• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS EFISIENSI RANTAI PASOK BAWANG MERAH DI KECAMATAN SANDEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS EFISIENSI RANTAI PASOK BAWANG MERAH DI KECAMATAN SANDEN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1 ANALISIS EFISIENSI RANTAI PASOK BAWANG MERAH DI

KECAMATAN SANDEN

Rahmi Nurhayati Ningsih

Susanawati, S.P., M.P. / Ir. Eni Istiyanti, M.P.

Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

INTISARI

Bawang merah merupakan salah satu tanaman hortikultura unggulan di Indonesia.

Analisis efisiensi bawang merah di Kecamatan Sanden ini diharapkan dapat memberikan gambaran kondisi rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden dan menentukan efisiensi rantai pasok tersebut dilihat dari marjin dan biaya pemasaran terendah. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Sanden pada Bulan Februari sampai Maret 2014. Rantai pasok bawang merah dalam penelitian ini difokuskan untuk bawang merah dalam bentuk segar dari petani di Kecamatan Sanden sebagai pemasok ke Pasar Bantul, Pasar Niten, dan Pasar Bantul. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive dan judgmental sampling untuk petani sejumlah 21 orang dan metode snowball untuk pedagang sejumlah 14 orang. Petani diambil di Desa Srigading dan Desa Gadingharjo sedangkan pedagang mengikuti penjualan bawang merah sampai ke Pasar Bantul, Pasar Niten, dan Pasar Imogiri. Analisis rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden ditunjukkan secara deskriptif.dan efisiensi rantai pasok dengan meggunakan analisis marjin dan metode transshipment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden terdiri atas 8 jaringan dengan pelaku primer yaitu petani, pedagang besar, agen penjualan, pedagang pengecer, dan konsumen serta pelaku sekunder yaitu produsen kemasan, penyedia kebutuhan jasa transportasi, dan buruh. Aktivitas pelaku primer meliputi penjualan, pembelian, penyimpanan, pengemasan, pengangkutan, bongkar muat, pengeringan, pemetikan daun, sortasi, dan grading. Aliran produk semuanya lancar, aliran uang lancar dan kurang lancar, serta aliran informasi lancar, kurang lancar, dan tidak lancar. Saluran kedua, ketiga, keenam, ketujuh, dan kedelapan merupakan saluran yang relatif lebih efisien yaitu sebesar Rp 4.000,-. Biaya pasokan minimal diperoleh jika petani memasok ke Pasar Bantul melalui

pedagang besar C sebesar 31.600 kg, ke Pasar Niten melalui pedagang besar C sebesar 1.210 kg, dan ke Pasar Imogiri melalui pedagang besar D sebesar 3.381 kg. Pemasokan tersebut mengeluarkan biaya pemasaran minimal sebesar Rp 29.863.568,-.

Kata kunci : Rantai pasok bawang merah, efisiensi, marjin, transhippment

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Salah satu sektor pertanian yang berkembang adalah sektor hortikultura.

Hortikultura dalam arti luas adalah kegiatan budidaya tanaman yang dilakukan di dalam lingkup pekarangan.

Komoditas hortikultura yang penting dalam masyarakat adalah bawang merah. Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat tradisional (Badan Litbang Pertanian, 2004). Provinsi D.I. Yogyakarta pada tahun 2012 telah menyumbang produksi bawang merah sebesar 11.855 ton. Dengan jumlah produksi tersebut, provinsi D.I. Yogyakarta menjadi penghasil terbesar keempat setelah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat yang masing – masing menghasilkan 381.813 ton, 222.862 ton, dan 115.896 ton (BPS Nasional, 2012).

Kabupaten Bantul merupakan daerah sentra penghasil bawang merah di D.I. Yogyakarta dengan total produksi 16.656 ton (Dispertan D.I.Y, 2009).

Sementara di Kabupaten Bantul, produksi terbesar berada di Kecamatan Sanden dengan jumlah produksi sebesar 77.633 pada tahun 2011. (Dinas pertanian dan kehutanan Kabupaten Bantul, 2011).

(2)

2 Rantai pasok merupakan sekumpulan aktivitas dan keputusan yang saling

terkait untuk mengintegrasikan pemasok, manufaktur, gudang, jasa transportasi, pengecer dan konsumen secara efisien. (Ling Li, 2007 dalam Rouli, 2008).

Tujuan utama dari setiap rantai pasok adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan menghasilkan keuntungan (Chopra and Meindl, 2007 dalam Rouli, 2008).

Budidaya bawang merah di Kecamatan Sanden dilakukan di dua macam lahan, yaitu lahan pasir dan lahan sawah dengan dua musim tanam, yaitu Bulan Mei - Juni dan Bulan Agustus - September. Kondisi bawang merah di Kecamatan Sanden selalu mengalami fluktuasi jumlah pasokan. Hal ini disebabkan oleh melimpahnya jumlah pasokan pada saat panen raya dan langka pada saat musim yang lain. Dengan fluktuasi jumlah pasokan tersebut, harga bawang merah di Kecamatan Sanden akan tinggi pada saat bukan musim raya dan akan terjadi sebaliknya pada saat musim panen sehingga mengakibatkan fluktuasi harga. Oleh karena itu, pengaturan produksi dan distribusi serta pemasaran bawang merah di Kecamatan Sanden menjadi sangat penting.

Kebutuhan bawang merah di Kecamatan Sanden tidak hanya dipenuhi dari petani di daerah tersebut melainkan juga mendapatkan pasokan dari luar daerah seperti dari Kabupaten Brebes. Bawang merah di Kecamatan Sanden tidak hanya dipasarkan ke 3 pusat pasar di Kabupaten Bantul yaitu Pasar Niten, Pasar Bantul, dan Pasar Imogiri tetapi juga keluar D.I. Yogyakarta. Berdasarkan keadaan rantai pasok yang seperti itu, permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah bagaimanakah kondisi rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden dan apakah rantai pasok bawang merah tersebut sudah efisien.

B. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mendeskripsikan rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden.

2. Menentukan efisiensi rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden.

II. METODE PENELITIAN A. Metode Pengambilan Sampel

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian analisis deskriptif. Metode analisis deskriptif merupakan metode yang digunakan

Deskripsi Rantai Pasok Bawang Merah di Kecamatan Sanden (Struktur Jaringan dan Pelaku)

Aliran Produk Aliran Uang Aliran Informasi

Model Transhipment Keuntungan

Pemasaran

Biaya Pemasaran

Marjin Pemasaran

Efisiensi Rantai Pasok

(3)

3 untuk menganalisis data - data yang tersedia dan diolah sehingga diperoleh

gambaran yang jelas mengenai fakta fakta dan hubungan antar fenomena yang diteliti.

1. Lokasi Penelitian

Penentuan lokasi sampel kecamatan tersebut dilakukan secara purposive, yaitu pengambilan secara sengaja dengan alasan tertentu. Penelitian dilakukan di Kecamatan Sanden karena Kecamatan Sanden merupakan kecamatan penghasil bawang merah terbesar di Kabupaten Bantul dan juga di D.I. Yogyakarta dengan jumlah produksi sebesar 77.633 ku (Dinas pertanian dan kehutanan Kabupaten Bantul, 2011).

Kecamatan Sanden memiliki 4 desa yang semuanya merupakan penghasil bawang merah. Keempat desa itu adalah Desa Gadingsari, Desa Gadingharjo, Desa Srigading, dan Desa Murtigading. Dari keempat desa penghasil bawang merah tersebut, tidak semua desa memiliki lahan pasir. Hanya Desa Srigading dan Gadingsari yang membudidayakan bawang merah di lahan sawah dan lahan pasir.

Pengambilan sampel akan dilakukan di 1 desa yang berlahan pasir yaitu di Desa Srigading karena merupakan sentra penghasil bawang merah dari lahan pasir dan 1 desa yang berlahan sawah yaitu di Desa Gadingharjo karena merupakan penghasil terbesar kedua setelah Desa Srigading .

2. Sampel Petani

Sampel petani diperoleh dengan metode purposive yaitu bentuk pengambilan sampel karena adanya alasan tertentu dan judgmental sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan pendapat ketua kelompok tani. Empat sampai

lima petani akan mewakili 1 pedagang besar. Dalam penelitian ini digunakan 21 orang petani.

3. Sampel Pedagang

Pedagang yang dijadikan sampel diambil dengan metode snowball sampling yaitu mengikuti perjalanan penjualan bawang merah dari petani sampel.

Dalam penelitian ini diperoleh 4 pedagang besar, 1 agen penjualan dan 9 pedagang pengecer dari 3 pasar tujuan yaitu Pasar Niten, Pasar Bantul, dan Pasar Imogiri. Masing – masing pasar diambil 3 pedagang pengecer.

B. Metode Pengumpulan Data

Dalam mengumpulkan data, penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder.

1. Data Primer adalah data yang diambil dari sumber data primer atau sumber pertama di lapangan. Tehnik yang dipakai dalam pengumpulan data primer adalah wawancara. Jenis data yang diperoleh untuk data primer antara lain adalah identitas petani dan pedagang, harga penjualan dan pembelian, jumlah pasokan pada musim yang diteliti, jumlah dan jenis biaya yang dikeluarkan oleh masing – masing pelaku pemasaran.

2. Data sekunder merupakan data yang didapat dari sumber bacaan Data yang diambil berupa keadaan fisik daerah, keadaan penduduk, keadaan industri, dan keadaan pertanian.

C. Asumsi dan Pembatasan Masalah 1. Asumsi

a. Hasil produksi bawang merah dari sumber pemasaran seluruhnya dijual.

(4)

4 b. Daerah sumber pemasaran memiliki potensi yang sama untuk menjual

ke tiap – tiap daerah tujuan pemasaran.

c. Petani bersikap rasional dalam melaksanakan usahanya yaitu untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.

2. Pembatasan Masalah

Rantai pasok yang diteliti adalah rantai pasok bawang merah dalam bentuk segar dari petani di Kecamatan Sanden sebagai pemasok sampai ke Pasar Bantul, Pasar Niten, dan Pasar Imogiri sebagai pasar tujuan. Pasar Bantul dipilih karena merupakan pusat pasar di Kabupaten Bantul. Pasar Niten dipilih karena merupakan pasar yang dekat dengan Kota Yogyakarta.

Pasar Imogiri dipilih karena merupakan pasar terbesar yang berada di pinggir Kabupaten Bantul.

D. Metode Analisis Data

1. Analisis rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden

Analisis rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden akan menggunakan analisis deskriptif. Analisis ini meliputi analisis jaringan, pelaku, aktivitas pelaku, aliran produk, aliran uang, dan aliran informasi dalam rantai pasok bawang merah dari Kecamatan Sanden ke Pasar Niten, Pasar Bantul, dan Pasar Imogiri.

2. Analisis efisiensi rantai pasok

Indikator yang digunakan untuk mengetahui efisiensi rantai pasok dalam penelitian ini adalah marjin pemasaran dan pengaturan alokasi pasokan bawang merah berdasarkan perhitungan biaya pemasaran terkecil.

Marjin pemasaran diperoleh dari selisih antara harga jual dengan harga beli diantara pelaku pemasaran. Komponen marjin juga terdiri dari biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pelaku pemasaran dan keuntungan (profit) yang diperoleh.

Analisis efisiensi rantai pasokan juga dilihat dari alokasi distribusi bawang merah dari petani ke pasar - pasar di Kecamatan Sanden yaitu Pasar Niten, Pasar Bantul, dan Pasar Imogiri. Penentuan alokasi optimal bawang merah di Kecamatan Sanden dilakukan dengan cara mengembangkan model transshipment dengan teknik program linier berdasarkan data yang telah diperoleh.

Dalam penelitian ini, analisis model tersebut dilakukan dengan tahap-tahap, yaitu identifikasi persoalan, penyusunan model, dan analisis model.

Fungsi tujuan : Meminimalkan :

GH_NT + GH_BT + GH_IMG + SG_NT + SG_BT + SG_IMG Fungsi kendala :

Kendala kapasitas produksi

GH_NT + GH_BT + GH_IMG + SG_NT + SG_BT + SG_IMG = kp petani Kendala permintaan

GH_NT + SG_NT < kp NT GH_BT + SG_BT < kp BT GH_IMG + SG_IMG < kp IMG

(5)

5 III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Rantai Pasok Bawang Merah di Kecamatan Sanden.

1. Identifikasi Jaringan dalam Rantai Pasok Bawang Merah di Kecamatan Sanden.

Secara umum, petani akan menjual bawang merah miliknya ke pedagang besar di sekitar rumah mereka. Sebagian besar pedagang besar tersebut akan menjual langsung bawang merah yang didapatkan dari petani ke pedagang pengecer di pasar. Akan tetapi, ada juga pedagang besar yang tidak langsung menjual ke pedagang pengecer melainkan ke agen penjualan terlebih dahulu.

Agen penjualan yang akan menjual bawang merahnya ke pedagang pengecer dan pedagang pengecer di pasar akan menjual ke konsumen akhir.

Kecamatan Sanden memiliki 8 jaringan rantai pasok bawang merah.

