4891
Analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan Metode Job Safety Analysis pada Proyek Bendungan Kuwil Kawangkoan
Mukhamad Afif Salim1, Agus Bambang Siswanto2*, Tigo Mindiastiwi3, Purwantini4
1,2,3,4Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, Indonesia
*Koresponden email: [email protected]
Diterima: 8 Desember 2022 Disetujui: 7 Januari 2023
Abstract
The Kuwil Kawangkoan Dam Project is one of the National Strategic Projects (PSN). This Dam located in North Sulawesi province, at the North Minahasa district. Kuwil Kawangkoan dam is planned a capacity of 23.37M³ and reduce flood discharge by 282 M³/second, provide raw water supply of 4.50 M³/second, and generate electricity of 1.20 MW. With the large-scale project of the Kuwil Kawangkoan Dam Project and the highrisk level of work accidents in this project, it is necessary an analysis of occupational health and safety (OHS). This research to identify hazards and analyze the risk of work accidents. Hazard identification uses Job Safety Analysis (JSA) methode, which a method of safety analysis by identifying hazards in a job, controlling work accidents while working. Results of this research are the selection of 6 jobs which previously detailed the stages of the work first and then analyzed the identification of the level of risk so that the results obtained in the Kuwil kawangkoan Dam Project there are 3 levels of risk categories, extreme risk, high risk and moderate risk. For extreme risk levels, there are 5 jobs with a total of 18 potential hazards. High and moderate risk levels are found in 6 jobs with a total of 84 potential hazards for high risk levels and 29 potential hazards for medium risk levels. As for risk control, it is categorized into 3 aspects, namely the worker aspect, the work environment aspect and the equipment and material aspects of the project.
Keywords: job safety analysis, kuwil kawangkoan dam, risk identification, national strategic project, Sulawesi Utara Province
Abstrak
Pembangunan Bendungan Kuwil Kawangkoan adalah salah satu dari Proyek Strategis Nasional (PSN berlokasi di Provinsi Sulawesi Utara tepatnya kabupaten Minahasa Utara. Bendungan ini direncanakan memiliki kapasitas sebesar 23.37 M³ dan diharapkan dapat mengurangi debit banjir sebesar 282 M³/detik, serta menyediakan pasokan air baku sebesar 4,50 M³/detik serta energi listrik sebesar 1,20 MW.
Pembangunan berskala besar pada Proyek Bendungan Kuwil Kawangkoan dan tingginya tingkat risiko kecelakaan kerja pada proyek tersebut maka perlu dilakukan pemantauan ketat terkait Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya dan menganalisis risiko kecelakaan kerja menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA). Hasil dari penelitian ini adalah terpilihnya 6 pekerjaan yang sebelumnya dirincikan tahapan-tahapan pekerjaannya terlebih dahulu kemudian dianalisis identifikasi tingkat risikonya sehingga didapatkan hasil pada Proyek Bendungan Kuwil kawangkoan terdapat 3 tingkatan risiko yaitu risiko ekstrim, risiko tinggi dan risiko sedang. Tingkatan risiko ekstrim terdapat pada 5 pekerjaan dengan jumlah total 18 potensi bahaya. Tingkat risiko tinggi dan sedang terdapat pada 6 pekerjaan dengan jumlah total 84 potensi bahaya untuk tingkatan risiko tinggi dan 29 potensi bahaya untuk tingkatan risiko sedang. Adapun untuk pengendalian risikonya, dikategorikan dalam 3 aspek yakni aspek pekerja, aspek lingkungan kerja dan aspek alat dan material pada proyek.
Kata kunci: analisa keselamatan kerja, bendungan kuwil, identifikasi risiko, proyek strategis nasional, Provinsi Sulawesi Utara
1. Pendahuluan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) memiliki peran penting dalam pencapaian tujuan proyek.
