• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of PEMELIHARAAN MINAT BELAJAR ANAK MELALUI PENDEKATAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of PEMELIHARAAN MINAT BELAJAR ANAK MELALUI PENDEKATAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui Pendekatan Psikologi Pendidikan Islam…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433

DOI: 10.19109/tadrib.v8i2 Saiful Akhyar Lubis

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara [email protected]

Mhd Noor Sitorus

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara [email protected]

Received: 09, 2022. Accepted: 12, 2022.

Published: 12, 2022

PEMELIHARAAN MINAT BELAJAR ANAK MELALUI PENDEKATAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM

Abstract

This research aims to examine and describe the urgency of Islamic education psychology in maintaining interest in early childhood learning. This study also intent to study, propose and compare to draw conclusions about the understanding of early childhood according to the perspective of Islamic education. This study also intent to examine and present learning barriers and challenges related to maintaining interest in early childhood learning and also aspects of learning that need to be developed through the principles of Islamic education psychology which are traced through the verses of the Qur'an, the hadiths of the prophet Muhammad SAW., and expert opinion in Islamic religious literature. Also wants to study and propose learning designs that are in accordance with the principles of Islamic educational psychology in maintaining interest in early childhood learning.

This research is a literature review research with a qualitative approach. The collection of data sources is grouped into primary sources and secondary sources. The sources that were collected thematically were parsed and studied to be compared and drawn conclusions and presented qualitatively. The results of this study are descriptive descriptions of how the psychology of Islamic education is a very urgent solution in maintaining interest in early childhood learning based on an educational curriculum designed through the principles of Islamic educational psychology.

Keywords : Islamic Education Psychology, Early Childhood, Interest in Learning

(2)

Saiful Akhyar, Mhd Noor Sitorus, Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433 DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

PENDAHULUAN

Manusia dilahirkan dalam keadaan lemah, baik fisik maupun psikisnya (Ibnul Qayyim, 1429 H). Namun demikian, manusia telah memiliki kemampuan bawaan (Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, 2014) yang bersifat laten. Potensi bawaan ini memerlukan pengembangan melalui bimbingan dan pemeliharaan yang mantap, terlebih pada usia dini. Oleh karena itu, sesuai dengan prinsipnya, maka seorang anak menjadi dewasa memerlukan bimbingan sesuai dengan prinsip pertumbuhan dan perkembangan (Jalaluddin, 2003).

Berdasarkan hasil penelitian Keith Osborn mengenai pertumbuhan otak, didapati bahwa anak kelompok usia 24 bulan (2 tahun) telah mencapai pertumbuhan organ otak sebesar 50%, dan berkembang menjadi 90% ketika berumur 72 bulan (6 tahun). Pertumbuhan optimal otak anak dicapai pada usia 12 tahun (Jamaris, 2013).

Melalui penelitian itu dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan otak anak pada usia 2 tahun pertama memiliki rata-rata kecepatan pertumbuhan lebih tinggi, daripada 6 dan 12 tahun berikutnya.

Berdasarkan penelitian tersebut, disimpulkan bahwa masa usia dini yang dilalui anak adalah masa pertumbuhan otak yang paling tinggi dialami seorang manusia. Oleh sebab itu, masa usia dini diidentifikasi para ahli dengan istilah golden age. Masa yang perlu dimanfaatkan sedemikian rupa agar tidak terlewatkan optimalisasinya.

Selain diidentifikasi sebagai masa keemasan atau golden age, masa usia dini juga dianggap sebagai masa rentan atau masa krusial. Usia dini adalah periode awal yang paling penting dan sangat mendasar dalam rentang pertumbuhan dan perkembangan seorang manusia. Usia dini merupakan masa di mana seseorang sangat efektif dalam menerima pengajaran ataupun penanaman nilai yang di kemudian hari akan sangat melekat padanya.

Namun, selain memiliki sisi positif, masa usia dini juga bisa berdampak amat sangat buruk bagi kelangsungan sifat anak nantinya jika masa kecilnya berada dalam lingkungan atau pendidikan yang negatif. Sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli, bahwa jumlah neuron atau sel saraf anak yang baru lahir diperkirakan ada sekitar 100 milyar sel saraf (Santrock, 2010). Ketika berusia dewasa, manusia

(3)

Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui Pendekatan Psikologi Pendidikan Islam…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433

DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

diperkirakan memiliki hingga 200 milyar sel saraf (Berk, 2013). Ini berarti bahwa ketika seseorang dilahirkan dia telah memiliki 50% sel saraf.

Sehingga, fase pendidikan usia dini ini sangat rentan. Oleh sebab itu, akan terjadi perbedaan signifikan antara perkembangan jaringan otak anak yang mendapat stimulasi dengan perkembangan jaringan otak anak yang tidak mendapatkan stimulasi yang tepat.

Ditinjau dari sudut pandang agama, Islam ternyata juga mengisyaratkan bahwa pendidikan anak itu mesti dimulai sedini mungkin. Oleh sebab itu, temuan- temuan penelitian yang menitikberatkan pada pentingnya pendidikan anak ternyata sesuai dengan sumber pengajaran agama Islam. Allāh subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Q.S. Al-Isra/ 17: 24.

Ayat ini menghubungkan antara sifat lemah lembut kepada orangtua mesti dilakukan mengingat mereka telah mendidik anak mereka sedini mungkin. Patut diduga bahwa hubungan antara kelemahlembutan dengan pendidikan usia dini adalah saling terkait.

Sejalan dengan itu, berdasarkan UU. Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (sisdiknas), disebutkan dalam pasal 1 ayat 14 bahwa pendidikan anak usia dini dimulai dari usia nol hingga enam tahun. Ini artinya, pendidikan anak itu tidak hanya pendidikan yang mengembangkan keterampilan jasmani, akan tetapi juga ia adalah pendidikan yang memperhatikan perkembangan rohani atau aspek psikologis, agar didapati generasi yang kuat secara fisik dan mental.