Semua jaringan tersebut berawal dari gabungan petani di lahan pasir dan lahan sawah berdasarkan kesamaan pedagang besar. Jaringan – jaringan tersebut yaitu : a. Petani – Pedagang Besar A – Agen Penjualan – Pengecer di Imogiri – Konsumen b. Petani – Pedagang Besar B – Pengecer di Pasar Bantul - Konsumen

c. Petani – Pedagang Besar B – Pengecer di Pasar Niten - Konsumen d. Petani – Pedagang Besar C – Pengecer di Pasar Bantul - Konsumen e. Petani – Pedagang Besar C – Pengecer di Pasar Niten - Konsumen f. Petani – Pedagang Besar D – Pengecer di Pasar Bantul - Konsumen g. Petani – Pedagang Besar D – Pengecer di Pasar Niten - Konsumen h. Petani – Pedagang Besar D – Pengecer di Pasar Imogiri - Konsumen

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa dalam penelitian ini, semua petani menjual ke pedagang besar. Sebagian besar yaitu 75% pedagang

besar menjual bawang merahnya ke pengecer di pasar – pasar tradisional sedangkan sisanya menjual ke agen penjualan sebelum dijual ke pengecer.

2. Identifikasi Pelaku Rantai Pasok Bawang Merah di Kecamatan Sanden.

Pelaku rantai pasok ini terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pelaku primer dan pelaku sekunder.

a. Pelaku Primer (Primary Members)

Pelaku primer dalam rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden adalah:

1) Petani

Petani yang dimaksud merupakan petani bawang merah dari dua jenis lahan, yaitu pasir dan sawah.

Tabel 1. Identitas Petani

No Uraian Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. Umur (Tahun)

a. 31 - 40 12 57,14

b. 41 - 50 3 14,29

c. 51 - 60 6 28,57

Jumlah 21 100

2. Pendidikan

a. SD 8 38,10

b. SMP 10 47,62

c. SMA 3 14,29

Jumlah 21 100

3. Pekerjaan Lain

a. Buruh tani 1 4,76

b. Peternak 5 23,81

c. Tidak mempunyai 15 71,43

Jumlah 21 100

Sumber : Data Primer 2014

(6)

6 Berdasarkan tabel 1, dapat diketahui bahwa 57,14% petani responden

berada pada usia antara 31 sampai dengan 40 tahun. Dengan petani yang masih dalam usia produktif diharapkan petani bisa memberikan kontribusi dalam bentuk tenaga atau pikiran dalam rangka memaksimalkan hasil budidaya bawang merah.

Sementara 47,62% petani berpendidikan terakhir SMP dan sebanyak 71,43% tidak memiliki pekerjaan sampingan.. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan petani masih dalam tahap rata – rata. Petani tersebut diharapkan dapat lebih memberikan ide daripada petani yang berpendidikan di bawahnya dan lebih fokus dalam rangka memajukan pertanian bawang merah.

2) Pedagang besar

Pedagang besar merupakan pedagang yang membeli bawang merah dari petani dalam jumlah yang cukup besar untuk kemudian dijual dalam jumlah yang relatif sedikit ke agen penjualan maupun pedagang pengecer.

Identitas pedagang besar dapat dilihat pada tabel 2 berikut : Tabel 2. Identitas Pedagang Besar

No Uraian Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. Umur (Tahun)

a. 48 – 52 3 75

b. 53 – 57 1 25

Jumlah 4 100

2. Pendidikan

a. SD 1 25

b. SMP 1 25

c. SMA 2 50

Jumlah 4 100

3. Pekerjaan Lain

a. Petani 1 25

b. Peternak 1 25

c. Tidak mempunyai 2 50

Jumlah 4 100

Sumber : Data Primer 2014

Berdasarkan tabel 2, dapat diketahui bahwa 75% pedagang besar berusia antara 48 sampai dengan 52 tahun dan 50% berpendidikan terakhir SMA. Hanya satu pedagang yang berusia 54 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usia pedagang besar masih dalam usia produktif dengan tingkat pendidikan yang cukup tinggi. Dengan kondisi seperti itu, pedagang besar diharapkan dapat lebih produktif daripada pedagang besar lain yang menjadi pesaingnya.

3) Agen penjualan

Agen penjualan merupakan pedagang yang membeli bawang merah dari pedagang besar dalam jumlah relatif kecil untuk kemudian dijual ke pedagang pengecer di pasar. Agen penjualan dalam penelitian ini hanya 1 orang. Pedagang yang telah berusia 45 tahun ini berpendidikan terakhir di bangku SMP. Pekerjaan sampingannya adalah sebagai petani dan sudah menjadi pedagang selama 17 tahun. Dengan pengalaman berdagang yang sudah cukup lama, agen penjualan seharusnya bisa memiliki pola pikir yang lebih inovatif sehingga bisa bersaing pemasarannya.

4) Pengecer

Pengecer merupakan pedagang yang berhubungan langsung dengan konsumen akhir. Pedagang pengecer keseluruhan berjumlah 9 orang.

Pengecer tersebut berasal dari 3 pasar yang berbeda, yaitu Pasar Bantul, Pasar Niten, dan Pasar Imogiri. Tiga pengecer akan mewakili satu pasar.

Identitas pedagang pengecer berdasarkan usia dan tingkat pendidikan terakhir dapat dilihat pada tabel 3 berikut :

(7)

7 Tabel 3. Identitas Pedagang Pengecer

No Uraian Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. Umur (Tahun)

a. 36 - 42 2 22,22

b. 43 - 49 4 44,44

c. 50 - 56 3 33,33

Jumlah 9 100

2. Pendidikan

a. SD 7 77,78

b. SMP 0 0,00

c. SMA 2 22,22

Jumlah 9 100

3. Pekerjaan Lain

a. Tidak mempunyai 9 100

Jumlah 9 100

Sumber : Data Primer 2014

Berdasarkan table 3, dapat dilihat bahwa 44,44% pengecer berusia antara 43 sampai dengan 49 tahun. Pedagang dengan usia seperti itu diharapkan sudah memiliki pengalaman yang lebih banyak daripada pedagang yang masih muda walaupun sebagian besar pedagang pengecer berpendidikan terakhir adalah SD. Semua pedagang pengecer tidak memiliki pekerjaan sampingan. Hal ini dikarenakan pedagang pengecer sudah berada di pasar sejak pagi sampai menjelang sore.

5) Konsumen

Konsumen merupakan pelaku yang membeli bawang merah dari pedagang pengecer di pasar. Konsumen merupakan pelaku terakhir dalam rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden.

b. Pelaku Sekunder (Secondary Members)

Pelaku sekunder adalah perseorangan atau kelompok yang menyediakan sumber daya, pengetahuan, atau aset – aset bagi anggota primer

(Prihatiningsih, 2007). Dalam penelitian rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden ini juga terdapat pelaku sekunder, yaitu produsen kemasan, penyedia kebutuhan di bidang transportasi, buruh angkut, buruh dalam usaha tani, buruh memetik daun bawang merah.

