BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Penelitian 4.1.1. Gambaran Subjek Penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi subjek penelitian yaitu siswa kelas V, dari dua sekolah yakni SD Negeri Gendongan 02 Salatiga dan SD Negeri Gendongan 03 Salatiga tahun pelajaran 2011/2012. Siswa SD Negeri Gendongan 02 terdiri dari 34 orang siswa dan SD Negeri Gendongan 03 terdiri dari 40 orang siswa. Dari ke dua sekolah digunakan semua siswa sebagai subjek penelitian, sehingga subjek penelitian yang digunakan sebanyak 74 orang siswa. Dari data yang diperoleh diketahui latar belakang orangtua dari 34 siswa kelompok eksperimen 5 TNI AD, 8 Pegawai Negeri Sipil (PNS), 2 Polisi, 17 wiraswasta, dan 2 buruh. Sedangkan untuk kelompok kontrol, latar belakang orangtua dari 40 siswa diketahui 3 TNI AD, 4 Polisi, 7 Pegawai Negeri Sipil (PNS), 5 guru, 16 wiraswasta, dan 5 buruh.
Dua SD yang menjadi subjek penelitian ini terletak dalam satu gugus yakni gugus Kanigoro Salatiga. SDNegeri Gendongan 02 Salatiga merupakan SD inti sedangkan SD Negeri Gendongan 03 Salatiga merupakan SD imbas. Jumlah guru di SD Negeri Gendongan 02 Salatiga total berjumlah 16 orang dengan rincian 12 PNS dan 4 honorer. Sementara guru di SD Negeri Gendondgan 03 Salatiga terdiri dari 14 orang dengan rincian 10 PNS, 4 honorer.
Secara lokasi, dua SD peneliian ini terletak dalam satu kompleks dan bersebelahan di jalan Margorejo nomor 581 Kecamatan Tingkir Salatiga. Selain dua SD ini masih ada SD Negeri Gendongan 01 yang juga terletak pada kompleks tersebut.
4.1.2. Gambaran Pelaksanaan Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan pada kelompok eksperimen yaitu siswa kelas V SD Negeri Gendongan 02 Gugus Kanigoro Salatiga pada 26 Maret 2012 dan 27 Maret 2012. Sedangkan penelitian untuk kelompok kontrol yaitu siswa kelas V SD Negeri Gendongan 03 Gugus Kanigoro Salatiga pada 27 Maret 2012 dan 28 Maret 2012.
Sebelum dilakukan penelitian, guru hendaknya melaksanakan latihan mengajar. Latihan ini dilakukan untuk menjadi latihan sehingga pada saat penelitian, guru dapat lebih maksimal dalam mengajar dan lebih memahami syntak yang diharapkan. Latihan ini dilakukan pada materi sebelumnya dengan menggunakan perlakuan yang sama seperti perlakuan yang akan dilakukan saat penelitian.
Perencanaa latihan ini dikomunikasikan dengan guru matematika kelas V untuk diimplementasikan. Guru kelas V dari kelompok eksperimen yaitu SD Negeri Gendongan 02 Gugus Kanigoro Salatiga mengungkapkan tidak perlu diadakan latihan karena sudah tidak ada waktu untuk melakukan implementasi. Namun, guru menjanjikan akan mempelajari RPP yang sudah dikoreksi oleh guru sebelumnya.
Sedangkan guru kelas V SD Negeri Gendongan 03 Gugus Kanigoro Salatiga bersedia mengimplementasikan latihan mengajar dengan Standar Kompetensi 5.
Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah, dengan Kompetensi Dasar 5.2.
Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan pada tanggal 6 Maret 2012.
Implementasi latihan mengajar tersebut sudah berjalan sesuai syntak metode role playing meskipun belum semua langkah pembelajaran berjalan dengan baik.
Hasil observasi latihan mengajar pada kelompok kontrol terlampir dan berikut sajian hasil observasi latihan mengajar dalam bentuk prosentase.
