PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN KEMANDIRIAN
DALAM HOME INDUSTRY KRUPUK DI LINGKUNGAN
KARANGMLUWO MANGLI JEMBER Dewi Nurul Qomariyah
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember [email protected]
ABSTRAK
Peranan perempuan dalam ekonomi rumah tangga makin penting sejalan dengan menurunnya peran sektor pertanian dalam perekonomian desa dan pinggiran kota. Fenomena di desa dan pinggiran kota menunjukkan bahwa para suami kurang mampu untuk memenuhi biaya hidup dalam rumah tangga karena lahan cenderung sempit dan kurang tersedianya lapangan pekerjaan. Dengan demi- kian, kegiatan usaha di bidang lain selain pertanian sebagai harapan bagi perem- puan untuk menopang kehidupan rumah tangganya. Dengan fenomena ter- sebut, pemberdayaan perempuan sangat penting terutama terhadap eksistensi perempuan untuk lebih mandiri sehingga dapat mengentaskan perempuan dari ketergantungan. Di bidang ekonomi, pemberdayaan perempuan lebih banyak ditekankan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola usaha, serta eksistensi kemandirian dan rasa percaya diri yang perlu ditanamkan, khususnya dalam hal ini adalah home industri. Kemandirian tidak hanya menitikberatkan pada poin penilaian standar yakni kemandirian secara ekonomi atau finansial.
The Calgary John Howard Society Literacy Program membagi kemandirian menjadi beberapa bentuk, yakni kemandirian secara finansial, kemandirian secara emosional, kemandirian secara fisik dan kemandirian secara intelektual.
Fokus masalah dari penelitian ini adalah, 1) Bagaimana eksistensi perempuan dalam membangun kemandirian finansial di masyarakat melalui home industry krupuk di Karangmluwo Mangli Jember. 2) Bagaimana eksistensi perempuan da- lam membangun kemandirian sosial di masyarakat melalui home industry kru- puk di Karangmluwo Mangli Jember. Tujuan dari penelitian ini adalah, 1) Men- deskripsikan eksistensi perempuan dalam membangun kemandirian finansial di masyarakat melalui home industry krupuk di Karangmluwo Mangli Jember 2) Mendeskripsikan eksistensi perempuan dalam membangun kemandirian sosial di masyarakat melalui home industry krupuk di Karangmluwo Mangli Jember.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis karena pelaksanaan penelitian terdapat pada latar alamiah atau pada konteks. Data utama dalam penelitian kualitatif yaitu data primer dan sekunder yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi.
Kata Kunci: Pemberdayaan perempuan, Kemandirian finansial, Kemandirian ekonomi, Home industry
PENDAHULUAN
Sesuai amanat UUD 1945, tujuan negara adalah memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanankan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Tujuan bernegara ini diwujudkan juga dalam Pancasila yaitu sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tujuan bernegara tersebut telah diimplementasi- kan oleh pemerintah dengan meluncurkan berbagai program pembangunan di bidang sosial ekonomi terutama di pedesaan dengan harapan sasaran pembangu- nan bisa merata ke seluruh pelosok desa dengan sasaran masyarakat dan keluarga yang kurang sejahtera secara sosial ekonomi.
Industri kecil/home industry pada saat ini sangat berkembang. Kemuncu- lan industri kecil adalah salah satu indikator penting bagi perkembangan pereko- nomian terutama di pedesaan. Sektor industri merupakan komponen utama da- lam pembangunan ekonomi nasional. Industri merupakan kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi menjadi barang yang bermutu tinggi dalam penggunaanya. Oleh karena itu, industri merupakan bagian proses dari produksi. Bahan-bahan industri bisa di- ambil langsung maupun secara tidak langsung, kemudian bahan tersebut bisa diolah, sehingga bisa menghasilkan barang yang bernilai lebih bagi penggunanya.
