• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diva Raisy Imunofarmakologi

N/A
N/A
aditya naufal

Academic year: 2023

Membagikan "Diva Raisy Imunofarmakologi"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH IMUNOKOLOGI

Dosen Pengampu:

apt. Rizky Yulion Putra, M.Pharm

Disusun Oleh:

Nama: Diva Raisy Amalia NIM: 2148201146 Kelas: 3A Farmasi

PRODI FARMASI

STIKES HARAPAN IBU JAMBI

TAHUN AJARAN 2022/2023

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Imunokologi" dengan tepat waktu.

Makalah disusun untuk memenuhi tugas Imunologi. Selain itu, makalah ini bertujuan menambah wawasan tentang imunologi tumor bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak apt. Rizky Yulion Putra, M.Pharm selaku dosen pengampu Mata Kuliah Imunologi. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu diselesaikannya makalah ini.

Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Jambi, 25 Desember 2022

Penulis

(3)

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN ………..……… 4

1.1 Latar Belakang ……….. 4

1.2 Rumusan Masalah ………. 4

1.3 Tujuan ………. 5

BAB II PEMBAHASAN ………. 6

2.1 Apa yang dimaksud Imunorestorasi ……….. 6

2.2 Apa yang dimaksud Imunostimulasi ……..………. 7

2.3 Apa yang dimaksud Imunosupresi ……….………. 7

2.4 Apa yang dimaksud Imunorterapi ……….. 8

BAB III PENUTUP ……… 9

3.1 Kesimpulan ………. 9

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia dan hewan mempunyai sistem pelacakan dan penjagaan terhadap benda asing yang dikenal dengan sistem imun. Sistem imun melindungi tubuh terhadap penyebab penyakit pathogen seperti virus, bakteri, parasit, jamur. Sistem imun terbagi menjadi dua yaitu imun non spesifik (innate immunity) atau system alamiah dan imun spesifik atau system imun adaptif. Kedua system ini yang melindungi tubuh dan mengeliminasi agen penyakit. Respon imun yang diselenggarakan oleh system imun paling tidak memiliki 3 fungsi utama yaitu untuk pertahanan tubuh, menjaga homeostasis dan melakukan surveilans atau penjagaan.

Kajian imunologi diterima luas disemua cabang ilmu biologi, terutama ilmu – ilmu bidang kesehatan, termasuk dibidang ilmu kefarmasian. Sebagai ilmu alat, imunologi dapat membantu memecahkan kebuntuan yang terjadi pada cabang ilmu lainnya. Imunologi telah dirasakan kemanfaatannya oleh para klinisi ketika membantu menguraikan berbagai mekanisme patofisiologi dan pathogenesis berbagai penyakit, termasuk penyakit yang jarang terjadi di masyarakat dan penyakit autoimun, misalnya bagaimana mekanisme patofisiologi asma alergi, rematoid arthritis dan sistik fibrosis dapat dijelaskan dengan mudah dengan pendekatan imunologis. Dibidang penemuan obat baru, imunologi bersama biologi molekuler merupakan salah satu ilmu yang memfasilitasi lahirnya obat-obat baru kelompok obat biosimilar.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Imunorestorasi?

2. Apa yang dimaksud dengan Imunostimulasi?

3. Apa yang dimaksud dengan Imunosupresi?

4. Apa yang dimaksud dengan Imunoterapi?

(5)

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui apa itu Imunofarmakologi

2. Mengakaji lebih dalam mengenai Imunorestorasi, Imunostimulasi, Imunosupresi, Imunoterapi

3. Untuk memenuhi nilai tugas pada mata kuliah Imunologi

(6)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Imunorestorasi

Imunitas adalah perlindungan tubuh terhadap suatu penyakit, khususnya penyakit infeksi.

Sistem imun adalah gabungan dari sel, molekul dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi. Reaksi yang mengatur sel, molekul dan bahan lainnya disebut respon imun. Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya dari berbagai serangan dalam lingkungan hidup seperti bakteri, virus, toksik, jamur, serta jaringan asing.

Mekanisme sistem imun dapat dibagi menjadi spesifik dan non spesifik. Sistem imun spesifik yaitu sistem imun yang muncul ketika suatu individu mengalami suatu respon imun.

Komponen sistem imun spesifik salah satunya adalah sel limfosit. Sistem imun non-spesifik (innate atau non adaptif) yaitu sistem imun alamiah yang dibawa sejak lahir, dimana tidak perlu ada pejanan terlebih dahulu dan spesifik (imunitas yang didapat atau adaptif). Komponen sistem imun non spesifik salah satunya adalah makrofag Tumor merupakan penyakit yang mengkhawatirkan karena menjadi penyebab kematian nomor tujuh di Indonesia dengan persentase 5,7 persen dari keseluruhan penduduk Indonesia yang meninggal (Riset Kesehatan Dasar tahun 2007). Riset juga menyatakan bahwa setiap 1000 orang terdapat sekitar 4 penderita tumor. Faktor ini terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya sehingga dalam kurun waktu 10 tahun (2005-2015) WHO memperkirakan jumlah kematian karena tumor rata-rata 8,4 juta setiap tahun dan tahun 2015 mencapai 9 juta jiwa.