3. Identifikasi Aktivitas Pelaku dalam Rantai Pasok Bawang Merah di Kecamatan Sanden.

Bawang merah yang telah dipanen oleh petani tidak serta merta langsung dijual ke konsumen. Bawang merah tersebut mengalami berbagai perlakuan – perlakuan yang berbeda antar pelaku rantai pasok. Aktivitas – aktivitas yang dilakukan oleh para pelaku rantai pasok tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 macam aktivitas, yaitu aktivitas pertukaran, aktivitas fisik, dan aktivitas fasilitas.

Secara umum, aktivitas pelaku rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden dapat dilihat pada tabel 4 berikut :

Tabel 4. Aktivitas Pelaku Primer

Aktivitas

Pelaku Rantai Pasok Petani Pedagang Besar Agen

Penjualan

Pengecer

Konsumen

1 2 3 4 Imogiri Bantul Niten

Pertukaran

Penjualan v v v v v v v v v -

Pembelian - v v v v v v v v v

Fisik

Penyimpanan - - - - - v v v v -

Pengemasan - v v v v v v v v -

Pengangkutan - v v v v v - - - -

Bongkar muat - v v v v v - - - -

Fasilitas

Pengeringan v v v v v v - - - -

Pemetikan daun v v - - - - - - - -

Sortasi v/- v v v v v v v/- - -

Grading - - - - - - v/- v/- - -

Sumber : Data Primer 2014

(8)

8 Berdasarkan tabel 4, penjelasan aktivitas – aktivitas yang dilakukan oleh

para pelaku rantai pasok adalah sebagai berikut : a. Petani

Bawang merah setelah dipanen oleh petani tidak semuanya langsung dijual kepada pedagang. Dari keseluruhan petani, 94% petani melakukan kegiatan pengeringan terlebih dahulu. Para petani melakukan kegiatan pengeringan tidak pada tempat yang sama, yaitu 70,58% petani yang terdiri atas semua petani lahan sawah dan 2 petani lahan pasir melakukan pengeringan di rumah dan sisanya sebesar 23,52% petani yang terdiri atas 4 petani dari lahan sawah melakukan pengeringan di sawah. Pengeringan yang dilakukan di sawah pada umumnya belum akan segera dijual kepada pedagang.

Lama pengeringan tidak sama antar petani. Beberapa petani mengeringkan bawang merahnya selama 2 – 3 hari sedangkan sisanya sampai 7 hari. Perbedaan ini menyesuaikan dengan permintaan pedagang. Kegiatan setelah pengeringan yaitu pemotongan daun. Sebanyak 94% dari total petani melakukan kegiatan pemotongan daun sedangkan sisanya atau hanya satu petani tidak melakukan kegiatan pemotongan daun. Hal ini dikarenakan petani tersebut menjual bawang merahnya dengan sistem tebas di sawah.

Pada penjualan bawang merah dari petani ke pedagang besar, 66% petani melakukan kegiatan sortasi dan tidak ada petani yang melakukan grading. Sortasi hanya sebatas membuang bawang yang masih muda pada saat pemetikan daun dan pengeringan. Begitu juga dengan kegiatan pengemasan dan pengangkutan.

Petani tidak melakukan dua kegiatan tersebut. Petani hanya melakukan kegiatan fisik bongkar muat bawang merah dari lahan ke rumah.

b. Pedagang Besar

Aktivitas pedagang besar dimulai dengan kegiatan pembelian. Pedagang besar membeli bawang merah dari petani untuk dijual ke pedagang berikutnya sehingga pedagang besar melakukan kegiatan pembelian dan penjualan. Akan tetapi, tidak semua pedagang besar melakukan aktivitas fisik. Aktivitas fisik yang dilakukan oleh keempat pedagang besar adalah pengemasan, pengangkutan, dan bongkar muat sedangkan untuk penyimpanan, tidak ada yang melakukan penyimpanan. Pengemasan dilakukan dengan menggunakan karung anyaman merah berlubang atau sering disebut sebagai waring. Pedagang besar menggunakan waring yang bisa untuk memuat 60 kg atau 1 ku.

Dalam aktivitas pengangkutan dan bongkar muat, semua pedagang besar melakukan aktivitas pengangkutan dan bongkar muat. Berbeda dengan aktivitas pemetikan daun, , hanya 1 dari 4 pedagang besar. Sementara untuk aktivitas pengeringan, semua pedagang besar melakukan aktivitas ini. Aktivitas lain yang dilakukan oleh pedagang besar adalah aktivitas sortasi. Sortasi yang dilakukan adalah pembuangan bawang merah yang hanya berwarna putih dan bawang merah yang busuk. Sementara untuk aktivitas grading, semua pedagang tidak melakukan aktivitas tersebut.

c. Agen Penjualan

Aktivitas yang dilakukan oleh agen penjualan tidak jauh berbeda dengan aktivitas yang dilakukan oleh pedagang besar. Agen penjualan melakukan kegiatan pembelian dan kegiatan penjualan. Sementara untuk aktivitas fisik yang berupa penyimpanan, pengemasan, pengangkutan, dan bongkar muat, agen penjualan juga melakukan keempat aktivitas penjualan tersebut.

(9)

9 Aktivitas pengangkutan dan bongkar muat dilakukan oleh agen penjualan

hanya dalam rangka penjualan ke pedagang pengecer. Agen penjualan mengangkut bawang merah ke pasar – pasar dan melakukan aktivitas bongkar muat setelah ada kesepakatan harga dengan pedagang pengecer. Berbeda dengan aktivitas mengenai fasilitas. Agen penjualan hanya melakukan aktivitas fasilitas berupa pengeringan dan sortasi dan tidak melakukan aktivitas pemetikan daun dan grading.

d. Pengecer

Pada tingkatan pedagang pengecer, kesembilan pengecer melakukan aktivitas pertukaran dan fisik yang sama. Semua pedagang pengecer melakukan aktivitas pertukaran berupa pembelian dan penjualan serta melakukan aktivitas fisik berupa penyimpanan dan pengemasan tetapi tidak melakukan kegiatan pengangkutan dan bongkar muat.

Aktivitas penyimpanan yang dilakukan oleh pedagang pengecer hanya bertujuan untuk dijual kembali pada hari berikutnya ketika bawang merah tidak laku terjual semuanya. Aktivitas penyimpanan dilakukan oleh pedaagang pengecer dengan cara meletakkan bawang merahnya di tambir kemudian disimpan dalam almari. Sementara aktivitas pengemasan dilakukan dengan cara mengemas bawang merah menggunakan plastik putih bening 1 kg atau 2 kg.

