• Tidak ada hasil yang ditemukan

TATA KELOLA DAN INSTITUSI KEUANGAN PUBLIK ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TATA KELOLA DAN INSTITUSI KEUANGAN PUBLIK ISLAM"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

2

1 1 5 1

TATA KELOLA DAN INSTITUSI KEUANGAN PUBLIK ISLAM

Darwanto

Universitas Diponegoro

A. Pendahuluan

Lembaga keuangan publik Islam sebagai institusi yang berfungsi dalam pengumpulan dan pendistribusian dana dari dan kepada masyarakat melalui beberapa kegiatan sebetulnya sudah ada sejak kepemimpinan Rasulullah dan para sahabat. Namun fakta ini belum banyak diketahui oleh umat Muslim sendiri.

Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan sejarah institusi lembaga keuangan publik Islam yang sudah ada sejak awal perkembangan Islam sampai dengan kondisi terkini. Tulisan ini juga akan menjelaskan institusi-institusi yang muncul dalam pengelolaan keuangan publik Islam serta tata kelolanya. Bagian awal tulisan akan membahas sejarah pengelolaan keuangan negara sejak masa kepemimpinan Rasulullah dan Khalifaurrasyiddin. Selanjutnya, pembahasan munculnya institusi keuangan publik Islam serta pembahasan mengenai sumber-sumber penerimaan negara menurut konsep Islam. Bagian selanjutnya membahas tata kelola lembaga keuangan publik Islam dengan mengemukakan prinsip-prinsip dasar dalam pengeluaran negara. Prinsip tata kelola lembaga keuangan publik Islam juga senantiasa berkembang pada masa sekarang, yaitu dengan beberapa contoh pengelolaan lembaga keuangan di berbagai negara dengan penduduk Muslim yang relatif besar. Bagian akhir tulisan ini mengkaji beberapa upaya peningkatan tata kelola lembaga keuangan publik Islam, misalnya dengan perbaikan institusi pengelola keuangan publik Islam melalui pengelolaan informasi, peningkatan transparansi dan kredibilitas institusi, aplikasi inovasi teknologi yang mempermudah pengelolaan serta mempermudah pengelolaan sehingga menjadi lebih efektif.

(3)

3

B. Sejarah Pengelolaan Keuangan Negara

Pengelolaan keuangan pemerintahan atau negara sudah dilakukan sejak masa Rasulullah. Tabel 15.1 menunjukkan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa kepemimpinan Rasulullah dan para Sahabat yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara. Pada masa kepemimpinan Rasulullah, zakat dan 'usyr merupakan penerimaan negara terpenting. Perintah zakat turun pada tahun ke-2 Hijriyah. Pada tahun itu, Allah melalui Rasul-Nya mewajibkan zakat bagi umat Islam untuk mensucikan hartanya. Pada tahun yang sama, tahun ke-2 Hijriyah, antara masa Perang Badar dan pembagian rampasan perang, turunlah surah Al-Anfal yang menjadi acuan untuk membagikan ghanimah atau harta rampasan perang.

Penerimaan pemerintah atau negara yang tidak kalah penting adalah wakaf.

Wakaf pertama kali diterapkan pada masa kepemimpinan Rasulullah pada tahun ke- 4 Hijriyah yang dilatarbelakangi oleh kaum Bani Nadir, kaum yang kaya raya namun menentang ajaran dan kepemimpinan Rasulullah dengan melanggar Piagam Madinah dan berusaha membunuhnya. Namun Rasulullah berhasil mengusir kaum Bani Nadir dari Madinah dan seluruh peninggalan kaum Banu Nadir diwakafkan kepada kaum Muhajirin dan Anshar serta beberapa bagian untuk Rasulullah. Pada tahun ke-7 Hijriyah, seining dengan kekalahan kaum Khaibar, Rasulullah menerapkan jizyah dan Kharaj. Dengan demikian, maka penerimaan negara pada masa kepemimpinan Rasulullah meliputi: 1) zakat dan 'usyr; 2) ghanimah (harta rampasan perang); 3) kharaj; dan 4) jizyah.

Tabel 15.1 Sejarah Tata Kelola Keuangan Publik Islam

Peristiwa Penting Masa Kepemimpinan

Rasulullah

- Pengelolaan keuangan negara seluruhnya diatur dan dikelola oleh Rasulullah sendiri

- Zakat dan ‘usyr merupakan penerimaan negara yang utama pada masa Rasulullah

- Sumber pendapatan yang berlaku pada masa Rasulullah, zakat, ‘usyr, jizyah, kharaj, ghanimah dan wakaf

- Pemanfaatan keuangan negara ini digunakan untuk pembiayaan dan pembelanjaan kepentingan masyarakat - Administrasi negara/pemerintahan masih bersifat

tradisional Masa Khalifah Abu Bakar

As-Sidiq

- Sepeninggalan Rasulullah, pendapatan zakat mulai menurun

- Penerimaan negara pada saat itu cenderung menurun - Pendistribusian zakat dilakukan secara menyeluruh dan

akurat pada setiap periodenya.

(4)

4

Peristiwa Penting Masa Khalifah Umar bin

Khattab

- Fungsi dan peran dari Baitul Mal dalam mengelola keuangan negara mulai menguat

- Peraturan yang ketat mengenai pajak dan kepemilikan tanah

- Mempertegas pembayaran zakat dan ‘usyr

- Meningkatnya pembayaran dan sedekah dari kaum non- muslim

- Dinar dan Dirham menajdi mata uang utama dalam bertransaksi

- Penerimaan Negara meliputi zakat dan ‘usyr, khums, dan sedekah serta pajak non muslim

- Pengeluaran Negara diutamakan untuk dana pensiun, pertahanan dan keamanan serta dana pembangunan Masa Khalifah Utsman

bin Affan

- Utsman dalam kepemimpinannya menerapkan kebijakan pembangunan sumber daya alam

- Meringankan beban keuangan negara dan menyimpan uang di bendahara negara

- Menaikkan pajak non Muslim, yaitu kharaj dan jizyah - Meningkatkan dana pensiun, pertahanan dan kelautan

serta pembangunan wilayah yang ditaklukan

- Masalah lahan pertanian, Utsman membagi-bagikan tanah kepada individu-individu untuk dikelola

- Pendapatan dari lahan pertanian mencapai 50 jurta dirham Masa Khalifah Ali bin

Abi Thalib

- Menerapkan kebijakan pengetatan dalam menjalankan keuangan negara

- Mewajibkan pembayaran khums untuk hasil ikan dan perhutanan

- Menerapkan sistem otonomi daerah dan desentralisasi dalam pengelolaan Baitul Mal

- Kebijakan pengeluaran negara diutamakan untuk dana pensiun, pertahanan dan keamanan serta dana pembangunan

- Dana pengeluaran untuk angkatan laut dan keamanan ditambahkan

- Penambahan pengeluaran untuk keamanan, dibuktikan dengan pembentukan organisasi kepolisian yang bernama Shutra

Sumber: Dikembangkan oleh penulis dari P3EI (2008)

(5)

5

Tahun 632-634 M pada masa kepemimpinan Abu Bakar As-Sidiq penerimaar.

negara cenderung menurun. Penerimaan yang menurun ini dikarenakar sepeninggalan Rasulullah, sebagian dari umat Muslim mulai membangkang dar.

menolak pembayaran zakat dan cukai ke negara. Sehingga Khalifah Abu Bakar rela menyisihkan sebagian hartanya untuk menutup kekurangan penerimaar negara yang ada. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar penyaluran zakat sanga: akurat hingga tidak ada sepeser dirham pun yang tersisa.

Tahun 635-644 M merupakan kebangkitan dan penguatan perekonomian umat Islam di Madinah. Periode ini terjadi pada saat kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Pada masa kepemimpinan beliau, peran Baitul Mal sebagai lembaga penghimpun dan pengelola keuangan negara berfungsi dengan sangat baik dan profesional. Kebijakan Khalifah Umar adalah sebagai berikut: 1) penguatan fungsi dan peran Baitul Mal, 2) peraturan yang ketat mengenai pajak dan kepemilikan tanah, 3) mempertegas pembayaran zakat dan 'usyr, 4) meningkatkan pembayaran sedekah dan pajak dari kaum non Muslim, 5) penerimaan negara meliputi zakat dan 'usyr, khurns dan sedekah, serta pajak bagi non Muslim, 6) pengeluaran negara diutamakan untuk dana pensiun, pertahanan dan keamanan serta dana pembangunan ekonomi.