Tabel 4.1
Hasil Observasi Latihan Mengajar Kelompok Kontrol dalam Bentuk Prosentase
Syntak Total Item Keterlaksanaan Item Prosentase Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan
kompetensi yang ingin dicapai.
Guru memberikan scenario untuk dipelajari.
Guru menunjuk beberapa peserta didik untuk memainkan peran di depan peserta didik lainnya.
Peserta didik yang telah ditunjuk bertugas memainkan peran di depan peserta didik lainnya.
Peserta didik yang tidak bermain peran bertugas mengamati kejadian khusus dan mengevaluasi peran masing-masing tokoh.
Peserta didik merefleksi kegiatan bersama-sama.
Implementasi latihan mengajar yang dilakukan guru kelas V SD Negeri Gendongan 03 Gugus Kanigoro Salatiga tersebut memaksimalkan proses belajar mengajar pada saat penelitian. Pembelajaran dapat berjalan dengan runtut sesuaai dengan kegiatan pembelajaran pada RPP. Sementara untuk pelaksanaan mengajar pada saat penelitian di kelompok eksperimen, sama halnya dengan penelitian di SD Gendongan 03 semua berjalan lancar dan sesuai dengan kegiatan pembelajaran di RPP.
Hasil observasi yang tertuang pada lembar observasi menunjukkan bahwa guru dari dua kelompok penelitian sudah melaksanakan pembelajaran secara runtut sesuai dengan kegiatan pembelajaran pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah dibuat sesuai dengan syntak pembelajaran. Hasil observasi terlampir dan berikut sajian hasil observasi peneitian kelompok eksperimen dan kontrol dalam bentuk prosentase.
Tabel 4.2
Hasil Observasi Penelitian Kelompok Eksperimen dalam Bentuk Prosentase
Syntak Total Item Keterlaksanaan
Item Prosentase
Menjelaskan tujuan pembelajaran. 1 1 8%
Membagi petunjuk praktikum/
eksperimen. 6 6 46%
Peserta didik melaksanakan eksperimen
di bawah pengawasan guru. 1 1 8%
Guru menunjukkan gejala yang diamati. 2 2 15%
Peserta didik menyimpulkan hasil
ekseprimen. 3 3 23%
13 13 100%
Seluruh syntak atau langkah-langkah pembelajaran pada kelompok Eksperimen dilaksanakan oleh guru. Secara prosentase keterlaksanaan syntak 100%.
Dan berikut hasil observasi penelitian kelompok control yang juga terlaksana 100%.
Tabel 4.3
Hasil Observasi Penelitian Kelompok Kontrol
Syntak Total Item Keterlaksanaan
Item Prosentase Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
dan kompetensi yang ingin dicapai. 1 1 11%
Guru memberikan scenario untuk
dipelajari. 4 4 44%
Guru menunjuk beberapa peserta didik untuk memainkan peran di depan peserta
didik lainnya. 1 1 11%
Peserta didik yang telah ditunjuk bertugas memainkan peran di depan
peserta didik lainnya. 1 1 11%
Peserta didik yang tidak bermain peran bertugas mengamati kejadian khusus dan mengevaluasi peran masing-masing
tokoh. 1 1 11%
Peserta didik merefleksi kegiatan
bersama-sama. 1 1 11%
9 9 100%
4.2. Analisis Data
4.2.1. Analisis Deskriptif
Analisis ini memaparkan hasil belajar siswa seusai mengikuti pembelajaran secara deskriptif. Ada dua data deskriptif dari dua kelompok yang akan dipaparkan.
Kelompok pertama yaitu kelompok eksperimen yang mengikuti pelajaran dengan menggunakan metode mengajar penemuan terbimbing. Sementara kelompok kedua yaitu kelompok kontrol yang mengikuti pelajaran dengan menggunakan metode mengajar role playing.
