56 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat dimana dilakukannya kegiatan penelitian. Penelitian ini akan dilakukan di Kota Batu dengan subyek karyawan Pos Ketan Legenda di Kota Batu.
3.2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah explanatory research yaitu penelitian yang menelaah hubungan kausal (sebab akibat) antar variabel yang menjelaskan fenomena tertentu (Darmawan, 2013). Dalam penelitian ini menggunakan dua variabel, diantaranya variabel independen yaitu budaya organisasi, employee engagement dan variabel dependen yaitu kinerja karyawan.
3.3. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi dapat diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan setelah itu ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014). Jenis populasi pada penelitian ini adalah probability sampling dimana jumlah populasi keseluruhan mendapat
kesempatan yang sama menjadi responden. Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah seluruh karyawan Pos Ketan Legenda di Kota Batu yang berjumlah 55 karyawan.
57 2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2014). Apabila populasi dalam penelitian berjumlah besar maka terdapat keterbatasan untuk mempelajari semuanya, maka sampel dapat digunakan dan kesimpulannya dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus benar-benar representative (mewakili). Dalam penelitian ini, sampel yang digunakan
adalah keseluruhan karyawan yang bekerja pada Pos Ketan Legenda di kota Batu yang berjumlah 55 karyawan dengan rincian kasir 5 karyawan, dapur 21 karyawan, membuat minuman 21 karyawan dan pelayan 8 karyawan.
3. Teknik Pengambilan Sampel
Sampling adalah suatu cara yang ditempuh dengan pengambilan sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan obyek penelitian (Nursalam, 2008). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling. Total sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi (Sugiyono, 2007). Alasan mengambil total sampling karena menurut Sugiyono (2007) jumlah populasi yang kurang dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel penelitian semuanya.
3.4. Definisi Operasional Variabel
Menurut Sugiyono (2015) variabel penelitian merupakan suatu atribut, sifat, atau nilai dari seseorang, objek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini menggunakan dua variabel diantaranya variabel independen budaya organisasi dan employee engagement dan variabel
58 dependen yaitu kinerja karyawan. Berdasarkan teori yang dijelaskan sebelumnya dapat diketahui definisi operasional variabel, indikator dan pengukurannya ada pada tabel 3.1
Tabel 3.1
Definisi Operasional Variabel
Definisi Operasional Variabel
Dimensi Operasional Indikator Budaya organisasi
adalah seperangkat asumsi atau sistem keyakinan, nilai - nilai, dan norma yang dikembangkan dalam organisasi yang dijadikan pedoman tingkah laku bagi anggota - anggotanya untuk mengatasi masalah adaptasi eksternal dan internal.
Mangkunegara (2009, p.114)
1. Inovasi dan Keberanian
Mengambil Resiko
Para anggota organisasi didorong untuk bersikap sigap dalam mengambil resiko 2. Perhatian Terhadap
Detail
Anggota organisasi diharapkan untuk memperlihatkan kecermatan terhadap detail.
3. Berorientasi Pada Hasil
Manajemen berfokus kepada hasil dibandingkan dengan perhatian terhadap proses yang digunakan untuk meraih hasil tersebut.
4. Berorientasi Kepada Manusia
Keputusan yang dibuat oleh manajemen memperhitungkan efek terhadap anggota - anggota organisasi.
5. Berorientasi Kepada Kelompok
Pekerjaan secara kelompok lebih ditekankan dibandingkan dengan pekerjaan secara individu.
6. Agresivitas Anggota - anggota organisasi berperilaku secara agresif dan kompetitif dibandingkan dengan berperilaku secara tenang.
7. Stabilitas Organisasi menekankan status sebagai kontras dari pertumbuhan.
Employee
engagement adalah hubungan emosional dan intelektual yang tinggi yang dimiliki oleh karyawan terhadap
pekerjaannya,
1. Recognition 1. Karyawan merasa kontribusi mereka diketahui dan diapresiasi
2. Pemberian reward diberikan berdasarkan kinerja
3. Para atasan secara regular mengakui anggota tim berhak mendapatkannya
59 Definisi Operasional
Variabel
Dimensi Operasional Indikator organisasi, manajer,
atau rekan kerja yang memberikan
pengaruh untuk menambah
discretionary effort dalam pekerjaannya.
Gibbons (dalam Hughes dan Rog, 2008)
2. Empowerment 1. Para atasan menyediakan peralatan kerja
2. Pelatihan sumber daya yang dibutuhkan karyawan untuk sukses dalam pekerjaan 3. Memberikan otonomi dan
didorong untuk mengambil resiko
3. Supportive feedback 1. Para atasan memberikan feedback yang spesifik pada waktunya dalam suatu media yang mendukung bukan untuk membuat malu atau menghukum
4. Partnering 1. Karyawan diperlakukan sebagai mitra bisnis dan secara aktif berkolaborasi dalam pengambilan keputusan bisnis
2. Atasan bertindak sebagai
pendorong untuk
pengembangan karyawan.
