• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

14

Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum

Available online http://ojs.uma.ac.id/index.php/gakkum

Penerapan Pasal 112 Ayat (1) dan Pasal 127 Ayat (1) Huruf A Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Dalam Kaitannya

Dengan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2015 Application of Article 112 Paragraph (1) and Article 127 Paragraph (1) Letter A Law Number 35 of 2009 concerning Narcotics in Relation to the

Circular Letter of the Supreme Court Number 3 of 2015

Dina Eriza Valentine Purba1)* , Alvi Syahrin2), Edi Yunara3), & M. Eka Putra4) Program Studi Magister Ilmu Hukum, Universitas Sumatera Utara

Diterima: Januari 2022; Disetujui: Juni 2022; Dipublish: Juni 2022

*Coresponding Email: [email protected] Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pedoman yang dipergunakan oleh Majelis Hakim dalam penanganan tindak pidana narkotika. Berdasarkan SEMA No. 3 Tahun 2015 bahwa Penerapan SEMA dapat menyimpangi ketentuan undang-undang Narkotika. Putusan Pengadilan Negeri Stabat No.

472/Pid.Sus/2019/PN.Stb dan Putusan Pengadilan Negeri Lubukpakam No. 275/Pid.Sus/2015/PN- Lbp/LD dinilai salah menerapkan hukum karena mencoba menerapkan SEMA No. 3 Tahun 2015.

Metode penelitian dalam penulisan ini adalah metode penelitian normatif yang bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan sumber bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier kemudia dianalisis secara kualiatif dengan menggunakan logika berfikir dalam menarik kesimpulan yang dilakukan secara deduktif. Hasil penelitian menunjukkan penerapan Pasal 112 ayat (1) dan Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Dikaitkan Dengan SEMA No. 3 Tahun 2015 didalam putusan pengadilan negeri Stabat No.

472/Pid.Sus/2019/PN.Stb yang mengeyampingkan denda dan Putusan pengadilan negeri Lubukpakam No. 275/Pid.Sus/2015/PN-Lbp/LD yang mengenyampingkan pidana minimum khusus dimana jika dilihat secara sekasama kembali pada hakim mau atau tidak mengambil langkah untuk menerapkan disparitas terutama mengaitkannya dengan SEMA No. 3 Tahun 2015 Tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2015 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan pada bagian rumusan hukum kamar pidana bagian narkotika.

Kata Kunci: Narkotika; SEMA; Putusan Pengadilan.

Abstract

This study aims to find out the essence of the importance of recording marriages in Muslim communities in Kampung Nangka Village, North Binjai. As mandated by Article 1 of Law no. 1 of 1974 concerning Marriage that marriage is an inner and outer bond of a man and a woman as husband and wife with the aim of forming a happy and eternal family based on God Almighty. One of the most important things to do is register the marriage. The fact is that in the community, especially in remote areas, marriage registration in official state documents is rarely done. This research is a normative legal research with analytical descriptive nature by using a literature approach and a field approach. Analysis of the data obtained in this study was carried out qualitatively. The results of the study indicate that the problem of the lack of marriage registration is caused by several factors, such as the lack of knowledge of some people to the laws and regulations regarding marriage, both from the Islamic legal aspect and the positive legal aspect, the existence of some people who still carry out unregistered marriages for various reasons. This can prevent problems that can harm one party if the marriage is not recorded. Many people do not understand the importance of registering marriages that have been carried out and the consequences because marriages are not registered.

Keywords: Narcotics; SEMA; Decision Court.