Menyadari akan pentingnya pendidikan pada masa anak ini, maka seorang guru ataupun orang tua mesti memperhatikan dan memelihara minat belajar anak ketika usia dini. Sebab, masa keemasan yang dialami seorang anak tak akan terulang untuk yang kedua kalinya. Sehingga, masa ini mesti diisi dengan berbagai macam stimulus demi mengoptimalisasi kinerja pertumbuhan otak dan perkembangan karakternya. Oleh karena itu, penelitian ini akan berusaha mengungkap bagaimana psikologi pendidikan Islam menjadi satu pendekatan dalam memelihara minat belajar anak. (Hartati et al. 2022)

(4)

Saiful Akhyar, Mhd Noor Sitorus, Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433 DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan jenis riset kepustakaan (library research). Apa yang disebut dengan riset kepustakaan atau sering juga disebut studi pustaka ialah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian (Mestika Zed, 2008).

Kajian atau riset pustaka berfungsi untuk membangun konsep atau teori yang menjadi dasar studi dalam penelitian (Sujarweni, 2014). Lebih dalam lagi, tujuan utama dari penelitian kajian pustaka adalah mengembangkan aspek teoritis maupun aspek manfaat prakti (Sukardi, 2013).

Pengumpulan informasi dan penentuan sumber informasi yang dijadikan sebagai data dalam penelitian ini dilakukan secara seksama serta tematis.

Sebagaimana memperhatikan judul penelitian yang berkaitan dengan beberapa variabel, yakni psikologi pendidikan Islam, minat belajar, serta anak. Maka perlu dilakukan pengumbpulan sumber secara tematis.

Berdasarkan variabel-variabel yang terkandung dalam judul penelitian, maka peneliti mengumpulkan sumber-sumber informasi baik berupa buku, artikel, video serta bahan-bahan ilmiah lainnya. Apa yang dimaksud dengan pengumpulan dan penulisan materi-materi informasi baik berupa pendapat pakar analisis pakar ataupun informasi yang tersedia dalam tabel atau diagram dikumpulkan secara tematis. Tujuan daripada pengumpulan sumber informasi secara tematis adalah agar peneliti dapat membuat perbandingan atau mengkomparasi, mencocokkan, menganalisis serta menarik kesimpulan.

Pengumpulan informasi dalam penelitian ini mengikuti teknik pengumpulan secara kualitatif. Pengambilan data secara kualitatif melalui dokumentasi, observasi dan wawancara secara mendalam dari sumber-sumber data (Sugiyono, 2010). Sehubungan dengan penelitian ini adalah penelitian studi kepustakaan, maka teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengumpulkan buku-buku ataupun sumber-sumber yang berkaitan dengan tema penelitian yang didapati di perpustakaan pascasarjana universitas Islam negeri Sumatera Utara maupun buku-buku yang bersumber dari koleksi pribadi.

Sumber data yang dikumpulkan dapat juga berupa buku elektronik atau transkrip percakapan yang diambil dari video atau rekaman suara dengan tema-

(5)

Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui Pendekatan Psikologi Pendidikan Islam…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433

DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

tema yang sesuai penelitian ini. Data-data yang diambil dari berbagai macam literatur dikumpulkan dan dianalisis serta ditarik kesimpulannya untuk kemudian dijadikan pembahasan dalam penelitian.

Dari data-data yang dikumpulkan, sebagiannya juga dibandingkan berdasarkan sumber dan pendekatan dari buku-buku yang dijadikan referensi.

Pendapat pakar dan ahli juga ada yang saling mendukung meskipun ada juga pendapat-pendapat yang berseberangan. Informasi-informasi yang demikian itu dirangkum dan dijadikan sebagai pendukung tentang urgensi psikologi pendidikan Islam dalam memelihara minat belajar anak.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Tujuan Pendidikan Islam

Sebagaimana yang telah di singgung pada bagian sebelumnya, bahwa salah satu perbedaan antara pendidikan umum dengan pendidikan Islam terletak pada komponen tujuan pendidikan. Dalam pendidikan umum, masing-masing daerah memiliki kekhasan dan kebudayaan tertentu, di mana hal tersebut akan mengakibatkan tujuan pendidikan yang ingin dicapai diselaraskan dengan kebudayaan yang ada di daerah tersebut. Sedangkan dalam pendidikan Islam, tujuannya secara eksplisit bersumber dari Alquran, yakni bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Oleh sebab itu, tujuan pendidikan Islam akan menyelaraskan diri dengan tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri. Di dalam Alquran, surat al-Baqarah ayat ke-30, Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa Allah menciptakan manusia untuk didaulat sebagai khalifah di muka bumi. Salah satu pengertian khalifah yang dapat dipahami melalui ayat tersebut adalah kedudukan manusia bertugas memakmurkan, menjaga, serta melestarikan bumi.

Jadi, jika ditautkan antara tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada Allah dengan tujuan diciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan adanya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala yang dimanifestasikan dengan menjaga serta melestarikan bumi.

(6)

Saiful Akhyar, Mhd Noor Sitorus, Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433 DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

Selaras dengan perkembangan peradaban manusia, umat Islam menyadari tentang pentingnya memiliki dan memahami dasar-dasar tujuan pendidikan Islam.

Hal ini agar pendidikan Islam tersebut tidak lari dari tujuan awalnya. Terkait dengan tujuan tersebut, pada tahun 1977 di kota Makkah, diselenggarakanlah konferensi pendidikan Islam sedunia. Dalam konferensi tersebut, disadari bahwa pendidikan itu bertujuan untuk mencapai pertumbuhan yang seimbang baik dalam hal spiritual, intelektual maupun fisiknya. Selain itu, tujuan pendidikan juga meliputi aspek imajinasi, ilmiah, dan juga bahasa. Itu semua tidak hanya ingin diwujudkan sebagai individu tertentu, namun juga diwujudkan dalam kesadaran kolektif.