Pengendalian yang dilakukan dalam pelaksanaan proyek harus diiringi dengan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang senantiasa ditaati, agar risiko yang tidak diinginkan dapat diminimalkan [1]. Dilansir dari laman BPJS Ketenagakerjaan, jumlah kasus kecelakaan kerja selalu mengalami peningkatan tiap tahunnya, Tahun 2018 terjadi kecelakaan kerja sebanyak 173.415 kasus, tahun 2019 182.835 kasus dan tahun 2020 sebanyak 221.740 kasus [2]. Kecelakaan kerja pada proyek konstruksi berhubungan dengan karakteristik proyek yang bersifat unik, pekerja, peralatan, material serta metode kerja yang digunakan
4892
disamping pengaruh cuaca, selain itu proyek dibatasi oleh waktu pelaksanaan sehingga tuntutan keahlian dan ketahanan fisik yang tinggi, agar kecelakaan kerja dapat diminimalisir. Pemahaman dan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja pada pelaksanaan proyek oleh semua unsur yang terlibat akan mengurangi risiko kecelakaan kerja.
Proyek Bendungan Kuwil kawangkoan merupakan salah satu dari Proyek Strategis Nasional berdasarkan Peraturan Presiden No. 109 Tahun 2020. Bendungan Kuwil Kawangkoan ini berlokasi di Provinsi Sulawesi Utara, Kabupaten Minahasa Utara. Bendungan yang direncanakan memiliki kapasitas sebesar 23.37 M³ diharapkan dapat mengurangi debit banjir sebesar 282 M³/detik, selain itu juga menyediakan pasokan air baku sebesar 4,50 M³/detik, dan menghasilkan listrik sebesar 1,20 MW. Dengan adanya pembangunan berskala besar pada Proyek Bendungan Kuwil kawangkoan dan tingginya tingkat risiko kecelakaan kerja pada pelaksanaan proyek tersebut maka perlu adanya analisis dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Manajemen risiko K3 dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode diantaranya HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control), dan JSA (Job Safety Analysis). Metode Job Safety Analysis (JSA) merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis tugas serta prosedur suatu pekerjaan, dengan cara penjabaran identifikasi, tahap pekerjaan untuk dapat mengetahui potensi bahaya sehingga dapat ditentukan solusi untuk mereduksi kemungkinan risiko [3].
Berdasar latar belakang tersebut maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitian Analisis Keselamatan Dan Kesehatan Kerja dengan Metode Job Safety Analysis (JSA) pada Proyek Bendungan Kuwil Kawangkoan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penilaian risiko, mengidentifikasi tahapan pekerjaan yang memiliki risiko ekstrim dan mengidentifikasi cara pengendalian risiko ekstrim yang ditimbulkan.
Manajemen Risiko dan K3
COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission), menerangkan bahwa manajemen risiko adalah sebuah proses yang dilakukan oleh pihak manajemen yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan dan dirancang untuk mengidentifikasi kejadian potensial dan mengelola risiko [4].
Manajemen risiko merupakan suatu proses keadaan yang tidak pasti yang memiliki dampak negative terhadap suatu tujuan yang ingin dicapai yang memiliki tujuan melindungi, mendorong manajemen, sebagai peringatan untuk berhati-hati, meningkatkan kinerja dan sosialisasi manajemen risiko [5]. Manajemen risiko memiliki manfaatn mencegah kegagalan, melindungi perusahaan, memberikan informasi dan menghitung besarnya risk exposure [6].
Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat dibagi menurut filosofi adalah usaha untuk menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja baik jasmaniah maupun rohaniah dalam bekerja, kalau menurut keilmuan merupakan suatu Suatu cabang ilmu pengetahuan dan penerapan tentang cara mencegah terjadinya kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan, sementara menurut standar OHSAS 18001:2007 adalah semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada K3 baik kontraktor, pemasok, pengunjung, dan tamu) di tempat kerja [7]. K3 adalah upaya yang bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan dari risiko faktor yang merugikan kesehatan [8]. K3 memiliki fungsi sebagai pedoman identifikasi penilaian risiko, memberikan saran dalam perencanaan, sebagai pedoman dalam memantau kesehatan dan keselamatan kerja dan sebagai acuan untuk mengukur keefektifan tindakan pengendalian bahaya [9].