Industri kecil atau industri rumahan, bisa bertahan di tengah krisis ekonomi yang pernah melanda negara kita beberapa tahun yang lalu. Industri kecil memi- liki ketahanan dari terpaan krisis dikarenakan beberapa faktor yaitu, 1) Indutri kecil menghasilkan barang dan jasa yang dekat dengan kebutuhan masyarakat langsung. 2) Industri kecil memanfaatkan sumber daya lokal, baik sumber daya manusia, modal, bahan baku, hingga peralatan, artinya tidak mengandalkan ba- han impor. 3) Dana yang didapat tidak berasal dari bank, melainkan biaya sendi- ri.
Di Kabupaten Jember ada banyak program yang telah digagas dan dilaksa- nankan, diantaranya adalah, LKMM (Lembaga Keuangan Masyarakat Mikro) atau lebih dikenal Bank Gakin (Keluarga Miskin). Program Bank Gakin Kabupa- ten Jember menjadi pemenang otonomi award kategori Kesinambungan Inovasi Ekonomi 2014 yang dihelat The Jawa Pos Institute of Pro Otonomi (JPIP). Bank Gakin jadi gerakan massif justru karena mengorangkan orang miskin yang dien- tas. Dengan beriringnya waktu, lahirlah kegiatan Pemberdayaan Usaha Mikro Rumah Tangga Miskin (PUM-RTM), yang berfungsi memperkuat modal usaha dan meningkatkan ketrampilan warga dampingan. Dari tahapan-tahapan terse-
but, muaranya adalah dibentuknya institusi ekonomi bernama LKMM dan insti- tusi sosial bernama POKMAS (Kelompok Masyarakat). LKMM membidik ma- syarakat menengah ke bawah, dengan menggunakan prinsip tanggung renteng para anggota. Kelompok 5-10 orang dapat mengajukan kredit usaha tanpa agu- nan antara 50 ribu hingga satu juta.1
Kemandirian perempuan bisa dilihat dari banyak aspek, yaitu ekonomi, so- sial, psikologis, dll. Kemandirian secara ekonomi akan memberi dampak pada kemandirian yang lain. Sejarah mencatat bahwa di Indonesia perempuan memi- liki kesempatan untuk sejajar dengan laki-laki hampir di semua bidang dibanding negara lain. Gerakan emansipasi yang berlanjut dengan usaha untuk lebih mandi- ri.
Fenomena sosial dalam keluarga masyarakat desa, perempuan Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka sudah memiliki tradisi bekerja. Mereka bekerja di luar rumah baik sebagai buruh atau pun bekerja di sektor lain. Dalam perkem- bangannya kini terdapat kecenderungan perubahan peran perempuan sebagai pencari nafkah, semakin berkurangnya prosentase perempuan yang bekerja di sektor tertentu (sekunder dan tersier). 2
Sedangkan yang meningkat adalah perempuan yang bekerja di sektor pri- mer (pertanian, perkebunan, perikanan). Fenomena yang terjadi sekarang adalah tergusurnya perempuan akibat perubahan teknologi pangan. Sebagai contoh, dahulu padi ditumbuk membutuhkan banyak tenaga perempuan, kini tenaga mereka digantikan mesin penggilingan padi. Sempitnya lahan pertanian yang kian hari digantikan dengan gedung-gedung pertokoan, mall dan bangunan lain- nya, sehingga mempersempit peran perempuan dalam mencari nafkah. Sejalan dengan adanya perubahan tersebut, banyak perempuan yang memilih untuk bekerja di sektor lainnya, contohnya, mereka beralih bekerja di sektor home in- dustry atau industri kecil rumahan.
Peranan perempuan dalam ekonomi rumah tangga makin penting sejalan dengan menurunnya peran sektor pertanian dalam perekonomian desa dan ping- giran kota. Kasus di desa menunjukkan bahwa para suami kurang mampu untuk memenuhi biaya hidup dalam rumah tangga secara memuaskan karena lahan cenderung sempit dan kurang tersedianya lapangan pekerjaan. Sementara itu,
1 Badan Perencanan Pembangunan Kabupaten Jember, Kabupaten Jember Dalam Angka, (Badan Pusat Statistik Jember, 2009), 257.
