SILABUS
SILABUS MATA PELAJARAN DESAIN GRAFISPERCETAKAN (PAKET KEAHLIAN MULTIMEDIA)
Satuan Pendidikan : SMK NEGERI 3 MUARO JAMBI
Kelas : XI
Kompetensi Inti :
KI.3. Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual, konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Multimedia pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan internasional.
K.4. Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang kerjaMultimedia. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.
Menunjukkan keterampilan mempersepsi, kesiapan, meniru, membiasakan, gerak mahir, menjadikan gerak alami dalam ranah konkret terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugasspesifik di bawah pengawasan langsung.
KOMPETENSI
DASAR METERI
PEMBELAJARAN KEGIATAN
PEMBELAJARAN 3.13 Menerapkan prosedur
pengukuran bidang pandang dan sudut pengambilan gambar
4.13 Mengambil gambar sesuai bidang pandang dan sudut pandang
3.13.1 Memahami sudut pandang pengambilan gambar bergerak 3.13.2 Memahami ukuran bidang
pandang pengambilan gambar bergerak
4.13.1 Menyajikan hasil pengambilan gambar bergerak berdasarkan sudut pandang pengambilan gambar
Menampilkan gambar-gambar dengan berbagai sudut pengambilan gambar dan menayangkan video tentang teknik sudut pandang pengambilan gambar
Mengamati:
Peserta didik diminta mengamati tampilan dan tayangan yang disajikan untuk mengidentifikasi hal-hal yang berkaitan dengan sudut pandang pengambilan gambar
3.13.2 Menyajikan hasil pengambilan gambar bergerak berdasarkan ukuran bidang pandang kamera
Menanya:
Peserta didik menanyakan tentang hal hal yang tidak dipahami dari apa yang telah diamati pada tayangan pengambilan gambar dengan sudut pandang pengambilan gambar.
Mengumpulkan Data :
peserta didik mengumpulkan data untuk membandingkan informasi yang didapat dari tayangan video dengan modul mengenai sudut pandang pengambilan gambar
Mengasosiasi :
Peserta didik Menyimpulkan hasil
pengamatan/kajian literatur tentang sudut pandang pengambilan gambar,
Membuat laporan portofolio dalam berbagai bentuk seperti tulisan, foto dan gambar yang mendeskripsikan, pengertian sudut pandang pengambilan gambar
Mengkomunikasikan :
Peserta didik Memaparkan hasil
pengamatan/kajian literatur tentang sudut pandang pengambilan gambar
Mempresentasikan dengan tujuan untuk
mengevaluasi/menguji hasil pengambilan gambar dengan menerapkan sudut pandang pengambilan gambar
Mengetahui,
Kepala SMKN 3 Muaro Jambi
SRI DARMAYANTI, M.Pd NIP. 197405102000032006
Muaro Jambi, ...
Guru Mapel
IRWAN, S.Kom NIP. 197801012011011005
RENCAN
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan : SMKN 3 MUARO JAMBI
Bidang Keahlian : Teknik Informasi dan Komunikasi Program Keahlian : Teknik Komputer dan Informatika Kompetensi Keahlian : Multimedia
Mata Pelajaran : Desain Grafis Percetakan Kelas/semester : XI/II
Tahun Pelajaran : 2021/2022 Pertemuan ke- : 1
Alokasi waktu : 1 x 45 menit
Materi Pokok : Sudut Pandang pengambilan gambar dan ukuran Bidang Pandang pengambilan gambar bergerak
A. Kompetensi Dasar
3.13 Menerapkan prosedur pengukuran bidang pandang dan sudut
pengambilan gambar
4.13 Mengambil gambar sesuai bidang pandang dan sudut pandang B. Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator KD pada KI Pengetahuan
3.13.1 Memahami sudut pandang pengambilan gambar bergerak
3.13.2 Memahami ukuran bidang pandang pengambilan gambar bergerak Indikator KD pada KI Keterampilan
4.13.1 Menyajikan hasil pengambilan gambar bergerak berdasarkan sudut pandang pengambilan gambar
4.13.2 Menyajikan hasil pengambilan gambar bergerak berdasarkan ukuran bidang pandang kamera
C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengukutu pembelajaran diharapkan :
1. Siswa Mampu Memahami sudut pandang pengambilan gambar bergerak 2. Siswa Mampu Memahami ukuran bidang pandang pengambilan gambar
bergerak
3. Siswa Mampu Menyajikan hasil pengambilan gambar bergerak berdasarkan sudut pandang pengambilan gambar
4. Siswa Mampu Menyajikan hasil pengambilan gambar bergerak berdasarkan ukuran bidang pandang kamera
D. Materi Pembelajaran
Dalam kegiatan produksi video/ film, terdapat banyak jenis kamera yang digunakan. Pembagian jenis kamera video/ film dibedakan atas media yang digunakan untuk menyimpan data (gambar & suara) yang telah diambil Seperti halnya pada fotografi, gambar yang telah diambil disimpan pada gulungan film. Namun pada kamera jenis ini, disamping gulungan film juga terdapat pita magnetik untuk menyimpan data suara. Dalam 1 detik pengambilan gambar, dibutuhkan sekitar 30 frame film. Adapun jenis film yang digunakan adalah film positif (slide), dimana untuk melihat isinya harus dicuci terlebih dulu di laboratorium film dan diproyeksikan dengan menggunakan proyektor khusus.
Selain itu juga banyak terdapat fasilitas–fasilitas tambahan yang berbeda antara kamera satu dengan kamera lainnya. Fasilitas itu antara lain lampu infra merah untuk pengambilan gambar pada tempat yang gelap, edit teks langsung dari kamera, efek-efek video lain, slow motion dan masih banyak lagi. Pengambilan gambar terhadap suatu objek dapat dilakukan dengan lima cara
1. Bird Eye View yaitu Teknik pengambilan gambar yang dilakukan dengan ketinggian kamera berada di atas ketinggian objek. Hasilnya akan terlihat lingkungan yang luas dan benda-benda lain tampak kecil dan berserakan.
2. High Angle Sudut pengambilan dari atas objek sehingga mengesankan objek jadi terlihat kecil. Teknik ini memiliki kesan dramatis yaitu nilai
“kerdil”.
3. Low Angle yaitu sudut pemngambilan gambar dari arah bawah objek sehingga mengesankan objek jadi terlihat besar. Teknik ini memiliki kesan prominance, berwibawa, kuat dan dominan
4. Eye level yaitu sudut pengambilan gambar sejajar dengan objek, hasilnya memperlihatkan tangkapan pandangan mata seseorang. Teknik ini tidak memiliki kesan dramatis melainkkan kesan wajar
5. Frog Eye yaitu sudut pengambilan gamabar dengan ketinggian kamera sejajar dengan alas/dasar kedudukan objek atau lebih rendah. Hasilnya akan tampak seolah-olah mata penonton mewakili mata katak
E. Metode
1.Pendekatan : Saintifik
2.Model : Discovery learning
3.Metode : Tanya jawab, observasi, praktek dan presentasi F. Media, Alat dan Sumber Belajar
1.Media Pembelajaran : Bahan Tayang (slide)
2.Alat Pembelajaran : LCD, laptop, komputer yang dilengkapi dengan aplikasi pengolah citra bitmap (adobe fotoshop) 3.Bahan : File gambar dengan bebagai sudut pandang 4.Sumber : Bahan ajar, modul, buku sumber yang relevan,
internet G. Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi
Waktu Pendahuluan Mengucapkan salam dan Berdoa (religius)
Memastikan peserta didik sudah dalam keadaan siap melaksanakan pembelajaran yang berkaitan dengan:
Kelas bersih (budaya hidup bersih)
Peserta didik berpakaian rapi dan bersih
Peralatan pembelajaran tersedia
Mencek Kehadiran peserta didik
Memberikan motivasi kepada peserta didik tentang manfaat dari penguasaan kompetensi bagi peserta didik (apersepsi)
Menjelaskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai peserta didik
5 menit
Inti Menampilkan gambar-gambar dengan berbagai sudut pengambilan gambar dan menayangkan video tentang teknik sudut pandang pengambilan gambar
Mengamati:
Peserta didik diminta mengamati tampilan dan tayangan yang disajikan untuk
menit30
mengidentifikasi hal-hal yang berkaitan dengan sudut pandang pengambilan gambar
Menanya:
Peserta didik menanyakan tentang hal hal yang tidak dipahami dari apa yang telah diamati pada tayangan pengambilan gambar dengan sudut pandang pengambilan gambar.
Mengumpulkan Data :
peserta didik mengumpulkan data untuk membandingkan informasi yang didapat dari tayangan video dengan modul mengenai sudut pandang pengambilan gambar
Mengasosiasi :
Peserta didik Menyimpulkan hasil
pengamatan/kajian literatur tentang sudut pandang pengambilan gambar,
Membuat laporan portofolio dalam berbagai bentuk seperti tulisan, foto dan gambar yang mendeskripsikan, pengertian sudut pandang pengambilan gambar Mengkomunikasikan :
Peserta didik Memaparkan hasil pengamatan/kajian literatur tentang sudut pandang pengambilan gambar
Mempresentasikan dengan tujuan untuk mengevaluasi/menguji hasil pengambilan gambar dengan menerapkan sudut pandang pengambilan gambar Penutup Melakukan refleksi/penyegaran
Membuat kesimpulan dari materi yang telah dibahas
Penguatan materi berupa tes tertulis
Penyampain gambaran materi berikutnya
Menutup pelajaran dengan berdoa bersama.
menit10
I. Penilaian a.Pengetahuan
Tes tertulis : Essay
Observasi diskusi
Penugasan : Menerapkan teknik pengambilan gambar dengan sudut pandang pemgambilan gamar bergerak
b.Sikap
Observasi : Jurnal c. Keterampilan
Unjuk kerja (praktek)
Produk
Mengetahui,
Kepala SMKN 3 Muaro Jambi
SRI DARMAYANTI, M.Pd NIP. 197405102000032006
Muaro Jambi, ...
Guru Mapel
IRWAN, S.Kom NIP. 197801012011011005
BAHAN AJAR
BAHAN AJAR
PROSEDUR PENGOPERASIKAN KAMERA VIDEO
1) Pendahuluan
Kamera merupakan salah satu aspek penting dalam suatu pembuatan video, fungsi kamera yaitu mengambil/merekam adegan-adegan yang diarahkan oleh sang sutradara kemudian divisualisasikan oleh pemain-pemain yang melakukan adegan-adegan.
Kamera dioperasikan oleh kru yang biasa disebut kameramen, kameramen mengoperasikan kamera sesuai dengan arahan sutradara. Untuk menjadi seorang kameramen harus mengetahui jenis-jenis kamera, mengenal cara-cara atau teknik memegang kamera, teknik pengambilan gambar, unsur- unsur dalam pengambilan gambar, dan sebagainya.
2) Pemilihan dan Persiapan Kamera
Jenis kamera yang digunakan dalam film sangat beragam jenisnya, namun secara garis besar kamera terbagi tiga yaitu :
a) Kamera foto (still photography)
Kamera foto menghasilkan gambar-gambar yang tidak bergerak (still single picture). Bahan baku penyimpanan gambar berasal dari pita selluloid, sehingga setelah melakukan perekaman harus diproses lagi dengan pemrosesan secara kimiawi. Contoh : kamera analog, kamera digital.
b) Kamera film (cinema photography)
Kamera film memiliki bahan yang sama dengan kamera foto namun hasil yang didapat berbeda, kamera film menghasilkan gambar yang bergerak atau biasa disebut still motion. Contoh : kamera 8 mm, 16 mm, 35 mm.
c) Kamera video (video photography)
Untuk kamera vide sendiri memiliki persamaan dengan kamera film karena menghasilkan gambar bergerak (still motion), namun yang membedakan yaitu bahan bakunya yang berupa kaset video yang setelah pengambilan gambar
hasilnya dapat langsung dilihat karena terjadinya gambar secara optis dan elektronis. Contoh : kamera Betacam, MiniDV, HDCam.
Pada saat ini terdapat beragam jenis kamera yang beredar di pasaran. Ada banyak aspek yang bisa dipertimbangkan dalam memilih kamera. Berikut adalah factor yang paling sering digunakan dalam memilih kamera:
a) Kemudahan Pengoperasian
Salah satu keputusan penting sebelum membeli kamera video untuk melihat bagaimana alat ini dioperasikan. Kameramen tentu tidak ingin kehilangan momen menarik yang ingin diabadikan hanya karena kamera membutuhkan beberapa kali tekanan tombol dan beberapa menit untuk mulai merekamnya.
b) Format Hasil Rekaman
Bagaimana hasil rekaman kamera video bisa dilihat? Apakah harus diserahkan terlebih dahulu ke profesional untuk mengubahnya ke format yang bisa dilihat, atau langsung saja plug ‘n play ke komputer atau TV dan hasilnya langsung kelihatan.
c) Resolusi Hasil Rekaman
Kualitas gambar kamera video akan sangat ditentukan oleh kualitas resolusinya.
Video kamera memiliki berbagai macam resolusi yang digambarkan mulai dari VGA sampai mega pixel. Sebagai perbandingan, layar monitor mungkin memiliki resolusi 640×480 atau 1024×768. Jika hasil rekaman adalah 352×288, maka untuk menampilkan full screen di layar monitor harus menarik gambar sehingga tidak sesuai dengan ukuran aslinya dan menjadi pecah.
d) Frame Per Second
Kamera yang baik memiliki jumlah Frame per second (FPS) yang tinggi. FPS yang rendah akan menyebabkan hasil rekaman video menjadi terputus-putus. Kamera video yang paling sederhana memiliki fps 15, hasilnya masih patah-patah.
Sedangkan fps 25 sudah cukup untuk dapat diikuti mata tanpa kelihatan terputus- putus dengan budget yang paling sedikit.
e) Manual Atau Otomatis?
Kamera high end memiliki full manual control. Fokus manual kontrol, kendali eksposur secara manual, manual white balance, manual tingkat audio DNS dan sebagainya. Kamera ini juga dapat mengatur kontrol otomatis jika kameramen berada dalam situasi bergerak, tetapi kontrol manual lebih disukai oleh videografer serius.
Dalam modul ini, kamera yang akan digunakan sebagai acuan praktek adalah AG-HMC72EN dari Panasonic. AG-HMC72EN adalah camcorder yang menggunakan format AVCHD dan kartu memori untuk memberikan kehandalan tinggi, mobilitas yang luar biasa, dan fungsi IT dengan biaya yang rendah untuk mencapai berbagai kebutuhan dalam video recording. Dilengkapi dengan 12x zoom lens dan Progressive 3CCD, camcorder ini menggunakan format AVCHD (H.264 kompatibel) untuk merekam gambar HD (High Definition) selama 90 menit (4GB SDHC - mode HE).
Dengan stabilitas di bahu, "zoom rocker control" yang berukuran besar, output headphone yang dilangkapi dengan "volume control" memiliki fitur profesional yang dapat membantu Anda mengambil gambar seperti profesional.
3) Pemasangan kamera, lensa, dan assesoris lain
Kamera terdiri dari beberapa bagian. Secara umum, bagian kamera terdiri dari lensa, tubuh kamera, dan Recorder (VCR). Secara spesifik, berikut adalah bagian-bagian pada kamera AG-HMC72EN.
Sebelum kamera digunakan, perlu dilakukan serangkaian pemasangan, pengaturan dan pengecekan peralatan sehingga pengambilan gambar dapat berjalan dengan baik dan lancar. Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum kamera digunakan:
a) Menyiapkan lensa, battery, dan media penyimpan
Lensa kamera biasanya dilengkapi dengan tutup pelindung yang berfungsi untuk mencegah debu mengotori kamera pada saat tidak digunakan. Lepaskan tutup lensa dengan cara menariknya dengan hati-hati. Selanjutnya pastikan battery dengan daya yang cukup terpasang dengan benar dan tidak goyang. Persiapan terakhir adalah memasang media penyimpanan. Pada kamera Panasonic AG- HMC72EN, media penyimpanan berbentuk kartu memory. Pastikan kartu memori dalam keadaan tidak terkunci sebelum dipasangkan ke kamera.
b. Mengambil Kamera
Jika pengambilan gambar dilakukan dengan posisi handheld (tanpa menggunakan ripod), maka biasakan mengambil dengan tangan kiri, agar lebih mudah jika akan dipanggul di bahu. Tapi jika kamera nantinya akan dipasangkan di tripod, usahakan untuk mengambil kamera dengan tangan kanan. Teknik pengambilan kamera ini mempermudah juru kamera saat akan memposisikan kamera.
c. Setting Kamera
Dalam proses ini, pengesetan dilakukan melalui menu di kamera. Tidak semua menu setting perlu diubah, karena ada beberapa yang sudah dibuat standar oleh pabrik. Setting yang paling sering dilakukan pada sound dan speeed record. Untuk Audio, sebaiknya gunakan 16 bit, sementara untuk speed record gunakan Standard Play (biasanya berdurasi 60 menit).Jika dalam kondisi daruratm speed record bisa diubah ke Long Play dengan durasi 75 menit)
d. Cek & Ricek
Sebelum proses rekaman dimulai, pastikan melakukan cek dan ricek untuk perlengkapan yang digunakan di dalam pengambilan gambar diantaranya:
- Apakah battery masih penuh atau belum dicharge (sebaiknya disediakan cadangan)
- Apakah mic tidak ada masalah - Apakah tripod berfungsi dengan baik - Apakah kabel sudah sesuai
- Apakah stok kaset tercukupi
- Apakah perlengkapan cahaya (lampu, reflector, lightmeter) berfungsi - Apakah cadangan listrik tersedia dengan cukup
- Apakah perlu mempersiapkan genset cadangan - Apakah kabel audio video dalam kondisi bagus.
4) Pemasangan peralatan pendukung kamera
Peralatan pendukung kamera bervariasi sesuai dengan kebutuhan kameramen.
Berikut ini adalah alat-alat pendukung yang biasa digunakan dalam pengambilan gambar.
a) Tripod
Penyangga kamera dengan tiga kaki berfungsi untuk membuat kamera stabil sehingga gambar yang diambil tidak bergoyang. Kamera dilekatkan dengan tripod melalui sebuat penampang kecil yang dapat dikunci pada knob yang ada di bagian atas kamera. Pergerakan kamera secara vertikal dan horizontal dilakukan dengan sebuah tungkai handle.
b) Lampu
Lampu diperlukan bila keadaan cahaya terlalu gelap, selain itu juga digunakan bila ingin membuat efek tertentu yang diinginkan. Terdapat berbagai jenis lampu yang bisa digunakan dalam produksi video. Jika memiliki dana yang terbatas, produksi video dapat memanfaatkan lampu yang ada dengan dimodifikasi sedemikian rupa, misalnya lampu belajar. Jika ingin memancarkan cahaya yang fokus dapay langsung diarahkan kepada objek, namun bila ingin cahaya yang lembut dapat dilapisi dengan kain polos yang halus.
c) Reflector
Alat ini berfungsi untuk memantulkan sumber cahaya dari alam atau lampu untuk memberikan cahaya tambahan. Di pasaran, pemantul ini tersedia dalam berbagai warna (putih, emas, perak), namun jika kemampuan dana terbatas, reflektor bisa dibuat dari selembar kain atau styrofoam.
d) Microphone
Meskipun kamera sudah dilengkapi dengan microphone internal, juga disarankan untuk memiliki microphone eksternal. Setiap microphone memiliki taraf hasil (level output) yang berbeda, sehingga dalam situasi yang berbeda tentunya microphone yang dibutuhkan berbeda pula.
e) Earphone
Earphone digunakan untuk mendeteksi mutu suara yang dihasilkan oleh microphone. Dengan menggunakan earphone, segera akan diketahui jika micrphone tidak berfungsi bagus dan ada kerusakan suara.
5) Menguji aspek pengoperasian kamera
Sebelum digunakan untuk mengambil gambar, beberapa aspek kamera perlu diuji terlebih dahulu agar hasil pengambilan gambar sesuai dengan harapan.
Nyalakan terlebih dahulu kamera sebelum melakukan pengujian dengan Putar tombol mode pada saat menekan tombol pembuka kunci (A) jika berubah dari OFF menjadi sejajar dengan indicator status (B)
Setelah kamera menyala, lakukan pengujian untuk beberapa aspek berikut:
a) White Balance
White balance bertujuan untuk mensosialisasikan lensa kamera dengan keadaan sekitar objek perekaman. Hal ini dilakukan karena setiap tempat memiliki cuaca, kepekaan cahaya, dan tekstur yang berbeda, sehingga dengan mengatur white balance akan didapatkan gambar ideal yang sesuai dengan lingkungan bersangkutan.
b) Focusing
Focusing adalah usaha mencari gambar objek yang paling jauh dari semua objek dengan ukuran gambar (frame size) paling dekat (extreme close up) dan memposisikan gambar sejelas mungkin dengan memutar ring focus. Selanjutnya juru kamera bisa melakukan zoom in – zoom out untuk mendapatkan variasi gambar yang diperlukan. Jika zoom digunakan sebelum Focusing akan terjadi blur (out of focus) saat posisi zoom in berakhir di zoom out. Para kameramen pemula biasanya menggunakan mode auto untuk white balance dan focus.
c) Zooming
Zooming digunakan untuk memperbesar atau memperkecil objek tanpa memindah kamera. Dalam tombol zoom terdapat dua pilihan yaitu Zoom In untuk memperbesar objek (T) dan Zoom Out untuk memperkecil objek.
d) Microphone
Penggunaan Microphome internal banyak digunakan terutama jika kondisi dana terbatas. Atur saklar Audio In (CH1 dan CH2) hingga beralih ke posisi front. CH1 akan merekam audio ke saluran kiri (L-Ch) sementara CH2 akan merekam audio ke saluran kanan (R-Ch).
Jika semua aspek tersebut dilakukan dengan baik dan sukses, maka proses pengambilan gambar siap dilakukan
6) Pelepasan kamera dan peralatan pendukung
Setelah proses pengambilan gambar selesai, kamera dapat dimatikan dengan cara memutar tombol mode ke arah OFF.
Jika kamera sudah dimatikan, lepaskan kamera dari tripod dengan cara menggeser kunci knob atas ke belakang sambil menarik kamera ke atas. Beberapa hal berikut harus dipahami untuk merawat kamera agar awet dan tidak cepat rusak:
a) Jika kamera digunakan dalam waktu yang lama, bodi kamera akan menjadi panas, namun ini bukan gangguan.
b) Jauhkan kamera dari peralatan yang menghasilkan medan magnet seperti ponsel, mikrowave oven, TV dan perlangkapan video game.
c) Jangan menggunakan kamera di dekat transmitter MULTIMEDIA atau kabel bertigangan tinggi.
d) Jangan menyemprotkan pembasmi saranga atau zat kimia. Jika tersemprot zat kimia, bodi kamera akan berubah bentuk dan lapisan permukaan akan terkelupas.
e) Jika menggunakan kamera di pantai atau di tempat yang berpasir, lindungi kamera agar tidak basah dan berpasir.
f) Jangan sampai terantuk atau terjatuh.
g) Jangan menggunakan bensin, cat atau alkohol untuk membersikan kamera.
h) Bersihkan kamera dengan kain yang lembut dan kering.
i) Jika LCD kotor, bersikan dengan kain lembut dan kering.
j) Pengembunan dapat terjadi pada LCD monitor, lap dengan kain lembut dan kering.
k) Untuk membersikan viewfinder, terlibih dulu lepas viewfinder, lalu bersihkan. Jika debu sulit dibersikan, gunakan kapas basah (jangan terlalu basah).
Setelah dipastikan bahwa selama digunakan sampai dimatikan kamera tidak mengalami permasalahan, lepas battery dari kamera, kemudian pasang tutup pelindung lensa. Terakhir masukkan kamera beserta perangkat pendukungnya ke dalam tas penyimpanan.
TEKNIK PENGAMBILAN GAMBAR 1) Sudut Pengambilan Gambar
Terdapat lima sudut pengambilan gambar. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda sehingga karakter dan pesan yang dikandung dalam setiap shoot berbeda pula. Kelima angle tersebut adalah bird eye view, high angle, eye level, low angle, dan frog angle.
a) Bird Eye View
Adalah teknik pengambilan gambar yang dilakukan oleh juru kamera dengan posisi kamera di atas ketinggian objek yang direkam. Hasil perekaman teknik ini memperlihatkan lingkungan yang begitu luas dengan benda-benda lain yang tampak di bawah begitu kecil dan berserakan tanpa mempunyai makna. Sudut pengambilan gambar ini biasanya dilakukan dari helicopter atau dari gedung bertingkat tinggi.
b) High Angle
Sudut pengambilan gambar ini lebih rendah dari yang pertama. High angle merupakan pengambilan gambar dari atas objek. Selama kamera di atas objek maka sudah dianggap high angle. Dengan high angle maka objek tampak lebih kecil. Kesan yang ditimbulkan dari pengambilan gambar ini adalah lemah, tak berdaya, kesendirian, dan kesan lain yang mengandung konotasi dilemahkan atau dikerdilkan.
c) Eye Level
Eye level adalah pengambilan gambar dengan posisi kamera sejajar objek. Sudut pengambilan ini adalah standar yang dilakukan oleh juru kamera. Hasilnya memperlihatkan tangkapan pandangan mata seseorang yang berdiri atau pandangan mata seseorang yang mempunyai ketinggian tubuh tepat tingginya sama dengan objek.
d) Low Angle
Low angle merupakan pengambilan gambar di bawah objek. Juru kamera juga sering mengemas low angel dengan mengambil gambar objek diawali dengan tilt up (dari bawah ke atas. Kesan yang ditimbulkan dari pengambilan gambar ini adalah berkuasa. Seseorang yang ditampilkan dengan sudut pengambilan ini akan mempunyai kesan dominant
e) Frog Angle
Frog angle adalah pengambilan gambar yang dilakuakn juru kamera dengan ketinggian kamera sejajar dengan dasar (alas) kedudukan objek. Dengan teknik ini dihasilkan suatu pemandangan objek yang besar, terkadang mengerikan dan bisa juga penuh misteri.
Sudut pandang ini mempunyai kesan dramatis untuk memperlihatkan sesuatu pemandangan yang aneh, ganjil, kebesara, atau sesuatu yang menarik tapi diambil dengan variasi tidak biasanya.
2) Frame Size
Frame size adalah rasio ukuran objek yang direkam dalam bingkai layar. Tabel berikut ini menjelaskan jenis-jenis frame size.
ELS( Extreme Long Shot)
Shot sangat jauh, menyajikan bidang pandangan yang sangat luas, kamera mengambil keseluruhan pandangan. Obyek utama dan obyek lainnya nampak sangat kecil dalam hubungannya dengan latar belakang.