Proses penerapan K3 dilakukan sebelum kecelakaan, saat kejadian dan pasca kejadian yang terdiri dari fase pengendalian dan pencegahan, tindakan dan penanggulangan dan pemulihan dan investigasi kecelakaan [10]. Sumber hukum tentang K3 adalah UUD 1945 pasal 27 ayat (2), Undang-undang nomor 13 tahun 2003, Permenaker No 05/Men/1996 dan Permenaker No 5 tahun 2018 [11]. Manajemen risiko harus menetapkan metode identifikasi bahaya yang akan dilakukan dengan mempertimbangkan Lingkup, bentuk dan waktu pelaksanaan identifikasi bahaya [12]. Sejalan dengan proses manajemen risiko K3 terdapat beberapa metode manajemen risiko K3 dalam K3 konstruksi diantaranya metode Hazard Identification and Risk Management, Job safety Analysis, Task risk analysis, What if analysis dan Fault tree analysis [13].
Job Safety Analysis (JSA)
OSHA (Occupational Safety and Health Administration) 3071:2002, Job Safety Analysis (JSA) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menilai risiko dalam seblah sebuah teknik yang fokus pada tugas pekerjaan sebagai cara untuk identifikasi bahaya sebelum terjadi. Job Safety Analysis merupakan salah satu komponen dari sebuah komitmen manajemen K3 [14]. Teknik JSA ini berdasarkan hubungan
4893
antar pekerja, peralatan dan lingkungan kerja. Prosedur Job Safety Analysis (JSA) terdiri dari beberapa tahapan yang berkaitan, meliputi [15]:
a. Memilih pekerjaan b. Membagi pekerjaan
c. Identifikasi bahaya dan potensi kecelakaan kerja d. Pengembangan solusi
Setelah mengetahui risiko bahaya, kemudian dianalisis untuk menentukan tingkat risiko besar, sedang dan kecil, penilaian risiko digunakan untuk menentukan prioritas pengendalian terhadap risiko kecelakaan [16]. Tabel penilaian risiko dilihat pada Tabel 1 dan kemungkinan dampak pada Tabel 2.
Tabel 1. Kemungkinan risiko
Tingkat Uraian Contoh rinci
1 Sangat rendah Terjadi pada keadaan tertentu
2 Rendah Terjadi tetapi kemungkinannya kecil
3 Sedang Terjadi tetapi tidak sering
4 Tinggi Terjadi hanya beberapa kali
5 Sangat tinggi Dapat sering terjadi
Sumber: Ramli (2010)
Tabel 2. Kemungkinan dampak
Tingkat Uraian Contoh rinci
1 Sangat rendah Tidak menimbulkan kerugian atau cedera
2 Rendah Cedera ringan, kerugian kecil, dan tidak berdampak serius 3 Sedang Cedera berat dirawat dirumah sakit tidak cacat tetap,
kerugian sedang
4 Tinggi Cedera parah dan cacat tetap dan kerugian besar serta berdampak serius
5 Sangat tinggi Korban meninggal dan kerugian parah, bahkan dapat menghentikan kegiatan
Sumber : OHSAS 18001 (2018)
Selanjutnya hasil kemungkinan dan dampak yang diperoleh dimasukkan dalam tabel matriks risiko yang akan menghasilkan peringkat risiko. Langkah berikutnya setelah identifikasi dan analisis risikoadalah melakukan pengendalian risiko, pengendalian risiko dilakukan terhadap seluruh bahaya yang ditemukan dalam proses identifikasi bahaya dan mempertimbangkan peringkat risiko untuk menentukan prioritas dan cara pengendaliannya [17]. Matriks probabilitas tentang kemungkinan dan dampak, penilaian dan peringkat dapat dilihat pada Tabel 3, Tabel 4 dan Tabel 5.