How to Cite: Purba, D.E.V., Syahrin, A., Yunara, E. & Putra, M.E (2022). Penerapan Pasal 112 Ayat (1) dan Pasal 127 Ayat (1) Huruf A Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Dalam Kaitannya Dengan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2015, Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum, 9 (1) 2022 : 14-22

(2)

15 PENDAHULUAN

Tindak pidana narkotika di Indonesia sampai hari ini terus menjadi persoalan dan sulit untuk menentukan cara yang paling tepat untuk memberantas tindak pidana tersebut. Padahal masing-masing dari pengampu kepentingan bangsa ini (stakesholder) mengetahui bahaya dari penyimpangan penggunaan narkotika (Nugroho & SH, 2017). Hal yang paling mendesak sehingga tindak pidana narkotika harus diberantas secara maksimal ialah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika yang dapat mengakibatkan bahaya yang lebih besar bagi kehidupan dan nilai-nilai budaya bangsa yang pada akhirnya akan dapat melemahkan ketahanan nasional (SURIS NOVILA SARI, 2019).

Tindak pidana narkotika yang diatur dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika ialah tindak pidana penyalahgunaan narkotika golongan I sampai golongan III dan tindak pidana pemakai sampai tindak pidana pengedar sekaligus pemakai termasuk kurir narkotika dan lain sebagainya dimana hal tersebut diatur mulai dari Pasal 111 sampai 148 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Pasal-pasal tindak pidana didalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika sering sekali disebut sebagai pasal yang mengandung makna ganda. Misalnya Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Memuat frasa

“memiliki, menyimpan dan menguasai”

dimana frasa pasal tersebut juga dapat diterapkan atau dikenakan kepada pelaku penyalahguna narkotika yang diatur didalam Pasal 127 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Hal itu disebabkan karena dalam perbuatan penyalahgunaan narkotika tentu pelaku tindak pidana melekat padanya perbuatan

“memiliki, menyimpan dan menguasai”.

Putusan Pengadilan Negeri Stabat No.

472/Pid.Sus/2019/PN.Stb dimana didalam putusan tersebut memuat perkara narkotika dengan terpidana bernama Ramli Saragih, Johan Edy Ridhananta Saragih alias Saragih dan Abdul Rahman.

Para terpidana dituntut oleh jaksa penuntut umum sebagai pelaku permufakatan jahat untuk tindak pidana narkotika (yang mana permufakatan ini terjadi karena dianggap menyalahi Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika), yakni Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Bunyi SEMA menegaskan didalam penerapannya terlebih dahulu jaksa penuntut umum pada dakwaannya tidak memuat sama sekali Pasal 127 Undang- Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika sedangkan dakwaan jaksa penuntut umum memuat hal tersebut sebagaimana tercantum pada dakwan ketiga. Dengan demikian hakim telah menjatuhkan putusan secara disparitas tanpa memuat atau menjatuhkan pidana denda kepada para terpidana. Kondisi di atas tentunya menimbulkan polemik yang cukup besar dimana surat edaran

Mahkamah Agung dapat

mengeyampingkan atau membuat isi undang-undang menjadi dikesampingkan.

Hal tersebut menggambarkan terjadinya penyimpangan hukum dimana undang- undang yang memiliki posisi lebih tinggi mampu dikesampingkan oleh surat edaran yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan Putusan pengadilan negeri Lubukpakam No. 275/Pid.Sus/2015/PN- Lbp/LD dimana didalam putusan tersebut majelis hakim menerapkan Undang- Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika sesuai dengan pertimbangan dengan undang-undang tersebut tanpa mengenyampingkan ketentuan minimum khusus. Hal tersebut berbanding terbalik dengan Putusan Pengadilan Negeri Stabat

(3)

Nomor 3 Tahun 2015

16 No. 472/Pid.Sus/2019/PN-Stb yang menjatuhkan putusan mengenyampingkan ketentuan minimun khusus dimana hal tersebut merujuk dapat dikatakan merujuk pada kepada SEMA No. 3 Tahun 2015 berupa penghapusan pidana denda..

Berujung pada tindakan terdakwa melakukan upaya hukum lanjutan.

