1
[email protected] Titin Ekowati, S.E., M.Sc [email protected] Mahendra Galih Prasaja, S.E., M.M
[email protected] Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Purworejo
ABSTRAK
Persaingan dalam bisnis semakin meningkat karena banyaknya kompetitor yang hadir dipasar pesaingan bisnis diantaranya yaitu pada bisnis kosmetik. Salah satunya pemakaian kosmetik yaitu pelembab wajah. Pelembab wajah di Indonesia sendiri kian berkembang, hal ini disebabkan karena tren kecantikan, sehingga mempengaruhi masyarakat untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan akan pelembab wajah. Dengan adanya peluang yang sangat besar dalam bisnis kosmetik dan semakin banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang tersebut membuat mereka dituntut untuk melakukan inovasi terbaru. Perusahaan sendiri dalam memasarkan produknya dengan memanfaatkan tenologi terkini, salah satu cara yang digunakan yaitu dengan mamanfaatkan situs jejaring media sosial agar menumbuhkan niat untuk membeli dari konsumen
Penelitian ini bertujuan untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh (1) brand image terhadap purchase intention, (2) electronic word of mouth terhadap purchase intention. Populasi pada penelitian ini adalah semua konsumen pelembab wajah pond’s di Purworejo dengan sampel penelitian berjumlah 120 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner melalui Google Form. Dengan menggunakan metode non probability sampling dengan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan metode analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa brand image dan electronic word of mouth berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap purchase intention pada konsumen pelembab wajah pond’s di Purworejo.
Kata Kunci : Brand Image, Electronic Word of Mouth, Purchase Intention
A. PENDAHULUAN
Persaingan dalam bisnis kian tahun semakin meningkat karena banyaknya kompetitor yang hadir dipasar pesaingan bisnis diantaranya yaitu pada bisnis kosmetik. Pasalnya nilai pasar bisnis kosmetik diam-diam sangat besar dan menggiurkan. Kosmetik ini banyak diinginkan oleh semua kalangan untuk merawat kulit dan menunjang penampilannya, terutama perempuan karena perempuan selalu ingin terlihat menarik setiap harinya. Salah satunya pemakaian kosmetik yaitu pelembab wajah. Pelembab wajah di Indonesia sendiri kian berkembang, hal ini disebabkan karena tren kecantikan, sehingga mempengaruhi masyarakat untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan akan pelembab wajah. Dengan adanya peluang yang sangat besar dalam bisnis kosmetik dan semakin banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang tersebut membuat mereka dituntut untuk melakukan inovasi terbaru. Oleh karena itu merek pelembab wajah yang ingin peneliti ambil sebagai objek penelitian adalah pelembab pond’s yang merupakan kosmetik sebagai perawatan kulit wajah pertama di dunia. Dari sekian banyak merek pelembab di pasaran, pond’s hadir memenuhi kebutuhan. Pond’s selalu menghadirkan teknologi terkini dalam pembuatan produk pelembabnya sehingga tak heran jika produknya banyak digemari (www.bp-guide.id).
Diketahui produsen pelembab wajah pond’s tidak hanyamenggunakan teknologi terkini dalam pembuatan produk saja. Namun, perusahaan sendiri dalam memasarkan produknya juga dengan memanfaatkan tenologi terkini, salah satu cara yang digunakan yaitu dengan mamanfaatkan situs jejaring media sosial agar menumbuhkan niat untuk membeli dari konsumen atau bisa disebut dengan purchase intention. Niat beli umumnya didasarkan pada proses pembelian dengan atribut atau karateristik merek yang dipertimbangkan (Belch dan Belch, 2003:120).
Dimana niat individu untuk membeli sebuah merek spesifik yang ingin membeli sebuah merek yang sudah terpilih untuk dirinya setelah evaluasi (Khan et al., 2012).
Menurut Kotler dan Keller (2009:268) citra merek adalah menggambarkan sifat ekstresik produk atau jasa, termasuk cara dimana merek berusaha memenuhi kebutuhan psikologis atau sosial pelanggan. Ketika sebuah merek memiliki citra yang kuat dan positif dibenak konsumen maka merek tersebut akan selalu diingat dan kemungkinan konsumen untuk membeli merek yang bersangkutan sangat besar.