Selain itu, dalam konferensi tersebut juga disadari dan dirumuskan bahwa tujuan akhir pendidikan seorang muslim adalah untuk mewujudkan seorang muslim yang tunduk kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Oleh sebab itu, negara-negara yang berpenduduk muslim, sejatinya harus melaksanakan syariat Allah subhanahu wa ta'ala guna membentuk kehidupan manusia yang berdasarkan asas-asas serta nilai- nilai Islam. (Ali Ashraf, 1993)

Walaupun demikian, sesungguhnya rumusan-rumusan mengenai tujuan pendidikan yang begitu ideal sebagai hasil dari konferensi pendidikan Islam sedunia yang pertama di kota Mekah pada tahun 1977 itu tidak serta merta dapat ditegakkan dan berjalan di negara-negara berpenduduk muslim. Pada faktanya, seringkali tujuan pendidikan itu melenceng dari pada apa yang ditetapkan sebelumnya. Pendidikan menjadi begitu pragmatis sehingga seringkali tujuan pendidikan yang begitu mulia, berubah hanya untuk sekedar mencari kedudukan, kemegahan, kegagahan atau hanya sekadar upaya untuk memperkaya diri. Padahal sesungguhnya justru pendidikan itu bermaksud untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta'ala (Muhammad Athiyah al-Abrasyi, 1975). Oleh sebab itu, perlu disegarkan kembali pandangan-pandangan terkait tujuan dari pendidikan Islam tersebut. Termasuk melihat tujuan pendidikan Islam berdasarkan dimensi pengajarannya.

Metode Pendidikan Islam

Secara bahasa, kata metode berasal dari bahasa Yunani. Kata itu terdiri dari dua gabungan kata, yaitu kata meta yang artinya ‘’yang dilalui’’ serta kata hodos

(7)

Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui Pendekatan Psikologi Pendidikan Islam…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433

DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

yang berarti ‘’jalan’’. Jadi, secara istilah metode itu berarti cara yang tepat untuk melakukan sesuatu (Soegarda Poerbawakatja, 1982).

Di dalam sistem pendidikan, selain ada tujuan yang dirumuskan sedemikian rupa, metode juga memainkan peran yang amat penting. Sebaik apapun tujuan pendidikan, jika tidak didukung oleh metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat tercapai dengan baik. Sebuah metode akan mempengaruhi sampai tidaknya suatu informasi secara lengkap atau tidak. Bahkan sering disebutkan cara atau metode kadang lebih penting daripada materi itu sendiri. Oleh sebab itu, pemilihan metode pendidikan harus dilakukan secara cermat, disesuaikan dengan berbagai faktor terkait, sehingga hasil pendidikan dapat memuaskan (Hasan Asari, 2020)

Jika dikaitkan dengan sistem pendidikan Islam, dalam bahasa Arab metode dikenal dengan nama tharîqah yang berarti jalan atau cara. (Louwis Ma‘lûf al- Yâsû‘iy, tt.) Namun, makna metode yang digunakan dalam sistem pendidikan di sini maksudnya adalah metode pembelajaran yang dipakai untuk mengatur secara praktis bahan pelajaran serta cara mengajarkannya. Jadi, metode pendidikan Islam berarti cara dipakai untuk mengatur secara praktis bahan pelajaran serta cara mengajarkan ilmu-ilmu pendidikan Islam.

Menurut Budiman, metode pendidikan adalah berbagai cara yang digunakan oleh pendidik, agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Karena metode pendidikan hanyalah merupakan satu aspek dari pembelajaran, maka dalam menentukan metode apa yang akan digunakan, harus selalu mempertimbangkan aspek-aspek lain dari pembelajaran, seperti karakter peserta didik, pendidik, materi pelajaran, tempat, suasana dan waktu. (Hasan Asari, 2020)

Guru Pendidikan Islam

Kedudukan guru dalam proses belajar bagi seorang siswa tidak sekadar sebagai penyampai materi pembelajaran. Lebih dari itu, selain memberikan pengajaran ilmu, seorang guru juga dituntut memahami perkembangan psikologis para muridnya. Hal ini dilakukan sebab memberikan instruksi kepada manusia berbeda dengan memberikan instruksi kepada mesin ataupun komputer.

Sebagai makhluk yang memiliki jiwa, seorang siswa sangat dipengaruhi oleh keadaan dan kesiapan jiwanya ketika menerima instruksi ataupun bimbingan

(8)

Saiful Akhyar, Mhd Noor Sitorus, Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433 DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

dalam proses belajar. Oleh sebab, keterampilan psikologi dalam memahami perkembangan jiwa murid mutlak dibutuhkan oleh guru.

Sebagai contoh, seorang murid yang dikenal memiliki intelegensi yang baik serta mudah dalam memahami pelajaran, pada suatu waktu tertentu mengalami kesulitan belajar tidak seperti biasanya. Setelah dilakukan pengamatan dan wawancara. Didapati bahwa siswa tersebut dalam keadaan stress atau tertekan, sehingga susah fokus dalam menerima pelajaran.

Pada kasus lain, siswa yang mengalami masa pubertas menjadi lebih agresif dibanding hari biasanya, sehingga berdampak pada kemampuannya dalam merespon pembelajaran. Semua ini mengarah pada kesimpulan bahwa keadaan jiwa seorang murid berpengaruh terhadap kemampuannya dalam menyerap materi pembelajaran. oleh sebab itu, keterampilan psikologi perlu dibekalkan kepada setiap guru.

Bahkan, menurut Zainuddin, guru merupakan faktor utama dalam keberhasilan belajar siswa. Kemampuan guru dalam menggunakan metode, menguasai bahan pelajaran dan teknik penyajian yang sesuai, dapat merangsang siswa untuk lebih bergairah dalam belajar.

