25
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sifat Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Menurut Neuman (2004) penelitian kuantitatif adalah penelitian yang mengedepankan pengukuran (measurement) data yang disajikan dalam bentuk angka (p.110). Dalam penelitian kuantitatif, konsep abstrak dalam penelitian disajikan dalam bentuk data empirik dan diwakilkan oleh angka.
Sifat penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dimana peneliti memaparkan temuannya di lapangan tanpa mencari hubungan sebab-akibatnya.
Menurut Neuman (2004), penelitian deskriptif lebih fokus pada pertanyaan
‘bagaimana’ dan ‘mengapa’, ia membahas sebuah fenomena yang umum terjadi, dan mepelajari fenomena tersebut untuk bisa mendeskripsikannya secara akurat (p.
16).
Menurut Rukajat (2018), metode deskriptif berusaha untuk menggambarkan fenomena yang terjadi secara nyata, aktual, dan terjadi saat ini. Metode penelitian ini menghadirkan deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta- fakta, sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena (p.1).
Sementara Sugiyono (2016) menyebutkan bahwa penelitian deskriptif berkenaan dengan dengan pertanyaan terhadap variabel mandiri baik hanya pada
26 satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel lainnya (p.35).
Variabel sendiri, menurut Kerlinger (dari Sugiyono, 2016, p.38), adalah suatu konstruk, atau sifat yang dipelajari. Konstruk tersebut berbeda-beda dari setiap orang, sehingga peneliti yang mempelajari konstruk tersebut, dan menarik kesimpulan darinya.
Berdasarkan penjelasan Rukajat dan Sugiyono, maka penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian deskriptif yang melibatkan dua variabel mandiri. Variabel mandiri dalam konteks ini, adalah dua variabel yang berdiri sendiri, dan tidak peneliti hubungkan atau bandingkan satu sama lain. Variabel pertama adalah kegiatan audiences act of authentication pengguna media sosial (variabel 1) dan variabel kedua adalah respon pengguna media sosial ketika menerima berita yang dicurigai disinformasi (variabel 2).
3.2 Metode Penelitian
Metode pengumpulan data yang akan digunakan peneliti adalah melalui metode survei yang disebarkan secara daring. Survey adalah daftar pertanyaan maupun pernyataan yang ditanyakan kepada responden untuk mendapatkan informasi tertentu (Taniredja & Mustafidah, 2011, p. 44). Metode ini dapat digunakan untuk memancing keluar pikiran, sikap, atau kelakuan responden.
Berdasarkan bentuknya, McMillan (2001) berkata bahwa pertanyaan angket dalam survey memiliki dua jenis, yaitu terbuka dan tertutup. Pertanyaan tertutup
27 adalah ketika peneliti hanya menyajikan pilihan jawaban yang terbatas kepada responden, sementara dalam angket terbuka, responden memiliki lebih banyak kebebasan dalam memberi jawaban (dalam Taniredja, 2011, p.44-45).
Dalam survey yang dibuat peneliti, variabel 1, maupun variabel 2, mempunyai format pertanyaan kuesioner yang berbeda, berdasarkan operasionalisasi variabel yang peneliti temukan.
Peneliti berpendapat bahwa pertanyaan variabel 1 lebih cocok menggunakan soal pernyataan, dan dalam bentuk jawaban skala. Menurut Sarwono (2012), soal pernyataan adalah soal yang meminta persetujuan dari responden terhadap topik utama dalam butir survey. Sementara bentuk jawaban skala adalah model jawaban terstruktur yang membatasi jumlah jawaban responden, dan lebih cocok digunakan dalam pertanyaan yang meminta persetujuan responden (p. 57).
Salah satu bentuk skala kuesioner yang dapat digunakan untuk mengukur sikap atau keyakinan individu adalah skala Likert. Skala ini meminta responden untuk menjawab dengan pilihan sangat setuju (SS), setuju (S), tidak bisa memutuskan (N), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Setiap pilihan jawaban memiliki nilainya, untuk pertanyaan yang mendukung sikap positif, jawaban paling tinggi memiliki nilai paling besar, misal: SS=5, S=4, N=3,TS=2, STS=1 (Taniredja & Mustafidah, 2011, p.46).
Bentuk pertanyaan dan jawaban survey ini diambil peneliti karena lebih mudah untuk dirubah menjadi bentuk data angka, serta digunakan dalam pembuatan grafis.
28 Sementara untuk variabel 2, peneliti menggunakan bentuk soal pertanyaan langsung, dengan bentuk jawaban kategorikal. Menurut Sarwono (2012), pertanyaan langsung menanyakan informasi tanpa basa-basi, dan tidak menggunakan kalimat pertanyaan bermakna ganda (p.54). Kemudian, bentuk jawaban kategorikal meminta responden untuk memilih jawaban dari dua pilihan yang tersedia. Bentuk data yang akan diperoleh dari jawaban kategorikal adalah data nominal (Sarwono, 2012, p.62).
Variabel 2 adalah variabel yang meneliti respons responden terhadap stimulus, yaitu disinformasi. Menurut Mahrebain dan Russell (1974), respon adalah hasil akhir yang dihasilkan oleh individu setelah memproses stimulus yang diterima. Individu hanya memiliki dua pilihan: mendekat, atau menghindar (approach or avoidance). Oleh karena itu pertanyaan penelitian yang dibuat oleh peneliti bertujuan untuk melihat tendensi pengguna media sosial ketika berhadapan dengan disinformasi, apakah itu adalah pendekatan, atau penghindaran.
Individu yang memilih pendekatan pada suatu stimulus cenderung untuk mendekati, berinteraksi, dan menerima perasaan positif ketika berada pada lingkungan stimulus. Sikap ini bertolak belakang dengan tindakan penghindaran, dimana individu tidak melihat adanya hal positif terhadap stimulus, dan cenderung berusaha keluar dari lingkungan tersebut.
29
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi.
Menurut Nawawi, populasi adalah keseluruhan objek yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, benda-benda, atau peristiwa-peristiwa yang terjadi sebagai sumber. Populasi juga merupakan keseluruhan dari subjek penelitian (dikutip dari Arikunto, 2003, p.108).
Berdasarkan jumlah, populasi dibagi menjadi dua, yaitu populasi terbatas, serta populasi tidak terhingga. Populasi terbatas adalah populasi yang memiliki batas sumber data secara kuantitatif. Misalnya seluruh karyawan yang ada di suatu kantor. Sementara populasi tidak terhingga tidak memiliki batas kuantitatif yang jelas, misalnya semua orang yang menyebarkan berita lewat media sosial (Taniredja
& Mustafidah, 2011, p.33).
Populasi dibedakan kembali menurut kompleksitas. Yaitu populasi homogen dimana keseluruhan populasi relatif sama, serta populasi heterogen, yang anggotanya memiliki sifat individual berbeda (Bungin, 2010, p.100).
Berdasarkan deskripsi tersebut, peneliti menentukan grup facebook Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax, sebagai populasi penelitian. Grup Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax adalah grup oleh halaman (fanspage) MAFINDO. Grup ini berisi unggahan-unggahan hasil cek fakta, diantaranya adalah penyangkalan disinformasi, klarifikasi informasi, serta pengumuman lain yang berhubungan dengan upaya menangkal disinformasi di media sosial.
30 Peneliti memutuskan menggunakan grup facebook MAFINDO, karena peneliti mencari populasi pengguna media sosial yang lebih waspada terhadap disinformasi. Konten dari grup tersebut, adalah klarifikasi informasi yang beredar di media sosial, dimana anggota lain dapat ikut berbagi konten, dan berbagi klarifikasi.
Gambar 3.1 Contoh konten Forum Anti Fitnah, Hasut dan Hoax
Sumber: facebook.com/groups/fafhh, 2019
Menurut Literasi Publik (2017) orang yang literasi medianya baik dapat menilai makna dalam tiap jenis pesan, mengorganisasikan makna tersebut hingga berguna, dan menyampaikannya kepada orang lain (para 2). Maka berdasarkan
31 definisi ini, anggota grup Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax memiliki tingkat literasi yang lebih baik dibanding masyarakat awam untuk mengevaluasi, dan merespon berita disinformasi.
Hingga penelitian ditulis, grup Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax telah memiliki anggota sebanyak 77147 orang.
3.3.2 Sampel.
Sampel adalah sebagian dari populasi. Menurut Ali (1985) sampel penelitian adalah bagian yang diambil dari seluruh obyek penelitian yang dianggap mewakili terhadap seluruh populasi (p.54). Sementara, menurut Bungin (2010), ada beberapa pertimbangan dalam menentukan sampel dalam penelitian, agar sampel penelitian memiliki bobot representatif yang diharapkan. Pertimbangan tersebut diantaranya:
a). Derajat keseragaman populasi, semakin kompleks populasi, semakin besar sampelnya.
b). Derajat kemampuan peneliti mengenal sifat-sifat khusus populasi.
c). Presisi yang dikehendaki peneliti
d). Penggunaan teknik sampling yang tepat (p.104)
Teknik pengambilan sampel yang digunakan peneliti adalah teknik sampel nonprobabilitas, dengan tipe insidental. Menurut Sugiyono (2016), teknik sampel
32 nonprobabilitas adalah teknik yang tidak memberi peluang bagi setiap unsur untuk menjadi sampel. Sementara tipe insidental, adalah tipe penentuan sampel berdasarkan kebetulan individu yang ditemui oleh peneliti (pp.84-85)
Dalam memutuskan jumlah sampel yang dibutuhkan, Radiani (2004) memberikan rumus perhitungan besar sampel sebagai berikut:
𝑛 = 𝑁
𝑁(𝑑)2+ 1
n: jumlah sampel yang dicari
N: jumlah populasi
d: nilai presisi
Peneliti menggunakan anggota grup MAFINDO sebagai populasi.
Sementara, dalam menghitung jumlah sampel yang dibutuhkan, peneliti menghitung bedasarkan rumus Radiani, dimana tingkat toleransi kesalahan penelitian (error tolerance) akan mempengaruhi jumlah sampel yang dibutuhkan.
Menurut Sugiyono (2016), tergantung dalam kapabilitas peneliti, dana, serta waktu, tingkat kesalahan penelitian yang dapat ditolerir adalah 1%, 5%, dan 10%.
Dalam menghitung sampel yang akan diambil, peneliti memutuskan untuk menggunakan presentase toleransi kesalahan sebesar 10% (0.10), atau dapat dikatakan bahwa tingkat presisi sampel adalah 90%. Keputusan ini peneliti ambil menimbang sempitnya tenggat waktu, serta kondisi lapangan, dimana tidak semua anggota bersedia untuk mengisi survey yang peneliti sebar.
33
𝑛 = 77147
77147(0.10)2+ 1
𝑛 = 77147 772.47 𝑛 = 99.8 ≈ 100
Maka dapat disimpulkan peneliti harus menerima respon dari 100 responden.
3.4 Operasionalisasi Variabel
Operasionalisasi variabel adalah variabel yang diteliti, kemudian diberi arti.
Setiap variabel yang diteliti adalah spesifik variabel tersebut (Rukajat, 2018, p.2).
Variabel yang diteliti peneliti adalah upaya autentikasi yang dilakukan pengguna media sosial yang mengonsumsi konten cek fakta. Serta respon ketika pengguna media sosial yang telah mengonsumsi konten cek fakta bertemu dengan disinformasi.
1. Aksi autentikasi audiens (audiences act of authentication)
Adalah konsep dimana audiens berusaha mencari pembenaran akan informasi yang baru saja ia terima. Dalam melakukan autentikasi ini, audiens menggunakan cara-cara internal, maupun eksternal (Tandoc, 2019, p.2753).
Cara-cara internal berkaitan dengan kemampuan dan persepsi audiens dalam menghadapi informasi yang ia terima, bila cara internal dirasa kurang cukup, maka cara eksternal (melibatkan pihak ketiga) akan digunakan.
34 a) Autentikasi internal
-Self: berdasarkan pengalaman, pengetahuan, serta persepsi individu -Message: memperhatikan bentuk dan pola narasi
-Source: memastikan kredibilitas informasi melalui sumber asal informasi tersebut.
b) Autentikasi eksternal
-Insidental dan institusional: individu secara pasif menunggu pihak ketiga yang dinilai kredibel untuk memastikan kebenaran informasi
-Insidental dan interpersonal: individu menunggu kerabat dan orang terdekatnya untuk mengklarifikasi kebenaran informasi
-Intensional dan institusional: individu secara aktif mencari kebenaran informasi melalui lembaga yang dinilai kredibel.
-Intensional dan interpersonal: individu secara aktif mencari kebenaran informasi pada orang-orang terdekat.
2. Respon,
Dalam konsep S-O-R (source-organism-response), respon adalah hasil yang keluar ketika individu menerima stimulus eksternal. Ketika menerima stimulus, individu akan melalui proses emosional yang akan menentukan respon yang akan diambil terhadap stimulus lingkungan (Vanak, 2019, para.
2). Proses emosional tersebut meliputi pleasure, arousal, dan dominance.
Melalui proses emosional tersebut, respon yang keluar dari narasumber bisa
35 berupa pendekatan lebih lanjut terhadap suatu stimulus, atau pengacuhan terhadap stimulus tersebut.
Menurut Mehrabian dan Russell (1974) model lengkap dari proses penerimaan stimuli oleh organisme hingga menjadi respons meliputi fase-fase berikut:
a) environmental stimulus adalah segala faktor eksternal yang masuk dalam persepsi organisme, bisa berupa visual, narasi, ataupun suara.
b) organism adalah subjek yang menerima stimulus. Ketika menerima stimulus, organisme memproses stimulus tersebut sebelum memberikan timbal-balik. Mehrabian dan Russell (1974) membagi proses tersebut dalam empat bagian:
-pleasure taraf kebahagiaan organisme ketika menerima stimulus -arousal keaktifan dan hasrat organisme ketika menerima stimulus -dominance posisi organisme dalam mengontrol diri ketika menerima stimulus
c) approach or avoidance adalah ketika organisme mengeluarkan timbal-balik atas stimulus yang ia terima. Approach adalah ketika organisme memberikan respon positif terhadap stimulus, dan tertarik untuk mengikutinya, tetapi avoidance adalah ketika organisme mengacuhkan stimulus tersebut.
Berdasarkan Mehrabian dan Russel, dalam Donnovan (1982) terdapat empat aspek yang menentukan respon approach atau avoidance:
36 -Keinginan secara fisik untuk berada pada lingkungan stimulus, atau menghindari stimulus
-Keinginan untuk menjelajahi lingkungan stimulus, atau keluar dari lingkungan tersebut.
-Keinginan untuk berkomunikasi dengan orang-orang dalam stimulus, atau menghindari orang-orang tersebut.
-Tingkatan peningkatan dan kepuasan performa, atau tingkat kekurangan dan ketidakpuasan performa.
Mehrabainn dan Russell (1974) menjelaskan bahwa dalam mengambil respons atas stimulus yang diterima, organisme hanya menunjukan dua jenis tindakan, yaitu: pendekatan atas stimulus, atau menghindari stimulus.
Organisme yang mendekati stimulus, berdasarkan aspek yang sudah disebutkan, merasakan kesan positif atas stimulus, dan adanya minat untuk berada pada lingkungan stimulus. Sementara, organisme yang menghindari stimulus, tidak merasakan kesan positif, dan enggan untuk berada pada lingkungan stimulus.
Tabel 3.1 Operasionalisasi variabel 1
Variabel Dimensi Indikator pertanyaan/pernyataan
Internal self 1. Saya mempercayai intuisi saya ketika
37 audiences act
of
authentication
Audiens melakukan autentikasi
informasi melalui intuisi, perspektif, dan pengalaman pribadi
membaca berita yang saya curigai
message
Audiens melakukan autentikasi dengan melihat isi narasi informasi
2. Saya dapat menyimpulkan
kredibilitas berita dari membaca narasi berita
source
Audiens melakukan autentikasi dengan mempertimbangkan asal informasi tersebut.
3. Saya mempercayai sebuah informasi berita berdasarkan sumber informasi berita tersebut.
Eksternal insidental &
institusional
Audiens menunggu
pihak yang
4. Ketika saya menerima informasi, saya menunggu pihak
38 dipercaya untuk
mengautentikasi informasi
resmi mengklarifikasi informasi tersebut.
insidental &
interpersonal
Audiens menunggu kerabat terdekat untuk membagikan autentikasi
informasi
5. Ketika saya menerima informasi, saya menunggu orang terdekat saya mengklarifikasi
informasi tersebut
intensional &
institusional
Audiens secara aktif mencari kebenaran
informasi lewat pihak ketiga
6. Saya berinisiatif mencari kebenaran informasi dari pihak ketiga yang kredibel
intensional &
interpersonal
Audiens secara aktif bertanya pada
7. saya berinisiatif mencari kebenaran informasi melalui orang terdekat saya
39 orang terdekat
tentang keaslian informasi.