Produk yang memiliki reputasi yang baik akan dipilih karena dianggap lebih aman (Suryani, 2013:88).
Berdasarkan data yang diperoleh dari www.topbrand-award.commenunjukkan bahwa pelembab wajah pond’s merupakan produk yang memiliki Top Brand pada tahun 2019 dan 2020. Pada Top Brand pelembab wajah pond’s tahun 2019 pelembab wajah pond’s memiliki Top Brand Index sebesar 20.30%, sedangkan pada tahun 2020 pelembab wajah pond’s memiliki Top Brand Index sebesar 21.40%. Hal ini berdasarkan Top Brand Index pelembab wajah pond’s mengalami penurunan mencapai 4.90% dan tetap menjadi peringkat pertama. Dengan melihat hasil survei tersebut, dapat menjadikan tantangan bersaing bagi perusahaan dalam menginovasi produk tersebut sesuai dengan keinginan dan kebutuhan serta daya beli konsumen.
Adanya persaingan yang ketat terjadi pada produk pelembab wajah, produsen pelembab wajah pond’s perlu mempertahankan citra tersebut agar dapat meningkatkan niat beli konsumen terhadap produknya. Oleh karena itu, produsen perlu memperhatikan pesaing untuk mengantisipasi langkah pesaing dan mengetahui pesaing bereaksi secara cepat dan pasti dengan membuat langkah kejutan dengan tetap mengantisipasi pesaing meresponnya (Kotler dan Keller, 2009:31).
Dengan begitu, perlunya meningkatkan kapabilitas dan kapasitas industri kosmestik, salah satu strategi yang dilakukan adalah pengoptimalan teknologi agar bisa menghasilkan inovasi. Hal ini sesuai dengan arah peta jalan Making Indonesia 4.0 sebagai kesiapan untuk memasuki era industri 4.0 (www.antaranews.com). Diera industri 4.0 ini, penggunaan internet semakin meningkat terutama pada situs jejaring sosial menjadi tempat yang baik untuk mengembangkan komunikasi eWOM.
Dengan begitu memudahkan perusahaan untuk melakukan promosi melalui jejaring sosial yaitu instagram dan youtube, sehingga masyarakat mengetahui produk terbaru maupun manfaat dari pelembab wajah pond’s. Selain itu, dengan kehadiran beauty vlogger yang cukup populer di youtube yang bisa dilihat di (www.youtube.com) yang sering mengulas atau review produk-produk yang recommended memberikan kontribusi positif bagi pelembab wajah pond’s dalam membagikan informasi update tentang kelebihan dan kelemahan pelembab wajah pond’s yang telah dicobanya.
Adapun promosi yang dilakukan oleh perusahaan melalui instagram yang dapat dilihat pada (www.instagram.com). Sehingga, terdapat banyak orang yang memberikan tanggapan positif setelah melihat postingan dari pelembab wajah pond’s. Adanya electrotronic word of mouth terdapat pula orang yang memberikan tanggapan tentang pengalaman buruknya, sehingga terdapat beberapa konsumen yang kurang yakin untuk mencoba produk tersebut. Namun, dengan adanya informasi yang detail dari pihak pemasar dan beauty vlogger,sehingga menjadi orang penasaran untuk ikut mencoba yang telah ditawarkan oleh pelembab wajah pond’s. Disinilah electronic word of mouth terbangun, sehingga menyebabkan pelembab wajah pond’s semakin dikenal masyarakat dan tumbuhnya niat beli karena terdapat perilaku konsumen yang baik. Sehingga, penelitian tentang brand image, electronic word of mouth, dan purhase intention menjadi penting untuk dilakukan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah brand image berpengaruh positif terhadap purchase intentionproduk pelembab wajah pond’sdi Purworejo?
2. Apakah electronic word of mouth berpengaruh positif terhadap purchase intention produk pelembab wajah pond’sdi Purworejo ?
C. KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR 1. Kajian Teori
a. Purchase Intention
Theory of Reasoned Action (TRA) yang dipelopor Martin Fishbein (Ajzen, 2012) menjelaskan perilaku sosial manusia dalam hal pertimbangan yang mudah diakses ketika orang berpikir untuk melakukan perilaku yang dimaksud. Dengan memperoleh pemahaman tentang faktor-faktor yang memotivasi perilaku orang dengan memeriksa keyakinan. Secara khusus, teori ini menetapkan bahwa niat untuk melakukan perilaku tertentu adalah fungsi bersama dari sikap yang disukai atau tidak disukai terhadap perilaku dan norma subjektif yang mendorong atau menghambat kinerjanya. Niat adalah sebelum langsung dari perilaku yang sesuai.