5. Expectations 1. Para atasan menjamin bahwa sasaran, tujuan dan prioritas bisnis secara jelas ditetapkan.
2. Karyawan mengetahui standar kinerja mereka yang dievaluasi dengan bertanggung jawab
6. Considerations 1. Atasan, manajer dan anggota tim menunjukkan rasa tenggang, kepedulian dan perhatian satu sama lain 7. Trust 1. Para atasan menunjukkan kepercayaan dan yakin
dengan kemampuan
karyawan
2. Para atasan memenuhi janji dan komitmen mereka sehingga karyawan mempercayai para atasan.
60 Definisi Operasional
Variabel
Dimensi Operasional Indikator Kinerja karyawan
adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan
tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya
(Mangkunegara, 2001:67)
Kualitas kerja 1. Kerapian 2. Ketelitian
3. Keterkaitan hasil kerja dengan tidak mengabaikan volume pekerjaan.
Kuantitas Kerja 1. Volume kerja yang dihasilkan dibawah kondisi normal
Tangung jawab 1. Karyawan dapat
mempertanggungjawabkan hasil kerjanya, sarana dan
prasarana yang
dipergunakan serta perilaku kerjanya
Inisiatif 1. Kemampuan karyawan
untuk menganalisis, menilai, menciptakan dan membuat keputusan terhadap penyelesaian masalah yang dihadapinya.
Kerja sama 1. Kesediaan karyawan untuk berpartisipasi dan bekerja sama dengan karyawan lain secara vertical atau horizontal didalam maupun diluar pekerjaan
Sumber: diolah peneliti, 2020
3.5. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data kuantitatif dimana data diukur dalam suatu skala numerik atau angka. Dalam penelitian ini sumber data yang digunakan adalah data primer. Berdasarkan Sugiyono (2015) sumber data primer merupakan data yang secara langsung diperoleh dari pemberi data kepada pengumpul data. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah karyawan Pos Ketan Legenda di Kota Batu yang diperoleh melalui penyebaran kuisioner kepada responden penelitian.
61 3.6. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah survey dengan menggunakan kuisioner (angket) yang merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden (Sugiyono, 2015). Angket atau kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket tertutup. Suharsimi (2015) mengatakan angket tertutup adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden tinggal memberikan tanda centang (√) pada kolom atau tempat yang sesuai.
3.7. Pengukuran dan Penskalaan
Pengukuran dilakukan untuk mengklasifikasikan variabel-variabel yang akan diukur agar tidak terjadi kesalahan dalam menentukan analiasis data dan langkah penelitian selanjutnya. Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert. Sugiyono (2015) Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi responden. Skala ini terdiri dari lima alternatif jawaban yang mengandung variasi nilai yang bertingkat dari objek penelitian melalui jawaban pertanyaan yang diberi skala 1 sampai 5, yaitu:
Tabel 3.2. Alternatif Jawaban dan Bobot (Skor)
Jawaban Bobot (Skor)
Sangat Setuju 5
Setuju 4
Netral 3
Tidak Setuju 2
Sangat Tidak Setuju 1
Sumber: Sugiyono (2015)
62 3.8.Uji Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kuantitatif, kualitas instrumen penelitian berkenaan dengan validitas dan reliabilitas instrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan ketepatan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Uji instrument penelitian terbagi menjadi dua yaitu uji validitas dan uji reliabilitas.
1. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengetahui seberapa cermat suatu tes dapat melakukan fungsi ukurnya semakin tepat pula alat pengukur tersebut mengenai sasaran, dan sebaliknya semakin rendah suatu alat ukur maka semakin jauh pula alat pengukurnya tersebut mengenai sasarannya (Ghozali, 2016). Pengujian dilakukan pada taraf α = 0.05 dengan kriteria pengujian.
Kriteria keputusan adalah 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 lebih besar dari 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 dengan taraf signifikan 5%. Adapun dasar pengambilan keputusan dalam uji validitas adalah sebagai berikut:
a. Jika nilai r hitung ≥ r tabel, maka item pertanyaan dalam angket berkorelasi signifikan terhadap skor total, artinya item angket dinyatakan valid.
b. Jika nilai r hitung < r tabel, maka item pertanyaan dalam angket berkorelasi signifikan terhadap skor total, artinya item angket dinyatakan tidak valid.
Nilai r hitung dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut:
r =
n (∑xy)−(∑x∑y)
√[𝑁∑ₓ
2−(∑𝑥)
2[𝑁∑𝑦
2−(∑𝑦)
2]
keterangan:
r = koefisien korelasi x = skor butir
y = skor total butir n = jumlah sampel
63 r hitung digunakan untuk mengetahui nilai korelasi product moment dimana hasil perhitungan dari korelasi akan didapatkan suatu koefisien korelasi yang digunakan untuk menguji tingkat validitas suatu item dan menentukan apakah suatu item layak digunakan atau tidak.
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas merupakan alat yang digunakan untuk mengetahui kebenaran alat ukur atau untuk mengetahui konsisten alat ukur jika diuji cobakan berulang kali kepada responden. Uji reliabilitas dapat dikatakan reliabel apabila jawaban responden terhadap pertanyaan konsisten dari waktu ke waktu (Ghozali, 2016). Metode yang digunakan dalam pengujian realibilitas ini dengan menggunakan metode Alpha Cronbach sebagai berikut:
r =
(
𝑘𝑘−1
) (1 −
∑ℴ2 𝑏 ℴ2 𝑡
)
keterangan:
r = reliabilitas instrument k = banyaknya butir pertanyaan
∑ℴ²b = jumlah varians butir ℴ²b = varians total
Instrumen dapat dikatakan reliabel apabila telah memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Apabila croncbach’s coefficient alpha > 0,6 maka dapat dikatakan reliabel.
2. Apabila croncbach’s coefficient alpha < 0,6 maka tidak dapat dikatakan reliabel.
64 3.9. Uji Asumsi Klasik
Untuk memperoleh hasil analisis data yang sesuai dengan syarat pengujian maka penelitian ini menggunkan uji asumsi klasik. Pada penelitian ini akan dilakukan beberapa uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi dengan sumber acuan buku karangan Perdana tahun 2016.
a. Uji Normalitas
Merupakan pengujian yang bertujuan untuk melihat apakah data yang telah dikumpulkan berdistribusi normal atau tidak (Perdana, 2016). Dalam penelitian ini pengujian normalitas menggunakan One Sample Kolmogorov- Smirnov dengan menggunakan taraf signifikasi 0,05 dengan dasar pengambilan keputusan jika angka signifikasi Uji Kolmogorov-Smirnov Sig
> 0,05 maka data berdistribusi normal dan sebaliknya.
b. Uji Multikolinearitas
Merupakan pengujian yang bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi atau hubungan antar variabel bebas (Perdana, 2016). Model yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Metode untuk menguji multikolinearitas yaitu dengan melihat besaran dari nilai tolerance dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) dengan dasar pengambilan keputusan:
1) Jika nilai VIF < 10, maka dikatakan tidak terdapat masalah multikolinearitas.
2) Jika nilai Tolerance > 0.10, maka dikatakan tidak terdapat masalah multikolinearitas.
65 c. Uji Heteroskedastistas
Merupakan pengujian yang bertujuan untuk mengetahui ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lainnya (Perdana,
2016). Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homokedastisitas dan jika berbeda disebut Heterokedastisitas.
Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastistas dan ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melakukan uji heteroskedastistas yaitu dengan menggunakan uji glejser. Dasar pengambilan keputusannya jika nilai signifikansi Sig. < 0,05 maka terjadi heteroskedastisitas apabila Sig. > 0,05 maka terjadi homoskedastititas.
d. Uji Autokorelasi
Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode tertentu dengan kesalahan pengganggu pada periode sebelumya (Perdana, 2016). Model regresi yang baik adalah regresi yang terbebas dari autokorelasi. Untuk mendeteksi adanya autokorelasi yaitu dengan cara menggunakan uji Durbin Watson (DW) dengan cara membandingkan nilai Durbin Watson dengan table Durbin Watson.
Dalam table Durbin Watson terdapat nilai batas atas (upper bound atau du) dan nilai batas atas (lower bound atau d1). Model regresi dinyatakan tidak terdapat autokorelasi apabila DW terletak antara batas atas (du) dan (4-du) maka koefisien aoutokorelasi sama dengan nol atau tidak terdapat autokorelasi.
3.10. Teknik Analisis Data
Analisis data dapat diartikan sebagai suatu metode yang dilakukan untuk mengolah data hasil dari sebuah penelitian menjadi informasi yang nantinya bisa
66 dipergunakan untuk mengambil sebuah kesimpulan. Pada penelitian ini terdapat dua alat analisis yang digunakan yaitu rentang skala dan regresi linier berganda sebabagi berikut:
1. Rentang skala
Menurut Sugiyono (2010) statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Statistik deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisis pertanyaan tertutup. Analisis statistik deskriptif menggunakan analisis rentang skala. Untuk menentukan rentang skala menggunakan rumus,
RS = (nilai terbesar − nilai terkecil) Kelas interval
= (5-1)/5
= 4/5
= 0,8
Tabel 3.3 Rentang Skala Rentang
Skala
Budaya Organisasi
Employee engagement
Kinerja Karyawan 1
2 3 4 5
Sangat Rendah Rendah
Cukup Tinggi Sangat Tinggi
Sangat Rendah Rendah
Cukup Tinggi Sangat Tinggi
Sangat Rendah Rendah
Cukup Tinggi Sangat Tinggi
67 Dari data pengukuran skala likert diatas dapat disimpulkan untuk jawaban masing-masing variabel sebagai berikut :
1. Jawaban sangat setuju dengan skor 5 menggambarkan bahwa kinerja karyawan sangat baik, budaya organisasi dan employee engagement yang diterapkan sangat baik.