2 A. Fauzie Nurdin, Wanita Islam dan Transformasi Sosial Keagamaan, (Yogyakarta:
Gama Media, 2009), 112.
kebutuhan rumah tangga berupa biaya hidup sehari hari, biaya pendidikan anak dan beban biaya hidup yang lain harus terpenuhi demi keberlangsungan hidup dalam rumah tangga itu sendiri. Dengan demikian, kegiatan usaha di bidang lain selain pertanian sebagai harapan bagi perempuan untuk menopang kehidupan sehari-hari.
Dengan fenomena tersebut di atas, maka sangat penting untuk mengangkat judul penelitian yang terkait dengan pemberdayaan perempuan dan kemandi- rian, karena pentingnya peranan perempuan dalam keluarga, terutama eksistensi dalam masyarakat. Pemberdayaan perempuan di pedesaan atau di pinggiran kota dapat membuat mereka lebih mandiri secara sosial dan finansial. Pemberdayaan perempuan merupakan salah satu solusi untuk membangun kemandirian di ma- syarakat.
Home industry krupuk di lingkungan Karangmluwo Mangli Jember adalah wadah sebagian besar masyarakat untuk meningkatkan taraf ekonomi dan kese- jahteraan serta untuk membantu perekonomian keluarga dan memenuhi kebu- tuhan rumah tangganya serta mengurangi pengangguran. Home industry krupuk ini dikelola secara mandiri dan tidak mengandalkan bantuan dari pemerintah daerah setempat serta banyak memberdayakan pekerja perempuan di sekitarnya.
KAJIAN TEORI
Pemberdayaan Perempuan
Sejarah mencatat mengenai perempuan yang bekerja untuk mencari nafkah semenjak masa Rasulullah Saw. Dan semenjak masa setelah Rasulullah Saw.
wafat, tidak sedikit perempuan yang berkiprah dalam bidang ekonomi, terutama perdagangan. Bahkan, ada dari mereka yang terlibat dalam kegiatan peperangan sebagai penyedia keperluan perang, perawat, dll. Diantara para perempuan yang dikenal yaitu, Hindun istri Abu Sofyan, Hawlah binti Azwaar dan Umi Sulaiyt.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa seorang muslimah mampu melakukan perannya sebagai ibu rumah tangga, bermuamalah dan kegiatan lainnya, selama dalam melaksanakaan kegiatan tersebut muslimah mampu menjaga kehorma- tannya berdasarkan syariat Islam. Islam memperbolehkan wanita bekerja di luar rumah dengan syarat tidak mengakibatkan hal-hal yang merusak kehormatan diri dan keluarganya.
Perubahan peran dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh lingkungan ke- luarga, lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya lokal. Perempuan sebagai ibu rumah tangga, di mana rumah tangga sebagai pusat kegiatan produksi, reproduk-
si, konsumsi, untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.
Fenomena sosial dalam keluarga masyarakat desa, perempuan Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka sudah memiliki tradisi bekerja. Mereka bekerja di luar rumah baik sebagai buruh atau pun bekerja di sektor lain. Dalam perkem- bangannya, kini terdapat kecenderungan perubahan peran perempuan sebagai pencari nafkah, semakin berkurangnya prosentase perempuan yang bekerja di sektor tertentu (sekunder dan tersier). Sedangkan yang meningkat adalah pe- rempuan yang bekerja di sektor primer (pertanian, perkebunan, perikanan). Fe- nomena yang terjadi sekarang adalah tergusurnya perempuan akibat perubahan teknologi pangan. Sebagai contoh, dahulu padi ditumbuk membutuhkan banyak tenaga perempuan, kini tenaga mereka digantikan mesin penggilingan padi.
Sempitnya lahan pertanian yang kian hari digantikan dengan gedung-gedung pertokoan, mall dan bangunan lainnya, sehingga mempersempit peran perem- puan dalam mencari nafkah. Sejalan dengan adanya perubahan tersebut, banyak perempuan yang memilih untuk bekerja di sektor lainnya, contohnya, mereka beralih bekerja di sektor home industry atau industri kecil rumahan.