Schiffman dan Kanuk (2007:49) niat membeli adalah suatu sikap seseorang sebagai kekuatan dorongan dari dalam diri individu yang memaksa mereka melakukan tindakan. Niat beli dapat dikatakan sebagai salah satu komponen utama dari perilaku kognitif konsumen yang dapat menunjukan bagaimana seorang individu berniat untuk membeli merek tertentu (Elseidi dan El-Baz, 2016).
b. Brand Image ( Citra Merek)
Menurut Shimp (2014:40) citra merek (brand image) dapat dianggap sebagai jenis asosiasi yang muncul dibenak konsumen ketika mengingat merek tertentu. Asosiasi merek memiliki tingkat kekuatan tertentu dan akan semakin kuat seiring dengan bertambahnya pengalaman konsumsi atau eksposur dengan merek spesifikasi (Tjiptono, 2016:135). Sedangkan menurut Suryani (2013:86) brand image (citra merek) merupakan segala hal yang terkait dengan merek yang ada dibenak ingatan konsumen. Citra merek mempunyai peran penting dalam perilaku pembelian, sehingga konsumen yang mempunyai citra positif terhadap merek cenderung memilih merek tersebut. Terbentuknya citra merek, memerlukan waktu dan proses yang panjang karena terbentuk dari hasil persepsi terhadap objek dalam kurung waktu yang panjang.
c. Electronic Word of Mouth
Pesatnya kemajuan teknologi khususnya pada jaringan internetmemungkinkan adanya sebuah komunikasiword-of-mouth yang tidak hanya menjadi sebuah bentuk komunikasi perseorangan, tapi mampu menjadi komunikasi WOM melalui media online yang disebut Electronic Word of Mouth. E-WOM menjadi sebuah tempat yang sangat penting untuk konsumen memberikan opininya dan dianggap lebih efektif dibandingkan WOM karena tingkat aksesibilitas dan jangkauannya yang lebih luas daripada WOM tradisional yang bermedia offline (Jalilvand dan Samiei, 2012).
Melalui jaringan sosial atau sosial media dapat menghimpun para pelanggannya yang loyal, dapat digunakan untuk mengidentifikasikan para calon pelanggan potensial. Pelanggan yang sudah loyal dapat dibujuk untuk memberikan rekomendasi kepada teman-temanya atau kerabat untuk
memperkenalkan produk(Sumarwan, 2018:498). Perusahaan juga dapat mensponsori komunitas online yang anggotanya berkomunikasi melalui postingan, pesan instan, dan diskusi percakapan mengenai minat khusus yang berhubungan dengan produk dan merek perusahaan (Kotler dan Keller, 2016:643).
2. Kerangka Pikir
Gambar 1 Kerangkan Pikir
D. PENGEMBANGAN HIPOTESIS
1. Pengaruh brand image terhadap purchase intention
Menurut Jalilvand dan Samiei (2012) citra merek yang baik dapat dijadikan sebagai investasi dalam pengembangan dan penciptaan merek, dengan citra merek yang baik dapat meningkatkan keinginan konsumen dalam niat pembelian atas suatu merek. Jika suatu produk memiliki citra merek yang positif di mata konsumen dan diyakini mampu memenuhi kebutuhan dan keinginannya, maka konsumen akan timbul niat untuk membeli suatu produk (Yohana et al., 2020). Tariq et al., (2013) juga menyatakan bahwa citra merek yang baik dapat menciptakan hubungan jangka panjang antara produk dan konsumen yang dapat membuat niat beli.
Hasil penelitian terdahulu oleh Riyanti (2017), Suhatono (2018), dan Putri (2019) dalam penelitiannya menyatakan bahwa citra merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat beli. Sehingga dapat disimpulkan bahwa:
H1: Brand image berpengaruh positif terhadap Purchase Intention.
