• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEHIDUPAN PARA PEDAGANG EMPERAN TOKO DINI HARI. (Studi Deskriptif di Pasar Kota Kualasimpang) SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEHIDUPAN PARA PEDAGANG EMPERAN TOKO DINI HARI. (Studi Deskriptif di Pasar Kota Kualasimpang) SKRIPSI"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

KEHIDUPAN PARA PEDAGANG EMPERAN TOKO DINI HARI (Studi Deskriptif di Pasar Kota Kualasimpang)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Ilmu Sosial Dalam Bidang Antropologi

OLEH : ELDA ELFIYANTI

140905106

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PERNYATAAN ORIGINALITAS

KEHIDUPAN PARA PEDAGANG EMPERAN TOKO DINI HARI (Studi Deskriptif di Pasar Kota Kualasimpang)

SKRIPSI

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Apabila dikemudian hari terbukti lain atau tidak seperti yang saya nyatakan ini, saya bersedia diproses secara hukum dan siap menanggalkan gelar kesarjanaan saya.

Medan, Desember 2018

ELDA ELFIYANTI

(3)

ABSTRAK

Elda Elfiyanti, 2018, Kehidupan Para Pedagang Emperan Toko Dini Hari ( Studi Deskriptif di Pasar Kota Kualasimpang). Skripsi ini terdiri dari 6 bab, 127 Halaman, 22 gambar, 8 Tabel.

Skripsi ini berjudul Kehidupan Pedagang Emperan Toko Dini Hari (Studi Deskriptif di Pasar Kota Kualasimpang), ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana kehidupan para pedagang emperan toko yang berjualan pada saat dini hari di pasar Kota Kualasimpang.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Untuk memperoleh data penelitian yang valid, penulis menggunakan teknik observasi partisipasi dan wawancara mendalam. Adapun pihak yang diwawancarai peneliti adalah tiga orang pedagang emperan toko dini hari, pemilik toko, pihak Dinas Koperindang, dan pemilik toko. Semua itu dilakukan dengan cara membangun rapport (hubungan baik) dengan informan yang diwanwancarai dan menggunakan surat izin penelitian.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor himpitan ekonomilah memaksa para pedagang emperan yang merupakan seorang ibu rumah tangga turut mengambil alih urusan publik. Pendapatan yang terbilang cukup besar nyatanya tidak sepenuhnya mampu membuat kehidupan lebih baik. Pengeluaran keluarga adalah perolehan dari hasil mereka berdagang ditambah lagi dengan ansuran pinjaman yang harus dibayarkan.

Hubungan antara pedagang emperan dengan pihak lain bisa terbilang cukup baik, konflik kecil ada namun keberadaan mereka membuat mereka menghindari konflik, baik antara pemilik lapak maupun dengan konsumen. Dalam mengelola dagangan pedagang mempunyai strateginya masing-masing. Ada yang menjual dengan untung tipis, dijual esok hari, menjualnya ke pedagang kios skala besar atau bahkan memasaknya dirumah dan diberikan pada orang terdekat, seperti tetangga atau pemilik kios di pasar

Kata-kata Kunci: Pedagang, Emperan, Keluarga

(4)

UCAPAN TERIMAKASIH

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkah dan rahmatnya saya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Kehidpuan Para Pedagang Emperan (Studi Dekriptif Di Pasar Kota Kualasimpang)” dengan baik.

Saya menyadari dalam penulisan skripsi ini banyak pihak yang telah membantu saya dalam memberikan saran, bimbingan dan bantuan secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu Pertama saya ingin menyapaikan terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya ke pada diri saya sendiri, meskipun dengan penuh keringat, perjuangan, pengorbanan dan tanggapan miring orang atas keterlambatan dalam penyelesaian skripsi ini, tetapi saya masih mampu dan terus berjuang untuk menyelesaikannya, because I love my self.

Selama duduk di bangku kuliah tentunya tak sedikit dana yang telah di keluarkan, maka dari itu saya ingin mengucap terimakasih kepada. ke dua orang tua saya yakni ayah Muhammad Yani dan mamak Aslawati. Tak lupa pula ucapan terimakasih saya sampaikan pada kedua orang adik saya yaitu Muhammad Regie dan Destri Pannacea. Tak lupa untuk yang terkasih almh. Nenek dan alm. Mbah saya, yang telah merawat dan mendidik saya saat kecil dengan penuh pengorbanan dan cintanya.

Pada kesempatan ini saya juga ingin mengucapkan banyak rasa terimakasih dengan tulus kepada dosen pembimbing skripsi sekaligus penasehat akademik saya, Bapak Drs. Lister Berutu, MA, yang telah dengan sabar membimbing saya dalam penyelesaian skripsi ini dengan segala arahan, masukan, motivasi dan waktunya. Ucapan terimakasih juga saya ucapkan kepada Bapak Dr.

Fikarwin Zuska, M.Ant selaku ketua departemen. Tidak ketinggalan juga kepada Bapak Agustrisno, MSP sebagai Sekretaris Departemen Antropologi. Tidak ketinggalan saya juga mengucapkan banyak rasa terimakasih kepada seluruh staf pengajar Departemen Antropologi FISIP-USU yang telah memberikan saya begitu banyak ilmu. Tidak lupa saya juga mengucapkan banyak terimakasih kepada Kak Nurhayati dan Kak Sri selaku staf administrasi Departemen Antropologi.

(5)

Tidak lupa pula saya ucapakan banyak rasa terimakasih kepada informan saya yang telah memberikan saya banyak informasi serta waktunya yang berharga sehingga saya bisa menyelesaikan skripsi ini. Tak ketinggalan, saya juga berterimakasih kepada kak Andini sekalu senior seperbimbingan yang secara tidak langsung memotivasi saya, juga kepada teman-teman seperjuangan tempat berbagi cerita dan air mata selama proses penyelesain skripsi yang pertama Isma, kemudian Dwi, Hijri, Saf dan masih banyak lagi yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Juga untuk teman kost terakhir saya, kak Egin yang telah memberi saya masukan dan pilihan hidup.

Terakhir saya juga mengucapkan terimakasih kepada keluarga besar Lateral Medan, karena kerinduan saya untuk bersama mereka saya termotivasi menyelesaikan skripsi ini, para abang, para kakak, teman-teman dan adik-adikku tercinta. Serta masih banyak lagi pihak-pihak yang membantu saya dalam kuliah maupun skripsi ini, terimakasih banyak semoga Allah membalas segala kebaikan yang telah kalian berikan. Menyadari masih banyak kekurangan dan keterbatasan saya dalam mengerjakan skripsi ini untuk itu saya harapkan untuk memberikan saran dalam penyempurnaan tulisan ini. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

(6)

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Selama masa perkuliahan, peneliti pernah turut aktif mengikuti kegiatan kampus diantaranya yakitu Pers Mahasiswa Suara Usu (2015-2016) dan Lateral (2016-sekarang). Peneliti juga mengikuti beberapa kegiatan dalam aktivitas kampus maupun luar kampus, adapun kegiatannya sebagai berikut:

1. Peserta Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) 2014 di Fkultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

2. Peserta inisiasi dalam kegiatan penerimaan mahasiswa baru Antropologi tahun 2014 di Parapat

3. Panitia bayangan di inisiasi dalam kegiatan penerimaan mahasiswa baru Antropologi tahun 2015 di Sibolangit

4. Panitia Salam Ulos oleh Suara Usu di Berastagi pada 2015

5. Panitia Temu ramah Suara Usu 2016 dan berbagai kepanitiaan kecil lainnya di Suara Usu.

6. Peserta seminar hasil disertasi doctor tahun 2016, penelitian Dra. Mariana Makmur, M.A dan penelitian Sri Alem Br. Sembiring M.Si.

diselenggarakan oleh Departemen antropologi FISIP-USU.