Dalam aktivitas yang menyangkut fasilitas, semua pedagang pengecer tidak melakukan aktivitas pemetikan daun dan pengeringan. Perbedaan aktivitas yang dilakukan oleh pengecer berada pada aktivitas sortasi dan grading. Pengecer di Pasar Imogiri, semuanya melakukan aktivitas sortasi dan hanya 66,67% yang melakukan aktivitas grading sedangkan di Pasar Bantul, 66,67% pengecer yang

melakukan sortasi dan grading. Sementara pengecer di Pasar Niten, tidak ada yang melakukan sortasi dan grading. Grading dilakukan berdasarkan ukuran bawang merah dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih.

e. Konsumen

Konsumen yang dimaksud adalah konsumen akhir yang tidak lagi melakukan kegiatan penjualan bawang merah. Konsumen mendapatkan bawang merah di pasar dengan cara membeli dari pedagang pengecer. Konsumen ini langsung memanfaatkan fungsi bawang merah sehingga tidak melakukan aktivitas penyimpanan, pengemasan, pengangkutan, bongkar muat, pengeringan, pemetikan daun, sortasi dan grading.

4. Aliran Produk, Aliran Uang, dan Aliran Informasi Antar Pelaku Rantai Pasok Bawang Merah di Kecamatan Sanden.

Ketiga aliran dalam rantai pasok perlu dilihat untuk mengetahui apakah distribusi bawang merah di Kecamatan Sanden sudah berjalan dengan baik atau masih ada kendala. Rantai pasok yang baik harus dapat memperlihatkan lancarnya ketiga aliran tersebut.

a. Aliran Produk

Aliran produk yang dimaksud adalah aliran bawang merah dari petani di Kecamatan Sanden ke pengecer di Pasar Niten, Pasar Bantul, dan Pasar Imogiri.

Aliran bawang merah ini diawali dengan petani yang melakukan pemanenan bawang merah dari lahan. Bawang merah yang dipanen kemudian diangkut ke rumah menggunakan mobil bak terbuka. Mobil tersebut merupakan mobil sewa

(10)

10 dari tetangga atau keluarga sendiri. Bawang merah yang sudah berada di rumah

kemudian dijemur sebelum dijual ke pedagang besar.

Bawang yang akan dibawa oleh pedagang besar semuanya sudah dalam keadaan tanpa daun, kecuali bawang yang dijual dengan sistem tebasan. Bawang yang dijual dengan sistem tebasan akan dibawa pedagang langsung dari lahan setelah dipanen. Pedagang besar akan mengambil bawang merah menggunakan mobil pick up miliknya. Bawang tersebut sudah dimasukkan ke dalam waring berukuran 60 kg atau 1 ku.

Bawang merah dari pedagang besar langsung didistribusikan ke agen penjualan atau pengecer. Dalam pendistribusian bawang merah dari pedagang besar ke agen penjualan, pedagang besar ini mengantar bawangnya ke agen penjualan menggunakan mobil bak terbuka miliknya sedangkan penjualan ke pengecer ada yang diantar oleh pedagang besar dan ada juga pengecer yang mendatangi pedagang besar tersebut.

Bawang merah yang dijual ke agen penjualan akan dikeringkan kembali di rumah sebelum dijual ke pedagang pengecer. Sementara bawang merah yang dijual ke pengecer tidak dikeringkan kembali di rumah melainkan langsung didistribusikan ke konsumen akhir di pasar.

Bawang merah yang sudah dikeringkan akan dimasukkan ke waring merah berkapasitas 10 kg. Pemasukan bawang merah dilakukan sambil melakukan sortasi bawang yang busuk. Agen penjualan menjual bawang merahnya ke pengecer menggunakan mobil carry. Agen penjualan akan mengantarkan bawang merahnya sekitar pukul 05.00 sampai 06.30. Pedagang pengecer hanya menunggu agen penjualan datang untuk menawarkan

dagangannya. Bawang merah di pedagang pengecer akan dijual pada hari itu kepada konsumen akhir. Konsumen akhir akan datang ke pedagang pengecer untuk membeli bawang merah. Konsumen dapat memilih sendiri bawang merah yang dibutuhkannya dan dapat langsung mendapatkan bawang merah pada saat pembelian. Berdasarkan uraian pendisribusian bawang merah tersebut, aliran bawang merah dapat dikatan lancar.

b. Aliran Uang

Dalam menjalankan sebuah usaha, modal menjadi bagian yang sangat vital. Modal petani dalam rangka pengadaan bawang merah selama ini menggunakan modal sendiri dan atau pinjaman baik pinjaman dari lembaga keuangan maupun pinjaman dari keluarga. Lembaga keuangan tersebut merupakan bank BRI dan BMT yang berada di sekitar tempat tinggal petani.

Dari jumlah total petani responden, 69,23% petani menggunakan modal sendiri sedangkan sisanya menggunakan modal pinjaman. Pengembalian akan dicicil dalam beberapa bulan dan akan dikembalikan lunas setelah mendapatkan hasil penjualan bawang merah dari pedagang besar. Dalam pembayaran, 2 dari 4 pedagang besar membayar langsung dan cash sedangkan sisanya membayar tempo tetapi tetap cash. Tempo yang terjadi selama ini yaitu 3 – 4 hari dan 1 minggu. Hal tersebut tergantung pada agen penjualan atau pengecer yang membayar kepada pedagang besar.

Pedagang besar dalam melakukan aktivitasnya menggunakan modal sendiri. Pembayaran dari agen atau pengecer akan dicatat dalam buku untuk memudahkan mengingat. Hal serupa juga terjadi pada agen penjualan. Sementara

(11)

11 pengecer melakukan aktivitasnya juga menggunakan modal sendiri dan atau

modal dari pedagang di atasnya.

Aliran uang yang terjadi dalam rantai pasok bawang merah ini dimulai dari konsumen sampai kepada petani. Dalam rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden ini, aliran uang dari konsumen akhir ke pedagang pengecer adalah lancar. Sementara pengecer ke agen penjualan dan dari pengecer ke pedagang besar adalah kurang lancar. Dalam pembayaran dari pedagang besar ke petani, terdapat dua macam kelancaran aliran uang, yaitu lancar dan kurang lancar.

c. Aliran Informasi

Lancarnya aliran informasi juga tidak kalah penting dengan lancarnya aliran produk dan uang. Dalam rantai pasok bawang merah ini, kerja sama yang solid akan memberikan dampak positif bagi kelancaran rantai pasok tersebut.

Begitu juga sebaliknya.

Dalam jual beli bawang merah antara petani dengan pedagang besar, pedagang yang akan mengambil bawang merah dari petani sebelumnya telah menginformasikan kapan bawang tersebut akan diambil sehingga petani dapat menyiapkan bawangnya tepat waktu. Pembayaran akan dilakukan sesuai kesepakatan. Akan tetapi, apabila pedagang besar mengalami kerugian maka harga jual petani dapat dikurangi. Hal tersebut sudah dimaklumi oleh petani karena harga bawang merah yang begitu fluktuatif. Sementara informasi jenis, kualitas, dan kuantitas bawang merah, pedagang besar tidak pernah membuat kesepakan mengenai hal tersebut. Pedagang besar tersebut mengambil seadanya bawang merah yang dimiliki oleh petani.