Artinnya, terdapat kecenderungan terdakwa mengalami kerugian akan hak yang dimilikinya. Perlu dipahami dalam menjatuhkan putusan pidana hakim begitu dominan. Hal ini senada dengan pernyataan Satjipto Rahardjo, yakni:

”Hakim tidak boleh hanya berlindung di belakang undang-undang, ia harus tampil dalam totalitas termasuk dengan nurani”.

(Suwono,1982).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian hukum adalah penelitian hukum normatif yang mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan- putusan pengadilan serta norma-norma hukum yang ada dalam masyarakat (Zainuddin Ali, 2009). Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yang artinya yang mengungkapkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan teori-teori hukum yang menjadi objek penelitian. Sumber bahan hukum dalam penelitian ini terdiri dari bahan hukum primer yaitu berupa meliputi seluruh peraturan perundang-undangan yang mengikat dengan permasalahan dan tujuan penelitian, bahan hukum sekunder berupa bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti buku mengenai hukum, jurnal, pendapat para ahli, majalah mengenai hukum, artikel mengenai hukum, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian ini dan bahan hukum tersier berupa bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap data hukum primer

dan sekunder seperti kamus, ensiklopedia, dan website maupun sumber hukum lainnya yang sejenis ataupun berhubungan dengan penelitian ini. Analisis data dari penelitian ini proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam kategori- kategori dan satuan uraian dasar, sehingga ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja, seperti yang disaran oleh data. Analisis data yang akan dilakukan secara kualitatif. Kegiatan ini diharapkan akan dapat memudahkan dalam menganalisis permasalahan yang akan dibahas, menafsirkan dan kemudian menarik kesimpulan. Peraturan perundang-undangan dianalisis secara kualiatif dengan menggunakan logika berfikir dalam menarik kesimpulan yang dilakukan secara deduktif, pada akhirnya dapat menjawab permasalahan penelitian ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kedudukan Hukum Undang-Undang No.35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Terhadap SEMA No. 3 Tahun 2015

Narkotika menjadi wujud yang menakutkan di seluruh dunia secara khusus Indonesia. Narkotika yang seharusnya dapat digunakan untuk obat- obatan medis tetapi kecenderungan sekarang digunakan secara ilegal atau terjadi penyalanggunaan (Barhamudin, 2018). Bentuk penyalahgunaan yang sering terjadi ialah pengguna, pengedar, produsen, dan kurir narkotika. Mencegah dan memberantas penyalahgunaan Narkotika maupun peredaran gelap Narkotika, Pemerintah dengan persetujuan DPR pada tanggal 12 Oktober 2009 telah mengesahkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika (Iswahyuni, 2018).

Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika memuat persoalan rehabilitasi terhadap pengguna atau penyalahguna narkotika akan tetapi pengaturan itu tidak bersifat mutlak

(4)

17 karena para pengguna atau penyalahguna narkotika tetap dapat dikenakan sanksi pidana karena didalam aturan tersebut tidak semua pengguna dipandang sebagai korban akan tetapi dapat dipandang sengaja menggunakan narkotika. Sanksi pidana yang dikenakan kepada pengguna narkotika diatur dalam Pasal 127 Undang- Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, berbunyi :

1) Setiap Penyalah Guna:

a. Narkotika Golongan I bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun;

b. Narkotika Golongan II bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun;

dan

c. Narkotika Golongan III bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun.

2) Dalam memutus perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), hakim wajib memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54, Pasal 55, dan Pasal 103.

3) Dalam hal Penyalah Guna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dibuktikan atau terbukti sebagai korban penyalahgunaan Narkotika, Penyalah Guna tersebut wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

SEMA Nomor. 3 tahun 2015 adalah salah satu produk Mahkamah Agung sebagai salah satu penyelenggara kekuasaan kehakiman di Indonesia. Hal ini merupakan kewenangan yang diberikan undang- undang kepada Mahkamah Agung untuk menerbitkan suatu “peraturan” yang berfungsi sebagai pengisi kekosongan ataupun pelengkap kekurangan aturan terhadap hukum acara, demi memperlancar penyelenggaraan peradilan.