LS (Long Shot)
Shot sangat jauh, menyajikan bidang pandangan yanglebih dekat dibandingkan dengan ELS, obyek masih didominasi oleh latar belakang yang lebih luas.
MLS (Medium Long Shot)
Shot yang menyajikan bidang pandangan yang lebih dekat dari pada long shot, obyekmanusia biasanya ditampilkan dari atas lutut sampai di atas kepala.
MS (Medium Shot)
Di sisni obyek menjadi lebih besar dan dominan, obyek manusia ditampakkan dari atas pingang sampai di atas kepala. Latar belakang masih nampak sebading dengan obyek utama.
MCU (Medium Close Up)
Shot amat dekat, obyek diperlihatkan dari bagian dada sampai atas kepala.
MCU ini yang paling sering dipergunakan dalam televise.
CU (Close UP)
Shot dekat, obyek menjadi titik perhatian utama di dalam shot ini, latar belakng nampak sedikit sekali. Untuk obyek manusia biasanya ditampilkan wajah dari bahu sampai di atas kepala.
ECU (Extrime Close Up)
Shot yang menampilkan bagian tertentu dari tubuh manusia. Obyek mengisi seluruh layar dan jelas sekali detilnya.
BCU (Big Close Up)
Shot yang menampilkan bagian tertentu dari tubuh manusia. Obyek mengisi seluruh layar dan jelas sekali detilnya.
3) Objek Yang Direkam
Dalam pengambilan gambar, ada beberapa pembagian objek yang selanjutnya dijabarkan sebagai berikut:
1 S (one shot) Memperlihatkan seseorang dalam fram 2 S (two shot) Adegan dua objek sedang berinteraksi 3 S (three shot) Adegan tiga objek sedang berinteraksi GS (groups shot) Banyak objek sedang berinteraksi
PERGERAKAN KAMERA
1) Jenis-jenis pergerakan kamera a) Zooming
Dalam teknik ini, secara fisik kamera memang tidak bergerak, yang digunakan adalah tombol zooming pada kamera. Jika tombol zooming ditekan ke belakang, objek akan terlihat menjauh (zoom out), sementara jika tombol zooming ditekan ke depan, objek atan terlihat mendekat (zoom in).Dalam pembuatan film, teknik ini kurang disarankan, alasannya dalam sebuah adegan durasi yang digunakan adalah satuan detik. Jika menggunakan teknik zooming, efek yang akan diperlihatkan sering kali tidak tersampaikan.
b) Titling
Dalam teknik ini, objek diambil dengan memperlihatkan sosok dari bawah kemudian bergeser sedikit demi sedikit ke atas (titling up), atau sebaliknya (titling down). Dengan cara ini, penonton disuguhi gambaran sosok secara perlahan sehingga menimbulkan penasaran.
c) Dolly shoot
Dalam teknik ini, juru kamera akan menggunakan dolly (seti tiga beroda yang diletakkan di bawah kaki-kaki tripod). Pengambilan gambar dengan teknik dolly ini ada dua, jika kamera dengan dolly digerakkan mendekati objek disebut dolly in, semetara jika kamera bergerak menjauhi objek disebut dolly out.
Ada pulat alat yang disebut dinky dolly, yaitu semacam kamera di atas rel yang bisa naik turun dan didorong untuk mendapatkan gambar yang variatif.
d) Panning
Dalam teknik ini, kamera digeser secara horizontal mengikuti urutan objek, baik ke kiri atau ke kanan. Jika kamera di geser ke kiri disebut pan left, sementara jika digeser ke kanan disebut pan right. Waktu standar untuk melakukan panning berkisar antara 3 sampai 5 detik.
e) Crane shoot
Dalam teknik ini, kamera ditempatkan pada crane yang bisa dikontrol.
Dalam perkembangan saat ini, crane berkembang semakin canggih dengan berbagai ukuran mulai dari 3 m, 5, m, bahkan 9 m tergantung kebutuhan.
Dengan alat ini, sudut pengambilan menjadi sangat bebas, dari low angle, high angle, sampai meliuk.
f) Follow
Dalam teknik ini, kamera bergerak mengikuti objek. Jika objek bergerak ke depan, maka kamera mengikuti dengan cara mundur.Alat yang digunakan agar kamera bergerak mengikuti gerakan objek tidak terbatas, bisa menggunakan rel, kendaraan, dan sebagainya.
g) Arc
Dalam teknik ini, kamera bergerak mengelilingi objek. Dengan menggunakan teknik ini, objek akan terlihat secara utuh dari berbagai sudut pandang karena setiap bagian direkam oleh kamera yang berputar.
2) Teknik Pengambilan Gambar
Ada beberapa teknik dalam pengambilan gambar yang bisa digunakan untuk menghasilkan gambar yang sesuai dengan kebutuhan.
a) Backlight Spot
Dalam teknik ini, pengambilan gambar memperlihatkan wajah yang berbayang karena diabaikan oleh lensa kamera. Lensa kamera lebih mengejar cahaya di belakang objek sehingga objek menjadi tidak terkena cahaya. Pada prinsipnya, kamera selalu mengejar cahaya yang lebih terang, sehingga jika ada objek yang menghalangi cahaya maka objek tersebut akan terlihat gelap.
Efek yang terjadi adalah objek terlihat tidak jelas, sementara background tampak terang benderang. Semakin terang cahaya background, maka semakin gelap objek.
b) Reflection shoot
Dalam teknik ini, juru kamera tidak membidik objek langsung ke sasaran, tetapi justru ke benda-benda yang mengandung bayangan (refleksi) atau pantulan objek.
Jika dilakukan di kamar, maka cermin bisa digunakan sebagai reflektor, jika dilakukan di taman, kolam bisa dijadikan sebagai reflektor. Kesan yang ditimbulkan cukup dramatis karena pengaruh media yang digunakan.
c) Door frame shoot
Dalam teknik ini, pengambilan gambar dilakukan dengan membuka sebuah pintu sedikit demi sedikit kemudia melongok ke dalamnya. Seolah juru kamera mengintip tapi melalui pintu yang sedikit terbuka.
Biasanya teknik seperti ini memberikan kesan menegangkan, misalnya dalam film horor. Penonton menjadi penasaran pada peristiwa yang terjadi di balik pintu.
d) Point of View (POV)
Dalam teknik ini, posisi kamera berada diagonal dengan objek. Ada dua jenis POV, yakni kamera sebagai subjek dan kamera sebagai objek.
Sebagai subjek, kamera membidik langsung ke objek seolah subjek bertemu langsung ke objek. Dalam teknik ini komposisi dan ukuran gambar harus diperhatikan.
Sebagai objek, kamera adalah seperti orang ketiga. Sebagai orang ketiga tugas kamera layaknya pendengar dalam obrolan. Sebagai pendengar, dia akan selalu memperhatikan orang yang berbicara.
e) Artificial Framing shoot
Dalam efek ini, juru kamera menempatkan benda-benda di depan kamera sehingga efek yang muncul adalah keindahan karena kamera tidak langsung membidik objek, tetapi terhalangi oleh benda yang menjadi foreground.
f) Jaws Shoot
Dalam pengambilan gambar, biasanya objek tahu jika gambarnya akan di-shot.
Tapi dalam teknik ini justru seolah-olah objek tidak tahu sehingga ketika kamera menyorot ke arahnya dia terlihat kaget, tapi dalam situasi yang dramatik.
g) Framing with Background
Dalam teknik ini, fokus tetap di depan, tapi latar belakangnya dimunculkan untuk memberi kesan lain terhadap objek tujuan.
Objek berada dalam kondisi yang benar-benar tegas dan tajam, sementara background dibiarkan buram karena tidak ada kaitannya dengan objek.
h) The Secret of Foreground Framing Shoot
Dalam teknik ini, objek berada di depan, tapi background mempengaruhi dan ada kaitannya dengan objek.
Pada awalnya background dibuat agak buram, lama kelamaan background dibuat lebih jelas seiring alur cerita yang dikehendaki.
i) Artificial Hairlight
Pada efek ini, rambut objek diberi efek cahaya buatan sehingga menimbulkan efek bersinar.
Selain untuk menambah penampilan, teknik ini juga unruk memberi batas antara objek dengan background sehingga tampak lebih terpisah antara objek dan latar belakangnya.
j) Fast Road Effect
Teknik pengambilan gambar ini memperlihatkan juru kamera berada di dalam kendaraan yang sedang melaju kencang.
Kesan yang ditimbulkan adalah pemandangan jalan yang bergerak begitu cepat memperlihatkan efek kecepatan mobil objek.
k) Walking Shoot
Pada teknik ini, juru kamera mengikuti objek yang berjalan.
Kesan yang ditampilkan adalah orang yang sedang berjalan terburu-buru atau dalam kondisi dikejar-kejar sesuatu.
l) Traveling Shoot
Pada teknik ini, juru kamera menempatkan kamera seolah berjalan-jalan menikmati pemandangan. Teknik ini biasanya digunakan pada film-film action untuk menampilkan keindahan pemandangan.
m) Overshoulder Shoot
Pada teknik ini, objek diambil melalui bahu pemain.
