BAB V SIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisa, maka dapat disimpulkan bahwa:

Teks penuh

(1)

80 BAB V

SIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil analisa, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dan agresi pada remaja (r=0,602 dan p=0,000<0,05). Hal ini berarti, ada hubungan antara kecerdasan emosional dan agresi, hubungan itu merupakan korelasi negatif, artinya semakin tinggi kecerdasan emosional, maka semakin rendah agresinya. Sebaliknya, semakin rendah kecerdasan emosional, maka semakin tinggi agresinya. Maka Ha diterima dan Ho ditolak. 2. Dari 200 responden, yang terbanyak memiliki kecerdasan

emosional tingkat sedang (49%).

3. Dari 200 responden, yang terbanyak memiliki agresi tingkat sedang (47,9%).

4. Yang memiliki hubungan dengan variabel agresi diantaranya adalah suku responden (p=0,001<0,05), perilaku orangtua (p=0,019<0,05), dan konsumsi alkohol (0,000<0,05). Dan yang tidak ada hubungan dengan variabel agresi adalah usia, jenis kelamin, kegiatan bermain games, jenis games yang dimainkan, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, jenis acara televisi, uang jajan, dan jumlah sahabat.

5. Yang memiliki perbedaan yang signifikan dengan agresi hanya konsumsi alkohol (p=0,000<0,05). Maka dari itu, terdapat perbedaan tingkat agresi antara remaja yang sering minum alkohol, kadang-kadang, dan tidak pernah. Yang tidak memiliki

(2)

perbedaan dengan agresi diantaranya adalah usia, jenis kelamin, kegiatan bermain games, jenis games yang dimainkan, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, jenis acara televisi, uang jajan, perilaku orangtua, jumlah sahabat, dan suku responden.

6. Baik remaja laki-laki maupun perempuan memiliki tingkat agresi yang sama (p=0,739>0,05).

5.2 Diskusi

Pada penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan antara variabel kecerdasan emosional dan variabel agresi pada remaja, semakin tinggi kecerdasan emosional yang dimiliki oleh responden, maka semakin rendah agresinya. Hal ini sejalan dengan penelitiannya Liaw, dkk. (dalam Extremera dan Fernandez-Berrocal, 2004), remaja yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang rendah, memiliki kecenderungan untuk melakukan perilaku bermasalah dan agresi.

Selain menganalisa antara variabel kecerdasan emosional dan agresi, peneliti juga menganalisa data-data tambahan untuk dihubungkan dengan variabel terikat, yakni agresi. Hasil penelitian menyatakan bahwa hanya beberapa faktor saja yang dianggap berhubungan dengan agresi. Faktor-faktor tersebut diantaranya suku, perilaku orangtua, dan konsumsi alkohol.

Indonesia memiliki suku dan budaya yang beragam, keberagaman suku tersebut diasumsikan dapat mempengaruhi tingkat agresi. Dengan signifikansi 0,001<0,05, maka dapat dinyatakan bahwa suku berhubungan dengan agresi. Sebuah penelitian lain di Amerika Serikat menyatakan bahwa, warga kulit putih yang tinggal di wilayah utara (berasal dari New England dan Atlantik Tengah) lebih tenang dan terbuka untuk bekerjasama, sedangkan warga kulit putih yang

(3)

tinggal di wilayah selatan (keturunan Skotlandia-Irlandia) cenderung lebih agresi (Nisbett, 1993; Cohen, 1998; Vandello dkk., 2008, dalam Myers, 2012).

Hasil lainnya yang ditemukan dalam penelitian ini adalah, terdapat hubungan antara perilaku orangtua dan agresi dengan signifikansi 0,019<0,05. Hurlock (2011) menyatakan bahwa setiap orangtua berbeda dalam menerapkan pola sikap dan perilaku mereka terhadap anak. Kartono (2008) mengemukakan bahwa keluarga tidak bahagia dan berantakan akan mengembangkan emosi kepedihan dan sikap negatif pada lingkungannya. Anak akan menjadi tidak bahagia, emosi negatifnya mudah keluar dan akan mengalami gangguan dalam penyesuaian sosialnya. Akibatnya, anak akan mencari kompensasi di luar lingkungan keluarga untuk memecahkan semua kesulitan batinnya, sehingga timbul perilaku agresi. Selain itu, Willis (2009) menyatakan bahwa salah satu penyebab perilaku agresi yaitu dari lingkungan keluarga yang meliputi kurang perhatian orang tua, kurangnya pengawasan terhadap remaja serta dari perilaku orang tua sendiri.

Patterson, dkk. (dalam Myers, 2012) menyatakan bahwa anak yang agresif secara fisik cenderung memiliki orangtua yang sering melakukan tindak kekerasan pada anak mereka seperti memberikan hukuman fisik dengan tujuan mendisiplinkan anak dengan memberikan contoh agresi, misalnya memukul, menampar, dan lain sebagainya. Para orangtua ini biasanya memiliki orangtua yang sering memberi hukuman fisik juga (Bandura & Walters, 1959; Straus & Gelles, 1980, dalam Myers, 2012). Perilaku menghukum dengan cara agresi yang dilakukan para orangtua dapat meningkat menjadi suatu penganiayaan meskipun sebagian besar anak yang mengalami kekerasan yang telah dilakukan orangtuanya tidak menjadi orangtua yang kasar juga nantinya, namun, 30% dari mereka juga menyiksa anaknya (Kaufman & Zigler, 1987; Widom, 1989, dalam Myers, 2012).