Distribusi frekuensi skor hasil belajar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ditampilkan pada Tabel 4.4. Perhitungan interval kelas diperoleh dengan mencari selisih skor maksimal pada dua kelompok penelitian dan skor minimal dari dua kelompok penelitian tersebut. Selisih tersebut ditambahkan 1, hasil itu disebut dengan jangkauan (range). Jangkauan (range) yang sudah diperoleh dibagi dengan banyak kategori. Banyak kategori diperoleh dengan menggunakan rumus 1 + 3,3 log n. Dari perhitungan ini diperolehlah banyaknya kategori dari 74 siswa yaitu 7. Jadi, interval kelas diketahui dengan membagi jangkauan dengan kategori, diperolehlah interval kelas penelitian ini 9. Berikut sajian tabel distribusi frekuensi skor hasl belajar siswa pada dua kelompok penelitian.
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Skor Hasil Belajar Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Interval Kelas
Kelompok
Eksperimen Kelompok Kontrol Frekuensi Prosentase Frekuensi Prosentase
33-41 0 0 5 13%
42-50 1 3% 6 15%
51-59 3 9% 7 18%
60-68 14 41% 15 38%
69-77 7 21% 5 13%
78-86 5 15% 2 5%
87-95 4 12% 0 0%
Total 34 100% 40 100%
Berdasarkan Tabel 4.4 diketahuilah bahwa pada 34 siswa kelompok eksperimen tidak ada siswa yang mendapat skor antar 33 sampai 41 dengan prosentase 0%, 1 siswa mendapat skor antara 42-50 dengan prosentase 3%, 3 siswa mendapat skor antara 51-59 dengan prosentase 9%, 14 siswa mendapat skor antara 60-68 dengan prosentase 41%, 7 siswa mendapat skor antara 69-77 dengan prosentase 21%, 5 siswa mendapat skor antara78- 86 dengan prosentase 15%, dan 4 siswa mendapat skor antara 87- 95 dengan prosentase 12%. Sedangkan pada 40 siswa dari kelompok kontrol diketahuilah ada 5 siswa yang mendapat skor antara 33- 41 dengan prosentase 13%, 6 siswa mendapat skor antar 42-50 dengan prosentase 15%, 7 siswa mendapat skor antara 51-59 dengan prosentase 18%, 15 siswa mendapat skor antara 60-69 dengan prosentase 38%, 5 siswa mendapat skor antara 69-77 dengan prosentase 13%, 2 siswa mendapat skor antara 78-8 6 dengan prosentase 5%, dan tidak ada siswa yang mendapat skor antara 87-95. Untuk penyajian distribusi frekuensi hasil belajar Matematika dalam bentuk diagram batang dapat dilihat Gambar 4.1.
Gambar 4.1. Diagram Batang Penyebaran Data Deskriptif Hasil Belajar Matematika
Setelah mengetahui distribusi frekuensi skor hasil belajar pada kedua kelompok penelitian, dilakukanlah analisis deskriptif. Analisis deskriptif ini
dimaksudkan untuk mengetahui nilai tertinggi, nilai terrendah, rata-ratadan ukuran persebaran data yang diperoleh pada masing-masing kelompok penelitian. Adapun analisis deskripsi dilakukan dengan menggunakan SPSS 16.00 dan sajian hasil analisis deskriptif statistik dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Deskriptif Statistik
Dari tabel tersebut diketahui bahwa dari 34 siswa pada kelompok eksperimen diperoleh skor minimal pada posttest yaitu 47 dan nilai tertingginya 93. Sedangkan untuk kelompok kontrol, nilai terrendahnya 33 dan nilai tertinggi 80. Adapun rata- rata pada kelompok eksperimen 69,59 dan rata-rata pada kelompok kontrol 57,83.
Standar Deviation atau ukuran persebaran pada kelompok eksperimen 11,484 dan kelompok kontrol 12,209.
Adapun yang berikutnya yaitu Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) pada mata pelajaran Matematika yang dicapai oleh siswa seusai mengikuti pembelajaran pada penelitian ini. Dengan KKM yang sudah ditetapkan SD Negeri Gendongan 02 Salatiga pada pelajaran Matematika yaitu 65, dan SD Negeri Gendongan 03 Salatiga pada pelajaran Matematika yaitu 61. Hasil belajar siswa terhadap KKM yang sudah ditetapkan tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6
Hasil Posttest Siswa terhadap KKM
Kelompok
Penelitian Jumlah Siswa
KK M
Jumlah Siswa
Tuntas Prosentase Jumlah Siswa
Tidak Tuntas Prosenta se Kelompok
Eksperimen 34 65 30 88% 4 12%
Kelompok
Kontrol 40 61 22 55% 18 45%
Diketahuilah bahwa dari 34 siswa kelompok eksperimen ada 30 siswa tuntas KKM dengan prosentase 88% dan 4 siswa tidak tuntas KKM dengan prosentase 12%
setelah mengikuti pembelajaran dan mengerjakan posttest. Dari 40 siswa kelompok kontrol ada 22 siswa tuntas KKM dengan prosentase 55% dan ada 18 siswa yang tidak tuntas KKM dengan prosentase 45% setelah mengikuti pembelajaran dan mengerjakan posttest.
4.2.2. Analisis Paramatrik
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil tes evaluasi setelah pembelajaran (posttest), dianalisislah perbedaan hasil belajar dari dua kelompok penelitian. Namun, sebelum melakukan uji beda terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat. Uji prasyarat yang dimaksud yakni uji normalitas dan uji homogenitas.
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui normal tidaknya distribusi data.
Pada uji normalitas ini digunakan non parametrik. Uji ini dilakukan dengan melihat signifikasi pada Kolmogorov-Smirnov. Dengan asumsi, data berdistribusi normal manakala nilai signifikan lebih besar dari 0,05. Perhitungan uji normalitas pada penelitian ini mnggunakan SPSS 16.00. Berikut yaitu hasil uji normalitas hasil belajar (posttest).
Tabel 4.7
Hasil Uji Normalitas Data Posttest
Berdasarkan uji normalitas tersebut diketahui bahwa koefisien signifikasni pada Kolmogorov-Smirnov pada kelompok eksperimen 0,154 dan pada kelompok kontrol koefisien signifikansi pada Kolmogorov-Smirnov 0,147. Koefisien signifikan Kolmogorov-Smirnov kedua kelompok menunjukkan lebih dari 0,05, maka dapat dikatakan bahwa data terdistribusi dengan normal. Berikut grafik normalitas distribusi data pada kelompok eksperimen yang tersaji dalam Gambar 4.2.
Gambar 4.2. Grafik Normalitas Distribusi Data Kelompok Eksperimen Dari grafik normalitas pada kelompok eksperimen tersebut, dapat dilihat bahwa data berdistribusi dengan normal. Hasil uji norn jugmalitas pada kelompok kontrolpun juga berdistribusi dengan normal. Sajian grafik normalitas pada kelompok control dapat dilihat pada Gambar 4.3 berikut ini.
Gambar 4.2. Grafik Normalitas Distribusi Data Kelompok Kontrol
Sedangkan pengujian homogenitas digunakan untuk mengetahui tidaknya sama dua kelompok penelitian. Kriteria pengujian ini yakni jika nilai signifikan lebih dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa dua kelompok penelitian ini sama. Berikut hasil uji homogenitas soal posttest terhadap dua kelompok penelitian dengan menggunakan Independent Samples T Test.
Tabel 4.8
Uji Homogenitas Hasil Posttest
Dari uji homogenitas tersebut nilai signifikan 0,669. Maka dapat dikatakan bahwa dua kelompok penelitian ini sama atau homogen. Hal ini ditunjukkan pada nilai signifikan yang lebih besar dari 0,05.
Independent Samples Test
SKOR_POSTTEST Equal
variances assumed
Equal variances not
assumed Levene's Test for
Equality of Variances
F .184
Sig. .669
Sebagai uji prasyarat untuk melakukan uji beda, data hasil posttest pada dua kelompok penelitian ini normal dan homogen. Maka dengan demikian dapatlah dilakukan uji beda. Uji beda untuk dua kelompok penelitian atau sample dapat dilakukan dengan menggunakan Independent Samples T Test dengan bantuan SPSS 16.00. Adapun dua kelompok dikatakan berbeda jika nilai signifikansi kurang dari 0,05. Dan dikatakan tidak ada perbedaan jika nilai signifikansi lebih dari 0,05.
Berikut hasil analisis uji beda kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Tabel 4.9
Analisis Uji Beda Hasil Posttest
Dari table 4.5 diketahuilah koefisien sig. (2-tailed) 0,000. Koefisien ini kurang dari 0,05, maka didapat dinyatakan bahwa dua kelompok penelitian ini berbeda atau memiliki perbedaan.
4.3. Uji Hipotesis
Tahap yang dilakukan setelah melakukan uji beda pada kelompok penelitian yaitu uji hipotesis. Pengujian dilakukan untuk mengetahui diterima atau tidaknya hipotesis yang sudah diajukan. Sebelumnya, hipotesis empiric yang diajukan yakni ada perbedaan efektivitas yang signifikan pada penerapan teori belajar Dienes dalam pelajara Matematika melalui metode penemuan terbimbing dan role playing, pada siswa kelas V SD Gugus Kanigoro Salatiga. Adapun criteria pengujian hipotesis
berdasarkan taraf signifikan yakni jika koefisien signifikan lebih dari 0,05 maka dapat dinyatakan tidak terdapat perbedaan, dan jika koefisien signifikannya kurang dari 0,05 maka dapat dinyatakan terdapat perbedaan antara dua kelompok penelitian.
Sebelumnya pada hasil uji beda diketahui bahwa nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000. Berdasarkan kriteria pengujian hipotesis berdasarkan koefisian signifikan dapat dikatakan bahwa Ho ditolak, karena nilai signifikansi pada uji beda kurang dari 0,05. Dengan ditolaknya Ho maka diterimalah Ha. Secara empirik, hasil dari pengujian hipotesis menyatakan bahwa ada perbedaan efektivitas yang signifikan pada penerapan teori belajar Dienes dalam pelajara Matematika melalui metode penemuan terbimbing dan role playing, pada siswa kelas V SD Gugus Kanigoro Salatiga.
4.4. Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian yang dilakukan di SD Negeri Gendongan 02 sebagai kelompok eksperimen dengan melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan teori belajar Dienes melalui metode penemuan terbimbing berjalan lancar sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan di SD Negeri Gendongan 03 sebagai kelompok kontrol yang melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan teori belajar Dienes melalui metode role playing. Guru pada kedua kelompok penelitian sudah melaksanakan syntak pembelajaran dengan runtut dan sesuai.
Analisis deskriptif dari skor hasil belajar siswa setelah pembelajaran diketahuilah bahwa nilai tertinggi yang diperoleh siswa dari kelompok kontrol yaitu 93 dan nilai terrendahnya 47 dengan rata-rata skor hasil belajar 69,59. Sedangkan nilai tertinggi yang diperoleh siswa dari kelompok kontrol yaitu 80 dan nilai terrendahnya 33 dengan rata-rata skor hasil belajar 57,83. Adapun dari 34 siswa kelompok eksperimen terdapat 30 siswa yang tuntas KKM mata pelajaran Matemtika kelas V di SD Negeri Gendongan 02 dengan prosentase 88% dan 4 siswa tidak tuntas KKM dengan prosentase 12%. Sedangkan pada 40 siswa kelompok kontrol terdapat
22 siswa tuntas KKM mata pelajaran Matematika kelas V di SD Negeri Gendongan 03 dengan prosentase 55% dan 18 siswa tidak tuntas KKM dengan prosentase 45%.
Analisis berikutnya yaitu melakukan uji beda pada skor hasil belajar kedua kelompok penelitian. Uji beda ini dilakukan dengan Independent Samples T Tests pada SPSS 16.00. Uji beda dilakukan dengan melihat koefisien Sig. (2-tailed) pada hasil analisis. Dari pengujian ini, sig. (2-tailed) menunjukkan koefisien 0,000.