Obat-obatan atau bahan yang dapat mengembalikan ketidakseimbangan sistem imun disebut imunomodulator. Kategori imunomodulator berdasarkan efeknya yaitu imunorestorasi, imunosupresi dan imunostimulasi. Imunorestorasi dan imunostimulasi disebut imunopotensiasi atau up regulation, sedangkan imunosupresi disebut down regulation.

Imunorestorasi adalah suatu cara untuk mengembalikan fungsi sistem imun yang terganggu dengan memberikan berbagai komplemen sistem imun, seperti imunoglobulin dalam bentuk immune serum globulin (ISG), hyperimmune serum globulin (HSG), plasma, plasmaferesis, leukoferesis, transplantasi sumsum tulang, hati dan timus.

(7)

2.2 Imunostimulasi

Imunostimulasi adalah cara memperbaiki fungsi sistem imun dengan menggunakan imunostimulan yaitu bahan yang meransang sistem imun seperti hormon timus, limfokin, interferon (biologis), levamisol, isoprinosin, antioksidan (sintetik). Imunosupresan merupakan suatu tindakan untuk menekan respons imun. Kegunaannya di klinik terutama pada transplantasi dalam usaha untuk mencegah reaksi penolakan dan berbagai penyakit inflamasi yang menimbulkan kerusakan.

Bahan yang dapat menstimulasi sistem imun disebut Biologoical response modifiers (BRM), dibagi menjadi dua kelompok yaitu bahan biologis dan sintetik. Yang termasuk bahan biologis diantaranya adalah sitokin (interferon) hormon timus dan antibody monoklonal, sedangkan bahan sintetik antara lain adalah senyawa muramil dipeptida (MDP) dan levamisole.

Pengguna immunomodulator sintetik ini mempunyai beberapa kekurangan seperti mengakibatkan reaksi alergi dan hipersensitivitas pada sebagian orang. Ia juga dapat mengakibatkan efek samping yang tidak diinginkan. Dengan ini, adalah lebih aman jika digunakan imunomodilator alami karena efek samping darinya juga lebih ringan dibanding dengan imunomodulator sintetik.

Imunostimulan ditujukan untuk perbaikan fungsi imun pada kondisi-kondisi imunosupresi Kelompok obat ini dapat mempengaruhi respon imun seluler maupun homoral. Kelemahan obat ini adalah efeknya menyeluruh dan tidak bersifat spesifik untuk jenis sel atau antibodi tertentu. Selain itu efek umumnya lemah. Indikasi imunostimulan antara lain AIDS, infeksi kronik, dan keganasan terutama yang melibatkan sistem lifatik.

2.3 Imunosupresi

Imunosupresi adalah berkurangnya kapasitas sistem kekebalan tubuh untuk merespon antigen asing secara efektif, termasuk antigen permukaan pada sel tumor. Imunosupresi dapat disebabkan oleh terbunuhnya sel efektor imun atau dari penyumbatan jalur intraseluler yang penting untuk pengenalan antigen atau elemen lain dari respons imun sedangkan imunosupresan adalah obat yang menekan sistem imun atau menurunkan respon tubuh. Obat immunosupresan biasanya digunakan untuk mengobati berbagai penyakit seperti glomurelonephitis, myasthenia gravis, arthritis, lupus dan sebagainya. Obat imunosupresan terdiri dari 5 golongan diantaranya glukokortokoid, sitostatika, antibodi, obat yang bekerja pada imunofilin, dan obat lainnya. Pada

(8)

penelitian kali ini, obat immunosupresan yang digunakan adalah rapamycin. Pemilihan rapamycin karena rapamycin berikatan dengan protein spesifik pada mamalia yang memiliki peranan penting dalam respon imun yaitu FK506 Binding Protein 12 (FKBP12).

Obat dan terapi imunosupresif banyak dimanfaatkan pada operasi transplantasi organ.Obat dan terapi imunosupresif akan mampu menekan kerja sistem imun sehingga penolakan tubuh terhadap organ yang baru akan dapat ditekan[

Radang usus besar dapat diobati dengan menggunakan obat imunosupresif kortikosteroid dan sitotoksik.Kortikosteroid telah bertahun-tahun digunakan untuk mengontrol perkembangan penyakit tersebut, sedangkan sitotoksik juga dimanfaatkan pada pasien penyakit Crohn yang mengalami fistula. Obat imunosupresif dapat meningkatkan risiko infeksi oleh bakteri, virus, dan jamur. Kelas obat imunosupresif yang baru, siklosporin, dapat memberikan efek samping berupa keracunan pada sel saraf, keracunan pada ginjal, keracunan pada hati, dan hiperkalemia.Untuk mengamati dampak-dampak yang ditimbulkan agar dapat dievaluasi lebih lanjut, pemakaian obat dan terapi imunosupresif harus terus diawasi.

