permenkes No 3 Tahun 2020)

• Rumah Sakit Umum Swasta

Rumah sakit yang dimiliki dan diselenggarakan oleh yayasan, organisasi keagamaan atau badan hukum lain dan dapat juga bekerjasama dengan institusi pendidikan. Rumah sakit ini bertanggung jawab terhadap penyantun dana dan umumnya tidak memungut pajak kepada pelanggan mereka. Rumah sakit ini dapat bersifat profit dan non-profit

- Rumah Sakit Umum Swasta Pratama , yaitu rumah sakit umum swasta yang memberikan pelayanan medic bersifat umum, setara dengan rumah sakit pemerintah kelas D

- Rumah Sakit Umum Swasta Madya , yaitu rumah sakit umum swasta yang memberikan pelayanan medic bersifat umum dan spesialistik dalam 4 cabang, setara dengan rumah sakit pemerintah kelas C

- Rumah Sakit Umum Swasta Utama , yaitu rumah sakit umum swasta yang memberikan pelayanan medik bersifat umum, setara dengan rumah sakit pemerintah kelas B.

Berdasarkan kepemilikannya , Perancangan Interior Rumah Sakit yang dikerjakan ini termasuk ke dalam kategori Rumah Sakit Umum Swasta Madya, karena hingga saat ini Rumah Sakit yang akan dirancang memiliki kapasitas ruang rawat inap sebanyak 180 tempat tidur, yang terdiri dari :

- VVIP : 2 Unit - VIP : 6 Unit - Kelas I : 17 Unit - Kelas II : 87 Unit - Kelas III : 42 Unit - R.Isolasi : 12 Unit

- Perina (R.Rawat Bayi) : 14 Unit

(14)

b. Berdasarkan Bentuk Pelayanan Rumah Sakit terbagi atas:

• Rumah Sakit Umum

Rumah sakit yang melayani semua bentuk pelayanan kesehatan sesuai dengan kemampuannya. Pelayanan kesehatan yang diberikan rumah sakit bersifat dasar, spesialistik, dan subspesialistik.

• Rumah Sakit Khusus

Rumah sakit yang memberikan pelayanan Kesehatan berdasarkan jenis pelayanan tertentu seperti rumah sakit kanker, rumah sakit kusta, rumah sakit paru, rumah sakit mata, dll.

Berdasarkan bentuk pelayanan, Rumah Sakit Islam Asshobirin termasuk ke dalam kategori Rumah sakit Umum Tipe C.

c. Berdasarkan Bentuk Pelayanan Rumah Sakit terbagi atas:

• Rumah Sakit untuk perawatan Jangka Pendek

Rumah sakit ini melayani pasien dengan penyakit-penyakit kambuhan yang dapat dirawat dalam periode waktu yang relative pendek, misalnya rumah sakit yang menyediakan pelayanan spesialis.

• Rumah Sakit untuk perawatan Jangka Panjang

Rumah sakit ini melayani pasien dengan penyakit-penyakit kronik yang harus berobat secara tetap dan dalam jangka waktu yang panjang. Misalnya Rumah sakit rehabilitasi, dan rumah sakit jiwa.

Berdasarkan pelayanannya, Rumah Sakit Islam Asshobirin termasuk ke dalam kategori Rumah sakit untuk perawatan jangka pendek dengan adanya penyediaan pelayanan dokter spesialis.

d. Berdasarkan Hubungannya dengan Lembaga Pendidikan terbagi atas:

• Rumah Sakit Pendidikan

Rumah Sakit Pendidikan merupakan rumah sakit yang tidak menyelenggarakan program latihan untuk berbagai profesi.

• Rumah Sakit Non-pendidikan

Rumah Sakit Non Pendidikan merupakan rumah sakit yang tidak menyelenggarakan program latihan untuk berbagai profesi dan tidak memiliki hubungan kerjasama dengan universitas.

(15)

Berdasarkan hubungannya dengan lembaga Pendidikan, Rumah Sakit Islam Asshobirin termasuk ke dalam kategori Rumah sakit non-pendidikan.