Sumber: Tandoc, 2012
Tabel 3.2 Operasionalisasi Variabel 2
Variabel Dimensi Indikator Pertanyaan/Pernyataan
Respon approach/avoidance keinginan untuk tetap berada dalam lingkungan stimulus
1. apakah anda merasa ingin bersama lingkungan yang menyebarkan
informasi yang anda curigai?
keinginan untuk menjelajahi lingkungan stimulus
2. apakah anda tertarik untuk menjelajahi lebih dalam, informasi yang anda curigai?
keinginan untuk
berkomunikasi dengan sesama
3. apakah anda tertarik untuk berkomunikasi dengan orang-orang
40 orang dalam
lingkungan stimulus
yang terkait dengan informasi tersebut?
adanya peningkatan performa diri, atau kepuasan pada performa
4. apakah keberadaan disinformasi
memberikan pengaruh pada performa keseharian anda?
Sumber: Donnovan & Rossiter, 1982
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Peneliti melakukan pengumpulan data melalui survey daring yang disediakan oleh Google form. Langkah ini diambil peneliti sebagai upaya untuk menyebarkan pertanyaan survei dengan lebih mudah dan murah. Penyebaran kuesioner melalui medium internet dapat membantu peneliti mendapatkan data dari tempat jauh, sambil tetap melakukan langkah-langkah penelitian yang selanjutnya.
Dalam pertanyaan kuesioner, peneliti menggunakan pertanyaan tertutup.
Dengan menggunakan pertanyaan tertutup, peneliti dapat lebih mudah mengumpulkan data, serta terhindar dari bias jawaban responden.
Data jawaban yang akan diterima peneliti, akan tersedia dalam skala likert dan skala nominal. Skala Likert adalah jawaban survei yang membentuk gradasi nilai. Pilihan dalam skala Likert terdiri dari sangat sesuai (1), sesuai (2), tidak sesuai
41 (3), dan sangat tidak sesuai (4). Sementara skala pengukuran nominal digunakan dalam pertanyaan penelitian dengan pilihan ‘ya’, dan ‘tidak’ (Taniredja &
Mustafidah, 2011, p.46).
Skala likert digunakan untuk mengumpulkan data sikap. Menurut Thurstone (dalam Sarwono, 2012, p.72), sikap adalah pengaruh atau penolakan, penilaian, suka atau tidak suka, serta kepositifan dan kenegatifan atas suatu obyek psikologis.
Dalam penelitian, peneliti melihat derajat kesesuaian responden terhadap tindakan autentikasi informasi.
Sementara untuk pilihan jawaban ‘ya’, dan ‘tidak’, digunakan untuk membagi klasifikasi responden variabel dalam dua kategori berbeda (Sarwono, 2012, p.68). Dalam variabel X2, peneliti membagi jawaban tiap responden dalam kategori yang cenderung mendekati disinformasi, dalam pilihan jawaban ‘ya’. Serta responden yang cenderung menghindari disinformasi, dalam pilihan jawaban
‘tidak’.
3.6 Teknik Pengukuran Data
Peneliti melakukan uji validitas serta uji reliabilitas sebelum membagikan kuesioner ke seluruh sampel penelitian. Uji validitas berarti mencari kebenaran apakah suatu skala dapat mengukur apa yang harus diukur, dan dapat mencerminkan kebenaran yang terjadi di lapangan (Sarwono, 2012, pp. 84-85). Uji validitas dilakukan dengan teknik korelasi menggunakan rumus Spearman-Brown yang membandingkan nilai r hitung dengan r tabel. Apabila nilai r hitung lebih rendah daripada r tabel, maka suatu pertanyaan penelitian dinyatakan tidak valid
42 dan tidak bisa diikutkan dalam analisis data. Sugiyono (2016) mengatakan bahwa data yang tidak valid harus dihilangkan, atau dilakukan pengujian ulang.
Sementara uji reliabilitas adalah memeriksa apakah sebuah hasil pengukuran dapat konsisten bila dilakukan dalam waktu yang berbeda. Uji reliabilitas berfungsi untuk memastikan konsistensi data yang didapatkan apabila penelitian yang sama kembali dilakukan (Sarwono, 2012, p.85).
Dalam penelitian yang dilakukan peneliti, peneliti mengambil 10% dari total sampel untuk melakukan uji variabilitas dan uji reliabilitas. Dari total 100 orang sampel, peneliti mengambil 10 orang responden pertama sebagai sarana dilakukannya uji validitas dan reliabilitas.
3.7 Uji Validitas
Worthen (1993) mengatakan bahwa validitas adalah tingkatan dimana pengukuran mencapai tujuannya digunakan. Berarti sebuah data dinyatakan valid bila pengukuran yang dihasilkan mendekati kenyataan.