Tahun 645-656 M kepemimpinan Madinah dilanjutkan oleh Khalifah Utsman bin Affan pasta sepeninggalan Umar bin Khattab. Kebijakan penting dari Khali fah Utsman selama memimpin umat Muslim adalah meningkatkan penerimaan negara dari segi pajak non Muslim (kharaj dan jizyah ), menaikkan dana pensiun, pertahanan dan keamanan terutama kelautan. Kebijakan pembangunan pada masa Khalifah Utsman adalah fokus pada pembangunan sumber daya alam dan membagikan lahan peninggalan musuh kaum Muslim untuk dikelola dan sebagian hasilnya diserahkan kepada negara. Hasil lahan pada masa kepemimpinan Utsman mencapai 50 juta dirham.

Tahun 657-660 M, Khalifah Ali bin Abi Thalib melakukan kebijakan pengetatan dalam menjalankan keuangan negara. Khalifah Ali juga mewajibkan pembayaran khums untuk hasil ikan dan hutan yang sebelumnya tidak diwajibkan oleh khalifah sebelumnya. Pengelolaan Baitul Mal dilakukan dengan cara otonomi daerah dan desentralisasi, di mana seluruh pendapatan dari Baitul Mal pusat didistribusikan ke Baitul Mal yang berada pada provinsi seperti Madinah, Basrah dan Kufah. Kebijakan pengeluaran Khalifah Ali tidak jauh berbeda dengan apa yang diterapkan oleh Khalifah Umar, hanya saja Khalifah Ali menaikkan pengeluaran untuk pertahanan. Peningkatan pembiayaan pertahanan ini ditandai dengan menambah armada angkatan taut dan membentuk Shurtah, semacam organisasi kepolisian.

(6)

6

C. Institusi yang Berperan Dalam Penghimpunan Keuangan Publik

1. Baitul Mal

Baitul Mal pertama kali didirikan oleh Khalifah Abu Bakar As-Sidiq yang menggantikan Kepemimpinan Rasulullah pada 632 M (Chaudhry, 2012). Sebagai sebuah lembaga keuangan, Baiytul Mal lebih efektif berfungsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Baitul Mal bertujuan untu mensejahterakan rnasyarakat (walfare oriented), karma seluruh penerimaar: pendapatan dan pembelanjaan dilakukan secara transparan (Fajri, 2008). Lebih lanjut dalam Fajri (2008), penghimpunan dana Baitul Mal ini dibagi rnenjad: empat pada zaman Khalifah Umar bin Khattab:

1. Baitut Mal Zakat, fungsinya adalah untuk menampung dana-dana yang berasal dari zakat.

2. Baitut Ma! Akhrnas, lembaga yang fungsinya untuk menyimpan ghanimah.

pajak pertambangan dan hasil laut.

3. Baitul Ma! Fai' , lembaga yang fungsinya lebih rnengarah pada penyimpanan kharaj, jizyah, Itsyr, dan pajak.

4. Baitul Ma! Dlawa'i, lembaga yang fungsinya untuk menyimpan harta yang tidak diketahui perniliknya dan harta warisan yang tidak ada ahli warisnya Fungsi dari institusi atau lembaga Baitul Mal pada zaman Khalifah Umar bin Khattab ini sangat efektif. Fajri (2008) menjelaskan mengenai keberhasilan Khalifah Umar dalam rnengelola Baitu! Mal. Keberhasilan Khalifah Umar dalam mengelola Baitul Mal ditandai dengan menciptakan jalan penghubung antara sungai Nil dan Laut Merah serta mampu merealisasikan fasilitas umum atau fasilitas publik (Fajri, 2008). Chaudhry (2012) menjelaskan bahwa penerimaan Baitul Mal digolongkan menjadi tiga kategori, diantaranya: 1) penerimaan zakat dan sedekah; 2) penerimaan ghanimah atau rampasan perang; 3) penerimaan faii, seperti jizyah dan kharaj. Chaudhry (2012) menambahkan bahwa pada era modern sekarang ini poin pertama, yaitu zakat dan sedekah yang masih berlaku sedangkan ghanimah sudah tidak berlaku. Penerimaan seperti jizyah dan kharaj digantikan dengan pajak.

2. Wilayatul Hisbah

Wilayatul Hisbah dapat dikatakan sebagai lembaga yang bertugas untuk melakukan sistem pengawasan atau kontrol terhadap aktivitas ekonomi pada masa kepemimpinan Rasulullah. Lebih lanjut, Fajri (2008) menjelaskan secara rinci mengenai pendirian lembaga Wilayatul Hisbah ini. Pendirian lembaga ini

(7)

7

dimaksudkan untuk mencegah raja-raja dan penguasa lokal dalam menggunakan upeti rakyatnya yang nantinya akan berakibat pada distorsi harga. Pada awal kepemimpinan Rasulullah, lembaga ini dijalankan dan dipegang sendiri oleh Rasulullah. Namun seiring dengan perkembangan negara yang lebih maju dan meluasnya kepemimpinan Rasulullah, maka Rasulullah mengangkat orang-orang yang kredibel dalam menjalankan tugas hisbah seperti Said bin Sa'ad bin Al-Ash bin Umayah sebagai petugas kontrol di pasar di Makkah dan Umar bin Khattab di Madinah di mana masing-masing memiliki asisten tersendiri untuk membantu tugas beliau (Fajri, 2008).

D. Sumber Penerimaan Negara Menurut Islam

Penerimaan negara dalam pandangan Islam dapat dibagi menjadi sumber penerimaan primer dan sekunder. Penerimaan negara primer dalam Islam diantaranya adalah zakat, ghanimah, fai', kharaj, jizyah dan 'usyr. Sedangkan untuk penerimaan negara yang bersifat sekunder dapat berupa uang tebusan, pinjaman pembayaran uang pembebasan kaum Muslim, khum (harta karun), Amwal Fadhla (harta benda yang tidak diwariskan), wakaf, serta qurban dan kaffarat (P3EI, 2008).

Tabel 15.2 Sumber Penerimaan Negara Menurut Islam

Sumber Penerimaan Negara Primer Sumber Penerimaan Negara Sekunder - Zakat

- Ghanimah - Fai’

- Kharaj - Jizyah - ‘Usyr

- Uang tebusan

- Pinjaman pembayaran uang pembebasan kaum muslim

- Khums/rikaz - Amwal Fadhla - Wakaf - Nawaib - Zakat Fitrah

- Qurban dan Kaffarat Sumber: Dikembangkan oleh penulis P3EI (2008)

1. Zakat dan llsyr

Zakat dapat diartikan sebagai pungutan wajib, atau semacam pajak yang dipungut dari kaum Muslim yang didistribusikan kepada kaum miskin atau dibelanjakan oleh negara untuk mewujudkan kesejahteraan kaum miskin dan mereka yang tak berpenghasilan. Sedangkan 'usyr merupakan sepersepuluh, yang berarti sepersepuluh dari total pendapatan pertanian (Chaudhry, 2012).

(8)

8

Zakat sudah secara jelas diatur oleh Al-Quran, Allah berfirman "Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu rnembersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya don kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS At-Taubah [9]: 103). Namun tidak ada ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan secara detail mengenai pengenaan dari "usyr. Meski demikian, para ulama sepakat bahwa pengenaan 'usyr didasarkan pada Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 267 dan Surah Al-An'aam ayat 141, sehingga tidak terdapat pembatas yang jelas antara zakat dan 'usyr.

Surah At-Taubah ayat 60 menjelaskan mereka yang berhak untuk menerima zakat. Allah berfirman " Sesungguhnya zakat itu hanyalah diperuntukkan untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk membebaskan orang yang berutang, untuk yang berada di jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan sebagai kewajibandari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (QSAt-Taubah [9]: 60).