2. Jawaban setuju dengan skor 4 menggambarkan bahwa kinerja karyawan baik, budaya organisasi dan employee engagement yang diterapkan baik.
3. Jawaban ragu-ragu dengan skor 3 menggambarkan bahwa kinerja karyawan cukup baik, budaya organisasi dan employee engagement yang diterapkan cukup baik.
4. Jawaban tidak setuju dengan skor 2 menggambarkan bahwa kinerja karyawan buruk, budaya organisasi dan employee engagement yang diterapkan kurang baik.
5. Jawaban sangat tidak setuju dengan skor 1 menggambarkan bahwa kinerja karyawan sangat buruk, budaya organisasi dan employee engagement yang diterapkan sangat buruk.
2. Regresi Linier Berganda
Menurut Perdana (2016) regresi linear berganda digunakan oleh peneliti bila penelitian bermaksud untuk mengetahui pengaruh antara satu atau beberapa variabel bebas terhadap satu variabel terikat. Teknik analisis regresi linear berganda pada penelitian ini menentukan hubungan antar variabel independen yaitu, budaya organisasi (X1) dan Employee engagement (X2) terhadap variabel dependen yaitu kinerja karyawan (Y). Dengan rumus yang digunakan sebagai berikut:
68 Y = a + b1X1 + b2X2 + e
Keterangan:
Y = kinerja karyawan a = Konstanta b1,b2 = Koefisien regresi X₁ = budaya organisasi X₂ = Employee engagement e = Error term (residual)
3.11 Uji Hipotesis
Uji Hipotesis dipergunakan untuk menguji kebenaran suatu pernyataan secara statistik dan menarik kesimpulan apakah menerima atau menolak pernyataan tersebut. Dalam penelitian ini pengujian hipotesis menggunakan dua langkah yaitu Uji t (parsial) dan Uji F (simultan) sebagai berikut:
1. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)
Menurut Ghozali (2011) uji t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individu dalam menerangkan variabel dependen. Dalam penelitian ini ingin menguji apakah jika secara terpisah, suatu variabel independen yang terdiri dari budaya organisasi dan Employee engagement akan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu
kinerja karyawan. Penelitian ini menggunakan tingkat signifikansi alpha 0,05 (ɑ = 5%). Adapun tahap pengujiannya diantaranya yaitu :
a. Dengan membandingkan nilai t hitung dengan t tabel
1) Bila t hitung > t tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya masing-masing variabel bebas secara individu mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat.
69 2) Bila t hitung < t tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya
masing- masing variabel bebas secara individu tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat.
b. Dengan menggunakan angka probabilitas signifikansi
1) Bila probability t hitung ≥ 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak.
2) Bila probability t hitung <0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima
2. Uji Signifikansi Simultan (Uji F)
Uji F digunakan untuk menunjukkan apakah semua variabel independen (budaya organisasi dan Employee engagement) mempunyai pengaruh bersama-sama terhadap variabel dependen (kinerja karyawan) (Ghozali, 2011). Untuk menguji hipotesis ini digunakan statistik F dengan kriteria pengambilan keputusan. Adapun tahap pengujiannya diataranya yaitu :
a. Dengan membandingkan nilai F hitung dengan F tabel
1) Jika F hitung > F tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y).
2) Jika F hitung < F tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak, berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y).
b. Dengan menggunakan angka probabilitas signifikansi
1) Bila probability t hitung ≥ 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak.
2) Bila probability t hitung ≤ 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima
70 3.12 Uji Dominan
Uji dominan dilakukan untuk mencari variabel bebas mana yang paling berpengaruh terhadap variabel terikat, jika dibandingkan dengan beberapa variabel bebas lainnya. Untuk mengetahui variabel dominan ini dapat diketahui dengan melihat nilai koefisien beta serta dari nilai t hitung yang paling besar. Hadi (2004:45) menjelaskan bahwa sumbangan efektih (SE) digunakan untuk menguji variabel bebas mana yang dominan mempengaruhi variabel bebas mana yang dominan mempengaruhi variabel terikat.