2.4 Imunoterapi

Imunoterapi merupakan terobosan terbaru dalam pengobatan kanker. Terapi ini menggunakan sistem kekebalan tubuh sendiri untuk melawan sel-sel kanker. Sel darah putih punya banyak komponen seperti limfosit, basofil, fagosit, dan lainnya. Komponen yang berperan dalam melawan kanker adalah sel limfosit T dan NK cell. Tetapi, terkadang kekebalan manusia itu sendiri tidak cukup kuat untuk melawan kanker. Kanker tumbuh secara perlahan, dan pada awalnya kekebalan tubuh manusia dapat membasmi sel kanker sebelum berkembang lebih lanjut. Seiring waktu, sel kanker bertumbuh makin cepat hingga kekebalan tubuh tidak dapat lagi mengimbangi pertumbuhan kanker. Beberapa jenis kanker juga memiliki mekanisme untuk menghancurkan sel limfosit T.

(9)

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Imunorestorasi adalah suatu cara untuk mengembalikan fungsi sistem imun yang terganggu dengan memberikan berbagai komplemen sistem imun, seperti imunoglobulin dalam bentuk immune serum globulin (ISG), hyperimmune serum globulin (HSG), plasma, plasmaferesis, leukoferesis, transplantasi sumsum tulang, hati dan timus.

Imunostimulasi adalah cara memperbaiki fungsi sistem imun dengan menggunakan imunostimulan yaitu bahan yang meransang sistem imun seperti hormon timus, limfokin, interferon (biologis), levamisol, isoprinosin, antioksidan (sintetik). Imunosupresan merupakan suatu tindakan untuk menekan respons imun. Kegunaannya di klinik terutama pada transplantasi dalam usaha untuk mencegah reaksi penolakan dan berbagai penyakit inflamasi yang menimbulkan kerusakan.

Bahan yang dapat menstimulasi sistem imun disebut Biologoical response modifiers (BRM), dibagi menjadi dua kelompok yaitu bahan biologis dan sintetik. Yang termasuk bahan biologis diantaranya adalah sitokin (interferon) hormon timus dan antibody monoklonal, sedangkan bahan sintetik antara lain adalah senyawa muramil dipeptida (MDP) dan levamisole.

Imunosupresi adalah berkurangnya kapasitas sistem kekebalan tubuh untuk merespon antigen asing secara efektif, termasuk antigen permukaan pada sel tumor. Imunosupresi dapat disebabkan oleh terbunuhnya sel efektor imun atau dari penyumbatan jalur intraseluler yang penting untuk pengenalan antigen atau elemen lain dari respons imun sedangkan imunosupresan adalah obat yang menekan sistem imun atau menurunkan respon tubuh.

Imunoterapi merupakan terobosan terbaru dalam pengobatan kanker. Terapi ini menggunakan sistem kekebalan tubuh sendiri untuk melawan sel-sel kanker. Sel darah putih punya banyak komponen seperti limfosit, basofil, fagosit, dan lainnya. Komponen yang berperan dalam melawan kanker adalah sel limfosit T dan NK cell. Tetapi, terkadang kekebalan manusia itu sendiri tidak cukup kuat untuk melawan kanker.

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Anggreini Alfitasari Diska. 2017. Aktivitas Immunodulator Ekstrak. Fakultas Farmasi UMP. Padang

Akrom. 2017. Modul Imunofarmakologi. Universitas AHmad Dahlan.

Yogyakarta

Admin Infosehat FKUI. 2019. Metode imunoterapi ampuh lawan berbagai jenis kanker. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Depok, Jawa Barat

Puji Aprinda. 2022. Fungsi, proses pengobatan, dan efek samoing imunoterapi

kanker. KemenkesRI.

Referensi

Dokumen terkait

Teknologi vaksin DNA berupa plasmid yang mengekspresikan antigen virus dalam pengembangan vaksin dapat menginduksi respons imun terhadap berbagai virus termasuk DENV.. Usaha

Fase Efektor dari respons imun adalah tahap pada waktu limfosit telah teraktifkan oleh imunogen dan dalam keadaan yang dapat berfungsi mengeliminasi imunogen tersebut. 7

Sel naïf yang terpajan dengan antigen berkembang menjadi sel Th0 yang selanjutnya menjadi sel efektor Th1 yang berperan infeksi dan Th2 berperan pada alergi.IL-12 yang dilepas

Sel B1 diduga berperan sebagai efektor maupun regulator pada respon imun adaptif saat merespon terhadap sebuah stimuli pada kasus- kasus berikut: sekresi lokal

Sel Ts dapat diaktifkan melalui tiga cara, yaitu 1) oleh antigen yang merangsang respons imun itu sendiri. Antigen merangsang CD4 yang 2H4+ 4B4- untuk mengeluarkan faktor supresi

Stress dan kortikosteroid mempunyai pengaruh berbeda terhadap sel-sel Th1 dan Th2, mengarahkan sistem imun menjadi respons Th2, yang akan menekan imunitas seluler dan

hydrophila dipilih karena dapat merangsang respons imun humoral yang lebih tinggi pada ikan (Mulia & Purbomartono, 2004). hydrophila yang berperan sebagai

Reaksi autoimunitas merupakan reaksi sistem imun terhadap antigen sel jaringan sendiri, yang disebut