Elda Elfiyanti, lahir di Karang Baru, Kab. Aceh Tamiang pada tanggal 11 Agustus 1996 dari pasangan Aslawati dan Muhammad Yani, anak pertama dari tiga bersaudara. Pendidikan dasar peneliti tempuh di SD N 1 Kualasimpang, masih di kecamatan yang sama peneliti melanjutkan sekolah di SMP N 1 Kualasimpang, kemudian peneliti menjalani masa SMA di SMA N 2 (PERCONTOHAN) Karang Baru. terakhir peneliti melanjutkan keperguruan di Departemen Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Polotik, universitas Sumatera Utara

(7)

7. Enumerator dalam Survey Preferensi Politik Masyarakat Jelang Pilkada Serentak 2016 di Provinsi Aceh

8. Peserta Training of Fasilitator (TOF) mata kuliah pengembangan Masyarakat tahun 2016

9. Penerima besiswa BBM 2017

10. Praktik Kerja Lapangan (PKL) di PT. Pegadaian (Persero) – Kanwil I Medan, Divisi Operasional Human Capital (OHC) 2017

11. Panitia Outbound KAUR Desa se-Kabupaten Langkat oleh Lateral di Berastagi tahun 2017

12. Panitia BIMTEK Badan Pengawas Desa (BPD) Oleh Lateral di Polonia, Medan pada 2017

(8)

KATA PENGANTAR

Puji serta syukursaya panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya, saya (peneliti) dapat mengerjakan tugas akhir semester (skripsi) dengan judul: Kehidupan Para Pedagang Emperan Toko Dini Hari (Studi Deskriptif di Pasar Kota Kuala Simpang).

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana bagi mahasiswa Departemen Antropologi Sosial. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunana hasil skripsi ini masih banyak sekali kekurangannya dan jauh dari kata sempurna, hal ini dikarenakan keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti sendiri.

Atas kekurangan dan ketidak sempurnaan skripsi ini peneliti sangat mengharapkan masukan, kritikan serta saran yang membangun untuk membuat skripsi ini lebaik dan sempurna. Banyak tantangan dan rintangan selama pengerjaan skripsi ini, namun itu semua dapat dilalui dengan harapan dapat menghasilkan sebuah karya yang bagus.

Akhir kata, peneneliti mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Demikian pengantar dari saya, semoga bermanfaat untuk para pembaca.

Medan, Oktober 2018

ELDA ELFIYANTI

(9)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ………. i

PERNYATAAN ORIGINALITAS ……….… ii

ABSTRAK ………... iii

UCAPAN TERIMAKASIH ………... iv

RIWAYAT HIDUP PENULIS ……….. vi

KATA PENGANTAR ………..………. viii

DAFTAR ISI ………...…. ix

DAFTAR TABEL ……….……... xi

DAFTAR GRAFIK ………. xi

DAFTAR GAMBAR ………... xi

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ……… 1

1.2. Tinjauan Pustaka ………. 5

1.3. Rumusan Masalah ………..………...… 10

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………..………... 10

1.5. Lokasi Penelitian ………..………...….. 11

1.6. Teknik Pengumpulan Data ……… 12

1.6.1. Penelitian Obsevasi Partisipasi ………..……….. 12

1.6.2. Teknik Wawancara Mendalam ………..….. 14

1.6.3. Studi Dokumentasi ………..………. 16

1.6.4.Studi Pustaka ……….… 17

1.7. Analisis Data ……….… 17

1.8. Pengalaman Penelitian ……….. 18

BAB II. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 2.1. Letak Geografis ………...……….. 21

2.2. Sosial Masyarakat ………...……….. 26

2.3. Perekonomian ………..………….. 28

2.4. Lambang Daerah ………...……… 29

2.5. Gambaran Pasar Kota Kualasimpang ……… 32

2.5.1. Jumlah dan Susunan Toko …...……….. 36

2.5.2. Saranya dan Prasarana di Pasar ……….. 44

BAB III. PEDAGANG EMPERAN TOKO DI PASAR KOTA KUALASIMPANG 3.1. Gambaran Umum Pedagang Emperan ………..… 46

3.1.1. Alokasi Waktu ………...……. 47

3.1.2. Jumlah, Susunan dan Jenis Dagangan ………...…... 51

3.2. Pekerjaan Sebagai Pedagang Emperan ………..…….. 59

(10)

3.3. Peran keluarga dalam proses berdagang………...….….. 62

3.3.1.Mengantarkan dan Menjemput Ibu Atau Istrinya Ke Pasar Untuk Berdagang ……….… 63

3.3.2. Membatu dalam Penyediaan Barang Dagangan …...……… 64

3.4. Proses Mendapatkan Bahan Baku ………...…….. 67

3.4.1. Tengkulak ……….……….. 68

3.4.2. Kebun Sendiri ……… 68

3.4.3. Mencari Sendiri ……….. 70

3.5. Harga dan Pelanggan ……….… 71

3.6. Dagangan yang Tidak Habis Dijual ……….. 75

BAB IV. KEHIDUPAN TIGA PEDAGANG EMPERAN 4.1. Bu Ramlah Si Pemdiam ……… 80

4.2. Janda Tangguh Tulang Punggung Keluarga ……….… 88

4.3. Bu Eva Yang Banyak Omong ………..………. 95

BAB V. Hubungan Sosial Pedagang Emperan 5.1. Pemilik Toko ………..……….……..……… 102

5.2. Pemerintah ……….. 106

5.3. Pembeli ………... 109

5.4. Sesama Pedagang ………...……… 112

5.5. Agen Sayur/ Tengkulak ……….……….. 116

5.6. Hak Dan Kewajiban Pedagang Emperan ……….……..………… 119

BAB VI. PENUTUP 5.1. Kesimpulan ………...………..… 121

5.2 Saran ………. 122

DAFTAR PUSTAKA ………..………… 123

Lampiran I Data Informan ……… 124

Lampiran Ii Pedoman Wawancara ……….……….. 125

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1: Jumlah Penduduk Kabupaten Aceh Tamiang Menurut Agama ….…… 27

Tabel 2: Jumlah Sarana Ibadah di Kabupaten Aceh Tamiang ………. 28

Tabel 3: Jumlah Rumah Tangga Di Kabupaten Aceh Tamiang Menurut Lapangan Pekerjaan Utama ………..…. 28

Tabel 4: Jumlah Sarana Perekonomian di Kabupaten Aceh Tamiang ...29

Tabel 5: Rekapitulasi Data Pedagang Kaki Lima Pasar Pagi Kota Kualasimpang Tahun 2018 ……….………… 52

Tabel 6: Data Pedagang Kaki Lima Pasar Kota Kualasimpang ………...… 53

DAFTAR GAMBAR Gambar 1: Peta Wilayah Administrasi Kab. Aceh Tamiang ………...… 26

Gambar 2: Lambang Daerah Aceh Tamiang ………..………. 29

Gambar 3: Gapura Pasar Kota Kualasimpang ………...………….. 33

Gambar 4: Becak Mengangkut Dagangan Pedagang ………...……… 35

Gambar 5: Petugas Kebersihan ………...………. 35

Gambar 6: Susunan Bangunan Bagian Depan Pasar Kota Kualasimpang ….….. 36

Gambar 7: Jajaran Pertokoan Bagian Depan Pasar Kota Kualasimpang ……… 37

Gambar 8: Tempat PKL Pedagangan CD ………...…. 38

Gambar 9: Dagangan Pedagang Kios Bagian Depan Pasar ………..……... 38

Gambar 10: Sususan Ruko di Pasar Kota Kualasimpang ………...………. 39

Gambar 11: Suasana Pagi Hari Deretan Ruko ………. 40

Gambar 12: Susunan Lantai Dua Pasar Yang Baru ………. 31

Gambar 13: Susunan Lantai Dua Pasar Yang Baru ……….………… 42

Gambar 14: Susunan Box Meja Di Lantai Dua Pasar ……….……. 42

Gambar 15: Kondisi Lantai Dua Pasar ………. 43

Gambar 16: Mitha Sedang Memilah Daun Pisang ………..………. 66

Gambar 17: Wak Nur Sedang Menimbang Kacang Panjang Hasil Panen ……... 69

Gambar 18: Bu Ramlah Membeli Cabai ……….. 75

Gambar 19: Lapak Bu Ramlah ………...…….. 84

Gambar 20: Lapak Wak Nur ………...………. 91

Gambar 21: Pedagang Membersihkan Lapaknya ………..………… 103

Gambar 22: Pemilik Toko Sudah Membuka Toko ………..……….. 103

(12)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Di era serba modern seperti saat ini, sangat mudah untuk mendapatkan barang-barang yang kita inginkan dengan hanya sekali klik pada aplikasi belanja online, ataupun untuk belanja produk-produk dengan kualitas bagus di departemen strore. Namun di luar itu semua pasar tradisional masih eksis pada

setiap lapisan masyarakat sebagai tujuan mereka berbelanja. Selain harganya yang murah dan dapat di tawar di pasar terdapat banyak pedagang dengan tawaran harga yang berbeda-beda sehingga peluang bagi mereka yang ingin berdagang di pasar tradisional terbuka lebar, tak perlu keterampilan khusus cukup modal seadanya sudah dapat berjualan di pasar guna memenuhi kehidupan sehari-hari.

Pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melaksanakan transaksi, sarana transaksi sosial budaya masyarakat dan pengembangan ekonomi masyarakat. Menurut karakteristiknya pasar terbagi menjadi dua yaitu, pasar modern dan pasar tradisional. Pasar menjadi tempat berkumpulnya orang dari berbagai lapisan masyarakat dan tempat untuk memperjualbelikan suatu barang dagangan untuk memeuhi kebutuhan hidupnya. Pasar juga merupakan salah satu lembaga yang paling penting dalam institusi ekonomi dan juga salah satu penggerak utama dinamika kehidupan ekonomi (damsar, dalam khaerunnisa :2015)

Berbeda dengan pasar modern, pasar tradisional yang biasanya dikelola

(13)

ditemui proses jual beli dengan sistem tawar menawar, adapun tempat usaha yang dapat ditemui di pasar berupa toko, kios, tenda, lapak tikar atau nama lain sejenisnya, yang dimiliki atau dikelola oleh pedagang kecil menengah dengan skala modal yang kecil. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan- bahan makanan seperti, ikan, sayur-sayuran, buah dan pakaian.

Sama halnya dengan pasar lainnya pasar tradisional yang terdapat di Kota Kualasimpang juga menyediakan berbagai macam bahan pokok untuk keperluan rumah tangga seperti ikan, sayuran, buah dan pakaian. Biasanya tempat berjualan masing-masing komoditi tersebut di pisahkan, ada kios-kios khusus untuk para penjual ikan yang berbentuk meja keramik yang disediakan di pasar, para pegadang pakaian menempati bangunan yang berbentuk kios atau toko yang biasanya buka pada pukul sembilan atau sepuluh pagi, sementara para pedagang sayur atau buah beberapa ada yang berjualan di toko, namun uniknya banyak para pedagang sayuran di pasar Kualasimpang ini yang hanya membuat lapak jualan beralaskan tikar, terpal atau sejenisnya untuk berjualan dan uniknya lagi para pedagang ini berjualan di emperam toko pakaian yang belum buka, jadi mereka berjualan sebelum matahari terbit hingga sampai toko yang emperannya mereka gunakan buka.

Dari banyaknya pedagang emperan toko di Pasar Kota Kualasimpang, pedagang perempuan adalah yang paling banyak jumlahnya dan didominasi oleh ibu rumah tangga. Aktivitas pedagang emperan ibu rumah tangga ini tentunya menjadi suatu hal yang menarik, mengingat mereka adalah seorang ibu rumah

(14)

tangga yang memiliki tanggung jawab dalam sektor domestik, seperti halnya memasak, mencuci hingga tanggung jawab terhadap anak yang bersekolah.

Para pedagang emperan tersebut dapat juga disebut pedagang kaki lima, menurut Wikipedia pedagang kaki lima atau yang biasa dikenal dengan sebutan PKL adalah istilah untuk menyebut para penjaja dagangan yang melakukan kegiatan komersial di atas derah milik jalan yang seharusnya diperuntukan untuk pejalan kaki.

Pasar merupakan salah satu tempat berkumpulnya para pekerja sektor informal yakni pedagang. Sektor informal merupakan pencerminan dari ketidak mampuan sektor formal membuka kesepatan kerja yang lebih luas. Sektor informal selama ini memang diakui sebagai pemberi pendapatan terbesar Negara.

Sektor informal (pedagang) menjadi pilihan alternatif, karena mudah memasukinya, tidak perlu keterampilan khusus, sehingga hal ini dapat menekan angka pengangguran dan kemiskinan. Selain itu keberadaan sektor informal atau pedagang emperan ini menguntungkan bagi para konsumen dari kalangan masyarakat ekonomi menengah kebawah, karena mereka dapat menyediakan barang-barang kebutuhan dengan harga yang relative lebih murah.

Kemampuan sektor informal dalam menampung tenaga kerja didukung oleh berbagai. Sifat dari sektor ini tidak memerlukan syarat dan tingkat keterampilan, sektor modal kerja, pendidikan mapun sarana yang dipergunakan semuanya serba sederhana dan mudah di jangkau oleh semua masyarakat.

Masyarakat yang belum memiliki pekerjaan dapat terlibat di dalamnya, seperti para pedagang perempuan di pasar Kualasimpang.

(15)

Tantangan kehidupan yang berat disertai dengan minimnya lapangan pekerjaan yang tersedia di kota kecil serta tinggat pendidikan yang rendah juga keterampilan dan modal yang minim. Berdagang di pasar tentu dapat menjadi salah satu alternatif untuk dapat bertahan hidup. Terlebih berdagang di emperan toko yang tak perlu modal besar untuk membeli atau menyewa toko untuk berjualan.

Para pedagang emperan ini juga mempunyai strategi dagang yakni apabila toko inang mereka hampir buka maka mereka akan bersedia jika dagangannya ditawar lebih murah oleh pembeli namun masih dalam penawaran yang wajar, kondisi seperti ini sungguh menguntung para konsumen. Pedagang emperan merupakan pekerja sektor informal maka dapat dijumpai para pedagang di pasar Kualasimpang ini memiliki umur yang sudah tidak muda lagi, serta tak sedikit juga perempuan atau ibu-ibu yang menjadi pedagang di pasar ini.

Pedagang emperan tersebut merupakan salah satu dari banyak fenomena pekerja sektor informal, kota Kualasimpang sendiri meskipun hanya sebuah kota kecil namun dapat menyerap banyak pekerja sektor informal dengan orang yang minim skill, pendidikan dan tanpa batasan usia serta gender. Mudahnya masuk sebagai pekerja disektor informal tersebut dapat menjadi alasan para perempuan pedagang tersebut turut andil dalam pemenuhan ekonomi keluarganya, menariknya lagi adalah para pedagang-pedagang lapak dengan modal kecil ini tak perlu menyewa toko atau kios mereka hanya perlu datang waktu dini hari untuk menggelar dagangan di depan koto inang tersebut.

(16)

Dari pemaparan masalah di atas maka peneliti tertarik untuk mengungkap kehidupan para pedagang emperan tersebut. Oleh karena itu judul dari penelitian ini adalah “Kehidupan Para Pedagang Emperan Toko Dini Hari (Studi Deskriptif di Pasar Kota Kualasimpang”.

1.2 Tinjauan Pustaka

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) hidup diatrikan sebagai masih terus ada, bergerak dan bekerja sebagaimana mestinya (tentang manusia, binatang, tumbuhan, dan sebagainya). Selain itu diartikan juga mengalami kehidupan dalam keadaan atau dengan cara tertentu, sedangkan kehidupan diartikan sebagai cara, keadaan atau hal dalam hidup. Kehidupan yaitu dengan melihat apa yang dapat diberikan bagi kehidupan ini. Melalui tindakan-tindakan kreatif dan menciptakan suatu karya seni, menekuni suatu pekerjaan dan meningkatkan keterlibatan pribadi terhadap tugas serta berusaha untuk mengerjakan dengan sebaik-baiknya (Frankl dalam : Pradiska 2017).

Kehidupan para pedagang di pasar tentunya tak lepas daripada interaksi sosial, para pedagang tentunya akan berinteraksi dengan para pedagang emperan lainnya, dengan si pemilik toko dan tentu saja dengan para pembelinya. Adapun yang dimaksud dengan interaksi sosial adalah hunbungan antara dua orang atau lebih atau antara dua kelompok orang atau lebih atau antara dua kelompok orang atau lebih atas dasar adanya aksi dan interaksi, (Koentjaraningrat, dkk, 2003:90).

Pedagang emperan di pasar Kualasimpang merupakan salah satu contoh

(17)

informal membuka peluang lapangan kerja untuk masyarakat yang kurang berpendidikan serta keterampilan, terlebih dengan modal yang terbilang kecil mereka sudah mampu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan.

Mulyanto dalam : Pradiska 2017, mengemukakan bahwa PKL adalah termasuk usaha kecil yang berorientasi pada laba (profit) layaknya sebuah kewirausahaan. PKL mempunyai cara sendiri dalam mengelola usahanya agar mendapatkan keuntungan. PKL menjadi manajer tunggal yang menangani usahanya mulai dari prencanaan usaha, menggerakkan usaha sekaligus mengontrol atau mengendalikan usahanya, padahal fungsi-fungsi manajemen tersebut jarang atau tidak pernah mereka dapatkan dari pendidikan formal.

Di Indonesia, menurut Hidayat (dalam Haryanto, 2016), sudah ada kesepakatan tentang sebelas ciri pokok sektor informal, yaitu:

1. Kegiatan usaha tidak terorganisasi dengan baik karena timbulnya unit usaha tidak mempergunakan fasilitas atau kelembagaan yang tersedia di sektor informal.

2. Pada umumnya, unit usaha tidak mempunyai izin usaha.

3. Pola kegiatan usaha tidak teratur, baik dalam arti lokasi maupun jam kerja.

4. Pada umumnya kebijaksanaan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi tidak sampai ke pedagang kaki lima.

5. Unit usaha mudah keluar masuk dari sub-sektor ke sub sektor lain.

6. Teknologi yang digunakan bersifat primitive.

7. Modah dan perputan usaha relative relative kecil sehingga skala operasi juga relative kecil.

(18)

8. Pendidikan yang diperlukan untuk menjalan usaha tidak memerlukan pendidikan formal karena pendidikan yang diperoleh dari pengalaman sambil kerja.

9. Pada umumnya, unit usaha termasuk golongan one-man enterprise1 dan kalau mengerjakan buruh berasal dari keluarga.

10. Sumber dana modal usaha yang umumnya berasal dari tabungan sendiri atau lembaga keuangan yang tidak resmi.

11. Hasi produksi atau jasa terutama dikonsumsi oleh golongan masyarakat desa-kota berpenghasilan rendah dan kadang-kadang juga berpenghasilan menengah.

Menurut Damsar (1997) pedagang adalah orang atau institusi yang memperjual belikan produk atau barang kepada konsumen baik secara langsung maupun tidak langsung. Pedagang dibedakan menurut jalur distribusi yang dilakukan, yaitu:

1. Pedagang distributor (tunggal), pedagang yang memegang hak distribusi suatu produk dari perusahaan tertentu.

2. Pedagang (partai) besar yaitu pedagang yang membeli suatu produk dalam jumlah besar yang dimaksudkan untuk dijual ke pedagang lain.

3. Pedagang eceran yaitu pedagang yang menjual produk langsung kepada konsumen.

Menjadi seorang pedagang tentunya membutuhkan relasi, baik antar pedagang, pemilik toko amupun kepada pembeli, seperti yang diungkapkan dalam

(19)

penelitian alice (1962) di Mojokuto (dalam Sutami, 2005) disebutkan pentingnya hubungan sosial antara pedagang dengan berbagai pihak, demikian halnya dengan pedagang emperan toko. Hal ini berkaitan tentang perilau dalam menjalin hubungan relasi dengan si pemilik toko, sesama pedagang dan konsumen mereka.

Menurut DiMaggio (dalam Masinambow) studi kebudayaan yang diakaitkan dengan pasar dan pertukaran menempatkan kebudayaan dalam bentuk yang berciri constitutive, dan dari sini menurutnya ada tiga fungsi constitutive dari kebudayaan terhadap pasar, yaitu:

1. kebudayaan sebagai bentuk constitutive dari aktor-aktor yang terlibat di dalam pasar.

2. kebudayan sebagai bentuk constitutive dari masyarakat pasar.

3. kebudayaan sebagai sarapa pemahaman dari bentuk-bentuk kapitalis agar lebih bermakna.

Banyak dari pedaganga emperan di pasar Kota Kualasimpang adalah perempuan, dan ini akan menjadi fokus dalam penelitian saya untuk menjadikan mereka informan. Menurut pendapat Rahma Sugiharti dalam (Haryanto) mengatakan bahwa wanita sesungguhnya merupakan sumber daya ekonomi yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan pria. Keberadaan wanita dalam rumah tangga bukan sekedar sebagai pelengkap fungsi reproduksi saja, namun lebih dari itu wanita terbukti memberikan sumbangan yang besar bagi kelangsungan ekonomi dan kesejateraan rumah tangga serta masyarakat.

Keterlibatan perempuan berperan pada sector produktif sepertinya bukan halbaru untuk di perbincangkan. Peran produktif adalah peran yang

(20)

dilakukan oleh seseorang menyangkut pekerjaan yang menghasilkan barang dan jasa, baik untuk di konsumsi maupun untuk di perdagangkan. Peran yang sering pula disebut dengan peran disektor publik. Sektor publik lebih identik dengan karakter maskulin yang tegas, berani, cekatan dan cepat dalam mengambil keputusan, sehingga dikatakan bahwa sektor publik merupakan domain laki-laki.

Hariet Taylor (dalam Nofianti) mengatakan bahwa wanita diberi kesempatan dalam hal ekonomi dan sipil yang sudah sama namun dalam hal-hal domestik masih berbeda. Urusan domestik tetap merupakan urusan seorang istri. Beberapa alasan menurut Nofianti yang mendorong perempuan memasuki dunia kerja adalah:

a. Kondisi luar yang memungkinkan dan menarik perempuan untuk bekerja.

Kondisi atau situasi saat ini membuat pekerjaan rumah tangga tidak terlalu repot lagi. Hal tersebut dapat disebabkan karena adanya pembatasan kelahiran, kecanggihan alat-alat rumah tangga, adanya cleaning service, tempat-tempat penitipan anak dan sebagainya. Semua itu membuat ibu rumah tangga memiliki waktu luang lebih banyak.

b. Motif ekonomi, mendorong perempuan untuk bekerja karena kepentingan ekonomi keluarga. Kebanyakan dari mereka bekerja karena rendahnya penghasilan suami atau karena ingin meningkatkan taraf kehidupan.

c. Motif psikologis, disini perempuan terdorong untuk bekerja karena kesenangan, menghilangkan kesepian/kejenuhan dirumah, menghilangkan rasa terisolir secara social dan (terutama bagi mereka yang sudah berpendidikan tinggi), bekerja adalah sebagai kebutuhan aktualisasi diri.

(21)

d. Adanya rasa tanggung jawab social, karena telah mengambil fasilitas untuk belajar di universitas dan sekarang saatnya untuk mengamalkan ilmu yang telah di dapatkan di masyarakat.

1.3 Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka fokus penelitian ini adalah tentang kehidupan sosial-ekonomi para pedagang emperan toko dini hari di pasar Kualasimpang dengan pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana kehidupan sosial-ekonomi para pedagang pedagang?

2. Bagaimana hubungan sosial antara pedagang emperan dengan pihak- pihak lain?

3. Bagaimana cara pedagang dalam mengelola dagangannya?

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana kehidupan para pedagang emperan toko yang berjualan pada saat dini hari di pasar Kota Kualasimpang. Setelah melakukan penelitian mudah-mudahan hasil dari penelitian ini dapat memberikan ilmu baru.

(22)

Manfaat dari hasil penelitian ini adalah:

1. Secara akademis penelitian ini dapat menambah wawasan keilmuan khususnya dalam ilmu antropologi ekonomi, yang mengkaji tentang kehidupan pedagang lapak atau kaki lima di pasar.

2. Secara praktis penelitian ini dapat memberikan masukan bagi pihak-pihak yang berkepentingan, yang dijadikan sebgai bahan atau informasi mengernai kehidupan pedagang lapak di pasar.

1.5 Lokasi Penelitian

Adapun lokasi penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah di pasar Kota Kualasimpang, kecamatan Aceh Tamiang. Alasan peneliti melakukan penelitian di daerah tersebut yaitu lokasi penetian mudah dijangkau, peneliti juga dapat dengan mudah terlibat dan melihat langsung bagaimana kehidupan para pedagang emperan toko dini hari di pasar tersebut.