(4)

Temuan lain pada penelitian ini menghasilkan bahwa konsumsi alkohol dapat berhubungan dengan agresi. Sesuai dengan penelitian longitudinal yang dilakukan oleh Reyes, Foshee, Bauer & Ennett (2010) yang menyatakan bahwa alkohol berkorelasi dengan agresi pada remaja. Menurut American Psychological Association (dalam Myers, 2012), Sebanyak 65% pembunuhan dan 55% kekerasan rumah tangga, pelaku kekerasan dan/atau korbannya dalam keadaan mabuk. Alkohol dapat meningkatkan agresi disebabkan dengan mengonsumsi alkohol maka dapat mengurangi kemampuan sadar diri, pemusatan perhatian yang dapat memancing kemarahan, dan agresi (Bartholow & Heinz, 2006; Giancola & Corman, 2007; Ito dkk., 1996, dalam Myers, 2012). Selain itu, berdasarkan perhitungan one way anova, terdapat perbedaan antara agresi pada remaja yang sering minum, kadang-kadang, dan tidak pernah.

Asumsi masyarakat terhadap agresi pada laki-laki cenderung lebih tinggi dibandingkan pada wanita tidak terbukti pada penelitian ini, baik laki-laki maupun wanita memiliki agresi yang sama. Meskipun berdasarkan penelitian Maccobay & Jacklin (dalam Santrock, 2003) yang menyatakan bahwa kebanyakan laki-laki lebih agresif daripada kebanyakan wanita. Anak laki-laki pada umumnya memperlihatkan tingkat agresi fisik yang lebih tinggi daripada wanita. Namun menurut Bandura, Ross, & Ross (dalam Herdiana, 2011), hal itu merupakan akibat dari tekanan sosial, wanita akan merasa lebih bersalah, cemas, dan takut terhadap tindakan agresif, dan karena itu menghambat impuls-impuls agresif mereka. Jika kendala situasional dihilangkan, hambatan terhadap agresi pada wanita akan berkurang. Dalam sebuah penelitian, tampak bahwa dalam situasi bebas memilih, dimana kelayakan agresi menjadi tidak jelas, anak perempuan jelas lebih tidak agresif daripada anak laki-laki. Tetapi bila anak-anak memperoleh ganjaran (reward) bila berperilaku agresif, tampak bahwa anak laki-laki dan perempuan menjadi sama agresifnya. Baron & Byrne (2005) juga

(5)

menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan gender dalam perilaku agresi. Umumnya pria cenderung melakukan tindakan agresi secara langsung ditujukan kepada targetnya, seperti memaki, mendorong, berteriak, dan lain sebagainya. Sedangkan wanita cenderung melakukan agresi secara tidak langsung, seperti bergunjing masalah orang lain, menyebarkan rumor yang tidak benar, dan lain sebagainya.

5.3 Saran

Ada beberapa saran yang dapat peneliti ajukan untuk dapat menjadi masukan bagi penelitian selanjutnya, yaitu:

5.3.1 Saran Teoritis

a. Selalu melatih kecerdasan emosional diri agar dapat menekan perilaku agresi dengan cara mengenali emosi diri sendiri, dapat mengelola emosi diri sendiri, dapat memotivasi diri sendiri, empati terhadap orang lain, dan dapat membina hubungan baik dengan lingkungan sekitarnya.

b. Orangtua merupakan model bagi anak-anaknya, maka disarankan untuk berperilaku baik didepan anak-anaknya agar anak terbiasa meniru perilaku yang sepantasnya.

c. Alkohol merupakan prediktor yang dapat mempengaruhi perilaku agresi, maka sebaiknya menghindari kebiasaan minum alkohol. d. Indonesia kaya akan beragamnya suku dan budaya. Oleh sebab

itu, perlu dilakukannya pertukaran budaya (cross cultural) agar dapat mempelajari suku-suku lain yang ada di Indonesia. Sehingga kita dapat memahami segala perbedaan-perbedaan seperti watak yang ada pada masing-masing individu yang berasal dari suku dan budaya yang berbeda.

(6)

5.3.2 Saran Praktis

a. Penelitian ini memiliki keterbatasan jumlah responden. Sehingga peneliti hanya dapat mengukur kecerdasan emosional dan agresi pada remaja yang berdomisili di Jakarta saja. Hal itupun masih dibatasi dengan usia responden yang berada pada tahapan remaja pertengahan (middle adolescent). Bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian yang serupa, disarankan untuk menggunakan sampel yang lebih banyak dengan variansi berbagai macam usia dan suku di Indonesia.

b. Proses penyebaran kuesioner dirasa kurang efisien, karena peneliti menyebarkan dibeberapa tempat dimana banyak remaja berkumpul, seperti foodcourt mall, kantin, dan lain sebagainya. Hal tersebut cukup menyita waktu peneliti, alangkah baiknya penyebaran kuesioner dilakukan dengan menyebarkan dikelas-kelas pada saat sekolah.

c. Untuk memperkuat hasil penelitian, seharusnya dilakukan metode tambahan seperti mengobservasi perilaku remaja.

d. Saat ini banyak peneliti melakukan penelitian mengenai kecerdasan emosional berdasarkan model kecerdasan Goleman, maka disarankan untuk menggunakan alat ukur lain. Salah satu alat ukur yang dapat digunakan adalah MSCEIT V.02. yang mempunyai keunggulan prediktif dengan melibatkan real world criteria (Mayer, Salovey, & Caruso, 2002). Hal tersebut dibenarkan oleh Lanawati (2012) yang menyatakan bahwa alat ukur yang dikembangkan oleh Salovey lebih dapat memprediksi kecerdasan emosional orang lain dengan melihat gambar ekspresi pada alat tes tersebut.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :