• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. KEHIDUPAN TIGA PEDAGANG EMPERAN

4.3. Bu Eva Yang Banyak Omong

Informan ketiga saya adalah yang termuda dari informan lainnya ia adalah Bu Sri Eva Wati, atau biasa dipanggil Eva, tetapi saya lebih sering mendengar ibu ini dipanggil “Peh” oleh pedagang lainnya ataupun dengan pelanggannya.

Ibu dua anak yang kini berusia 43 tahun ini setiap harinya datang ke pasar pada pukul tiga dini hari, setiap hari dia datang menggelar lapak jualannya di depan toko kain, dia datang bersama suaminya yang juga bergadang tepat di seberang bu Eva berjualan, berbeda dengan bu Eva yang dagang sayuran suaminya berdagang cabai dan bawang. Bu Eva mengaku ia sudah berjualan selama 13 tahun di pasar.

“mencari uang, membantu kebutuhan suami, kalau suami sendiri yang nyari uang kurang”

Meski demikian, dari ketiga informan saya bu Evalah yang bisa dikatakan lumayan berkecukupan, tidak serba sangat pas-pasan seperti wak Nur, atau hanya sekedar untuk kembali memutar modal seperi bu Ramlah. Bu Eva memiliki dua buah sepeda motor, satu untuknya dan suaminya pergi berdagang dan satunya lagi untuk anak-anaknya pergi ke sekolah. Bahkan pedapatannya setiap hari bisa mencapai dua ratus ribu rupiah bersih, bahkan lebih. Pendapatnya tak pernah kurang dari seratus ribu setiap harinya. Ini hanya pendapatannya saja, belum lagi dengan pendapatan suaminya yang bisa terbilang serupa dengannya.

Pendapatannya yang besar tidak sebanding dengan pengeluarannya, uang untuk kebutuhan pokok dan jajan sekolah anak paling banyak seratus ribu sehari, sisan dari uang tersebut biasanya akan disimpan untuk keperluan mendadak, seperti

anak sulungnya yang baru operasi usus buntu, atau biaya sekolah dan uang buku anak. Padahal awal jualannya ia hanya modal nekat,

“awalnya hanya jualan kecil-kecilan saja cuma jual sayuran-sayuran sedikit-sedikit sepuluh-duapuluh ikat bayam, kangkung, jual kacang panjang pun gak banyak-banyak.

Karena ambil dari agen takut juga gak habis. Tapi lama-lama makin banyak yang dijual”

Alasan wanita yang menikah akhir tahun 1999 memilih berjualan di lapak karena harga sewa kios yang mahal bisa mencapai 20 juta atau 25 juta rupiah.

Lagi-lagi faktor uang adalah alasan kenapa bu Eva lebih memilih berjualan di emperan toko seperti saat ini. Setiap hari ia dan suaminya mulai berangkat ke pasar pukul tiga. Ia dan suaminya cepat pergi ke pasar karena jarak dari rumahnya ke pasar terbilang lumayan jauh dari pada kedua informan lainnya. Perjalanan dari rumahnya ke pasar bisa memakan waktu lebih dari lima belas menit.

Interaksi anataranya dan suaminya di pasar juga bisa dikatakan cukup dekat dan keberadaan suaminya bisa dikatakan mendukung dan menolongnya dalam berdagang. Sama seperti halnya saat bu Eva tidak mempunyai uang kembalian untuk pelanggan, maka ia akan meminta suaminya memberikan kembalian pada pelanggan tersebut, tak berhenti sampai di situ, saat ia kehabisan plastik ia akan ke lapak suaminya untuk mengambil beberapa buah plastik untuk nanti digunakannya.

Tak jauh berbeda dengan bu Ramlah, Bu eva juga mengerjakan sendiri seluruh pekerjaan rumah tangganya mulai dari mencuci, memasak sampai dengan membersihkan rumah. Urusan sekolah anak, bu Eva dan suaminya akan memberikan uang jajan saat malam hari dan saat pulang sekolah terkadang

anaknya berbicara tentang kebutuhan sekolah, maka jika langsung ada akan diberikan langsung, karena ia dan suaminya harus ke pasar pada pukul tiga pagi dan pulang ke rumah pukul delapan pagi, tentunya ke dua anak mereka masih terlelap dan saat pulang sudah berada di sekolah.