Koefisien ini kurang dari 0,05, maka dapat dinyatakan bahwa ada perbedaan antara dua kelompok penelitian. Setelah melakukan uji beda, dilakukanlah uji hipotesis. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan kriteria signifikan. Koefisien sig. (2-tailed) dari uji beda menunjukkan kurang dari 0,05, maka hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan efektivitas yang signifikan pada penerapan teori belajar Dienes antara metode penemuan terbimbing dengan metode role playing pada mata pelajaran Matemtika kelas V.
Hasil uji beda dan uji hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan antara dua kelompok penelitian terhadap hasil posttest, sejalan dengan adanya perbedaan rata-rata antara kedua kelompok penelitiaan dan jumlah siswa yang tidak tuntas KKM. Dari rata-rata skor hasil belajar, siswa pada kelompok eksperimen berhasil memperoleh rata-rata skor hasil belajar lebih tinggi dibandingakan rata-rata pada kelompok kontrol. Sedangkan berdasarkan jumlah siswa yang tuntas KKM, siswa pada kelompok eksperimen lebih banyak yang menuntaskan KKM dibandingkan siswa dari kelompok kontrol. Maka, uji beda yang dilakukan semakin memperkuat hasil penelitian ini yang menyatakan memang ada perbedaan antara dua kelompok penelitian terhadap hasil belajar.
Hasil belajar yang diperoleh kelompok eksperimen dengan perlakuan penerapan teori belajar Dienes melalui metode penemuan terbimbing dinyatakan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol yang mendapat perlakuan penerapan teori belajar Dienes melalui metode role playing. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dwi Ana Sukmawati dalam
penelitannya yang berjudul “Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika Melalui Penemuan Terbimbing Pada Siswa Kelas X Smk Yp 17 Parakan Kabupaten Temanggung Tahun Ajaran 2009/2010”. Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa metode penemuan terbimbing dapat meningkatkan prestasi hasil belajar siswa terhadap pelajaran Matematika. Penelitian lain yang sejalan dengan hasil penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan oleh Ni’imah Hamidah dengan judul penelitian “Penerapan Teori Dienes untuk Mengatasi Kesulitan Belajar Soal Cerita Operasi Campuran di Kelas III SDN Capang I Purwodadi Pasuruan”. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa penerapan teori belajar Dienes dapat mengatasi kesulitan belajar siswa. Dua penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian ini yang menyatakan bahwa penerapan teori belajar Dienes melalui metode penemuan terbimbing dapat mengatasi kesulitan belajar siswa yang dapat dilihat pada hasil belajar siswa seusai mengikuti pembelajaran.
Hasil belajar yang diperoleh kelompok kontrol dengan menerapkan teori belajar Dienes melalui metode role playing dinyatakan lebih rendah dibandingkan dengan kelompok eksperimen yang menerapkan teori belajar Dienes melalui metode penemuan terbimbing. Hasil analisis tersebut tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nur Halimah dengan judul “Penerapan Metode Pembelajaran Role Playing Melalui Pendekatan Berbasis Problem (Problems Based Approach) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X2 Sma Al Islam I Surakarta Tahun Ajaran 2007/2008”. Penelitian yang dilakukan Nur Halimah menyatakan bahwa metode role playing dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian tersebut berbeda dengan hasil penelitian ini yang menyatakan hasil belajar kelompok yang menerapkan teori belajar Dienes melalui metode role playing lebih rendah dibandingkan dengan kelompok eksperimen yang menerapkan teori belajar Dienes melalui metode penemuan terbimbing. Meskipun didukung dengan penelitian tentang penerapan teori belajar Dienes oleh Ni’imah Hamidah yang menyatakan bahwa teori belajar Dienes dapat mengatasi kesulitan belajar siswa, namun secara hasil belajar
kelompok yang menggunakan metode role playing lebih rendah dibadingkan kelompok yang menggunakan metode penemuan terbimbing.
Penelitian ini menjadi penelitian yang menyatakan bahwa penerapan teori belajar Dienes melalui metode role playing tidak seefektif dengan penerapan teori belajar Dienes melalui metode penemuan terbimbing.