Perubahan pencaharian nafkah (mata pencaharian) itu dari pertanian, baik petani penggarap maupun sebagai buruh tani menjadi pekerjaan di luar perta- nian, seperti pengusaha, pedagang, pengrajin (menetap dan keliling), buruh pa- brik, dan perusahaan atau home industry serta karyawati atau pegawai. Menarik dikaji bahwa masyarakat desa terdapat ciri modernisasi yang ditandai terjadinya perubahan mendasar dalam berbagai sektor kehidupan manusia. Termasuk pe- rubahan sosial ekonomi, stratifikasi sosial, kelembagaan agama, adat istiadat ataupun pergeseran nilai-nilai budaya. Oleh sebab itu, faktor penyebab perem- puan mengubah pola pencaharian mereka di bidang pertanian keluar pertanian yang terjadi terutama di masyarakat pinggiran kota, pertanian yang terjadi teru- tama di masyarakat desa pinggiran kota, karena di samping kondisi alamnya yang kurang memungkinkan untuk bertani, terjadinya pergeseran alih lahan yang awalnya sawah kemudian beralih fungsi menjadi bangunan yang bernilai ekono- mis, adanya industrialisasi yang mempengaruhi mereka untuk bekerja untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi dari sektor yang lain.
Peranan perempuan dalam ekonomi rumah tangga makin penting sejalan dengan menurunnya peran sektor pertanian dalam perekonomian desa dan ping- giran kota. Kasus di desa menunjukkan bahwa para suami kurang mampu untuk memenuhi biaya hidup dalam rumah tangga secara memuaskan karena lahan cenderung sempit dan kurang tersedianya lapangan pekerjaan. Sementara itu
kebutuhan rumah tangga berupa, biaya hidup sehari-hari, biaya pendidikan anak dan beban biaya hidup yang lain harus terpenuhi demi keberlangsungan hidup dalam rumah tangga itu sendiri. Dengan demikian, kegiatan usaha di bidang lain selain pertanian sebagai harapan bagi perempuan untuk menopang kehidupan sehari hari.3
Perubahan-perubahan tersebut ada tiga tipe, yaitu perubahan sepenuhnya, perubahan secara temporer (musiman), dan berubah dari luar pertanian kembali.
Meskipun terdapat keragaman, tetapi tujuan mereka ternyata sama, yaitu untuk memperoleh rumah tangga, yang pada tahap berikutnya mengharapkan pening- katan peran dan status sosial mereka. Dalam perkembangan masyarakat desa, perubahan status pekerjaan berkaitan dengan semakin besarnya komoditisasi.
Dalam konteks pembangunan nasional pemberdayaan perempuan berarti berupaya menumbuhkembangkan potensi dan peran perempuan dalam semua dimensi kehidupan. Menurut Riant Nugroho tujuan dari program pemberdayaan perempuan adalah:
1. Meningkatkan kemampuan kaum perempuan untuk melibatkan diri dalam program pembangunan, sebagai partisipatif aktif (subjek) agar tidak sekedar menjadi objek dalam pembangunan seperti yang terjadi selama ini
2. Meningkatkan kemampuan kaum perempuan dalam kepemimpinan untuk meningkatkan posisi tawar menawar dan keterlibatan dalam setiap pembangunan baik sebagai perencana, pelaksana, maupun melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan
3. Meningkatkan kemampuan kaum perempuan dalam mengelola usaha skala rumah tangga, industri kecil maupun industri besar untuk menunjang peningkatan kebutuhan rumah tangga, maupun untuk membuka peluang kerja produktif dan mandiri
4. Meningkatkan fungsi dan peran organisasi perempuan di tingkat lokal seba- gai wadah pemberdayaan kaum perempuan agar dapat terlibat secara aktif dalam program pembangunan pada wilayah tempat tinggalnya.4
Kemandirian Perempuan
Dalam pandangan Lerner (1976), konsep kemandirian (autonomy) menca- kup kebebasan untuk bertindak, tidak tergantung kepada orang lain, tidak ter-
3 Ibid, 141.
4 Riant Nugroho, Gender dan Strategi Pengarusutamaannya di Indonesia, (Yogyakar- ta: Pustaka Pelajar, 2008), 160.
pengaruh lingkungan dan bebas mengatur kebutuhan sendiri. Konsep kemandi- rian ini hampir senada dengan yang diajukan Watson dan Lindgren (1973) yang menyatakan bahwa kemandirian adalah kebebasan untuk mengambil inisiatif, mengatasi hambatan, gigih dalam usaha, dan melakukan sendiri segala sesuatu tanpa bantuan orang lain.
Kemandirian perempuan adalah kemampuan perempuan dalam mele- paskan ketergantungan dari orang lain serta bisa mengatasi segala hambatan dan masalah yang terjadi pada diri dan keluarganya, dalam hal ini perempuan mampu berusaha untuk menutupi segala kebutuhan dirinya dan keluarga.
Menurut Koentjaraningrat (1967) bahwa dalam keluarga Jawa yang bertin- dak sebagai kepala keluarga adalah suami.5 Akan tetapi, menurut tradisi Jawa bukan berarti bahwa seorang istri dalam keluarga memiliki status yang lebih ren- dah dari suami. Peran istri dalam keluarga Jawa diharapkan dapat bekerjasama dalam mengatur keluarga. Dalam hal status dan kemandirian terdapat dua per- masalahan yaitu, 1) Terpenuhinya kebutuhan pribadi, ekonomi dan sosial dalam masyarakat. 2) Bagaimana nilai-nilai tersebut diwariskan dan dikukuhkan. Lebih lanjut Geertz mengemukakan bahwa yang dilakukan wanita Jawa dalam kehi- dupan sehari-hari bukan hanya urusan cabe (lombok) dan tempe saja, akan tetapi dalam kenyataan hidup menjalin hubungan sosial yang luas dan menjalankan usaha di sektor ekonomi. Hal tersebut juga saling menunjang, jaringan sosial yang luas dapat membantu dalam pemecahan berbagai problem, termasuk problem ekonomi.
Perempuan mempunyai kebebasan dan kewenangan yang sama dengan la- ki laki dalam hal pemilikan dan bagaimana pengaturannya. Pekerja merupakan kewajiban hidup yang besar, sejauh ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, perempuan dalam keluarga Jawa lebih sering terlibat dan bekumpul dalam kegiatan sosial kemasyarakatan daripada laki-laki.
Menurut Simone Beauvoir, menyatakan bahwa perempuan dapat meng- hentikan kondisinya sebagai jenis kelamin kedua dengan cara, 1) Mengatasi ke- kuatan-kekuatan lingkungan, perempuan juga harus mempunyai pendapat dan juga cara seperti laki-laki menuju transendensi. Perempuan bekerja di luar rumah meskipun melelahkan akan menegaskan statusnya sebagai subjek. Seseorang yang aktif menentukan arah tujuan hidupnya. 2) Menjadi intelektual yang membangun peubahan bagi perempuan, yaitu kegiatan yang aktif, berpikir, me-
5 Koentjaraningrat, Villages in Indonesia, (Itacha: Cornel University Press, 1967)
lihat dan mendefinisikan, bukan menjadi objek. 3) Perempuan dapat bekerja untuk transformasi sosial masyarakat, demi berakhirnya pertentangan keduanya, kuncinya di sini adalah pembebasan dengan kekuatan ekonomi perempuan yang mandiri.
Aspek pemberdayaan perempuan dalam kegiatan ekonomi memang amat krusial. Sebab, hal itu dapat menjadi pintu masuk menuju kemandirian guna meningkatkan posisi tawar perempuan dalam pengambilan keputusan, khusus- nya pada aspek ekonomi dan reproduksi. Kemandirian perempuan dalam aspek ekonomi perlu dipacu karena tingkat partisipasi perempuan dalam angkatan ker- ja masih cukup rendah dan jauh tertinggal jika dibandingkan dengan laki-laki.
Dalam lima tahun terakhir tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan sekitar 50-55%, sedangkan tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki berkisar 75-80%.
Bahkan, mayoritas perempuan bekerja di sektor informal, khususnya perdagan- gan dan jasa.