Dalam kitab Adab al-Mualim wa al-Muta’allim disebutkan bahwa seorang pendidik harus memiliki dua belas sifat sebagai berikut:

1. Tujuan mengajar adalah untuk mendapatkan keridhaan Allah swt. Bukan untuk tujuan yang bersifat duniawi, harta, kepangkatan, ketenaran, kemewahan, status sosial dan lain sebagainya. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt. dalam keadaan terang-terangan dan senantiasa menjaga rasa takut dalam semua gerak dan diamnya, ucapan dan perbuatannya, karena dia adalah seorang yang diberi amanat dengan diberikannya ilmu oleh Allah swt. dan kejernihan panca indra dan penalarannya.

2. Menjaga kesucian ilmu yang dimilikinya dari perbuatan yang tercela.

3. Berakhlak dengan sifat zuhud dan tidak berlebih-lebihan dalam urusan duniawi, qanaah dan sederhana.

4. Berakhlak dengan sifat zuhud dan tidak berlebih-lebihan dalam urusan duniawi, qanaah dan sederhana.

5. Menjauhkan diri dari perbuatan yang tercela.

(9)

Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui Pendekatan Psikologi Pendidikan Islam…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433

DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

6. Melaksanakan syari’at Islam dengan sebaik-baiknya.

7. Melaksanakan amalan sunah yang di syari’atkan.

8. Bergaul dengan sesama manusia dengan menggunakan akhlak yang mulia dan terpuji.

9. Memelihara kesucian lahir dan bathinnya dari akhlak yang tercela.

10. Senantiasa semangat dalam menambah ilmu dengan sungguh-sungguh dan kerja keras.

11. Senantiasa memberikan manfaat kepada siapapun.

12. Aktif dalam pengumpulan bahan bacaan, mengarang dan menulis buku.

(Maulana Alam al-Hajar, 1985)

TEMUAN

Memelihara Minat Belajar Anak melalui Penelusuran Kecerdasan

Teori belajar kecerdasan majemuk pertama kali dipopulerkan oleh Howard Earl Gardner. Pada tahun 1983, Howard Gardner menulis tentang teori kecerdasan majemuk atau multiple intelligences dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind.

Howard Gardner mengembangkan kecerdasan majemuk setelah melalui berbagai macam pengamatan.

Salah satu pengamatan yang dilakukan oleh Gardner adalah bahwa Dia melihat bahwa anak-anak yang dianggap lemah dalam satu keahlian atau dianggap boodoh karena memiliki kecerdasan intelektual yang rendah, tetap saja memiliki kecerdasan di bidang yang lain. Penemuan-penemuan seperti itu membuat Gardner yakin bahwa dalam mengukur kecerdasan seseorang tidak bisa hanya mengandalkan intelektual semata.

Ada berbagai macam pengukuran yang harus disesuaikan antara satu orang dengan lainnya. Demikian juga, ada berbagai macam kecerdasan pada setiap individu. Sehingga, ketika pengukuran kecerdasan diseragamkan pada setiap individu, maka hal tersebut akan merugikan individu yang kecerdasannya bukan pada model pengukuran tersebut. Hingga pada akhirnya, setelah mengalami berbagai penyempurnaan, dikenallah teori multiple intelligences atau kecerdasan majemuk. Terdapat sembilan (9) model kecerdasan yang dikembangkan oleh Howard Gardner.

(10)

Saiful Akhyar, Mhd Noor Sitorus, Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433 DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

Bila dikembalikan ke dalam pandangan Islam. Sesungguhnya pandangan Howard Gardner yang melihat bahwa setiap individu memiliki keistimewaan di bidangnya masing-masing bersesuaian dengan ayat Alquran yang menceritakan bahwa Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Mengenai ini dapat dirujuk di QS. At-Tin ayat 4.

Ayat tersebut telah dengan terang benderang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan sempurna. Ini berarti setiap manusia yang diciptakan memiliki daya atau potensi yang dapat dikembangkan. Hanya saja tergantung bagaimana manusia tersebut atau lingkungannya mengembangkan diri agar menemukan potensi dalam dirinya sehingga bisa mempergunakannya dengan maksimal.

Jika dikaitkan dengan pendidikan anak, maka memahami dan mengaplikasikan teori-teori kecerdasan majemuk dalam mendidik akan memberikan pengaruh yang sangat besar. Sebagaimana yang telah dilihat di berbagai macam lembaga pendidikan, seringkali diperlihatkan bahwa anak-anak yang memiliki kecerdasan yang unggul dalam satu bidang dikelompokkan berdasarkan kecerdasannya, sehingga, anak tersebut dapat mengasah dan memperlihatkan kecerdasannya karena dia dididik atau distimulus sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Selain itu, hal terpenting dalam penelusuran kecerdasan seorang peserta didik adalah peserta didik tersebut akan mengalami proses belajar yang bermakna.

Artinya, peserta didik tersebut akan merasa bahagia dalam menjalani rangkaian- rangkaian pembelajaran. Perasaan tersebut akan meningkatkan dan memelihara minat belajar yang ada dalam dirinya. Hal demikian itulah yang menjadi fokus dalam penelitian ini.

Berikut ini adalah kelompok-kelompok kecerdasan majemuk serta dinamika stimulusnya berdasarkan sentuhan pandangan agama Islam.

Kecerdasan Bahasa (Linguistic Intelligence)

Kecerdasan bahasa adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang dimana orang tersebut peka terhadap makna dan penggunaan bahasa. Seorang peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan bahasa akan meraih kecerdasannya jika mendapatkan stimulus-stimulus kebahasaan.