Berdasarkan Surah At-Taubah ayat 60, zakat hanya diperuntukkan untuk, 1)kaum kir; 2) kaum miskin; 3) amil zakat, yang menghimpun zakat; 4) mualaf; 5) hamba sahaya (budak); 6) orang yang terjerat utang; 7) sabilillah; 8) ibnussabil.

Zakat dan sedekah merupakan dua nama yang berbeda, namun dengan konsep yang hampir sama. Qardhawi (1999) menyatakan bahwa konsep zakat dan sedekah sama namun hanya berbeda nama saja. Sedekah sama dengan zakat yaitu memungut sebagian pendapatan seseorang yang diperuntukkan bagi kaum yang tidak mampu dan hanya berbeda dalam penyebutan nama. Zakat sendiri memiliki perbedaan yang mendasar dibandingkan dengan pajakt Perbedaan ini mendorong penelitian lebih lanjut mengenai penerapan zakat sebagai pajak ataupun mengurangi pajak terutama pada negara dengan penduduk mayoritas umat Muslim. Perbedaan antara zakat dengan pajak diuraikan dalam Muktiyanto dan Hendrian (2008).

Tabel 15.3 Perbedaan Antara Zakat dan Pajak

Aspek Zakat Pajak

Segi Kewajban Zakat hanya diwajibkan bagi umat Muslim saja

Pajak diwajibkan untuk seluruh penduduk sesuatu negara tanpa memandang agama merek

Segi Subjeknya Subjek zakat adalah orang yang sudah mampu sesuai dengan yang diatur oleh Al-Qur’an dan As- Sunnah

Pajak dibayar oleh penduduk kaya ataupun kurang mampu terutama pajak konsumsi

(9)

9

Aspek Zaka Pajak

Segi Peruntukan Zakat hanya diperuntukkan bagi golongan mustahik (fakir, miskin, amil zakat, budak, mualaf, orang yang terjerat utang, jihad dan musafir )

Pajak sangat tergantung situasi dan kondisi negar pada saat itu dan dapat digunakan untuk biaya pembangunan negara

Aspek Pemanfaatan Zakat harus disalurkan secara langsung kepada yang berhak (mustahik) dan tidak boleh ditahan terlalu lama

Pajak pemanfaatannya secara tidak langsung

Aspek Tarif Untuk tarif zakat sudah ditentukan oleh Al-Qur’an dan tidak dapat diubah

Tarif pajak dapat disesuaikan dan diubah sesuai dengan situasi yang ada

Sumber: Dikembangkan oleh penulis dari Muktiyanto dan Hendrian (2008)

2. Ghanimah dan Fai' (Khums)

Penjelasan mengenai ghanimah dapat dilihat dalam Al-Quran pada Surah Al-Anfal ayat 4, Allah berfirman "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang maka seperlima untuk Allah.

Rasulullah dan Kerabat Rasulullah, anak-anak yatim, orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu" (QS Al-Anfal [8]: 41). Berdasarkan ayat tersebut, dapat diketahui bahwa ghanimah merupakan harta rampasan perang yang diperuntukkan bagi kepentingan sedekah, Rasulullah dan kepentingan- kepentingan rakyat terutama para fakir miskin, anak yatim dan ibnussabil.

Ghanimah pada masa Rasulullah dan Sahabat menjadi salah saw penerimaan negara yang bersama dengan zakat digunakan untuk kepentingan pembangunan dan kesejahteraan rakyat.

lstilah fai' digunakan dalam Al-Quran dan As-Sunnah secara eksklusif bagi perolehan perang baik dalam bentuk tanah atau upeti atau ganti rugi yang diperoleh dari musuh yang menyerah sebelum perang. Konsep Fai' tertuang dalam Al-Qur'an Surah Al-Hasyr ayat 6 sampai 7, Allah berfirman

"Dan apa saja harta rampasan (fai') yang diberikan Allah kepada Rasulullah-Nya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatakan itu kamu tidak.mengerahkan seekor kuda pun (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasulullah-Nya terhadap apa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai') yang diberikan Allah kepada Rasulullah-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-

(10)

10

kota, maka adalah untuk Allah, untuk Rasulullah, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasulullah kepadamu, terimalah dan apa yang dilarangnya tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukuman-Nya” (QS A-Hasyr [59]: 6-7).

Berdasar surat dalam Al-Qur'an di atas, fai' merupakan harta benda atau upeti yang didapat melalui jalan perdamaian dari musuh kaum Muslim.

Tata cara penarikan fai' ditekankan pada kata-kata " untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun (tidak pula) seekor unta..." yang menunjukkan bahwa tidak ada peperangan yang berarti musuh menyerah dengan damai dan menyerahkan seiuruh harta benda dan upeti yang dibawanya kepada umat Muslim.

Paparan di atas menunjukkan perbedaan yang mendasar antara fai' dan ghanimah. Fai' merupakan harta peninggalan dari musuh kaum Muslim melalui jalan damai tanpa ada pengangkatan senjata. Sedangkan ghanimah merupakan harta rampasan dari musuh kaum Muslim yang kalah dalam peperangan. Namun dalam pengelolaannya sama dan tidak terdapat perbedaan, yakni untuk kepentingan sedekah, dibagikan pada Rasulullah dan sahabat serta untuk kepentingan sosial dan masyarakat lainnya terutama kaum fakir miskin, anak yatim-piatu, musafir dan ibnussabil.

3. Kharaj

Kharaj merupakan penerimaan, pajak, sewa, hasil produksi, pendapatan upah, dan sebagainya, yang diterima dari tanah yang disebut oleh para fukaha sebagai tanah kharaj (Chaudhry, 2012). Kharaj dibagi menjadi dua jenis yaitu kharaj bertarif tetap (wazifah) dan proporsional (muqsamah) (Islahi, 2006). Kharaj muqasatnah adalah kharaj dibayarkan secara proporsional sesuai dengan produksi dari tanah tersebut. Sedangkan Kharaj muwazzaf atau wazifah merupakan kharaj yang dibayarkan dengan tarif tetap sesuai dengan kemampuan produksi dan tanah tersebut. Chaudhry (2012) menambahkan bahwa setidaknya ada lima aturan atau hukum kharaj:

a. Kharaj dipungut berdasarkan dua basis tarif, tarif tetap dan tarif proporsional.

(11)

11

b. Kharaj dipungut atas tanah kharaj saja.

c. Sekali sebidang tanah berstatus sebagai kharaj maka status tersebut akan berlangsung seterusnya.

d. Jika terjadi kerusakan seluruh tanaman karena bencana alam, maka kharaj tidak dipungut, jika tanah tersebut diberlakukan tarif proporsional.

e. Tidak ada pajak `usyr atas tanah kharaj.

f. Tidak ada pajak kharaj pada bagian tanah yang dipakai untuk mendirikan rumah pemilik

g. Semua fasilitas diberikan pada pembayarnya dan mereka diperlakukan dengan lembut.

4. Jizyah

Secara definisi, jizyah merupakan pajak yang dibayarkan oleh orang non-Muslim khususnya para ahli kitab, untuk jaminan perlindungan jiwa, harts kekayaan, ibadah, bebas dari nilai-nilai dan tidak wajib militer (P3EI, 2008). Dalil dan tats cara mengenai jizyah tertuang pada Al-Quran Surah At-Taubab ayat 29. Allah berfirman " Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) beriman kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasulullah-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberi Al-kitab, sampai mereka membayar jizyah". Surah tersebut memberikan pandangan, bahwa jizyah merupakan iuran atau serupa dengan pajak yang wajib dibayarkan oleh kaum non Muslim. Hasil dari penerimaan jizyah ini nantinya digunakan untuk biaya perlindungan kaum non Muslim yang berada di sekitar penduduk Muslim dan juga untuk membantu umat non Muslim yang tidak mampu (Chaudhry, 2012).

Lima poin penting mengenai jizyah pada masa Rasulullah dan pada masa Khalifah Umar (Chaudhry, 2012) adalah:

a. Pungutan jizyah dikenakan oleh seluruh umat non Muslim apa pun agamanya bagi mereka yang mampu berperang namun tidak mau masuk angkatan perang negara Islam.

b. Meski jizyah dikenakan oleh seluruh umat non Muslim namun terdapat pengecualian bagi kaum dzimmi (orang-orang yang dilindungi), seperti wanita, pria belum baligh, orang tua, orang sakit, pendeta dan rahib, budak, mereka yang bergabung dengan militer, orang miskin, orang gila;

(12)

12

c. Pada masa Rasulullah, besaran jizyah sebesar 12 dirham sedangkan pada masa Khalifah Umar pembayaran jizyah dilakukan sesuai dengan kelasnya, orang kaya, menengah, dan kelas bawah. Orang kaya akan dikenakan sebesar empat (4) dinar atau sebesar .48 dirham, orang menengah dikenakan sebesar dua (2) dinar atau sebesar 24 dirham, dan orang kecil dikenakan sebesar satu (1) dinar atau sebesar 12 dirham.

d. Pemungutan jizyah dilakukan secara sukarela tanpa adanya kekerasan dan pemaksaan dan segala yang telah dibayarkan akan kembali kepada mereka berupa perlindungan jiwa dan harta benda mereka.

e. Jizyah dibebaskan bagi non Muslim yang ikut berperang dan sebagai asas kebersamaan dan keadilan. Asas kebersamaan dan keadilan ini bermaksud jika orang Muslim membayar berupa zakat maka non Muslim harus membayar berupa jizyah agar beban negara dapat ditanggung secara bersama-sama tanpa adanya pembedaan.

E. Prinsip Pengeluaran Negara Menurut Islam

Prinsip pengeluaran negara ini dibentuk oleh Undang-undang Kenegaraan pada masa Ustmaniyah, yang didasarkan pada Fiqh Sunni. Undang-undang tersebut dikenal sebagai Majallah, berikut merupakan prinsip pengeluaran negara menurut Islam yang dikutip dari (Chaudhry, 2012):

1. Kriteria utama bagi seluruh alokasi pengeluaran adalah kesejahteraan rakyat.

2. Kepentingan penduduk mayoritas haruslah didahulukan dibandingkan dengan kepentingan penduduk minoritas.

3. Menghilangkan kesulitan haruslah lebih diutamakan daripada mendapatkan kemudahan dan kenyamanan.

4. Pengorbanan atau kerugian pribadi dapat dibenarkan demi menyelamatkan pengorbanan atau kerugian publik, dan pengorbanan kerugian yang lebih besar harus dapat dihindari dengan memberikan pengorbanan atau kerugian yang lebih kecil.

5. Barangsiapa menerima manfaat harus menanggung biaya.

Chaudhry menambahkan bahwa prinsip 2,3,4,5 merupakan aturan yang juga diterapkan dalam sistem perpajakan. Prinsip tersebut adalah kepentingan mayoritas harus didahulukan, menghilangkan kesulitan, pengorbanan dan kerugian lebih besar harus dapat dihindari, dan siapa pun yang menerima manfaat harus menanggung biaya.

(13)

13

1. Kebijakan Fiskal dan Moneter Menurut Rasulullah

Pada masa kepemimpinan Rasulullah sudah dikenal apa yang disebut sekarang ini sebagai kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Sama halnya dengan apa yang negara lakukan pada masa kini. Rasulullah menerapkan kebijakan fiskal dengan membangun infrastruktur-infrastruktur untuk kepentingan rakyatnya (Karim, 2001). Lebih lanjut dalam Karim (2001), Rasulullah juga melakukan ekspor-impor dengan berdagang serta menerapkan kebijakan moneter untuk menjaga kestabilan mata uang (dinar dan dirham) tanpa menggunakan instrumen yang berbau riba atau bunga. Berikut penjelasan mengenai kebijakan fiskal dan moneter menurut Islam.

Tabel 15.4 Kebijakan Fiskal dan Moneter Menurut Islam

Kebijakan Fiskal Kebijakan Moneter

- APBN berupa Kharaj, Zakat, Khums, Jizyah dan penerimaan lainnya (denda/kaffarah) - Pengeluaran diwujudkan untuk

kepentingan dakwah, pendidikan dan kebudayaan serta, hukum dan

pertahanan, kesejahteraan sosial, belanja pegawai dan kepentingan berdagang serta berhubungan internasional - Zakat dan khums dihitung secara

proporsional berdasarkan persentase tertentu. Zakat ternak bersifat progresif - Pembelanjaan dilakukan apabila terdapat

penerimaan

- Inflasi terjadi ketika pasokan barang mengalami kelangkaan dan pada masa perang

- Tidak menggunakan instrumen suku bunga - Sistem ekonomi yang berlaku adalah sistem

ekonomi dagang

- Dinar dan Dirham sebagai mata uang utama - Sistem devisa bebas

- Permintaan uang hanya untuk bertransaksi dan berjaga-jaga

- Melarang menimbun uang dan barang - Melarang perdagangan gelap

- Segala bentuk transaksi harus dilakukan secara langsung

- Melarang riba

- Mempercepat perputaran uang dan pembangunan ekonomi untuk menjaga stabilitas dan peningkatan pertumbuhan ekonomi

Sumber: Dikembangkan oleh penulis dari Karim (2001)

F. Tata Kelola Zakat pada Negara Mayoritas Muslim

Faisal (2011) menjelaskan beberapa pengelolaan zakat dan institusi pengelola pada negara mayoritias Muslim. Negara tersebut antara lain Arab Saudi, Sudan, Pakistan, Yordania, Kuwait, Malaysia, dan Indonesia. Secara rinci, tata kelola zakat di berbagai negara dengan penduduk mayoritas Islam akan dijelaskan melalui Tabel 15.5:

(14)

14 Tabel 15.5 Tata Kelola Zakat di Berbagai Negara

No. Negara Tata Kelola/Pengelolaan Zakat

1. Arab Saudi - Kewenangan penghimpunan zakat dikelola oleh Maslahah az-zakah wa ad-Dakhl, Sedangkan untuk penyaluran pajak diatur pada lembaga tersendiri yang berada di bawah Dirjen Jaminan Sosial (Daman ‘ijtimai).

- Warga Negara Arab Saudi hanya dikenai kewajiban membayar zakat saja tanpa harus membayar pajak

- Arab Saudi memungut zakat dari peternakan

- Zakat pendapatan dari masing-masing profesi tersbeut akan dipotong dari tabungan mereka setelah mencapai nisab yang telah diatur dalam Al-Qur’an .

2. Sudan - Sudan masih mewajibkan warganya untuk membayar pajak - Peraturan pengelolaan zakat di Sudan dinyatakan resmi setelah

terbitnya Undang-Undang Dewan Zakat pada April 1984

- Zakat dihimpun pada suatu lembaga yang berada pada “satu atap”

dengan penghimpunan pajak dan mendelegasikan pendistribusiannya pada Departemen Keuangan dan Perencanaan Ekonomi.

- Pendistribusian akat diberikan kepada delapan asnaf yang berhak menerima

3. Pakistan - Pengelolaan zakat di Pakistan bersifat sentralistik yang seluruhnya diatur pada Central Zakat Fund (CZF)

- Penyaluran zakat di Negara Pakistan berdasar pada Al-Qur’an yaitu disalurkan pada delapan asnaf

- Prioritas utama pendistribusian zakat ini adalah diberikan kepada fakir dan miskin terutama mereka yang janda, orang cacat

- Zakat didistribusikan dalam bentuk tunai maupun dalam bentuk tidak langsung dengan bantuan-bantuan sosial

4. Yordania - Merupakan negara Islam pertama yang menerapkan undang-undang khusus mengenai pemungutan zakat

- Pengelolaan zakat dilakukan oleh lembaga penghimpun zakat yang independen, yaitu Sunduq az-Zakat

- Sunduq az-Zakat mendayagunakan kelompok kerja yang disebut dengan Lanjh Az-Zakat (komisi zakat)

- Tugas utamanya memantau kondisi kemiskinan dalam masyarakat, seperti mendirikan klinik-klinik kesehatan, mendirikan proyek investasi dan mendirikan pusat industri garmen.

5. Kuwait - Lembaga khusus penghimpunan zakat di Kuwait adalah Bait az-Zakat.

- Dalam pelaksanaannya, Bait az-Zakat fokus pada perencanaan strategis sejak pendiriannya

- Bait az-Zakat sudah menerapkan metodologi ilmiah serta kajian yang terencana karena lembaga ini percaya bahwa pentingnya perencanaan dalam mengantarkan lembaga pada sasaran-sasaran dan tujuan di masa mendatang

(15)

15

No. Negara Tata Kelola/Pengelolaan Zakat

6. Malaysia - Salah satu lembaga zakat dan wakaf yang mengatur penghimpunan zakat dan wakaf di Malaysia adalah Pusat Pungutan Zakat (PPZ) - Sistem distribusi zakat dilakukan dalam bentuk bantuan langsung pada

fakir miskin dan kepada golongan-golongan yang berhak menerima zakat

- Penyaluiran zakat yang tidak langsung adalah berupa Institusi

Kemahiran Baitul Mal (IKB) di mana lembaga ini memberi pembinaan, keterampilan dan penyuluhan kepada fakir miskin

7. Indonesia - Pengelolaan zakat di Indonesia saat ini dikelola oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAZ) dan Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA)

- BAZNAZ, sesuai dengan namanya, lembaga ini menghimpun zakat untuk tingkat nasional sedangkan BAZDA lebih fokus untuk menghimpun zakat pada tingkat daerah.

- Penyaluran zakat di Indonesia maish cenderung dilakukan secara individu.

- Zakat disalurkan kepada delapan asnaf yang berhak menerima sesuai dengan Al-Qur’an

- Namun Fungsi dari BAZDA dan BAZNAZ masih dinilai kurang optimal.

Sumber: Dikembangkan oleh penulis dari Faisal (2011)

Tabel 15.5 menunjukkan poin-poin penting pengelolaan zakat pada mayoritas negara dengan umat Islam terbesar. Negara Arab Saudi merupakan satu-satunya negara di antara tujuh negara di atas yang telah menerapkan zakat sebagai pengganti pajak. Zakat sebagai pengganti pajak diatur pada Keputusan Raja No. 17/2/28/8634 tahun 1951. Sedangkan umat non Muslim yang ada di Arab Saudi hanya diwajibkan untuk membayar pajak pendapatan sesuai dengan peraturan yang berlaku (Faisal, 2011). Dilihat dari segi pengelolaan zakatnya, dapat dilihat bahwa dari tujuh negara yang ada, semua negara sudah mulai menggunakan lembaga-lembaga zakat khusus yang bertujuan untuk menghimpun, mendistribusikan dan menyalurkan zakat kepada yang berhak meneri manya.

G. Peran dan Upaya Peningkatan Kinerja Institusi Lembaga Keuangan Publik Islam

Kajian mengenai peran dari ekonomi Islam pada perekonomian suatu negara masih menjadi kajian penting. Pentingnya kajian ekonomi Islam ini terkait pada peran ZIS dan wakaf pada perekonomian suatu negara. Pembahasan mengenai ZIS dan wakaf ini berusaha mengembangkan berbagai potensi dan tata kelola ZIS dan wakaf dalam membantu pembangunan ekonomi suatu negara, khususnya

(16)

16

pada negara berkembang dan serta membantu peningkatan kesejahteraan masyarakatnya.

1. Peran dari Lembaga Keuangan Publik Islam pada Masa Modern

Pakistan sebagai negara timur tengah yang menjadi kiblat perekonomian Islam juga telah menerapkan sistem distribusi zakat yang menarik. Zakat mulanya dikelola oleh semacam lembaga zakat yang nantinya zakat itu sendiri akan disalurkan ke beberapa penerima diantaranya: 1) tunjangan kaum dhuafa di Guzara sebesar 60%, 2) tunjangan pendidikan SD-SMP: 50%, Science, Art and Profesional education: 25%, High education: 25%, 3) 6% untuk tunjangan kesehatan (Tarar dan Riaz, 2012). Pakistan dapat dikatakan sudah mulai menerapkan fungsi dan peran dari ZIS untuk pembangunan perekonomian pada pengurangan kemiskinan dan pembangunan ekonomi khususnya pada pendidikan. Namun pengelolaan untuk kesehatan masih cenderung sangat kurang.

Dewasa ini wakaf tidak hanya disalurkan dalam bentuk properti saja namun juga dapat disalurkan dalam bentuk tunai (cash waqf) dan wakaf properti yang sudah mulai dikembangkan di negara-negara berpenduduk mayoritas Islam. Salah satu potensi wakaf properti adalah mampu meningkatkan pendapatan sekitar

0.325% dari GDP (Shirazi, 2014). Namun kontribusi terhadap GDP ini dapat terjadi apabila wakaf dikelola dengan baik dan efisien.

Pemanfaatan wakaf sebagai salah saw alat untuk meningkatkan penyediaan barang publik dan pembangunan ekonomi sudah diterapkan di Malaysia. Di Malaysia penyaluran wakaf tunai lebih kepada delapan sektor ini: 1) pendidikan;

2) kesehatan; 3) masjid dan madrasah; 4) Social-care dan kesejahteraan; 5) perdagangan dan periklanan; 6) lingkungan; 7) infrastruktur; 8) seni, budaya dan peninggalan sejarah (Pitchay et al., 2014).

Wakaf tunai juga memiliki beberapa manfaat bagi perekonomian suatu negara: 1) wakaf tunai dinilai sangat fleksibel dan memiliki biaya yang minimum, 2) memaksimalkan aset yang terbengkalai dengan menerapkan cash waqf ini, 3) menyokong pendidikan dan lembaga-lembaga Islam, 4) dapat digunakan menjadi sarana untuk pembiayaan UMKM (Ibrahim et al., 2013). Berdasarkan penelitian tersebut, wakaf tunai memiliki potensi sebagai instrumen keuangan publik bagi negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Lebih lanjut, wakaf tunai mampu menjadi alternatif terbaik dalam menghadapi kurangnya investasi yang sesuai syariat Islam.

(17)

17

Babacan (2011) menambahkan bahwa secara ekonomi dan signifikansinya.

wakaf dapat dibagi menjadi dua dimensi: 1) wakaf sebagai pengadaan barang publik, dan 2) wakaf sebagai perlindungan property right. Wakaf juga dapat digunakan untuk penyediaan material pembangunan untuk infrastruktur yang bisa bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya (Bello, 2010). Peran- peran tersebut akan membantu negara dalam menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat dalam beraktivitas maupun bagi investor untuk membuka atau mengembangkan bisnis.

Penelitian Sartika (2008) dengan menggunakan regresi sederhana menemukan bahwa zakat produktif sangat berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan bagi mustahig. Sedangkan di sisi lain, pelembagaan wakaf juga sudah dikembangkan dalam bentuk investasi yang manfaatnya dipergunakan untuk pengembangan pendidikan seperti, Pondok Modern Gontor Ponorogo, Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia, dan Pesantren Tebu Ireng (Isfandiar, 2008). Zakat juga dapat dimanfaatkan untuk pinjaman uang yang bernama Qardhul Hasan atau pinjaman bebas bunga yang berdampak positif dan signifikan terhadap pemberdayaan ekonomi (Febianto dan Ashany, 2012).

Indonesia sedikit banyak sudah merasakan manfaat dari ZIS.

Putra (2013) melaporkan dana dari ZIS di Indonesia pada tahun 2011 yang terkumpul meningkat menjadi sebesar 217 triliun. Sedangkan untuk wakaf, Badan Wakaf Indonesia (BWI) mencatat berdasarkan Kementerian Agama per tanggal 14 Maret 2014 bahwa wakaf tanah di Indonesia mencapai 4.142.464.287,906 m2.

Wakaf uang yang diperolah BWI semuanya berasal dari bank-bank syariah yang ada di Indonesia, pada tahun 2007-2011 cenderung meningkat namun penurunan terjadi pada tahun 2011. Penurunan ini terjadi karena hampir semua bank yang membayarkan wakaf uangnya kepada BWI menurun. Sehingga total keseluruhan wakaf uang yang tercatat pada BWI dari tahun 2007-2011 mencapai 2.973.393.876 atau hampir sekitar 3 miliar rupiah.