Sesampainya di rumah bu Eva mulai membereskan rumah, seperti memasak dan meyapu dan kegiatan lainnya. Sama halnya dengan bu Ramlah bu Eva yang sudah berangkat ke pasar saat orang kebanyakan sudah terlelap, maka bu Eva akan melanjutkan tidurnya saat pekerjaan rumah tangganya sudah selesai.

Saat siang hari atau sore hari seperti kebanyakan ibu-ibu lainnya bu Evapun menyempatkan diri untuk bergabung dengan obrolan ibu-ibu dilingkungan rumahnya.

Bu Eva emang tipe orang yang sangat mudah bergaul maka tak sulit bagi saya untuk menggali informasi, dan sangking gaulnya obrolannya dengan ibu-ibu dilingkungan rumahnya mula-mula tentang berbagai harga-harga barang di pasar, seperti harga sayur, cabe dan ikan, layak ibu rumah tangga lainnya, tapi yang namanya ibu-ibu sering juga obrolan mulai bergeser dengan tema tertentu yang diikuti dengan tokoh-tokoh utama manarik di dalam cerita mereka atau mulai bergosip.

Jika sore-sore tanpa kegiatan bu Eva biasanya bergosip, maka suaminya juga terkadang mencuci sepeda motor di halaman depan rumah mereka.

Terkadang saat sore bu Eva dan suaminya akan pergi ke rumah nenek atau mertua bu Eva untuk mengantarkan sayuran dan cabai buat dimasak nenek, rumahnya tidak begitu jauh sebenarnya jalan kaki juga bisa ditempuh. Terkadang juga bu

Eva dan suaminya pergi keundangan bersama suaminya, atau pergi bergerombol dengan ibu-ibu lainnya.

Meskipun tidak keseluruhan aktivitas bu Eva ini di Pasar, namun tak jarang saya dapati bu Eva menerima undangan untuk hajatan di lapaknya berjualan. Saat itu seorang yang ia kenal berbelanja dilapaknya dan pembeli ini membeli banyak buah labu air, jadi karena penasaran bu Evapun bertanya,

“banyak kali beli labu buat apa?”

“mau aqiqah”

“enggak undang-undang ya?”

“oh iya datanglah hari ini ke rumah, aqiqah anak dia (menunjuk anaknya)”

“itulah uwak inikan, kalau enggak awak tanyak. Enggak ada niat mau mengundang” tutup bu Eva dengan canda

Karena bu Eva tipe orang yang sangat mudah bergaul, jadi tak heran kalau dia terlihat mengobrol dan bercanda dengan pemilik lapak lainnya meskipun itu seorang pria. Selain doyan mengoceh bu Eva juga sangat ulet untuk urusan pekerjaan, pokonya untuk pelanggan ia tak ingin membuat kecewa, ia rela meninggalkan lapaknya sebentar untuk mencari tukang becak buat mengantarkan barang-barang dan meskipun ia berjualan sama-sama dengan suaminya ia juga tak meminta suaminya untuk menata dan membereskan lapaknya semuanya ia lakukan sendiri.

Bu Eva memiliki dua anak dan keduanya adalah perempuan yakni Siti Azizah dan Nurul Aina, jika dipikir anak perempuan tentu bisa meringankan atau membantu ibunya membersihkan rumah, namun anak bu Eva yang besar saat ini

bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 Karang Baru, ia pun saat ini sudah duduk di bangku kelas tiga sehingga membuatnya harus pulang sore hari.

Di Wilayah Kejuruan Muda, Kota Kuala Simpang dan Karang Baru, siswa kelas tiga selalu dibuat jam ekstra, seperti yang pernah saya ketahui dan rasakan saat duduk di bangku SMA. Jadi biasanya mereka akan diberi bimbingan belajar khusus untuk bekal Ujian Nasional (UN). Mengakibatkan sangat sedikit waktu yang dihabiskan di rumah, terlebih jarak antara Kampung Durian (rumah bu Eva) dan Karang Baru itu sangat jauh sehingga akan menghabiskan banyak waktu di jalan. Maka untuk membantu bu Eva di rumah saat ini adalah anak bu Eva yang ke dua, ia akan menyapu rumah di sore hari dan mencuci piring.

Urusan mencuci pakaian kedua anaknya bisa mencuci pakaiannya masing-masing dan bu Eva akan mencuci pakaiannya dengan suaminya saja. Pembagian kerja di rumah umumnya merupakan pekerjaan yang banyak dibebankan oleh kaum perempuan terutama ibu. Hal ini mengingat bahwa ibulah yang paling paham dengan aktivitas yang ada di rumah seperti kapan waktunya untuk mencuci, memasak dan sebagainya. Biasanya laki-laki malas untuk melakukan kegiatan rumah tangga, namun tak menutup kemungkinan ada yang meringankan beban istrinya yang sudah lelah bekerja.

BAB V

Hubungan Sosial Pedagang Emperan

Koentjaraningrat, dalam Pengatar Antropologi (2009) menjelaskan bahwa masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul atau dengan istilah ilmiah saling berinteraksi. Suatu kesatuan manusia dapat mempunyai prasarana agar warganya dapat saling berinteraksi. Begitupun dengan para pedaganga emperan toko dini hari di pasar, pasar adalah sarana mereka untuk saling bekomunikasi, begaul ataupun berinteraksi serta membangun hubungan sosial antara satu dan lainnya. Hal ini juga di pertegas dengan Dalam penelitian Alice di Mojokuto, disebutkan bahwa pentingnya hubungan sosial antara pedagang dan berbagai pihak.

5.1. Pemilik Toko

Sebagai seorang pedagang emperan yang nenumpang di depan toko milik orang lain tentunya ada aturan yang harus di penuhi oleh para pedagang emperan, seperti halnya masalah kebersihan. Semua pedagangan emperan toko wajib membersihkan sampah atau kotoran dari sisa-sisa jualannya sebelum pemilik toko datang atau sebelum toko yang emperannya mereka tumpangi buka. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari bu Ramlah, yang mana selama berjualan di tempat tersebut bu Ramlah sendiri hampir tidak pernah berpapasan dengan sang pemilik toko atau pulang sebelum si pemilik toko buka, diketahui bahwa toko peralatan rumah tangga tersebut buka pukul Sembilan pagi, sementara bu Ramlah sering kali meninggalkan pasar sebelum pukul delapan pagi bahkan terkadang sebelum pukul tujuh pagi.

Sebagai seorang yang menumpang tentunya bu Ramlah menyadari apa yang dia harus lakukan yakni menjaga kebersihan, jadi saat hampir pulang selagi menunggu kelapa yang dijualnya habis bu ramlah menyempatkan untuk membersihkan lapak tempatnya berjualan, ia menyapu menggunakan sapu lidi, mengumpulkan sampah-sampah lalu membuangnya di tempat sampah.

Gambar 21: Pedagang Membersihkan Lapaknya

Gambar 22: Pemilik Toko Sudah Membuka Toko

Meskipun rata-tata pedagang toko pakaian di pasar buka pukul Sembilan tetapi tidak menutup kemungkinan adanya pemilik toko yang buka lebih cepat, karena pemilik toko yang buka lebih cepat biasanya pedagang lapak yang menggunakan emperan tersebut sudah paham betul biasanya ia akan menggeser lapaknya atau berpindah tempat ke emperan toko yang belum buka lainnya, hal ini bisa terjadi karena pedagang emperan yang menempati lapak tersebut sudah pulang. Seperti hasil wawancara saya dengan bu Ramlah,

“biasanya pindah ke tempat lain yang tokonya belum buka, kan kadang ada yang udah pulang jadi bisa di pakai tempatnya”

Berbeda dengan bu Ramlah wak Nur pulang dari pasar pada pukul 12 siang atau saat kantor yang emperannya ia tumpangi sudah buka, para pegawai kantor sendiri tidak keberatan dengan wak Nur dan seorang ibu pedaganag emperan lainnya yang berjualan di emperan kantor tersebut.