Tabel 3. Matriks risiko dan dampak [18]
Kemungkinan
Konsekuensi Sangat
rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi
1 2 3 4 5
Sangat tinggi 5 T T E E E
Tinggi 4 S T T E E
Sedang 3 R S T E E
Rendah 2 R R S T E
Sangat rendah 1 R R S T T
Sumber: OHSAS 18001 (2018)
Tabel 4. Penilaian risiko dan dampak
Tingkat Risiko
E Ekstrim (very high)
T Tinggi (high)
S Sering (average)
R Rendah (low)
Sumber: OHSAS 18001 (2018)
4894
Tabel 5. Peringkat risk (Levelling Risk) [19]
Risiko ekstrim (E)
Pekerjaan dihentikan atau dilanjutkan setelah risiko telah direduksi, apabila tidak dapat untuk mereduksi risiko karena sumber daya yang terbatas maka pekerjaan tidak dapat dilaksanakan.
Risiko tinggi (T)
Kegiatan dihentikan sementara sampai risiko telah direduksi. Apabila dalam pelaksanaan terdapat risiko, maka harus segera dilakukan tindakan untuk meminimalkan risiko.
Risiko sedang (S)
Pekerjaan tetap berlangsung dengan pemantauan dan tindakan untuk mengurangi risiko.
Risiko rendah (R)
Risiko dapat terjadi meskipun sangat kecil kemungkinan dengan dilakukan pemantauan.
Sumber : Ramli (2010)
Tindakan pengendalian risiko dilakukan dengan mengurangi kemungkinan atau keparahan melalui pendekatan sebagai berikut: Eliminasi dengan menghilangkan bahaya pada saat desain, Substitusi dengan mengganti bahan, proses, operasi, peralatan, Pengendalian teknik dengan memantau pekerja dalam mencegah terjadinya kesalahan, Pengendalian administrasi dengan pengarahan kepada pekerja sebelum bekerja dan APD atau Alat pelindung diri digunakan untuk mengurangi risiko dari dampak bahaya [20].
2. Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Proyek Pembangunan Bendungan Kuwil Kawangkoan, Minahasa Utara, Manado pada tahun 2022. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder dengan uraian sebagai berikut:
a. Data primer
Data primer didapat dari wawancara pihak terkait dalam proyek yakni dari pihak kontraktor dan pekerja, observasi/pengamatan pada saat pekerjaan di lapangan dan dokumentasi proyek baik foto maupun video [21].
b. Data sekunder
Data sekunder berupa dokumen fisik maupun elektronik, serta literatur buku, artikel jurnal, situs web juga catatan internal.
Tahapan penelitian analisis Job safety analysis adalah mengidentifikasi risiko untuk memberikan analisis deskriptif tentang kemungkinan kecelakaan yang terjadi, menganlisis risiko untuk mendapatkan besaran probabilitas kecelakaan yang dapat terjadi dan ukuran dampaknya dan pengendalian risiko berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pihak terkait dengan berpedoman pada nilai risiko [22].
Bagan alir penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 : Bagan alir penelitian
4895
3. Hasil dan Pembahasan 3.1. Identifikasi Risiko
Identifikasi di lapangan sangatlah penting agar hasil analisis yang didapatkan sesuai dengan keadaan yang ada di lapangan [23]. Identifikasi di lapangan dilakukan melalui pengamatan proses pelaksanaan pekerjaan termasuk peralatan dan material yang digunakan, medan, lingkungan tempat kerja. Langkah selanjutnya melakukan identifikasi risiko masing-masing pekerjaan. Identifikasi risiko didasari kejadian, pengalaman, serta prediksi risiko-risiko yang kemungkinan terjadi tampak.