Eletronic Word of Mouth
(X2) Brand Image
(X1)
Purhase Intention
(Y)
2. Pengaruh electronic word of mouth terhadap purchase intention
Menurut Jalilvand dan Samiei (2012) melalui electronic word of mouth, konsumen dapat menyebarkan pengalaman produk atau layanan mereka menjadi semakin populer. Selain itu, baik pengalaman praktis, konsumen secara khusus tertarik untuk menulis dan membaca pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Sehingga, komunikasi WOM online yang diposting dalam media yang jelas dan interaktif seperti internet mungkin memiliki efek yang kuat pada purchase intention. Alrwashdeh et al., (2019) juga menyatakan bahwa Komunikasi electronic word of mouth online konsumen dapat mendapatkan rekomendasi serta ulasan konsumen yang persuasif sehingga memiliki pengaruh yang positif yang kuat terhadap niat untuk membeli.
Informasi eWOM berasal dari sumber yang tidak dibayar dan review jujur dibagikan oleh pembeli sebelumnya. Penerima eWOM yang menerima informasi pembeli sebelumnya akan memiliki niat membeli setelah melihat berbagai review (Sulthana dan Vanastha, 2019).
Hasil penelitian terdahulu olehRiyanti (2017), Suhatono (2018), dan Melinda dkk., (2018) dalam penelitianya menyatakan bahwa electronic word of mouth berpengaruh positif secara signifikan terhadappurchase intention.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa:
H2: Electronic word of mouth berpengaruh positif terhadap Puchase Intention.
E. Metode Penelitian 1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif, karena data yang diperoleh berupa angka yang berasal dari kuesioner dengan pendekatan survei.
Survei (survey) atau self-administeredsurvey adalah metode pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden individu (Hartono, 2017:140).
2. Populasi dan Sampel
Populasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah semua konsumen pelembab wajah pond’s di Purworejo, dengan jumlah yang tidak dapat diketahui jumlahnya. Sedangkan sampel penelitian ini menggunakan menggunakan
metode Non Probability dengan jenis Purposive Samplingsebanyak 120 orang, dengan pertimbangan: 1) Responden konsumen pelembab wajah pond’s dan berdomisili di Kabupaten Purworejo. 2) Responden berusia minimal 18 tahun, karena diusia tersebut individu dianggap dewasa dan mampu membiayai hidupnya sendiri (Kasali, 2007:200). 3) Responden yang memiliki jejaring sosial yaitu instagram serta youtube
3. Definisi Operasional Variabel a. Purchase Intention (Y)
Menurut Schiffman dan Kanuk (2007:49) niat membeli adalah suatu sikap seseorang sebagai kekuatan dorongan dari dalam diri individu yang memaksa mereka melakukan tindakan. Menurut Schiffman dan Kanuk (2007:470) indikator purchase intention dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Tertarik untuk mencari informasi mengenai produk, 2) Mempertimbangkan untuk membeli, 3) Tertarik untuk mencoba, 4) Ingin mengetahui produk, 5) Ingin memiliki produk
b. Brand Image (X1)
Menurut Kotler dan Keller (2009:268) citra merek adalah menggambarkan sifat ekstresik produk atau jasa, termasuk cara dimana merek berusaha memenuhi kebutuhan psikologis atau sosial pelanggan.
Menurut Keller (2013) yang dapat mengukur brand image terdiri dari: 1) Strengthness (kekuatan), 2) Uniqueness (keunikan),3) Favorability (keunggulan).
c. ElectronicWord of mouth (X2)
Menurut Hennig-Thurau et al., (2004) elektronic word of mouth sebagai pernyataan positif atau negatif yang dibuat oleh pelanggan potensial, aktual, mantan pelanggan tentang suatu produk atau perusahaan yang dibuat tersedia untuk banyak orang dan lembaga melalui internet. Goyette et al., (2010) meneliti tentang skala pengukuran eWOM, mengatakan bahwa terdapat dimensi-dimensi yang dapat digunakan untuk mengukur eWOM terdiri dari: 1) Intensitas (intensity), 2) Positive Valence, 3) Negative Valence, 4) Content.
4. Pengujian Instrumen a. Uji Validitas
Berdasarkan hasil uji validitas dalam pnelitian ini, diketahui bahwa nilai r hitung per item persyaratan nilainnya positif dan lebih dari 0,3 sehingga dapat disimpulkan bahwa semua item pernyataan yang diujikan adalah valid. Sehingga bahwa butiran pernyataan (instrumen) dalam kuesioner tersebut dapat mengukur variabel penelitian Brand Image (X1), Electronic Word of Mouth (X2), dan Purchase Intention (Y).
b. Uji Reliabilitas
Berdasarkan hasil uji reliabilitas dalam pnelitian ini, diketahui bahwa semua variabel menghasilkan nilai Alpha lebih besar dari 0,7 dan Cronbach’s Alpha if Item Deleted lebih besar dari 0,7 sehingga dapat disimpulkan bahwa semua item pernyataan adalah reliabel. Artinya butir pernyataan (instrumen) dalam kuisioner memiliki konsistensi untuk mengukur konstruk atau variabel penelitian Brand Image (X1), Electronic Word of Mouth (X2), dan Purchase Intention (Y).
5. Pengujian Hipotesis
Pada penelitian ini untuk menguji hipotesis menggunakan analisis regresi linear berganda yang bertujuan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih, serta untuk menunjukkan arah hubungan antara variabel terikat dengan variabel bebas (Ghozali, 2011: 96).
F. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Tabel 1
Hasil Pengujian Analisis Regresi Linear Berganda Variabel Standardized
Coeficients Beta p value Keterangan Brand Image (X1) 0.660 0.000 Positif dan Signifikan Electronic Word of Mouth (X2) 0.145 0.043 Positif dan Signifikan
Sumber: Data Primer Diolah (2021)
1. PengaruhBrand image terhadap purchase intention
Hasil pengujian dengan menggunakan uji analisis regresi berganda yang disajikan pada tabel 1 menunjukan bahwa variabel Brand Image memiliki nilai
betasebesar 0.660 (bernilai positif) dengan nilai signifikan sebesar 0.000 (< 0.05), hal ini menunjukan Brand Image berpengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention pada konsumen pelembab wajah pond’s di Kabupaten Purwoerjo
Terbuktinya hipotesis pertama yaitu brand image berpengaruh positif tehadap purchase intention pada pelembab wajah pond’s karena konsumen memiliki asosiasi atau kepercayaan pelembab wajah pond’s yang memiliki kualitas untuk kekuatannya yang mampu meningkatkan rasa percaya diri dan aman yang diproduksi oleh perusahaan dengan teknologi yang menggabungkan ilmu perawatan kulit yang telah ada bertahun-tahun dan formula produk inovatif terdepan. Dengan citra merek yang baik dapat dijadikan sebagai investasi dalam pengembangan dan penciptaan merek, dengan citra merek yang baik dapat meningkatkan keinginan konsumen dalam niat pembelian atas suatu merek (Jalilvand dan Samiei, 2012).
Perusahaan yang memproduksi pelembab wajah pond’s selalu menginovasi produknya yang memiliki keunikan dengan banyak pilihan varian produk untuk berbagai jenis kulit. Pelembab wajah pond’s oleh masyarakat sangat mudah ditemukan, sehingga bertambahnya pengalaman konsumsi yang dapat memiliki citra didalam konsumen. Citra merek yang baik dapat menciptakan hubungan jangka panjang antara produk dan konsumen yang dapat membuat niat beli. Hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi citra merek maka semakin tinggi niat beli (Tariq et al., 2013).
Konsumen akan cenderung memilih produk yang sudah terkenal dan lebih unggul atau sudah memiliki brand image yang tepat. Jika suatu produk memiliki citra merek yang positif di mata konsumen dan diyakini mampu memenuhi kebutuhan dan keinginannya, maka konsumen akan timbul niat untuk membeli suatu produk (Yohana et al., 2020).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu oleh Riyanti (2017), Suhatono (2018), dan Putri (2019) yang menyatakan bahwa citra merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat beli.
2. PengaruhElectronic word of mouth terhadap purchase intention
Hasil pengujian dengan menggunakan uji analisis berganda yang disajikan pada tabel 1 menunjukan bahwa variabel Electronic Word of Mouth memiliki nilai beta sebesar 0.145 (bernilai positif) dengan nilai signifikan sebesar 0.043 (<0.05), hal ini menunjukan Electronic Word of Mouth berpengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention pada konsumen pelembab wajah pond’s di Kabupaten Purwoerjo Terbuktinya hipotesis kedua yaitu electronic word of mouth berpengaruh positif terhadap purchase intention pada pelembab wajah pond’s. Menurut Jalilvand dan Samiei (2012) komunikasi WOM online yang diposting dalam media yang jelas dan interaktif seperti internet mungkin memiliki efek yang kuat pada purchase intention.
Melalui media sosial Instagram dan Youtube, perusahaan dapat melakukan electronic word of mouth. Sehingga, konsumen dapat mendapatkan informasi mengenai keunggulan pelembab wajah pond’s dari banyaknya pendapat yang pernah memakai produk pelembab wajah pond’s.
Dari postingan di media sosial Instagram dan Youtube, konsumen akan mendapatkan rekomendasi serta informasi mengenai pelembab wajah pond’s dari individu lain. Informasi yang diberikan oleh individu lain merupakan informasi baik yang bersifat positif maupun negatif dengan memberikan informasi berbagai varian produk pelembab wajah pond’s yang cocok untuk berbagai jenis kulit, sehingga konsumen akan mendapatkan informasi yang memiliki isi hal-hal tersebut, maka konsumen akan mendapatkan gambaran mengenai produk pelembab wajah pond’s yang cocok pada kulit wajahnya. Informasi eWOM berasal dari sumber yang tidak dibayar dan review jujur dibagikan oleh pembeli sebelumnya. Penerima eWOM yang menerima informasi pembeli sebelumnya akan memiliki niat membeli setelah melihat berbagai review (Sulthana dan Vanastha, 2019).
Dengan rekomendasi dari konsumen yang memiliki pengalaman menggunakan pelembab wajah pond’s. Komunikasi electronic word of mouth online konsumen dapat mendapatkan rekomendasi serta ulasan konsumen yang persuasif sehingga memiliki pengaruh yang positif yang kuat terhadap niat untuk membeli (Alrwashdeh et al., 2019).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu Riyanti (2017), Suhatono (2018), dan Melinda dkk., (2018) yang menyatakan bahwa electronic word of mouth berpengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention.
G. Penutup
Berdasarkan hasil pembahasan penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa: 1) Brand imageberpengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention pada konsumen pelembab wajah pond’s, 2) Electronic word of mouthberpengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention pada konsumen pelembab wajahpond’s
Penelitian ini memiliki implikasi teoritis sesuai dengan teori Tariq et al., (2013) yang menyatakan bahwa citra merek yang baik dapat menciptakan hubungan jangka panjang antara produk dan konsumen yang dapat membuat niat beli. Semakin tinggi citra merek maka semakin tinggi niat beli. Selain itu, Menurut Jalilvand dan Samiei (2012) komunikasi WOM online yang diposting dalam media yang jelas dan interaktif seperti internet mungkin memiliki efek yang kuat pada purchase intention.
Penelitian ini telah membuktikan adanya pengaruh brand image dan electronic word of mouth terhadap purchase intention pelembab wajah pond’s.
Berdasarkan hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Riyanti (2017), Suhatono (2018), Putri (2019) dan Melinda dkk., (2018) yang menyatakan bahwa brand image dan electronic word of mouth berpengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan khususnya dalam bidang manajemen pemasaran serta dapat dijadikan sebagai referensi untuk penelitian sejenis.
Penelitian ini juga memiliki implikasi praktis bagi perusahaan sebagai berikut:
dari sisi brand image, produsen pelembab wajah dapat mempertahankan brand image pada diri konsumen. Perusahaan yang memproduksi pelembab wajah pond’s harus terus melakukan inovasi untuk tetap mempertahankan keunikan pada banyaknya varian produk untuk berbagai jenis kulit yang diformulasikan dengan the pond’s institute innovative technologies. Merek pelembab wajah pond’s merupakan merek yang terkenal dan lebih unggul dari pelembab wajah lainnya, karena memiliki
kualitas yang baik sebagai kekuatannya. Pelembab wajah pond’s yang sudah dikenal oleh masyarakat sangat mudah ditemukan dengan bertambahnya pengalaman konsumsi, sehingga menimbulkan citra didalam konsumen. Dengan demikian dapat meningkatkan niat beli pada diri konsumen pelembab wajah pond’s. Sedangakan dari sisi electronic word of mouth,perusahaan harus lebih gecar melakukan informasi mengenai pelembab wajah pond’s dengan electronic word of mouth melalui media sosial Instragram maupun Youtube. Sehingga, banyaknya orang yang memberikan tanggapan serta merekomendasikan dari konsumen yang pernah memakai pelembab wajah pond’s. Adapun tanggapan dari konsumen yang memberikan informasi yang kurang baik mengenai pelembab wajah pond’s, sehingga perusahaan harus memberikan informasi yang lebih detail mengenai berbagai variasi produk pelembab wajah pond’s untuk berbagai jenis kulit. Dengan demikian, perusahan perlu sering merekomendasikan pelembab wajah pond’s, sehingga banyak orang yeng membicarakan pelembab wajah pond’s melalui media sosial Instagram maupun Youtube, maka akan semakin banyak calon konsumen yang berniat membeli produk tersebut.