Tak jauh berbeda dengan bu Ramlah, wak Nur juga memiliki aturan yang harus patuhi olehnya dan seorang pelapak lain di depan kantor tersebut yakni saat kantor hampir buka sekitar pukul delapan wak Nur mulai membereskan dagangannya untuk di rapikan dan agak di pinggirkan agar bagian tengah emperan kantor dapat menjadi jalan atau lalu-lalang para pegawai kantor tersebut. Setelah barang yang dijual di pinggirkan wak Nur mulai membersihkan bagian tengah emperan toko tersebut dengan menyapunya atau jika hari hujan wak Nur juga terkadang mengepelnya agar terlihat bersih, hanya itu saja syarat wak Nur selama berjualan di emperan tersebut, pihak kantor sama sekali tidak keberatan, tidak melarang dan bahkan tidak mengutip biaya sepeserpun pada wak Nur untuk berjualan di emperan tersebut.

Dari hasil wawancara saya dengan wak Nur saya juga menemui hubungan wak Nur yang tak hanya dengan kantor Baitul Qiradh saja tetapi juga dengam pemilik toko atau kios lainnya, seperti kios penjual bumbu giling ia berhubungan dengan pemilik kios tersebut untuk menyimpan dagangannya yang tidak habis terjual dan pada kios yang ada di sebelah kantor tersebut, wak Nur biasanya meminta izin untuk menggantungkan pisang yang ia jual di meja pedagang mie tersebut dan juga meletakkan dau-daun pisang dagangannya di bawah kolong meja tersebut pula. Semuanya tanpa dipungut biaya dan hanya bermodalkan izin atau permisi terlebih dahulu.

Sedikit berbeda dengan dua pedagang yang lain bu Eva mengaku dia tidak pernah membersihkan lapak dagangannya karena sudah dikutipnya uang kebersihan setiap harinya.

“enggak payah bersihin lagi, karena udah bayar uang kebersihan yang dikutip setiap hari”

Namun meskipun demikian bu Eva tetap tidak meninggalkan sampah atau sengaja mengotori emperan toko yang ditumpanginya tersebut. Sampah seperti plastik ataupun daun-daun dari sayuran yang ia jual tidak ia biarkan berserakan di depan toko tersebut, ia akan mengumpulkannya dalam plastik dan membuangnya, namun tidak sampai harus menyapu dan mengepel emperan tersebut seperti dua informan lainnya.

Tentunya aturan pasal membersihkan sisa dagangan di lapak ini tak hanya dipatuhi oleh ketiga pedagang tersebut, melainkan semua pedagang emperan toko yang ada di pasar, mereka harus memastikan lapak yang mereka pakai untuk berjualan bersih sebelum sang pemilik toko datang atau toko dibuka.

Dari ketiga pedagang emperan tersebut hanya wak Nurlah yang dapat berinteraksi dengan siempunya emperan dikarenakan ia berjualan sampai dengan siang hari atau bersamaan dengan kantor tersebut buka, sementara dua pedagang lainnya sudah meninggalkan lapak emperan mereka sebelum si empunya emperan datang dan membuka tokonya.

PemIlik toko tak keberatan jika emperan toko mereka di tumpangi oleh PKL, karena mereka tidak merasa dirugikan atas tindakan tersebut. memang ketika saya di lapak bu Ramlah, saya pernah melihat seorang pemilik toko yang datang pagi-pagi sekali karena waktu itu mendekati hari raya lebaran. Si pemilik toko tersebut sudah membuka tokonya, namun karena ia lihat yang berjualan di emperannya belum bersih sempurna dalam mebersihkan ia menyuruhnya menyapunya lagi. Sementara seorang informan saya yakni Bapak Alfat Fadilah Nur, selaku pedagang peralatan masak, menyampaikan

“tidak masalah sih, lagian yang berjualan juga tidak mengganggu jualan saya. Ketika saya membuka toko juga pedagang emperannya udah gak ada udah bersih, jadi apa lagi yang mau di permasalahkan”