Potensi ZIS dan wakaf untuk perekonomian suatu negara mempunyai pengaruh yang positif. Namun potensi ZIS dan wakaf bagi perekonomian dapat terwujud apabila dalam tata kelola dan institusi pengelola ZIS dan wakaf berjalan secara efektif dan efisien. Salah saw kendala yang dihadapi adalah masalah SDM yang masih belum mengerti secara tepat bagaimana pengelolaan ZIS dan wakaf yang baik dan benar sehingga potensi ini kurang dirasakan.

(18)

18

2. Upaya Peningkatan Tata Kelola Institusi Keuangan Publik Islam a. Pengelolaan Keuangan Islam

Pembentukan suatu kelembagaan yang balk sangatlah penting bagi pengelolaan keuangan publik Islam ini. Terlebih, tidak hanya berurusan dengan manusia namun juga berhubungan dengan Allah Swt. karena keuangan publik Islam sangat dilindungi oleh hukum-hukum Allah Swt. yang tertulis di Al- Quran dan Al-Hadis. Yustika (2012) menyatakan bahwa kelembagaan memiliki sumbangan yang penting dalam pembangunan ekonomi mengingat adanya kegagalan pasar akibat mahalnya informasi dan ketidaksempurnaan informasi yang nantinya akan menimbulkan biaya transaksi (transaction cost).

Kelembagaan yang baik juga diperlukan dalam pengelolaan lembaga keuangan publik Islam sehingga menjadi lebih akuntabel dapat dipercaya masyarakat.

Kelembagaan keuangan publik Islam ini perlu diperkuat sehingga pengumpulan dan distribusi dana dari dan kepada masyarakat memberikan dampak besar. Oleh karena itu, tata kelola yang baik dapat mengurangi adanya ketidaksempurnaan informasi yang ada dan dapat menjamin efektivitas maupun optimalisasi dari pengelolaan keuangan publik Islam ini. Mengingat bahwa keuangan publik Islam ini juga merupakan sebuah sistem yang akan menjaga keseimbangan dan harmoni sosial di antara kelompok kaya dan miskin.

b. Pentingnya Faktor Produksi (Capital dan Labor)

Teknis dan ukuran dari sebuah institusi sangatlah menentukan produktivitas dari institusi tersebut (Abd. Wahab dan Abdul Rahman, 2012). Teknis yang dimaksudkan di sini adalah kinerja dari lembaga keuangan publik Islam; seberapa efisien dan efektif dari lembaga keuangan publik Islam ini dalam menghimpun dana yang ada dan menyalurkan dana-dana tersebut pada yang berhak menerimanya serta menyalurkannya pada program-program sosial dan ekonomi yang dapat membantu perekonomian suatu negara. Sedangkan ukuran berkaitan dengan pendanaan (modal) sangatlah penting. Semakin tinggi suntikan modal yang masuk pada suatu lembaga maka akan mendorong lembaga tersebut dalam perkembangan dan inovasi serta perluasan suatu lembaga keuangan publik Islam.

Penelitian lain mengungkapkan bahwa kuantitas dari sumber daya bukan jaminan suatu peningkatan suatu lembaga keuangan publik Islam. Banyaknya dari pekerja misalnya, staf yang banyak namun dengan kualitas dan daya swing mereka yang rendah justru mengakibatkan inefisiensi dalam kinerja lembaga keuangan publik Islam. Pentingnya kualitas pekerja ditunjukkan dengan tidak signifikannya

(19)

19

number of staff (jumlah staf yang ada) terhadap efisiensi lembaga pengelola zakat (Abd. Wahab dan Abdul Rahman, 2013).

Pentingnya sumber daya, proses dari monitoring dan stakeholders yang ada sangat menentukan performa dari lembaga keuangan publik Islam. Penelitian Moh.

Noor (2012) menggambarkan performa lembaga zakat di Malaysia. Performa dari institusi zakat tersebut dipengaruhi oleh sumber daya (resources), process (process of monitoring, termasuk advising role and motivating participants to meet preset target), dan stakeholders.

c. Inovasi dan Penerapan Teknologi

Pentingnya inovasi dan penerapan teknologi yang ada juga perlu diperhatikan dalam mengelola lembaga zakat ini. Selain dari manajemen yang baik, akuntabilitas dan kredibilitas, serta program-program yang populis dan berkualitas, lembaga keuangan publik Islam juga perlu menerapkan sarana teknologi seperti e-payment atau online payment dengan menggunakan kartu ATM ataupun dengan pembayaran elektronik yang berlaku di Indonesia (Andriyanto, 2011). Manajemen wakaf jugs diperlukan adanya update sistem administrasi yang lebih maju dengan mengadopsi teknologi yang ada (Candra dan Abdul Rahman, 2010).

Penerapan wakaf online juga perlu ditingkatkan. Hal ini sejalan dengan penelitian Ahmad et al. (2014) yang menyatakan bahwa penerapan wakaf online sangatlah penting karena dengan adanya wakaf online ini dapat lebih berkontribusi bagi peningkatan pembayaran wakaf. Namun keberhasilan wakaf online tidak serta merta dapat dirasakan begitu saja, perlu untuk memberi pelatihan-pelatihan serta penyuluhan kepada pengelola lembaga wakaf maupun zakat mempelajari bagaimana fungsi dan kegunaan sera mampu mengoperasikan dari sistem zakat maupun wakaf online ini.

d. Transparansi dan Kredibilitas Suatu Lembaga

Penggunaan akuntansi yang baik dan benar dalam melakukan pelaporan keuangan lembaga keuangan publik Islam juga menentukan performa yang kaitannya dengan akuntabilitas dan transparansi. Laporan yang sesuai dengan laporan keuangan lembaga keuangan publik Islam khususnya pada lembaga zakat di Indonesia adalah: 1) pengakuan, penerimaan zakat diakui pada saat itu kas atau aset lainnya diterima; 2) penentuan, proses penentuan untuk mengakui dan memasukkan setiap elemen ke dalam laporan keuangan, penerimaan dari dana zakat melalui jasa

(20)

20

ban dan bagian akuntansi melakukan penjurnalan dan buku besar; 3) penentuan, proses penentuan untuk mengakui dan memasukkan setiap elemen ke dalam laporan keuangan, penerimaan dari dana zakat melalui jasa bantuan dan bagian akuntansi guna melakukan penjurnalan dan buku besar (Kristin dan Umah, 2011).

Empat hal yang perlu dievaluasi dalam hal peningkatan lembaga keuangan publik Islam di Indonesia (Miftah, 2008). Empat hal tersebut adalah: 1) Aspek Pemahaman, meningkatkan pemahaman mengenai fungsi dan peran lembaga keuangan publik Islam dalam perekonomian dan tujuan riil dari keuangan publik Islam. 2) Aspek hukum, evaluasi mengenai undang-undang yang mengatur mengenai lembaga keuangan publik Islam di Indonesia berkaitan dengan ketaatan dan pelanggaran- pelanggaran serta sanksi-sanksi yang diperoleh. 3) Aspek manajemen, berkaitan dengan pengelolaan lembaga keuangan publik Islam yang lebih profesional, kredibel, transparan dan akuntabilitas dan lembaga keuangan publik Islam. 4) Aspek pendayagunaan, berkaitan dengan pendayagunaan keuangan publik Islam untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat terutama asnaf dan masyarakat secara umum.

Pengukuran kepuasan pelanggan juga perlu diperhatikan berkaitan dengan perbaikan sebuah kelembagaan. Mengingat bahwa lembaga keuangan publik Islam ini bergerak pada bidang jasa di mana trust sangatlah penting. Terdapat hubungan yang erat antara providing actual, accurate information pada lembaga wakaf dan meningkatkan performa dari kelembagaan wakaf (Zamil dan Shammot, 2011).

Terdapat enam aspek yang perlu diperhatikan dalam perbaikan manajemen wakaf: 1) peran dari manajemen lokal, 2) membuat standardisasi untuk manajamen wakaf, 3) meningkatkan fasilitas sistem informasi dan 1CT, 4) mengunjukkan wakaf tanah dan status, 5) memberi keterbukaan kepada wali mengenai status dan tujuan dari wakaf. 6) menerbitkan surat utang jika memungkinkan (lsa et al., 2011).