Akses untuk menuju ke lokasi penelitian sangat mudah untuk ditempuh dan sarana yang mendukung juga banyak. Pasar Kota Kualasimpang bisa ditempuh dengan mengunakan kendaran pribadi atau angkutan umum. Dari Medan angkutan dapat menggunakan angkutan Medan-Langsa dari loket Pinang baris, dan jarak yang di tempuh yakni selama empat jam perjalanan.

(23)

1.6 Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini merupakan sebuah penelitian yang bersifat kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1.6.1. Teknik Observasi Partisipasi

Menurut Spradley (2006) observasi partisipasi adalah kegiatan pengumpulan data dengan cara terjun langsung lapangan melihat sesuatu apa adanya tanpa adanya rekayasa. Tujuan dilakukannya observasi partisipan untuk mengetahui fenomena yang terjadi dilapangan secara langsung. Inilah metode sebagai ciri khas penelitian antropologi.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan observasi partisipasi (pengamatan terlibat), agar peneliti dapat mengamati, mendengarkan dan mencatat gelaja yang tampak pada para pedagang di pasar melalui kegiatan serta interaksi yang ada di pasar. Hal ini berkaitan tentang keikut sertaan peneliti dalam masyarakat dan arena penelitian agar dapat merasakan apa saja yang terjadi dalam keseharian pedagang tersebut.Adapun observasi peneliti lakukan di rumah pegadang, guna melihat bagaimana interaksi pedagang dengan keluarganya, karena pedagang kebanyakan adalah seorang ibu rumah tangga, peneliti ingin melihat bagaimana cara pedagang membagi waktunya antara berdagang dan urusan rumah tangga.

Objek penelitian ini adalah pedagang, peneliti tentunya juga melakukan observasi di rumah pedagang emperan dan di Pasar di masing-masing lapak pedaganga emperan. Peneliti akan ikut serta dalam keseharian pedagang di rumah

(24)

dan berjualan di lapak emperan dengan informan untuk melihat langsung bagaimana interaksi pedagang di pasar dan di rumah, mulai dari interaksi dengan pemilik lapak, pedagang serta cara pedagang menjajakan dan mengelola dagangaanya serta bagaimana kehidupannya dalam rumah tangga. Dengan melakukan observasi partisipasi, peneliti mendapatkan data yang benar tanpa ada rekayasa. Kemudian, hasil observasi dituangkan dalam catatan lapangan.

Tahap awal dalam proses observasi peneliti lakukan di pasar kota Kualasimpang, sebagaimana hal tersebut juga akhirnya menjadi judul dalam skripsi ini adalah hasil dari observasi peneliti ketika mengikuti ibu peneliti ke pasar untuk berbelanja. Ketertarikan peneliti dari melihat kondisi pasar saat dini hari, yakni saat melihat banyak pedagang perempuan yang berdagang di pasar, membuat peneliti tertarik menesik lebih jauh, hingga menjadi cikalbakal skripsi ini.

Tahap awal dari proses ke lapangan penelitian juga observasi, peneliti mula-mula menyisiri jalan-jalan di dalam pasar, untuk melihat kondisi pasar tersebut saat masih pagi-pagi sekali, sampai akhirnya memutuskan memilih seorang pedagang untuk dijadikan informan. Observasipun tak berhenti disitu saja, sepulang dari lapak pedagang peneliti juga sesekali berkeliling pasar lagi untuk melihat bagaimana perubahan kondisi pasar, yang saat gelap dipenuhi dengan pedagang emperan mulai kosong satu persatu diikuti dengan dibukanya toko-toko pula.

Peneliti tak ingin berhenti sampai di situ sesekali sembari berbelanja di pasar saat siang menjelang sore, peneliti juga menyempatkan diri untuk

(25)

berkeliling pasar setidaknya sekali untuk melihat kondisi pasar dalam waktu yang berbeda sekaligus melihat keberadaan PKL lain selain pedagang sayur emperan yang hanya ada saat dini hari. Obeservasi juga dilakukan terhadap tiga keluarga informan.

Bagi peneliti metode observasi berperan banyak dalam menopang hasil penelitian selain dari wawancara, karena hal-hal yang tidak dapat digali dalam pertanyaan dalam wawancara sering kali bisa terlihat dalam hasil observasi, seperti halnya melihat interaksi antar pedagang emperan di pasar, pedagang dan pembelinya, pedagang dan keluarganya dan sebagianya hingga akhirnya terbitlah skripsi ini.

1.6.2. Teknik Wawancara Mendalam (In Depth Intervew)

Wawancara mendalam adalah suatu kegiatan terjadinya percakapan berpedoman pada interview guide, dimana pewawancara memberikan pertanyaan- pertanyaan untuk di jawab oleh orang yang akan diwawancarai sesuai dengan aspek-aspek yang akan di teliti. Selama proses melakukan pewawancara menggunakan alat perekam suara guna merekam segala informasi yang diungkapkan oleh informan. Hal tersebut penting dilakukan karena daya ingat manusia yang terbatas dan dapat memudahkan peneliti dalam melakukan wawancara serta menuangkan kembali hasil wawancara ke dalam tulisan yang berupa catatan lapangan.

Selain alat perekam, dalam mendukung proses wawancara peneliti juga akan menggunakan buku catatan dan pulpen guna mencatat poin-poin penting

(26)

yang diungkapakan oleh informan sehingga dapat memudahkan peneliti dalam menuliskan kembali hasil wawancara tersebut.

Pemilihan informan sangatlah penting dalam melakukan wawancara, meskipun setiap orang dapat menjadi informan, namun belum tentu setiap orang dapat memberikan jawaban atau informasi yang ditanyakan oleh peneliti dan dapat membantu menyelesaikan permasalahan dengan informasi yang diberikan.

Pemilihan informan yang tepat juga dapat membantu dan mempermudah proses penelitian.

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan informan dilakukan tidak hanya sekali, bahkan peneliti juga mendatangi lagi informan untuk meminta kelengkapan informasi, dan cara peneliti melakukan wawancara adalah seperti mengobrol peneliti ngin membuat suasana santai dan akrab antara peneliti dan informan sehingga informan lebih mudah dalam meberikan informasi.

Informan utama dalam penelitian ini adalah perempuan pedagang sayuran, karena sebelumnya saya melihat rata-rata dari pedagang emperan adalah perempuan dan sudah berkeluarga. Guna menunjang informasi dalam penelitian ini, tidak menutup kemungkinan adanya informan lainnya dalam penelitian ini.

Seperti halnya pemilik lapak, keluarga pedagang sperti anak atau suaminya dan pemerintah yang bertanggung jawab dalam pengelolaan pasar Kota Kualasimpang.

Saat melakukan wawancara peneliti tentunya harus mencari informan terlebih dahulu, pemilihan informan juga dilakukan secara acak. Mula-mula

(27)

bertemu dengan informan pertama yaitu Bu Ramlah, setelah berkenalan dan berbincang kami juga mengatur janji untuk melakukan wawancara lagi diesok hari dan mengikuti keseharian ibu Ramlah selama ia di rumah.

Saat petama kali berkenalan dan mengajukan petanyaan wawancara peneliti menggunakan pedoman wawancara atau petanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan sebelum wawancara dilakukan. Tidak menutup kemungkinan setelah itu antara informan dan peneliti hanya melakukan obrolan santai saja sambil mengikuti kesehariannya. Metode wawancara ini juga peneliti gunakan pada dua informan lainnya. Karena peneliti juga berkesempatan berada ditengah- tengah keluarga informan maka, dalam mengajukan pertanyaan dengan keluarganya juga layaknya mengobrol saja. Dalam kenyataan, seorang peneliti sering kali mengumpulkan banyak data melalui pengamatan terlibat dan berbagai macam percakapan sambil lalu, seperti layaknya percakapan sambil lalu.2

1.6.3. Studi Dokumentasi

Untuk memperjelas pengamatan yang peneliti lakukan, peneliti juga menggunakan kamera ponsel untuk dokumentasi. Dari hasil foto-foto yang peneliti ambil di lapangan, secara tidak langsung juga memberikan data atau bukti dari data yang peneliti paparkan dalam lembaran tulisan ini.

Selain wawancara yang menjadi teknik dasar dalam pengumpulan data penelitian ini, peneti juga menggunakan metode tambahan seperti studi dokumentasi yang bertujuan untuk mempermudah penulis dalam mencari data dengan akurat sesuai dengan aspek penelitian yang dikaji di lapangan. Dokumen

2 Sparadley dalam metode Etnografi , mewawancarai informan (halaman 85)

(28)

tersebut dapat berupa catatan pribadi, buku harian, rekaman wawancara, rekaman video, foto dsb.

Studi dokumentasi berupa foto juga akan menjadi bukti peneliti dalam melakukan penelitian langsung terjun kelapangan.

1.6.4. Studi Pustaka

Sudi pustaka juga sangat penting bagi peneliti dalam melakukan penelitian, karena peneliti juga membutuhkan sumber-sumber data lainnya untuk mendukung skripsi ini. Jenis-jenis kepustakaan yang peneliti gunakan yakni berupa buku, jurnal, skripsi dan beberapa data yang bersumber dari media cetak dan elektronik yang berkaitan dengan kehidupan di pasar.

1.7 Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan terlebih dahulu menuliskan hasil wawancara dan observasi saya ke dalam tulisan, setelah data-data dan hasil wawancara selesesai peneliti mengklasifikasikan data-data yang diperoleh dari lapangan ke dalam tema-tema dan kategori-kategori.

Penelitia melakukan pengecekan ulang terhadap data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi untuk memastikan kembali kelengkapan data.

Keseluruhan data yang diperoleh dari lapangan kemudian diolah secara sistematis, kemudian diuraikan ke dalam bagian-bagian sub judul pada bab sesuai dengan temanya masing-masing hingga pada akhirnya ditemukan sebuah kesimpulan.

(29)

1.8 Pengalaman Penelitian

Pengalaman penelitian yang peneliti dapatkan di lapangan selama proses penyusunan skripsi ini berlangsung saat peneliti ke pasar bersama Ibu peneliti untuk berbelanja pada pukul enam pagi atau saat matahari belum terbit, saat itu peneliti melihat bagaimana kondisi pasar Kualasimpang yang dipadati oleh para pedagang yang berjualan diemperan toko, inilah cikal bakal peneliti melakukan pengajuan judul pedagang kaki lima emperan toko dini hari.

Penelitian berlanjut pada tanggal 4 Juni 2018, bertepatan pada bulan suci ramadhan. Peneliti sebelumnya berkeliling pasar untuk melihat bagaimana kondisi pasar masuk ke dalam setiap lorong yang ada di pasar hingga akhirnya peneliti menemui Ibu Ramlah yang merupakan Informan pertama peneliti, saat pertama kali saya jumpai ibu Ramlah sedang jongkok di belakang kelapa dagangannya sembari menunggu pembeli tiba, karena saat itu tidak ada pembeli yang datang maka tanpa ragu peneliti mengenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan peneliti dan langsung mengajukan beberapa pertanyaan kepada bu Ramlah, dalam wawancara dengan Bu Ramlah peneliti menemui sebuah kendala yakni bu Ramlah yang menjawab apa adanya, namun demikian bu Ramlah tetap dapat menjawab semua pertanyaan peneliti.

Setelah peneliti merasa informasi dengan bu Ramlah cukup, penelitipun kembali berkeliling ke pasar pada dini hari sampai akhirnya menjumpai wak Nur dilapak, lalu peneliti teringat bahwa rumah Wak Nur masi satu desa dengan peneliti maka pertemua pertama antara peneliti dan wak Nur adalah di rumahnya.

Saat peneliti baru tiba di rumah Wak Nur peneliti mendengar lantunan ayat suci

(30)

Al-Qur’an yang dibacakan dengan merdu oleh wak Nur, peneliti saat itu pertama kami berjumpa dengan anaknya wak Nur yakni Kak Mitha.

Kedatangan peneliti malam itu adalah untuk meminta izin dari wak Nur apakah peneliti boleh mewawancarainya yang mana peneliti sendiri tengah dalam proses peyusunan skripsi, tanpa ragu wak Nur langsung menerima peneliti wak Nur juga menjelaskan jika salah satu anaknya yang kuliah dahulu juga mengalami hal yang sama seperti saya bahkan harus ke desa-desa ikut program kampus.

Berbeda dengan bu Ramlah, wak Nur sangatlah terbuka, hingga perjumpaan kami selanjutnya di pasar di lapak jualannya wak Nur, saat itu wak Nur tampaknya lupa dengan saya karena saya ke pasar menggunakan kacamata, namun setelah itu wak Nur memberikan bangku kecil untuk peneliti duduki sembari memberi bangku wak Nur berkata “ini bangku tukang maksiat, orang biasa duduk dibangku ini buat bergunjing”, peneliti duduk tepat di sebelah wak Nur yang sengan berjualan, jika tak ada pembeli peneliti mengajukan pertanyaan dan wak Nur akan langsung menjawab pertanyaan itu dengan sangat panjang sering kali wak Nur dalam menjawab pertanyaan peneliti selalu dikaitkan dengan hal-hal berbau agama seperti halnya bersyukur, Allah selalu memberi rezeki dengan cara apapun, rezeki selalu ada dan tidak tertukar. Jika ada pembeli maka peneliti akan diam dan memperhatikan bagaimana transaksi yang terjadi dilapak, tawar-menawar dan titip-menitip barang, karena masih suasana idul Fitri beberapa pelanggan juga bersalaman dengan wak Nur dan mengucapkan “minal aidin

(31)

walfaidzin”. Berbeda dangan bu Ramlah yang berjualan di emperan toko perabot, Wak Nur berjualan di depan Baitul Qiradh Al-Muslim3.

Peneliti juga pernah ditolak oleh seorang pedagang emperan saat meminta izin padanya untuk diwawancarai, wanita paruh baya itu menolak peneliti dengan alasan menganggunya berjualan, karena akan susah jika berdagang ada yang menawar jika saya wawancarainya, padahal peneliti sudah menjelaskan wawancaranya dilakukan saat tidak ada pelanggan, namun ia tetap menolak, lalu peneliti berkeliling lagi dan akhirnya menemukan bu Eva sebagai informan ke tiga dalam penelitian ini.

Proses wawancara dengan informan penelti langsung menjupai informan dilapak jualannya saat matahari belum terbit, guna melihat langsung bagaimana informan di pasar baik interaksinya dengan pelanggan dan sesama pedagang maupun lainnya, sekaligus observasi kegiatan yang ada dipasar atau sekali menyelam minum air. Setelah perbincangan pertama peneliti dengan informan, peneliti juga meminta izin pada informan untuk ikut serta berada di tengah-tengah keluarganya, guna melihat langsung kondisi keluarga informan dan interaksinya dengan keluarga. Alhamdulillah ketiga informan memberi izin, dan memberi pengalaman yang tak terlupakan oleh peneliti sendiri.

Kendala penelitian, saya sebagai peneliti tidak menemukan kendala dari informan utama saya yakni pedagang emperan. Namun saya banyak terkendala pada data-data tentang birokrasi yang harus saya peroleh dari kantor camat,

3Baitul Qiradh dalam arti bahasa adalah “Rumah Pinjaman” yang usaha pokoknya menghimpun dana dari pihak ketiga (anggota penyimpan) dan menyalurkan pembiayaan kepada usaha-usaha yang produktif dan menguntungkan.

www.slideshare.net

(32)

seperti sejarah kota kualasimpang dan data pendukung lainnya. Mulanya saya ke Kantor Camat Kota Kualasimpang membawa surat penelitian untuk pengambilan data namun, kantor camat yang saya datangi pada pukul sepuluh pagi ini sudah ada saja pegawainya yang tidak ditempat, sehingga saya harus menunggu telpon dan kembali lagi pada pukul tiga sore, ketika saya datang lagi bukan data yang saya inginkan yang diperoleh malah surat penelitian dari kantor camat tersebut, saya mencoba menjelaskan lagi dan hasilnya saya disuru datang lagi esok hari, keesokan hari saya datang sangat pagi, yakni pukul setengah Sembilan pagi, namun hanya seorang pegawai dilayanan informasi yang ada, saya menjelaskan lagi maksud saya, saya diminta menunggu lagi karena orang yang katanya berwenang untuk memberi data tersebut sedang tidak di kantor, alhasil saya harus menunggu kedatangannya setelah satu jam menunggu seorang pria masuk dan ibu yang dibagian informasi menjelaskan tujuan kedatangan saya, namun pria tersebut bilang bahwa data tersebut tidak tersedia dan dia tidak tahu, ibu bagian informasi ini lumayang bersusah payah membantu saya dia juga mencarika saya buku yang berjudul “Kecamatan Kota Kualasimpang Dalam Angka” namun tidak ditemui buku tersebut.

Esok hari, saya pergi ke perpustakaan daerah untuk mencari buku tersebut sebelumnya saya sudah mengecek ketersediaan buku tersebut di internet, namun saat saya mengecek hanya terdapat rak-rak dengan buku berantakan, kemudian saya bertanya pada petugasnya, mirisnya belum lagi dicari petugas yang bertugas memakai kaos oblong itu bilang bahwa bukunya tidak tau diletakkan di mana.

(33)

Usai kecewa berkali-kali, saya memutuskan untuk langsung ke kantor Bupati Aceh Tamiang saya masuk kebagian Humas, ada dua orang pegawai yang masi bekerja di jam makan siang, seorang pegawai perempuan di sana membantu saya mencarikan data ataupun buku yang bisa saya peroleh, dia bahkan menggunakan komputernya untuk berselancar diinternet untuk membantu saya mencarikan data tentang Aceh Tamiang, tidak terlalu mengecewakan tapi saya memperoleh sebuah link yang bisa membantu saya mendapatkan data tentang profil Aceh Tamiang dan Kualasimpang dalam bentuk data dalam tabel. Meskipun saya tidak mendapatkan link terbitan terbaru tahun 2017 namun ini sudah sangat membantu, dan pihak terkait sendiri juga menjelaskan bahwa data dalam buku tersebut tiap tahunnya tidak jauh berbeda.

Untuk data pedagang di pasar Kota Kualasimpang peneliti mendapatkannya langsung dari Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Koperindang). Sebagai instasi terkait yang mengelola pasar Kota Kota Kualasimpang proses untuk mendapatkan data juga tidak begitu sulit. Peneliti mendatangi Dinas Koperindang sebanyak tiga hari berturut-turut. Adapun data yang peneliti peroleh berupa hasil wawancara dengan bu Nazmi Novalita Siregar, SH, beliau menjabat sebagai Kasi Pasar, Distribusi dan Sarana Perdagangan.

Tidak sekedar wawancara peneliti juga diberikan salinan data-data terkait pedagang dan Pasar Kota Kualasimpang guna untuk menunjang proses pembuatan skripsi ini. Usai mendapatkan pencerahan tersebut barulah peneliti mulai menulis kembali lebaran-lembaran skripsi ini.

(34)

Selain pengalaman penelitian yang tersebutkan diatas peneliti juga memperoleh pengalaman lain di pasar yakni, peneliti jadi tahu berapa kisaran harga sayuran di pasar saat itu, naik atau turun. Hal ini merupakan informasi berharga yang dapat peneliti sampaikan di rumah pada ibu peneliti.

(35)

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2.1 Letak geografis

Kota Kualasimpang merupakan salah satu dari 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang dengan letak geografis 04o16’24,00”-4o17’57,00” LU dan 97o03’16,00”-98o04’25,00” BT. Luas Kota Kualasimpang hanya sebesar 4,48 m2 dengan jumlah penduduk sebanyak 37.132 penduduk, ini merupakan penduduk terbanyak kedua di Aceh Tamiang setelah sekerak per tahun 2016.

Suhu udara di Kecamatan Kota Kualasimpang sekitar 26o-30o C dengan ketinggian 500-700 Mdpl.

Kota Kualasimpang meliputi lima desa yaitu desa Kota Kualasimpang, desa Sriwijaya, desa Bukit Tempurung, desa Perdamaian dan desa Kota Lintang.

Desa yang paling banyak penduduknya adalah kota Lintang. Batas-batas wilayah Kota Kualasimpang meliputi sebelah Utara Kecamatan Rantau dan Kecamatan Karang Baru, sebelah Timur Kecamatan Rantau, sebelah Selatan Kejuruan Muda, serta sebelah Barat Kecamatan Karang Baru dan Kecamatan Sekerak.4

Kota Kualasimpang merupakan salah satu desa yang ada Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Kota Kualasimpang juga merupakan nama desa yang sama dengan yang digunakan oleh kecamatan tempat desa tersebut berada yakni Kecamatan Kota Kualasimpang yang di pimpin

4Kota Kualasimpang dalam Angka 2016 (halaman 2)

(36)

oleh seorang Camat muda bernama bernama Aulia Azhari. Kecamatan Kota Kualasimpang merupakan sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Aceh Tamiang, maka saya juga akan menjelaskan tentang letak geografis Aceh Tamiang. Kabupaten Aceh Tamiang terletak pada koordinat 030 53’ – 040 32’

Lintang Utara dan 970 43’ - 980 14’ Bujur Timur, dengan luas wilayah 1.957,025 Km2 yang sebagian besar terdiri dari wilayah perbukitan.

Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Utara dan merupakan pintu gerbang memasuki Provinsi Aceh.Kabupaten Aceh Tamiang merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Aceh Timur. Kabupaten ini hanya berjarak lebih kurang 136 km dari Kota Medan. Kabupaten Aceh Tamiang secara hukum memperoleh status Kabupaten definitif berdasarkan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Tamiang di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Secara geografis batas-batas administrasi wilayah Kabupaten Aceh Tamiang adalah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Langsa Timur Kota Langsa dan Selat Malaka.

b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Pinding Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara.

c. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Serbajadi dan Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur.

(37)

d. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara dan Selat Malaka.

Berikut adalah peta wilayah administrasi Kabupaten Aceh Tamiang :

Gambar 1: Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Aceh Tamiang

2.2 Sosial Masyarakat

Dalam perkembangan sejarahnya kebudayaan Aceh Tamiang sangat majemuk, dimana berbagai ras dan suku mendominasi kehidupan sosial kemasyarakatan terutama yang berkaitan dengan perekonomian (sektor perdagangan). Selain penduduk lokal (suku Tamiang, Aceh dan sebagian Jawa), masyarakat Tionghoa (Cina) juga tergolong besar jumlahnya, terlihat dari jumlah

%

%%

%

%

%

%

%%%%%

%%%%%

%

%%%%%%%%%%%%%%%%%%

%%

%

%%

%

%%

%%

%

%

%%%%%%

%%%%

%

%%

%%

%%

%%

%%

%

%

%%

%

%%

%

%

%

%

%

%

%

%%

%%

%%%

%%

%

%%

%%

%%

%%

%%

%

%%%%%%

%%

%%

%

%%

%%

%

%

%%

%

%%

%%

%

%

%%%%

%%

%

%%%

%

%

%

%%

%%

%

%

%

% %%%

%

%%%%%%%%%

%

%% %%%

%%%%

%%%%%%%

%%

%

%%%

%%

%

%

%%

%

%

%%

%%

%%

%

%

%%%%%%%

%%%%%%%%

%

%%%

%%

%

%%%%%%%%%%

%%

%

%%

%

%

%

%

%%

%%

%%%

%

%%

%%%%%% %%%%

%

%%%%

%

%

%

%

%%

%

%%

%%%%%%

%%

%%

%

%

%%

%%

%

%%

%%

%%%%%%%%%

%%%

%%

%%%%% %%%%%%%%%%%%%%%% %%

%%

%

%%%%

%

%

%

%

%

%%

%

%

%

%

%%%%%%%

%%

%

%

%

%%

%

%

%

%%

%%

#

#

% [

#

#

#

#

#

#

#

#

#

Telaga Meuk u

Sungai Iyu

Seruw ai Tualang Cut

Alur Cuc ur

Kuala Simpang Sek erak Kanan

Sungai Liput

Sim pang Kiri Pulau Tiga Babo

Kec K eju rua n M ud a

Kec T en gg ulu n Kec T am ian g H ulu Kec B and ar P us ak a Kec S ek er ak

Kec M a ny ak Pa ye d

Kec K ara ng B aru

Kec K ual a Sim pan g Kec R a nt au

Kec S eru w ai Kec B and ah ara Kec B and am u lia

S e l a t M a l a k a

Ka bup aten L ang kat Provinsi Sumate ra U tara

Kec Pin ding Ka bup aten G ayo Luw es

Ke c Serba jadi da n Bire m Ba yeu m Kab upa ten Aceh Timu r

Ke c L ang sa T imur KO TA LANG SA

3°55'30" 3°55'30"