Teknik ini mempunyai kesan menarik karena seolah lensa kamera mewakili pandangan seorang pemain.
MENGOPERASIKAN CLAPPERBOARD
Dalam film dan produksi video, clapperboard adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk membantu dalam sinkronisasi gambar dan suara, selain itu, clapperboard yang digunakan untuk memilih dan menandai adegan tertentu dan pengambilan rekaman selama produksi. Banyak nama lain yang umum digunakan, termasuk clapper, clapboard, slate, dan sticks.
Clapperboards modern saat ini umumnya menggunakan sepasang tongkat kayu dan papan tulis di atas kaca akrilik transparan yang tidak memerlukan pencahayaan tambahan dari sisi kamera untuk dapat dibaca. Beberapa versi terakhir menggunakan papan tulis elektronik versi SMPTE dengan nomor LED.
Pada clapperboard disisipkan garis diagonal hitam dan putih dalam rangka untuk memastikan visual yang jelas terlihat pada semua kondisi pencahayaan, tapi dalam beberapa tahun terakhir tongkat dengan garis-garis warna dimodifikasi juga menjadi tersedia.
Pada sebuah clapperboard, informasi yang tersaji di dalamnya meliputi tanggal, judul produksi, nama sutradara, nama pengarah kamera, dan informasi
scene. Ada dua model penulisan tentang informasi scene yang popular saat ini, yaitu model amerika dan model afrika.
Informasi scene model amerika mencantumkan informasi tentang nomor scene (scene number), sudut pengambilan gambar (camera angle), dan nomor pengambilan gambar (take number). Contoh scene 23, C, take 3. Sementara informasi scene model eropa terdiri dari nomor papan (slate number), nomor pengambilan gambar (take number) yang dilengkapi dengan kode kamera jika menggunakan beberapa kamera. Contohslate 256, take 3C.
Clapperboard dioperasikan oleh seorang kru yang disebut clapper loader.
Kru ini bertanggung jawab penuh untuk mengoperasikan clapperboard sekaligus perawatannya. Dalam pekerjaannya, clapper loader selalu berhubungan dengan script supervisor yang bertanggung jawab untuk menentukan sistem dan nomor yang akan digunakan.
Pada saat pengambilan gambar, ada sebuah isyarat verbal untuk pengambilan gambar. Clapperboard diletakkan di depan kamera dan diambil gambarnya selama beberapa saat. Setelah informasi dalam clapperboard terekam pengambilan gambar berjalan berjalan seperti biasanya.
DAFTAR PUSTAKA
PengenalanKamera;http://komunikasi-
pembangunan.blogspot.com/2010/02/pengenalan-kamera.html; download 28 April 2010http://purnawan.web.id/2009/03/battery-dan-kaset-kamera-video-analog/
http://panasonic.com.au/products/information.cfm?detailsID=134&contextID=42
BELAJAR FOTOGRAFI
ZOOM (zoom)
Zooming adalah teknik pemotretan untuk memperoleh hasil foto dengan kesan objek mendekat/ menjauhi kamera. untuk itu digunakan lensa zoom. kecepatan yang digunakan sama dengan kecepatan yang digunakan pada teknik pemotretan panning,yaitu rendah atau dibawah 1/60, supaya saat tirai masih membuka sebelum menutup, ring zoom dapat diputar melebar atau memanjang sesui objek foto, sehingga diperoleh foto yang berkesan objek foto mendekat/
menjauh. Fokus sudah dilakukan sebelum ring zoom diputar (prefocus). Memotret zooming bisa menggunakan dengan flash.
Untuk mempelajari teknik Zooming its not too hard, berikut sedikit tips fotografi dalam pengambilan gambar teknikZooming:
1. Fokuskan object tepat ditengah kemudian di zoom sampai full dekat.
2. sambil memencet tombol shoot putar gelang zoom ke zoom out atau menjauh.
3. Untuk lebih aman terhadap lensa gunakan pilihan manual Focus.
4. Gunakan speed sedikit rendah misal 1/10s dan diafragma menyesuaikan.
5. sebaiknya menggunakan tripod untuk menjaga fokus agar maksimal.
6. untuk memperoleh kesan zooming yang meanarik, pilih background yang memiliki kontras dan banyak warna.
PANNING
Panning adalah salah satu teknik fotografi yang digunakan untuk membekukan gerakan pada benda yang bergerak. Cara melakukan panning adalah dengan menggerakkan kamera searah dengan arah gerakan obyek yang ingin dibidik sehingga obyek akan tampak fokus, sementara background akan tampak kabur/blur. Jangan takut hanya karena ada kata “teknik”, cara melakukan panning dapat dibilang cukup mudah. Berikut beberapa tips melakukan panning:
1. Jangan gunakan tripod, untuk mengikuti arah gerakan obyek kamera harus bisa bergerak luwes
2. Set kamera pada mode Shutter Priority (S atau Tv)
3. Shutter speed yang digunakan untuk panning adalah antara 1/30 sampai dengan 1/8, jadi set kamera diantara angka tersebut
4. Cari obyek bergerak yang akan dipanning (tips: pilihlah background yang berwarna-warni untuk panning sehingga hasil blur dari background makin menarik)
5. Arahkan kamera mengikuti obyek yang bergerak dan pencet separuh tombol release untuk mengambil fokus.
6. Usahakan tangan bergerak selembut mungkin, gerakan kejut yang mendadak bisa mengakibatkan hasil foto yang tidak menarik
7. Saat tangan kita sudah ‘seirama’ dengan gerakan obyek, pencet tombol release untuk mengambil eksposur
8. Makin banyak berlatih, tangan dan mata kita akan semakin terasah!
Cara focus untuk panning :
Saat foto panning, kita bisa memakai autofokus ataupun manual fokus. Namun bagi pemula untuk lebih mudahnya dapat atur Auto Focus mode ke AF-C (Nikon) atau AI Servo (Canon). Mode ini digunakan pada saat kita harus mengikuti subjek foto yang terus berpindah
posisi.
Set frame yang cukup lebar, jangan terlalu ketat, kasih ruangan didepan dan belakang subyek sehingga kita cukup leluasa melakukan panning dan subyek secara utuh tertangkap dalam frame.
Pengaturan shutter speed panning :
Shutter speed untuk membuat foto panning orang yang naik sepeda tentu berbeda dengan shutter speed untuk foto panning balapan motor tentunya. Sama- sama balapan motor namun kalau motornya melaju lurus tepat didepan kita atau sedang berbelok ditikungan juga berbeda.
Aturannya adalah, saat objek foto yang dibidik tampak kurang tajam naikkan shutter speednya. Saat background kurang blur, turunkan shutter speednya.
Berikut beberapa contoh shutter speed yang bisa dipakai diawal, namun semuanya tetap harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan:
Orang joging/ sepeda biasa dijalanan: 1/20 detik
Sepeda gunung uphill/downhill: 1/30 sampai 1/50 detik
Mobil: sekitar 1/50 detik
Balapan motor/mobil : 1/100 sampai 1/200 detik
Teknik Pembekuan, Bluring, Panning, Bulb, Zooming dan Deep of Field dengan Kamera DSLR
Kali ini saya akan membahas kembali mengenai fotografi, lebih spesifiknya yaitu teknik memotret atau mengambil gambar. Selain pencahayaan, dala fotografi kita juga harus mengetahu teknik dalam memotret atau membidik objeknya. Dengan menggunakan kamera jenis DSLR teknik tersebut sangat mudah untuk di aplikasikan.
Di sini kita akan membahas teknik Freezing, Bluring, Panning, Bulb, Zooming dan Deep of Field. Teknik tersebut merupakan teknik yang populer dan sering digunakan oleh banyak orang terutama yang suka dengan dunia fotografi. Bagi para pemula atau yang baru mempunyai kamera jenis DSLR tentunya penasaran dan mencari tahu cara memotret sehingga bisa mengasilkan gambar seperti itu bagaimana?
Tekniknya seperti apa?
PEMBEKUAN
Seperti namanya, teknik freesing adalah teknik untuk “membekukkan objek”
yang kita bidik dengan kamera. Salah satu teknik ini memungkinkan kita bisa menangkap objek yang mungkin tidak bisa dilihat secara kasat mata. Sebagai contoh, kita sedang memotret sebuah kegiatan olahraga, katakanlah olahraga itu sepak bola . Ketika seorang fotografer mendapatkan sebuah momen yang tepat, misalnya ketika terjadi pelanggaran, kita bisa melihat dari hasil jepretan kalau pelanggaran itu hanyalah diving saja, namun kalau kita melihat secara
langsung diving tersebut tidak kellihatan karena berlangsung secara cepat sekali.
Cara mengaplikasikan teknik ini cukup mudah, kita tinggal menggunakan speed yang tinggi ketika memotret maka secara otomatis kita akan mendapatkan foto yang membeku. Untuk mendapatkan speed yang tinggi, ada beberapa hal yang perlu di perhatikan namun yang paling penting adalah cahaya. Pencahayaan yang dimiliki oleh objek haruslah baik, karena jika kita berada dalam kondisi low light, maka kamera akan secara otomatis sulit untuk mendapatkan speed yang tinggi.
Selain itu, kita juga harus memprediksi berapa kecepatan gerak objek yang akan kita bidik. Misalnya saja kita ingin menghentikan gerakan seseorang yang sedang berjalan santai, maka speed yang dipakai tidak harus terlalu tinggi, lain halnya jika kita ingin membidik orang yang sedang berlari di arena pertandingan, tentu kita butuh speed yang tinggi.
Seperti yang sudah di jelaskan pada artikel sebelumnya, kamera memiliki kecepatan dalam membuka dan menutup rana, kecepatan inilah yang membiarkan cahaya masuk. Semakincepat cahaya masuk, semakin sedikit pula gerakan yang terekam. Itulah logika sederahananya dalam mengatur shutter speed dan melakukan freezing. Selain itu, kita juga bisa menghentikan objek melalui flash serta lampu. Hal seperti ini biasanya dilakukan oleh para fotografer yang bekerja di studio foto untuk menghentikan gerakan yang dihasilkan dari gerak benda mati. Contohnya ketika seorang fotografer memotret gelas yang dijatuhkan kemudian pecah menjadi serpihan kecil, air minum yang dituangkan dari botol ke gelas, dan lain-lain.
Gambar 1. Contok foto oleh freeze
Kenapa cahaya bisa menghasilkan foto yang beku? Ketika kita memotret objek dan dibantu dengan tembakan flash, maka secara otomatis kamera akan menangkap visual pada saat objek tersebut terkena cahaya. Jadi secara otomatis, kamera akan mengabaikan gerakan yang lain kecuali kita memeasang shutter speed di nomor yang sangat rendah atau bulb.
BLURING
Hasil jepretan kamera yang blur mungkin sangat tidak bagus untuk dilihat,blur tersebut biasanya dilakukan oleh seseorang yang tidak tahu mengenai teknik pengambilan gambar, entah itu tidak fokus terhadap objek maupun goyang saat memotret sehingga gambarnya blur. Lain halnya dengan teknik bluring, ketika seorang fotografer tersebut menangkap blur yang dihasilkan gerakan atau benda yang biasa disebut dengan motionblur. Dengan mengaburkan objek yang bergerak, kita bisa membuat kesan cepat pada objek tersebut.
Teknik ini akan lebih baik jika ada beberapa bagian dalam sebuah frame yang freeze. Jadi tidak semua objek dalam foto yang kita ambil tidak jelas.
Gambar 2. Foto dengan teknik bluring
Cara untuk mengaplikasikan teknik blur ini adalah dengan memainkkan shutter speed. Jika untuk membekukan objek kita harus menggunakan shutter speed yang tinggi, maka ketika melakukan teknik ini, yang perlu kita lakukan adalah men-setting shutter speed di nomor yang rendah. Namun jika kita men-setting shutter speed sangat rendah, maka jangan ragu untuk memakai alat bantu seperti tripod. Pemakaian tripod ini akan mengurangi goncangan yang mengakibatkan foto terlihat buruk. Selain itu, hindari flash, karena ini dapat membekukan gerakan objek.
PANNING
Mungkin kita pernah melihat foto di Majalah-majalah, yang visual-nya adalah objek tegas lalu belakangnya kabur seperti bergerak. Foto tersebut diambil dengan teknik yang disebut Panning. Teknik ini hanya bisa digunakan ketika kita memotret objek yang bergerak. Semakin cepat gerakannya maka akan lebih baik, karena ini akan membuat efek blur yang diciptakan juga semakain halus.
Cara untuk melakukan efek ini adalah dengan mengunci fokus pada objek yang bergerak, lalu kita pasang shutter speed di angka yang kira-kira tidak akan membuat objek bergerak tersebut menjadi blur. Tapi ingat, jangan pasang shutter speed terlalu tinggi, karena jika shutter-nya terlalu tinggi kita akan sulit memberikan efek blur pada background. Selanjutnya, ketika kita memotret arahkan kamera searah dengan objek yang bergerak tadi. Hal tersebut wajib dilakukan ketika rana dalam kamera terbuka. Hasilnya, kita akan mendapatkan sebuah foto yang memiliki background blur, tetapi objek yang bergerak tersebut menjadi freeze.
Gambar 3. Contoh foto dengan teknik panning
Untuk berlatih, kita bisa menyuruh teman kita untuk berlari, tetapi tidak usah terlalu cepat dan juga jangan terlalu lambat seperti jogging. Mungkin untuk pertama kali kita akan merasa kesulitan karena harus menyesuaikan fokus dan juga menjaga stabilitas kamera ketika memotret. Namun lama kelamaan, kita akan terbiasa. Teknik ini juga memiliki daya tarik yang cukup mengasyikan dan pastinya seru. Sedikit tips ketika melakukan teknik Panning ini adalah sebisa mungkin gunakan auto fokus yang bisa kita setting pada tombol di
samping lensa. Yang kedua kita berlatih jangan gunakan diafragma yang kecil, karenaini berarti ini akan memberikan titik fokus yang semakin sempit pada objek. Jarak juga akan mempengaruhi hasil, kita akan sedikit kesulitan jika memotret teknik ini dengan jarak yang cukup dekat, jadi ada baiknya juga penempatan objek kita atur, berikan space kosong dalam frame untuk objek berlari. Ini akan lebih baik lagi karena ini akan mempermudah kita dalam menangkap objek yang bergerak.
BOHLAM
Teknik ini relatif hanya bisa dilakukan di malam hari atau tempat yang minim cahaya, karena kurangnya cahaya yang menyinari objek dan memungkinkan kita untuk membuka rana secara lama. Kita mungkin pernah melihat sebuah foto yang berlatarkan gedung pencakar langit, lalu kendaraan yang bergerak seperti sinar laser. Teknik ini dikenal dengan nama long exposure.
Gambar 4. Contoh foto teknik bulb (lokasi royal ambarukmo jogja)
Cara membuat foto ini adalah dengan melakukan pengaturan pada kamera, kamera kita harus berada dalam shutter yang sangat rendah serta bairkan rana yang ada dalam kamera tebuka lama, ini akan membuat kendaraan- kendaraan yang bergerak hanya terambil gerakan sorotan lampunya saja.
Sayangnya teknik ini hanya bisa dilakukan pada kamera yang mempunya pengaturan shutter speed manual atau yang mempunyai mode bulb, contohnya kamera DSLR. Mode bulb adalah sebuah mode yang memungkinkan kita mengatur bukaan rana secara manual. Jadi, ketika kita menahan tombol kamera, maka selama itulah rana yang berada di dalam kamera akan terbuka. Rana akan terbuka selebar-lebarnya selama mungkin.
Tripod adalah sebuah perlengkapan wajib ketika kita mengaplikasikan teknik bulb ini. Karena kekuatan tangan tidak akan mampu menahan kamera agar tetap stabil atau tidak tergoncang. Jika kita bergerak sedikit saja, maka hasilnya akan sangat tidak baik, karena kestabilan kamera adalah kunci untuk melakukan teknik ini. Kita juga harus bisa memperkirakan cahaya yang akan
masuk, apakah ini terlalu terang atau tidak nantinya. Sebenarnya hal ini bisa diukur oleh lightmeter. Bisa oleh lighmeter yang ada dalam kamera atau alat lightmeter manual.
Jika kita mempunyai remote control, mungkin itu lebih baik. Karena dengan remote control akan sedikit mengurangi getaran yang dihasilkan ketika kita memencet tombol pada kamera. Hal ini juga bisa untuk meminimalisir shutter lag. Diafragma juga akan mempengaruhi hasil foto kita nantinya. Akan ada perbedaan yang cukup signifikan ketika memakai diafragma dengan bukaan yang kecil dan bukaan yang besar. Jika kita memakai diafragma dengan nomor yang besar, maka pancaran cahaya lampu akan berbentuk seperti bintang. Namun jika kita memakai diafragma dengan nomor yang kecil, maka lampu akan lebih statis.
ZOOMING
Teknik ini hanya bisa dilakukan oleh kamera yang memiliki lensa zoom.
Pengertian lensa zoom disini tidak harus telephoto lens, tetapi lensa yang bisa zoom dan bentuknya tidak fixed lens. Contohnya adalah 18-5mm 24-105, dan setiap lensa lain yang memiliki jarak untuk di-zoom.
Efek ketika kita menggunakan teknik ini adalah foto yang kita dapat akan menjadi seperti foto panning. Perbedaannya adalah motion blur yang dihasilkan adak sedikit berbeda. Jika menggunakan teknik foto ini dalam memotret, akan memberikan kesan objek bergerak secara cepat ke depan atau ke belakang.
Cara untuk mengaplikasikan teknik ini adalah dengan memakai shutter speed yang rendah. Setelah kita mengatur shutter speed, selanjutnya tentukan titik fokus pada objek. Tidak seperti teknik panning, objek yang akan kita potret tidak harus bergerak. Karena yang akan kita gerakkan adalah lensa dari kamera kita. Selanjutnya, lakukan zooming pada saat rana dari kamera kita terbuka. Zooming ini harus dilakukan secara cepat. Kita harus sudah selesai melakukan zooming sebelum rana dari kamera yang kita pencet tertutup.
Karena itulah kenapa kita harus menggunakan shutterspeed yang relatif rendah.
Jika tangan kita tidak kuat menahan beban kamera , gunakanlah tripod.
Karena hala ini dapat mengurangi goncangan. Tips lainnya dalam melakukan teknik ini adalah dengan menaruh objek pada tengan frame. Efek yang diberikan ketika kita menggerakan lensa pun akan berbeda. Kalau kita melakukan zoom-in, maka fotoakan seperti menjorok ke dalam. Sebaliknya, jika kita menggunakan efek zoom-out, maka objek utama kita seperti menjorok keluar.
DEEP OF FIELD
Salah satu hal yangpaling penting dalam fotografi adalah focus of interset. Ini merupakan satu hal yang paling ingin kita tonjolkan dalam frame. Hal ini bisa apapun, dan bukan berarti hal ini harus menjadi bagian yang paling besar dalam frame kita. Bisa saja malah satu bagian yang paling kecil dalam frame kita.
Deep of field adalah salah satu teknik sederhana yang berfungsi untuk memfokuskan mata orang yang melihat karya fotografi kita. Teknik ini adalah teknik mengaburkan beberapa bagian dalam foto dan memfokuskan bagian yang lainnya. Caranya adalah lakukan focussing yang benar pada objek yang kita inginkan menjadi point of interest. Setelah itu set diafragma yang kita miliki menjadi nomor terkecil.karena semakin kecil diafragma akan semakin terasa efek ini. Selanjutnya potretlah objek tersebut.
Gambar 5. Contoh foto Deep of field (Andez Jogja)
Seperti telah dibahas pada artikel sebelumnya, bahwa bukaan diafragma akan sangat mempengaruhi ketegasan dan juga lebar atau sempitnya titik fokus.
Untuk menghasilkan foto dengan teknik seperti ini, dibutuhkan bukaan diafragma yang sangat kecil. Selain memainkan diafragma, ketika kita ingin membuat sebuah objek menjadi blur, jarak juga sangat mempengaruhi.
Semakin dekat kita terhadap objek, maka blur yang dihasilkan lewat focussing juga akan semakin baik lagi. Ada tips sederhana lain untuk membuat efek blur yang dihasilkan lebih maksimal. Dekati objek dan jauhkan ia dengan background.
Reference : Fotografi untuk pemula & orang awam secaraotodidak by Rangga A.
PENGERTIAN TEKNIK PENGAMBILAN GAMBAR DAN PERGERAKAN KAMERA Oke disini kampusminiuntuksukses.blogspot.com akan menjelaskan pengertian tentang teknik pengambilan gambar dan pergerakan kamera :
1. Panning : pergerakan kamera secara horizontal, dari kiri kekanan atau bisa sebaliknya.
Biasanya digunakan untuk mengambil gambar panorama pemandangan.
2. Tilting : pergerakan kamera secara vertikal, dari bawah ke atas “ Tilt Up ” atau sebaliknya dari atas kebawah “ Tilt Down “. Biasanya digunakan untuk pengambilan gambar seperti menara (contoh : monas Jakarta ).
3. Zooming : pergerakan lensa Zoom yang menjauh dari objek “ Zoom Out “ (pertama di Big Close UP dahulu lalu perlahan di Zoom Out/menjauh menjadi Loong Shot atau pergerakan lensa Zoom yang mendekat ke objek yang dituju “ Zoom In “ (pertama diLong Shot dahulu lalu perlahan di Zoom In/mendekat menjadi Big Close Up. Biasanya untuk pengambilan gambar seperti pertandingan sepakBOLA ( pertama di Big Close Up dahuluBOLA yang akan dimainkan, jika peluit sudah berbunyi berarti tanda pertandingan sudah dimulai dan waktunya kita untuk me Zoom Out agar terlihat ada beberapa orang terlihat memainkan bola.
4. Long Shot : teknik pengambilan gambar yang menujukan semua / seluruh kejadian.
Biasanya digunakan untuk pengambilan gambar pertandingan bulu tangkis, tinju, sepakbola dll.
5. Medium Shot : teknik pengambilan gambar yang objeknya manusia dan yang dimbil gambarnya dari atas lutut sampai kepala (usahakan sisakan sedikit ruang diatas kepala untuk background). Biasanya untuk pengambilan gambar sesorang sedang berbincang bincang berdua sambil berdiri.
6. Close Up : teknik pengambilan gambar yang objeknya manusia dan yang diambil gambarnya dari dada sampai kepala (usahakan sisakan sedikit ruang diatas kepala untuk background) khusus cewek usahakan dibawah payudara. Contoh pengambilan gambar disaat foto KTP.
7. High Angle : disaat pengambilan gambar posisi kamera yang lebih tinggi dari objek.
Contoh saya berdiri memberi hormat pada bendera Merah Putih lalu posisi kamera disebelah atau atasnya bendera Merah Putih.
8. Low Angle : disaat pengambilan gambar posisi kamera yang lebih rendah dari objek.
Contoh : saya berdiri memberi hormat pada bendera Merah Putih lalu posisi kamera disebelah atau dibawah saya.
9. Eye Level : pengambilan gambar sejajar dengan mata objek yang seolah- olah berkesan kita sedang berbicara dengan objek. Contoh : kita menga sedang yangmbil gambar orang yang sedang berbicara didepan kamera.
10. Dutch Angle : pengambilan secara kemiringan tidak beraturan atau kamera bergetar- getar tidak beraturan. Biasanya pengambilan gambar yang menggambarkan orang sedang mabuk, orang yang sedang main bola, orang yang sedang berlari terengah- engah dll.
LEMBAR KERJA PESRTA DIDIK
(LKPD)
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK
Nama : Mata Pelajaran : Desain Grafis Percetakan
Kelas : XI Hari, Tanggal :
Kompetensi Dasar :
3.13 Menerapkan prosedur pengukuran bidang pandang dan sudut pengambilan gambar
4.13 Mengambil gambar sesuai bidang pandang dan sudut pandang Indikator :
3.13.1 Memahami sudut pandang pengambilan gambar bergerak
3.13.2 Memahami ukuran bidang pandang pengambilan gambar bergerak 4.13.1 Menyajikan hasil pengambilan gambar bergerak berdasarkan sudut
pandang pengambilan gambar
4.13.2 Menyajikan hasil pengambilan gambar bergerak berdasarkan ukuran bidang pandang kamera
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan tepat !
1. Visualisasi yang tampak pada layar pada dasarnya merupakan hasil dari kerja kamera video yang merekam objek dengan posisi yang berbeda-beda.
Perbedaan letak dan posisi serta gerakan objek yang tampak pada layar adalah akibat dari gerakan-gerakan yang ditimbulkan oleh kamera. Seorang script writer harus mengetahui petunjuk-petunjuk yang berhubungan dengan gerakan kamera. Berikut buatlah analisis tentang pergerakan apa saja yang terdapat pada kamera ?.
2. Ada banyak sudut pandang dalam pengambilan gambar baik itu video maupun photograpai, coba anda defenisikan karateristik angle kamera ?
3. Pada gambar berikut, coba anda analisa mengunakan teknik apa yang digunakan dalam pengambilan gambar tersebut ?
LEMBARJAWABAN TEST FORMATIF 1. Test Essay (LJ.01)
--- --- --- --- ---
--- --- --- --- 2. Test Essay (LJ.02)
--- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- 3. Test Essay (LJ.03)
--- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- ---
KUNCI JAWABAN
No Kunci Jawaban
1 Pergerakan kamera :
Pan left, menggerakkan kamera ke kiri.
Pan right, menggerakkan kamera ke kanan.
Tilt up, menggerakkan kamera ke atas.
Tilt down, menggerakkan kamera ke bawah.
Zoom in, mengatur pengambilan ke arah CU.
Zoom out, mengatur pengambilan ke arah LS.
Dolly in (track in), mendorong kamera ke arah subyek.
Dolly out (track out),menarik kamera menjauhi subyek.
Camera follow, kamera mengikuti ke mana perginya subyek .
Fade in, pengambilan oleh kamera tertentu mulai masuk perlahan- lahan.
Fade out, pengambilan oleh kamera tertentu mulai memudar perlahan-lahan.
Super atau super impose, penampilan sesuatu ke atas pengambilan yang ada.
Dissolve, pembauran secara perlahan menggantikan yang sebelumya
Wipe, mengganti pengambilan yang sebelumnya dengan efek penghapusan.
2 Kareateristik angle kamera
1. Eye level Pada eye level, kamera diposisikan sejajar dengan mata subjek. Angle jenis ini digunakan agar penonton atau audiens memiliki interpretasi yang sama dengan operator kamera. Segala pergerakan kamera menjadi tanggung jawab operator.
2. Low Angle Kamera berada sejajar dengan tanah. Posisi kamera dapat menghadap 450 ke atas (frog eye) atau sejajar dengan tanah. Angle seperti ini menyebabkan subjek tampak lebih besar atau lebih tinggi dibandingkan aslinya.