2.1.7 Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No 3 Tahun 2020, pelayanan kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit umum, terdiri atas:

a. Pelayanan Medik Spesialis Dasar

Pelayanan medik spesialis penyakit dalam, obstetric dan ginekologi, bedah dan kesehatan anak.

b. Pelayanan Medik Spesialis Penunjang

Pelayanan medik radiologi, patologi klinik, patologi anatomi, anaestesi dan reanimasi, dan rehabilitasi medik.

c. Pelayanan Medik Spesialis Lain

Pelayanan medik spesialis telinga hidung dan tenggorokan, mata, kulit dan kelamin, kedokteran jiwa, syaraf, gigi dan mulut, jantung, paru, bedah syaraf, ortopedi.

d. Pelayanan Medik Sub-Spesialis

Satu atau lebih pelayanan yang berkembang dari setiap cabang medik spesialis e. Pelayanan Medik Sub-Spesialis Dasar

Pelayanan sub-spesialis yang berkembang dari setiap cabang medik spesialis 4 dasar.

f. Pelayanan Medik Sub-Spesialis Lain

Pelayanan sub-spesialis yang berkembang dari setiap cabang medik spesialis lainnya.

2.2 Rumah Sakit Umum

2.2.1 Definisi Rumah Sakit Umum

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No 3 Tahun 2020, menyatakan bahwa Rumah Sakit adalah institusi pelayanan Kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Menurut Jurnal Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit, menyatakan bahwa Rumah sakit umum yaitu Rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan semua jenis penyakit dari yang bersifat dasar sampai dengan sub-spesialistik.

(16)

2.2.2 Definisi Rumah Sakit Islam

Pengertian Rumah Sakit Islam menurut asosiasi rumah sakit Islam Majelis Syuro Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) adalah rumah sakit yang seluruh aktifitasnya berdasar pada prinsip Maqashid al-Syariah al-Islamiyah (tujuan syariah Islam). Sertifikasi Rumah Sakit Syariah berfungsi untuk meningkatkan kualitas pelayanan, sarana dakwah Islam di rumah sakit, memberikan jaminan bahwa operasional RS dilaksanakan sesuai syariah, baik untuk pengelolaan manajemen maupun pelayanan pasien, serta sebagai pedoman bagi pendiri (pemilik) dan pengelola rumah sakit dalam pengelolaan sesuai prinsip syariah. Tidak ada perbedaan pada standarisasi profesionalitas teknik medis dengan Rumah Sakit Umum, kebutuhan obat dan tata cara perawatan medisnya seperti Rumah Sakit Umum yang membedakan hanya ada spesifikasi Syariah pada pelayanan kerohaniannya.

Beberapa contoh implementasi syariah di antaranya kewajiban rumah sakit untuk mengikuti dan merujuk fatwa Majelis Ulama Indonesia terkait dengan masalah hukum Islam kontemporer bidang kedokteran (al-masa’il al-fiqhiyah al-waqi’iyah al- thibbiyah), ketersediaan panduan tata cara ibadah yang wajib dilakukan pasien (antara lain bersuci dan shalat bagi yang sakit), kewajiban menggunakan obat-obatan, makanan, minuman, kosmetika, dan barang gunaan halal yang telah mendapat sertifikat Halal, mendapat persetujuan Dewan Pengawas Syariah bila menggunakan obat yang tidak mengandung unsur yang haram, serta dalam kondisi terpaksa (darurat) penggunaan obat yang mengandung unsur haram wajib melakukan prosedur informed consent/persetujuan pasien.