(11)

Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui Pendekatan Psikologi Pendidikan Islam…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433

DOI: 10.19109/tadrib.v8i2 Ciri-ciri:

✓ Bicara teratur

✓ Menyimak dengan baik

✓ Senang menulis

✓ Senang bercerita

✓ Mudah menghafal kosakata

✓ Mengaplikasikan kosakata baru ke dalam kalimat ketika berbicara

✓ Mudah memahami struktur kalimat (sintaksis) Landasan Filosofis: Q.S. Ar-Rahman: 1-4 Stimulan Efektif:

✓ Menerapkan metode pembelajaran story telling

✓ Memutar video berbentuk cerita (multimedia)

✓ Mengisi paragraf rumpang

✓ Mencocokkan/ menjodohkan pilihan kata dengan pilihan arti yang disediakan

✓ Menonton documenter

✓ Menghafal kosakata (Vocabularies Drill/ Mufrodat)

✓ Latihan Berdialog (Speaking/ Muhadorot) Kecerdasan Musik (Musical Intelligence)

Kecerdasan musik atau (Musical Intelegence) adalah kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang dimana orang tersebut peka terhadap suara, irama, ataupun nada musik. Peserta didik dengan kecerdasan ini akan dengan mudah mengenali tinggi nada suara bahkan banyak diantaranya mampu menyanyi dengan baik dan memainkan alat musik. Beberapa diantara orang yang memiliki kecerdasan musik bahkan dengan mudah menggubah nada-nada (arrangement) yang menarik didengar (easy listening).

Menurut Masganti, kecerdasan musik juga memiliki hubungan dengan area otak yang mengontrol kecerdasan lain. Seperti halnya yang ditemukann pada orang yang memiliki kecerdasan kinestetik-tubuh (bodily-kinesthetic intelligence) yang tajam, atau penggubah musik yang mahir menerapkan kecerdasan logis-matematis terhadap manipulasi rasio pola dan tangga nada musik. (Masganti, 2021)

Ciri-ciri:

✓ Senang menyanyi

(12)

Saiful Akhyar, Mhd Noor Sitorus, Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433 DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

✓ Senang mendengarkan musik

✓ Peka terhadap tangga nada

✓ Bersuara merdu

✓ Suka memainkan benda dengan irama

Landasan Filosofis: Ḥadīṡ Nabi SAW. riwayat at-Tirmidzi nomor 693

َد ُواَد ِلآ ِريِما َزَم ْنِم ا ًراَم ْزِم َتيِطْعُأ ْدَقَل ىَسوُم اَبَأ اَي Stimulan Efektif:

✓ Backsound suara murottal Alquran ketika belajar

✓ Menghafal Alquran dengan nada-nada yang indah

✓ Backsound music ketika sedang belajar

✓ Menyanyi

✓ Mendengarkan musik

✓ Menggubah materi ajar ke dalam kalimat yang berirama

✓ Menghafal kosakata dalam lagu (syair)

Kecerdasan Logis-matematis (Logical-Mathematical Intelligence)

Kecerdasan logis-matematis adalah kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang yang dengan mudah berpikir logis, membuat abstraksi, serta berdaya nalar tinggi.

Orang dengan kemampuan ini juga mudah memahami sistem sebab-akibat (kausalitas). Mereka juga mampu berpikir secara berurutan.

Selain mudah memahami hubungan sebab-akibat, orang dengan kecerdasan ini juga umumnya mengikuti serangkaian perintah. Sehingga, dalam kehidupan sehari-hari, orang dengan kecerdasan ini mampu menerapkan keterampilan tersebut untuk membantu dirinya dalam menyelesaikan persoalan.

Ciri-ciri:

✓ Suka pelajaran yang melibatkan angka-angka

✓ Mampu menalar tabel, grafik atau diagram

✓ Senang dengan permainan yang melibatkan strategi

✓ Kritis

Landasan Filosofis: Q.S. Ali Imran: 190-191 Stimulan Efektif:

✓ Operasi bilangan

✓ Menampilkan materi dalam tabel

(13)

Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui Pendekatan Psikologi Pendidikan Islam…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433

DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

✓ Membuat diagram

✓ Menyelesaikan puzzle

✓ Belajar dengan pendekatan Project Based Learning Kecerdasan Ruang (Spatial Intelligence)

Kecerdasan ruang atau kecerdasan visual adalah kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang dengan karakteristik pemilik kecerdasan tersebut mudah dalam menyampaikan ide atau pendapat melalui sketsa. Orang dengan kemampuan ini juga mudah untuk kreatif dan imajinatif dalam mempresentasikan atau memvisualisasikan pikirannya.

Orang dengan kecerdasan ini juga akurat dalam mempersepsikan objek, memperesentasikan ide ke dalam bentuk dua atau tiga dimensi. Selain itu, mereka juga punya kemampuan yang tinggi dalam membayangkan objek berputar dan melihatnya dalam berbagai sudut pandang. Kecerdasan ini juga sangat berguna dalam membuat sketsa rancang-bangun. Termasuk kemampuan membuat replika pesawat, bangun tiga dimensi, atau kapal dan bangun-bangun lainnya.

Ciri-ciri:

✓ Suka berimajinasi

✓ Menggambar dengan baik

✓ Mudah memahami sketsa

✓ Mudah berkonsentrasi

✓ Tertarik dengan benda-benda tiga dimensi yang rumit

✓ Cepat dalam menyelesaikan teka-teki berbentuk bangun ruang (puzzle) Landasan Filosofis: Q.S. Huud: 37

Stimulan Efektif:

✓ Media pembelajaran dengan multimedia

✓ Rancang-bangun tiga dimensi

✓ Permainan edukatif dengan clay

✓ Permainan edukatif dengan stik es krim

✓ Permainan edukatif dengan origami

✓ Menata sketsa bangun ruang

(14)

Saiful Akhyar, Mhd Noor Sitorus, Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433 DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

Kecerdasan Tubuh/ Kinestetik (Bodily-Kinesthetic Intelligence)

Kecerdasan kinestetik atau kecerdasan tubuh adalah kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang yang umumnya dengan mudah untuk mengembangkan kemampuan- kemampuan yang bersifat fisik, seperti kemampuan atletik, ketangkasan manual, serta pemahaman tentang hal-hal kesehatan fisik.

Orang dengan kemampuan kinestetik umumnya memiliki kecerdasan dalam hal fungsi-fungsi mekanik atau bahkan fungsi-fungsi bedah yang melibatkan benda- benda fisiologis. Kelihaian dalam menari, senam, serta olahraga adalah kemampuan-kemampuan yang dapat dengan mudah diserap oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan kinestetik.