3. High Angle Pada angle ini, kamera berada 450 di atas subjek dan menghadap subjek. Angle jenis ini menjadikan subjek terlihat lebih kecil dibandingkan aslinya.
4. Conversation Posisi kamera menghadap subjek ketika dua orang atau lebih dalam posisi sejajar dengan subjek lain, dan sedang melakukan percakapan.
5. Two Shoot Posisi kamera menghadap subjek, ketika dua orang atau lebih dalam posisi sejajar dengan subjek lain dan tanpa percakapan.
6.Close Up (CU)
Shoot dekat, obyek menjadi titik perhatian utama di dalam shoot ini, latar belakang nampak sedikit sekali. Untuk obyek manusia, biasanya ditampilkan wajah dari bahu sampai di atas kepala.
7.Medium Close Up (MCU)
Shoot amat dekat, obyek diperlihatkan dari bagian dada sampai atas
kepala. MCU ini yang paling sering dipergunakan dalam televisi.
8.Big Close Up (BCU)
Lebih mengutamakan pada wajah, bahkan biasanya dahi atau bagian atas kepala sedikit terpotong. Tipe shoot ini akan menonjolkan mimik subjek.
9. Extreme Close Up Tipe ini lebih dekat atau lebih besar dibandingkan dengan MCU, CU, dan BCU. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan pesan verbal dari subjek, misalnya mata yang semakin tajam dengan menyipit atau melotot, dan meneteskan air mata. Angle jenis ini ingin menunjukkan hal-hal yang sifatnya detail. Biasanya yang diambil pada tipe ini hanya mata dan sekitarnya.
10. Medium Shoot Batasannya perut hingga head room. Angle jenis ini memberikan informasi kostum yang dikenakan subjek, keadaan fisik subjek (sedang berdiri atau duduk), juga menun jukkan info tentang keberadaan subjek.
11. Medium Long Shoot Persentase tentang subjek dengan keterangan tempat berbanding seimbang, batasannya adalah dari paha sampai denganhead room.
12. Long ShootShoot sangat jauh, menyajikan bidang pandangan yang lebih dekat dibandingkan dengan ELS, obyek masih didominasi oleh latar belakang yang lebih luas
13. Extreme Long Shoot Shoot sangat jauh, menyajikan bidang pandangan yang sangat luas, kamera mengambil keseluruhan pandangan. Obyek utama dan obyek lainnya nampak sangat kecil dalam hubungannya dengan latar belakang.
14. Wide Shoot Lebih sering menggunakan lensa wide, seperti: 16mm, 11mm, dan 8mm. Shoot jenis ini bertujuan untuk memberikan informasi:
tempat, suasana, keadaan cuaca, dan lain-lain.
15. Bird Eye Kamera berada tepat di atas subjek, dan menghadap ke bawah (subjek), yang akan memberikan kesan seolah-olah manusia itu kecil, seperti burung yang sedang terbang melihat subjek.
3 Extreme Long Shoot
Shoot sangat jauh, menyajikan bidang pandangan yang sangat luas, kamera mengambil keseluruhan pandangan. Obyek utama dan obyek lainnya nampak sangat kecil dalam hubungannya dengan latar belakang.
Biasanya dalam ukuran ini tokoh jarang terlihat sebab yang ingin diperlihatkan adalah tempat kejadian secara luas. Banyak pembuat film yang membuat shoot dengan elemen visual tempat-tempat yang dikenal oleh masyarakat, seperti: Monas yang menunjukkan Jakarta, Patung Liberty yang menunjukkan New York, dan lain sebagainya
Nilai akhir = (Skor Perolehan/skor maksimal) *100
LEMBAR
PENILAIAN
A. PENILAIAN SIKAP
Jurnal Pencapaian Kompetensi Sikap
(catatan guru tentang sikap peserta didik baik positif atau negative yang extreme di dalam maupun di luar proses pembelajaran)
No Tanggal Nama Peserta didik Catatan
Perilaku Butir Sikap 1
2 3 4 5 6 7 8 9 10
Format Pengamatan Sikap Sosial Petunjuk:
Untuk setiap keterampilan sosial berikut ini, beri penilaian atas keterampilan sosial siswa itu menggunakan skala berikut ini:
D = Memerlukan perbaikan C = Menunjukkan kemajuan B = Memuaskan
A = Sangat Baik
Format Pengamatan Keterampilan Sosial
No Rincian Tugas Kinerja (RTK)
Memerlukan perbaikan
(D)
Menunjukkan kemajuan
(C)
Memuaskan
(B) Sangat baik (A) 1 Bertanya
2 Menyumbang ideatau pendapat 3 Menjadi pendengaryang baik 4 Berkomunikasi
Format Penilaian Sikap Prilaku Karakter
Petunjuk : untuk setiap sikap berikut ini, beri penilaiaan tas peserta didik itu mengunkan skala berikut :
Nama : ...
Kelas : ... Tanggal : ...
No Aspek Sikap /ranah Non- instruksional/ (Attitude)
Skor Perolehan Believe (B)
(Preferensi oleh Peserta
didik ybs.)
Evaluation (E) (Oleh Guru/
mentor)
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 Kedisiplinan
2 Kejujuran 3 Kerja sama
4 Mengakses dan mengorganisasi informasi
5 Tanggung jawab 6 Memecahkan masalah 7 Kemandirian
8 Ketekunan
DESKRIPSI PENETAPAN SKOR SIKAP (ATTITUDE)
No Komponen Deskripsi Skor
5 4 3 2 1
1 Kedisiplinan Mentaati semua peraturan kerja secara konsisten tanpa instruksi dan pengawasan guru
Mentaati semua peraturan kerja secara konsisten dengan sedikit pengawasan dari guru
Mentaati semua peraturan kerja dengan pengawasan guru
Peraturan kerja kadang-kadang dilanggar meski- pun diawasi
Peraturan kerja sering dilanggar meskipun diawasi 2 Kejujuran Selalu jujur Jujur selama
diawasi Kadang-kadang
jujur Kadang-kadang
tidak jujur walaupun diawasi
Sering tidak jujur walaupun diawasi 3 Kerja sama Dapat
bekerjasama dengan semua pihak (sesama teman maupun guru, pegawai)
Bisa bekerjasama dengan group tertentu tanpa pengawasan
Dapat bekerjasama dalam group kerja selama diawasi guru
Hanya dapat bekerjasama dengan guru
Tidak dapat bekerjasama
4 Mengakses danmengorganis asi informasi
Dapat mengskses dan memanfaatkan informasi terbaru
Dapat mengakses informai tapi kurang
memanfaatkannya
Kadang-kadang mencari informasi baru
Dapat memanfaatkan informasi baru tetapi terlambat
Kurang mampu mengakses informasi baru 5 Tanggung
jawab Dapat
bertanggung jawab dalam segala kewajiban
Bertanggungjawab tetapi hanya sebagian saja
Kadang kadang bertanggung- jawab jika diawasi
Bertanggungjaw ab selama menguntungkan dan diawasi
Kurang bertanggung- jawab pada kewajibannya 6 Memecahka
n masalah Dapat memecahkan masalah dengan baik tanpa bimbingan Semua
Dapat memecahkan masalah dengan baik atas bimbingan
Dapat memecahkan sebagian besar masalah tanpa bimbingan
Dapat memecahkan sebagian masalah walau tanpa bimbingan
Semua masalah diselesaikan selalu dengan bimbingan 7 Kemandirian Dapat belajar
sendiri tanpa pengawasan guru
Dapat belajar sendiri dengan pengawasan guru
Kadang kadang dapat belajar mandiri
Kadang kadang mandiri jika diawasi
Kurang mampu bekerja mandiri 8 Ketekunan Tekun tanpa
harus dibimbing Tekun selama
dibimbing Kadang kadang
tekun Kadang kadang
kurang tekun walau
Kurang tekun walau dibimbing
B. PENILAIAN PENGETAHUAN 1.Tes tertulis (essay)
Kisi-Kisi Tes Tertulis
Nama Sekolah : SMKN 3 MUARO JAMBI
Kelas : XI
Tahun pelajaran : 2021/2022 Paket Keahlian : MULTIMEDIA
Mata Pelajaran : DESAIN GRAFIS PERCETAKAN
No. Kompetensi Dasar Materi Indikator Soal No
Soal Bentu k Soal 1 3.13 Menerapkan
prosedur pengukuran bidang pandang dan sudut pengambilan gambar
3.13.1 Memahami sudut pandang pengambilan gambar bergerak 3.13.2 Memahami
ukuran bidang pandang pengambilan gambar bergerak
Visualisasi yang tampak pada layar pada dasarnya
merupakan hasil dari kerja kamera video yang
merekam objek dengan posisi yang berbeda- beda. Perbedaan letak dan posisi serta gerakan objek yang tampak pada layar adalah akibat dari
gerakan-gerakan yang ditimbulkan oleh kamera.
Seorang script writer harus mengetahui
petunjuk-petunjuk yangberhubungan dengan gerakan kamera. Berikut buatlah analisis tentang
pergerakan apa saja yang terdapat pada kamera ?.
1 Essay