2.2.3 Rumah Sakit Umum Tipe C

2.2.3.1 Persyaratan Rumah Sakit Umum Tipe C

Dalam membangun Rumah Sakit Umum ditetapkan berdasarkan pelayanan, sumber daya manusia, peralatan, sarana dan prasarana, serta administrasi dan manajemen, berikut syarat-syarat Rumah Sakit Umum Tipe C :

a. Pelayanan

• Medik

- Pelayanan Unit Gawat Darurat (UGD) beroperasi 24 jam

- Umum: medik dasar, gigi mulut, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana

(17)

- Spesialis dasar: penyakit dalam, kesehatan anak, bedah, obsterti, ginekologi - Spesialis penunjang: anestesiologi, radiologi, patologi klinik

- Spesialis gigi dan mulut minimal satu pelayanan

• Farmasi

- Pengelolaan ketersediaan farmasi

- Alat kesehatan dan bahan medis setelah digunakan - Pelayanan farmasi klinik

• Keperawatan dan Kebidanan

• Penunjang Klinik - Bank darah

- Perawatan intensif untuk semua golongan usia dan jenis penyakit - Gizi

- Sterilisasi instrumen dan rekam medik

• Penunjang Non-Klinik - Laundy

- Dapur

- Teknik dan pemeliharaan fasilitas - Pengelolaan limbah

- Gudang - Ambulans

- Sistem informasi dan komunikasi - Pemulasaraan jenazah

- Sistem penanggulangan kebakaran - Pengelolaan gas medik

- Pengelolaan air bersih

• Rawat Inap

- Jumlah tempat tidur kelas III paling sedikit 20% dari seluruh tempat tidur untuk rumah sakit umum swasta

- Perawatan intensif 5% dari seluruh tempat tidur untuk rumah sakit umum swasta

b. Sumber Daya Manusia

• Tenaga Medis

(18)

- Untuk medik dasar paling sedikit 9 dokter umum

- Untuk medik gigi dan mulut paling sedikit 2 dokter gigi umum - Untuk setiap medik spesialisasi dasar paling sedikir 2 dokter spesialis - Untuk setiap medik spesialisasi penunjang paling sedikit 1 dokter spesialis - Untuk setiap medik gigi dan mulut paling sedikit 1 dokter gigi spesialis

• Tenaga kefarmasian

- 1 orang apoteker untuk kepala instalasi farmasi rumah sakit

- 2 orang apoteker yang bertugas di kamar rawat inap dibantu oleh 4 orang tenaga teknis kefarmasian

- 4 orang apoteker yang bertugas di kamar rawat inap dibantu oleh 8 orang tenaga teknis kefarmasian

- 1 orang apoteker untuk koordinasi penerimaan, distribusi dan produksi difarmasi klinik rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tanaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian rumah sakit.

• Tenaga keperawatan Jumlah kebutuhan tenaga perawat dihitung melalui perbandingan 2 perawat untuk 3 tempat tidur.

• Tenaga kesehatan lain dan Tenaga non kesehatan, jumlah dan kualifikasi disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan rumah sakit tersebut.

c. Peralatan

• Peralatan rumah sakit umum kelas C harus memenuhi standar sesuai dengan ketentuan peraturan perudang-undangan.

• Peralatan paling sedikit terdiri dari peralatan medis untuk instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, rawat intensif, rawat operasi, persalinan, radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah, rehabilitasi medik, farmasi, instalasi gizi dan kamar jenazah.

2.2.3.2 Persyaratan Rumah Sakit Umum Tipe C a. Zonasi

Pengkategorian pembagian area atau zonasi rumah sakit adalah zonasi berdasarkan tingkat resiko terjadinya penularan penyakit, zonasi berdasarakan privasi dan zonasi berdasarkan pelayanan.

(19)

Tingkat resiko penyebaran penyakit

privasi pelayanan

Resiko rendah:

Kesekretariatan Administrasi Ruang arsip Rekam medis

Area public:

Mempunyai akses langsung dengan lingkungan luar

Poliklinik IGD Farmasi

Pelayanan medik dan perawatan:

Instalasi rawat jalan Instalasi gawat darurat Instalasi rawat inap Instalasi bedah Rehabilitasi medik

Instalasi kebidanan dan penyakit kandungan

Instalasi perawatan intensif (ICU/ICCU/PICU/NICU) Resiko sedang:

Rawat inap non-penyakit menular

Instalasi rawat jalan

Area semi public:

Menerima tidak berhubungan langsung dengan lingkungan luarrumah sakit, umumnya

area yang menerima beban kerja dari area public

Laboratorium Radiologi

Rehabilitasi medik

Penunjang danoperasional Instalasi farmasi:

Radiodiagnostik

Lab. Instalasi sterilisasi pusat Dapur utama

Laundry/linen Pemulasaran Instalasi sanitasi

Instalasi pemeliharaan sarana

Resiko sangat tinggi:

Ruang bedah IGD

Ruang bersalin Ruang patologi

Area privat:

Umumnya area tertutup yang dibatasi

Instalasi bedah ICU/ICCU

Instalasi kebidanan dan penyakit kandungan Ruang rawat inap

Penunjang umum dan administrasi:

Kesekretariatan dan akutansi

Rekam medik Logistic dan Gudang

Perencanaan dan

pengembangan

System pengawasan internal (SPI)

Pendidikan dan penelitian SDM pengadaan dan IT

(20)

b. Alur Sirkulasi Pasien

c. Alur Sirkulasi Instalasi Rawat Jalan

(21)

d. Alur Sirkulasi Instalasi Gawat Darurat (IGD)

e. Alur Sirkulasi Instalasi Radiologi

(22)

f. Alur Sirkulasi Instalasi Farmasi

g. Alur Sirkulasi Instalasi Rawat Inap

(23)

h. Alur Sirkulasi Instalasi Perawatan Intensif (ICU)

i. Alur Sirkulasi Instalasi Gizi

(24)

2.3 Standarisasi Rumah Sakit Umum Tipe C 2.3.1 Area Pemeriksaan

Gambar diatas merupakan ilustrasi mengenai berbagai jarak bersih yang disarankan di sekitar meja periksa. Terutama area periksa dokter harus disediakan ruang sekitar 76,2 cm untuk dokter dapat melakukan kegiatannya.

2.3.2 Area Pos Perawat

Gambar diatas merupakan pos kerja umum bagi perawat serta berbagai jarak bersih yang diperlukan untuk mengakomodasi ukuran manusia yang digunakan. Adapun ukuran ruang sebesar 91,4 cm yang diperlukan sebagai jarak bersih antara meja dan konter bagian belakang.

(25)

2.3.3 Area Kamar Rumah Sakit

Gambar diatas merupakan sebuah ilustrasi kamar pasien yang berukuran 4,57m.

Berdasarkan gambar diatas, zona sirkulasi atau aktivitas sebesar 76,2 cm yang hanya diperoleh pada dua (2) sisi tempat tidur.

(26)

2.4 Persyaratan Teknis Bangunan Rumah Sakit Umum Tipe C

Berdasarkan Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan RI tentang Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit Umum Kelas B berdasarkan Permenkes No 24 Tahun 2016 tentang Persyaratan Teknis Bangunan Rumah Sakit pada bagian desain komponen bangunan rumah sakit umum kelas B ini mempunyai syarat- syarat sebagai berikut:

2.4.1 Instalasi Rawat Jalan

Fungsi dari Instalasi rawat jalan adalah sebagai tempat konsultasi, penyelidikan, pemeriksaan dan pengobatan pasien oleh dokter ahli di bidang masing-masing yang disediakan untuk pasien yang membutuhkan waktu singkat untuk penyembuhannya atau tidak memerlukan pelayanan perawatan.

a. Tata Ruang

• Sistem sirkulasi pasien dilakukan dengan satu pintu (Sirkulasi masuk dan keluar pasien pada pintu yang sama)

• Area Publik, seperti ruang tunggu di poliklinik harus cukup luas. Serta terdapat pemisahan ruang tunggu pasien untuk penyakit infeksi dan non infeksi.