Kemandirian tidak hanya menitikberatkan pada poin penilaian standar yakni kemandirian secara ekonomi atau finansial. The Calgary John Howard So- ciety Literacy Program membagi kemandirian menjadi beberapa bentuk, yakni kemandirian secara finansial, kemandirian secara emosional, kemandirian secara fisik dan kemandirian secara intelektual. Keempat jenis kemandirian tersebut bukan berarti membuat kita egosentris. Lantas, bagaimana dengan kemandirian pada perempuan? Perempuan cukup lihai di dapur, sumur dan kasur saja, stereotype yang sering disematkan pada perempuan. Sebaliknya, kaum adam (laki-laki) dipandang lebih mandiri dalam segala hal. Perempuan diletakkan pada kondisi serba ketergantungan pada orang lain, baik sesama perempuan dan terle- bih kepada laki-laki. Padahal kalau kita buka indera penglihatan selebar- lebarnya, banyak perempuan yang bertenaga super melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan laki-laki, banyak perempuan yang memegang jabatan pent- ing di sektor pekerjaan dan banyak ibu yang mampu mengantarkan putra- putrinya ke gerbang kesuksesan meski hanya sebagai orang tua tunggal. Bahkan Indonesia pernah dipimpin oleh presiden perempuan.
Dalam penelitian ini, lebih menitikberatkan pada kemampuan atau ke- mandirian sosial dan kemandirian finansial. Kemandirian sosial adalah hubungan atau pergaulan yang satu dengan yang lainnya. Dengan demikian antara yang satu dengan yang lain ada ketergantungan. Contoh dalam kehidupan secara sosial apabila ada orang yang meninggal di sekitarnya maka punya kesadaran untuk bertakziyah. Kerja bakti di lingkungan sekitar mempunyai kesadaran untuk ber-
partisipasi di dalamnya. Ada tetangga atau teman yang sakit, memiliki kesadaran untuk menjenguknya. Kemandirian sosial sangat penting dalam kehidupan ber- masyarakat, sehingga sangat penting untuk menumbuhkan kemandirian sosial sedini mungkin.
Kemandirian secara finansial yaitu kemampuan untuk mengatur, memenu- hi, mengatasi masalah ekonomi sendiri sehingga tidak tergantung terhadap orang lain.
Pengertian Home Industry atau Industri Kecil
Industri kecil menurut Kartasapoetra (2000) adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi dan atau barang jadi menjadi barang nilai yang lebih tinggi lagi penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun industri dan perekayasaan industri.
Dalam Undang-undang Perindustrian Nomor 5 Tahun 1984, disebutkan bahwa industri adalah kegiatan ekonomi yang mengelola bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri. Home industry dikatakan sebagai perusahaan kecil karena jenis kegiatan ekonomi dipusatkan di rumah. Home industry juga dapat berarti industri rumah tangga, karena termasuk dalam kategori usaha kecil yang dikelola keluarga.6
Pelaku home industry adalah keluarga itu sendiri ataupun salah satu anggo- ta keluarga yang berdomisili di tempat tinggalnya itu dengan mengajak beberapa orang di sekitarnya sebagai karyawannya. Meskipun dalam skala yang tidak ter- lalu besar, namun kegiatan ekonomi ini secara tidak langsung membuka lapan- gan pekerjaan untuk sanak saudara ataupun tetangga di kampung halamannya, dengan begitu usaha home industry ini bisa membantu program pemerintah da- lam mengurangi pengangguran dan mengentas rakyat miskin yang ada di ling- kungan sekitarnya.
Home industry atau industri kecil banyak memberikan kontribusi terhadap masyarakat yang memiliki ekonomi lemah. Industri kecil dalam perjalanannya masih banyak kendala. Untuk itu diperlukan solusi yang tepat untuk memperta- hankan keberlangsungan usaha kecil.
Industri rumahan atau industri kecil menurut Undang-undang Nomor 20
6 Tulus Tambunan, Perkembangan Industri Skala Kecil di Indonesia, (Jakarta: Salemba Empat), 27.
Tahun 2008 dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu:
1. Industri makro, yaitu usaha produktif milik orang perorangan dan/atau ba- dan usaha perorangan yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.
50.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000.
2. Industri kecil, yaitu usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian, baik langsung mupun tidak langsung, dari usaha menengah atau usaha besar yang memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000 sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.
300.00.000 sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000.
3. Industri menengah, yaitu usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian, baik langsung maupun tidak langsung, dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.00 sampai dengan paling banyak 10.000.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.