Dalam melakukan uji validitas, peneliti menggunakan nilai koefisien korelasi (𝑟𝑖) sebesar 0.232. Peneliti menggunakan nilai table tersebut karena penelitian menggunakan tingkat kesalahan sebesar 10%, dengan probabilitas sebesar 0.1. Dalam setiap butir pertanyaan, bila butir tersebut memiliki nilai lebih dari 0.232, maka butir tersebut dinyatakan valid (Sarwono, 2012, p. 86).
Peneliti menggunakan rumus perhitungan Pearson, serta program SPSS untuk melakukan uji validitas.
43 Tabel 3.3 Uji validitas variabel 1
Pertanyaan Pearson Correlation
var 1.1 0.735
var 1.2 0.704
var 1.3 0.783
var 1.4 0.724
var 1.5 0.137
var 1.6 0.845
var 1.7 0.805
Sumber: Olah data SPSS, 2020
Berdasarkan uji validitas, butir pertanyaan variabel 1.5, kurang dari 0.232, berarti butir pertanyaan variabel 1.5 dinyatakan tidak valid, dan tidak dapat diikutsertakan dalam analisis data. Sementara untuk sisa butir pernyataan, dinyatakan valid, karena memiliki nilai lebih dari 0.232.
Untuk variabel 2, uji validitas dilakukan sebagai berikut:
44 Tabel 3.4 Uji validitas variabel 2
Pertanyaan pearson correlation
var 2.1 0.773
var 2.2 0.774
var 2.3 0.813
var 2.4 0.212
Sumber: Olah data SPSS, 2020
Berdasarkan uji validitas, butir pertanyaan variabel 2.4 dinilai tidak valid, karena memiliki nilai kurang dari 0.232. Maka butir pertanyaan variabel 2.4 tidak bisa diikutsertakan dalam analisis data. Sementara, butir-butir pertanyaan lain pada variabel 2 dinyatakan valid, dan dapat dilakukan analisis.
3.8 Uji Reliabilitas
Menurut Sarwono (2012), Reliabilitas digunakan untuk mengukur konsistensi dan stabilitas data penelitian setiap kali penelitian dilakukan (p.85). Jika sebuah data reliabel, dapat dikatakan bahwa jika penelitian akan kembali dilakukan pada sampel yang serupa di waktu berbeda, maka data yang didapatkan tidak akan jauh berbeda dengan data yang tersedia saat ini.
45 Salah satu teknik yang digunakan untuk menguji reliabilitas, adalah dengan menggunakan rumus alfa Cronbach. Rakhmat (2012) menjelaskan Rumus alfa Cronbach memiliki kategori sebagai berikut:
r < 0.20 sangat rendah
0.20 < r < 0.40 rendah
0.40 < r <0.70 sedang
0.70 < r < 0.90 tinggi
r > 0.90 sangat tinggi
(p.29).
Tabel 3.5 Uji reliabilitas variabel 1
alpha item
0.880 6
Sumber: Olah data SPSS 2020
Berdasarkan rumus alfa, butir pertanyaan variabel X1 memiliki nilai sebesar 0.880. Nilai ini lebih dari 0.70, sehingga dapat disimpulkan bahwa butir pertanyaan pada variabel X1 memiliki tingkat reliabilitas tinggi.
46 Tabel 3.6 Uji reliabilitas variabel 2
alpha item
0.750 3
Sumber: Olah data SPSS, 2020
Sementara, untuk variabel 2, nilai alpha yang didapat adalah 0.750. Dapat disimpulkan bahwa variabel 2 memiliki tingkat reliabilitas tinggi.
3.9 Teknik Analisis Data
Karena penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, peneliti tidak akan melakukan korelasi, atau melakukan generalisasi terhadap data yang peneliti temukan di lapangan. Menurut Sarwono (2012) ada beberapa langkah yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan data, yaitu menggunakan frekuensi dan persen, menggunakan tendensi pusat (mean, median, dan modus), dan mendeskripsikan dengan standar deviasi (p.108).
Peneliti akan menyajikan hasil data dalam bentuk persen, serta menyajikan nilai mean, median, dan modus. Data persen akan disajikan menggunakan grafik, sehingga data dapat lebih mudah dibaca, sementara data mean, median, dan modus, disediakan, agar temuan survei dapat dirangkum dengan singkat.