BAB I. PENDAHULUAN
1.2. Tinjauan Pustaka
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) hidup diatrikan sebagai masih terus ada, bergerak dan bekerja sebagaimana mestinya (tentang manusia, binatang, tumbuhan, dan sebagainya). Selain itu diartikan juga mengalami kehidupan dalam keadaan atau dengan cara tertentu, sedangkan kehidupan diartikan sebagai cara, keadaan atau hal dalam hidup. Kehidupan yaitu dengan melihat apa yang dapat diberikan bagi kehidupan ini. Melalui tindakan-tindakan kreatif dan menciptakan suatu karya seni, menekuni suatu pekerjaan dan meningkatkan keterlibatan pribadi terhadap tugas serta berusaha untuk mengerjakan dengan sebaik-baiknya (Frankl dalam : Pradiska 2017).
Kehidupan para pedagang di pasar tentunya tak lepas daripada interaksi sosial, para pedagang tentunya akan berinteraksi dengan para pedagang emperan lainnya, dengan si pemilik toko dan tentu saja dengan para pembelinya. Adapun yang dimaksud dengan interaksi sosial adalah hunbungan antara dua orang atau lebih atau antara dua kelompok orang atau lebih atau antara dua kelompok orang atau lebih atas dasar adanya aksi dan interaksi, (Koentjaraningrat, dkk, 2003:90).
Pedagang emperan di pasar Kualasimpang merupakan salah satu contoh
informal membuka peluang lapangan kerja untuk masyarakat yang kurang berpendidikan serta keterampilan, terlebih dengan modal yang terbilang kecil mereka sudah mampu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan.
Mulyanto dalam : Pradiska 2017, mengemukakan bahwa PKL adalah termasuk usaha kecil yang berorientasi pada laba (profit) layaknya sebuah kewirausahaan. PKL mempunyai cara sendiri dalam mengelola usahanya agar mendapatkan keuntungan. PKL menjadi manajer tunggal yang menangani usahanya mulai dari prencanaan usaha, menggerakkan usaha sekaligus mengontrol atau mengendalikan usahanya, padahal fungsi-fungsi manajemen tersebut jarang atau tidak pernah mereka dapatkan dari pendidikan formal.
Di Indonesia, menurut Hidayat (dalam Haryanto, 2016), sudah ada kesepakatan tentang sebelas ciri pokok sektor informal, yaitu:
1. Kegiatan usaha tidak terorganisasi dengan baik karena timbulnya unit usaha tidak mempergunakan fasilitas atau kelembagaan yang tersedia di sektor informal.
2. Pada umumnya, unit usaha tidak mempunyai izin usaha.
3. Pola kegiatan usaha tidak teratur, baik dalam arti lokasi maupun jam kerja.
4. Pada umumnya kebijaksanaan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi tidak sampai ke pedagang kaki lima.
5. Unit usaha mudah keluar masuk dari sub-sektor ke sub sektor lain.
6. Teknologi yang digunakan bersifat primitive.
7. Modah dan perputan usaha relative relative kecil sehingga skala operasi juga relative kecil.
8. Pendidikan yang diperlukan untuk menjalan usaha tidak memerlukan pendidikan formal karena pendidikan yang diperoleh dari pengalaman sambil kerja.
9. Pada umumnya, unit usaha termasuk golongan one-man enterprise1 dan kalau mengerjakan buruh berasal dari keluarga.
10. Sumber dana modal usaha yang umumnya berasal dari tabungan sendiri atau lembaga keuangan yang tidak resmi.
11. Hasi produksi atau jasa terutama dikonsumsi oleh golongan masyarakat desa-kota berpenghasilan rendah dan kadang-kadang juga berpenghasilan menengah.
Menurut Damsar (1997) pedagang adalah orang atau institusi yang memperjual belikan produk atau barang kepada konsumen baik secara langsung maupun tidak langsung. Pedagang dibedakan menurut jalur distribusi yang dilakukan, yaitu:
1. Pedagang distributor (tunggal), pedagang yang memegang hak distribusi suatu produk dari perusahaan tertentu.
2. Pedagang (partai) besar yaitu pedagang yang membeli suatu produk dalam jumlah besar yang dimaksudkan untuk dijual ke pedagang lain.
3. Pedagang eceran yaitu pedagang yang menjual produk langsung kepada konsumen.
Menjadi seorang pedagang tentunya membutuhkan relasi, baik antar pedagang, pemilik toko amupun kepada pembeli, seperti yang diungkapkan dalam
penelitian alice (1962) di Mojokuto (dalam Sutami, 2005) disebutkan pentingnya hubungan sosial antara pedagang dengan berbagai pihak, demikian halnya dengan pedagang emperan toko. Hal ini berkaitan tentang perilau dalam menjalin hubungan relasi dengan si pemilik toko, sesama pedagang dan konsumen mereka.
Menurut DiMaggio (dalam Masinambow) studi kebudayaan yang diakaitkan dengan pasar dan pertukaran menempatkan kebudayaan dalam bentuk yang berciri constitutive, dan dari sini menurutnya ada tiga fungsi constitutive dari kebudayaan terhadap pasar, yaitu:
1. kebudayaan sebagai bentuk constitutive dari aktor-aktor yang terlibat di dalam pasar.
2. kebudayan sebagai bentuk constitutive dari masyarakat pasar.
3. kebudayaan sebagai sarapa pemahaman dari bentuk-bentuk kapitalis agar lebih bermakna.
Banyak dari pedaganga emperan di pasar Kota Kualasimpang adalah perempuan, dan ini akan menjadi fokus dalam penelitian saya untuk menjadikan mereka informan. Menurut pendapat Rahma Sugiharti dalam (Haryanto) mengatakan bahwa wanita sesungguhnya merupakan sumber daya ekonomi yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan pria. Keberadaan wanita dalam rumah tangga bukan sekedar sebagai pelengkap fungsi reproduksi saja, namun lebih dari itu wanita terbukti memberikan sumbangan yang besar bagi kelangsungan ekonomi dan kesejateraan rumah tangga serta masyarakat.
Keterlibatan perempuan berperan pada sector produktif sepertinya bukan halbaru untuk di perbincangkan. Peran produktif adalah peran yang
dilakukan oleh seseorang menyangkut pekerjaan yang menghasilkan barang dan jasa, baik untuk di konsumsi maupun untuk di perdagangkan. Peran yang sering pula disebut dengan peran disektor publik. Sektor publik lebih identik dengan karakter maskulin yang tegas, berani, cekatan dan cepat dalam mengambil keputusan, sehingga dikatakan bahwa sektor publik merupakan domain laki-laki.
Hariet Taylor (dalam Nofianti) mengatakan bahwa wanita diberi kesempatan dalam hal ekonomi dan sipil yang sudah sama namun dalam hal-hal domestik masih berbeda. Urusan domestik tetap merupakan urusan seorang istri. Beberapa alasan menurut Nofianti yang mendorong perempuan memasuki dunia kerja adalah:
a. Kondisi luar yang memungkinkan dan menarik perempuan untuk bekerja.
Kondisi atau situasi saat ini membuat pekerjaan rumah tangga tidak terlalu repot lagi. Hal tersebut dapat disebabkan karena adanya pembatasan kelahiran, kecanggihan alat-alat rumah tangga, adanya cleaning service, tempat-tempat penitipan anak dan sebagainya. Semua itu membuat ibu rumah tangga memiliki waktu luang lebih banyak.
b. Motif ekonomi, mendorong perempuan untuk bekerja karena kepentingan ekonomi keluarga. Kebanyakan dari mereka bekerja karena rendahnya penghasilan suami atau karena ingin meningkatkan taraf kehidupan.
c. Motif psikologis, disini perempuan terdorong untuk bekerja karena kesenangan, menghilangkan kesepian/kejenuhan dirumah, menghilangkan rasa terisolir secara social dan (terutama bagi mereka yang sudah berpendidikan tinggi), bekerja adalah sebagai kebutuhan aktualisasi diri.
d. Adanya rasa tanggung jawab social, karena telah mengambil fasilitas untuk belajar di universitas dan sekarang saatnya untuk mengamalkan ilmu yang telah di dapatkan di masyarakat.