Surat Edaran MA atau SEMA adalah bentuk edaran pimpinan MA ke seluruh jajaran

peradilan yang berisi bimbingan dalam penyelenggaraan peradilan, yang lebih bersifat administrasi.

Terbitnya SEMA Nomor 3 tahun 2015 bisa dikatakan menyimpangi aturan pidana minimal dalam Undang- undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika sehingga hal ini juga menyimpangi Asas hukum yang berlalu di Indonesia yaitu Asas Lex Superior derogat Legi Inferiori, dimana aturan hukum yang lebih tinggi menyimpangi aturan hukum yang lebih rendah. Disisi lain, hal ini juga menimbulkan kesimpangsiuran bagi para Penegak Hukum antara lain Jaksa Penuntut Umum, Penasihat Hukum maupun Hakim itu sendiri. Aturan manakah yang harus ditaati untuk pedoman penyelesaian perkara Narkotika karena sesuai dengan namanya yaitu Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2015 Tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2015 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan hanya berlaku secara intern pada satu kalangan penegak hukum saja (Hakim) sedangkan bagi Jaksa Penuntut Umum tetap berpedoman pada Undang- undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika sehingga tidak ada kesatuan sikap dalam penyelesaian Tindak Pidana Narkotika(Iswahyuni, 2018).

Ketentuan Pidana Pasal 112 Ayat (1) Dan Pasal 127 Ayat (1) Huruf A Undang- Undang No. 35 Tahun 2009

Setiap tindak pidana memiliki unsur- unsur baik yang diatur didalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang bersifat umum maupun pengaturan tindak pidana lain yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang bersifat khusus. Unsur-unsur tindak pidana terdiri atas unsur subjektif dan unsur objektif.

Unsur subjektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri pelaku dan

(5)

Nomor 3 Tahun 2015

18 termasuk ke dalamnya segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Unsur objektif adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu di dalam keadaan-keadaan mana tindakan dari si pelaku itu harus dilakukan (Lamintang, 1997).

Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika merupakan pasal yang memiliki unsur tindak pidana yang dikategorikan sebagai pemilik atau pengedar narkotika.

Klasifikasi pemilik atau pengedar narkotika termasuk kedalam kategori penyalahguna yang artinya, orang yang menggunakan narkotika tanpa hak atau melawan hukum. penyalahgunaan yang dimaksud merupakan penyalahgunaan terhadap narkotika golongan I, II dan III.

Unsur yang pertama dalam Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, yaitu “orang”

merupakan subjek tindak pidana.

Umumnya subjek tindak pidana menurut Andi Hamzah adalah ”barang siapa” atau

”setiap orang” (Hamzah,2012).

Selanjutnya, unsur kedua berupa

”tanpa hak atau melawan hukum”. Tanpa hak mengandung makna tanpa ada hak yang ada pada diri seseorang/tanpa kewenangan atau zonder eigen recht.

Melawan hukum yang dimaksud bagian dari hukum pidana bukan hukum perdata adalah perbuatan yang bertentangan dengan hukum objektif, hukum subjekif dan mempunyai hak sendiri (Lamintang, 1997). Dengan demikian, tanpa hak atau melawan hukum yang terdapat didalam Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dapat dikatakan kesengajaan yang merupakan kehendak yang diarahkan pada terwujudnya perbuatan seperti yang dirumuskan dalam undang-undang (Moeljatno,1983).

Penerapan Pasal 112 Ayat (1) Dan Pasal 127 Ayat (1) Huruf A Undang-Undang

No.35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Dikaitkan Dengan Sema No. 3 Tahun 2005

Putusan Pengadilan Negeri Stabat No.