Ciri-ciri:

✓ Aktif bergerak

✓ Selalu ingin memperagakan apa yang dipelajarinya

✓ Tidak sabar dalam belajar dengan model memperhatikan saja

✓ Ahli dalam olahraga

✓ Cepat dalam meniru gerakan

✓ Antusiasme tinggi

✓ Mudah bergaul

Landasan Filosofis: Q.S. Al-Maidah: 31 Stimulan Efektif:

✓ Metode pengajaran demonstrasi

✓ Kegiatan olahraga

✓ Menyediakan ruang yang cukup untuk bergerak bebas

✓ Desain kelas yang demonstratif

✓ Permainan edukatif

✓ Baris-berbaris

✓ Ekstrakurikuler

✓ Sport Club

✓ Belajar dengan peragaan (praktik Salat, Wudhu, Haji, dsb.) Kecerdasan Sosial (Interpersonal Intelligence)

Kecerdasan sosial atau juga dikenal dengan istilah kecerdasan interpersonal adalah kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang dimana orang tersebut memiliki

(15)

Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui Pendekatan Psikologi Pendidikan Islam…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433

DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

perasaan yang kuat. Memiliki perasaan yang kuat artinya bahwa orang tersebut mampu secara efektif memahami perasaan orang lain dengan cara berempati sehingga memudahkan ia untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Orang dengan kemampuan seperti ini juga bisa menjadi seorang pendengar yang baik, sebab, sangat mudah bagi mereka untuk memahami maksud dan perasaan orang lain. Orang dengan kecerdasan ini juga akan mudah terlibat aktif dalam diskusi ataupun bahkan debat. Mereka juga dengan mudah memotivasi dirinya atau kelompoknya untuk mencapai sesuatu. Berkomunikasi adalah kelihaian mereka. Sebagaian mengganggap mereka sebagai perayu yang handal, atau pandai mempersuasi. Orang-orang akan sangat mudah takjub dengan gaya bicara mereka. Kecerdasan interpersonal ini juga biasanya dimiliki oleh orang- orang yang menjadi trendsetter dalam kelompoknya, popular, serta disukai banyak orang.

Ciri-ciri:

✓ Lihai berbicara

✓ Mudah bergaul

✓ Suka berkenalan/ bersosialisasi

✓ Akrab dengan banyak orang

✓ Sering menjadi panutan dalam kelompoknya

✓ Mudah berempati

✓ Pendengar yang baik

Landasan Filosofis: Q.S. Al-Huujurat: 38 Stimulan Efektif:

✓ Kelompok diskusi

✓ Presentasi hasil kerja

✓ Berpidato

✓ Bercerita

✓ Metode belajar melalui drama

✓ Kerja kelompok

✓ Belajar dengan pendekatan Project Based Learning

Kecerdasan Personal/ Pribadi (Intrapersonal Intelligence)

(16)

Saiful Akhyar, Mhd Noor Sitorus, Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433 DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

Kecerdasan personal atau kecerdasan pribadi adalah kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang dimana orang-orang dengan kecerdasan tersebut sangat memahami tentang seluk-beluk dirinya. Dia mampu mengendalikan emosinya, mengendalikan pikirannya, serta mengendalikan tingkah-lakunya sebab dia memiliki kecerdasan yang kuat untuk mengenali kepribadiannya.

Orang yang memiliki kecerdasan seperti ini juga mudah melakukan introspeksi dan refleksi diri. Ia dengan gampang mengukur kekuatan dan kemampuannya dalam melakukan sesuatu. Ia juga memiliki kecerdasan untuk mengoptimalkan kemampuannya dalam meraih cita-citanya. Orang dengan kecerdasan personal ini tidak mudah stress, bahkan dia memiliki motivasi yang tinggi.

Ciri-ciri:

✓ Bertekad kuat

✓ Rapi dan teratur

✓ Adaptif

✓ Pandai mengendalikan emosi

✓ Pandai memprediksi reaksi (analis) Landasan Filosofis: Q.S. Ad-Zariyat: 21 Stimulan Efektif:

✓ Kerja dengan deadline

✓ Self-healing

✓ Self-control

✓ Pengatur/ manager yang baik

Kecerdasan Alamiah (Naturalistic Intelligence)

Kecerdasan alamiah atau naturalistic intelligence adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk memandu dan menguasai pengenalan terhadap alam sekitar. Baik itu pengenalan dan penguasaan terhadap kategori tumbuhan, hewan, bahkan lingkungan alam di mana dia berada. Kecerdasan alamiah ini sangat membantu bagi mereka yang yang menekuni bidang-bidang kealaman, seperti pertanian, peternakan, bahkan pengenalan terhadap botani.

Orang-orang dengan kecerdasan alamiah seperti ini mampu membaca situasi alam, seperti mengenali gejala-gejala lingkungan. Kecerdasan seperti ini sangat

(17)

Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui Pendekatan Psikologi Pendidikan Islam…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433

DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

peka terhadap perubahan alam, suhu, ataupun gejala alam lain. Orang dengan kecerdasan alamiah seperti ini juga umumnya akrab dengan kehidupan alamiah seperti memahami gestur hewan, mengenali tumbuh-tumbuhan yang dapat dimakan atau beracun, serta memprediksi cuaca, gempa dsb.

Ciri-ciri:

✓ Peka terhadap suhu udara

✓ Penyayang binatang

✓ Tertarik dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan

✓ Pandai memanfaatkan alam sekitar untuk menyelesaikan persoalan

✓ Peka terhadap gestur hewan dan tanda-tanda alam Landasan Filosofis: Q.S. Ali Imran: 190-191

Stimulan Efektif:

✓ Study tour alam

✓ Desain kelas alamiah

✓ Observasi lingkungan

Kecerdasan Eksistensial (Existential Intelligence)

Kecerdasan eksistensial atau existential intelligence adalah kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang dimana orang tersebut sangat arif dan bijaksana dalam menyadari keberadaannya. Kecerdasan ini juga dianggap sebagai kecerdasan agama atau spiritual intelligence. Kecerdasan ini juga adalah kecerdasan yang memandu seseorang untuk dengan arif bertingkah laku, sabar dalam bertindak, sebab ia sadar tentang kebijaksanaan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari- hari.