Tabel 6. Identifikasi risiko pekerjaan pembangunan bendungan Kuwil- Kawangkoan
No. Pekerjaan Identifikasi risiko
1. Clearing dan grubbing
Pengupasan top soil
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit bulldozer
Pekerja terjatuh dari bulldozer Pekerja tertabrak bulldozer
Galian tanah dan batu
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit bulldozer
Pekerja terjatuh dari bulldozer Pekerja tertabrak bulldozer
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat Pekerja tertimbun galian
Distribusi material galian
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit bulldozer
Pekerja terjatuh dari bulldozer Pekerja tertabrak bulldozer
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat 2. Pekerjaan dewatering
Pembuatan coffer dam
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit excavator Pekerja terjatuh dari excavator Pekerja tertabrak excavator
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat Pekerja terkena ready mix beton
Galian cut off wall
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit excavator Pekerja terjatuh dari aexcavator Pekerja tertabrak excavator
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat
Pekerjaan saluran drainase
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit excavator Pekerja terjatuh dari excavator Pekerja tertabrak excavator
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat 3. Drilling dan grouting
Core drilling
Tabrakan antar alat berat Tertabrak bulldozer Bulldozer terbalik Bulldozer terbakar
Rotary drilling holes untuk curtain grouting
Tabrakan antar alat berat Tertabrak bulldozer Bulldozer terbalik Bulldozer terbakar
Rotary drilling holes untuk check holes
Tabrakan antar alat berat Tertabrak bulldozer Bulldozer terbalik Bulldozer terbakar Curtain and consolidation
grouting
Pekerja terjepit alat grouting Terkena tumpahan grouting Grout injection Pekerja terjepit alat grouting
Terkena tumpahan grouting 4. Pekerjaan galian
Pemotongan/galian lereng Alat berat tumbang atau terguling
4896
No. Pekerjaan Identifikasi risiko
Pekerja terjepit excavator Pekerja tertabrak excavator
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat Tanah longsor
Pengecoran beton lereng
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit excavator Pekerja terjatuh dari excavator Pekerja tertabrak excavator
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat Pekerja terkena ready mix beton
Tanah longsor
Perbaikan pada retakan terbuka lereng
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit excavator Pekerja terjatuh dari excavator Pekerja tertabrak excavator
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat Tanah longsor
Terjepit alat grouting Terkena tumpahan grouting
Perbaikan fondasi dasar lereng
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit excavator Pekerja terjatuh dari excavator Pekerja tertabrak excavator
Pekerja keruntuhan material yang diangk8t alat berat Tanah longsor
5. Pekerjaan timbunan
Timbunan
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit bulldozer
Pekerja terjatuh dari bulldozer Pekerja tertabrak bulldozer
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat Tanah longsor
Impervious core dam (zona 1)
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit bulldozer
Pekerja terjatuh dari bulldozer Pekerja tertabrak bulldozer
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat Pekerja terkena semprotan tank air
Pekerja terpeleset
Fine filter (zona 2)
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit bulldozer
Pekerja terjatuh dari bulldozer Pekerja tertabrak bulldozer
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat
Coarse filter (zona 3)
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit bulldozer
Pekerja terjatuh dari bulldozer Pekerja tertabrak bulldozer
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat
Rock fill (zona 4)
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit bulldozer
Pekerja terjatuh dari bulldozer Pekerja tertabrak bulldozer
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat Pekerja terpeleset
Random fill (zona 5)
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit bulldozer
Pekerja terjatuh dari bulldozer Pekerja tertabrak bulldozer
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat Pekerja terpeleset
Rock rip-rap (zona 6) Alat berat tumbang atau terguling
4897
No. Pekerjaan Identifikasi risiko
Pekerja terjepit dump truck Pekerja terjatuh dari dump truck Pekerja tertabrak dump truck
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat Pekerja terpeleset
6. Pekerjaan jalan
Perkerasan sirtu
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit bulldozer
Pekerja terjatuh dari bulldozer Pekerja tertabrak bulldozer
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat
Subbase course dan base course
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit dump truck Pekerja terjatuh dari dump truck Pekerja tertabrak dump truck
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat Pekerja terkena semprotan tank air
Perkerasan aspal
Alat berat tumbang atau terguling Pekerja terjepit walles
Pekerja terjatuh dari walles Pekerja tertabrak walles
Pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat Pekerja terkena semprotan atau tumpahan aspal Sumber: Hasil analisis (2022)
3.1. Penilaian Risiko
Hasil skoring dari penilaian risiko setiap pekerjaan pada Proyek Bendungan Kuwil Kawangkoan, dapat dibagi menjadi 3 kategori.
a. Risiko ekstrim
Terdapat satu identifikasi risiko kegiatan yang termasuk ke dalam kategori risiko ekstrim yakni pekerja keruntuhan material yang diangkut alat berat.
Tahapan pekerjaan dengan identifikasi risiko tersebut di antaranya:
1) Pekerjaan clearing dan grubbing tahapan galian tanah dan batu, dan distribusi material galian 2) Pekerjaan dewatering tahapan pembuatan coffer dam, galian cut off wall dan pekerjaan saluran
drainase
3) Pekerjaan galian tahapan pengecoran beton lereng dan perbaikan fondasi lereng
4) Pekerjaan timbunan meliputi, impervious core, fine dan course filter, rock dan random fill, dan rock rip-rap
5) Pekerjaan jalan meliputi sirtu, subbasedan dan base course, serta aspal.
Gambar 2 adalah contoh tahapan pekerjaan galian yang termasuk dalam kategori risiko ekstrim.
Gambar 2. Pekerjaan galian termasuk dalam kategori risiko ekstrim Sumber: Dokumentasi pribadi (2022)
4898
b. Risiko tinggi
Terdapat beberapa identifikasi risiko kegiatan yang termasuk ke dalam kategori risiko tinggi yakni:
1) Alat berat tumbang atau terguling 2) Pekerja terjepit alat berat
3) Pekerja tertabrak alat berat 4) Pekerja tertimbun galian 5) Tabrakan antar unit alat berat 6) Tertabrak unit dozer
7) Unit dozer terbalik
8) Pekerja tertimpa atau terjepit alat grouting 9) Tanah longsor
10) Pekerja terkena semprotan tank air 11) Pekerja terpeleset
Adapun tahapan pekerjaan dengan identifikasi risiko tinggi di atas adalah sebagai berikut:
1) Pekerjaan clearing dan grubbing tahapan pengupasan top soil, galian tanah dan batu, dan distribusi material galian
2) Pekerjaan dewatering tahapan pembuatan coffer dam, galian cut off wall dan pekerjaan saluran drainase 3) Pekerjaan drilling dan grouting tahapan core drilling, rotary drilling holes untuk curtain grouting,
rotary drilling holes untuk check holes, curtain and consolidation grouting, dan grout injection 4) Pekerjaan galian tahapan pemotongan/galian lereng, pengecoran beton lereng, perbaikan pada retakan
terbuka lereng dan perbaikan fondasi lereng
5) Pekerjaan timbunan meliputi tahapan impervious core, fine dan course filter, rock dan random fill, dan rock rip-rap
6) Pekerjaan jalan meliputi tahapan sirtu, subbase, dan base course, dan aspal.
Berikut adalah contoh tahapan pekerjaan timbunan yang termasuk dalam kategori risiko tinggi.
Gambar 3. Pekerjaan timbunan termasuk dalam kategori risiko tinggi Sumber: Dokumentasi pribadi (2022)
c. Risiko sedang
1) Pekerja jatuh dari alat berat 2) Pekerja terkena ready mix beton 3) Unit dozer terbakar
4) Terkena tumpahan grouting
5) Pekerja terkena semprotan atau tumpahan aspal
Adapun tahapan pekerjaan dengan identifikasi risiko sedang di atas adalah sebagai berikut:
1) Pekerjaan clearing dan grubbing tahapan pengupasan top soil, galian tanah dan batu, dan distribusi material galian
2) Pekerjaan dewatering tahapan pembuatan coffer dam, galian cut off wall dan pekerjaan saluran drainase 3) Pekerjaan drilling dan grouting tahapan core drilling, rotary drilling holes untuk curtain grouting,
rotary drilling holes untuk check holes, curtain and consolidation grouting, dan grout injection 4) Pekerjaan galian tahapan pemotongan/galian lereng, pengecoran beton lereng, perbaikan pada retakan
terbuka lereng dan perbaikan fondasi lereng
4899
5) Pekerjaan timbunan meliputi impervious core, fine dan course filter, rock dan random fill, serta rock rip-rap.