Pedagang besar yang mengambil bawang merah dari petani memiliki tempat tinggal yang dekat dengan petani sehingga pedagang tersebut mengetahui musim tanam dan varietas bawang merah yang ditanam pada umumnya. Begitu juga dengan jumlah pesaing di sekitar rumah. Informasi yang tidak diketahui pedagang adalah jumlah produksi bawang merah yang dihasilkan oleh petani.

Pedagang akan mengetahui informasi tersebut setelah bertemu langsung dengan petani yang bersangkutan.

Dalam melakukan kegiatan jual beli bawang merah dari pedagang besar ke agen penjualan, agen penjualan biasanya hanya memperkirakan waktu pengiriman bawang merah oleh pedagang besar. Dalam pengiriman tersebut, agen penjualan tidak mengetahui jenis, kualitas, dan kuantitas bawang merah yang akan dikirimkan oleh pedagang besar. Akan tetapi, pedagang besar biasanya tidak mengirimkan jumlah yang sesuai dengan jumlah bawang merah yang diminta.

Agen penjualan juga memiliki tempat tinggal yang dekat dengan petani.

Oleh karena itu, agen penjualan mengetahui kapan musim tanam dan jenis varietas yang ditanam petani secara umum karena kebiasaan. Akan tetapi, agen penjualan tidak mengetahui berapa jumlah produksi bawang merah yang dihasilkan petani.

Sementara, informasi jumlah pesaing dapat diketahui oleh agen penjualan karena pesaing tersebut juga dijadikan sebagai sumber informasi oleh agen penjualan.

Hal yang terjadi pada agen penjualan juga tidak jauh berbeda dengan pedagang pengecer. Pebedaannya adalah agen penjualan tidak selalu dapat tepat waktu dalam mengirim bawang merahnya ke pedagang pengecer. Dalam hal kuantitas bawang merah yang diminta, agen penjualan selalu dapat memberikan bawang merah sesuai jumlah yang diminta. Akan tetapi, dalam informasi musim

(12)

12 tanam, varietas, dan jumlah produksi bawang merah, pengecer tidak mengetahui

hal – hal tersebut. Begitu juga dengan pengecer yang membeli bawang merah dari pedagang besar. Sementara aliran informasi antara pedagang pengecer dengan konsumen akhir tidak lancar kecuali jumlah dan waktu jual beli. Informasi – informasi lain seperti waktu tanam, varietas yang ditanam juga tidak diketahui oleh konsumen.

Secara rinci, aliran informasi dalam rantai pasok bawang merah yang lancar terjadi antara petani dengan pedagang besar. Aliran informasi yang kurang lancar terjadi antara pedagang besar dengan agen penjualan dan sisanya yaitu aliran informasi antara agen penjualan dengan pengecer, pedagang besar dengan pengecer, dan konsumen dengan pengecer terjadi tidak lancar.

B. Efisiensi Rantai Pasok Bawang Merah di Kecamatan Sanden.

Efisiensi rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden dilihat dari 2 pendekatan, yaitu pendekatan marjin dan pendekatan metode transhippment.

1. Pendekatan Marjin

Dalam penjualan bawang merah, pedagang besar memiliki alternatif untuk langsung menjual bawang merah ke pedagang pengecer atau melalui agen penjualan terlebih dahulu. Pengambilan marjin oleh agen penjualan relatif lebih besar, yaitu sebesar Rp 3.000,-.

Harga jual dari petani berbeda cukup tinggi, yaitu Rp 12.300,-. Harga jual petani tinggi pada saat awal musim panen karena penawaran bawang merah dari petani masih belum banyak dan sebaliknya.

Dalam hal biaya yang dikeluarkan, semua pedagang besar dan agen penjualan mengeluarkan biaya pengemasan yang terdiri atas harga kemasan dan biaya tenaga kerja. Biaya tenaga kerja yang masuk ke dalam biaya pengemasan tidak sepenuhnya merupakan biaya tenaga kerja pengemas tetapi juga biaya tenaga kerja untuk sortasi dan mengangkut bawang merah ke mobil. Biaya pemasaran tertinggi dikeluarkan oleh pedagang pengecer di Pasar Imogiri.

Total marjin tertinggi terdapat pada jaringan 1, yaitu sebesar Rp 7.000,- sedangkan total marjin terendah terdapat pada jaringan 2, 3, 6, 7, dan 8 yakni sebesar Rp 4.000,-. Jaringan yang memiliki marjin lebih rendah tersebut relatif lebih efisien daripada jaringan yang memiliki marjin lebih tinggi. Hal ini dikarenakan kelima jaringan tersebut tidak melewati agen penjualan sehingga tidak banyak pelaku yang terlibat dan pengambilan selisih dari harga beli yang juga lebih rendah daripada jaringan yang lain, yaitu sebesar Rp 2.000,- antar pelaku dengan keuntungan yang dihasilkan sekitar Rp 1.400,- antar pelaku. Sementara marjin jaringan yang lain, yaitu jaringan 4 dan 5 adalah sebesar Rp 5.000,- walaupun jaringan tersebut juga tidak melalui agen penjualan. Marjin sebesar Rp 5.000,- tersebut dikarenakan pedagang besar berani untuk mengambil selisih harga dari harga beli yang lebih besaar daripada pedagang besar yang lain, yaitu sebesar Rp 3.000,-.

2. Pendekatan Model Transhippment ( Biaya Pemasaran Minimal ) a. Identifikasi persoalan

1) Identifikasi variabel keputusan

(13)

13 Variabel keputusan adalah jumlah alokasi bawang merah dari

petani sebagai sumber pasokan bawang merah ke tiap – tiap pasar berdasarkan jaringan bawang merah di Kecamatan Sanden.

2) Identifikasi kendala – kendala

Kendala – kendala dalam model adalah jumlah pasokan bawang merah dari petani dan jumlah kebutuhan bawang merah di tiap pasar tujuan.

. Kendala – kendala tersebut adalah :

a) Kendala jumlah pasokan bawang merah untuk Kabupaten Bantul Kendala petani = Jumlah total produksi petani

b) Kendala kebutuhan Pasar Bantul

Kendala kebutuhan Pasar Bantul = Jumlah rata – rata bawang merah yang habis terjual oleh pedagang di Pasar Bantul

c) Kendala kebutuhan Pasar Niten

Kendala kebutuhan Pasar Niten = Jumlah rata – rata bawang merah yang habis terjual oleh pedagang di Pasar Niten

d) Kendala kebutuhan Pasar Imogiri

Kendala kebutuhan Pasar Imogiri = Jumlah rata – rata bawang merah yang habis terjual oleh pedagang di Pasar Imogiri

3) Perumusan fungsi tujuan

Tujuan pembuatan model adalah untuk mencari alokasi pendistribusian bawang merah yang optimal berdasarkan minimalisasi biaya pemasaran.