Teknologi dan lamanya institusi terkadang tidak menjadi faktor penentu dalam pengelolaan manajemen lembaga wakaf yang baik. Penelitian Ihsan dan Mohammed Ibrahim (2002) yang membandingkan dua lembaga wakaf yang berbeda dari segi manajemen, sistem akuntansi, pelaporan, dan persiapan dalam informasi akuntansi menunjukkan bahwa kecanggihan teknologi maupun lamanya suatu lembaga ini berdiri tidak terlalu berdampak besar. Paling terpenting dalam pengelolaan lembaga ini adalah keseriusan atau kemauan. Ismail et al. (2014) mengungkapkan bahwa manajemen wakaf yang efisien dan sistematis memainkan peran yang sangat penting dalam memastikan peran yang sangat penting dalam memastikan pemerataan kekayaan, mengurangi kewajiban pemerintah, meningkatkan dan memperkuat perekonomian masyarakat Muslim lainnya.

(21)

21

e. Peran Kearifan Lokal dan Social Capital

Peran social capital di masyarakat dan kearifan lokal dalam pengeloiaan lembaga keuangan publik Islam merupakan hal yang penting dalam kaitannya dengan peningkatan tujuan dari lembaga keuangan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Darma, et al. (2012) mengungkapkan pentingya organisasi atau komunitas di dalam desa untuk distribusi hasil pengumpulan zakat yang lebih merata.

Lebih lanjut, Darma et al. (2012) mencontohkan dengan remaja masjid dan jabal nur foundation untuk mengelola zakat di pedesaan yang nantinya zakat dapat didistribusikan secara merata kepada yang berhak menerima atau mungkin dikelola sedemikan rupa untuk kesejahteraan masyarakat desa.

f. Peran Pemerintah, Hukum, dan Good Governance

Peran dari pemerintah tidak kalah penting dalam menigkatkan peran dari lembaga keuangan publik Islam. Pemerintahan di sini mengacu pada proses dan struktur dalam mengarahkan dan mengelola urusan lembaga keuangan publik Islam terhadap peningkatan kesejahteraan sosial penerimanya yang sah serta menunjukkan pertanggungjawaban kepada pembayar/pemberinya (Abd. Wahab dan Abdul Rahman, 2011). Peran pemerintah di sini adalah sebagai agen transformasi struktural dan kultural (Duka, 2013). Peran pemerintah diharapkan dapat meningkatkan lembaga-lembaga keuangan Islam dengan menguatkan instrumen hukum, dukungan politik dan kelembagaan dalam peningkatan lembaga keuangan publik Islam di daerah maupun nasional. Sehingga dengan peran pemerintah ini diharapkan dapat membantu kelembagaan dan meningkatkan sistem akuntabilitas sehingga meningkatkan trust dan kepercayaan diri masyarakat terhadap keuangan publik Islam ini dan membayarkan zakat, infaq, sedekah ataupun wakaf melalui lembaga-lembaga keuangan publik Islam yang ada.

Pentingnya penerapan good governance mutlak diperlukan agar peran dan dukungan pemerintah terhadap lembaga keuangan publik Islam di Indonesia.

Penerapan good governance ini berkaitan dengan implementasi internal kontrol dan implementasi total quality management yang terjadi secara simultan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan penerapan internal kontrol dan implementasi dari total quality management akan secara intens meningkatkan performa dari sebuah organisasi atau lembaga (Fadilah, 2013). Kaitannya dengan wakaf, efisiensi dan manajemen wakaf yang sistematis berperan sangat signifikan dalam pemerataan distribusi pendapatan, mengurangi beban pemerintah, dan berperan dalam peningkatan dan pertumbuhan perekonomian dari kaum Muslim (Ismail et al., 2014).

(22)

22

Peran wakaf dalam perekonomian dapat berupa pengadaan barang-barang publik (Shatzmiller, 2001). Lebih lanjut, Shatzmiller (2001) menjelaskan untuk mewujudkan hal tersebut terdapat dua hal yang perlu diperhatikan: 1) hukum yang ketat dan tegas, guna mencegah adanya privatisasi dari barang-barang atau properti yang telah diwakafkan dan memberikan status hukum sebagai barang publik yang dikelola oleh administrasi wakaf; 2) secara ekonomi, perlunya peningkatan efisiensi agar institusi yang ada semakin besar dan baik.

H. Simpulan

Pengelolaan keuangan negara sudah dilakukan sejak masa Rasulullah.

Lembaga untuk menghimpun keuangan negara Islam adalah Baitul Mal dan Wilayatul Hisbah. Baitul Mal dibagi menjadi empat yaitu Baitul Ma! Zakat, Baitul Ma! Akhmas, Baitul Mal Fai' dan Baitul Mal Dlawa'i. Wilayatul Hisbah merupakan lembaga yang bertugas untuk melakukan sistem pengawasan atau kontrol terhadap aktivitas ekonomi pada masa kepemimpinan Rasulullah. Penerimaan negara dalam pandangan Islam dapat dibagi menjadi sumber penerimaan primer dan sekunder. Penerimaan negara primer dalam Islam diantaranya adalah zakat, ghanimmah, fai', kharaj, jizyah dan'usyr. Penerimaan negara yang bersifat sekunder dapat berupa uang tebusan, pinjaman pembayaran uang pembebasan kaum Muslim, khum (harta karun), Amwal Fadhla (harta benda yang tidak diwariskan), wakaf, serta kurban dan kaffarat. Rasulullah menerapkan kebijakan fiskal dengan membangun infrastruktur-infrastruktur untuk kepentingan rakyatnya.

Rasulullah juga melakukan ekspor-impor dengan berdagang serta menerapkan kebijakan moneter untuk menjaga kestabilan mata uang (dinar dan dirham) tanpa menggunakan instrumen yang berbau riba atau bunga.

Tata kelola dan institusi keuangan publik Islam yang baik akan memberikan dampak besar terhadap pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Muslim. Kelembagaan keuangan publik Islam ini dapat mengurangi adanya ketidaksempurnaan informasi yang ada dan dapat menjamin efektivitas maupun optimalisasi dari pengelolaan keuangan publik Islam. Pentingnya sumber daya, proses dari monitoring dan stakeholders yang ada sangat menentukan performa dari lembaga keuangan publik Islam. Inovasi dan penerapan teknologi yang ada juga perlu diperhatikan dalam mengelola lembaga keuangan publik Islam agar mempermudah dalam pembayaran. Penggunaan akuntansi yang baik dan benar dalam melakukan pelaporan keuangan lembaga keuangan publik Islam juga menentukan dari performa yang kaitannya dengan akuntabilitas dan transparansi.

Pengukuran kepuasan masyarakat pengguna layanan institusi keuangan publik Islam juga perlu diperhatikan berkaitan dengan perbaikan sebuah kelembagaan.

(23)

23

Peran social capital di masyarakat dan kearifan lokal dalam pengelolaan lembaga keuangan publik Islam merupakan hal yang penting dalam kaftan peningkatan tujuan dari lembaga keuangan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Peran dari pemerintah tidak kalah penting dalam meningkatkan peran dari lembaga keuangan publik Islam. Pemerintah diharapkan dapat meningkatkan lembaga-lembaga keuangan publik Islam dengan menguatkan instrumen hukum, dukungan politik dan kelembagaan dalam peningkatan lembaga keuangan publik Islam di daerah maupun nasional.

Dear Bacaan

Abd. Wahab, N., dan Abdul Rahman, A. (2011). A Framework to Analyse the Efficiency and Governance of Zakat Institutions. Journal of Islamic Accounting and Business Research, Vol. 2, Iss 1, 43-66.

_____________. (2012). Productivity Growth of Zakat Institutions in Malaysia:

an Application of DEA (Data Envelopment Analysis) ..Journal of Economic Cooperation and Development, Vol. 33, No. 1, 95-112.

____________. (2013). Determinants of Efficiency of Zakat Institutions in Malaysia: A Non-Parametric Approach. Asian Journal of Business and Accounting 6(2), 33-64.