6) Pekerjaan jalan meliputi pekerjaan sirtu, subbase, base course, dan aspal.
3.2. Pengendalian Risiko
Usaha pengendalian risiko untuk mengurangi dampak dan meminimalisir potensi bahaya pekerjaan pada Proyek Bendungan Kuwil Kawangkoan adalah:
a. Risiko ekstrim
Menggunakan pekerja berkompeten, pekerja wajib mengenakan APD dan pemasangan rambu peringatan.
b. Risiko tinggi
Menggunakan operator alat berat berkompeten, menggunakan pekerja berkompeten, pekerja wajib mengenakan APD, pemasangan rambu peringatan, pemberian signalman, melarang orang yang tidak berkepentingan ada di area drilling.
c. Risiko sedang
Menggunakan pekerja berkompeten dan pekerja wajib mengenakan APD.
4. Kesimpulan
Analisis identifikasi dan penilaian risiko pada proyek bendungan Kuwil Kawangkoan terdapat tingkatan risiko ekstrim (5 pekerjaan) yaitu pekerjaan clearing dan grubbing, pekerjaan dewatering, pekerjaan galian, pekerjaan timbunan, pekerjaan perkerasan jalan dengan jumlah total 18 potensi bahaya, Tingkat risiko tinggi dan sedang terdapat pada 6 pekerjaan yaitu pekerjaan clearing dan grubbing, pekerjaan dewatering, pekerjaan drilling dan grouting, pekerjaan galian, pekerjaan timbunan, pekerjaan perkerasan jalan, dengan jumlah total 84 potensi bahaya untuk tingkatan risiko tinggi dan 29 potensi bahaya untuk tingkatan risiko sedang. Pengendalian risiko untuk tingkatan risiko ekstrim ditinjau dari aspek pekerja yakni menggunakan pekerja yang berkompeten serta memakai APD, pelarangan untuk masuk ke wilayah pekerjaan bagi yang bukan berkepentingan, kemudian dari aspek lingkungan kerja yaitu penempatan rambu peringatan dan pemberian signalman, sedangkan untuk aspek alat dan bahan yakni memastikan alat berat dalam masa pemeliharaan atau tidak dalam kerusakan.
5. Ucapan Terima Kasih
Penulis berterima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penelitian ini baik konsultan PT. Indra Karya (Persero), kontraktor PT. Wijaya Karya (Persero) dan pihak terkait dalam Proyek Bendungan Kuwil Kawangkoan ini dalam menyelesaikan penelitian ini.
6. Referensi
[1] M. Afif Salim, Agus B Siswanto. (2022). Manajemen Risiko K3 Konstruksi. K Media : Yogyakarta [2] Pangkey, F., Malingkas, G. Y., & Walangitan, D. R. O. (2012). Penerapan sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) pada proyek konstruksi di indonesia (studi kasus:
Pembangunan Jembatan Dr. Ir. Soekarno-Manado). Jurnal Ilmiah Media Engineering, 2(2).
[3] Candra, Ipnu, Henny, Hermin. (2019). Analisis Pelaksanaan Keamanan dan Keselamatan Kerja (K3) Dengan Metode Job Safety Analysis (JSA) Studi Kasus Proyek Pembangunan Kawasan Pasar Johar Tahap III Semarang. Prosiding Konferensi Ilmiah Unissula (KIMU) 4 Tahun 2020
[4] Akyildiz, C. and Ekmekci, I. (2020) ‘OHS problems of migrants in Turkey and the order of importance: Pareto analysis’, Sustainability (Switzerland), 12(18). doi: 10.3390/SU12187462.