472/Pid.Sus/2019/PN.Stb pada dasarnya mencoba menerapkan SEMA No. 3 Tahun 2015 Tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2015 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan pada bagian rumusan hukum kamar pidana bagian narkotika namun dikarenakan didalam dakwaan jaksa penuntut umu terdapat Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika maka majelis hakim dalam putusan tersebut menggali dan mencari kebenaran materill sesuai dakwaan. Putusan tersebut mengerucut pada pertimbangan hakim yang pada pokoknya, sebagai berikut:

“Bahwa barang yang berat brutonya 0,16 gram...maka para terdakwa harus diterapkan atas perbuatannya adalah berdasarkan Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika”.

Artinya, hakim menemukan dalam pemeriksaan alat bukti masing-masing terdakwa mengumpulkan uang untuk membeli narkotika yang mana bertujuan untuk konsumsi sendiri atau memakai sendiri sehingga tidaklah pantas jika diterapkan Pasal 112 jo Pasal 132 atau Pasal 114 jo Pasal 132 Undang-Undang No.

32 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Namun majelis hakim tidak tepat mengatakan dalam amar putusannya bahwa “Terdakwa 1) Ramli Saragih, Terdakwa 2) Johan Edy Ridhananta Saragih alias Saragih dan Terdakwa 3) Abdul Rahman telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “dengan permufakatan jahat tanpa hak memiliki Narkotika Golongan I bukan tanaman”.

Seharusnya Majelis Hakim membebaskan terdakwa dari Dakwaan

(6)

19 kesatu dimana jaksa penuntut umum mendakwa terdakwa dengan Pasal 114 ayat (1) jo Pasal 132 ayat (1) Undang- Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dan Dakwaan kesatu dimana jaksa penuntut umum mendakwa terdakwa dengan Pasal 112 ayat (1) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Majelis Hakim cukup menerima Dakwaan ketiga yaitu melanggar Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, sehingga Majelis Hakim tidak keliru menerapkan hukum yang dituangkan dalam putusannya tersebut.

Putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam No. 275/Pid.Sus/2015/PN-Lbp/LD sama sekali tidak menerapkan SEMA No. 3 Tahun 2015 Tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2015 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan pada bagian rumusan hukum kamar pidana bagian narkotika padahal dalam proses pembuktian dan fakta-fakta persidangan narkotika yang dibeli terpidana dengan berat netto 0,01 ditujukan untuk konsumsi pribadi atau pemakaian sendiri. Hal tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

1) Keterangan saksi dan keterangan terdakwa yang pada pokoknya menerangkan dimana terdakwa mengumpulkan uang dan diperoleh uang sebanyak Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) untuk membeli narkotika jenis shabu-shabu.

2) Hasil pemeriksaan lab (keterangan ahli) menunjukkan berat shabu- shabu dengan berat netto 0,01.

Namun, kenyataannya dalam fakta- fakta persidangan majelis hakim menyatakan terbukti melakukan perbuatan sebagaimana tertuang dalam dakwaan alternatif ke dua sebagaimana diatur dalam Pasal 112 ayat (1) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun

2009 Tentang Narkotika. Dengan jaksa dan hakim yang tidak menggali kebenaran materil secara maksimal tentunya membuat terdakwa yang dewas ini menjadi terpidana menerima hukuman yang tidak berkeadilan.

Majelis hakim yang mempunyai integritas moral yang tinggi dalam mempertahankan kemandiriannya, akan dapat berfungsi sebagai penegak hukum yang baik dalam menjalankan tugas dan wewenang yudisialnya (Heryani,2012).

Sehingga selama penyelenggaraan proses peradilan, mulai dari pemeriksaan peristiwanya, pembuktian sampai pada putusan yang dijatuhkan, majelis hakim selalu berpedoman pada prinsip-prinsip yang dan dapat dipertanggunjawabkan.

Putusan hakim pun akan mempunyai tingkat kualitas yang memadai. Para pihak yang berperkara selaku pencari keadilan juga cenderung akan menerima putusan yang telah dijatuhkan, bahkan dengan sukarela akan melaksanakan putusan tersebut, karena dianggap sudah sesuai dengan perasaan keadilan masyarakat (Sutiyoso & Puspitasari 2005).