2.500.000.000 sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000.000.7
Dari berbagai teori yang telah dikemukakan, industri rumahan krupuk ter- masuk dalam industri kecil dan menurut kriteria berdasarkan jumlah asset dan omzet termasuk ke dalam industri kecil dan menurut kriteria tenaga kerja terma- suk ke dalam industri kecil.
Industri kecil dan rumah tangga mampu menyerap tenaga kerja. Kecende- rungan menyerap banyak tenaga kerja umumnya membuat banyak intensif pula dalam menggunakan sumberdaya alam lokal, sehingga akan menimbulkan dam- pak positif terhadap peningkatan jumlah tenaga kerja, pengurangan jumlah ke- miskinan, pemerataan dalam distribusi pendapatan, dan pembangunan ekonomi di wilayah tersebut.
PEMBAHASAN
Perempuan yang bekerja di home industry krupuk Karangmluwo Mangli Jember bisa menopang perekonomian keluarganya, bisa lebih mandiri dan tidak
7 www.depkop.go.id
tergantung penuh kepada suami. Untuk biaya hidup dan biaya anak, bahkan mereka bisa menyisihkan dengan menabung meskipun dalam jumlah yang kecil.
Pekerja perempuan juga mempunyai hak untuk mengambil keputusan dalam rumah tangga, dalam mendidik anak-anaknya dan dalam hal lain. Pekerja kru- puk di Karangmluwo Mangli juga memiliki peran penting dalam keluarganya, dia bisa memilih tempat pendidikan bagi anak-anaknya, juga memiliki hak un- tuk memutuskan kapan libur bekerja atau tidak dan memiliki hak untuk mena- bung untuk keperluan sendiri.
Pemberdayaan perempuan dalam kegiatan ekonomi sangat penting, karena sebagai pintu masuk pada kemandirian perempuan, baik kemandirian ekonomi ataupun sosial. Dan yang paling penting adalah perempuan juga bisa mengambil keputusan dalam keluarganya dan memiliki peran penting dalam keluarga dan masyarakat. Senada dengan para pekerja krupuk di Karangmluwo, pekerja pe- rempuan di sana memiliki peran yang penting dan memiliki andil dalam penentu keputusan dalam rumah tangga dan masyarakat. Seperti dengan pendapat Zakiyah bahwasanya pemberdayaan perempuan merupakan transformasi hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan pada level yang berbeda, yakni keluarga dan masyarakat. Konsep pemberdayaan dapat dipahami sebagai kekuasaan dalam pembuat keputusan dengan titik tekan pada pentingnya peran perempuan.
Tugas perempuan tidak hanya domestik saja tetapi juga eksis dalam menja- lin hubungan sosial yang luas dan menjalankan usaha di sektor ekonomi.
Kemandirian sosial adalah hubungan atau pergaulan yang satu dengan yang lain- nya. Dengan demikian antara yang satu dengan yang lain ada ketergantungan.
Contoh dalam kehidupan secara sosial apabila ada orang yang meninggal di seki- tarnya, maka punya kesadaran untuk bertakziyah. Kerja bakti di lingkungan se- kitar mempunyai kesadaran untuk berpartisipasi didalamnya. Ada tetangga atau teman yang sakit, memiliki kesadaran untuk menjenguknya. Kemandirian sosial sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga sangat penting untuk menumbuhkan kemandirian sosial sedini mungkin.
KESIMPULAN
Berdasarkan penyajian data yang diperoleh dari wawancara dan observasi dapat disimpulkan bahwasanya peranan perempuan dalam ekonomi rumah tangga makin penting sejalan dengan menurunnya peran sektor pertanian dalam perekonomian desa dan pinggiran kota. Kasus di lingkungan Karangmluwo
Mangli Jember menunjukkan bahwa para suami kurang mampu untuk meme- nuhi biaya hidup dalam rumah tangga secara memuaskan karena lahan cende- rung sempit dan kurang tersedianya lapangan pekerjaan. Sementara itu kebutu- han rumah tangga berupa, biaya hidup sehari-hari, biaya pendidikan anak dan beban biaya hidup yang lain harus terpenuhi demi keberlangsungan hidup dalam rumah tangga itu sendiri.