Ahmad, M., Mohd Isa, M. B., Palil, R., dan Dolah , N. H. (2014). Online Waqf Acceptence and Determinant Factors. International Journal of Business, Economics and Law, Vol. 5, Issue 2, 28-35.

Andriyanto, I. (2011). Strategi Pengelolaan Zakat dalam Pengentasan Kemiskinan. Walisongo, Volume 19, Nomor 1, 25-45.

Babacan, M. (2011). Economics of Philanthropic Institutions, Regulation and Governance in Turkey. Journal of Economic and Social Research, Vol. 13, Issue 2, 61-89.

Bello, A. D. (2010). Poverty Alleviation Through Zakah and Waqf Institutions:

A Case for the Muslim Ummah in Ghana. MPRA Paper No. 2319, posted 10.

Candra, H., dan Abdul Rahman, A. (2010). Waqf Investment: A Case Study of Dompet Dhuafa Republika, Indonesia. Jurnal Syariah, Vol. 18, No. 1, 163-190.

Chaudhry, M. S. (2012). Sistem Ekonomi Islam: Prinsip Dasar, terjernahan oleh Suherman Rosyidi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

(24)

24

Darma, R., Zain, A. M., dan Amandaria, R. (2012). Zakat, Local Social Organization and Social Capital in Rural Economic Development. Sociology Study. Volume 2, No. 3, 189-197.

Duka, S. (2013). The Role of Government in Optimizing of "Zakat"

Management. Journal of Economics and Sustainable Development, Vol. 4, No.

18, 134-140.

Fadilah, S. (2013). The Influence of Good Governance Implementation to Organization Performance: Analysis of Factor Affecting (Study on Institution Amil Zakat Indonesia). The International Journal Of Science, Vol. 7, No. I, 15-33.

Faisal. (2011). Sejarah Pengelolaan Zakat (Pendekatan Teori Investigasi-Sejarah Charles Pierce dan Defisit Kebenaran Lieven Boeve). Analisis, Volume IX, No. 2, 241-272.

Fajri, R. (2008). Sejarah Keuangan Islam. Aplikctsia, Jurnal Aplikasi Ilmu-Ilmu Agama, Vol. IX, No. 2, 173-194.

Febianto, I., dan Ashany, A. M. (2012). The Impact of Qordhul Hasan Financing Using Zakat Funds on Economic Empowerment. Asian Business Review, Vol. 1, Issue 1, 15-20.

Ibrahim, H., Amir, A., dan Masron, T. (2013). Cash Waqf: An Innovative Instrument for Economic. International Review of Social Science and Humanitites, Vol. 6, No. 1, 1-7.

Ihsan, H., dan Hj. Mohammed Ibrahim, S. H. (2002). Waqf Accounting and Management in Indonesian Waqf Institutions: The Case of Two Waqf Foundations. Humanomics, Vol. 271ss 4, 252-269.

Isa, Z. M., Ali, N., dan Harun, R. (2011). A Comparative Study of Waqf Management in Malaysia. International Conference on Sociality and Economics Development, Vol. 10 (hal. 561-565). Singapore: LACSIT Press.

Isfandiar, A. A. (2008). Tinjauan Fiqh Muamalat dan Hukum Nasional tentang Zakat di Indonesia . La Riba: Jurnal Ekonomi Islam Vol. II, No. 1, 51-73.

Islahi, A. A. (2006). Kharaj and Land Proprietary rights in The Sixteenth Century: An Example of Law and Economics. MPRA paper, No 18231.

Diambil kembali dari http://mpra.ub.uni-muenchen.de/18231/.

Ismail, C. Z., Muda, I., dan Hanafiah , N. A. (2014). Challenges and Prospects of Cash Waqf Development in Malaysia. Journal of Basic and Applied Scientiltiz Researcher, Vol. 4, Issue 2, 340-348.

(25)

25

Karim, A. A. (2001). Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer. Jakarta: Germ lnsani Press.

Kristin P, A., dan Umah , U. K. (2011). Penerapan Akuntansi Zakat

Lembaga Amil Zakat (Studipada Lembaga Amil Zakat (LAZ) DPU DT Cabang Semarang). VALUE ADDED, Vol. 7 , No.2, 68-97.

Miftah, A. A. (2008). Pembaharuan Zakat untuk Pengentasan Kemiskinan di Indonesia. Innovatio, Vol. 7, No. 14, 423-439.

Moh. Noor, A. H. (2012). Assessing Performance of Nonprofit Organization.

A Framework for Zakat Institutions. British Journal of Economics, Finance and Management Sciences, Vol. 5, No. 1, 12-22.

Muktiyanto, A., dan Hendrian, (2008). Zakat Sebagai Pengurang Pajak. jurna.

Organisasi dan Manajemen, Volume 4, Nomor 2, 100-112.

P3EI. (2008). Ekonomi Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Pitchay, A. A., Meera, A. M., dan Salem, M. Y. (2014). Priority of Waq!

Development among Malaysian Cash Waqf Donors: An AHP Approach Journal of Islamic Finance, Vol. 3 No. 1, 013 - 022.

Putra, S. E. (2013). Potensi Zakat, Infak, Shadaqah sebagai Instrumen Kesejahteraan dan Kewirausahaan Penduduk Miskin di Indonesia. Admisi dan Bisnis, Vol. 14, No. 1, 81-90.

Qardhawi, Y. (1999). Hukum Zakat. Bandung: PT Pustaka Litera AntarNusa dan Mizan.

Sartika, M. (2008). Pengaruh Pendayagunaan Zakat Produktif terhadap Pemberdayaan Mustahiq pada LAZ Yayasan Solo Peduli Surakarta, LaRiba:

Jurnal Ekonomi Islam Vol. II, No. 1, 75-89.

Shatzmiller, M. (2001). Islamic Institutions and Property Rights: The Case of the

"Public Goods" Waqf. Journal of the Economic and Social History of the Orient.

Vol. 44, No. 1, 44-74.

Shirazi, N. S. (2014). Integrating Zakat and Waqf into the Poverty Reduction:

Strategy of the 1DB Member Countries. Islamic Economic Studies, Vol. 22, No. I , 79-108.

Tarar, A., dan Riaz, M. (2012). Impact Zakat on Economy: Structure and Implementation in Pakistan. Journal of Economics and Sustainable

Development, Vol. 3, No. 10, 151-155.

(26)

26

Yustika, A. E. (2012). Ekonomi Kelembagaan: Paradigma, Teori, dan Kebyakan. Jakarta:

Penerbit Erlangga.

Zamil, A. M., dan Shammot, M. M. (2011). Role of Measuring Customer Satisfication in Improving the Performance in the Public Sector Organization. Journal of Business Studies Quartely, 32-41.

Referensi

Dokumen terkait

Secara garis besar, kegiatan ini bertujuan (1) memperkenalkan seni lukis di tingkat pelajar SMA dan SMK sederajat baik secara teknik maupun wacana, (2) untuk

Sistem Keamanan Rumah Berbasis Rfid Terintegrasi Dengan Sms Gateway Sebagai Peringatan Dini Kepada Pemilik Rumah.. Universitas

Mangrove adalah hutan yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang di pengaruhi oleh pasang surut, memiliki akar tunjang dan akar pernapasan yang menyembul

Dalam pandangan penulis konsep pendidikan dalam aliran Asy’ariyah dapat sejalan dengan teori konvergensi karena aliran Asy’ariyah merupakan penengah antara paham

Perbedaan hasil uji korelasi antara domba ET, Merino dan backcross tersebut sesuai dengan pernyataan B EH dan M ADDOX (1996) yang menyatakan bahwa jumlah eosinofil di dalam darah

Abdul Mutalib yang mendapat sokongan Bani Hasyim dan kaum Mawali (non-Arab) yang tidak berpuas hati dengan pemerintah kerajaan

Puji syukur kepada Allah SWT karena hanya oleh ridho dan rahmat-Nya saja penulis dapat mengerjakan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pelaksanaan Peraturan Pemerintah

M etode penelitian yang digunakan adalah dengan metode kualitatif deskriptif sedangkan analisa datanya dengan menggunakan Analisis SWOT Klasik, yaitu dengan mengumpulkan data