Majelis hakim Putusan Pengadilan

Negeri Stabat No.

472/Pid.Sus/2019/PN.Stb menjatuhkan putusan sesuai dengan Pasal 112 ayat (1) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang No.

35 Tahun 2009 Tentang Narkotika namun menghukum para terdakwa masing- masing 2 (dua) tahun dan 6 (enam) bulan dan tidak mengenakan denda sama sekali sebagaimana amanah peraturan perundang-undangan. Dalam pertimbangannya majelis hakim menjatuhkan putusan tersebut atas dasar pertimbangan, sebagai berikut:

“Bahwa barang bukti yang berat brutonya 0,16 gram yang dimaksudkan para Terdakwa untuk dipergunakan untuk diri sendiri sehingga pemidaan yang adil yang harus diterapkan atas perbuatannya adalah berdasarkan Pasal 127 ayat (1)

(7)

Nomor 3 Tahun 2015

20 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009”.

Pertimbangan di atas yang menjadikan hakim mengenakan putusan kepada para terdakwa 2 (dua) tahun dan 6 (enam) bulan namun tetap mengatakan dalam pertimbangan sebelumnya para terdakwa telah terbukti melakukan permufakatan jahat memiliki narkotika sehinggga terbukti melakukan perbuatan sebagaiman Pasal 112 ayat (1) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Pada dasarnya majelis hakim mencoba menerapkan SEMA No. 3 Tahun 2015 Tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2015 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan pada bagian rumusan hukum kamar pidana bagian narkotika namun dikarenakan pada dakwaan Penuntut Umum terdapat dakwaan berupa dakwaan ketiga melanggar Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika jo Pasal 55 KUHP ayat (1) ke-1 KUHP maka SEMA tersebut tidak dapat diterapkan. Selanjutnya, pidana denda yang tidak dikenakan kepada para terdakwa merujuk pada pertimbangan hakim di atas maka hakim hendak memberi “pemidanaan yang adil”. Padahal jika merujuk pada Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika maka pidana penjara dan pidana denda merupakan bentuk hukuman yang disandingkan dan sifatnya kumulatif dalam penjatuhannya bukan relatif. Hal tersebut terbukti dengan adanya kata “dan” sebagai ciri dari sifat kumulatif. Hal tersebut dilakukan hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri Stabat No.

472/Pid.Sus/2019/PN.Stb tentunya alasan sama yang mendasari hakim di pengadilan negeri lainnya, yakni kewenangan hakim untuk menjatuhkan besarnya pidana denda sesuai nurani keadilannya dan hakim berperan untuk menyesuaikan

pidana denda dengan penghasilan terpidana (Hushendar, 2021).

Putusan hakim yang mengandung tujuan pemidanaan gabungan jelas didalamnya terkandung beberapa hal, sebagai berikut: (Amir Ilyas,2012)

1. Refomation, menerapkan disparitas seperti dalam Putusan Pengadilan

Negeri Stabat No.

472/Pid.Sus/2019/PN.Stb maka hakim menjalankan fungsinya dengan baik, yakni menegakkan nilai- nilai hukum dan keadilan didalam masyarakat.

2. Restraint, Putusan Pengadilan Negeri Stabat No. 472/Pid.Sus/2019/PN.Stb yang menjatuhkan hukuman cukup ringan terhadap terpidana jelas menunjukkan pengasingan terhadap pemakai narkotika secara layak sehingga masyarakat cenderung berfikiran bahwa hukum di Indonesia masih memiliki keadilan yang nyata. Kenyataannya konsep pembalasan dalam teori gabungan bukanlah penyiksaan tetapi menyingkirkan penjahat dari kehidupan masyarakat sesuai dengan perbuatannya jika berat perbuatannya maka hukuman yang diterimanya harus berat dan jika ringan maka hukumannya harus ringan pula.