Aspek pemberdayaan perempuan dalam kegiatan ekonomi memang amat krusial. Sebab, hal itu dapat menjadi pintu masuk menuju kemandirian guna meningkatkan posisi tawar perempuan dalam pengambilan keputusan, khusus- nya pada aspek ekonomi dan sosial.
Sebagian besar masyarakat Karangmluwo bekerja di industri krupuk, ada beberapa home industry krupuk yaitu Bapak Tris, Ibu Wiwin, Ibu Riris, Ibu Romlah, Ibu Mutik, Ibu Suwati, dan Ibu Pia. Sebagian dari pekerja krupuk ter- sebut adalah perempuan. Ada pembagian kerja yang berbeda antara laki-laki dan perempuan sehingga berimbas terhadap tidak samanya jumlah upah yang dite- rima. Hal tersebut terjadi karena pekerja laki-laki dianggap lebih berat daripada pekerja perempuan. Perempuan yang bekerja di industri krupuk bisa menopang perekonomian keluarganya, bisa lebih mandiri dan tidak tergantung penuh ke- pada suami, untuk biaya hidup dan biaya anak, bahkan mereka bisa menyisihkan dengan menabung meskipun dalam jumlah yang kecil. Dengan kemandiriannya para pekerja perempuan di home industry krupuk ini, mereka juga memiliki pe- ran penting dan pengambil keputusan dalam rumah tangga dan masyarakat, con- tohnya adalah para pekerja perempuan ikut menentukan dan memilih lembaga pendidikan untuk anak-anaknya, mereka punya keleluasaan kapan untuk libur bekerja, mereka bisa menabung dan menyisihkan sebagian upahnya untuk ke- pentingan mereka sendiri serta mereka dapat memberi sebagian gajinya untuk saudara saudaranya tanpa harus meminta izin kepada suaminya.
Tugas perempuan tidak hanya domestik saja tetapi juga eksis dalam menja- lin hubungan sosial yang luas. Sosial adalah hubungan atau pergaulan yang satu dengan yang lainnya. dengan demikian antara yang satu dengan yang lain ada ketergantungan. Contoh dalam kehidupan secara sosial apabila ada orang yang meninggal di sekitarnya maka punya kesadaran untuk bertakziyah. Kerja bakti di lingkungan sekitar mempunyai kesadaran untuk berpartisipasi didalamnya. Ada tetangga atau teman yang sakit, memiliki kesadaran untuk menjenguknya. Ke- mandirian sosial sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga san- gat penting untuk menumbuhkan kemandirian sosial sedini mungkin.
Pekerja perempuan di home industry krupuk memiliki upah yang tidak banyak, akan tetapi mereka masih bisa menyisihkan untuk kegiatan sosial dan sosial keagamaan. Mereka tidak hanya memiliki kemandirian finansial tetapi juga memiliki kesadaran mandiri secara sosial. Interaksi sosial dengan tetangga dan masyarakat sekitar terjalin dengan baik, mereka kerap menghadiri undangan pernikahan, ketika ada yang meninggal berbondong-bondong untuk bertakziyah dengan membawa beras atau gula. Sebagian besar pekerja perempuan juga men- gikuti kegiatan pengajian dan PKK di lingkungannya.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Cet.13. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Badan Perencanan Pembangunan Kabupaten Jember. 2009. Kabupaten Jember dalam Angka. Jember: Badan Pusat Statistik.
Koentjaraningrat. 1967. Villages in Indonesia. Itacha: Cornel University Press.
Nugroho, Riant. 2008. Gender dan Strategi Pengarusutamaannya di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nurdin, A. Fauzie. 2009. Wanita Islam dan Transformasi Sosial Keagamaan. Yo- gyakarta: Gama Media.
Sulistiyani. 2015. Model-model Pemberdayaan. Yogyakarta: Gaya Media.
Tambunan, Tulus, Perkembangan Industri Skala Kecil di Indonesia. Jakarta:
Salemba.
www.depkop.go.id.
Zakiyah. 2010. Pemberdayaan Perempuan oleh Lajnah Wanita. Jurnal Pengka- jian Masalah Sosial Keagamaan.