Fungsi tujuan (Z) = C1 J1 + C2 J2 + C3 J3 + C4 J4+ C5 J5 + C6 J6 + C7 J7 + C8 J8 Keterangan : Z = Total biaya

Cj = Biaya per kg bawang merah untuk jaringan i b. Penyusunan Model

1) Persamaan kendala

a) Kendala jumlah pasokan bawang merah untuk Kabupaten Bantul Kendala petani = 9911 kg

b) Kendala kebutuhan Pasar Bantul

Kendala kebutuhan Pasar Bantul = 31.600 kg c) Kendala kebutuhan Pasar Niten

Kendala kebutuhan Pasar Niten = 1.210 kg d) Kendala kebutuhan Pasar Imogiri

Kendala kebutuhan Pasar Imogiri = 6.700 kg 2) Fungsi Tujuan

Model fungsi tujuan setelah dilengkapi dengan konstanta biaya pasokan adalah sebagai berikut :

Fungsi tujuan (Z) = 1488J1 + 922J2 + 762J3 + 772J4+ 613J5 + 1199J6 + 1035J7 + 1398J8

c. Analisis Model

1) Optimalisasi peminimuman biaya pemasaran

Dengan menggunakan linier programming, biaya yang paling minimal dalam rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden adalah sebesar Rp 29.863.568,-. Biaya sebesar itu dapat diperoleh dengan alokasi pemasaran seperti pada tabel 6 berikut :

(14)

14 Tabel 6. Alokasi pemasaran bawang merah pada keadaan optimal (kg)

Simbol Variabel Keputusan Pasokan

optimal J1 Jumlah pasokan dari petani ke Pasar Imogiri melewati agen penjualan 0 J2 Jumlah pasokan dari petani ke Pasar Bantul melewati pedagang besar B 0 J3 Jumlah pasokan dari petani ke Pasar Niten melewati pedagang besar B 0 J4 Jumlah pasokan dari petani ke Pasar Bantul melewati pedagang besar C 31600 J5 Jumlah pasokan dari petani ke Pasar Niten melewati pedagang besar C 1210 J6 Jumlah pasokan dari petani ke Pasar Bantul melewati pedagang besar D 0 J7 Jumlah pasokan dari petani ke Pasar Niten melewati pedagang besar D 0 J8 Jumlah pasokan dari petani ke Pasar Imogiri melewati pedagang besar D 3381

Dengan biaya yang minimum, diharapkan pelaku – pelaku rantai pasok dapat menerima keuntungan yang lebih besar. Biaya minimum tersebut dapat dihasilkan karena pelaku rantai pasok yang hanya terdiri atas 3 pelaku primer dan aktivitas yang dilakukan oleh pelaku pada kedua jaringan tersebut juga lebih sedikit.

2) Slack dan Surplus

Slack merupakan kelebihan permintaan bawang merah yang belum terpenuhi oleh petani di Kecamatan Sanden sedangkan surplus adalah sisa bawang merah yang tidak terdistribusikan dari petani di Kecamatan Sanden. Dual price menunjukkan penambahan atau pengurangan biaya pemasaran apabila terdapat penambahan produksi bawang merah atau penambahan permintaan setiap satuan (kg).

Rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden memiliki produksi bawang merah sebesar 36191 kg dan semuanya telah terdistribusikan. Oleh karena itu, tidak ada sisa bawang merah atau nilai slack dan surplus sama dengan nol. Sementara untuk angka dual price yang menunjukkan penambahan biaya sebesar Rp 1.398,- beraarti bahwa

penambahan biaya pemasaran sebesar Rp 1.398,- dapat terjadi apabila petani di Kecamatan Sanden menambah produksi bawang merah sebesar 1 kg.

Sementara pengurangan biaya pemasaran tertinggi sebesar Rp 785,- dapat terjadi apabila Pasar Niten menambah permintaan sebesar 1 kg sedangkan pengurangan biaya pemasaran terendah adalah sebesar Rp 0,- karena terjadi demand exceeds (kelebihan permintaan) yaitu di Pasar Imogiri sebesar 3.319 kg. Permintaan yang belum terpenuhi tersebut mengakibatkan angka dual price sama dengan nol atau tidak ada penambahan maupun penurunan biaya pemasaran.

3) Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa masing – masing biaya pemasaran dapat berubah dalam batas interval tertentu dan tidak akan mengubah pemasaran optimal. Dalam linier programming, analisis sensitivitas dapat dilihat dari Objective Coefficient Range dan Right Hand Side Range.

a) Objective Coefficient Range

Pada Objective Coefficient Range, batas bawah menunjukkan batas minimal turunnya biaya pemasaran (Current Value) sedangkan batas atas menunjukkan batas maksimal kenaikan biaya pemasaran (Current Value) agar biaya pemasaran masih dalam keadaan optimal. Analisis sensitivitas Objective Coefficient Range dalam penelitian ini terdapat 3 variasi, yaitu : (1) Batas bawah turun dari current value (biaya pemasaran) dan batas

atasnya naik sampai berapa pun nilainya, artinya biaya pemasaran masih dalam keadaan optimal apabila turun sampai batas bawah yang ditentukan atau naik sampai berapa pun nilainya.

(15)

15 (2) Batas bawah turun dan batas atas naik dari current value (biaya

pemasaran) artinya biaya pemasaran masih dalam keadaan optimal apabila turun atau naik sampai batas yang ditentukan.

(3) Batas bawah turun sampai berapa pun nilainya dan batas atas naik dari current value (biaya pemasaran), artinya biaya pemasaran masih dalam keadaan optimal apabila turun sampai berapa pun nilainya atau naik dari batas atas.

b) Right Hand Side Range

Pada analisis sensitivitas right hands side range, batas bawah menunjukkan batas minimal penurunan produksi atau permintaan sedangkan batas atas menunjukkan batas maksimal kenaikan produksi atau permintaan. Apabila batas bawah atau batas atas bernilai tidak terbatas, artinya produksi atau permintaan dapat dinaikkan atau diturunkan sampai berapa pun nilainya.

Produksi dari petani memiliki batas bawah sebesar 32.810 kg dan batas atas sebesar 39.510 kg. Batas bawah yang turun dan batas atas yang naik dari jumlah produksi dikarenakan produksi dari petani yang tidak menentu. Akan tetapi biaya pemasaran akan tetap optimal apabila masih dalam interval tersebut.