3. Retribution, pembalasan terhadap pelanggar karena telah melakukan kejahatan. Konsep pembalasan yang dikehendaki ialah sama dengan teori gabungan. Tidak hanya melakukan pembalasan tetapi juga membuat baik kembali terpidana atau pelaku tindak pidana. Putusan Pengadilan

Negeri Stabat No.

472/Pid.Sus/2019/PN.Stb telah mampu menunjukkan hal tersebut.

4. Deterrence, Putusan Pengadilan

Negeri Stabat No.

472/Pid.Sus/2019/PN.Stb akan menjerakan terpidana, karena

(8)

21 dengan penghukuman yang sesuai pada tempatnya maka rasa keadilan juga akan tertanam jelas didalam hati terdakwa serta kemungkinan untuk mengulangi kejahatannya tidak akan terjadi lagi.

SIMPULAN

Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dikemukakan dalam pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa secara hierarki peraturan perundang-undangan, Undang-Undang No.

35 Tahun 2009 Tentang Narkotika memiliki kedudukan hukum yang lebih tinggi dibandingkan SEMA No. 3 Tahun 2015, oleh karena itu tidak boleh aturan yang lebih rendah mengenyampingkan aturan yang lebih tinggi (asas lex superior derogat legi inferior) sedangkan dilihat dari aspek keadilan menurut SEMA No. 3 Tahun 2015 boleh menerapkan aturan yang lebih rendah dibandingkan aturan yang lebih tinggi sebagai upaya untuk pencegahan terjadi penyimpangan ditengah-tengah penegakan hukum oleh penegak hukum.

Ketentuan pidana Pasal 112 ayat (1) dan Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang- Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Dikaitkan Dengan SEMA No. 3 Tahun 2015 dapat meniadakan ancaman pidana minimum khusus yang terdapat pada Pasal 112 Undang-undang Narkotika dengan menitikberatkan pada berat barang bukti yang dibawah 1 (satu) gram serta tidak tercantum Pasal 127 Undang- undang Narkotika didalam dakwaan maka hakim dapat menerapkan SEMA Tersebut.

Penerapan Pasal 112 ayat (1) dan Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-Undang No.

35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Dikaitkan Dengan SEMA No. 3 Tahun 2015 didalam putusan pengadilan negeri Stabat No. 472/Pid.Sus/2019/PN.Stb yang mengeyampingkan denda dan Putusan pengadilan negeri Lubukpakam No.

275/Pid.Sus/2015/PN-Lbp/LD yang

mengenyampingkan pidana minimum khusus dimana jika dilihat secara sekasama kembali pada hakim mau atau tidak mengambil langkah untuk menerapkan disparitas terutama mengaitkannya dengan SEMA No. 3 Tahun 2015 Tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2015 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan pada bagian rumusan hukum kamar pidana bagian narkotika.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zainuddin, 2009, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika

Hamzah, Andi, 1983, Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta: Rineka Cipta,

Ilyas, Amir, 2012, Asas-Asas Hukum Pidana:

Memahami Tindak Pidana Dan Pertanggungjawaban Pidana Sebagai Syarat Pemidanaan, Yogyakarta: Rangkang Education & PUKAP-Indonesia

Lamintang, P.A.F., 1997, Dasar-Dasar Hukum Pidana, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti Moeljatno, 1983, Perbuatan Pidana dan

Pertanggungjawaban Dalam Hukum Pidana, Jakarta : Bina Aksara

Soemitro, 1983, Ronny Hanitijo, Metodologi Penelitian Hukum Dan Jurumateri, Jakarta:

Ghalia Indonesia

Wiwie, Heryani, dan Ali Achmad, 2012, Sosiologi Hukum, Kajian Empiris Terhadap Pengadilan, Jakarta: Prenada Media Group Badan Nasional Narkotika, 2015, “40 Persen