4°1'40" 1'40"

4°7'50" 4°7'50"

4°14'00" 4°14'00"

4°20'10" 20'10"

4°26'20" 26'20"

4°32'30" 4°32'30"

97°43 '10 "

97°43 '10 "

97°49 '20 "

97°49 '20 "

97°55 '30 "

97°55 '30 "

98°1'40"

98°1'40"

98°7'50"

98°7'50"

98°14 '00 "

98°14 '00 "

98°20 '10 "

98°20 '10 "

%[

#

##

#

#

#

#

#

# #

#

#

#

#

#

#

#

#

# ACEH BESA R

PIDI E ACEH JAYA

ACEH BAR AT NAGA N R AYA

ACEH BAR AT D AYA

ACEH SELAT AN ACEH TENG GAR A GAYO LUE S

ACEH TAM IAN G

ACEH SI NGKI L ACEH SI NGKI L SIM EULUE

KOTA LANG SA ACEH TI MUR ACEH TENG AH BENER M ERI AH ACEH UTAR A BIRE UEN

KOTA LHOK SEUM AWE KOTA BAND A A CEH KOTA SABA NG

Singkil Subulussalam Tapakt uan Blang Pidie

Blang Kejer en Karang Baru Langsa Idi Rayeuk Lhoksukon Lhoseum awe

Sim pang Tiga Redel ong Takengon Bir euen Sigli Banda Aceh

Jant hoi

Calang

Meulaboh Jeur am

Sinabang Sabang

Kutacane

PROVINSI SUMATERA UTARA

2. Hasil R en can a Tim R TRW Pem u kim an

10000 0 10000 Meter s

R EVIEW R ENC ANA TATA RU ANG W ILAYAH KABU PATEN ACEH TAMIANG TAH U N 20 07 - 2 027

Pe ta : 1

Batas Administrasi Kabupaten Aceh Tamiang KE TE RA NG AN :

%Perka m pu n g an

% [Ibu k ota K ab u p at en

#Ko t a Batas Pro vin s i Batas ka bu p aten Batas K eca ma ta n Jala n Arteri Jala n Ko lek to r Ren c an a R el K A Sun g ai

Su mb er Peta :

1. Penyusunan In ven tar isasi Sum ber Daya Alam dan Lingkun gan Kab upaten Aceh Tami an g

Skala : 1:300000

U

BAD AN PEREN CAN AAN PEMBAN GU NAN DAERAH KABU PATEN ACEH TAMIANG

200 7

1 Jala n La in

Dia gra m Peta :

(38)

penduduk yang beragama Budha menduduki peringkat kedua setelah penduduk yang beragama Islam, seperti pada Tabel berikut Saat ini sebagian besar penduduk Aceh Tamiang bermata pencaharian sebagai petani, dimana sektor perkebunan sawit dan karet merupakan primadona untuk Kabupaten Aceh Tamiang. Namun kondisi yang mengkuatirkan adalah jumlah penduduk tidak memiliki pekerjaan hampir setengah dari jumlah penduduk yang bekerja, sehingga dengan kondisi ini sangat rawan stabilitasnya keamananan, derajat kesehatan dan pendidikan yang rendah maupun kondisi sosial kemasyarakatan lainnya.

Tabel 1: Jumlah Penduduk Kabupaten Aceh Tamiang Menurut Agama

No Agama Jumlah Penduduk

1 Islam 248.435

2 Budha 1.234

3 Protestan 574

4 Katolik 75

5 Kong Hu Chu 6

6 Hindu 0

7 Lainnya 0

Sumber: Aceh Tamiang Dalam Angka 2010 (diolah)

Aceh merupakan sebuah Kota Serambi Makkah, sehingga tidak heran jika penduduk muslim menduduki posisi teratas. Di susul dengan Budha di posisi dua dengan jumlah 1.234, kemudian Protestan 574 dan Katolik sebanyak 75 pemeluk.

(39)

Tabel 2: Jumlah Sarana Ibadah di Kabupaten Aceh Tamiang

No Sarana Ibadah Jumlah

1 Mushalah 404

2 Masjid 275

3 Kelenteng 2

4 Gereja 0

5 Lainnya 0

Sumber: Aceh Tamiang Dalam Angka 2010 (diolah)

2.3 Perekonomian

Jenis lapangan pekerjaan di Aceh tamiang bisa dikatakan cukup beragam.

Lahan pertanian seperti sawah, sawit dan karet banyak di Aceh Tamiang sehingga tidak heran jika jumlah lapangan kerja dari sektor pertanian menduduki posisi teratas. Disusul dengan sektor jasa-jasa di posisi ke dua sebanyak 12,324. Namun demikian sektor perdagag juga masih penjadi pilihan disebagian penduduk hingga menempati posisi ke tiga, lanjut konstruksi di posisi keempat, sektor industri kelima dan terakhir petambangan di posisi enam dengan jumlah 794.

Tabel 3: Jumlah Rumah Tangga Di Kabupaten Aceh Tamiang Menurut Lapangan Pekerjaan Utama

No Lapangan Pekerjaan Jumlah

1 Pertanian 34,050

2 Jasa-jasa 12,324

3 Perdagangan 7,266

4 Konstruksi 2,789

5 Industri 1,697

6 Pertambangan 794

Sumber: Aceh Tamiang Dalam Angka 2010 (diolah)

(40)

Tabel 4: Jumlah Sarana Perekonomian di Kabupaten Aceh Tamiang

No Sarana Perekonomian Jumlah

1 warung/kedai 345

2 Pertokoan 197

3 Pasar Tanpa Bangunan 36 4 Pasar dengan Bangunan 26

Sumber: Aceh Tamiang Dalam Angka 2010 (diolah)

2.4 Lambang Daerah

Gambar 2: Lambang Daerah Aceh Tamiang5

 Bingkai Segi Lima, dengan warna kuning yang diapit oleh warna hijau

dapat diartikan kemuliaan dalam kesejahteraan dan kemakmuran sebagai daerah yang dalam kehidupan bernegara berada dibawah dasar falsafah Pancasila dan kehidupan beragama dengan tuntunan rukun Islam yang lima.

5portal resmi pemerintah kabupaten aceh tamiang

Gambar

Gambar 1: Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Aceh Tamiang
Tabel 1: Jumlah Penduduk Kabupaten Aceh Tamiang Menurut Agama
Tabel 3:  Jumlah Rumah Tangga Di Kabupaten Aceh Tamiang Menurut Lapangan  Pekerjaan Utama
Tabel 4: Jumlah Sarana Perekonomian di Kabupaten Aceh Tamiang
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen merupakan suatu proses yang terdiri perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian melalui pemanfaatan

khusus menyediakan ruang pengaturan konten yang memerhatikan tiga elemen pengujian ini: (i) tindakan pemblokiran konten harus diatur oleh hukum yang jelas dan dapat

Dari hasil deskripsi data di atas dalam pembahasan ini akan dijelaskan pengaruh penerapan model pembelajaran cooperative learning tipe Jigsaw terhadap hasil belajar dribble

Era berean egin behar da hiru sentsoreen neurketak jasotzeko Lehen azaldu bezala, sistema bi puntutan egonkortzen utzi behar da prozesuaren eredua lortzeko.. Egonkortzea

Dengan adanya pembinaan laman web ini dapat membantu pihak sekolah dalam melahirkan pelajar bijak dalam matapelajaran matematik dan member pendedahan kepada pelajar mengenai

Penelitian menyiapkan instrument penelitian yang terdiri dari perangkat pembelajaran yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran pada siklus I dan II, yaitu berupa silabus, dan

“Semua fungsi yang dijalankan oleh pustakawan terlatih yang dipekerjakan di seksi referensi sebuah perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna (secara langsung,

Hipotesis nol (H 0 ) yang berarti tidak adanya perbedaan antara hasil pre test dan post test para responden eksperimen setelah belajar huruf kanji menggunakan flashcard