5.2. Pemerintah

Setiap hari para pedagang emperan yang berjualan di pasar Kota Kualasimpang dikutip iuran sebanyak sekali sebagai uang restribusi setiap harinya berjualan, hal ini dibenarkan oleh bu Ramlah

“setiap harinya emang ada yang ngutip uang tiga ribu rupiah, tapi saya tidak tahu dari pihak mana, saya kasi saja karena sudah begitu dan semua pedagang juga membayar begitu”

Tak hanya bu Ramlah, wak Nur juga mengatakan ada kutipan uang kersihan setiap harinya dan uang pajak nangroe, pajak nangroe sendiri sebenarnya sebutan yang dari wak Nur dari kutipan tersebut. Masing-masing dari tiap kutipan adalah sebesar tiga ribu rupiah, setiap harinya para pedagang pasar harus menyisihkan uang tiga ribu rupiah dari pendapatannya untuk diberikan kepada pengutip uang restribusi tersebut.

Proses pengutipan ini peneliti melihat sendiri prosesnya, si pengutip restribusi datang ke lapak wak Nur dan pedagang lainnya kira-kira pukul delapan pagi, ia datang dengan memegang lembaran-lembaran uang, hanya berdiri di depan lapak saja wak Nur sudah paham dan langsung memberikan uang sebesar tiga ribu rupiah kepada laki-laki yang menggunakan pakaian biasa saja tersebut, artinya tidak ada atribut ataupun seragam tertentu yang digunakan oleh si pengutip.

Wak Nur mengaku tidak keberatan dengan kutipan tersebut, dia berikan saja dengan ikhlas wak Nur juga menambahi,

“kan hasil dari kutipan tersebut kembali ke kita juga, entah itu dari pembangunan atau apa, yang pasti ada manfaat kekita jugalah nantinya jadi dikasih saja”

Hal tersebut juga dibenarkan oleh bu Eva dan karena kutipan tersebut pula ia tidak payah membersihkan emperan yang digunakannya untuk berjualan, karena sudah ada uang kebersihan maka ia juga akan terima bersih saja. Karena ini pengutipan yang rutin dilakukan setiap harinya, para pedagang emperan sampai hapal kapan si pengutip akan datang. Kebetulan Bu Ramlah tidak berjualan sampai pukul delapan jadi saya jarang melihat kutipan ini dilapaknya,

dan bu Ramlah juga mengaku ia di kutip tiga rupiah saja sehari sebagai uang kebersihan.

Dari ketiga informan menjawab bahwa uang yang mereka keluarkan sebesar tiga ribu rupiah tersebut adalh untuk kebersihan, namun tidak sepenuhnya salah. Para informan juga mengaku tidak mengenal atau mengetahui nama si petugas pengutip tersebut, yang mereka tanda adalah wajahnya saja seperti yang diungkapkan bu Eva,

“kalau nama enggak tau, tapi mukanya ya tandalah”

Hal ini juga diperjelas oleh Bapak Alfad salah seorang pemilik toko di pasar, ia mengaku tidak kenal akrab siapa sipengutip restribusi tersebut hanya kenal saja dan ia juga menambahkan.

“orangnya enaklah pokoknya, emang gak terlalu macam-macam kayak basa-basi, yang jelas kalau kita baik ya dia juga baik-baik saja. Mungkin karena dia gak banyak cakap jadi ya enggak ada masalahlah antara kami pedagang sama dia. Ngutip ya ngutip aja”

Pak sunardi selaku pengutip juga mengatakan hal yang sama, saatnya ngutip sekitar mulai pukul setengah delapan pagi. Ia mulai berkeliling ngutip restribusi dari pedagang emperan karena biasanya kalau telat para pedagang tersebut sudah ada yang berpulangan.

“Konflik hampir bisa dikatakan gak ada, karena kalo saya datang pedagang udah ngerti sendiri. Enggak ada komentar dan keberatan juga, sayapun tidak banyak-banyak kali cakap. Datang kutip, datang kutip. Komentar-komentar tentang pembangunan pasar juga tidak ada.