Kecamatan Di Perbatasan Pintu Narkoba”, Sinar, Edisi I

Puspitasari Hastuti Sri, , 2005, Sutiyoso Bambang, Aspek-aspek Perkembangan Kekuasaan Keha-kiman Di Indonesia, dikutip dari Sahlan Said,S.H,Kemandirian Kekuasaan Kehakiman- Pengalaman Praktek Menuju Kemandirian Hakim Tolok Ukur dan Kendalanya, Seminar 50 Tahun Kemandirian Kekuasaan Kehakiman di Indonesia di Universitas Gadjah Mada Tanggal 26 Agustus 1995, UII Press, Yogyakarta

Mulyadi, Mahmud, 2006, Revitalisasi Alas Filosofis Tujuan Pemidanaan Dalam Penegakan Hukum Pidana Indonesia, Medan: Karya Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Silaen, 2019, Okto Samuel, Penerapan Straafmacht Minimal Khusus Pada Pasal 112 Undang- Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang

(9)

Nomor 3 Tahun 2015

22 Narkotika, Medan: Tesis S2 Ilmu Hukum USU,

Barhamudin, B. (2018). PIDANA MATI SARANA

PENCEGAHAN TINDAK PIDANA

PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA. Solusi, 16(2), 102–128.

Iswahyuni, A. (2018). Kedudukan Ancaman Pidana Minimal Dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Pasca Dikeluarkannya Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2015. Jurnal Panorama Hukum, 3(1), 19–32.

Nugroho, S. A., & SH, M. H. (2017). Penyelesaian Sengketa Arbitrase dan Penerapan Hukumnya. Kencana.

SURIS NOVILA SARI, S. N. S. (2019). KEBIJAKAN HUKUM PIDANA PENCEGAHAN DAN

PENANGGULANGAN PEMUTUSAN

REGENERASI PASAR NARKOTIKA KE DALAM MAKANAN DAN MINUMAN ANAK DAN REMAJA (STUDI KASUS DI KOTA JAMBI). Universitas Batanghari.

Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika

Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman

Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 2013 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika

SEMA No. 04 Tahun 2010 Tentang Penempatan Penyalahgunaan, Korban Penyalahgunaan, dan Pecandu Narkotika ke dalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosia SEMA No. 3 Tahun 2011 Tentang Penempatan

Korban Penyalahgunaan Narkotika Di Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial

SEMA No. 3 Tahun 2015 Tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung

Referensi

Dokumen terkait

1) Penambahan luas kawasan hutan kesambi di KPH Probolinggo Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Kawasan hutan kesambi di daerah KPH Probolinggo terdiri dari tegakan

 Mahasiswa mampu menjelaskan striktur bahan, bentuk geografi, teknologi fabrikasi, diagram pita energi, serta karakteristik devais compound semiconductor FET, MESFET, dan HFET

- Bahwa aneh jika Tergugat menyatakan banding terhadap Putusan a quo, hal ini bertentangan dengan Jawaban Tergugat/Pembanding dalam jawabannya dan dalam amar

gagasan alternatif bila gagasan yang telah dipilih tidak bisa dilaksanakan Kontribusi dan Kerja sama dalam Kelompok • Menyelesaikan tugas secara lengkap, dengan kualitas

Hal ini disebabkan karena belum terlaksananya pembangunan saluran Banjir Kanal Timur (BKT), sehingga masih banyak aliran dari luar yang masuk ke dalam sistem polder. Keadaan

Pada penelitian ini didapatkan responden yang bekerja memiliki pengetahuan yang baik terhadap imunisasi karena ibu yang bekerja memiliki rekan kerja yang banyak sehingga

Marker Augmented Reality 3D pada Aplikasi Pengenalan Organ Tubuh Manusia adalah untuk membuat model belajar menggunakan teknologi Augmented Reality guna menyampaikan

Pada unsur penggunaan bahasa pengantar Pendidikan Harmoni, terdapat 6 indikator penilaian yang mendapat predikat Baik Sekali (BS), yaitu (1) Bahasa pengantar guru