Orang dengan kecerdasan ini umumnya dianggap sebagai orang yang paham tentang kebajikan dan agama. Sehingga, umumnya orang-orang tersebut dikenal sebagai pemuka agama; baik imam ataupun pendeta.

Dalam literatur agama Islam, dikenal istilah sufisme. Aliran yang meneladani sikap-sikap kebijaksanaan dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Yang demikian itu juga bagian dari pada kecerdasan atau kearifan eksistensial.

Ciri-ciri:

✓ Cenderung kepada ritual-ritual agama

✓ Tenang

(18)

Saiful Akhyar, Mhd Noor Sitorus, Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433 DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

✓ Sabar

✓ Mampu mengendalikan emosi

✓ Bijak

Landasan Filosofis: Q.S. Ad-Zaariyat: 56 Stimulan Efektif:

✓ Metode keteladanan

✓ Pengajaran ilmu Hadis

✓ Pengajaran Alquran

✓ Pengajaran kisah para nabi dan rasul

KESIMPULAN

Sekurang-kurangnya pengertian anak dapat dilihat dari 3 sudut pandang, yakni sudut pandang administratif, sudut pandang perspektif, dan sudut pandang filosofis. Berdasarkan penelusuran sumber-sumber yang dijadikan rujukan dalam penelitian ini, didapatkan kesimpulan bahwa apa yang dimaksud dengan sudut pandang administratif tentang anak adalah sesuai dengan pengertian yang dimuat di dalam Peraturan Presiden Nomor 60/ 2013 tentang Pengembangan Anak Holistik Integratif. Di dalam Perpres tersebut didapati bahwa yang dimaksud dengan anak adalah anak sejak janin dalam kandungan sampai dengan usia 6 tahun.

Selanjutnya, yang dijadikan dasar penelusuran sudut pandang perspektif terhadap anak dalam penelitian ini adalah kedudukan anak dalam perspektif Islam.

Setelah dilakukan penelusuran mengenai kedudukan anak dalam perspektif Islam, didapatkan beberapa kesimpulan, yakni:

• Anak sebagai perhiasan; perspektif ini disimpulkan setelah menelusuri Quran surat Al Kahfi ayat ke 46.

• Anak sebagai penyenang atau penyejuk hati; kedudukan anak sebagai penyejuk hati disimpulkan berdasarkan penelusuran Quran surat al-Furqan ayat ke 74.

• Anak sebagai cobaan; kedudukan anak sebagai cobaan disimpulkan setelah dilakukan penelusuran terhadap Quran surat at-Taghabun ayat 74.

• Anak sebagai musuh, kesimpulan kedudukan anak sebagai musuh didapati setelah menelusuri Quran surat at-taghabun ayat ke-14.

(19)

Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui Pendekatan Psikologi Pendidikan Islam…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433

DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

• Anak dalam keadaan fitrah, kesimpulan tentang kedudukan anak sebagai dalam keadaan fitrah didapati melalui penelusuran hadis nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang termaktub dalam kitab Fathul bari kitab al-Janaiz hadits nomor 1358

Terdapat beberapa hal yang menjadi kendala bagi anak untuk senantiasa memiliki minat belajar. Baik kendala itu datang dari diri peserta didik atau lingkungan tempat mereka belajar. Kendala belajar dapat juga berbentuk fisik maupun non fisik. Beberapa jenis kendala belajar adalah faktor kebisingan, inefektifitas pencahayaan, gangguan emosi, serta faktor-faktor pendukung belajar yang tidak efektif, seperti metode pembelajaran, sumber belajar, media pembelajaran, serta faktor guru atau pendidik.

Terdapat dua aspek pembelajaran yang perlu dikembangkan melalui prinsip- prinsip psikologi pendekatan Islam untuk memelihara minat belajar anak. Dua aspek tersebut adalah aspek teknis pembelajaran dan aspek non teknis pembelajaran.

Melalui penelitian ini, disimpulkan bahwa upaya pemeliharaan minat belajar anak dapat dilakukan melalui penerapan prinsip-prinsip psikologi pendidikan. Ada tiga ruang lingkup penerapan psikologi pendidikan Islam dalam pemeliharaan minat belajar anak yang diungkap dalam penelitian ini. Tiga ruang lingkup tersebut adalah:

• Ruang Lingkup Peserta Belajar

• Ruang Lingkup Lingkungan Belajar

• Ruang Lingkup Materi Belajar

Kesimpulan akhir dari penelitian ini adalah bahwa psikologi pendidikan Islam bersifat urgen dalam memeliharan minat belajar anak.

(20)

Saiful Akhyar, Mhd Noor Sitorus, Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433 DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Abdurrahman Saleh. Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Alquran. Cet.

4. Terj. M. Arifin. Jakarta: Rineka Cipta. 2007.

Ad-Diin, Muhyi. Matan Arba’in an-Nawawiyah. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.

1978.

Al-Haramain, Asy-Syarifain Khadim. Alquran dan Terjamahnya. Saudi Arabia:

Maktabah Al-Malik Fahd. 1418 H.

Al-Hajar. Maulana Alam. Adab al-Muta’allim wa al-Muta’allim. Beirut: Dar al- Manahil. 1985.

Ali, Hery Noer. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Logos. 1999.

Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2014.

Al-Jauziyyah, Ibnul Qayyim. Thariqul Hijratain Wa Bab As Sa'adatain. ttp. Daar

‘Alam al-Fawaid. 1429 H.