Daftar Pustaka
Ajzen, I., & Fishbein, M. 1975. Belief attitude, intention, and behavior: An Introduction to theory and research. Reading, MA: Addison, Wesley.
... . 2012. Martin Fishbein's Legacy: The Reasoned Action Approach. The ANNALS of the American Academy of Political and Social Science. 640: 11
Alrwashdeh, M., Emeagwali, O. L., Aljuhmani, H. Y. 2019. The Effect Of Electronic Word Of Mouth Communication On Purchase Intention And Brand Image: An Applicant Smarphone Brands in North Cypus. Management Science Letters. 9.
505-518
Belch, G.E, dan Belch, M.A. 2003. Advertising and Promotion. Sixth Edition. The McGraw-Hill Companies.
Elseidi, R.I. dan El-Baz, D. 2016. Electronic Word of Mouth Effects on Customers’ Brand Attitudes, Brand Image and Purcase Intentio : An Empirical Study In Egypt. The Business and Management Review. 7. (5). 268-276
Hartono, Jogiyanto. 2004. Metode Penelitian Bisnis. Yogyakarta: BPFE UGM.
Hennig Thorsten –Thurau. Gwinner, K.P., Walsh, G. dan Gremler, D.D. 2004. Electronic Word of Mouth via Consumer – Opinion Platforms: What Motivates Consumer to Articulate Themselves On the Internet”. Jurnal of InteractiveMarketing. 18.
(1). 38-52.
Jalilvand, M.R., dan Samiei, N. 2012. The Effect of Electronic Word of Mouth on Brand Image and Purchase Intention. Marketing Intelligence & Planning. 30, Iss: 4
Kotler, P., and Keller, K.L. 2016. Marketing Management 15e global edition. Harlow:
Pearson Education.
Schiffman, L.G. dan Kanuk, L.L. 2007. Consumer Behavior. Fifth Ediotion. New Jersey:
Prentice Hall.
Schiffman, L.G. dan Kanuk, L.L. 2012. Consumer Behavior. Second Ediotion. New Jersey:
Prentice Hall
Shimp, T.A. 2014. Komunikasi Pemasaran Terpadu: dalam Periklanan dan Promosi. Edisi Delapan. Jakarta:Salemba Empat.
Sulthana, A.N. dan Vasantha S. 2019. Influence Of Electronic Word Of Mouth On Purchase Intention. International Journal Of Scientific & Technology Research.
8, (10). 2277-8616
Sumarwan, Ujang dan Tjiptono, F (editor). 2018. Strategi Peasaran dalam Perspektif Perilaku Konsumen. Bogor: IPB Press
Suryani, Tatik. 2013. Perilaku Konsumen di Era Internet (Implikasinya pada Strategi Pemasaran). Yogyakarta: Graha Ilmu.
Tariq, M.I., Nawaz, M.R., Nawaz, M.M., Butt, H.A. 2013. Customer Perceptions about Branding and Purchase Intention: A Study of FMCG in an Emerging Market.
Journal of Basic and Applied Scientific Research. 3. (2). 340-347.
Sumber Online :
www.topbrand-award.com.[diakses tanggal 23 Maret 2020]
https://www.antaranews.com/berita/kemenperin-percantik-kinerja-industri-kosmetik.
[diakses tanggal 3 April 2021]
https://bp-guide.id/AXbg5CU3. [diakses tanggal 3 April 2021]