Sementara untuk right hand side range pada permintaan batas bawah dan batas atas kapasitas permintaan pasar tujuan dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :

(1) Batas bawah turun dan batas atas naik sampai berapa pun nilainya yang terjadi di Pasar Imogiri. Hal ini dikarenakan permintaan dari Pasar Bantul dan Pasar Imogiri tidak terpenuhi semuanya sehingga apabila permintaan dari kedua pasar tersebut ditambah maka tidak akan mempengaruhi keadaan rantai pasok optimal.

(2) Batas bawah turun dan batas atas naik yang terjadi pada Pasar Bantul dan Pasar Niten. Hal ini dikarenakan permintaan dari Pasar Bantul dan Pasar Niten sudah terpenuhi semua sehingga dapat turun atau naik dengan batas yang telah ditentukan tersebut.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

1. Rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden terdiri atas 8 jaringan dengan petani, pedagang besar, agen penjualan, pedagang pengecer, dan konsumen sebagai pelaku primer serta produsen kemasan bawang merah, penyedia kebutuhan di bidang transportasi, buruh angkut, buruh dalam usaha tani, buruh dalam kegiatan pasca panen sebagai pelaku sekunder.

Pelaku primer tersebut melakukan berbagai aktivitas yang berbeda yang terbagi dalam 3 jenis aktivitas, yaitu aktivitas pertukaran meliputi penjualan dan pembelian, aktivitas fisik meliputi penyimpanan, pengemasan, pengangkutan, dan bongkar muat, serta aktivitas fasilitas meliputi pengeringan, pemetikan daun, sortasi, dan grading. Dalam rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden, terdapat 3 aliran yaitu aliran produk, aliran uang , dan aliran informasi. Semua aliran produk dalam rantai pasok bawang merah di Kecamatan Sanden lancar sedangkan semua aliran uang dalam rantai pasok tersebut kurang lancar kecuali aliran uang yang terjadi dari sebagian pedagang besar ke sebagian petani dan konsumen ke pedagang pengecer yang bersifat lancar.

Sementara aliran informasi yang terjadi terdiri atas 3 kriteria, yaitu lancar

(16)

16 yang terjadi antara pedagang besar dengan petani, kurang lancar yang

terjadi antara pedagang besar dengan agen penjualan dan antara konsumen dengan pedagang pengecer, dan tidak lancar yang terjadi antara pengecer baik dengan pedagang besar maupun agen penjualan.

2. Berdasarkan analisis marjin, jaringan rantai pasok di Kecamatan Sanden yang relatif efisien adalah jaringan kedua, ketiga, keenam, ketujuh, dan kedelapan yang memiliki nilai marjin lebih rendah. Berdasarkan minimalisasi biaya menggunakan metode transshipment, biaya optimal yang paling minimum adalah sebesar Rp 29.863.568,- dengan alokasi bawang merah sebesar 31.600 kg melalui jaringan keempat ke Pasar Bantul, 1.210 kg melalui jaringan kelima ke Pasar Niten, dan 3.381 kg melalui jaringan kedelapan ke Pasar Imogiri.

B. Saran

Berdasarkan perhitungan menggunakan metode transhippment, pencapaian produksi bawang merah masih dapat ditingkatkan lagi sampai pada batas yang ditentukan dalam metode transhippment. Oleh karena itu, pemerintah Kabupaten Bantul sebaiknya melakukan penyuluhan atau memberikan bantuan kepada petani baik berupa permodalan, pengetahuan mengenai jumlah kebutuhan yang bisa dijadikan peluang, maupun pengetahuan mengenai aktivitas dalam pemasaran yang lebih menguntungkan guna pemaksimalan produksi sehingga pemenuhan kebutuhan bawang merah di Kabupaten Bantul dapat didominasi oleh petani lokal dengan biaya pemasaran minimal.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Litbang Pertanian. 2004. Komoditas Bawang Merah (Online).

http://www.litbang.deptan.go.id/ diakses 19 Oktober 2013.

Badan Pusat Statistik Indonesia. 2012. Data Produksi Bawang Merah Nasional (Online). http://www.bps.go.id/ diakses 11 Desember 2013.

Dinas Pertanian D.I.Yogyakarta. 2009. Data Produksi Bawang Merah DI D.I.Yogyakarta (Online). http://yogyakarta.bps.go.id/ diakses 11 Desember 2013.

Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Bantul. 2011. Laporan Total Produksi Tanaman Sayuran Dan Buah – Buahan Semusim. Bantul : Dinas Pertanian Kabupaten Bantul.

Direktorat Jendral Pengolahan Dan Pemasaran Pertanian. 2013. Khasiat Bawang Merah (Online). http://www.agribisnis.web.id/ diakses 31 Oktober 2013.

Kementrian Pertanian. 2011. Pengertian Hortikultura (Online).

http://hortikultura.deptan.go.id/ diakses 19 Oktober 2013.

Prihatiningsih, N. 2007. Analisis Efisiensi Rantai Pasokan Komoditas Bawang Merah (Studi Kasus Di Kota Bogor) (Online). Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. http://repository.ipb.ac.id/

diakses 19 Oktober 2013.

Rahayu dan Nur Berlian. 2007. Bawang Merah. Bogor : Penebar Swadaya.

Referensi

Dokumen terkait

Sistem keamanan pada paper ini akan mengganti kunci konvensional dengan teknologi smartcard-RFID untuk masuk kedalam rumah melalui pengenalan pola tanda tangan

meregistrasi lebih dari 5 mata kuliah per semester 0,91 kali daripada mahasiswa yang meregistrasi kurang dari 5 mata kuliah per semester, (c) resiko putus kuliah bagi mahasiswa

Menurut Alam (2012:153) pemahaman matematis juga merupakan salah satu tujuan dari setiap materi yang disampaikan oleh guru, karena guru merupakan pembimbing siswa untuk mencapai

masyarakat pengungsi yang masih relatif mampu atau dibantu oleh sanak saudaranya atau bantuan langsung dari pihak-pihak tertentu untuk membeli kayu. Tipologi interaksi ini

Jumlah penduduk yang tinggi tersebut menjadikan sektor perdagangan masuk kedalam leading cluster di Kecamatan Samarinda Ulu, sedangkan yang termasuk dalam potential cluster

Tawadhu’ menurut Al-Ghozali adalah mengeluarkan kedudukanmu atau kita dan menganggap orang lain lebih utama dari pada kita (Ihya Ulumudin, jilid III, terj. Tawadhu’ yaitu

Sidoarjo (Studi Tentang Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur pada Lokasi Akibat Semburan Lumpur Lapindo Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo), Ketua Komisi Pembimbing

disseminated, openly demonstrated or put up, the principle shall, being guilty libel, be punished with a maximum imprisonment or one year and four months or a maximum fine of