Al-Yâsû‘iy, Louwis Ma‘lûf. Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A‘lam. Cet.26. Beirût:

Al Masyriq. 2002.

Anwar, Saifuddin. Metodologi Penelitian.Yogyakarta: Pelajar Offset. 1998.

Arsyad, Junaidi. Metode Pendidikan Rasulullah Saw. Medan: Perdana Publishing.

2019.

Asari, Hasan. Hadis-hadis Pendidikan. Medan: Perdana Publishing. 2020.

Ashraf, Ali. Horison Baru Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Firdau. 1993.

Baharits, Adnan Hasan Salih. Mendidik Anak Laki-laki. Terj. Syihabuddin. Jakarta:

Gema Insani 2007.

Berk, L. Child Development Edisi ke 9. USA: Pearson. 2013.

Crain, William. Theories of Development, Concept and Application. Terj. Yudi Santoso. Teori Perkembangan Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2007.

Darajat, Zakiah. Methodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara.1996.

DePorter, Bobby dan Mike Hernacki. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Mizan Pustaka. 2007.

Dora, Purnama Esa. “Optimasi Desain Pencahayaan Ruang Kelas SMA Santa Maria Surabaya”. dalam Dimensi Interior, vol. 9, no. 2, Desember 2011.

Gadner, Howard. Frames of Mind. New York: Basic Books. 2011.

Hartati, Jusmeli, Wasith Achadi, Syarnubi Syarnubi, dan Muhammad Mirza Naufa.

2022. “Hubungan Prokrastinasi dan Dukungan Sosial Teman Sebaya Pada Mahasiswa Pendidikan Agama Islam FITK UIN Raden Patah Palembang.”

Al-Mada: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 5(4):608–18.

(21)

Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui Pendekatan Psikologi Pendidikan Islam…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433

DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

Jahja, Yudrik. Psikologi Perkembangan. Cet.4. Jakarta: Prenada Media. 2015.

Jalaludin. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.

Jalaluddin. Psikologi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2018.

Jamaris, Martini. Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan. Jakarta: Ghalia Indonesia. 2013.

Miarso, Yusufhadi. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.

2004.

Montessori, Maria. Obserbent Mind. Madras: TheTheosopichal Publishing House.1949.

Morgan, Clifford T. Psychology. New York: Mc. Grow Hill Book Company. 1981.

Muhammad, Abu Ja’far bin Jarir ath-Thabari. Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur’ān.

Cet.1. Muassasah ar-Risalah. 1420 H.

Narendra, M.B. Tumbuh Kembang Anak Dan Remaja. Jakarta : Sagung Seto. 2002.

P, Chaplin J. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2004.

Poerbakawatja, Sorganda dan H.A.H. Harahap. Ensiklopedia Pendidikan. Cet.3.

Jakarta: Gunung Agung. 1982.

Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia. 2002.

Rohman, Pupuh Fathur Rohman. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Redika Aditama. 2009.

Santrock, J. Child Development Edisi ke 13. New York: McGrawHill. 2010.

Saputra, Ilman dan Alzena Masykouri. Membangun Sosial Emosi Anak di Usia 4- 6 Tahun. Jakarta: Dir. Pembinaan Pend. Anak. 2011.

Sit, Masganti. Psikologi Perkembangan Anak. Cet.1. Depok: Kencana. 2017.

Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. 2003.

Sobur, Alex. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia. 2003.

Soemiatri. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: Rineka Cipta. 2000.

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif dan R & D.

Bandung: Alfabeta. 2010.

Sujarweni, V.Wiratna. Metodeologi Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Baru Perss.

2014.

Sukardi. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarata:

PT Bumi Aksara. 2013.

Sumadi, Suryabrata. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

2008.

(22)

Saiful Akhyar, Mhd Noor Sitorus, Pemeliharaan Minat Belajar Anak Melalui…

P-ISSN 2477-5436 and E-ISSN 2549-6433 DOI: 10.19109/tadrib.v8i2

Suriasumantri, J. S. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 2003.

Thalib, Syamsul Bachri. Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif.

Jakarta: Prenada Media Group. 2010.

Wiedarti, Pangesti. Pentingnya Memahami Gaya Belajar. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Kemdikbud. 2018.

Woolfolk, Anita. Educational Psychology. Essex: Pearson Education Limited.

2016.

Zaman, Badrun dan Cucu Eliyawati. Media Pembelajaran Anak. Bahan Ajar Pendidikan Profesi Guru. Tidak Diterbitkan.

Zed, Mestika. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

2008.

Referensi

Dokumen terkait

Dari Gambar 7 sampai dengan Gambar 9 yang menunjukan hubungan beban dan lendutan pada cangkang silindris yang juga merepresentasikan hubungan momen dan

Dengan tingkat keasaman tersebut, laktobasilus akan subur dan bakteri patogen mati (Burhani, 2012), sedangkan penggunaan sabun pembersih vagina secara berlebihan dapat

Pengadaan alat peraga Montessori di Sekolah Dasar nampaknya masih belum menjadi harapan karena ketersediaan alat peraga di Sekolah Dasar sendiri masih perlu mendapat

In a study in Alaska, where there is a high rate of co-sleeping among Alaskan Native peo- ple, researchers found that almost all SIDS deaths associated with parental bed sharing

Kita bisa menyaksikan perkembangan peradaban yang dibangun oleh manusia saat ini berlangsung sangat pesat, manusia mengalami banyak kema- juan yang berarti untuk kesejahteraanya,

Kebun-kebun yang sulit air biasanya penanaman kentang dilakukan pada musim hujan dengan pengendalian hama dan penyakit yang lebih intensif dan pembuatan selokan yang lebih

HUMAS dari Badan POM dalam kegiatan “Badan POM Sahabat Ibu” dalam melakukan pemberitaan/menyebarkan informasi yang bertujuan untuk mendapatkan respon positif dengan

Permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana pengembangan media pembelajaran Biologi berbasis macromedia flash professional 8 dalam bentuk Compact Disc