[5] Andhini, Sugiono, Remba. (2015). Implementasi Job Safety Analysis Dalam Upaya Pencegahan Terjadinya Kecelakaan Akibat Kerja. Jurnal Rekayasa dan Manajemen Sistem Industri, Vol 3 No.2.
[6] Maulana, Saptadi. (2018). Identifikasi dan Analisis Risiko Kecelakaan Kerja Dengan Metode JSA (Job Safety Analysis) di Departemen Smoothmill PT. Ebako Nusantara. Industrial Engineering Online Journal.
[7] Jeferson, Paul, Ribka. (2018). Analisis Potensi Bahaya Dengan Menggunakan Metode Job Safety Analysis di Bagian Pengapalan Site Pakal PT. Aneka Tambang Tbk. Jurnal Kesehatan Masyarakat.
Universitas Sam Ratulangi, Vol 7, No 5.
[8] OHSAS 18001:2007. (2007). Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja – Persyaratan.
[9] Azham, Iqbal. (2019). Penerapan Job Safety Analysis, Pengetahuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Kejadian Kecelakaan Kerja di Laboratorium Perguruan Tinggi. Jurnal Berkala Kesehatan.
Vol.5 No.2.
4900
[10] Racma, Husna, (2018). Evaluasi Pelaksanaan K3 pada Proyek Kontrak Berbasis Kinerja (KBK) Semarang- Bawen dengan Metode JSA. Semarang: Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Semarang.
[11] Mega. (2017). Analisis Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Melalui Pendekatan HIRADC dan Metode Job Safety Analysis Pada Studi Kasus Proyek Pembangunan Menara X di Jakarta. Thesis Universitas Brawijaya
[12] Nidya Wisudawati, Rurry P. (2020). Analisis Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan Metode Hazard Analysis Studi Kasus pada Pembangunan Perumahan. Jurnal Ilmiah Teknik Industri.
Vol 5 No.1
[13] Górny, A. (2019) ‘Assessment and Management of Risk in Improving the OHS Management System’, System Safety: Human - Technical Facility - Environment, 1(1). doi: 10.2478/czoto-2019-0013.
[14] Kementerian Pekerjaan Umum. (2014). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 05/PRT/M/2014 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum. Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum
[15] Eka Prasetya N, Dyah Riandadari (2022). Study Tentang Job Safety Analysis Dalam Identifikasi Potensi Bahaya Sebagai Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja Pada Pekerjaan Reparasi Kapal Bangunan Baru di PT. Orela Shipyard Gresik. Jurnal Pendidikan Teknik Mesin. Vol.11 No.2 [16] Fauzi, A. Z., Siswanto, A. B. and Salim, M. A. (2020) ‘Pengaruh Safety Induction, Reward and
Punishment Terhadap Kedisiplinan K3 (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Menara Usm )’, Jurnal Teknik Sipil, 3(4).
[17] Indragiri, S. and Yuttya, T. (2020) ‘Manajemen Risiko K3 Menggunakan Hazard Identification Risk Assessment And Risk Control (HIRARC)’, Jurnal Kesehatan, 9(1). doi: 10.38165/jk.v9i1.77 [18] F. Ramadhan. (2017). Analisis Kesehatan dan Keselamatan Kerja menggunakan Metode HIRARC.
Seminar Nasional Ris Terapan, pp.164-169.
[19] Ramli, Soehatman. 2012. Pedoman Praktis Manajemen Risiko. Jakarta: Dian Rakyat
[20] Pattisinai, A. R., Widayanti, F. R., Nusantara, D. A. D., & Nadiar, F. (2020) ‘Pentingnya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Site Proyek Konstruksi Di Era Pandemi Covid-19’, Publikasi Riset Orientasi Teknik Sipil (Proteksi), 2(2). doi: 10.26740/proteksi.v2n2.p84-89.
[21] Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif –Kualitatif dan R&D. Alfabeta: Bandung
[22] Ardana, I Komang, Mujiati, Ni Wayan, Wayan Mudiartha Utama. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
[23] Mangkunegara, A. A. Anwar Prabu. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Remaja Rosdakarya.