• Letak klinik anak tidak diletakan berdekatan dengan Klinik Paru, sebaiknya klinik anak berdekatan dengan klinik kebidanan

• Sirkulasi petugas dan sirkulasi pasien dipisahkan b. Lantai

• Tidak terbuat dari bahan yang memiliki lapisan permukaan dengan porositas yang tinggi yang dapat menyimpan debu

• Mudah dibersihkan dan tahan terhadap gesekan

• Penutup lantai harus berwarna cerah dan tidak menyilaukan mata

• Memiliki pola lantai dengan garis alur yang menerus keseluruh ruangan pelayanan

• Pada daerah dengan kemiringan kurang dari 7 , penutup lantai harus terbuat dari lapisan permukaan yang tidak licin (walaupun dalam kondisi basah)

• Khusus untuk daerah yang sering berkaitan dengan bahan kimia, daerah yang mudah terbakar, maka bahan penutup lantai harus dari bahan yang tahan api, cairan kimia dan benturan.

c. Dinding

• Dinding harus mudah dibersihkan, tahan cuaca dan tidak berjamur

(27)

• Lapisan penutup dinding harus bersifat non porosif (tidak mengandung pori- pori) sehingga dinding tidak dapat menyimpan debu

• Warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata

• Khusus pada ruangan-ruangan yang berkaitan dengan aktivitas anak, pelapis dinding warna-warni dapat diterapkan untuk merangsan aktivitas anak

d. Langit-langit

• Tinggi langit-langit diruangan, minimal 2,80 m dan tinggi di selasar (koridor) minimal 2,40 m

• Rangka langit-langit harus kuat

• Bahan langit-langit antara lain gypsum, acoustic tile, GRC (Grid Rainforce Concrete), bahan logam/metal

2.4.2 Instalasi Gawat Darurat

Pelayanan di Ruang Gawat Darurat rumah sakit harus dapat memberikan pelayanan 24 jam secara terus menerus 7 hari dalam seminggu. Instalasi Gawat Darurat rumah sakit kelas B setara dengan unit pelayanan gawat darurat bintang III, yaitu memiliki dokter spesialis empat besar (dokter spesialis bedah, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis anak, dokter spesialis kebidanan) yang siaga ditempat (on-site) dalam 24 jam.

Dokter umum siapa ditempat (on-site) 24 jam yang memiliki kualifikasi medic untuk pelayanan GELS (General Emergency Life Support) dan/atau ATLS+ACLS dan mampu memberikan resusitasi dan stabilisasi kasus dengan masalah ABC (Airway, Breathing, Circulation) untuk terapi definitive serta memiliki alat transportasi untuk rujukan dan komunikasi yang siaga 24 jam.

a. Tata Ruang

• Sistem sirkulasi pasien dilakukan dengan satu pintu (Sirkulasi masuk dan keluar pasien pada pintu yang sama)

• Area Publik, seperti ruang tunggu di poliklinik harus cukup luas.Serta terdapat pemisahan ruang tunggu pasien untuk penyakit infeksi dan non infeksi

• Sirkulasi petugas dan sirkulasi pasien dipisahkan

• Tidak terbuat dari bahan yang memiliki lapisan permukaan dengan porositas yang tinggi yang dapat menyimpan debu

• Mudah dibersihkan dan tahan terhadap gesekan

(28)

b. Lantai

• Tidak terbuat dari bahan yang memiliki lapisan permukaan dengan porositas yang tinggi yang dapat menyimpan debu

• Mudah dibersihkan dan tahan terhadap gesekan

• Penutup lantai harus berwarna cerah dan tidak menyilaukan mata

• Memiliki pola lantai dengan garis alur yang menerus keseluruh ruangan pelayanan

• Pada daerah dengan kemiringan kurang dari 7 penutup lantai harus terbuat dari lapisan permukaan yang tidak licin (walaupun dalam kondisi basah)

• Khusus untuk daerah yang sering berkaitan dengan bahan kimia, daerah yang mudah terbakar, maka bahan penutup lantai harus dari bahan yang tahan api, cairan kimia dan benturan.

c. Dinding

• Dinding harus mudah dibersihkan, tahan cuaca dan tidak berjamur

• Lapisan penutup dinding harus bersifat non porosif (tidak mengandung pori- pori) sehingga dinding tidak dapat menyimpan debu

• Warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata

• Khusus pada ruangan-ruangan yang berkaitan dengan aktivitas anak, pelapis dinding ruangan yang berkaitan dengan aktivitas anak, pelapis dinding warna- warni dapat diterapkan untuk merangsang aktivitas anak

d. Langit-langit

• Tinggi langit-langit di ruangan, minimal 2,80 m dan tinggi di selasar (koridor) minimal 2,40 m

• Rangka langit-langit harus kuat

• Bahan langit-langit antara lain gypsum, acoustic tile, GRC (Grid Rainforce Concrete) bahan logam/metal

2.5 Pendekatan Desain 2.5.1 Definisi Psikologi

Kata “Psychology” berasal dari dua kata Yunani. Kata pertama, psyche atau psikis, berarti “breath” atau napas yang kemudian memiliki arti tambahan “soul” atau jiwa, karena dipercaya bahwa selama napas masih ada, maka jiwa belum meninggalkan tubuh. Untuk arti yang lebih luas, padanan kata soul atau anima dalam bahasa Latin

(29)

memiliki arti “mind” atau pikiran. Kata kedua dalam bahasa Yunani yaitu logos berarti

“word” atau kata, yang kemudian artinya diperluas menjadi “reason”, “discourse”, hingga “sains”. Sehingga secara etimologis, psikologi adalah ilmu tentang pikiran, ilmu yang mempelajari gejala pikiran, kejiwaan, dan perilaku manusia.

Pengetahuan ini didapat melalui sebuah pengalaman-pengalamn yang dirasakan oleh manusia melalui alat indera, perasaa, tingkah laku, dan sikap. Dalam proses persepsi, alat indera akan menangkap stimuli dan diubah menjadi sinyal yang dapat dimengerti oleh otak. Selanjutnya akan diolah hingga manusia dapat menginterpretasikan pesan yang telah diproses oleh alat indra. Proses ini disebut sebagai proses sensasi. Di dalam rumah sakit, manusia akan menangkap sinyal suara yang sunyi, hidung mencium bau obat, dan mata melihat staf medis dengan alat penunjang kesehatannya. Sinyal tersebut memberi respon pada manusia hingga menyadari aroma obat berasal dari apotek, manusia berpakaian seragam adalah seorang staf medis. Dengan ini lah manusia memperoleh pengetahuan untuk berinteraksi dengan lingkungannya

2.5.2 Psikologi Pengguna Ruang

Di dalam rumah umum tipe C terdapat beberapa pengguna, yaitu pasien, pengunjung, dan pengelola rumah sakit. Pasien sebagai pengguna utama yang memiliki tujuan untuk melakukan pengobatan rawat jalan maupun rawat inap ke dokter umum atau spesilis yang ada di Rumah Sakit Umum. Psikologi pengguna ini dijadikan sebagai acuan dalam proses mendesain setiap ruang yang dibutuhkan. Berikut adalah psikologis pengguna dalam Rumah Sakit Islam Asshobirin:

a. Pasien sakit merupakan pasien yang datang dalam kondisi sedang sakit membutuhkan perawatan dan penanganan tenaga medis. Biasanya pasien sakit akan memberi reaksi psikologis seperti perasaan tertekan, jenuh karena tidak nyaman dengan lingkungan yang tidak sesuai dengan dunianya sehingga pasien menginginkan lingkungan yang sesuai dengan dunianya, serta menginginkan rasa kebersamaan bersama orang-orang terdektnya (Ardini, E., & Sarihati, T., 2018).

Kartono (dalam Estiningtyas, 2010:85) menjelaskan bahwa setiap pasien anak sakit juga mendapatkan efek psikologis dari perawatannya di rumah sakit akibat beban dari penyakitnya itu sendiri yang menimbulkan tekanan dan mental bagi pasien.

adapun beban psikologis anak yang sakit, yaitu :

- Tertekan, adanya rasa rendah diri yang mengakibatkan anak merasa tertekan.

(30)

- Jenuh, ketidaknyamanan yang dibuatnya sendiri menyebabkan perawatan terasa menjadi lebih lama.