Kalau urusan kebersihan itu urusan sama yang punya toko, enggak saya yang atur”

Sebenarnya pengutip iuran tersebut merupakan petugas lapangan resmi yang di honor Dinas Koperindang dan ada Surat Keterangannya (SK). Pengutip iuran tersebut juga disebut sebagai petugas cukai, yang ngutip uang pajak dari pedagang emperan di pasar dan diberikan honorarium sebesar Rp. 815.000,- per bulannya. Untuk kutipan iuran tersebut juga berdasar hukum Qanun Kabupaten Aceh Tamiang, tentang retribusi pelayanan pasar nomor 16 tahun 2011 tentang retribusi pasar pada bab V ( Struktur Dan Besarnya Tarif) pasal 8, ayat 2 poin ke-6, menyatakan besaran tarif untuk pelataran pasar sebesar Rp. 3000,- per hari.

Uang tersebut selnjutnya akan di masukkan ke kas daerah dan akan digunakan untuk pembangunan daerah. 14

5.3. Pembeli

Jika saya perhatikan Bu Ramlah merupakan seorang yang pendiam, hal ini terbukti saat saya melakukan wawancara kepadanya selain itu ia juga seorang yang memanggil pembeli untuk datang, jadi dari hasil observasi saya di lapaknya ia hanya jongkok menunggui orang yang datang untuk membeli ataupun sekedar bertanya, jika harganya cocok dia menjualnya namun bila barang tersebut tidak dapat ditawar dengan harga yang diinginkan oleh sipembeli maka bu Ramlah akan membiarkan pembeli tersebut pergi, tidak seperti saat membeli baju yang penjualnya terkadang memanggil pembelinya lagi.

“enggak perlu manggil, biasanya kelapa yang dibawa udah ada pelanggan yang ngambil, jadi sisanya tinggal nunggu yang mau beli, engaak ada manggil-manggil gitu”

14 Hasil wawancara oleh Kasi Pasar, Distribusi dan Sarana Perdagangan, Novita Nazmi Siregar, SH (09 oktober 2018)

Berbeda dengan Bu Ramlah, wak Nur orangnya cukup ramah, meskipun tidak memanggil pembeli namun saat pembeli datang wak Nur akan berkata “apa say”, interaksi yang wak Nur buat dengan pembelinya sangat dekat, meskipun pembeli hanya belanja di bawah lima ribu rupiah padanya. Dari yang saya amati biasanya pembeli hanya membeli sereh seribu, daun jeruk purut seribu, daun salam seribu dan lainnya yang dapat dibeli dengan harga seribu. Tak hanya itu wak Nur juga terkadang mendengar curhatan hati pembelinya, seperti ibu A.

“aku pening kali belanja pagi-pagi, habis itu ke rumah sakit lagi”

“siapa sakit?” Tanya wak Nur

“anaku, sehat jadi preman dia di Medan udah sakit balik dia, jadi urusan awak, yang buat palak anak tiri pulak”

“ya, anak tirikan anak kita juga”. Pungkas wak Nur

Tak Cuma itu saja, bahkan saat anak dari temannya lewat dia meminta untuk memeriksakan ayahnya karena wak Nur khawatir ayah dari anak tersebut kondisinya makin parah. Bahkan wak Nur juga menyediakan kursi lainnya yang dapt digunakan orang lain untuk duduk, kursi itulah yang menjadi tempat duduk saya selama dilapak wak Nur. Wak Nur menyebut kursi tersebut dengan sebutan kursi panas, ia jelaskan bahwa kursi tersebut selalu digunakan orang ngerumpi, mengumpat dan bergosip di lapaknya.

Wak Nur terkesan cukup akrab dengan para pembelinya, bahkan tak jarang ada pembeli yang memesan dagangannya, namun tak jadi diambil padahal belum dibayar. Namun wak Nur tidak bisa marah-marah hanya katika pembeli tersebut

Wak Nur terkesan cukup akrab dengan para pembelinya, bahkan tak jarang ada pembeli yang memesan dagangannya, namun tak jadi diambil padahal belum dibayar. Namun wak Nur tidak bisa marah-marah hanya katika pembeli tersebut