- Keinginan kebersamaan, menginginkan orang tua, keluarga dan teman sependeritaan.Keinginan lingkungan yang sesuai dengan dunianya (dunia anak- anak), anakanak membutuhkan lingkungan sesuai untuk melepaskan beban psikologisnya.

b. Pengunjung Rumah Sakit

Pengunjung merupakan salah satu dari pengguna rumah sakit yang juga membutuhkan fasilitas saat berada di rumah sakit. Pengunjung rumah sakit datang bersama keluarga pasien, kerabat pasien, atau pengunjung yang hanya mengantar pasien ke rumah sakit.

Pengunjung yang datang ke rumah sakit pada umumnya akan memeliki persepsi terhadap lingkungannya. Stimuli dalam tubuhnya akan merespon dan membentuk perilaku. Seperti kecemasan saat mengantar pasien dapat mengubah perilakunya menjadi tidak tenang, gelisah, dan merasa tidak nyaman saat menunggu. Hal ini dikarenakan rasa kekhawatiran yang hadir saat berada di dalam rumah sakit.

Sehingga tidak jarang keluarga/kerabat pasien juga ikut merasa cemas bahkan bisa menjadi takut.

c. Pengelola Rumah Sakit

Pengelola rumah sakit terdiri dari pelaku kegiatan medis dan non medis. Pelaku kegiatan medis terdiri dari tenaga kesehatan yang menckup dokter, perawat, bidan, ahli gizi, psikologi klinis, apoteker, dan staf lab. Pelaku non medis terdiri dari staf administrasi, staf kebersihan, staf keamanan, staf mekanikal elektrikal. Staf rumah sakit juga berpotensi megalami stres di tempat kerja yang akan berdampak buruk pada kesehatan dan keefektifan kerja (Cox & Griffiths, 1996). Adapun hal-hal pemicu utama stres, yaitu :

- Menangani pasien kritis dan meninggal

- Konflik dengan dokter, perawat, dan staf lainnya - Kurangnya dukungan sesama staf

- Kurangnya kesiapan dalam menangani kebutuhan emosional pasien dan keluarganya

(31)

- Beban pekerjaan yang berat

- Kegagalan atau ketidakpastian dalam pengobatan

Gambar

GAMBAR KERJA  PRESENTASI
Gambar  diatas  merupakan  pos  kerja  umum  bagi  perawat  serta  berbagai  jarak  bersih  yang  diperlukan  untuk  mengakomodasi  ukuran  manusia  yang  digunakan
Gambar  diatas  merupakan  sebuah  ilustrasi  kamar  pasien  yang  berukuran  4,57m.

Referensi

Dokumen terkait

Strategi pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan kreativitas peserta didikmeliputi pembelajaran berpusat pada peserta didik ( student-centered learning ),

Perbanyakan bibit dalam skala besar merupakan salah satu aspek yang sangat penting, dimana produksi memerlukan bibit dari varietas unggul dalam jumlah banyak, seragam, bebas

Hasil penelitian m enunjukkan bahw a pada sel yang diberi p erlakuan serum pasien paska infeksi prim er tidak ditem ukan perbedaan titer virem ia antara kedua

Dari kegiatan penerapan yang dilakukan berikut merupakan komparasi data hasil penangkapan sebelum dan sesudah menggunakan Lampu celup bawah air dan umpan buatan

Kondisi PJU yang dipasang di kecamatan Bukit Batu dan Siak Kecil menggunakan lampu AC dengan daya watt tinggi sehingga meningkatnya pembayaran beban

Oleh karena itu, penelitian ini akan membuktikan apakah triterpenoid pegagan merupakan senyawa aktif yang berefek hipotensif dengan menguji efek penurunan tekanan

Sub Bagian Tata Usaha.. Kepala Dinas; mempunyai tugas pokok memimpin pelaksanaan tugas Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang meliputi Sekretariat, Bidang Perindustrian,

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dengan pedoman indikator sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh siswa dalam pembelajaran yang mengindikasikan pula komitmen